Category: Tekno

  • Banyak Proyek AI Lokal Mentok di Tahap Uji Coba, Ini Penyebabnya

    Banyak Proyek AI Lokal Mentok di Tahap Uji Coba, Ini Penyebabnya

    JBNews.id — Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dari keseharian banyak perusahaan di Indonesia. Sayangnya, realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak inovasi AI lokal yang nasibnya berhenti di tahap uji coba atau Proof of Concept (POC).

    Perusahaan mampu membuat demo, menjajal chatbot, atau menguji model dalam skala kecil, namun kesulitan saat harus mengintegrasikannya menjadi sistem yang benar-benar andal untuk operasional bisnis sehari-hari. Kebutuhan industri saat ini sangat kompleks. Perusahaan menginginkan sistem AI yang mampu membaca dokumen, menjawab pertanyaan internal, menganalisis data, mengolah gambar dan video, hingga mengotomatisasi proses kerja.

    Namun, ketika masuk ke tahap produksi massal, tantangannya bukan lagi sekadar soal kepintaran model AI tersebut. Perusahaan membutuhkan infrastruktur komputasi yang stabil, efisien, aman, dan sesuai dengan tata kelola bisnis. Menjawab tantangan tersebut, platform AI cloud asal Indonesia, IONext.ai (PT Data Awan Nusantara), menggelar acara bertajuk “AI Production at Scale Indonesia 2026” pada 18 Juni 2026 di Apple Developer Institute for Professionals, Autograph Tower, Jakarta.

    Acara ini mempertemukan sekitar 100 figur penting di bidang teknologi—mulai dari CEO, CTO, VP Engineering, hingga perwakilan software house dan perusahaan dari sektor perbankan, ritel, serta manufaktur—untuk membedah cara membawa AI keluar dari sekadar eksperimen menuju implementasi nyata.

    AI Tidak Cukup Hanya Dicoba, Harus Bisa Dipakai

    Melalui platformnya, IONext.ai hadir menjembatani celah ini. Perusahaan kini dapat memanfaatkan model AI terbuka (open-source) berperforma tinggi seperti Qwen, DeepSeek, dan Llama, untuk membangun kapabilitas yang setara dengan layanan global seperti ChatGPT atau Claude, namun dengan kontrol penuh yang dipegang oleh perusahaan.

    “Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen AI. Kita perlu mulai membangun kemampuan untuk menerapkan AI di lingkungan nyata, mulai dari infrastruktur, penerapan, hingga pemanfaatan yang langsung membantu bisnis dan industri. Lewat IONext.ai, kami ingin membantu organisasi membawa AI keluar dari tahap eksperimen menuju sistem yang andal, efisien, dan siap dipakai,” tegas Mohamad Fachri, Co-founder & CEO IONext.ai, dalam keterangan yang diterima detikINET.

    Kedaulatan Data: Proses AI Tetap di Dalam Negeri

    Keamanan data selalu menjadi isu krusial. Kebiasaan karyawan memasukkan dokumen internal atau data sensitif pelanggan ke platform AI publik menyimpan risiko kebocoran informasi yang masif. IONext.ai memitigasi risiko ini dengan menyediakan akses API ke berbagai model AI di mana seluruh proses komputasinya berjalan di atas infrastruktur lokal di Indonesia yang telah tersertifikasi standar keamanan ISO/IEC 27001:2022.

    Untuk membantu perusahaan dan software house agar tidak mandek di tahap demo, IONext.ai meluncurkan dua perangkat lunak pendukung terbaru: IONA, perangkat yang dirancang khusus untuk memandu perusahaan menyiapkan dan menjalankan sistem AI mereka dengan mulus; dan Orbit, sebuah ruang kerja terpadu (unified workspace) yang membantu tim teknologi dalam merapikan data, melatih model AI (training), hingga meluncurkan sistem ke tahap produksi.

    Fokus Implementasi Industri & Infrastruktur ‘Sultan’

    Dalam acara tersebut, IONext.ai membedah tiga area utama implementasi AI di perusahaan bersama para praktisi lokal yang telah berpengalaman di bidangnya. Ketiga area tersebut meliputi Computer Vision, yang dibawakan langsung oleh Meidy Fitranto dari Nodeflux; Model Bahasa untuk Kebutuhan Enterprise, yang dikupas tuntas oleh Kenneth Maynard dari Pitjarus; dan Otomasi Keamanan Siber, yang dijelaskan oleh Ahmad Rizqi Meydiarso dari VYPR.

    Para pembicara membedah berbagai kendala nyata yang sering dihadapi saat membangun sistem AI. Tak hanya sekadar teori, acara ini juga diisi dengan sesi workshop praktik secara langsung. Peserta diberikan kesempatan untuk menguji coba model AI di atas mesin komputer berkinerja tinggi (fleet) milik IONext.ai yang ditenagai oleh 18 GPU kelas enterprise. Komposisi mesin “sultan” tersebut terdiri dari 10 kartu Nvidia RTX PRO 6000 Blackwell (dengan kapasitas raksasa 96GB per kartu) dan 8 unit Nvidia L40S.

    Kesiapan infrastruktur dan perangkat dari IONext.ai ini diharapkan mampu mendorong lebih banyak perusahaan lokal dan software house untuk berani mengadopsi AI secara penuh, bukan lagi sekadar sebagai pajangan demo. Fenomena ini sejalan dengan tren global di mana Nvidia Incar Pasar China dengan chip terbarunya, menunjukkan bahwa persaingan infrastruktur AI semakin ketat.

    Bagi pelaku industri di Indonesia, tantangan utama bukanlah pada kemampuan teknis untuk membuat model AI, melainkan pada kesiapan infrastruktur dan tata kelola data. Dengan hadirnya solusi seperti IONext.ai yang menawarkan komputasi lokal bersertifikasi, perusahaan kini memiliki opsi untuk membangun sistem AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga aman dan sesuai regulasi.

    Implikasinya jelas: perusahaan yang mampu melewati fase uji coba dan masuk ke produksi akan memiliki keunggulan kompetitif signifikan. Mereka bisa mengotomatisasi proses bisnis, meningkatkan efisiensi, dan mengambil keputusan berbasis data secara real-time. Sementara itu, perusahaan yang masih terjebak di tahap POC berisiko tertinggal dalam persaingan industri yang semakin digital.

    Dengan momentum yang tepat dan dukungan infrastruktur yang memadai, tahun 2026 bisa menjadi titik balik bagi adopsi AI di Indonesia—dari sekadar eksperimen menuju implementasi nyata yang memberikan dampak bisnis terukur.

  • Menkomdigi Apresiasi ICEC 2026 Bahas Ancaman Siber Anak

    Menkomdigi Apresiasi ICEC 2026 Bahas Ancaman Siber Anak

    **JBNews.id —** Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 yang digelar Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi. Forum internasional ini secara khusus membahas ancaman siber terhadap anak di tengah derasnya arus pengaruh teknologi era digital.

    Dalam sambutannya melalui teleconference secara daring, Sabtu (20/6/2026), Meutya menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan lagi sekadar persoalan nasional. “Perlindungan anak di ruang digital bukan hanya menjadi persoalan nasional, melainkan juga tantangan global yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak,” paparnya. Momentum ini bertepatan dengan peringatan delapan tahun eksistensi ICEC 2026.

    Menurut Meutya, platform digital saat ini tidak lagi mengenal batas negara. Oleh karena itu, upaya melindungi anak dari berbagai risiko di ruang siber memerlukan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas disiplin ilmu. “Teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, perundungan siber, hingga kecanduan platform,” tuturnya.

    Langkah Konkret Pemerintah: PP Tunas

    Menghadapi risiko tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah konkret melalui penerbitan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal dengan sebutan PP Tunas. Regulasi ini menjadi landasan hukum bagi perlindungan anak di ruang digital.

    “PP Tunas dengan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus diberikan sesuai usia, tingkat kematangan, dan risiko yang dihadapi,” ujar mantan Reporter Metro TV ini menekankan. Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan di negara lain yang menerapkan pembatasan ketat, seperti yang dijelaskan dalam artikel tentang pembatasan medsos anak yang berbasis risiko.

    ICEC 2026: Kolaborasi Global untuk PAUD

    Ketua Panitia ICEC 2026, Dr. Ajat, menjelaskan bahwa konferensi ini dirancang bukan sekadar forum akademik. Lebih dari itu, ICEC 2026 menjadi ruang kolaborasi global untuk memperkuat masa depan pendidikan anak usia dini (PAUD) di tengah arus transformasi digital. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan secara hybrid dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

    ICEC 2026 mengusung tema ‘Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and Good Character Generation’. Tema ini relevan mengingat transformasi digital yang semakin masif menghadirkan tantangan baru bagi dunia PAUD. Kehidupan kini dipengaruhi layar gawai, internet, algoritma, maupun kecerdasan buatan atau AI.

    Dunia pendidikan dituntut mampu mempersiapkan anak-anak agar tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kemampuan sosial yang baik. Dr. Ajat menilai tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan besarnya semangat para pendidik PAUD untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi menghadapi perubahan zaman.

    “Pembicara dari sejumlah negara, dan ada 31 kelompok peneliti mendiseminasikan hasil risetnya melalui prosiding konferensi. Guru-guru PAUD dari berbagai daerah juga mengikuti forum internasional ini dengan semangat yang luar biasa. Ini menunjukkan PAUD Indonesia terus bergerak maju dan berkembang,” katanya.

    Konferensi ICEC 2026 digelar sehari dan mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta pemerhati PAUD dari berbagai negara. Forum ini menjadi wadah bertukar gagasan dan strategi PAUD yang relevan dengan perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada nilai kemanusiaan, budaya, dan pembentukan karakter.

    Melalui konferensi tersebut, peserta diharapkan mampu merumuskan berbagai inovasi dan rekomendasi untuk menjawab tantangan pendidikan anak usia dini di era digital. Tujuannya adalah melahirkan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap menghadapi masa depan.

    Ancaman siber seperti paparan konten berbahaya dan perundungan siber menjadi perhatian serius. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong literasi digital dan kesadaran akan internet sehat di kalangan generasi muda.

    Implikasi dari konferensi ini bagi para pendidik dan orang tua adalah pentingnya pemahaman bahwa akses digital anak harus diberikan secara bertahap dan sesuai usia. Regulasi seperti PP Tunas memberikan kerangka hukum yang jelas, namun implementasi di lapangan membutuhkan peran aktif semua pihak, termasuk keluarga dan institusi pendidikan.

    Dengan adanya forum seperti ICEC 2026, diharapkan lahir inovasi-inovasi baru dalam metode pengajaran PAUD yang mengintegrasikan teknologi secara aman dan bertanggung jawab, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang unggul di era digital tanpa kehilangan nilai-nilai karakter dan sosial.

  • Microsoft Teams Pantau Lokasi Karyawan Lewat Wi-Fi

    Microsoft Teams Pantau Lokasi Karyawan Lewat Wi-Fi

    JBNews.id — Microsoft akan meluncurkan fitur baru bernama Workplace Check-in yang memungkinkan perusahaan melacak lokasi karyawan melalui koneksi Wi-Fi. Fitur ini merupakan perpanjangan dari fitur reservasi ruangan yang sudah ada di Microsoft Teams dan dijadwalkan rilis pada akhir Juni 2026 setelah tertunda sejak akhir 2025.

    Workplace Check-in, sebagaimana dilaporkan PC World, akan menganalisis koneksi Wi-Fi pekerja untuk mengirimkan data lokasi mereka ke tim, yang secara otomatis mencakup atasan. Microsoft menjelaskan bahwa ketika pengguna terhubung ke Wi-Fi perusahaan, Teams akan memperbarui lokasi kerja mereka untuk menunjukkan gedung tempat mereka bekerja.

    Perusahaan menekankan bahwa fitur ini “dinonaktifkan secara default” dan pengguna akhir “selalu memiliki pilihan untuk mengizinkan atau menolak pembagian informasi ini.” Namun, pernyataan tersebut menuai skeptisisme karena manajer dapat memaksa karyawan mengaktifkan fitur pelacakan dengan ancaman tindakan disipliner.

    A stylized photo illustration featuring a meek employee on his laptop being yelled at by his overbearing boss.

    Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah Lan Ye, presiden Teamwork Experiences Group Microsoft, mengadakan panel “Ask Me Anything” di subreddit Microsoft Teams. Dalam diskusi tersebut, seorang komentator kritis bertanya, “mengapa Teams dirancang untuk mengadu karyawan di setiap kesempatan, mulai dari kehadiran dan lokasi hingga aktivitas?”

    Menanggapi hal itu, Ye menulis bahwa “Microsoft Teams tidak melacak pergerakan atau kehadiran karyawan.” Ia menambahkan bahwa “tidak ada deteksi otomatis lokasi kerja” dan fitur yang ada bersifat opsional untuk membantu karyawan memperbarui status kerja di kantor atau jarak jauh. Ye menegaskan bahwa fitur tersebut “bukan alat pemantauan atau pengawasan” dan tidak menyimpan data lokasi historis.

    Meskipun pernyataan Microsoft secara teknis benar, para kritikus menilai bahwa perusahaan tetap memberikan alat kepada perusahaan untuk melakukan pengawasan sendiri. Bagi pekerja yang sudah lelah dengan pengawasan tempat kerja yang semakin meluas, perbedaan ini dianggap tidak relevan secara praktis.

    Fitur Workplace Check-in menambah daftar panjang alat pengawasan digital di tempat kerja. Sebelumnya, mouse jigglers dan software pemantau aktivitas telah menciptakan kesenjangan antara karyawan yang ingin bekerja tanpa gangguan dan atasan yang ingin memaksimalkan produktivitas.

    Microsoft belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai kebijakan privasi atau mekanisme opt-out yang lebih ketat untuk fitur ini. Peluncuran dijadwalkan pada akhir Juni 2026 setelah beberapa kali penundaan.

    Bagi pekerja Indonesia yang menggunakan Microsoft Teams, fitur ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran baru tentang privasi di tempat kerja, terutama di era kerja hibrida yang semakin marak. Perusahaan di Indonesia yang mengadopsi fitur ini perlu mempertimbangkan aspek hukum dan etika pengawasan karyawan.

  • NQI dan Hosen-X Bangun Pabrik Baterai & Panel Surya di Indonesia

    NQI dan Hosen-X Bangun Pabrik Baterai & Panel Surya di Indonesia

    JBNews.id — PT Nusantara Quantum Intelligence (PT NQI) resmi menandatangani perjanjian joint venture bernilai multi-juta dolar AS dengan raksasa teknologi energi hijau asal China, Hosen-X Shenzhen. Kesepakatan ini mencakup pembangunan pabrik baterai skala besar dan pabrik wafer panel surya di Indonesia, yang ditandatangani langsung di markas besar Hosen-X di Shenzhen oleh jajaran eksekutif PT NQI, yakni Walter Kaminski (CEO dan Pendiri), Harlan (Chairman), dan Dr. Sam Lee (Presiden Perusahaan).

    Melalui kemitraan global ini, PT NQI juga ditunjuk sebagai distributor tunggal eksklusif untuk seluruh produk dan ekosistem teknologi Hosen-X di Indonesia. Fokus utama dari kerja sama ini adalah konvergensi antara Kecerdasan Buatan (AI) tingkat tinggi dan Teknologi Fotonika untuk menciptakan efisiensi daya maksimal. Langkah ini diproyeksikan mampu mempercepat kemandirian energi bersih nasional dengan melokalisasi rantai produksi dari hulu ke hilir.

    Dua Proyek Manufaktur Raksasa

    Kesepakatan ini mencakup dua proyek fasilitas manufaktur utama yang akan segera dibangun di Indonesia. Pertama, Pabrik Manufaktur Baterai Skala Besar yang mengadopsi standar smart manufacturing milik Hosen-X untuk memproduksi sel baterai performa tinggi dan lini perakitan paket baterai utuh (full-form PACK line) guna memenuhi pasar domestik dan ekspor. Kedua, Pabrik Wafer Panel Surya yang merupakan fasilitas pemrosesan komponen wafer surya untuk menyuplai industri fotovoltaik (PV) regional, yang diproyeksikan mampu memangkas biaya produksi energi surya secara drastis.

    Untuk kebutuhan komersial dan industri, Hosen-X menyediakan Energy Storage System (ESS) berbasis pendingin cair, hingga platform Virtual Power Plant (VPP) cerdas berbasis awan (cloud). Platform AI Big Data mereka akan memonitor seluruh ekosistem, termasuk kabinet penukaran baterai yang dilengkapi sistem pemadam kebakaran otomatis, selama 24 jam penuh.

    Transfer Teknologi Tingkat Tinggi

    “Kerja sama strategis ini bukan sekadar aktivitas impor atau perdagangan produk biasa, melainkan sebuah transfer teknologi tingkat tinggi secara menyeluruh. Langkah ini sekaligus menjadi pembuka jalan bagi era baru mobilitas bersih yang membebaskan masyarakat dari kecemasan jarak tempuh (range anxiety),” ujar Perwakilan Manajemen PT NQI, dalam keterangan yang diterima detikINET.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa proyek joint venture ini bukan sekadar investasi manufaktur, melainkan juga upaya strategis untuk membangun ekosistem energi bersih yang mandiri di Indonesia. Dengan adanya transfer teknologi, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat produksi komponen energi hijau untuk kawasan Asia Tenggara dan global.

    Dalam waktu dekat, proyek joint venture ini ditargetkan untuk segera memasuki fase konstruksi fisik (groundbreaking) di Indonesia demi mempercepat adopsi kendaraan listrik dan energi surya secara masif. Langkah ini sejalan dengan tren global menuju energi terbarukan dan komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target bauran energi bersih nasional.

    Kemitraan ini juga membuka peluang besar bagi tenaga kerja lokal. Dengan adanya pabrik baterai dan panel surya skala besar, diperkirakan akan tercipta ribuan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan teknologi. Selain itu, kehadiran fasilitas ini akan mendorong pertumbuhan industri pendukung, seperti logistik, riset dan pengembangan, serta jasa pemeliharaan.

    Dari sisi bisnis, penunjukan PT NQI sebagai distributor tunggal eksklusif memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan. Perusahaan Indonesia ini akan menjadi pintu gerbang bagi seluruh produk dan ekosistem Hosen-X di pasar domestik, yang mencakup baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, hingga panel surya. Hal ini berpotensi mengubah lanskap industri energi bersih di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

    Kehadiran pabrik wafer panel surya juga menjadi angin segar bagi industri fotovoltaik nasional. Selama ini, sebagian besar komponen panel surya masih diimpor, sehingga biaya produksi energi surya di Indonesia relatif tinggi. Dengan adanya pabrik lokal, biaya produksi diproyeksikan turun drastis, yang pada akhirnya akan membuat harga listrik tenaga surya lebih terjangkau bagi masyarakat dan industri.

    Sementara itu, platform Virtual Power Plant (VPP) cerdas berbasis awan yang disediakan Hosen-X akan memungkinkan pengelolaan energi secara lebih efisien. Platform ini dapat menghubungkan berbagai sumber energi terbarukan, seperti panel surya atap dan baterai penyimpanan, ke dalam satu jaringan cerdas yang dioptimalkan oleh AI. Dengan demikian, pasokan listrik dapat dikelola secara real-time untuk memenuhi permintaan dengan biaya paling efisien.

    Keamanan juga menjadi perhatian utama dalam proyek ini. Kabinet penukaran baterai yang akan digunakan dilengkapi sistem pemadam kebakaran otomatis, yang merupakan standar keselamatan tinggi untuk mencegah risiko kebakaran akibat baterai. Sistem pemantauan 24 jam oleh AI Big Data juga memastikan bahwa seluruh ekosistem beroperasi dalam kondisi optimal dan aman.

    Proyek ini juga memiliki implikasi lingkungan yang positif. Dengan memproduksi baterai dan panel surya secara lokal, jejak karbon dari rantai pasok dapat dikurangi secara signifikan. Selain itu, adopsi kendaraan listrik dan energi surya yang lebih masif akan membantu Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai target netralitas karbon di masa depan.

    Dari perspektif geopolitik, kemitraan ini juga menarik untuk dicermati. Kolaborasi antara perusahaan Indonesia dan China dalam teknologi energi hijau menunjukkan bahwa kerja sama internasional di sektor ini semakin intensif. Indonesia, dengan sumber daya alam dan posisi strategisnya, menjadi tujuan investasi utama bagi perusahaan teknologi global yang ingin memperluas pasar di Asia Tenggara.

    Dalam konteks persaingan global, Indonesia perlu memastikan bahwa investasi semacam ini membawa manfaat maksimal bagi perekonomian nasional. Transfer teknologi yang disebutkan dalam perjanjian harus benar-benar diimplementasikan agar tenaga kerja lokal dapat menguasai teknologi mutakhir dan tidak hanya menjadi operator pabrik.

    Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan berbagai insentif untuk mendorong investasi di sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik. Insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan pengembangan infrastruktur pendukung menjadi daya tarik utama bagi investor asing. Proyek joint venture NQI dan Hosen-X ini menjadi bukti bahwa kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil.

    Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pabrik-pabrik ini dapat beroperasi secara efisien dan kompetitif. Faktor seperti ketersediaan tenaga kerja terampil, pasokan bahan baku, dan infrastruktur logistik akan menjadi penentu keberhasilan proyek ini. Namun, dengan komitmen dari kedua belah pihak dan dukungan pemerintah, proyek ini memiliki potensi besar untuk menjadi pionir industri energi bersih di Indonesia.

    Bagi konsumen, dampak langsung dari proyek ini diperkirakan akan mulai terasa dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Harga kendaraan listrik dan panel surya diproyeksikan akan lebih terjangkau seiring dengan beroperasinya pabrik-pabrik tersebut. Selain itu, infrastruktur penukaran baterai yang lebih luas akan mengatasi salah satu hambatan utama adopsi kendaraan listrik, yaitu range anxiety.

    Proyek ini juga membuka peluang bagi pengembangan ekosistem startup di sektor energi bersih. Dengan tersedianya komponen produksi lokal, biaya pengembangan produk baru akan lebih rendah, sehingga mendorong inovasi di bidang penyimpanan energi, manajemen daya, dan aplikasi energi surya.

    Dalam jangka panjang, keberhasilan proyek ini dapat menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur energi hijau di Asia Tenggara. Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam juga sedang gencar mengembangkan industri serupa, sehingga persaingan akan semakin ketat. Oleh karena itu, kecepatan eksekusi dan kualitas sumber daya manusia akan menjadi faktor penentu.

    Dengan segala potensi dan tantangan yang ada, proyek joint venture antara PT NQI dan Hosen-X ini menjadi salah satu langkah strategis dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi bersih. Keberhasilan proyek ini tidak hanya akan berdampak pada sektor energi, tetapi juga pada perekonomian, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

    Seiring dengan perkembangan proyek ini, publik dan pemangku kepentingan diharapkan dapat terus memantau progresnya. Transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa manfaat yang dijanjikan benar-benar terealisasi. Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, Indonesia optimistis dapat mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.

  • Ancaman AI Hacking: Data Pribadi di Tengah Kekhawatiran Global

    Ancaman AI Hacking: Data Pribadi di Tengah Kekhawatiran Global

    JBNews.id — Ancaman keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) kian nyata. Para ahli keamanan memperingatkan bahwa model AI dengan kemampuan canggih untuk menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak—yang berpotensi menciptakan alat peretasan berbahaya—akan segera menjadi fenomena global yang tak terhindarkan. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketegangan antara perusahaan AI terkemuka, Anthropic, dan pemerintahan AS terkait keamanan model publik terbaru mereka, Claude Fable 5, yang akhirnya ditarik dari pasar.

    Sejumlah insiden peretasan besar terjadi dalam beberapa pekan terakhir, memperkuat urgensi perlindungan data pribadi. Kelompok peretas dan pemeras ShinyHunters mengklaim telah membobol data Madison Square Garden (MSG). Data yang diduga mencakup jutaan catatan dalam file sebesar 45GB itu berisi informasi pribadi pelanggan, termasuk referensi pemain dan pelatih tim basket Knicks. Kebocoran ini terjadi tak lama setelah Knicks meraih gelar juara NBA pertama mereka sejak 1973. Contoh data yang ditinjau oleh 404 Media menunjukkan satu file berisi nama-nama “bakat,” termasuk anggota tim Knicks. MSG sendiri dikenal luas menggunakan teknologi pengawasan, termasuk sistem pengenalan wajah. Setelah pemberitaan tersebut, gugatan class action federal diajukan terkait dugaan pelanggaran data ini.

    Di sisi lain, praktik pengawasan wajah juga merambah ke ranah hiburan. Setidaknya tiga bar di distrik Castro, San Francisco—kawasan LGBTQ yang terkenal—telah menggunakan pemindai wajah di pintu masuk untuk mengumpulkan data detail pelanggan. Teknologi dari perusahaan verifikasi ID, Patronscan, digunakan untuk mengumpulkan gambar wajah, nama, dan jenis kelamin. Jika staf bar mendapati pelanggan terlibat perkelahian, pencurian, atau perilaku negatif lainnya, mereka dapat mencatatnya dalam sistem. Pengenalan wajah kemudian dapat mengidentifikasi orang tersebut saat mereka kembali. Informasi ini bahkan bisa dibagikan sebagai bagian dari “jaringan keamanan” antar perusahaan, menciptakan jaringan pengawasan yang luas.

    Kekhawatiran Global dan Respons Negara

    Kekhawatiran terhadap keamanan data dan pengawasan berbasis AI tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Eropa, gerakan untuk meninggalkan teknologi AS semakin menguat. Badan intelijen dalam negeri Prancis, Direction générale de la Sécurité intérieure (DGSI), mengumumkan akan berhenti menggunakan alat data dan AI dari Palantir dalam beberapa tahun ke depan. Mereka akan menggantinya dengan perangkat lunak dari perusahaan Prancis, ChapsVision. “Kami harus menggunakan model AI kami sendiri,” ujar Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu. “Kami tidak bisa bergantung pada alat yang dikembangkan oleh kekuatan asing. Prancis harus memiliki alatnya sendiri.” Langkah ini bukan yang pertama; bulan lalu, badan intelijen Jerman, BfV, juga memutuskan untuk menggunakan teknologi ChapsVision.

    Sementara itu, di Inggris, pemerintah akan segera memindai wajah para pencari suaka sebagai bagian dari pemeriksaan usia. Langkah ini diambil meskipun terdapat bukti bahwa alat evaluasi dan verifikasi usia tersebut memiliki kelemahan mendasar dan dapat membuat kesalahan dengan konsekuensi yang mengubah hidup seseorang.

    Apple dan Transparansi Alat Privasi

    Di tengah maraknya pengawasan, Apple berencana melakukan perubahan pada alat privasi ‘Hide My Email’. Alat ini memungkinkan pengguna menghasilkan alamat email acak untuk mendaftar ke situs web dan aplikasi baru tanpa menyerahkan informasi pribadi. Saat ini, semua alamat tersebut menggunakan domain @icloud.com. Ke depannya, seperti dilaporkan TechCrunch, Apple akan menggunakan domain @private.icloud.com. Perubahan yang tidak terlalu halus ini dapat memudahkan perusahaan untuk mendeteksi pengguna yang menggunakan layanan pelindung privasi dan meminta mereka mendaftar dengan alamat email alternatif.

    Dalam perkembangan lain, sebuah kebocoran juga mengungkap identitas anggota perkumpulan rahasia ‘Dialog’ milik Peter Thiel. Lebih dari 200 nama terkemuka terdaftar untuk retret yang mencakup panel tentang membangun kultus, seks, dan persiapan Perang Dunia III. WIRED juga mengungkap bahwa perkumpulan tersebut memiliki cara rahasia untuk memberi peringkat pada anggotanya.

    Di sisi positif, teknologi pengawasan juga digunakan untuk hiburan. Penggemar Knicks di seluruh dunia dapat menyaksikan parade kertas di New York City melalui siaran langsung kamera pengawas lalu lintas, berkat karya seniman Morry Kolman.

    Ancaman siber berbasis AI, seperti yang dihadapi oleh Madison Square Garden, menunjukkan betapa rentannya data pribadi di era digital ini. Untuk memahami lebih dalam tentang serangan siber AI, penting bagi pengguna untuk terus waspada. Selain itu, kesadaran akan metode deteksi deepfake juga menjadi krusial. Di sisi lain, kasus peretasan seperti yang menimpa ancaman hacker ke Nintendo menunjukkan bahwa tidak ada entitas yang benar-benar aman.

    Implikasi dari semua peristiwa ini sangat jelas: keamanan data pribadi dan pengawasan berbasis AI adalah isu global yang mendesak. Mulai dari kebocoran data massal, praktik pengawasan di tempat hiburan, hingga ketergantungan pada teknologi asing, semuanya menuntut kewaspadaan dan regulasi yang lebih ketat. Bagi pengguna biasa, artinya adalah pentingnya untuk selalu berhati-hati dalam membagikan data pribadi dan menggunakan alat-alat yang melindungi privasi. Bagi perusahaan dan pemerintah, ini adalah panggilan untuk membangun infrastruktur keamanan yang mandiri dan andal.

  • Ultrasonic Espresso: Kopi Nikmat Tanpa Panas, Hemat Energi 75%

    Ultrasonic Espresso: Kopi Nikmat Tanpa Panas, Hemat Energi 75%

    JBNews.id — Sebuah tim peneliti di Australia berhasil menciptakan metode baru penyeduhan kopi yang revolusioner: “ultrasonic espresso.” Proses ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mengekstrak rasa, minyak, aroma, dan kafein dari bubuk kopi pada suhu ruangan, tanpa memerlukan panas sama sekali. Inovasi ini tidak hanya menjanjikan cita rasa kopi yang setara dengan espresso konvensional, tetapi juga menawarkan efisiensi energi yang luar biasa, dengan konsumsi listrik hanya 24 persen dari mesin espresso biasa.

    Peneliti asal Kolombia, Francisco Trujillo, memimpin tim di University of New South Wales, Australia, dalam pengembangan teknologi ini. Metode yang mereka sebut “ultrasonic espresso” membutuhkan waktu penyeduhan yang lebih lama, yaitu tiga menit, dibandingkan metode espresso tradisional yang hanya 30 detik. Namun, kelemahan waktu tersebut diimbangi dengan penghematan energi hingga 75 persen. “Ini adalah proses penyeduhan suhu ruangan yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mengekstrak rasa, minyak, aroma, dan kafein dari bubuk kopi,” jelas Trujillo.

    Manfaat penghematan energi ini sangat signifikan, terutama bagi kedai kopi dan restoran, namun yang paling diuntungkan adalah bisnis yang memproduksi kopi dalam skala industri, seperti produsen minuman siap minum (ready-to-drink). Inovasi ini membuka peluang besar untuk mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan di sektor produksi kopi massal. Teknologi serupa yang mengubah cara industri beroperasi juga terlihat di sektor lain, misalnya bagaimana Shenzhen InnoX Academy melahirkan berbagai perusahaan rintisan berbasis AI dan hardware.

    Bagaimana Cara Kerja Sonic Brew?

    Sistem eksperimental ini bekerja dengan mengarahkan gelombang ultrasonik langsung ke dalam filter yang berisi bubuk kopi dan air. Alih-alih mengandalkan panas, teknologi ini memanfaatkan fenomena yang dikenal sebagai kavitasi akustik. Fenomena ini melibatkan pembentukan dan pecahnya gelembung-gelembung kecil yang menghasilkan arus mikro. Dalam eksperimen ini, arus mikro tersebut memfasilitasi ekstraksi senyawa terlarut dari kopi.

    Untuk menghasilkan arus mikro tersebut, para ilmuwan merancang perangkat yang mampu mentransmisikan getaran ultrasonik ke seluruh keranjang filter, mengubahnya menjadi semacam reaktor akustik. Desain ini memungkinkan gelombang untuk mengenai banyak titik secara bersamaan dan mempercepat pergerakan cairan di sekitar partikel kopi. “Ultrasound membantu kita menggantikan panas dengan energi mekanik,” jelas Trujillo.

    Tujuan dari seluruh proses ini, yang dijelaskan secara lebih rinci dalam Journal of Food Engineering edisi bulan ini, adalah untuk mencapai konsentrasi yang sebanding dengan espresso. Untuk melakukannya, para peneliti menyesuaikan variabel seperti ukuran gilingan, daya ultrasonik, dan waktu penyeduhan. Dengan menggunakan gilingan halus dan daya 100 watt, mereka memperoleh minuman dengan tingkat padatan terlarut dan hasil ekstraksi yang setara dengan standar ideal yang ditetapkan oleh Specialty Coffee Association.

    Ketika eksperimen diulangi dalam kondisi yang sama tetapi tanpa ultrasound, nilai-nilai ideal tersebut tidak dapat dicapai. Sistem ultrasonik memungkinkan produksi kopi dengan intensitas mirip espresso hanya dalam beberapa menit—para peneliti menemukan waktu optimal antara dua setengah hingga tiga menit—menggunakan air pada suhu ruangan. Tim juga menganalisis berbagai parameter kimia. Konsentrasi kafein dan asam klorogenat ternyata serupa dengan yang diperoleh melalui metode konvensional. Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada pH atau komposisi keseluruhan senyawa volatil yang bertanggung jawab atas aroma.

    Uji Rasa: Apakah Ultrasonic Espresso Lebih Enak?

    Sebuah kelompok yang terdiri dari 100 orang berpartisipasi dalam uji sensorik di mana mereka membandingkan ultrasonic espresso dengan espresso konvensional. Hasilnya, para peserta tidak menunjukkan preferensi yang signifikan terhadap salah satu metode. Skor untuk aroma, rasa, tingkat kepahitan, dan penerimaan secara keseluruhan hampir setara. Hal ini menunjukkan bahwa ultrasound mampu mereplikasi profil rasa kopi espresso dengan sangat baik.

    Para peserta juga membandingkan kopi saring yang dibuat dengan metode konvensional dan dengan ultrasound. “Dalam kasus kopi saring, versi yang diproses dengan ultrasound umumnya lebih disukai, dan peserta menilai tingkat kepahitannya lebih menyenangkan,” catat Trujillo. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknologi ultrasonik bahkan dapat meningkatkan kualitas rasa untuk jenis kopi tertentu.

    Selain mampu mereplikasi karakteristik sensorik espresso, teknik baru ini juga menawarkan manfaat lingkungan yang signifikan. Pengukuran yang dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa, untuk menghasilkan minuman dengan intensitas yang sama, sistem ultrasonik hanya menggunakan 24 persen dari energi yang dikonsumsi oleh mesin espresso biasa. Ini adalah lompatan besar dalam efisiensi energi untuk industri kopi.

    Implikasi dan Masa Depan Seduhan Kopi

    Para penulis menekankan bahwa kopi yang diproduksi menggunakan ultrasound tidak identik dengan espresso tradisional. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk menghasilkan minuman dengan karakteristik kimia dan sensorik yang sebanding tanpa memanaskan air. Penelitian ini membuka kemungkinan untuk mengembangkan pembuat kopi baru yang mampu menyeduh segala jenis minuman, mulai dari espresso hingga kopi saring dan cold brew, hanya dengan menggunakan teknologi yang sama.

    Jika sistem ini suatu hari nanti dipasarkan, suara khas mesin espresso yang mendesis bisa digantikan oleh getaran ultrasonik yang tidak terdengar. Inovasi ini berpotensi mengubah cara kita menikmati kopi di rumah dan di kafe, dengan dampak positif yang besar terhadap konsumsi energi global. Di tengah maraknya inovasi teknologi, penting juga untuk memperhatikan isu-isu lain yang relevan, seperti keputusan Pemkot Serang dan Imigrasi yang melakukan barter aset untuk kepentingan publik.

    Bagi para pelaku industri kopi, temuan ini bukan sekadar kabar baik dari laboratorium. Ini adalah peta jalan menuju produksi kopi yang lebih berkelanjutan dan hemat biaya. Dengan konsumsi energi yang hanya seperempat dari metode konvensional, margin keuntungan bisa meningkat secara signifikan, terutama bagi bisnis dengan volume produksi tinggi. Para pengusaha kopi di Jawa Barat dan Banten, yang dikenal dengan industri kopi yang berkembang, patut mencermati perkembangan teknologi ini.

    Kesimpulannya, ultrasonic espresso menawarkan solusi nyata untuk tantangan efisiensi energi di industri kopi tanpa mengorbankan kualitas rasa. Bagi konsumen, ini berarti di masa depan kita bisa menikmati secangkir kopi nikmat yang diproduksi dengan cara yang jauh lebih ramah lingkungan. Bagi para pegiat kopi rumahan, teknologi ini mungkin akan menjadi standar baru dalam menyeduh kopi, menggantikan mesin espresso yang boros listrik.

  • Casio G-Shock GBX-H5600 Resmi, Pantau Jantung dan Surfing

    Casio G-Shock GBX-H5600 Resmi, Pantau Jantung dan Surfing

    JBNews.id, Jakarta — Casio resmi meluncurkan jam tangan pintar terbaru dari lini G-Shock G-Lide, yakni GBX-H5600. Model ini menggabungkan ketangguhan khas G-Shock dengan fitur kesehatan modern serta kemampuan pendukung aktivitas selancar yang lebih lengkap. Setelah lebih dulu meluncur di Jepang pada musim semi lalu, kini Casio membawa GBX-H5600 ke pasar Amerika Serikat.

    Jam tangan ini ditujukan bagi pengguna yang gemar olahraga air, aktivitas outdoor, hingga mereka yang membutuhkan fitness tracker dengan desain tangguh. GBX-H5600 hadir dalam dua pilihan warna, yakni hitam (GBX-H5600-1) dan biru (GBX-H5600-2). Keduanya mengusung desain kotak ikonik G-Shock dengan material yang lebih ramah lingkungan karena menggunakan resin berbasis bio pada bezel dan strap.

    Salah satu pembaruan yang dibawa Casio adalah bobot yang lebih ringan. Jam tangan ini hanya berbobot 47 gram, sekitar 12 gram lebih ringan dibandingkan seri DW-H5600 sebelumnya. Pengurangan bobot tersebut dimungkinkan berkat penggunaan case back baru berbahan carbon fiber-reinforced resin. Untuk layar, Casio masih mengandalkan panel Memory-in-Pixel (MIP) LCD beresolusi tinggi. Teknologi ini memungkinkan tampilan tetap mudah dibaca meski digunakan di bawah sinar matahari terik, cocok untuk aktivitas outdoor maupun olahraga air.

    Dari sisi fitur kesehatan, GBX-H5600 dibekali sensor optik yang mampu memantau detak jantung secara real-time serta memperkirakan kadar oksigen dalam darah (SpO2). Jam tangan ini juga memiliki akselerometer tiga sumbu untuk menghitung langkah, jarak tempuh, hingga kecepatan pengguna. Selain itu tersedia dukungan pelacakan berbagai aktivitas olahraga, analisis kualitas tidur, hingga pemantauan beban kardio untuk membantu pengguna memahami kondisi kebugaran mereka.

    Karena masuk dalam keluarga G-Lide yang dirancang khusus untuk peselancar, Casio turut menyematkan fitur-fitur pendukung surfing. Pengguna bisa melihat grafik pasang surut air laut, fase bulan, serta waktu matahari terbit dan terbenam langsung dari pergelangan tangan. Menariknya, melalui koneksi Bluetooth ke aplikasi smartphone, pengguna dapat mengunduh data pasang surut dari sekitar 3.300 lokasi surfing di seluruh dunia. Fitur ini membantu peselancar menentukan waktu terbaik untuk turun ke laut.

    Layaknya smartwatch modern, GBX-H5600 juga mendukung notifikasi panggilan telepon, email, dan media sosial dari smartphone. Casio turut menyertakan fitur phone finder serta sinkronisasi waktu otomatis melalui koneksi Bluetooth. Untuk daya tahan, Casio mengandalkan sistem pengisian daya hybrid yang menggabungkan USB dan tenaga surya. Saat fitur pemantauan detak jantung aktif terus-menerus, baterainya diklaim mampu bertahan hingga 35 jam.

    Jika digunakan sebagai jam digital biasa tanpa sensor detak jantung, daya tahan baterainya bisa mencapai sekitar satu bulan. Dalam mode hemat daya, GBX-H5600 bahkan sanggup bertahan hingga 11 bulan tanpa perlu diisi ulang. Dengan kombinasi fitur kesehatan, kemampuan pendukung surfing, serta daya tahan khas G-Shock, GBX-H5600 menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang aktif berolahraga di luar ruangan maupun pecinta aktivitas pantai.

    Soal harga, Casio membanderol G-Shock GBX-H5600 sebesar USD 330 atau sekitar Rp 5,3 juta. Jam tangan ini saat ini telah tersedia di pasar Amerika Serikat dalam dua pilihan warna, hitam dan biru. Peluncuran ini menandai langkah Casio dalam memperkuat posisinya di segmen wearable yang menggabungkan ketahanan fisik dengan kecerdasan digital, sebuah tren yang juga diikuti oleh merek lain seperti yang dibahas dalam artikel tentang Risiko Grok dan implikasinya terhadap pasar teknologi.

    Casio G-Shock GBX-H5600

    Dengan spesifikasi yang solid dan harga yang kompetitif, GBX-H5600 siap menjadi andalan baru bagi para petualang dan peselancar. Ketahanan baterai yang luar biasa dan fitur-fitur canggih seperti pemantauan detak jantung dan data pasang surut laut menjadikannya lebih dari sekadar jam tangan biasa. Perangkat ini adalah bukti komitmen Casio untuk terus berinovasi di pasar wearable, sebuah sektor yang terus berkembang dengan tantangan seperti yang terlihat pada Deepfake Eksplisit di platform lain.

    Bagi pengguna di Indonesia, kehadiran G-Shock GBX-H5600 tentu menjadi angin segar. Meskipun belum ada informasi resmi mengenai ketersediaannya di pasar Tanah Air, perangkat ini diprediksi akan menjadi incaran para kolektor dan penggemar aktivitas luar ruang. Dengan nilai tukar yang fluktuatif, harga Rp 5,3 juta terbilang wajar untuk sebuah jam tangan dengan segudang fitur premium.

    Casio G-Shock GBX-H5600 bukan sekadar jam tangan, melainkan sebuah alat yang dirancang untuk mendukung gaya hidup aktif. Dari fitur kesehatan hingga kemampuan navigasi untuk surfing, semua dikemas dalam bodi yang ringan dan tangguh. Inovasi ini menunjukkan bagaimana teknologi wearable bisa menjadi lebih personal dan fungsional, sebuah pelajaran berharga dari diskusi tentang Kekuasaan Elon Musk di industri teknologi global.

    Casio G-Shock GBX-H5600

    Dengan segala keunggulannya, G-Shock GBX-H5600 menawarkan nilai lebih bagi pengguna yang mencari perangkat serbaguna. Apakah Anda seorang atlet, peselancar, atau sekadar penggemar teknologi, jam tangan ini patut dipertimbangkan. Ketahanan baterai hingga 11 bulan dalam mode hemat daya menjadi nilai jual utama yang sulit ditandingi oleh kompetitor.

    Kesimpulannya, Casio G-Shock GBX-H5600 adalah jawaban atas kebutuhan akan wearable yang tahan banting dan kaya fitur. Dengan harga USD 330, perangkat ini menjadi pilihan ideal bagi siapa pun yang ingin memantau kesehatan sambil menikmati petualangan di alam bebas. Pantau terus perkembangan teknologi wearable lainnya hanya di JBNews.id.

  • Tyranno X Motor Listrik Jarak Tempuh 160 Km Rp32,8 Juta

    Tyranno X Motor Listrik Jarak Tempuh 160 Km Rp32,8 Juta

    JBNews.id — PT Indomobil eMotor Internasional resmi meluncurkan motor listrik terbaru Tyranno X di Jakarta Fair 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu. Motor ini diklaim memiliki jarak tempuh hingga 160 kilometer dalam sekali pengisian daya pada mode eco riding, menjadikannya pilihan baru di segmen kendaraan listrik roda dua Indonesia.

    CEO PT Indomobil eMotor, Pius Wirawan, mengatakan Tyranno X merupakan varian terbaru dari model sebelumnya dengan kapasitas motor lebih besar dan baterai yang mampu mendukung jarak tempuh lebih jauh. “Jadi, ada dua varian Tyranno, Tyranno yang biasa dan Tyranno X. Tyranno biasa akan tetap dijual dengan baterai 2,5 kW, tetap jaraknya 110 km, kalau yang ini (Tyranno X), versi jarak tempuh lebih jauh, 160 km,” kata Pius dalam keterangan resmi.

    Tyranno X dibekali motor listrik berkekuatan 3 kW yang menghasilkan torsi 180 Nm. Tenaga tersebut disuplai baterai lithium berkapasitas 3,456 kWh (72V 48Ah) yang dipadukan dengan charger 15A. Kombinasi ini memungkinkan motor melaju dengan kecepatan maksimum hingga 80 kilometer per jam.

    Dari sisi desain, Tyranno X mengusung karakter adventure dengan ground clearance 170 mm yang memberikan ruang lebih saat melintasi jalan tidak rata, polisi tidur, maupun medan semi-offroad ringan. Indomobil eMotor memosisikan model ini sebagai kendaraan listrik yang dapat digunakan untuk mobilitas perkotaan sekaligus mendukung aktivitas luar ruang ringan.

    Secara dimensi, motor ini memiliki ukuran panjang 1.940 mm, lebar 785 mm, dan tinggi 1.283 mm dengan wheelbase 1.375 mm. Bobotnya tercatat 125,6 kilogram, sementara tinggi jok mencapai 755 mm. Untuk menunjang kenyamanan dan stabilitas berkendara, Tyranno X menggunakan suspensi depan telescopic fork dan suspensi belakang dual adjustable gas shock absorber.

    Pada sektor kaki-kaki, motor ini dibekali ban all terrain (segala medan) berukuran 110/70-13 di depan dan 120/70-12 di belakang. Kombinasi ban dan sistem suspensi tersebut dirancang untuk memberikan kemampuan adaptasi yang lebih baik di berbagai kondisi permukaan jalan.

    Harga dan Varian Warna Tyranno X

    Motor listrik Tyranno X dipasarkan dengan harga Rp32,8 juta on the road (OTR) Jakarta. Harga tersebut menjadikannya kompetitif di segmen motor listrik adventure dengan jarak tempuh jauh. Tersedia dalam enam pilihan warna, yakni Charcoal Black, Mineral Blue, Lava Red, Desert Yellow, Ash Grey, dan Moss Green.

    Pius mengatakan, perusahaan akan mulai mengirimkan unit Tyranno X ke garasi konsumen mulai Agustus tahun ini. “Kita mungkin akan mulai delivery (pengiriman) nanti di akhir Agustus atau awal bulan September,” kata dia.

    Dengan jarak tempuh 160 km, motor listrik ini cocok untuk pengguna harian yang membutuhkan mobilitas tinggi di perkotaan sekaligus fleksibilitas untuk perjalanan luar kota ringan. Kapasitas baterai yang besar juga menjadi nilai tambah bagi konsumen yang menginginkan kendaraan listrik dengan daya tahan baterai optimal.

    Indomobil eMotor sebelumnya telah merilis Tyranno biasa dengan baterai 2,5 kW dan jarak tempuh 110 km. Dengan hadirnya Tyranno X, perusahaan memperluas pilihan konsumen di segmen motor listrik adventure. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren kendaraan listrik, Anda dapat membaca artikel tentang Xiaomi 17T Pro yang juga menjadi sorotan di sektor teknologi.

    Spesifikasi Lengkap Tyranno X

    Berikut spesifikasi lengkap motor listrik Tyranno X berdasarkan data resmi dari PT Indomobil eMotor Internasional:

    • Motor: 3 kW, torsi 180 Nm
    • Baterai: Lithium 3,456 kWh (72V 48Ah)
    • Charger: 15A
    • Jarak tempuh: 160 km (mode eco riding)
    • Kecepatan maksimum: 80 km/jam
    • Ground clearance: 170 mm
    • Dimensi: 1.940 x 785 x 1.283 mm
    • Wheelbase: 1.375 mm
    • Bobot: 125,6 kg
    • Tinggi jok: 755 mm
    • Suspensi depan: Telescopic fork
    • Suspensi belakang: Dual adjustable gas shock absorber
    • Ban depan: 110/70-13 (all terrain)
    • Ban belakang: 120/70-12 (all terrain)
    • Harga: Rp32,8 juta OTR Jakarta
    • Warna: Charcoal Black, Mineral Blue, Lava Red, Desert Yellow, Ash Grey, Moss Green
    • Mulai pengiriman: Akhir Agustus atau awal September 2026

    Dengan spesifikasi tersebut, Tyranno X menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mencari motor listrik dengan jarak tempuh jauh dan kemampuan offroad ringan. Perusahaan menargetkan pengiriman unit ke konsumen pada akhir Agustus atau awal September tahun ini. Untuk informasi lebih lanjut tentang keamanan siber, Anda dapat membaca artikel Cisco Rilis Spesifikasi Open Source.

    Kehadiran Tyranno X di pasar motor listrik Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan kendaraan ramah lingkungan yang semakin diminati. Dengan harga Rp32,8 juta, motor ini menawarkan value yang kompetitif dibandingkan model sejenis di pasaran. Bagi Anda yang tertarik dengan teknologi terkini, artikel tentang Nothing Hentikan CMF Phone 2 Pro juga bisa menjadi bacaan menarik.

    Indomobil eMotor berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi di sektor kendaraan listrik. Dengan Tyranno X, perusahaan ingin memberikan solusi mobilitas yang ramah lingkungan, praktis, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia yang semakin sadar akan pentingnya energi bersih.

  • Wabah Purba 5.500 Tahun Lalu Tewaskan Pemburu-Pengumpul di Siberia

    Wabah Purba 5.500 Tahun Lalu Tewaskan Pemburu-Pengumpul di Siberia

    JBNews.id — Sekelompok manusia pemburu-pengumpul di Siberia menjadi korban wabah pes mematikan sekitar 5.500 tahun yang lalu. Studi baru mengungkap bahwa ini adalah bukti tertua penyakit pes yang pernah teridentifikasi, menantang asumsi lama tentang asal-usul epidemi dalam sejarah manusia.

    Tim peneliti yang menyelidiki sisa-sisa kerangka dari Zaman Batu berhasil mengidentifikasi DNA kuno dari strain Yersinia pestis yang sebelumnya tidak diketahui. Bakteri inilah yang menjadi penyebab tiga jenis pes: pes paru (pneumonik), pes bubo (bubonik), dan pes septikemik. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature, penyakit yang menginfeksi kelompok pemburu-pengumpul ini kemungkinan besar adalah pes paru, yang ditularkan dari marmot liar dan meluluhlantakkan komunitas keluarga di sekitar Danau Baikal.

    “Kami mendapatkan hasil sangat mengejutkan bahwa kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan,” kata penulis utama studi Ruairidh Macleod, peneliti genomik kuno di University of Oxford.

    Penemuan ini menantang asumsi lama yang menyebut bahwa epidemi besar pertama kali terjadi setelah bangkitnya sektor pertanian. Faktanya, wabah pes sudah menghabisi kelompok pemburu-pengumpul prasejarah ribuan tahun sebelum Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa pada abad ke-14.

    DNA Kuno Ungkap Wabah Mematikan

    Peneliti mengekstraksi DNA kuno dari gigi 46 individu yang dimakamkan di empat permakaman di sepanjang tepi Sungai Angara, yang mengalir dari Danau Baikal. Hasilnya mengejutkan: bakteri Y. pestis teridentifikasi dalam jumlah besar pada 18 individu. Kasus-kasus ini mencakup dua wabah penyakit berbeda.

    Wabah pertama berlangsung dari sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun yang lalu, sementara wabah kedua kemungkinan terjadi antara 5.126 hingga 4.926 tahun lalu. Beberapa makam berisi sisa kerangka sejumlah individu terinfeksi yang dikuburkan di saat bersamaan, mengindikasikan mereka tewas selama wabah yang sama.

    Satu makam merupakan tempat peristirahatan tiga gadis muda yang berkerabat dekat, sementara makam lainnya berisi keponakan dan bibinya. “Pasti ada penyintas yang mengenal orang-orang ini ketika mereka masih hidup, mengetahui identitas mereka, serta mengetahui hubungan biologis mereka, sehingga bisa menguburkan para korban di liang lahad yang sama,” urai Macleod.

    Peneliti menyadari jumlah anak yang tidak wajar tingginya dimakamkan dalam rentang waktu singkat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, yang memperkuat dugaan bahwa penyebab kematian adalah penyakit mematikan. DNA kuno mengungkap keberadaan gen unik pengode protein yang memicu respons imun masif, yang mungkin menjelaskan mengapa anak-anak paling rentan meninggal akibat wabah ini.

    Pes Mematikan Jauh Sebelum Maut Hitam

    Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa wabah pes telah membinasakan peradaban jauh sebelum terjadinya Maut Hitam, epidemi yang menyapu Eropa abad ke-14 dan menewaskan sekitar 25 juta orang atau setara 25% hingga 33% total populasi Eropa Barat masa itu. Sebagai contoh, wabah pes berulang telah teridentifikasi pada periode antara 5.300 hingga 4.900 tahun lalu pada kelompok petani dari wilayah yang sekarang Skandinavia.

    Namun, apakah galur pes awal ini mematikan atau sekadar menyebabkan penyakit ringan masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Kini, pemeriksaan mendalam terhadap DNA kuno kelompok pemburu-pengumpul di Siberia memberi bukti terbaik bahwa galur pes prasejarah bersifat mematikan dan mengakibatkan kematian massal.

    Pes memainkan peran sangat penting dalam sejarah manusia dan terus menginfeksi hingga hari ini. Namun saat ini, kasus Y. pestis yang terdeteksi lebih awal sudah dapat diobati menggunakan antibiotik. Menurut penulis studi Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner University of Copenhagen, memahami bagaimana penyakit ini berevolusi sangatlah penting untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana Y. pestis dapat berubah di masa depan.

    Penemuan ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang sejarah penyakit pes, tetapi juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang evolusi patogen. Dengan memahami bagaimana bakteri mematikan ini berevolusi selama ribuan tahun, para ilmuwan dapat lebih siap menghadapi potensi wabah di masa depan. Para peneliti kini terus menganalisis temuan planet purba dan artefak prasejarah lainnya untuk mengungkap lebih banyak misteri peradaban kuno.

    Implikasinya jelas: penyakit pes bukanlah fenomena yang muncul bersamaan dengan peradaban agraris, melainkan telah menjadi ancaman bagi manusia jauh sebelumnya. Bagi para pemburu-pengumpul di Siberia 5.500 tahun lalu, wabah ini adalah bencana yang meluluhlantakkan komunitas mereka dalam waktu singkat.

    Pelajaran dari masa lalu ini relevan hingga kini. Pemahaman tentang sejarah evolusi patogen dapat membantu manusia modern mengantisipasi dan merespons ancaman penyakit menular di masa depan, termasuk kemungkinan munculnya varian baru dari bakteri atau virus yang sudah dikenal.

    Studi ini juga menegaskan pentingnya arkeologi dan genomik kuno dalam mengungkap sejarah penyakit yang selama ini tidak tercatat dalam dokumen tertulis. Dengan teknologi DNA kuno, para ilmuwan kini dapat “membaca” catatan biologis yang ditinggalkan oleh nenek moyang manusia ribuan tahun lalu.

  • Inggris Larang Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 2027

    Inggris Larang Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 2027

    JBNews.id — Pemerintah Inggris resmi melarang anak-anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial. Kebijakan bersejarah ini diumumkan Perdana Menteri Sir Keir Starmer pada Sabtu (20/6/2026) dan akan berlaku mulai musim semi 2027.

    Langkah ini bertujuan mengembalikan masa kanak-kanak yang dinilai semakin tergerus oleh aktivitas digital. Pemerintah Inggris menilai anak-anak saat ini menghabiskan terlalu banyak waktu menggulir konten digital sehingga mengurangi waktu bermain, belajar, dan berinteraksi secara langsung.

    Platform seperti TikTok, Instagram, Snapchat, Facebook, YouTube, dan X diperkirakan masuk dalam cakupan aturan. Sebaliknya, layanan pesan instan seperti WhatsApp dan Signal tidak termasuk dalam larangan, meski tetap dapat ditinjau di masa mendatang.

    “Kami ingin mengembalikan masa kecil anak-anak,” demikian pesan utama pemerintah Inggris dalam pengumuman resminya.

    Pembatasan Fitur dan Verifikasi Usia

    Selain melarang akses media sosial, pemerintah Inggris juga berencana membatasi sejumlah fitur berisiko tinggi bagi remaja. Fitur yang dimaksud termasuk siaran langsung (livestreaming) serta komunikasi dengan orang asing pada layanan digital dan platform game.

    Pemerintah juga mengkaji pembatasan tambahan seperti jam malam penggunaan platform digital. Pembatasan fitur yang mendorong penggunaan berlebihan, termasuk infinite scrolling dan autoplay, juga masuk dalam rencana.

    Regulator komunikasi Inggris, Ofcom, akan mengembangkan mekanisme verifikasi usia dan memperoleh kewenangan tambahan dalam pengawasan serta penegakan aturan. Pemerintah menegaskan fokus penegakan diarahkan kepada platform digital, bukan kepada anak-anak atau orang tua.

    Dukungan dan Kritik

    Kebijakan ini muncul setelah pemerintah menggelar konsultasi nasional terkait hubungan anak dengan dunia digital. Hasil konsultasi menunjukkan sekitar 90% orang tua mendukung penerapan batas usia minimum untuk mengakses media sosial.

    Meski mendapat dukungan luas dari kelompok orang tua dan pegiat keselamatan anak, kebijakan tersebut menuai kritik. Beberapa perusahaan teknologi menilai larangan total berpotensi mendorong remaja berpindah ke platform yang tidak diatur atau mencari cara menghindari pembatasan.

    Sejumlah pakar dan kelompok anak muda mempertanyakan efektivitas kebijakan. Mereka berpendapat media sosial tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga memberikan manfaat dalam aspek pendidikan, kreativitas, hingga membangun komunitas sosial bagi remaja.

    Mengikuti Jejak Indonesia dan Australia

    Jika terealisasi, Inggris akan menjadi salah satu negara dengan pembatasan media sosial paling ketat bagi anak-anak. Langkah ini mengikuti kebijakan serupa yang sebelumnya diterapkan Australia.

    Indonesia sendiri telah menerapkan aturan pembatasan akses platform digital berisiko tinggi kepada pengguna berusia di bawah 16 tahun. Regulasi serupa di berbagai negara menunjukkan tren global untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial.

    Pemerintah Inggris menargetkan aturan baru mulai diterapkan pada musim semi 2027 setelah melalui proses legislasi dan penyusunan aturan teknis oleh regulator.

    Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube harus segera menyesuaikan sistem verifikasi usia mereka. Ofcom akan mengawasi kepatuhan dan memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi bagi platform yang melanggar.

    Kebijakan ini menjadi preseden penting bagi negara-negara lain yang tengah mempertimbangkan regulasi serupa. Dampaknya terhadap industri teknologi global diperkirakan akan signifikan, mengingat Inggris merupakan salah satu pasar digital terbesar di dunia.

    Bagi para orang tua di Indonesia, perkembangan ini menjadi referensi penting dalam memahami arah kebijakan perlindungan anak di era digital. Regulasi yang ketat di negara maju dapat menjadi acuan bagi penguatan aturan serupa di dalam negeri.

    Pemerintah Inggris menekankan bahwa kebijakan ini dirancang untuk melindungi anak-anak, bukan untuk menghukum mereka. Fokus penegakan tetap pada platform digital yang menyediakan layanan tanpa verifikasi usia yang memadai.

    Dengan mulai berlaku pada 2027, industri teknologi memiliki waktu untuk mempersiapkan sistem kepatuhan. Ofcom akan merilis panduan teknis bagi platform dalam beberapa bulan mendatang.

    Kebijakan larangan media sosial ini menandai perubahan besar dalam pendekatan regulasi digital global. Inggris bergabung dengan Australia dan Indonesia dalam menerapkan pembatasan ketat akses media sosial bagi anak-anak.

    Para pegiat keselamatan anak menyambut baik langkah ini. Mereka berharap kebijakan serupa akan diadopsi lebih banyak negara untuk melindungi generasi muda dari risiko dunia digital.

    Di sisi lain, perusahaan teknologi besar diperkirakan akan melakukan lobi intensif untuk melunakkan aturan. Namun, dengan dukungan 90% orang tua dalam konsultasi nasional, pemerintah Inggris memiliki mandat kuat untuk melanjutkan kebijakan ini.