Blog

  • AI Pangkas Biaya Energi hingga 40%, Klaim XLSmart

    AI Pangkas Biaya Energi hingga 40%, Klaim XLSmart

    JBNews.id — XLSmart mengklaim teknologi kecerdasan buatan (AI) terbarunya mampu memangkas biaya energi perusahaan hingga 40 persen. Klaim ini disampaikan dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026), melalui peluncuran solusi bernama ESTA eco dan ESTA vision.

    Kedua solusi tersebut merupakan bagian dari ekosistem Enterprise Smart Technology & Automation (ESTA) yang dikembangkan oleh XLSmart for Business. ESTA eco dirancang khusus untuk mengoptimalkan efisiensi sistem pendingin atau HVAC di berbagai sektor industri. Teknologi ini memanfaatkan sensor cerdas, perangkat kontrol, dan machine learning untuk memantau, memprediksi, serta mengoptimalkan konsumsi energi secara real time.

    XLSmart menyatakan bahwa teknologi tersebut tidak hanya mampu menekan biaya energi, tetapi juga mendukung pencapaian target keberlanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan. Dengan model investasi Zero Capex, ESTA eco memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi tanpa harus mengeluarkan investasi awal yang besar.

    Selain efisiensi energi, XLSmart turut memperkenalkan ESTA vision yang memanfaatkan teknologi computer vision dan AI analytics. Solusi ini mampu mengubah rekaman kamera pengawas menjadi sumber insight operasional. Teknologi ini memungkinkan perusahaan melakukan pemantauan kondisi operasional secara real time, mendeteksi anomali, meningkatkan keselamatan kerja, memonitor kepatuhan prosedur, hingga menghasilkan laporan otomatis berbasis data visual.

    ESTA vision ditujukan untuk berbagai sektor industri seperti manufaktur, logistik, transportasi, pertambangan, minyak dan gas, retail modern, smart building, pelabuhan, hingga bandara.

    Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, menilai pemanfaatan AI kini semakin penting dalam membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat pengambilan keputusan berbasis data. “Transformasi digital yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Perusahaan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, kemampuan mengelola data secara efektif, serta pemanfaatan AI dan otomasi yang mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata,” ujar Andrijanto di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Melalui kedua solusi tersebut, XLSmart berharap pemanfaatan AI tidak hanya berfokus pada otomatisasi layanan, tetapi juga mampu menciptakan efisiensi dan produktivitas yang lebih besar di sektor operasional perusahaan.

    ESTA eco dan ESTA vision merupakan bagian dari ESTA Ecosystem, platform digital terintegrasi yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan (AI), cloud, data platform, keamanan siber, hingga jaringan 5G. Solusi tersebut diperkenalkan melalui XLSmart for Business dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 yang mempertemukan ratusan pemimpin bisnis dan korporasi di Indonesia.

    Ajang yang memasuki tahun ke-2 ini berhasil mengumpulkan 2.000 partisipan dari berbagai bidang yang beroperasi di Tanah Air. Tema yang diangkat adalah ‘Solusi untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri’. Melalui peluncuran ESTA Ecosystem, XLSmart for Business menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis bagi dunia usaha dalam mengakselerasi transformasi digital Indonesia melalui pemanfaatan AI, data, cloud, dan jaringan 5G yang terus diperluas secara nasional.

    Dengan klaim penghematan biaya energi hingga 40 persen, solusi AI dari XLSmart ini menawarkan dampak langsung pada efisiensi operasional perusahaan. Model Zero Capex juga menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang ingin melakukan digitalisasi tanpa beban investasi awal yang signifikan. Implikasinya bagi dunia usaha adalah peluang untuk menekan biaya operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan di tengah tekanan efisiensi yang semakin ketat.

    Pemanfaatan AI untuk efisiensi energi ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan-perusahaan besar mulai beralih ke teknologi cerdas untuk mengoptimalkan konsumsi sumber daya. Di Indonesia, langkah XLSmart ini bisa menjadi katalis bagi adopsi AI di sektor industri yang selama ini masih bergantung pada sistem konvensional.

    Selain itu, ESTA vision yang mampu mengubah kamera pengawas menjadi alat analisis operasional juga membuka peluang baru dalam pengelolaan keselamatan kerja dan kepatuhan prosedur. Perusahaan di sektor manufaktur, logistik, dan pertambangan bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja dan meningkatkan produktivitas.

    XLSmart menargetkan solusi ESTA ini dapat diadopsi oleh berbagai perusahaan di Indonesia, mulai dari skala menengah hingga korporasi besar. Dengan dukungan jaringan 5G yang terus diperluas, potensi penerapan teknologi ini di berbagai daerah juga semakin terbuka lebar.

    Para pengunjung memadati booth pameran, diskusi dan talkshow pada ajang XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Acara ini menjadi forum tahunan edisi kedua yang mempertemukan industri, pemerintah, akademisi, dan mitra teknologi di Indonesia untuk membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas, dan teknologi digital.

  • Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur Bawa Sepasang Kamera Leica

    Insta360 Luna Ultra Resmi Meluncur Bawa Sepasang Kamera Leica

    JBNews.id — Insta360 secara mengejutkan memajukan jadwal peluncuran kamera vlogging terbarunya, Insta360 Luna Ultra, menjadi Rabu (10/6/2026) dari rencana awal minggu depan. Langkah dadakan ini dipicu oleh bocornya ketersediaan perangkat di beberapa peritel seperti B&H Photo di New York. Dengan spesifikasi ‘monster’, Luna Ultra siap menantang dominasi seri DJI Osmo Pocket.

    “Luna Ultra menandai kedatangan Insta360 di ranah kamera gimbal, didukung oleh seluruh kekuatan keahlian pencitraan kami,” ungkap Max Richter, VP of Marketing dan Co-Founder Insta360. Perangkat ini hadir di tengah persaingan pasar kamera gimbal genggam yang semakin memanas.

    Insta360 Luna Ultra

    Kamera Ganda dengan Sentuhan Leica

    Sama seperti pesaingnya, DJI Osmo Pocket 4P, Luna Ultra mengusung sistem kamera ganda yang ditopang stabilisator gimbal tiga sumbu (three-axis). Kamera utama menggunakan lensa legendaris Leica Summicron yang dipadukan dengan sensor raksasa Tipe 1 (Type 1 sensor). Sementara kamera telefoto mengandalkan sensor Tipe 1/1.3 dengan bukaan f/2.0.

    Kombinasi kedua lensa ini menjanjikan kemampuan zoom optik tanpa pecah (lossless optical zoom) hingga 6x, serta zoom digital yang bisa ditarik hingga 12x. Spesifikasi ini menjadikannya pesaing serius di segmen Kamera 8K genggam.

    Layar OLED yang Bisa Dilepas

    Satu inovasi paling mencolok yang membedakannya dari kompetitor adalah kehadiran layar sentuh OLED yang dapat dilepas pasang. Fitur ini sangat memanjakan kreator konten yang bekerja sendirian (single operator). Dengan melepas layar, pengguna bisa menjadikannya sebagai remote control untuk mengendalikan kamera dari jarak jauh, sekaligus berfungsi sebagai monitor untuk memastikan framing gambar tetap sempurna.

    Insta360 juga menawarkan aksesori tambahan POV Head Tracker untuk perekaman hands-free yang lebih bebas. Inovasi ini menjadi nilai jual utama dibandingkan produk kompetitor di kelasnya.

    Kualitas Video Sinematik Profesional

    Dapur pacu visual Luna Ultra dirancang untuk memuaskan kebutuhan profesional. Perangkat ini mampu merekam video hingga resolusi 8K pada 30fps dalam format Dolby Vision. Selain itu, mendukung format 10-bit I-Log dengan klaim rentang dinamis (dynamic range) seluas 14-stop.

    Terdapat pula profil warna eksklusif Leica (Natural, Vivid, dan Chrome) serta dukungan alur kerja profesional ACES. Untuk fotografi, perangkat ini bisa menghasilkan foto resolusi raksasa, yakni 37 MP untuk mode UltraPhotos dan 200 MP untuk Scenic Panorama.

    AI Pelacak Subjek Super Presisi

    Gerakan visual yang mulus berkat stabilisator mekanik dan elektronik makin disempurnakan oleh hadirnya teknologi AI Deep Track 5.0. Teknologi ini memastikan subjek tetap berada di tengah frame dan selalu fokus melalui fitur Auto Tracking, Active Zoom Tracking, Group Tracking, hingga Smart Framing.

    Beberapa fitur pendukung operasional lainnya meliputi timecode bawaan, kemampuan berbagi profil warna via QR code, penahan angin (wind guard) internal untuk merekam audio yang jernih tanpa mic tambahan, serta dukungan lensa/filter magnetik. Fitur-fitur ini menjadikannya pilihan ideal bagi kreator konten profesional.

    Harga dan Ketersediaan

    Insta360 membekali Luna Ultra dengan baterai berkapasitas 1.550 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga 4 jam pemakaian. Fitur fast charging-nya sanggup mengisi daya hingga 80% hanya dalam waktu 23 menit. Untuk penyimpanan data, tersedia memori internal sebesar 47GB yang masih bisa diekspansi hingga 1TB menggunakan kartu microSD.

    Hadir dalam pilihan warna Cosmic Black dan Stellar White, Insta360 Luna Ultra resmi dibanderol dengan harga USD 769.99 (sekitar Rp 12,5 jutaan) dan sudah mulai dipasarkan secara global. Kehadirannya semakin memanaskan persaingan di segmen Teknologi Kamera genggam.

    Bagi kreator konten yang membutuhkan perangkat serbaguna dengan kualitas sinematik, Luna Ultra menawarkan paket lengkap dengan harga kompetitif. Perangkat ini menjadi pilihan menarik di tengah tren Inovasi Teknologi yang terus berkembang.

    Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, Insta360 Luna Ultra berpotensi menggeser posisi DJI Osmo Pocket sebagai pemimpin pasar. Para pengamat industri menantikan bagaimana respons kompetitor terhadap kehadiran perangkat inovatif ini.

  • Huawei MatePad Mini: Tablet Tipis dengan Layar OLED Unik

    Huawei MatePad Mini: Tablet Tipis dengan Layar OLED Unik

    JBNews.id — Huawei resmi memperkenalkan MatePad Mini, sebuah tablet kompak dengan bodi super tipis dan ringan yang mengusung layar Flexible OLED PaperMatte pertama di dunia untuk kategori tablet mini. Perangkat ini membawa terobosan baru dalam pengalaman visual portabel.

    Dengan ketebalan hanya sekitar 5,2 mm dan bobot sekitar 260 gram, MatePad Mini dirancang untuk memberikan mobilitas tinggi tanpa mengorbankan performa. Ukurannya yang ringkas memungkinkan perangkat ini dimasukkan ke dalam tas kecil hingga saku celana, sehingga tidak memberatkan saat dibawa ke mana pun.

    Layar Flexible OLED PaperMatte Pertama di Tablet Mini

    MatePad Mini menghadirkan layar Flexible OLED PaperMatte berukuran 8,8 inci dengan bezel ultra-tipis hanya sekitar 2,9 mm. Rasio screen-to-body mencapai 92%, memberikan pengalaman visual yang lebih imersif dan luas. Teknologi Flexible OLED dalam ukuran yang begitu kompak membutuhkan presisi tinggi dan detail desain yang kompleks.

    Layar ini dirancang untuk memberikan pengalaman visual yang jernih, nyaman, dan menyerupai kertas (paper-like). Dengan dukungan tingkat kecerahan hingga 1800 nits serta teknologi PaperMatte yang memiliki kemampuan anti-glare, anti-reflection, dan anti-sparkle, pengguna dapat menikmati tampilan layar yang tetap jelas di berbagai kondisi pencahayaan, baik di bawah sinar matahari maupun di ruangan yang terang.

    Kombinasi ini memberikan pengalaman visual yang lebih imersif, vivid, dan nyaman, baik saat digunakan untuk meninjau dokumen, membuat catatan, menonton konten, maupun menikmati e-book dalam waktu yang lebih panjang.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan di Indonesia, Anda dapat membaca artikel tentang Spesifikasi Lengkap.

    Fitur dan Ketersediaan di Indonesia

    Berbagai fitur dan aplikasi favorit yang dicintai pengguna tersedia di Huawei MatePad Mini. Di Indonesia, perangkat ini akan hadir dalam pilihan warna Spruce Green, memberikan opsi yang dapat disesuaikan dengan gaya dan karakter pengguna.

    Huawei MatePad Mini siap membuka pengalaman baru bagi pengguna yang menginginkan tablet kompak dengan kemampuan yang tetap mighty. Perangkat ini dirancang untuk memberikan pengalaman powerful portability in your palm; cukup kompak untuk dibawa ke mana saja, namun tetap powerful untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

    Bagi Anda yang tertarik dengan tren teknologi terbaru, Anda juga dapat menyimak informasi tentang Fitur Terbaru dari Google.

    Dampak bagi Pengguna Tablet di Indonesia

    Kehadiran Huawei MatePad Mini dengan layar Flexible OLED PaperMatte memberikan alternatif baru bagi pengguna yang mencari tablet ringkas dengan kualitas tampilan premium. Bagi para profesional yang sering bekerja di luar ruangan, kemampuan layar dengan kecerahan 1800 nits dan teknologi anti-glare menjadi nilai tambah signifikan. Sementara bagi pengguna kasual yang gemar membaca e-book atau menonton konten, kenyamanan visual yang ditawarkan layar paper-like dapat mengurangi kelelahan mata.

    Dengan bobot yang sangat ringan dan bodi tipis, perangkat ini juga relevan bagi pengguna yang mengutamakan mobilitas tinggi. Ukurannya yang muat di saku celana atau tas kecil menjadikannya pilihan praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari.

  • Enkripsi End-to-End Generasi Baru untuk Aplikasi Kolaborasi

    Enkripsi End-to-End Generasi Baru untuk Aplikasi Kolaborasi

    JBNews.id — Sekelompok kriptografer dari Harvard, Microsoft Research, dan mantan pengembang Signal merilis pratinjau “Encrypted Spaces”, sebuah fondasi arsitektur open-source untuk membangun aplikasi kolaborasi terenkripsi end-to-end generasi baru. Rilis ini menandai pergeseran teknologi yang memungkinkan aplikasi ruang kerja bersama memiliki tingkat keamanan setara aplikasi perpesanan pribadi.

    Tim pengembang menyebut arsitektur ini sebagai respons terhadap migrasi besar dari aplikasi pengguna tunggal dan perpesanan satu-lawan-satu menuju alat kolaborasi multipengguna. Transisi ini bertepatan dengan munculnya trik kriptografi baru, yaitu “zero-knowledge proofs”, yang memungkinkan komputer memanipulasi dan memverifikasi integritas data terenkripsi tanpa melihat isinya. Momen ini disebut sebagai peluang untuk menyuntikkan enkripsi dan privasi ke dalam ekosistem aplikasi kolaborasi.

    “Kami ingin menyediakan permukaan teknologi bagi pengembang untuk membangun semua aplikasi ini dengan cara yang menjaga privasi,” ujar Nora Trapp, insinyur di Harvard’s Applied Social Media Lab yang juga pernah menjadi pimpinan teknis Signal. Encrypted Spaces memungkinkan pengguna mengadakan percakapan grup, menyimpan informasi di server, melakukan perubahan kolektif, mengundang kolaborator baru, atau mengeluarkan mereka — semuanya dengan perlindungan enkripsi kuat yang mencegah server atau penyadap jaringan mengakses data.

    Perpanjangan Protokol Signal untuk Aplikasi Kolaborasi

    Di antara kriptografer yang mengerjakan proyek ini adalah Trevor Perrin, salah satu pencipta protokol Signal. Protokol Signal adalah sistem pesan terenkripsi open-source yang digunakan tidak hanya di lebih dari seratus juta ponsel dengan aplikasi Signal, tetapi juga di miliaran perangkat yang menggunakan WhatsApp dan Facebook Messenger. Encrypted Spaces, dalam pengertian tertentu, adalah generasi berikutnya dari protokol Signal, tetapi untuk alat yang lebih kompleks dan fitur lengkap di luar perpesanan dan panggilan.

    Matt Green, profesor ilmu komputer yang berfokus pada kriptografi di Johns Hopkins, meninjau makalah teknis yang menguraikan proyek Encrypted Spaces dan aplikasi prototipe. “Mereka telah membangun sistem yang merupakan perpanjangan dari apa yang bisa dilakukan enkripsi end-to-end, di mana Anda memiliki arsitektur nyata untuk melakukan kolaborasi terenkripsi end-to-end,” kata Green. “Anda bisa menganggapnya sebagai protokol Signal untuk aplikasi kolaborasi.”

    Tidak seperti Signal, kode yang dirilis Encrypted Spaces saat ini bukanlah aplikasi siap pakai tunggal. Sebaliknya, ini adalah repositori kode yang diundang untuk ditinjau oleh peneliti kriptografi dan pengembang. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan programmer membangun aplikasi kolaborasi terenkripsi mereka sendiri tanpa perlu pengetahuan kriptografi yang mendalam. “Kami ingin membuatnya sehingga tidak ada alasan bagi pengembang untuk tidak membuat aplikasi mereka terenkripsi end-to-end, karena menjadi sangat mudah,” tambah Trapp.

    Change Logs dan Zero-Knowledge Roll-Ups

    Encrypted Spaces mengatasi batasan krusial aplikasi terenkripsi end-to-end. Karena server tidak dapat mendekripsi data pengguna, manipulasi informasi harus terjadi di perangkat pengguna. Model ini bekerja baik ketika aplikasi hanya menjadi pipa yang menghubungkan dua ponsel. Namun, ketika aplikasi adalah platform kolaborasi dengan puluhan atau ratusan pengguna, model enkripsi end-to-end menciptakan kendala berat: aplikasi tidak bisa begitu saja menyimpan informasi di server dan memanipulasinya di lokasi terpusat seperti yang dilakukan platform tak terenkripsi seperti Slack atau Google Docs.

    Encrypted Spaces menawarkan model baru: aplikasi yang dibangun dengannya mengelola data dari server terpusat dan memungkinkan pengguna secara kolektif membuat perubahan pada informasi tersebut sambil tetap menjaga enkripsi. Secara spesifik, Encrypted Spaces menyimpan change log — catatan setiap perubahan pada data terenkripsi dari waktu ke waktu — yang dibagikan ke aplikasi di setiap ponsel atau komputer pengguna. Dengan ini, aplikasi dapat menerapkan perubahan secara lokal dan menjaga versi informasi setiap pengguna tetap sinkron dan mutakhir.

    Server menggunakan zero-knowledge proofs, teknik kriptografi yang relatif baru, untuk membuktikan ke setiap perangkat pengguna bahwa tidak ada perubahan yang hilang dan tidak ada perubahan nakal yang dibuat — tanpa server pernah mengakses data yang tidak terenkripsi atau perubahan padanya. Encrypted Spaces bahkan dapat menggunakan properti “roll-up” dari zero-knowledge proofs untuk memastikan setiap pengguna memiliki versi terbaru data grup tanpa harus menerapkan setiap perubahan di seluruh change log.

    “Server dapat menggulung perubahan menjadi bukti ringkas bahwa status saat ini mencerminkan seluruh riwayat,” kata Perrin. “Ini dapat meyakinkan Anda bahwa change log telah diterapkan dengan benar tanpa benar-benar harus mengirimkannya.” Server juga menggunakan zero-knowledge proofs untuk mengawasi bagaimana perangkat mengelola kunci kriptografi yang hanya memungkinkan pengguna berwenang mendekripsi dan mengubah data, mengizinkan pengguna baru diundang, dan secara terbukti dapat mencabut akses jika seseorang meninggalkan grup.

    Prototipe dan Potensi Masa Depan

    Tim Encrypted Spaces menunjukkan demo aplikasi prototipe yang disebut Spaces kepada WIRED. Dalam demo, prototipe Spaces tampak sebagai aplikasi tipe Slack atau Discord yang berfungsi penuh dan terenkripsi end-to-end, dengan tambahan catatan grup, kalender, dan fungsi penyimpanan file. Namun, aplikasi ini masih kekurangan fitur tertentu seperti panggilan suara dan pencarian.

    Sejumlah alat kolaborasi sudah menawarkan enkripsi end-to-end, seperti rangkaian aplikasi berbasis cloud Proton yang mencakup penyimpanan file dan pengeditan dokumen, atau rangkaian serupa dari CryptPad dan Nextcloud. Software seperti Matrix dan Nextcloud juga menawarkan platform perpesanan grup terenkripsi end-to-end ala Slack atau Discord. Namun, Encrypted Spaces menyediakan fondasi open-source yang kredibel untuk pendekatan yang lebih ketat dan terstandarisasi dalam membangun aplikasi tersebut.

    “Saya suka gagasan bahwa kita akan memiliki pustaka standar untuk ini yang dapat ditinjau oleh banyak orang,” kata Green dari Johns Hopkins. “Dan jika Anda menggunakan pustaka ini, Anda mewarisi semua keamanan secara gratis.”

    Dari Signal ke Spaces

    Upaya di balik Encrypted Spaces berasal, setidaknya sebagian, dari dalam tim yang mengembangkan Signal. Pada 2019 dan 2020, pengembang Signal — termasuk Trapp dan Perrin — sedang mengerjakan peningkatan fitur obrolan grup Signal untuk lebih menjaga privasi anggota grup. Tujuannya agar server Signal dapat mengelola siapa yang termasuk dalam grup tanpa menyimpan catatan anggota yang tidak terenkripsi.

    Mereka akhirnya bermitra dengan kriptografer di Microsoft Research untuk membangun sistem “anonymous credentials” yang menggunakan zero-knowledge proofs untuk mempertahankan daftar anggota di server tanpa pernah mengeksposnya. Daftar peserta obrolan grup yang terenkripsi dan terverifikasi di sisi server ini mewakili model keamanan baru bagi Signal, yang sebelumnya sebisa mungkin menyimpan data di perangkat pengguna dan menggunakan server hanya sebagai pipa sederhana untuk menyampaikannya.

    “Jika kita melakukan enkripsi untuk daftar anggota dengan cara yang sangat konsisten, bagus, dan dapat dibuktikan, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama untuk semuanya?” kata Perrin. “Mengapa kita tidak bisa memindahkan semua data ke dalam sesuatu seperti ini?” Pemikiran itu akhirnya membawa mereka ke ambisi yang lebih besar, seperti yang dijelaskan Greg Zaverucha dari Microsoft Research: “Mengapa kita tidak bisa memiliki enkripsi end-to-end di semua aplikasi yang kita gunakan?”

    Tujuh tahun kerja terputus-putus kemudian, Encrypted Spaces akhirnya merilis repositori kode open-source-nya. Mary Gray dari Microsoft Research, seorang antropolog dan teknolog dengan fokus pada privasi, juga memimpin upaya untuk berkolaborasi dengan kelompok komunitas dan layanan sosial di Bay Area untuk mengembangkan Encrypted Spaces dan membangun prototipe yang dirancang sesuai kebutuhan mereka.

    Implikasi: Privasi sebagai Norma Baru

    Jika Encrypted Spaces berhasil mencapai tujuannya meluncurkan generasi baru aplikasi terenkripsi end-to-end, aplikasi tersebut pasti akan digunakan untuk tujuan yang kurang baik juga. Platform perpesanan arus utama sudah menjadi saluran bagi banyak kelompok penjahat siber. Versi terenkripsi dari aplikasi tersebut tidak diragukan akan menghambat kemampuan penegak hukum untuk mengawasi beberapa orang yang menyebabkan kerugian nyata.

    Namun, Trapp menekankan bahwa argumen umum tentang minoritas kecil pelaku kejahatan tidak boleh menghalangi penciptaan platform yang lebih melindungi privasi semua orang secara default. “Kami memiliki harapan umum akan privasi dalam kehidupan nyata kita di dunia fisik,” katanya. “Kita harus diberikan hak yang sama di dunia digital, alih-alih membangun internet dengan pengawasan sebagai aspek bawaan dari desainnya.”

    Enkripsi sudah menjadi norma di ranah internet lainnya. Praktis setiap situs web sekarang menggunakan enkripsi HTTPS, dan Signal telah membantu mengenkripsi end-to-end percakapan teks dan suara di miliaran ponsel dan laptop. Di tengah migrasi besar menuju enkripsi, Slack dan Google Docs seharusnya tidak tetap terekspos seperti kartu pos. “Dengan cara yang sama Signal menjadi status quo di ruang perpesanan, teknologi seperti ini dapat menjadi status quo di seluruh pengembangan aplikasi,” pungkas Trapp. “Saya berharap ini hanya menjadi cara semua aplikasi bekerja: bahwa kita memiliki enkripsi end-to-end di setiap aplikasi di ponsel kita dan itu menjadi semacam standar de facto, dan itu hanya membantu memperkuat bahwa privasi adalah hal yang normal.”

  • Waymo Hadapi Ujian Besar di Piala Dunia 2026

    Waymo Hadapi Ujian Besar di Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Waymo, perusahaan robotaxi milik Alphabet, bersiap menghadapi ujian terbesarnya saat Piala Dunia 2026 yang diperkirakan menarik 6,5 juta pengunjung ke berbagai kota di Amerika Serikat. Perusahaan yang saat ini melayani setengah juta perjalanan berbayar setiap minggu ini akan menguji kemampuan armada otonomnya dalam menangani lonjakan permintaan transportasi massal selama lebih dari sebulan.

    Angka setengah juta perjalanan mingguan tersebut mungkin terlihat kecil dibandingkan raksasa ride-hail seperti Uber dan Lyft. Namun, angka tersebut menjadi signifikan mengingat kendaraan Waymo beroperasi tanpa pengemudi manusia. Perusahaan berencana memperluas layanan ke 20 pasar baru tahun ini saja, dengan ekspansi internasional di London dan Tokyo di depan mata. Aplikasi Waymo kini tersedia di toko aplikasi di 13 negara, termasuk Jerman, Inggris Raya, India, dan Jepang, dalam 15 bahasa berbeda.

    Bagi para pelancong yang belum pernah menaiki robotaxi di China, Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi kesempatan pertama mereka merasakan perjalanan tanpa pengemudi. Namun, ajang olahraga terbesar di dunia ini juga berpotensi menjadi panggung bagi kegagalan yang sangat terlihat publik.

    Musim Semi yang Penuh Tantangan

    Di tengah rencana ekspansi yang ambisius, Waymo menghadapi serangkaian masalah teknis pada musim semi 2026. Perusahaan terpaksa menghentikan layanan di beberapa pasar setelah kendaraannya kesulitan menangani jalanan yang tergenang banjir. Masalah ini bahkan telah menyebabkan penarikan kembali (recall) perangkat lunak secara nasional.

    Pada Mei 2026, Waymo juga menangguhkan layanan perjalanan jalan tol yang sejak akhir tahun lalu memungkinkan penumpang mencapai tujuan tertentu lebih cepat. Perusahaan menyatakan kekhawatirannya tentang bagaimana kendaraan mereka bereaksi di sekitar zona konstruksi.

    “Kami bekerja sama dengan otoritas setempat untuk mempersiapkan Piala Dunia dan acara-acara di sekitarnya,” ujar Sandy Karp, juru bicara Waymo, dalam pernyataannya. Persiapan ini mencakup koordinasi dengan kepolisian dan pengelola stadion di kota-kota tuan rumah.

    Jika semua berjalan sesuai rencana, Piala Dunia Waymo—Piala Dunia kendaraan otonom pertama—seharusnya terlihat seperti Piala Dunia lainnya. Namun, tantangan logistik tetap menjadi isu utama yang belum terpecahkan.

    Keterbatasan Fisik yang Tak Terhindarkan

    Kendaraan otonom menjanjikan berbagai hal: memberikan mobilitas baru bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan SIM, mengubah ekonomi perjalanan, dan menghilangkan pekerjaan pengemudi. Namun, dalam hal acara khusus, mobil tanpa pengemudi menghadapi keterbatasan yang sama dengan mobil berkemudi manusia.

    Ribuan orang ingin tiba di dan meninggalkan suatu tempat pada waktu yang sama. Pada akhirnya, hanya ada begitu banyak jalan yang tersedia. “Tidak akan pernah ada proses yang tertib sempurna tanpa kemacetan,” kata Adam Millard-Ball, profesor perencanaan kota di Luskin School of Public Affairs, University of California, Los Angeles.

    “Secara geometris, Anda tidak akan bisa memiliki area penjemputan ‘pintu depan’ untuk semua orang,” tambahnya. Masa depan adalah banyak hal, tetapi bebas kemacetan bukan salah satunya.

    Masalah yang sama juga dihadapi oleh jenis mobil lain. Inilah sebabnya mengapa area penjemputan dan pengantaran untuk sepupu dekat Waymo, Uber dan Lyft, terlihat seperti sekarang. Sejak taksi pasar abu-abu mulai menyebar di AS pada akhir 2000-an, beberapa kota dan institusi—bandara dan stadion di antaranya—telah menemukan cara untuk “menjinakkan” transportasi yang sangat diminati.

    Dulu, penjemputan Uber standar di bandara dilakukan di tepi jalan, tepat di luar area pengambilan bagasi. Sekarang, sebagian besar bandara mengarahkan penumpang ride-hail ke tempat parkir khusus. Hal yang sama berlaku di stadion. Bahkan, beberapa zona penjemputan ride-hail khusus ini sekarang melayani Waymo.

    “Kota Santa Clara saat ini berkolaborasi dengan layanan rideshare untuk menciptakan lokasi area layanan di sekitar Levi’s Stadium selama hari acara,” tulis Letnan Eric Lagergren dari Departemen Kepolisian Santa Clara dalam surel kepada WIRED. Hari acara di sini termasuk delapan pertandingan kandang 49ers yang terjadi setiap musim.

    “Lokasi area layanan rideshare dan transportasi umum di Santa Clara akan tetap aktif untuk semua pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 yang diselenggarakan di Kota Santa Clara,” jelasnya. Rutinitas yang sama, acara olahraga yang berbeda.

    Kritik dan Argumen dari Dalam Industri

    Ini adalah kritik umum terhadap kendaraan otonom sekaligus poin pembicaraan di kalangan pendukungnya: kendaraan tetaplah kendaraan, tidak peduli siapa yang mengemudikannya. Pengembang teknologi AV senang mendengar bahwa penumpang yang pertama kali naik ke mobil mereka sering kali menjadi bosan dengan perjalanan fiksi ilmiah itu, dan dengan cepat beralih ke ponsel di pangkuan mereka, seperti yang mereka lakukan selama perjalanan lainnya.

    Waymo dan pemain lain di industri robotaxi telah lama berargumen bahwa mobil mereka tidak boleh diatur secara berbeda dari kendaraan ride-hail lainnya. Di sisi lain, kemacetan lalu lintas di waktu pertandingan dan berbagai penantian lainnya tetap ada.

    Pada akhirnya, kendaraan otonom mungkin dapat melakukan perbaikan di bagian tepi. Millard-Ball menunjukkan bahwa Waymo adalah operator tunggal, sehingga tidak seperti kontraktor independen ride-hail, Waymo dapat mengoordinasikan armada kendaraannya. Mobil Waymo, misalnya, dapat “membentuk antrean yang tertib untuk penjemputan di tempat-tempat dengan permintaan tinggi,” katanya.

    Namun, efisiensi dapat bertentangan dengan pengalaman penjemputan mewah yang diinginkan banyak orang: mobil yang menunggu atau berputar-putar di blok dengan sabar saat Anda keluar, lalu tiba tepat saat Anda sampai di tepi jalan. Itu sama sekali tidak tertib.

    Pelajaran dari Masa Lalu

    Untuk melihat sekilas apa yang menanti dalam efisiensi ala Piala Dunia, mungkin masuk akal untuk melihat ke belakang—ke jenis transportasi umum yang membawa banyak orang ke satu tempat dengan cukup cepat: kereta dan bus. Keduanya akan digunakan selama acara tahun ini.

    Atau lihat apa yang dilakukan Uber sendiri: produk bernama Shuttle yang memungkinkan peserta pertandingan memesan kursi di minibus yang kembali dari pertandingan di New Jersey, Boston, Miami, dan Dallas. Selamat datang di masa depan.

    Bagi penggemar teknologi yang ingin melihat lebih jauh tentang inovasi di industri ini, imToken Transformasi menjadi contoh bagaimana antarmuka digital berkembang. Sementara itu, di dunia game, 36 Tim Siap Bertarung di ajang kompetisi bergengsi.

    Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pembuktian bagi Waymo. Keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam menangani lonjakan permintaan ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan transportasi otonom di acara-acara besar. Jika Waymo berhasil, ini akan menjadi langkah besar menuju adopsi massal robotaxi. Jika gagal, ini akan menjadi pengingat bahwa teknologi, secanggih apa pun, masih harus berhadapan dengan realitas fisika dan logistik perkotaan.

    Sementara itu, industri game juga menyaksikan perubahan strategi besar. Xbox Kembali ke Eksklusif menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus menyesuaikan pendekatan mereka di tengah persaingan yang ketat.

  • Teknologi VAR Piala Dunia 2026 Gunakan Digital Twin Pemain

    Teknologi VAR Piala Dunia 2026 Gunakan Digital Twin Pemain

    JBNews.id — Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang sepak bola dengan teknologi adjudikasi paling canggih yang pernah ada. Sistem video assistant referee (VAR) dan semi-automated offside technology (SAOT) di turnamen musim panas ini tidak hanya mengandalkan kamera dan sensor biasa, melainkan juga menghadirkan inovasi digital twin—salinan virtual presisi tinggi dari setiap pemain.

    Sepanjang pertandingan, lapangan akan dipenuhi sensor, kamera, dan perangkat lunak computer vision terbaru. Setiap pemain Piala Dunia telah menjalani pemindaian tubuh 360 derajat resolusi tinggi oleh mitra teknologi FIFA, Lenovo. Hasil pemindaian ini kemudian diolah menjadi digital twin yang secara persis mencerminkan tinggi badan, panjang anggota tubuh, hingga ukuran sepatu atlet. Salinan virtual tersebut dapat ditempatkan ke dalam simulasi virtual pertandingan untuk menentukan posisi eksak pemain relatif terhadap bola, garis batas, dan pemain lain.

    Data ini memungkinkan ofisial pertandingan mendeteksi pelanggaran, menentukan hukuman, dan memperhalus keputusan wasit. Meskipun sistem ini mampu mempelajari aksi lebih dekat daripada kemampuan mata manusia, wasit manusia tetap menjadi bagian dari permainan. Ketika wasit melakukan kesalahan—dan hal itu pasti terjadi—ofisial dapat beralih ke teknologi untuk mengoreksi kesalahan, menggantikan keputusan subjektif dengan kebenaran objektif.

    Peningkatan Sistem Pelacakan

    Elemen pengaturan tahun ini mirip dengan Piala Dunia 2022, namun dengan berbagai peningkatan. Hawk-Eye tetap menjadi penyedia pelacakan optik utama dengan sistem computer vision yang menangkap lebih dari dua lusin titik kerangka pada setiap pemain sepanjang waktu. FIFA director of innovation Johannes Holzmüller mengatakan sistem pelacakan kini menggunakan 16 kamera resolusi tinggi, meningkat dari 12 kamera pada tahun 2022.

    Data optik tersebut akan digabungkan dengan sensor canggih di dalam bola. Kinexon, pemimpin di bidang sports wearables, kembali menyediakan otak digital bola pertandingan. Kali ini, sensor ultrawide-band dan IMU (termasuk akselerometer dan giroskop untuk menangkap putaran bola) melacak lokasi presisi bola dan setiap sentuhan, merekam data 500 kali per detik.

    Berbeda dengan versi 2022 yang menempatkan sensor di tengah bola dengan sling tali, Adidas kini menciptakan kantung kecil untuk menempatkan sensor di sepanjang dinding bagian dalam bola. “Sensor ini divulkanisir di dalam kantung dengan kantong plastik kecil,” ujar Maximillian Schmidt, salah satu pendiri dan managing director Kinexon. “Vulkanisasi ini jauh lebih stabil daripada tali yang memiliki pengait yang bisa lebih mudah patah.”

    Penempatan sensor di dinding dalam bola memerlukan penyeimbangan agar bobot tambahan di satu sisi tidak membuat bola goyah. Schmidt mengatakan seluruh perangkat hanya berbobot 13 gram, namun timnya harus mengkalibrasi semuanya untuk memastikan setiap sentuhan atau pergerakan bola terlacak secara merata. Pengujian benturan yang lebih ketat juga menjadi bagian penting dari proses karena sensor kini berada tepat di titik yang bisa ditendang langsung.

    Digital Twin: Akurasi Milimeter

    Semua pemain Piala Dunia 2026 telah menjalani pemindaian 360 derajat resolusi tinggi dari Lenovo. Pemindaian ini akan dimasukkan ke dalam sistem Hawk-Eye untuk menggantikan avatar generik yang sebelumnya digunakan untuk offside dan aplikasi VAR lainnya. Art Hu, global chief innovation officer Lenovo, mengatakan pemindaian ini mendefinisikan bentuk tubuh, tonus otot, dan ukuran sepatu dengan akurasi 1 hingga 2 milimeter.

    “Itu adalah peningkatan satu tingkat magnitudo dari avatar biasa,” kata Hu. Tantangan teknis sesungguhnya adalah menggunakan satu pemindaian pemain yang diambil saat mereka berdiri diam, lalu menerapkan digital twin tersebut ke data pose kerangka Hawk-Eye dalam skenario permainan aktif—saat pemain berlari, melompat, atau meluncur. Biaya dari beberapa inci presisi tambahan ini adalah kekuatan komputasi dan penyesuaian algoritmik yang sangat besar.

    FIFA telah menguji pengaturan baru ini di Piala Dunia Antarklub dan Piala Interkontinental 2025, serta berbagai turnamen junior selama 18 bulan terakhir. Versi sebelumnya dari teknologi digital twin telah digunakan untuk membantu keputusan VAR menjelang semua gol dan tendangan penalti. Versi baru juga akan membantu meninjau hukuman kartu merah dan insiden di mana ofisial lapangan secara tidak sengaja menghukum pemain yang salah.

    Teknisi VAR kini memiliki kemampuan untuk membatalkan keputusan tendangan sudut jika sistem mendeteksi kesalahan dan kemudian memberi tahu wasit di lapangan melalui headset tanpa menunda permainan. Dalam upaya lain mengurangi waktu terbuang dari peninjauan, VAR akan mengirimkan peringatan langsung ke ofisial pinggir lapangan untuk keputusan offside yang jelas dan dapat dideteksi dengan cepat, menghentikan permainan segera. Ini berbeda dari pengaturan sebelumnya yang memungkinkan permainan berlanjut setelah pelanggaran.

    Holzmüller yakin peningkatan akurasi sistem VAR akan memungkinkan keputusan yang benar dibuat lebih sering, bahkan untuk keputusan yang sangat bernuansa, seperti “ketika hanya satu jari kaki yang offside.”

    Mengatasi Batasan Video

    Meskipun sebagian besar pelanggaran offside dapat dideteksi dengan menonton rekaman video gerakan lambat, sejumlah kecil pelanggaran terjadi pada momen tepat di antara bingkai video. FIFA bertekad mengatasi masalah ini. Holzmüller mengatakan kombinasi pemindaian 3D dan data pelacakan bola—yang menangkap posisi 500 kali per detik, menghasilkan data beresolusi lebih tinggi daripada video 60 bingkai per detik—akan melengkapi rekaman video untuk memberikan gambaran paling lengkap.

    Fitur paling menarik dari teknologi digital twin adalah “tampilan kiper 3D” dalam VAR. Visualisator ini dapat menunjukkan sudut pandang kiper dan, menggunakan input digital sistem, menentukan apakah pemain penyerang dalam posisi offside mengganggu kiper. Gangguan ini telah lama ilegal dalam sepak bola, namun jumlah pemain dan ukuran lapangan membuatnya sulit untuk dipanggil secara akurat.

    Hu menunjukkan berbagai kemungkinan penggunaan teknologi digital twin di berbagai olahraga, mulai dari aplikasi perwasitan seperti ini hingga kesehatan dan performa atlet. Seiring model menjadi lebih kuat dan biaya komputasi turun, teknologi ini hanya akan meningkat.

    Apakah Sebanding dengan Usaha?

    Holzmüller dengan terus terang mengakui bahwa kemajuan ini, dan semua kerja teknis dan finansial yang menyertainya, mungkin hanya mengubah beberapa keputusan selama seluruh turnamen. Namun dari perspektif FIFA, tidak ada pertanyaan tentang nilainya ketika menyangkut ajang olahraga terbesar di dunia. “Kami harus membawa teknologi terbaik ke Piala Dunia,” katanya. “Itu tujuan kami.”

    Penggunaan digital twin dan sistem pelacakan presisi tinggi ini menimbulkan pertanyaan di mana letak nilai sistem: dalam menghadirkan ketidakberpihakan pada momen-momen krusial, atau dalam memungkinkan liga mengadili pelanggaran kecil seinci di sana-sini. FIFA dan badan sepak bola dunia lainnya telah memperjelas posisi mereka: Mereka ingin kesalahan besar hilang, tetapi inci-inci itu juga sangat berarti.

    Teknologi serupa juga mulai diadopsi di berbagai sektor lain. Inovasi di bidang AI dan sensor ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara kita melihat dan menilai sebuah pertandingan. Sementara itu, perkembangan Fitur Terbaru di perangkat wearable juga menunjukkan tren integrasi teknologi yang semakin canggih dalam kehidupan sehari-hari.

    Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang pembuktian apakah investasi besar dalam teknologi adjudikasi ini benar-benar memberikan dampak signifikan pada keadilan pertandingan. Dengan 104 pertandingan yang akan dimainkan, kombinasi sistem optik dan pelacakan bola ini akan menangkap setiap nuansa permainan, memberikan wasit alat terbaik untuk membuat keputusan yang tepat.

  • Studi Ungkap Aktivitas Warga AS di Polymarket Capai Rp400 Triliun

    Studi Ungkap Aktivitas Warga AS di Polymarket Capai Rp400 Triliun

    JBNews.id — Sebuah studi dari Rutgers University mengungkap bahwa warga Amerika Serikat diduga telah menyalurkan dana antara USD 10,6 miliar hingga USD 26,7 miliar melalui platform prediksi pasar kripto Polymarket dalam periode satu tahun terakhir. Temuan ini menjadi estimasi pertama yang secara spesifik mengukur besarnya partisipasi pengguna AS di platform yang sebenarnya telah dilarang beroperasi di negara tersebut sejak 2022.

    Studi yang dilakukan oleh ahli statistik Rutgers University, Harry Crane, menganalisis aktivitas perdagangan yang tampak berasal dari pengguna AS di platform prediksi pasar lepas pantai antara Mei 2025 hingga akhir April 2026. Crane menemukan bahwa banyak pasar dengan volume tertinggi di Polymarket bersifat sangat Amerika-sentris, termasuk pasar yang mencakup pemilu AS dan acara olahraga domestik.

    Metodologi dan Temuan Utama

    Untuk mengukur aktivitas ini, Crane mengembangkan metodologi yang mengidentifikasi perilaku khas pedagang AS dibandingkan pedagang internasional. Indikator yang digunakan meliputi waktu perdagangan dan jenis pasar yang diminati. Misalnya, pedagang AS cenderung lebih tertarik pada acara olahraga dalam negeri dibandingkan rekan global mereka.

    “Sudah diketahui bahwa ada individu di sana, tapi yang belum diketahui adalah sejauh mana partisipasinya, apakah satu atau sepuluh orang, atau benar-benar sebagian besar,” ujar Crane yang juga anggota Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Innovation Advisory Committee. Studi ini menunjukkan bahwa pedagang AS menyumbang sekitar setengah dari aktivitas di pasar olahraga Polymarket.

    Penting untuk dicatat bahwa studi ini didanai oleh Coalition for Prediction Markets, sebuah kelompok lobi yang mewakili industri prediksi pasar. Anggota koalisi ini mencakup Kalshi, Coinbase, Crypto.com, dan pemain besar lainnya, namun Polymarket sendiri bukan anggota. Meski demikian, Crane menegaskan bahwa ia mempertahankan kendali editorial penuh atas studi tersebut.

    Larangan dan Celah Regulasi

    Polymarket dilarang beroperasi di AS sejak 2022 setelah regulator federal menemukan bahwa platform tersebut beroperasi sebagai platform perdagangan derivatif yang tidak terdaftar. Sejak Desember 2025, Polymarket mengoperasikan aplikasi seluler berlisensi AS bernama Polymarket US. Menurut laporan Pew Research, volume perdagangan Polymarket US pada April 2026 mencapai sekitar USD 1,6 miliar, sementara platform kripto utama Polymarket mencapai USD 9 miliar pada periode yang sama.

    Untuk mengakses platform utama yang diblokir, pedagang AS diduga menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi asal mereka, meskipun ketentuan layanan Polymarket melarang penggunaan VPN. CFTC sendiri tidak memiliki kewenangan normal atas pasar prediksi lepas pantai, namun Ketua CFTC Michael Selig menyatakan kesediaannya menggunakan yurisdiksi ekstrateritorial untuk menindak pelaku kejahatan secara kasus per kasus.

    Dalam konteks regulasi teknologi yang lebih luas, perkembangan ini menarik untuk dicermati seiring dengan kebijakan AI Voluntary Framework yang baru-baru ini diteken oleh Presiden Trump. Kerangka kerja sukarela untuk kecerdasan buatan ini menunjukkan bagaimana pemerintah AS berupaya menyeimbangkan inovasi dengan pengawasan regulasi di berbagai sektor teknologi.

    Kasus High-Profile dan Proyeksi Masa Depan

    Pada April 2026, terjadi contoh paling menonjol terkait aktivitas warga AS di Polymarket. Departemen Kehakiman AS mendakwa seorang tentara pasukan khusus karena diduga menggunakan informasi rahasia tentang penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraup keuntungan sekitar USD 400.000 dari perdagangan Polymarket.

    Studi Crane memperkirakan bahwa aktivitas berbasis AS akan terus berkembang di platform tersebut jika platform kripto Polymarket mempertahankan pangsa pasarnya. Proyeksi menunjukkan volume perdagangan berbasis AS bisa mencapai USD 133 miliar pada tahun 2030.

    University of Toronto Scarborough associate professor of finance Charles Martineau, yang telah mempelajari perilaku perdagangan Polymarket, menilai metodologi yang digunakan Crane cukup masuk akal. “Ini tidak sempurna, tapi saya pikir ini memberikan estimasi yang wajar tentang fraksi volume yang dapat diatribusikan pada perdagangan lepas pantai. Menggunakan proksi tidak langsung seperti ini adalah hal yang umum dalam riset keuangan,” ujarnya.

    Polymarket menolak berkomentar mengenai studi ini, sementara CFTC tidak menanggapi permintaan komentar. Ketidakjelasan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah regulator akan menindak pedagang AS yang menggunakan VPN untuk menghindari larangan namun tetap mematuhi hukum secara umum.

    Di sisi lain, perkembangan industri prediksi pasar di Indonesia juga menarik untuk dicermati. Kompetisi komunitas seperti UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall menunjukkan bagaimana ekosistem digital dan kompetisi berbasis komunitas terus berkembang di Tanah Air, meskipun dalam ranah yang berbeda dari prediksi pasar.

    Implikasi dari temuan studi ini sangat luas. Bagi regulator seperti CFTC, data ini memberikan gambaran tentang seberapa besar aktivitas yang luput dari pengawasan. Bagi pelaku industri, angka ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar jika regulasi dapat diadaptasi. Sementara bagi pengguna biasa, temuan ini mengingatkan bahwa penggunaan VPN untuk mengakses platform yang diblokir tetap memiliki risiko hukum yang belum sepenuhnya jelas.

    Dengan proyeksi volume perdagangan mencapai USD 133 miliar pada 2030, jelas bahwa prediksi pasar berbasis kripto akan terus menjadi isu regulasi yang signifikan di tahun-tahun mendatang, terutama terkait yurisdiksi lintas batas dan penegakan hukum di era digital.

  • YouTube Diduga Langgar Sanksi AS, Iklan Muncul di Kanal Iran

    YouTube Diduga Langgar Sanksi AS, Iklan Muncul di Kanal Iran

    JBNews.id — YouTube diduga melanggar sanksi ekonomi Amerika Serikat dengan menayangkan iklan di lebih dari 75 kanal yang dikelola entitas resmi Iran. Temuan ini diungkap oleh Tech Transparency Project (TTP), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada riset teknologi.

    Riset tersebut mengidentifikasi kanal-kanal yang tampaknya dikelola oleh pihak-pihak yang telah dijatuhi sanksi resmi oleh Office of Foreign Assets Control (OFAC), badan di bawah Kementerian Keuangan AS yang bertugas menegakkan sanksi terhadap Iran. Kanal-kanal tersebut telah dimonetisasi, artinya YouTube menjalankan iklan di video mereka untuk menghasilkan pendapatan.

    Para peneliti mendokumentasikan iklan dari berbagai perusahaan, mulai dari Subaru, Verizon, TurboTax, obat penurun berat badan Ozempic, hingga restoran cepat saji KFC. Dalam satu kasus, para peneliti mengamati iklan dari US Customs and Border Protection (CBP) muncul di video yang diproduksi oleh Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran.

    “Itu berarti YouTube menempatkan iklan yang dibayar dengan uang pajak AS di kanal milik kementerian pemerintah Iran,” tulis para peneliti. US Customs and Border Protection tidak menanggapi permintaan komentar.

    Entitas Terlarang Mendapat Pendapatan Iklan

    “Pemilik dari banyak kanal YouTube ini mencakup individu dan entitas Iran yang tidak hanya tunduk pada embargo AS yang komprehensif terhadap Iran, tetapi juga dijatuhi sanksi oleh OFAC di bawah berbagai program sanksinya, termasuk kontraterorisme, nonproliferasi, pelanggaran hak asasi manusia, atau yang spesifik untuk pemerintah Iran secara lebih umum,” kata Kian Meshkat, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam sanksi ekonomi AS yang meninjau riset tersebut, kepada WIRED.

    Juru bicara Google, Nate Funkhouser, menyatakan, “Google berkomitmen untuk mematuhi sanksi dan hukum kepatuhan perdagangan yang berlaku. Jika kami menemukan bahwa sebuah akun melanggar kebijakan kami, kami akan mengambil tindakan yang tepat.”

    YouTube secara resmi dilarang di Iran pada tahun 2012, tetapi platform tersebut terus digunakan oleh rezim Iran untuk menyebarkan propaganda. Kebijakan penerbit Google sendiri, yang berlaku untuk YouTube, dengan jelas menyatakan bahwa alat iklan perusahaan “tidak boleh digunakan untuk atau atas nama” pihak-pihak di Iran.

    Pada tahun 2024, YouTube memang mengambil tindakan dengan menutup akun yang terkait dengan kementerian luar negeri Iran. “Karena sanksi AS yang berlaku, kanal milik negara Iran tidak diizinkan di YouTube,” kata perusahaan itu saat itu.

    Peneliti TTP menyisir platform tersebut untuk mencari nama-nama individu yang langsung dijatuhi sanksi oleh AS sebagai ancaman bagi keamanan nasional, serta akun yang tampaknya dijalankan oleh pejabat pemerintah Iran, mengidentifikasi total 84 kanal. Semua kanal menampilkan iklan di video mereka, termasuk iklan in-feed, iklan in-stream, dan iklan YouTube Shorts.

    Individu dan Lembaga yang Teridentifikasi

    Di antara individu yang dijatuhi sanksi yang teridentifikasi adalah Babak Zanjani, seorang pengusaha yang membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran menghindari sanksi; Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi baru Iran yang mengancam pasukan AS di kawasan; dan Naji Sharifi Zindashti, yang dituduh menargetkan para pembangkang Iran di luar negeri untuk pembunuhan, termasuk dua penduduk Maryland.

    Al-Mustafa International University, sebuah sekolah seminari Islam Iran yang dijatuhi sanksi pada tahun 2020 karena mengindoktrinasi dan merekrut sumber intelijen asing, memiliki setidaknya empat kanal YouTube, menurut para peneliti, termasuk kanal berbahasa Inggris dan Prancis. Kanal-kanal tersebut, yang menampilkan kursus video dan ceramah, dimonetisasi dengan iklan in-stream dan in-feed, termasuk iklan untuk BJ’s Wholesale Club dan film horor Warner Bros., They Will Kill You.

    Di antara entitas pemerintah yang teridentifikasi memiliki kanal YouTube yang menampilkan iklan adalah unit Pasukan Khusus Kontraterorisme Iran, yang telah dituduh menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa yang tidak bersenjata. Kantor Berita Fars, penyiar negara Iran yang terkenal menyebarkan disinformasi dan propaganda, juga memiliki kanal YouTube yang menampilkan iklan.

    Sebagian besar kanal telah beroperasi selama bertahun-tahun, mengumpulkan jutaan penayangan. Hanya ada sedikit yang dapat dilakukan pengiklan untuk menghindari muncul di video tersebut, karena Google tidak mengizinkan perusahaan untuk memilih keluar, seperti yang dilakukannya untuk kategori konten teroris atau pelecehan hewan.

    Hal ini bahkan lebih mengkhawatirkan, kata direktur TTP Katie Paul, ketika pengiklan pemerintah AS terlibat. Para peneliti tidak dapat memastikan apakah YouTube melanggar sanksi AS dengan menjalankan iklan di kanal-kanal ini, karena tidak jelas apakah platform tersebut membagi pendapatan iklan dengan mereka.

    YouTube mulai menyembunyikan kanal mana yang mendapatkan bagian dari pendapatan iklannya pada tahun 2023, yang berarti tidak jelas apakah entitas yang dijatuhi sanksi menghasilkan uang dari iklan yang berjalan di kanal mereka. Google tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah akun yang tercantum dalam laporan tersebut menerima bagian dari pendapatan iklan.

    Bahkan tanpa berbagi pendapatan, YouTube mungkin melanggar sanksi, karena OFAC menyatakan bahwa warga negara dan perusahaan AS dilarang memberikan layanan “kepada atau untuk kepentingan orang yang diblokir.” Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar.

    “Perusahaan teknologi harus menyadari sanksi AS dan memahami risiko kepatuhan mereka serta melakukan uji tuntas untuk mencegah pelanggaran,” kata juru bicara Departemen Keuangan kepada WIRED.

    Implikasi Hukum dan Pengecualian Sanksi

    YouTube bukan satu-satunya perusahaan teknologi AS yang berpotensi melanggar sanksi AS terhadap Iran. Pada bulan Februari, WIRED mengungkapkan bahwa X (sebelumnya Twitter) bisa melanggar sanksi karena tampaknya menerima uang dari pejabat pemerintah Iran untuk akun premium.

    Untuk perusahaan teknologi AS seperti X dan YouTube, ada pengecualian terhadap sanksi terhadap pemerintah Iran. Satu pengecualian, yang dikeluarkan pada tahun 2022, mengizinkan perusahaan teknologi AS untuk menyediakan akses ke platform mereka di Iran, sehingga warga biasa dapat berbagi informasi dengan dunia luar. Pengecualian tersebut berarti pejabat pemerintah Iran juga dapat menggunakan platform ini, tetapi tidak mengizinkan transaksi keuangan dengan pemerintah Iran.

    Meshkat menambahkan bahwa bahkan jika penyediaan layanan YouTube kepada individu yang dijatuhi sanksi atau kanal pemerintah Iran memenuhi syarat untuk pengecualian, “sulit untuk memahami bagaimana, tanpa otorisasi OFAC terpisah, beberapa pihak yang diberikan kanal ini dapat memasarkan atau mengiklankan diri mereka sendiri dengan video promosi mereka sendiri. Pengecualian biasanya mengecualikan dari cakupannya penyediaan layanan pemasaran kepada pihak yang dijatuhi sanksi.”

    Temuan TTP ini menyoroti celah serius dalam pengawasan platform digital global. Dengan ribuan kanal yang berpotensi melanggar sanksi, tekanan terhadap Google untuk bertindak semakin besar. Bagi pengguna dan pengiklan di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa iklan digital bisa muncul di tempat yang tidak terduga, termasuk di kanal yang terkait dengan rezim yang dijatuhi sanksi internasional.

    Implikasinya jelas: pengawasan terhadap platform teknologi besar harus diperketat, dan perusahaan seperti Google harus lebih transparan dalam melaporkan kepatuhan mereka terhadap hukum internasional.

  • XLSmart Luncurkan Solusi 5G dan AI untuk Digitalisasi Industri

    XLSmart Luncurkan Solusi 5G dan AI untuk Digitalisasi Industri

    JBNews.id — XLSmart resmi meluncurkan solusi digital yang memadukan jaringan 5G dan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat transformasi digital di sektor korporasi. Melalui lini bisnis XLSmart For Business, operator seluler ini memperkenalkan Esta connect 5G dan Esta agent dalam ajang Bravo 500 Summit 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Esta connect 5G merupakan solusi konektivitas enterprise yang menggabungkan jaringan 5G dengan teknologi SD-WAN dan modem atau customer premises equipment (CPE). Solusi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri yang membutuhkan konektivitas berkecepatan tinggi, latensi rendah, dan kapasitas besar guna mendukung pemrosesan data secara real time.

    Dengan dukungan jaringan 5G, perusahaan dapat menghubungkan berbagai sistem, perangkat, sensor, aplikasi, dan lokasi operasional secara lebih optimal. Cakupan penerapannya meliputi smart branch, smart manufacturing, smart warehouse, smart port, hingga smart mining. Selain berfungsi sebagai jaringan utama, Esta connect 5G juga dapat digunakan sebagai koneksi cadangan untuk menjaga kelangsungan operasional saat terjadi gangguan pada jaringan utama.

    Di sisi lain, XLSmart juga menghadirkan Esta agent, solusi asisten virtual berbasis AI yang memanfaatkan teknologi Natural Language Processing (NLP) dan Generative AI. Solusi ini memungkinkan perusahaan memberikan respons yang lebih cepat, konsisten, dan personal kepada pelanggan melalui berbagai kanal komunikasi digital.

    Esta agent ditujukan untuk berbagai sektor, mulai dari korporasi besar, perusahaan menengah, hingga sektor perbankan, asuransi, telekomunikasi, dan instansi pemerintah yang membutuhkan layanan pelanggan maupun layanan informasi secara cepat dan efisien.

    Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, mengatakan fondasi konektivitas dan pemanfaatan AI menjadi elemen penting dalam mendorong daya saing perusahaan di era digital.

    “Transformasi digital yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Perusahaan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat, kemampuan mengelola data secara efektif, serta pemanfaatan AI dan otomasi yang mampu menghasilkan dampak bisnis yang nyata,” ujar Andrijanto di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

    Melalui kombinasi teknologi 5G dan AI, XLSmart berharap dapat membantu perusahaan membangun operasional yang lebih adaptif, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat inovasi di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis.

    XLSmart pun terus memperluas jangkauan jaringan 5G yang tidak hanya tersedia di satu titik, tapi tersedia menyeluruh di satu kota. Perusahaan menargetkan koneksi internet cepat tersebut akan hadir di 88 kota.

    “Karena perubahan begitu cepat dan tidak semua memiliki resources yang sama, maka Bravo Summit 500 2026 ini menjadi penting, di mana para tokoh penting, CEO, C-level, dan seluruh komponen daripada industri, termasuk juga regulasi, tentunya bisa memanfaatkan forum ini untuk menambah wawasan, relasi, dan berkolaborasi untuk bertumbuh bersama,” pungkas Andrijanto.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin turut membuka XLSmart Bravo 500 Summit di Jakarta. Hadir pula sejumlah direksi dan komisaris XLSmart dalam acara tersebut.

    Bravo 500 Summit 2026 merupakan forum tahunan edisi kedua yang mempertemukan industri, pemerintah, akademisi, dan mitra teknologi di Indonesia. Acara ini mengusung tema “Solusi untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri” dan mengundang 2.000 partisipan untuk membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas, dan teknologi digital.

    Bagi perusahaan yang tengah mencari solusi internet murah atau inovasi di sektor lain, ekosistem Esta dari XLSmart menawarkan pendekatan terintegrasi. Kombinasi 5G dan AI yang disajikan dalam solusi ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi digitalisasi industri di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten.

    Dengan jangkauan 5G yang terus diperluas ke 88 kota, XLSmart optimistis dapat menjawab tantangan konektivitas dan otomatisasi yang dihadapi korporasi. Solusi seperti solusi terbaru di sektor lain pun menunjukkan bahwa inovasi berbasis teknologi menjadi kunci daya saing.

    Implikasi dari peluncuran ini bagi dunia usaha sangat jelas: perusahaan kini memiliki akses ke infrastruktur digital yang lebih matang. Dengan Esta connect 5G sebagai tulang punggung konektivitas dan Esta agent sebagai ujung tombak layanan pelanggan, korporasi dapat mengoptimalkan operasional dan menekan biaya jangka panjang.

    Kehadiran solusi ini juga relevan dengan kebutuhan sektor publik. Instansi pemerintah yang membutuhkan layanan informasi cepat dan efisien dapat mengadopsi Esta agent. Sementara itu, sektor manufaktur dan logistik dapat memanfaatkan Esta connect 5G untuk smart manufacturing dan smart warehouse.

    XLSmart For Business, sebagai unit bisnis yang mengelola solusi ini, menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi digital korporasi. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana konvergensi 5G dan AI menjadi fondasi utama ekonomi digital.

    Dengan data yang menunjukkan bahwa 2.000 partisipan hadir dalam Bravo 500 Summit 2026, antusiasme pasar terhadap solusi ini terbilang tinggi. Forum ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara penyedia teknologi, regulator, dan pelaku industri sangat diperlukan untuk mempercepat adopsi digital.

    Ke depannya, XLSmart diharapkan terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat posisinya di pasar enterprise, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. Transformasi digital yang adaptif dan efisien bukan lagi pilihan, melainkan keharusan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan solusi 3 hari di sektor properti atau inovasi lainnya, prinsip yang sama—menggabungkan konektivitas dan otomatisasi—dapat menjadi acuan. Era digital menuntut kecepatan, ketepatan, dan kolaborasi lintas sektor.

    XLSmart, melalui Bravo 500 Summit 2026 dan ekosistem Esta, telah menunjukkan peta jalan yang jelas: 5G sebagai fondasi, AI sebagai mesin, dan kolaborasi sebagai bahan bakar transformasi.

  • BAKTI Komdigi: Semangat 3T, Misi Konektivitas Digital Indonesia

    BAKTI Komdigi: Semangat 3T, Misi Konektivitas Digital Indonesia

    JBNews.id — Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fadilah Mathar, menyatakan bahwa seluruh karyawan di lembaganya memiliki semangat yang sama: siap bertugas ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Hal ini diungkapkannya dalam pertemuan dengan sejumlah jurnalis di Berau, Kalimantan Timur.

    Pernyataan tersebut muncul setelah Fadilah bercerita tentang kunjungannya ke perusahaan antariksa milik miliarder teknologi Elon Musk, SpaceX. Saat itu, ia bertanya kepada salah seorang petinggi perusahaan mengenai budaya kerja yang dianut organisasi tersebut. “Saya pernah bertanya waktu itu ke setingkat direktur, apa corporate culture di SpaceX? Mereka bilang semua yang kerja di sini pasti mau ke Mars,” kata Fadilah.

    Perbandingan itu menjadi ilustrasi tentang pentingnya tujuan besar sebagai identitas bersama sebuah organisasi. Jika SpaceX memiliki visi menaklukkan Mars, BAKTI memiliki misi yang tak kalah ambisius: menghadirkan konektivitas digital hingga ke pelosok negeri. “Semua rekan-rekan di BAKTI ketika bapak ibu tanya culture-nya apa sih di BAKTI, mereka pasti akan bilang 3T. Mereka pasti akan siap-siap pergi ke wilayah 3T,” sebutnya.

    Peran Strategis BAKTI

    Tugas BAKTI menjadi krusial karena lembaga ini merupakan ujung tombak pemerintah dalam menyediakan akses internet dan telekomunikasi di lokasi-lokasi yang belum menarik secara bisnis bagi operator swasta. “BAKTI ini khusus untuk menyelenggarakan dan membangun akses internet atau konektivitas digital atau sinyal di wilayah-wilayah yang tidak dibangun oleh pihak swasta. Karena kalau pemerintah tidak mengurus maka sampai kapan pun akses tidak akan diterima oleh masyarakat,” jelas Fadilah.

    Saat ini, BAKTI mengelola berbagai program konektivitas nasional, mulai dari pembangunan BTS 4G, penyediaan akses internet gratis untuk sekolah dan fasilitas kesehatan, hingga pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) untuk menjangkau daerah terpencil. Hingga kini, lebih dari 31 ribu titik layanan publik telah terhubung melalui jaringan yang dibangun BAKTI. Infrastruktur tersebut tersebar di sekolah, puskesmas, kantor desa, fasilitas keamanan, dan berbagai layanan publik lainnya di seluruh Indonesia.

    BTS Bakti

    Dalam era digital seperti sekarang, konektivitas bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder, melainkan infrastruktur dasar yang setara dengan listrik dan air bersih. Wilayah 3T yang selama ini menghadapi tantangan keterisolasian dan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi menjadi prioritas utama BAKTI. Semangat untuk melayani wilayah-wilayah tersebut telah menjadi kultur kerja yang dibangun di lembaga tersebut.

    Dampak dan Implikasi

    Upaya BAKTI dalam menghadirkan konektivitas digital hingga ke wilayah 3T memiliki dampak luas. Akses internet yang merata dapat membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas pendidikan melalui akses informasi, serta memperkuat layanan kesehatan di daerah terpencil. Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, konektivitas juga menjadi instrumen penting dalam menjaga kedaulatan dan memperkuat identitas nasional.

    Fadilah Mathar menekankan bahwa setiap organisasi membutuhkan tujuan besar yang menjadi identitas bersama. Di BAKTI, tujuan tersebut diwujudkan dalam komitmen melayani wilayah 3T. Hal ini selaras dengan program prioritas pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital di seluruh Indonesia.

    Meski memiliki kemiripan semangat dengan perusahaan antariksa global, tantangan yang dihadapi BAKTI berbeda secara fundamental. Jika SpaceX berhadapan dengan gravitasi bumi dan ruang angkasa, BAKTI berhadapan dengan kondisi geografis Indonesia yang menantang, mulai dari pegunungan, hutan lebat, hingga pulau-pulau terpencil. Namun, semangat untuk melayani dan menghubungkan masyarakat Indonesia tetap menjadi pendorong utama.

    Ke depan, BAKTI akan terus mengembangkan program-program konektivitas untuk memastikan tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang terisolasi secara digital. Dengan semangat 3T yang telah menjadi budaya kerja, lembaga ini optimistis dapat mewujudkan visi Indonesia Digital yang inklusif dan merata.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi dan keamanan digital, penting juga untuk waspada terhadap berbagai modus penipuan online yang semakin canggih, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Love Scam. Selain itu, perkembangan platform media sosial seperti Bluesky yang siap meluncurkan fitur komunitas baru juga patut diikuti.

    Dengan semangat yang sama seperti karyawan SpaceX yang bermimpi ke Mars, para pegawai BAKTI siap berangkat ke wilayah 3T kapan pun dibutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa misi besar dapat menyatukan dan menggerakkan sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang tampaknya mustahil.