Category: Tekno

  • Transformasi Digital RI Harus Dibangun Secara Komunal

    Transformasi Digital RI Harus Dibangun Secara Komunal

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa transformasi digital Indonesia harus dibangun secara komunal melalui semangat gotong royong. Hal ini disampaikan dalam peluncuran gerakan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal Ekosistem Digital menginisiasi gerakan solidaritas antara pemangku kepentingan untuk memperkuat dan mempercepat transformasi digital Indonesia. DEAL 2026 menjadi wadah gotong royong antara Pemerintah, industri, akademisi, investor, startup, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu ruang kolaborasi yang menghasilkan aksi nyata.

    Meutya mengatakan DEAL merupakan upaya Komdigi untuk merajut solidaritas digital di Indonesia. Ia memastikan forum DEAL 2026 bukan agenda seremonial untuk membaca laporan program atau deretan angka statistik saja, melainkan momentum untuk menyamakan langkah melalui gotong royong dan solidaritas.

    “Karena semangat gotong royong menjadi nilai Indonesia sejak lahir sebagai negeri. Gotong royong adalah identitas asli kita yang kini harus kita bawa ke ranah digital melalui gerakan Merajut Solidaritas Digital Indonesia,” kata Meutya di Jakarta.

    Hal tersebut disampaikan Menkomdigi Meutya saat membuka forum DEAL 2026. Selain Meutya, hadir pula Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Angga Raka Prabowo dan Nezar Patria, serta jajaran Eselon I Kementerian Komdigi.

    Meutya menegaskan, solidaritas dan gotong royong lewat DEAL sangat diperlukan. Pemangku kepentingan harus bergerak bersama agar ekosistem digital Indonesia semakin merata dan pertumbuhan ekonomi membawa dampak nyata bagi masyarakat.

    “Sebagai satu bangsa, kita harus bergerak dalam satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan keadilan digital dan kemandirian teknologi bagi seluruh rakyat Indonesia,” terang Meutya.

    Melalui pendekatan berbasis ekosistem di DEAL 2026, menurut Meutya, kolaborasi diarahkan langsung pada implementasi konkret yang menyentuh kebutuhan rill di lapangan. Beberapa contoh nyata yang sudah berjalan antara lain pemanfaatan IoT untuk kelompok tani dan pembudidaya ikan di Sleman, Banjarnegara, dan Lamongan, pelatihan AI praktis bagi 100-150 pelaku UMKM di Wonogiri dan Banyuwangi, pengembangan fitur DARA untuk mitigasi risiko adiksi gim pada anak, serta pembangunan Dashboard Ecosystem sebagai single source of truth data nasional.

    “Semua contoh ini membuktikan bahwa transformasi adalah tentang kerja bersama untuk menjawab kebutuhan publik, memperkuat industri, dan meningkatkan kualitas tata kelola negara. Karena itu, DEAL 2026 kita tempatkan sebagai ruang penyelarasan,” tutup Meutya.

    Acara ini turut dihadiri perwakilan kementerian/lembaga seperti dari Kemenko Polkam, Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Ekonomi Kreatif, BIN, BSSN, BRIN, OJK, Polri, hingga Danantara. Beberapa kepala daerah juga hadir seperti Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, dan Walikota Malang Wahyu Hidayat.

    Hadir juga pelaku industri digital seperti dari Telkom, Telkomsel dan PT Pos Indonesia, serta perwakilan asosiasi, akademisi, strartup, vendor gim, konten kreator, hingga UMKM yang di dalamnya termasuk petani dan penambak di sektor perikanan.

    Melalui DEAL 2026, Komdigi bersama berbagai pemangku kepentingan menyusun delapan paket kolaborasi DEAL yang kemudian dideklarasikan pada Selasa (23/6/2026) di Jakarta. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa transformasi digital tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa.

    Gerakan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif. Dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani hingga pelaku startup, DEAL 2026 diharapkan mampu menjembatani kesenjangan digital yang masih terjadi di berbagai daerah.

    Menkomdigi juga mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam transformasi digital ini. Partisipasi generasi muda dianggap krusial karena mereka merupakan pengguna teknologi paling masif dan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan.

    Kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam forum DEAL 2026 menunjukkan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama dalam mempercepat transformasi digital. Dengan semangat gotong royong, Indonesia diyakini mampu mewujudkan keadilan digital dan kemandirian teknologi bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Implikasinya bagi masyarakat luas, inisiatif seperti DEAL 2026 akan membawa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari petani yang mendapatkan akses IoT untuk meningkatkan produktivitas, hingga UMKM yang mendapat pelatihan AI untuk mengembangkan bisnis mereka.

  • Trump Teken Dua Perintah Eksekutif untuk Akselerasi Komputasi Kuantum

    Trump Teken Dua Perintah Eksekutif untuk Akselerasi Komputasi Kuantum

    JBNews.id — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menandatangani dua perintah eksekutif yang bertujuan untuk mendorong penelitian di industri komputasi kuantum. Langkah ini diklaim untuk mempercepat riset ilmiah sekaligus melindungi keamanan siber negara dari ancaman yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi tersebut.

    Perintah eksekutif ini ditandatangani dalam sebuah upacara di Ruang Oval, Gedung Putih. “Kami akan berinvestasi dalam kepemimpinan kuantum Amerika seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Trump dalam sambutannya, seperti dikutip dari Wall Street Journal.

    Target Pembangunan Komputer Kuantum pada 2028

    Perintah eksekutif pertama menginstruksikan badan-badan federal untuk bekerja sama dengan sektor swasta dan akademisi. Tujuannya adalah membangun komputer kuantum yang sangat kuat dan mampu melakukan penelitian ilmiah pada tahun 2028.

    Pencapaian ini akan menjadi bukti bahwa mesin kuantum memiliki aplikasi praktis. Sejauh ini, eksperimen telah menunjukkan bahwa komputer kuantum dapat memecahkan persamaan kompleks, namun umumnya masih memiliki sedikit kegunaan di dunia nyata.

    Jika komputer kuantum memenuhi potensinya, mereka akan mampu memecahkan masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh komputer klasik, dan dengan kecepatan yang lebih tinggi. Alih-alih menggunakan bit tradisional yang mewakili 0 dan 1, komputer kuantum menggunakan q-bit yang bisa berada di kedua keadaan sekaligus, memungkinkan mereka menyimpan lebih banyak informasi.

    Q-bit ini juga dapat “terjerat” satu sama lain dan berbagi keadaan yang sama. Ketika salah satu q-bit berubah, q-bit lainnya langsung berubah juga, yang secara dramatis mempercepat perhitungan.

    U.S. President Donald Trump shows an executive order he signed in the Oval Office of the White House on June 22, 2026 in Washington, DC. President Trump signed two orders on quantum computing.

    Perintah Kedua Fokus pada Keamanan Siber

    Perintah eksekutif kedua menyasar implikasi keamanan dari komputasi kuantum. Sebuah komputer kuantum yang kuat dapat dengan mudah membongkar algoritma enkripsi yang ada saat ini, yang oleh para ahli disebut sebagai potensi kiamat di bidang keamanan siber.

    Perintah ini menginstruksikan badan-badan pemerintah untuk mempercepat pengembangan “kriptografi pasca-kuantum” (PCQ). Tujuannya adalah mengembangkan algoritma yang dapat menahan serangan dari mesin kuantum yang kuat, dengan memajukan target pencapaiannya dari tahun 2035 (yang ditetapkan oleh pemerintahan Biden) menjadi tahun 2031.

    Langkah ini sejalan dengan sentimen industri komputasi kuantum. Awal tahun ini, Google, yang merupakan pemimpin di bidang ini, memajukan tenggat waktunya untuk mengembangkan sistem PCQ menjadi tahun 2029.

    Perintah tersebut juga menginstruksikan Pentagon untuk menyebarkan apa yang disebut sensor kuantum pada tahun 2028. Sensor ini dirancang untuk mendeteksi perubahan yang sangat kecil di lingkungan fisik sebagai alternatif dari sistem GPS tradisional.

    Investasi dan Potensi Konflik Kepentingan

    Pasangan perintah eksekutif baru ini muncul sebulan setelah Departemen Perdagangan AS mengumumkan akan membeli saham senilai $2 miliar di sembilan perusahaan komputasi kuantum yang berbeda.

    Ada indikasi potensi konflik kepentingan dalam keputusan ini. Salah satu penerima pendanaan adalah PsiQuantum, yang salah satu investornya adalah 1789 Capital — perusahaan modal ventura tempat putra Trump, Donald Trump Jr, menjadi mitra.

    Meskipun menandatangani perintah tersebut, Trump sendiri tampak tidak terlalu tertarik secara pribadi dengan riset kuantum. Saat Menteri Energinya, Chris Wright, tersendat dalam pidatonya yang dimulai dengan memperkenalkan makalah penting Einstein, Trump dengan sinis menyela: “Tidak ada yang peduli.”

    Komputasi kuantum diperkirakan akan sejalan dengan kemajuan di bidang kecerdasan buatan (AI). Dalam istilah geopolitik, teknologi ini bisa menjadi medan pertempuran utama dalam perlombaan teknologi antara AS dan China, yang juga telah menjadikan bidang ini sebagai prioritas nasional.

  • BEAD Gagal Total, Dana Rp700 Triliun Menguap untuk Miliarder

    BEAD Gagal Total, Dana Rp700 Triliun Menguap untuk Miliarder

    JBNews.id — Program ambisius pemerintah Amerika Serikat untuk menjembatani kesenjangan digital, Broadband Equity, Access, and Deployment (BEAD), berakhir menjadi bencana besar. Dari total anggaran USD 42,45 miliar (sekitar Rp700 triliun), program yang digagas era Presiden Joe Biden pada 2021 ini justru menjadi “slush fund” bagi para miliarder teknologi, terutama Elon Musk dan Jeff Bezos, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Lima tahun setelah diluncurkan, hanya segelintir warga Amerika yang benar-benar menikmati akses internet baru, sementara dana publik menguap dalam birokrasi dan kepentingan politik.

    Kegagalan ini mencapai puncaknya pada malam 28 Mei 2026, ketika roket New Glenn milik Blue Origin milik Jeff Bezos meledak menjadi bola api besar di landasan peluncuran Cape Canaveral. Roket tersebut sedang dalam uji coba panas untuk membawa satelit Amazon Leo, bagian dari proyek internet satelit ambisius yang didanai oleh program BEAD. Ledakan itu menjadi metafora yang sempurna untuk menggambarkan kegagalan program yang seharusnya menjadi solusi kesenjangan akses internet di Amerika.

    Awal Mula Program BEAD dan Janji yang Terlupakan

    BEAD didirikan pada November 2021 sebagai program unggulan yang merupakan tujuan bipartisan langka di Kongres: Mengidentifikasi celah cakupan broadband, lalu menyebarkan akses internet generasi berikutnya yang terjangkau di seluruh AS pada 2030. Program ini berjalan beriringan dengan Digital Equity Act senilai USD 2,75 miliar untuk pelatihan keterampilan digital, dan Affordable Connectivity Program (ACP) senilai USD 14 miliar yang mensubsidi akses internet bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.

    Awalnya, para gubernur Partai Republik pun antusias. Mantan Gubernur Arkansas Asa Hutchinson menyebut rencana itu sebagai “investasi bersejarah.” Namun, program ini memiliki awal yang lambat. Negara bagian dan pemerintah federal menghabiskan tahun-tahun pertama untuk mematuhi tuntutan Kongres dalam memetakan akses broadband yang buruk, serta memastikan pendanaan didistribusikan secara merata di tengah sejarah panjang diskriminasi digital.

    Perombakan Trump: Dari Fiber ke Satelit Miliarder

    Ketika Trump kembali menjabat pada 2025, Menteri Perdagangan Howard Lutnick segera merombak BEAD. Lutnick menyatakan program tersebut “belum menghubungkan satu orang pun ke internet” dan sangat membutuhkan penyesuaian. Penyesuaian itu termasuk menghilangkan persyaratan keterjangkauan dan kesetaraan yang dianggap “woke,” serta menurunkan standar kendali mutu untuk jaringan baru.

    Konsekuensi paling besar adalah pengalihan fokus dari jaringan fiber ke teknologi satelit. Kongres sebenarnya secara eksplisit meminta BEAD untuk memprioritaskan jaringan fiber terestrial, karena dianggap lebih tahan masa depan. Namun, Lutnick menuntut proposal negara bagian bersifat “netral teknologi.” Perubahan ini mengalihkan USD 738,8 juta ke kantong Elon Musk, donor kampanye terbesar Trump, dan USD 311 juta lainnya untuk Amazon Leo milik Bezos.

    Karena banyak negara bagian telah mengajukan proposal BEAD di bawah pedoman lama, perubahan ini memundurkan kemajuan mereka ke titik nol. Maine Connectivity Authority President Andrew Butcher menggambarkannya sebagai harus melakukan “pekerjaan dua tahun dalam dua bulan.” Banyak negara bagian mulai melawan perubahan yang mahal dan memakan waktu ini.

    “Fiber adalah standar emas untuk teknologi yang tahan masa depan,” kata Rep. Doris Matsui (D-CA) pada Maret 2025. “Jadi maafkan saya jika saya curiga dengan fokus pemerintahan Trump yang membekukan BEAD atas nama aturan netral teknologi.”

    Louisiana: Studi Kasus Kegagalan

    Louisiana, negara bagian asal Ketua DPR Mike Johnson, menjadi yang pertama menerima dana BEAD pada November 2025. Rencana awal Louisiana mengarahkan lebih dari 90 persen pendanaan jaringan baru ke fiber. Namun, di bawah rencana revisi, angka itu turun menjadi 78 persen. Dana tersebut tiba setahun lebih lambat dari yang diharapkan, dan hanya setelah pemimpin negara bagian setuju untuk memberikan subsidi baru yang signifikan kepada Musk.

    Dampaknya sangat menghancurkan bagi Lake Providence, sebuah komunitas di East Carroll Parish dengan sekitar 3.500 penduduk. Di bawah proposal awal, penyedia internet Conexon seharusnya menerima USD 6,2 juta untuk membangun fiber di sana. Namun, setelah perombakan, penduduk Lake Providence dianggap tidak memenuhi syarat untuk pendanaan fiber. Uang pajak itu malah dialirkan langsung ke Starlink milik Musk—untuk layanan satelit yang sudah tersedia di sana selama bertahun-tahun.

    Nathanael Wills, organizer utama Delta Interfaith, telah mendorong akses broadband yang lebih baik di East Carroll Parish selama enam tahun terakhir. Ia mengatakan penghapusan ketentuan keterjangkauan dan penurunan kualitas dari fiber akan menghasilkan sedikit atau tanpa perbaikan nyata.

    “Bagian yang paling membuat frustrasi adalah ini adalah investasi nol dolar dalam infrastruktur,” kata Wills. “Tidak ada yang berubah secara fundamental. Orang dengan Starlink hanya akan dikirimi kotak melalui pos dan banyak yang tidak bisa memasangnya. Kami masih tidak akan memiliki siapa pun yang benar-benar terlayani.”

    Kronisme dan Konsekuensi Nasional

    Pada akhir 2025, 33 dari 56 negara bagian dan teritori yang dijanjikan pendanaan cepat belum menerima konfirmasi hibah mereka—hampir 60 persen di bawah target Lutnick. Hingga Juni 2026, kurang dari beberapa ratus rumah di Nebraska dan Louisiana yang benar-benar terhubung ke internet melalui BEAD, dan itu pun melalui koneksi nirkabel tetap yang jauh lebih lambat dari fiber. Sebanyak USD 19,94 miliar dana negara bagian telah disetujui, tetapi sangat sedikit yang benar-benar diterima atau dibelanjakan.

    Sementara itu, roket Blue Origin milik Bezos belum berhasil meluncurkan konstelasi satelit LEO komersial yang operasional, dan tidak ada pelanggan aktif. Di Nebraska, kekacauan akibat perubahan “benefit of the bargain” cukup untuk meyakinkan tiga pemenang hibah BEAD untuk mundur dari program dan meninggalkan rencana mereka sama sekali.

    “Sangat menyedihkan melihat ISP di Nebraska mengembalikan penghargaan BEAD mereka, dan saya khawatir kita akan melihat lebih banyak lagi,” kata Gigi Sohn, mantan pejabat FCC yang kini menjalankan American Association for Public Broadband. “Fokus berlebihan pemerintahan ini pada biaya, ditambah dengan kenaikan harga akibat perang dan tarif… akan mengakibatkan semakin banyak komunitas yang tertinggal.”

    Ancaman lain datang dari upaya pemerintahan Trump untuk menahan dana “nondeployment” BEAD senilai sekitar USD 21 miliar. Dana yang seharusnya digunakan untuk pelatihan keterampilan digital dan perangkat ini terancam ditarik kembali jika negara bagian berani menuntut akuntabilitas dari perusahaan telekomunikasi atau mencoba mengatur AI.

    Masa Depan yang Suram

    Pemilu paruh waktu yang akan datang membayangi pemerintahan Trump yang menghadapi jajak pendapat yang semakin buruk. Jika Demokrat menguasai salah satu atau kedua majelis, akan ada lebih banyak pengawasan terhadap BEAD. Namun, para ahli telekomunikasi mengatakan kecil kemungkinan Lutnick, Roth, atau Partai Republik akan menghadapi konsekuensi nyata.

    “Saya memiliki banyak perbedaan kebijakan dengan apa yang dilakukan Roth dan NTIA, tetapi saya tidak tahu fakta atau keadaan apa pun yang akan membuat saya berpikir dia memiliki tanggung jawab perdata atau pidana atas tindakannya,” kata Blair Levin, mantan pejabat FCC.

    Sementara itu, banyak negara bagian tampak takut untuk mengkritik perilaku pemerintahan secara terbuka karena risiko kehilangan dana broadband yang besar. “Kami menahan penilaian sampai kami mendengar tentang dana nondeployment,” kata Christine Hallquist, direktur eksekutif Vermont Community Broadband Board.

    “Kami muak,” kata Wills, menggambarkan perasaan banyak komunitas yang ditinggalkan. “Program BEAD telah gagal bagi kami di sini. Kami tidak senang, dan ada kebutuhan yang besar.” Program yang awalnya dirancang untuk meningkatkan konektivitas terjangkau bagi semua warga Amerika kini hanya menjadi kenangan pahit dari ambisi yang kandas, meninggalkan komunitas miskin dan pedesaan tanpa harapan akan akses internet yang layak.

  • Sony Xperia 1 VIII: AI Camera Assistant Gagal Total

    Sony Xperia 1 VIII: AI Camera Assistant Gagal Total

    JBNews.id — Sony Xperia 1 VIII hadir dengan fitur AI Camera Assistant yang justru merusak kualitas foto, bukan memperbaikinya. Setelah sepekan pengujian, fitur unggulan ini terbukti menghasilkan gambar yang buruk, tidak konsisten, dan membebani performa ponsel flagship tersebut.

    Saat memperkenalkan Xperia 1 VIII sebulan lalu, Sony justru mempromosikan ponselnya dengan membagikan beberapa foto terburuk yang pernah dihasilkan kamera Sony dalam beberapa tahun terakhir. Foto-foto itu sengaja diambil menggunakan AI Camera Assistant baru milik Sony. Setelah pengujian selama seminggu, hasilnya persis seperti yang diperlihatkan Sony: buruk.

    Dalam sesi pengarahan pers untuk Xperia 1 VIII, Sony pertama kali menunjukkan AI Camera Assistant. Awalnya, fitur ini disebut mirip dengan “versi perbaikan dari Google’s Camera Coach.” Namun ternyata anggapan itu keliru. Camera Coach pada Pixel terbaru adalah mode kamera khusus yang memandu pengguna membingkai bidikan, meminta fokus pada objek tertentu, dan memberikan tips spesifik tentang komposisi, posisi, lensa kamera mana yang digunakan, serta apakah perlu menggunakan mode Portrait. Meskipun dinilai kurang memuaskan saat diulas pada Pixel 10A, Camera Coach tetap berfungsi sebagai pelatih fotografi dasar.

    Sony AI Camera Assistant berbeda. Fitur ini tertanam langsung di mode default aplikasi kamera dan muncul secara otomatis saat pengguna mencoba mengambil foto. Sony memang menyediakan opsi untuk mematikannya sepenuhnya. Saat pengguna hendak memotret, sebuah kotak kecil muncul di viewfinder yang menampilkan seperti apa foto tersebut dengan pengaturan alternatif yang disarankan oleh AI Sony. Sentuhan cepat memungkinkan pengaturan itu diaktifkan, atau pengguna bisa menggeser ke bawah untuk melihat tiga opsi alternatif lainnya.

    Berbeda dengan Google Camera Coach, AI Assistant milik Sony tidak memberikan saran apa pun tentang pembingkaian atau fokus. Fitur ini hanya menerapkan filter dan menyerahkan sisanya kepada pengguna. AI Assistant bahkan tidak memberi tahu efek apa yang diterapkannya, sehingga pengguna tidak akan belajar apa pun tentang mengapa gambar terlihat seperti itu atau cara mencapai efek yang sama secara mandiri.

    Ketidakonsistenan dan Hasil yang Mengecewakan

    Saran dari AI Assistant tidak muncul secara konsisten. Fitur ini sama sekali tidak didukung pada kamera selfie, dan tidak ada penjelasan mengapa. Mengarahkan kamera langsung ke cahaya terang atau jendela yang backlight biasanya tidak memunculkan saran AI apa pun, begitu juga saat membidik dinding kosong. AI Assistant cenderung tidak menawarkan opsi untuk foto makro, meskipun kadang-kadang muncul. Jika mencoba memotret telapak tangan, AI Assistant memiliki banyak ide; tetapi jika tangan diputar ke samping atau ke belakang, opsi itu menghilang. Tidak ada logika yang bisa dijelaskan dari perilaku ini.

    Mayoritas perubahan yang disarankan AI Assistant adalah penyesuaian pada eksposur, white balance, kontras, dan pengaturan gambar dasar lainnya — dan biasanya dengan penyesuaian yang agresif. Terkadang fitur ini menyarankan penggelapan foto hingga terlihat muram dan suram, di lain waktu akan meningkatkan highlight hingga meledak di luar pengenalan. AI Assistant sangat suka menyarankan efek sepia, atau menggeser white balance ke arah kuning untuk menciptakan foto yang lebih hangat. Biasanya ada setidaknya satu opsi dengan saturasi yang ditingkatkan untuk membuat semuanya tampak mencolok.

    Selain penyesuaian warna dan eksposur, AI Assistant kadang-kadang mengaktifkan efek bokeh buatan, mengaburkan latar belakang seperti dalam mode portrait. Dalam momen yang lebih cerdas, fitur ini mungkin mencerahkan subjek gambar sambil menggelapkan latar belakang untuk membantu mereka menonjol. Sony mengklaim AI Assistant dapat menyarankan perpindahan antara tiga lensa belakang ponsel atau bahkan membantu menemukan “sudut paling fotogenik,” namun setelah seminggu pengujian, fitur ini tidak pernah terlihat berfungsi sama sekali.

    Efek yang dihasilkan AI Assistant mirip dengan filter Instagram yang sudah ada sejak 16 tahun lalu, hanya saja filter Instagram justru lebih halus. Xperia 1 VIII sebenarnya juga memiliki filter bawaan — lima pilihan termasuk simulasi film dan mode yang lebih vivid. Perbedaan utamanya adalah AI Camera Assistant seharusnya bereaksi secara dinamis terhadap pemandangan, subjek, dan pencahayaan untuk menyarankan perubahan terbaik pada momen tertentu — itulah fungsi AI-nya. Secara teori ide ini tidak buruk, tetapi dalam praktiknya hasilnya tidak dapat digunakan.

    AI Assistant hanya menghasilkan segelintir foto yang layak disimpan, lebih sedikit lagi yang layak dibagikan di media sosial, dan hanya satu atau dua yang bisa diklaim lebih baik dari aslinya. Fitur ini cenderung lebih berguna dalam kondisi pencahayaan buruk, karena pengaturan kamera default lebih mungkin kesulitan. Namun, bahkan dalam kondisi seperti itu, hanya satu atau dua foto yang layak diambil.

    Dampak pada Performa Ponsel

    Masalah kamera ini bukan karena kualitas hardware-nya. Xperia 1 VIII memiliki kamera yang bagus dengan sensor besar di ketiga lensa belakangnya, melampaui hardware milik Apple dan Google. Ponsel ini memiliki gaya pemrosesan yang khas dengan kontras yang sedikit ditingkatkan. Ini adalah kamera Xperia terbaik dari Sony dan kompetitif dengan ponsel lain di kisaran harga yang setara dengan US$1.850, meskipun ponsel ini tidak diluncurkan di Amerika Serikat.

    Kualitas kamera yang baik justru membuat AI assistant semakin membingungkan. Keputusan Sony untuk menampilkan saran sebelum mengambil foto, bukan setelahnya, tampaknya berdampak negatif pada performa. Meskipun menggunakan chipset flagship Snapdragon 8 Elite Gen 5, Xperia 1 VIII berjalan tidak merata dan rentan overheating. Menjalankan AI Camera Assistant menambah beban pada sistem. Aplikasi kamera sering terbuka lambat, dan bisa membeku atau hang selama beberapa detik saat mengganti lensa, mengakses saran AI, atau mengambil foto. Seluruh kamera pernah crash satu kali selama pengujian. Mematikan AI Assistant terbukti meringankan masalah tersebut.

    Berbeda dengan fitur AI dari Apple di iOS 27 yang dapat mengedit objek keluar dari foto, memperluas gambar untuk menyertakan detail yang tidak ada, atau membingkai ulang bidikan asli — AI Camera Assistant Sony tidak menimbulkan pertanyaan tidak nyaman tentang apa itu foto. Fitur ini hanya membuat orang bertanya-tanya apakah tim Xperia Sony benar-benar memahami apa yang membuat foto menjadi bagus.

    Bagi pengguna yang menginginkan ponsel dengan kamera andal, fitur AI Camera Assistant justru menjadi kelemahan utama. Sebaiknya fitur ini dimatikan untuk mendapatkan hasil foto terbaik dari Xperia 1 VIII. Sementara itu, Sony masih harus bekerja keras untuk memperbaiki algoritma AI-nya agar benar-benar membantu, bukan malah merusak pengalaman fotografi.

  • Investasi Google Rp1,2 Triliun di A24 Picu Kekecewaan Penggemar

    Investasi Google Rp1,2 Triliun di A24 Picu Kekecewaan Penggemar

    JBNews.id — Google menginvestasikan dana sebesar US$75 juta atau setara Rp1,2 triliun ke studio film independen A24 sebagai bagian dari kemitraan riset kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan perangkat pembuatan film. Langkah ini langsung memicu reaksi negatif dari basis penggemar setia studio tersebut.

    Menurut laporan The Wall Street Journal pada Senin (15/6/2026), investasi tersebut menjadi salah satu kolaborasi langka antara studio film arus utama dengan perusahaan AI. Meskipun nilai investasi tergolong kecil untuk standar industri teknologi, kemitraan ini memiliki signifikansi simbolis yang besar.

    “There goes A24,” tulis sebuah unggahan viral di media sosial. “Why do they keep forcing AI on us,” keluhan lainnya ikut membanjiri linimasa para penggemar. Reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu AI di kalangan komunitas pecinta film independen.

    Kemitraan dengan laboratorium DeepMind milik Google bertujuan untuk mengembangkan “perangkat baru untuk produksi dan distribusi film,” demikian dikutip dari laporan WSJ. Penting dicatat bahwa perjanjian ini tidak memberikan akses Google ke data A24, termasuk pustaka filmnya.

    Scott Belsky, mitra A24, mengakui ambivalensi para pembuat film terhadap teknologi AI. “Kami pikir ada penggunaan yang lebih baik yang menjaga kendali kreatif dan mendukung pengambilan risiko,” ujar Belsky kepada WSJ. Ia menambahkan bahwa perangkat baru tersebut “tidak akan terlihat seperti jenis AI generatif yang membuat orang merasa tidak nyaman.”

    Tim beranggotakan 20 orang yang dipimpin Belsky, A24 Labs, saat ini tengah mengembangkan alat untuk pembuatan papan cerita (storyboard) berbasis AI. Langkah ini mengikuti jejak sutradara legendaris Martin Scorsese yang baru-baru ini mendukung perusahaan rintisan AI yang menyediakan perangkat serupa, memicu krisis eksistensial di kalangan sineas.

    Kontroversi semakin memanas ketika para penggemar mengingat pernyataan Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun yang mengarahkan film tersukses A24 sepanjang masa berjudul “Backrooms.” Film horor yang menjadi pembuka terbesar A24 itu dipandang banyak pihak sebagai alegori melawan AI.

    “Jika saya bisa menjentikkan jari dan membuat generative AI menghilang selamanya, saya mungkin akan melakukannya,” kata Parsons dalam sebuah wawancara. “Secara kreatif, saya tidak mendapat kesenangan menggunakan alat-alat itu. Itu mengalahkan tujuan sepenuhnya bagi saya.”

    Ia menambahkan, “Generative AI terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas.” Pernyataan tegas ini kontras langsung dengan arah baru yang diambil A24 melalui kemitraannya dengan Google.

    Sebelumnya, Disney menjalin kemitraan penting dengan OpenAI tahun lalu, namun berakhir dengan buruk ketika OpenAI tiba-tiba menutup alat generator video Sora pada Maret 2026. Kasus ini menjadi peringatan bagi industri film tentang risiko ketergantungan pada teknologi AI yang belum matang.

    Investasi Google ke A24 menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kreativitas di industri film. Di satu sisi, AI dapat mempercepat proses produksi dan membuka kemungkinan artistik baru. Di sisi lain, kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja kreatif dan homogenisasi konten tetap menjadi isu utama.

    Fenomena perlawanan terhadap AI di industri kreatif bukanlah hal baru. Dominasi AI influencer telah menjadi ancaman nyata di media sosial, memicu perdebatan serupa tentang otentisitas dan nilai kreatif.

    Bagi A24, studio yang selama ini membangun citra sebagai underdog cerdas yang mengedepankan film-film berbasis visi sutradara, kemitraan ini berpotensi mengikis identitas yang telah dibangun bertahun-tahun. Loyalitas penggemar yang luar biasa selama ini justru menjadi pedang bermata dua ketika menghadapi keputusan bisnis yang kontroversial.

    Dampak dari kemitraan ini belum dapat diukur secara langsung. Namun, reaksi keras dari komunitas penggemar menunjukkan bahwa isu AI dalam seni tetap menjadi topik yang sangat sensitif. Para pembuat film dan studio kini berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan integritas artistik.

    Implikasinya bagi industri film Indonesia patut dicermati. Jika studio sekaliber A24 menghadapi resistensi semacam ini, bagaimana dengan industri film lokal yang mungkin mengadopsi teknologi serupa? Pertanyaan tentang keseimbangan antara efisiensi produksi dan nilai seni akan terus menjadi perdebatan hangat di tahun-tahun mendatang.

    Di tengah hiruk-pikuk ini, satu hal yang pasti: hubungan antara teknologi AI dan industri kreatif masih jauh dari kata selesai. Setiap langkah maju akan selalu diiringi dengan pertanyaan mendasar tentang apa artinya menjadi kreatif di era mesin yang bisa “belajar” meniru manusia.

  • Saham SpaceX Anjlok, Pasar Teknologi Global Terkoreksi

    Saham SpaceX Anjlok, Pasar Teknologi Global Terkoreksi

    JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut setelah debut pasar perdana yang spektakuler, menghapus hampir seluruh keuntungan awal dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham teknologi global.

    Futures S&P 500 tergelincir 1,6 persen pada Selasa, sementara futures Nasdaq 100 turun 2,8 persen, yang berpotensi menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar jika penurunan berlanjut. Tekanan jual juga melanda saham-saham teknologi utama seperti Amazon, Nvidia, Tesla, Alphabet, dan Intel, yang masing-masing anjlok lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan.

    Saat bel pembukaan pada Selasa waktu AS, SpaceX dibuka pada level US$150, tepat di bawah harga penawaran perdananya. Nvidia ambles lebih dari tiga persen, sementara Tesla turun hampir empat persen. Indeks S&P 500 dibuka dengan kerugian 1,5 persen, mengonfirmasi tingkat ketidakpastian yang tidak biasa di pasar.

    Kerugian ini meluas hingga ke pasar internasional, menimbulkan kekhawatiran bahwa antusiasme terhadap siklus hype AI yang telah berlangsung selama bertahun-tahun mungkin mulai meredup. Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi perusahaan teknologi yang sangat besar dan menopang seluruh pasar sedang menggelembungkan bubble yang bisa membahayakan perekonomian jika pecah.

    “Gravitasi menghantam,” demikian peringatan para trader JPMorgan dalam catatan Selasa, merujuk pada indeks Asia yang terpukul keras bersamaan dengan futures AS dan Uni Eropa.

    Skala besar debut Wall Street SpaceX dan perhatian yang diraihnya menjadi pemicu utama kegelisahan investor. Pada Senin saja, perusahaan roket tersebut kehilangan US$400 miliar nilai pasar setelah sahamnya jatuh hampir 17 persen. Penurunan empat hari berturut-turut SpaceX kemungkinan memicu sentimen negatif yang lebih luas di kalangan investor.

    SpaceX juga mengumumkan “penawaran obligasi perdana” untuk mengumpulkan dana tambahan guna mendanai rencana ambisiusnya meluncurkan satu juta satelit pusat data orbit raksasa ke luar angkasa — sebuah konsep yang masih belum teruji. Langkah ini menambah ketidakpastian di tengah volatilitas pasar yang sedang berlangsung.

    Dampak pada Sektor Teknologi dan AI

    Penurunan tajam saham teknologi ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan AI yang melambung tinggi tidak lagi sejalan dengan fundamental bisnis. Saham Nvidia, yang menjadi barometer industri AI, turun lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan, sementara Tesla turun hampir empat persen.

    Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi yang terlalu tinggi pada perusahaan teknologi yang menopang indeks pasar bisa menjadi risiko sistemik. Jika gelembung ini pecah, dampaknya bisa meluas ke seluruh perekonomian. Kondisi ini menjadi “gut check” besar bagi investor yang selama ini berkomitmen pada reli AI.

    Di tengah gejolak ini, inovasi teknologi lain terus berjalan. Robot Humanoid dengan saraf tiruan tengah diuji coba, menunjukkan bahwa meskipun pasar saham bergejolak, riset dan pengembangan AI tetap berlanjut.

    Implikasi bagi Pasar Global

    Jika penurunan hari Selasa bertahan, lebih dari US$1 triliun nilai pasar bisa lenyap dalam sehari. Ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam sejarah pasar saham AS. Kerugian yang meluas ke pasar internasional menunjukkan bahwa gejolak ini bersifat global, bukan hanya masalah domestik AS.

    Investor kini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. Apakah penurunan ini koreksi sementara atau awal dari penurunan yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat bergantung pada data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan teknologi dalam beberapa pekan mendatang.

    Bagi investor ritel dan institusi, momen ini menjadi pengingat bahwa valuasi pasar yang terlalu tinggi selalu mengandung risiko. Lompatan Peringkat di sektor energi hijau menunjukkan bahwa diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi penting dalam menghadapi volatilitas.

    Seperti yang dikatakan para trader JPMorgan, “gravitasi menghantam.” Pertanyaan besarnya adalah seberapa dalam dampaknya dan seberapa cepat pasar bisa pulih.

  • Meta Luncurkan Kacamata Pintar Tanpa Brand Ray-Ban, Harga Mulai $299

    Meta Luncurkan Kacamata Pintar Tanpa Brand Ray-Ban, Harga Mulai $299

    JBNews.id — Meta resmi meluncurkan tiga model kacamata pintar baru tanpa kemitraan brand mewah, dengan banderol harga mulai $299 atau setara dengan harga generasi pertama perangkat tersebut. Langkah ini menjadi strategi perusahaan untuk membangun identitas merek sendiri di pasar perangkat wearable.

    Pada Selasa lalu, perusahaan memperkenalkan tiga varian baru: Adventurer, Fury, dan Starfire. Harga awal $299 ini sama dengan harga peluncuran kacamata pintar generasi pertama Meta, namun jauh lebih murah dibandingkan Ray-Ban Gen 2 yang dirilis tahun lalu. Perbedaan utama terletak pada tidak adanya branding Ray-Ban atau Oakley, sehingga perangkat ini hanya disebut sebagai Meta Glasses.

    Meski tanpa label mewah, Meta tetap bekerja sama dengan konglomerat kacamata EssilorLuxottica untuk memproduksi dan mendistribusikan produk baru ini. Konsumen tetap bisa membelinya di toko kacamata seperti LensCrafters, baik dengan lensa resep maupun tanpa resep dengan rentang daya -12 hingga +2.25. Produk ini sudah mulai dijual hari ini.

    Ketiga model Meta Glasses memiliki bentuk bingkai yang berbeda. Meta Adventurer hadir dengan bentuk persegi panjang klasik dalam ukuran standar dan besar. Meta Fury memiliki bentuk serupa namun tidak terlalu kotak. Kedua desain ini menawarkan 26 kustomisasi yang bisa dipilih pembeli, termasuk lensa berwarna dan berbagai warna bingkai seperti Racing Green atau Sandstone.

    Kolaborasi dengan Kylie Jenner

    Model Meta Starfire menjadi varian yang paling menonjol. Didesain bekerja sama dengan Kylie Jenner, edisi khusus ini memiliki kemiripan dengan kacamata Gentle Monster bertenaga Google yang akan diluncurkan tahun ini. Terdapat batu permata kecil di lensa, bantalan hidung logam untuk mencegah penyerapan makeup, serta asisten suara Meta AI dengan versi suara buatan Jenner yang dilengkapi suara khas lainnya. Kotak penyimpanannya juga menyertakan catatan dari Jenner dan cermin built-in.

    Meta melakukan tiga perubahan utama untuk meningkatkan kenyamanan pemakaian. Pertama, bantalan hidung yang dapat disesuaikan dengan kemiringan tiga arah. Kedua, ujung pelipis yang bisa diatur berkat kawat inti. Ketiga, engsel overextension yang membuat lengan kacamata sedikit melebar saat dipasang, memudahkan pengguna dengan kepala lebar mendapatkan ukuran yang pas.

    Spesifikasi dan Fitur

    Spesifikasi hardware sebagian besar sama dengan Ray-Ban Meta Gen 2, termasuk kemampuan memotret 12 megapiksel dan merekam video 3K. Terdapat enam mikrofon untuk menangkap perintah suara, speaker di lengan untuk mendengarkan musik atau podcast, serta kontrol sentuh untuk pemutaran musik. Daya tahan baterai mencapai 8 jam dengan sekali pengisian, dan kotak penyimpanan dapat menambah 40 jam daya tambahan.

    Meta juga menjual Meta Glasses Charging Stand baru, dudukan sederhana yang membebaskan pengguna dari ketergantungan pada kotak penyimpanan. Dudukan ini kompatibel dengan model Ray-Ban Meta, Oakley Meta HSTN, dan Meta Glasses. Tombol di lengan berfungsi untuk memotret, sementara tekan lama merekam video. Terdapat LED yang menandakan saat merekam atau memotret.

    Kacamata ini menjalankan model multimodal Muse Spark terbaru yang sudah diluncurkan ke perangkat yang ada melalui pembaruan perangkat lunak. Fitur baru termasuk Dynamic Photo yang menangkap beberapa bingkai dan merekomendasikan bidikan terbaik, serta petunjuk arah belokan demi belokan yang akan hadir segera.

    Menanggapi pertanyaan privasi tentang kamera pada kacamata pintar, Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth mengatakan perangkat ini menggunakan teknologi deteksi gangguan yang sama dengan Ray-Ban Gen 2. Namun ia menekankan bahwa ini adalah “permainan kucing-tikus dengan pelaku jahat” dan perusahaan melakukan segala upaya untuk memperkenalkan perlindungan privasi yang lebih kuat.

    Belum ada teknologi pengenalan wajah pada Meta Glasses baru ini. Ankit Brahmbhatt, direktur senior Manajemen Produk untuk AI Glasses di Meta, menyatakan tidak ada rencana untuk pengenalan wajah karena bukan fokus perusahaan saat ini.

    Peluncuran ini terjadi di tengah masa sulit hubungan Meta dengan karyawannya. Bosworth sendiri mengirim memo internal kepada karyawan pekan lalu yang menjanjikan komunikasi lebih baik, stabilitas, dan tunjangan tempat kerja untuk meningkatkan moral yang berada di titik terendah sepanjang masa. Situasi ini semakin diperparah dengan kebocoran data 45.000 karyawan yang memaksa penghentian program AI.

    Tujuan Meta dengan kacamata ini adalah memasangkannya ke lebih banyak wajah. “Ini lebih dari sekadar apakah pas—kesesuaian dan kenyamanan sangat penting untuk diperbaiki—tetapi juga brand pribadi Anda,” kata Bristol. “Ini adalah keputusan yang sangat penting jika kami ingin orang memakainya sebagai kacamata sehari-hari.” Jika lebih banyak orang mulai memakai Meta Glasses, itu berarti lebih banyak orang menggunakan Meta AI.

    Bosworth percaya kekhawatiran privasi serupa dengan yang terjadi saat smartphone pertama kali memasukkan kamera berkualitas tinggi ke saku kita. “Ada hal normalisasi sosial yang harus terjadi,” ujarnya. “Kacamata ini sangat populer… itu tidak berarti kami tidak khawatir tentang setiap kasus pinggiran.”

    Peluncuran ini juga terjadi di tengah pergantian kepemimpinan setelah Meta menunjuk CEO baru WhatsApp, menggantikan Will Cathcart dengan pendiri Cred. Sementara itu, kondisi internal perusahaan terus memburuk dengan moral karyawan yang ambruk meskipun bos sudah menjanjikan berbagai perbaikan.

  • Schneider OffGrid Portable Power Station Resmi di Indonesia

    Schneider OffGrid Portable Power Station Resmi di Indonesia

    JBNews.id — Schneider Electric resmi meluncurkan Schneider OffGrid Portable Power Station di Indonesia, sebuah perangkat daya portabel yang dirancang untuk aktivitas luar ruangan seperti kemah dan mendaki, sekaligus menjadi sumber listrik cadangan saat terjadi pemadaman. Peluncuran ini menandai langkah strategis perusahaan dalam menjawab kebutuhan energi yang semakin mobile di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Schneider menilai kebutuhan akan sumber listrik yang praktis dan mudah dibawa semakin penting, terutama bagi pengguna yang ingin tetap terhubung meski berada jauh dari jaringan listrik. Perangkat ini mampu mengisi daya berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone, laptop, kamera, hingga perangkat berdaya rendah lainnya.

    Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Schneider OffGrid Portable Power Station dibekali beragam opsi konektivitas seperti stopkontak AC, USB-A, USB-C, port DC, soket mobil tambahan, hingga fitur pengisian daya nirkabel. Kehadiran produk ini menjadi solusi bagi mereka yang kerap beraktivitas di luar ruangan atau tinggal di daerah dengan pasokan listrik tidak stabil.

    “Peluncuran Schneider OffGrid Portable Power Station mencerminkan misi kami untuk menghadirkan akses energi yang lebih inklusif, andal, dan berkelanjutan bagi semua orang, di mana pun mereka berada. Kami memahami bahwa kebutuhan listrik saat ini tidak hanya terbatas di rumah atau kantor, tetapi juga di luar ruang, baik untuk pekerjaan, gaya hidup, maupun kondisi darurat,” ujar Ellya Cen, Business Vice President Data Center Schneider Electric Indonesia dalam keterangan resmi.

    Menurut Ellya, perangkat ini hadir dengan desain premium, ringan, namun tetap tangguh sehingga cocok digunakan dalam berbagai situasi. Mulai dari berkemah dan mendaki hingga menjadi sumber daya cadangan ketika listrik padam. Perangkat ini juga kompatibel dengan panel surya, memberikan fleksibilitas pengisian daya yang lebih luas.

    Fleksibilitas Pengisian Daya dan Keunggulan Lingkungan

    Salah satu keunggulan utama Schneider OffGrid adalah fleksibilitas pengisian dayanya. Selain dapat diisi menggunakan stopkontak rumah dan soket mobil, perangkat ini juga kompatibel dengan panel surya. Kemampuan tersebut membuatnya cocok digunakan dalam aktivitas outdoor berkepanjangan maupun di lokasi yang sulit dijangkau jaringan listrik.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Schneider juga mengklaim perangkat ini beroperasi sangat senyap dan bebas emisi. Dibandingkan generator berbahan bakar bensin, solusi ini dinilai lebih ramah lingkungan dan nyaman digunakan, baik di area perkemahan maupun lingkungan rumah. Untuk menunjang keamanan dan kenyamanan pengguna, Schneider OffGrid dilengkapi lampu LED ambient serta mode SOS berkedip yang dapat dimanfaatkan dalam situasi darurat.

    Tersedia pula layar LCD yang memudahkan pengguna memantau kapasitas baterai dan status pengoperasian secara real-time. Fitur-fitur ini menjadikan perangkat ini tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi juga alat keselamatan yang andal saat berada di alam terbuka.

    Keberlanjutan dan Desain Ramah Lingkungan

    Aspek keberlanjutan turut menjadi perhatian dalam pengembangan produk ini. Schneider OffGrid dibuat menggunakan 60% bahan plastik daur ulang pascakonsumsi dan dikemas dengan material yang 100% dapat didaur ulang. Selain itu, fitur Eco Mode akan mematikan daya secara otomatis saat tidak digunakan guna membantu menghemat energi.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Langkah ini sejalan dengan tren global di mana konsumen semakin peduli terhadap dampak lingkungan dari produk yang mereka gunakan. Dengan komitmen pada bahan daur ulang dan efisiensi energi, Schneider Electric berupaya memberikan solusi yang tidak hanya fungsional tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis.

    Perangkat ini juga dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Material yang digunakan memastikan ketahanan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan benturan ringan, sehingga cocok untuk petualangan di alam terbuka. Pengguna tidak perlu khawatir perangkat akan cepat rusak meski digunakan dalam kondisi lapangan yang berat.

    Harga dan Ketersediaan di Indonesia

    Schneider OffGrid Portable Power Station kini sudah tersedia di Indonesia melalui situs resmi Schneider Electric, toko resmi APC, serta berbagai platform e-commerce. Perangkat ini dipasarkan dengan harga mulai Rp 4,9 juta. Dengan harga tersebut, perangkat ini menawarkan nilai kompetitif dibandingkan generator portabel konvensional yang lebih besar, berisik, dan menghasilkan emisi.

    Schneider OffGrid Portable Power Station

    Bagi para penggemar aktivitas outdoor, investasi sebesar Rp 4,9 juta untuk perangkat yang bisa mengisi daya berbagai perangkat elektronik selama berhari-hari di alam terbuka terbilang masuk akal. Apalagi dengan kemampuan pengisian via panel surya, biaya operasional jangka panjang bisa ditekan seminimal mungkin.

    Kehadiran Schneider OffGrid Portable Power Station di Indonesia juga membuka peluang bagi para pelaku industri pariwisata dan penyedia jasa camping ground untuk menawarkan fasilitas listrik portabel kepada pengunjung. Ini bisa menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dari kompetitor.

    Perangkat ini juga relevan bagi mereka yang tinggal di daerah rawan pemadaman listrik. Dengan kapasitas baterai yang memadai, Schneider OffGrid bisa menjadi andalan saat listrik padam untuk menyalakan lampu darurat, mengisi daya ponsel, atau bahkan menjalankan perangkat medis portabel.

    Schneider Electric, sebagai perusahaan global yang sudah lama beroperasi di Indonesia, memberikan garansi dan layanan purna jual yang memadai untuk produk ini. Konsumen bisa mendapatkan dukungan teknis melalui jaringan layanan resmi yang tersebar di berbagai kota besar.

    Dengan berbagai fitur unggulan yang ditawarkan, mulai dari fleksibilitas pengisian daya, desain ramah lingkungan, hingga harga yang kompetitif, Schneider OffGrid Portable Power Station menjadi pilihan menarik bagi siapa pun yang membutuhkan sumber listrik portabel yang andal dan berkelanjutan.

    Bagi kamu yang tertarik dengan teknologi portabel terbaru, jangan lewatkan juga artikel tentang FSR 4.1 dari AMD yang dirilis untuk Radeon RX 7000, atau kabar terbaru tentang AI Assistant dari Adobe untuk aplikasi Creative Cloud mereka.

    Implikasinya jelas: dengan semakin banyaknya perangkat elektronik yang kita bawa saat bepergian, kebutuhan akan sumber daya portabel yang andal menjadi semakin krusial. Schneider OffGrid Portable Power Station menawarkan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi juga melakukannya dengan cara yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

  • NASA Deteksi Air Hangat Raksasa, Sinyal El Nino 2026 Menguat

    NASA Deteksi Air Hangat Raksasa, Sinyal El Nino 2026 Menguat

    JBNews.id — Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan mitranya di Eropa tengah melacak penumpukan besar air hangat di Samudra Pasifik yang menjadi sinyal kuat kedatangan fenomena El Nino pada akhir tahun 2026. Data dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich menunjukkan hamparan luas air hangat tidak biasa telah mencapai perairan di lepas pantai Amerika Selatan.

    Fenomena ini dapat berdampak sangat luas, membawa curah hujan berlebihan ke beberapa wilayah, sementara membuat wilayah lainnya menjadi luar biasa kering. Pergeseran pola cuaca tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian, transportasi, sumber daya air, dan perekonomian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

    Satelit NASA Lacak Gelombang Kelvin

    Satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan tahun 2020 oleh NASA dan dipimpin oleh ESA (Badan Antariksa Eropa) untuk Program Copernicus Uni Eropa, memiliki peran krusial dalam pemantauan ini. Satelit tersebut mengukur ketinggian permukaan laut di seluruh samudra dunia setiap 10 hari dengan tingkat presisi hingga sepersekian inci. Salah satu tugas utamanya adalah memantau fitur perairan hangat yang dikenal sebagai gelombang Kelvin, yang terkait erat dengan perkembangan El Nino.

    Gelombang Kelvin biasanya dimulai ketika pola angin di wilayah Pasifik ekuator ujung barat secara singkat berbalik arah. Alih-alih angin timur yang biasanya bertiup dari timur ke barat, justru angin barat yang berkembang. Dikombinasikan dengan melemahnya angin timur secara lebih luas di khatulistiwa, kondisi ini menyebabkan perairan tropis di Pasifik barat menghangat dan permukaan laut pun naik. Gelombang air hangat yang dihasilkan kemudian bergerak ke timur melintasi Pasifik selama beberapa minggu. Ketika mencapai Amerika Selatan, suhu samudra dan permukaan laut di dekat pantai meningkat secara signifikan.

    El Nino terbentuk ketika beberapa gelombang Kelvin ini terjadi selama periode berbulan-bulan, menyebabkan air hangat menumpuk dalam jumlah besar. Dalam misi terbarunya, NASA juga terus memantau berbagai fenomena antariksa, termasuk Maraton 42,2 Km yang berhasil diselesaikan oleh robot Perseverance di permukaan Mars.

    Perbandingan dengan El Nino Sebelumnya

    “Meskipun fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat dari El Nino besar pada tahun 2015 dan 1997, fenomena ini mulai mengejar ketertinggalannya,” ujar Josh Willis, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California Selatan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa potensi kekuatan El Nino 2026 tidak bisa dianggap remeh.

    Istilah El Nino sendiri sudah ada sejak tahun 1600-an, ketika nelayan menyadari bahwa kondisi samudra yang lebih hangat sering memuncak sekitar hari Natal. Mereka menyebut fenomena ini El Nino, bahasa Spanyol untuk “anak laki-laki,” yang merujuk pada kelahiran bayi Yesus. Perairan yang lebih hangat saat itu membuat tangkapan ikan mereka berkurang drastis.

    Dampak El Nino terhadap Cuaca Global

    Saat suhu permukaan laut meningkat di Pasifik tengah dan timur, hal ini dapat mengubah sirkulasi atmosfer dunia. Salah satu efek pentingnya adalah pergeseran aliran jet yang memengaruhi jalur pergerakan badai. Akibatnya, beberapa wilayah mungkin mengalami curah hujan atau hujan salju lebih lebat, sementara wilayah lain mengalami kondisi luar biasa panas dan kering.

    Jangkauan geografis dari dampak-dampak tersebut sangat bergantung pada seberapa kuat fenomena El Nino terjadi. El Nino yang lebih moderat, seperti yang dimulai tahun 2018 dan 2023, menyebabkan kekeringan dan banjir terutama di dalam dan di sekitar wilayah Pasifik tropis. Sementara peristiwa yang lebih kuat, termasuk El Nino 2015-2016, dampaknya jauh lebih luas, seperti berkontribusi terhadap kekeringan di Afrika dan banjir besar di California.

    Fenomena El Nino biasanya mencapai puncaknya antara bulan November dan Januari, yang berarti butuh beberapa bulan lagi sebelum keseluruhan dampak pada tahun ini terlihat jelas. “Setiap El Nino berbeda. Namun, fenomena ini hampir selalu menyebabkan datangnya tahun yang panas dan perubahan besar curah hujan di berbagai belahan dunia,” ujar peneliti permukaan laut JPL Severine Fournier, yang juga wakil ilmuwan proyek untuk Sentinel-6 Michael Freilich.

    Dalam konteks eksplorasi antariksa yang lebih luas, NASA juga tengah mengerjakan berbagai proyek ambisius, termasuk Misi Aeolus ke Mars yang digarap oleh Relativity Space.

    Implikasi untuk Indonesia

    Bagi Indonesia, yang terletak di wilayah tropis dan dekat dengan Samudra Pasifik, dampak El Nino biasanya dirasakan dalam bentuk musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menyebabkan krisis air bersih di berbagai daerah.

    Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi dini. Pemantauan data dari satelit seperti Sentinel-6 Michael Freilich menjadi sangat penting untuk memberikan informasi akurat mengenai perkembangan fenomena ini. Dengan memahami skala dan kekuatan El Nino yang akan datang, berbagai sektor dapat mempersiapkan diri untuk meminimalkan dampak negatifnya.

    Dengan data yang terus dikumpulkan oleh NASA dan ESA, dunia kini memiliki alat yang lebih baik untuk memprediksi dan bersiap menghadapi fenomena iklim ekstrem ini. Implikasi faktualnya jelas: pemantauan berkelanjutan dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk menghadapi perubahan cuaca global yang dipicu oleh El Nino 2026.

  • Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta pada 2031

    Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta pada 2031

    JBNews.id — Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026 memproyeksikan jumlah pengguna 5G di Indonesia akan melonjak drastis dari 22 juta pada 2025 menjadi 213 juta pada 2031. Lonjakan ini setara dengan 59 persen dari total pengguna seluler di tanah air, menjadikan 5G sebagai tulang punggung transformasi digital nasional.

    Laporan yang dirilis oleh Ericsson pada Selasa (23/6/2026) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 3,1 miliar pengguna 5G di seluruh dunia hingga kuartal I-2026. Angka global ini diproyeksikan akan tumbuh menjadi 6,4 miliar pada tahun 2031, didorong oleh ekspansi operator di berbagai kawasan.

    “Karena sekarang sudah ada hampir majority dari operator-operator seluruh dunia itu, sudah ada 390 aktif operator di dunia yang sedang launching 5G, jadi yang kita lihat growing terus,” kata Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia dalam media briefing di Jakarta, Rabu (23/6/2026).

    Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, adopsi 5G pada 2025 baru mencapai 14 persen, sementara koneksi 4G masih mendominasi dengan 76 persen. Ericsson meramalkan pada 2031 adopsi 5G di kawasan ini akan tumbuh hingga 56 persen, yang dipimpin oleh Thailand, Vietnam, dan Filipina.

    Ilustrasi 5G

    Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia, menegaskan bahwa 5G telah menjadi infrastruktur kritis bagi pertumbuhan ekonomi digital nasional. “Sekali lagi, 5G menjadi critical infrastructure, infrastruktur yang vital untuk pertumbuhan digital economy. Dan kita lihat, ini akan membantu mencapai target Indonesia Digital 2045,” ujarnya.

    Laporan Ericsson juga menyoroti pentingnya ketersediaan frekuensi mid-band seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz untuk memperluas cakupan 5G. Perusahaan berharap lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang telah dibuka oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan mempercepat penetrasi 5G di Indonesia.

    “Mid band ini sebenarnya yang sangat penting untuk menggunakan 5G secara, potensinya secara full,” jelas Stanis. “Kalau ini dikombinasi dengan full coverage, dan kemudian ditambah dengan 5G yang kita pakai sekarang, misalnya di 1.800, 2.100, atau lebih 2.300 yang kita sebut low-band itu makin membuat mobility sama full coverage menjadi lebih baik,” imbuhnya.

    Meskipun adopsi 5G global saat ini belum merata, Ericsson telah mulai menerawang evolusi jaringan berikutnya, yaitu 6G. Spesifikasi awal 6G diperkirakan akan diselesaikan pada akhir tahun 2028 atau awal tahun 2029, dengan peluncuran layanan komersial pertama diprediksi terjadi pada tahun 2030.

    “Prediksinya ketika launching di 2031, itu market utama yang biasanya duluan itu adalah China, Jepang, Korea Selatan, kemudian negara-negara Teluk,” ucap Stanis.

    Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia (kiri) dan Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia

    Proyeksi pertumbuhan 5G di Indonesia ini sejalan dengan perkembangan teknologi global. Sementara itu, inovasi di sektor lain juga terus berlanjut, seperti yang terlihat pada Perseverance NASA yang baru saja menyelesaikan maraton di Mars.

    Bagi industri telekomunikasi dan pelaku bisnis di Indonesia, lonjakan pengguna 5G ini membuka peluang besar untuk pengembangan layanan berbasis konektivitas cepat. Dari sisi regulasi, pemerintah melalui Komdigi diharapkan dapat mempercepat realisasi lelang frekuensi untuk mendukung target ambisius ini. Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati seiring dengan prediksi akuisisi besar di industri teknologi global.

    Dengan proyeksi 213 juta pengguna pada 2031, Indonesia dipastikan akan menjadi salah satu pasar 5G terbesar di Asia Tenggara. Hal ini menuntut kesiapan infrastruktur dan regulasi yang matang agar potensi ekonomi digital nasional dapat tergarap secara optimal.

    [CONTENT_END]