Jbnews.id – Sebanyak 409 karyawan dari tiga perusahaan di Kabupaten Serang, Banten, mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal sepanjang tahun 2025. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Serang mengonfirmasi bahwa gelombang PHK ini dipicu oleh kebijakan efisiensi operasional dan penurunan jumlah order dari masing-masing perusahaan.
Kepala Disnaker Kabupaten Serang, Tb. Acep Hendra, menyatakan bahwa ketiga perusahaan tersebut bergerak di sektor manufaktur. Dua di antaranya merupakan perusahaan alas kaki (sepatu), sementara satu perusahaan lainnya bergerak di bidang garmen. Data ini dikumpulkan berdasarkan laporan yang masuk ke Disnaker sepanjang tahun 2025.
“Totalnya ada 409 pekerja yang di-PHK dari tiga perusahaan. Alasan mereka melakukan PHK adalah efisiensi dan penurunan jumlah order,” ujar Acep Hendra saat dikonfirmasi pada Selasa (24/12/2025).
Rincian PHK menunjukkan bahwa satu perusahaan garmen mem-PHK 130 karyawan. Sementara itu, dua perusahaan alas kaki masing-masing mem-PHK 169 orang dan 110 orang. Dengan demikian, total karyawan yang terdampak dari sektor alas kaki mencapai 279 orang.
Para pekerja yang di-PHK berasal dari berbagai divisi, mulai dari produksi hingga administrasi. Disnaker memastikan bahwa seluruh proses PHK telah sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk pemberian hak-hak pekerja seperti pesangon dan uang penghargaan masa kerja.
“Kami sudah melakukan mediasi dan memastikan hak-hak pekerja dibayarkan sesuai aturan,” tambah Acep.
Fenomena PHK di sektor padat karya ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Disnaker Kabupaten Serang terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan perusahaan untuk mencari solusi, termasuk melalui program pelatihan ulang bagi para pekerja yang terkena PHK.
Baca Juga:
Kondisi ini juga berpotensi mempengaruhi iklim ketenagakerjaan di wilayah tersebut. Pemerintah daerah diharapkan dapat menarik investasi baru untuk menyerap kembali tenaga kerja yang menganggur. Selain itu, program padat karya dari pemerintah juga bisa menjadi solusi jangka pendek bagi para pekerja yang terkena PHK.
Sektor industri di Kabupaten Serang, yang merupakan salah satu kawasan penyangga Jakarta, memang rentan terhadap fluktuasi ekonomi global. Penurunan permintaan ekspor, khususnya dari negara-negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan Eropa, menjadi faktor utama yang mempengaruhi jumlah order perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen ketiga perusahaan mengenai prospek pemulihan order di tahun 2026. Disnaker setempat masih membuka posko pengaduan bagi para pekerja yang merasa dirugikan.
