Category: Tekno

  • Anthropic, DeepMind, dan Meta Rekrut Ahli untuk Riset Kesadaran AI

    Anthropic, DeepMind, dan Meta Rekrut Ahli untuk Riset Kesadaran AI

    JBNews.id — Tiga raksasa industri kecerdasan buatan (AI) — Anthropic, Google DeepMind, dan Meta — telah mempekerjakan para ahli di bidang psikologi, filsafat, dan etika untuk melakukan penelitian tentang kesadaran AI dan kesejahteraan AI. Langkah ini diambil di tengah perdebatan sengit mengenai apakah model AI bisa memiliki kesadaran dan bagaimana implikasinya di masa depan.

    Menurut laporan Financial Times, langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AI merasa perlu untuk menjaga pertanyaan tentang kesadaran AI tetap terbuka, meskipun kemungkinannya masih sangat jauh dari kenyataan. Keputusan ini juga dinilai sebagai strategi untuk mengantisipasi kritik dan mengelola persepsi publik terhadap teknologi yang mereka kembangkan.

    Anthropic, yang sejauh ini paling vokal dalam menganthropomorfisasi model AI-nya — chatbot mereka bahkan diberi nama manusia, “Claude” — telah menguji model-modelnya untuk perilaku yang menyerupai “panik” dan “cemas”. Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini juga sedang menjalankan riset bernama “model welfare research” untuk mengeksplorasi apakah model AI mungkin memiliki pengalaman yang penting secara moral.

    “Kami tetap sangat tidak yakin tentang hal ini, tetapi kami pikir pertanyaan ini cukup serius untuk dipelajari secara hati-hati seiring dengan semakin canggihnya sistem AI,” demikian pernyataan resmi Anthropic kepada Financial Times.

    Sementara itu, DeepMind telah merekrut Henry Shevlin, peneliti dari University of Cambridge, sebagai filsuf yang akan bekerja pada topik kesadaran mesin, hubungan manusia-AI, dan kesiapan AGI (Artificial General Intelligence). Awal tahun ini, Shevlin menjadi perbincangan hangat di kalangan AI online setelah membagikan reaksi terkejutnya terhadap email yang ia terima dari agen AI.

    Iason Gabriel, etikawan DeepMind yang memimpin tim AGI and society di lab tersebut, menggambarkan pertanyaan tentang kesadaran AI sebagai “sangat rumit”. Ia juga mendeskripsikan AI sebagai “agen kognitif yang sangat mampu tetapi juga sangat berbeda dari manusia dan bahkan dari kesadaran hewan.”

    Klaim-klaim berbobot ini masih diperdebatkan oleh banyak ilmuwan dan peneliti AI. Namun, dalam laporannya, Financial Times juga mengutip pendapat Susan Schneider, direktur Center for the Future of AI, Mind and Society, yang memberikan pandangan kontras. “[Model AI] memiliki tujuan, mereka bisa menipu, mereka bisa menyembunyikan apa minat sebenarnya mereka,” kata Schneider. Namun, ia menambahkan bahwa “secara ilmiah sangat mungkin mereka melakukan ini tanpa memiliki kualitas perasaan yang dialami, yang merupakan esensi dari kesadaran.”

    Perkembangan ini terjadi di tengah dinamika regulasi AI yang semakin kompleks. Di Amerika Serikat, misalnya, Presiden Trump baru-baru ini menandatangani AI Voluntary Framework yang memicu perdebatan baru tentang bagaimana seharusnya industri ini diatur.

    Tentu saja, kemungkinan kesadaran AI tidak boleh sepenuhnya diabaikan. Namun demikian, kemungkinan yang sama juga berlaku untuk peradaban alien, yang umumnya lebih diperlakukan sebagai khayalan fiksi ilmiah daripada masalah eksistensial yang mendesak.

    Lebih penting lagi, kita patut skeptis ketika sebagian besar hiruk-pikuk tentang topik ini justru datang dari industri itu sendiri. CEO Anthropic, Dario Amodei, berulang kali menggoda kemungkinan kesadaran AI dalam berbagai wawancara. Penelitian perusahaannya juga sering membuat klaim berani tentang model-model mereka yang menunjukkan perilaku mirip manusia, seperti diduga memiliki “emosi”.

    Perlu diingat bahwa lebih mudah bagi perusahaan AI untuk menggiring kita dengan skenario kiamat ala Skynet yang liar daripada menghadapi konsekuensi teknologi yang jauh lebih membosankan yang saat ini terjadi di depan mata kita. Sementara itu, pengembangan agen AI seperti Google Spark juga menunjukkan bahwa teknologi ini semakin canggih namun masih menyisakan kekhawatiran.

    Langkah ketiga perusahaan ini — Anthropic, DeepMind, dan Meta — untuk merekrut para ahli filsafat dan etika menunjukkan bahwa isu kesadaran AI tidak lagi sekadar perdebatan teoretis. Ini menjadi agenda riset yang serius, meskipun masih banyak ilmuwan yang meragukan validitas pendekatan ini. Pertanyaan mendasar tentang apa itu kesadaran dan apakah mesin bisa memilikinya masih jauh dari kata terjawab.

    Bagi para pengamat industri, langkah ini bisa diartikan sebagai upaya perusahaan AI untuk membangun kerangka etika sebelum regulasi resmi diberlakukan. Ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi besar berlomba-lomba menunjukkan komitmen mereka terhadap pengembangan AI yang bertanggung jawab.

    Namun, skeptisisme tetap diperlukan. Investasi besar-besaran dalam riset kesadaran AI bisa jadi merupakan strategi pemasaran yang cerdas untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih mendesak seperti bias algoritma, privasi data, dan dampak ekonomi dari otomatisasi. Pertanyaan tentang kesadaran AI memang menarik, tetapi mungkin bukan isu yang paling kritis saat ini.

    Implikasinya bagi publik Indonesia, perkembangan ini menandakan bahwa industri AI global sedang memasuki fase baru di mana pertanyaan filosofis tentang kesadaran dan moralitas mesin mulai dianggap serius. Ini bisa berdampak pada bagaimana regulasi AI di masa depan akan dirancang, termasuk kemungkinan adanya standar etika baru yang harus dipatuhi oleh pengembang AI di seluruh dunia.

    Ke depannya, publik perlu terus mengikuti perkembangan ini dengan kritis. Jangan mudah terbuai oleh klaim-klaim spektakuler tentang kesadaran AI, tetapi juga jangan mengabaikan potensi dampak jangka panjang dari teknologi ini. Keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian adalah kunci dalam menyikapi era AI yang semakin maju.

  • Rumah di San Francisco Bisa Ditukar Saham Anthropic dan OpenAI

    Rumah di San Francisco Bisa Ditukar Saham Anthropic dan OpenAI

    JBNews.id — Sebuah rumah bergaya Edwardian di kawasan Duboce Triangle, San Francisco, ditawarkan dengan harga jual US$2,9 juta yang bisa dibayar menggunakan saham perusahaan AI raksasa, Anthropic atau OpenAI. Listing agen Rachel Swann mengungkapkan bahwa ide ini muncul setelah ia bertemu dengan sejumlah karyawan Anthropic yang memiliki kekayaan kertas melimpah namun kesulitan likuiditas.

    Fenomena ini mencerminkan tren baru di pasar properti California, di mana para pekerja teknologi dengan kepemilikan saham startup bernilai tinggi mulai mencari cara untuk memonetisasi aset mereka. Swann menyebut bahwa beberapa karyawan Anthropic bahkan diperkirakan memiliki saham senilai hingga US$50 juta, namun tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk membeli rumah impian mereka.

    “Orang-orang ini memiliki banyak kekayaan kertas, tetapi mereka tidak selalu memiliki likuiditas untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan,” ujar Swann kepada media setempat. Pertanyaan tentang penggunaan saham sebagai leverage untuk membeli properti terus muncul berulang kali dalam setiap open house yang ia selenggarakan.

    Gelombang Listing Serupa Mulai Bermunculan

    Listing Swann bukanlah satu-satunya yang tidak konvensional. Pada April lalu, seorang investment banker bernama Storm Duncan menawarkan rumahnya di Mill Valley beserta sebidang tanah di sebelahnya untuk ditukar dengan saham Anthropic. Langkah serupa juga dilakukan oleh Vijay Chattha, pemilik agensi PR untuk perusahaan teknologi, yang mendaftarkan rumahnya di Healdsburg dengan harga US$2,5 juta atau setara US$2 juta dalam bentuk saham Anthropic.

    “Saya ingin menjual rumah saya, dan saya ingin berinvestasi di Anthropic. Mengapa tidak menggabungkan keduanya?” kata Chattha. Rumahnya yang memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, kolam renang, dan lapangan bocce di kawasan Sonoma County ini juga dilengkapi status sewa jangka pendek yang sangat diminati. Hanya segelintir properti di Healdsburg yang memiliki status tersebut, dan hanya sekitar belasan properti yang dijual setiap tahunnya.

    Chattha bahkan menawarkan diskon US$500.000 khusus untuk karyawan Anthropic. Ia yakin nilai saham Anthropic akan tumbuh lebih cepat dibandingkan investasi lainnya. “Jika Anda melihat pertumbuhan Anthropic tahun lalu, itu gila,” ujarnya, merujuk pada valuasi US$380 miliar yang diraih perusahaan tersebut pada Februari lalu. “Sekarang mereka menggalang dana dengan valuasi US$965 miliar. Itu tiga kali lipat dalam waktu sekitar tiga bulan.”

    Fenomena FOMO di Tengah Valuasi Rekor

    Listing properti ini muncul di tengah euforia investor terhadap valuasi rekor Anthropic dan OpenAI. Bahkan mereka yang sudah tergolong kaya menurut standar Bay Area pun mulai merasakan FOMO (fear of missing out) terhadap kekayaan yang bisa dihasilkan dari debut perusahaan-perusahaan ini di bursa saham. Pada Senin lalu, Anthropic telah menyerahkan dokumen untuk penawaran umum perdana (IPO), sementara OpenAI dilaporkan juga bersiap mengajukan dokumen dalam beberapa bulan mendatang.

    Meskipun valuasi perusahaan-perusahaan ini belum pernah terjadi sebelumnya, banyak orang yakin harga saham mereka hanya akan terus naik. Siapa pun yang mendapatkan bagian sekarang bisa menjadi pemenang besar. Akibatnya, banyak orang berusaha membeli ekuitas di OpenAI dan Anthropic di pasar sekunder, memicu gelombang transaksi yang belum tentu sah.

    Menanggapi hal ini, Anthropic memperbarui kebijakannya tentang “penjualan saham Anthropic yang tidak sah” pada musim semi lalu. Kebijakan tersebut menegaskan bahwa “jika seseorang menjual saham Anthropic tanpa persetujuan dewan yang tepat, transaksi itu tidak sah.” Juru bicara Anthropic merujuk kembali pada kebijakan ini ketika ditanya tentang kemungkinan menukar saham perusahaan dengan properti.

    Mekanisme Transaksi yang Belum Jelas

    Pertanyaan besarnya adalah: dapatkah seorang karyawan Anthropic mendapatkan persetujuan dewan untuk menukar saham dengan rumah? David Hargreaves, agen listing untuk rumah di Healdsburg, mengaku belum pernah mengawasi transaksi semacam itu sebelumnya. Namun, ia pernah mendengar pertukaran tidak konvensional lain, seperti rumah yang dibayar dengan bitcoin atau transaksi di mana dua pemilik properti saling menukar rumah.

    Chattha, pemilik rumah, mengaku sebagian besar hanya ingin melempar ide tersebut untuk melihat apa yang akan terjadi. “Saya tidak tahu bagaimana cara kerjanya,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia meminta Claude, agen AI milik Anthropic, untuk meneliti kemungkinan tersebut. Helena Zaludova, agen real estat yang menangani listing mewah di San Francisco, menyebut listing ini sebagai “gimmick yang cerdas.” Ia menambahkan bahwa “perusahaan escrow tidak bisa berurusan dengan sekuritas, terutama yang tidak diperdagangkan secara publik.”

    Meski demikian, Zaludova mengakui bahwa menyebut saham Anthropic dan OpenAI memiliki satu keuntungan yang jelas: “Ini pasti membuat media berbicara.” Swann mengatakan rumah di 160 Noe Street telah mendapat perhatian berkelanjutan sejak listing dipasang pekan lalu. Ia telah didekati oleh beberapa agen yang mewakili klien di Anthropic atau OpenAI yang tertarik melihat rumah tersebut.

    “Semua orang menelepon saya tentang ini,” kata Swann. “Klien saya memang menerima telepon dari seseorang yang bertanya, ‘Kami tidak perlu membeli rumah, tapi apakah Anda ingin membeli saham dari kami?’”

    Implikasi untuk Pasar Properti California

    Fenomena ini membuka babak baru dalam hubungan antara industri teknologi dan pasar properti di California. Jika tren ini berlanjut, kita mungkin akan melihat lebih banyak properti yang ditawarkan dengan skema pembayaran serupa. Namun, ketidakjelasan regulasi dan mekanisme transaksi masih menjadi hambatan utama. Dengan valuasi Anthropic yang melonjak dari US$380 miliar menjadi US$965 miliar hanya dalam tiga bulan, minat untuk menukar properti dengan saham perusahaan AI diprediksi akan terus meningkat.

    Bagi pembaca, fenomena ini menunjukkan bagaimana kekayaan dari sektor teknologi mulai mengubah cara transaksi properti dilakukan. Meskipun masih bersifat eksperimental, langkah-langkah ini mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap masa depan perusahaan AI dan keinginan para pemilik saham untuk memanfaatkan kekayaan mereka secara lebih fleksibel.

  • Enclayve: Kotak Privasi untuk Media Sosial Tanpa Data Tracking

    Enclayve: Kotak Privasi untuk Media Sosial Tanpa Data Tracking

    JBNews.id — Sebuah perangkat berbentuk kotak plastik kecil bernama Enclayve hadir sebagai solusi media sosial yang sepenuhnya privat. Dengan harga US$129, perangkat ini menyimpan semua pesan dan foto di kotak fisik milik pengguna, tanpa langganan, iklan, atau pelacakan data oleh perusahaan.

    Enclayve dirancang sebagai bantahan terhadap platform media sosial arus utama seperti Facebook dan X. Alih-alih memposting secara publik dan membiarkan perusahaan mengumpulkan data interaksi, Enclayve menyimpan semua informasi pada perangkat fisik yang dilengkapi kartu microSD 32 GB yang bisa diganti. Semua data dienkripsi dan tidak pernah diakses oleh Enclayve.

    Perangkat ini merupakan generasi terbaru dari perangkat yang fokus pada privasi, seperti kamera keamanan yang menyimpan rekaman secara lokal atau firewall perangkat keras yang melindungi pengguna saat daring. Enclayve adalah jawaban langsung atas janji privasi yang dianggap tidak meyakinkan dari para raksasa teknologi.

    Inspirasi dari Janji Privasi Mark Zuckerberg

    David Chura, CEO Enclayve, adalah mantan direktur di Northrop Grumman dan ayah dua anak. Ia terinspirasi membangun produk ini pada 2020 setelah menyaksikan CEO Meta Mark Zuckerberg memberikan janji privasi yang tidak meyakinkan dalam kesaksian di hadapan Kongres AS.

    “Janji-janji itu sangat lemah sehingga saya percaya tidak akan pernah ada undang-undang yang benar-benar dapat mengatasi masalah di media sosial,” kata Chura. “Konsumen harus bisa melindungi diri mereka sendiri.”

    Awalnya, Enclayve memiliki tiga versi berbeda: satu dirancang sebagai dompet untuk cryptocurrency, satu untuk NFT, dan satu sebagai layanan media sosial privat. Ketika ekonomi kripto runtuh dan NFT kehilangan popularitas, kesepakatan itu gagal, dan Enclayve dipasarkan semata-mata sebagai perangkat sosial.

    Cara Kerja Enclayve

    Enclayve diluncurkan pada Maret. Perusahaan memposisikan produknya seperti aplikasi grup untuk keluarga, mirip Family Album. Enclayve ingin melangkah lebih jauh dengan menyimpan semua yang dikirim pengguna di kotak fisik yang aman.

    Pemilik perangkat dapat membuat grup dan topik terpisah serta memilih siapa yang diundang. Tampilannya seperti versi sederhana dari fitur Komunitas WhatsApp atau ruang kerja Slack yang sangat mendasar. Aplikasi ini memiliki fitur terbatas: pengguna tidak bisa mengirim pesan langsung ke seseorang di luar grup atau membagikan lebih dari satu foto dalam satu waktu.

    Saat diuji di Android, hanya ada satu emoji reaksi—tombol Suka. Chura mengatakan lebih banyak reaksi emoji telah ditambahkan ke versi iOS.

    Tantangan Adopsi Pengguna

    Terlepas dari privasi, mungkin sulit membuat orang bergabung. Langkah pertama adalah yang terberat: meyakinkan orang yang dicintai untuk mengunduh aplikasi baru. Dalam pengujian, tautan undangan yang dikirim tidak berfungsi dengan baik, dan salah satu orang tua bahkan belum bisa masuk.

    Saat penulis memposting sesuatu, saudara laki-laki hanya mengirim foto wajah dari jarak sangat dekat dan menyuruh untuk “menghirup vitamin.” Pada akhirnya, semua kembali ke grup obrolan biasa, dan semua orang tetap mengirim pesan melalui saluran biasa.

    Chura berharap Enclayve dapat berkembang menjadi jaringan peer-to-peer yang mendukung grup yang jauh lebih besar.

    Dalam lanskap teknologi yang terus berkembang, inovasi seperti Enclayve menjadi alternatif menarik. Sementara itu, Martin Scorsese Dukung AI menunjukkan bagaimana teknologi baru memicu perdebatan di industri lain. Di sisi lain, Robot Anjing Boston Dynamics juga memicu kontroversi saat digunakan untuk patroli.

    Pertanyaan tentang Konten Ilegal

    Ketika ditanya tentang pembatasan konten dan kemungkinan penyalahgunaan untuk hal ilegal, Chura terus terang. “Orang-orang bertanya langsung kepada saya, ‘Bukankah ini bagus untuk pornografi anak atau perdagangan manusia?’” kata Chura.

    “Privasi adalah teknologi yang sangat kuat ketika benar-benar dapat ditegakkan. Setiap teknologi dapat digunakan secara tidak tepat dan tepat. Kami tidak bisa mengendalikan niat orang,” tambahnya.

    Bagian di situs web Enclayve yang disebut Child Safety mengakui kemungkinan pelaku kejahatan menggunakan perangkat tersebut. Chura mengatakan perusahaan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mematuhi penegak hukum dalam penyelidikan semacam itu.

    “Ini seperti bertanya kepada pabrikan senjata, ‘Bisakah Anda memastikan tidak ada yang menembak Anda dengan ini?’ Tidak, Anda tidak bisa,” kata Chura. “Ini seperti bertanya kepada Mark Zuckerberg, ‘Bisakah Anda memastikan tidak ada perdagangan anak di Facebook?’ Tapi kita tahu produk-produk itu juga memiliki manfaat luar biasa. Jadi itulah yang harus kita capai.”

    Enclayve kini menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan kendali penuh atas data pribadi. Bagi yang tertarik dengan perangkat keras terkini, Nvidia RTX Spark juga baru saja diluncurkan sebagai prosesor super untuk PC Windows.

  • Palapa Ring Tengah Gangguan, Komdigi Kerahkan Satria-1

    Palapa Ring Tengah Gangguan, Komdigi Kerahkan Satria-1

    JBNews.id — Jaringan fiber optik Palapa Ring Tengah segmen Tahuna-Melonguane masih mengalami gangguan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengerahkan satelit Satria-1 untuk menjaga layanan telekomunikasi dan internet di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

    Melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Komdigi menambah kapasitas bandwidth hingga 150 Mbps di 154 titik akses di dua kabupaten tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap terhubung selama proses restorasi infrastruktur berlangsung.

    Direktur Pengendalian Infrastruktur Digital Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Indra Maulana, menegaskan bahwa pemerintah terus memprioritaskan keberlangsungan layanan bagi masyarakat. “Seluruh manuver operasional serta penggunaan peralatan bawah laut harus dilakukan secara sangat terukur. Kami harus berhati-hati untuk menjaga keamanan serta keandalan infrastruktur telekomunikasi eksisting di sekitar area kerja,” ujar Indra dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).

    Koordinasi dengan Operator Seluler

    Komdigi juga terus berkoordinasi dengan operator seluler untuk memastikan konektivitas pada titik-titik layanan publik dan objek vital di wilayah tersebut tetap terjaga. Upaya ini dilakukan agar layanan komunikasi, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan tetap terhubung.

    Plt. Direktur Infrastruktur Bakti, Darien Aldiano, menyampaikan permohonan maaf atas penyesuaian jadwal restorasi. “Kami memohon maaf atas penyesuaian jadwal ini. Walau menghadapi tantangan cuaca dan karakteristik dasar laut yang ekstrem, seluruh tim teknis tetap berupaya maksimal. Pekerjaan terus dilaksanakan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan jaringan agar layanan kembali normal secepatnya,” tutur Darien.

    Tantangan Teknis di Lapangan

    Pekerjaan restorasi jaringan Palapa Ring Tengah menghadapi sejumlah tantangan teknis. Selain kondisi cuaca laut yang dinamis, area pekerjaan berada di dekat koridor kabel laut aktif segmen Ondong Siau-Tahuna. Hal ini mengharuskan seluruh proses dilakukan dengan tingkat presisi tinggi.

    Tim teknis juga dihadapkan pada kondisi dasar laut yang didominasi batuan dengan kontur curam. Situasi tersebut membuat proses identifikasi dan penanganan kabel memerlukan kehati-hatian lebih untuk menjaga keselamatan pekerjaan sekaligus memastikan kualitas hasil restorasi.

    Dengan mempertimbangkan kondisi operasional tersebut, target penyelesaian pekerjaan dan jadwal Ready For Service (RFS) yang semula direncanakan pada periode 28 Mei hingga 2 Juni 2026 diproyeksikan disesuaikan hingga 6 Juni 2026.

    Komdigi mengungkapkan komitmen untuk terus mengawal proses restorasi hingga tuntas. Pemerintah memastikan masyarakat di Sangihe dan Sitaro tetap mendapatkan akses komunikasi dan layanan digital yang andal sebagai bagian dari upaya menghadirkan konektivitas yang merata hingga wilayah perbatasan Indonesia.

    Penggunaan satelit Satria-1 menjadi solusi sementara yang krusial. Langkah ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi gangguan infrastruktur vital di daerah terdepan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi komunikasi, Anda dapat membaca artikel tentang Kontrol Konten di platform digital.

    Gangguan pada Palapa Ring Tengah ini menjadi pengingat akan pentingnya Akuisisi AdMedika dan investasi infrastruktur telekomunikasi yang berkelanjutan. Ketergantungan pada satu jenis infrastruktur, seperti kabel laut, perlu diimbangi dengan solusi cadangan yang andal.

  • Modus Baru Phishing: QR Code dari Karakter Teks Sulit Terdeteksi

    Modus Baru Phishing: QR Code dari Karakter Teks Sulit Terdeteksi

    JBNews.id — Penjahat siber mengembangkan modus baru phishing dengan membuat kode QR dari karakter teks atau ASCII, sebuah teknik yang dinilai lebih sulit dideteksi oleh sistem keamanan email konvensional. Temuan ini diungkap oleh perusahaan keamanan siber Kaspersky, yang mencatat lonjakan serangan phishing berbasis QR code hingga lima kali lipat pada paruh kedua 2025.

    Menurut Kaspersky, para pelaku tidak lagi selalu menggunakan gambar QR code konvensional. Sebagai gantinya, mereka menyusun kode QR dari rangkaian karakter teks sehingga dapat lolos dari berbagai sistem keamanan email yang mengandalkan pemindaian gambar atau deteksi tautan. Teknik ini memanfaatkan konsep grafik ASCII, yakni metode pembuatan gambar menggunakan simbol-simbol teks yang sebenarnya telah digunakan sejak era komputer awal.

    Dalam skema yang ditemukan, korban menerima email yang tampak berasal dari mitra bisnis. Email tersebut mengklaim berisi dokumen rahasia yang harus ditandatangani melalui layanan DocuSign. Korban kemudian diminta memindai QR code yang ditampilkan dalam bentuk karakter teks untuk mengakses dokumen. Setelah dipindai, kode tersebut mengarahkan pengguna ke situs palsu yang meminta kredensial perusahaan.

    “Sebelumnya kita telah melihat pelaku phishing mencoba menghindari pemindaian tautan dengan menyembunyikan URL dalam gambar. Sekarang mereka mencoba menghindari pemindaian berbasis gambar dengan kembali ke teks – kali ini untuk menampilkan kode QR,” ujar Roman Dedenok, Pakar Anti-Spam di Kaspersky dikutip Selasa (2/6/2026).

    Ilustrasi QR Code atau kode QR Palsu

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap kejadian di mana kode QR meminta seseorang untuk memasukkan kredensial perusahaan pada perangkat seluler harus segera menimbulkan kecurigaan. “Ketika kode QR dibentuk menggunakan seni ASCII tekstual, hampir pasti itu adalah upaya phishing atau umpan ke URL berbahaya. Trik ini hanya memiliki satu tujuan: melewati teknologi keamanan,” ucapnya menambahkan.

    Karena QR code tidak berbentuk gambar konvensional, banyak solusi keamanan email kesulitan mengenali adanya tautan mencurigakan di dalam pesan tersebut. Metode serupa, menurut Kaspersky, pernah digunakan oleh pengirim spam pada awal tahun 2000-an untuk menghindari deteksi sistem keamanan. Kini, teknik lama tersebut kembali dimanfaatkan dalam bentuk yang lebih modern melalui QR code.

    Kaspersky mengingatkan perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk serangan berbasis email yang terus berkembang. Selain edukasi kepada karyawan, perusahaan juga disarankan menggunakan solusi keamanan email yang mampu mendeteksi spam, phishing, kompromi email bisnis (BEC), serangan berbasis QR code, hingga ancaman siber lainnya.

    Lonjakan Serangan dan Dampaknya

    Berdasarkan hasil pemantauan Kaspersky, serangan phishing menggunakan kode QR meningkat tajam pada paruh kedua 2025, dengan jumlah deteksi melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan bahwa para pelaku kejahatan siber semakin gencar mengeksploitasi kepercayaan pengguna terhadap QR code dalam aktivitas digital sehari-hari.

    Meningkatnya penggunaan QR code dalam transaksi dan komunikasi bisnis membuat metode ini menjadi sasaran empuk. Pengguna disarankan untuk selalu memverifikasi sumber email dan tidak sembarangan memindai QR code yang meminta informasi sensitif, terutama kredensial akun perusahaan.

    Modus penipuan online terus berevolusi. Sebelumnya, penipuan serupa juga terjadi di berbagai sektor, seperti modus penyelundupan yang menggunakan taktik berbeda untuk mengelabui petugas. Kasus penipuan dengan modus kenalan Facebook juga menunjukkan kerugian finansial yang signifikan bagi korbannya.

    Para ahli keamanan siber menekankan bahwa kewaspadaan individu adalah lapisan pertahanan terpenting. Dengan memahami bahwa QR code dapat dimanipulasi, pengguna diharapkan lebih kritis terhadap setiap permintaan data pribadi yang datang melalui email atau pesan digital.

  • Publisher Dapat Kontrol Penuh atas Konten di AI Overviews Google

    Publisher Dapat Kontrol Penuh atas Konten di AI Overviews Google

    JBNews.id — Publisher online kini memiliki kendali lebih besar untuk memilih apakah konten mereka muncul di fitur AI Search Google. Keputusan ini merupakan hasil dari peraturan baru yang diterapkan oleh otoritas persaingan usaha Inggris, Competition and Markets Authority (CMA).

    Aturan perilaku baru yang diberlakukan CMA mewajibkan Google untuk memberikan alat kepada pemilik situs web agar konten mereka tidak tampil di fitur seperti AI Overviews. Lebih dari itu, konten tersebut juga tidak boleh digunakan untuk “fine-tuning” model AI Google.

    “Untuk pertama kalinya di dunia, publisher kini memiliki alat yang efektif untuk mencegah konten mereka digunakan dalam fitur AI di hasil pencarian, seperti AI Overviews,” demikian pernyataan resmi CMA. Regulator tersebut menambahkan bahwa langkah ini akan menempatkan publisher, termasuk organisasi berita, dalam posisi yang lebih kuat untuk menegosiasikan kesepakatan konten dengan Google.

    Selain kontrol opt-out, Google juga diwajibkan untuk memastikan konten publisher mendapatkan atribusi yang tepat menggunakan tautan yang jelas dalam hasil pencarian yang dihasilkan AI. Menurut CMA, persyaratan ini akan “mengamankan kesepakatan yang lebih adil bagi publisher dan konsumen serta meningkatkan layanan pencarian Google di Inggris.”

    Respon Google dan Fitur Baru

    Google telah mulai meluncurkan fitur-fitur ini kepada “sebagian pemilik situs web di Inggris” sebagai respons terhadap putusan tersebut. Perusahaan berencana untuk membuatnya tersedia secara global setelah tahap pengujian selesai.

    Fitur pertama yang diperkenalkan adalah tombol baru di Search Console. Tombol ini memungkinkan publisher mengelola bagaimana konten mereka digunakan di alat AI Search, termasuk AI Overviews, AI Mode, atau AI Overviews di Discover. Situs web yang memilih untuk sepenuhnya keluar (opt-out) tidak akan menerima traffic atau impresi dari fitur AI generatif.

    Google menegaskan bahwa kontrol ini tidak akan digunakan sebagai sinyal peringkat untuk hasil pencarian di luar fitur AI Search. Perusahaan juga merilis wawasan baru di Search Console yang berisi metrik dan informasi tentang halaman web mana yang muncul di respons AI, serta di negara mana saja halaman tersebut muncul.

    Kebijakan ini menjadi sorotan karena sebelumnya Google dikabarkan menolak gagasan memberikan kontrol lebih kepada publisher atas data situs web yang digunakan dalam fitur AI Search. Perusahaan beralasan bahwa fitur tersebut “berkembang menjadi ruang untuk monetisasi.”

    Dampak bagi Publisher dan Industri

    Keputusan CMA ini disambut positif oleh asosiasi penerbit. Theo Bamber, CEO News Media Association, menyatakan bahwa “persyaratan perilaku yang dapat ditegakkan secara hukum untuk Google Search yang diterbitkan hari ini merupakan langkah signifikan menuju pemerataan lapangan bermain.”

    Bamber menambahkan bahwa langkah ini membangun ekonomi digital yang adil dan transparan di mana konten premium dihormati dan diberi kompensasi yang layak. Namun, ia juga mengingatkan bahwa “keberhasilan sekarang bergantung pada implementasi yang efisien, penegakan yang kuat, dan kemampuan untuk beradaptasi serta memperkuat aturan jika tidak berjalan dengan baik di lingkungan teknologi yang bergerak cepat.”

    Peraturan ini menandai perubahan besar dalam hubungan antara platform pencarian dan pembuat konten. Sebelumnya, publisher sering kali tidak memiliki pilihan selain membiarkan konten mereka digunakan oleh AI Google tanpa kompensasi langsung. Kini, mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

    Dalam konteks regulasi AI global, langkah CMA ini sejalan dengan upaya berbagai negara untuk menciptakan kerangka kerja yang adil. Di Amerika Serikat, misalnya, Trump teken perintah eksekutif AI voluntary framework yang juga bertujuan mengatur penggunaan AI. Sementara itu, perebutan regulasi AI di Gedung Putih antara berbagai pihak menunjukkan betapa kompleksnya isu ini.

    Bagi publisher di Inggris, aturan ini memberikan kejelasan dan perlindungan hukum. Mereka kini dapat memutuskan apakah ingin berpartisipasi dalam ekosistem AI Search Google atau tidak, tanpa harus khawatir kehilangan peringkat pencarian secara keseluruhan.

    Google sendiri berkomitmen untuk mematuhi aturan ini dan telah memulai implementasi awal. Perusahaan teknologi raksasa ini akan terus memantau efektivitas alat kontrol yang diberikan kepada publisher dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.

    Keputusan CMA ini diperkirakan akan menjadi preseden bagi regulator di negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan aturan serupa. Dengan semakin dominannya AI dalam pencarian, keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak konten kreator menjadi isu krusial.

    Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini relevan karena banyak situs berita dan konten lokal yang juga terindeks oleh Google. Jika aturan serupa diterapkan secara global, publisher Indonesia juga akan mendapatkan manfaat yang sama dalam melindungi konten mereka dari penggunaan AI tanpa izin.

    Ke depannya, transparansi dalam penggunaan data untuk AI Search akan menjadi standar baru. Publisher tidak lagi menjadi pihak yang pasif, melainkan mitra yang setara dalam ekosistem pencarian digital.

  • Fullerton Health Resmi Akuisisi AdMedika dan TelkoMedika dari Telkom

    Fullerton Health Resmi Akuisisi AdMedika dan TelkoMedika dari Telkom

    JBNews.id — Grup layanan kesehatan regional Fullerton Health resmi menyelesaikan akuisisi PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta anak usahanya, TelkoMedika, dari PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra), anak usaha PT Telkom Indonesia. Aksi korporasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Fullerton Health di pasar layanan kesehatan Indonesia sekaligus memperluas kemampuan perusahaan dalam menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.

    AdMedika selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan administrator layanan kesehatan terbesar di Indonesia. Perusahaan ini memiliki platform berbasis teknologi yang mendukung pengelolaan klaim digital, integrasi jaringan fasilitas kesehatan, serta analitik data kesehatan. Meski tidak menyebutkan nilai transaksi dari aksi korporasi ini, Group Chief Executive Officer dan Executive Director Fullerton Health, Ho Kuen Loon, mengatakan akuisisi tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pasar Indonesia.

    “Akuisisi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Fullerton Health terhadap Indonesia dan investasi berkelanjutan kami dalam membangun platform layanan kesehatan yang berskala dan terintegrasi,” ujar Ho Kuen Loon di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

    Melalui akuisisi tersebut, Fullerton Health akan menggabungkan kapabilitas administrasi layanan kesehatan AdMedika dengan jaringan layanan kesehatan regional yang dimilikinya. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan klaim, memperkuat koordinasi antarpenyedia layanan, serta menghadirkan pengalaman layanan kesehatan yang lebih transparan bagi pasien dan klien korporasi.

    Grup layanan kesehatan regional Fullerton Health resmi menyelesaikan akuisisi PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta anak usahanya, TelkoMedika, dari PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra), anak usaha PT Telkom Indonesia.

    Disampaikan Ho Kuen Loon, bergabungnya AdMedika Group akan memperkuat sistem operasional perusahaan di bidang administrasi layanan kesehatan sekaligus memanfaatkan kapabilitas regional Fullerton Health untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan Indonesia yang terus berkembang.

    Sementara itu, President Director TelkomMetra Pramasaleh Haryo Utomo menilai transaksi tersebut menjadi momentum penting bagi pengembangan bisnis AdMedika ke depan. “Di bawah kepemilikan Fullerton Health, kami meyakini AdMedika berada pada posisi yang kuat untuk meningkatkan kapabilitasnya, memperluas skala bisnis, dan memperoleh akses ke ekosistem layanan kesehatan regional yang lebih luas,” kata Pramasaleh.

    Selain memperkuat bisnis di Indonesia, akuisisi ini juga membuka peluang integrasi layanan kesehatan lintas negara. Adapun saat ini Fullerton Health memiliki hampir 600 fasilitas kesehatan milik sendiri, jaringan lebih dari 32.000 penyedia layanan kesehatan, dan melayani lebih dari 8 juta anggota di tujuh negara Asia. Setelah kesepakatan ini, jaringan regional tersebut diharapkan dapat mendukung layanan kesehatan lintas batas, termasuk akses ke fasilitas kesehatan dan rujukan spesialis di berbagai negara.

    Kendati telah bergabung ke dalam grup Fullerton Health, AdMedika dan TelkoMedika akan tetap beroperasi menggunakan merek serta struktur kepemimpinan yang ada saat ini. Perusahaan juga memastikan seluruh karyawan tetap bekerja seperti biasa dan akan memperoleh peluang pengembangan karier dalam jaringan Fullerton Health.

    Chief Executive Officer AdMedika Group, Dian Prambini, menyebut akuisisi ini sebagai babak baru bagi perusahaan. “Bersama Fullerton Health, kami dapat memperkuat platform layanan kesehatan terintegrasi, memperdalam kemitraan dengan penyedia layanan dan klien, serta terus memberikan layanan yang lebih berkualitas dan andal kepada pasien dan klien di seluruh Indonesia,” tutur Dian.

    Di sisi lain, Fullerton Health menegaskan seluruh data kesehatan dan data klaim di Indonesia akan tetap dikelola secara lokal sesuai regulasi yang berlaku, dengan fokus pada perlindungan data, keamanan siber, dan kepatuhan terhadap ketentuan pemerintah.

    Langkah TelkomMetra melepas AdMedika dan TelkoMedika ini sejalan dengan fokus perusahaan induk pada pengembangan infrastruktur digital. Sebelumnya, Telkom juga terus memperkuat fondasi digital melalui berbagai inisiatif, termasuk domain .ai.id yang baru diluncurkan untuk mendukung ekosistem kecerdasan buatan di Indonesia. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti Nvidia RTX Spark juga menunjukkan bagaimana inovasi komputasi terus mendorong transformasi digital di berbagai sektor.

  • AMD Rilis Ulang Prosesor Jadul di Computex 2026

    AMD Rilis Ulang Prosesor Jadul di Computex 2026

    JBNews.id — AMD menghadirkan strategi pemasaran yang tidak biasa di ajang Computex 2026 di Taiwan. Di tengah lonjakan harga komponen akibat kelangkaan memori global, perusahaan justru merilis ulang tiga prosesor lawas dengan satu janji besar: pengguna tidak perlu membeli motherboard baru setidaknya hingga tahun 2030.

    Krisis industri PC yang sedang berlangsung membuat harga komponen terus meroket. Namun, alih-alih memamerkan teknologi kasta tertinggi, AMD memilih pendekatan berbeda untuk segmen gamer PC desktop. Komitmen terbesar yang diumumkan adalah perpanjangan dukungan penuh untuk soket motherboard AM5 dengan deretan prosesor Ryzen terbaru hingga tahun 2029.

    “Para perakit PC bisa dengan tenang terus melakukan upgrade ke CPU generasi terbaru hingga akhir dekade ini, tanpa perlu repot mencabut dan mengganti motherboard mereka,” demikian pernyataan resmi AMD di ajang Computex 2026.

    Kado Spesial 10 Tahun AM4 dan Kehadiran 7700X3D

    Bagi gamer yang masih bertahan di soket AM4, AMD menyiapkan satu amunisi terakhir. Perusahaan meluncurkan edisi spesial Ryzen 7 5800X3D “10th Anniversary” untuk merayakan satu dekade platform AM4. Prosesor ini dibanderol USD 349 (sekitar Rp 5,6 jutaan) dan mulai tersedia pada 25 Juni mendatang.

    Sementara itu, bagi yang ingin beralih ke platform AM5, AMD menawarkan Ryzen 7 7700X3D seharga USD 330 (sekitar Rp 5,3 jutaan). Prosesor ini kemungkinan merupakan versi turunan dari seri 7800X3D yang populer. Sebagai perbandingan, Ryzen 7800X3D biasanya dijual di kisaran USD 380 hingga USD 450.

    Di atas kertas, performa 7700X3D hanya sedikit lebih lambat namun tetap menawarkan efisiensi daya berkat teknologi 3D V-Cache. Meski arsitektur ini sudah masuk kategori lawas—seri 7800X3D pertama kali rilis pada 2023, sementara seri 9000 seperti 9800X3D telah meluncur akhir 2024—nilai ekonomis dan efisiensinya membuatnya tetap relevan.

    Radeon RX 9070 GRE Ekspansi ke Pasar Global

    Di sektor kartu grafis, AMD membawa Radeon RX 9070 GRE ke berbagai negara termasuk Amerika Serikat. Kartu ini sebelumnya merupakan rilis eksklusif untuk pasar China. Dibanderol mulai USD 549 (sekitar Rp 8,8 jutaan), GPU ini tersedia mulai 1 Juni.

    Kabar ini menimbulkan perasaan campur aduk di kalangan gamer. Angka USD 549 seharusnya merupakan harga rilis untuk seri RX 9070 versi standar yang lebih bertenaga, bukan varian GRE (Golden Rabbit Edition) dengan spesifikasi dipangkas. Performanya sedikit tertinggal jika diadu dengan Nvidia RTX 5070.

    Namun, melihat sejarahnya, RX 9070 standar hampir tidak pernah bisa dibeli dengan harga USD 549 akibat krisis GPU. Harganya sempat menyentuh MSRP sesaat sebelum melonjak ke USD 599 hingga USD 620. Oleh karena itu, model GRE menjadi alternatif paling masuk akal saat ini.

    Langkah AMD menawarkan produk daur ulang dengan harga lebih terjangkau menjadi strategi menarik di tengah kondisi pasar perangkat keras yang semakin mahal. Seperti dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (3/6/2026), pendekatan ini mencerminkan realitas industri gaming saat ini.

    Dengan komitmen dukungan soket AM5 hingga 2029, AMD memberikan kepastian bagi para perakit PC. Mereka tidak perlu khawatir motherboard akan cepat usang. Ini menjadi nilai tambah signifikan di tengah ketidakpastian harga komponen.

    Bagi gamer Indonesia, kehadiran prosesor ini bisa menjadi pertimbangan menarik. Dengan harga yang lebih terjangkau dan dukungan platform jangka panjang, upgrade sistem menjadi lebih efisien. Apalagi, teknologi 3D V-Cache tetap memberikan performa gaming yang kompetitif.

    Keputusan AMD merilis ulang produk lawas menunjukkan adaptasi terhadap kondisi pasar. Di saat pesaing fokus pada produk premium, AMD justru menyasar segmen yang sensitif harga. Ini bisa menjadi strategi jitu untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah krisis.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi terkini, baca juga artikel tentang Fitur Terbaru dari perangkat mobile yang mendukung interoperabilitas lintas platform.

  • Update iOS 26.5.1 Rilis untuk 4 iPhone Ini, Segera Perbarui

    Update iOS 26.5.1 Rilis untuk 4 iPhone Ini, Segera Perbarui

    JBNews.id — Apple merilis pembaruan perangkat lunak penting untuk jajaran iPhone 17 series dan iPhone Air. Pembaruan iOS 26.5.1 ini ditujukan untuk memperbaiki masalah pengisian daya yang mencegah perangkat menyala setelah baterai habis.

    Apple telah mengonfirmasi bahwa pemilik iPhone 17, iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air perlu segera menginstal pembaruan ini. Masalah yang diatasi cukup krusial: perangkat tidak dapat diisi daya melalui kabel ketika baterai hampir habis, hanya bisa menggunakan pengisian daya nirkabel MagSafe.

    “Pembaruan ini mengatasi masalah bagi sejumlah kecil pengguna yang mungkin mencegah pengisian daya kabel pada model iPhone Air dan iPhone 17 ketika baterai hampir habis,” jelas Apple dalam pernyataan resminya.

    Langkah Mudah Memperbarui Perangkat

    Proses pembaruan cukup sederhana. Pengguna cukup membuka Settings, masuk ke General, lalu pilih Software Update. Di sana akan muncul opsi untuk mengunduh iOS 26.5.1. Pilih Update Now untuk instalasi segera, atau jadwalkan pembaruan di malam hari saat perangkat tidak digunakan.

    iPhone 17 Pro Max

    Penting untuk diingat bahwa file pembaruan ini berukuran sangat besar, mencapai 13,6 GB. Pastikan perangkat terhubung ke Wi-Fi atau memiliki kuota data seluler yang mencukupi sebelum memulai unduhan.

    Bug Kritis yang Diperbaiki

    Sejumlah pengguna iPhone 17 series dan iPhone Air melaporkan bug yang membuat ponsel tidak bisa hidup kembali setelah baterainya habis, bahkan setelah dicas. Benjamin Mayo dari 9to5Mac mengalami hal serupa di iPhone Air miliknya. Setelah ponsel mati di malam hari, pengisian daya tidak langsung menghidupkannya seperti biasa.

    Salah satu solusi sementara yang berhasil adalah tidak mengisi ulang daya menggunakan charger kabel. Sebagai gantinya, gunakan charger wireless atau MagSafe dan tunggu 15-20 menit hingga iPhone hidup kembali dengan sendirinya.

    Bagi pengguna di Indonesia yang tertarik dengan ekosistem Apple, fitur interoperabilitas seperti Fitur Terbaru pada perangkat Android juga mulai mendukung transfer data ke iPhone dengan lebih mudah.

    Implikasi bagi Pengguna

    Meskipun Apple menyatakan hanya sejumlah kecil pengguna yang terpengaruh, tidak ada salahnya untuk segera memastikan perangkat sudah diperbarui. Bug ini sangat mengganggu karena pengguna bisa kehilangan akses ke perangkat mereka saat paling membutuhkannya.

    Bagi pengguna iPhone di Jawa Barat dan Banten, pembaruan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga perangkat lunak tetap mutakhir. Isu keamanan data juga menjadi perhatian, mengingat kasus penyalahgunaan Data Pribadi yang marak terjadi akhir-akhir ini.

    Pembaruan iOS 26.5.1 kini tersedia untuk diunduh. Pengguna disarankan untuk mencadangkan data penting sebelum melakukan pembaruan, mengingat ukuran file yang besar dan potensi risiko selama proses instalasi.

  • OlloNi: Robot AI Peliharaan yang Memahami Emosi Manusia

    OlloNi: Robot AI Peliharaan yang Memahami Emosi Manusia

    JBNews.id — Startup robotik asal China, Ollobot, memperkenalkan OlloNi, sebuah robot AI peliharaan yang mampu memahami emosi pengguna dan mengingat kebiasaan keluarga. Robot ini dipamerkan di ajang Global Connect Show @Shenzhen 2026 dan menjadi perhatian karena pendekatannya yang unik dalam dunia robotika konsumen.

    Berbeda dengan robot rumah tangga pada umumnya, OlloNi tidak dirancang untuk menggantikan fungsi manusia atau hewan peliharaan. Sebaliknya, robot ini hadir sebagai teman emosional yang bisa tumbuh bersama keluarga. Founder Ollobot, Lyn Fang, menjelaskan bahwa OlloNi adalah cyber-pet, bukan sekadar perangkat pintar biasa.

    “Kami membangun sesuatu yang berbeda. Ini adalah cyber-pet, companion seumur hidup yang tumbuh bersama keluarga,” ujar Lyn saat memamerkan kemampuan OlloNi di Global Connect Show @Shenzhen 2026.

    Olloni Robot AI Peliharaan

    Konsep yang diusung OlloNi cukup unik. Robot kecil ini dirancang memiliki memori, kepribadian, hingga kemampuan memahami emosi pengguna. Menurut Lyn, inti utama OlloNi hanyalah satu: selalu hadir menemani pengguna.

    “Dia mempelajari kebiasaan Anda, mengingat wajah Anda, merespons emosi Anda, menangkap momen yang mungkin terlewat, lalu menghubungkan Anda dengan keluarga,” katanya.

    Tiga Teknologi Utama OlloNi

    Lyn menjelaskan ada tiga teknologi utama yang menjadi fondasi OlloNi. Pertama adalah Emotional Radar, sistem yang memungkinkan robot memahami perasaan pengguna melalui kombinasi sensor, pola interaksi, dan konteks perilaku. Teknologi ini membuat OlloNi mampu memberikan respons emosional yang terasa lebih natural.

    Teknologi kedua adalah Long-Term Memory System. Sistem ini memungkinkan OlloNi mempelajari pola kebiasaan pengguna, memahami preferensi keluarga, hingga menyimpan berbagai momen penting yang terjadi sehari-hari. “Semakin lama bersama OlloNi, semakin baik ia memahami Anda,” ujar Lyn.

    Sementara teknologi ketiga disebut sebagai Cyber Pet Evolution. Ini menjadi konsep yang membuat setiap OlloNi diklaim akan berkembang secara berbeda tergantung keluarga yang merawatnya. “Setiap percakapan, kebiasaan kecil, dan momen bersama akan membentuk karakter OlloNi. Tidak ada dua OlloNi yang benar-benar sama karena setiap keluarga unik,” lanjutnya.

    Konsep tersebut membuat OlloNi terasa seperti perpaduan antara Tamagotchi modern, AI companion, dan robot interaktif.

    Desain Unik yang Berbeda

    OlloNi memang sengaja tidak dibuat menyerupai manusia atau hewan tertentu. Perusahaan tersebut menilai sebagian besar robot rumah saat ini terlalu fokus menjadi humanoid atau meniru anjing dan kucing. OlloNi justru diperkenalkan sebagai “spesies cyber-life baru” yang dirancang nyaman hidup berdampingan dengan manusia.

    Secara desain, OlloNi tampil dengan mata digital ekspresif, sayap berbulu lembut, serta inti berbentuk hati yang menyala merah. Menariknya, bagian “hati” tersebut bukan sekadar ornamen karena menjadi pusat sistem memori robot. Sementara tanduk di bagian kepala memiliki fungsi kamera, sensor emosi, hingga tombol darurat untuk mute dan emergency stop.

    Olloni Robot AI

    Ollobot menyebut filosofi mereka sebagai “enough-smart is the real smart for a cyber-pet”. Artinya, OlloNi sengaja tidak dibuat terlalu pintar layaknya AI superintelligence karena tujuan utamanya adalah companionship atau hubungan emosional.

    Selain itu, Ollobot menyebut cyber-pet hadir untuk menjawab kebutuhan companionship di era modern. Perusahaan menilai banyak orang kini sulit memelihara hewan asli karena keterbatasan waktu, biaya, maupun tempat tinggal.

    OlloNi pun diposisikan sebagai alternatif “low-burden cyber companion” alias teman digital yang tidak merepotkan. Robot ini diklaim bisa bermain dengan anak-anak, memahami suasana hati pengguna, hingga merekam momen keluarga menggunakan kamera internalnya.

    “Kami bukan di sini untuk menggantikan hewan peliharaan asli. Kami hanya mengisi celah yang selama ini terabaikan,” ujar Lyn.

    Peluncuran Melalui Kickstarter

    Ollobot sudah memamerkan OlloNi di CES 2026 Las Vegas berlanjut di GCS. Kehadiran robot imut ini diklaim mendapat respons pengunjung cukup besar. OlloNi disebut berhasil menarik perhatian karena tampil “canggung tapi menggemaskan” di tengah dominasi robot industri dan AI serius lainnya.

    Lyn memastikan OlloNi akan resmi masuk Kickstarter pada musim panas tahun ini. Menurutnya, tujuan utama Ollobot bukan bersaing dengan gadget lain, melainkan mendefinisikan ulang arti AI di dalam keluarga.

    “Kami tidak hadir untuk menggantikan perangkat lain. Kami hanya ingin mendefinisikan ulang apa arti AI sebagai bagian dari keluarga,” pungkas Lyn.

    Olloni Robot

    Kehadiran OlloNi menjadi angin segar di tengah maraknya pengembangan Robot Humanoid Phantom yang digunakan untuk keperluan militer. Sementara itu, Robot Anjing Boston Dynamics yang dipakai untuk patroli keamanan juga menjadi perbincangan hangat.

    Dengan pendekatan yang berbeda ini, OlloNi menawarkan alternatif yang lebih personal dan emosional dalam interaksi manusia dengan robot. Bagi keluarga yang mencari teman digital yang bisa memahami perasaan dan tumbuh bersama, OlloNi bisa menjadi pilihan menarik.

    Implikasinya, pasar robot konsumen tidak lagi hanya didominasi oleh perangkat fungsional seperti vacuum cleaner atau speaker pintar. Kini, dimensi emosional mulai menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan teknologi AI di rumah tangga.