Blog

  • Sony Bravia True RGB: Keunggulan TV Baru 2026

    Sony Bravia True RGB: Keunggulan TV Baru 2026

    JBNews.id — Sony Indonesia resmi meluncurkan tiga televisi Bravia terbaru di Indonesia, yakni Bravia 9 II, Bravia 7 II, dan Bravia 3 II. Sorotan utama dari peluncuran ini adalah hadirnya teknologi True RGB, yang diklaim mampu menghadirkan warna lebih akurat, tingkat kecerahan lebih tinggi, serta kontras yang lebih baik dibanding TV LED konvensional.

    Ketiga TV ini juga membawa peningkatan di sektor audio, prosesor gambar, hingga fitur hiburan yang dirancang menghadirkan pengalaman menonton layaknya di bioskop. Peluncuran ini menandai langkah terbaru Sony di pasar televisi premium Indonesia, dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 16,4 juta hingga Rp 83 juta.

    Keunggulan Teknologi True RGB

    Inovasi terbesar pada lini Bravia terbaru adalah hadirnya True RGB, teknologi yang pertama kali diterapkan Sony pada Bravia 9 II dan Bravia 7 II. Teknologi ini memanfaatkan RGB Backlight Master Drive Pro, yaitu sistem yang mengontrol LED merah (Red), hijau (Green), dan biru (Blue) secara independen.

    Berbeda dengan Mini LED konvensional yang menggunakan lampu latar putih, True RGB mampu menghasilkan warna yang lebih murni dan presisi. Menurut President Director PT Sony Indonesia, Motoya Itako, teknologi tersebut menggabungkan keunggulan RGB LED dengan Mini LED dan OLED.

    “True RGB terbaru kami merupakan sebuah terobosan yang menggabungkan presisi RGB LED yang dikendalikan secara independen dengan keunggulan Mini LED dan OLED,” ujarnya.

    Sony RGB

    Hasilnya, TV mampu menampilkan gradasi warna yang lebih kaya, kecerahan tinggi, sekaligus mengurangi efek blooming, yaitu cahaya yang menyebar di sekitar objek terang pada layar. Ini menjadi lompatan signifikan dalam teknologi layar konsumen.

    Keunggulan Sony Bravia 9 II

    Sebagai model flagship, Sony Bravia 9 II menawarkan kualitas gambar terbaik di lini Bravia terbaru. TV ini dibekali RGB Triluminos Max dan Luminance Booster Pro yang memperluas volume warna sekaligus meningkatkan tingkat kecerahan tanpa mengorbankan akurasi warna.

    Sony juga menyematkan Immersive Black Screen Pro, lapisan layar anti-silau dan anti-pantulan yang menjaga warna hitam tetap pekat meski digunakan di ruangan terang. Di sektor audio tersedia Acoustic Multi-Audio+ dengan up-firing beam tweeters yang menciptakan efek suara surround lebih realistis sehingga dialog dan efek suara terasa berasal langsung dari layar. Bravia 9 II tersedia dalam ukuran 85 inch.

    Keunggulan Sony Bravia 7 II

    Sony Bravia 7 II juga mengusung teknologi True RGB dengan RGB Backlight Master Drive Pro, sehingga mampu menghasilkan reproduksi warna yang akurat. TV ini dilengkapi X-Wide Angle Pro, yang menjaga kualitas gambar tetap konsisten meski ditonton dari berbagai sudut.

    Untuk pengalaman audio, Sony menghadirkan speaker full-range, Voice Zoom 3 berbasis AI agar dialog terdengar lebih jelas, serta 3D Surround Upscaling untuk menciptakan efek suara tiga dimensi. Bravia 7 II juga mendukung berbagai fitur premium seperti My Cinema Ambient Optimization, Studio Calibrated Mode, Dolby Vision, Dolby Atmos, DTS, dan IMAX Enhanced. Model ini tersedia dalam ukuran layar 50 hingga 98 inch.

    Keunggulan Sony Bravia 3 II

    Bagi pengguna yang menginginkan TV layar besar dengan harga lebih terjangkau, Sony menghadirkan Bravia 3 II. TV ini kini hadir hingga ukuran 100 inci, menjadikannya salah satu TV terbesar di lini Bravia Indonesia.

    Berbeda dari generasi sebelumnya yang masih menggunakan X1 Processor, Bravia 3 II kini memakai XR Processor yang mampu mengoptimalkan warna, kontras, dan detail gambar secara real time. Sony juga menyematkan refresh rate hingga 120Hz, sehingga cocok digunakan untuk bermain game maupun menikmati tayangan olahraga dan film aksi. Pengguna PlayStation 5 juga dapat memanfaatkan berbagai fitur gaming yang didukung TV ini.

    Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, Sony menggunakan material daur ulang pada bodi TV, komponen internal, hingga remote control.

    Sony Bravia TV

    Harga Sony Bravia Terbaru di Indonesia

    Sony telah membuka penjualan seluruh lini Bravia terbaru di Indonesia dengan harga sebagai berikut:

    • Sony Bravia 9 II (85 inci): Rp 82.999.000
    • Sony Bravia 7 II (65, 75, 85 inci): Mulai Rp 37.999.000
    • Sony Bravia 3 II (65, 75, 85, 100 inci): Mulai Rp 16.499.000

    Dengan rentang harga yang luas, Sony menyasar berbagai segmen konsumen, dari pengguna rumahan hingga penggemar home theater. Teknologi True RGB menjadi pembeda utama di kelasnya, menawarkan kualitas gambar yang mendekati standar profesional.

    Bagi pengguna yang ingin merasakan inovasi audio Sony, Sensor Headphone terbaru juga menawarkan pengalaman bermain game yang imersif. Sementara itu, di sisi lain, Sony juga tengah melakukan transformasi bisnis dengan Alih Fungsi Pabrik cakram PlayStation.

    Implikasi dari peluncuran ini cukup jelas: Sony memperkuat posisinya di segmen TV premium dengan teknologi display yang benar-benar baru. Bagi konsumen yang menginginkan kualitas gambar terbaik dengan akurasi warna tinggi, lini Bravia 9 II dan 7 II menjadi pilihan utama. Sementara itu, Bravia 3 II menawarkan pintu masuk yang lebih terjangkau ke ekosistem Sony dengan prosesor XR dan layar hingga 100 inci.

    Dengan Akhir Era Game fisik yang semakin dekat, TV ini juga menjadi pilihan tepat untuk menikmati konten digital berkualitas tinggi.

  • NASA Mulai Bangun Misi Helikopter Skyfall ke Mars

    NASA Mulai Bangun Misi Helikopter Skyfall ke Mars

    JBNews.id — Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi memulai tahap pembangunan perangkat keras untuk misi Skyfall, sebuah misi eksplorasi Mars yang akan mengirim tiga helikopter generasi baru ke Planet Merah. Misi yang ditargetkan meluncur pada 2028 ini menjadi kelanjutan dari keberhasilan helikopter Ingenuity, wahana pertama yang berhasil melakukan penerbangan bertenaga di planet lain.

    Sebagai langkah awal, NASA menunjuk perusahaan antariksa Firefly Aerospace untuk merancang dan membangun aeroshell, yaitu pelindung yang akan melindungi wahana saat memasuki atmosfer Mars. Kontrak tersebut bernilai sekitar USD 13 juta dan dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL).

    Aeroshell terdiri atas heat shield (pelindung panas) dan backshell yang berfungsi menjaga wahana dari suhu ekstrem serta mengarahkan lintasan saat memasuki atmosfer Mars sebelum helikopter dilepaskan. Berbeda dengan misi sebelumnya yang membawa helikopter Ingenuity bersama rover Perseverance, Skyfall akan menggunakan metode baru.

    Alih-alih mendarat lebih dulu, kapsul pembawa akan melepaskan tiga helikopter ketika masih berada dalam proses turun menuju permukaan Mars. NASA menyebut teknik tersebut sebagai ‘SkyFall Maneuver’. Setelah dilepaskan, ketiga helikopter akan langsung terbang menjalankan misinya.

    Helikopter-helikopter tersebut akan membawa instrumen ilmiah untuk memetakan sumber daya di Mars, terutama mencari keberadaan es air di bawah permukaan. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memilih lokasi pendaratan yang aman bagi misi berawak di masa depan.

    Skyfall merupakan penerus dari Ingenuity yang mencetak sejarah sebagai wahana pertama yang berhasil melakukan penerbangan bertenaga di planet lain. Keberhasilan Ingenuity membuktikan bahwa helikopter dapat digunakan sebagai pelengkap rover untuk menjelajahi wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat. Skyfall akan membawa konsep tersebut ke level berikutnya dengan mengoperasikan tiga helikopter sekaligus.

    Firefly Aerospace akan mengembangkan aeroshell di fasilitas Gloworks di Texas. Perusahaan tersebut memanfaatkan pengalaman dari misi pendarat Bulan Blue Ghost, yang berhasil melakukan pendaratan lunak di permukaan Bulan awal tahun lalu.

    Ray Allensworth, Vice President of Spacecraft Firefly Aerospace, mengatakan pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk mendukung misi Mars. “Kami telah membuktikan kemampuan menjalankan misi di luar Bumi dengan biaya dan waktu yang lebih efisien melalui keberhasilan misi Blue Ghost ke Bulan. Kini kami menerapkan pelajaran tersebut dan memanfaatkan teknologi yang telah terbukti untuk mempercepat sekaligus menekan biaya misi-misi masa depan ke Bulan, Mars, dan seterusnya,” ujar Allensworth seperti dikutip dari Space.com, Jumat (10/7/2026).

    Setelah pengembangan aeroshell selesai, perangkat tersebut akan diproduksi dan diuji di fasilitas Rocket Ranch milik Firefly sebelum dikirim ke JPL untuk diintegrasikan dengan wahana Skyfall. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, misi ini akan diluncurkan pada 2028 sebagai salah satu langkah penting NASA dalam mempersiapkan eksplorasi manusia ke Mars.

    Keberhasilan misi Skyfall diharapkan mampu mempercepat pemetaan sumber daya di Mars secara lebih komprehensif. Dengan tiga helikopter yang beroperasi secara simultan, cakupan area eksplorasi akan jauh lebih luas dibandingkan misi tunggal seperti Ingenuity. Hal ini menjadi krusial mengingat data tentang keberadaan es air sangat penting untuk mendukung kehidupan dan produksi bahan bakar bagi astronot di masa depan.

    Teknik pendaratan baru yang diperkenalkan NASA melalui ‘SkyFall Maneuver’ juga menjadi inovasi signifikan. Metode ini memungkinkan helikopter langsung beroperasi tanpa perlu menunggu proses pendaratan kapsul induk. Efisiensi waktu dan sumber daya menjadi keunggulan utama dari pendekatan ini.

    Bagi para pengamat antariksa, langkah NASA kali ini menegaskan komitmen badan antariksa tersebut untuk terus mengembangkan teknologi eksplorasi Mars. Setelah Ingenuity membuktikan konsep penerbangan di planet lain, Skyfall akan membawa teknologi tersebut ke tahap operasional yang lebih matang.

    Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan misi Skyfall dan program eksplorasi Mars lainnya dapat disimak melalui Panduan Akses Foto NASA yang menyediakan koleksi gambar gratis untuk publik. Sementara itu, kekhawatiran terhadap misi Artemis juga menjadi perhatian terkait Infrastruktur NASA yang memicu diskusi di kalangan ilmuwan.

    Dengan peluncuran yang dijadwalkan pada 2028, publik dapat menantikan babak baru dalam eksplorasi Mars yang tidak hanya melibatkan satu wahana, tetapi tiga helikopter sekaligus. Ini menjadi langkah strategis menuju misi berawak ke Planet Merah yang telah lama menjadi impian umat manusia.

  • Sunrun Uji Coba Komputer AI di Rumah Pelanggan Tenaga Surya

    Sunrun Uji Coba Komputer AI di Rumah Pelanggan Tenaga Surya

    JBNews.id — Perusahaan penyimpanan energi surya rumah tangga, Sunrun, meluncurkan program percontohan (pilot) untuk menempatkan unit komputasi kecerdasan buatan (AI) di rumah-rumah pelanggannya. Alih-alih membangun pusat data besar, Sunrun memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada: panel surya dan baterai di rumah pelanggan.

    Program bertajuk “distributed AI compute” ini akan menempatkan sejumlah node komputasi di rumah yang sudah dilengkapi sistem tenaga surya dan baterai milik Sunrun. Pelanggan yang berpartisipasi dalam program percontohan ini akan mendapatkan kompensasi. Langkah ini merupakan pendekatan baru untuk mencari sumber daya dan ruang bagi infrastruktur komputasi AI.

    Sunrun berencana menjual daya komputasi terdistribusi dari node-node tersebut kepada “pembeli komputasi perusahaan,” seperti perusahaan AI. Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya penolakan terhadap pembangunan pusat data baru di berbagai wilayah di Amerika Serikat.

    Sebuah survei yang dirilis pada bulan Mei menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen warga Amerika menentang pembangunan pusat data baru di daerah mereka. Kekhawatiran utama meliputi polusi, kebisingan, serta penggunaan air dan listrik yang besar. Daripada memusatkan daya komputasi di satu pusat data besar, program Sunrun akan menyebarkannya dalam unit-unit komputasi yang lebih kecil di seluruh penjuru negeri.

    Sunrun menyatakan sebelumnya telah menjalankan “proof of concept” yang sukses untuk program ini. Namun, belum jelas seberapa baik program ini akan berjalan dalam skala yang lebih luas. Ini adalah area yang benar-benar baru bagi Sunrun, yang selama ini fokus pada penyimpanan energi rumah tangga.

    Sunrun memiliki 1,1 juta pelanggan yang dapat mendaftar ke daftar tunggu program percontohan jika mereka bersedia menjadi tuan rumah node komputasi. Perusahaan mengatakan pihaknya “berharap dapat menyelesaikan program percontohan dalam beberapa bulan ke depan dan akan menilai hasilnya” sebelum meluncurkan program ini secara lebih luas.

    Langkah ini menjadi alternatif menarik di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri pusat data. Ke depan, model komputasi terdistribusi seperti ini bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat tanpa harus membangun infrastruktur besar yang kontroversial.

    Pendekatan Sunrun ini juga menyoroti bagaimana perusahaan energi dapat beradaptasi dengan era AI. Dengan memanfaatkan jaringan pelanggan yang sudah ada, Sunrun menawarkan solusi yang lebih terdistribusi dan berpotensi lebih efisien.

    Model bisnis ini mirip dengan bagaimana perusahaan ride-hailing memanfaatkan aset pribadi (mobil) untuk layanan transportasi. Dalam kasus Sunrun, aset yang digunakan adalah ruang dan daya listrik di rumah pelanggan. Hal ini membuka peluang baru dalam ekosistem komputasi AI.

    Ke depannya, jika program ini berhasil, Sunrun bisa menjadi pemain kunci dalam infrastruktur AI. Mereka tidak hanya menyediakan energi bersih, tetapi juga menjadi tuan rumah bagi komputasi AI yang sangat dibutuhkan. Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi dan energi dapat bersinergi dengan cara yang inovatif.

    Bagi pelanggan, program ini menawarkan insentif finansial langsung. Mereka mendapat kompensasi hanya dengan mengizinkan node komputasi dipasang di rumah mereka. Ini menjadi nilai tambah dari sistem tenaga surya yang sudah mereka miliki.

    Namun, masih ada pertanyaan tentang keamanan dan privasi data. Node komputasi yang ditempatkan di rumah pribadi harus dijamin tidak akan mengganggu atau menimbulkan risiko bagi penghuninya. Sunrun perlu memberikan jaminan yang jelas tentang aspek ini.

    Program percontohan ini akan menjadi ujian penting bagi model bisnis komputasi AI terdistribusi. Jika berhasil, bisa menjadi tren baru di industri teknologi. Jika gagal, setidaknya memberikan pelajaran berharga tentang keterbatasan pendekatan ini.

    Secara keseluruhan, inisiatif Sunrun menunjukkan bahwa solusi untuk masalah infrastruktur AI bisa datang dari tempat yang tidak terduga. Dengan kreativitas dan inovasi, perusahaan energi pun bisa menjadi bagian penting dari revolusi AI.

  • Komdigi Dilema Pilih Frekuensi 6G: 7 GHz Jadi Primadona

    Komdigi Dilema Pilih Frekuensi 6G: 7 GHz Jadi Primadona

    JBNews.id, Jakarta — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap dilema dalam menentukan spektrum frekuensi untuk teknologi 6G di Indonesia. Salah satu kandidat utama, pita frekuensi 7 GHz yang dijuluki ‘si kembang desa’, justru menjadi favorit pelaku industri sehingga mempersulit pengalokasian untuk jaringan generasi berikutnya.

    Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menyatakan pita 7 GHz merupakan yang paling banyak digunakan untuk jaringan microwave link atau backhaul yang menghubungkan menara telekomunikasi. Julukan ‘si kembang desa’ melekat karena popularitasnya di kalangan operator.

    “Di database kami, pita 7 GHz itu adalah si kembang desa. Yang paling disukai oleh para pengguna microwave link itu adalah 7 GHz. Penggunaannya lima kali lipat lebih banyak dibandingkan 6 GHz,” kata Adis di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

    Jaringan seluler 6G

    Popularitas tersebut justru menimbulkan dilema kebijakan. Jika 7 GHz ditetapkan sebagai spektrum 6G, Komdigi harus memilih antara mempertahankannya untuk kebutuhan backhaul atau mengalihkannya menjadi jaringan akses seluler generasi berikutnya.

    “Kalau suatu hari kita memutuskan 6G ada di 7 GHz, berarti kita harus memilih, mau dipakai untuk backhaul sebagai microwave link atau dipakai untuk akses 6G. Kita tidak bisa mengambil dua-duanya,” ucap Adis.

    Empat Kandidat Spektrum 6G

    Seluruh kandidat spektrum yang dibahas dalam agenda World Radiocommunication Conference (WRC) 2027 sudah memiliki pengguna. Empat pita frekuensi yang masuk dalam pembahasan internasional meliputi 4 GHz, upper 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Tidak ada satu pun yang benar-benar kosong sehingga setiap opsi memiliki konsekuensi.

    “Empat frekuensi ini semuanya sudah ada yang memakai. Ada yang dipakai microwave link, ada yang dipakai satelit, ada yang bertetangga dengan penerbangan. Jadi situasinya memang tidak mudah,” ucapnya.

    Selain 7 GHz, pita 4 GHz dan 15 GHz menghadapi tantangan berbeda karena berdekatan dengan layanan penerbangan. Pengaturan harus dilakukan hati-hati untuk menghindari potensi interferensi.

    Khusus pita 15 GHz, implementasi 6G berpotensi membutuhkan jaringan small cell dalam jumlah besar. Konsekuensinya, operator harus membangun lebih banyak base transceiver station (BTS) yang berarti investasi jauh lebih tinggi.

    “Kalau bicara 15 GHz, pasti kita bicara small cell. Artinya investasinya harus lebih besar karena BTS akan lebih banyak. Saya yakin ini juga menjadi pertimbangan dari sisi industri,” kata Adis.

    Nasib Pita Upper 6 GHz

    Untuk pita upper 6 GHz, Komdigi belum menentukan arah kebijakan. Berdasarkan data dari Policy Tracker 2026 dan GSMA, sekitar 12 negara telah menetapkan spektrum tersebut untuk Wi-Fi. Sementara itu, beberapa negara memilih mengalokasikannya untuk layanan seluler atau International Mobile Telecommunications (IMT) yang menjadi fondasi 5G dan 6G.

    “Kami dari Komdigi belum memutuskan upper 6 GHz ini akan digunakan untuk apa. Justru kami berharap ada masukan dan pertimbangan, terutama dari sisi public value dan timing,” pungkas Adis.

    Komdigi berharap masukan dari berbagai pihak, terutama dari sisi nilai publik dan waktu yang tepat, sebelum menentukan kebijakan spektrum untuk teknologi masa depan. Keputusan ini akan berdampak langsung pada peta penguasaan frekuensi operator dan investasi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

    Implikasinya bagi industri telekomunikasi cukup signifikan. Operator yang saat ini mengandalkan pita 7 GHz untuk backhaul harus menyiapkan skenario jika frekuensi tersebut beralih fungsi. Sementara itu, pembangunan small cell untuk pita 15 GHz membutuhkan investasi besar yang bisa mempengaruhi struktur biaya layanan 6G di masa depan.

    Bagi pengguna, keputusan ini akan menentukan kecepatan dan kualitas jaringan 6G yang akan dinikmati dalam beberapa tahun mendatang. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan, semakin besar potensi kecepatan data, namun dengan konsekuensi jangkauan yang lebih terbatas dan kebutuhan infrastruktur yang lebih padat.

    Komdigi sebelumnya juga telah menyiapkan frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk internet kencang, serta tiga operator yang lolos lelang frekuensi tersebut. Pengalaman dalam mengelola spektrum di masa lalu menjadi pelajaran berharga dalam menentukan kebijakan 6G ke depan.

  • Strava Rilis Fitur Baru, Cari Race dan Komunitas Lari Kini Lebih Mudah

    Strava Rilis Fitur Baru, Cari Race dan Komunitas Lari Kini Lebih Mudah

    JBNews.id — Strava resmi meluncurkan pembaruan fitur yang memudahkan pengguna menemukan race dan terhubung dengan komunitas lari lokal. Pembaruan ini menghadirkan integrasi data race dari Runna langsung ke dalam platform, sebuah langkah baru bagi perusahaan aplikasi olahraga tersebut.

    Peluncuran ini menjawab tantangan yang sering dihadapi para pelari: mencari informasi race yang valid dan komunitas yang sesuai. Dengan adanya fitur ini, pengguna tidak hanya dapat menemukan race berikutnya, tetapi juga memulai latihan dengan rencana khusus dari Runna yang diselaraskan dengan tanggal race.

    “Ini adalah kali pertama Strava menghadirkan data tersebut,” demikian pernyataan resmi perusahaan. Integrasi ini memungkinkan para pelari menyelaraskan target latihan mereka dengan jadwal race yang sebenarnya, membuat persiapan menjadi lebih terstruktur dan efektif.

    3 Fitur Utama yang Wajib Anda Coba

    Pembaruan kali ini berfokus pada kemudahan navigasi dan penguatan aspek komunitas. Berikut adalah tiga fitur utama yang dapat Anda nikmati:

    Tab “Acara” (Events) Baru
    Terletak di dalam fitur Grup, sub-tab ini menampilkan acara mendatang seperti lari bersama, bersepeda, dan race. Semua rekomendasi disesuaikan dengan lokasi dan aktivitas Anda, sehingga lebih relevan.

    Pusat Race Terintegrasi
    Strava kini mengintegrasikan ribuan race aktif dari seluruh dunia. Anda dapat menyaring pencarian berdasarkan jarak, tanggal, lokasi, cabang olahraga, hingga tingkat ketinggian dan suhu.

    Club Organizer Hub yang Diperbarui
    Bagi para pemimpin klub, Strava menyediakan ruang khusus di strava.com/club-organizers. Hub ini dilengkapi dengan berbagai alat untuk membantu penyelenggara, baik pemula maupun berpengalaman, dalam membangun dan mengembangkan komunitas mereka.

    Strava

    Tips Memaksimalkan Fitur Baru Strava

    Untuk mendapatkan pengalaman terbaik dari pembaruan ini, berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

    Gunakan Filter Secara Spesifik: Saat mencari race, manfaatkan filter lokasi dan jarak untuk menemukan acara yang sesuai dengan kemampuan dan jadwal Anda.

    Bergabung dengan Klub Lokal: Manfaatkan Tab Acara untuk menemukan klub lari di sekitar Anda. Berlari bersama komunitas dapat meningkatkan motivasi secara signifikan.

    Sinkronkan Latihan Anda: Jika Anda memiliki target race tertentu, gunakan integrasi Runna untuk membuat rencana latihan yang sesuai dengan target waktu Anda.

    Pembaruan ini hadir di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari. Dengan fitur baru ini, Strava berupaya menjadi platform yang lebih komprehensif bagi para pelari, dari tahap latihan hingga pelaksanaan race. Implikasinya bagi pengguna adalah kemudahan dalam merencanakan dan menjalani hobi lari secara lebih terstruktur dan terhubung dengan komunitas.

    Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan teknologi olahraga, informasi mengenai regulasi digital juga penting untuk diikuti.

  • Museum AI Dunia Pertama Dataland Dibuka di Los Angeles

    Museum AI Dunia Pertama Dataland Dibuka di Los Angeles

    JBNews.id — Dataland, museum seni kecerdasan buatan (AI) pertama di dunia, resmi dibuka di pusat kota Los Angeles pada 20 Juni 2026 dan menarik lebih dari 10.000 pengunjung dalam dua minggu pertama. Galeri mutakhir ini didirikan oleh seniman Refik Anadol dan mitra studionya, Efsun Erkılıç, sebagai ruang pameran yang mendefinisikan ulang batas-batas seni AI.

    Anadol, yang dikenal dengan instalasi teknologi yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan mesin, memiliki alasan untuk merasa gembira. “Untuk tiga tahun, kami memulai dari awal dan melatih model AI kami sendiri, dan kami bekerja dengan kumpulan data kami sendiri,” kata Anadol kepada WIRED. Ia dan timnya melakukan perjalanan ke Amazon dan hutan hujan lainnya untuk menangkap bahan mentah yang akan menjadi bahan bakar versi halusinasi model tersebut dari lingkungan tersebut.

    Karya utama pameran perdana bertajuk Machine Dreams: Rainforest merupakan visi arsitektural imersif yang paling ambisius. Layar digital interaktifnya merespons langsung gerakan dan data biometrik pengunjung yang dilacak oleh perangkat yang dapat dikenakan, menghasilkan gambar dan lanskap suara yang terus berubah dari Large Nature Model milik Anadol — sebuah sistem AI yang dibangun menggunakan arsip ilmu pengetahuan alam dari institusi riset bergengsi seperti Smithsonian.

    “Kami memiliki 5 petabyte data mentah yang kami kumpulkan sendiri,” kata Anadol. Ia bangga bahwa Datalad dengan sengaja memperoleh harta karun ini dengan persetujuan dan partisipasi para peneliti, berbeda dengan praktik perusahaan AI besar di Silicon Valley yang menghadapi reaksi keras dan tuntutan hukum atas penggunaan konten tanpa izin sebagai data pelatihan.

    Anadol menambahkan bahwa Google DeepMind memberi Dataland akses ke sumber daya “eksperimental berenergi rendah,” yang memungkinkan galeri beroperasi di Google Cloud dan mempertahankan “komputasi berkelanjutan.” Anadol telah berkolaborasi dengan raksasa teknologi itu sejak menjadi orang pertama yang dianugerahi Google Artists and Machine Intelligence Artist Residency pada 2016.

    Mendefinisikan Ulang Seni AI

    Etika, tanggung jawab lingkungan, dan upaya sepenuh hati untuk menghasilkan sesuatu yang terasa seperti ekosistem yang hidup dan bernapas dengan kecerdasan buatan: komitmen ini sangat penting jika Anadol dan Dataland ingin mendefinisikan ulang “seni AI.” Frasa itu sendiri menjadi perdebatan bagi banyak kreator dan kritikus yang menolak “slop” generatif yang telah membanjiri media visual di setiap level.

    Anadol sepenuhnya sadar bahwa banyak orang menolak hal itu, dan ia tidak menyalahkan mereka. “Maksud saya, 100 persen, mayoritas benar,” katanya, mencatat bahwa ketika seseorang mendengar tentang seni AI, “asumsi pertama mereka adalah seperti rekayasa prompt, atau sekumpulan klip delapan detik.” Galeri barunya bertujuan untuk membuktikan bahwa ada kemungkinan besar di luar semua itu.

    “Alasan Dataland adalah untuk memahami dan menjelaskan serta mengeksplorasi — dan memberi tahu dunia bahwa tidak hanya ada satu opsi,” kata Anadol. Machine Dreams: Rainforest membuat argumen yang mengesankan untuk AI sebagai alat untuk membuka mode keterlibatan artistik yang mengejutkan. Anadol mengklaim bahwa ini adalah proyek pertamanya di mana “mustahil untuk merekam bagaimana rasanya,” dan itu bukanlah pernyataan berlebihan.

    Pengalaman Imersif yang Belum Pernah Ada

    Setelah melalui prosedur masuk yang agak rumit yang melibatkan surat pernyataan dan aplikasi khusus, pengunjung menerima jam tangan pintar dan kerah plastik berbentuk U yang dikenakan di bahu. Saat perangkat dikalibrasi, sabuk bahu mengeluarkan aroma mencolok pertama dari pameran: di jantung bangunan hipermodern ini, tiba-tiba tercium bau pepohonan.

    Ruang galeri terbesar kosong kecuali beberapa pilar, dengan perpaduan sangat hidup dari pemandangan alam dan tekstur chip komputer yang berenang di dinding dan lantai. Ada siklus efek bervariasi selama 40 menit yang sebagian bergantung pada gerakan semua orang di ruangan itu. Saat memasuki urutan simulasi hujan deras dan guntur, setiap pengunjung memiliki lingkaran air di kaki mereka yang bergerak bersama mereka, berubah menjadi goresan air saat mereka berjalan lebih cepat. Jalur tetesan hujan berubah jika melambaikan tangan di depannya. Bahkan ada aroma bersih dari badai musim panas yang berasal dari biosensor.

    Anadol mengatakan bahwa meskipun Anda memiliki opsi untuk bergerak melalui karya seninya sebagai “hantu” — yaitu, tanpa biosensor — perangkat yang dapat dikenakan, yang merupakan perangkat medis yang dimodifikasi, menawarkan cara untuk meninggalkan jejak, setidaknya untuk sementara. “Selama hampir 5.000 tahun, kami sebagai umat manusia, kami melihat karya seni dan kami merasakan sesuatu,” katanya. “Di Dataland, sebagai laboratorium imajinasi, pertanyaan pertama kami adalah: Bisakah karya seni merasakan kita kembali?”

    Anadol tertawa ketika ditanya apakah gadget itu melacak perjalanan ke kamar mandi. “Tidak, tidak, tidak, tidak, kamar mandi tidak memiliki koneksi sama sekali,” katanya. Selain itu, museum “melupakan” data pengunjung saat mereka pergi, meskipun data tersebut tetap tersedia bagi pengunjung melalui token pribadi yang diterima di pintu keluar. “Data adalah bentuk memori,” kata Anadol, dan galeri berusaha memperlakukannya dengan hormat. “Jadi ini kebalikannya,” catatnya, “dari apa yang kita miliki di seluruh dunia,” di mana pengawasan invasif telah menjadi norma.

    Ruang Tanpa Batas dan Transparansi Data

    Lebih jauh, terdapat Infinity Room, yang mengundang pengunjung untuk mengikuti burung kolibri berkilauan saat terbang di atas hutan neon fantastis. Penerbangan itu mengingatkan pada akrobat udara dalam film Avatar, dan terkadang pengunjung merasa sedikit kehilangan keseimbangan saat sudut pandang berbelok ke satu arah atau lainnya.

    Yang lebih menarik adalah sayap di sebelahnya, Latent Gallery, di mana pengunjung dapat mengintip di balik tirai Large Nature Model. Di satu konsol, misalnya, pengunjung dapat menelusuri data pelatihan berdasarkan kategori. Saat mengklik “Katak,” dinding di depan berubah menjadi kisi-kisi besar foto katak yang disertakan dalam model. Anadol mengatakan ia ingin orang-orang memiliki gambaran tentang kekayaan informasi yang mendasari permutasi alam yang sering surealis dan mustahil yang dihasilkan oleh instalasi. (Encyclopedia of Life milik Smithsonian saja menyediakan data tentang lebih dari 2 juta spesies.)

    “Ini adalah tempat-tempat di mana kami mendemistifikasi algoritma kami, mendemistifikasi kumpulan data kami, mendemistifikasi eksperimen pelatihan kami,” kata Anadol. Ia ingin melihat “apa yang terjadi jika kami naik level dan memberi tahu audiens dan pengunjung dengan tepat alasan mimpi mesin atau halusinasi itu.”

    Halusinasi dan Emosi sebagai Input

    Halusinasi tentu menjadi inti, yang juga berfungsi untuk membedakan pameran perdana Dataland dari gambar yang dihasilkan AI ultra-realistis dan deepfake yang berkontribusi pada budaya misinformasi. “Ini tentang gagasan tentang mesin yang jatuh cinta dengan alam — itulah hutan hujan — dan kita memasuki mimpi mesin sebagai konsep di mana kita mencium halusinasi mesin, kita merasakan mimpi mesin, kita mendengar jutaan kicauan burung yang mustahil didengar di dunia manusia,” kata Anadol.

    Model ini mungkin menggabungkan perpustakaan ilmiah dan data cuaca real-time, tetapi tempat yang dibangunnya dengan blok bangunan ini, dalam banyak hal, benar-benar asing. Terakhir, ada Sanctuary, berdasarkan konsep yang telah dikerjakan Anadol selama beberapa tahun. Saat sekelompok orang memasuki ruangan, informasi biometrik dari setiap individu — mulai dari detak jantung dan suhu kulit hingga jalur yang mereka ambil melalui Dataland dan kecepatan tur mereka — dikompilasi untuk menghasilkan representasi 3D berputar abstrak dari energi kolektif ruangan, yang tidak akan pernah terlihat lagi.

    Anadol mengatakan bahwa di sini dan di tempat lain, galeri mengambil “emosi sebagai input.” Ia sangat senang mengamati seberapa sering biosensor menangkap merinding pengunjung, yang ia sebut sebagai tanda yang “sangat relevan” bahwa biome sensorik pameran memiliki efek yang nyata pada mereka yang melewatinya. “Karya seni dapat merasakan informasi ini,” katanya.

    “Saya melihat orang dengan air mata, saya melihat orang dengan kegembiraan, saya melihat orang dengan kegembiraan,” tambah Anadol. “Dan saya pikir, jika itu bukan seni, apa itu seni?” Respons semacam itulah yang diperlukan untuk meyakinkan para skeptis yang tidak yakin bahwa seni kreatif memiliki sesuatu untuk diperoleh dari kecerdasan buatan.

    Yang perlu dicatat, Anadol memandang AI bukan sebagai jalan pintas produksi tetapi sebagai cara yang kuat untuk menemukan kembali diri kita sendiri. “Ini semua tentang menjadi manusia pada akhirnya, bukan tentang AI,” katanya tentang Dataland dan karya terbarunya. “Itu hanya alat yang luar biasa, tetapi pesan dan konteks serta maknanya masih tentang menjadi manusia.”

    Dengan pendekatan yang menekankan etika, transparansi data, dan pengalaman manusia, Dataland menawarkan alternatif bagi mereka yang skeptis terhadap seni AI. Museum ini menjadi bukti bahwa AI dapat digunakan untuk menciptakan koneksi emosional yang mendalam, bukan sekadar menghasilkan konten generatif tanpa jiwa. Bagi para penggemar teknologi dan seni, Dataland adalah destinasi yang mendefinisikan ulang apa yang mungkin dilakukan dengan kecerdasan buatan.

  • Panduan Lengkap Berbagi Lokasi di Google Maps dan Aplikasi Lain

    Panduan Lengkap Berbagi Lokasi di Google Maps dan Aplikasi Lain

    JBNews.id — Berbagi lokasi secara real-time kini menjadi fitur esensial bagi pengguna ponsel pintar, baik untuk koordinasi pertemuan maupun alasan keamanan. Google Maps, sebagai aplikasi peta paling populer di dunia, menyediakan metode sederhana untuk membagikan posisi Anda kepada teman dan keluarga, dan fitur ini berfungsi di perangkat Android maupun iOS.

    Keuntungan dari pelacakan lokasi oleh Google adalah kemudahan berbagi posisi tanpa perlu aplikasi tambahan. Prosesnya dimulai dengan membuka aplikasi Google Maps di perangkat Anda. Setelah itu, ketuk foto profil atau inisial Anda di pojok kanan atas, lalu pastikan Anda sudah masuk ke akun Google. Pilih opsi “Location sharing” dan kemudian “Share location” atau “New share”. Anda dapat menentukan durasi berbagi lokasi, mulai dari beberapa menit hingga waktu yang tidak ditentukan.

    Pengguna dapat memilih kontak dari daftar telepon untuk berbagi lokasi, asalkan kontak tersebut memiliki alamat Gmail yang terdaftar. Jika ingin berbagi dengan seseorang yang tidak memiliki akun Google, gulir ke kanan pada baris aplikasi di bagian bawah dan pilih “Copy to” lalu “Share to” untuk mendapatkan tautan yang bisa ditempelkan ke email atau pesan teks. Di iPhone, opsi “More options” tersedia untuk mengirim tautan melalui iMessage atau aplikasi lain.

    Anda dapat meninjau daftar orang yang membagikan lokasi mereka dengan Anda di tab “Location sharing” yang sama. Foto profil mereka akan muncul di peta jika mereka juga membagikan lokasinya. Untuk berhenti berbagi atau mendapatkan petunjuk arah ke lokasi mereka, cukup ketuk foto profil atau nama orang tersebut di bagian bawah daftar.

    Berbagi Lokasi Lewat Aplikasi Pesan

    Selain Google Maps, beberapa aplikasi pesan instan juga menawarkan fitur berbagi lokasi yang terintegrasi. Jika Anda dan penerima menggunakan iPhone, iPad, atau iPod Touch, aplikasi Find My adalah cara termudah. Buka aplikasi Find My, pilih tab “People”, lalu ketuk nama seseorang dan gulir ke bawah untuk memilih “Share My Location”. Untuk menambahkan orang baru, ketuk ikon plus, masukkan nama atau nomor telepon, lalu tentukan durasi berbagi: “For One Hour”, “Until End of Day”, atau “Indefinitely”. Anda dapat menghentikan berbagi lokasi kapan saja dari tab “People” yang sama.

    Bagi pengguna Facebook Messenger, berbagi lokasi bisa dilakukan langsung dari dalam percakapan tanpa harus keluar aplikasi. Buka percakapan yang diinginkan, ketuk ikon “Options” (plus) di kiri bawah, lalu pilih ikon “Location” (panah). Anda mungkin perlu memberikan izin lokasi kepada aplikasi Messenger. Pilih “Start sharing live location” untuk berbagi posisi real-time selama satu jam, atau cari lokasi statis di bilah pencarian dan kirimkan sebagai titik tetap.

    Pengguna WhatsApp juga memiliki opsi serupa. Buka tab “Chats”, pilih kontak atau grup, lalu ketuk ikon plus (iPhone) atau ikon klip kertas (Android). Pilih “Location”, berikan izin akses lokasi, lalu klik “Send Your Current Location” untuk snapshot posisi saat ini atau “Share Live Location” untuk berbagi posisi secara real-time selama 15 menit hingga 8 jam.

    Fitur Darurat untuk Berbagi Lokasi

    Apple menyediakan fitur Emergency SOS di iPhone yang secara otomatis mengirim pesan teks dan membagikan lokasi Anda ke kontak darurat saat diaktifkan. Untuk mengaturnya, buka aplikasi Health, ketuk foto profil, lalu “Medical ID”. Gulir ke “Emergency Contacts” dan tambahkan kontak darurat. Untuk mengaktifkan Emergency SOS, tahan tombol power dan salah satu tombol volume secara bersamaan, atau pada iPhone 7 dan versi lebih lama, tekan tombol power lima kali berturut-turut. Geser slider Emergency SOS untuk menghubungi layanan darurat, yang juga akan memicu pengiriman lokasi ke kontak darurat Anda.

    Di perangkat Android, opsi darurat untuk berbagi lokasi bervariasi tergantung pabrikannya. Sebagian besar perangkat, termasuk Google Pixel, memungkinkan Anda mengakses informasi darurat dengan menahan tombol power. Untuk mengaktifkan Emergency Location Service, buka “Settings”, lalu “Location”, “Location Services”, dan pastikan fitur tersebut aktif. Fitur ini akan membagikan lokasi Anda ke layanan darurat saat Anda menelepon atau mengirim SMS ke nomor darurat. Anda juga dapat menambahkan kontak darurat dan mengonfigurasi Emergency SOS di menu “Settings”, “Safety and Emergency”.

    Penting untuk secara berkala memeriksa daftar orang yang Anda bagikan lokasi. Jika Anda rutin berbagi lokasi untuk alasan keamanan, pertimbangkan untuk membaca panduan tentang alarm keamanan pribadi terbaik untuk perlindungan tambahan.

    Dengan berbagai metode yang tersedia, berbagi lokasi kini menjadi lebih mudah dan aman. Baik melalui Google Maps, aplikasi pesan, atau fitur darurat bawaan ponsel, pengguna memiliki kendali penuh atas privasi dan keamanan data lokasi mereka.

  • Perusahaan Antariksa Bersaing Jadi Pemulung Orbit Bumi

    Perusahaan Antariksa Bersaing Jadi Pemulung Orbit Bumi

    JBNews.id — Perlombaan antariksa telah memasuki babak baru: perusahaan-perusahaan swasta kini berlomba menjadi ‘pemulung’ pertama di orbit Bumi dengan mengembangkan teknologi pembersihan ribuan ton sampah antariksa. Perubahan drastis ini dipicu oleh semakin padatnya orbit Bumi akibat ledakan jumlah satelit yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir, mengubah fokus dari eksplorasi semata menjadi bisnis pembersihan bernilai miliaran dolar.

    Menurut data NASA, terdapat lebih dari 100 juta serpihan sampah antariksa berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi, dengan total berat sekitar 6.000 ton. Bahkan serpihan sekecil serpihan cat sekalipun dapat merusak satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 km/jam. Angka ini menjadi alarm bagi industri antariksa global yang semakin bergantung pada satelit untuk komunikasi, navigasi, dan observasi Bumi.

    Dr. Chiranjeevi Phanindra, pendiri dan CEO Cosmoserve Space, mengungkapkan bahwa jumlah objek yang diluncurkan ke luar angkasa terus meningkat drastis. “Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan,” ujar Phanindra seperti dikutip dari New York Post, Jumat (10/7/2026). Lonjakan ini menciptakan kebutuhan mendesak akan solusi pembersihan orbit yang efektif.

    Aturan Baru Membuka Peluang Bisnis

    Selama ini, upaya membersihkan sampah antariksa lebih banyak dilakukan oleh pemerintah. Namun, mulai 2027, aturan baru dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat mewajibkan operator satelit mengeluarkan satelit yang sudah tidak berfungsi dari orbit rendah Bumi maksimal lima tahun setelah masa operasinya berakhir. Sebelumnya, pedoman yang berlaku memberi waktu hingga 25 tahun.

    Aturan tersebut membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan swasta yang mengembangkan teknologi pembersihan sampah antariksa. Phanindra memperkirakan nilai industri ini dapat mencapai sekitar USD 8 miliar atau sekitar Rp 144 triliun. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar dari bisnis yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh banyak pihak.

    Pendekatan Teknologi yang Beragam

    Setiap perusahaan menawarkan pendekatan berbeda untuk membersihkan orbit Bumi. Cosmoserve Space, misalnya, mengembangkan lengan robot lunak yang bekerja layaknya tanaman Venus flytrap, yakni menjepit sampah antariksa sebelum membawanya keluar dari orbit. Sementara perusahaan KMI mengembangkan teknologi yang mampu menangkap objek di luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus. Teknologi tersebut bahkan telah didemonstrasikan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

    Robot pembersih sampah luar angkasa

    Selain menggunakan lengan robot, sejumlah perusahaan lain mengembangkan jaring raksasa untuk menangkap sampah antariksa atau menyemprotkan gas ke objek agar kecepatannya berkurang sehingga jatuh kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar. Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa industri pembersihan orbit sedang memasuki fase eksperimentasi yang intensif, mirip dengan awal mula industri pendorong satelit tanpa bahan bakar.

    Dari Pemulung Menjadi Logistik Luar Angkasa

    Menurut Adam Kall, pendiri KMI, teknologi yang dikembangkan untuk membersihkan sampah antariksa sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih luas. Kemampuan menangkap dan memindahkan satelit dapat dimanfaatkan untuk membangun berbagai infrastruktur di luar angkasa.

    “Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa,” kata Kall. Ia menjelaskan teknologi tersebut nantinya bisa digunakan untuk memindahkan satelit yang masih berfungsi ke orbit baru, mengirim material ke pabrik di luar angkasa, hingga membantu pembangunan struktur besar di orbit.

    “Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” ujarnya. Visi ini mengubah persepsi tentang pembersihan sampah dari sekadar tugas pemeliharaan menjadi fondasi bagi ekonomi antariksa masa depan.

    Implikasi untuk Masa Depan

    Dengan semakin padatnya orbit Bumi dan meningkatnya jumlah satelit, teknologi pembersihan sampah antariksa diperkirakan akan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi antariksa di masa depan. Perusahaan yang lebih dulu menguasai teknologi ini berpeluang menjadi pemain utama dalam industri luar angkasa yang terus berkembang.

    Perlombaan menjadi ‘pemulung’ pertama di orbit Bumi ini juga menyoroti bagaimana regulasi dapat mendorong inovasi dan menciptakan pasar baru. Aturan FCC yang lebih ketat telah mengubah sampah antariksa dari masalah lingkungan menjadi peluang bisnis yang konkret. Selain itu, perkembangan ini juga mengingatkan pada pentingnya keamanan siber dalam infrastruktur digital yang bergantung pada satelit.

    Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa antariksa bukan lagi domain eksklusif negara-negara adidaya. Dengan nilai pasar yang mencapai Rp 144 triliun, peluang untuk berpartisipasi dalam ekonomi antariksa global semakin terbuka, baik melalui pengembangan teknologi, penyediaan layanan, maupun investasi di sektor ini.

  • Penjelasan Battery Health iPhone Turun, Pahami Ini

    Penjelasan Battery Health iPhone Turun, Pahami Ini

    JBNews.id — Banyak pengguna iPhone, khususnya pemakai baru, yang khawatir ketika melihat battery health iPhone mereka turun. Daripada panik, lebih baik pahami dulu soal battery health (BH) iPhone, sebuah indikator yang secara alami akan menurun seiring waktu pemakaian.

    Battery health adalah indikator seberapa lama iPhone dapat bertahan dalam satu kali charge dan seberapa cepat performanya. Berdasarkan tulisan Apple Support, semua iPhone menggunakan baterai litium-ion yang semakin lama digunakan akan semakin sulit untuk menghantarkan tenaga secara maksimal. Penurunan angka ini adalah proses yang wajar dan tidak perlu ditakuti.

    Untuk membacanya, caranya simpel. Katakanlah battery health iPhone milikmu menyentuh angka 80%, itu berarti kapasitas charge-nya berkurang 20% jika dibandingkan dengan kondisi HP saat masih baru. Jika sebelumnya kamu bisa menonton video selama 10 jam dalam satu kali pengecasan, dengan battery health 80% maka iPhone sekarang cuma bisa memutarnya maksimal selama delapan jam.

    Melansir Miami Center, Jumat (10/7/2026), Apple dan para pakar secara umum menyarankan untuk mengganti baterai iPhone ketika BH-nya telah berada di bawah 80% atau ketika kamu sudah mengalami mati daya tak terduga. Angka 80% ini menjadi patokan penting, bukan berarti penurunan 1% adalah tanda bahaya.

    Standar Siklus Pengecasan

    Menurut Apple, baterai iPhone 14 atau yang lebih awal didesain tetap berada di kisaran battery health 80% dengan 500 siklus pengecasan maksimal (sampai penuh). Sementara iPhone 15 ke atas dirancang untuk 1.000 kali siklus pengecasan maksimal. Artinya, model yang lebih baru memiliki ketahanan dua kali lipat dibanding pendahulunya.

    Akan tetapi, semua kembali dari bagaimana penggunaan perangkat sehari-hari serta kebiasaan mengecasnya. Namun, tidak perlu khawatir ketika battery health kamu turun sebab pasti kesehatan baterai HP akan menurun seiring lamanya pemakaian. Pun jika harus diganti, Apple biasanya akan memberikan peringatan.

    Saat battery health iPhone menurun drastis, Apple juga bakal memberikan notifikasi sebagai berikut: “Your battery’s health is significantly degraded. An Apple Authorized Service Provider can replace the battery to restore full performance and capacity. More about service options…” Pesan ini tidak serta merta mengindikasikan masalah keamanan, namun kamu mungkin bakal mengalami masalah performa atau ketahanan masa pakai baterai yang menurun. Meski begitu, baterai iPhone masih bisa digunakan.

    Tips Menjaga Battery Health iPhone

    Pertama-tama, penting untuk menggunakan charger yang tersertifikasi Apple, berikut kabelnya. Ini mencegah ponsel mendapatkan tegangan listrik yang tidak tepat dan dapat merusak sel baterai litium-ion. Penggunaan aksesori palsu menjadi penyebab utama degradasi dini pada baterai.

    Selanjutnya adalah mengatur Charge Limit iPhone tidak 100%. Tetapkan pada 80-85% sudah cukup. Kebiasaan ini secara signifikan memperpanjang umur baterai dalam jangka panjang, terutama bagi pengguna yang sering mengecas semalaman.

    Terakhir dan penting, jauhkan iPhone dari temperatur yang ekstrem. Jangan terlalu panas seperti di dashboard mobil atau yang terlalu dingin. Ini dapat menyebabkan degradasi kemampuan baterai secara permanen. Suhu ruangan yang normal adalah lingkungan terbaik untuk menjaga kesehatan baterai.

    Bagi pengguna yang ingin membandingkan daya tahan baterai, beberapa perangkat Android terbaru juga menawarkan kapasitas besar. Misalnya, Vivo Y500 hadir dengan baterai 8.100 mAh. Sementara itu, Realme P4 Series juga menawarkan baterai 8000 mAh untuk gaming. Namun, perlu diingat bahwa sistem operasi dan optimasi perangkat lunak juga memainkan peran penting dalam efisiensi daya.

    Memahami bahwa penurunan battery health adalah proses alami membantu pengguna untuk tidak panik. Fokus pada kebiasaan mengecas yang baik dan penggunaan aksesori resmi adalah langkah paling efektif untuk memperlambat degradasi. Dengan perawatan yang tepat, baterai iPhone dapat bertahan optimal hingga beberapa tahun sebelum akhirnya perlu diganti.

  • Pusat Data AI Meta Cemari Air dengan Bakteri Mematikan

    Pusat Data AI Meta Cemari Air dengan Bakteri Mematikan

    JBNews.id — Pusat data kecerdasan buatan (AI) milik Meta di Cheyenne, Wyoming, Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah membuang limbah air yang terkontaminasi bakteri mematikan ke saluran pembuangan umum. Insiden ini memaksa otoritas setempat untuk memperketat aturan pembuangan limbah air dari pusat data.

    Menurut laporan Cowboy State Daily, Badan Utilitas Umum Cheyenne melarang pembuangan air limbah dengan metode ‘fill-and-flush’. Metode ini merupakan proses di mana pusat data membanjiri sistem pendingin mereka dengan air sebelum dinyalakan untuk pertama kalinya. Keputusan itu diambil setelah Goat Systems LLC, kontraktor pusat data yang terafiliasi dengan Meta, membanjiri saluran pembuangan umum dengan limbah air yang terkontaminasi bakteri bernama Cupriavidus gilardii.

    Goat Systems dinyatakan telah melakukan pelanggaran signifikan terhadap peraturan limbah industri di Cheyenne. Hal ini terungkap setelah penyelidikan selama berbulan-bulan yang melacak sumber bakteri tersebut ke limbah dari pusat data Meta.

    “Begitu kami mengetahui keberadaan bakteri tersebut, dan kemudian dari mana asalnya, kami segera menutupnya,” kata Frank Strong dari Badan Utilitas Umum Cheyenne, seperti dikutip dari Futurism, Jumat (10/7/2026).

    Bakteri Cupriavidus gilardii dan Risiko Kematian

    Strong mengatakan bakteri itu pertama kali terdeteksi saat pengujian rutin untuk kontaminasi tinja. Menurutnya, bakteri itu adalah patogen aneh yang ditemukan di air limbah mana pun, bahkan yang berasal dari pusat data. Cupriavidus gilardii adalah bakteri yang resisten terhadap berbagai obat.

    Banyak yang belum diketahui soal bakteri ini dan infeksi ke manusia juga sangat langka. Namun, bakteri ini sudah dikaitkan dengan 10 kematian, termasuk tiga kasus yang melibatkan anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Menurut salah satu tinjauan kasus Cupriavidus, infeksi bakteri ini memiliki tingkat kematian 31,3 persen, dari sampel 32 infeksi yang diketahui sejak tahun 2009.

    Strong mengatakan sumber pasti bakteri tersebut masih belum diketahui, tapi air limbah dari pusat data AI Meta seluas 74.000 meter persegi di Cheyenne—yang masih dalam tahap pembangunan—tetap mengandung bakteri tersebut.

    Sistem saluran pembuangan Cheyenne mengalir ke pusat pengolahan air limbah, yang memasok air untuk taman dan ruang hijau terbuka lainnya. Khawatir jika air yang terkontaminasi Cupriavidus dipakai untuk irigasi, Strong mengatakan Cheyenne menutup sementara program pengolahan air limbah untuk melakukan pengujian lebih lanjut.

    “Kekhawatiran kami dengan sistem penggunaan kembali air limbah adalah kami mengubahnya menjadi aerosol, yang kami semprotkan ke rumput, dan itu meningkatkan risiko masalah kesehatan,” ujar Strong.

    Respons Meta dan Mitra Kontraktor

    Dalam pernyataan resminya, juru bicara Meta mengatakan pihaknya sudah langsung mengambil tindakan dan meminta mitra kontraktornya Fortis untuk mengatasi masalah ini. “Meta berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik di Cheyenne, termasuk lewat perlindungan sumber air setempat, dan akan terus mendorong kolaborasi antara Fortis dengan dewan sampai situasi ini terselesaikan,” ujar juru bicara Meta.

    Insiden ini menambah daftar panjang masalah lingkungan yang terkait dengan pusat data AI. Sebelumnya, polusi dahsyat dari pusat data AI di Texas disebut setara dengan emisi jutaan mobil. Selain itu, proyek pusat data AI yang masif juga menuai kritik pedas karena dampak lingkungannya.

    Implikasi dari insiden ini sangat jelas: operasional pusat data AI yang semakin masif tidak hanya berdampak pada konsumsi energi dan emisi karbon, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan masyarakat melalui pencemaran air. Otoritas di Cheyenne kini memperketat regulasi, dan langkah serupa mungkin akan diikuti oleh daerah lain yang menjadi lokasi pusat data AI raksasa. Bagi masyarakat, insiden ini menjadi pengingat bahwa pengembangan teknologi harus diimbangi dengan pengelolaan limbah yang ketat dan transparan.