Author: Hamzah Nurhamzah

  • Apple Siapkan 5 iPhone Baru hingga 2027 dan Lirik Chip China

    Apple Siapkan 5 iPhone Baru hingga 2027 dan Lirik Chip China

    JBNews.id — Apple berencana meluncurkan setidaknya lima model iPhone baru antara paruh kedua tahun 2026 ini hingga paruh pertama 2027. Langkah ini diambil di tengah upaya perusahaan meningkatkan produksi perangkat lipat pertamanya dan menjajaki pemesanan chip memori dari produsen China.

    Menurut laporan Nikkei Asia yang dikutip detikINET dari CNBC, raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut telah menginstruksikan pemasok untuk bersiap memproduksi sekitar 10 juta unit iPhone lipat tahun ini. Angka itu naik dari perkiraan sebelumnya yang hanya 7 hingga 8 juta unit. Sebelumnya, Apple Tingkatkan Produksi iPhone Ultra Lipat menjadi 10 juta unit, menandai komitmen besar terhadap segmen perangkat lipat.

    Menjelang peluncuran perangkat lipat pertamanya, Apple juga telah mengamankan komponen untuk sekitar 80 juta smartphone yang tersebar dalam berbagai model baru untuk paruh kedua tahun 2026. Total produksi smartphone Apple tahun 2026 diperkirakan melampaui 220 juta unit.

    Skala Produksi dan Daya Beli Unggul

    Skala dan daya beli perusahaan dalam pengadaan memori maupun komponen tetap lebih kuat dibandingkan sebagian besar pesaingnya. Hal ini terjadi bahkan ketika kekurangan akibat tingginya permintaan terkait AI melanda industri ini. Upaya Apple untuk mengamankan komponen terjadi saat kelangkaan memori global yang didorong oleh permintaan dari data center AI mendongkrak biaya di seluruh industri.

    Apple pun tak kebal dengan kenaikan harga. Baru-baru ini, banderol produk andalan mereka termasuk MacBook dan iPad naik secara drastis. Untuk produk terbaru lainnya, Apple Siapkan MacBook Pro 14 Inci dan iPad Pro baru yang dijadwalkan rilis pada 2027.

    Lirik Chip dari China

    Bloomberg melaporkan Apple tengah dalam pembicaraan untuk memesan chip memori bagi perangkat yang dijual di China dari produsen lokal, ChangXin Memory Technologies dan Yangtze Memory Technologies. Kedua perusahaan itu sebenarnya masuk dalam daftar Pentagon sebagai perusahaan yang diduga mendukung militer Beijing.

    Apple belum mengonfirmasi diskusi tersebut dan Bloomberg melaporkan bahwa negosiasi masih terus berlangsung pada saat ini. Langkah ini menunjukkan upaya Apple untuk diversifikasi rantai pasok di tengah ketegangan geopolitik antara AS dan China.

    Selain itu, Apple juga tengah mengembangkan fitur AI baru untuk aplikasi kreatifnya. Informasi mengenai Apple Creator Studio mengungkapkan fitur AI baru untuk Final Cut Pro dan Logic Pro yang diharapkan meningkatkan produktivitas pengguna profesional.

    Implikasi bagi Industri dan Konsumen

    Langkah agresif Apple ini memiliki implikasi signifikan. Pertama, peluncuran lima model iPhone baru dalam waktu kurang dari setahun akan membanjiri pasar dengan pilihan beragam, dari model flagship hingga kelas menengah. Kedua, produksi 10 juta unit iPhone lipat menunjukkan keyakinan Apple terhadap segmen ini, yang berpotensi mengubah dinamika pasar perangkat lipat yang saat ini didominasi Samsung dan merek China.

    Ketiga, pembicaraan dengan pemasok chip China menunjukkan Apple bersedia mengambil risiko politik demi mengamankan pasokan komponen. Jika terealisasi, langkah ini bisa memicu reaksi dari pemerintah AS yang semakin ketat dalam pengawasan teknologi yang digunakan oleh perusahaan China yang masuk daftar hitam Pentagon.

    Bagi konsumen, strategi ini berarti lebih banyak pilihan iPhone dalam waktu dekat, termasuk perangkat lipat yang selama ini dinantikan. Namun, kenaikan harga komponen akibat kelangkaan memori global kemungkinan akan tercermin pada harga jual produk Apple ke depannya.

    Dengan total produksi diperkirakan melampaui 220 juta unit pada 2026, Apple menunjukkan ambisinya untuk terus mendominasi pasar smartphone global meskipun menghadapi tantangan rantai pasok dan tekanan geopolitik.

  • Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai Sisa Komodo

    Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai Sisa Komodo

    JBNews.id — Manusia purba mungil yang telah punah di Indonesia berjuluk hobbit, menurut penelitian terbaru ternyata adalah pemakan bangkai yang menyantap sisa gajah kerdil setelah komodo mengambil bagian daging terbaiknya. Temuan ini menjungkirbalikkan asumsi yang menyebut Homo floresiensis sebagai pemburu hewan-hewan besar.

    Pertama kali ditemukan tahun 2003, H. floresiensis dijuluki hobbit karena ukurannya kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 106 sentimeter. Spesies manusia purba yang tiba di pulau Flores setidaknya 700.000 tahun lalu ini memiliki otak kecil, gigi besar, dan kaki lebar. Para hobbit ini menghilang sekitar 50.000 tahun lalu ketika Homo sapiens mulai menyebar di Asia Tenggara.

    Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances, tim peneliti internasional mempertanyakan apakah perilaku H. floresiensis benar-benar semaju yang diasumsikan sebelumnya. Arkeolog sebelumnya menemukan peralatan batu, tulang hewan dengan bekas sayatan, serta tulang hangus yang tampaknya menunjukkan perilaku kompleks yang umum ditemukan pada genus Homo.

    Peneliti mengamati fosil Stegodon florensis insularis — kerabat gajah kerdil punah yang ditemukan di Gua Liang Bua, tempat tulang H. floresiensis dan peralatan batu juga ditemukan — untuk menentukan apakah bekas sayatan berasal dari berburu atau dari memakan sisa mangsa karnivora satu-satunya di pulau itu: komodo (Varanus komodoensis).

    Eksperimen Gigitan Komodo

    Untuk membedakan bekas sayatan buatan hobbit dari bekas gigitan komodo, peneliti memberi bangkai kambing pada komodo penangkaran. Mereka mengambilnya kembali dan mendokumentasikan semua bekas luka gigi komodo. Bekas gigitan terkonsentrasi di area dengan banyak daging, menunjukkan komodo lebih menyukai bagian-bagian berdaging.

    Selanjutnya, peneliti menyelidiki tulang Stegodon purba untuk mencari bukti bekas sayatan alat batu H. floresiensis dan bekas gigitan komodo. Mereka menemukan 54 bekas sayatan pada tulang Stegodon dan hampir dua kali lipat lebih banyak bekas gigitan komodo. Lebih penting lagi, mereka menemukan bekas gigitan komodo terfokus pada area yang berdaging, sementara bekas sayatan manusia purba sebagian besar berada di area yang tidak banyak dagingnya.

    Ini menunjukkan H. floresiensis tidak berburu dan membunuh Stegodon. Polanya mengisyaratkan kombinasi akses primer (pertama) oleh komodo dan akses sekunder oleh H. floresiensis. Para hobbit juga kemungkinan besar makan daging mentah, karena tak ditemukan bukti tulang Stegodon dimasak. Juga tak ada bukti pembakaran pada lebih dari 4.000 tulang tikus dari situs, mengindikasikan bukti “tulang hangus” sebelumnya sebenarnya hanyalah noda alami.

    Hasil rekonstruksi wajah Homo floresiensis, kerabat manusia yang tinggal di Flores, NTT belasan ribu tahun lalu

    Misteri Evolusi dan Nenek Moyang H. floresiensis

    Ketiadaan teknologi berburu dan membuat api menunjukkan perilaku mereka tidaklah sekompleks perkiraan sebelumnya, serta memunculkan pertanyaan tentang garis keturunannya. Mungkin nenek moyang H. floresiensis berpisah dari genus Homo sebelum manusia berhasil menguasai api dan keterampilan berburu.

    Penulis studi, E. Grace Veatch, paleoantropolog Universitas Tubingen Jerman menyebut hipotesis pertama asal-usul hobbit adalah fenomena pengerdilan yang terjadi ketika ukuran tubuh spesies besar berevolusi jadi lebih kecil antar generasi akibat sumber daya alam yang terbatas. Teori lain menyebut hobbit keturunan dari spesies Homo lebih kuno yang memang sudah bertubuh kecil.

    “Studi kami menyimpulkan H. floresiensis berevolusi dari populasi hominin yang tidak membutuhkan strategi diet (berburu dan memasak) semacam itu, menyerupai bentuk Homo purba,” katanya. Namun, studi baru ini belum sepenuhnya menyelesaikan perdebatan tentang silsilah mereka, karena masih sedikit yang diketahui mengenai perilaku hominin purba di Asia Tenggara. Di mana tepatnya posisi H. floresiensis di antara keluarga genus Homo lainnya masih belum terjawab.

    Temuan ini membuka perspektif baru tentang evolusi manusia di Asia Tenggara. Implikasinya bagi pembaca: asumsi tentang kemampuan berburu manusia purba mungkin perlu dikaji ulang secara fundamental. Riset Keamanan serupa di bidang lain juga menunjukkan pentingnya pengujian ulang asumsi lama dengan metodologi baru.

    Penemuan ini juga mengingatkan bahwa Riset AI modern pun sering mengungkapkan pola tersembunyi yang sebelumnya tidak terdeteksi. Hal serupa terjadi dalam studi paleoantropologi di Flores.

  • Oppo Reno 16 Series Naik 56%, Ini Alasan di Baliknya

    Oppo Reno 16 Series Naik 56%, Ini Alasan di Baliknya

    JBNews.id — Harga Oppo Reno 16 Series di Indonesia naik signifikan dibandingkan generasi sebelumnya, dengan kenaikan paling terasa pada Oppo Reno 16 5G yang mencapai hampir 56 persen. Varian 8GB/256GB kini dibanderol Rp 11.999.000 dari sebelumnya Rp 7.699.000, sementara varian 12GB/256GB naik menjadi Rp 12.999.000 dari Rp 8.299.000.

    Kenaikan juga terjadi pada seri Reno F. Reno 16F 5G 8GB/128GB kini dijual Rp 7.999.000, naik Rp 2,5 juta atau sekitar 45 persen dari generasi sebelumnya yang dibanderol Rp 5.499.000. Untuk varian 8GB/256GB, harga melonjak dari Rp 5.999.000 menjadi Rp 8.699.000, juga naik sekitar 45 persen.

    Deni Setiawan, Product Manager Oppo Indonesia, menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat harga Reno 16 Series meningkat cukup besar. Salah satunya adalah kondisi komponen, terutama memori RAM.

    “Saya yakin rekan-rekan juga memahami kondisi saat ini, terutama bagaimana memori RAM menjadi agak lebih sulit didapatkan. Kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh harga memori RAM itu sendiri. Selain itu, nilai tukar juga menjadi salah satu faktor yang membebani harga,” ujar Deni saat berbincang usai peluncuran Oppo Reno 16 Series di Jakarta.

    Oppo Reno 16 Series

    Meski harga naik, Oppo mengklaim value yang diberikan Reno 16 Series juga meningkat. Deni mengatakan Oppo tidak hanya menaikkan spesifikasi, tetapi juga melakukan pengembangan besar di sisi desain, performa, gaming experience, dan fitur AI.

    Salah satu yang menjadi sorotan adalah desain 3D pop-up planet design. Menurut Deni, investasi pengembangan untuk desain ini mencapai tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Waktu riset dan pengembangannya juga disebut tiga hingga empat kali lebih lama. Tujuannya untuk menghadirkan desain yang lebih berbeda dibandingkan smartphone lain di kelasnya.

    “Menurut saya ini juga baru pertama kali ada desain 3D di handphone yang bisa dilihat tanpa perlu memakai kacamata 3D. Efek pop-out 3D-nya bisa terlihat sekitar 5–15 mm keluar dari back cover,” jelas Deni.

    Dari sisi performa, Oppo juga menekankan bahwa Reno 16 Series tidak hanya mengejar skor benchmark. Perusahaan ingin Reno Series menjadi perangkat yang lebih memahami kebutuhan pengguna, termasuk saat bermain game. Salah satu fitur yang dibawa adalah peningkatan kualitas screenshot in-game hingga resolusi 2K. Fitur ini ditujukan agar momen kemenangan saat bermain game tetap terlihat tajam ketika dibagikan ke media sosial.

    Oppo juga memasukkan lebih banyak fitur AI di Reno 16 Series. Deni menyebut AI menjadi salah satu pembeda utama smartphone masa kini, karena tidak lagi hanya berpusat pada spesifikasi hardware. Menurutnya, fitur AI membutuhkan backend, server, data, dan infrastruktur yang tidak murah. Karena itu, pengembangan AI ikut menjadi bagian dari value yang ditawarkan pada Reno 16 Series.

    Oppo mencontohkan penggunaan AI untuk membantu anak muda membuat konten media sosial. Proses editing seperti kolase, efek pop-up, dan manipulasi visual yang biasanya membutuhkan aplikasi pihak ketiga kini coba dibawa langsung ke dalam ponsel. Tren ini juga terlihat pada pengembangan fitur AI di berbagai platform, seperti yang dijelaskan dalam artikel AI Klarifikasi mengenai cara kerja algoritma.

    “Oppo sangat fokus pada AI. Kami membuat banyak fitur AI yang sekarang sebenarnya sedang menjadi tren,” kata Deni.

    Untuk model lama, Deni memastikan harga tidak akan mengalami perubahan signifikan. Sebab, harga produk lama sudah ditentukan saat perangkat tersebut dirilis dan memiliki basis produksi serta segmentasi berbeda. Di Oppo, harga diklaim tidak sekadar dibandingkan antar-generasi. Perusahaan menilai harga harus dilihat dari value yang ditawarkan masing-masing produk.

    “Value yang didapatkan pengguna dari Reno16 Series dan varian lainnya kami yakini sepadan dengan harga yang ditawarkan,” pungkas Deni.

    Kenaikan harga smartphone premium seperti Oppo Reno 16 Series menunjukkan tren industri yang bergeser ke arah integrasi AI dan desain inovatif. Bagi konsumen yang mencari Alasan Ilmiah di balik tren teknologi terkini, data ini memberikan gambaran jelas tentang biaya pengembangan yang harus dibayar. Implikasinya, konsumen kini harus merelakan budget lebih besar untuk mendapatkan fitur AI canggih dan desain eksklusif yang sebelumnya tidak tersedia di kelas harga menengah atas.

    Dengan tren kenaikan harga komponen global dan investasi besar pada fitur AI, kemungkinan besar strategi harga ini akan diikuti oleh merek lain. Bagi pengguna setia Oppo, keputusan untuk upgrade ke Reno 16 Series harus dipertimbangkan matang-matang, terutama jika budget menjadi faktor utama. Namun, bagi yang mengutamakan pengalaman terbaru dalam fotografi AI dan desain inovatif, kenaikan harga ini mungkin sebanding dengan value yang ditawarkan.

  • Telkomsel Genjot UKM Naik Kelas Lewat DCE Academy & Summit 2026

    Telkomsel Genjot UKM Naik Kelas Lewat DCE Academy & Summit 2026

    JBNews.id — Telkomsel melalui program Digital Creative Entrepreneurs (DCE) menyelenggarakan DCE Academy & Summit 2026 di Bandung, sebuah inisiatif strategis untuk mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar mampu bertumbuh di era digital dan memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). Program ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendampingi pelaku UKM agar siap bersaing di pasar global.

    Mengangkat tema “AI-Enabled SMEs Growth: How Locals Go Global”, program ini menghadirkan rangkaian kegiatan komprehensif. Mulai dari pembelajaran intensif, mentoring, live shopping, benchmarking, pitching, hingga sesi inspiratif bersama para pelaku usaha dan ekosistem kreatif. Melalui pendekatan ini, Telkomsel memperkuat kapabilitas, kreativitas, dan daya saing UKM dengan fokus pada pertumbuhan berbasis AI, sehingga pelaku usaha dapat menjalankan transformasi digital secara lebih berkelanjutan.

    Dalam pelaksanaannya, DCE Academy membekali peserta dengan materi praktis yang mencakup berbagai aspek penting. Materi tersebut meliputi tren pasar dan pengembangan produk, akses pendanaan, branding dan digital marketing, networking, leadership, hingga pemanfaatan kanal digital seperti live shopping. Pendekatan holistik ini dirancang untuk memastikan peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang ekosistem bisnis digital.

    Komitmen Telkomsel untuk UKM Indonesia

    VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan teknologi dapat dipahami dan dimanfaatkan secara relevan oleh pelaku UKM. “Melalui DCE Academy & Summit 2026, Telkomsel ingin memastikan teknologi, termasuk AI, dapat dipahami dan dimanfaatkan secara relevan oleh pelaku UKM. Bagi kami, inovasi digital bukan hanya tentang teknologi yang semakin maju, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan lebih baik, menjangkau pelanggan lebih luas, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (5/7/2026).

    Program ini mendapat sambutan antusias dari para pelaku UKM di seluruh Indonesia. Tercatat, lebih dari 2.900 UKM mendaftar untuk mengikuti program DCE. Dari jumlah tersebut, Telkomsel melakukan seleksi ketat dan memilih 500 UKM terbaik untuk mengikuti sesi onboarding. Selanjutnya, sebanyak 12 UKM terpilih melaju ke tahap akhir DCE Academy & Summit 2026.

    Proses kurasi bertahap ini memastikan setiap peserta yang lolos memiliki produk yang kompetitif dan siap mengembangkan model bisnis, memperluas akses pasar, serta menciptakan dampak yang lebih berkelanjutan. Pendekatan selektif ini juga sejalan dengan strategi perusahaan dalam menghadirkan solusi digital yang tepat sasaran, mirip dengan Paket Data Plus yang dirancang untuk kebutuhan spesifik.

    12 UKM Terbaik dari Berbagai Wilayah

    Rangkaian DCE 2026 mempertemukan 12 UKM terbaik dari empat kategori utama, yakni Fashion, Food & Beverages, Craft, dan Personal Care. Para finalis berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Papua, DKI Jakarta, dan sejumlah wilayah lainnya. Keberagaman ini menunjukkan bahwa potensi UKM tersebar merata di seluruh Nusantara.

    Masing-masing finalis menghadirkan produk unggulan yang mengedepankan potensi lokal, prinsip keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan inovasi digital. Dalam proses penilaian, para peserta dievaluasi berdasarkan lima aspek utama, yakni keunggulan produk, model bisnis, strategi pemasaran, digitalisasi, serta dampak sosial dan lingkungan.

    Pada puncak acara DCE Summit 2026, para finalis mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari sesi pitching, inspiring talks, bazar UKM, hingga sesi networking. Ada pula pemberian penghargaan untuk kategori Best Fashion Track, Best F&B Track, Best Craft Track, Best Personal Care Track, serta Best of the Best. Prestasi ini membuktikan bahwa ekosistem digital Indonesia terus berkembang, sejalan dengan pencapaian perusahaan yang baru saja Raih Dua Penghargaan di tingkat internasional.

    Melalui rangkaian program ini, Telkomsel ingin menunjukkan bahwa aksi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan keberlanjutan dapat diwujudkan melalui langkah nyata. Tidak hanya memberikan bantuan, Telkomsel juga mendampingi para pelaku UKM untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas akses pasar, serta membuka peluang agar produk lokal semakin berdaya saing dan mampu naik kelas.

    Dampak Positif bagi Pelaku UKM

    Founder RUMA Papua, Dian Lestari, yang juga peraih Best of the Best DCE 2026, mengaku program DCE memberikan banyak manfaat bagi pengembangan usahanya. Menurutnya, pendampingan yang diberikan sejak hari pertama membantu peserta melihat bisnis secara lebih strategis. “Sejak hari pertama mengikuti DCE, kami mendapatkan pendampingan yang sangat membantu untuk melihat bisnis dengan lebih strategis. Melalui rangkaian program ini, kami belajar bagaimana memperkuat produk, membangun cerita brand, sampai memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pelanggan lebih luas. DCE memberi kami ruang untuk bertumbuh lebih percaya diri,” ungkapnya.

    Hingga 2026, DCE secara kumulatif telah menarik minat lebih dari 12.800 pendaftar UKM, mendampingi lebih dari 1.180 alumni dan mencetak 22 alumni terbaik. Program ini juga telah menghadirkan ratusan sesi webinar dan mentoring bersama ratusan pakar dan mentor, serta menyalurkan dukungan dana hibah miliaran Rupiah. Dampak pendampingan DCE juga tercermin dari capaian sejumlah alumni yang mampu memperluas pasar, meningkatkan omzet dan kapasitas produksi, sekaligus memperkuat model bisnis berbasis dampak sosial dan lingkungan.

    Ke depan, Telkomsel akan terus memperkuat DCE sebagai wadah kolaborasi bagi UKM, mentor, pelaku industri, dan ekosistem digital. Targetnya adalah agar semakin banyak UKM lokal dapat naik kelas, berdaya saing, dan tumbuh berkelanjutan dengan dukungan pemanfaatan teknologi digital terkini. Informasi selengkapnya tentang program DCE Telkomsel dapat diakses melalui www.dce.co.id/. Dengan inisiatif ini, Telkomsel membuktikan bahwa transformasi digital bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak bagi UKM Indonesia untuk go global. Struktur organisasi perusahaan yang solid, seperti tercantum dalam Susunan Komisaris, menjadi fondasi kuat dalam menjalankan program-program berdampak ini.

    Bagi pelaku UKM, program ini memberikan implikasi praktis: akses terhadap teknologi AI bukan lagi barang mewah, melainkan alat yang dapat diakses untuk meningkatkan daya saing. Dengan pendampingan yang tepat, UKM lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan menembus pasar global. Inilah esensi dari transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

  • Meta Kenakan Biaya Langganan untuk Fitur AI Kacamata

    Meta Kenakan Biaya Langganan untuk Fitur AI Kacamata

    JBNews.id – Meta resmi menerapkan biaya berlangganan bulanan sebesar US$19,99 untuk mengakses fitur AI pada kacamata pintarnya. Kebijakan ini memicu kontroversi baru di tengah sorotan privasi yang sudah membayangi perangkat tersebut.

    Kacamata pintar Meta, yang selama ini dijuluki “kacamata mesum” karena sering digunakan merekam orang tanpa izin, kini menghadapi kritik baru. Perusahaan yang berbasis di Menlo Park, California itu meluncurkan paket berlangganan bernama Meta One Premium. Paket ini mewajibkan pengguna membayar US$19,99 per bulan untuk mengoptimalkan fitur kecerdasan buatan pada perangkat yang sudah dibeli dengan harga mahal.

    Meskipun Meta menyatakan bahwa pemilik kacamata secara teknis tidak wajib berlangganan, pembatasan penggunaan fitur utama tetap diberlakukan. Fitur “Conversation Focus” yang memperkuat suara lawan bicara menjadi salah satu yang paling terdampak. Pengguna premium hanya bisa menggunakan fitur ini selama 15 jam per bulan. Sementara itu, pengguna tanpa langganan dibatasi hanya tiga jam per bulan.

    Yang menarik, fitur Conversation Focus tidak memerlukan koneksi internet untuk berfungsi. Artinya, fitur ini berjalan sepenuhnya secara lokal tanpa harus terhubung ke server jarak jauh. Hal ini memunculkan pertanyaan serius tentang dasar pengenaan biaya berlangganan tersebut.

    Sean Hollister dari The Verge menyoroti keanehan ini. “Apakah Meta memiliki perjanjian lisensi rahasia dengan perusahaan lain yang membebani biaya setiap kali seseorang menggunakan Conversation Focus?” tanyanya secara retoris. “Jika tidak, pembatasan ini terdengar sangat tidak masuk akal.”

    Kebijakan ini menjadi babak baru dalam kontroversi yang sudah melingkupi kacamata pintar Meta. Sebelumnya, Wired mengungkap bahwa Meta diam-diam menyematkan teknologi pengenalan wajah pada perangkat lunak kacamata pintar tersebut. Temuan ini memicu kekhawatiran luas tentang privasi pengguna dan orang-orang di sekitar mereka.

    Still from Meta's ad campaign featuring Kylie Jenner with text 'GIVE US MORE MONEY PLEASE :)' written over it

    Kacamata pintar Meta sejauh ini menjadi salah satu produk AI yang paling sukses secara komersial. Perangkat ini telah terjual jutaan unit meskipun dihantui berbagai kontroversi. Namun, dengan kebijakan berlangganan ini, Meta berpotensi menghambat momentum positif tersebut.

    Langkah Meta ini juga terjadi di tengah berbagai masalah internal perusahaan. Upaya AI Meta secara keseluruhan menghadapi hambatan serius, mulai dari moral karyawan yang rendah hingga manajemen yang kacau. Kebijakan berlangganan ini bisa menjadi bumerang bagi proyek AI paling sukses mereka.

    Pola penetapan harga ini menunjukkan tren baru di industri teknologi. Biaya komputasi AI yang melonjak mendorong perusahaan raksasa mulai membebankan biaya tambahan kepada pelanggan. Namun, dalam kasus Meta, argumen tersebut sulit dipertahankan karena fitur yang dibatasi tidak memerlukan komputasi cloud.

    Dari sudut pandang bisnis, keputusan Meta ini mencerminkan strategi monetisasi agresif. Perusahaan berusaha menghasilkan pendapatan berulang dari basis pengguna yang sudah ada. Namun, pendekatan ini berisiko mengasingkan pengguna setia yang sudah membayar mahal untuk perangkat kerasnya.

    Kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan model bisnis perangkat keras yang didukung AI. Jika tren ini berlanjut, konsumen mungkin harus bersiap membayar dua kali: sekali untuk perangkat, dan sekali lagi untuk mengakses fitur-fiturnya secara penuh.

    Meta sendiri belum memberikan penjelasan rinci tentang alasan di balik pembatasan ini. Perusahaan hanya menyatakan bahwa paket berlangganan diperlukan untuk “mengoptimalkan pengalaman pengguna.” Namun, tanpa penjelasan teknis yang memadai, banyak pihak menilai kebijakan ini semata-mata untuk meraup keuntungan.

    Bagi pengguna di Indonesia, kebijakan ini mungkin belum berdampak langsung mengingat kacamata pintar Meta belum resmi dipasarkan secara luas di Tanah Air. Namun, pola bisnis ini bisa menjadi preseden bagi produk teknologi lainnya di masa depan.

    Para analis industri memperkirakan bahwa langkah Meta ini akan diikuti oleh perusahaan teknologi lain. Apple, Google, dan Samsung yang juga mengembangkan perangkat AI kemungkinan akan mengadopsi model berlangganan serupa. Hal ini bisa mengubah lanskap industri teknologi secara fundamental.

    Dalam jangka pendek, pengguna kacamata pintar Meta harus memutuskan apakah bersedia membayar US$19,99 per bulan atau puas dengan fitur terbatas. Bagi pengguna berat yang mengandalkan fitur Conversation Focus, pilihannya semakin sempit.

    Kontroversi ini juga menyoroti aplikasi berbasis AI Meta yang terus berkembang. Perusahaan tampaknya berusaha mengintegrasikan langganan di seluruh ekosistem produknya. Namun, pendekatan ini berisiko jika tidak diimbangi dengan nilai yang jelas bagi konsumen.

    Ke depannya, Meta perlu mempertimbangkan kembali strategi monetisasi ini. Di tengah persaingan ketat di pasar perangkat AI, kepuasan pengguna menjadi faktor kunci. Kebijakan yang dianggap tidak adil bisa mendorong pengguna beralih ke produk pesaing.

    Bagi konsumen, pelajaran dari kasus ini adalah pentingnya membaca syarat dan ketentuan sebelum membeli perangkat teknologi. Fitur yang dijanjikan saat pembelian belum tentu bisa diakses secara penuh tanpa biaya tambahan di kemudian hari.

    Meta juga perlu lebih transparan tentang biaya operasional yang mendasari kebijakan berlangganan ini. Tanpa transparansi, kecurigaan bahwa perusahaan hanya mencari keuntungan tambahan akan terus menghantui reputasi mereka.

    Di sisi lain, kebijakan ini juga menunjukkan bahwa era komputasi AI murah mungkin akan segera berakhir. Biaya pengembangan dan pemeliharaan model AI yang semakin canggih mendorong perusahaan mencari sumber pendapatan baru. Konsumen harus bersiap menghadapi kenyataan baru ini.

    Meta sendiri belum mengumumkan apakah kebijakan ini akan diterapkan secara global atau terbatas di pasar tertentu. Jika diterapkan secara luas, dampaknya bisa dirasakan oleh jutaan pengguna kacamata pintar di seluruh dunia.

    Dalam konteks yang lebih luas, langkah Meta ini menjadi ujian bagi model bisnis perangkat keras yang didukung AI. Keberhasilan atau kegagalan kebijakan ini akan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri.

    Bagi pengguna yang sudah membeli kacamata pintar Meta, pilihannya terbatas: membayar biaya berlangganan, menerima keterbatasan fitur, atau meninggalkan ekosistem Meta sama sekali. Ketiga pilihan ini sama-sama tidak ideal bagi konsumen.

    Sementara itu, Meta terus menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Pengamat privasi mengkritik kebijakan pengenalan wajah, sementara pengamat bisnis mempertanyakan strategi monetisasi perusahaan. Tekanan publik ini bisa memaksa Meta mengubah kebijakannya di masa depan.

    Kisah kacamata pintar Meta menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi seringkali berjalan beriringan dengan kontroversi. Dari masalah privasi hingga model bisnis yang kontroversial, perangkat ini terus menjadi pusat perdebatan.

    Yang jelas, keputusan Meta ini akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana perusahaan teknologi menyeimbangkan inovasi, privasi, dan profitabilitas. Hasilnya akan menentukan arah industri perangkat AI di tahun-tahun mendatang.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi AI dan implikasinya terhadap konsumen, perlindungan pengguna menjadi isu yang semakin relevan. Kebijakan seperti ini menunjukkan pentingnya regulasi yang melindungi hak konsumen di era digital.

    Meta One Premium mulai berlaku efektif bulan ini. Pengguna kacamata pintar Meta akan segera merasakan dampak langsung dari kebijakan baru ini, baik dalam bentuk tagihan bulanan atau fitur yang terbatas.

  • Tesla Tabrak Kafe di California, Satu Tewas

    Tesla Tabrak Kafe di California, Satu Tewas

    JBNews.id — Seorang wanita tewas setelah sebuah Tesla menabrak area teras luar ruangan sebuah restoran di Simi Valley, California. Insiden ini menambah deretan kecelakaan fatal yang melibatkan kendaraan listrik buatan Elon Musk tersebut.

    Kecelakaan terjadi ketika Tesla yang dikemudikan oleh seorang wanita berusia 64 tahun melaju tak terkendali dan menerobos masuk ke area patio Urbane Cafe, sebuah restoran di pusat perbelanjaan setempat. Pengemudi tersebut dilarikan ke rumah sakit dengan luka ringan, demikian dilaporkan ABC News. Di dalam mobil, terdapat empat penumpang remaja, dan salah satunya juga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Setidaknya lima orang lainnya dilaporkan terluka dalam insiden yang terjadi pada Senin (15/6/2026) waktu setempat ini.

    “Kami masih berusaha menentukan apakah kecepatan menjadi faktor penyebab,” kata Sersan Polisi Simi Valley, Rick Morton, kepada ABC News. “Kami tahu bahwa Tesla melaju ke utara melalui tempat parkir. Mobil itu mencoba berbelok ke kanan menuju arah timur menuju Madera dan, sayangnya, tidak berhasil berbelok dan melewati trotoar saat menabrak korban wanita tersebut.”

    Belum diketahui apakah fitur bantuan pengemudi milik Tesla, seperti Autopilot atau Full Self-Driving (FSD), sedang aktif pada saat kecelakaan. Namun, dugaan kuat mengarah pada keterlibatan sistem tersebut. Insiden ini hanya terjadi beberapa minggu setelah sebuah Tesla lainnya yang diduga menggunakan sistem autopilot menerobos pintu garasi di negara bagian Washington.

    Dua Insiden Fatal dalam Sebulan

    Kedua kecelakaan yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari sebulan ini menyoroti aspek-aspek mengerikan dari fitur self-driving Tesla. Baik itu Autopilot level rendah maupun mode Full Self-Driving (FSD) yang kontroversial, fitur-fitur ini memiliki risiko yang sama. Dalam situasi normal sekalipun, fitur tersebut dapat membuat pengemudi lengah dan memberikan rasa aman yang palsu, sehingga mengurangi kewaspadaan di belakang kemudi.

    Dalam skenario terburuk, fitur-fitur ini dapat mengubah Tesla menjadi mesin pembunuh. Beberapa insiden sebelumnya mencatat Tesla menabrak kereta api yang melaju, menerobos bus sekolah yang berhenti, dan bahkan menabrak dinding yang dicat menyerupai jalan seperti dalam kartun Wile E. Coyote. Kasus terbaru di California ini menjadi bukti nyata bahwa masalah keamanan sistem otonom Tesla masih jauh dari kata selesai.

    Data menunjukkan bahwa kecelakaan fatal yang melibatkan Tesla bukanlah hal yang langka. Sebelumnya, kecelakaan fatal pertama yang melibatkan truk Tesla Semi menewaskan sepasang suami istri di Nevada. Insiden tersebut menambah panjang daftar tragedi yang mempertanyakan keselamatan kendaraan otonom Tesla.

    Dampak Hukum dan Regulasi

    Konsekuensi hukum dari kecelakaan beruntun ini semakin membebani Tesla. Perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu sebelumnya telah digugat Rp3,9 triliun terkait kecelakaan fatal yang melibatkan FSD di Texas. Tuntutan hukum tersebut menjadi preseden yang mengkhawatirkan bagi masa depan teknologi otonom Tesla.

    Selain tuntutan hukum, isu manipulasi data juga menghantui Tesla. Perusahaan tersebut diduga memanipulasi data FSD demi mendapatkan izin operasi di Eropa. Jika terbukti, hal ini akan semakin merusak kredibilitas Tesla di mata regulator global.

    Dari sisi operasional, Tesla juga menghadapi masalah lain seperti gelombang pencurian kargo yang menyebabkan kerugian hingga Rp14 triliun per hari. Kombinasi antara masalah keamanan produk, gugatan hukum, dan tantangan logistik membuat posisi Tesla semakin tertekan.

    Bagi konsumen, insiden ini menjadi pengingat keras bahwa teknologi otonom Tesla belum sepenuhnya dapat diandalkan. Fitur Full Self-Driving yang dipasarkan sebagai solusi masa depan justru menjadi ancaman nyata di jalan raya. Para ahli keselamatan mendesak regulator untuk segera menetapkan standar yang lebih ketat bagi kendaraan otonom sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

    Investigasi lebih lanjut oleh otoritas setempat masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan di Simi Valley. Namun, satu hal yang jelas: teknologi self-driving Tesla kembali menelan korban jiwa, dan pertanyaan tentang keselamatannya belum terjawab.

    Sebuah foto ornamen kap mesin logo Tesla dengan efek warna.

  • Microsoft Uji Coba Copilot sebagai Sistem Operasi

    Microsoft Uji Coba Copilot sebagai Sistem Operasi

    JBNews.id — Microsoft tengah menjajaki langkah radikal dengan menguji coba asisten Kecerdasan Buatan (AI) Copilot sebagai sistem operasi mandiri. Sebuah video bocoran dari server Discord BetaWiki mengungkap proyek internal bernama Project Aion, sebuah prototipe di mana Copilot tidak lagi menjadi fitur tambahan di Windows, melainkan menggantikan Windows sepenuhnya. Eksperimen ini menghilangkan elemen klasik seperti menu Start, Taskbar, dan antarmuka desktop yang telah digunakan selama tiga dekade.

    Selama ini, Microsoft memposisikan Windows dan Copilot sebagai dua entitas terpisah: sistem operasi dan asisten AI yang berjalan di atasnya. Namun, Project Aion menunjukkan ambisi perusahaan untuk mengintegrasikan Copilot secara mendalam ke dalam inti sistem. Prototipe ini berjalan di atas codebase Windows baru yang dijuluki “Win3”, sebuah sistem operasi ringan dan sepenuhnya berbasis web yang mengandalkan browser Edge dan layout engine Chromium sebagai cangkang utama.

    Video bocoran yang diperkirakan berusia dua tahun ini memperlihatkan sebuah OS agen AI (agentic OS) yang sepenuhnya web-based. Dalam prototipe tersebut, Copilot ditanamkan langsung ke dalam core shell sistem, menggantikan fungsi-fungsi tradisional Windows. Langkah ini merupakan bukti paling jelas sejauh mana Microsoft berani mempertaruhkan identitas Windows demi ambisi masa depan AI mereka.

    Fitur Utama Project Aion

    Project Aion membawa perubahan besar pada cara pengguna berinteraksi dengan PC. Beberapa fitur utama yang terlihat dalam bocoran video meliputi:

    • Kotak Input Multimodal: Pengguna dapat langsung mengetikkan instruksi teks untuk menyuruh Copilot melakukan tugas-tugas komputasi, menggantikan navigasi manual.
    • Konsep ‘Spaces’: Fungsi Taskbar dan menu Start tradisional dipangkas dan diganti dengan konsep “Ruang” (Spaces). AI akan secara pintar mengelompokkan aplikasi dan situs web ke dalam ruang kerja khusus yang bisa ditutup atau dipanggil kembali dengan mudah.
    • Aplikasi Win32 Pindah ke Cloud: Karena murni berbasis web, OS ini tidak memiliki dukungan bawaan untuk aplikasi lawas Win32. Jika pengguna perlu membuka program seperti Microsoft Word versi desktop, Aion akan membuka sesi Windows Cloud PC agar program tersebut berjalan secara virtual dari jarak jauh.
    • Integrasi Plugin: AI mampu berinteraksi lintas aplikasi. Misalnya, pengguna bisa menyuruh Copilot merangkum draf dan mengirimkan email Outlook kepada rekan kerja langsung dari kotak obrolan AI.

    Perubahan ini merupakan perombakan total pada paradigma komputasi personal. Jika diterapkan, pengguna tidak lagi perlu mencari file di folder, membuka aplikasi dari Start Menu, atau mengatur jendela secara manual. Semua interaksi akan dipandu oleh AI melalui perintah teks atau suara.

    Dampak pada Ekosistem Windows

    Langkah ini memiliki implikasi besar bagi ekosistem Windows yang selama ini bergantung pada aplikasi desktop tradisional. Dengan memindahkan aplikasi Win32 ke cloud, Microsoft secara efektif mengubah model komputasi dari lokal menjadi virtual. Ini berarti pengguna membutuhkan koneksi internet yang stabil dan andal untuk menjalankan aplikasi lawas.

    Keputusan ini juga berpotensi mengubah cara developer mengembangkan aplikasi. Aplikasi yang selama ini dibangun untuk arsitektur Win32 harus diadaptasi atau digantikan dengan aplikasi web. Hal ini bisa menjadi tantangan besar bagi perusahaan yang masih bergantung pada perangkat lunak desktop khusus.

    Sementara itu, Microsoft juga tengah menghadapi tantangan internal. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan PHK ribuan karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi. Langkah ini menunjukkan bahwa Microsoft sedang melakukan efisiensi besar-besaran sambil berinvestasi pada teknologi AI generatif.

    Masa Depan Project Aion

    Meskipun video tersebut dikonfirmasi asli oleh banyak sumber, usianya diperkirakan sudah mencapai dua tahun. Belum diketahui pasti apakah Project Aion ini adalah cikal bakal produk nyata atau sekadar eksperimen internal sesaat dari tim Microsoft. Mengingat usianya, besar kemungkinan proyek ini sudah dimatikan.

    Namun, prototipe ini menjadi bukti paling jelas sejauh mana Microsoft berani mempertaruhkan identitas Windows demi ambisi masa depan AI mereka. Konsep agentic OS yang ditunjukkan dalam Project Aion bisa menjadi cetak biru untuk generasi sistem operasi berikutnya, meskipun mungkin tidak akan dirilis dalam waktu dekat.

    Bagi pengguna Windows, perubahan ini berarti bahwa masa depan komputasi mungkin tidak lagi bergantung pada antarmuka desktop tradisional. Sebaliknya, interaksi dengan PC akan lebih mirip dengan berbicara kepada asisten AI yang cerdas. Ini adalah perubahan fundamental yang bisa mengubah cara miliaran orang menggunakan komputer setiap hari.

    Microsoft sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai Project Aion. Namun, dengan semakin gencarnya investasi perusahaan dalam teknologi AI, tidak menutup kemungkinan bahwa konsep serupa akan muncul kembali di masa depan, baik sebagai fitur Windows maupun sebagai produk mandiri.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi Microsoft, simak juga artikel tentang fitur disc-to-digital untuk Xbox yang sedang diuji perusahaan.

  • Cara Buat iPhone Jadi Dumb Phone Aman untuk Anak Tanpa Biaya Tambahan

    Cara Buat iPhone Jadi Dumb Phone Aman untuk Anak Tanpa Biaya Tambahan

    JBNews.id — Seorang ayah di Amerika Serikat menemukan cara mengubah iPhone menjadi dumb phone yang aman untuk anak tanpa perlu membayar aplikasi pihak ketiga, cukup memanfaatkan fitur tersembunyi di iOS bernama Assistive Access. Fitur yang dirancang Apple untuk pengguna dengan disabilitas kognitif ini ternyata menjadi solusi ideal bagi orang tua yang ingin memberikan ponsel pintar kepada anak tanpa risiko akses internet tak terkendali.

    Cerita bermula ketika sang anak akan mulai berjalan kaki ke sekolah sendiri pada bulan September mendatang. Kekhawatiran akan keselamatan anak membuat orang tua mencari solusi ponsel yang bisa melacak lokasi, namun tetap membatasi akses internet dan media sosial. Ponsel klasik Nokia yang hanya mendukung panggilan dan teks dinilai tidak cukup karena tidak memiliki peta dan navigasi yang membutuhkan koneksi web.

    “Dia membutuhkan smartphone yang bukan smartphone,” tulis sang ayah dalam artikel yang menjadi referensi. Sebagai keluarga yang sudah lama menggunakan ekosistem Apple, mereka awalnya mencoba menerapkan pembatasan ketat melalui pengaturan Screen Time. Namun, upaya tersebut menemui hambatan besar karena ternyata tidak mungkin memblokir penggunaan Safari sepenuhnya di iOS melalui pengaturan standar.

    Meskipun akses ke aplikasi Safari bisa dibatasi, anak-anak dengan cepat menemukan celah. Mereka bisa meminta teman untuk mengirimkan tautan melalui pesan, yang kemudian bisa dibuka dan melewati pembatasan yang sudah diterapkan. Kondisi ini menjadi titik awal pencarian solusi yang lebih efektif.

    Solusi Alternatif yang Ada di Pasaran

    Di pasaran sebenarnya sudah tersedia aplikasi pihak ketiga seperti Dumb Phone untuk iPhone dan Minimalist Phone untuk pengguna Android. Namun, sang ayah merasa janggal dengan model bisnis aplikasi tersebut. “Mereka memungut biaya untuk hak istimewa menghilangkan akses ke aplikasi dari ponsel Anda. Bukan menambahkan, melainkan menghilangkan,” ungkapnya.

    Logika membayar untuk menghilangkan fitur dari ponsel dinilai tidak masuk akal. Apalagi, tujuan utama adalah menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak, bukan sekadar menyederhanakan tampilan antarmuka. Pertanyaan besarnya, apakah ada cara untuk mengatur iPhone sebagai dumb phone sempurna untuk anak-anak tanpa harus membayar perusahaan lain?

    Jawabannya ternyata sudah ada sejak lama, tersembunyi di menu Aksesibilitas iOS. Fitur tersebut bernama Assistive Access, yang diperkenalkan bersamaan dengan iOS 17. Awalnya, fitur ini dirancang untuk membantu pengguna dengan disabilitas kognitif agar lebih mudah menggunakan iPhone. Namun, fungsinya ternyata sangat cocok untuk kebutuhan orang tua yang ingin memberikan ponsel aman bagi anak.

    Pengalaman Assistive Access yang Berbeda

    Jika Anda belum pernah menemukan fitur ini, Assistive Access menghadirkan pengalaman iOS yang sangat berbeda: lebih sedikit pilihan, fitur yang lebih fokus, dan navigasi yang lebih mudah. Tampilan estetikanya sangat ideal untuk anak-anak dengan ubin besar dan ramah yang menggantikan ikon kecil pada antarmuka Apple standar.

    Cara mengaturnya cukup sederhana. Pengguna bisa masuk ke Pengaturan, ketuk Aksesibilitas, gulir ke bawah ke bagian Umum, lalu ketuk Assistive Access. Setelah itu, pilih Set Up Assistive Access dan Continue. Sistem akan menanyakan tampilan yang diinginkan: baris atau kisi. Disarankan memilih kisi untuk mendapatkan ubin super besar yang lebih mudah dilihat dan disentuh anak-anak.

    Langkah krusial berikutnya adalah memilih aplikasi yang diizinkan. Pengguna bisa mengetuk ikon plus hijau di samping aplikasi yang ingin diizinkan. Di sinilah letak perbedaan utama dengan pembatasan Screen Time standar Apple. Dengan Assistive Access, pengguna bisa memblokir penjelajahan internet sepenuhnya hanya dengan tidak mengizinkan Safari, Chrome, atau aplikasi serupa lainnya.

    Yang lebih penting lagi, berbeda dengan pembatasan Screen Time, jika seseorang mengirimkan tautan ke anak melalui pesan, tautan tersebut tidak akan berfungsi. Assistive Access dirancang untuk mencegah navigasi yang tidak disengaja, sehingga sistem membatasi penjelajahan web yang tidak terduga. Dalam mode ini, telepon memperlakukan tautan apa pun di pesan sebagai teks biasa, mencegah pengguna meninggalkan antarmuka yang disederhanakan secara tidak sengaja.

    Kustomisasi Lengkap untuk Kebutuhan Anak

    Fitur ini memberikan kontrol penuh kepada orang tua. Pengguna harus secara khusus menambahkan aplikasi yang mendukung internet seperti Messages, Safari, atau aplikasi web pihak ketiga ke antarmuka Assistive Access. Setelah menambahkan aplikasi seperti Messages atau Calls, orang tua bisa memilih apakah anak dapat menghubungi atau dihubungi oleh semua orang, hanya kontak mereka, atau favorit tertentu saja.

    Bahkan, orang tua bisa memilih apakah tombol keypad atau speaker tersedia di aplikasi Calls. Ingin waktu ditampilkan di layar kunci? Centang kotaknya. Membuat tombol mute tidak berfungsi? Bisa diatur. Menentukan bagaimana notifikasi muncul? Juga bisa disesuaikan. Aplikasi Music hanya mengakses daftar putar yang telah disetujui sebelumnya. Semua pengaturan ini, menurut sang ayah, sangat mudah dilakukan.

    Setelah puas dengan aplikasi yang sesuai untuk anak, pengguna cukup mengatur kode sandi Assistive Access empat digit yang unik. Kode ini berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan sistem operasi yang disederhanakan. Untuk keluar dari Assistive Access, pengguna cukup melakukan triple-click pada tombol samping di perangkat Face ID atau tombol Home di iPhone dengan Touch ID, lalu memasukkan kode sandi untuk kembali ke antarmuka iPhone normal.

    Hasil Pengaturan: Enam Aplikasi Saja

    Sang ayah memilih pengaturan yang sangat ketat untuk anaknya. Anak hanya mendapatkan Calls, Messages, Maps, Camera (untuk panggilan video, namun fitur selfie dimatikan sepenuhnya), Photos, dan Music. Tidak ada aplikasi lain yang diizinkan. Dengan pengaturan ini, iPhone 13 bekas yang sebelumnya tidak terpakai di laci berubah menjadi dumb phone enam aplikasi terbaik tanpa biaya sepeser pun.

    “Bukan hal yang buruk di saat harga Apple melonjak,” tulis sang ayah. Yang lebih menarik, pengaturan ini bisa berkembang seiring pertumbuhan anak. Saat ini, ia sedang mempertimbangkan untuk menambahkan Wallet agar anak bisa membayar sesuatu dengan akun Acorns Early miliknya. Jika di masa depan ingin menambahkan Safari, Spotify, atau beberapa game, cukup masuk kembali ke pengaturan aplikasi Assistive dan menambahkannya dengan satu sentuhan.

    Keamanan menjadi nilai jual utama fitur ini. Dalam mode Assistive Access, anak tidak mampu melakukan apa pun yang memerlukan navigasi di pengaturan iOS standar atau lapisan antarmuka sistem. Kecuali anak mendapatkan kode sandi Assistive Access, apa pun yang dianggap terlarang oleh orang tua akan tetap terlarang.

    Keunggulan Dibanding Solusi Lain

    Solusi ini hampir seluruhnya tanpa kekurangan. Sebuah dumb phone yang dapat disesuaikan, sepenuhnya aman, tanpa biaya bulanan, namun dengan manfaat tambahan FaceTime, navigasi, dan pelacakan Find My. Semua ini berasal dari perangkat yang sebelumnya hanya tergeletak di laci dan langsung terintegrasi ke dalam ekosistem Apple keluarga.

    Sang ayah awalnya merasa ragu apakah solusi ini bisa sebaik yang terlihat. Ia kemudian membawa iPhone tersebut ke Apple Store dan menunjukkannya kepada seorang staf dukungan. “Apa yang sudah Anda lakukan?” kata staf tersebut sambil melihat iPhone anak dengan enam ubin dumb phone. “Ini solusi yang jauh lebih baik daripada Screen Time. Saya harus memberi tahu rekan-rekan saya tentang ini.”

    Ketika diberi tahu bahwa fitur tersebut adalah Assistive Access, staf Apple Store mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan tentang fitur itu. “Kami tidak dilatih tentang itu,” akunya. “Tapi ini bagus.” Kejadian ini menunjukkan bahwa Apple tidak melatih semua staf tokonya tentang fitur yang sangat berguna ini, apalagi memasarkannya sebagai solusi untuk membuat dumb phone anak-anak.

    Sang ayah kemudian bertanya langsung kepada Apple mengapa perusahaan tidak memasarkan fitur tersembunyi ini dengan cara tersebut. Ia juga bertanya apakah Apple pernah mempertimbangkan untuk membuat versi Assistive Access untuk anak-anak, semacam sistem operasi anak. Apple membantu semua pertanyaan teknis untuk artikel ini, namun menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

    Menariknya, pembaruan Screen Time yang akan hadir di iOS 27 pada September mendatang mengadopsi beberapa manfaat utama Assistive Access. Khususnya, kemampuan untuk menghapus akses ke Safari saat menyiapkan profil anak untuk pertama kalinya. Ini menunjukkan bahwa Apple mulai menyadari kebutuhan pasar akan solusi semacam ini.

    Kekurangan yang Perlu Diperhatikan

    Meskipun hampir sempurna, Assistive Access memiliki beberapa kekurangan. Pertama, mode ini berjalan agak lambat. Namun, anak-anak biasanya terlalu bersemangat mendapatkan ponsel sehingga tidak peduli dengan masalah ini. Kedua, yang lebih penting, Assistive Access tidak mengenali batasan Screen Time dan akan mengabaikannya sepenuhnya. Orang tua perlu mengingat hal ini saat menambahkan aplikasi seperti Safari atau WhatsApp.

    Ketiga, pengguna tidak dapat mematikan iPhone dalam mode Assistive Access. Untuk mematikan perangkat, harus mengembalikannya ke iOS normal terlebih dahulu. Keempat, dalam satu kesempatan, anak sang ayah berhasil membekukan aplikasi Messages dalam mode Assistive Access dengan mencoba mencari melalui banyak emoji. Sang ayah bahkan bisa mengulangi pembekuan ini saat anak menunjukkan apa yang dilakukannya.

    Satu-satunya cara untuk membekukan Messages adalah dengan mengeluarkannya dari mode Assistive Access, lalu memasukkannya kembali — sesuatu yang tidak bisa dilakukan anak sendirian. Namun, anak masih bisa menggunakan lima aplikasi lainnya dengan baik saat Messages mengalami masalah. Sejauh ini, belum ada masalah lain selain kekhawatiran anak akan kehilangan iPhone yang mahal — untungnya, fitur pelacakan tetap berfungsi, seperti saat anak meninggalkan ponsel di sekolah beberapa waktu lalu.

    Bagi orang tua yang ingin memberikan ponsel kepada anak tanpa khawatir akan akses internet tak terkendali, Assistive Access menawarkan solusi gratis dan efektif. Fitur ini juga bisa dibandingkan dengan berbagai inovasi teknologi terbaru seperti Wear OS 7 yang baru dirilis atau melihat dampak gangguan layanan yang pernah terjadi di platform media sosial.

    Dengan pendekatan ini, orang tua tidak perlu lagi khawatir atau mengeluarkan biaya tambahan untuk melindungi anak-anak mereka di era digital. Cukup dengan memanfaatkan fitur yang sudah tersedia di iOS, iPhone bisa berubah menjadi dumb phone yang aman, fungsional, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak yang terus berkembang.

  • Panduan Akses Foto NASA: Koleksi Gratis untuk Umum

    Panduan Akses Foto NASA: Koleksi Gratis untuk Umum

    JBNews.id — Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyediakan perpustakaan raksasa berisi foto dan video luar angkasa yang dapat diakses dan digunakan secara gratis oleh masyarakat umum. Koleksi ini mencakup puluhan tahun dokumentasi misi antariksa, mulai dari foto astronot hingga citra satelit planet, dan sebagian besar berada dalam domain publik karena didanai oleh pemerintah AS.

    Meskipun sumber daya ini sangat berharga, banyak orang tidak mengetahui di mana letak perpustakaan tersebut dan bagaimana cara mengaksesnya. Dengan sedikit panduan, siapa pun dapat menjelajahi ribuan gambar menakjubkan dari teleskop, kapsul Orion, hingga Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Artikel ini akan memandu Anda melalui empat cara utama untuk mengakses dan mengunduh konten NASA secara legal dan gratis.

    NASA Image and Video Library: Sumber Utama

    Sumber daya terbesar adalah NASA Image and Video Library. Portal ini menyimpan hampir setiap gambar, video, dan klip audio yang ingin dibagikan NASA. Mulai dari foto astronot, konferensi luar angkasa, hingga citra planet dan satelit, semuanya tersedia di sini. Secara default, pengguna akan melihat unggahan terbaru terlebih dahulu, namun terdapat juga fitur Trending & Popular untuk menemukan konten yang sering dilihat dari tahun ke tahun.

    Setiap gambar atau video dilengkapi dengan informasi detail, termasuk apa yang ditampilkan dan kapan diambil. Beberapa keterangan bahkan merupakan esai mini, dan banyak konten yang menyertakan data EXIF. Informasi ini sangat berguna bagi fotografer atau siapa pun yang ingin mengetahui, misalnya, foto mana yang diambil dengan iPhone 17 Pro Max di dalam kapsul Orion. Namun, portal ini cukup sulit untuk dijelajahi tanpa kata kunci yang spesifik. Pengguna disarankan untuk menggunakan istilah pencarian yang sangat spesifik dan memanfaatkan kata kunci pada setiap unggahan untuk menemukan konten terkait.

    NASA Images: Alternatif yang Lebih Terorganisir

    Selain perpustakaan utama, terdapat portal NASA Images yang menyertakan tautan ke Image and Video Library. Meskipun tidak selengkap perpustakaan utama, portal ini lebih terorganisir dan lebih mudah untuk menemukan konten terbaru. Di bagian paling atas portal terdapat NASA Image of the Day, yang menampilkan foto terbaik dari database NASA. Ada juga arsip Image of the Day yang memungkinkan pengguna menelusuri waktu untuk menemukan bidikan menakjubkan lainnya, meskipun tidak bisa diurutkan berdasarkan tanggal.

    Mengunduh konten dari NASA Images cukup mudah, meskipun informasi yang disertakan pada setiap gambar tidak sedetail perpustakaan utama. Keunggulan portal ini adalah kemudahan menemukan gambar yang dikelompokkan berdasarkan koleksi, seperti foto dari teleskop tertentu atau yang diorganisir berdasarkan misi tertentu. Hal ini membuat navigasi menjadi lebih intuitif dibandingkan dengan perpustakaan utama yang mengandalkan pencarian teks.

    Bagi pengguna yang ingin menjelajahi koleksi berdasarkan tema atau misi antariksa tertentu, portal ini menawarkan cara yang lebih cepat dan efisien. Ini adalah opsi yang baik bagi mereka yang tidak ingin tenggelam dalam lautan hasil pencarian yang terlalu umum.

    NASA Johnson Flickr: Koleksi Album yang Rapi

    Cara lain untuk mengakses arsip konten NASA adalah melalui halaman NASA Johnson Flickr. Akun Flickr untuk Johnson Space Center ini menampilkan keunggulan platform penyimpanan gambar resolusi tinggi. Saat ini, terdapat lebih dari 63.500 foto yang tersedia, dan tidak seperti perpustakaan utama NASA, semua foto di sini diatur dengan rapi ke dalam album-album.

    Dengan organisasi album yang baik, tidak sulit untuk menemukan bidikan astronot tertentu atau dari misi tertentu. Setiap gambar dilengkapi dengan informasi tentang subjeknya, serta tautan unduhan. Fitur pencarian membantu pengguna menggali lebih dalam ke dalam akun NASA Johnson. Bahkan, jika pengguna memiliki akun Flickr sendiri, mereka dapat mengikuti NASA dan mendapatkan notifikasi tentang unggahan baru.

    Meskipun foto mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul di sini dan umpan hanya menampilkan gambar dari Johnson Space Center, portal ini mungkin merupakan opsi terbaik untuk kemudahan navigasi. Bagi pengguna yang ingin menjelajahi koleksi secara sistematis tanpa harus bersusah payah mencari, Flickr adalah pilihan yang sangat direkomendasikan. Perkembangan Brand Teknologi China di pasar global juga menunjukkan bagaimana platform berbagi gambar seperti Flickr tetap relevan.

    Media Sosial NASA: Untuk Celoteh Santai

    Terakhir, pengguna dapat mengikuti akun media sosial NASA di platform seperti X, Instagram, dan Facebook. Sebagian besar konten di media sosial diatur dengan baik ke dalam koleksi dan album, serta diberi tag dengan informasi yang relevan. Ini adalah cara yang baik untuk melihat konten baru secara berkala di linimasa pengguna.

    Namun, mengunduh gambar dari media sosial, terutama dalam resolusi terbaik, bisa menjadi rumit tergantung pada platformnya. Media sosial paling cocok untuk sekadar melihat-lihat sesekali. Salah satu frustrasi utama adalah banyaknya akun yang harus dilacak. Di platform X saja, terdapat akun khusus untuk misi Artemis, Stasiun Luar Angkasa Internasional, Mars, dan teleskop Webb. Ini adalah jumlah yang sangat banyak untuk diikuti.

    Bagi pengguna yang ingin memanfaatkan data NASA untuk keperluan profesional, penting untuk memahami bahwa tidak semua platform menawarkan kualitas unduhan yang sama. Sementara itu, inovasi seperti Kolaborasi Riset AI senilai Rp1,2 triliun antara A24 dan DeepMind menunjukkan bagaimana data dan kecerdasan buatan dapat diintegrasikan untuk menghasilkan wawasan baru.

    Dengan memahami keempat jalur akses ini—perpustakaan utama, portal NASA Images, akun Flickr, dan media sosial—pengguna dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Baik untuk penelitian, edukasi, atau sekadar apresiasi visual, koleksi NASA menawarkan jendela ke alam semesta yang tak ternilai harganya.

    Implikasi praktisnya jelas: bagi jurnalis, pendidik, atau penggemar antariksa, akses gratis ke konten NASA adalah anugerah. Namun, efisiensi akses sangat bergantung pada pemahaman tentang alat yang tepat. Mengingat volume data yang sangat besar, memilih portal yang tepat dapat menghemat waktu dan usaha yang signifikan. Sama seperti bagaimana Fitur Disc-to-Digital yang diuji Microsoft untuk Xbox mengubah cara konsumen mengakses game, pemahaman tentang portal NASA mengubah cara kita mengakses data antariksa.

  • GM PHK 1.000 Pekerja, Gantikan dengan 50 Robot AI

    GM PHK 1.000 Pekerja, Gantikan dengan 50 Robot AI

    JBNews.id — General Motors (GM) memindahkan lebih dari 1.000 pekerja di pabrik utama Detroit untuk memberi ruang bagi puluhan robot baru. Langkah ini memicu kemarahan serikat pekerja otomotif terkuat di Amerika Serikat, United Auto Workers (UAW).

    Menurut laporan Crain’s Detroit Business, kurangnya pekerjaan di pabrik Factory Zero bertepatan dengan pemasangan 50 robot manufaktur terintegrasi AI. Robot-robot ini dipasang di fasilitas kendaraan listrik (EV) utama GM di Detroit. Ketika robot industri mulai beroperasi, UAW menyatakan pabrik tersebut menganggurkan ribuan pekerja dalam status yang disebut idled—karyawan tidak diizinkan bekerja, tetapi juga tidak dipecat sepenuhnya. Sebagian besar pekerja ini secara fungsional telah dirumahkan.

    “Itu selalu menjadi kekhawatiran ketika Anda melihat robot datang ke pabrik, terutama setelah mereka memberhentikan lebih dari seribu orang,” kata presiden UAW local 22, James Cotton, kepada Crain’s. “Mereka bilang ini gelombang masa depan, dan jika begitu, mereka mengambil pekerjaan dari orang-orang.”

    Kelima puluh lengan robot—yang oleh GM secara eufemistis disebut “cobot,” atau robot yang dirancang untuk bekerja bersama manusia—terutama digunakan untuk memasang panel bodi pada EV, seperti dilaporkan AutoBlog. Dirancang oleh perusahaan Fanuc, cobot beroperasi pada kecepatan lebih lambat, menggunakan lebih sedikit daya, dan memiliki lebih banyak tombol penghentian darurat dibandingkan robot jalur perakitan biasa.

    Pemasangan robot terjadi setelah berbulan-bulan perlambatan produksi EV yang dipaksakan untuk mengekang kelebihan produksi—dengan kata lain, untuk menjaga harga kendaraan listrik GM tetap tinggi secara artifisial. Timing ini menunjukkan GM mungkin menggunakan Factory Zero sebagai tempat uji coba untuk cobot, yang seharusnya menjadi kabar mengkhawatirkan bagi pekerja otomotif di Detroit dan sekitarnya.

    Langkah ini juga terjadi setelah beberapa kemenangan besar bagi UAW. Pada 2023, serikat pekerja berusia 90 tahun itu mengamankan kemenangan signifikan bagi pekerja dari tiga perusahaan otomotif besar: Ford, GM, dan Stellantis, setelah pemogokan yang berlangsung lebih dari sebulan. Dalam konteks ini, PHK massal dapat dilihat sebagai langkah pemotongan biaya untuk menghindari konsesi tersebut dan melemahkan posisi UAW menjelang negosiasi kontrak besar pada 2028.

    “Tenaga kerja kami diambil dari kami,” kata Cotton kepada Crain’s. “Dari atas ke bawah, kami muak karena mereka memiliki cobot di pabrik kami.”

    Fenomena ini bukanlah insiden terisolasi. Di seluruh dunia, otomatisasi pabrik dengan robot bertenaga AI semakin masif. Di Indonesia, dampak serupa mulai terasa di sektor manufaktur, meski belum separah di Amerika Serikat. Pengamat industri menilai bahwa adopsi robot di pabrik-pabrik besar, termasuk yang memproduksi komponen otomotif, akan terus meningkat dalam lima tahun ke depan.

    GM sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai nasib para pekerja yang terkena dampak. Namun, data dari laporan tersebut menunjukkan bahwa robot yang dipasang mampu menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, terutama tugas-tugas repetitif seperti memasang panel bodi. Dengan kecepatan operasi yang lebih lambat namun konsisten, cobot dinilai lebih efisien dalam jangka panjang.

    Kekhawatiran utama dari serikat pekerja adalah bahwa otomatisasi ini akan terus berlanjut tanpa kompensasi atau jaminan kerja bagi anggota mereka. “Mereka bilang ini gelombang masa depan, dan jika begitu, mereka mengambil pekerjaan dari orang-orang,” ujar Cotton, menekankan bahwa UAW tidak akan tinggal diam.

    Dalam beberapa tahun terakhir, UAW berhasil meraih kemenangan besar dalam negosiasi kontrak dengan tiga raksasa otomotif AS. Namun, langkah GM ini dianggap sebagai upaya untuk menggerus pengaruh serikat pekerja. Dengan mengurangi jumlah tenaga kerja manusia, GM dapat menekan biaya operasional dan mengurangi ketergantungan pada negosiasi upah di masa depan.

    Para analis memperkirakan bahwa tren serupa akan terjadi di pabrik-pabrik GM lainnya, termasuk yang berada di luar Detroit. Jika berhasil di Factory Zero, bukan tidak mungkin GM akan memperluas penggunaan cobot ke fasilitas lain, yang berarti lebih banyak pekerjaan manusia yang akan hilang.

    Implikasi dari langkah ini sangat luas. Bagi pekerja otomotif, ini adalah sinyal bahwa era otomatisasi telah tiba dan tidak bisa dihindari. Bagi perusahaan, ini adalah strategi untuk tetap kompetitif di tengah persaingan global yang semakin ketat, terutama di sektor kendaraan listrik.

    Di sisi lain, pemerintah dan regulator diharapkan dapat menciptakan kebijakan yang melindungi pekerja dari dampak negatif otomatisasi, seperti program pelatihan ulang atau jaminan sosial bagi pekerja yang terkena PHK. Tanpa langkah antisipatif, kesenjangan antara pekerja dan perusahaan akan semakin lebar.

    Dengan negosiasi kontrak besar yang dijadwalkan pada 2028, langkah GM ini bisa menjadi bara api yang memicu konflik baru antara serikat pekerja dan manajemen. UAW telah menunjukkan bahwa mereka tidak segan-segan melakukan pemogokan massal untuk memperjuangkan hak-hak pekerja. Pertanyaannya, apakah GM siap menghadapi konsekuensi dari keputusan ini?

    Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Otomatisasi bukan lagi wacana masa depan; ini sudah terjadi sekarang. Pekerja di sektor manufaktur, termasuk di Jawa Barat dan Banten, perlu mempersiapkan diri dengan meningkatkan keterampilan yang tidak bisa digantikan robot, seperti kreativitas, pemecahan masalah, dan interaksi sosial.

    Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang berencana mengadopsi robot perlu mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan tersebut. Jangan sampai efisiensi jangka pendek justru menimbulkan masalah jangka panjang, seperti pengangguran massal dan ketidakstabilan sosial.

    GM dan UAW masih memiliki waktu hingga 2028 untuk mencari solusi. Namun, jika kedua belah pihak tidak mau berkompromi, konflik ini bisa menjadi preseden buruk bagi industri otomotif global. Sementara itu, robot terus bekerja tanpa kenal lelah di pabrik Detroit.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan otomotif dan teknologi, simak artikel terkait seperti Superkomputer Tercepat dan Kritik Ilmiah Quantum.

    Pada akhirnya, pertanyaan besarnya adalah: apakah kemajuan teknologi harus selalu mengorbankan pekerjaan manusia? Atau adakah cara untuk menyeimbangkan efisiensi dan kesejahteraan? Jawabannya mungkin akan ditentukan dalam negosiasi kontrak 2028 mendatang.