Blog

  • Apple Neural Engine: Asal-usul Chip AI dari Proyek Mobil Otonom

    Apple Neural Engine: Asal-usul Chip AI dari Proyek Mobil Otonom

    JBNews.id — Apple Inc. telah mengonfirmasi bahwa proyek mobil otonom yang gagal justru menjadi fondasi bagi keunggulan chip AI perusahaan saat ini. Selama pengembangan platform self-driving, Apple menyadari kebutuhan akan pemrosesan AI on-device yang sangat kuat. Meskipun prosesor mobil tidak pernah selesai, proyek tersebut melahirkan Neural Engine, tulang punggung pemrosesan AI on-device Apple.

    Neural Engine pertama kali diperkenalkan pada iPhone X bersama chip A11 Bionic. Pada masa awal, komponen ini terutama digunakan untuk computer vision, mendukung fitur FaceID, Animoji, dan augmented reality. Namun, dengan meletakkan dasar pemrosesan AI on-device, Apple berhasil memantapkan diri sebagai pemimpin awal dengan membawa Neural Engine ke desktop melalui chip seri M.

    Menurut laporan Mark Gurman dalam newsletter Power On terbaru, pengembangan Neural Engine berawal dari kebutuhan prosesor untuk mobil listrik otonom Apple. “Prosesor mobil itu tidak pernah selesai, tetapi mengarah pada pengembangan Neural Engine,” tulis Gurman. Ini menunjukkan bagaimana kegagalan satu proyek dapat menjadi batu loncatan bagi inovasi lain yang lebih berdampak.

    Meskipun upaya perangkat lunak AI Apple tertinggal dari industri lain, perangkat kerasnya dinilai sangat impresif. Keunggulan hardware inilah yang memungkinkan Apple menonjolkan fitur privasi, karena lebih sedikit data yang dikirim ke cloud. Dengan pemrosesan langsung di perangkat, pengguna mendapatkan keamanan data yang lebih baik tanpa mengorbankan performa AI.

    Apple kini menjadikan perangkat keras AI sebagai pilar utama strategi masa depan. Menurut Gurman, perusahaan melewatkan varian Pro, Max, dan Ultra dari chip M6 yang akan datang. Sebagai gantinya, Apple mempercepat pengembangan chip M7 yang dijadwalkan hadir pada paruh pertama 2027 dengan peningkatan signifikan pada Neural Engine.

    Strategi Chip M7 dan Server AI

    Chip M7 Ultra diperkirakan akan menjadi basis produk server baru dari Apple. Server ini dikabarkan mendukung RAM hingga 1,5TB, menunjukkan ambisi Apple untuk bersaing di pasar komputasi AI skala besar. Langkah ini sejalan dengan tren industri yang semakin mengandalkan pemrosesan AI di pusat data.

    Keputusan Apple untuk melewatkan chip M6 dan langsung beralih ke M7 menunjukkan urgensi untuk memperkuat kemampuan AI. Dengan Neural Engine yang ditingkatkan secara signifikan, Apple berharap dapat mengejar ketertinggalan di bidang perangkat lunak AI, sambil mempertahankan keunggulan hardware yang sudah diakui.

    Dalam jangka panjang, strategi ini dapat mengubah lanskap kompetisi AI. Apple tidak hanya bersaing di level perangkat konsumen, tetapi juga di infrastruktur server. Dengan investasi besar di chip M7, Apple menunjukkan komitmen untuk menjadi pemain utama di era komputasi AI, baik di perangkat pengguna maupun di cloud.

    Bagi konsumen, implikasinya jelas: perangkat Apple masa depan akan memiliki kemampuan AI yang lebih canggih tanpa mengorbankan privasi. Dengan pemrosesan on-device yang semakin kuat, fitur-fitur seperti asisten virtual, pengenalan gambar, dan personalisasi akan berjalan lebih cepat dan aman.

    Keberhasilan Neural Engine yang berawal dari proyek mobil otonom yang gagal menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya investasi riset jangka panjang. Meskipun Apple tidak pernah merilis mobil listrik, warisan proyek tersebut kini menjadi fondasi bagi strategi AI perusahaan yang paling ambisius.

  • Interpol Sikat Sindikat Penipuan Online, Sita Aset Rp 4,7 Triliun

    Interpol Sikat Sindikat Penipuan Online, Sita Aset Rp 4,7 Triliun

    JBNews.id — Interpol merampungkan operasi anti-penipuan online terbesar tahun ini dengan hasil mencengangkan: 5.811 tersangka ditangkap dan aset ilegal senilai USD 293 juta atau sekitar Rp 4,7 triliun disita dari 97 negara.

    Operasi sandi First Light 2026 berlangsung sejak 15 Januari hingga 30 April lalu. Target utama operasi ini adalah kejahatan berbasis rekayasa sosial (social engineering fraud), yaitu skema yang memanipulasi korban untuk menyerahkan uang atau informasi sensitif secara sukarela. Kejahatan ini mencakup peretasan email bisnis (BEC), penipuan asmara, penyamaran, penipuan investasi, hingga pemerasan seksual (sextortion).

    Angka-angka yang dihasilkan menunjukkan skala masalah yang dihadapi. Penyelidik menyisir 152.808 kasus, berhasil menutup 23.715 di antaranya, mengidentifikasi 15.606 tersangka, dan membekukan 31.014 rekening bank. Lebih dari 142.000 korban berhasil diidentifikasi di seluruh dunia, membuktikan bahwa penipuan semacam ini adalah industri kejahatan transnasional yang sangat terorganisir.

    “Sindikat kriminal mengeksploitasi psikologi manusia untuk memanipulasi target mereka,” ujar Tomonobu Kaya, Direktur Pusat Kejahatan Keuangan dan Anti-Korupsi Interpol. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun negara yang bisa melawan masalah ini sendirian, sehingga respons global yang terkoordinasi adalah satu-satunya pertahanan yang nyata.

    Mekanisme Blokir Kilat I-GRIP

    Beberapa kemenangan tercepat dalam operasi ini diraih berkat penggunaan I-GRIP (Global Rapid Intervention of Payments), mekanisme Interpol yang memungkinkan negara anggota meminta pembekuan darurat atas transaksi keuangan lintas negara sebelum dana tersebut cair.

    Singapura dan Oman, misalnya, menggunakan mekanisme ini untuk memblokir transfer penipuan peretasan email bisnis senilai USD 6,6 juta (sekitar Rp 105 miliar) setelah penjahat menyamar sebagai pemasok ke sebuah perusahaan perdagangan komoditas di Singapura. Mekanisme ini menjadi krusial karena korban, penipu, dan bank tempat pencairan bisa berada di tiga negara berbeda, sehingga proses pembekuan harus bergerak lebih cepat daripada aliran digital uangnya.

    Menang Pertempuran, Namun Perang Terus Berlanjut

    Operasi First Light 2026 didanai oleh Kementerian Keamanan Publik China, dengan dukungan penuh dari badan regional seperti ASEANAPOL, GCCPOL, dan Europol. Langkah ini bukan upaya satu kali; Interpol rutin menggelar penindakan massal, mulai dari operasi Synergia III hingga Red Card 2.0.

    Namun, data menunjukkan bahwa angka kejahatan siber belum menyusut secara makro. Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) mencatat kerugian masyarakat sebesar USD 3,5 miliar akibat penipuan penyamaran pada tahun 2025 saja, yang merupakan bagian dari total kerugian USD 16 miliar di AS (naik 25% dari tahun sebelumnya). Di saat yang sama, FBI menghitung total kerugian warga AS akibat kejahatan yang difasilitasi siber mencapai hampir USD 21 miliar.

    Angka-angka ini hanya mencakup kerugian di satu negara, sementara operasi Interpol merambah hingga 97 negara. Hal ini menunjukkan bahwa penipuan online masih menjadi ancaman besar yang membutuhkan respons global berkelanjutan, seperti yang juga terlihat dalam pemberantasan Botnet Popa yang membajak jutaan perangkat.

    Bagi pengguna internet di Indonesia, operasi ini menjadi pengingat bahwa rekayasa sosial adalah ancaman nyata. Label AI pada iklan yang diwajibkan Google adalah salah satu langkah transparansi, tetapi kewaspadaan individu tetap menjadi pertahanan terdepan.

  • Christopher Nolan Sebut Gen Z Tolak Keras Teknologi AI

    Christopher Nolan Sebut Gen Z Tolak Keras Teknologi AI

    JBNews.id — Sutradara terkenal Christopher Nolan menyatakan bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, secara massal menolak teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam wawancara dengan The Telegraph, Nolan menyebut penolakan ini sebagai yang paling cepat dan drastis yang pernah ia saksikan terhadap sebuah lompatan teknologi.

    “Saya belum pernah melihat penolakan yang lebih cepat dan menyeluruh terhadap apa yang dianggap sebagai lompatan teknologi fundamental dalam hidup saya,” ujar Nolan. Ia menambahkan bahwa banyak energi telah dikeluarkan untuk memperkenalkan AI, namun reaksi generasi muda justru sebaliknya: mereka benar-benar menolaknya.

    Pernyataan Nolan muncul setelah ia memuji dua sutradara muda, Kane Parsons dan Curry Barker, yang memulai karier di YouTube. Debut mereka, “Backrooms” dan “Obsession,” menjadi sukses besar tahun ini. Nolan melihat ambivalensi kedua sutradara terhadap AI sebagai cerminan penolakan yang lebih luas dari Gen Z.

    Ia juga merujuk pada anak-anaknya sendiri yang kini berusia akhir remaja hingga awal 20-an sebagai bukti tambahan. “Penilaian mereka terhadap ‘AI slop’ langsung dan keras,” kata Nolan. “Mereka melihatnya apa adanya dengan sangat cepat — dan lebih mudah bagi mereka untuk mengidentifikasinya, karena itu tumbuh dari dunia daring yang mereka kenal dengan baik.”

    Nolan menekankan bahwa penolakan ini tidak berarti seluruh aspek teknologi AI tidak berguna. Namun, dalam dunia perfilman, kehadiran AI dinilai datang pada waktu yang salah. “Setelah bertahun-tahun berkarya menuju lingkungan yang sangat virtual, kita melihat minat baru pada bentuk penceritaan yang lebih taktil dan lebih nyata,” jelasnya.

    Pandangan Nolan ini kontras dengan beberapa tokoh industri lainnya. Pada Juni lalu, sutradara legendaris Martin Scorsese mengungkapkan bahwa ia bekerja sama dengan sebuah startup AI untuk membantu pembuatan papan cerita (storyboard) filmnya. Beberapa minggu kemudian, studio ternama A24 menandatangani kemitraan senilai USD 75 juta dengan Google untuk mengembangkan alat AI bagi pembuatan film, yang memicu krisis kepercayaan di kalangan penggemar.

    Namun, Nolan tidak sendirian. Rekan sesama sutradara, Guillermo del Toro, tahun lalu memberikan tanggapan yang tak kalah tegas ketika ditanya apakah ia akan menggunakan AI. “Saya lebih memilih mati,” jawab del Toro.

    Penolakan terhadap AI di kalangan generasi muda menjadi fenomena menarik di tengah gencarnya adopsi teknologi ini oleh berbagai industri. Nolan menilai bahwa kemampuan Gen Z dalam mengidentifikasi konten buatan AI berasal dari pemahaman mendalam mereka terhadap dunia daring. Mereka tumbuh di era digital dan lebih peka terhadap konten yang terasa “tidak autentik.”

    Dalam industri perfilman, perdebatan tentang penggunaan AI semakin memanas. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam produksi. Di sisi lain, banyak sineas dan penonton yang khawatir AI akan menggerus nilai artistik dan keaslian karya. Nolan, yang dikenal dengan film-film kompleks seperti Inception, Tenet, dan Memento, tampak berada di kubu yang mengutamakan penceritaan nyata dan sentuhan manusia.

    Adaptasi terbaru Nolan, “The Odyssey” yang akan tayang bulan ini, diyakini akan kembali menghadirkan gaya penceritaan yang khas. Meskipun belum diketahui secara pasti bagaimana ia akan mengolah epik Yunani kuno tersebut, pernyataannya soal AI memberikan sinyal jelas tentang arah kreatifnya.

    Fenomena penolakan AI oleh Gen Z ini juga berdampak pada strategi pemasaran dan produksi konten. Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa audiens muda lebih menghargai konten orisinal dan buatan manusia dibandingkan konten yang dihasilkan oleh algoritma. Hal ini mendorong kembalinya minat pada produksi yang lebih “taktil” dan realistis, seperti yang disebutkan Nolan.

    Bagi para pembuat konten dan pelaku industri kreatif, pandangan Nolan ini menjadi pengingat bahwa teknologi bukanlah segalanya. Meskipun AI dapat membantu dalam berbagai aspek produksi, nilai keaslian dan sentuhan manusia tetap menjadi faktor utama yang menentukan kualitas sebuah karya. Gen Z, sebagai konsumen konten terbesar saat ini, telah memberikan sinyal jelas tentang apa yang mereka inginkan.

    Penolakan ini juga mencerminkan pergeseran preferensi yang lebih luas. Setelah bertahun-tahun dibanjiri konten digital dan efek visual yang canggih, audiens mulai mencari sesuatu yang lebih otentik dan bermakna. Film-film dengan pendekatan praktis (practical effects) dan penceritaan yang kuat kembali mendapatkan tempat di hati penonton.

    Nolan sendiri dikenal sebagai sutradara yang gemar menggunakan efek praktis dan lokasi syuting nyata. Film-filmnya seringkali menghindari penggunaan CGI berlebihan, dan ia lebih memilih untuk menciptakan ilusi secara fisik di depan kamera. Pendekatan ini sejalan dengan kritiknya terhadap AI yang dianggapnya dapat mengurangi nilai taktil dan realitas dalam penceritaan.

    Meskipun demikian, bukan berarti AI tidak memiliki tempat sama sekali di industri kreatif. Nolan sendiri mengakui bahwa tidak semua aspek teknologi AI tidak berguna. Namun, ia menekankan bahwa penerapannya harus dilakukan dengan bijak, tanpa mengorbankan esensi dari seni bercerita.

    Pernyataan Nolan ini juga menjadi angin segar bagi para sineas independen yang selama ini khawatir akan dominasi AI. Dengan adanya dukungan dari sutradara sekelas Nolan, mereka merasa lebih percaya diri untuk terus berkarya dengan cara konvensional yang mengutamakan kreativitas dan sentuhan manusia.

    Ke depannya, perdebatan tentang AI di industri perfilman diperkirakan akan terus berlanjut. Namun, satu hal yang jelas: audiens, terutama generasi muda, memiliki suara yang kuat dalam menentukan arah industri ini. Penolakan mereka terhadap konten buatan AI menjadi sinyal bahwa keaslian dan kualitas tetap menjadi prioritas utama.

    Bagi para pembaca, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Di tengah gempuran teknologi baru, penting untuk tetap kritis dan selektif. Tidak semua yang baru dan canggih otomatis lebih baik. Terkadang, yang paling sederhana dan autentik justru memiliki dampak yang paling kuat.

    Nolan menutup pernyataannya dengan optimisme. Ia melihat bahwa minat pada bentuk penceritaan yang lebih nyata dan taktil sedang bangkit kembali. Hal ini, menurutnya, adalah kabar baik bagi industri perfilman yang selama ini terobsesi dengan teknologi virtual.

    Dengan segala kontroversi dan perdebatan yang ada, satu hal yang pasti: Christopher Nolan telah berhasil memicu diskusi penting tentang peran AI di masa depan industri kreatif. Dan seperti film-filmnya, diskusi ini kemungkinan akan memiliki banyak lapisan dan interpretasi yang berbeda.

    Implikasi dari pernyataan Nolan ini bagi pembaca adalah bahwa kita perlu lebih bijak dalam menyikapi teknologi. AI bukanlah musuh, namun juga bukan solusi untuk segalanya. Keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia akan menjadi kunci dalam menciptakan karya yang bermakna dan bertahan lama.

    Bagi para profesional di industri kreatif, pesan Nolan jelas: jangan tergoda untuk mengambil jalan pintas dengan AI. Keaslian, kreativitas, dan kerja keras tetap menjadi fondasi dari karya yang hebat. Dan jika generasi muda adalah tolok ukurnya, maka masa depan industri ini ada di tangan mereka yang mampu menghadirkan cerita yang nyata dan menyentuh.

  • Pemecatan Penulis Digantikan AI oleh Perusahaan

    Pemecatan Penulis Digantikan AI oleh Perusahaan

    JBNews.id — Seorang penulis lepas asal Stockholm, Ben Touati, mengalami pemecatan dari perusahaan media ClickOut Media pada awal 2026. Namun, yang lebih mengejutkan, namanya terus digunakan untuk menerbitkan artikel-artikel baru yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa sepengetahuannya.

    Menurut laporan dari Press Gazette, Touati mendapati bahwa lima artikel berkualitas rendah muncul di bawah namanya hanya beberapa hari setelah ia dipecat. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai sebuah “tamparan di wajah” dan menegaskan bahwa artikel-artikel itu jelas bukan hasil kerja manusia. “Lima artikel itu malas, jelas-jelas slop, jelas tidak ada orang sungguhan di baliknya,” ujar Touati dengan nada kesal.

    ClickOut Media, perusahaan yang menaungi situs-situs seperti Techopedia, iGaming, dan Esports Insider, tidak secara langsung menjawab mengapa mereka menggunakan identitas mantan karyawan untuk konten AI. Dalam pernyataan resminya kepada Press Gazette, perusahaan itu hanya mengatakan, “Kami menggunakan konten berbantuan AI yang sesuai, berbarengan dengan pemeriksaan dan suntingan manusia. Kami terus mengembangkan agen AI kami agar lebih akurat dan meningkatkan proses editorial manusia kami.”

    Kasus Touati ini bukanlah yang pertama bagi ClickOut Media. Sebelumnya, perusahaan itu menjadi pusat kontroversi setelah sebuah artikel di situs Videogamer ternyata ditulis oleh jurnalis AI palsu. Lebih jauh lagi, banyak artikel di situs-situs lain yang diakuisisi perusahaan tersebut juga menggunakan penulis fiktif, beberapa di antaranya bahkan dilengkapi dengan foto profil buatan AI. Praktik ini menunjukkan betapa agresifnya perusahaan-perusahaan penerbit online dalam mengadopsi AI, seringkali secara menipu.

    Touati mulai bekerja dengan ClickOut Media pada awal tahun 2024. Selama masa kerjanya, ia dipindahkan di antara berbagai situs milik perusahaan, termasuk Techopedia, iGaming, dan Esports Insider. Ia mengaku sering mendapat tekanan dari manajer untuk menggunakan AI dalam menulis artikel. “Hampir mustahil untuk bertahan tanpa AI akhir-akhir ini,” begitu kata para manajer kepadanya. Bahkan, para karyawan diperlihatkan sebuah video tentang cara membuat dan “memanusiakan” artikel yang ditulis oleh AI. Touati memilih untuk tidak mengindahkan video tersebut, dengan mengatakan, “Saya hanya membiarkan video itu berjalan dan tidak memperhatikannya.”

    Keputusan untuk memberhentikan Touati datang pada awal 2026. Manajernya mengatakan bahwa banyak pekerja lepas yang dipecat karena tidak ada cukup pekerjaan. Semua orang, menurut mereka, telah “meningkatkan” produktivitas mereka dengan AI. Touati kemudian diberitahu bahwa ia dipecat karena situs Esports Insider telah dide-indeks oleh Google. Namun, tak lama setelah itu, pada akhir Mei 2026, ia menemukan bahwa situs tersebut masih menerbitkan artikel atas namanya.

    Untuk mengatasi masalah ini, Touati menggunakan Regulasi Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa untuk mengajukan klaim terhadap ClickOut Media atas penyalahgunaan informasi pribadinya. Upayanya membuahkan hasil; perusahaan tersebut kemudian menghapus nama Touati dari artikel-artikel itu. Kini, artikel-artikel tersebut muncul dengan nama penulis yang berbeda.

    Kasus ini menyoroti risiko besar dari penggunaan AI yang tidak etis di industri media, di mana identitas dan reputasi profesional seseorang dapat dieksploitasi tanpa izin. Perusahaan seperti ClickOut Media, yang terus “mengembangkan agen AI” mereka, menunjukkan bahwa tekanan untuk memproduksi konten secara massal seringkali mengabaikan standar etika dan hak-hak pekerja.

    Bagi para pekerja lepas dan jurnalis, insiden ini menjadi pengingat keras akan perlunya perlindungan hukum yang kuat, seperti GDPR, untuk melindungi data dan nama baik mereka. Sementara itu, bagi industri secara keseluruhan, pertanyaan tentang akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan AI menjadi semakin mendesak untuk dijawab.

    Perkembangan ini juga bertepatan dengan kekhawatiran yang lebih luas di industri teknologi, di mana beberapa perusahaan besar mulai kehilangan arah dalam inovasi AI. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Scott Hanselman mengungkapkan bahwa Microsoft kehilangan mojo AI, menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun tidak luput dari tantangan dalam mengelola revolusi kecerdasan buatan.

    Kasus Ben Touati bukanlah insiden yang terisolasi. Fenomena perusahaan yang menggunakan AI untuk menggantikan jurnalis manusia, bahkan memalsukan identitas mereka, menjadi tren yang mengkhawatirkan. ClickOut Media, dengan sejarah kontroversinya, menjadi contoh nyata bagaimana tekanan untuk memangkas biaya dan meningkatkan output dapat mendorong praktik-praktik yang merugikan dan tidak etis.

    Praktik “pemanusiaan” artikel AI yang diajarkan kepada karyawan juga menjadi sorotan. Ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyembunyikan asal-usul konten buatan AI dari pembaca. Tindakan ini tidak hanya menipu audiens tetapi juga merusak kredibilitas jurnalisme secara keseluruhan.

    Langkah Touati untuk menggunakan GDPR sebagai alat hukum adalah sebuah terobosan. Regulasi tersebut, yang dirancang untuk melindungi data pribadi warga Uni Eropa, terbukti efektif dalam memaksa perusahaan untuk menghapus konten yang melanggar hak cipta dan identitas seseorang. Ini memberikan preseden hukum yang penting bagi pekerja lain yang mungkin mengalami situasi serupa.

    Ke depannya, transparansi menjadi kunci. Pembaca berhak mengetahui apakah konten yang mereka konsumsi ditulis oleh manusia atau mesin. Perusahaan media yang gagal memberikan transparansi ini berisiko kehilangan kepercayaan publik, yang merupakan aset paling berharga dalam industri berita.

    Selain itu, kasus ini juga membuka diskusi tentang masa depan pekerjaan di era AI. Ketika AI dapat menghasilkan konten dengan cepat dan murah, apa yang akan terjadi pada jurnalis dan penulis profesional? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada nilai, etika, dan kualitas.

    Bagi para pembaca, kejadian ini adalah pengingat untuk selalu waspada dan kritis terhadap sumber informasi. Verifikasi fakta dan mencari sumber-sumber yang terpercaya menjadi semakin penting di tengah banjirnya konten yang dihasilkan oleh AI. Dengan demikian, kasus Touati bukan hanya tentang seorang penulis yang kehilangan pekerjaannya, tetapi juga tentang krisis kepercayaan yang lebih besar di era digital.

    Seperti yang diungkapkan oleh Touati, pengalamannya adalah sebuah “tamparan di wajah” bagi dunia jurnalisme. Tamparan ini, semoga, dapat membangunkan industri untuk bergerak menuju praktik yang lebih bertanggung jawab dan etis dalam penggunaan teknologi.

  • Protes Data Center AI Meluas, 75 Proyek Rp2.100 Triliun Terhambat

    Protes Data Center AI Meluas, 75 Proyek Rp2.100 Triliun Terhambat

    JBNews.id – Gelombang protes warga terhadap pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) semakin masif di Amerika Serikat. Sepanjang kuartal pertama 2026 saja, sedikitnya 75 proyek senilai total USD 130 miliar atau setara Rp2.100 triliun berhasil diblokade atau ditunda oleh aksi demonstrasi komunitas setempat.

    Data terbaru dari Data Center Watch, sebuah proyek riset yang didukung perusahaan keamanan AI 10a Labs, mengungkapkan eskalasi perlawanan yang dramatis. Jumlah kelompok oposisi aktif meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 396 pada akhir 2025 menjadi 833 pada akhir kuartal pertama 2026, dan kini tersebar di 49 negara bagian.

    “Lebih dari 235.000 tanda tangan petisi terkumpul hanya dalam satu kuartal ini,” demikian bunyi laporan studi tersebut. Angka ini menunjukkan betapa besarnya kekhawatiran publik terhadap dampak kehadiran pusat data AI di lingkungan tempat tinggal mereka.

    Akar Masalah: Dari Apple Hingga Raksasa Teknologi Modern

    Perlawanan terhadap pusat data sebenarnya bukan fenomena baru. Jauh sebelum ledakan AI mengancam jaringan listrik lokal, sekelompok kecil pengunjuk rasa telah menyiapkan panggung untuk pertempuran yang kini terjadi di berbagai komunitas.

    Pada 2015, Apple mengumumkan rencana membangun pusat data senilai sekitar USD 1 miliar di kota kecil Athenry, Irlandia. Lahan seluas 500 hektar itu akan mendukung layanan Apple di Eropa, termasuk iTunes, iMessage, dan Siri. Apple menjanjikan ruang pendidikan luar ruangan, jalur pejalan kaki, dan inisiatif penanaman pohon asli, serta penggunaan energi terbarukan 100 persen.

    Namun, rencana itu langsung terhambat setelah warga Irlandia mengajukan keluhan ke dewan perencanaan independen negara tersebut. Kekhawatiran meliputi kebisingan, polusi cahaya, banjir, lalu lintas, dan dampak terhadap satwa liar. Meskipun dewan akhirnya menyetujui fasilitas itu pada 2016, perlawanan berlanjut ke pengadilan tinggi Irlandia. Dua aktivis di balik banding tersebut ingin membawa keputusan itu ke Mahkamah Agung Irlandia, dan akhirnya Apple menyerah pada Mei 2018 setelah rencana pembangunannya tertahan selama bertahun-tahun.

    Kini, skala masalah jauh lebih besar. Pusat data AI modern mengonsumsi energi sebanyak seluruh negara bagian dan beberapa di antaranya seluas kota kecil. Film Adaptasi Game mungkin menjadi primadona baru Hollywood, namun pusat data AI justru menjadi momok bagi warga sekitar.

    Dampak Nyata di Komunitas Lokal

    Warga yang tinggal di dekat pusat data AI melaporkan berbagai masalah: kenaikan biaya energi, gangguan kualitas air, polusi suara dan cahaya, serta kekhawatiran emisi gas rumah kaca. Badan Informasi Energi AS menyatakan bahwa permintaan energi komersial akan melampaui permintaan residensial untuk pertama kalinya pada tahun ini akibat pembangunan pusat data AI. Permintaan itu diperkirakan akan berlipat ganda pada 2027.

    Beberapa kasus konkret mencuat. Pada Januari 2026, perusahaan pusat data QTS milik Blackstone membatalkan rencana pembangunan kampus senilai USD 12 miliar di DeForest, Wisconsin, setelah protes dari anggota komunitas. Sementara itu, rencana pusat data di lahan seluas 580 hektar di Delaware City menghadapi hambatan setelah regulator setempat memutuskan pada Maret bahwa fasilitas tersebut dilarang berdasarkan Undang-Undang Zona Pesisir negara bagian.

    Pada Juli 2026, para penentang berhasil memblokir pusat data QTS di Prince William County, Virginia. Proyek “Digital Gateway” itu akan membentang seluas 2.000 hektar di negara bagian yang sudah menghadapi kenaikan biaya energi akibat pembangunan pusat data. Warga juga menekan bintang Shark Tank Kevin O’Leary untuk memperkecil rencana kampus Project Stratos seluas 40.000 hektar di Box Elder County, Utah.

    Pertarungan Politik di Kongres AS

    Seiring berlangsungnya protes di berbagai komunitas, pertarungan politik kini pecah di Kongres AS. Pusat data menjadi bagian kunci dari rencana Presiden Donald Trump untuk memenangkan perlombaan AI melawan China. Trump telah menandatangani perintah eksekutif tahun lalu untuk mempercepat pembangunan fasilitas raksasa ini.

    Namun, tidak semua orang di Capitol Hill setuju dengan sikap Trump. Dengan pemilihan paruh waktu yang semakin dekat, beberapa kandidat Partai Republik mulai menjauh dari pandangan Trump yang ramah terhadap pusat data untuk menarik simpati warga. Senator Bernie Sanders dan Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez memperkenalkan rancangan undang-undang yang akan menghentikan sementara pembangunan pusat data AI baru hingga Kongres mengesahkan undang-undang yang mencegah kenaikan harga utilitas atau kerusakan lingkungan.

    Di sisi lain, anggota parlemen dari kedua partai mendukung Ratepayer Protection Act, serangkaian undang-undang yang mengkodifikasikan kesepakatan yang ditandatangani oleh Google, Meta, Microsoft, dan raksasa teknologi lainnya untuk membayar biaya energi pusat data mereka sendiri. Ada juga Guaranteeing Rate Insulation from Data Centers (GRID) Act yang akan memaksa pusat data menggunakan sumber energi terpisah dari jaringan listrik AS untuk melindungi warga dari kenaikan tagihan utilitas.

    Regulasi di Tingkat Negara Bagian

    Pemerintah daerah juga mengambil langkah untuk mengatur pusat data AI. Tech Policy Press melaporkan bahwa negara bagian yang dipimpin Partai Demokrat dan Republik telah memberlakukan 28 undang-undang terkait pusat data AI. Florida memperkenalkan aturan untuk mencegah pusat data membebankan biaya kepada warga. Idaho memberlakukan pembatasan penggunaan air untuk pusat data AI. Sementara Washington mencabut keringanan pajak bagi perusahaan yang mengoperasikan fasilitas tersebut.

    Namun, tambal sulam undang-undang lokal saat ini dinilai belum cukup untuk mengendalikan pembangunan. RUU tingkat federal masih harus melewati Kongres, meninggalkan banyak komunitas untuk berjuang sendiri. Padahal, hanya dua orang saja yang cukup untuk menghentikan rencana Apple di Irlandia. Kini, dibutuhkan seluruh kota untuk melawan pusat data raksasa seperti proyek Meta senilai USD 27 miliar di Louisiana, Google senilai USD 10 miliar di Missouri, SpaceXAI senilai USD 20 miliar di Mississippi, dan Stargate senilai USD 500 miliar yang direncanakan di seluruh AS.

    Fakta tambahan memperkuat kekhawatiran: pejabat Wyoming baru-baru ini menemukan kontraktor terkait pusat data Meta membuang air yang terkontaminasi bakteri ke saluran pembuangan umum. Pabrik-pabrik di Midwest menghadapi kenaikan biaya listrik akibat pusat data di dekatnya. Rencana pembangunan 74 pembangkit listrik berbahan bakar gas untuk memasok pusat data di seluruh AS bisa melepaskan polusi gas rumah kaca sebanyak seluruh Australia, menurut Environmental Integrity Project.

    Bagi penggemar teknologi yang ingin mengikuti perkembangan industri, memahami dinamika ini penting. 8BitDo Arcade Controller mungkin menjadi kabar gembira bagi gamer, namun di balik layar, infrastruktur yang mendukung game dan layanan digital sedang menghadapi perlawanan sengit. Timnas Indonesia mungkin hadir di game populer, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa masa depan pusat data AI masih penuh ketidakpastian.

  • Rilis Game Mobile Premium Melonjak 77% Sepanjang 2025

    Rilis Game Mobile Premium Melonjak 77% Sepanjang 2025

    JBNews.id — Jumlah rilis game mobile premium mengalami lonjakan signifikan sebesar 77% pada 2025, dengan hampir 750 judul baru diluncurkan. Data dari perusahaan analisis AppMagic menunjukkan kebangkitan sektor yang sempat meredup ini, didorong oleh game orisinal dan portingan dari platform lain.

    Lonjakan ini menandai perubahan tren di pasar game seluler yang selama bertahun-tahun didominasi oleh game gratis (free-to-play). AppMagic mencatat bahwa game hasil porting dari PC atau konsol hanya menyumbang 3% dari total rilis, namun jumlahnya meningkat drastis dari hanya tujuh judul pada 2024 menjadi 23 judul selama 2025.

    Salah satu pendorong utama pertumbuhan ini adalah game Balatro. Game tersebut berhasil menghasilkan total pendapatan sebesar USD 21,3 juta di platform mobile dengan lebih dari 3,1 juta unduhan. Kehadiran Balatro berkontribusi sebesar 44,6% terhadap peningkatan pendapatan game mobile yang diadaptasi dari platform lain, serta menambah angka unduhan sebesar 38,3%.

    Menariknya, meskipun Balatro dikeluarkan dari analisis, data tetap menunjukkan tren positif terhadap pendapatan game mobile. Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan tidak hanya bergantung pada satu judul saja. Game lain seperti Slay the Spire (total perkiraan pendapatan seumur hidup USD 13,1 juta), Human Fall Flat (USD 7,8 juta), Dead Cells (USD 6,5 juta), dan Ultimate Custom Night (USD 5,3 juta) turut menjadi penyokong kebangkitan ini.

    Fenomena ini juga beriringan dengan perkembangan industri game secara lebih luas. Banyak pengamat melihat adanya pergeseran preferensi konsumen, mirip dengan tren Film Adaptasi Game yang kini menjadi primadona baru di Hollywood, menunjukkan bahwa konten berbasis game semakin diterima secara mainstream.

    Faktor Pendorong Kebangkitan Game Premium

    Marco Bettencourt, CEO Redcatpig, perusahaan pengembang dan porting game berbasis di Azores, mengakui awalnya ia ragu dengan prospek game premium di mobile. “Sejujurnya, ketika saya mulai melihat proyek-proyek game premium yang masuk ke mobile, saya agak curiga. Saya berpikir, ‘Apakah ini benar-benar akan berhasil?’ Karena kita semua tahu bahwa pasar mobile didominasi oleh game gratis, dan terkadang persaingannya sangat ketat,” ujarnya.

    Namun, Bettencourt berubah pikiran setelah melihat kesuksesan Planet of Lana. “Tetapi ketika saya melihat apa yang terjadi dengan Planet of Lana, saya berpikir, ‘Wah, ini keren sekali. Ini luar biasa’,” tambahnya. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa game yang sudah sukses besar di PC cenderung berkinerja baik di perangkat seluler.

    Sementara itu, CEO Playdigious, Abrial Da Costa, memiliki teori berbeda mengenai peningkatan pasar ini. Menurutnya, layanan berlangganan seperti Apple Arcade dan Netflix Games telah meningkatkan permintaan untuk game berkualitas lebih tinggi. “Kami pikir layanan berlangganan seperti Apple Arcade dan Netflix Games telah meningkatkan permintaan untuk game berkualitas lebih tinggi, dibantu oleh kurasi editorial yang kuat yang telah mengembangkan pasar dan menghargai konsumen,” jelas Da Costa.

    Bettencourt juga berpendapat bahwa para gamer mungkin sudah bosan dengan model game gratis yang terus-menerus meminta uang. Kehadiran game indie premium dinilai memberikan solusi yang menyenangkan. “Game indie single player memiliki tempat khusus di pasar ini. Kita berbicara tentang game yang membuat Anda merasa senang, dan Anda ingin merasa senang di kereta bawah tanah, Anda ingin merasa senang di bus, Anda ingin merasa senang di pesawat. Bagi saya, itu sangat masuk akal,” ucapnya.

    Ancaman Tren Musiman dan Prospek ke Depan

    Meskipun data menunjukkan pertumbuhan yang impresif, ada kekhawatiran bahwa lonjakan ini hanya bersifat sementara. Laporan AppMagic mencatat pola serupa pada 2022, ketika hampir 1.000 judul premium dirilis di HP, namun jumlahnya berkurang lebih dari setengah pada 2023 dan turun lagi menjadi 422 selama 2024.

    Kekhawatiran ini relevan mengingat perubahan besar lainnya dalam industri, seperti rencana Akhir Era Game Fisik yang diumumkan Sony. Perusahaan tersebut berencana menghentikan produksi cakram PlayStation, menandai pergeseran fundamental dalam cara game didistribusikan dan dikonsumsi.

    Namun, tren pendapatan dari port game mobile menunjukkan arah yang lebih positif. Menurut data AppMagic, pendapatan meningkat dari sekitar USD 7 juta pada 2022 menjadi sekitar USD 15 juta selama 2025. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat, dengan port game mobile premium telah menghasilkan pendapatan sekitar USD 10,2 juta dalam lima bulan pertama tahun 2026 hingga Mei.

    Data ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah rilis bisa berfluktuasi, permintaan pasar terhadap game mobile premium berkualitas terus tumbuh. Para pengembang yang mampu menghadirkan portingan berkualitas tinggi dari game PC atau konsol yang sudah terbukti sukses memiliki peluang besar untuk meraih pendapatan signifikan di pasar seluler.

    Implikasinya bagi industri game di Indonesia cukup jelas. Dengan penetrasi smartphone yang tinggi dan basis pemain yang besar, pasar game mobile premium di Tanah Air berpotensi menjadi lahan subur bagi pengembang lokal. Tren global ini juga bisa menjadi momentum bagi studio game Indonesia untuk mulai mengeksplorasi model premium, tidak hanya bergantung pada model free-to-play yang selama ini dominan.

    Kebangkitan game mobile premium juga membuka peluang baru bagi distributor dan platform pembayaran digital. Dengan semakin banyaknya judul berbayar yang berkualitas, ekosistem pembayaran digital untuk game di Indonesia perlu terus dikembangkan untuk memfasilitasi transaksi yang mudah dan aman bagi para gamer.

    Bagi para pengembang indie, tren ini menjadi angin segar. Mereka kini memiliki lebih banyak opsi untuk merilis game di platform mobile tanpa harus bersaing di pasar yang sangat jenuh dengan game gratis. Kunci suksesnya, menurut para pelaku industri, adalah menghadirkan pengalaman bermain yang autentik dan menyenangkan yang tidak bisa ditemukan di game gratis biasa.

    Dengan data pendapatan yang terus menunjukkan tren positif, masa depan game mobile premium tampak cerah. Namun, para pengembang tetap harus waspada terhadap potensi siklus pasang surut seperti yang terjadi pada 2022-2024. Strategi jangka panjang dengan fokus pada kualitas dan pengalaman pengguna akan menjadi penentu keberlanjutan pertumbuhan sektor ini.

    Perkembangan ini juga berpotensi mengubah lanskap persaingan di industri game global. Jika tren porting game PC ke mobile terus berlanjut, batas antara platform gaming tradisional dan mobile akan semakin kabur. Ini bisa menjadi kabar baik bagi gamer yang ingin menikmati game berkualitas tinggi di mana saja dan kapan saja tanpa harus memiliki perangkat keras yang mahal.

  • Studi: Redupkan Matahari Bisa Kurangi Dampak El Niño Ekstrem

    Studi: Redupkan Matahari Bisa Kurangi Dampak El Niño Ekstrem

    JBNews.id — Para ilmuwan dari University of California San Diego (UC San Diego) mengungkap temuan baru yang kontroversial: teknik meredupkan matahari melalui solar geoengineering berpotensi mengurangi dampak buruk fenomena El Niño yang ekstrem. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Rabu lalu, di tengah peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa El Niño tahun ini akan sangat kuat dan memperparah krisis iklim global.

    Bulan lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa kondisi El Niño akan menjadi “bahan bakar bagi dunia yang semakin panas.” National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat juga mengonfirmasi meningkatnya kemungkinan terjadinya El Niño yang “sangat kuat,” yang dapat memicu perubahan suhu drastis dan cuaca ekstrem seperti badai besar serta banjir bandang. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia diperkirakan akan memperkuat efek-efek ini, menjadikan musim panas tahun ini sangat rawan.

    Menurut studi baru tersebut, intervensi cuaca—termasuk gagasan radikal meredupkan sinar Matahari—bisa menjadi alat untuk meredam dampak El Niño. Konsep yang dikenal luas sebagai geoengineering ini pada dasarnya sederhana: dengan menyuntikkan partikel-partikel khusus ke stratosfer Bumi, lebih banyak sinar Matahari dipantulkan kembali ke luar angkasa, sehingga suhu permukaan bumi menjadi lebih dingin. Prinsip ini serupa dengan letusan gunung berapi yang menyuntikkan bahan kimia ke atmosfer dan menyebabkan suhu global turun, seperti yang terjadi pada letusan Krakatau tahun 1883.

    Dalam studi mereka, para peneliti berargumen bahwa marine cloud brightening—sebuah konsep solar geoengineering yang menggunakan aerosol untuk membuat awan di atas laut lebih cerah dan memantulkan lebih banyak sinar Matahari—secara teoritis dapat “mengatasi ekstrem” dari fenomena musiman, termasuk El Niño.

    “Seiring dengan pemanasan antropogenik jangka panjang dan variabilitas alami jangka pendek yang sering bergabung menghasilkan peristiwa cuaca ekstrem, temuan kami menunjukkan bahwa mungkin patut dipertimbangkan intervensi yang menargetkan variabilitas alami, daripada respons paksa terhadap gas rumah kaca,” demikian bunyi makalah penelitian tersebut. “Pendekatan semacam itu dapat menghasilkan pengurangan risiko fisik yang serupa dengan durasi intervensi yang lebih pendek dan risiko sosioteknis yang lebih kecil daripada penerapan yang berkelanjutan.”

    Namun, geoengineering telah terbukti sangat kontroversial di masa lalu, menciptakan perpecahan besar di kalangan ilmuwan iklim dan memicu protes publik yang menghentikan eksperimen bahkan sebelum dimulai. Para kritikus berpendapat bahwa ini adalah pengalihan perhatian dari solusi yang lebih penting, seperti mengurangi pembakaran bahan bakar fosil, dan bahwa kita masih belum memiliki gambaran lengkap tentang kemungkinan dampak lingkungan yang timbul. Ada juga pertanyaan besar tentang tata kelola—siapa yang memutuskan di mana aerosol ini dilepaskan dan kapan?

    Meskipun biasanya berada di kubu ilmuwan yang mendorong lebih banyak riset untuk memahami risiko, Kate Ricke, seorang ilmuwan iklim UC San Diego dan rekan penulis studi, bersama timnya berargumen bahwa peristiwa ekstrem namun sementara seperti El Niño dapat menjadi tempat uji coba yang sempurna untuk marine cloud brightening strategis.

    “Salah satu kekhawatiran sosial terbesar seputar geoengineering adalah fakta bahwa jika kita menggunakannya untuk mengurangi risiko iklim jangka panjang, kita harus menerapkannya secara terus menerus untuk jangka waktu yang tidak terbatas,” kata rekan penulis Jessica Wan, seorang peneliti pascadoktoral di University of Chicago yang sebelumnya menjadi mahasiswa pascasarjana di laboratorium Ricke, dalam sebuah pernyataan. “Jika kita bisa menargetkan variabilitas alami, kita bisa mendapatkan beberapa manfaat dari geoengineering tanpa harus menggunakannya secara terus menerus.”

    Untuk makalah terbaru mereka, Ricke dan timnya membangun studi tahun 2023 yang menemukan bahwa asap kebakaran hutan di atas Samudra Pasifik telah memancarkan sejumlah besar aerosol, yang mencerahkan awan dan menyebabkan lebih banyak radiasi Matahari dipantulkan kembali ke luar angkasa. Tim tersebut mensimulasikan apa yang akan terjadi jika bahan kimia pencerah awan sengaja digunakan selama El Niño sebelumnya dan menemukan bahwa itu memang akan melemahkan efek pola cuaca tersebut.

    Ahli lain masih belum yakin. “Model-model ini tidak sempurna, dan ada kemungkinan Anda akan menciptakan masalah yang tidak terduga yang lebih buruk daripada masalah yang Anda coba selesaikan,” kata Andrew Dessler, profesor ilmu atmosfer di Texas A&M University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada Wired. “Saya pikir ini adalah makalah yang sangat menarik, dan saya belajar beberapa hal saat membacanya, tetapi saya tentu tidak akan mengatakan bahwa ini adalah ide bagus dan kami harus menerapkannya.”

    Dengan demikian, mengingat banyaknya hal yang tidak diketahui, masih belum ada rencana konkret untuk menguji ide tersebut di dunia nyata. Namun, para penulis berpendapat bahwa ide ini patut dicoba. “Ini adalah cara berpikir yang berbeda tentang geoengineering,” kata Ricke dalam pernyataannya. “Kita perlu memahami lebih banyak, tetapi jika ada cara untuk menggunakan ini selain alat pengurangan risiko untuk memitigasi El Niño, mengapa kita tidak mempertimbangkannya?”

    Studi ini membuka babak baru dalam perdebatan panjang tentang geoengineering. Di satu sisi, data menunjukkan potensi nyata untuk mengurangi dampak bencana alam yang kian sering terjadi. Di sisi lain, risiko dan ketidakpastian yang menyertainya masih menjadi tembok besar yang harus dihadapi. Bagi Indonesia yang berada di kawasan rawan dampak El Niño, temuan ini setidaknya memberikan satu opsi baru dalam kotak alat mitigasi perubahan iklim global, meskipun masih jauh dari kata siap diterapkan.

  • Philips Hue: Revolusi Smart Home yang Paling Mendekati Sempurna

    Philips Hue: Revolusi Smart Home yang Paling Mendekati Sempurna

    JBNews.id — Philips Hue telah lama dianggap sebagai produk smart home yang paling mendekati sempurna dalam mewujudkan rumah pintar yang benar-benar fungsional. Dalam episode terbaru podcast Version History dari The Verge, jurnalis David Pierce dan Jennifer Pattison Tuohy bersama pakar smart home Richard Gunther mengupas tuntas perjalanan Philips Hue, mulai dari awal kemunculannya yang terkait erat dengan kebangkitan smartphone, hingga strateginya yang sukses merangkul hampir semua platform smart home.

    Keadaan smart home saat ini bisa dibilang masih membuat frustrasi karena potensinya yang begitu jelas namun sulit diwujudkan. Idealnya, pengguna harus bisa mengendalikan semua perangkat dari mana saja, ruangan harus bisa beradaptasi dengan aktivitas dan suasana hati, serta teknologi pintar harusnya tidak memerlukan renovasi besar-besaran. Semua ini tentu sangat sulit direalisasikan, namun Philips Hue menjadi salah satu produk yang paling mendekati target tersebut.

    Asal-Usul dan Keterkaitan dengan Smartphone

    Salah satu faktor kunci kesuksesan Philips Hue adalah momentum yang tepat. Sistem pencahayaan pintar ini lahir bersamaan dengan maraknya penggunaan smartphone. Hal ini memberikan keuntungan besar karena pengguna sudah terbiasa dengan antarmuka layar sentuh dan aplikasi, sehingga transisi ke pengendalian lampu melalui ponsel terasa alami. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari keputusan Philips untuk mengadopsi standar terbuka dan mendukung berbagai platform smart home sejak awal.

    Dengan harga starter kit yang mencapai $199 atau sekitar Rp 3,1 juta untuk paket awal, Philips Hue memang hadir dengan banderol yang cukup mencengangkan. Namun, nilai yang ditawarkan sebanding dengan kualitas dan keandalan produk. Setiap bohlam LED Hue mampu menampilkan hingga 16 juta warna, memberikan fleksibilitas pencahayaan yang tak tertandingi. Fokus utama Philips adalah menciptakan perangkat pintar yang benar-benar berfungsi dengan andal, bukan sekadar gimmick teknologi.

    Strategi Multi-Platform dan Inovasi Berkelanjutan

    Keputusan Philips Hue untuk merangkul hampir semua platform smart home menjadi salah satu pilar kesuksesannya. Alih-alih menciptakan ekosistem tertutup, Philips memilih untuk menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar. Pendekatan ini memungkinkan pengguna untuk mengintegrasikan lampu Hue dengan asisten virtual seperti Amazon Alexa, Google Assistant, dan Apple HomeKit tanpa hambatan berarti. Strategi ini sejalan dengan perkembangan protokol smart home modern, termasuk Matter 1.6 yang menghadirkan konsep joint fabric untuk menyatukan berbagai perangkat dalam satu atap.

    Philips juga terus berinovasi dengan fitur-fitur baru seperti MotionAware, yang mengubah bohlam pintar menjadi sensor gerak. Fitur ini memungkinkan lampu menyala secara otomatis saat mendeteksi kehadiran seseorang, tanpa perlu membeli sensor tambahan. Inovasi semacam ini menunjukkan komitmen Philips untuk membuat teknologi smart home semakin cerdas dan adaptif.

    Dampak dan Implikasi bagi Industri Smart Home

    Keberhasilan Philips Hue memberikan pelajaran berharga bagi industri smart home secara keseluruhan. Pertama, interoperabilitas adalah kunci. Produk yang hanya berfungsi dalam ekosistem tertutup akan kesulitan bersaing di pasar yang semakin menginginkan konektivitas lintas merek. Kedua, keandalan lebih penting daripada fitur yang melimpah. Pengguna lebih memilih produk yang bekerja dengan konsisten daripada produk dengan banyak fitur namun sering error.

    Bagi konsumen, kisah sukses Philips Hue menunjukkan bahwa investasi pada smart home tidak harus rumit. Dengan produk yang tepat, rumah pintar bisa menjadi kenyataan tanpa harus merombak total instalasi listrik. Mulai dari bohlam pintar hingga sistem pencahayaan yang lebih kompleks, Philips Hue membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi solusi yang elegan dan efektif. Bagi yang tertarik memulai, starter kit dengan 16 juta warna dan harga $199 bisa menjadi titik awal yang ideal.

    Episode Version History ini juga membahas produk-produk ikonik lain di musim smart home ini, seperti Harmony remote, Roomba vacuum, Nest thermostat, dan Keurig coffee maker. Semua produk ini menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar yang terus berkembang seiring dengan adopsi teknologi smart home oleh masyarakat luas. Untuk informasi lebih lanjut, pengguna bisa mengakses feed podcast Version History, kanal YouTube, serta akun TikTok dan Instagram resmi The Verge. Pelanggan The Verge juga bisa menikmati episode tanpa iklan dengan mengakses pengaturan akun mereka.

  • Samsung Luncurkan Program Pendidikan Digital untuk Sekolah

    Samsung Luncurkan Program Pendidikan Digital untuk Sekolah

    JBNews.id — Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan Samsung for Education Programme, sebuah ekosistem pendidikan digital yang dirancang untuk membantu sekolah mengoptimalkan implementasi Kurikulum Merdeka. Program ini menggabungkan perangkat Galaxy, pelatihan guru, hingga sertifikasi sekolah dalam satu solusi terintegrasi.

    Inisiatif ini mendukung transformasi digital pendidikan di Indonesia, sejalan dengan program Digitalisasi Pembelajaran yang telah menjangkau lebih dari 288 ribu sekolah. Ekosistem ini mencakup 50 juta siswa dan 4 juta guru di seluruh Indonesia.

    “Di Samsung, kami percaya bahwa teknologi harus menjadi sarana untuk memberdayakan setiap individu. Dalam dunia pendidikan, kami menghadirkan ekosistem yang mendukung guru, memperkuat kesiapan digital sekolah, dan mendorong siswa untuk belajar dengan percaya diri,” ujar Carl Nordenberg, Vice President and Regional Head of Mobile eXperience Business Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania.

    Tiga Pilar Utama Program

    Samsung for Education Programme dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, perangkat pendidikan berupa Galaxy Tab yang dilengkapi S Pen, Samsung Notes, dan Galaxy AI untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Seluruh perangkat juga dibekali Samsung Knox guna menjaga keamanan data, memudahkan pengelolaan perangkat, serta mendukung asesmen digital yang aman.

    Kedua, pengembangan kompetensi guru melalui Samsung Learning Hub. Platform ini menyediakan modul pembelajaran mulai dari tingkat dasar hingga lanjutan, sertifikat kompetensi, serta materi yang dikembangkan bersama mitra pendidikan. Program pengembangan guru dijalankan bersama Savvy, konsultan teknologi pendidikan yang berfokus pada literasi digital dan manajemen perubahan.

    Ketiga, pengakuan bagi sekolah yang berhasil menerapkan transformasi digital melalui dua kategori, yaitu Samsung School dan Samsung Digital Lighthouse School.

    Sertifikasi untuk Sekolah

    Samsung menghadirkan jalur pengakuan bagi sekolah melalui dua kategori. Samsung School diberikan kepada sekolah yang telah memiliki fondasi kuat dalam pemanfaatan teknologi di lingkungan belajar. Sementara Samsung Digital Lighthouse School ditujukan bagi sekolah yang telah mengintegrasikan teknologi secara menyeluruh dalam proses pembelajaran serta memiliki tenaga pendidik tersertifikasi.

    Saat ini terdapat empat sekolah yang memperoleh predikat Samsung Digital Lighthouse School di Asia Tenggara dan Oseania. Keempat sekolah tersebut adalah Yayasan Al Muslim Bekasi, Salman Al Farisi Bandung, SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan, dan Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) Malang.

    Melalui Samsung for Education Programme, Samsung berharap sekolah memiliki solusi yang lebih lengkap untuk membangun pembelajaran digital yang efektif, aman, dan berkelanjutan. Program ini sekaligus membantu mempersiapkan siswa menghadapi kebutuhan masa depan.

    Langkah Samsung ini sejalan dengan tren adopsi AI di perangkat flagship mereka. Sebelumnya, Visi AI Personal telah diungkap oleh bos Samsung jelang Galaxy Unpacked 2026. Sementara itu, Galaxy S26 Series Cetak Rekor penjualan sehingga produksi harus ditambah.

    Bagi sekolah dan tenaga pendidik di Jawa Barat dan Banten, program ini menjadi peluang nyata untuk mempercepat transformasi digital di lingkungan belajar. Dengan ekosistem yang mencakup perangkat, pelatihan, dan sertifikasi, sekolah dapat membangun fondasi pembelajaran digital yang kuat dan berkelanjutan.

    Implikasi dari program ini sangat jelas: sekolah yang ingin mengadopsi Kurikulum Merdeka secara optimal kini memiliki mitra teknologi yang menyediakan solusi end-to-end. Dari perangkat keras hingga pengembangan sumber daya manusia, Samsung for Education Programme menawarkan pendekatan komprehensif yang jarang ditemukan di program serupa.

    Dengan jangkauan yang telah mencakup 288 ribu sekolah, 50 juta siswa, dan 4 juta guru, potensi dampak program ini sangat besar. Sekolah-sekolah di Jawa Barat dan Banten yang menjadi bagian dari ekosistem ini akan mendapatkan akses ke teknologi dan pelatihan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

  • Quantum-AI Hibrid Ciptakan Peptida untuk Vaksin Masa Depan

    Quantum-AI Hibrid Ciptakan Peptida untuk Vaksin Masa Depan

    JBNews.id — Tim peneliti dari Technical University of Denmark (DTU) berhasil menggabungkan kecerdasan buatan (AI) generatif dengan komputer kuantum berukuran sebesar printer untuk menghasilkan peptida baru yang mampu mengikat protein spesifik dalam tubuh manusia. Terobosan ini dipandang sebagai langkah krusial dalam pengembangan vaksin dan terapi imun personal. Proyek ini dipimpin oleh Profesor Timothy Patrick Jenkins dari DTU, yang mengaku timnya harus bekerja di akhir pekan dan mengumpulkan sisa dana dari proyek lain untuk membiayai riset tersebut.

    “Most innovative science is too scary for foundations,” ujar Jenkins, menjelaskan mengapa pendanaan konvensional sulit didapat untuk penelitian semacam ini. Tim DTU menjalankan model AI generatif mereka berbarengan dengan komputer kuantum buatan ORCA Computing, sebuah perusahaan rintisan asal Inggris. Komputer kuantum tersebut, yang disebut seukuran printer, berfungsi mempercepat proses AI dengan menghubungkan mesin kuantum dan prosesor tradisional dalam satu alur kerja hibrid.

    Para peneliti menggunakan teknik hibrid ini untuk menghasilkan peptida—rantai pendek asam amino—yang mampu mengikat protein tertentu di dalam tubuh. Proses ini merupakan langkah fundamental dalam pengembangan vaksin. Setelah peptida berhasil diproduksi di laboratorium, tim menguji kemampuannya untuk berikatan dengan protein target. Hasilnya, model hibrid ini menghasilkan peptida yang lebih sukses dibandingkan model klasik, terutama ketika data pelatihan yang tersedia sangat terbatas.

    “Kami benar-benar perlu membuktikannya untuk meyakinkan para skeptis bahwa prediksi kami terhubung dengan dunia nyata,” kata Jenkins kepada WIRED. Timnya meyakini mesin ini dapat mempercepat pengembangan imunoterapi dan vaksin yang dipersonalisasi, serta meningkatkan efektivitas obat pada kelompok populasi yang kurang diteliti.

    Komputasi kuantum masih merupakan bidang yang baru lahir dan menghadapi pengawasan ketat karena tantangan teknis dalam membangun mesin tersebut dan menerapkannya untuk memecahkan masalah nyata. Menariknya, Jenkins sendiri awalnya enggan mengeksplorasi teknologi ini. “Saya adalah seorang skeptis besar terhadap kuantum,” katanya sambil tertawa, seraya menambahkan bahwa ia yakin aplikasi teknologi ini pada pekerjaannya masih “puluhan tahun lagi.”

    Tim DTU menggunakan data besar dan AI untuk menemukan protein yang dapat membuka imunoterapi baru secara lebih murah dan cepat. Pendanaan riset mereka sering kali berasal dari Novo Nordisk Foundation. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah kurangnya data tentang keragaman informasi genetik pada populasi manusia, karena sebagian besar riset medis selama ini berfokus pada populasi Barat. Hal ini menyulitkan pengembangan peptida yang efektif untuk populasi yang kurang diteliti, seperti di Asia dan Afrika.

    Hipotesis awal tim adalah bahwa menanamkan komputer kuantum ke dalam alur kerja mereka dapat menghasilkan peptida yang lebih beragam, terutama untuk target di mana data yang dimiliki sedikit. Ide ini muncul setelah mereka mengetahui bahwa mesin kuantum memiliki efek serupa dalam menghasilkan gambar. Tim kemudian menguji hipotesis tersebut dan mendapatkan hasil yang menjanjikan.

    Meskipun demikian, proses yang baru ditemukan ini belum akan merevolusi riset secara langsung. Komputer kuantum saat ini masih terlalu kecil untuk menjalankan model AI mutakhir berskala penuh. “Kuantum masih belum terlalu kuat, sehingga tingkat kompleksitas yang bisa kami kodekan bukanlah antibodi berukuran normal, yang biasanya kami kerjakan,” ujar Jonathan Funk, mahasiswa PhD DTU. Selain itu, menemukan peptida yang dapat mengikat gen tertentu hanyalah satu langkah dalam pengembangan vaksin, dan tidak akan menghasilkan obat yang berhasil dengan sendirinya.

    CEO ORCA Computing, Richard Murray, mengatakan kepada WIRED bahwa banyak perusahaan industri menganggap teknologi kuantum masih “kabur dan jauh.” Hal ini sebagian karena teknologi tersebut “belum pernah memiliki contoh kegunaan jangka pendek yang benar-benar jelas.” Namun, Murray menilai studi ini bersifat baru karena menunjukkan aplikasi komersial jangka pendek untuk teknologi kuantum. Perusahaannya juga menerapkan teknologi ini melalui proyek dengan raksasa minyak BP di bidang kimia dan produsen mobil Toyota untuk membuat proses desainnya lebih efisien.

    Tim DTU kini akan menguji apakah alur kerja yang sama dapat digunakan dengan model AI yang lebih mutakhir dan protein yang lebih besar. “Kami membutuhkan ini sebagai cara mudah untuk memvalidasi bahwa sekarang kami benar-benar memiliki peluang untuk mengubah keadaan secara substansial,” kata Jenkins. Ia mencatat bahwa alur kerja AI generatif sangat berharga untuk penyakit-penyakit terabaikan yang hanya menerima sedikit dana riset. Saat ini, ia juga tengah menjajaki penggunaan komputer kuantum untuk meningkatkan metode AI generatifnya dalam merancang antidot sintetis untuk bisa ular.

    Bagi para penggiat industri teknologi, temuan ini menjadi bukti nyata bahwa komputasi kuantum tidak lagi sekadar konsep teoretis. Inovasi AI yang dipadukan dengan kuantum membuka jalan baru dalam riset biomedis. Selain itu, pendekatan hibrid ini juga menunjukkan bahwa meskipun skalanya masih terbatas, teknologi kuantum sudah mampu memberikan nilai tambah di area dengan data langka—sebuah kondisi yang umum ditemui dalam riset penyakit tropis dan populasi yang terpinggirkan secara genetik.

    Ke depannya, jika komputer kuantum terus berkembang, bukan tidak mungkin kolaborasi semacam ini akan menjadi standar baru dalam industri farmasi dan bioteknologi. Namun, untuk saat ini, para peneliti masih harus bekerja dengan keterbatasan yang ada, sembari terus membuktikan bahwa setiap langkah kecil membawa mereka lebih dekat pada solusi medis revolusioner.