Author: Hamzah Nurhamzah

  • Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg dengan Alat Selam Bawah Air

    Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg dengan Alat Selam Bawah Air

    JBNews.id — Tim peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) Singapore berhasil mengubah kecoa menjadi cyborg yang bisa dikendalikan jarak jauh dan dilengkapi alat selam mini, memungkinkan serangga tersebut berenang di bawah air. Inovasi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan disebut sebagai langkah awal menuju eksplorasi luar angkasa.

    Studi yang dipimpin oleh Hirotaka Sato ini memanfaatkan spesies kecoa Madagascar yang dikenal sangat tangguh, memiliki umur hingga lima tahun, dan berukuran sebesar jari manusia. “Tujuan utamanya adalah membawa teknologi ini ke luar angkasa,” ujar Sato kepada New Scientist. “Ini seperti satu langkah besar menuju pakaian antariksa untuk serangga cyborg. Misalnya, untuk eksplorasi permukaan Mars.”

    Para ahli robotika memang sudah lama tertarik pada kecoa karena potensi cybernetic-nya yang luar biasa. Serangga ini terkenal sulit dimatikan, menjadikannya kandidat ideal untuk bertahan di lingkungan ekstrem dalam waktu lama. Namun, kecoa bukanlah hewan amfibi, sehingga menjadi kendala besar jika ingin digunakan di area bencana yang sering tergenang air.

    Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti merancang dan mencetak 3D pakaian khusus yang menyediakan oksigen. Pakaian ini menutupi pori-pori pernapasan kecoa yang disebut spirakel. Spirakel di dekat kaki serangga dihubungkan dengan selang agar bagian utama pakaian tidak membatasi pergerakan kaki.

    Alih-alih menyimpan oksigen dalam tangki, pakaian tersebut diisi dengan campuran hidrogen peroksida dan mangan dioksida. Campuran ini secara perlahan terurai dan menghasilkan oksigen. Para peneliti juga memutuskan untuk menanamkan chip kendali dan baterai kecil di dalam tubuh kecoa, setelah menemukan bahwa jika ditempatkan di ransel di punggung, justru menghambat mobilitas serangga tersebut.

    Dalam pengujian, kecoa penyelam ini mampu berjalan di bawah air hingga tiga jam setiap kalinya, dengan kecepatan yang hampir sama seperti saat bergerak di darat. Para peneliti melaporkan bahwa kecoa tidak mengalami efek samping yang merugikan dan tetap sehat berhari-hari setelah ekspedisi akuatik mereka.

    Foto close-up seekor kecoa cyborg yang mengenakan pakaian untuk bernapas di bawah air.

    Serangga cyborg mungkin tidak memberikan tingkat kendali yang sama seperti robot mekanis, tetapi memiliki keunggulan lain. Mereka lebih murah dan, yang terpenting, sangat hemat energi. Sato dan timnya mengusulkan bahwa suatu hari nanti, kawanan drone biologis ini dapat digunakan untuk menjelajahi lingkungan berbahaya, seperti area bencana yang sering terendam banjir.

    Konsep ini membuka peluang baru dalam teknologi robotik yang lebih adaptif dan murah. Dengan kemampuan bertahan di air hingga tiga jam, kecoa cyborg ini bisa menjadi solusi untuk misi pencarian dan penyelamatan di area yang sulit dijangkau manusia atau robot konvensional.

    Meskipun masih dalam tahap awal, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara biologi dan teknologi dapat menghasilkan inovasi yang melampaui batas kemampuan robot tradisional. Ambisi Sato untuk membawa teknologi ini ke Mars mungkin terdengar ambisius, namun langkah demi langkah, timnya terus membuktikan bahwa kecoa cyborg bisa menjadi alat eksplorasi yang andal, baik di Bumi maupun di luar angkasa.

    Jika suatu saat Anda terjebak di suatu tempat dan membutuhkan pertolongan, secercah harapan pertama mungkin datang dari seekor serangga cyborg yang merangkak mendekat. Masa depan penyelamatan dan eksplorasi mungkin akan sangat bergantung pada makhluk kecil yang selama ini dianggap sebagai hama.

    Inovasi ini juga mengingatkan kita pada perkembangan lain di dunia teknologi, seperti fitur video vertikal yang terus berevolusi, atau kamera stabil 4K yang semakin canggih. Semua ini menunjukkan bahwa batas antara fiksi ilmiah dan kenyataan semakin tipis.

  • Komdigi Tutup Celah Nomor HP Siluman dengan Face Recognition

    Komdigi Tutup Celah Nomor HP Siluman dengan Face Recognition

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menutup celah aktivasi nomor telepon seluler ilegal yang menggunakan identitas orang lain. Terhitung mulai 1 Juli 2026, seluruh operator seluler di Indonesia wajib menerapkan registrasi pelanggan baru menggunakan verifikasi biometrik berbasis face recognition.

    Kebijakan ini diambil setelah pemantauan Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi bersama Ditjen Dukcapil pada 1 Juli 2026 menemukan masih ada operator seluler yang mengaktifkan pelanggan baru hanya melalui validasi NIK dan No.KK tanpa verifikasi biometrik. Temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat sistem registrasi guna mencegah penyalahgunaan identitas dan penipuan digital.

    Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Abdullah, menegaskan pemerintah tidak ingin lagi ada nomor seluler yang dapat diaktifkan menggunakan identitas milik orang lain. “Mulai 1 Juli, registrasi pelanggan baru wajib menggunakan biometrik. Karena itu kami meminta seluruh operator mematuhi ketentuan ini dan segera menghentikan seluruh aktivasi yang masih menggunakan validasi NIK dan No.KK tanpa verifikasi biometrik,” ujar Edwin dikutip Sabtu (4/7/2027).

    Edwin mengatakan registrasi biometrik menjadi fondasi penting dalam memperkuat keamanan ekosistem telekomunikasi nasional. Selain mencegah penyalahgunaan identitas, sistem tersebut juga diharapkan mampu menekan berbagai tindak penipuan digital hingga kejahatan siber yang memanfaatkan nomor telepon anonim. “Registrasi biometrik menjadi fondasi penting untuk mencegah penyalahgunaan identitas, penipuan digital, hingga berbagai bentuk kejahatan siber,” katanya.

    Mulai Rabu (1/7/2026), seluruh pelanggan baru layanan seluler di Indonesia wajib melakukan perekaman biometrik wajah sebagai bagian dari proses registrasi kartu SIM prabayar. Kebijakan tersebut resmi diberlakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memperkuat validasi identitas pengguna layanan telekomunikasi.

    Sebagai tindak lanjut, Komdigi telah mengirimkan surat kepada seluruh penyelenggara jaringan bergerak seluler agar segera menghentikan seluruh proses aktivasi pelanggan baru yang masih menggunakan mekanisme validasi NIK dan No.KK tanpa verifikasi biometrik. Seluruh proses registrasi kini wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Komdigi Nomor 7 Tahun 2026.

    Sehari kemudian, pada 2 Juli 2026, Komdigi juga menyurati Ditjen Dukcapil untuk meminta penutupan akses validasi NIK dan No.KK bagi registrasi pelanggan seluler. Langkah ini dilakukan agar tidak ada lagi jalur registrasi di luar mekanisme biometrik yang telah diberlakukan secara nasional. Komdigi juga meminta Ditjen Dukcapil menutup akses validasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (No.KK) yang selama ini digunakan dalam proses registrasi nomor HP baru.

    Pengawasan di lapangan pun langsung dilakukan. Pada 3 Juli 2026, Edwin bersama jajaran melakukan inspeksi mendadak ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat guna memastikan implementasi registrasi biometrik di gerai operator seluler. Dari hasil sidak tersebut, Komdigi menemukan baru satu operator yang telah menerapkan registrasi biometrik sesuai aturan. Sementara dua operator lainnya masih melayani registrasi pelanggan baru menggunakan validasi NIK dan No.KK tanpa verifikasi wajah.

    Petugas juga menemukan kartu SIM yang telah diaktifkan dan siap digunakan, sehingga menjadi perhatian pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap proses distribusi dan aktivasi nomor seluler. Temuan ini menunjukkan masih adanya celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk mengaktifkan nomor HP secara ilegal.

    Edwin menyebutkan keberhasilan kebijakan ini membutuhkan komitmen seluruh operator seluler dalam melindungi masyarakat dari penyalahgunaan identitas. “Kami mengajak seluruh operator menjadikan perlindungan masyarakat sebagai prioritas. Kepatuhan terhadap registrasi biometrik bukan hanya memenuhi regulasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama membangun ekosistem digital Indonesia yang lebih aman dan terpercaya,” tuturnya.

    Komdigi memastikan akan terus melakukan pengawasan terhadap implementasi registrasi biometrik di seluruh Indonesia. Apabila masih ditemukan operator yang mengaktifkan pelanggan baru tanpa verifikasi biometrik sesuai ketentuan, pemerintah akan menjatuhkan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Langkah tegas ini sejalan dengan upaya Komdigi dalam memperkuat ekosistem digital nasional.

    Kebijakan registrasi biometrik ini menjadi langkah maju dalam memberantas praktik penipuan digital yang marak terjadi. Dengan sistem face recognition, setiap nomor HP baru akan terverifikasi secara langsung dengan identitas pemiliknya, sehingga mempersulit pelaku kejahatan untuk menggunakan nomor anonim. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya pemberantasan kejahatan siber yang lebih luas.

    Bagi masyarakat, kebijakan ini memberikan perlindungan lebih terhadap penyalahgunaan data pribadi. Nomor HP yang terdaftar dengan data biometrik wajah memastikan bahwa setiap pengguna adalah pemilik identitas yang sah. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kasus penipuan yang menggunakan nomor telepon hasil curian identitas.

    Komdigi juga mengingatkan operator seluler untuk segera menyesuaikan sistem registrasi mereka. Operator yang masih menggunakan validasi NIK dan No.KK tanpa biometrik wajib menghentikan proses aktivasi dan beralih ke sistem face recognition. Pemerintah akan melakukan pemantauan berkala dan evaluasi terhadap kepatuhan operator di seluruh wilayah Indonesia.

    Dengan diterapkannya kebijakan ini, praktik nomor HP “siluman” yang selama ini menjadi celah kejahatan digital diharapkan dapat dihentikan sepenuhnya. Masyarakat juga diimbau untuk selalu waspada dan tidak memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab, serta memastikan registrasi nomor HP dilakukan melalui jalur resmi operator seluler.

  • Iklan Google Workspace Parodikan Founding Fathers Tuai Kritik

    Iklan Google Workspace Parodikan Founding Fathers Tuai Kritik

    JBNews.id — Google meluncurkan iklan komersial terbaru untuk Google Workspace yang memparodikan para founding fathers Amerika Serikat saat menyusun Deklarasi Kemerdekaan, dan langsung menuai kritik tajam dari sejarawan serta publik. Iklan berdurasi pendek ini menampilkan Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan John Adams yang menggunakan berbagai alat kolaborasi Google, termasuk Gemini AI, untuk menulis dokumen bersejarah tersebut.

    Iklan yang diberi tagline “Group project, but make it 1776” ini dibuka dengan adegan Benjamin Franklin yang mengirim pesan teks kepada Thomas Jefferson untuk menanyakan status draf. Jefferson kemudian memotret dokumen dan menggunakan AI untuk mentranskripsikannya ke dalam Google Doc. Franklin dan Adams bergabung untuk melakukan suntingan dalam mode saran, sementara Gemini membantu menemukan waktu rapat dan mencatat selama panggilan Google Meet.

    Bagian paling kontroversial dari iklan ini adalah ketika para founding fathers meminta saran Gemini apakah akan memberikan akses edit kepada Raja George III terhadap Deklarasi Kemerdekaan. Adegan ini dinilai tidak peka secara historis dan mereduksi momen penting dalam sejarah Amerika menjadi lelucon yang dangkal. Konsumsi listrik AI yang melonjak menjadi sorotan terpisah di tengah kontroversi ini.

    Kritik dari Akademisi

    Profesor sejarah dari City University of New York (CUNY), Angus Johnston, memberikan kritik pedas melalui platform Bluesky. “Bahkan dalam lelucon fantasi yang norak, mustahil untuk membuat argumen bahwa AI adalah alat yang berguna untuk pengorganisasian politik, penulisan, atau kolaborasi manusia,” tulis Johnston. Pernyataan ini menekankan ketidakmampuan AI untuk mereplikasi nuansa dan kompleksitas proses sejarah yang sebenarnya.

    Iklan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Gemini akan merespons jika para founding fathers bertanya tentang hak pilih perempuan, perbudakan, atau Manifest Destiny. Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti keterbatasan AI dalam menangani isu-isu sejarah yang sensitif dan kompleks. Sebagai perbandingan, sanksi denda Google sebelumnya menunjukkan tantangan regulasi yang dihadapi perusahaan.

    Dampak pada Persepsi Publik

    Reaksi publik terhadap iklan ini sebagian besar negatif, dengan banyak yang menganggapnya sebagai upaya pemasaran yang tidak peka dan tidak perlu. Para kritikus berpendapat bahwa Google seharusnya lebih berhati-hati dalam menggunakan tokoh-tokoh sejarah untuk tujuan komersial, terutama ketika melibatkan teknologi yang masih kontroversial seperti AI. Langkah Google ini juga memunculkan diskusi tentang pengaturan privasi akun yang perlu diperhatikan pengguna.

    Iklan ini juga gagal menunjukkan bahwa proses penulisan Deklarasi Kemerdekaan adalah hasil dari perdebatan sengit, kompromi politik, dan visi bersama—bukan sekadar tugas kelompok yang bisa diselesaikan dengan alat digital. Sejarawan menekankan bahwa momen bersejarah tersebut membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan pemikiran mendalam yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar proyek kolaborasi modern.

    Google belum memberikan pernyataan resmi mengenai kritik yang dialamatkan kepada iklan ini. Namun, kontroversi ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar perlu lebih mempertimbangkan implikasi historis dan kultural dari kampanye pemasaran mereka, terutama ketika melibatkan AI yang sedang menjadi sorotan publik. Sementara itu, penghentian API Tenor oleh Google juga berdampak pada platform media sosial.

    Implikasinya bagi pengguna adalah bahwa meskipun AI dapat membantu produktivitas, teknologi ini memiliki keterbatasan signifikan dalam memahami konteks sejarah dan sosial. Iklan Google ini menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus diimbangi dengan kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan sejarah. Keputusan Google untuk merilis iklan ini di tengah peringatan risiko keamanan data di Eropa menunjukkan kurangnya koordinasi strategis.

    Para pengamat industri menilai bahwa iklan ini adalah contoh buruk dari upaya perusahaan teknologi untuk membuat AI terlihat relevan dalam konteks sejarah. Daripada menunjukkan kegunaan praktis AI, iklan ini justru menyoroti ketidakmampuan teknologi untuk menangkap esensi dari proses kreatif dan kolaboratif manusia yang sebenarnya.

  • WSC Sports Hasilkan Konten Piala Dunia Pakai AI Sepenuhnya

    WSC Sports Hasilkan Konten Piala Dunia Pakai AI Sepenuhnya

    JBNews.id — Perusahaan teknologi olahraga WSC Sports mengklaim telah memproduksi seluruh konten siaran Piala Dunia 2026 secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (AI), tanpa keterlibatan manusia dalam proses editing maupun produksi studio. Klaim ini disampaikan langsung oleh Wakil Presiden New Ventures WSC Sports, Itai Epstein, dalam ajang Microsoft AI Tour Tel Aviv 2026.

    Epstein mengungkapkan bahwa perusahaannya telah bermitra dengan penyiar publik Israel, Kan 11, untuk menyediakan materi siaran Piala Dunia yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan personalisasi konten olahraga secara massal untuk khalayak global.

    “Dengan AI, Anda dapat membuat konten olahraga yang jauh lebih personal dan lokal, di mana setiap orang hanya dapat melihat apa yang mereka inginkan, kapan mereka mau, di mana pun mereka berada,” ujar Epstein dalam sesi panel yang diliput oleh Calcalist.

    WSC Sports mengklaim sistem AI mereka mampu menganalisis pertandingan secara real-time, mengidentifikasi momen-momen menarik, dan secara otomatis menghasilkan berbagai format konten untuk platform digital, televisi, dan media lainnya. Proses ini disebut berjalan tanpa campur tangan manusia dalam bentuk penyuntingan atau produksi studio.

    “AI menganalisis pertandingan secara langsung, mengidentifikasi apa yang menarik, dan memproduksi segala jenis konten untuk digital, televisi, dan setiap platform,” tegas Epstein.

    Perusahaan yang berbasis di Israel ini juga telah mengembangkan divisi baru bernama WSC Studios dalam dua tahun terakhir. Divisi ini menggunakan model generatif untuk teks, audio, gambar, dan video guna menciptakan konten olahraga yang ditargetkan untuk anak-anak.

    Salah satu proyek unggulan WSC Studios adalah serial animasi berjudul “The Alley & Oop Show” yang bekerja sama dengan NBA. Serial ini menghadirkan dua karakter fiksi bernama Alley dan Oop yang menggunakan kendaraan ajaib bernama ‘Hoopmobile’ untuk bepergian dari satu kota ke kota lain di Amerika Serikat sambil mengenalkan pemain, permainan, dan tim NBA kepada anak-anak.

    “Ini adalah serial digital bergambar dengan dua karakter anak yang seperti kreator NBA untuk anak-anak. Mereka memiliki bus ajaib, ‘Hoopmobile,’ yang membawa mereka dari kota ke kota di Amerika Serikat,” jelas Epstein. “Mereka mengajarkan anak-anak tentang pemain, permainan, dan tim, dan itu adalah bagian dari apa yang kami lakukan untuk menghubungkan generasi berikutnya dengan olahraga.”

    Epstein juga mengakui bahwa adopsi AI telah menghasilkan pengurangan jumlah staf secara signifikan. Untuk konten anak-anak, suara karakter dihasilkan menggunakan model text-to-speech berdasarkan versi kloning dari suara aktor asli. Sementara untuk seri olahraga dewasa, proses produksi kini membutuhkan “lebih sedikit orang.”

    Klaim WSC Sports ini muncul di tengah kekhawatiran yang berkembang tentang kualitas konten yang dihasilkan AI. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa sistem AI masih memiliki kelemahan signifikan dalam menganalisis, mengindeks, dan memberi label peristiwa olahraga. Mengingat sebagian besar bisnis WSC Sports berfokus pada transformasi konten olahraga langsung dan arsip menjadi pengalaman yang cerdas, mudah dicari, dan personal, masih menjadi pertanyaan besar seberapa akurat klaim Epstein.

    WSC Sports bukan satu-satunya perusahaan yang mendorong batas penggunaan AI dalam industri kreatif. Di sektor lain, Startup AI juga bereksperimen dengan pendekatan radikal untuk mengumpulkan data pelatihan, termasuk menawarkan layanan pembersihan apartemen gratis sebagai imbalan akses ke lingkungan rumah tangga. Sementara itu, Bezos dan Startup AI lainnya fokus pada pengembangan insinyur buatan yang dapat menggantikan peran manusia di bidang teknik.

    Dalam konteks industri yang lebih luas, penggunaan AI untuk menggantikan tenaga kerja manusia telah memicu perdebatan etis dan regulasi. Beberapa perusahaan rintisan bahkan terpaksa melakukan PHK massal karena tekanan dari regulator, seperti yang dilaporkan dalam Startup World PHK Karyawan. Sementara itu, program seperti KSGC 2026 terus membuka akses pendanaan dan pasar global bagi startup yang ingin berkembang.

    Pertanyaan kritis yang kini mengemuka adalah apakah penggemar olahraga akan menerima konten yang dihasilkan AI ini, atau justru menolaknya sebagai “sampah AI” yang mengurangi kualitas pengalaman menonton. Dengan WSC Sports yang mengklaim bahwa “semua konten Piala Dunia yang Anda tonton berasal dari WSC Sports,” masa depan produksi konten olahraga tampaknya akan sangat bergantung pada sejauh mana teknologi AI dapat memenuhi ekspektasi kualitas dari pemirsa global.

    Bagi pemirsa di Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Jika WSC Sports berhasil membuktikan model bisnisnya, bukan tidak mungkin konten siaran olahraga internasional di masa depan akan semakin banyak diproduksi secara otomatis, mengurangi peran kru produksi manusia, dan berpotensi mengubah lanskap industri penyiaran olahraga secara fundamental.

    Epstein menutup presentasinya dengan keyakinan bahwa pendekatan AI adalah masa depan yang tak terelakkan. “Kami menciptakan konten untuk semua orang yang menonton liputan Piala Dunia,” katanya. “Semua orang yang menonton konten olahraga di Israel juga menerima cerita melalui kami yang diperbarui secara langsung selama pertandingan, serta ringkasan pertandingan.”

    Namun, tanpa data verifikasi independen tentang kualitas dan akurasi konten yang dihasilkan, klaim WSC Sports masih harus diuji di lapangan. Industri olahraga global akan menjadi hakim akhir: apakah inovasi ini akan dirayakan sebagai terobosan efisiensi, atau dikritik sebagai pengorbanan kualitas demi kecepatan dan penghematan biaya.

  • SAP Tunjuk Presiden Baru APAC, Fokus pada Inovasi AI

    SAP Tunjuk Presiden Baru APAC, Fokus pada Inovasi AI

    JBNews.id — Perusahaan perangkat lunak raksasa asal Jerman, SAP, secara resmi menunjuk Verena Siow sebagai Presiden untuk kawasan Asia Pasifik (APAC). Penunjukan yang berbasis di Singapura ini berlaku efektif segera dan menandai babak baru kepemimpinan perusahaan di wilayah tersebut, dengan fokus utama pada akselerasi inovasi Kecerdasan Buatan (AI).

    Dalam peran strategis barunya, Verena Siow akan bertanggung jawab untuk mendorong keberhasilan pelanggan, mempercepat transformasi bisnis, serta membantu berbagai organisasi memaksimalkan nilai tambah dari solusi SAP yang mereka gunakan. Langkah ini diambil di tengah persaingan ketat industri teknologi global yang semakin berorientasi pada AI.

    Verena Siow bukanlah wajah baru di industri teknologi maupun di internal SAP. Ia membawa pengalaman selama hampir tiga dekade di industri ini, dengan 15 tahun di antaranya dihabiskan untuk memegang berbagai posisi kunci di SAP. Sebelum menduduki kursi pimpinan puncak di APAC, jabatan terakhir Verena adalah Business Suite Leader APAC, di mana ia sukses memimpin pertumbuhan bisnis cloud sekaligus mengawal perjalanan nilai pelanggan secara end-to-end. Ia juga pernah menjabat sebagai President and Managing Director SAP Asia Tenggara (Southeast Asia).

    Manos Raptopoulos, Chief Revenue Officer untuk APAC, EMEA, dan MEE, meyakini bahwa kepemimpinan Verena sangat tepat untuk menjawab potensi pertumbuhan strategis di kawasan ini. “Bisnis kami didorong oleh percepatan inovasi AI, yang ditopang oleh tujuan perusahaan, talenta, dan kemitraan yang kami bangun. Verena membawa pengalaman regional yang mendalam, fokus yang kuat terhadap keberhasilan pelanggan, serta kepemimpinan yang luar biasa,” jelas Manos, dalam keterangan resmi perusahaan.

    Tugas berat yang menanti Verena sejalan dengan pergeseran fokus industri ke arah AI. Ia diharapkan mampu memandu pelanggan korporat dalam mengintegrasikan AI bisnis ke dalam operasional sehari-hari mereka. “Ini merupakan momen yang sangat penting untuk memimpin SAP Asia Pacific. Visi kami mengenai Autonomous Enterprise, yang menghubungkan data, proses, dan manusia dengan lancar, telah menghadirkan hasil nyata bagi pelanggan seiring mereka mentransformasi bisnis untuk menghadapi era AI,” ungkap Verena.

    Skala Operasional Raksasa di Asia Pasifik

    Kawasan Asia Pasifik sendiri merupakan salah satu urat nadi operasional global SAP. Saat ini, SAP mengoperasikan unit bisnis di wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Tiongkok Raya (Greater China), India, Jepang, dan Korea. Perusahaan mempekerjakan lebih dari 50.000 karyawan yang tersebar di 46 kantor dan lokasi SAP Labs di seluruh Asia Pasifik. Layanan mereka digunakan oleh puluhan ribu perusahaan besar, termasuk nama-nama raksasa seperti Alibaba Group, Fujitsu Limited, Hyundai Motor Corporation, NEC Corporation, hingga Wipro.

    Ilustrasi SAP.

    Penunjukan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa SAP serius dalam memperkuat posisinya di pasar Asia Pasifik, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan digital paling cepat di dunia. Dengan fokus pada Inovasi AI, SAP berharap dapat membantu perusahaan-perusahaan di kawasan ini beradaptasi dengan perubahan teknologi yang semakin cepat.

    Kepemimpinan Verena Siow diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam mengelola hubungan dengan pelanggan korporat, terutama dalam hal adopsi teknologi cloud dan AI. Pengalamannya yang luas di kawasan Asia Tenggara menjadi modal berharga untuk memahami dinamika bisnis yang kompleks di wilayah APAC.

    Langkah strategis SAP ini juga sejalan dengan tren global di mana perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba-lomba mengintegrasikan AI ke dalam produk dan layanan mereka. Dengan menempatkan seorang pemimpin yang memiliki pemahaman mendalam tentang pasar dan teknologi, SAP ingin memastikan bahwa mereka tetap menjadi pemain kunci dalam ekosistem Transformasi Digital di Asia Pasifik.

    Bagi para pelanggan korporat di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik lainnya, penunjukan ini membawa implikasi langsung. Mereka dapat mengharapkan pendekatan yang lebih terfokus pada solusi AI yang terintegrasi, dukungan yang lebih baik dalam transformasi bisnis, serta akses ke inovasi terbaru dari SAP. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan solusi SAP kini memiliki pemimpin regional yang berkomitmen untuk membantu mereka memaksimalkan nilai investasi teknologi mereka.

    Verena Siow sendiri telah membuktikan kemampuannya dalam memimpin pertumbuhan bisnis cloud di kawasan APAC. Rekam jejaknya yang solid dalam mengelola hubungan pelanggan dan mendorong adopsi teknologi baru menjadi modal utama untuk menghadapi tantangan ke depan. Dengan visi Autonomous Enterprise yang diusung SAP, masa depan layanan perusahaan ini di Asia Pasifik tampak semakin cerah dan berorientasi pada Ekonomi Digital.

    Secara keseluruhan, penunjukan Verena Siow sebagai Presiden SAP APAC merupakan langkah strategis yang tepat di saat yang tepat. Fokus pada inovasi AI dan pengalaman hampir tiga dekade yang dimilikinya menjadi kombinasi kuat untuk membawa SAP melangkah lebih jauh di kawasan yang penuh potensi ini. Para pemangku kepentingan, mulai dari karyawan hingga pelanggan korporat, dapat menantikan babak baru kepemimpinan yang lebih dinamis dan inovatif.

  • Krisis Xbox: PHK Massal dan Penutupan Studio Mengancam

    Krisis Xbox: PHK Massal dan Penutupan Studio Mengancam

    JBNews.id — Microsoft tengah menghadapi krisis terbesar dalam sejarah divisi gaming-nya. Setelah pameran Summer Game Fest yang gemilang, perusahaan justru mengumumkan rencana “reset” besar-besaran yang mencakup PHK massal, penutupan studio, dan pembatalan game. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi ekosistem Xbox yang sedang terpuruk.

    Kabar mengejutkan ini pertama kali terungkap melalui memo internal dari CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, dan kepala konten Matt Booty. Dalam memo tersebut, mereka menyatakan bahwa divisi Xbox harus melakukan “pilihan sulit” untuk menyelamatkan bisnis yang terus merugi. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa pendapatan tahunan Xbox justru menurun hampir setengah miliar dolar dalam lima tahun terakhir, sementara investasi yang dikeluarkan mencapai lebih dari $20 miliar.

    Krisis ini bukanlah peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Akar masalahnya sudah terbangun sejak lama, terutama akibat strategi ekspansi agresif yang berfokus pada layanan berlangganan Game Pass. Microsoft mengeluarkan dana fantastis sebesar $68,7 miliar untuk mengakuisisi Activision Blizzard King, belum termasuk puluhan miliar lainnya untuk membeli studio dan penerbit game lain. Sayangnya, langkah ini tidak membuahkan hasil sesuai harapan.

    Game Pass, yang semula dianggap sebagai “Netflix-nya game”, justru mengalami stagnasi. Saat ini layanan tersebut hanya memiliki sekitar 30 juta pelanggan, jauh dari target 100 juta yang diharapkan Microsoft pada tahun 2030. Dengan kata lain, perusahaan telah menghabiskan dana besar untuk sebuah bisnis yang tidak tumbuh sesuai prediksi.

    Dampak PHK Massal dan Penutupan Studio

    Laporan dari jurnalis teknologi Tom Warren mengungkapkan bahwa Microsoft berencana menutup setidaknya lima studio game. Yang paling mengejutkan, studio-studio tersebut termasuk nama-nama besar seperti Arkane (dikenal lewat seri Dishonored) dan Double Fine Productions (pengembang Psychonauts). Kedua studio ini baru saja memamerkan game terbaru mereka di Summer Game Fest, namun kini terancam ditutup.

    Keputusan ini sangat ironis mengingat studio-studio tersebut diisi oleh talenta-talenta berbakat yang telah menciptakan beberapa game paling berpengaruh dalam sejarah industri. Mereka kini menjadi korban dari keputusan bisnis yang salah di level manajemen puncak.

    Selain penutupan studio, PHK massal juga diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat. Laporan menyebutkan bahwa gelombang PHK ini bisa dimulai minggu depan, namun belum jelas seberapa luas dampaknya. Beberapa studio mungkin hanya mengalami PHK parsial, sementara yang lain bisa ditutup total atau bahkan dipisahkan menjadi entitas independen.

    Kronologi Keruntuhan Xbox

    Xbox sebenarnya memiliki awal yang menjanjikan. Ketika konsol pertama diluncurkan pada tahun 2001, Microsoft tampak sebagai pesaing serius bagi Sony dan Nintendo. Kehadiran game eksklusif seperti Halo dan inovasi layanan online Xbox Live membuat posisi mereka cukup kuat.

    Namun, segalanya mulai berubah ketika Xbox One diluncurkan pada tahun 2013. Fokus yang salah pada fitur non-gaming seperti TV membuat konsol tersebut kehilangan daya tarik. Sejak saat itu, merek Xbox tidak pernah benar-benar pulih. Generasi Xbox Series X/S yang membingungkan hanya memperburuk situasi.

    Kesalahan strategis lainnya adalah kampanye pemasaran “This is an Xbox” yang membuat konsumen semakin bingung. Alih-alih memperkuat identitas konsol, Microsoft justru mencoba mendefinisikan ulang Xbox sebagai platform multi-perangkat yang mendukung Game Pass. Akibatnya, identitas Xbox sebagai konsol game menjadi kabur.

    Perubahan Kepemimpinan dan Strategi Baru

    Pada Februari lalu, terjadi pergantian besar di jajaran pimpinan Xbox. Phil Spencer, yang selama bertahun-tahun memimpin divisi ini melalui era Game Pass dan akuisisi besar-besaran, memutuskan pensiun. Sementara itu, presiden dan COO Sarah Bond juga meninggalkan perusahaan.

    Asha Sharma kemudian naik menjadi CEO Xbox. Meskipun latar belakangnya di bidang game dipertanyakan — sebelumnya ia memimpin divisi CoreAI Microsoft — langkah awalnya memberikan secercah harapan. Sharma terlihat mau mendengarkan keluhan penggemar tentang kompatibilitas mundur dan eksklusivitas. Ia juga menghapus merek “Microsoft Gaming” yang tidak populer dan menggantinya dengan “XBOX” (ditulis dengan huruf kapital).

    Namun, perubahan-perubahan ini terkesan dangkal. Masalah fundamental Xbox jauh lebih dalam dari sekadar perubahan nama. Sharma mewarisi bisnis yang telah mengeluarkan dana kolosal tanpa hasil yang sepadan, dan kini tagihannya mulai jatuh tempo.

    Masa Depan Xbox yang Suram

    Krisis Xbox terjadi di tengah industri game yang sedang tidak sehat secara keseluruhan. Harga hardware terus meningkat, studio sukses dibongkar, perilaku anti-konsumen menjadi norma, dan game-game besar mulai jatuh. Namun, masalah Xbox terasa lebih eksistensial dibanding yang lain.

    Bisnis hardware dan langganan Xbox sama-sama goyah. Kini, perusahaan juga menghancurkan tim pengembangan game-nya sendiri. Jika tren ini berlanjut, Xbox akan menjadi “cangkang” dari dirinya yang dulu — sebuah merek tanpa identitas jelas dan tanpa studio untuk menciptakan konten eksklusif.

    Yang membuat situasi semakin rumit adalah masuknya pemain baru ke pasar. Valve dikabarkan akan meluncurkan konsol bernama Steam Machine, yang berpotensi menjadi pesaing serius. Sementara itu, Nintendo terus beroperasi di “dunia paralel” sendiri yang membuatnya kebal terhadap badai industri saat ini.

    Para analis memperkirakan bahwa perubahan ini mungkin belum berakhir. Dengan kondisi konsol gaming yang semakin suram, bukan tidak mungkin Microsoft akan melakukan restrukturisasi lebih lanjut di divisi gaming-nya.

    Implikasinya bagi konsumen sangat jelas: ke depannya, Xbox mungkin tidak akan pernah sama seperti dulu. Penggemar setia harus bersiap menghadapi kemungkinan kehilangan studio favorit, game yang dibatalkan, dan layanan yang semakin terbatas. Bagi para gamer Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa bahkan raksasa teknologi sekalipun tidak kebal terhadap kesalahan strategis dalam industri yang sangat kompetitif ini.

  • Sony Tutup PlayStation Store PS3 dan PS Vita

    Sony Tutup PlayStation Store PS3 dan PS Vita

    JBNews.id — Sony resmi mengumumkan akan menutup PlayStation Store untuk konsol PS3 dan PS Vita secara bertahap, mulai tahun ini hingga 2027.

    Keputusan ini diumumkan oleh Direktur Senior, Komunikasi Konten Sony Interactive Entertainment, Sid Shuman, pada Jumat (3/7/2026). Penutupan ini dilakukan karena sistem perdagangan modern dan standar pemrosesan pembayaran terbaru tidak lagi didukung oleh perangkat lawas tersebut.

    “Seiring dengan terus berkembangnya PlayStation Store untuk mendukung sistem perdagangan modern, termasuk standar pemrosesan pembayaran yang diperbarui, PS3 dan PS Vita tidak lagi mampu mendukung pembaruan ini pada tingkat yang dibutuhkan. Akibatnya, kami perlu menutup PlayStation Store di perangkat ini,” jelas Shuman dalam pernyataan resminya.

    Penutupan akan dimulai di Meksiko, Honduras, dan Nikaragua pada Agustus 2026. Negara-negara Amerika Latin lainnya dan tambahan wilayah Timur Tengah akan mengalami penghentian dukungan pada akhir 2026. Sementara itu, penutupan secara global untuk PS3 dan PS Vita dijadwalkan pada Juli 2027.

    Meskipun toko digital ditutup, Sony menegaskan bahwa game yang sudah terlanjur dibeli tetap dapat diunduh kembali. Pemain masih bisa mengakses konten yang sudah ada di perpustakaan digital mereka.

    Shuman mengakui bahwa keputusan ini mungkin mengecewakan para penggemar setia. “Kami tahu berita ini mungkin mengecewakan para pemain PS3 dan PS Vita yang memiliki tempat khusus di hati mereka untuk generasi game ini. PS3 dan PS Vita mewakili era penting dalam sejarah PlayStation kami, jadi ini bukanlah keputusan yang mudah bagi kami,” ujarnya.

    CHIBA, JAPAN - SEPTEMBER 20: An attendee walks past the PlayStation logo in the Sony Interactive Entertainment booth during the Tokyo Game Show 2018 on September 20, 2018 in Chiba, Japan.

    Ke depannya, Sony akan lebih fokus memberikan pengalaman bermain di perangkat-perangkat baru PlayStation. Banyak karyawan yang dialihkan untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk terus berinovasi di era digital, mirip dengan bagaimana Fitur Terbaru dari platform lain terus diperbarui untuk mempertahankan pengguna.

    Rencana penutupan ini sebenarnya sudah pernah digaungkan pada 2021. Saat itu, Sony membatalkan keputusan tersebut setelah dihujani protes dari para penggemar. Mantan bos PlayStation, Jim Ryan, mengakui kesalahan tersebut pada 19 April 2021.

    “Namun, setelah mempertimbangkan lebih lanjut, jelas bahwa kami telah membuat keputusan yang salah,” kata Jim Ryan saat itu.

    Setelah pengumuman pembatalan pada 2021, antusiasme pemain untuk membeli game klasik di PS3 dan PS Vita justru meningkat. Ryan mengatakan bahwa pada akhirnya mereka tetap memberikan dukungan pembelian di kedua konsol lawas tersebut. Tren serupa juga terlihat di industri media sosial, di mana Threads Tembus 500 juta pengguna aktif bulanan karena terus beradaptasi.

    Namun kali ini, situasinya berbeda. Hingga saat ini, belum ada respons yang sama dari para gamer terkait penutupan PlayStation Store di PS3 dan PS Vita seperti yang terjadi pada 2021. Tidak ada gelombang protes besar yang tercatat.

    Penutupan ini menandai berakhirnya era bagi dua konsol legendaris PlayStation. PS3 yang dirilis pada 2006 dan PS Vita yang dirilis pada 2011 memiliki basis penggemar yang kuat hingga saat ini. Kedua konsol ini dikenal dengan koleksi game eksklusif yang ikonik.

    Bagi para kolektor dan penggemar game retro, penutupan ini menjadi pengingat untuk segera membeli game digital yang masih diinginkan sebelum toko ditutup sepenuhnya. Meskipun game yang sudah dibeli tetap bisa diunduh, tidak ada lagi kesempatan untuk membeli game baru setelah penutupan.

    Langkah Sony ini juga sejalan dengan tren industri game yang semakin beralih ke layanan streaming dan konsol generasi terbaru. Perusahaan seperti Microsoft dan Nintendo juga secara bertahap menghentikan dukungan untuk platform lama mereka. Dalam konteks bisnis yang lebih luas, strategi fokus pada Rating Tertinggi layanan juga menjadi prioritas banyak perusahaan teknologi.

    Bagi pemilik PS3 dan PS Vita, waktu yang tersisa untuk berbelanja game digital masih cukup panjang. Penutupan global baru akan terjadi pada Juli 2027, memberikan waktu sekitar satu tahun bagi para gamer untuk mempersiapkan diri.

    Implikasi dari keputusan ini cukup jelas: para pemain harus segera memutuskan game apa yang ingin mereka miliki secara digital sebelum toko ditutup. Setelah penutupan, satu-satunya cara untuk mendapatkan game PS3 dan PS Vita adalah melalui media fisik, yang ketersediaannya semakin terbatas.

    Sony sendiri belum mengumumkan apakah akan ada program kompensasi atau diskon khusus menjelang penutupan. Yang pasti, perusahaan akan terus mengalokasikan sumber daya untuk mengembangkan ekosistem PlayStation 5 dan layanan PlayStation Plus yang lebih modern.

    Penutupan PlayStation Store untuk PS3 dan PS Vita adalah langkah logis dari sisi bisnis, namun tetap menjadi momen yang emosional bagi para penggemar setia PlayStation. Era digital memang terus bergerak maju, meninggalkan platform-platform lama yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah gaming.

    Bagi yang ingin tetap bermain game klasik, masih ada opsi untuk membeli game fisik bekas atau menggunakan emulator. Namun, kemudahan dan kenyamanan membeli game langsung dari toko digital tidak akan bisa digantikan. Keputusan akhir ada di tangan para pemain: segera berbelanja atau kehilangan kesempatan selamanya.

    Dalam beberapa tahun ke depan, tren serupa kemungkinan akan terjadi pada konsol generasi selanjutnya. PlayStation 4 mungkin akan mengalami nasib yang sama dalam satu dekade mendatang. Bagi para gamer, ini adalah pengingat bahwa tidak ada platform yang abadi di dunia digital.

    Sementara itu, Sony tampaknya tidak akan mengulangi kesalahan 2021. Dengan tidak adanya respons besar dari komunitas, rencana penutupan kali ini kemungkinan besar akan berjalan sesuai jadwal. Para pemain yang masih setia dengan PS3 dan PS Vita harus bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal pada PlayStation Store di konsol kesayangan mereka.

    Penutupan ini juga membuka peluang bagi platform lain untuk menawarkan layanan serupa. Namun, dengan dominasi pasar yang dimiliki Sony, kecil kemungkinan ada pesaing yang bisa mengisi kekosongan tersebut secara signifikan.

    Bagi industri game secara keseluruhan, langkah Sony ini menegaskan bahwa inovasi dan modernisasi adalah kunci untuk bertahan. Perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi akan tertinggal, seperti yang terjadi pada beberapa platform lama. Dalam konteks yang lebih luas, strategi adaptasi ini juga terlihat di sektor lain, seperti bagaimana Gen AI Bisa menjadi alat kreatif di festival film Tribeca.

    Pada akhirnya, penutupan PlayStation Store untuk PS3 dan PS Vita adalah babak penutup dari sebuah era. Para gamer yang tumbuh bersama konsol-konsol ini pasti akan merasakan nostalgia. Namun, seperti kata pepatah, semua yang baik pasti akan berakhir. Kini saatnya untuk menyambut masa depan gaming yang lebih canggih dan modern.

  • Warga Dowagiac Gugat Data Center Bising Setara Jet Engine

    Warga Dowagiac Gugat Data Center Bising Setara Jet Engine

    JBNews.id — Warga Dowagiac, Michigan, Amerika Serikat, menggugat operator pusat data Hyperscale Data Inc. karena kebisingan ekstrem dari fasilitas tersebut yang disebut setara dengan suara mesin jet.

    Marjorie dan Billy Finn, pasangan suami istri yang rumahnya berada tepat di depan kompleks pusat data berkapasitas 30 megawatt itu, mengaku hidup mereka berubah drastis sejak fasilitas tersebut beroperasi pada 2022. Suara dengung konstan dari data center digambarkan seperti suara mesin jet yang tidak pernah berhenti.

    “Rasanya kami hidup di penjara di halaman dan rumah kami sendiri,” kata Marjorie Finn kepada MLive, seperti dikutip Futurism. Ia bahkan masih bisa mendengar dengungan tersebut saat mencoba tidur di malam hari.

    Billy Finn, yang telah memantau tingkat kebisingan sejak 2022, mencatat peningkatan signifikan. Awalnya, tingkat desibel di Louise Avenue sekitar 52 desibel. Kini, angkanya mencapai 61 desibel dan terkadang melonjak hingga 78 desibel. Di dalam rumah, tingkat kebisingan turun menjadi 39 desibel, setara dengan kantor atau perpustakaan yang tenang. Namun, saat pintu dibuka, suara langsung melonjak ke 62 desibel, mirip dengan suara pesawat jet yang meluncur di landasan pacu dari kejauhan.

    “Ini seperti jalan kota besar yang ramai dengan lalu lintas kendaraan,” ujar Billy Finn.

    Dua warga lainnya telah mengajukan gugatan terhadap Hyperscale Data, menuduh bahwa rumah mereka “secara fisik diserang” oleh “kebisingan berlebihan” dari fasilitas tersebut. Gugatan itu juga menuduh Hyperscale Data gagal menerapkan langkah-langkah peredam suara yang memadai, seperti dinding beton yang mengelilingi jalan raya di kawasan pemukiman. Meskipun Finn diminta bergabung, mereka menolak.

    Dampak Kesehatan yang Mengkhawatirkan

    Polusi suara dari pusat data bukanlah keluhan baru. Sejumlah penelitian dan laporan sebelumnya telah menyoroti masalah ini. The Nashville Zoo di Tennessee, misalnya, pernah memperingatkan bahwa konstruksi pusat data di dekatnya dapat membahayakan hewan yang hidup di penangkaran.

    The Environmental and Energy Study Institute menyatakan bahwa pusat data memancarkan suara pada frekuensi ultra-rendah yang, dalam jangka waktu lama, dapat memicu berbagai gejala seperti kecemasan dan mual, meskipun bukti ilmiah mengenai hal ini masih diperdebatkan.

    Kim Kragt, audiolog utama dari Bronson Hospital, menjelaskan bahwa meskipun 62 desibel tidak akan merusak telinga secara langsung, paparan terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan tingkat stres dan bahkan dikaitkan dengan masalah jantung. “Bahkan pada tingkat yang lebih rendah, jika tidak merusak telinga, itu merusak kesehatan dan kesejahteraan Anda secara keseluruhan,” kata Kragt. Ia menambahkan bahwa karena dengungan pusat data bersifat “tidak alami”, mungkin lebih sulit bagi tubuh untuk beradaptasi dengannya.

    Nasib Warga yang Terjebak

    Bagi keluarga Finn, situasi ini terasa seperti kehilangan besar. Mereka mengaku semakin sedikit teman dan keluarga yang berkunjung karena kebisingan. Mereka juga khawatir nilai properti rumah mereka anjlok akibat keberadaan pusat data tersebut.

    “Mereka telah mencuri sesuatu dari kami,” kata Marjorie. “Rasanya seperti kehilangan yang sangat besar.”

    Kasus di Dowagiac ini menjadi pengingat nyata bahwa ekspansi infrastruktur digital, meskipun penting, harus mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan terhadap masyarakat sekitar. Hyperscale Data Inc. sendiri baru-baru ini mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran untuk fasilitas tersebut, yang berpotensi memperburuk masalah kebisingan.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai isu terkait pusat data, Anda dapat membaca artikel tentang Pencurian Kabel Data Center yang merugikan hingga miliaran rupiah.

    Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang regulasi pembangunan pusat data di kawasan pemukiman. Belajar dari pengalaman di Dowagiac, diharapkan ada kebijakan yang lebih ketat untuk melindungi hak-hak warga dari dampak negatif operasional pusat data. Teknologi memang harus maju, tetapi tidak boleh mengorbankan kualitas hidup masyarakat.

  • Cara Efektif Hindari Spoiler Film di Media Sosial

    Cara Efektif Hindari Spoiler Film di Media Sosial

    JBNews.id — Menghindari spoiler film atau serial favorit di era digital membutuhkan strategi yang tepat. Pengguna media sosial kini rentan terhadap bocoran alur cerita yang bisa muncul kapan saja di linimasa mereka. Tanpa langkah antisipasi, risiko mengetahui akhir cerita sebelum menonton menjadi sangat tinggi.

    Fenomena spoiler semakin marak seiring dengan banyaknya platform streaming yang merilis episode secara mingguan. Penggemar yang belum sempat menonton sering kali menjadi korban unggahan teman atau rekomendasi algoritma. Untuk mengatasinya, ada beberapa metode yang bisa diterapkan secara mandiri oleh pengguna.

    Metode pertama adalah memanfaatkan fitur mute yang tersedia di berbagai platform media sosial. Fitur ini memungkinkan pengguna menyembunyikan konten yang mengandung kata kunci tertentu. Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada pemilihan kata yang tepat, termasuk singkatan atau istilah populer dari judul film atau serial yang ingin dihindari.

    Mute Fitur di Platform Media Sosial

    Di platform X, pengguna dapat mengakses menu Settings and privacy dari sisi kiri layar, baik di versi desktop maupun seluler. Selanjutnya pilih Privacy and safety, lalu Mute and block, dan terakhir Muted words. Setiap postingan yang mengandung kata yang sudah ditentukan tidak akan muncul di linimasa dan tidak memicu notifikasi. Pengguna juga bisa mengatur durasi mute sesuai kebutuhan.

    Bagi pengguna Bluesky, langkahnya serupa. Buka Settings dari menu navigasi, pilih Moderation, lalu Muted words & tags. Opsi pengaturan waktu juga tersedia, mulai dari periode tertentu hingga manual dimatikan. Sementara itu, Threads memiliki fitur serupa bernama Hidden Words yang bisa diakses melalui menu Privacy.

    Metode ini sangat efektif untuk melindungi pengguna dari bocoran cerita yang tidak diinginkan. Dengan Fitur Terbaru dari masing-masing platform, risiko terkena spoiler bisa ditekan secara signifikan.

    Ekstensi Browser untuk Perlindungan Maksimal

    Salah satu keunggulan menggunakan ekstensi browser adalah kemampuannya menjangkau seluruh situs web yang dikunjungi, termasuk media sosial. Meskipun tidak sempurna, ekstensi ini memberikan lapisan perlindungan tambahan. Beberapa opsi populer tersedia untuk berbagai browser.

    Spoiler Protection adalah ekstensi terbaik untuk Google Chrome dan browser berbasis Chromium seperti Microsoft Edge. Pengguna cukup memasukkan kata kunci, dan konten yang mengandung kata tersebut akan diblokir di situs mana pun. Ekstensi lain yang direkomendasikan adalah Shut Up, yang bekerja di semua browser utama. Fungsinya adalah memblokir kolom komentar di berbagai situs seperti YouTube dan Facebook, tempat spoiler sering kali muncul.

    Dengan menggunakan ekstensi ini, pengguna tidak hanya terlindungi dari spoiler tetapi juga mendapatkan manfaat untuk kesehatan mental. Mengurangi paparan terhadap komentar negatif atau tidak relevan dapat meningkatkan pengalaman berselancar di internet.

    Pola Browsing yang Lebih Bijak

    Pada tingkat tertentu, pengguna mungkin perlu menyesuaikan kebiasaan browsing saat sadar akan risiko menemukan spoiler. Ini bisa berarti mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial atau bahkan mengurangi aktivitas daring secara umum. Situs seperti Reddit dan YouTube menjadi tempat berbahaya karena algoritma mereka cenderung merekomendasikan konten yang relevan dengan minat pengguna.

    Untuk situasi ketika pengguna benar-benar harus online, mode incognito di browser bisa menjadi solusi. Mode ini membuat pengguna logout dari berbagai akun, sehingga tidak melihat rekomendasi yang didasarkan pada riwayat penelusuran atau minat sebelumnya. YouTube versi seluler juga memiliki mode incognito sendiri yang bisa diaktifkan melalui ikon profil di pojok kanan bawah, lalu pilih Turn on incognito.

    Pendekatan ini membutuhkan disiplin diri tetapi sangat efektif untuk jangka pendek. Dengan Waspada Love Scam, pengguna juga perlu berhati-hati terhadap konten menyesatkan yang bisa muncul kapan saja.

    Mengelola Pesan dari Kontak

    Terkadang spoiler datang dari teman atau anggota keluarga melalui pesan pribadi atau grup chat. Meskipun aplikasi pesan tidak memiliki fitur mute kata kunci seperti media sosial, pengguna bisa mematikan notifikasi untuk grup chat tertentu. Langkah ini mencegah munculnya pemberitahuan di layar ponsel yang mungkin memperlihatkan potensi plot twist.

    Opsi mute biasanya mudah ditemukan di berbagai aplikasi chat. Di WhatsApp, misalnya, pengguna bisa membuka percakapan, tekan tiga titik di pojok kanan atas, lalu pilih Mute notifications. Durasi mute tersedia selama delapan jam, satu minggu, atau tanpa batas waktu hingga dimatikan manual.

    Metode ini memang tidak presisi, tetapi sangat berguna saat pengguna merasa kontaknya mungkin secara tidak sengaja membocorkan cerita. Dengan Keunggulannya yang jelas, fitur ini memberikan ketenangan pikiran selama periode sensitif.

    Kesimpulannya, menghindari spoiler membutuhkan kombinasi dari berbagai metode. Mulai dari memanfaatkan fitur mute di media sosial, menggunakan ekstensi browser, menyesuaikan pola browsing, hingga mengelola notifikasi pesan. Tidak ada satu metode pun yang sempurna, tetapi dengan menerapkan beberapa langkah secara bersamaan, risiko terkena spoiler bisa diminimalkan secara signifikan.

    Bagi pengguna yang sering menjadi korban spoiler, penting untuk mulai menerapkan strategi ini secara konsisten. Dengan perlindungan yang tepat, pengalaman menonton film atau serial favorit tetap bisa dinikmati tanpa gangguan bocoran cerita dari dunia maya.

  • Binus Gaungkan AI for Life, Jadi Tuan Rumah Konferensi Global QS 2026

    Binus Gaungkan AI for Life, Jadi Tuan Rumah Konferensi Global QS 2026

    JBNews.id — Binus University meluncurkan inisiatif strategis bertajuk “AI for Life” yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai alat untuk memperkuat kehidupan manusia. Langkah ini dibarengi dengan penunjukan kampus tersebut sebagai tuan rumah QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali pada November mendatang.

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi eksponensial, Asia Pasifik kini bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan riset dan inovasi digital yang paling dinamis. Menjawab tantangan tersebut, Binus University membuat inisiatif “AI for Life” sebagai refleksi lintas disiplin ilmu agar pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak berhenti hanya sebagai sekadar alat bantu, melainkan diarahkan secara etis demi memperkuat kualitas hidup, produktivitas, dan kedaulatan bangsa.

    Ketua Dewan Guru Besar Binus University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., menyatakan bahwa momentum perayaan ini adalah wujud kontribusi nyata akademisi. “Melalui gagasan AI for Life, Dewan Guru Besar Binus ingin menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya,” tuturnya, dalam keterangan yang diterima detikINET.

    Ilustrasi AI, Artificial Intelligence, teknologi robot pintar, transformasi teknologi masa depan

    Gagasan ini difokuskan pada tiga pilar keilmuan strategis. Pertama, Teknologi, Engineering, dan IT (AI Transformation): menggeser posisi dari sekadar pengguna (AI adoption) menjadi pencipta nilai ekonomi dan sosial. Fokusnya mencakup kesiapan infrastruktur data, proteksi privasi, etika, dan penyiapan talenta digital.

    Kedua, Bisnis dan Industri Kreatif: memposisikan AI sebagai mitra strategis untuk mempercepat eksploitasi ide dan mendongkrak efisiensi daya saing, namun tetap mempertahankan sentuhan rasa, kepekaan sosial, dan budaya manusia. Ketiga, Geopolitik, Hukum, dan Kebijakan Nasional: menggarisbawahi urgensi kedaulatan data, perlindungan keamanan siber, mitigasi ancaman perang asimetris, hingga perlunya regulasi responsif yang mampu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan kepentingan publik.

    Membawa Inovasi Indonesia ke Panggung Dunia

    Semangat transformasi digital dan kepemimpinan AI ini akan digaungkan lebih kencang pada ajang QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026. Mengusung tema “Advancing Education for Purpose and Impact”, forum global ini dijadwalkan berlangsung pada 3-5 November 2026 di Bali International Convention Centre.

    Acara akbar ini diproyeksikan akan mempertemukan lebih dari 1.000 delegasi lintas negara, yang terdiri dari para pemimpin perguruan tinggi dunia, perwakilan pemerintah, hingga pelaku industri teknologi. Indonesia akan menjadi pusat perhatian global dalam diskusi tentang masa depan pendidikan tinggi dan inovasi teknologi.

    President of Binus Higher Education, Stephen Wahyudi Santoso, mengungkapkan rasa bangganya atas kesempatan ini. “Ini bukan hanya sebagai pencapaian bagi Binus, tetapi juga momentum bagi Indonesia. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang terus berkembang, adaptif, berbasis teknologi, dan siap berkolaborasi secara global,” jelasnya.

    Pemilihan Binus University tentu bukan tanpa alasan. Diakui sebagai universitas swasta nomor satu di Indonesia berdasarkan QS World University Rankings 2027, kampus ini dinilai memiliki rekam jejak yang matang dalam menjembatani riset akademik dengan kebutuhan industri masa depan. Hal ini turut diamini oleh E Way Chong, Regional Partnership Director QS, yang menyebut Binus sebagai mitra ideal untuk menyelenggarakan forum skala internasional ini.

    Rektor Binus University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., menutup penjelasannya dengan optimisme dan pesan kolaborasi. “Kami percaya bahwa kemajuan pendidikan tinggi dan teknologi tumbuh melalui dialog terbuka serta jejaring yang kuat. Melalui perayaan 45 tahun ini, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun masa depan Indonesia yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak nyata bagi dunia,” tutupnya.

    Inisiatif AI for Life dan penyelenggaraan QS Higher Ed Summit 2026 menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekosistem inovasi global. Bagi industri teknologi, langkah ini membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan talenta digital yang lebih luas. Sementara bagi publik, ini adalah sinyal bahwa pendidikan tinggi Indonesia siap bersaing di tingkat internasional dengan pendekatan etis dan berkelanjutan dalam pemanfaatan AI.

    Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati di tengah dinamika industri teknologi global. Di sisi lain, persaingan di pasar perangkat keras juga semakin ketat, seperti yang terlihat dari iklan perbandingan AMD terhadap produk kompetitor. Sementara itu, industri konten digital juga terus bertransformasi, meskipun ada tantangan seperti yang dihadapi Microsoft dengan kenaikan harga Xbox Game Pass yang berdampak pada basis pelanggan.