Blog

  • Blibli Catat Pendapatan Neto Naik 34%, Didorong Penjualan Smartphone

    Blibli Catat Pendapatan Neto Naik 34%, Didorong Penjualan Smartphone

    JBNews.id — PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) mencatatkan pendapatan neto tahunan tumbuh 34% secara tahunan (year-on-year/y.o.y) menjadi Rp 22,4 triliun pada tahun buku 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja positif seluruh segmen usaha, dengan kategori elektronik konsumen—khususnya volume penjualan smartphone—menjadi motor utama.

    Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2025 yang digelar pekan ini, manajemen Blibli memaparkan bahwa pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian tersebut merupakan hasil dari strategi omnichannel yang semakin matang. Selain kategori elektronik konsumen, kontribusi juga meningkat dari usaha institusi perseroan serta perluasan jaringan toko fisik elektronik konsumen.

    CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, dalam keterangan yang diterima detikINET, Jumat (5/6/2026), menyatakan bahwa di tengah pasar yang penuh tantangan dan konsumsi masyarakat yang semakin selektif, perseroan berhasil memperkuat fundamental usaha. “Fundamental usaha yang semakin kuat mengarahkan Perseroan ke jalur menuju profitabilitas yang semakin jelas,” ujarnya.

    Ekspansi Toko Fisik dan Perbaikan Efisiensi

    Blibli memperluas kehadiran di segmen toko fisik dengan membuka 66 toko baru sepanjang tahun 2025. Per 31 Desember 2025, perseroan telah mengoperasikan 265 toko elektronik konsumen, 4 toko elektronik rumah tangga, serta 1 toko fesyen dan olahraga. Selain itu, mereka juga mengelola 57 supermarket premium Ranch Market dan 39 home center Dekoruma.

    Laba bruto perseroan naik 19% secara tahunan pada tahun 2025 menjadi Rp 3,9 triliun. Rasio beban operasional terhadap pendapatan neto berhasil ditekan dari 34,3% menjadi 26,6% pada periode yang sama, menunjukkan perbaikan efisiensi operasional yang signifikan.

    Strategi yang diterapkan Blibli sepanjang 2025 mencakup mendorong pertumbuhan volume transaksi, memperkuat marjin, meningkatkan monetisasi, memperbaiki efisiensi operasional, serta memperdalam loyalitas pelanggan melalui integrasi ekosistem omnichannel yang semakin matang. Pendekatan ini sejalan dengan tren adopsi teknologi yang semakin masif, seperti yang terlihat pada adaptasi teknologi AI di berbagai sektor.

    Kinerja Kuartal Pertama 2026 Makin Impresif

    Pada kuartal pertama 2026, momentum pertumbuhan Blibli berlanjut dengan pendapatan neto konsolidasian tumbuh 67% secara tahunan menjadi Rp 7,8 triliun. Laba bruto pada periode yang sama meningkat menjadi Rp 1,2 triliun.

    Agenda RUPST tahun ini juga menunjuk dan mengangkat Imron Hendrata sebagai Komisaris Utama dan Cyrillus Harinowo sebagai Komisaris Independen Perseroan yang baru. Perubahan jajaran komisaris ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola perusahaan seiring dengan ekspansi bisnis yang agresif.

    Kusumo Martanto menegaskan komitmen perseroan ke depan. “Kami akan terus memperkuat kualitas pertumbuhan dan menjaga momentum kinerja melalui pendekatan scale what works. Dengan fondasi usaha yang semakin kuat, integrasi ekosistem yang semakin matang, serta fokus pada profitabilitas berkelanjutan,” pungkasnya.

    Pertumbuhan penjualan smartphone yang menjadi andalan Blibli mencerminkan tren konsumsi elektronik yang masih kuat di Indonesia. Hal ini juga didukung oleh perluasan jaringan toko fisik yang memungkinkan konsumen untuk melihat dan mencoba produk secara langsung sebelum membeli, sebuah strategi yang semakin relevan di era omnichannel.

    Dengan pencapaian ini, Blibli menunjukkan bahwa model bisnis omnichannel yang mengintegrasikan kanal online dan offline dapat menjadi kunci pertumbuhan di tengah persaingan e-commerce yang ketat. Perusahaan juga terus berinvestasi dalam teknologi dan logistik untuk mendukung efisiensi operasional, termasuk pengembangan sistem kasir dan stok terintegrasi yang lebih canggih.

    Ke depan, fokus Blibli pada profitabilitas berkelanjutan akan menjadi indikator utama bagi investor dan pemangku kepentingan. Dengan fundamental yang semakin kuat dan strategi yang terukur, perseroan optimistis dapat terus mencatatkan pertumbuhan berkualitas di tahun-tahun mendatang.

    Pengunjung mencoba berbagai gadget sebelum membeli di Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (30/5/2026), dalam ajang pameran teknologi Blibli XPO 2026 yang berlangsung pada 27–31 Mei 2026. Event tersebut menjadi salah satu destinasi masyarakat untuk melihat dan mencoba perangkat terbaru secara langsung.

    Pameran teknologi Blibli XPO 2026 yang digelar di Grand Indonesia pekan lalu menjadi bukti nyata strategi omnichannel perusahaan. Acara tersebut memungkinkan konsumen untuk berinteraksi langsung dengan produk-produk terbaru, termasuk smartphone yang menjadi andalan penjualan Blibli. Pendekatan ini tidak hanya mendorong volume transaksi tetapi juga memperkuat loyalitas pelanggan melalui pengalaman berbelanja yang lebih personal.

    Dengan data pertumbuhan yang solid dan strategi yang jelas, Blibli semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pemain utama di industri e-commerce Indonesia. Perusahaan terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin dinamis, sambil tetap menjaga disiplin biaya dan efisiensi operasional.

  • Google Rilis Fitur Deteksi Telepon Palsu di Android

    Google Rilis Fitur Deteksi Telepon Palsu di Android

    JBNews.id — Google resmi meluncurkan fitur deteksi telepon palsu (fake call detection) yang terintegrasi langsung ke dalam aplikasi Phone by Google. Langkah ini menjadi respons atas meningkatnya ancaman penipuan menggunakan teknologi AI deepfake yang kian realistis.

    Ancaman penipuan berkedok anggota keluarga atau atasan kini semakin canggih. Pelaku kejahatan siber tidak lagi sekadar mengirim pesan teks, tetapi sudah menggunakan teknologi AI deepfake untuk meniru suara orang terdekat dengan sangat presisi. Untuk menangkal tren penipuan tersebut, Google resmi mengumumkan fitur deteksi telepon palsu (fake call detection) yang ditanamkan langsung pada aplikasi Phone by Google.

    Modus Penipuan yang Makin Canggih

    Menurut Google, ancaman penipuan penyamaran (impersonation scams) ini bekerja dalam dua tahap yang sangat meyakinkan. Pertama, spoofing nomor telepon: penipu memanipulasi jaringan menggunakan perangkat lunak berbasis internet sehingga nomor yang muncul di layar ponsel Anda persis seperti nomor asli milik anggota keluarga, teman, atau atasan. Kedua, kloning suara AI: saat telepon diangkat, penipu menggunakan teknologi AI deepfake yang kini sangat mudah diakses untuk meniru persis suara kontak tersebut. Pakar keamanan menyebut teknologi ini sudah sangat realistis, sehingga sebagian besar orang tidak bisa lagi membedakannya dengan suara manusia asli.

    Fenomena ini sejalan dengan perkembangan kecerdasan buatan yang pesat. Bagi Anda yang tertarik dengan dampak AI di berbagai bidang, artikel tentang Cortex AI bisa menjadi bacaan menarik untuk memahami sejauh mana teknologi ini berkembang.

    Cara Kerja Penangkal Deepfake Google

    Lalu, bagaimana fitur baru Google ini melindungi penggunanya? Kuncinya ada pada komunikasi antar-perangkat yang tidak terlihat oleh pengguna. Jika Anda dan orang yang menelepon sama-sama menggunakan aplikasi Phone by Google, kedua aplikasi tersebut akan saling “berkomunikasi” secara senyap di latar belakang untuk mengonfirmasi bahwa panggilan tersebut benar-benar terjadi di antara kedua perangkat keras tersebut. Proses validasi ini dilakukan melalui jaringan RCS yang dilindungi enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption), sehingga diklaim sangat privat dan aman.

    Jika seorang penipu mencoba menyamar menggunakan nomor kontak Anda (melalui trik spoofing dari komputer atau perangkat lain), sinyal konfirmasi rahasia dari smartphone asli sang penelepon akan hilang. Mengetahui kejanggalan ini, aplikasi Phone by Google akan langsung menampilkan peringatan bahaya secara real-time di layar. Sebagai catatan, fitur pelindung ini akan aktif secara otomatis (default), namun pengguna tetap diberi kebebasan untuk mematikannya kapan saja melalui menu pengaturan aplikasi.

    Jadwal Rilis dan Ketersediaan

    Fitur deteksi telepon palsu ini mulai digulirkan secara global pada bulan ini untuk perangkat yang menjalankan sistem operasi Android 12 atau versi lebih baru. Seperti biasa, lini ponsel pintar Google Pixel akan menjadi perangkat pertama yang mencicipi fitur ini. Bagi Anda pengguna smartphone Android merek lain (seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dll) yang menggunakan aplikasi telepon bawaan dari pabrik, Anda tetap bisa mendapatkan perlindungan ini. Caranya cukup dengan mengunduh aplikasi Phone by Google secara gratis melalui Play Store dan mengubah pengaturannya menjadi aplikasi telepon default di perangkat Anda, demikian dikutip detikINET dari GSM Arena, Jumat (5/6/2026).

    Pengguna Android kini memiliki lapisan keamanan tambahan yang sangat penting. Bagi Anda yang penasaran dengan inovasi Fitur Terbaru dari Google lainnya, ada baiknya menyimak perkembangan terbaru dari raksasa teknologi ini.

    Implikasi dari fitur ini sangat jelas: pengguna Android kini memiliki benteng pertahanan terhadap modus penipuan yang semakin canggih. Di tengah maraknya deepfake dan spoofing, langkah Google ini menjadi tameng penting bagi keamanan finansial dan data pribadi masyarakat. Ke depannya, fitur serupa kemungkinan akan menjadi standar industri di seluruh platform komunikasi.

  • Waspada Love Scam: Semua Orang Bisa Jadi Korban Penipuan Online

    Waspada Love Scam: Semua Orang Bisa Jadi Korban Penipuan Online

    JBNews.id — Kasus scammer internasional di Sukoharjo dengan modus love scam yang menargetkan warga Amerika Serikat menjadi bukti bahwa semua orang bisa menjadi korban penipuan daring. Pakar politik siber dan kajian stratejik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Prakoso Aji, menegaskan bahwa modus ini adalah bentuk rekayasa sosial yang harus disikapi dengan cermat oleh masyarakat.

    Polisi mengungkapkan bahwa mantan artis Fabiola Elizabeth menjadi tersangka dalam kasus ini. Ia berperan sebagai pacar saat korban scammer di Amerika ingin melakukan panggilan video. Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku penipuan di Indonesia mampu menjangkau korban yang berada jauh di Amerika Serikat.

    “Pola yang dilakukan dengan melakukan rekayasa sosial, bahkan love scam. Ini harus disikapi dengan cermat,” kata Aji dalam perbincangan dengan detikINET, Jumat (5/6/2026).

    Menurut Aji, love scam adalah penipuan daring di mana pelaku mengajak kenalan secara online dan berpura-pura ingin menjadi pacar korban. Setelah menjalin hubungan jarak jauh, pelaku akan mencari keuntungan finansial dari korban, baik melalui transfer uang maupun menggunakan mata uang kripto.

    “Peristiwa maraknya scammer online menjadi alarm bagi masyarakat, bahwa siapapun bisa saja menjadi korban dari scammer,” ujarnya.

    Modus Love Scam yang Perlu Diwaspadai

    Modus love scam biasanya dimulai dengan pendekatan melalui media sosial atau aplikasi kencan. Pelaku akan membangun hubungan emosional yang kuat dengan korban sebelum akhirnya meminta uang dengan berbagai alasan, seperti biaya pengobatan, tiket pesawat, atau investasi palsu. Kasus di Sukoharjo membuktikan bahwa tidak ada batasan geografis dalam kejahatan digital ini.

    Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa masyarakat di dalam negeri juga rentan menjadi incaran penipu daring dari negara lain. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama saat berinteraksi dengan orang yang baru dikenal di dunia maya.

    Aji mengajak masyarakat untuk waspada dan meningkatkan literasi digital agar terhindar dari penipuan daring. Aplikasi keamanan yang bisa dipasang di smartphone, misalnya untuk pelacakan atau identifikasi nomor telepon, juga bisa membantu melindungi kita dari kejahatan digital. “Masyarakat juga perlu meningkatkan pemahaman terkait digitalisasi,” pungkasnya.

    Dampak dan Implikasi Love Scam

    Kasus love scam tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga berdampak psikologis pada korban. Korban seringkali merasa malu dan trauma setelah mengetahui bahwa hubungan yang dibangun selama ini hanyalah tipuan.

    Dari sisi keamanan siber, kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan digital semakin canggih dan tidak mengenal batas negara. Pelaku dapat menggunakan teknologi seperti deepfake atau identitas palsu untuk meyakinkan korban.

    Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu terus meningkatkan kemampuan dalam melacak dan menangani kasus penipuan daring lintas negara. Kerja sama internasional menjadi kunci untuk memberantas jaringan scammer yang beroperasi secara global.

    Sementara itu, bagi masyarakat awam, langkah pencegahan yang paling efektif adalah selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal di dunia maya, terutama jika mereka mulai membicarakan masalah keuangan atau meminta transfer uang.

    Dengan meningkatnya literasi digital, diharapkan masyarakat dapat lebih cerdas dalam menyikapi berbagai modus penipuan yang terus berkembang. Kasus Sukoharjo ini menjadi pelajaran berharga bahwa siapa pun, di mana pun, bisa menjadi target scammer jika tidak berhati-hati.

    Implikasinya jelas: di era digital yang semakin terhubung, setiap individu harus memiliki kesadaran keamanan siber yang tinggi. Jangan sampai rayuan manis di dunia maya berujung pada penyesalan dan kerugian finansial yang mendalam.

  • Survei: 7 dari 10 Warga AS Tolak Pembangunan Data Center

    Survei: 7 dari 10 Warga AS Tolak Pembangunan Data Center

    JBNews.id — Sebuah survei terbaru mengungkapkan bahwa setidaknya tujuh dari sepuluh warga Amerika Serikat menentang pembangunan pusat data di dekat tempat tinggal mereka. Lonjakan angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam waktu singkat, dari 42 persen pada September lalu menjadi 70 persen saat ini.

    Data dari jajak pendapat Heatmap ini mencatat pergeseran sentimen publik yang dramatis hanya dalam sembilan bulan. Angka penolakan terus merangkak naik, mencapai 51 persen pada Februari, sebelum akhirnya melonjak tajam pada polling terbaru. “Publik telah bergeser 49 poin persen melawan pusat data hanya dalam sembilan bulan,” tulis Heatmap dalam laporannya.

    Fenomena ini menjadi isu bipartisan yang langka. Konservatif dan liberal bersatu dalam penolakan dengan tingkat yang mencengangkan. Survei menunjukkan 78 persen pemilih Kamala Harris pada Pilpres 2024 menolak proyek pusat data di dekat rumah mereka, sementara 63 persen pemilih Donald Trump juga menyatakan hal serupa.

    Penolakan paling kuat datang dari pemilih muda. Sebanyak 83 persen warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun menentang pembangunan pusat data di dekat tempat tinggal mereka. Data ini menjadi indikasi kuat bahwa pusat data berpotensi menjadi topik kunci dan sangat memecah belah dalam pemilu paruh waktu mendatang.

    Kekhawatiran warga tidak muncul tanpa alasan. Proyek pusat data di kawasan Salt Lake City, Utah, yang didukung investor dan tokoh televisi Kevin O’Leary, akan mengambil alih lahan dua kali luas Manhattan—namun hanya menghasilkan 2.000 pekerjaan tetap. Kawasan tersebut juga sedang menghadapi krisis air, kondisi lingkungan yang bisa diperparah oleh pembangunan ini.

    Menanggapi tekanan publik, presiden senat Utah Stuart Adams meminta O’Leary untuk mengurangi ukuran kampus pusat data sebesar 75 persen. Namun, bintang acara “Shark Tank” itu justru bersikeras. “Saya tidak akan mundur,” kata O’Leary kepada Salt Lake Tribune.

    Pertemuan-pertemuan di tingkat county dipenuhi warga yang menuntut wakil mereka menolak proyek raksasa ini. Petani lokal disebut sebagai pahlawan karena menolak tawaran jutaan dolar untuk mengubah lahan pertanian menjadi pusat data. Klaim bahwa fasilitas ini akan membawa lapangan kerja disambut dengan skeptisisme dan frustrasi.

    Perlawanan terhadap pusat data telah menjadi gerakan akar rumput yang masif di seluruh Amerika. Warga pedesaan terus berjuang meskipun suara mereka sering tidak didengar. Proyek O’Leary di Utah hanyalah satu contoh bagaimana investor besar dan pemerintah daerah berbenturan dengan aspirasi masyarakat.

    Data survei ini menjadi peringatan bagi industri teknologi yang tengah gencar membangun infrastruktur AI. Pusat data yang menjadi tulang punggung kecerdasan buatan kini menghadapi tentangan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Isu kenaikan harga listrik, konsumsi air, dan kebisingan menjadi tiga pilar utama kekhawatiran warga.

    Implikasinya jelas: pembangunan pusat data tidak lagi bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan politik. Perusahaan teknologi harus bernegosiasi dengan masyarakat lokal, bukan hanya pemerintah daerah. Kegagalan memahami dinamika ini berpotensi mengulang kisah Salt Lake City di berbagai wilayah lain.

    Kasus di Utah juga menunjukkan bahwa tekanan publik bisa memaksa perubahan kebijakan. Seruan Adams kepada O’Leary untuk mengurangi proyek 75 persen adalah bukti bahwa resistensi warga mulai membuahkan hasil. Namun, sikap O’Leary yang tidak mau mundur menandakan pertarungan masih panjang.

    Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini relevan mengingat maraknya pembangunan pusat data di berbagai daerah. Pengalaman Amerika menunjukkan bahwa transparansi dan dialog dengan masyarakat adalah kunci. Tanpa itu, proyek infrastruktur digital bisa berubah menjadi sumber konflik sosial.

    Data Heatmap ini juga menjadi sinyal bagi investor dan pengembang properti. Sentimen publik yang berubah drastis dalam sembilan bulan menunjukkan bahwa isu lingkungan dan sosial kini menjadi faktor penentu keberhasilan proyek. Abai terhadap hal ini berarti mengambil risiko besar.

    Para pengamat menilai bahwa perlawanan terhadap pusat data akan terus menguat seiring meluasnya dampak nyata yang dirasakan warga. Krisis air di Utah, misalnya, bukanlah masalah abstrak—ini adalah ancaman langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika kebutuhan dasar terancam, opini publik bisa berubah dalam sekejap.

    Fenomena ini juga menyoroti kesenjangan antara janji investasi dan realitas di lapangan. Proyek raksasa yang hanya menciptakan 2.000 pekerjaan tetap dianggap tidak sebanding dengan gangguan yang ditimbulkan. Masyarakat mulai sadar bahwa lapangan kerja yang dijanjikan seringkali tidak sebesar klaim awal.

    Ke depannya, industri data center harus beradaptasi dengan realitas baru ini. Transparansi dalam perencanaan, kompensasi yang adil bagi masyarakat terdampak, dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar. Tanpa itu, gelombang penolakan hanya akan semakin besar.

    Bagi para pembuat kebijakan, survei ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa dipaksakan. Partisipasi publik dan kajian dampak lingkungan yang komprehensif harus menjadi prioritas. Mengabaikan suara warga sama saja dengan menabung masalah di masa depan.

    Data menunjukkan bahwa perlawanan terhadap pusat data adalah fenomena lintas generasi dan ideologi. Ini bukan sekadar gerakan NIMBY (Not In My Backyard) biasa, melainkan cerminan kekhawatiran mendalam tentang arah pembangunan ekonomi dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

    Di tengah euforia AI dan digitalisasi, suara warga yang menolak pusat data menjadi pengingat bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Kegagalan mendengar suara ini bisa berakibat fatal bagi industri dan pemerintah yang mengabaikannya.

    Kasus O’Leary di Utah mungkin baru awal dari gelombang perlawanan yang lebih besar. Jika tren ini berlanjut, industri data center harus mencari model baru yang lebih berkelanjutan dan diterima masyarakat. Atau, mereka harus siap menghadapi masa depan yang penuh gejolak.

    Bagi warga Indonesia, kisah ini layak dicermati. Dengan maraknya investasi pusat data di Jawa Barat dan Banten, pelajaran dari Amerika bisa menjadi panduan agar konflik serupa tidak terulang di sini. Keterbukaan, partisipasi, dan keadilan adalah kata kunci yang harus dipegang.

    Data survei Heatmap ini menjadi bukti bahwa opini publik bisa berubah drastis dalam waktu singkat. Perusahaan dan pemerintah yang tidak peka terhadap perubahan ini akan tertinggal. Di era informasi, suara warga adalah kekuatan yang tidak bisa diabaikan.

    Implikasi ekonomi dari perlawanan ini juga signifikan. Proyek yang tertunda atau dibatalkan berarti kerugian miliaran dolar bagi investor. Risiko regulasi dan reputasi kini menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap keputusan investasi di sektor data center.

    Pada akhirnya, pertarungan di Salt Lake City dan berbagai kota lain di Amerika adalah cerminan dari dilema besar zaman ini: bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Jawabannya belum jelas, tetapi satu hal pasti—status quo tidak lagi bisa dipertahankan.

    Seperti yang ditunjukkan data, publik telah berbicara dengan tegas. Kini, giliran industri dan pemerintah untuk mendengarkan dan bertindak. Masa depan pusat data tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan aspirasi masyarakat.

    Survei ini menjadi pengingat bahwa dalam demokrasi, suara warga adalah yang utama. Proyek sebesar apapun harus tunduk pada kehendak rakyat. Abai terhadap prinsip ini berarti mengundang kegagalan.

    Bagi para pemangku kepentingan di Indonesia, pesannya jelas: belajar dari pengalaman Amerika. Libatkan masyarakat sejak awal, transparan dalam setiap langkah, dan pastikan manfaat proyek dirasakan langsung oleh warga. Itulah satu-satunya jalan menuju pembangunan yang berkelanjutan dan diterima semua pihak.

    Data Heatmap ini mungkin baru awal dari perubahan besar dalam industri data center global. Gelombang penolakan yang melanda Amerika bisa menjadi preseden bagi negara lain, termasuk Indonesia. Waktunya untuk bertindak adalah sekarang, sebelum gelombang itu mencapai pantai kita.

    Kisah petani yang menolak jutaan dolar demi mempertahankan lahan mereka adalah simbol perlawanan yang inspiratif. Mereka membuktikan bahwa uang bukan segalanya, dan bahwa nilai-nilai komunitas serta lingkungan bisa lebih berharga dari tawaran investasi menggiurkan.

    Semoga pembelajaran dari Amerika ini bisa menjadi bahan refleksi bagi semua pihak. Masa depan ada di tangan kita bersama—dan pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan wajah dunia esok hari.

    Sumber: Futurism

  • Google Buka Fitur Profil Search untuk Kreator Besar di AS

    Google Buka Fitur Profil Search untuk Kreator Besar di AS

    JBNews.id — Google resmi meluncurkan fitur profil khusus di hasil pencarian bagi kreator konten dan penerbit besar di Amerika Serikat. Fitur ini memungkinkan mereka menampilkan video, artikel, dan tautan profil media sosial secara terpusat, memberikan kontrol lebih besar atas tampilan identitas digital mereka di mesin pencari.

    Fitur ini tidak tersedia untuk pengguna umum atau organisasi kecil. Google menetapkan ambang batas ketat: kreator harus memiliki setidaknya 100.000 pelanggan di YouTube, 100.000 pengikut di Instagram atau X, atau 300.000 pengikut di TikTok. Selain itu, pengguna harus berusia minimal 18 tahun untuk dapat membuat profil Search.

    Kebijakan ini menandai langkah Google dalam mengakomodasi kebutuhan kreator besar yang selama ini mengandalkan layanan link-in-bio seperti Linktree untuk mengagregasi berbagai platform digital mereka. Dengan profil Search, Google menawarkan alternatif yang terintegrasi langsung dengan hasil pencarian, mengurangi ketergantungan pada layanan pihak ketiga.

    Fitur dan Tampilan Profil Search

    Dalam video demonstrasi, Google menunjukkan bahwa profil Search dapat menampilkan beberapa elemen kunci. Pertama, tautan langsung ke situs web dan platform lain milik kreator. Kedua, ringkasan singkat tentang individu atau merek tersebut. Ketiga, konten yang disematkan (pinned media) dari platform seperti TikTok dan Instagram. Keempat, feed yang mengagregasi unggahan dari berbagai platform dalam satu tampilan.

    Fitur ini memberikan fleksibilitas bagi kreator untuk menyoroti konten terbaru atau paling relevan mereka langsung di halaman hasil pencarian Google. Ini berbeda dengan knowledge panel yang sudah ada sebelumnya, yang umumnya menampilkan informasi statis dan tidak dapat diedit langsung oleh subjeknya.

    Perbedaan dengan Knowledge Panel

    Google selama ini memiliki knowledge panel yang muncul untuk tokoh terkenal dan publikasi besar. Panel tersebut menampilkan informasi faktual seperti tanggal lahir, jabatan, dan tautan resmi, namun pengontrolannya terbatas. Profil Search yang baru justru memberikan kendali lebih besar kepada kreator dan penerbit atas apa yang ditampilkan.

    Mereka dapat memperbarui ringkasan, menyematkan konten terbaru, dan mengatur tautan sesuai keinginan. Hal ini menjadi solusi bagi kreator yang ingin memastikan informasi paling akurat dan relevan muncul pertama kali saat nama mereka dicari di Google.

    Langkah ini sejalan dengan upaya Google memberikan Kontrol Penuh kepada penerbit atas konten mereka di berbagai produk Google, termasuk AI Overviews. Dengan begitu, kreator dan penerbit memiliki suara lebih besar dalam ekosistem pencarian.

    Dampak bagi Kreator dan Penerbit

    Bagi kreator besar, fitur ini menjadi alat branding yang kuat. Mereka tidak lagi perlu menyebarkan tautan link-in-bio secara manual di setiap platform. Cukup dengan profil Search, audiens dapat menemukan semua konten dan tautan penting dalam satu tempat saat mencari nama kreator tersebut.

    Bagi penerbit, seperti The Verge yang telah membuat profil uji coba, fitur ini membantu meningkatkan visibilitas artikel dan video mereka di hasil pencarian. Ini menjadi nilai tambah di tengah persaingan ketat untuk mendapatkan perhatian audiens di era digital.

    Namun, keterbatasan akses hanya untuk kreator dengan pengikut besar menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitas. Kreator kecil dan menengah belum bisa menikmati fitur ini, setidaknya untuk saat ini. Google belum mengumumkan rencana perluasan fitur ke negara lain atau ke kreator dengan jumlah pengikut lebih sedikit.

    Implikasi bagi Ekosistem Digital

    Langkah Google ini dapat mengubah cara kreator dan penerbit mengelola kehadiran online mereka. Dengan menyediakan profil terpusat di hasil pencarian, Google secara tidak langsung bersaing dengan layanan link-in-bio yang populer seperti Linktree, yang selama ini menjadi andalan kreator untuk mengagregasi tautan.

    Keunggulan profil Search adalah integrasi langsung dengan mesin pencari terbesar di dunia. Kreator tidak perlu lagi mengarahkan audiens ke platform ketiga; cukup dengan pencarian nama, semua informasi tersaji. Ini meningkatkan efisiensi dan mengurangi gesekan bagi audiens yang ingin menjelajahi konten kreator.

    Di sisi lain, ketergantungan pada Google juga meningkat. Kreator harus mematuhi kebijakan Google dalam mengelola profil mereka, termasuk potensi perubahan algoritma atau persyaratan di masa depan. Ini menjadi pertimbangan penting bagi kreator yang ingin diversifikasi platform.

    Selain itu, fitur ini membuka peluang bagi kreator untuk memonetisasi kehadiran mereka di pencarian. Dengan profil yang lebih informatif dan menarik, kemungkinan klik dan interaksi dari audiens bisa meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan iklan atau kemitraan.

    Perkembangan ini juga relevan dengan inovasi lain di ranah teknologi, seperti pengembangan Cortex AI oleh Flourish AI yang meniru otak manusia. Keduanya menunjukkan bagaimana platform besar terus berinovasi untuk memberikan pengalaman lebih personal dan terintegrasi bagi pengguna.

    Persyaratan Teknis dan Ketersediaan

    Saat ini, fitur profil Search hanya tersedia untuk kreator dan penerbit di Amerika Serikat. Google belum memberikan jadwal pasti untuk ekspansi ke negara lain, termasuk Indonesia. Kreator di luar AS masih harus menunggu kebijakan lebih lanjut.

    Untuk memenuhi syarat, kreator harus memiliki akun yang memenuhi ambang batas pengikut di salah satu platform yang ditentukan: YouTube, Instagram, X, atau TikTok. Verifikasi identitas juga diperlukan, termasuk persyaratan usia minimal 18 tahun.

    Profil yang dibuat dapat disesuaikan dengan preferensi kreator, termasuk pemilihan tautan, ringkasan, dan konten yang disematkan. Google menyediakan antarmuka pengelolaan yang memudahkan pembaruan secara berkala.

    Bagi penerbit, fitur ini dapat menjadi alat untuk memperkuat branding dan distribusi konten. Mereka dapat menonjolkan artikel terbaru, video, serta tautan ke platform lain seperti podcast atau newsletter.

    Kreator yang tertarik dapat mendaftar melalui program Google yang relevan, meskipun detail teknis pendaftaran belum diumumkan secara luas. Google kemungkinan akan memperluas akses secara bertahap setelah evaluasi awal.

    Kesimpulan: Langkah Strategis Google

    Peluncuran profil Search bagi kreator besar dan penerbit di AS merupakan langkah strategis Google untuk memperkuat ekosistem pencariannya. Dengan memberikan kontrol lebih besar kepada subjek, Google tidak hanya meningkatkan kualitas informasi di hasil pencarian, tetapi juga menawarkan alternatif bagi layanan link-in-bio yang ada.

    Bagi kreator, fitur ini menjadi alat branding yang efektif untuk mengelola identitas digital mereka. Namun, keterbatasan akses hanya untuk segelintir kreator besar menunjukkan bahwa fitur ini masih dalam tahap awal pengembangan. Ke depannya, perluasan ke lebih banyak kreator dan negara akan menjadi indikator keberhasilan inisiatif ini.

    Seiring dengan perkembangan AI dan personalisasi pencarian, langkah Google ini juga selaras dengan tren memberikan Quantinuum IPO dan inovasi kuantum lainnya yang menuntut transparansi dan kontrol data lebih besar. Bagi pengguna, fitur ini berarti informasi tentang kreator favorit mereka akan lebih mudah diakses dan lebih akurat.

    Bagi industri kreator dan penerbit, ini adalah pengingat bahwa platform besar terus beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka yang dapat memanfaatkan fitur ini sejak awal akan memiliki keunggulan kompetitif dalam membangun merek di era pencarian yang semakin cerdas.

  • Robot Humanoid Diprediksi Dominasi Dunia pada 2035

    Robot Humanoid Diprediksi Dominasi Dunia pada 2035

    JBNews.id — Pasar robot humanoid diprediksi melonjak dari USD 2-3 miliar saat ini menjadi USD 200 miliar pada 2035, didorong oleh kesenjangan tenaga kerja struktural dan percepatan adopsi AI fisik. Proyeksi ini disampaikan oleh Barclays dalam laporan tematik terbaru yang dikutip dari CNBC Internasional.

    CEO Softbank, Masayoshi Son, sebelumnya menyatakan bahwa AI fisik dan robotika adalah bidang di mana perusahaan bernilai triliunan dolar berikutnya akan muncul. Pernyataan ini menegaskan optimisme industri terhadap masa depan robot humanoid yang dirancang meniru gerakan dan kemampuan manusia.

    Zornitza Todorova, Kepala Riset Tematik FICC di Barclays, menyebut saat ini adalah dekade robot. “Robotika humanoid benar-benar berada dalam tren menanjak. Ukuran pasar saat ini memang sangat kecil, sekitar 2 hingga 3 miliar dolar, tapi kami melihatnya akan naik menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035,” ucapnya.

    Kesenjangan Tenaga Kerja Jadi Pendorong Utama

    Menurut laporan Todorova, mesin-mesin tersebut dirancang mengisi kesenjangan tenaga kerja struktural, mengingat penuaan populasi, urbanisasi, dan perubahan preferensi pekerjaan menyisakan peran-peran kotor, membosankan, dan berbahaya yang sangat cocok diambil alih robot.

    “Mereka sudah melakukan tugas sederhana yang terdefinisi jelas seperti mengangkat kotak atau mengambil barang dari jalur perakitan, membantu mengisi peran di mana tidak banyak manusia bisa melakukan pekerjaan tersebut. Masih banyak yang harus dilakukan dan teknologinya berkembang sangat, sangat cepat,” tambahnya.

    Perkembangan ini sejalan dengan inovasi terbaru di industri, seperti Robot Amazon Proteus yang kini bisa diajak bicara, menunjukkan peningkatan kemampuan interaksi manusia-mesin.

    Dua Gelombang Pengerahan Humanoid

    Laporan Barclays memperkirakan akan ada dua gelombang pengerahan humanoid. Gelombang pertama sedang terjadi sekarang dan diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2030 di sektor-sektor seperti manufaktur, logistik, pertanian, dan konstruksi.

    Gelombang kedua akan terjadi setelah tahun 2030 di mana robot-robot tersebut dikerahkan di sektor-sektor seperti perawatan kesehatan, layanan lansia, pendidikan, dan perhotelan. Prediksi ini menunjukkan potensi besar untuk Robot Humanoid Tampil di berbagai ranah kehidupan, termasuk industri kreatif.

    “Saya rasa kita di ambang transformasi, kita baru menyentuh permukaan dari apa yang bisa dilakukan robot humanoid. Seiring matangnya teknologi, serta model yang lebih baik dan lebih cepat dalam bereaksi secara real time, saya pikir kita akan melihat banyak aplikasi dalam peran yang lebih berorientasi pada layanan,” lanjut Todorova.

    Dominasi China dalam Produksi Robot

    Laporan tersebut mencatat China adalah raksasa robotika yang memasang sekitar separuh dari seluruh robot industri secara global atau hampir 300.000 dibanding 34.000 di Amerika Serikat. China meningkatkan kepadatan robot sebesar 600% jadi hampir 500 robot per 10.000 pekerja.

    China juga mendominasi produksi robot humanoid. Negara itu memproduksi robot dengan biaya sekitar setengah dari pesaing Barat, biasanya di kisaran USD 50.000. Keunggulan biaya ini membuat China menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global robot humanoid. Inovasi juga terus berlanjut, seperti terlihat pada Kolaborasi Nvidia dan Unitree yang menciptakan robot humanoid H2 Plus.

    Jason Pidcock yang mengelola reksa dana Asian Income, mengatakan dalam satu dekade dunia akan benar-benar berbeda berkat perkembangan robotika.

    “Dalam 10 tahun ke depan, akan ada robot humanoid di mana-mana,” katanya. “Anda mungkin akan memilikinya satu di rumah. Anda pasti akan punya teman atau anggota keluarga yang punya robot humanoid. Pabrik-pabrik akan dipenuhi oleh mereka. Angkatan bersenjata hingga departemen pemerintahan akan dipenuhi oleh mereka,” lanjutnya.

    Proyeksi ini menunjukkan bahwa adopsi robot humanoid tidak hanya terbatas pada sektor industri, tetapi juga akan merambah ke kehidupan sehari-hari. Konsep Robot AI Peliharaan yang memahami emosi manusia menjadi contoh bagaimana teknologi ini bisa menjadi bagian dari keluarga.

    Implikasi bagi Pasar Tenaga Kerja dan Industri

    Pertumbuhan pasar robot humanoid yang eksponensial ini membawa implikasi signifikan bagi pasar tenaga kerja global. Peran-peran yang sebelumnya sulit diisi karena faktor bahaya, kebosanan, atau lokasi kini dapat dioptimalkan dengan robot humanoid.

    Bagi industri di Jawa Barat dan Banten yang memiliki basis manufaktur kuat, perkembangan ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Perusahaan perlu mulai mempertimbangkan integrasi robot humanoid dalam rantai produksi mereka untuk tetap kompetitif secara global.

    Di sisi lain, kebutuhan akan tenaga kerja terampil di bidang robotika dan AI akan meningkat drastis. Inisiatif seperti 450 Guru PAUD dan TK Jateng yang dibekali koding dan robotik menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi mendatang.

    Dengan biaya produksi yang terus menurun dan kemampuan teknologi yang meningkat pesat, prediksi Barclays bahwa pasar robot humanoid akan mencapai USD 200 miliar pada 2035 bukan lagi sekadar angan-angan. Dunia sedang berada di ambang revolusi robotika yang akan mengubah cara kita bekerja, hidup, dan berinteraksi.

  • Belkin Rilis Charging Grip dan Aksesori Pelindung untuk Nintendo Switch 2

    Belkin Rilis Charging Grip dan Aksesori Pelindung untuk Nintendo Switch 2

    JBNews.id — Belkin memperkenalkan jajaran aksesori terbaru untuk Nintendo Switch 2 yang dirancang untuk melindungi dan mengisi daya konsol genggam terbaru Nintendo tersebut. Produk unggulannya, Charging Grip dan Charging Case Pro, menawarkan solusi multitasking bagi pengguna yang ingin memperpanjang waktu bermain sambil meningkatkan ergonomi perangkat.

    Charging Grip dari Belkin kini tersedia melalui toko online resmi perusahaan dalam pilihan warna hitam, lilac, dan olive green dengan harga US$99,99. Aksesori ini dilengkapi baterai 10.000mAh yang dapat menambah waktu bermain hingga tiga atau empat jam tambahan. Baterai tersebut juga memberikan daya 30W melalui port USB-C di bagian atas konsol, karena Nintendo Switch 2 tidak mendukung pengisian daya nirkabel.

    Baterai magnetik 10.000mAh menempel di bagian belakang Switch 2, namun karena konsol ini tidak mendukung aksesori magnetik secara native, pengguna perlu menggunakan casing pelindung yang disertakan untuk memasangnya. Sebuah layar kecil pada baterai menunjukkan sisa daya yang tersisa, memberikan informasi penting bagi pengguna yang sedang bermain dalam perjalanan.

    Belkin menyatakan bahwa casing pelindung tersebut tidak menghalangi penggunaan kickstand Switch 2. Konsol juga masih dapat dimasukkan ke dalam TV dock dengan casing terpasang, selama baterai dilepas terlebih dahulu. Grip Joy-Con juga dapat digunakan dengan kontroler yang terlepas dari Switch 2 atau saat masih terpasang di konsol.

    Fitur Unggulan Charging Grip Belkin

    Charging Grip dirancang untuk meningkatkan ergonomi Switch 2 dengan bantalan nonslip yang lebih besar untuk kontroler Joy-Con. Ini menjadi solusi bagi pengguna yang merasa konsol standar kurang nyaman digenggam dalam sesi bermain yang panjang. Dengan tambahan baterai 10.000mAh, pengguna dapat menikmati waktu bermain lebih lama tanpa perlu mencari colokan listrik.

    Kombinasi antara daya tahan baterai dan kenyamanan genggaman menjadikan aksesori ini relevan bagi gamer yang sering bepergian. Belkin menawarkan tiga pilihan warna yang memberikan fleksibilitas estetika bagi pengguna yang ingin menyesuaikan tampilan konsol mereka.

    Charging Case Pro: Perlindungan dan Daya Sekaligus

    Selain Charging Grip, Belkin juga merilis Charging Case Pro yang dirancang untuk melindungi dan mengisi daya Switch 2 secara bersamaan. Aksesori ini memberikan perlindungan fisik terhadap benturan dan goresan, sekaligus menyediakan daya tambahan melalui baterai internal. Meskipun detail spesifik tentang kapasitas baterai dan harga belum diumumkan, produk ini menargetkan pengguna yang menginginkan solusi all-in-one.

    Langkah Belkin merilis aksesori untuk Switch 2 menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mendukung ekosistem Nintendo. Dengan harga US$99,99, Charging Grip bersaing dengan aksesori pihak ketiga lainnya yang menawarkan fitur serupa. Belkin mengandalkan reputasi kualitas dan desain yang telah terbukti di pasar aksesori teknologi.

    Dalam konteks industri yang lebih luas, inovasi aksesori seperti ini mencerminkan tren peningkatan produktivitas perangkat genggam. Perkembangan teknologi baterai dan ergonomi menjadi fokus utama bagi produsen aksesori yang ingin memenuhi kebutuhan gamer modern. Hal ini sejalan dengan perkembangan di sektor teknologi lain, seperti yang terlihat dalam Robot Amazon Proteus yang kini bisa diajak bicara, menunjukkan bagaimana interaksi manusia-mesin terus berevolusi.

    Dampak bagi Pengguna Switch 2

    Bagi pengguna Switch 2 di Indonesia, aksesori Belkin ini menawarkan solusi praktis untuk dua masalah utama: daya tahan baterai dan kenyamanan genggaman. Dengan harga US$99,99, Charging Grip menjadi investasi yang layak dipertimbangkan bagi gamer yang sering bermain dalam perjalanan atau sesi panjang di rumah.

    Namun, perlu dicatat bahwa ketersediaan di pasar Indonesia belum diumumkan. Pengguna mungkin perlu mengimpor produk ini melalui platform e-commerce internasional atau menunggu distributor resmi Belkin di Indonesia untuk membawanya masuk. Harga akhir di Indonesia kemungkinan akan lebih tinggi karena biaya impor dan pajak.

    Belkin juga menawarkan berbagai aksesori lain untuk Switch 2, termasuk pelindung layar, tas jinjing, dan kabel pengisi daya. Jajaran produk ini memberikan pilihan bagi pengguna yang ingin melengkapi konsol mereka dengan aksesori resmi berkualitas tinggi. Perusahaan terus memperluas portofolio aksesori gaming-nya seiring dengan pertumbuhan pasar konsol genggam.

    Dari sisi bisnis, langkah Belkin merilis aksesori untuk Switch 2 menunjukkan potensi pasar yang besar. Nintendo telah menjual jutaan unit Switch 2 sejak peluncurannya, menciptakan permintaan tinggi untuk aksesori pelindung dan pengisi daya. Belkin, sebagai pemain mapan di pasar aksesori, memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya.

    Dalam konteks yang lebih luas, inovasi aksesori ini mencerminkan bagaimana produsen beradaptasi dengan kebutuhan pengguna. Dengan fokus pada daya tahan baterai dan ergonomi, Belkin menjawab keluhan umum pengguna Switch 2 tentang masa pakai baterai yang terbatas dan desain yang kurang nyaman untuk sesi bermain panjang. Hal ini sejalan dengan perkembangan di industri lain, seperti yang terlihat dalam Krisis RAM dan Chipset yang mempengaruhi harga perangkat elektronik.

    Keputusan Belkin untuk menggunakan baterai 10.000mAh dengan pengisian 30W melalui USB-C adalah pilihan desain yang praktis. Meskipun Switch 2 tidak mendukung pengisian daya nirkabel, solusi kabel pendek yang terintegrasi memudahkan pengguna tanpa perlu membawa kabel tambahan. Layar kecil pada baterai juga memberikan informasi sisa daya yang berguna, fitur yang jarang ditemukan pada aksesori serupa.

    Dari segi ergonomi, grip Joy-Con yang lebih besar dengan bantalan nonslip meningkatkan kenyamanan genggaman. Ini penting bagi gamer yang sering bermain dalam sesi panjang, karena desain standar Switch 2 dapat menyebabkan kelelahan tangan. Belkin merancang grip ini agar dapat digunakan dengan kontroler yang terlepas atau terpasang, memberikan fleksibilitas maksimal.

    Belkin juga memastikan bahwa casing pelindungnya tidak mengganggu fungsionalitas utama Switch 2. Kickstand tetap dapat digunakan, dan konsol masih bisa dimasukkan ke TV dock dengan casing terpasang, asalkan baterai dilepas. Ini menunjukkan perhatian Belkin terhadap detail dan kebutuhan pengguna yang ingin melindungi perangkat tanpa mengorbankan fitur.

    Dalam jangka panjang, aksesori Belkin ini dapat memperpanjang umur pakai Switch 2 dengan memberikan perlindungan fisik terhadap benturan dan goresan. Casing pelindung juga melindungi konsol dari debu dan kotoran, menjaga kondisi perangkat tetap prima. Baterai eksternal mengurangi kebutuhan pengisian daya yang sering, yang dapat memperpanjang umur baterai internal.

    Belkin menawarkan garansi terbatas untuk aksesorinya, memberikan ketenangan pikiran bagi pengguna yang khawatir tentang kualitas produk. Perusahaan juga menyediakan dukungan pelanggan yang responsif, memudahkan pengguna yang mengalami masalah dengan produk mereka. Ini menjadi nilai tambah dibandingkan aksesori pihak ketiga murah yang mungkin tidak memiliki dukungan serupa.

    Dengan harga US$99,99, Charging Grip Belkin bersaing dengan aksesori serupa dari merek lain seperti PowerA dan Hori. Namun, reputasi Belkin dalam hal kualitas dan desain memberikan keunggulan kompetitif. Pengguna yang mengutamakan kualitas dan keandalan mungkin bersedia membayar lebih untuk produk Belkin.

    Bagi pengguna yang ingin menghemat biaya, ada alternatif aksesori yang lebih murah di pasaran. Namun, perlu diingat bahwa aksesori murah seringkali menggunakan bahan berkualitas rendah dan tidak memiliki fitur keamanan yang memadai. Belkin, dengan pengalamannya di pasar aksesori, menawarkan produk yang telah teruji dan memenuhi standar keamanan.

    Keputusan Belkin untuk merilis aksesori Switch 2 juga mencerminkan optimisme terhadap masa depan konsol ini. Nintendo telah mengonfirmasi bahwa Switch 2 akan didukung dengan game-game eksklusif dan fitur-fitur baru, yang akan terus mendorong permintaan aksesori. Belkin, dengan portofolio aksesorinya, siap memenuhi kebutuhan pengguna yang terus berkembang.

    Dalam industri yang terus berubah, adaptasi terhadap teknologi baru menjadi kunci kesuksesan. Hal ini juga terlihat dalam Raffi Ajak Masyarakat Tak Takut AI, di mana adaptasi dianggap sebagai kunci kemajuan. Belkin, dengan merilis aksesori inovatif untuk Switch 2, menunjukkan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

    Kesimpulannya, Belkin telah merilis jajaran aksesori untuk Nintendo Switch 2 yang menawarkan solusi perlindungan dan pengisian daya. Charging Grip dengan baterai 10.000mAh dan harga US$99,99 menjadi pilihan utama bagi pengguna yang ingin memperpanjang waktu bermain dan meningkatkan kenyamanan. Dengan tiga pilihan warna dan desain yang praktis, aksesori ini layak dipertimbangkan bagi pemilik Switch 2 yang mengutamakan kualitas dan fungsionalitas.

  • Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi Dimulai pada 2026

    Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi Dimulai pada 2026

    JBNews.id — Perusahaan farmasi Jepang, Toregem Biopharma, mengumumkan rencana untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia untuk terapi regenerasi gigi pada tahun 2026. Langkah ini didukung pendanaan segar senilai sekitar USD 5,3 juta yang akan mempercepat pengembangan klinis teknologi tersebut.

    Pada tahun 2023, Toregem mengumumkan temuan baru untuk menghambat gen yang bertanggung jawab menekan pertumbuhan gigi. Temuan ini membuka jalan bagi pendekatan revolusioner di bidang kedokteran gigi yang sebelumnya dianggap mustahil: menumbuhkan gigi hidup baru untuk menggantikan gigi yang rusak.

    “Tujuan akhir kami adalah menawarkan solusi klinis yang maju dan berbasis ilmiah untuk pertumbuhan gigi yang berasal dari jaringan pasien sendiri,” kata Presiden Toregem, Honoka Kiso, dalam pernyataan resmi pada 2023.

    Pendekatan ini merupakan terobosan radikal dalam dunia kedokteran gigi yang selama ini hanya menawarkan opsi terbatas seperti gigi palsu atau implan. “Gagasan menumbuhkan gigi baru adalah impian setiap dokter gigi,” ujar salah satu pendiri sekaligus peneliti utama Toregem, Katsu Takahashi, kepada surat kabar Jepang The Mainichi pada tahun yang sama.

    Pendanaan dan Rencana Uji Klinis

    Dengan dana segar sekitar USD 5,3 juta yang berhasil dikumpulkan dalam putaran pendanaan terbaru, Toregem menyatakan akan “lebih mempercepat pengembangan klinis” terapinya. Perusahaan berencana melaksanakan uji klinis fase kedua yang melibatkan partisipan manusia di Jepang.

    Meski demikian, siaran pers perusahaan belum mengungkapkan jadwal pasti kapan uji coba akan dimulai. Toregem masih berada pada tahap awal pengembangan perawatan ini. Namun, terdapat sejumlah tanda yang mendukung optimisme terhadap teknologi ini.

    Dalam sebuah studi pada tahun 2021, perusahaan mendemonstrasikan bahwa antibodi penetralnya dapat menekan protein yang disebut USAG-1, yang menghambat pertumbuhan tunas gigi. Perusahaan mengklaim telah berhasil memulihkan gigi pada tikus yang lahir tanpa gigi akibat defisiensi gen Runx2, gen “sakelar utama” yang berperan penting dalam perkembangan kerangka dan gigi.

    Pada studi tahun 2024, perusahaan berargumen bahwa pendekatan yang sama dapat bekerja pada manusia. Uji klinis fase pertama, yang melibatkan partisipan pria dewasa, telah menguji keamanan pendekatan ini pada tahun sebelumnya, namun hasil akhirnya masih menunggu.

    Mekanisme Kerja Terapi Regenerasi Gigi

    Terapi yang dikembangkan Toregem bekerja dengan cara menghambat gen yang menekan pertumbuhan gigi. Secara spesifik, antibodi penetral yang dikembangkan perusahaan dapat menekan protein USAG-1, yang secara alami menghambat pertumbuhan tunas gigi pada manusia dan hewan.

    Dengan menonaktifkan protein penghambat ini, tubuh dapat mengaktifkan kembali mekanisme alami pertumbuhan gigi yang biasanya hanya aktif selama masa perkembangan anak-anak. Pendekatan ini berbeda secara fundamental dengan implan gigi yang bersifat mekanis dan tidak menggantikan jaringan hidup.

    Keberhasilan pada model tikus menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat memicu pertumbuhan gigi baru dari jaringan sendiri, bukan sekadar mengganti struktur gigi yang hilang dengan material buatan. Jika berhasil pada manusia, terapi ini dapat menjadi solusi permanen bagi pasien yang kehilangan gigi akibat cedera, penyakit, atau faktor usia.

    Tantangan dan Keraguan Ahli

    Meskipun prospeknya menjanjikan, para ahli masih memiliki keraguan apakah pendekatan ini benar-benar dapat bekerja pada manusia. Mary MacDougall, dekan fakultas kedokteran gigi Universitas British Columbia, menyampaikan beberapa catatan penting kepada New Scientist tahun lalu.

    Pertama, pendekatan ini mungkin hanya efektif pada anak-anak yang masih memiliki banyak sel epitel gigi. Sel-sel ini memainkan peran fundamental dalam perkembangan gigi. Orang dewasa yang kehilangan gigi dan kekurangan sel-sel tersebut mungkin tidak akan mendapatkan manfaat yang sama.

    Kedua, MacDougall berargumen bahwa mengarahkan obat untuk bekerja pada satu gigi tertentu mungkin tidak memungkinkan. Hal ini berpotensi memicu pertumbuhan gigi yang tidak diinginkan di beberapa gigi sekaligus.

    Meskipun demikian, implikasi dari terapi yang memungkinkan manusia menumbuhkan kembali gigi sangatlah besar. Bahkan kemungkinan keberhasilannya sudah cukup beralasan untuk dilakukan investigasi menyeluruh.

    Sementara Toregem menargetkan membawa terapinya ke pasar pada tahun 2030, masih banyak penelitian dan pengujian yang harus dilakukan. Perkembangan ini sejalan dengan tren inovasi di bidang bioteknologi dan robotika, seperti penggunaan robot humanoid di berbagai sektor.

    Implikasi bagi Industri Kedokteran Gigi

    Jika terapi regenerasi gigi ini berhasil, dampaknya akan sangat luas bagi industri kedokteran gigi global. Pasar implan gigi dan gigi palsu yang bernilai miliaran dolar dapat mengalami disrupsi signifikan. Pasien tidak lagi harus bergantung pada material buatan yang memerlukan perawatan dan penggantian berkala.

    Dari sisi biaya, terapi regeneratif mungkin menawarkan solusi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang. Meskipun biaya awal pengembangan dan pengobatan diperkirakan tinggi, pasien tidak perlu lagi menjalani prosedur penggantian implan setiap beberapa tahun.

    Perkembangan ini juga menarik perhatian para pelaku industri teknologi, mengingat pendekatan serupa dalam pengembangan teknologi canggih juga memerlukan investasi besar dan kolaborasi multidisiplin.

    Prospek Masa Depan

    Terapi regenerasi gigi Toregem masih menghadapi jalan panjang sebelum dapat digunakan secara luas. Uji klinis fase kedua yang direncanakan akan menjadi tonggak penting untuk membuktikan efektivitas pendekatan ini pada manusia.

    Jika hasil uji coba positif, perusahaan akan melanjutkan ke fase uji klinis lebih lanjut dan proses regulasi sebelum produk dapat dipasarkan. Target tahun 2030 masih realistis mengingat kemajuan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir.

    Bagi pasien yang kehilangan gigi, terapi ini menawarkan harapan baru. Tidak lagi harus memilih antara gigi palsu yang tidak nyaman atau implan yang mahal dan invasif, pasien mungkin suatu hari bisa menumbuhkan gigi baru yang sepenuhnya alami.

    Perkembangan di bidang regenerasi gigi ini juga menunjukkan bagaimana bioteknologi modern terus mendorong batas-batas pengobatan konvensional. Inovasi serupa juga terlihat di bidang robotika, di mana regulasi baru mulai diterapkan untuk mengakomodasi kemajuan teknologi.

    Kesimpulannya, meskipun masih terdapat keraguan dan tantangan, langkah Toregem untuk memulai uji klinis fase kedua pada manusia menandai babak baru dalam upaya mewujudkan regenerasi gigi sebagai solusi nyata bagi pasien di seluruh dunia. Industri kedokteran gigi dan pasien sama-sama menanti hasil uji coba ini dengan penuh antisipasi.

  • Meta Kembangkan Fitur Pengenalan Wajah untuk Kacamata Pintar

    Meta Kembangkan Fitur Pengenalan Wajah untuk Kacamata Pintar

    JBNews.id — Meta diam-diam mengintegrasikan fitur pengenalan wajah bernama “NameTag” ke dalam aplikasi pendamping kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley, meskipun perusahaan tersebut secara publik menyatakan masih mempertimbangkan teknologi ini. Kode yang ditemukan oleh WIRED dalam pembaruan aplikasi Meta AI sepanjang tahun ini mengungkapkan bahwa komponen inti sistem telah dikirimkan ke jutaan perangkat pengguna sejak Januari 2026.

    Fitur yang belum diaktifkan ini berada di dalam aplikasi Meta AI yang telah diunduh lebih dari 50 juta kali. Jika diaktifkan, NameTag akan mengubah wajah yang ditangkap kamera kacamata pintar menjadi tanda tangan biometrik unik, atau yang dikenal sebagai faceprints, dan mencocokkannya dengan database di ponsel pengguna. Wajah yang dikenali akan memicu notifikasi, sementara yang lainnya akan dipotong, diindeks, dan disimpan ke folder “pending”.

    Temuan ini menghidupkan kembali teknologi yang dianggap Meta telah dihentikan pada 2021, ketika perusahaan mengumumkan akan menghapus lebih dari satu miliar faceprints milik pengguna Facebook. Keputusan itu diambil setelah bertahun-tahun kontroversi atas sistem penandaan foto otomatisnya. Meta akhirnya membayar $650 juta untuk menyelesaikan gugatan class-action dari pengguna Illinois dan, pada 2024, menyetujui penyelesaian terpisah senilai $1,4 miliar dengan Texas atas tuduhan pengumpulan data biometrik ilegal.

    WIRED berbagi temuan ini dengan dua peneliti keamanan eksternal yang secara independen memeriksa aplikasi dan mereproduksi aspek kunci analisis: Cooper Quintin dari Electronic Frontier Foundation dan seorang peneliti anonim bernama Buchodi. “Fitur ini belum terbuka untuk konsumen tetapi tampaknya hampir siap diluncurkan,” kata Quintin. “Meskipun ada miliaran alasan untuk tidak melakukannya, Meta tampaknya telah menciptakan kapasitas untuk mengubah pelanggan mereka menjadi mesin pengawasan terdistribusi.”

    Buchodi menjalankan tes tambahan pada jalur pengenalan. Setelah menambahkan satu faceprint dari filsuf Michel Foucault ke galeri aplikasi dan memicu NameTag, aplikasi menghasilkan notifikasi: “Person recognized.” “Komponen utama dari fitur pengenalan wajah sudah ada di aplikasi pendamping Meta,” kata Buchodi. “Tidak banyak yang tersisa antara ini dan fitur yang berfungsi penuh.”

    Pada April 2026, lebih dari 70 kelompok advokasi—termasuk American Civil Liberties Union, Electronic Privacy Information Center, dan Fight for the Future—menuntut Meta membatalkan NameTag, memperingatkan bahwa fitur ini akan memungkinkan penguntit dan pelaku kekerasan mengidentifikasi orang asing di tempat umum secara diam-diam. “Pesaing kami menawarkan produk pengenalan wajah seperti ini, kami tidak,” kata juru bicara Meta kepada WIRED saat itu. “Jika kami akan merilis fitur seperti itu, kami akan mengambil pendekatan yang sangat hati-hati sebelum meluncurkannya.”

    Tiga model AI yang mendukung NameTag telah diterapkan dari server Meta dan sekarang berada di ponsel pelanggan. Satu model mendeteksi wajah, satu memotongnya, dan satu lagi mengkodekannya menjadi data biometrik. Hanya jejak antarmuka pengguna yang saat ini ada, mengisyaratkan bagaimana fitur ini pada akhirnya akan bekerja. Versi Mei dari aplikasi mengganti nama fitur untuk pengguna sebagai “Connections”, mengundang mereka untuk “mengingat orang yang Anda temui.” Masih belum jelas wajah siapa yang akan dimasukkan dalam database pengenalan sistem, bagaimana profil tersebut dibuat, atau berapa banyak orang yang pada akhirnya dapat diidentifikasi.

    Joseph Jerome, mantan pejabat kebijakan Meta Reality Labs yang bekerja pada tinjauan privasi untuk produk AR dan VR, mengatakan bahwa dengan menanamkan pengenalan wajah ke platform wearable massal, Meta bisa menormalisasi kemampuan yang sebelumnya ditarik karena masalah privasi. “Saya tidak tahu bagaimana Meta dapat secara bertanggung jawab menerapkan teknologi seperti ini,” kata Jerome. “Anda menetapkan norma dan standar dengan menempatkan teknologi ke dalam ekosistem.”

    Meta sendiri membantah tuduhan tersebut. “Terlepas dari laporan sensasional apa pun, faktanya sederhana: Kami telah mengatakan sebelumnya bahwa kami sedang mengeksplorasi jenis fitur ini, dan apa yang Anda lihat hanyalah bukti dari eksplorasi itu,” kata juru bicara Meta Ryan Daniels. “Tidak ada yang dikirimkan ke konsumen dan tidak ada keputusan akhir yang dibuat tentang apa yang harus dilakukan di sini, jika ada. Jika kami memutuskan untuk meluncurkan sesuatu, kami akan mengambil pendekatan yang bijaksana dan melakukannya dengan transparansi penuh. Satu keputusan yang bisa kami jelaskan—kami tidak membangun database wajah terpusat.”

    Tinjauan kode WIRED menunjukkan sistem NameTag saat ini dirancang untuk menarik faceprints dari server Meta dan menyimpannya di perangkat pengguna. Meta sendiri sudah memiliki pengalaman panjang dengan teknologi ini. Sistem sebelumnya, diumumkan oleh Facebook pada 2010, menganalisis foto dan menyarankan tag untuk orang yang muncul di gambar pengguna. Sistem itu dengan cepat mencapai lebih dari satu miliar pengguna dan menjadi salah satu sistem pengenalan wajah konsumen terbesar yang pernah diterapkan.

    Teknologi ini menarik pengawasan hampir seketika. Regulator Eropa dan advokat privasi di AS mempertanyakan legalitasnya sejak 2011, dan ada kekhawatiran tentang apakah pengguna telah secara bermakna menyetujui pembuatan data biometrik. Pada 2019, Meta membayar $5 miliar ke Federal Trade Commission dan Department of Justice untuk menyelesaikan kasus privasi yang lebih luas yang mencakup masalah pengenalan wajah. Pada November 2021, Meta mengumumkan akan mematikan sistem dan menghapus template wajah yang telah dibangun, dengan alasan kekhawatiran yang berkembang tentang peran pengenalan wajah di masyarakat.

    Namun, keputusan itu tidak pernah dipahami secara internal sebagai mundur permanen, kata Jerome, yang bergabung dengan Reality Labs pada pertengahan 2021. “Selalu ada ketegangan ini, kapan kita akan meluncurkan kembali pengenalan wajah?” Pada 2025, menurut dokumen internal yang ditinjau oleh The New York Times, Meta berencana untuk memperkenalkan pengenalan wajah pada kacamata pintarnya kepada peserta konferensi untuk tunanetra sebelum membuatnya tersedia untuk masyarakat umum. Itu tidak pernah terjadi.

    Teknologi ini sebenarnya menjawab permintaan nyata. Perangkat bantu yang ada sudah memungkinkan pengguna tunanetra mengidentifikasi wajah yang telah mereka daftarkan secara pribadi. Sebuah studi 2018 oleh Cornell Tech dan peneliti Facebook menemukan bahwa setiap peserta menyebut mengenali orang sebagai tugas harian yang penting. Meta tidak menanggapi pertanyaan tentang pengguna mana yang mungkin dapat diidentifikasi melalui NameTag; apakah perusahaan bermaksud agar foto, faceprints, atau data lain yang dihasilkan oleh sistem pernah ditransmisikan kembali ke servernya; atau apakah perusahaan memiliki rencana untuk memungkinkan pengguna memilih masuk daripada keluar.

    EssilorLuxottica, yang memproduksi kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley bersama Meta, tidak menanggapi permintaan komentar. Woodrow Hartzog, profesor hukum privasi di Boston University, mengatakan bahkan perlindungan opt-in—jika Meta akhirnya menawarkannya—akan tipis. Persetujuan, katanya, sering dapat dikaitkan dengan pekerjaan, manfaat, atau akses ke layanan. Membingkai privasi sebagai masalah pilihan pribadi menguntungkan bisnis, tanpa memberikan batasan yang berarti pada pengumpulan sambil membiarkan perusahaan mengklaim pengguna memegang kendali.

    “Kita tahu bahwa semakin banyak sistem ini diterapkan, semakin banyak orang mulai melihatnya sebagai sesuatu yang biasa,” kata Hartzog. “Dan semakin kita melihatnya sebagai sesuatu yang biasa dan rutin, semakin orang cenderung mulai mengambil isyarat moral mereka tentang apakah diinginkan atau baik untuk memindai wajah Anda. Itu hanya psikologi manusia.”

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa Meta kembali serius mengembangkan teknologi pengenalan wajah meskipun menghadapi tekanan regulasi dan publik yang besar. Dengan basis pengguna lebih dari 50 juta dan integrasi ke perangkat wearable, potensi dampak dari fitur ini sangat luas. Para pengamat industri dan advokat privasi kini menunggu langkah selanjutnya dari Meta, sementara perusahaan tersebut terus mengklaim bahwa mereka masih dalam tahap eksplorasi. Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI dan teknologi terkini, simak artikel tentang Spesifikasi Open Source untuk keamanan siber dan Tes Urine Deteksi autisme pada anak.

  • Dokumenter TikTok Ungkap Drama Politik di Balik Ancaman Larangan

    Dokumenter TikTok Ungkap Drama Politik di Balik Ancaman Larangan

    JBNews.id — Sebuah film dokumenter berjudul An All-American Tale yang disutradarai oleh sineas peraih Emmy, Hao Wu, mengupas enam tahun perjalanan politik dan hukum yang nyaris melarang TikTok beroperasi di Amerika Serikat. Film ini tayang perdana pada Kamis di Tribeca Film Festival dan menyajikan perspektif unik dari para kreator konten yang hidupnya terikat erat dengan nasib aplikasi video pendek tersebut.

    Dokumenter ini mengikuti tiga kreator TikTok—Steven King, Chloe Sexton, dan Topher Townsend—yang mewakili lebih dari 200 juta pengguna TikTok di AS. Mereka berasal dari latar belakang geografis dan politik yang sangat berbeda: Arizona, Tennessee, dan Mississippi. Satu di antaranya adalah pendukung setia Partai Demokrat, satu lagi adalah influencer Partai Republik yang sedang naik daun, dan yang ketiga hanya membuat konten non-politik yang lucu. “Dengan cara tertentu, TikTok melakukan penyaringan awal untuk kami,” kata Wu dalam sebuah wawancara.

    Kamera Wu merekam momen-momen penting, termasuk satu hari di tahun 2025 ketika TikTok sempat gelap di AS sebagai bentuk protes terhadap rencana larangan yang akan segera diberlakukan oleh pemerintahan Biden. Penonton film dapat menyaksikan detik-detik tepat ketika aplikasi tersebut menghilang bagi pengguna Amerika dan reaksi langsung para kreator.

    Kisah larangan TikTok berlangsung panjang dan berliku. Ia melewati perdebatan dan pertempuran yang tak terhitung jumlahnya saat melintasi Kongres, Mahkamah Agung, dan Gedung Putih. Aplikasi ini berubah dari isu kesayangan Trump, menjadi titik konsensus bipartisan yang langka di bawah Biden, lalu menjadi sesuatu yang sangat ditentang Trump, sebelum akhirnya menjadi alat tawar-menawar dalam perang dagang AS-China.

    Kisah yang Lebih Amerika daripada China

    Wu sebelumnya bekerja di industri teknologi China sebelum beralih menjadi pembuat film dokumenter. Film sebelumnya, People’s Republic of Desire, adalah gambaran intim tentang industri livestreaming China yang saat itu sedang berkembang pesat, yang mendahului kesuksesan TikTok dan video pendek di AS. Karena latar belakang pribadi dan profesional Wu, banyak yang memperkirakan filmnya akan membahas asal-usul TikTok dari China secara detail, tetapi ternyata tidak.

    Wu mengatakan keputusan itu diambil karena kisah tentang larangan TikTok lebih bersifat Amerika daripada China. “Film ini menjadi tentang bagaimana orang Amerika, berbagai tipe orang Amerika, berdebat satu sama lain mengenai isu ini. Ini sebenarnya bukan tentang apa yang TikTok lakukan atau tidak lakukan. Ini tentang apa yang orang Amerika persepsikan tentang TikTok yang telah dilakukan atau tidak dilakukan,” ujar Wu. Meskipun kepemilikan TikTok di China menjadikannya pariah politik, pemerintah AS tidak pernah benar-benar berusaha membuktikan di pengadilan bahwa aplikasi itu menimbulkan bahaya konkret.

    Film ini juga menyoroti bagaimana TikTok menjadi kendaraan bagi berbagai kelompok di AS untuk memproyeksikan kecemasan mereka tentang media sosial, keselamatan anak, disinformasi, dan ekstremisme. “Saya ingin orang-orang benar-benar berpikir tentang bagaimana kita masih ingin menjunjung tinggi cita-cita kebebasan berbicara secara online atau marketplace of ideas,” kata Wu. “Dalam beberapa hal, saya merasa melalui semua perdebatan ini, kita melepaskan cita-cita itu. Tapi itu terjadi secara bertahap.”

    Ketika Politik Mengalahkan Kebenaran

    Ketika Wu memutuskan untuk membuat dokumenter TikTok, ia awalnya mengira itu akan menjadi diskusi kutu buku lainnya tentang prinsip-prinsip hukum. Namun, setelah bagian Mahkamah Agung dari kisah TikTok selesai, Wu mulai mempertanyakan mengapa Trump berusaha keras menyelamatkan TikTok dan mengorbankan sebagian modal politiknya serta membuat marah beberapa sekutu Republikan dalam prosesnya.

    Salah satu protagonis film, Chloe Sexton, juga bertanya-tanya tentang hal yang sama. Ia membangun pengikut dengan berbicara tentang pengalamannya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dan dipecat dari pekerjaannya saat hamil. Setelah berjuang mati-matian untuk mempertahankan TikTok di AS, kekuatan paling kuat yang membantunya ternyata adalah Trump, seorang politisi yang sangat ia lawan. Di akhir film, Sexton terdengar nihilistik tentang perjuangan itu dan mempertanyakan apakah satu-satunya hal yang penting pada akhirnya adalah politik Washington.

    Wu mengatakan bahwa memasukkan perubahan hati Sexton adalah pilihan yang disengaja. “Saya pikir saya ingin menggunakan kata-kata itu untuk menyampaikan peringatan saya kepada orang-orang yang begitu bersemangat dalam mendukung regulasi media sosial. Banyak keputusan di balik itu dimotivasi oleh masalah uang, kekuasaan, atau politik,” katanya. Film ini berhasil memberikan makna dari kekacauan yang terjadi selama bertahun-tahun. “Sebagai pembuat film, niat saya adalah membuat orang kembali dan menghidupkan kembali pengalaman itu, dan berpikir tentang apa yang diungkapkan oleh pengalaman itu,” pungkas Wu.

    Bagi pengguna media sosial di Indonesia, kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi platform digital yang seimbang. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong komitmen platform digital untuk melindungi pengguna, terutama anak-anak, dengan tenggat waktu yang ketat.