Protes IPO SpaceX: Risiko Grok dan Kekuasaan Elon Musk

Patung Elon Musk bertelanjang dada dengan tato ketamine dan salam Nazi dalam protes SAFE AI Now di depan Nasdaq.

JBNews.id – Aksi protes mewarnai jelang IPO (Initial Public Offering) SpaceX yang digelar Jumat ini. Sebuah koalisi bernama Safe AI Now (SAIN) menggelar demonstrasi di depan kantor pusat Nasdaq dan JP Morgan, salah satu bank yang terlibat dalam proses pencatatan saham perusahaan milik Elon Musk tersebut.

SpaceX saat ini memiliki valuasi sebesar USD 1,77 triliun, menjadikannya perusahaan terbesar yang pernah melakukan debut di bursa saham. Harga saham perdana ditetapkan sebesar USD 135 per lembar. Meskipun publik dapat membeli saham perusahaan, Elon Musk tetap memegang mayoritas hak suara, yang memberinya kemampuan hampir sepihak untuk mengambil keputusan bagi perusahaan. IPO ini juga berpotensi menjadikannya triliuner pertama di dunia.

Namun, seorang perwakilan SAIN yang meminta namanya tidak disebutkan karena takut akan pembalasan dari Musk, menyatakan kepada WIRED bahwa struktur kekuasaan ini merupakan ancaman nyata bagi perusahaan yang tidak dianggap serius oleh investor dan bank yang mendukung IPO. “IPO ini adalah pengalihan tanggung jawab,” kata perwakilan tersebut. “Elon bertanggung jawab atas semua ini. Semua keputusan yang dia buat. Semua biaya litigasi, denda regulasi, investigasi, semua itu pada dasarnya dialihkan ke pemegang saham.”

SpaceX tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait aksi protes ini.

Kontroversi Grok dan xAI

Kekhawatiran SAIN berakar pada akuisisi xAI oleh SpaceX yang diumumkan Elon Musk pada Februari lalu. xAI adalah perusahaan kecerdasan buatan yang didirikan Musk dan pengembang chatbot Grok. Pengumuman tersebut datang tepat saat xAI menghadapi pengawasan ketat, baik di Amerika Serikat maupun internasional, terkait kemampuan chatbotnya untuk menghasilkan foto telanjang wanita dan anak-anak secara nonkonsensual.

Pada Januari, Komisi Eropa mengumumkan akan menyelidiki xAI untuk menilai apakah perusahaan tersebut telah mengevaluasi dan memitigasi risiko dengan benar dalam mencegah pembuatan citra seksual nonkonsensual. Pada Maret, tiga anak perempuan mengajukan gugatan class action terhadap xAI karena teknologi mereka diduga digunakan untuk membuat foto telanjang mereka. Pada Januari, 35 jaksa agung negara bagian menandatangani surat terbuka kepada perusahaan, menuntut tindakan untuk menghapus citra seksual nonkonsensual dan memasang pagar pembatas untuk mencegah alat tersebut melakukan hal serupa di masa depan.

Ashley St. Clair, ibu dari salah satu anak Musk, juga mengajukan gugatan terhadap xAI karena diduga membuat gambar eksplisit seksual dirinya. Baru-baru ini, WIRED melaporkan bahwa Grok menampung gambar seksual eksplisit nonkonsensual dari wanita, termasuk anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez dan selebritas lainnya.

Dalam sebuah unggahan di platform X pada Februari, Musk menulis bahwa “Grok harus menang atau kita akan dikuasai oleh AI yang sangat woke dan sok suci.” Pernyataan ini menambah kontroversi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan dan etika AI.

Dampak bagi Investor dan Publik

“Sangat mudah untuk teralihkan oleh berita IPO yang gemerlap. Dan saya pikir itulah yang mereka harapkan akan terjadi,” kata perwakilan SAIN. “Tapi ada bahaya nyata, risiko nyata. Saya pikir jika kita menormalisasi di mana-mana—dari bank yang menjaminnya, hingga NASDAQ yang mencatatkannya, hingga pemegang saham yang membelinya—sebuah perusahaan yang memiliki platform beracun seperti Grok, menormalisasi jenis citra eksplisit itu, ada masalah nyata.”

Aksi protes ini juga menampilkan patung Elon Musk bertelanjang dada dengan tato berbentuk hati di bahu bertuliskan “ketamine” dan tato lain yang menyerupai salam ala Nazi yang pernah dilakukannya setelah pelantikan Presiden Donald Trump pada 2025. Sebagian besar orang yang lewat tampak tidak terpengaruh, beberapa berhenti untuk berfoto sebelum melanjutkan aktivitas. Seorang pria berpose di depan patung tersebut seolah-olah sedang mencubit puting patung Musk. “Ini sangat bombastis dengan sengaja untuk menarik perhatian pada isu yang sangat penting ini,” ujar perwakilan SAIN.

IPO SpaceX yang bernilai triliunan dolar ini menjadi sorotan global, namun protes ini mengingatkan publik dan investor tentang risiko tata kelola perusahaan dan kontroversi yang melibatkan pendirinya. Kekhawatiran tentang keamanan AI dan potensi penyalahgunaan teknologi menjadi is sentral yang tidak bisa diabaikan. Investor yang membeli saham SpaceX secara tidak langsung juga ikut menanggung risiko dari keputusan dan kontroversi yang dibuat oleh Elon Musk, termasuk melalui akuisisi xAI dan platform Grok.

Bagi publik, IPO ini bukan sekadar peluang investasi, tetapi juga cerminan bagaimana perusahaan dengan valuasi raksasa dapat mengalihkan tanggung jawab hukum dan etika kepada pemegang saham. Pertanyaan tentang regulasi kecerdasan buatan dan perlindungan konsumen, terutama anak-anak, menjadi semakin mendesak di tengah maraknya teknologi yang tidak terkendali. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan terkini di industri teknologi, pembaca dapat menyimak Starlink Tembus 12 Juta Pelanggan atau membaca tentang Perang Harga AI Mengancam.