Category: Jabar

  • Persib Kejar Rekor, Arema Siap Jadi Kuda Hitam di Bandung

    Persib Kejar Rekor, Arema Siap Jadi Kuda Hitam di Bandung

    Jbnews.id – Persib Bandung akan menjamu Arema FC pada pekan ke-29 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026) pukul 19.00 WIB. Laga ini menjadi ujian krusial bagi Maung Bandung yang tengah memburu rekor tak terkalahkan, sekaligus bagi Singo Edan yang ingin mempertahankan tren positif mereka.

    Bermain di kandang sendiri, tekanan jelas berada di pundak Persib. Tim asuhan Bojan Hodak saat ini kokoh di puncak klasemen dengan koleksi 65 poin dari 28 pertandingan. Konsistensi sepanjang musim menjadi kunci keberhasilan mereka, termasuk catatan impresif 16 laga beruntun tanpa kekalahan. Rekor ini menjadi modal sekaligus beban tersendiri saat berhadapan dengan Arema yang tengah percaya diri.

    Dukungan puluhan ribu Bobotoh di Stadion GBLA diperkirakan akan menjadi energi tambahan. Atmosfer kandang kerap menjadi faktor pembeda dalam laga-laga krusial. Namun, tekanan untuk terus menang dan menjaga rekor bisa menjadi bumerang jika tim tidak mampu mengelola ekspektasi. Sebelumnya, Persib harus puas bermain imbang 2-2 melawan Dewa United, hasil yang membuat Persib Bandung imbangi Dewa United dan mempersempit jarak dengan pesaing.

    Di sisi lain, Arema FC datang dengan kepercayaan diri tinggi. Singo Edan sedang dalam tren positif dengan catatan tiga laga terakhir tanpa kekalahan. Tim besutan Marquinto Santos kini berada di posisi ke-11 dengan 38 poin. Meski belum menembus papan atas, Arema menunjukkan peningkatan performa signifikan di fase akhir musim.

    Dari segi permainan, Persib mengandalkan keseimbangan lini tengah yang dihuni Marc Klok, Thom Haye, dan Adam Alis, serta ketajaman lini depan yang diisi Ramon Tanque. Sementara Arema diprediksi akan bermain lebih defensif dan mengandalkan serangan balik cepat. Hasil imbang Persib sebelumnya membuat Persib diimbangi Dewa United dan membuat Borneo FC semakin mendekati puncak klasemen.

    Laga ini diprediksi berlangsung sengit. Persib butuh kemenangan untuk menjauh dari kejaran Borneo FC dan tim-tim papan atas lainnya. Arema, di sisi lain, ingin membuktikan bahwa tren positif mereka bukan sekadar kebetulan. Dengan tekanan kandang dan motivasi tinggi dari kedua tim, duel di GBLA layak dinantikan.

    Implikasi dari hasil laga ini akan terlihat pada peta persaingan di papan atas. Jika Persib menang, jarak poin dengan pesaing akan kembali melebar. Namun, jika Arema berhasil mencuri poin, persaingan menuju gelar juara akan semakin ketat. Publik sepak bola Indonesia pun menanti apakah rekor tak terkalahkan Persib akan bertahan atau justru berakhir di tangan Arema.

  • Ancaman El Nino 2026, Pemkab Bandung Barat Siapkan Strategi Air

    Ancaman El Nino 2026, Pemkab Bandung Barat Siapkan Strategi Air

    Jbnews.id – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengantisipasi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino yang diprediksi memicu musim kemarau panjang pada 2026. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bandung Barat, Lukman Nurhakim, menegaskan bahwa meskipun fenomena ini bukan hal baru, kesiapan dan strategi matang tetap diperlukan untuk menekan dampaknya terhadap sektor pertanian.

    “Persoalan ini besar, tetapi dampaknya harus bisa ditekan. Saat ini teknologi semakin berkembang, termasuk prediksi cuaca dari BMKG, sehingga petani bisa lebih siap,” ujar Lukman, Kamis (23/4/2026). Prediksi menunjukkan bahwa kekeringan diperkirakan berlangsung hingga November, berpotensi menekan produktivitas, khususnya pada komoditas padi.

    Meski menghadapi ancaman iklim, Lukman menyebut Bandung Barat masih mencatat surplus pangan. Produksi pertanian dinilai mampu melampaui kebutuhan masyarakat setempat. Namun, tantangan muncul pada distribusi hasil panen, mengingat sebagian produksi juga dipasok ke wilayah sekitar seperti Kota Bandung dan Cimahi. Untuk menjaga stabilitas pasokan, Pemkab telah membuka Kios Pangan sebagai upaya menekan harga dan mendukung petani.

    Menurut Lukman, faktor kunci dalam keberhasilan pertanian adalah ketersediaan air. “Selain benih, pupuk, dan biaya produksi, kunci keberhasilan pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air,” jelasnya. Hal ini menjadi dasar bagi Pemkab Bandung Barat untuk menyiapkan langkah strategis menghadapi potensi krisis.

    Langkah Strategis Pemkab Bandung Barat

    Untuk menghadapi potensi krisis kekeringan, Pemkab Bandung Barat menyiapkan berbagai langkah strategis. Di antaranya pengembangan irigasi perpompaan dari sumber air permukaan dan air tanah, pembangunan jaringan irigasi perpipaan, pembuatan embung sebagai penampung air hujan, pembangunan dam parit, hingga optimalisasi pompa air yang sudah tersedia.

    Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan air tetap tersedia bagi lahan pertanian selama musim kemarau panjang. Inisiatif serupa juga dilakukan di daerah lain, seperti upaya Tekan Inflasi yang dilakukan oleh Wabup Tangerang melalui program GASPOL.

    Dengan strategi ini, Pemkab Bandung Barat berharap dapat meminimalkan dampak El Nino terhadap produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan di wilayah tersebut. Keberhasilan langkah ini akan sangat bergantung pada implementasi di lapangan dan koordinasi dengan petani serta instansi terkait.

    Sementara itu, di sektor lain, pemerintah juga terus memantau kondisi sosial, termasuk insiden Keracunan Siswa di Karawang yang menyebabkan penutupan SPPG. Semua upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan di tahun 2026.

    Implikasi dari strategi air ini akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, saat musim kemarau diprediksi mencapai puncaknya. Masyarakat dan petani di Bandung Barat diharapkan dapat memanfaatkan infrastruktur yang disiapkan untuk menjaga produktivitas pertanian.

  • Proyek Rp15,8 Miliar Gedung Sate-Gasibu Picu Aksi Kamisan Bandung

    Proyek Rp15,8 Miliar Gedung Sate-Gasibu Picu Aksi Kamisan Bandung

    Jbnews.id – Aksi Kamisan Bandung pada Kamis, 23 April 2026, berlangsung berbeda dari biasanya. Alih-alih digelar di Taman Vanda, aksi kali ini dipusatkan di Jalan Diponegoro, tepatnya di antara halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Pemindahan lokasi ini merupakan respons langsung terhadap proyek penyatuan kedua kawasan yang menelan anggaran Rp15,8 miliar. Massa aksi mempertanyakan urgensi proyek senilai tersebut di tengah minimnya sosialisasi dan kajian dampak lalu lintas.

    Proyek revitalisasi yang menyatukan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu ini telah memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Aktivis Geourban, Ricky N. Sas, bahkan meluncurkan petisi daring berjudul “Dedi, Jangan Rampas Jalan Umum Demi Ambisi Pribadi!” yang hingga Kamis malam telah ditandatangani 2.413 orang. Angka ini menunjukkan tingkat keprihatinan publik yang signifikan terhadap kebijakan yang dinilai mengabaikan fungsi jalan umum.

    Ricky mengungkapkan bahwa awalnya ia ragu untuk membuat petisi tersebut. Ia sadar bahwa pemerintahan Indonesia kerap tidak gentar menghadapi petisi rakyat. Namun, setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak, ia memutuskan untuk tetap meluncurkannya. “Petisi ini penting untuk mengukur bagaimana partisipasi publik memahami masalah yang ada,” ujarnya di sela-sela Aksi Kamisan Bandung, Kamis, 23 April 2026.

    Kekhawatiran utama yang mendasari aksi dan petisi ini adalah hilangnya fungsi Jalan Diponegoro. Jalan yang selama ini menjadi akses vital bagi warga Bandung itu ditutup untuk mendukung proyek penyatuan. “Kita tahu kan daerah ini kawasan-kawasan sibuk, bila jalan dihilangkan, artinya ada fungsi jalan yang berkurang,” tegas Ricky. Ia menambahkan, media massa juga telah memberitakan bahwa proyek ini tidak memiliki perencanaan yang jelas.

    Proyek senilai Rp15,8 miliar ini sebelumnya telah menuai sorotan dari berbagai pihak. DPRD Jawa Barat, misalnya, secara khusus menyoroti besaran anggaran revitalisasi yang mencapai Rp12 miliar untuk tahap awal. Ketidakjelasan kajian dampak lalu lintas dan tidak adanya uji publik menjadi titik kritis yang terus didesak oleh masyarakat dan aktivis. Untuk memahami lebih dalam soal sorotan legislatif, pembaca dapat menyimak laporan DPRD Jabar Soroti revitalisasi tersebut.

    Kekhawatiran akan kemacetan baru menjadi isu sentral dalam aksi Kamisan kali ini. Para peserta aksi menilai, penutupan Jalan Diponegoro tanpa kajian komprehensif hanya akan mengalihkan beban lalu lintas ke ruas jalan lain yang sudah padat. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya jaminan dari pemerintah daerah mengenai solusi transportasi alternatif yang memadai. Wacana penolakan serupa sebelumnya juga telah mengemuka dan menjadi perhatian publik, seperti yang diberitakan dalam artikel Penolakan Proyek Penyatuan oleh warga.

    Aksi Kamisan Bandung yang biasanya digelar di Taman Vanda, kali ini memilih lokasi yang lebih simbolis. Berdiri di antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, para peserta secara langsung merasakan dampak dari proyek yang mereka kritik. Mereka menuntut transparansi total atas perencanaan proyek dan pembatalan kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat luas. “Ini bukan soal menolak pembangunan, tapi soal tata kelola yang baik,” ujar salah satu peserta aksi.

    Petisi yang digagas Ricky N. Sas menjadi salah satu instrumen perlawanan warga. Meskipun diakui bahwa petisi kerap diabaikan pemerintah, Ricky berharap setidaknya petisi ini bisa menjadi data partisipasi publik yang valid. “Kami ingin menunjukkan bahwa ada ribuan orang yang peduli dan menolak kebijakan ini,” imbuhnya. Petisi tersebut hingga saat ini terus mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan mahasiswa.

    Proyek penyatuan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu sendiri merupakan bagian dari visi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menciptakan ruang publik yang lebih luas dan representatif. Namun, realisasi di lapangan justru menuai kontroversi karena dianggap mengabaikan aspek fungsional jalan dan kebutuhan mobilitas warga. Kritik juga datang dari para ahli tata kota yang menilai proyek ini tidak memiliki perencanaan transportasi yang terintegrasi.

    Isu relokasi warga juga menjadi perhatian dalam konteks pembangunan di Jawa Barat. Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Dedi Mulyadi sempat membuat janji terkait relokasi warga di kawasan Situ Ciburuy. Namun, janji tersebut kini dipertanyakan oleh warga setempat. Informasi lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak dalam laporan Janji Relokasi Dedi yang menjadi sorotan.

    Di tengah kontroversi proyek senilai miliaran rupiah ini, pemerintah daerah justru tengah mempersiapkan program pendidikan baru. Sekolah Maung Jabar, misalnya, dikabarkan siap dibuka pada tahun ajaran mendatang. Program ini menjadi salah satu prioritas Gubernur Dedi Mulyadi di bidang pendidikan. Detail mengenai program ini dapat dibaca dalam artikel Sekolah Maung Jabar.

    Aksi Kamisan Bandung kali ini menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan publik, terutama yang menyangkut ruang dan mobilitas warga, harus melalui proses partisipasi yang inklusif. Kegagalan dalam melakukan uji publik dan kajian dampak lalu lintas yang komprehensif hanya akan melahirkan resistensi dari masyarakat. Petisi dengan ribuan tanda tangan dan aksi di lapangan menjadi bukti bahwa publik tidak lagi pasif menerima kebijakan yang dianggap merugikan.

    Para aktivis dan warga yang tergabung dalam Aksi Kamisan Bandung berjanji akan terus mengawal isu ini. Mereka menuntut agar pemerintah daerah membuka data perencanaan proyek secara transparan dan menggelar forum publik untuk mendengarkan aspirasi warga. “Kami tidak akan berhenti sampai ada kejelasan dan keadilan,” tegas salah satu orator dalam aksi tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengenai tuntutan para pengunjuk rasa.

  • TPT Bandung Barat Turun Tipis ke 6,6 Persen, Didominasi Lulusan Rendah

    TPT Bandung Barat Turun Tipis ke 6,6 Persen, Didominasi Lulusan Rendah

    Jbnews.id – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tercatat sebesar 6,6 persen pada 2025, turun tipis dari 6,7 persen pada tahun sebelumnya. Meski menunjukkan perbaikan, angka tersebut masih tergolong tinggi dan didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

    Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) pada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) KBB, Dewi Andini, menyatakan bahwa penurunan ini merupakan sinyal positif. “Memang ada penurunan, meskipun hanya sekitar 0,01 persen. Ini tetap menjadi sinyal positif bahwa upaya penekanan pengangguran mulai menunjukkan hasil,” ujar Dewi, Kamis 23 April 2026.

    Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah penduduk bekerja pada 2024 mencapai 1.443.076 orang, dengan pengangguran sebanyak 65.609 orang. Sementara pada 2025, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 1.459.325 orang, namun jumlah pengangguran juga naik menjadi 67.927 orang. Kenaikan jumlah absolut pengangguran ini mengindikasikan bahwa laju penyerapan tenaga kerja belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan komposisi tenaga kerja di Bandung Barat masih didominasi oleh lulusan pendidikan rendah. Per Agustus 2025, sebanyak 39,10 persen penduduk bekerja merupakan lulusan SD ke bawah. Sementara lulusan diploma dan perguruan tinggi hanya menyumbang 1,92 persen. “Terdapat tren peningkatan pada tenaga kerja lulusan SMP, SMA dan SMK yang naik sebesar 2,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ucap Dewi.

    Ia menegaskan bahwa data BPS menjadi acuan utama dalam melihat kondisi ketenagakerjaan secara objektif. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan BPS untuk memahami metode perhitungan TPT secara lebih komprehensif. Dewi mengakui bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) turut memengaruhi angka pengangguran, meski dampaknya baru akan terlihat pada akumulasi data di tahun berikutnya.

    Dominasi lulusan pendidikan dasar dan menengah di pasar tenaga kerja KBB menjadi tantangan struktural. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan yang tersedia sebagian besar tidak memerlukan kualifikasi tinggi. Untuk mengatasi hal ini, Disnaker KBB terus menggenjot program pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Upaya ini sejalan dengan langkah pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan kompetensi.

    Ke depan, pemerintah daerah perlu memperkuat sinergi dengan sektor swasta dan pelaku usaha kecil untuk menciptakan lapangan kerja baru. Langkah seperti yang dilakukan Pemkot Tangsel dalam memperkuat UMKM bisa menjadi referensi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menekan angka pengangguran. Sementara itu, langkah evaluasi internal di dinas terkait, seperti yang terjadi di Cimahi, juga penting untuk memastikan program ketenagakerjaan berjalan efektif.

  • Dinkes Bandung: Kasus Hipertensi dan Diabetes Melonjak pada 2025

    Dinkes Bandung: Kasus Hipertensi dan Diabetes Melonjak pada 2025

    Jbnews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat lonjakan signifikan kasus penyakit tidak menular (PTM) sepanjang 2025, dengan hipertensi mencapai 198.980 kasus dan diabetes melitus sebanyak 44.218 kasus. Data ini menjadi sinyal peringatan serius bagi sistem kesehatan kota, terutama karena tren penyakit kini mulai merambah kelompok usia produktif dan anak-anak.

    Sekretaris Dinkes Kota Bandung, Dewi Ira Jani, mengungkapkan bahwa perubahan pola penyakit saat ini sudah bergeser secara drastis. Tidak lagi menunggu usia lanjut, penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan jantung kini mulai menyerang usia muda. “Sekarang tak mesti menunggu usia tua untuk terkena hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Jbnews.id.

    Data Dinkes Kota Bandung juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas pada anak. Berdasarkan hasil penjaringan di sekolah-sekolah, jumlah anak dengan berat badan berlebih terus bertambah setiap tahunnya. Kondisi ini dinilai sebagai faktor risiko utama yang dapat memicu penyakit kronis di masa depan. Jika tidak segera diintervensi, anak-anak yang mengalami obesitas berpotensi besar mengidap penyakit degeneratif saat memasuki usia produktif.

    Intervensi Kesehatan Dimulai dari Sekolah

    Dewi menegaskan bahwa sekolah menjadi titik awal strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Menurutnya, intervensi pada anak-anak dinilai paling efektif karena kebiasaan mereka masih bisa dibentuk. “Orang dewasa sudah punya kebiasaan, sehingga lebih sulit diubah. Berbeda dengan anak-anak yang masih bisa dibentuk. Karena itu kita mulai dari sekolah,” jelasnya.

    Konsep yang ditawarkan Dinkes Kota Bandung tidak hanya menyasar siswa secara individu, tetapi juga melibatkan seluruh ekosistem sekolah. Ini mencakup orangtua, guru, hingga pedagang di sekitar sekolah. Dewi menekankan bahwa semua pihak memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pola makan sehat.

    Pendekatan ini menjadi krusial mengingat anak-anak saat ini adalah generasi produktif yang akan menjadi tulang punggung menuju Indonesia Emas 2045. Jika sejak dini mereka sudah terpapar risiko penyakit kronis, maka target pembangunan sumber daya manusia unggul bisa terancam.

    Data dan Implikasi Kesehatan Masyarakat

    Angka 198.980 kasus hipertensi dan 44.218 diabetes melitus di Kota Bandung pada 2025 menunjukkan bahwa PTM telah menjadi beban kesehatan utama. Hipertensi sendiri merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Sementara diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi serius seperti kebutaan, amputasi, dan kerusakan saraf.

    Meningkatnya kasus obesitas pada anak menambah kekhawatiran. Obesitas pada anak tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Anak dengan obesitas lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan resistensi insulin sejak usia dini.

    Dewi mengingatkan bahwa intervensi pencegahan harus dilakukan secara komprehensif. Tidak cukup hanya dengan edukasi di sekolah, tetapi juga perlu pengawasan terhadap makanan yang dijual di kantin dan lingkungan sekitar sekolah. “Konsep ekosistem pangan sehat tak cuma menyasar siswa, tetapi melibatkan orangtua, guru, hingga pedagang di sekitar sekolah,” tegasnya.

    Data ini menjadi panggilan bagi pemerintah kota dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat program pencegahan PTM sejak usia dini. Tanpa intervensi yang serius, tren peningkatan kasus diperkirakan akan terus berlanjut dan membebani sistem kesehatan di masa depan.

  • Janji Relokasi Dedi Mulyadi Dipertanyakan Warga Situ Ciburuy

    Janji Relokasi Dedi Mulyadi Dipertanyakan Warga Situ Ciburuy

    Jbnews.id – Warga terdampak revitalisasi Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai mempertanyakan realisasi janji relokasi dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Mereka terpaksa bertahan di rumah kontrakan dengan beban ekonomi yang semakin berat pasca-pembongkaran rumah yang berlangsung sejak 18 September 2025.

    Sejak pembongkaran itu, puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal tetap dan menyewa rumah sebagai solusi sementara. Salah satu warga terdampak, Dewi (29), mengaku setiap bulan dihantui kekhawatiran terkait biaya kontrakan yang harus terus dibayar. Saat ini, ia tinggal di Kampung Sirnasari, Desa Ciburuy.

    “Setiap bulan pasti kepikiran bayar kontrakan. Takut kalau tidak bisa bayar, harus pindah lagi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026). Dewi mengungkapkan, ia sempat menerima bantuan uang kadeudeuh sebesar Rp10.000.000,00 dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun, dana tersebut kini telah habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sewa tempat tinggal. “Awalnya cukup membantu, tapi sekarang sudah habis. Kami jadi bingung harus bagaimana,” katanya.

    Warga mengaku mendukung program revitalisasi, namun butuh kepastian mengenai hunian pengganti. Janji relokasi yang disampaikan Dedi Mulyadi saat proses penertiban menjadi harapan utama mereka. Saat itu, warga memilih menerima pembongkaran dengan imbalan mendapatkan tempat tinggal baru.

    Kondisi ini menambah panjang daftar persoalan infrastruktur dan tata kelola di Jawa Barat. Sebelumnya, DPRD Jabar Soroti revitalisasi Gedung Sate-Gasibu senilai Rp12 miliar yang juga menuai kritik. Di sisi lain, Bupati Maesyal Tinjau pembongkaran bangunan liar di Kali Cirarab sebagai upaya penertiban serupa.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari Gubernur Dedi Mulyadi atau Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengenai jadwal pasti relokasi warga terdampak Situ Ciburuy. Warga berharap ada kejelasan agar mereka bisa merencanakan masa depan tanpa dibayangi ketidakpastian.

    Dalam konteks yang lebih luas, pengelolaan proyek revitalisasi di Jawa Barat menjadi sorotan. 49 Siswa Keracunan di Karawang dan penutupan SPPG menunjukkan tantangan tata kelola di berbagai sektor. Sementara itu, Tine Yowargana Targetkan kesejahteraan atlet Subang menjadi contoh lain dari komitmen daerah yang perlu diimplementasikan secara konsisten.

    Revitalisasi Situ Ciburuy sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi danau sebagai pengendali banjir dan sumber irigasi. Namun, tanpa kepastian relokasi, warga terdampak justru menghadapi beban ekonomi baru yang tidak kalah berat.

    Ke depan, warga berharap ada komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah dan masyarakat agar program revitalisasi tidak hanya berhasil secara fisik, tetapi juga berkeadilan sosial. Tanpa kepastian, janji relokasi berpotensi menjadi sumber kekecewaan baru di tengah masyarakat.

    Untuk informasi lebih lanjut, Dinas PUPR Cianjur Mulai perbaikan jalan berlubang Ciherang-Kadupandak sebagai bagian dari perbaikan infrastruktur yang juga dinanti masyarakat.

  • Tine Yowargana Targetkan Atlet Subang Sejahtera

    Tine Yowargana Targetkan Atlet Subang Sejahtera

    Jbnews.id – Calon Bupati Subang, Tine Yowargana, meluncurkan program unggulan bertajuk “Subang Ngabrett” yang secara spesifik menargetkan peningkatan kesejahteraan atlet dan prestasi olahraga di Kabupaten Subang. Inisiatif ini hadir di tengah kebutuhan mendesak akan perhatian serius terhadap dunia olahraga daerah.

    Program “Subang Ngabrett” dirancang untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi para atlet, pelatih, dan tenaga pendukung olahraga. Tine menekankan bahwa selama ini banyak atlet Subang berpotensi besar namun terkendala minimnya dukungan finansial dan fasilitas memadai. “Kami ingin atlet tidak lagi khawatir soal biaya hidup dan bisa fokus penuh pada latihan dan kompetisi,” ujar Tine dalam sebuah acara di Subang, April 2026.

    Lebih lanjut, Tine menyebutkan bahwa program ini akan mencakup pemberian beasiswa pendidikan, asuransi kesehatan, serta insentif prestasi bagi atlet yang mengharumkan nama Subang di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Data dari Dinas Pemuda dan Olahraga Subang menunjukkan bahwa pada tahun 2025, setidaknya 120 atlet Subang berhasil meraih medali di berbagai ajang, namun sebagian besar masih hidup di bawah garis kesejahteraan.

    “Subang Ngabrett bukan hanya soal menang di lapangan, tapi juga soal masa depan atlet setelah pensiun. Kami akan siapkan program transisi karir agar mereka punya bekal hidup,” tegas Tine. Pendekatan ini dinilai lebih holistik dibanding program serupa di daerah lain yang kerap hanya fokus pada prestasi jangka pendek.

    Selain kesejahteraan, Tine juga berencana merevitalisasi sarana olahraga di Subang. Ia menargetkan pembangunan pusat pelatihan terpadu di Kecamatan Cijambe dan renovasi stadion utama di Kecamatan Subang. Anggaran untuk tahap awal program ini diperkirakan mencapai Rp 50 miliar dari APBD dan potensi kerja sama dengan sponsor swasta.

    Program ini mendapat sambutan positif dari komunitas olahraga Subang. Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Subang, Andri Suryana, menyatakan dukungannya. “Kami sangat mengapresiasi visi Ibu Tine. Jika program ini terealisasi, Subang bisa menjadi salah satu kabupaten dengan ekosistem olahraga terbaik di Jawa Barat,” kata Andri.

    Namun, sejumlah pengamat mengingatkan agar program ini tidak berhenti pada janji kampanye. “Implementasi adalah kunci. Banyak program serupa gagal karena tidak ada pengawasan ketat dan alokasi dana yang tidak tepat sasaran,” ujar pengamat kebijakan publik dari Universitas Pasundan, Dedi Mulyadi.

    Tine Yowargana sendiri memiliki latar belakang sebagai mantan atlet voli nasional. Ia mengaku memahami betul perjuangan atlet daerah. “Saya pernah merasakan sulitnya mencari sponsor dan berlatih dengan fasilitas seadanya. Itu yang memotivasi saya untuk membuat perubahan nyata,” kenangnya.

    Program “Subang Ngabrett” rencananya akan dijalankan dalam tiga tahap selama lima tahun ke depan. Tahap pertama (2026-2027) fokus pada identifikasi atlet potensial dan pemberian bantuan dasar. Tahap kedua (2027-2029) pembangunan infrastruktur, dan tahap ketiga (2029-2030) pengembangan pusat pelatihan berkelas nasional.

    Dengan populasi atlet aktif sekitar 2.500 orang di Subang, program ini diharapkan bisa menjadi model bagi daerah lain dalam mengelola potensi olahraga secara berkelanjutan. Tine menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memastikan kesejahteraan atlet sebagai prioritas utama.

  • Sekolah Maung Jabar Siap Dibuka Tahun Ajaran Ini

    Sekolah Maung Jabar Siap Dibuka Tahun Ajaran Ini

    Jbnews.id – Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) resmi akan dimulai pada tahun ajaran 2026 di Jawa Barat. Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan program ini dirancang untuk menampung anak-anak berprestasi, baik di jalur akademik konvensional maupun bakat non-akademik seperti olahraga, seni, dan industri kreatif.

    KDM menyatakan implementasi akan segera dilakukan tanpa membangun gedung baru. Pemerintah Provinsi akan melakukan transformasi dan pemutakhiran pada sekolah-sekolah yang selama ini telah dikenal sebagai sekolah unggulan atau favorit di setiap kabupaten dan kota. “Sekolah Maung nanti tahun pelajaran ini dimulai. Tahun pelajaran sekarang, sekarang sudah identifikasi dan nanti diberlakukan yaitu sekolah yang menampung anak-anak berprestasi. Dua hal ya, prestasi akademik dan prestasi nonakademik,” ujar KDM, Kamis, 23 April 2026.

    Model transformasi ini dipilih untuk efisiensi dan memanfaatkan infrastruktur serta reputasi yang sudah ada. KDM mencontohkan SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 1 Subang sebagai calon lokasi. “Nggak dibangun, kita mengupdate sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan. Misalnya gini, di Bandung ada SMA Negeri 3, di Subang ada SMA Negeri 1. Kan selalu setiap kabupaten tuh ada sekolah favorit. Nah sekolah favorit itu yang akan menjadi sekolah-sekolah yang diisi oleh anak-anak yang punya prestasi,” jelasnya.

    Kelas Spesifik untuk Bakat Non-Akademik

    Struktur pembelajaran di Sekolah Maung akan berbeda dengan sekolah reguler. Nantinya, sekolah ini akan memiliki kelas-kelas spesifik yang fokus pada pengembangan bakat tertentu. Hal ini bertujuan agar anak-anak dengan keahlian di luar bidang akademik tetap mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi dan terarah. “Jadi di Sekolah Maung itu nanti bukan hanya yang akademiknya baik tetapi yang berprestasi di bidang olahraga, di bidang seni, industri kreatif, tetap sekolah di situ. Nanti kelasnya jadi kelas industri kreatif fokusnya, kelasnya kelas olahraga, kelasnya kelas seni,” tambah KDM.

    Kebijakan ini merupakan upaya KDM untuk menghapus stigma bahwa prestasi siswa hanya dinilai dari angka-angka akademik di atas kertas. Menurutnya, pengakuan terhadap keunggulan anak di berbagai bidang adalah kunci untuk mencegah kecemburuan sosial dalam dunia pendidikan. “Akan jadi kecemburuan ketika sekolah itu hanya menekankan akademik. Misalnya memahami keunggulan anak itu hanya akademik, itu kecemburuan. Tapi sekarang keunggulan anak itu di bidang olahraga, di bidang seni, industri kreatif, teknologi ya itu kan tidak akan melahirkan kecemburuan maka jadilah yang terbaik,” tuturnya.

    Pembiayaan Gratis dengan Opsi Kontribusi Sukarela

    Dalam aspek pembiayaan, KDM menekankan bahwa Sekolah Maung pada dasarnya gratis. Namun, pemerintah tengah mengkaji peluang kontribusi sukarela dari orang tua siswa yang masuk kategori mampu secara ekonomi. Kriteria yang sedang dipertimbangkan adalah orang tua dengan penghasilan di atas sepuluh juta rupiah per bulan. “Kami lagi berpikir, apakah orang tua yang berpenghasilan di atas sepuluh juta yang anak-anaknya sekolah di situ boleh nggak kalau berkontribusi? Nah nanti itu lagi kita pelajari dan kita komunikasikan,” ungkapnya.

    Langkah pengkajian kontribusi ini bertujuan untuk menciptakan partisipasi dari kalangan menengah atas sekaligus menjaga keberlanjutan program. Kebijakan final mengenai mekanisme kontribusi masih menunggu hasil studi dan komunikasi lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan. Program Sekolah Maung menjadi salah satu inisiatif pendidikan unggulan di tengah berbagai program pembangunan lain di Jawa Barat, seperti revitalisasi Gedung Sate yang juga mendapat sorotan.

    Implementasi program ini juga perlu memperhatikan aspek infrastruktur pendukung dan keamanan, mengingat risiko kebakaran akibat korsleting listrik di fasilitas publik kerap menjadi perhatian. Selain itu, kesiapan lokasi sekolah yang biasanya berada di pusat kota harus mempertimbangkan dampak lalu lintas, sebagaimana kekhawatiran warga terhadap kemacetan baru dari proyek infrastruktur lainnya.

    Dengan dimulainya Sekolah Maung tahun ini, Jawa Barat memasuki babak baru dalam pendekatan pendidikan berbasis bakat. Keberhasilan program ini akan diukur dari kemampuannya menciptakan ekosistem yang adil bagi seluruh anak berprestasi, terlepas dari bidang keahliannya.

  • Wawalkot Cimahi: Penggeledahan Disnaker Momentum Evaluasi Total

    Wawalkot Cimahi: Penggeledahan Disnaker Momentum Evaluasi Total

    Jbnews.id – Pemerintah Kota Cimahi berkomitmen memperkuat integritas dan tata kelola pemerintahan pasca-penggeledahan Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) oleh Kejaksaan Negeri Cimahi, Rabu (22/4/2026). Wakil Wali Kota Adhitia Yudisthira menegaskan peristiwa ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh untuk mencegah penyimpangan.

    Adhitia menyatakan komitmen pimpinan daerah dalam pemberantasan korupsi. “Pak Wali dan saya sangat berkomitmen terhadap pemberantasan korupsi. Pembangunan daerah harus berjalan optimal tanpa celah penyimpangan,” ujarnya saat dikonfirmasi. Ia menilai dugaan kasus yang ditangani aparat penegak hukum menjadi pengingat serius bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

    “Ini menjadi pelajaran penting. Tidak boleh ada kejadian serupa terulang. Integritas harus menjadi dasar dalam setiap pelaksanaan program pemerintah,” tegas Adhitia. Prinsip integritas dalam pemerintahan ini sejalan dengan standar tinggi yang diterapkan lembaga pendidikan, seperti yang dicapai Prodi Ilmu Pemerintahan Unma Banten.

    Wakil Wali Kota menambahkan, Pemkot Cimahi akan memperkuat sistem pengawasan internal. Langkah konkret tersebut akan disesuaikan dengan hasil penyidikan yang masih berlangsung. “Kita akan evaluasi bersama setelah proses hukum berjalan. Untuk saat ini, kita hormati tahapan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri,” katanya.

    Pernyataan ini menegaskan sikap pemerintah daerah untuk tidak intervensi proses hukum. Fokus saat ini adalah pada langkah antisipatif dan korektif di internal pemerintahan. Komitmen terhadap tata kelola yang baik merupakan fondasi untuk pembangunan daerah yang berkelanjutan.

    Penguatan sistem pengawasan dan budaya integritas di setiap OPD menjadi agenda prioritas. Evaluasi menyeluruh dimaksudkan untuk menutup celah yang berpotensi dimanfaatkan untuk praktik tidak terpuji. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan publik dan memastikan program pemerintah, termasuk program pelatihan kerja di Disnaker, berjalan sesuai koridor.

    Komitmen untuk bersinergi dengan penegak hukum juga ditekankan. Pemerintah kota akan menunggu kepastian hukum sebelum mengambil langkah administratif lebih lanjut terhadap institusi atau individu yang terlibat. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan dalam menangani isu governance secara komprehensif.

    Dampak dari peristiwa ini diharapkan dapat mentransformasi budaya kerja birokrasi Cimahi ke arah yang lebih akuntabel dan transparan. Prinsip-prinsip clean governance yang kini didengungkan harus diimplementasikan dalam setiap proses perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program.

    Pelajaran dari kasus ini diharapkan tidak hanya berlaku untuk Disnaker, tetapi untuk seluruh satuan kerja di lingkungan Pemkot Cimahi. Membangun sistem yang resisten terhadap maladministrasi membutuhkan konsistensi dan kepemimpinan yang kuat dari puncak.

    Upaya pembenahan tata kelola pemerintahan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk dunia akademik yang menghasilkan calon birokrat. Pendidikan tinggi seperti yang menyelenggarakan Ilmu Pemerintahan memegang peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai integritas sejak dini.

  • Disnakertrans Subang Didorong Ambil Langkah Tegas Soal WNA

    Disnakertrans Subang Didorong Ambil Langkah Tegas Soal WNA

    Jbnews.id – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Subang didorong untuk segera mengambil langkah tegas menyusul temuan pekerja asing (WNA) yang bekerja di sektor informal tanpa izin. Dorongan ini disampaikan langsung oleh Komisi II DPRD Kabupaten Subang yang menilai temuan tersebut sebagai masalah kritis yang memerlukan penanganan serius.

    Komisi II DPRD Subang secara khusus meminta Disnakertrans setempat untuk meningkatkan pengawasan dan penindakan. “Kami mendorong Disnakertrans untuk mengambil langkah tegas,” ujar Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Subang, Asep Sumpena, seperti dikutip dari siaran pers. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan perlindungan terhadap tenaga kerja lokal dan menertibkan ketenagakerjaan di wilayah itu.

    Asep Sumpena Ketua Komisi II DPRD Subang

    Fenomena WNA bekerja di sektor informal, seperti perdagangan dan jasa, telah menjadi sorotan. Aktivitas ini sering kali beroperasi tanpa mengantongi izin kerja yang sah dari otoritas. Kondisi ini tidak hanya berpotensi merugikan pelaku usaha lokal, tetapi juga menimbulkan persoalan administrasi dan keimigrasian.

    Asep Sumpena menekankan bahwa penertiban ini merupakan amanat undang-undang. “Ini sesuai dengan aturan yang ada, bahwa WNA yang bekerja harus memiliki izin,” tegasnya. Aturan utama yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang mengatur ketat izin kerja bagi tenaga kerja asing.

    Ilustrasi pengawasan ketenagakerjaan

    Disnakertrans Subang sebagai instansi teknis di bidang ketenagakerjaan memegang peran kunci dalam penertiban ini. Fungsi pengawasan dan pembinaan menjadi landasan untuk mengatasi persoalan tersebut. Masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dengan melaporkan jika menemukan indikasi pelanggaran serupa.

    “Kami berharap Disnakertrans bisa lebih proaktif melakukan pengawasan,” tambah Asep. Proaktivitas itu mencakup patroli rutin, pemeriksaan dokumen di tempat-tempat usaha yang berpotensi mempekerjakan WNA, serta sosialisasi aturan kepada pelaku usaha.

    Rapat koordinasi penertiban tenaga kerja

    Langkah tegas dari Disnakertrans Subang akan memiliki implikasi langsung pada penciptaan iklim usaha yang sehat dan berkeadilan. Penertiban WNA tanpa izin bertujuan melindungi hak-hak pekerja Indonesia dan memastikan persaingan usaha yang sehat di tingkat kabupaten.

    Selain aspek penindakan, upaya preventif melalui koordinasi dengan instansi terkait seperti Kantor Imigrasi juga dinilai crucial. Sinergi ini diperlukan untuk menangani masalah secara komprehensif, mulai dari pencegahan masuknya WNA dengan niat bekerja ilegal hingga penertiban di lapangan.

    Gedung pemerintahan Kabupaten Subang

    Dorongan dari Komisi II DPRD ini menjadi tekanan politik bagi Disnakertrans Subang untuk segera bertindak. Respons dan langkah konkret dari dinas tersebut kini dinantikan oleh berbagai pihak, termasuk pelaku usaha lokal dan masyarakat umum yang menginginkan kepastian hukum di sektor ketenagakerjaan.