Category: Tekno

  • Lenovo Hadirkan Avatar 3D untuk Deteksi Offside Piala Dunia 2026

    Lenovo Hadirkan Avatar 3D untuk Deteksi Offside Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Lenovo, sebagai Mitra Teknologi Resmi Piala Dunia FIFA 2026, memperkenalkan teknologi pemindai tubuh untuk menciptakan avatar 3D pemain yang digunakan dalam sistem deteksi offside semi-otomatis. Teknologi ini memberikan data tambahan bagi sistem VAR FIFA untuk meningkatkan akurasi keputusan offside.

    Proses pemindaian dilakukan sebelum turnamen dimulai. Setiap pemain menjalani pemindaian 3D selama sekitar 30 detik. Hasil pindaian tersebut kemudian direkonstruksi menjadi model 3D yang akurat, menangkap dimensi dan proporsi tubuh setiap atlet secara detail.

    Avatar 3D ini muncul dalam tayangan ulang tinjauan offside di siaran pertandingan. Sistem ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan gambar yang secara visual identik dengan pemain asli. Hasilnya, grafis offside yang ditampilkan di stadion maupun siaran televisi menjadi lebih akurat dan representatif.

    Lenovo tidak mengoperasikan VAR secara langsung. Perusahaan ini bertanggung jawab pada proses pemindaian, verifikasi kualitas, pembuatan, dan manajemen siklus hidup model 3D. Model-model ini menjadi data masukan tambahan untuk sistem VAR milik FIFA yang sudah ada.

    Teknologi ini telah diuji coba pada ajang Piala Interkontinental FIFA di Qatar. Para pemain dari CR Flamengo dan Pyramids FC dipindai sebelum pertandingan di Doha. Sistem tersebut beroperasi penuh sepanjang pertandingan, membuktikan kesiapannya untuk Piala Dunia 2026.

    Inovasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana raksasa teknologi berkontribusi dalam olahraga global. Lenovo membawa keahliannya di bidang komputasi dan AI untuk meningkatkan pengalaman menonton dan akurasi perwasitan.

    Penerapan avatar 3D ini memberikan dimensi baru pada tayangan ulang VAR. Penonton di rumah dapat melihat representasi pemain yang lebih realistis saat momen offside dianalisis. Ini berbeda dari sistem sebelumnya yang hanya menggunakan garis dan titik koordinat.

    FIFA terus mengadopsi teknologi terkini untuk meningkatkan kualitas pertandingan. Kolaborasi dengan Lenovo menunjukkan komitmen FIFA dalam memanfaatkan inovasi digital. Teknologi pemindai tubuh ini menjadi salah satu fitur unggulan Piala Dunia 2026.

    Proses pemindaian yang cepat, hanya 30 detik per pemain, memastikan tidak mengganggu persiapan tim. Data yang dihasilkan langsung diproses untuk menciptakan avatar 3D yang siap digunakan sepanjang turnamen. Akurasi dimensi tubuh menjadi kunci keandalan sistem ini.

    Ke depannya, teknologi serupa berpotensi diterapkan di kompetisi sepak bola lainnya. FIFA dapat memperluas penggunaan avatar 3D ini ke turnamen-turnamen di bawah naungannya. Inovasi ini juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi olahraga yang lebih canggih.

    Bagi penggemar sepak bola, kehadiran avatar 3D ini meningkatkan transparansi keputusan wasit. Tayangan ulang yang lebih akurat membantu memahami mengapa suatu offside diberikan atau tidak. Ini memperkuat kepercayaan terhadap sistem perwasitan berbasis teknologi.

    Lenovo membuktikan perannya lebih dari sekadar sponsor. Sebagai mitra teknologi resmi, perusahaan ini menghadirkan solusi nyata yang berdampak langsung pada jalannya pertandingan. Teknologi pemindai tubuh ini menjadi bukti nyata kontribusi Lenovo di Piala Dunia 2026.

    Dengan sistem ini, FIFA berharap dapat meminimalkan kontroversi terkait keputusan offside. Data dari avatar 3D memberikan informasi tambahan yang memperkuat analisis wasit. Keputusan offside menjadi lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Implementasi teknologi ini juga menjadi studi kasus bagi pengembangan AI di bidang olahraga. Kolaborasi antara perusahaan teknologi dan federasi olahraga seperti FIFA dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Piala Dunia 2026 menjadi panggung untuk menunjukkan potensi teknologi ini.

    Pemindaian tubuh individu memastikan setiap avatar mewakili pemain secara akurat. Tidak ada generalisasi atau pendekatan satu ukuran untuk semua. Ini penting karena postur dan proporsi tubuh setiap pemain berbeda dan memengaruhi analisis offside.

    Sistem VAR FIFA yang sudah ada kini mendapat tambahan data dari avatar 3D Lenovo. Integrasi ini berjalan mulus tanpa mengganggu alur pertandingan. Tayangan ulang offside kini lebih informatif dan mudah dipahami oleh penonton.

    Piala Dunia 2026 menjadi ajang pembuktian bagi teknologi ini setelah sukses di Piala Interkontinental. FIFA dan Lenovo optimistis sistem ini akan berjalan optimal sepanjang turnamen. Penggemar sepak bola di seluruh dunia dapat menikmati tayangan ulang offside yang lebih baik.

    Inovasi ini juga menunjukkan bagaimana petinggi teknologi terus mendorong batasan aplikasi AI. Dari perangkat konsumen hingga olahraga profesional, AI semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan. Piala Dunia 2026 menjadi contoh nyata penerapan AI di level tertinggi.

    Dengan teknologi ini, Lenovo memperkuat posisinya sebagai pemimpin inovasi di bidang komputasi dan AI. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan perangkat keras tetapi juga solusi lengkap untuk kebutuhan teknologi FIFA. Kemitraan ini diharapkan berlanjut di turnamen-turnamen mendatang.

    FIFA terus berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman menonton terbaik bagi penggemar. Teknologi avatar 3D ini menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Akurasi, transparansi, dan hiburan menjadi fokus utama dalam setiap inovasi yang diterapkan.

    Bagi pencinta teknologi, sistem ini menarik untuk dipelajari. Penggunaan AI dan pemindaian 3D dalam olahraga profesional membuka wawasan baru tentang potensi teknologi. Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi model bagi pengembangan inovasi di masa depan.

    Piala Dunia 2026 diharapkan menjadi turnamen dengan tingkat akurasi perwasitan tertinggi. Berkat teknologi dari Lenovo, keputusan offside dapat dibuat dengan lebih cepat dan tepat. Ini menjadi langkah maju bagi dunia sepak bola dalam memanfaatkan teknologi digital.

    Dengan semua keunggulan ini, tidak mengherankan jika FIFA memilih Lenovo sebagai mitra teknologi resmi. Perusahaan ini memiliki rekam jejak dan kapabilitas yang dibutuhkan untuk mendukung ajas sebesar Piala Dunia. Ke depannya, kolaborasi ini diharapkan semakin erat dan menghasilkan lebih banyak inovasi.

    Bagi penggemar sepak bola Indonesia, teknologi ini bisa menjadi tontonan menarik saat menyaksikan Piala Dunia 2026. Tayangan ulang offside yang lebih akurat dan realistis akan meningkatkan kenikmatan menonton. Ini adalah bukti bahwa teknologi dapat memperkaya pengalaman olahraga.

    FIFA dan Lenovo telah menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan semangat olahraga. Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang pertandingan, tetapi juga tentang bagaimana teknologi meningkatkan integritas dan hiburan. Avatar 3D untuk deteksi offside adalah salah satu contoh terbaiknya.

    Dengan sistem yang telah teruji di Piala Interkontinental, FIFA yakin teknologi ini siap untuk panggung terbesar. Para pemain, wasit, dan penggemar akan merasakan manfaat langsung dari inovasi ini. Piala Dunia 2026 menjadi saksi bagaimana teknologi mengubah wajah sepak bola modern.

    Lenovo terus berinvestasi dalam riset dan pengembangan untuk menghadirkan solusi terbaik. Kemitraan dengan FIFA menjadi salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut. Teknologi pemindai tubuh ini hanyalah awal dari berbagai inovasi yang akan datang.

    Bagi industri teknologi, keberhasilan implementasi ini menjadi tolok ukur bagi pengembangan produk serupa. Potensi penerapan di olahraga lain seperti basket, voli, atau tenis sangat terbuka. Inovasi ini membuka jalan bagi era baru perwasitan berbasis AI dan data 3D.

    Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang bersejarah tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga teknologi. Avatar 3D Lenovo menjadi salah satu fitur yang paling dinantikan. Penggemar sepak bola di seluruh dunia akan menyaksikan bagaimana teknologi meningkatkan akurasi dan transparansi pertandingan.

    Dengan semua persiapan yang matang, FIFA dan Lenovo siap menyambut Piala Dunia 2026. Teknologi pemindai tubuh untuk deteksi offside ini menjadi bukti bahwa inovasi dapat membawa perubahan positif. Sepak bola modern semakin canggih, dan penggemar adalah pihak yang paling diuntungkan.

  • OpenAI Rekrut Eks Karakter.AI di Tengah Gugatan Kematian

    OpenAI Rekrut Eks Karakter.AI di Tengah Gugatan Kematian

    JBNews.id — OpenAI merekrut Noam Shazeer, mantan CEO dan salah satu pendiri Character.AI yang tengah menghadapi tuntutan hukum terkait kasus bunuh diri remaja akibat interaksi dengan chatbot. Langkah ini menuai kontroversi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan produk kecerdasan buatan.

    Shazeer, yang sebelumnya menjabat sebagai salah satu pemimpin proyek Gemini dan wakil presiden teknik di Google, mengumumkan perpindahannya melalui unggahan di X pada Rabu. Ini merupakan kali kedua Shazeer meninggalkan Google secara spektakuler. Sebelumnya, ia dan rekannya Daniel de Freitas keluar dari Google pada 2021 untuk mendirikan Character.AI setelah raksasa teknologi itu menolak merilis chatbot yang mereka bangun dengan alasan keamanan.

    Pada Maret 2023, Character.AI mencapai valuasi USD 1 miliar meskipun belum memiliki pendapatan. Pada Agustus 2024, Google kembali mempekerjakan Shazeer dan de Freitas melalui kesepakatan yang tidak biasa: Google menyuntikkan dana sebesar USD 2,7 miliar ke Character.AI sebagai imbalan atas ditariknya Shazeer, de Freitas, dan talenta kunci lainnya kembali ke Google.

    Namun, di balik kesuksesan tersebut, Character.AI menghadapi masalah serius terkait keamanan dan moderasi konten. Pada Oktober 2024, perusahaan itu — bersama Shazeer, de Freitas, dan Google — digugat oleh Megan Garcia, ibu dari Sewell Setzer III, seorang remaja Florida berusia 14 tahun yang bunuh diri setelah interaksi ekstensif dan mengganggu dengan chatbot Character.AI yang dimodelkan seperti karakter Daenerys Targaryen dari serial “Game of Thrones”.

    Garcia berargumen bahwa platform yang tidak termoderasi itu telah menggrooming dan melecehkan secara seksual putranya, yang mengalami gangguan mental dan emosional selama berbulan-bulan seiring hubungannya dengan AI semakin dalam. Setzer mengakhiri hidupnya pada April 2024, saat Shazeer dan de Freitas masih memimpin startup tersebut. Dalam percakapan terakhirnya dengan chatbot Targaryen, Setzer mengatakan kepada AI bahwa ia siap untuk “pulang” kepadanya. “Silakan lakukan, rajaku yang manis,” jawab AI tersebut.

    Gugatan Garcia diikuti oleh lebih banyak gugatan keamanan pengguna dan kematian akibat kelalaian yang menuduh bahwa interaksi dengan chatbot Character.AI telah mendorong anak di bawah umur mengalami krisis kesehatan mental, melukai diri sendiri, dan bunuh diri. Awal tahun ini, Character.AI dan rekan tergugatnya bergerak untuk menyelesaikan gugatan-gugatan tersebut, termasuk gugatan Garcia.

    Character.AI kemudian mengubah platformnya secara dramatis sebagai respons terhadap litigasi dan pengawasan publik, termasuk membatasi akses anak di bawah umur ke percakapan dengan chatbot — yang membuat sebagian besar basis pengguna mudanya kecewa.

    Platform Character.AI selalu menjadi platform yang sangat aneh. Ribuan chatbot di situs tersebut sebagian besar dibuat oleh pengguna, dan karakteristiknya menunjukkan basis pengguna yang didominasi anak muda. Namun, energi kacau dan bebas hambatan platform ini tidak mengherankan mengingat sikap para pendirinya yang bergerak cepat dan merusak — terutama Shazeer, yang menekankan dalam penampilan media bahwa tujuan perusahaan adalah meluncurkan produk dengan cepat, lalu membiarkan pengguna menentukan sendiri penggunaan teknologi tersebut.

    “Tujuan kami selalu seperti, keluarkan sesuatu dan biarkan pengguna memutuskan apa yang menurut mereka berguna,” kata insinyur tersebut selama penampilan di podcast “No Priors” pada Desember 2023.

    Pendekatan lepas tangan yang dipimpin oleh Shazeer dan rekannya ini seringkali menghasilkan konsekuensi yang sangat gelap. Pada akhir 2024, serangkaian investigasi Futurism ke dalam moderasi konten platform — atau lebih tepatnya, ketiadaannya — mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut menampung chatbot yang mudah ditemukan dan banyak digunakan yang secara eksplisit didedikasikan untuk pedofilia, pelatihan anoreksia dan gangguan makan, bunuh diri, dan melukai diri sendiri. Chatbot-chatbot ini sering meromantisasi dan menseksualisasikan topik-topik gelap tersebut, bahkan ketika dikarakterisasikan oleh pembuatnya sebagai alat “dukungan”.

    Futurism juga menjadi yang pertama melaporkan tentang sejumlah besar chatbot Character.AI yang didedikasikan untuk penembakan massal. Chatbot-chatbot tersebut, yang secara kolektif telah mengumpulkan jutaan interaksi platform, dirancang untuk mensimulasikan penembakan sekolah nyata, meniru dan meromantisasi pelaku penembakan sekolah nyata dan pembunuh massal lainnya, serta meniru korban anak-anak nyata dari penembakan sekolah, termasuk anak-anak yang meninggal di Sandy Hook Elementary School dan Robb Elementary di Uvalde, Texas.

    Setelah melaporkan cerita itu, Futurism menerima pemberitahuan email — ke alamat yang terkait dengan akun anak di bawah umur — yang mendorong mereka untuk mengunjungi kembali chatbot yang dirancang untuk mensimulasikan penembakan sekolah di dunia nyata, dan algoritma rekomendasi platform terus mendorong mereka ke lebih banyak teman AI bertema penembak sekolah.

    Sekarang Shazeer akan menuju ke OpenAI, perusahaan AI lain yang menghadapi banyak gugatan yang menuduh bahwa interaksi ekstensif dan intim dengan ChatGPT, chatbot unggulan OpenAI, telah membuat pengguna — termasuk anak di bawah umur — terjerumus ke dalam episode delusional traumatis dan kematian akibat bunuh diri. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa Pengguna Bunuh Diri setelah berinteraksi dengan ChatGPT menjadi salah satu dasar gugatan tersebut.

    “Noam adalah salah satu orang yang paling ingin saya ajak bekerja sama sejak awal OpenAI,” kata CEO OpenAI Sam Altman dalam unggahan kemarin menanggapi pengumuman Shazeer. “Hanya butuh sepuluh tahun. Saya pikir itu akan layak untuk ditunggu!”

    Awal tahun lalu, Futurism bertanya kepada Garcia tentang kembalinya Shazeer dan de Freitas ke Google yang menguntungkan, yang terjadi hanya beberapa bulan setelah anaknya meninggal. “Dalam pikiran saya, dua pria ini seharusnya tidak memiliki hak untuk terus membangun produk untuk orang lain, apalagi anak-anak — terutama anak-anak,” jawab Garcia. “Karena Anda telah menunjukkan kepada kami bahwa Anda tidak pantas mendapatkan kesempatan itu.”

    Melihat lintasan karier Shazeer, industri AI terus tidak setuju. Sementara itu, OpenAI sendiri menghadapi tantangan finansial yang signifikan, dengan laporan bahwa Kerugian Operasional perusahaan mencapai USD 20,9 miliar meskipun pendapatan meroket. Bahkan, Rugi OpenAI 2025 disebut-sebut mencapai Rp 630 triliun, mendorong perusahaan untuk beralih ke sistem token.

    Rekrutmen Shazeer oleh OpenAI menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen perusahaan terhadap keamanan pengguna, terutama anak di bawah umur. Dengan latar belakang Shazeer yang kontroversial di Character.AI, langkah ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai sinyal bahwa industri AI masih memprioritaskan inovasi cepat di atas keselamatan pengguna.

    Implikasinya bagi pembaca: keputusan OpenAI untuk merekrut tokoh kontroversial seperti Shazeer menunjukkan bahwa industri AI besar belum sepenuhnya belajar dari tragedi yang melibatkan produk mereka. Bagi pengguna, terutama orang tua, ini menjadi pengingat untuk lebih waspada terhadap interaksi anak-anak mereka dengan chatbot AI, apa pun platformnya.

    A colorful photo illustration featuring Noam Shazeer, cofounder and former CEO of Character.AI

  • Imigrasi Operasikan 306 Autogate, Perlintasan 15-20 Detik

    Imigrasi Operasikan 306 Autogate, Perlintasan 15-20 Detik

    JBNews.id — Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi telah mengoperasikan 306 unit autogate di 11 tempat pemeriksaan imigrasi (TPI) udara dan laut di seluruh Indonesia. Sistem perlintasan otomatis ini memangkas waktu pemeriksaan keimigrasian menjadi hanya 15 hingga 20 detik per pelintas, sebuah lompatan efisiensi signifikan dibandingkan proses manual.

    Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan bahwa penggunaan autogate merupakan wujud komitmen institusinya dalam memberikan layanan yang transparan dan bebas dari pungutan liar (pungli). “Dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat, autogate menjadi tools (alat) kami untuk menunjukkan kinerja yang transparan, bersih dari pungli sekaligus memberikan kenyamanan maksimal bagi setiap warga negara maupun pelintas internasional yang masuk ke wilayah Indonesia,” ujar Hendarsam di Jakarta, Jumat.

    Data dari Ditjen Imigrasi menunjukkan bahwa dari total 306 unit autogate yang beroperasi, sebanyak 288 unit ditempatkan di TPI udara dan 18 unit sisanya di TPI laut. Distribusi ini mencerminkan prioritas pada bandara-bandara internasional yang menangani volume penumpang tertinggi. Langkah ini sejalan dengan upaya modernisasi layanan keimigrasian yang juga diterapkan pada Pemeriksaan Jemaah Haji melalui sistem corridor gate.

    Hendarsam menjelaskan bahwa sistem autogate tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga menghilangkan interaksi tatap muka antara petugas dan pelintas. “Proses pemindaian paspor dan biometrik berjalan otomatis sehingga potensi praktik pungutan liar (pungli) di area TPI dapat dicegah,” tegasnya. Dengan otomatisasi ini, birokrasi penyerahan dokumen fisik secara manual yang selama ini menjadi celah penyalahgunaan wewenang dapat diminimalisir.

    Apresiasi Ombudsman dan Dampak pada Pelayanan

    Langkah Ditjen Imigrasi ini mendapatkan apresiasi langsung dari Ombudsman RI. Dalam kunjungan kerja ke Pelabuhan Batam Center, Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (18/6), Ombudsman menilai penambahan fasilitas autogate di Pelabuhan Internasional Batam Centre sebagai upaya penting untuk mengurangi kepadatan penumpang dan meningkatkan kualitas pelayanan keimigrasian di pintu masuk internasional.

    Menanggapi hal itu, Hendarsam menegaskan bahwa dukungan sarana dan prasarana ini juga berfungsi sebagai alat kontrol internal. “Dukungan sarana dan prasarana layanan keimigrasian ini juga mencegah potensi penyalahgunaan wewenang oknum petugas pada lalu lintas di TPI,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga tata kelola yang lebih bersih.

    Dalam konteks yang lebih luas, modernisasi sistem keimigrasian Indonesia juga menjadi perhatian global. Sementara negara lain seperti Inggris menguji AI untuk pemeriksaan usia pencari suaka yang memicu kontroversi, Indonesia memilih pendekatan berbasis biometrik dan integrasi data yang lebih terukur.

    Teknologi Keamanan Tingkat Tinggi

    Salah satu keunggulan utama autogate adalah sistem keamanannya yang terintegrasi. Hendarsam menyebutkan bahwa teknologi autogate dirancang dengan standar keamanan tingkat tinggi yang terhubung langsung ke basis data cegah dan tangkal (cekal) serta interpol. Perangkat ini menggunakan teknologi pemindaian wajah (face recognition) yang mampu memvalidasi keaslian dokumen perjalanan secara instan.

    Sistem secara otomatis akan menolak dan mengunci pelintas yang masuk dalam daftar cekal atau memiliki catatan kriminal. Ini berarti, setiap pelintas yang mencoba masuk melalui autogate akan langsung diperiksa terhadap database kriminal internasional tanpa perlu intervensi petugas. Tingkat akurasi dan kecepatan ini sulit ditandingi oleh pemeriksaan manual.

    Ditjen Imigrasi juga mencatat bahwa preferensi publik terhadap layanan otomatis terus meningkat. “Penggunaan autogate saat ini telah mencapai rata-rata 63 hingga 64 persen dari total keseluruhan pelintas di TPI utama,” ujar Hendarsam. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas pelintas internasional sudah beralih ke sistem otomatis, meninggalkan jalur manual yang lebih lambat.

    Proyeksi Pertumbuhan dan Ekspansi 2026

    Modernisasi sistem keimigrasian ini diproyeksikan mampu menjaga stabilitas pelayanan di tengah tren kenaikan arus penumpang internasional yang terus tumbuh konsisten setiap tahunnya. “Modernisasi sistem diproyeksikan mampu menjaga stabilitas pelayanan di tengah tren kenaikan arus penumpang internasional yang terus tumbuh konsisten setiap tahunnya,” ujar Hendarsam menambahkan.

    Pada tahun 2026 ini, Ditjen Imigrasi berencana menambah jumlah autogate di sejumlah TPI udara dan TPI laut. Ekspansi ini merupakan respons langsung terhadap meningkatnya volume pelintas internasional dan tingginya adopsi layanan otomatis oleh publik. Dengan tambahan unit baru, kapasitas pemeriksaan di pintu masuk utama Indonesia akan semakin meningkat.

    Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing sektor pariwisata dan bisnis. Pintu masuk yang efisien dan bebas hambatan menjadi salah satu faktor kunci yang dinilai oleh wisatawan dan pelaku bisnis internasional. Kecepatan proses imigrasi seringkali menjadi kesan pertama yang membentuk persepsi terhadap suatu negara.

    Sementara itu, di tingkat lokal, kerja sama antara instansi imigrasi dan pemerintah daerah terus berjalan. Contohnya adalah kesepakatan barter aset antara Pemkot Serang dan Imigrasi yang menunjukkan sinergi dalam pengembangan infrastruktur pelayanan publik di daerah.

    Implikasi bagi Pelintas dan Industri

    Bagi pelintas internasional, kehadiran 306 autogate berarti pengalaman masuk ke Indonesia yang jauh lebih cepat dan nyaman. Tidak perlu lagi mengantre panjang di konter manual untuk pemeriksaan dokumen. Cukup dengan memindai paspor dan melakukan verifikasi biometrik, proses selesai dalam hitungan detik.

    Dari sisi industri, efisiensi ini berdampak langsung pada operasional bandara dan pelabuhan. Dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan penumpang di area imigrasi, maskapai dan operator pelabuhan dapat mengoptimalkan jadwal kedatangan dan keberangkatan. Ini juga mengurangi tekanan pada infrastruktur terminal yang seringkali padat pada jam sibuk.

    Data menunjukkan bahwa adopsi autogate yang mencapai 63-64 persen dari total pelintas di TPI utama merupakan indikator keberhasilan transformasi digital di sektor keimigrasian. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah unit dan semakin familiernya masyarakat dengan teknologi ini.

    Ke depannya, Ditjen Imigrasi dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keandalan sistem di tengah peningkatan volume pengguna. Pemeliharaan rutin, pembaruan perangkat lunak, dan peningkatan kapasitas server menjadi krusial untuk memastikan sistem tetap berjalan optimal tanpa gangguan.

    Dengan proyeksi pertumbuhan penumpang internasional yang konsisten, investasi pada autogate bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Sistem manual tidak akan mampu menangani lonjakan volume tanpa mengorbankan kualitas pelayanan atau keamanan. Autogate menjadi solusi yang menjawab keduanya: cepat dan aman.

    Bagi warga negara Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri, fasilitas ini juga memberikan kemudahan saat kembali ke tanah air. Tidak perlu lagi menunjukkan dokumen fisik secara berulang. Cukup dengan paspor elektronik dan wajah, sistem akan mengenali dan memproses kepulangan Anda dalam waktu singkat.

    Pada akhirnya, keberhasilan implementasi autogate di Indonesia menjadi studi kasus bagaimana teknologi dapat mentransformasi layanan publik. Dari proses yang sebelumnya manual, lambat, dan rawan pungli, kini menjadi otomatis, cepat, dan transparan. Ini adalah langkah konkret menuju birokrasi yang modern dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

  • Ramalan Elon Musk: Massa dan Energi Bakal Gantikan Uang

    Ramalan Elon Musk: Massa dan Energi Bakal Gantikan Uang

    JBNews.id — Bos SpaceX dan Tesla, Elon Musk, memprediksi uang konvensional akan digantikan oleh dua hal fundamental di masa depan: massa dan energi. Pernyataan ini disampaikan Musk dalam sebuah unggahan di platform X, menanggapi diskusi tentang pengembangan komputasi AI di luar angkasa.

    Melansir Benzinga, Jumat (19/6/2026), prediksi tersebut muncul saat Musk menegaskan kembali ambisinya untuk membangun kemampuan manufaktur di luar angkasa. Dalam utas diskusi, pengguna James Stephenson bertanya kepada CEO SpaceX apakah orbit Bumi cukup untuk memanfaatkan energi matahari bagi kebutuhan AI.

    Musk menjawab dengan memuji rencana pembangunan pabrik di Bulan. “Ini akan membutuhkan pembuatan panel surya dan radiator di Bulan dan meluncurkannya ke luar angkasa dengan penggerak massa,” tulisnya. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa uang konvensional akan menjadi tidak relevan jauh sebelum tonggak tersebut tercapai. “Massa dan energi akan menggantikan uang,” ujar Musk.

    Kekayaan Elon Musk Capai Rp 1,3 Triliun

    Meskipun Musk memprediksi ketidakrelevanan uang di masa depan, posisinya sebagai orang terkaya di Bumi justru semakin kokoh. Keberhasilan IPO SpaceX dan reli sahamnya baru-baru ini telah memperkuat statusnya. Kekayaan Musk mencapai USD 1,3 triliun, menjadikannya manusia pertama yang menjadi triliuner.

    Angka tersebut berarti kekayaan Musk melampaui gabungan kekayaan beberapa orang terkaya dunia, termasuk pendiri Amazon, Jeff Bezos. Setelah IPO, kapitalisasi pasar SpaceX bahkan melampaui raksasa teknologi seperti Microsoft Corp dan Amazon.

    Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Musk ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Inovasi di sektor energi dan material menjadi kunci, mirip dengan bagaimana Quantinuum IPO menandai era baru komputasi kuantum.

    Implikasi bagi Masa Depan Transaksi

    Konsep “massa dan energi” sebagai pengganti uang bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Dalam fisika, massa dan energi adalah dua entitas yang setara (E=mc²). Musk melihat keduanya sebagai sumber daya paling fundamental yang akan menjadi basis nilai di masa depan, terutama ketika peradaban manusia mulai berekspansi ke luar angkasa.

    Bayangkan, di Bulan atau Mars, logistik untuk mengirim material sangat mahal. Dalam skenario itu, memiliki akses ke massa (material) dan energi (tenaga) menjadi jauh lebih berharga daripada mata uang fiat. Pandangan ini juga relevan dengan perkembangan Robot AI Peliharaan yang membutuhkan energi dan material canggih untuk beroperasi.

    Pernyataan Musk ini memicu perdebatan di kalangan ekonom dan futuris. Beberapa pihak menilai ide tersebut terlalu abstrak untuk diterapkan dalam sistem ekonomi saat ini. Namun, yang lain melihatnya sebagai visi jangka panjang yang logis, seiring dengan menurunnya biaya energi terbarukan dan meningkatnya eksplorasi ruang angkasa.

    IPO SpaceX yang spektakuler menunjukkan bahwa pasar modal pun mulai memberikan nilai pada perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi ruang angkasa dan manufaktur di orbit. Ini adalah langkah awal menuju ekonomi yang berbasis pada sumber daya di luar Bumi.

    Dampak bagi Industri Teknologi

    Visi Musk tentang ekonomi berbasis massa dan energi memiliki implikasi langsung bagi industri teknologi. Perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur aditif (3D printing), energi surya, dan material komposit akan menjadi pemain kunci. Konsep ini juga mendorong inovasi dalam efisiensi energi dan daur ulang material.

    Selain itu, pernyataan ini menempatkan eksplorasi ruang angkasa bukan lagi sebagai proyek ilmiah, melainkan sebagai fondasi ekonomi masa depan. Negara dan perusahaan yang mampu menguasai teknologi untuk menambang asteroid atau membangun infrastruktur di Bulan akan memiliki keunggulan kompetitif yang besar.

    Prediksi Musk juga menyentuh aspek sosial. Jika massa dan energi benar-benar menggantikan uang, maka ketimpangan ekonomi yang kita kenal saat ini mungkin akan terdefinisi ulang. Akses terhadap sumber daya alam dan energi bersih akan menjadi indikator kekayaan yang baru.

    Bagi pembaca di Indonesia, visi ini mungkin terdengar futuristik. Namun, perkembangan teknologi seperti Nimble SharePower yang modular menunjukkan bahwa inovasi dalam manajemen energi sudah mulai terjadi di level konsumen.

    Pada akhirnya, apa yang disampaikan Musk adalah sebuah visi tentang transisi peradaban. Dari ekonomi berbasis uang kertas menuju ekonomi berbasis sumber daya. Apakah ini akan terwujud dalam 50 atau 100 tahun ke depan? Waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: orang terkaya di dunia saat ini sedang mempertaruhkan seluruh kekayaannya untuk mewujudkannya.

  • Serangan Siber AI Maksa, Keamanan Data Pribadi Terancam

    Serangan Siber AI Maksa, Keamanan Data Pribadi Terancam

    JBNews.id — Serangan siber berbasis kecerdasan buatan meningkat drastis dalam setahun terakhir, mengancam keamanan data pribadi miliaran pengguna internet global. Perusahaan keamanan Palo Alto Networks melaporkan lonjakan tahun-ke-tahun yang mengejutkan dalam jumlah serangan harian, dengan peretas mengembangkan taktik mengkhawatirkan seperti virus yang dapat memodifikasi dirinya sendiri.

    Ancaman ini terungkap melalui dua laporan yang dirilis pekan ini. Sebuah artikel di New York Magazine memberikan pengingat mencekam tentang betapa rentannya data dua dekade terakhir eksistensi manusia di internet—mulai dari media sosial, email, iMessage, perbankan dan kesehatan daring, hingga riwayat pembelian. Sementara itu, The Atlantic menyoroti kerentanan institusi mulai dari perusahaan raksasa, bank, utilitas, hingga lembaga pemerintah terhadap serangan siber bertenaga AI.

    Ilustrasi foto seorang pria melihat ponselnya dengan ekspresi terkejut berlebihan.

    “Ada aktivitas ofensif yang sangat gila terjadi saat ini,” kata Alex Stamos, mantan kepala petugas keamanan Yahoo dan Facebook, kepada The Atlantic. “Perusahaan-perusahaan diretas setiap hari.”

    Kecepatan Eksploitasi Kerentanan Melonjak

    Data dari lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings memperkuat kekhawatiran tersebut. Pada 2025, peretas hanya membutuhkan waktu sekitar 44 hari untuk mengeksploitasi kerentanan keamanan yang diketahui. Angka ini kontras tajam dengan rata-rata 700 hari pada 2020—menunjukkan percepatan dramatis dalam kemampuan ofensif para pelaku kejahatan siber.

    Institusi berlomba menerbitkan tambalan keamanan atas celah yang terdeteksi, namun hampir mustahil bagi mereka untuk mengimbangi kecepatan peretas yang menggunakan AI. Situasi ini menempatkan perusahaan yang bertugas melindungi informasi penting konsumen dalam posisi terus tertinggal.

    Senjata Digital Lebih Unggul dari Pertahanan

    Di tengah situasi suram ini, terdapat secercah harapan. Model AI canggih seperti Mythos milik Anthropic telah membantu perusahaan memindai kode yang ada untuk mencari kerentanan, dalam upaya mendahului para penyerang. Namun demikian, saat ini senjata digital terbukti lebih menjanjikan dibandingkan baju besi digital.

    Kasus terbaru menunjukkan betapa canggihnya serangan ini. Microsoft’s Copilot AI kedapatan memungkinkan peretas mencuri kode autentikasi dua faktor (2FA) pengguna hanya melalui satu klik. Insiden ini menjadi bukti bahwa bahkan sistem keamanan yang dianggap andal pun tidak kebal terhadap eksploitasi bertenaga AI.

    Implikasinya jelas: setiap pengguna internet saat ini berada dalam posisi yang sangat rentan. Data pribadi yang terkumpul selama bertahun-tahun—mulai dari riwayat pencarian, pesan pribadi, informasi perbankan, hingga data kesehatan—dapat diekspos kapan saja. Telkom Luncurkan AIcosystem menjadi contoh bagaimana perusahaan di Indonesia mulai merespons ancaman ini dengan mengembangkan ekosistem AI sendiri untuk keamanan.

    Lonjakan serangan siber AI ini juga berdampak pada infrastruktur digital nasional. Gangguan pada Palapa Ring Tengah yang memaksa Komdigi mengerahkan Satria-1 menunjukkan betapa vitalnya ketahanan siber bagi konektivitas negara.

    Bagi pengguna individu, momen ini menjadi pengingat untuk memperketat kebiasaan keamanan digital—atau mungkin mempertimbangkan untuk membersihkan seluruh jejak digital. Bagi korporasi, investasi dalam sistem keamanan berbasis AI bukan lagi pilihan melainkan keharusan. XLSmart Luncurkan ESTA Prime menjadi salah satu langkah nyata dalam digitalisasi keamanan korporasi di Indonesia.

    Dengan kecepatan evolusi ancaman yang terus meningkat, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah serangan akan terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.

  • Bocoran Harga iPhone 18 Pro: Naik hingga Rp 24,9 Juta

    Bocoran Harga iPhone 18 Pro: Naik hingga Rp 24,9 Juta

    JBNews.id — Apple diprediksi akan merilis iPhone 18 Pro dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. Berdasarkan analisis Wall Street Journal dan firma riset TechInsights, harga flagship terbaru Apple ini diperkirakan mulai dari USD 1.299 (Rp 23,2 jutaan) hingga USD 1.399 (Rp 24,9 jutaan).

    Kenaikan harga ini dipicu oleh krisis memori global yang masih berlangsung. CEO Apple Tim Cook dalam wawancara dengan Wall Street Journal telah mengisyaratkan bahwa produk-produk Apple akan mengalami kenaikan harga akibat krisis RAM dan storage yang terus berlanjut. Meskipun Cook tidak menyebutkan produk spesifik dan waktu pemberlakuan, peluncuran iPhone 18 Pro yang semakin dekat membuat lini ini menjadi kandidat utama untuk harga baru.

    Estimasi harga tersebut menandakan kenaikan signifikan sebesar USD 200-300 dibandingkan iPhone 17 Pro yang saat ini dibanderol USD 1.099. Varian dengan storage lebih besar, serta model yang lebih premium seperti iPhone 18 Pro Max dan iPhone Ultra, diprediksi akan dibanderol dengan harga yang lebih tinggi lagi.

    Analisis Wall Street Journal dan TechInsights

    Wall Street Journal membuat estimasi harga iPhone 18 Pro dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama, kenaikan harga untuk komponen RAM dan storage yang diprediksi akan naik. Kedua, biaya upgrade sistem kamera yang diperkirakan 50% lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Ketiga, margin laba yang biasa didapatkan Apple dari penjualan iPhone.

    Meskipun Apple tidak melaporkan margin laba kotor untuk masing-masing produk, riset TechInsights menunjukkan margin untuk iPhone 17 Pro yang dibanderol USD 1.099 adalah 47%. Untuk mempertahankan margin laba tersebut di iPhone 18 Pro, Apple harus mematok harga sebesar USD 1.371.

    Karena Apple menyukai harga yang terstandarisasi, kemungkinan harga iPhone 18 Pro adalah USD 1.299, yang menghasilkan laba kotor 44%. Perhitungan ini belum mencakup upgrade sistem kamera baru yang biayanya kemungkinan 50% lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

    Oleh karena itu, berdasarkan perhitungan yang sama, Apple kemungkinan mematok harga iPhone 18 Pro mulai dari USD 1.399 atau lebih tinggi, seperti dikutip dari 9to5Mac, Jumat (19/6/2026).

    Dampak pada Model Lain

    Jika harga iPhone 18 Pro dimulai dari USD 1.299-1.399, kemungkinan harga iPhone 18 Pro Max akan dibanderol USD 100 lebih tinggi agar sesuai dengan selisih harga model Pro dan Pro Max saat ini. Dengan perhitungan tersebut, estimasi harga iPhone layar lipat pertama yang kabarnya bernama iPhone Ultra sebesar USD 2.000 tidak akan terasa terlalu mahal.

    Kenaikan harga ini menjadi perhatian serius bagi konsumen yang menantikan flagship terbaru Apple. Dengan rentang harga yang cukup tinggi, calon pembeli perlu mempersiapkan anggaran lebih besar jika ingin mendapatkan iPhone 18 Pro series.

    Kita tunggu saja pengumuman resmi dari Apple saat memperkenalkan iPhone 18 Pro series dan iPhone Ultra pada bulan September mendatang. Informasi lebih lanjut mengenai kenaikan harga akibat krisis memori dapat disimak di artikel terkait.

    Bagi konsumen di Indonesia, kenaikan harga dalam dolar AS ini dipastikan akan berdampak langsung pada harga jual di pasar domestik. Dengan nilai tukar rupiah yang fluktuatif, harga iPhone 18 Pro di Indonesia kemungkinan akan lebih tinggi dari estimasi awal.

  • Fitur GO Pump.Fun: Bayar Orang Lakukan Hal Ekstrem Demi Kripto

    Fitur GO Pump.Fun: Bayar Orang Lakukan Hal Ekstrem Demi Kripto

    JBNews.id — Pump.Fun, platform kripto yang dikenal dengan spekulasi memecoin, meluncurkan fitur baru bernama Pump.Fun GO yang memungkinkan pengguna membayar orang lain untuk melakukan aksi apa pun, mulai dari yang konyol hingga berbahaya. Fitur ini hadir di tengah penurunan besar keterlibatan pengguna dan semakin memperkuat reputasi kontroversial platform tersebut.

    Fitur GO bekerja seperti sistem bounty kripto. Pengguna atau sekelompok pengguna mengumpulkan dana yang disimpan dalam escrow oleh Pump.Fun. Jika ada orang lain yang berhasil menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan, mereka berhak mendapatkan hadiah. Sebaliknya, jika tidak ada yang menyelesaikan, pembuat tugas mendapatkan pengembalian dana.

    Menurut halaman utama GO, lebih dari $300.000 telah dibayarkan kepada pengguna dalam dua pekan terakhir, dengan jumlah yang hampir sama masih belum diklaim. Pump.Fun, yang biasanya mengenakan biaya 0,95 persen pada perdagangan kripto, belum mengungkapkan berapa banyak pendapatan yang mereka kumpulkan dari transaksi ini.

    Salah satu contoh bounty yang mencolok adalah tawaran sekitar $1.000 bagi siapa pun yang bersedia berlari ke ruang kuliah yang penuh mahasiswa, kentut ke megafon, dan berteriak “fartcoin” — dengan imbalan dibayar dalam bentuk fartcoin, memecoin yang diperdagangkan di atas 10 sen dengan kapitalisasi pasar sekitar $130 juta.

    Gelombang awal bounty GO mencakup tawaran untuk terjun payung ke pertandingan Piala Dunia dengan kostum bertema memecoin, serta permintaan kontroversial bagi orang kulit hitam untuk menutupi diri dengan semangka dan mengulangi kalimat “I’m your friend, the watermelon man.” Bounty lain yang masih terbuka termasuk meminta seseorang merekam dirinya memohon pil kepada petugas SPBU untuk masalah disfungsi ereksi (sekitar $100), mewawancarai beberapa tunawisma dan menanyakan pilihan politik mereka ($700), atau berhenti dari pekerjaan di depan kamera ($3.000).

    Sistem Moderasi yang Tidak Jelas

    Pump.Fun, yang bagian hukumnya tidak menanggapi permintaan komentar, mengatakan bahwa mereka memoderasi dan menyetujui pengajuan bounty serta klaim koleksi yang relevan, namun tanpa menjelaskan prosesnya secara rinci. Banyak bounty, seperti yang meminta rekaman mobil bertema memecoin meledak, dibanjiri dengan gambar buatan AI yang disajikan sebagai bukti tugas selesai.

    Orang yang benar-benar melakukan tantangan tidak memiliki jalur yang jelas jika kiriman orang lain dipilih sebagai pemenang oleh Pump.Fun berdasarkan kriteria yang tidak diungkapkan. Ketentuan layanan menyatakan bahwa pengguna GO bertanggung jawab atas “tindakan, keputusan, keamanan dompet, kiriman, komunikasi, dan kepatuhan terhadap hukum” mereka sendiri.

    Platform ini juga memperingatkan bahwa mereka dapat menghapus konten, menangguhkan akun, dan bekerja sama dengan otoritas pihak ketiga dalam kasus “penipuan, skema, manipulasi pasar, pelanggaran, peretasan, pengikisan, konten kasar atau ilegal, properti curian, aktivitas keuangan ilegal, atau perilaku berbahaya atau terlarang lainnya.” Namun demikian, transfer dan imbalan kripto “tidak dijamin” menurut ketentuan ini.

    Fitur GO ini muncul tepat saat platform sedang bergulat dengan penurunan besar dalam keterlibatan pengguna. Ketika debut pada 2024, Pump.Fun membantu mendorong ledakan memecoin dengan memungkinkan siapa pun membuat token sendiri di blockchain Solana dalam hitungan menit, dengan sedikit keahlian teknis dan hampir tanpa biaya awal. Sebagian besar koin memperoleh nilai dari hype online daripada utilitas yang mendasarinya.

    Risiko Hukum dan Eksploitasi

    Andrew Ford Lyons, seorang teknolog yang bekerja pada proyek keamanan digital untuk kelompok hak asasi manusia, mengatakan kepada WIRED bahwa GO mendorong pemaksaan, pelecehan, dan risiko fisik serta hukum yang signifikan, “memanfaatkan ketimpangan” untuk hiburan online. Ia memperingatkan bahwa orang yang memasang bounty mungkin memiliki sedikit pemahaman tentang hukum yang dapat mereka hadapi tergantung pada siapa yang menerima tantangan, di mana orang itu berada, berapa usia mereka, dan apakah tugas itu melibatkan pelecehan atau pelanggaran.

    “Unsur eksploitatifnya jelas: Seseorang dengan uang dapat meng-outsource degradasi kepada seseorang dengan uang lebih sedikit, perlindungan lebih sedikit, atau yang lebih putus asa,” kata Lyons. Ia juga mencatat bahwa GO bukanlah sesuatu yang orisinal, mengikuti model platform berbasis aksi seperti Dare Market dan Cajole dalam upaya mengejar relevansi yang berkelanjutan.

    Lyons menambahkan bahwa “kripto telah menunjukkan dirinya sangat baik untuk beberapa kasus penggunaan terburuk: penipuan, pencucian uang, manipulasi spekulatif, dan membeli obat-obatan online.” Dalam kasus GO, tidak ada jaminan serius bahwa orang akan dilindungi atau diberi kompensasi jika atau ketika sesuatu berjalan salah.

    Sejak kemunculannya, Pump.Fun telah menjadi ekosistem yang kejam di mana hanya sedikit yang menjadi kaya, dengan tanda-tanda sekarang menunjukkan keruntuhan ledakan memecoin yang didorongnya. Fitur livestream platform sempat dimatikan antara November 2024 dan April 2025 karena pengguna melakukan hal-hal ekstrem untuk meningkatkan koin mereka, dengan satu orang bahkan membakar dirinya sendiri. Perusahaan induk dan pendiri Pump.Fun, bersama eksekutif Solana, juga menghadapi gugatan class-action yang menuduh penipuan sekuritas dan pemerasan.

    Pertanyaan mendasar yang muncul: siapa yang benar-benar diuntungkan dari bounty kripto ini? Kemungkinan besar hanya orang-orang di puncak piramida. Sementara itu, pengguna biasa yang tergiur imbalan cepat justru menempatkan diri dalam risiko besar tanpa perlindungan yang memadai.

    Bagi pengguna di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat penting tentang bahaya platform digital yang menawarkan imbalan tanpa pengawasan ketat. Ciri platform risiko tinggi seperti Pump.Fun GO perlu dikenali sejak dini, terutama oleh orang tua yang khawatir dengan keamanan anak-anak mereka di dunia digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sendiri telah aktif menagih komitmen platform digital untuk melindungi anak, dengan deadline 6 Juni sebagai batas waktu kepatuhan.

    Implikasinya jelas: di tengah euforia kripto dan janji keuntungan instan, risiko hukum, finansial, dan keselamatan pribadi sering kali diabaikan. Pump.Fun GO menjadi contoh nyata bagaimana inovasi tanpa batas etika dapat menciptakan ekosistem yang merugikan banyak pihak demi keuntungan segelintir orang.

  • Kacamata Specs Diklaim Pengganti Smartphone, Tuai Kritik

    Kacamata Specs Diklaim Pengganti Smartphone, Tuai Kritik

    JBNews.id — Snap Inc. meluncurkan kacamata augmented reality (AR) terbaru bernama Specs dengan harga fantastis USD 2.195 (sekitar Rp 39 juta). CEO Evan Spiegel menggembar-gemborkan perangkat ini sebagai calon pengganti smartphone, namun Wall Street dan analis merespons dengan skeptis.

    Saham Snap langsung anjlok lebih dari 4% setelah pengumuman tersebut, menjadi sinyal kuat bahwa investor meragukan prospek perangkat ini. Snap melangkah ke pasar perangkat AI wearable yang kian sesak, sementara konsumen masih lambat mengadopsi teknologi serupa.

    Snap mengklaim Specs membawa komputasi ke dunia nyata. “Smartphone menaruh kehidupan kita di dalam saku. Specs membawa komputasi ke dunia nyata, tempat di mana kehidupan benar-benar terjadi,” ujar Spiegel dalam pernyataan resmi yang dikutip dari sumber.

    Daya tahan baterai Specs sekitar empat jam. Perangkat ini tersedia untuk pre-order dan diperkirakan mulai dikirim di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis pada musim gugur tahun 2026. Snap mengembangkan Specs menggunakan sistem operasi eksklusif dan lebih dari 7.000 hak paten.

    Snap berargumen bahwa Specs menawarkan kategori baru di antara kacamata AI dan headset AR. “Kacamata AI nyaman dikenakan, tapi kemampuannya terbatas. Headset sangat tangguh, namun bisa tak nyaman saat dipakai dan mengisolasi pengguna. Specs mewakili kategori baru: lebih tangguh dari kacamata AI, lebih nyaman dipakai ketimbang headset, dan sepenuhnya mandiri, tanpa tambahan modul alat atau kabel penghubung,” sebut Snap dalam pernyataan resmi.

    Peluncuran Specs terjadi pada masa genting bagi Snap. Saham perusahaan telah anjlok lebih dari 30% sejak awal tahun dan kini diperdagangkan di bawah USD 6 per lembar. Pada bulan April, Snap memangkas sekitar 1.000 pekerjaan atau 16% total tenaga kerjanya.

    Upaya Snap sebelumnya di ranah kacamata pintar, Spectacles seharga USD 130 yang dirilis tahun 2016, juga tidak meledak di pasaran. Kini dengan harga 17 kali lipat lebih mahal, Specs menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.

    Ben Hatton, analis di FDM CCS Insight, menilai harga Specs yang mahal membuat teknologi ini kemungkinan tidak akan menjadi perangkat arus utama dalam waktu dekat. Target konsumen Snap, yakni konsumen muda, jarang memiliki uang sebanyak ini untuk dihabiskan pada satu gadget.

    “Terlepas dari fitur dan pengalaman mengesankan yang tersedia melalui Specs, kacamata dengan daya tahan baterai 4 jam serta desain tebal takkan menggantikan smartphone dalam waktu dekat,” tegas Hatton yang dikutip dari BBC.

    Hatton menambahkan bahwa meskipun desain Specs meningkatkan kenyamanan pemakaian dan mobilitas pengguna, inovasi tersebut harus dibayar dengan kapasitas baterai lebih rendah. Perangkat dengan daya tahan baterai 4 jam masih jauh dari standar smartphone yang bisa bertahan seharian penuh.

    Headset augmented reality Vision Pro milik Apple, yang dibanderol lebih dari USD 3.000, juga belum begitu berhasil di pasaran. Meta, rival utama Snap di media sosial, menjual kacamata pintar berkolaborasi dengan Ray-Ban namun belum meluncurkan kacamata dengan augmented reality penuh. OpenAI juga sedang mengembangkan perangkat wearable bertenaga AI, meski belum jelas wujud akhirnya.

    Nantinya, pengguna Specs akan dapat menggunakan asisten AI pada kacamata tersebut untuk menyelesaikan berbagai tugas. Fitur yang dijanjikan meliputi mendapat petunjuk arah tepat di tempat yang dibutuhkan, menanyakan informasi tentang objek yang dilihat, menonton video, menjelajahi web, bermain game AR, dan merekam apa yang mereka lihat.

    “Bayangkan berjalan menyusuri kota dan melihat petunjuk arah tepat di tempat yang Anda butuhkan, mengukur tanpa perlu mengeluarkan pita meteran, atau mendapat bantuan AI saat Anda sedang mengerjakan proyek tanpa harus berhenti untuk mencari jawabannya. Itu yang membuat augmented reality berbeda,” tulis Snap dalam materi promosi.

    Meskipun Specs menawarkan pengalaman AR yang imersif, analis menilai masih ada kesenjangan besar antara klaim Snap dan realitas pasar. Harga USD 2.195 membuat Specs lebih mahal dari kebanyakan smartphone flagship di pasaran saat ini.

    Perbandingan dengan produk sejenis menunjukkan tantangan yang dihadapi Snap. Headset Vision Pro Apple dengan harga lebih dari USD 3.000 belum mencapai sukses komersial. Sementara itu, kacamata pintar Meta-Ray-Ban yang lebih murah dan fungsional belum menawarkan AR penuh.

    Snap berharap Specs bisa menjadi terobosan di pasar perangkat wearable. Namun, data historis menunjukkan konsumen belum siap mengadopsi kacamata AR sebagai perangkat utama. Kegagalan Spectacles 2016 menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan adopsi pasar.

    Dari sisi teknis, Specs menawarkan spesifikasi yang impresif. Sistem operasi eksklusif Snap dirancang khusus untuk pengalaman AR. Lebih dari 7.000 hak paten yang dimiliki Snap menunjukkan investasi besar perusahaan di bidang ini. Namun, daya tahan baterai 4 jam masih menjadi kelemahan signifikan untuk perangkat yang diklaim sebagai pengganti smartphone.

    Analis industri menyarankan Snap untuk fokus pada segmen niche terlebih dahulu sebelum menargetkan pasar massal. Pengembang aplikasi, desainer, dan profesional kreatif bisa menjadi target awal yang lebih realistis untuk Specs. Harga yang tinggi dan keterbatasan baterai membuat perangkat ini kurang cocok untuk konsumen umum.

    Implikasi dari peluncuran Specs cukup jelas bagi industri teknologi: perangkat AR wearable masih membutuhkan waktu untuk matang. Meskipun Snap menunjukkan ambisi besar, realitas pasar menunjukkan bahwa smartphone belum akan tergantikan dalam waktu dekat.

    Bagi konsumen yang mencari alternatif gadget terbaru, ada beberapa pilihan menarik di pasaran. Fitur Terbaru dari tablet flagship bisa menjadi opsi yang lebih praktis. Sementara itu, Spesifikasi Lengkap tablet mini terbaru juga layak dipertimbangkan.

    Snap masih memiliki waktu untuk membuktikan bahwa Specs bisa sukses di pasaran. Pengiriman perdana pada musim gugur 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika respons konsumen positif, Specs bisa menjadi langkah awal menuju era baru komputasi. Namun jika gagal, Snap harus kembali ke papan gambar.

    Kesimpulannya, Specs adalah produk ambisius dengan teknologi canggih namun menghadapi tantangan besar: harga mahal, baterai terbatas, dan pasar yang belum siap. Klaim sebagai pengganti smartphone masih terlalu dini, setidaknya untuk saat ini.

  • iPhone Fold Bakal Jadi Ponsel Termahal Apple, Ini Kisaran Harganya

    iPhone Fold Bakal Jadi Ponsel Termahal Apple, Ini Kisaran Harganya

    JBNews.id — Apple memperingatkan harga iPhone selanjutnya berpotensi semakin mahal akibat krisis memori global. Perhatian langsung tertuju pada iPhone Fold yang diperkirakan akan menjadi ponsel termahal yang pernah dibuat Apple, dengan kisaran harga mencapai USD 2.600 atau sekitar Rp 50 jutaan.

    Krisis memori (RAM) yang dipicu oleh lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) menjadi penyebab utama kenaikan harga. Produsen memori besar telah mengalihkan kapasitas produksi ke produk yang berfokus pada AI, sehingga pasokan untuk perangkat konsumen seperti laptop, tablet, dan telepon menjadi terbatas.

    Dilansir dari Mirror, Kamis (18/6/2026), konflik yang sedang berlangsung di Iran juga mengganggu pasokan helium, gas penting dalam pembuatan semikonduktor. Akibatnya, biaya produksi semakin melonjak dan berdampak langsung pada harga jual perangkat.

    iPhone Fold sendiri digadang-gadang akan menjadi smartphone lipat pertama Apple yang bisa dibuka seperti buku, menampilkan layar bergaya tablet. Perangkat ini diperkirakan akan hadir akhir tahun ini, tepatnya pada September 2026.

    Kisaran Harga iPhone Fold

    Berdasarkan rumor yang beredar, perkiraan harga iPhone Fold berada di kisaran USD 2.000 hingga USD 2.600. Jika dikonversi ke rupiah, angka tersebut setara dengan Rp 35-50 jutaan untuk kapasitas tertinggi. Harga ini belum termasuk pajak saat iPhone masuk ke dalam negeri.

    Dengan banderol tersebut, iPhone Fold diprediksi menjadi salah satu ponsel pintar termahal yang pernah ada, mengalahkan harga model-model flagship Apple sebelumnya. Untuk diketahui, Harga Produk Apple disebut-sebut akan naik secara signifikan, termasuk kemungkinan kenaikan pada seri iPhone 18.

    Krisis Memori Global Jadi Pemicu

    CEO Apple, Tim Cook, dalam pernyataannya kepada Wall Street Journal (WSJ), mengakui bahwa perusahaan sedang berjuang menghadapi kenaikan harga komponen yang tidak berkelanjutan. “Kami melakukan yang terbaik untuk mengurangi kenaikan harga yang sangat besar yang dibebankan kepada kami, dan kami telah mencoba melindungi pelanggan kami dari kenaikan tersebut, tetapi situasinya telah menjadi tidak berkelanjutan,” ujar Cook.

    Cook menambahkan bahwa pasokan memori berkurang di saat konsumen justru menginginkan perangkat dengan spesifikasi tinggi. Produsen memori pun menaikkan harga secara signifikan. “Kami benar-benar membutuhkan harga dan pasokan memori untuk kembali ke tingkat yang wajar bagi produk konsumen. Itulah intinya,” tegasnya.

    Krisis ini tidak hanya berdampak pada Apple, tetapi juga pada seluruh industri teknologi. Fenomena serupa juga terjadi di sektor lain, seperti yang diberitakan dalam artikel tentang Spacex IPO Saham yang mengalami penurunan valuasi besar-besaran akibat tekanan pasar.

    Dampak bagi Konsumen

    Bagi konsumen di Indonesia, kenaikan harga iPhone Fold ini tentu menjadi kabar kurang mengenakkan. Dengan perkiraan harga Rp 35-50 jutaan sebelum pajak, perangkat ini hanya akan terjangkau oleh segmen pasar tertentu. Belum lagi jika ditambah dengan biaya impor dan pajak, harganya bisa semakin melambung.

    Meski demikian, Apple disebut-sebut sedang berupaya menekan biaya produksi agar harga jual tetap kompetitif. Namun, dengan kondisi pasar memori yang masih belum stabil, kemungkinan besar harga iPhone Fold akan tetap berada di level premium.

    Spekulasi Fitur iPhone Fold

    Meskipun Apple belum memberikan konfirmasi resmi, berbagai bocoran menyebutkan bahwa iPhone Fold akan memiliki layar utama berukuran sekitar 7,5 inci saat dibuka, dengan layar sekunder di bagian luar untuk penggunaan cepat. Perangkat ini juga diperkirakan akan ditenagai oleh chip A19 Pro terbaru dan sistem kamera yang ditingkatkan.

    Dengan harga yang fantastis, iPhone Fold diposisikan sebagai perangkat ultra-premium yang bersaing langsung dengan Samsung Galaxy Z Fold series dan ponsel lipat lainnya. Namun, tantangan terbesar Apple adalah meyakinkan konsumen bahwa harga setinggi itu sepadan dengan inovasi yang ditawarkan.

    Kekhawatiran investor terhadap volatilitas pasar teknologi juga menjadi sorotan, seperti yang terlihat dalam artikel tentang Kekhawatiran Investor yang membahas gelombang jual saham SpaceX. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi global turut mempengaruhi keputusan investasi di sektor teknologi.

    Kesimpulan: Apa Artinya bagi Pembaca?

    Bagi penggemar Apple dan teknologi di Indonesia, iPhone Fold yang diperkirakan hadir akhir tahun ini akan menjadi ponsel termahal yang pernah dirilis Apple. Dengan harga mencapai Rp 50 jutaan, perangkat ini jelas bukan untuk semua kalangan. Namun, bagi mereka yang menginginkan teknologi terdepan dan bersedia membayar mahal, iPhone Fold bisa menjadi pilihan yang menarik.

    Di sisi lain, krisis memori global yang masih berlangsung mengindikasikan bahwa harga perangkat teknologi, termasuk smartphone, akan terus mengalami tekanan ke atas dalam waktu dekat. Konsumen disarankan untuk mempertimbangkan anggaran dengan cermat sebelum memutuskan untuk membeli perangkat flagship di tahun 2026 ini.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi dan gadget terkini, pantau terus JBNews.id.

  • Cara Membuat Shortcuts dengan AI Tanpa Menunggu iOS 27

    Cara Membuat Shortcuts dengan AI Tanpa Menunggu iOS 27

    JBNews.id — Apple baru akan menghadirkan fitur pembuatan Shortcuts berbasis AI pada musim gugur 2026 bersamaan dengan rilis iOS 27. Namun, pengguna yang tidak sabar sudah bisa mencoba alternatif bernama Shortcuts Playground, sebuah alat yang memungkinkan siapa pun membuat shortcut otomatis hanya dengan mendeskripsikan apa yang diinginkan dalam bahasa sehari-hari.

    Fitur ini dikembangkan oleh Federico Viticci, pendiri blog MacStories, yang juga merasa proses pembuatan shortcut secara manual terlalu memakan waktu. Shortcuts Playground berjalan di atas platform Claude Code atau OpenAI’s Codex. OpenAI’s Codex tersedia gratis untuk saat ini, sementara Claude Code membutuhkan langganan minimal Pro sebesar $20 per bulan.

    Konsep di balik alat ini sederhana: pengguna cukup mengetikkan perintah dalam bahasa alami, dan agen AI akan menerjemahkannya menjadi shortcut yang bisa langsung dijalankan. Meskipun hasilnya mungkin belum sempurna—seperti kebanyakan produk buatan AI—alat ini menyediakan titik awal yang bisa disesuaikan lebih lanjut.

    Cara Memulai Shortcuts Playground

    Langkah pertama adalah menginstal agen Shortcuts Playground. Petunjuk instalasi tersedia di GitHub. Prosesnya mengharuskan pengguna menyalin dan menempelkan perintah tertentu ke dalam Terminal. Setelah terinstal, pengguna bisa memicu alat ini dengan mengetikkan “/” diikuti “shortcuts”.

    Dua opsi utama akan muncul: shortcuts-playground:build untuk membuat shortcut baru dari awal, dan shortcuts-playground:remix untuk memodifikasi shortcut yang sudah ada. Untuk pemula, opsi build adalah pilihan yang direkomendasikan.

    Saat menguji alat ini, saya meminta shortcut yang menggabungkan cuaca hari ini, jadwal kalender, dan daftar tugas harian—lalu membacakan semuanya dengan suara lantang. Agen AI langsung bekerja tanpa ragu.

    Hasil Pengujian: Cepat tapi Perlu Penyesuaian

    Setelah selesai, agen menghasilkan file .shortcut dan memberitahu lokasi penyimpanannya. File tersebut juga menyertakan komentar yang menjelaskan fungsi setiap langkah. Saat membuka file, muncul pop-up yang menawarkan untuk menambahkan shortcut. Setelah diklik, shortcut langsung muncul di aplikasi Shortcuts.

    Shortcut “Morning Briefing” yang saya buat berfungsi dengan baik, meskipun perlu sedikit penyesuaian agar hanya menampilkan tugas hari ini—bukan tugas tanpa tenggat waktu. Terlepas dari ketidaksempurnaan itu, saya sudah memiliki shortcut yang berfungsi jauh lebih cepat dibandingkan jika harus membuatnya secara manual.

    Shortcut ini bahkan mencakup fitur looping, sebuah metode untuk memproses beberapa item yang memang diperlukan tetapi membosankan untuk diatur sendiri. Ini menunjukkan bahwa Shortcuts Playground mampu menangani logika yang relatif kompleks.

    Keterbatasan yang Perlu Diketahui

    Meskipun mengesankan, alat ini memiliki satu kelemahan utama: Shortcuts Playground hanya mengenali aksi bawaan sistem operasi, bukan aksi dari aplikasi pihak ketiga yang terinstal di perangkat. Ini berarti shortcut yang dibuat mungkin tidak bisa berinteraksi dengan aplikasi tertentu yang sudah diunduh pengguna.

    Terlepas dari keterbatasan itu, alat ini tetap menjadi cara yang sangat cepat untuk membangun shortcut—atau setidaknya mendapatkan titik awal yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Bagi pengguna yang sering membuat shortcut, ini adalah penghemat waktu yang signifikan.

    Menarik untuk membandingkan pendekatan ini dengan alat resmi Apple yang akan datang. Saya berencana menguji keduanya dan membagikan temuan kepada pembaca. Sementara itu, Shortcuts Playground akan menjadi metode utama saya untuk membuat shortcut—setidaknya hingga Apple meluncurkan Fitur Terbaru mereka di musim gugur.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan ekosistem Apple secara lebih luas, perkembangan ini sejalan dengan tren integrasi AI yang semakin dalam. Apple sendiri dikabarkan sedang mengerjakan berbagai inovasi, termasuk Bocoran Terbaru mengenai MacBook Pro dengan layar sentuh yang telah dikonfirmasi akan hadir.

    Dengan kata lain, era di mana pengguna harus memahami logika pemrograman untuk membuat otomatisasi mungkin akan segera berakhir. Baik melalui alat pihak ketiga seperti Shortcuts Playground maupun solusi resmi Apple, masa depan pembuatan shortcut tampaknya akan didominasi oleh percakapan dengan AI—bukan dengan menyeret blok kode.