BRIN: Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Sekadar Publikasi

Kepala BRIN Arif Satria saat memberikan pidato di kegiatan BRIN Goes to Campus di Universitas Hasanuddin

JBNews.id, Makassar — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menilai kesenjangan antara hasil penelitian dan kebutuhan pengguna masih menjadi tantangan terbesar riset di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan BRIN Goes to Campus di Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin.

Arif Satria mengungkapkan bahwa ribuan hasil penelitian telah lahir setiap tahun dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Namun, tantangan utama saat ini bukan lagi menghasilkan riset, melainkan memastikan temuan-temuan tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta berkontribusi nyata terhadap pembangunan nasional dan daerah.

“Riset yang baik bukan hanya yang selesai dipublikasikan, tetapi yang mampu menyelesaikan persoalan nyata, menciptakan nilai tambah ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Arif Satria di hadapan sivitas akademika Unhas.

Menurut data yang disampaikan, banyak hasil riset belum mampu menghasilkan dampak sosial secara optimal karena belum memasuki tahap implementasi dan hilirisasi. Kondisi ini menjadi perhatian serius BRIN sebagai penghela utama ekosistem riset dan inovasi nasional.

BRIN terus mendorong peningkatan kualitas penelitian, percepatan hilirisasi hasil riset, serta penguatan kolaborasi multipihak. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan bahwa investasi pada riset dan pengembangan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan nasional maupun daerah.

Arif Satria menekankan bahwa pembangunan daerah tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam semata. Sebaliknya, harus didukung oleh penguatan kapasitas riset dan inovasi. Penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi agenda strategis yang menentukan daya saing Indonesia di masa depan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan lembaga riset menjadi kunci untuk mempercepat transformasi tersebut. Sinergi yang kuat diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu hadir sebagai solusi yang menjawab berbagai tantangan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.

Hilirisasi Riset Jadi Prioritas

Salah satu fokus utama BRIN adalah mendorong hilirisasi hasil riset. Proses ini menjadi krusial untuk menjembatani kesenjangan antara penelitian akademis dan aplikasi di lapangan. Tanpa hilirisasi, riset hanya akan menjadi dokumen yang tersimpan di perpustakaan tanpa memberikan manfaat nyata.

BRIN juga terus memantau berbagai fenomena ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, Fenomena Upwelling yang mulai terbentuk pada 2026 menjadi perhatian BRIN untuk memantau musim tangkap ikan. Riset semacam ini menunjukkan bagaimana penelitian dapat langsung berdampak pada sektor perikanan dan kesejahteraan nelayan.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan inovasi teknologi tepat guna seperti Alat Ubah Air Laut menjadi air tawar dan ekstrak litium. Inovasi ini menjawab kebutuhan mendesak akan air bersih dan sumber energi alternatif di berbagai daerah.

Arif Satria menegaskan bahwa riset harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi. Riset yang dihilirisasi dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas industri, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tantangan Implementasi Riset di Daerah

Implementasi riset di daerah menghadapi tantangan tersendiri. Keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, dan pendanaan sering menjadi hambatan. BRIN berupaya mengatasi hal ini melalui program-program kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah dan industri.

Kegiatan BRIN Goes to Campus di Unhas menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan lembaga riset dengan akademisi. Melalui forum ini, BRIN mendorong para peneliti untuk tidak hanya fokus pada publikasi ilmiah, tetapi juga memikirkan dampak praktis dari penelitian mereka.

Arif Satria menambahkan bahwa investasi pada riset dan pengembangan harus dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan. Oleh karena itu, BRIN terus mendorong percepatan hilirisasi hasil riset agar inovasi yang dihasilkan dapat segera dirasakan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, BRIN juga menyoroti pentingnya etika dalam publikasi riset. Kejadian BRIN Minta Maaf atas unggahan Garuda hasil AI saat Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa kualitas dan integritas riset harus dijaga.

Ke depan, BRIN berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Kolaborasi multipihak menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, BRIN optimistis kesenjangan antara hasil penelitian dan kebutuhan pengguna dapat dijembatani. Hal ini akan membawa Indonesia menuju era baru pembangunan berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan.