Blog

  • Meta Rilis Muse Spark 1.1, Model AI Coding Terbaru untuk Developer

    Meta Rilis Muse Spark 1.1, Model AI Coding Terbaru untuk Developer

    JBNews.id — Meta meluncurkan Muse Spark 1.1, model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru yang diklaim mampu melakukan coding tingkat lanjut dan mendeteksi bug kompleks. Model ini tersedia mulai hari ini untuk pengembang di Amerika Serikat melalui Meta Model API yang baru.

    Langkah ini merupakan bagian dari strategi Meta untuk mengejar ketertinggalan di tengah persaingan AI global. Setelah merilis model in-house pertamanya, Muse Spark, pada April lalu, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg kini membuka akses lebih luas kepada para developer dengan model yang lebih canggih.

    Meta menyebut Muse Spark 1.1 sebagai “step-change” atau perubahan besar dari generasi pertama. Peningkatan ini didasarkan pada umpan balik dari para pengembang yang telah menggunakan model sebelumnya. Perusahaan mengklaim model ini mampu menangani tugas coding yang lebih kompleks, termasuk mendeteksi dan memperbaiki bug rumit secara otomatis.

    Kemampuan Multimodal dan Agen AI

    Salah satu keunggulan utama Muse Spark 1.1 adalah dukungannya terhadap alur kerja agen end-to-end di berbagai aplikasi. Model ini dapat digunakan untuk sistem multi-agen, di mana beberapa agen AI bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Selain itu, Muse Spark 1.1 memiliki persepsi multimodal native yang mencakup gambar, video, dan dokumen.

    Peluncuran Muse Spark 1.1 terjadi hanya beberapa hari setelah Meta merilis Muse Image, model generasi gambar yang menuai kontroversi. Muse Image mampu menggabungkan konten Instagram pengguna lain ke dalam generasi gambarnya, memicu perdebatan tentang privasi dan hak cipta.

    Ini adalah bagian dari upaya besar Meta untuk membenarkan miliaran dolar yang telah diinvestasikan dalam mengejar ketertinggalan di kompetisi AI. Perusahaan berusaha mencapai paritas dengan pesaing seperti OpenAI, Google, dan Anthropic, terutama setelah serangkaian perekrutan profil tinggi dan restrukturisasi perusahaan tahun lalu.

    Ketersediaan dan Akses Developer

    Model Muse Spark 1.1 saat ini tersedia dalam mode Thinking melalui aplikasi Meta AI dan situs web Meta AI. Namun, yang lebih penting bagi ekosistem pengembang, model ini juga dapat diakses melalui Meta Model API yang baru. API ini mulai hari ini tersedia dalam public preview untuk pengembang di Amerika Serikat.

    Meta memberikan insentif berupa kredit gratis senilai $20 untuk setiap akun Meta Model API baru. Langkah ini dirancang untuk menarik minat developer agar mencoba dan mengintegrasikan model AI terbaru Meta ke dalam aplikasi mereka.

    Sebelumnya, Muse Spark hanya tersedia langsung melalui Meta AI. Model ini kemudian digunakan untuk mendukung chatbot di Instagram dan WhatsApp, serta kacamata pintar terbaru Meta. Dengan dibukanya akses melalui API, pengembang pihak ketiga kini dapat memanfaatkan kemampuan Muse Spark 1.1 untuk berbagai aplikasi coding dan pengembangan perangkat lunak.

    Implikasi bagi Ekosistem Developer

    Langkah Meta membuka akses Muse Spark 1.1 ke developer menandai perubahan strategi yang signifikan. Dengan menyediakan API, Meta tidak hanya bersaing di level produk konsumen, tetapi juga di infrastruktur AI untuk pengembang. Ini menempatkan Meta dalam persaingan langsung dengan platform AI coding lainnya.

    Kemampuan deteksi bug kompleks dan dukungan alur kerja multi-agen menjadi nilai jual utama Muse Spark 1.1. Bagi pengembang perangkat lunak, ini berarti potensi peningkatan produktivitas yang signifikan. Model ini dapat membantu mengotomatiskan tugas-tugas pengembangan yang repetitif dan memakan waktu.

    Namun, Meta masih menghadapi tantangan besar. Perusahaan harus membuktikan bahwa modelnya dapat bersaing dengan solusi dari OpenAI dan Google, yang telah lebih dulu mapan di kalangan developer. Selain itu, kontroversi seputar Muse Image menunjukkan bahwa Meta masih bergulat dengan isu privasi dan etika dalam pengembangan AI.

    Bagi pengembang di Indonesia, akses ke Muse Spark 1.1 masih terbatas karena public preview baru tersedia untuk pengembang AS. Namun, jika Meta memperluas ketersediaan secara global, model ini bisa menjadi alternatif menarik bagi developer lokal yang ingin mengeksplorasi alat bantu coding berbasis AI.

    Dengan investasi miliaran dolar dan restrukturisasi besar tahun lalu, Meta menunjukkan komitmen serius untuk menjadi pemain utama di industri AI. Muse Spark 1.1 adalah bukti bahwa perusahaan tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga berusaha mendefinisikan ulang cara pengembang berinteraksi dengan AI dalam alur kerja coding mereka.

    Pengembang yang tertarik dapat mendaftar untuk Meta Model API dan mulai mengeksplorasi kemampuan Muse Spark 1.1. Dengan kredit gratis $20, ada insentif finansial untuk mencoba model ini tanpa komitmen awal yang besar.

    Ke depannya, keberhasilan Muse Spark 1.1 akan sangat bergantung pada adopsi oleh komunitas developer. Meta perlu memastikan bahwa API-nya mudah digunakan, terdokumentasi dengan baik, dan memberikan nilai tambah nyata dibandingkan alternatif yang sudah ada. Jika berhasil, ini bisa menjadi langkah penting dalam perjalanan Meta menuju posisi terdepan di industri AI global.

  • SpaceX Ungguli Rekor Peluncuran Satelit Starlink 2026

    SpaceX Ungguli Rekor Peluncuran Satelit Starlink 2026

    JBNews.id — SpaceX mencatatkan 1.589 peluncuran satelit Starlink ke orbit rendah Bumi pada semester pertama 2026, melampaui rekor 1.489 satelit yang diluncurkan pada periode yang sama tahun lalu. Data ini menunjukkan akselerasi ekspansi konstelasi internet satelit milik Elon Musk.

    Berdasarkan data pelacakan satelit yang dikompilasi oleh Jonathan McDowell, angka tersebut menempatkan SpaceX di jalur untuk memecahkan rekor tahunannya sendiri. Pada 2025, perusahaan berhasil mendeploy total 3.180 satelit Starlink, sebuah angka yang sudah menjadi rekor tertinggi sebelumnya.

    Sejak konstelasi Starlink pertama kali diperkenalkan, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 12.400 satelit. Dari jumlah tersebut, hampir 11.000 satelit masih berfungsi dan beroperasi di orbit. Capaian ini menegaskan dominasi SpaceX dalam industri internet satelit global.

    Sebagai perbandingan, layanan Leo milik Amazon yang masih dalam tahap awal baru mendeploy sekitar 400 satelit dalam 15 bulan terakhir. Amazon menargetkan total konstelasi sebanyak 3.232 satelit. Artinya, roket Falcon 9 milik SpaceX yang dapat digunakan kembali mampu mendeploy satu konstelasi internet luar angkasa seukuran Leo setiap tahun.

    Roket Falcon 9 menjadi tulang punggung strategi peluncuran cepat SpaceX. Kemampuan reusable-nya memungkinkan perusahaan menekan biaya dan meningkatkan frekuensi misi secara signifikan. Keunggulan ini menjadi pembeda utama dibandingkan kompetitor seperti Amazon yang masih mengembangkan infrastruktur peluncuran.

    Kecepatan ekspansi Starlink juga membuka peluang baru bagi layanan internet di daerah terpencil. Dengan cakupan yang terus meluas, SpaceX berpotensi menjangkau lebih banyak pengguna yang sebelumnya tidak memiliki akses internet memadai. Namun, para pengamat juga menyoroti potensi kepadatan orbit dan risiko tabrakan antar satelit.

    Dalam konteks bisnis, performa Starlink menjadi sorotan di tengah berbagai dinamika yang dihadapi SpaceX. Beberapa waktu lalu, Elon Musk bantah rumor mengenai pengembangan gadget AI yang sempat beredar luas. Selain itu, isu saham SpaceX anjlok juga menjadi perhatian investor setelah IPO yang kurang memuaskan.

    Kinerja peluncuran Starlink yang konsisten juga menjadi indikator keandalan operasional SpaceX. Setiap misi yang berhasil tidak hanya menambah jumlah satelit di orbit, tetapi juga memvalidasi teknologi dan proses produksi massal yang dikembangkan perusahaan. Hal ini penting mengingat target jangka panjang SpaceX adalah menyediakan konektivitas global.

    Dari sisi regulasi, ekspansi cepat Starlink memicu diskusi di kalangan badan antariksa internasional. Beberapa negara mulai menyusun kerangka kerja untuk mengatur penggunaan orbit rendah Bumi agar tidak terjadi konflik kepentingan. SpaceX sendiri telah menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan regulator dalam mengelola lalu lintas antariksa.

    Sementara itu, Amazon terus berupaya mengejar ketertinggalan. Proyek Kuiper, nama layanan Leo Amazon, dijadwalkan mulai meluncurkan satelit produksi massal dalam waktu dekat. Namun, dengan kapasitas Falcon 9 yang mampu meluncurkan puluhan satelit dalam sekali misi, jarak dengan SpaceX masih sangat lebar.

    Data dari McDowell juga menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan misi SpaceX tetap tinggi. Dari seluruh peluncuran Starlink yang dilakukan, hanya sebagian kecil yang mengalami kegagalan. Ini memperkuat posisi Falcon 9 sebagai roket paling andal di kelasnya saat ini.

    Bagi konsumen, pertumbuhan Starlink berarti akses internet yang lebih luas dan potensi penurunan harga. SpaceX telah menurunkan biaya perangkat pengguna beberapa kali dalam dua tahun terakhir. Jika tren ini berlanjut, layanan Starlink bisa menjadi alternatif yang semakin terjangkau bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional.

    Ke depan, SpaceX diperkirakan akan terus meningkatkan kapasitas produksi satelit. Pabrik Starlink di Redmond, Washington, telah beroperasi dengan kapasitas tinggi untuk memenuhi permintaan peluncuran. Dengan model bisnis yang terintegrasi dari produksi hingga operasi, SpaceX memiliki kendali penuh atas rantai pasoknya.

    Kesimpulannya, data semester pertama 2026 menegaskan bahwa SpaceX tidak hanya mempertahankan, tetapi juga mempercepat dominasinya di sektor internet satelit. Dengan keunggulan teknologi roket reusable dan kapasitas produksi massal, jarak dengan kompetitor seperti Amazon semakin melebar. Bagi industri antariksa global, ini adalah era baru di mana kecepatan dan skala menjadi penentu utama kesuksesan.

  • BRIN: Kamera Termal dan Drone Kunci Cegah Kebakaran TPA

    BRIN: Kamera Termal dan Drone Kunci Cegah Kebakaran TPA

    JBNews.id — Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendorong penerapan teknologi deteksi dini. Menurut BRIN, risiko kebakaran dapat ditekan secara signifikan melalui pemasangan kamera termal dan drone, bukan hanya mengandalkan upaya pemadaman saat api sudah membesar.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains. Dalam diskusi di Media Lounge BRIN, Jakarta, Rabu (9/7/2026), ia menyatakan bahwa pencegahan harus dimulai dari pengelolaan TPA yang lebih terkontrol.

    “Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca,” kata Wahyu.

    Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik atas kebakaran di TPA Jatiwaringin yang telah berlangsung lebih dari sepuluh hari. Asap tebal yang masih mengepul hingga hari kesepuluh pemadaman menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan api di area seluas puluhan hektare. Insiden ini menjadi pengingat bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih memiliki celah besar dalam aspek keselamatan dan teknologi.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta

    Parameter Pemantauan Berbasis Sains

    Wahyu menjelaskan bahwa pendekatan berbasis sains dapat mendeteksi potensi kebakaran sebelum api meluas. Beberapa parameter yang dapat dipantau meliputi suhu permukaan dan bawah permukaan timbunan sampah, anomali panas, konsentrasi gas tertentu, jumlah hari tanpa hujan, kelembapan udara, hingga kecepatan dan arah angin.

    “Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia,” ujarnya.

    Secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar tersedia melimpah dalam bentuk plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah organik yang telah mengering. Gas landfill seperti metana juga dapat menjadi bahan bakar pada kondisi tertentu. Sementara oksigen masuk melalui permukaan, retakan, maupun rongga di dalam timbunan sampah.

    Namun, sumber penyalaan awal sering kali sulit dipastikan. “Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai,” jelas Wahyu.

    Teknologi Bukan Sekadar Perangkat

    Wahyu menegaskan bahwa keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada pembelian peralatan. “Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya,” katanya.

    Menurutnya, sampah organik sebaiknya diolah melalui pengomposan atau biodigester. Material yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipilah untuk didaur ulang. Sementara fraksi sampah yang mudah terbakar dapat dimanfaatkan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.

    Penerapan teknologi seperti Apple dan Siri menunjukkan bagaimana inovasi dapat menjadi pelajaran berharga. Namun, dalam konteks pengelolaan sampah, teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan di semua TPA.

    Pencegahan Jangka Panjang

    Wahyu menegaskan bahwa pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan di dalam kawasan TPA. Upaya jangka panjang harus dimulai dengan mengurangi volume sampah campuran yang berakhir di fasilitas tersebut.

    “Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat sehingga fasilitas akhir lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol,” pungkasnya.

    Implikasi dari pernyataan BRIN ini jelas: Indonesia membutuhkan transformasi fundamental dalam pengelolaan sampah. Tanpa investasi pada teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini, risiko kebakaran seperti yang terjadi di TPA Jatiwaringin akan terus berulang. Bagi pemerintah daerah dan pengelola TPA, ini adalah sinyal untuk segera mengadopsi teknologi terkini guna mencegah bencana serupa di masa depan.

    Kebakaran TPA Jatiwaringin telah menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Data dari lapangan menunjukkan bahwa upaya pemadaman yang mengandalkan metode konvensional saja tidak lagi memadai. Integrasi kamera termal, drone, sensor gas, dan sistem peringatan dini berbasis data cuaca menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar opsi.

    Hari ke-10 Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin, Asap Masih Mengepul

  • AI China Samai AS, Perusahaan Amerika Mulai Panik

    AI China Samai AS, Perusahaan Amerika Mulai Panik

    JBNews.id, JAKARTA — Keunggulan yang dinikmati perusahaan Amerika Serikat dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) mulai terkikis. Pesaing dari China kini semakin mendekat, memicu gelombang kecemasan di sektor teknologi AS.

    Lebih dari setahun lalu, DeepSeek memicu krisis eksistensial dan aksi jual besar-besaran saham di industri teknologi AS. Saat itu, startup China tersebut merilis model AI kompetitif dengan biaya produksi jauh lebih murah dibanding model-model unggulan Amerika. Jika peristiwa itu dianggap sebagai alarm, maka peluncuran GLM-5.2 pada bulan lalu menjadi pukulan keras di pintu depan.

    Model dari startup China, Z.ai, ini disebut-sebut memiliki kekuatan yang hampir setara, bahkan sebanding dengan sistem AI terdepan AS. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan coding dan aplikasi keamanan siber, dengan biaya penggunaan yang jauh lebih rendah.

    Marc Andreessen, venture capitalist terkemuka Silicon Valley, melalui akun Twitter-nya menyatakan bahwa “para insider AI mengatakan GLM-5.2 adalah model AI China pertama yang mampu menyamai dan seringkali mengalahkan model AI publik dari laboratorium besar Amerika tanpa kompromi.” Pernyataan ini semakin menegaskan pergeseran peta kekuatan AI global.

    Menunjukkan tanda-tanda kehilangan kendali, perusahaan AS mulai menuding China melakukan kecurangan. Sebelumnya, Anthropic menuduh DeepSeek, Moonshot, dan MiniMax menggunakan teknik distillation untuk mengumpulkan data secara ilegal guna meniru model AI mereka. Teknik ini melatih model “murid” yang lebih lemah dengan hasil keluaran model “guru” yang lebih canggih.

    Laboratorium AI memang rutin menggunakan teknik ini untuk menciptakan versi yang lebih kecil dan efisien. Namun, Anthropic mengklaim perusahaan China menyalahgunakannya secara massal dengan melibatkan puluhan ribu akun untuk menyedot data dari model mereka. Tuduhan ini kembali mencuat ketika Anthropic mengirim surat ke senator AS yang menuduh raksasa China, Alibaba, juga melakukan praktik serupa.

    “Serangan distilasi ini dilakukan secara ilegal, sistematis, dan dalam skala industri untuk memanen kemampuan AI AS dan mengemasnya ulang sebagai milik mereka,” demikian pernyataan Anthropic kepada para senator, seperti dikutip dari The New York Times.

    Meski demikian, keluhan Anthropic mungkin sia-sia. Distilasi merupakan rahasia umum di antara para pesaing di sektor teknologi AS. Lebih jauh lagi, seperti dicatat The New York Times, belum jelas apakah praktik ini ilegal. Tanpa keputusan pengadilan yang menguntungkan, perusahaan AS harus mengandalkan tindakan balasan mereka sendiri untuk menghentikannya. Ironisnya, Anthropic sendiri pernah tertangkap basah menyematkan kode mata-mata pada model Claude Code untuk memata-matai pengguna China.

    Perusahaan Amerika juga bisa memanfaatkan tekanan geopolitik. Opsi yang tersedia termasuk memutus akses China ke chip AI canggih, atau bahkan memblokir warga AS untuk mengakses model AI China. Langkah ini tidak mustahil mengingat AS pernah mengancam akan melarang TikTok untuk memaksa ByteDance menjual operasinya, serta secara efektif melarang mobil listrik China dengan tarif tinggi.

    Meskipun perusahaan China mungkin menggunakan cara-cara tersembunyi untuk mengejar ketertinggalan, banyak ahli percaya bahwa tindakan keras terhadap distilasi tidak akan berarti banyak. Membangun model secanggih milik Z.ai tidak bisa dijelaskan hanya dengan teknik distilasi. Perusahaan AS mungkin harus menerima kenyataan bahwa pesaing mereka dari China kini berada di pijakan yang setara.

    Keluhan tentang distilasi menjadi pengalihan yang nyaman di tengah meningkatnya pengawasan terhadap produk coding AS yang dinilai terlalu mahal untuk digunakan di lingkungan korporasi. Atau, ini bisa menjadi permohonan putus asa agar pemerintah AS turun tangan menyelamatkan mereka dari kerasnya persaingan pasar bebas global.

    Fenomena ini juga beriringan dengan dominasi perusahaan AI dalam pengeluaran pemilu AS 2026, menunjukkan betapa besarnya pengaruh industri ini. Di sisi lain, kekhawatiran publik juga meningkat, terbukti dari kekhawatiran Hollywood terhadap kritik Big Tech yang mempengaruhi keputusan produksi film.

  • Target Game Pass 77 Juta Jauh dari Kenyataan

    Target Game Pass 77 Juta Jauh dari Kenyataan

    JBNews.id — Ambisi Microsoft untuk memiliki 77 juta pelanggan Xbox Game Pass pada akhir 2026 gagal total. Data terbaru menunjukkan jumlah pelanggan saat ini hanya sekitar 30 juta orang, jauh di bawah target fantastis tersebut.

    Setelah raksasa video game ini mengonfirmasi penjualan studio yang dimilikinya dan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, Wall Street Journal membagikan detail tentang jumlah member Game Pass saat ini. Tercatat kalau sekarang ada sekitar 30 juta orang yang berlangganan Game Pass, dilansir The Gamer, Kamis (9/7/2026).

    Sementara menurut sebuah dokumen hukum yang dibagikan selama akuisisi Xbox terhadap Activision Blizzard, diperkirakan bahwa 77 juta orang akan mendaftar ke Game Pass hingga saat ini. Angka tersebut sangat mencengangkan dan praktiknya tidak berjalan mulus sesuai keinginan.

    Jangankan untuk mendekati, berdasarkan data tersebut, ini jauh di bawah ekspektasi Xbox. Setidaknya di bawah 40% dari target tinggi yang mereka tetapkan. Bahkan, jika 30 juta pelanggan yang dilaporkan Wall Street Journal akurat, total sebenarnya telah menurun sejak terakhir kali Xbox melaporkan angka resminya.

    The Gamer sebelumnya melaporkan kalau mereka mendengar jumlah terakhir sekitar 34 juta orang yang berlangganan Game Pass. Itu berarti, telah terjadi penurunan hingga empat juta pelanggan mengacu data Wall Street Journal.

    Meskipun bukan angka resmi, baru-baru ini diungkapkan oleh bos Xbox, Matthew Ball, bahwa jutaan orang berhenti berlangganan Game Pass ketika harga paket teratas layanan tersebut naik tinggi.

    PHK Besar-besaran di Xbox

    Masa depan Game Pass saat ini masih belum jelas. Belum lagi game yang diterbitkan Xbox tidak akan lagi langsung diluncurkan pada hari pertama ke dalam Game Pass, karena judul Call of Duty akan ditambahkan ke Ultimate setahun setelah dirilis.

    Sedangkan kabar terbaru yang sekarang ini santer di industri game ialah rencana Microsoft yang akan memangkas sekitar 4.800 karyawannya. Sebagian besar karyawan yang terkena dampak ini berasal dari divisi penjualan komersial Microsoft dan Xbox. Sebagai bagian dari PHK ini, 1.600 karyawan dieliminasi pada Senin kemarin.

    CEO Xbox, Asha Sharma, mengumumkan Xbox akan memulangkan 3.200 karyawan hingga tahun fiskal 2027. Sekitar 20% karyawan Xbox akan terkena dampak ronde PHK kali ini.

    Dalam email yang dikirimkan kepada karyawan, Sharma mengatakan ini adalah restrukturisasi paling signifikan dalam sejarah Xbox.

    “Bisnis kita saat ini tidak sehat. Kita beroperasi dengan margin yang 3-10 kali lebih rendah dibandingkan bisnis platform dan penerbitan game yang setara,” tulis Sharma dalam emailnya (7/7).

    Kondisi ini menunjukkan tekanan besar yang dihadapi divisi gaming Microsoft. Sementara industri game global terus bertransformasi, Xbox justru menghadapi tantangan internal yang serius. Menarik untuk melihat bagaimana tren ini berbanding terbalik dengan kesuksesan Film Adaptasi Game yang justru menjadi primadona baru Hollywood saat ini.

    Dampak bagi Industri Game

    Penurunan jumlah pelanggan Game Pass dan PHK massal di Xbox memberikan sinyal kuat tentang perubahan lanskap industri game. Model langganan yang sebelumnya dianggap sebagai masa depan gaming ternyata menghadapi tantangan berat dalam hal retensi pelanggan dan profitabilitas.

    Kenaikan harga paket Game Pass menjadi faktor utama yang mendorong jutaan pelanggan hengkang. Keputusan untuk tidak lagi meluncurkan game first-party pada hari pertama ke layanan langganan juga mengurangi daya tarik utama Game Pass.

    Sementara itu, kebangkitan film adaptasi game di Hollywood menunjukkan bahwa intellectual property (IP) game memiliki nilai komersial yang besar di luar platform gaming. Netflix Garap Film live-action Persona menjadi salah satu contoh bagaimana IP game dieksploitasi di medium lain.

    Bagi para penggemar Xbox dan pelanggan Game Pass, kondisi ini menimbulkan ketidakpastian. Dengan restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan Sharma, masa depan layanan Game Pass dan ekosistem Xbox secara keseluruhan masih menjadi tanda tanya besar.

    Implikasinya jelas: Microsoft harus segera menemukan strategi baru untuk mengembalikan pertumbuhan Game Pass atau menghadapi kenyataan bahwa target 77 juta pelanggan hanyalah mimpi yang tak akan pernah terwujud.

  • BRIN: Teknologi Olah Sampah Ada, Ekosistem Masih Kurang

    BRIN: Teknologi Olah Sampah Ada, Ekosistem Masih Kurang

    JBNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa berbagai teknologi untuk mengolah sampah sebenarnya sudah tersedia di Indonesia. Namun, persoalan utama pengelolaan sampah saat ini bukan lagi terletak pada teknologinya, melainkan pada ekosistem yang membuat teknologi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, mengungkapkan bahwa teknologi pengolahan sampah seperti pengomposan, refuse-derived fuel (RDF), biogas, pirolisis, hingga insinerasi sudah ada semua di Indonesia. “Sebenarnya teknologi pengolahan sampah itu sudah cukup lengkap. Teknologi pengomposan, RDF, biogas, pirolisis, sampai insinerasi itu sudah ada semua,” kata Wahyu dalam diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) kantor BRIN, Gedung B.J. Habibie di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

    Meskipun teknologi tersebut sudah tersedia, Wahyu mengakui bahwa banyak teknologi yang terbukti berhasil di laboratorium atau proyek percontohan justru tidak berjalan optimal ketika diterapkan di masyarakat. “Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi yang sudah terbukti berhasil itu diterapkan di masyarakat, banyak yang gagal,” ujarnya.

    Menurut Wahyu, arah riset pengelolaan sampah di Indonesia perlu bergeser. Jika sebelumnya fokus penelitian banyak diarahkan pada pengembangan teknologi baru, kini yang lebih dibutuhkan adalah riset mengenai sistem dan ekosistem yang mampu mendukung penerapan teknologi tersebut. “Yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini adalah riset mengenai inovasi sistem dan ekosistem persampahan agar teknologi yang sudah ada benar-benar bisa berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

    Ia menjelaskan bahwa banyak penelitian selama ini hanya berfokus pada peningkatan efisiensi alat, misalnya menggunakan katalis baru pada teknologi pirolisis atau meningkatkan kinerja proses pengolahan. Padahal, menurutnya, tantangan terbesar justru muncul ketika teknologi tersebut harus dioperasikan secara nyata oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta

    Wahyu menilai pengelolaan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan teknologi. Selain peneliti teknik, diperlukan keterlibatan ahli sosial, ekonomi, hingga pembuat kebijakan agar teknologi yang sudah tersedia dapat diterapkan secara berkelanjutan. “Yang harus diteliti sekarang bukan semata-mata teknologinya, tetapi bagaimana membangun ekosistem pengelolaan sampah yang mendukung penerapan teknologi itu,” ujarnya.

    Menurut Wahyu, Indonesia sebenarnya telah memiliki beragam teknologi pengolahan sampah yang terus berkembang, baik yang dikembangkan BRIN maupun pelaku industri. Di antaranya teknologi pengomposan, RDF, biogas, pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, gasifikasi, hingga insinerator. “Teknologinya sudah banyak. Sekarang bagaimana teknologi itu bisa benar-benar berjalan dan berkelanjutan di lapangan. Itu tantangan yang jauh lebih penting,” pungkasnya.

    Pernyataan BRIN ini menjadi relevan di tengah peristiwa kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin yang belum kunjung padam hingga hari ke-10. Peristiwa tersebut menyoroti lemahnya sistem pengelolaan sampah di Indonesia, di mana teknologi yang ada belum mampu diimplementasikan secara maksimal. BRIN menekankan bahwa riset sistem dan ekosistem menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

    Selain itu, BRIN juga terus mengembangkan riset di berbagai bidang, termasuk prediksi bencana dan teknologi antariksa. Hal ini menunjukkan komitmen BRIN dalam menjawab tantangan nasional melalui pendekatan riset yang komprehensif. Inovasi riset seperti ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

    Implikasi dari pernyataan BRIN ini sangat jelas: Indonesia tidak kekurangan teknologi pengolahan sampah, tetapi kekurangan ekosistem yang mendukung penerapannya. Pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membangun sistem yang memungkinkan teknologi-teknologi tersebut berjalan secara berkelanjutan. Tanpa ekosistem yang kuat, investasi dalam teknologi pengolahan sampah akan sia-sia.

    Bagi pembaca, pesan utama dari BRIN adalah bahwa solusi pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan mesin atau alat canggih. Diperlukan perubahan paradigma dalam perencanaan, pendanaan, operasional, dan partisipasi masyarakat agar teknologi yang ada dapat memberikan dampak nyata. Ini adalah tantangan yang jauh lebih besar dan lebih penting daripada sekadar mengembangkan teknologi baru.

  • PocketMage, PDA Clamshell Modern dengan Layar E-Paper

    PocketMage, PDA Clamshell Modern dengan Layar E-Paper

    JBNews.id — Talisman Design menghadirkan kembali perangkat personal digital assistant (PDA) era 1990-an dalam bentuk modern bernama PocketMage. Perangkat clamshell ini menggabungkan keyboard fisik, layar e-paper, dan layar OLED dalam bodi saku, serta saat ini tengah didanai melalui platform Crowd Supply.

    PocketMage hadir di tengah tren kebangkitan perangkat retro yang didorong oleh keinginan pengguna akan produktivitas tanpa distrasi. Berbeda dengan smartphone yang sarat notifikasi, PDA ini dirancang untuk tugas-tugas sederhana seperti menulis catatan, membaca e-book, dan mengelola kalender.

    Spesifikasi dan Varian PocketMage

    Talisman Design menawarkan dua opsi pemesanan awal (preorder) di Crowd Supply. Varian pertama seharga US$235 sudah dirakit pabrik dan siap pakai. Varian kedua lebih murah, US$185, tetapi membutuhkan perakitan sendiri. Menurut perusahaan, versi DIY hanya memerlukan obeng dan tanpa keterampilan solder. Namun, kesabaran ekstra diperlukan karena pesanan baru diperkirakan baru akan dikirim pada Maret 2027.

    Pembeli juga bisa memilih warna aksen abu-abu (parchment) atau ungu kerajaan (royal purple). Perangkat ini ditenagai mikrokontroler ESP32-S3 dengan RAM 2MB dan penyimpanan internal 16MB yang dapat diperluas menggunakan kartu microSD.

    Layar Ganda dan Fungsionalitas

    PocketMage menggunakan layar utama e-paper 3,1 inci dengan resolusi 320×240 piksel. Layar ini tidak memiliki fungsi sentuh, melainkan menggunakan capacitive touch bar di sisi perangkat untuk scrolling. Di atas keyboard QWERTY mini, terdapat layar OLED 1,8 inci dengan resolusi 256×32 piksel yang digunakan untuk menu dan fungsi dengan refresh rate lebih tinggi.

    Perangkat ini sudah dibekali aplikasi bawaan seperti kalender, jurnal, kamus, dan editor teks Markdown. Aplikasi tambahan seperti kalkulator, pembaca e-book, dan peramban web juga sudah tersedia. PocketMage bersifat open-source, sehingga pengembang dapat memodifikasi dan menambahkan aplikasi sesuai kebutuhan.

    Daya Tahan dan Konektivitas

    PocketMage dibekali baterai 1.200mAh yang diklaim mampu bertahan sekitar satu minggu dalam penggunaan normal. Perangkat ini juga mendukung Wi-Fi, Bluetooth, dan port USB-C yang kompatibel dengan periferal seperti keyboard eksternal. Speaker piezo dasar juga tersedia untuk notifikasi suara.

    Bagi pengembang dan penghobi, PocketMage menyertakan port ekspansi bertenaga untuk menambah kemampuan perangkat dengan hardware kustom. Fitur ini membuka peluang integrasi dengan modul-modul tambahan seperti sensor atau perangkat input alternatif.

    Implikasi untuk Pengguna

    Kebangkitan perangkat seperti PocketMage menunjukkan bahwa masih ada pasar untuk alat produktivitas khusus yang bebas dari gangguan aplikasi media sosial dan notifikasi konstan. Dengan harga mulai US$185, perangkat ini menawarkan alternatif bagi mereka yang menginginkan pengalaman mengetik fisik dan fokus pada tugas-tugas tertentu.

    Namun, keterbatasan RAM dan penyimpanan internal membuat PocketMage tidak cocok untuk tugas berat seperti pengolahan grafis atau multitasking kompleks. Perangkat ini lebih tepat untuk pengguna yang membutuhkan alat tulis digital portabel, jurnal harian, atau pembaca e-book dengan keyboard fisik.

    Dengan estimasi pengiriman Maret 2027, para pendukung Crowd Supply harus bersabar. Namun, bagi penggemar teknologi retro dan produktivitas minimalis, PocketMage bisa menjadi investasi menarik untuk pengalaman komputasi yang lebih fokus.

  • FL Studio 2026: Gopher AI Kini Bisa Eksekusi Perintah

    FL Studio 2026: Gopher AI Kini Bisa Eksekusi Perintah

    JBNews.id — Image Line merilis FL Studio 2026 dengan pembaruan signifikan pada asisten AI Gopher. Kini, pengguna bisa memerintahkan Gopher untuk mengeksekusi aksi langsung di dalam digital audio workstation (DAW) tersebut, bukan sekadar menampilkan panduan manual.

    Pembaruan ini menjadi lompatan besar dari versi sebelumnya. Tahun lalu, Gopher hanya berfungsi sebagai chatbot instruksi manual. Pengguna bertanya cara melakukan sesuatu, lalu Gopher menampilkan petunjuk relevan. Kini, kemampuannya jauh lebih praktis.

    Salah satu pengguna berhasil memerintahkan Gopher untuk meletakkan kick drum four-on-the-floor, menambahkan snare di backbeat, lalu memberi gated reverb pada snare untuk nuansa 1980-an. Semua perintah dijalankan dengan sempurna.

    Keterbatasan Gopher AI

    Meskipun impresif, Gopher memiliki beberapa keterbatasan. AI ini belum bisa membuat dan menggambar otomatisasi. Gopher juga tidak dapat menyisipkan not atau chord ke trek melodi. Selain itu, AI ini belum mampu memilih preset spesifik di dalam plugin.

    Contohnya, jika pengguna meminta Gopher memuat suara Rhodes electric piano, AI akan membuat kanal dengan instrumen Flex yang telah diperbarui. Namun, menemukan patch Rhodes tetap menjadi tugas pengguna.

    Image Line menegaskan tidak melatih AI menggunakan data pengguna. Sesi rekaman tetap bersifat pribadi dan aman.

    Fitur Unggulan Lainnya

    Salah satu fitur headline lain di FL Studio 2026 adalah Flex yang dibangun ulang sepenuhnya. Flex adalah instrumen virtual serba bisa milik Image Line, mirip dengan Native Instruments Kontakt. Instrumen ini memiliki puluhan paket suara yang mencakup segala hal, mulai dari synth vintage hingga gitar realistis dan suara glitchy.

    Browser preset baru hadir dengan filter yang lebih baik dan kategori genre. Sementara itu, engine Flex sendiri kini jauh lebih ringan dalam penggunaan sumber daya.

    Image Line juga menambahkan fitur pencadangan cloud otomatis untuk proyek. Fitur ini tersedia bagi pelanggan FL Cloud. Selain itu, ada “audio logger” yang selalu aktif. Fitur ini menangkap 60 detik output master, sehingga ide yang tidak sempat direkam tetap bisa diselamatkan.

    Seperti biasa, FL Studio 2026 tersedia sebagai pembaruan gratis bagi pengguna yang sudah memiliki lisensi.

    Pembaruan AI pada DAW ini sejalan dengan tren industri. Beberapa perusahaan lain juga mengembangkan Fitur AI Baru untuk aplikasi kreatif. Sementara itu, Meta AI Creator Assistant juga menjadi sorotan di platform serupa.

  • Sensor Headphone Sony Kini Bisa Kendalikan Game PC

    Sensor Headphone Sony Kini Bisa Kendalikan Game PC

    JBNews.id — Sensor akselerometer dan giroskop yang tertanam di headphone premium Sony, seperti seri WH-1000XM5 dan WF-1000XM5, kini bisa difungsikan sebagai alat pelacak kepala (head tracking) untuk mengendalikan ratusan game PC. Inovasi ini memungkinkan pengguna mendapatkan pengalaman bermain yang lebih imersif tanpa perlu membeli perangkat keras tambahan.

    Sebagian besar headphone dan earbud kelas atas masa kini telah dilengkapi dengan sensor akselerometer dan giroskop. Sensor ini umumnya digunakan untuk mengaktifkan fitur spatial audio, yang membutuhkan pelacakan pergerakan kepala secara presisi agar suara yang dihasilkan terasa lebih imersif.

    Menariknya, perangkat keras yang sudah tertanam di dalam lini headphone andalan Sony, seperti seri WF-1000 dan WH-1000, kini bisa dimanfaatkan untuk fungsi yang sama sekali berbeda: menjadi alat kendali pelacakan kepala di dalam game (in-game controls).

    Proyek Sony Head Tracker oleh Pengembang Nicholas Slattery

    Inovasi ini datang dari seorang pengembang bernama Nicholas Slattery yang memulai sebuah proyek bernama Sony Head Tracker. Proyek ini memungkinkan sensor pada headphone Sony digunakan sebagai alat pelacak kepala (head tracking) yang kompatibel dengan ratusan game PC, termasuk game simulator populer seperti Microsoft Flight Simulator dan Assetto Corsa.

    Pada dasarnya, lini headphone Sony sudah dibekali dengan protokol Android Head Tracker bawaan langsung dari firmware-nya. Sayangnya, sistem operasi Windows mengabaikan protokol tersebut. Di sinilah aplikasi buatan Slattery mengambil peran.

    Sony Head Tracker berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan perangkat keras headphone dengan OpenTrack. OpenTrack sendiri adalah software pelacak pergerakan yang mendukung lebih dari 200 game PC, yang awalnya dirancang untuk bekerja dengan ponsel, webcam, serta pelacak mata atau infra merah (IR).

    Daftar Perangkat Sony yang Didukung

    Berikut adalah daftar perangkat Sony yang saat ini didukung karena telah memiliki kapabilitas spatial audio:

    • Seri WH-1000XM6 dan WF-1000XM6
    • Seri WH-1000XM5 dan WF-1000XM5
    • ULT WEAR (WH-ULT900N)

    Bagaimana dengan perangkat Apple? Sayangnya, headphone dan earbud buatan Apple menggunakan protokol eksklusif yang tertutup, sehingga perangkat tersebut tidak akan bisa beroperasi dengan sistem Windows untuk kebutuhan ini.

    Bagi Anda yang memiliki salah satu perangkat headphone Sony di atas dan gemar memainkan game simulator di PC, proyek ini bisa menjadi solusi yang sangat hemat biaya untuk membuat pengalaman bermain Anda terasa jauh lebih nyata. Berdasarkan video demo yang beredar, tingkat kepekaan dan respons pelacakan kepalanya bahkan dinilai sudah setara dengan perangkat Virtual Reality (VR), demikian dikutip detikINET dari GSM Arena, Kamis (9/7/2026).

    Inovasi serupa dalam pemanfaatan teknologi canggih juga terlihat di dunia olahraga, seperti bola Piala Dunia 2026 yang membantu wasit. Sementara itu, di sisi lain, AI di balik penipuan juga semakin canggih, menunjukkan bahwa teknologi selalu memiliki dua sisi mata uang.

    Inovasi Sony Head Tracker membuka jalan baru bagi para gamer PC, khususnya penggemar flight simulator dan racing simulator, untuk meningkatkan imersi tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk perangkat VR atau pelacak kepala khusus. Dengan memanfaatkan perangkat yang sudah dimiliki, pengalaman bermain game PC bisa ditingkatkan secara signifikan.

  • Kesalahan Pajak Estonia, AI Temukan Celah Hukum

    Kesalahan Pajak Estonia, AI Temukan Celah Hukum

    JBNews.id — Sebuah kesalahan dalam undang-undang perpajakan Estonia membuat kasino online lolos dari pajak selama setahun penuh, menyebabkan kerugian negara mencapai €24 juta atau sekitar Rp424 miliar. Insiden ini justru menjadi titik balik adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor pemerintahan negara Baltik tersebut.

    Pada Desember 2025, Riigikogu, parlemen Estonia, mengesahkan perubahan pada Undang-Undang Pajak Perjudian yang bertujuan menurunkan tarif pajak untuk perjudian jarak jauh. Namun, redaksi undang-undang tersebut hanya merujuk pada “permainan keterampilan” untuk tahun itu, bukan permainan untung-untungan atau perjudian jarak jauh. Kesalahan redaksional ini secara tidak sengaja mengecualikan kasino online dari kewajiban perpajakan.

    Seluruh industri perjudian Estonia bernilai sekitar €300 juta atau setara Rp5,3 triliun, dengan pasar perjudian daring menjadi salah satu yang tumbuh tercepat di Uni Eropa. Akibat kesalahan tersebut, pemerintah kehilangan pendapatan perjudian sebesar €24 juta per tahun.

    AI Mendeteksi Kesalahan yang Terlewat Manusia

    Kesalahan ini pertama kali diketahui oleh seorang penasihat hukum dari operator perjudian. Namun, rasa malu semakin dalam ketika Luukas Ilves, mantan wakil menteri untuk transformasi digital, menjalankan undang-undang tersebut melalui Claude dan Gemini—dua sistem AI ternama. Kedua sistem AI itu, menurut Ilves, langsung mengidentifikasi inkonsistensi dalam teks hukum.

    Dalam hitungan jam, Ilves membangun alat prototipe bernama Apsakaleidja, atau “Fuckup Finder,” yang dapat menarik draf undang-undang dari situs Riigikogu dan menandai masalah seperti referensi yang rusak, redaksi yang kontradiktif, kesalahan aritmatika, dan tanggal yang tidak mungkin. Alat ini mengkategorikan masalah sebagai risiko tinggi, sedang, atau rendah—dari 112 undang-undang yang terdaftar, 102 di antaranya dinilai berisiko tinggi. Ilves bahkan mendemonstrasikannya di televisi nasional, membuat pembawa acara takjub.

    Dari Kesalahan Menjadi Terobosan

    Meskipun memalukan, kesalahan ini justru memicu sebuah pencerahan di dalam pemerintahan Estonia. “Situasi ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi asisten yang sangat berguna,” kata Kristen Michal, Perdana Menteri Estonia, kepada WIRED. “Dan—dalam bentuk platform vibe-code untuk memeriksa draf undang-undang yang dibuat sebagai respons terhadap insiden tersebut—kami melihat contoh bagaimana alat agen dapat memberdayakan masyarakat sipil dan warga negara individu.”

    Estonia kemudian menggandakan upaya penggunaan AI dalam pemerintahan. Pada Januari 2026, Michal mengindikasikan negaranya kemungkinan akan menggunakan alat seperti Apsakaleidja untuk menyusun undang-undang guna menemukan dan memperbaiki celah secara preventif. Ia meluncurkan program Eesti.ai yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan warga Estonia dalam penggunaan AI, dengan tujuan menggandakan produktivitas dalam negeri pada 2035. Di antara penasihat inisiatif Eesti.ai adalah Markus Villig, pendiri Bolt, dan Ilves, pencipta Fuckup Finder.

    Kemudian, pada April 2026, parlemen Estonia menerima rancangan undang-undang dari pemerintah yang memberikan hak kepada pemerintah negara bagian dan daerah untuk menggunakan solusi digital, termasuk AI, guna mengotomatisasi proses administrasi. RUU tersebut saat ini sedang dibahas di parlemen dengan target menjadi undang-undang.

    Identitas Digital untuk Agen AI

    Pada Juni 2026, Michal mengatakan kepada pertemuan Eesti.ai bahwa jika semuanya berjalan sesuai rencana, “Estonia akan menjadi negara pertama di dunia yang menciptakan identitas digital resmi untuk agen AI.”

    “Ini adalah lingkungan baru bagi sektor publik,” kata Michal kepada WIRED. “Ini menuntut kelincahan dan kemampuan beradaptasi seiring perubahan teknologi.” Estonia berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan banyak negara untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Negara ini telah memimpin dalam mengintegrasikan identitas digital berkat statusnya sebagai negara digital-first, sementara 99 persen layanan publik sudah tersedia secara daring.

    Estonia sering dijadikan contoh bagaimana menjalankan negara digital modern. Hal ini meletakkan dasar bagi adopsi AI yang lebih mudah. “Investasi itu sekarang memungkinkan kami bergerak lebih cepat dan lebih percaya diri menuju era AI,” jelasnya.

    Perdebatan tentang Peran Manusia

    Catherine Flick, peneliti etika teknologi di University of Staffordshire, mengatakan kesalahan pajak perjudian ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa manusia tidak melakukan proses review ini sebagai bagian dari prosedur penyusunan undang-undang?” katanya. “Pada titik tertentu, seseorang harus duduk dan membaca seluruh teks, dengan pemahaman konteks dan semua hal terkait, untuk memastikan bahwa ini adalah undang-undang yang layak.”

    Elemen terakhir—manusia dalam proses—inilah yang sedang diperdebatkan oleh perwakilan di Riigikogu. RUU tersebut sengaja dirancang secara luas, jelas Kirke Maar, pimpinan tim Eesti.ai. Pemikiran Estonia saat ini adalah bahwa pilihan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori.

    “Garis pemisah alami adalah antara keputusan berbasis aturan dan keputusan diskresioner,” kata Maar. “Jika undang-undang menentukan hasil dari fakta yang dapat diverifikasi—Anda memenuhi kriteria, Anda mendapatkan hasil—otomatisasi adalah tindakan yang tepat.”

    Jika negara sudah memiliki data yang diperlukan untuk menetapkan bahwa seseorang memenuhi syarat untuk mendapatkan manfaat, Maar dan Ilves berpendapat, orang tersebut tidak perlu mengisi formulir sama sekali: Mereka cukup diberi tahu bahwa mereka memenuhi syarat. Deklarasi pajak, yang di Estonia sudah diisi sebelumnya, dapat beralih dari warga negara yang memeriksa dan mengonfirmasi formulir menjadi agen yang menyiapkan dan mengajukan deklarasi yang lebih kompleks dari awal hingga akhir, dengan warga negara mengonfirmasi atau melakukan intervensi jika diperlukan.

    Batas antara AI Asisten dan AI Otoritas

    Ketika hal-hal lebih rumit, dan “keputusan memerlukan pertimbangan sungguh-sungguh atas kepentingan yang bersaing atau penilaian tentang keadaan spesifik seseorang, manusia harus terlibat dalam proses sejak awal,” kata Maar. Maar dan Ilves mengatakan bahwa kapan pun selama proses pengambilan keputusan AI, seseorang dapat menggunakan haknya untuk didengar, di mana prosedur otomatis akan berakhir dan pejabat manusia akan mengambil alih.

    Keputusan otomatis juga akan dikesampingkan jika warga negara mempermasalahkan suatu keputusan. Setiap keputusan administratif otomatis juga harus meninggalkan jejak audit tentang data apa yang digunakan, aturan mana yang diterapkan, kapan keputusan dibuat, dan bagaimana warga negara dapat menantang atau mengoreksinya.

    “Tujuan negara digital Estonia tidak pernah untuk menghilangkan manusia dari pemerintahan,” kata Maar. “Tujuannya adalah untuk membuat layanan lebih mudah diakses, lebih cepat, dan tidak terlalu memberatkan.”

    Akuntabilitas juga merupakan bagian sentral dari proses AI, dan area yang diketahui oleh mereka yang bekerja dengan pemerintah dalam interaksi digital lainnya dengan warga negara. “Risiko utamanya adalah sistem AI yang bertindak dalam skala besar tanpa akuntabilitas—di mana tindakan tidak dapat dilacak kembali ke pihak yang bertanggung jawab, izin tidak jelas, atau penyalahgunaan tidak terdeteksi,” kata Liina Vahtras, direktur pelaksana e-residency, program Estonia yang memberikan identitas digital terbitan pemerintah kepada non-warga negara untuk mengakses layanan bisnis Estonia secara daring. “Inilah yang kami upayakan untuk dicegah.”

    “Ketika agen AI mulai berinteraksi dengan layanan publik, bank, daftar, dan sistem digital lainnya atas nama orang dan perusahaan, harus jelas siapa pemilik agen tersebut, di bawah otorisasi siapa ia bertindak, apa yang diizinkan untuk dilakukannya, dan siapa yang tetap bertanggung jawab atas tindakannya,” kata Vahtras. “Gagasan di balik kode agen adalah untuk membuat rantai tanggung jawab menjadi terlihat.”

    Perdana Menteri Michal juga menyadari dan mengkhawatirkan hal ini. Ia berhati-hati untuk menarik garis antara AI sebagai asisten di Estonia dan AI sebagai otoritas. “AI tidak menggantikan institusi demokrasi, konstitusi, atau keinginan pemilih,” katanya. “Jika AI mengidentifikasi kesalahan dalam undang-undang, itu tidak berbeda dengan manusia yang menemukannya. Tanggung jawab untuk memperbaikinya tetap berada di tangan parlemen, pengadilan, atau administrasi publik.”

    Kesalahan pajak yang merugikan ini telah menjadi katalis bagi transformasi digital yang lebih dalam di Estonia. Negara yang sudah terkenal dengan sistem e-government-nya ini kini berada di garis depan dalam mengintegrasikan AI ke dalam tata kelola pemerintahan, dengan pelajaran berharga tentang pentingnya pengawasan manusia dan akuntabilitas di era kecerdasan buatan.

    Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi referensi penting. Saat negara-negara di dunia mulai mengeksplorasi penggunaan AI dalam birokrasi, kasus Estonia menunjukkan bahwa kesalahan manusia dalam regulasi bisa diminimalkan dengan bantuan teknologi, selama ada kerangka etika dan hukum yang jelas. Sementara itu, tantangan seperti Pencurian Kabel Data Center yang meningkat di berbagai negara menunjukkan bahwa keamanan infrastruktur digital tetap menjadi isu krusial.