JBNews.id — Lebih dari 150 pakar matematika dari seluruh dunia menandatangani deklarasi yang memperingatkan pemerintah agar tidak “mempercayai hype” seputar kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam memecahkan masalah matematika kompleks. Pernyataan ini muncul sebagai bantahan paling keras terhadap klaim bahwa AI telah merevolusi bidang matematika.
Deklarasi tersebut, yang dikenal sebagai “Leiden Declaration on AI and Mathematics”, secara eksplisit menyoroti tekanan komersial yang mendorong klaim berlebihan dari industri teknologi. “Saat ini ada insentif komersial yang kuat dari pihak industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka,” bunyi deklarasi tersebut, seperti dikutip dari laporan Futurism.
Para ahli merekomendasikan agar para pembuat kebijakan berkonsultasi dengan pakar independen, termasuk matematikawan, dalam merumuskan kebijakan. Mereka memperingatkan agar tidak hanya mengandalkan siaran pers atau pemberitaan populer tentang hasil matematika. Hal ini menjadi pengingat penting di tengah kontroversi AI yang terus bermunculan.
Klaim Berlebihan dan Risiko Kesalahan
Kekhawatiran utama para ahli adalah bahwa model AI dapat menghasilkan solusi yang terdengar meyakinkan namun tidak tahan terhadap pengujian. Leslie Ann Goldberg, kepala ilmu komputer Universitas Oxford yang turut menandatangani deklarasi, menyatakan bahwa teknik otomatis saat ini dapat menghasilkan argumen yang tampak masuk akal tetapi tidak dapat diandalkan atau bahkan salah.
“Ini adalah masalah serius: penelitian di bidang matematika hampir selalu dibangun di atas penelitian sebelumnya, sehingga penting bagi peneliti untuk mengetahui bahwa hasil dalam literatur itu benar,” kata Goldberg. Ia menekankan bahwa kesulitan membedakan bukti yang benar dari yang salah dapat mengancam fondasi penelitian matematika.
Para ahli mencontohkan beberapa insiden baru-baru ini. Awal tahun ini, seorang pemuda berusia 23 tahun tanpa pelatihan matematika formal mengklaim telah menggunakan ChatGPT untuk memecahkan salah satu “masalah Erdős”. Bulan lalu, OpenAI mengklaim AI-nya telah menyangkal konjektur “unit distance” berusia 80 tahun. “Ini menandai pertama kalinya AI secara otonom memecahkan masalah terbuka yang menonjol,” klaim OpenAI saat itu.
Baca Juga:
Tekanan Finansial pada Akademisi
Deklarasi tersebut juga menyoroti posisi rentan yang dihadapi banyak akademisi. Mendapatkan pendanaan baru terbukti sulit, sementara minat terhadap AI terus melonjak, seringkali memaksa mereka untuk mendukung teknologi tersebut dengan cara apa pun. “Kami mengakui bahwa industri telah menawarkan pekerjaan bergaji tinggi, imbalan uang, sumber daya komputasi, dan peluang yang merangsang secara intelektual yang menarik bagi beberapa matematikawan,” bunyi deklarasi itu.
Fenomena ini terjadi di era kekurangan pendanaan pendidikan tinggi dan pekerjaan akademis yang tidak stabil. Situasi ini menempatkan matematikawan dalam posisi sulit antara mengejar integritas ilmiah atau mengikuti arus demi kelangsungan karir. Isu ini juga terkait dengan valuasi perusahaan teknologi yang terus melonjak.
Kekhawatiran di Luar Matematika
Deklarasi tersebut juga mencatat alasan lain untuk mendorong pengawasan regulasi di luar bidang matematika, termasuk “keterlibatan industri AI dalam program militer dan pengawasan massal, pengembangan teknologi yang mempromosikan misinformasi dan merusak demokrasi, serta biaya lingkungan.” Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap AI melampaui satu disiplin ilmu.
Komunitas ilmiah yang lebih luas telah dilanda banjir makalah yang menggunakan AI secara intensif, berisiko mengkontaminasi proses tinjauan sejawat dengan halusinasi. Ini juga menjadi pengingat bahwa model AI dilatih pada penelitian mutakhir, seringkali tanpa izin dari penulis asli. Rodrigo Ochigame, antropolog AI dari Universitas Leiden yang membantu merancang deklarasi, mengatakan kepada Scientific American bahwa matematikawan yang tidak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI kini karyanya digunakan untuk tujuan tersebut tanpa persetujuan mereka.
“Saya pikir itu situasi yang sangat memprihatinkan,” kata Ochigame. Pernyataan ini menekankan pentingnya kontrol konten dalam ekosistem digital.
Implikasi bagi Masa Depan
Deklarasi Leiden menjadi peringatan keras bagi pemerintah di seluruh dunia untuk tidak terburu-buru mengadopsi klaim AI tanpa verifikasi yang ketat. Bagi pembaca, terutama mereka yang bekerja di bidang akademis atau riset, pesan ini sangat relevan: jangan mengandalkan AI sebagai otoritas tunggal dalam pemecahan masalah kompleks.
Para matematikawan menegaskan bahwa masa depan penelitian matematika harus dipandu oleh penilaian manusia, praktik yang adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama dari komunitas matematika global. Ini berarti bahwa meskipun AI dapat menjadi alat yang berguna, ia tidak dapat menggantikan ketelitian dan konteks yang dibawa oleh pemikiran manusia.
Bagi Indonesia, di mana adopsi teknologi AI semakin cepat, deklarasi ini menjadi pengingat penting untuk membangun kebijakan yang berbasis bukti dan melibatkan para ahli lokal. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam narasi hype yang dapat mengarah pada keputusan yang salah dan berpotensi merugikan.
