Jbnews.id – Proyek kilang LNG terbesar di Indonesia resmi memasuki fase konstruksi setelah investor asal China, Guangdong Energy Group (GEG), menyelesaikan perjanjian sewa lahan seluas 50 hektare dengan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, di Kawasan Industri Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), Banten. Proyek senilai US$2,3 miliar atau sekitar Rp37 triliun ini ditargetkan beroperasi pada 2029.
Perjanjian sewa lahan untuk jangka waktu 30 tahun itu ditandatangani langsung oleh Direktur Utama KBS, Arief R. Hidayat, dan perwakilan GEG pada Selasa (25/3/2026). Kesepakatan ini menjadi landasan hukum bagi pembangunan fasilitas LNG dengan kapasitas produksi mencapai 6 juta ton per tahun. “Ini adalah tonggak penting untuk merealisasikan investasi energi bersih skala besar di Indonesia,” ujar Arief R. Hidayat dalam pernyataan resminya.
Lokasi proyek berada di area Pelabuhan Ciwandan Milik Krakatau Steel (PCM), yang merupakan bagian dari KIEC. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis karena dekat dengan jalur distribusi energi dan didukung infrastruktur pelabuhan yang memadai. Proyek ini akan dibangun di atas lahan bekas pabrik besi spons milik PT Krakatau Steel, yang telah dinonaktifkan.
Dampak dan Skala Investasi
Nilai investasi sebesar US$2,3 miliar menempatkan proyek ini sebagai salah satu investasi energi terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pembangunan fasilitas ini diharapkan dapat menyerap ribuan tenaga kerja lokal selama fase konstruksi. Selain itu, kehadiran kilang LNG berkapasitas besar di Cilegon diproyeksikan akan memperkuat ketahanan dan pasokan energi nasional, khususnya untuk kawasan industri di Jawa dan Sumatera.
Guangdong Energy Group (GEG) merupakan perusahaan energi milik negara (BUMN) China yang berfokus pada pembangkit listrik dan energi bersih. Keterlibatan GEG menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap iklim investasi dan potensi pasar energi Indonesia. Kerja sama ini juga sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah Indonesia yang ingin meningkatkan pemanfaatan gas alam sebagai energi yang lebih bersih dibandingkan batubara.
Lini Waktu dan Tahapan Selanjutnya
Dengan penandatanganan perjanjian sewa lahan, tahap pra-konstruksi dianggap selesai. Tahap berikutnya adalah pembangunan fisik fasilitas yang diperkirakan memakan waktu sekitar tiga hingga empat tahun. Target operasional komersial pada 2029 telah ditetapkan. Keberhasilan proyek ini juga akan bergantung pada penyelesaian studi kelayakan akhir dan perizinan pendukung lainnya dari instansi terkait.
Proyek LNG Cilegon ini menjadi penanda kebangkitan Kawasan Industri KIEC sebagai pusat industri energi nasional. Sebelumnya, kawasan ini dikenal sebagai sentra industri baja. Diversifikasi ke sektor energi, khususnya LNG, diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih berkelanjutan dan menarik investasi pendukung lainnya di sektor hilir gas.
