Blog

  • 69% Warga AS Dukung AI Sovereign Fund: 50% Saham Perusahaan untuk Publik

    69% Warga AS Dukung AI Sovereign Fund: 50% Saham Perusahaan untuk Publik

    JBNews.id – Sebanyak 69 persen pekerja di Amerika Serikat mendukung kebijakan yang memaksa perusahaan kecerdasan buatan (AI) untuk mentransfer 50 persen saham mereka ke dalam dana kekayaan publik atau sovereign wealth fund. Temuan ini berasal dari survei nasional terbaru yang dilakukan oleh Versasight terhadap 1.700 orang dewasa.

    Gagasan yang digadang-gadang oleh Senator Bernie Sanders (I-VT) ini mendapat dukungan lintas partai. Bahkan ketika kebijakan tersebut secara eksplisit dikaitkan dengan nama Sanders, dukungan tetap berada di angka 64 persen. Angka ini mencerminkan kekhawatiran mendalam publik terhadap dampak AI yang semakin meluas.

    “Di mata publik, dana AI sovereign dipandang sebagai alat untuk mendistribusikan keuntungan dari industri AI kembali ke masyarakat luas,” ujar CEO Versasight Benjamin Leff kepada CNBC News, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

    Survei ini dirilis di tengah meningkatnya sentimen negatif terhadap AI di Amerika Serikat. Berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa lebih banyak orang dari sebelumnya memiliki pandangan negatif terhadap teknologi ini. Kekhawatiran utama meliputi potensi AI menggantikan pekerjaan, merusak lingkungan, dan mendorong kenaikan tagihan energi. Selain itu, AI juga dituding dilatih menggunakan karya tulis dan seni curian, sementara chatbot didorong membuat pengguna mengalami masalah kesehatan mental.

    Dalam konteks ini, dukungan terhadap AI Sovereign Fund menjadi sinyal kuat bahwa publik menginginkan intervensi nyata. “Ada keinginan yang tidak dapat disangkal di antara warga Amerika dari kedua partai untuk pengawasan federal, transparansi absolut, dan akuntabilitas guna memastikan keamanan AI serta memungkinkan semua warga Amerika berpartisipasi dalam manfaat ekonomi AI,” tambah Leff dalam pernyataannya.

    Usulan Bernie Sanders: Dana Rp 7 Triliun untuk Publik

    Gagasan yang semula berada di pinggiran wacana politik ini menjadi arus utama ketika Sanders mengusulkan American AI Sovereign Wealth Fund Act pada Juni lalu. Dalam esai yang diterbitkan di New York Times, Sanders berargumen bahwa pembentukan dana ini akan “memberi publik peran langsung dalam menentukan masa depan teknologi ini.”

    “Ini akan menjamin bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh AI digunakan untuk meningkatkan kehidupan kita semua — bukan sekadar membuat orang terkaya di dunia semakin kaya,” tambahnya dalam pernyataan bulan lalu.

    Undang-undang yang diusulkan akan menargetkan perusahaan AI terbesar di AS seperti Anthropic dan OpenAI. Perusahaan-perusahaan ini diwajibkan untuk menyerahkan pajak satu kali sebesar 50 persen dari nilai saham mereka. Berdasarkan valuasi saat ini, Sanders memperkirakan dana ini akan bernilai sekitar US$7 triliun.

    Dana tersebut, menurut gagasannya, dapat digunakan untuk mengimbangi sebagian dari gangguan luas yang mungkin ditimbulkan AI terhadap masyarakat. Namun, tidak semua kritikus industri AI setuju dengan pendekatan ini.

    Kritik: Risiko Regulasi yang Lemah

    Beberapa pihak berpendapat bahwa memberikan pemerintah saham besar di perusahaan AI justru akan mendorong pemerintah untuk melonggarkan regulasi. Kekhawatiran lainnya adalah bahwa langkah ini akan memberikan perusahaan AI pengaruh yang lebih besar terhadap pemerintah daripada yang sudah mereka miliki saat ini.

    Meskipun dianggap sebagai ide yang cacat dan tidak realistis oleh sebagian kalangan, dukungan publik yang kuat menunjukkan keputusasaan akan tindakan nyata terhadap industri ini. Survei Versasight mengonfirmasi bahwa keinginan untuk regulasi dan pengawasan ketat menjadi prioritas utama warga Amerika.

    Data ini juga relevan dengan tren global. Di Indonesia, adopsi teknologi digital terus meningkat. Pengguna 5G Indonesia diprediksi akan melonjak signifikan, menciptakan ekosistem digital yang lebih besar. Sementara itu, pengalaman konsumen di Amerika Serikat menunjukkan bahwa layanan AI yang buruk dapat mendorong perpindahan pengguna. Konsumen AS frustrasi dengan layanan AI dan banyak yang memilih beralih ke alternatif lain.

    Di sisi lain, sikap publik yang semakin kritis terhadap AI juga tercermin dalam survei lain. Survei Pew Research Center sebelumnya menemukan bahwa warga Amerika semakin membenci AI, meskipun penggunaan teknologi ini justru meningkat. Paradoks ini menunjukkan bahwa meskipun orang menggunakan AI, mereka tetap menginginkan perlindungan dan pengawasan yang lebih ketat.

    Dengan dukungan 69 persen terhadap AI Sovereign Fund, jelas bahwa publik tidak hanya menginginkan inovasi, tetapi juga keadilan dan transparansi dalam distribusi keuntungan dari revolusi AI. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah para pembuat kebijakan akan mendengarkan suara mayoritas ini atau justru mengikuti kepentingan industri.

    Implikasinya bagi pembaca Indonesia: tren regulasi AI di AS seringkali menjadi preseden global. Jika kebijakan seperti AI Sovereign Fund berhasil diimplementasikan, model serupa bisa saja diadaptasi di negara lain, termasuk Indonesia, terutama dengan pertumbuhan ekosistem digital dan AI yang semakin pesat.

  • Malware RedHook Incar Rekening Pengguna Android di Indonesia

    Malware RedHook Incar Rekening Pengguna Android di Indonesia

    JBNews.id — Pengguna Android di Indonesia menjadi sasaran baru malware RedHook, varian trojan jarak jauh (RAT) yang mampu menguras rekening bank. Laporan perusahaan keamanan siber Group-IB mengungkapkan malware ini menyebar melalui tautan berbahaya yang dikirim via SMS, email, atau media sosial.

    RedHook versi baru ini merupakan ancaman serius karena tidak hanya memata-matai aktivitas pengguna, tetapi juga memiliki kemampuan penuh untuk mengendalikan perangkat. Operator malware menyamar sebagai agen layanan pelanggan atau karyawan organisasi terpercaya untuk menipu korban agar menginstal aplikasi berbahaya.

    Korban yang terpedaya akan diarahkan ke situs palsu yang menyerupai Google Play Store untuk mengunduh file APK. Setelah terinstal, pengguna diminta memberikan izin Aksesibilitas dengan dalih aplikasi perlu fitur tersebut untuk berfungsi normal. Izin ini menjadi pintu masuk bagi malware untuk mengambil alih kendali perangkat.

    Cara Kerja Malware RedHook

    Setelah mendapatkan izin Aksesibilitas, malware dapat mengaktifkan wireless Android Debug Bridge (ADB) dengan membuka opsi developer. Langkah ini memberikan akses shell (UID 2000) kepada peretas, sehingga mereka memiliki kontrol penuh atas perangkat korban.

    Dengan kontrol tersebut, peretas bisa merekam penekanan tombol, mengunci layar, mengumpulkan kontak dan SMS, mengaktifkan kamera, hingga menginstal dan menghapus aplikasi. Kemampuan ini memungkinkan malware mencuri kredensial perbankan dan kode OTP yang dikirim via SMS.

    Fitur Canggih yang Sulit Dihilangkan

    RedHook pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Cyble tahun lalu. Versi baru yang diidentifikasi Group-IB merupakan versi yang ditingkatkan sehingga sulit dihapus dari perangkat. Malware ini menggunakan WakeLock untuk mengelabui sistem agar tetap berjalan sepanjang waktu.

    Tidak hanya itu, trojan ini juga dapat menjaga layar tetap menyala dengan mengaktifkan piksel 1×1 yang hampir tidak terlihat. Hal ini meyakinkan sistem bahwa malware adalah proses penting yang tidak boleh dimatikan.

    Yang lebih mengkhawatirkan, malware RedHook versi baru menggunakan mekanisme ‘two-service cross-process resurrection mechanism’. Sederhananya, ini adalah dua fungsi yang dapat membangkitkan satu sama lain ketika dimatikan, sehingga malware sulit dihilangkan sepenuhnya dari perangkat.

    Target Utama di Asia Tenggara

    Menurut laporan Group-IB, pengguna Android di Asia Tenggara menjadi target utama penyebaran malware ini. Vietnam dan Indonesia termasuk negara yang paling rentan terhadap serangan RedHook. Metode penyebaran melalui SMS dan media sosial membuat malware ini mudah menjangkau banyak korban.

    Para ahli keamanan siber mengingatkan bahwa serangan ini memanfaatkan kelengahan pengguna yang mudah percaya pada tautan dari sumber tidak dikenal. Operator malware biasanya menyamar sebagai institusi resmi seperti bank atau perusahaan layanan digital untuk meningkatkan kredibilitas penipuan.

    Seiring meningkatnya ancaman siber, pengguna perlu lebih waspada terhadap celah keamanan pada perangkat mereka. Malware RedHook menjadi contoh bagaimana trojan modern dirancang untuk bertahan lama di perangkat korban.

    Langkah Pencegahan untuk Pengguna Android

    Pengguna Android diimbau untuk hanya menginstal aplikasi dari sumber resmi seperti Google Play Store. Selalu berhati-hati jika harus mengunduh APK dari sumber pihak ketiga dan selalu perhatikan izin akses yang diminta aplikasi.

    Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:

    • Tidak mengklik tautan mencurigakan yang dikirim via SMS, email, atau media sosial
    • Memeriksa izin aplikasi sebelum menginstal, terutama izin Aksesibilitas
    • Mengaktifkan Google Play Protect untuk memindai aplikasi berbahaya
    • Memperbarui sistem operasi dan aplikasi ke versi terbaru
    • Menggunakan antivirus tepercaya untuk perlindungan tambahan

    Ancaman keamanan digital seperti RedHook menunjukkan pentingnya kewaspadaan dalam menggunakan perangkat mobile. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus memperkuat pengawasan untuk melindungi masyarakat dari ancaman siber.

    Dampak bagi Pengguna di Indonesia

    Bagi pengguna Android di Indonesia, ancaman malware RedHook sangat nyata. Dengan kemampuan mengakses data perbankan dan kode OTP, malware ini bisa menguras rekening dalam waktu singkat. Kerugian finansial yang ditimbulkan bisa sangat besar jika pengguna tidak waspada.

    Para ahli merekomendasikan pengguna untuk segera memeriksa perangkat mereka jika mencurigai adanya aktivitas mencurigakan. Gejala seperti baterai cepat habis, data seluler boros tanpa sebab, atau munculnya aplikasi asing bisa menjadi tanda perangkat telah terinfeksi.

    Jika menemukan gejala tersebut, pengguna disarankan untuk segera melakukan factory reset dan mengganti semua kata sandi akun penting, terutama akun perbankan. Langkah cepat ini bisa mencegah kerugian lebih lanjut sebelum malware sempat mencuri data sensitif.

    Malware RedHook versi baru ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber terus berkembang. Pengguna harus selalu memperbarui pengetahuan tentang modus penipuan terbaru dan menerapkan praktik keamanan digital yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

  • Krisis Memori Global Makin Parah, 2027 Diramal Tahun Terburuk

    Krisis Memori Global Makin Parah, 2027 Diramal Tahun Terburuk

    JBNews.id — CEO SK Hynix, Kwak Noh-jung, memperingatkan bahwa krisis chip memori global masih jauh dari usai dan memprediksi tahun 2027 akan menjadi tahun terburuk sepanjang sejarah industri semikonduktor dari sisi kelangkaan pasokan. Peringatan ini disampaikan dalam wawancaranya bersama Reuters, di mana ia juga memperkirakan tingginya permintaan chip memori dari perusahaan teknologi akan terus melampaui kapasitas produksi pabrik hingga melampaui tahun 2030.

    “Permintaan dari pelanggan kami terus meningkat, sementara kapasitas (produksi) kami memiliki keterbatasan,” ujar Kwak, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (14/7/2026). Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa industri teknologi global harus bersiap menghadapi tekanan pasokan yang berkepanjangan.

    Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama di balik krisis ini. Dengan tidak adanya tanda-tanda perlambatan tren infrastruktur AI dalam waktu dekat, permintaan untuk memori berkinerja tinggi dipastikan akan terus meroket. Kondisi ini berdampak langsung pada berbagai sektor, mulai dari PC hingga ponsel pintar. Data terbaru menunjukkan pengapalan PC turun pertama kali dalam dua tahun akibat krisis RAM yang melanda pasar global.

    SK Hynix, perusahaan asal Korea Selatan yang mendominasi suplai chip memori AI, tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Mereka baru saja melakukan debut gemilang di bursa saham NASDAQ Amerika Serikat dengan mematok harga American Depositary Receipts (ADR) sebesar USD 149 per lembarnya. Melalui aksi korporasi tersebut, SK Hynix berhasil meraup dana segar fantastis mencapai USD 26,5 miliar atau sekitar Rp 430 triliun.

    Dana Triliunan untuk Produksi, Tapi Butuh Waktu

    Uang triliunan rupiah ini rencananya akan langsung disuntikkan untuk membangun fasilitas produksi canggih yang baru guna menggenjot pasokan chip. Namun, membangun pabrik semikonduktor membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Artinya, suntikan dana tersebut tidak akan bisa langsung memberikan jalan keluar bagi kelangkaan di depan mata. Hal ini memperkuat prediksi Kwak bahwa tahun 2027 akan menjadi titik kritis bagi industri memori global.

    Bagi para pengamat teknologi, industri memori global memang memiliki reputasi buruk terkait volatilitas harga yang ekstrem, atau yang kerap dikenal dengan siklus boom-and-bust (lonjakan tinggi dan kejatuhan tajam). Hanya beberapa tahun lalu, tepat sebelum meledaknya tren AI, harga memori global hancur lebur akibat lesunya permintaan pasar terhadap PC dan ponsel.

    Dampak Krisis ke Berbagai Sektor

    Krisis chip memori ini telah menimbulkan efek domino di berbagai sektor industri. Produsen ponsel pintar, misalnya, mulai kesulitan mendapatkan pasokan RAM dengan harga yang wajar. Akibatnya, ponsel murah mulai menghilang dari pasaran karena biaya komponen yang melonjak tajam. Sementara itu, industri PC juga merasakan dampak serupa dengan penurunan pengapalan pertama dalam dua tahun terakhir.

    Kondisi pada awal tahun 2023 lalu menjadi gambaran betapa parahnya siklus ini. Saat itu, harga memori global ambruk hingga memaksa perusahaan sekelas Micron melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 15% karyawannya. Kala itu, saham Micron hanya diperdagangkan di kisaran USD 55 per lembar. Bandingkan dengan hari ini, di mana harga satu lembar saham mereka pernah meroket tajam melampaui angka USD 930 hanya karena pesanan dari perusahaan AI.

    Dampak krisis ini juga mulai terasa di sektor lain. Harga Pixel 11 dan Watch 5 diprediksi naik akibat kelangkaan chip yang mempengaruhi biaya produksi perangkat elektronik konsumen. Bahkan, industri game pun tidak luput dari imbas krisis ini dengan ancaman PHK massal dan penutupan studio yang mengancam beberapa platform besar.

    Dengan proyeksi bahwa krisis ini akan berlangsung hingga melampaui tahun 2030, para pelaku industri dan konsumen harus bersiap menghadapi harga komponen yang lebih tinggi dan ketersediaan produk yang terbatas dalam beberapa tahun ke depan. Langkah SK Hynix menggalang dana miliaran dolar menjadi indikasi bahwa solusi jangka panjang membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak sebentar.

  • Komdigi Takedown 3,7 Juta Konten Judi Online sejak Oktober 2024

    Komdigi Takedown 3,7 Juta Konten Judi Online sejak Oktober 2024

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah memutus akses terhadap lebih dari 3,7 juta situs dan konten bermuatan judi online (judol) sejak 20 Oktober 2024 hingga 12 Juli 2026. Langkah ini merupakan bagian dari percepatan pemberantasan perjudian daring di Indonesia.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkapkan bahwa penindakan tersebut dilakukan melalui patroli siber serta laporan dari masyarakat. “Dari 20 Oktober 2024 sampai 12 Juli 2026, Komdigi telah melakukan takedown situs dan konten sebanyak 3,7 juta,” ujar Meutya dalam acara OJK Banking Forum 2026 di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

    Angka tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberantas judi online yang marak di Indonesia. Namun, Meutya menegaskan bahwa pemblokiran situs saja tidak cukup untuk menghentikan praktik ini secara permanen. Para pelaku dapat dengan cepat membuat situs baru selama ekosistem pendukungnya masih berjalan.

    Peran Aktif Masyarakat dalam Pelaporan

    Selain upaya internal, Komdigi juga mendorong partisipasi masyarakat melalui layanan cekrekening.id. Meutya menjelaskan bahwa masyarakat telah melaporkan lebih dari 156 ribu rekening yang diduga digunakan untuk aktivitas judi online maupun penipuan. Tidak hanya itu, Komdigi juga menerima sekitar 85.500 laporan nomor telepon seluler yang diduga dipakai untuk praktik scamming.

    “Percepatan pemberantasan judi online harus terus digalakkan dengan sinergi dan soliditas,” kata Meutya. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memberantas rantai aktivitas judi online yang kompleks.

    Data dari laporan masyarakat ini menjadi bahan penting bagi Komdigi untuk melakukan penelusuran lebih lanjut. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menutup celah yang digunakan pelaku, termasuk melalui Nomor HP Siluman yang kerap dimanfaatkan.

    Kolaborasi dengan Sektor Keuangan

    Menyadari bahwa pemblokiran situs tidak cukup efektif, pemerintah kini memperkuat kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, serta industri keuangan. Tujuannya adalah menutup seluruh rantai aktivitas judi online, mulai dari konten, nomor telepon, hingga rekening bank.

    Dalam kesempatan yang sama, Komdigi, OJK, dan perbankan mengumumkan deklarasi bersama untuk mempersempit ruang gerak para pelaku judi online. Langkah ini diharapkan dapat memutus akses pendanaan yang menjadi tulang punggung operasional judi online.

    Meutya menambahkan bahwa sinergi antara regulator dan industri keuangan sangat penting. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemblokiran situs. Ekosistem pendukung seperti rekening dan nomor telepon harus ditutup,” tegasnya. Pendekatan ini juga terkait dengan upaya Registrasi Biometrik untuk mencegah penyalahgunaan identitas.

    Implikasi bagi Pemberantasan Judi Online

    Data dari Komdigi menunjukkan bahwa upaya pemberantasan judi online masih menghadapi tantangan besar. Meskipun 3,7 juta konten telah ditakedown, pelaku terus mencari cara baru untuk beroperasi. Oleh karena itu, pendekatan multidimensi yang melibatkan teknologi, regulasi, dan partisipasi publik menjadi krusial.

    Bagi pembaca, angka ini menunjukkan bahwa risiko terpapar konten judi online masih tinggi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan konten mencurigakan melalui kanal resmi seperti cekrekening.id. Langkah preventif ini dapat membantu pemerintah mempercepat pemberantasan judi online.

    Selain itu, kolaborasi dengan sektor keuangan diharapkan dapat mempersulit pelaku dalam mengakses layanan perbankan. Deklarasi bersama antara Komdigi, OJK, dan perbankan menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius memberantas judi online hingga ke akar masalahnya.

    Dengan data lebih dari 156 ribu rekening dan 85.500 nomor telepon yang dilaporkan, terlihat bahwa partisipasi masyarakat sangat berdampak. Meutya menekankan bahwa sinergi dan soliditas antara pemerintah, industri, dan publik adalah kunci keberhasilan.

    Komdigi juga terus berupaya meningkatkan kapasitas patroli siber untuk mendeteksi konten judi online lebih cepat. Teknologi pengenalan wajah dan registrasi biometrik menjadi alat penting dalam mengidentifikasi pelaku yang menggunakan identitas palsu. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Palsukan Usia Anak untuk melindungi kelompok rentan.

    Secara keseluruhan, data 3,7 juta konten yang ditakedown dalam kurun waktu kurang dari dua tahun menunjukkan keseriusan pemerintah. Namun, efektivitas jangka panjang akan bergantung pada kemampuan menutup rantai pendanaan dan identitas pelaku.

    Bagi masyarakat, penting untuk tetap waspada dan tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan. Dengan kolaborasi yang kuat, pemberantasan judi online dapat berjalan lebih efektif.

  • Indonesia Catat 9 Juta Gambar AI per Hari via Gemini, Tertinggi di ASEAN

    Indonesia Catat 9 Juta Gambar AI per Hari via Gemini, Tertinggi di ASEAN

    JBNews.id — Google mengungkapkan bahwa pengguna di Indonesia menciptakan 9 juta gambar kecerdasan buatan (AI) setiap harinya melalui platform Gemini. Angka ini merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara, menandai adopsi masif teknologi AI generatif di Tanah Air.

    Temuan ini dipublikasikan dalam laporan perdana Gemini Report: Southeast Asia 2026 yang dirilis Google pada Selasa (14/7/2026). Laporan tersebut mengukur kebiasaan pengguna Gemini di seluruh kawasan dan menunjukkan bahwa Indonesia memimpin dalam hal volume pembuatan konten visual berbasis AI.

    Menurut Sapna Chadha, Vice President Southeast Asia and South Asia Frontier Google, aplikasi Gemini saat ini telah melayani lebih dari 900 juta pengguna di lebih dari 230 negara dan tersedia dalam 70 bahasa. “Gemini menjadi asisten AI yang paling banyak dicari di negara seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam,” kata Chadha dalam media briefing virtual, Selasa (14/7/2026).

    Data laporan menunjukkan bahwa tingkat adopsi Gemini di Asia Tenggara tumbuh paling cepat dibandingkan aplikasi Google lainnya. Dalam setahun terakhir, jumlah pengguna aktif aplikasi Gemini di Asia Tenggara melonjak lebih dari dua kali lipat. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor utama, termasuk dukungan bahasa lokal dan dominasi pengguna muda.

    Dukungan Bahasa Lokal dan Dominasi Pengguna Muda

    Salah satu pendorong utama adopsi Gemini di Asia Tenggara adalah kemampuan platform ini dalam memahami bahasa lokal. Hampir 70% prompt di Asia Tenggara ditulis dalam bahasa daerah, dengan Vietnam memimpin di angka 89%, disusul Thailand 87%, dan Indonesia 84%. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna lebih nyaman berinteraksi dengan AI menggunakan bahasa sehari-hari mereka.

    Selain itu, pengguna berusia muda di bawah 25 tahun menjadi motor penggerak adopsi Gemini. Kategori usia ini lebih sering bercakap-cakap dengan Gemini dan menuliskan prompt yang lebih rinci ketika menggunakan platform tersebut. Hal ini sejalan dengan tren global di mana generasi muda menjadi early adopter teknologi AI.

    Sebagian besar pengguna Gemini di Asia Tenggara mengakses asisten AI ini lewat perangkat seluler. Indonesia menjadi negara nomor satu dengan 82% prompt yang dikirim lewat smartphone. Angka ini menegaskan peran penting perangkat mobile dalam ekosistem digital Indonesia.

    Gemini sebagai Mitra Kreatif

    Menariknya, 32% pengguna di Indonesia memanfaatkan Gemini sebagai mitra kreatif. Platform ini digunakan untuk menghasilkan ide, menulis, hingga menciptakan gambar AI. Samuele Saini, Director Google Ads Solutions Southeast Asia, menjelaskan bahwa Gemini memberdayakan orang-orang yang memiliki banyak ide kreatif tetapi tidak memiliki kemampuan artistik teknis.

    “Gemini memberdayakan orang-orang seperti saya yang memiliki banyak ide kreatif, tapi tidak memiliki kemampuan artistik untuk menjadi seniman, hanya dengan memberikan prompt di Gemini dalam bahasa sehari-hari,” ujar Saini dalam kesempatan yang sama.

    Saini juga mengungkapkan bahwa sejak peluncuran fitur Nano Banana pada Agustus 2025, pengguna telah menciptakan lebih dari 5 miliar gambar di seluruh Asia Tenggara. Angka ini menunjukkan betapa masifnya penggunaan AI generatif untuk keperluan kreatif di kawasan ini.

    Inovasi Terbaru: Gemini Spark

    Ke depannya, Google akan terus meningkatkan kemampuan Gemini untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Salah satu langkah terbaru adalah meluncurkan agen AI Gemini Spark dalam bahasa lokal untuk pelanggan Gemini Advanced (Ultra) mulai minggu ini. Agen AI ini sudah terintegrasi dengan layanan Google Workspace dan tetap aktif saat laptop ditutup atau ponsel terkunci.

    Update ini membantu pengguna yang ingin menjajal Gemini Spark menggunakan bahasa sehari-hari. Inovasi ini diharapkan semakin memperkuat posisi Gemini sebagai asisten AI pilihan utama di Indonesia dan Asia Tenggara.

    Dengan angka 9 juta gambar AI per hari, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pusat kreativitas digital di kawasan. Data ini menjadi bukti bahwa adopsi AI generatif di Indonesia berjalan sangat cepat dan masif.

    Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca artikel terkait seperti Harga Terbaru Samsung Galaxy A27 5G yang resmi di Indonesia, atau simak Fitur Terbaru Huawei Pura 90s yang segera menyusul ke Indonesia.

  • 6,8 Juta Nomor HP Registrasi Biometrik Wajah per Juli 2026

    6,8 Juta Nomor HP Registrasi Biometrik Wajah per Juli 2026

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat sebanyak 6,8 juta nomor HP telah melakukan registrasi menggunakan pemindaian wajah sejak kebijakan baru diterapkan pada 1 Juli 2026. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan angka ini menunjukkan respons positif masyarakat terhadap penguatan identitas pelanggan seluler.

    Meutya mengungkapkan data tersebut dalam OJK Banking Forum 2026 di Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ia menjelaskan kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat validasi identitas sekaligus mencegah berbagai kejahatan siber, termasuk praktik judi online (judol).

    “Dalam Januari sampai Juli ini, sudah 6,8 juta masyarakat yang melakukan registrasi biometrik dan ini juga kita mengajak di sini untuk membantu, sehingga nomor-nomor ini itu nanti dikenali milik siapa dengan cara yang lebih bertanggungjawab,” ujar Meutya.

    Mekanisme Registrasi Biometrik

    Berbeda dengan sistem perbankan, operator seluler tidak diperbolehkan menyimpan data biometrik pelanggan. Seluruh proses pencocokan data dilakukan secara langsung dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

    “Kami juga mengatur biometrik untuk SIM card. Operator seluler tidak kita izinkan menyimpan data, seluruhnya dilakukan melalui cross check dengan Dukcapil,” tegas Meutya.

    Kebijakan ini merupakan pengembangan aturan sebelumnya yang hanya menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK) untuk aktivasi nomor HP baru. Sejak 1 Juli 2026, seluruh proses aktivasi pelanggan baru wajib melalui verifikasi biometrik sesuai Peraturan Menteri Komdigi Nomor 7 Tahun 2026.

    Komdigi telah mengirimkan surat kepada seluruh penyelenggara jaringan bergerak seluler untuk menghentikan proses aktivasi yang masih menggunakan mekanisme validasi NIK dan KK tanpa verifikasi biometrik.

    Dampak Kebocoran Data dan Keamanan Siber

    Meutya mengungkapkan bahwa kebocoran data dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir masih dimanfaatkan pelaku kejahatan digital. Akibatnya, NIK masyarakat berpotensi digunakan pihak lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.

    Ia pun mengajak masyarakat segera melakukan registrasi biometrik pada operator seluler masing-masing untuk meminimalkan penyalahgunaan identitas. Langkah ini dinilai krusial mengingat maraknya ancaman digital, termasuk penggunaan deepfake AI yang semakin canggih.

    Pemerintah juga terus mendorong literasi digital di kalangan generasi muda. Meutya sebelumnya mengajak generasi muda menjadi duta internet sehat untuk menekan penyebaran konten negatif di ruang digital.

    Selain itu, Komdigi juga menyoroti bahaya ilusi algoritma yang dapat mempengaruhi persepsi publik, terutama di tengah dinamika sosial yang kompleks.

    Implikasi bagi Masyarakat

    Bagi pengguna layanan seluler, kebijakan ini memberikan kepastian bahwa setiap nomor HP benar-benar terhubung dengan pemilik identitas yang sah. Hal ini diharapkan dapat menekan angka penipuan berbasis telekomunikasi dan penyalahgunaan data pribadi.

    Pemerintah telah melakukan uji coba sistem registrasi biometrik sejak awal tahun 2026 sebelum resmi diberlakukan pada 1 Juli. Operator seluler juga telah dipastikan siap mengimplementasikan sistem baru ini tanpa menyimpan data biometrik pelanggan.

    Dengan semakin ketatnya regulasi ini, masyarakat diimbau untuk segera melakukan registrasi ulang jika belum melakukan verifikasi biometrik. Langkah ini penting untuk melindungi identitas digital masing-masing dari potensi penyalahgunaan.

    Kebijakan registrasi biometrik ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan bertanggung jawab, sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin kompleks.

    Mulai Rabu (1/7/2026), seluruh pelanggan baru layanan seluler di Indonesia wajib melakukan perekaman biometrik wajah sebagai bagian dari proses registrasi kartu SIM prabayar. Kebijakan tersebut resmi diberlakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperkuat validasi identitas pengguna layanan telekomunikasi.

  • FCC Setujui Uji Coba Satelit Cermin Reflect Orbital

    FCC Setujui Uji Coba Satelit Cermin Reflect Orbital

    JBNews.id — Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) resmi mengizinkan perusahaan rintisan Reflect Orbital untuk membangun, meluncurkan, dan mengoperasikan satelit cermin eksperimental di orbit rendah Bumi. Izin ini diberikan pada 9 Juli 2026, membuka jalan bagi uji coba teknologi yang telah lama menuai kontroversi dari kalangan astronom dan pegiat lingkungan.

    Satelit eksperimental yang diberi nama Eärendil-1 ini dirancang untuk memantulkan sinar matahari ke lokasi-lokasi spesifik di Bumi pada malam hari. Konsep yang diusung oleh startup yang berbasis di Santa Monica, California, tersebut pertama kali diangkat oleh WIRED pada September 2024. Saat itu, proyek ini masih dalam tahap awal pengembangan dengan ambisi besar: memastikan pasokan cahaya terus-menerus untuk instalasi panel surya skala besar, sehingga pembangkit listrik tenaga surya dapat menghasilkan listrik bahkan di malam hari.

    Izin Terbatas untuk Uji Coba Teknologi

    Keputusan FCC ini menjadi lampu hijau pertama bagi penyedia layanan sinar matahari “sesuai permintaan” tersebut di era pemerintahan Trump. Eärendil-1 dilengkapi dengan reflektor berukuran 18 meter yang mampu menerangi area dengan diameter 5 hingga 6 kilometer dalam waktu singkat. Nama satelit ini sendiri merupakan referensi dari karakter dalam serial The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien.

    Izin yang diberikan FCC bersifat terbatas. Perusahaan hanya diizinkan untuk menempatkan satelit uji pada ketinggian sekitar 625 kilometer. Tujuan utamanya adalah mengevaluasi kelayakan teknis dari reflektor berbasis film ultra-tipis dan sangat reflektif yang menjadi andalan teknologi ini.

    “Kami berterima kasih kepada FCC atas persetujuan aplikasi kami untuk menerbangkan misi uji coba,” demikian pernyataan perusahaan di media sosial. “Keputusan ini sangat memvalidasi perusahaan kami dan mencerminkan kepemimpinan Amerika dalam menguji teknologi antariksa yang inovatif.”

    Potensi Aplikasi dan Kontroversi yang Mengikutinya

    Reflect Orbital berargumen bahwa teknologi yang sangat kontroversial ini memiliki beragam aplikasi sipil, komersial, dan pemerintahan. Beberapa di antaranya termasuk menyediakan penerangan untuk operasi pencarian dan penyelamatan, mendukung infrastruktur kritis selama keadaan darurat, memperpanjang jam produktif fasilitas energi surya, dan menerangi lokasi konstruksi terpencil tanpa harus mengandalkan generator konvensional.

    Namun, di balik potensi manfaat tersebut, kekhawatiran besar muncul dari berbagai pihak. Selama proses peninjauan regulasi, FCC menerima hampir 2.000 komentar publik yang mempertanyakan proposal ini. Organisasi-organisasi seperti American Astronomical Society, DarkSky International, dan Royal Astronomical Society termasuk di antara kritikus utamanya. Mereka memperingatkan tentang potensi dampak satelit semacam itu terhadap astronomi, ekosistem nokturnal, dan keselamatan penerbangan.

    Para penentang berpendapat bahwa observatorium berbasis darat sudah harus berhadapan dengan ribuan satelit di orbit rendah Bumi yang mengganggu pengamatan astronomi. Bahkan sejumlah kecil cermin antariksa dapat meningkatkan polusi cahaya dan membuat pengamatan semakin sulit. Sementara itu, konstelasi satelit skala besar di masa depan secara radikal akan mengubah penampakan langit malam.

    “Bagi astronomi optik, ini adalah ancaman eksistensial, dan kami berharap regulator akan memiliki pandangan yang sama,” kata Betty Kioko, petugas urusan kelembagaan European Southern Observatory (ESO), dalam pernyataan sebelum keputusan FCC. Beberapa peneliti juga menyoroti kemungkinan kilatan cahaya pantulan yang dapat memengaruhi pilot pesawat, pengemudi, atau satwa liar yang bergantung pada siklus alami terang dan gelap.

    FCC Abaikan Kekhawatiran Astronomi

    Meskipun terdapat keberatan dari berbagai pihak, FCC menyimpulkan bahwa aplikasi yang diajukan hanya mencakup satu satelit eksperimental, bukan konstelasi komersial. Dalam keputusannya, lembaga tersebut menyatakan bahwa Eärendil-1 adalah demonstrasi teknologi berdurasi terbatas yang hasilnya akan membantu menentukan apakah konsep tersebut layak secara teknis dan mengidentifikasi tantangan yang terkait dengan pengembangan di masa depan.

    Setiap pengembangan multi-satelit di masa depan akan memerlukan persetujuan regulasi baru. Yang lebih kontroversial, FCC menolak untuk menangani kekhawatiran yang berkaitan dengan astronomi. “Kami berpendapat bahwa kekhawatiran mengenai dampak Eärendil-1 terhadap astronomi optik berada di luar cakupan peninjauan dan otorisasi stasiun antariksa ini dan oleh karena itu tidak memberikan dasar untuk menolak aplikasi Reflect Orbital atau memberlakukan kondisi operasi tambahan,” demikian pernyataan FCC.

    Visi Masa Depan: 50.000 Satelit pada 2035

    Eärendil-1 hanyalah permulaan. Reflect Orbital membayangkan akan mengoperasikan 50.000 satelit pada tahun 2035. Dan itu baru dari satu perusahaan. Jika inisiatif ini berhasil, ia dapat melahirkan industri global yang sama sekali baru—sesuatu yang saat ini sudah membuat banyak orang terjaga, setidaknya secara kiasan.

    “Bayangkan langit dipenuhi bulan,” kata Tony Tyson, peneliti di University of California, Davis dan kepala ilmuwan untuk Vera C. Rubin Observatory. Tyson tetap skeptis bahwa satelit-satelit ini akan mampu mengarahkan cahaya pantulan dengan presisi seperti yang diklaim oleh startup tersebut.

    Di situs webnya, Reflect Orbital berjanji untuk terlibat dengan para pemangku kepentingan yang terdampak dan komunitas ilmiah. “Reflect Orbital mendapatkan hak untuk beroperasi dan berkembang. Itu berarti menunjukkan bahwa sinar matahari yang dipantulkan dapat dikendalikan secara presisi, digunakan hanya di tempat yang sesuai, dibatasi kecerahan dan durasinya, serta dikoordinasikan dengan komunitas yang terdampak dan institusi ilmiah,” tulis perusahaan. “Ini berarti mengukur dampak dunia nyata daripada mengandalkan asumsi. Dan itu berarti bersedia mengubah arah jika bukti tidak mendukung penerapan.”

    Perkembangan teknologi antariksa ini menunjukkan bagaimana inovasi swasta terus mendorong batas-batas regulasi. Seperti halnya pencapaian roket reusable yang menantang dominasi SpaceX, sektor ini terus bergerak cepat. Bahkan, misi rahasia SpaceX menunjukkan betapa kompleksnya dinamika industri antariksa saat ini.

    Implikasi dari keputusan FCC ini sangat jelas: regulator membuka celah bagi teknologi yang berpotensi mengubah lanskap langit malam secara fundamental. Bagi para astronom dan pegiat lingkungan, ini adalah pertanda bahwa pertarungan melawan polusi cahaya antariksa baru saja dimulai. Sementara bagi industri dan perusahaan rintisan, ini adalah peluang emas untuk menciptakan pasar baru yang sebelumnya tidak terbayangkan.

  • Huawei Pura 90s Meluncur di Malaysia, Indonesia Menyusul

    Huawei Pura 90s Meluncur di Malaysia, Indonesia Menyusul

    JBNews.id — Huawei resmi meluncurkan smartphone flagship terbarunya, Huawei Pura 90s, di Malaysia pada Selasa, 14 Juli 2026. Pasar Indonesia dipastikan akan segera menyusul menyusul kedatangan perangkat gahar ini.

    Acara peluncuran digelar di Astana at Bamboo Hills, Kuala Lumpur. Seri ini hadir dengan dua varian utama, yakni Huawei Pura 90s Pro dan Huawei Pura 90s Pro Max, yang sama-sama mengusung kamera kelas atas serta dukungan kecerdasan buatan (AI).

    Kedua seri ini sudah mendukung konektivitas 5G. Pengguna dapat menikmati streaming lebih lancar, pengunduhan lebih cepat, latensi lebih rendah, dan peningkatan pengalaman online di mana pun jaringan 5G tersedia.

    “Setiap foto menceritakan kisah, Huawei berpikir bahwa kamera terbaik adalah yang selalu ada bersama Anda saat hidup berjalan,” ujar Andrea Zimmer, Head of Product Huawei Technology, dalam sambutannya.

    Andrea Zimmer

    Varian Warna dan Spesifikasi Kamera

    Huawei Pura 90s Pro Max hadir dalam tiga varian warna: Graphite Black, Blush Gold, dan Orange Ocean. Sementara Huawei Pura 90s Pro menawarkan empat opsi warna: Orange Soda, Coconut White, Guava Soda, serta Mulberry Black.

    Dari sektor kamera, seri Pro Max dibekali kamera telefoto 200 MP Ultra Large Sensor, pertama di industri dengan sensor RYYB berukuran 1/1,28 inch. Sementara seri Pro dibekali resolusi 50 MP. Keduanya juga dilengkapi Ultra Lighting HDR Camera berukuran 50 MP dengan True-to-Colour Camera 2.0 untuk menghasilkan foto yang jernih dan tajam.

    “Fotografi bukan sesimpel merekam tapi bagaimana menangkap rasanya. Dengan True-to-Colour camera, semua warna dihasilkan sesuai sehingga atmosfernya sama,” tambah Andrea Zimmer.

    Chipset, Baterai, dan Ekosistem

    Kedua seri ditenagai chipset Kirin 9030s dengan baterai 6.000 mAh yang mendukung SuperCharge. Huawei Pura 90s Pro Max mendukung 100W Wired SuperCharge, sedangkan Pura 90s Pro mendukung 66W SuperCharge.

    Huawei Pura 90s juga memiliki ekosistem lengkap untuk memudahkan akses aplikasi populer, termasuk aplikasi Google, di seluruh sektor produktivitas, komunikasi, hiburan, navigasi, perbankan, belanja, dan gaya hidup. Aplikasi dapat dipasang, diperbarui, dan dikelola hanya dengan satu klik.

    Terdapat pula asisten AI Celia yang siap membantu memudahkan pengguna, seperti melakukan multiple task cukup dengan single request.

    Harga Huawei Pura 90s di Malaysia

    Berikut harga resmi yang diumumkan di Malaysia:

    • Huawei Pura 90s Pro (12 GB/256 GB): €899 (setara Rp 18,5 jutaan)
    • Huawei Pura 90s Pro (12 GB/512 GB): €1.049 (setara Rp 21,6 jutaan)
    • Huawei Pura 90s Pro Max (12 GB/256 GB): €1.149 (setara Rp 23,6 jutaan)
    • Huawei Pura 90s Pro Max (12 GB/512 GB): €1.299 (setara Rp 26,7 jutaan)

    Dengan harga yang kompetitif, Huawei Pura 90s menjadi pesaing kuat di segmen flagship. Bagi konsumen Indonesia yang menantikan kehadiran perangkat ini, peluncuran di Malaysia menjadi sinyal bahwa pasar Tanah Air akan segera menyusul.

    Bagi pengguna yang mencari Fitur Terbaru dari Huawei, seri Pura 90s menawarkan kombinasi kamera gahar, AI canggih, dan daya tahan baterai superior. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan Spesifikasi Lengkap perangkat lain, Huawei juga memiliki jajaran tablet premium.

    Implikasinya, persaingan smartphone flagship di Indonesia akan semakin ketat. Kehadiran Huawei Pura 90s dengan kamera 200 MP dan chipset Kirin 9030s memberikan opsi baru bagi konsumen yang menginginkan performa tinggi tanpa kompromi.

  • Misteri The Great Dying Terpecahkan, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya

    Misteri The Great Dying Terpecahkan, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya

    JBNews.id — Sekitar 252 juta tahun lalu, Bumi mengalami peristiwa kepunahan massal terbesar dalam sejarah yang dikenal sebagai The Great Dying atau Kepunahan Permian-Trias, yang memusnahkan 96% spesies laut dan 70% vertebrata darat. Tim peneliti yang dipimpin Stanford University kini mengklaim telah menemukan bukti terkuat mengenai alasan mengapa sebagian hewan laut mampu selamat, sementara yang lain punah. Temuan ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana pemanasan global saat ini dapat memengaruhi ekosistem laut di masa depan.

    Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan fisiologis hewan untuk menghadapi suhu tinggi dan rendahnya kadar oksigen menjadi faktor utama penentu kelangsungan hidup mereka ketika lautan mengalami pemanasan ekstrem. “Studi ini memberikan bukti paling kuat sejauh ini mengenai mengapa sebagian hewan laut mampu bertahan dari kepunahan massal terbesar di Bumi, sementara banyak lainnya lenyap selamanya,” kata tim peneliti dalam laporan yang dikutip dari ScienceDaily, Selasa (14/7/2026).

    Para peneliti menjelaskan bahwa pada akhir periode Permian terjadi perubahan iklim ekstrem yang menyebabkan suhu laut meningkat drastis. Air laut yang lebih hangat menyimpan lebih sedikit oksigen, sementara kebutuhan oksigen hewan justru meningkat. Akibatnya, banyak spesies tidak mampu memenuhi kebutuhan metabolisme mereka dan akhirnya punah. Sebaliknya, hewan yang memiliki toleransi lebih tinggi terhadap kondisi panas dan miskin oksigen memiliki peluang bertahan hidup yang jauh lebih besar.

    Menurut para peneliti, hasil studi ini bukan hanya menjelaskan salah satu misteri terbesar dalam sejarah kehidupan di Bumi, tetapi juga menjadi peringatan bagi kondisi laut saat ini. Pemanasan global akibat perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan suhu laut dan mengurangi kadar oksigen di berbagai wilayah samudra, menciptakan tekanan yang mirip dengan yang pernah terjadi ratusan juta tahun lalu.

    “Temuan ini tidak hanya menjelaskan bagaimana ekosistem laut modern terbentuk, tetapi juga memberikan gambaran tentang bagaimana lautan yang terus menghangat dapat memengaruhi kehidupan laut pada masa depan,” ujar tim peneliti.

    Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kepunahan massal tidak terjadi secara acak. Kelompok hewan dengan karakteristik biologis tertentu lebih rentan terhadap perubahan lingkungan ekstrem dibandingkan kelompok lain. Dengan memahami ciri-ciri spesies yang mampu bertahan pada masa lalu, para ilmuwan berharap dapat memprediksi organisme laut mana yang paling rentan menghadapi perubahan iklim saat ini dan menyusun strategi konservasi yang lebih tepat.

    Para peneliti menilai, meski peristiwa The Great Dying terjadi jutaan tahun lalu, mekanisme yang menyebabkan kepunahan kala itu masih sangat relevan untuk memahami tantangan yang kini dihadapi lautan di era perubahan iklim. Sinyal Radio Kosmik dari alam semesta mungkin masih menjadi misteri, tetapi misteri kepunahan massal di Bumi kini mulai terkuak.

    Implikasinya bagi pembaca: penelitian ini memberikan pemahaman bahwa perubahan iklim bukan hanya ancaman bagi spesies tertentu, tetapi bisa memicu kepunahan massal jika tidak ditangani. Bagi masyarakat umum, ini menjadi pengingat akan urgensi menjaga keseimbangan ekosistem laut. Bagi para profesional di bidang lingkungan dan konservasi, data ini dapat menjadi dasar untuk menyusun kebijakan perlindungan spesies yang lebih efektif.

    Facebook

  • Waze Terintegrasi Gemini, Hadirkan Mode Khusus Motor

    Waze Terintegrasi Gemini, Hadirkan Mode Khusus Motor

    JBNews.id — Google mulai mengintegrasikan asisten kecerdasan buatan (AI) Gemini ke dalam aplikasi navigasi Waze. Pembaruan ini menghadirkan interaksi suara yang lebih natural dan mode berkendara khusus untuk pengendara sepeda motor.

    Integrasi Gemini di Waze membawa dua fitur utama yang memanfaatkan AI untuk menyempurnakan pengalaman perjalanan. Pertama, Pelaporan Berbasis Percakapan (Conversational Reporting) yang memungkinkan pengemudi melaporkan insiden lalu lintas atau mengusulkan pembaruan peta menggunakan perintah suara natural. Kedua, Pencarian Destinasi dengan kemampuan mencari lokasi spesifik, seperti “Carikan kedai kopi yang masih buka sekarang” atau “Cari pom bensin terdekat yang harganya paling murah.”

    Selain fitur berbasis AI, Waze juga menghadirkan peningkatan reguler yang tak kalah fungsional. Mode Anti-Berisik (Less Chatty Mode) memungkinkan pengguna mengatur agar aplikasi memberikan lebih sedikit panduan suara, cocok bagi pengemudi yang tidak ingin arahan navigasi memotong sesi mendengarkan musik atau podcast. Mode Sepeda Motor (Motorcycle Mode) secara khusus mengintegrasikan opsi jalan pintas untuk kendaraan roda dua demi memberikan rute terbaik dan estimasi waktu tiba yang lebih akurat bagi para pemotor. Fitur Rute Personal akan menyarankan rute berdasarkan riwayat perjalanan sebelumnya dan data pola lalu lintas lokal.

    Sejauh ini, Google tampaknya masih menahan diri untuk melakukan perombakan AI secara menyeluruh pada Waze. Pendekatan ini sedikit berbeda dengan Google Maps yang terus dijejali berbagai kapabilitas AI baru. Informasi ini dikutip dari The Verge pada Selasa (14/7/2026).

    Integrasi Gemini di Waze menandai langkah signifikan Google dalam menghadirkan kecerdasan buatan ke dalam aplikasi navigasi populer. Dengan fitur percakapan yang lebih alami, pengemudi dapat berinteraksi dengan aplikasi tanpa harus mengalihkan perhatian dari jalan. Pelaporan insiden lalu lintas kini bisa dilakukan dengan kalimat sederhana, bukan melalui menu yang rumit.

    Fitur Pencarian Destinasi yang ditingkatkan memungkinkan pengguna menemukan tempat berdasarkan kondisi real-time. Misalnya, mencari pom bensin dengan harga termurah atau kafe yang masih buka larut malam. Kemampuan ini memanfaatkan data lalu lintas dan informasi bisnis yang dimiliki Google untuk memberikan rekomendasi yang lebih relevan.

    Mode Sepeda Motor menjadi angin segar bagi jutaan pengendara motor di Indonesia. Dengan rute yang dioptimalkan untuk kendaraan roda dua, pengguna bisa mendapatkan estimasi waktu tempuh yang lebih akurat. Jalan pintas yang biasanya hanya bisa dilalui motor kini akan dipertimbangkan oleh algoritma Waze, memberikan pengalaman navigasi yang lebih sesuai dengan karakteristik berkendara sehari-hari.

    Fitur Rute Personal menggunakan machine learning untuk mempelajari preferensi pengemudi. Jika seseorang lebih sering memilih jalan tol, Waze akan menampilkan opsi tol di urutan pertama. Sebaliknya, pengemudi yang suka jalan alternatif akan mendapatkan rekomendasi yang sesuai. Pendekatan personal ini membuat navigasi terasa lebih intuitif seiring waktu.

    Mode Anti-Berisik menjawab keluhan pengemudi yang merasa terganggu dengan arahan suara yang terlalu sering. Dengan mengurangi frekuensi panduan suara, pengguna bisa menikmati perjalanan dengan lebih tenang tanpa kehilangan informasi penting seperti belokan atau peringatan lalu lintas.

    Integrasi AI di Waze ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas dalam industri teknologi. Beberapa aplikasi lain juga mulai mengadopsi kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Misalnya, Strava Rilis fitur baru untuk mencari race dan komunitas lari, sementara FL Studio 2026 menghadirkan Gopher AI yang bisa mengeksekusi perintah.

    Bagi pengguna Waze di Indonesia, pembaruan ini membawa dampak langsung pada pengalaman navigasi sehari-hari. Fitur Pelaporan Berbasis Percakapan memudahkan pengendara melaporkan kemacetan, kecelakaan, atau jalan berlubang tanpa harus mengetik. Cukup dengan perintah suara, informasi penting bisa langsung terkirim ke komunitas Waze.

    Pencarian Destinasi yang lebih cerdas juga sangat relevan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Pengguna bisa mencari tempat makan yang masih buka di malam hari atau SPBU dengan harga BBM termurah di sekitar lokasi. Fitur ini menghemat waktu dan biaya perjalanan.

    Mode Sepeda Motor menjadi fitur yang paling dinantikan. Di Indonesia, sepeda motor adalah moda transportasi utama bagi sebagian besar masyarakat. Dengan optimasi rute khusus motor, Waze bisa memberikan alternatif jalan yang lebih cepat dan aman. Estimasi waktu tiba yang lebih akurat membantu pengendara merencanakan perjalanan dengan lebih baik.

    Fitur Rute Personal juga akan sangat berguna bagi pengguna yang memiliki rute harian tetap, seperti perjalanan ke kantor atau sekolah. Waze akan belajar dari kebiasaan pengguna dan menawarkan rute yang paling sering dipilih, termasuk jalan tol atau jalan alternatif favorit.

    Meskipun Google belum melakukan perombakan AI secara besar-besaran di Waze, langkah awal ini menunjukkan komitmen untuk menghadirkan teknologi cerdas di aplikasi navigasi. Pendekatan yang lebih hati-hati dibandingkan Google Maps mungkin karena Waze memiliki basis pengguna yang sudah mapan dan karakteristik komunitas yang unik.

    Pembaruan ini diharapkan bisa meningkatkan adopsi Waze di kalangan pengendara motor dan pengguna yang menginginkan navigasi lebih personal. Dengan harga bahan bakar yang terus berfluktuasi, fitur pencarian pom bensin termurah menjadi nilai tambah yang signifikan. Bagi pengguna yang ingin menghemat pengeluaran, fitur ini bisa menjadi alasan untuk beralih ke Waze.

    Ke depannya, integrasi Gemini yang lebih dalam bisa membawa fitur-fitur revolusioner seperti perencanaan perjalanan multi-tujuan, rekomendasi tempat wisata berdasarkan preferensi, atau bahkan integrasi dengan asisten rumah pintar. Namun untuk saat ini, pembaruan yang ada sudah cukup untuk meningkatkan pengalaman navigasi secara signifikan.

    Bagi Anda yang tertarik dengan teknologi terbaru, pembaruan Waze ini layak dicoba. Fitur-fitur baru bisa diakses melalui pembaruan aplikasi di Google Play Store atau App Store. Pastikan aplikasi Waze Anda sudah diperbarui ke versi terbaru untuk menikmati semua fitur ini.

    Waze Mode Motor