Blog

  • Fitur Galaxy AI Terbaru di Samsung Galaxy Z Fold8

    Fitur Galaxy AI Terbaru di Samsung Galaxy Z Fold8

    JBNews.id — Samsung resmi menghadirkan Galaxy AI dengan sejumlah fitur baru pada perangkat foldable terbarunya, Galaxy Z Fold8. Melalui pembaruan One UI 8, kecerdasan buatan ini dirancang untuk mendukung produktivitas, kreativitas, dan komunikasi pengguna secara lebih terintegrasi.

    Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di smartphone kini tidak lagi hanya menjadi fitur tambahan. Teknologi AI mulai digunakan untuk membantu berbagai aktivitas pengguna, mulai dari bekerja, mencari informasi, membuat konten, hingga berkomunikasi. Samsung menjadi salah satu produsen yang terus mengembangkan kemampuan AI melalui ekosistem Galaxy AI.

    Melalui pembaruan One UI 8, Samsung menghadirkan berbagai peningkatan berbasis AI dengan pengalaman yang lebih terintegrasi pada perangkat Galaxy. Dikutip dari laman resmi Samsung Newsroom, One UI 8 membawa kemampuan AI multimodal yang memungkinkan perangkat memahami berbagai jenis input, termasuk teks, gambar, dan suara.

    Pada perangkat foldable seperti Samsung Galaxy Z Fold8, kemampuan Galaxy AI mendapatkan ruang lebih luas berkat desain layar lipat yang mendukung multitasking. Dengan layar besar, pengguna dapat memanfaatkan fitur AI sambil tetap menjalankan aktivitas lain secara bersamaan, mulai dari merangkum catatan, menerjemahkan percakapan, mengedit foto, hingga membantu membuat konten visual.

    Salah satu keunggulan utama perangkat foldable adalah fleksibilitas layar yang memberikan ruang lebih luas dibanding smartphone konvensional. Pada Galaxy Z Fold8, layar besar memungkinkan pengguna memanfaatkan fitur Galaxy AI dengan cara yang lebih produktif. Pengguna tidak hanya memakai AI dalam satu aplikasi, tetapi juga dapat menggabungkannya dengan aktivitas lain melalui kemampuan multitasking.

    Berikut daftar fitur Galaxy AI terbaru yang dapat mendukung pengalaman pengguna di Samsung Galaxy Z Fold8.

    1. AI Productivity untuk Multitasking Lebih Pintar

    Berdasarkan informasi resmi Samsung mengenai Galaxy Z Fold8, Samsung membawa peningkatan kemampuan AI yang mendukung aktivitas produktivitas pengguna. Dengan layar besar khas perangkat foldable, fitur berbasis AI dapat digunakan bersama kemampuan multitasking seperti membuka beberapa aplikasi dalam satu tampilan.

    Pengguna dapat membuka aplikasi catatan sambil mencari informasi, membaca dokumen sambil membuat rangkuman, atau mengelola pekerjaan tanpa harus berpindah aplikasi secara berulang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu keunggulan utama perangkat foldable karena layar besar memberikan ruang kerja yang lebih fleksibel.

    2. My FanCam Bantu Mengikuti Subjek dalam Video

    Fitur My FanCam di Galaxy Z Fold8 menjadi salah satu kemampuan AI yang membantu pengguna menjaga fokus terhadap subjek tertentu dalam video. Fitur ini memungkinkan pengguna memilih subjek dalam rekaman, kemudian AI membantu menyesuaikan framing agar objek tersebut tetap menjadi fokus utama. Kemampuan ini dapat membantu pengguna ketika merekam berbagai aktivitas seperti acara keluarga, konser, maupun momen sehari-hari yang melibatkan banyak orang.

    3. Photo Assist Edit Foto dengan Bantuan AI

    Kemampuan AI Samsung juga hadir untuk kebutuhan fotografi melalui fitur Photo Assist. Photo Assist membantu pengguna melakukan pengeditan gambar dengan bantuan AI. Salah satu kemampuan yang tersedia adalah Sketch to Image, yang memungkinkan pengguna mengubah sketsa sederhana menjadi gambar berbasis AI. Pada Galaxy Z Fold8, pengalaman mengedit foto menjadi lebih nyaman karena layar utama yang luas memberikan ruang lebih besar untuk melihat detail gambar dan hasil pengeditan.

    4. Interpreter Mode Terjemahkan Percakapan Secara Real-Time

    Salah satu kemampuan Galaxy AI yang membantu komunikasi adalah Interpreter Mode. Fitur ini memungkinkan pengguna menerjemahkan percakapan dengan bahasa berbeda secara lebih praktis. Pada Galaxy Z Fold8, layar besar memberikan pengalaman yang lebih nyaman ketika digunakan untuk percakapan dua arah karena informasi terjemahan dapat terlihat lebih jelas. Fitur ini dapat membantu pengguna ketika bepergian ke luar negeri, melakukan komunikasi bisnis, maupun berinteraksi dengan orang dari berbagai negara.

    5. Note Assist Rapikan Catatan Secara Otomatis

    Bagi pengguna yang sering mencatat informasi penting, Note Assist menjadi salah satu fitur Galaxy AI yang dapat membantu aktivitas menjadi lebih praktis. Fitur ini dapat membantu merangkum catatan panjang, menyusun informasi agar lebih rapi, hingga membantu pengguna menemukan poin penting dari sebuah catatan. Dikutip dari laman resmi Samsung, kemampuan Galaxy AI pada One UI 8 dirancang untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai aktivitas dengan lebih efisien, termasuk mengelola informasi dan meningkatkan produktivitas.

    6. Circle to Search Cari Informasi Tanpa Keluar Aplikasi

    Fitur Circle to Search membantu pengguna mencari informasi dari objek atau teks yang muncul di layar tanpa harus berpindah aplikasi. Pengguna cukup melingkari objek tertentu yang ingin dicari untuk mendapatkan informasi terkait. Misalnya, ketika melihat sebuah produk, lokasi, atau objek menarik dalam sebuah gambar maupun video, pengguna dapat langsung melakukan pencarian tanpa harus menutup aplikasi yang sedang digunakan. Pada Galaxy Z Fold8, fitur ini semakin menarik karena layar yang luas memberikan ruang lebih nyaman untuk melihat konten sekaligus melakukan pencarian.

    7. Sketch to Image Ubah Ide Sederhana Menjadi Visual

    Bagi pengguna yang gemar mengeksplorasi kreativitas, Sketch to Image menjadi salah satu fitur Galaxy AI yang dapat membantu mengembangkan ide visual. Sketch to Image memungkinkan pengguna mengubah gambar sederhana atau sketsa menjadi visual dengan bantuan AI. Pengguna dapat membuat coretan awal, kemudian AI membantu menghasilkan gambar berdasarkan ide tersebut. Fitur ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membuat konsep desain sederhana, ilustrasi, hingga mengeksplorasi ide kreatif.

    8. Writing Assist Bantu Menulis Lebih Efisien

    Selain membantu aktivitas visual, Galaxy AI juga mendukung kebutuhan menulis melalui fitur Writing Assist. Fitur ini dapat membantu pengguna menyusun tulisan, memperbaiki gaya bahasa, hingga membuat format tulisan lebih sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan tersebut dapat membantu pengguna ketika membuat email, dokumen pekerjaan, maupun konten digital. Dengan dukungan layar besar Galaxy Z Fold8, pengguna dapat memanfaatkan Writing Assist sambil membuka aplikasi lain untuk mencari referensi atau melihat informasi pendukung.

    Galaxy AI Bukan Sekadar Teknologi Tambahan

    Kehadiran Galaxy AI membuat perangkat foldable seperti Samsung Galaxy Z Fold8 memiliki fungsi yang lebih luas dibanding smartphone dengan layar biasa. Kombinasi layar lipat, kemampuan multitasking, dan fitur AI memberikan pengalaman berbeda bagi pengguna yang membutuhkan perangkat untuk produktivitas maupun kreativitas. Terlebih lagi, One UI 8 menghadirkan pengalaman Galaxy AI yang lebih terintegrasi dengan berbagai perangkat Galaxy.

    Samsung menekankan bahwa perkembangan AI diarahkan untuk membantu pengguna melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan personal. Pada Galaxy Z Fold8, keunggulan tersebut semakin terlihat karena format foldable memberikan ruang lebih besar untuk memanfaatkan fitur AI secara bersamaan dengan aktivitas lain. Mulai dari mencatat, mencari informasi, menerjemahkan percakapan, hingga membuat konten, Galaxy AI hadir sebagai fitur pendukung yang membantu pengguna menyelesaikan lebih banyak hal dalam satu perangkat.

    Bagi pengguna yang tertarik dengan perkembangan teknologi terbaru, informasi mengenai Fitur Terbaru dari kompetitor juga dapat menjadi pertimbangan. Sementara itu, bagi yang memantau Harga Terbaru perangkat flagship, informasi pasar selalu relevan untuk dibandingkan.

  • Lipatan Layar Galaxy Z Fold8 Lebih Rata, Ini Faktanya

    Lipatan Layar Galaxy Z Fold8 Lebih Rata, Ini Faktanya

    JBNews.id — Samsung Galaxy Z Fold8 membawa penyempurnaan pada teknologi layar lipat melalui Flex Titanium, struktur layar baru yang dirancang untuk mengurangi visibilitas bekas lipatan sekaligus meningkatkan kekuatan panel. Inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan utama smartphone foldable yang masih menyisakan screen crease.

    Berbeda dengan pendekatan kompetitor, Samsung memilih memperkuat struktur layar. Sebagai pembanding, OnePlus Open mengandalkan desain Flexion Hinge untuk menghasilkan lipatan yang lebih samar, sementara Google Pixel Fold menggunakan mekanisme water drop hinge. Ketiganya memiliki tujuan yang sama, yakni membuat pengalaman menggunakan smartphone foldable terasa semakin nyaman.

    Mengutip Samsung Mobile Press, Flex Titanium menggabungkan titanium-alloy film dan titanium plate sebagai struktur penyangga panel OLED untuk membantu mendistribusikan tekanan saat perangkat dibuka maupun dilipat. Pendekatan ini menjadi salah satu pembaruan utama Galaxy Z Fold8 yang juga hadir dengan desain lebih tipis dan layar lebih lebar dibanding generasi sebelumnya.

    Mengapa Bekas Lipatan Masih Menjadi Tantangan?

    Bekas lipatan masih menjadi karakteristik yang sulit dipisahkan dari smartphone layar lipat. Berbeda dengan ponsel konvensional, panel OLED pada perangkat foldable harus tetap fleksibel agar mampu bertahan ketika dibuka dan ditutup ribuan kali. Tekanan yang terus berulang di area tengah layar inilah yang kemudian membentuk screen crease.

    Karena itu, produsen kini tidak lagi berfokus menghilangkan lipatan sepenuhnya, melainkan membuatnya semakin samar tanpa mengorbankan ketahanan layar. Dilansir The Verge, inovasi terbaru Samsung melalui Flex Titanium merupakan salah satu upaya untuk mencapai keseimbangan tersebut.

    Bagaimana Flex Titanium Bekerja?

    Pembaruan terbesar Galaxy Z Fold8 justru berada pada struktur layar yang tidak terlihat dari luar. Teknologi Flex Titanium memanfaatkan kombinasi dua lapisan material yang bekerja bersama untuk membantu mengurangi visibilitas bekas lipatan sekaligus menjaga kekuatan panel OLED.

    1. Titanium-Alloy Film
    Lapisan ini berfungsi membantu mendistribusikan tekanan secara lebih merata ketika perangkat dibuka maupun dilipat. Dengan distribusi tekanan yang lebih seimbang, area lipatan tidak menerima beban yang terpusat pada satu titik sehingga bekas lipatan dapat terlihat lebih samar.

    2. Titanium Plate
    Di bawah panel OLED, Samsung juga menambahkan titanium plate sebagai struktur penopang utama. Material berbasis titanium memiliki tingkat kekakuan mekanis yang lebih tinggi dibanding lapisan polimer konvensional, memungkinkan struktur layar dibuat lebih tipis sekaligus mengurangi ruang kosong di dalam panel.

    Samsung Newsroom menyebut Flex Titanium merupakan hasil penyempurnaan dari tujuh generasi pengembangan Galaxy Fold. Teknologi ini dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara desain yang lebih ramping, fleksibilitas layar, dan durabilitas perangkat dalam penggunaan sehari-hari.

    Galaxy Z Fold8 Tampil Lebih Tipis

    Selain membawa Flex Titanium, Samsung juga memperbarui desain Galaxy Z Fold8. Perangkat ini menggunakan layar utama Dynamic AMOLED 2X berukuran 7,6 inci dengan resolusi QHD+, refresh rate adaptif hingga 120Hz, serta aspect ratio sekitar 4:3. Rasio baru tersebut membuat area kerja terasa lebih luas sehingga lebih nyaman untuk multitasking maupun menikmati konten.

    Perubahan juga hadir pada layar penutup berukuran 5,5 inci yang kini memiliki rasio lebih lebar. Dengan desain tersebut, pengalaman menggunakan perangkat saat masih dalam kondisi tertutup terasa lebih mendekati smartphone konvensional.

    Samsung juga membuat Galaxy Z Fold8 semakin ramping. Saat dibuka, perangkat ini memiliki dimensi 123,9 x 161,4 x 4,5 mm, sedangkan saat dilipat menjadi 123,9 x 81,9 x 9,7 mm dengan bobot sekitar 201 gram. Informasi lebih lanjut tentang Fitur Terbaru ini bisa Anda simak di laman resmi.

    Perbandingan dengan OnePlus Open dan Google Pixel Fold

    Meski sama-sama mengembangkan smartphone foldable, Samsung, OnePlus, dan Google memilih pendekatan yang berbeda untuk mengurangi visibilitas bekas lipatan sekaligus menjaga durabilitas layar.

    Samsung Galaxy Z Fold8: Fokus pada struktur layar melalui Flex Titanium yang memadukan titanium-alloy film dan titanium plate untuk mendistribusikan tekanan secara merata.

    OnePlus Open: Mengandalkan desain Flexion Hinge yang dirancang untuk mengurangi tekanan pada area lipatan. Android Central menilai OnePlus Open sebagai salah satu smartphone foldable dengan bekas lipatan paling samar di kelasnya.

    Google Pixel Fold: Menggunakan mekanisme waterdrop hinge yang membuat panel membentuk lengkungan lebih alami saat dilipat, membantu mengurangi tekanan pada area tengah layar.

    Hingga saat ini, ketiga produsen belum mempublikasikan data resmi mengenai kedalaman bekas lipatan pada masing-masing perangkat foldable. Dengan belum adanya data resmi tersebut, perbandingan lebih relevan dilakukan berdasarkan inovasi material, desain engsel, serta pendekatan teknologi yang diterapkan.

    Bagi pengguna yang mengutamakan durabilitas sekaligus kenyamanan, pendekatan Samsung menjadi nilai tambah. Sementara itu, adopsi Galaxy AI juga menjadi pertimbangan, mengingat Pengguna Aktif teknologi tersebut terus bertambah.

    Kelebihan dan Kekurangan Struktur Layar Galaxy Z Fold8

    Kelebihan:

    • Menggunakan struktur Flex Titanium yang dirancang membantu mendistribusikan tekanan pada area lipatan
    • Material berbasis titanium membuat struktur layar lebih kokoh tanpa mengorbankan fleksibilitas panel
    • Bodi lebih tipis dan ringan dibanding generasi sebelumnya
    • Layar utama Dynamic AMOLED 2X 7,6 inci dengan rasio sekitar 4:3 memberikan ruang lebih lega untuk multitasking
    • Pendekatan Samsung berfokus pada keseimbangan antara desain, durabilitas, dan kenyamanan penggunaan

    Kekurangan:

    • Bekas lipatan belum sepenuhnya hilang karena masih menjadi karakteristik smartphone foldable
    • Samsung belum mengungkap data resmi mengenai tingkat pengurangan crease dibanding kompetitor
    • Perbedaan visibilitas lipatan masih dipengaruhi sudut pandang, pantulan cahaya, dan cara penggunaan perangkat

    Kesimpulan

    Galaxy Z Fold8 menunjukkan bahwa Samsung terus menyempurnakan teknologi layar lipat melalui pendekatan yang berbeda. Flex Titanium dikembangkan untuk membantu mendistribusikan tekanan pada area lipatan secara lebih merata sehingga bekas lipatan terlihat lebih samar sekaligus meningkatkan kekuatan struktur layar.

    Di sisi lain, OnePlus Open masih dikenal sebagai salah satu smartphone foldable dengan lipatan paling minim berkat Flexion Hinge, sedangkan Google Pixel Fold menawarkan pendekatan berbeda melalui desain waterdrop hinge dan optimalisasi perangkat lunak.

    Bagi pengguna yang mengutamakan durabilitas sekaligus kenyamanan penggunaan, pendekatan yang dibawa Samsung menjadi salah satu nilai tambah yang layak dipertimbangkan. Untuk informasi Harga Terbaru dan ketersediaan, simak perkembangan selanjutnya.

  • Samsung Akhirnya Adopsi Baterai Silicon-Carbon di HP dan Smartwatch

    Samsung Akhirnya Adopsi Baterai Silicon-Carbon di HP dan Smartwatch

    JBNews.id — Samsung akhirnya mengadopsi teknologi baterai silicon-carbon pada jajaran perangkat terbarunya. Keputusan ini diumumkan dalam peluncuran Galaxy Z Fold8 Ultra, Galaxy Z Fold8, Galaxy Z Flip8, Galaxy Watch9, dan Galaxy Watch Ultra 2 di Galaxy Unpacked 2026 di London, Selasa (22/7/2026). Langkah ini menjadi perubahan signifikan karena selama beberapa tahun terakhir baterai silicon-carbon lebih dahulu banyak digunakan oleh merek smartphone asal China.

    Teknologi baterai silicon-carbon memungkinkan Samsung menawarkan kapasitas baterai lebih besar tanpa membuat bodi perangkat semakin tebal dan berat. Pendekatan ini sangat krusial terutama pada perangkat lipat yang memiliki ruang internal terbatas. Kini Samsung mulai menerapkan pendekatan serupa pada seluruh ekosistem Galaxy.

    Kadesh Beckford, Product Management Samsung, mengatakan Samsung berhasil menyematkan baterai 5.000 mAh pada Galaxy Z Fold8 Ultra meski desainnya dibuat lebih ramping. Ini menjadi kapasitas baterai terbesar yang pernah dipasang pada seri Galaxy Z Fold. “Dengan merancang ulang material baterai, untuk pertama kalinya kami menghadirkan anoda berbahan silicon-carbon guna meningkatkan kepadatan energi,” ujar Kadesh.

    Samsung juga mengoptimalkan seluruh sistem agar baterai tetap aman dan andal digunakan dalam jangka panjang. Galaxy Z Fold8 Ultra pun diklaim menawarkan daya tahan baterai terbaik di antara ponsel lipat Samsung sebelumnya.

    Selain kapasitas lebih besar, Samsung memperkenalkan sistem pengisian baru yang memungkinkan kedua sel baterai Galaxy Z Fold8 Ultra diisi melalui jalur terpisah. Metode tersebut membuat pengisian lebih efisien, dari kondisi kosong hingga 67% hanya dalam 30 menit.

    Galaxy Z Fold8 dibekali baterai 4.800 mAh dengan kemampuan memutar video hingga 26 jam. Sementara Galaxy Z Flip8 membawa baterai 4.300 mAh dan diklaim dapat memutar video hingga 32 jam. Peningkatan signifikan ini menunjukkan komitmen Samsung dalam menghadirkan daya tahan lebih lama.

    Peningkatan terbesar terlihat pada Galaxy Watch Ultra 2. Smartwatch premium ini mengusung baterai 800 mAh, naik sekitar 35% dari kapasitas 600 mAh pada generasi sebelumnya. Daya tahannya diklaim mencapai 80 jam tanpa Always On Display. Sementara Galaxy Watch9 berukuran 44 mm membawa baterai 445 mAh, meningkat sekitar 2% dari sebelumnya 435 mAh. Perangkat ini diklaim mampu digunakan hingga 40 jam tanpa Always On Display.

    Kombinasi teknologi silicon-carbon dan peningkatan kapasitas membuat perangkat Galaxy terbaru menawarkan daya tahan lebih lama tanpa mengorbankan desain yang ramping. Hal ini menjadi jawaban atas kebutuhan pengguna yang menginginkan performa baterai optimal pada perangkat premium.

    Langkah Samsung mengadopsi baterai silicon-carbon juga menunjukkan persaingan ketat di industri smartphone. Merek China telah lebih dulu menggunakan teknologi ini, dan kini Samsung menyusul dengan inovasi pada Fitur Terbaru mereka. Pengguna dapat menikmati kapasitas lebih besar tanpa mengorbankan estetika desain.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan Harga Terbaru, Galaxy Z Fold8 dibanderol mulai Rp 30 juta. Sementara Galaxy Z Fold8 Ultra diposisikan sebagai varian tertinggi dengan baterai terbesar. Samsung juga merilis kacamata pintar berteknologi AI yang bisa dilihat di artikel Kacamata Pintar Samsung.

    Implikasi dari adopsi baterai silicon-carbon ini cukup luas. Bagi konsumen, daya tahan baterai yang lebih lama berarti frekuensi pengisian daya berkurang. Bagi industri, langkah Samsung bisa mempercepat adopsi teknologi ini di lebih banyak perangkat. Dengan kapasitas hingga 5.000 mAh pada ponsel lipat, Samsung menetapkan standar baru di segmen premium.

    Data dari Galaxy Unpacked 2026 menunjukkan Samsung serius mengejar ketertinggalan di bidang baterai. Penggunaan anoda silicon-carbon memungkinkan peningkatan kepadatan energi hingga 35% pada beberapa model. Ini menjadi nilai tambah bagi pengguna yang menginginkan perangkat tahan lama.

    Galaxy Watch Ultra 2 dengan baterai 800 mAh menjadi contoh nyata dampak teknologi ini. Kenaikan 35% dari generasi sebelumnya memberikan daya tahan hingga 80 jam. Sementara Galaxy Watch9 dengan baterai 445 mAh menawarkan peningkatan 2% yang tetap signifikan untuk penggunaan harian.

    Samsung juga memastikan keamanan baterai melalui optimalisasi sistem. Kadesh Beckford menekankan bahwa perusahaan merancang ulang material baterai untuk memastikan keandalan jangka panjang. Hal ini penting mengingat kekhawatiran konsumen terhadap keamanan baterai lithium-ion.

    Dengan peluncuran ini, Samsung memperkuat posisinya di pasar ponsel lipat dan smartwatch premium. Kombinasi desain ramping, baterai besar, dan fitur AI canggih menjadi daya tarik utama. Bagi pengguna di Indonesia, perangkat ini sudah bisa dipesan dengan bonus preorder hingga Rp 9 juta.

    Kesimpulannya, adopsi baterai silicon-carbon oleh Samsung adalah langkah strategis yang menjawab kebutuhan pasar. Kapasitas lebih besar, pengisian lebih cepat, dan desain ramping menjadi nilai jual utama. Pengguna kini bisa menikmati daya tahan baterai terbaik tanpa kompromi.

  • Samsung Galaxy Z Fold8: Layar Lebih Tangguh dengan Flex Titanium

    Samsung Galaxy Z Fold8: Layar Lebih Tangguh dengan Flex Titanium

    JBNews.id — Samsung resmi meluncurkan Galaxy Z Fold8 secara global pada 22 Juli 2026. Smartphone layar lipat ini membawa peningkatan signifikan pada sektor layar, termasuk teknologi Flex Titanium yang membuat layar lebih tangguh dan lipatan (crease) semakin samar. Peningkatan ini menjadi daya tarik utama seri Galaxy Z Fold karena menjawab kekhawatiran pengguna soal durabilitas layar lipat.

    Layar utama Galaxy Z Fold8 masih mengusung panel Dynamic AMOLED 2X berukuran 7,6 inci dengan resolusi QHD+ dan refresh rate adaptif hingga 120Hz. Ukuran tersebut dinilai ideal untuk berbagai aktivitas, mulai dari membaca dokumen, mengedit presentasi, hingga menikmati konten hiburan di layar yang lebih luas. Samsung juga menyematkan teknologi Under Display Camera (UDC) generasi terbaru yang membuat kamera depan semakin tersembunyi di balik layar, sehingga tampilan panel terasa lebih lega tanpa gangguan notch atau punch hole.

    Salah satu inovasi paling menonjol adalah teknologi Flex Titanium yang dikembangkan oleh Samsung Display. Teknologi ini memanfaatkan material titanium pada struktur panel sehingga layar tetap fleksibel saat dilipat, namun memiliki ketahanan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Flex Titanium diklaim membuat layar lebih kuat, lebih tipis, sekaligus membantu menyamarkan crease. Samsung sebelumnya telah membongkar rahasia di balik teknologi ini, yang bisa Anda simak selengkapnya di artikel Fitur Terbaru tersebut.

    Samsung diperkirakan tetap menggunakan Ultra-Thin Glass (UTG) sebagai pelindung layar utama. Pada Galaxy Z Fold8, material tersebut dipadukan dengan Flex Titanium sehingga menghasilkan layar yang tetap tipis, namun lebih kuat menghadapi aktivitas buka-tutup sehari-hari. Kombinasi ini menjadi jawaban bagi pengguna yang selama ini khawatir dengan ketahanan layar lipat dalam jangka panjang.

    Bukan hanya kualitas panel yang ditingkatkan, Samsung juga terus menyempurnakan software untuk layar lipat. Galaxy Z Fold8 diperkirakan tetap menghadirkan fitur-fitur multitasking canggih seperti Multi-Active Window yang memungkinkan pengguna membuka dan menggunakan beberapa aplikasi secara bersamaan dalam satu layar. Fitur Taskbar juga hadir sebagai bilah navigasi yang menampilkan aplikasi yang sering digunakan maupun aplikasi yang sedang dibuka, memudahkan pengguna berpindah antar aplikasi dengan cepat—mirip pengalaman menggunakan PC.

    Fitur App Pair memungkinkan pengguna menyimpan kombinasi dua atau tiga aplikasi favorit agar dapat dibuka secara bersamaan hanya dengan satu sentuhan. Cocok untuk aktivitas multitasking yang dilakukan secara berulang. Sementara fitur Drag and Drop memudahkan pengguna memindahkan teks, gambar, file, atau konten lain dari satu aplikasi ke aplikasi lain hanya dengan menyeret dan melepaskannya.

    Samsung juga membekali Galaxy Z Fold8 dengan fitur Samsung DeX yang memungkinkan perangkat dihubungkan ke monitor, TV, atau PC untuk menghadirkan antarmuka menyerupai desktop. Pengguna dapat menjalankan beberapa aplikasi dalam tampilan yang lebih luas sehingga mendukung aktivitas produktivitas. Ditambah dengan Galaxy AI, kumpulan fitur berbasis kecerdasan buatan dari Samsung yang dirancang untuk membantu berbagai aktivitas seperti merangkum dokumen, menerjemahkan percakapan, membantu menulis, mengedit foto, hingga meningkatkan efisiensi saat bekerja dan berkomunikasi. Menariknya, data menunjukkan bahwa 95% pengguna Samsung Galaxy di Asia Tenggara aktif memanfaatkan Galaxy AI dalam keseharian mereka.

    Kombinasi fitur-fitur tersebut membuat pengguna dapat membuka beberapa aplikasi sekaligus dalam satu layar sehingga aktivitas bekerja menjadi lebih efisien. Bagi Anda yang penasaran dengan harga resmi dan desain terbaru, artikel tentang Harga Terbaru Galaxy Z Fold8 bisa menjadi referensi lengkap.

    Meskipun layar Galaxy Z Fold8 telah dirancang dengan material tangguh, sangat disarankan untuk tetap memperhatikan beberapa tips perawatan praktis berikut agar layar lipat tetap awet dalam jangka panjang: hindari menekan layar terlalu keras, jangan melepas screen protector bawaan, gunakan kain microfiber saat membersihkan layar, dan gunakan stylus yang kompatibel apabila memakai S Pen.

    Dengan layar 7,6 inci yang luas dan teknologi layar canggih, Galaxy Z Fold8 sangat cocok untuk membaca dokumen, mengedit presentasi, menonton konten hiburan, hingga menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan dengan nyaman. Samsung tetap menggunakan Ultra-Thin Glass (UTG) yang dipadukan dengan teknologi Flex Titanium, membuat layar tetap tipis namun lebih tangguh terhadap aktivitas buka-tutup sehari-hari.

  • Ilmuwan Pecahkan Misteri Struktur Raksasa Bima Sakti

    Ilmuwan Pecahkan Misteri Struktur Raksasa Bima Sakti

    JBNews.id — Selama hampir 40 tahun, para astronom dibuat bingung oleh sebuah struktur raksasa yang tampak menjulang dari pusat Galaksi Bima Sakti. Berbagai teori bermunculan, mulai dari sisa ledakan supernova hingga jejak letusan dahsyat lubang hitam supermasif di inti galaksi. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa semua dugaan itu ternyata keliru. Struktur tersebut bukan berada di pusat Bima Sakti, bahkan bukan berbentuk ‘lobus’ seperti yang selama ini diyakini.

    Studi yang dipimpin astrofisikawan Kathryn Kreckel dari Heidelberg University, Jerman, menemukan bahwa objek yang dikenal sebagai Galactic Center Lobe (GCL) sebenarnya adalah sebuah gelembung gas berbentuk cincin tertutup yang letaknya jauh lebih dekat ke Bumi. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada Juli 2026.

    Sejak ditemukan pada 1980-an melalui teleskop radio, GCL tampak seperti struktur raksasa yang muncul dari inti Bima Sakti. Karena posisinya seolah muncul dari pusat Bima Sakti, para astronom selama ini menduga struktur tersebut merupakan sisa ledakan supernova atau bekas letusan dahsyat yang pernah terjadi di inti galaksi. Banyaknya teori yang saling bertentangan bahkan membuat salah satu tim peneliti menjuluki GCL sebagai ‘uji Rorschach bagi astrofisika galaksi’, merujuk pada tes psikologi yang memungkinkan orang melihat hal berbeda dari gambar yang sama.

    Pengamatan Baru Mengungkap Fakta

    Melalui pengamatan baru menggunakan SDSS-V Local Volume Mapper, tim peneliti berhasil mengamati pancaran sulfur terionisasi yang mampu menembus debu antarbintang lebih baik dibanding pengamatan radio sebelumnya. Data tersebut mengungkap bagian bawah struktur yang selama puluhan tahun tersembunyi.

    Hasil analisis menunjukkan GCL berada sekitar 6.520 tahun cahaya dari Bumi, bukan sekitar 26.000 tahun cahaya seperti perkiraan sebelumnya. Artinya, ukurannya juga jauh lebih kecil daripada yang selama ini dibayangkan.

    “Kini putusannya sudah jelas. Galactic Center Lobe ternyata bukan berada di pusat galaksi, dan juga bukan sebuah lobus,” tulis tim peneliti dalam laporannya. Karena itu, para peneliti bahkan mengusulkan nama baru yang bernada humor, yaitu ‘greatly confused loop’ atau ‘cincin yang sangat membingungkan’.

    Galaksi Bima Sakti

    Penyebab Sebenarnya GCL

    Jika bukan berasal dari lubang hitam di pusat galaksi, lalu apa penyebabnya? Menurut peneliti, struktur tersebut kemungkinan merupakan gelembung raksasa berisi gas hidrogen yang terbentuk akibat aktivitas generasi bintang masif pada masa lalu. Bintang-bintang besar yang hidup singkat akan meledak sebagai supernova, menyapu material di sekitarnya hingga membentuk rongga besar.

    Ketika generasi bintang berikutnya lahir, radiasi ultraviolet dari bintang-bintang baru mengionisasi gas di sekelilingnya sehingga tampak bercahaya. Dari sudut pandang Bumi, bagian tepinya terlihat paling terang sehingga membentuk cincin. Ukuran gelembung ini diperkirakan sekitar 115 tahun cahaya, lebih kecil dibanding Barnard’s Loop, gelembung gas terkenal di rasi Orion yang diduga terbentuk melalui proses serupa.

    Selama puluhan tahun, para astronom kesulitan memahami GCL karena arah pandangnya tepat menuju pusat Bima Sakti, wilayah yang dipenuhi bintang, awan gas, dan debu. Selain itu, bagian bawah struktur menyatu dengan bidang galaksi sehingga dalam citra radio hanya terlihat seperti struktur terbuka, bukan gelembung utuh.

    Tim peneliti menyebut upaya mengungkap identitas GCL sebagai perjuangan panjang. “Ini adalah perjuangan selama 40 tahun untuk memisahkan struktur yang benar-benar berasal dari inti galaksi dengan objek-objek yang sebenarnya berada di bagian depan cakram galaksi,” tulis mereka.

    Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan wilayah pusat Bima Sakti yang telah dipelajari selama puluhan tahun masih menyimpan kejutan. Dengan teknik pengamatan yang lebih canggih, para astronom kini dapat membedakan mana struktur yang benar-benar berada di inti galaksi dan mana yang hanya tampak seolah berada di sana akibat ilusi perspektif.

    Penemuan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana bintang-bintang masif membentuk lingkungan sekitarnya. Para astronom kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dinamika gas di Galaksi Bima Sakti dan bagaimana struktur serupa mungkin tersembunyi di tempat lain. Ke depannya, teknik serupa dapat digunakan untuk mengidentifikasi objek-objek lain yang selama ini salah diinterpretasikan akibat ilusi perspektif yang sama. Hal ini menjadi pengingat bahwa bahkan objek yang tampak jelas sekalipun bisa menyesatkan tanpa data yang tepat, sebuah pelajaran berharga bagi dunia astronomi yang terus berkembang.

  • Gugatan Remaja terhadap Meta Dicabut, Perusahaan Menang

    Gugatan Remaja terhadap Meta Dicabut, Perusahaan Menang

    JBNews.id — Gugatan terhadap Meta Platforms Inc. oleh seorang remaja asal Florida berusia 15 tahun dengan inisial R.K.C. resmi dicabut kurang dari sepekan sebelum sidang dimulai di pengadilan Los Angeles. Keputusan ini membuat Meta tidak perlu membayar ganti rugi dalam kasus yang semula dijadwalkan sebagai persidangan kedua dalam rangkaian uji coba bellwether terkait dampak media sosial terhadap remaja.

    Kasus yang diajukan oleh R.K.C. ini merupakan bagian dari upaya hukum untuk menguji argumen bahwa raksasa media sosial melanggar hukum dengan menciptakan fitur-fitur yang membuat remaja kecanduan dan dirugikan. Sebelumnya, platform seperti TikTok, Snap, dan YouTube telah menyelesaikan klaim serupa yang diajukan oleh R.K.C. dengan jumlah yang tidak diungkapkan.

    “Mengingat hasil keseluruhan yang sukses dari litigasi ini dan kekhawatirannya tentang menjalani persidangan yang melelahkan selama berminggu-minggu, ia memilih untuk mencabut klaimnya terhadap Meta,” demikian pernyataan dari pengacara R.K.C., Emily Jeffcott dan Rahul Ravipudi. “Ia siap menutup bab ini dan fokus pada pemulihan serta menjalani terapi karena ia bercita-cita memiliki kehidupan yang normal.”

    Keputusan ini menjadi kemenangan bagi Meta di tengah gelombang gugatan serupa. Juru bicara Meta, Andy Stone, menegaskan bahwa klaim tersebut tidak berdasar. “Klaim-klaim itu tidak pernah terbukti, dan hasil ini menunjukkan bahwa kami tidak akan mundur dalam membela diri terhadap gugatan yang tidak berdasar,” ujar Stone dalam pernyataannya.

    Meskipun kasus ini berakhir tanpa pembayaran, Meta tetap menghadapi tekanan hukum yang signifikan. Dalam persidangan bellwether pertama di pengadilan yang sama, Meta dan YouTube milik Google dinyatakan lalai oleh juri dan diperintahkan membayar total 6 juta dolar AS sebagai ganti rugi kompensasi dan punitif kepada satu penggugat.

    Di pengadilan terpisah di New Mexico, juri memerintahkan Meta membayar denda sebesar 375 juta dolar AS. Negara bagian tersebut kini bersiap untuk tahap persidangan berikutnya yang menuntut perubahan struktural dalam bisnis Meta. Ini menunjukkan bahwa meskipun satu kasus berhasil dihindari, risiko hukum bagi Meta masih sangat besar.

    Masih ada tujuh kasus bellwether lainnya yang menunggu jadwal sidang di pengadilan negara bagian California di Los Angeles. Selain itu, terdapat serangkaian kasus terpisah yang tertunda di pengadilan federal di Oakland. Meta, TikTok, Snap, dan YouTube sebelumnya telah menyelesaikan kasus dengan sebuah distrik sekolah yang semula dijadwalkan sebagai persidangan bellwether pertama dalam rangkaian kasus federal tersebut.

    Kasus distrik sekolah itu bertujuan untuk mendapatkan dana guna menutupi biaya kesehatan mental siswa yang diduga disebabkan oleh platform media sosial. Ke depannya, Meta masih akan menghadapi klaim yang diajukan oleh jaksa agung negara bagian di pengadilan federal bulan depan. Klaim tersebut menuduh Meta secara ilegal menyesatkan publik tentang fitur-fitur berbahaya dan adiktif dari platformnya.

    Rangkaian gugatan ini menjadi ujian besar bagi industri media sosial secara keseluruhan. Para penggugat berargumen bahwa perusahaan seperti Meta sengaja merancang platform mereka untuk membuat anak-anak dan remaja kecanduan, sehingga menimbulkan kerugian psikologis dan finansial. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan ini membela diri dengan mengatakan bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi pengguna muda.

    Keputusan R.K.C. untuk mencabut gugatannya memberikan ruang bagi Meta untuk bernapas sejenak. Namun, dengan masih banyaknya kasus yang menunggu, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg ini harus terus bersiap menghadapi pertempuran hukum yang panjang. Meta juga tengah mengembangkan berbagai Fitur Terbaru untuk meningkatkan keamanan platform, termasuk di Instagram.

    Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi indikator penting tentang bagaimana hukum akan memandang tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap dampak produk mereka. Jika lebih banyak penggugat yang berhasil memenangkan kasus, hal ini bisa memicu perubahan besar dalam cara platform media sosial beroperasi, terutama dalam hal perlindungan anak dan remaja.

    Implikasi dari putusan ini juga berdampak pada pasar saham dan kepercayaan investor. Kemenangan Meta dalam kasus R.K.C. memberikan sinyal positif bahwa perusahaan mampu bertahan dari gugatan-gugatan yang dianggap tidak berdasar. Namun, denda 375 juta dolar AS dari kasus di New Mexico menunjukkan bahwa risiko finansial tetap nyata.

    Selain masalah kecanduan remaja, Meta juga menghadapi gugatan terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menggunakan kecerdasan buatan. Sejumlah karyawan yang di-PHK menggugat perusahaan karena dianggap menggunakan algoritma AI secara tidak adil. Kasus ini menjadi perhatian publik dan menunjukkan bahwa tantangan hukum Meta tidak hanya berasal dari pengguna, tetapi juga dari mantan karyawannya. Baca selengkapnya tentang Meta Digugat karena PHK yang menggunakan AI.

    Sementara itu, pengacara R.K.C. menyatakan bahwa klien mereka memilih untuk mundur demi fokus pada pemulihan kesehatan mental. Langkah ini dipandang sebagai keputusan pribadi yang sulit, mengingat tekanan dan durasi persidangan yang panjang. Namun, bagi Meta, hasil ini menjadi amunisi untuk menghadapi kasus-kasus berikutnya.

    Dengan masih adanya tujuh kasus bellwether di pengadilan Los Angeles dan kasus federal di Oakland, pertarungan hukum antara penggugat dan Meta masih jauh dari selesai. Setiap putusan akan menjadi preseden yang memengaruhi arah regulasi media sosial di Amerika Serikat dan berpotensi di negara lain.

    Bagi publik, khususnya orang tua dan pendidik, perkembangan hukum ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial oleh anak-anak. Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap platform digital dapat berdampak negatif pada kesehatan mental remaja, meskipun perusahaan teknologi membantah tuduhan tersebut.

    Meta sendiri terus berupaya memperbaiki citra dengan meluncurkan berbagai fitur keamanan dan kontrol orang tua. Namun, efektivitas langkah-langkah ini masih dipertanyakan oleh para kritikus yang menganggap perubahan tersebut hanya bersifat kosmetik.

    Di sisi lain, ada juga Gugat Meta 26 Karyawan yang di-PHK menggunakan AI, menambah daftar panjang masalah hukum yang dihadapi perusahaan. Kasus ini menyoroti penggunaan teknologi AI dalam pengambilan keputusan sumber daya manusia yang dinilai diskriminatif oleh para penggugat.

    Kesimpulannya, pencabutan gugatan oleh R.K.C. memberikan kemenangan sementara bagi Meta, tetapi perusahaan masih harus menghadapi badai hukum yang lebih besar. Bagi pembaca, perkembangan ini menegaskan bahwa isu keamanan dan kesehatan mental di media sosial bukanlah masalah yang akan hilang dalam waktu dekat. Regulasi yang lebih ketat dan kesadaran publik yang lebih tinggi menjadi kebutuhan mendesak.

  • Samsung Rilis Kacamata Pintar dengan Gemini AI di London

    Samsung Rilis Kacamata Pintar dengan Gemini AI di London

    JBNews.id — Samsung Electronics Co., Ltd. secara resmi memperkenalkan intelligent eyewear atau kacamata pintar pada ajang Galaxy Unpacked 2026 di London. Perangkat yang dikembangkan bersama Google ini ditenagai oleh Gemini AI dan dirancang sebagai perpanjangan hands-free dari smartphone Galaxy.

    Won-Joon Choi, Chief Operating Officer Mobile eXperience (MX) Business Samsung Electronics, menyatakan bahwa seiring AI agentik mengubah pengalaman mobile, langkah berikutnya adalah menghadirkan pengalaman yang semakin intuitif dan mampu beradaptasi dengan konteks setiap pengguna. Smartphone tetap menjadi pusat ekosistem Galaxy, sementara berbagai perangkat lain melengkapi pengalaman tersebut di berbagai aktivitas sehari-hari.

    “Intelligent eyewear menjadi langkah berikutnya dalam evolusi ini dengan menghadirkan AI lebih dekat kepada pengguna saat mereka bergerak, bekerja, berkomunikasi, maupun bereksplorasi, tanpa harus selalu memulai interaksi melalui layar,” ujar Choi dalam acara peluncuran di London, Kamis (23/7/2026).

    Kacamata pintar ini tidak beroperasi secara independen, melainkan sebagai perpanjangan hands-free dari smartphone Galaxy. Dikembangkan bersama Google, perangkat ini menghadirkan Gemini dalam form factor wearable. Samsung juga bekerja sama dengan merek eyewear global Gentle Monster dan Warby Parker untuk menghadirkan desain premium yang nyaman digunakan sehari-hari.

    “Google dan Samsung memiliki visi yang sama untuk menghadirkan AI yang bermanfaat dan memahami konteks pengguna dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sameer Samat, President of Android Ecosystem di Google. “Dibangun di atas platform Android XR, intelligent eyewear ini memadukan desain premium dengan kemampuan Gemini yang secara alami memahami apa yang dilihat pengguna, menghadirkan bantuan hands-free sepanjang hari.”

    Spesifikasi dan Daya Tahan Baterai

    Dirancang untuk digunakan setiap hari, eyewear ini memiliki bingkai ringan, profil ramping, serta performa baterai yang mampu bertahan hingga sembilan jam dalam sekali pengisian daya. Pengguna juga mendapatkan tambahan hingga tujuh kali pengisian penuh melalui charging case yang disertakan.

    Kamera bawaan membantu AI memahami konteks visual di sekitar pengguna, sementara Snapdragon AR1 Gen1 Platform menghadirkan performa AI untuk bantuan real-time. Dukungan interaksi sentuh, konektivitas, efisiensi daya, dan manajemen termal dioptimalkan dalam desain eyewear yang ringkas.

    Kacamata pintar Samsung

    Pengalaman Utama yang Dihadirkan

    Kacamata pintar Samsung menghadirkan sejumlah pengalaman utama yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan kenyamanan pengguna. Pertama, perangkat ini memungkinkan pengguna tetap fokus pada momen dengan membantu merangkum pesan yang panjang, membacakan informasi penting, mendukung penerjemahan secara langsung, serta memungkinkan pengguna mengoperasikan perangkat melalui perintah suara maupun gestur sederhana.

    Kedua, eyewear ini mampu memahami konteks visual di sekitar pengguna. Saat diperlukan, perangkat dapat merekam apa yang sedang dilihat pengguna, seperti papan tulis atau diskusi dalam rapat, lalu menyusun informasi penting di Notes sehingga lebih mudah ditinjau, dibagikan, maupun ditindaklanjuti.

    Ketiga, interaksi real-time menjadi fitur andalan lainnya. Pengguna dapat meminta panduan berdasarkan lokasi, seperti mencari rute, menentukan tujuan, atau memahami lingkungan sekitar. Fitur penerjemahan langsung juga membantu komunikasi dalam berbagai bahasa secara real-time.

    Keempat, bantuan yang memahami konteks aktivitas pengguna dan menghubungkan informasi yang relevan di berbagai tugas. Pengguna dapat melanjutkan aktivitas tanpa perlu mengulang instruksi yang sama.

    Kelima, fitur berbagi sudut pandang secara langsung memungkinkan pengguna membagikan apa yang sedang mereka lihat saat melakukan panggilan maupun merekam sudut pandang mereka sendiri. Komunikasi terasa lebih nyata tanpa mengurangi kenyamanan penggunaan hands-free.

    Kolaborasi Desain dengan Gentle Monster dan Warby Parker

    Samsung bekerja sama dengan Gentle Monster dan Warby Parker untuk menghadirkan intelligent eyewear yang memadukan desain premium, kenyamanan, dan kemudahan digunakan setiap hari. Pada ajang Galaxy Unpacked, Samsung memperkenalkan dua desain berbeda hasil kolaborasi dengan kedua mitra tersebut.

    Kacamata pintar Samsung

    Edisi Gentle Monster menghadirkan bingkai ramping berwarna hitam dengan garis atas yang tegas dan tepian bawah yang membulat lembut, menciptakan siluet yang modern dan elegan. Sementara itu, desain Warby Parker menampilkan garis alis yang sedikit terangkat dengan sentuhan warna cokelat yang hangat, menghasilkan tampilan yang elegan, serbaguna, dan cocok digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

    Sepanjang proses pengembangannya, Samsung bekerja sama erat dengan kedua mitra tersebut untuk menyempurnakan berbagai aspek yang memengaruhi kenyamanan penggunaan, seperti area dahi dan telinga. Hal ini menunjukkan komitmen Samsung untuk menghadirkan perangkat wearable yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga nyaman digunakan dalam jangka waktu lama.

    Peluncuran kacamata pintar ini merupakan langkah strategis Samsung dalam memperkuat ekosistem Galaxy di tengah persaingan ketat pasar wearable. Dengan mengandalkan Galaxy AI yang telah terbukti populer, Samsung berupaya menghadirkan pengalaman AI yang lebih immersive dan kontekstual.

    Sebelumnya, Samsung juga telah memperkenalkan tiga ponsel lipat baru dalam ajang yang sama, menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi di berbagai lini produk.

    Implikasi dari peluncuran ini cukup signifikan bagi pasar wearable. Dengan harga yang kompetitif dan fitur AI yang canggih, kacamata pintar Samsung berpotensi menjadi alternatif menarik bagi pengguna yang ingin merasakan pengalaman komputasi spasial tanpa harus beralih ke ekosistem lain. Bagi pengguna Galaxy, perangkat ini menawarkan integrasi yang seamless dengan smartphone yang sudah mereka miliki.

  • Samsung Bongkar Rahasia Flex Titanium Galaxy Z Fold8

    Samsung Bongkar Rahasia Flex Titanium Galaxy Z Fold8

    JBNews.id, LONDON — Samsung Electronics mengungkap teknologi baru bernama Flex Titanium yang menjadi fondasi utama di balik pengembangan Galaxy Z Fold8 series. Teknologi ini memungkinkan ponsel lipat terbaru Samsung tampil lebih tipis, lebih ringan, sekaligus tetap memiliki daya tahan tinggi.

    Executive Vice President Samsung Electronics, Mobile R&D Hardware, HS Moon mengatakan pengembangan Flex Titanium berangkat dari tantangan untuk membuat layar lipat semakin tipis tanpa mengorbankan kekuatan maupun tampilan. Pernyataan tersebut disampaikan di sela acara Samsung Galaxy Unpacked 2026 di London, Kamis (23/7/2026).

    “Pada seri Galaxy Z, kami membawa struktur layar lipat ke tingkat yang lebih tinggi. Struktur ini dikembangkan untuk menjawab tantangan berat, yaitu mencapai ketipisan dan melindungi panel OLED tanpa mengorbankan kekuatan, daya tahan, maupun pengalaman menonton,” papar Moon.

    Evaluasi Material dan Struktur Layar

    Menurut Moon, Samsung kembali mengevaluasi material dan struktur layar berdasarkan pengalaman mengembangkan ponsel lipat selama tujuh generasi. Dari proses tersebut, raksasa elektronik asal Korea Selatan itu memutuskan menggunakan titanium sebagai material utama.

    “Berbekal pengalaman tujuh generasi dalam teknologi perangkat lipat, Samsung meninjau kembali material dan struktur yang diperlukan untuk perangkat lipat generasi berikutnya. Hasilnya adalah teknologi Flex Titanium,” lanjutnya.

    Titanium dinilai punya kombinasi karakteristik yang sesuai untuk perangkat lipat yang harus bertahan menghadapi buka tutup berulang. Material ini kuat, stabil, dan tahan terhadap deformasi permanen. Samsung membandingkan penggunaannya dengan aplikasi di bidang kedirgantaraan yang menuntut standar tinggi.

    “Titanium memberi fondasi yang tepat. Material ini kuat, stabil, dan tahan terhadap deformasi permanen. Penggunaannya di bidang yang menuntut standar tinggi, seperti aplikasi kedirgantaraan, mencerminkan kekuatan dan keandalan yang diinginkan Samsung untuk layar lipat,” tutur HS Moon.

    Proses Manufaktur Ekstrem

    Namun menurut Moon, memilih material hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memproses titanium agar tetap kuat sekaligus cukup fleksibel untuk digunakan pada layar lipat. Samsung harus memastikan material yang digunakan dapat bertahan saat dilipat dan dibentangkan ribuan kali.

    “Namun, pemilihan titanium hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana material yang digunakan kembali tersebut dapat diproses agar tetap kuat saat dilipat dan dibentangkan,” katanya.

    Untuk mengatasi tantangan tersebut, Samsung menerapkan dua lapisan berbasis titanium yang memiliki fungsi berbeda. Titanium plate berperan menyerap tekanan sekaligus menjaga permukaan layar tetap rata. Sementara itu, titanium alloy filler dirancang agar cukup tipis untuk mengikuti proses lipatan tanpa mengurangi daya tahan perangkat.

    Moon mengatakan lapisan titanium alloy bahkan diproses hingga hanya sepersekian mikrometer agar tetap lentur namun ketahanannya jangka panjang. Proses ini melibatkan teknik penipisan ekstrem dan perlakuan panas yang presisi.

    “Melalui proses penipisan ekstrem dan perlakuan panas yang presisi, Samsung menyempurnakan komponen tersebut hingga ketebalannya hanya sepersepuluh mikrometer, kira-kira sepertiga dari ketebalan rambut manusia, sehingga memberikan daya tahan jangka panjang yang diperlukan untuk layar lipat,” klaimnya.

    Dampak pada Desain dan Performa

    Selain meningkatkan daya tahan, Flex Titanium juga memungkinkan Samsung mengurangi ketebalan struktur layar sekitar 10 persen. Ruang tambahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memasang baterai yang lebih besar sekaligus meningkatkan sistem pendingin perangkat.

    Samsung juga mengklaim teknologi tersebut membantu menghadirkan pengalaman visual yang lebih baik. Lipatan layar disebut semakin samar, sementara desain perangkat menjadi lebih tipis dan ringan secara keseluruhan.

    “Di sinilah FlexTitanium memberikan nilai lebih bagi pengguna. Teknologi ini menghadirkan pengalaman menonton lebih imersif. Berkat layar lebih datar, tampilan lipatan yang lebih samar, serta lapisan akhir anti-refraksi yang baru dikembangkan, FlexTitanium memungkinkan desain perangkat lipat yang lebih tipis dan ringan,” sebut Moon.

    Peluncuran Galaxy Z Fold8 series menandai langkah besar Samsung dalam industri ponsel lipat. Sebelumnya, Samsung telah mengumumkan Harga Terbaru untuk Galaxy Z Fold8, Fold8 Ultra, dan Flip8 di Indonesia dengan preorder bonus mencapai Rp 9 juta.

    Implikasi bagi Pengguna

    Pengembangan Flex Titanium menunjukkan komitmen Samsung untuk terus berinovasi di segmen ponsel lipat. Dengan material titanium yang lebih kuat namun tetap fleksibel, pengguna dapat mengharapkan perangkat yang lebih tahan lama tanpa harus mengorbankan desain ramping.

    Teknologi ini juga membuka jalan bagi integrasi Galaxy AI yang lebih optimal. Dengan ruang internal yang lebih besar berkat pengurangan ketebalan layar, Samsung dapat memasang komponen tambahan seperti sistem pendingin yang lebih baik dan baterai berkapasitas lebih besar — faktor krusial untuk perangkat yang mengandalkan kecerdasan buatan.

    Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Galaxy Z Fold8 series dengan Flex Titanium menjadi pilihan menarik di segmen flagship. Samsung juga telah merilis Spesifikasi Lengkap perangkat ini, termasuk varian Fold8 Ultra yang hadir dengan desain paspor dan harga mulai Rp 30 juta.

    Dengan pendekatan material dan manufaktur yang lebih matang, Samsung berharap dapat memperkuat posisinya di pasar ponsel lipat global. Flex Titanium menjadi bukti bahwa inovasi di sektor ini tidak hanya soal fitur perangkat lunak, tetapi juga fundamental hardware yang mendasarinya.

  • Saham SpaceX Anjlok ke Rp115, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp1.100 Triliun

    Saham SpaceX Anjlok ke Rp115, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp1.100 Triliun

    JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan signifikan ke level terendah sepanjang masa di angka sekitar Rp115 per lembar pada Rabu sore, menghapus lebih dari Rp1.100 triliun nilai pasar sejak mencapai puncak Rp225 sebulan lalu. Penurunan ini menjadi salah satu kehancuran nilai pasar tercepat di era industri antariksa modern.

    Skala kerugian yang terakumulasi sejak IPO perusahaan yang sangat dinantikan bulan lalu sungguh mengejutkan. SpaceX telah kehilangan lebih dari Rp1.100 triliun nilai pasar sejak mencapai rekor tertinggi Rp225 bulan lalu, dan kemungkinan penurunan ini baru saja dimulai. Perusahaan roket ini memberikan sedikit pegangan bagi investor, selain klaim optimistis Elon Musk bahwa perusahaan itu suatu hari bisa bernilai lebih dari seluruh Bumi.

    Pada Kamis, perusahaan terpaksa membatalkan peluncuran pesawat ruang angkasa Starship karena beberapa mesin gagal menyala — sebuah metafora sempurna untuk kinerja pasar saham perusahaan baru-baru ini. Sementara itu, banyak short seller meraup miliaran dolar dengan bertaruh melawan perusahaan, menambah tekanan penurunan pada saham.

    Di latar belakang, panggilan pendapatan kuartal kedua produsen EV milik Musk, Tesla, pada Rabu malam menjadi sorotan. Tesla telah membakar uang tunai dengan kecepatan mengkhawatirkan meskipun melihat penjualan dan pendapatan melonjak. Analis masih memantau dengan cermat kemungkinan Musk menggabungkan Tesla ke dalam SpaceX, sebuah merger yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    “Saya pikir ada lebih dari 80 persen kemungkinan Tesla dan SpaceX bergabung pada tahun 2027,” kata analis teknologi dan lama penggemar Tesla Dan Ives dalam sebuah catatan. “Ini langkah logis dari perspektif rekayasa data dan kepemilikan Musk. Terlalu masuk akal untuk tidak terjadi.”

    Tingkat ketidakpastian terasa nyata. SpaceX sedang menyiapkan roket prototipe Starship untuk percobaan peluncuran lain pada Kamis. Sekitar satu setengah minggu kemudian, perusahaan diharapkan merilis laporan keuangan kuartal kedua, sebuah uji lakmus utama kemana arah perusahaan.

    Seperti dicatat Yahoo Finance, investor tertarik pada seberapa banyak perusahaan roket akan menghabiskan untuk produk AI dan pertumbuhan bisnis satelit internet Starlink. Yang mungkin tidak berubah adalah fakta bahwa valuasi tinggi perusahaan sebagian besar tetap terputus dari kemampuannya menghasilkan uang.

    Spacex kehilangan hampir Rp5 miliar tahun lalu — dan xAI, yang digabungkan ke dalam perusahaan ketika mengambil alih X (sebelumnya Twitter), kehilangan tambahan Rp6,4 miliar. Kerugian operasional ini menjadi beban berat bagi kinerja keuangan perusahaan di tengah tekanan pasar.

    Para analis pasar menilai bahwa Spacex Jual Daya Komputasi ke Pentagon untuk keperluan AI militer bisa menjadi salah satu celah pendapatan baru, namun belum cukup untuk mengimbangi kerugian besar dari operasi utama. Sementara itu, Startup Eks SpaceX yang berhasil mengumpulkan dana besar justru menunjukkan bahwa talenta dan inovasi di ekosistem ini masih bernilai tinggi.

    Implikasi faktual dari kondisi ini adalah bahwa investor harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi dalam jangka pendek. Dengan Starship yang dijadwalkan uji terbang ke-13 dan Spacex Siap Uji Terbang Starship, tekanan pada manajemen untuk menunjukkan hasil nyata semakin besar. Bagi pembaca, ini berarti pasar modal sektor antariksa masih jauh dari matang — dan risiko investasi di perusahaan eksperimental seperti SpaceX sangat tinggi.

    Ilustrasi foto bergaya yang menampilkan Elon Musk.

  • Model AI China K3 Tantang Dominasi AS

    Model AI China K3 Tantang Dominasi AS

    JBNews.id — Model kecerdasan buatan (AI) K3 dari startup China, Moonshot AI, menjadi pusat perhatian Silicon Valley dan Washington setelah dirilis pada pertengahan Juli 2026. K3 dinilai sebagai model AI open-source terbaik yang mampu menyaingi performa model tertutup buatan Amerika Serikat, memicu kekhawatiran di kalangan pejabat AS dan memperdalam perpecahan antara pendekatan terbuka dan tertutup dalam pengembangan AI global.

    David Sacks, venture capitalist dan penasihat AI untuk Presiden Donald Trump, menyebut performa model Moonshot tersebut “mengkhawatirkan”. Menteri Perdagangan Scott Bessent bahkan mengindikasikan kemungkinan sanksi terhadap perusahaan AI China. Pada Rabu (22/7/2026), Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, menuduh Moonshot AI telah melakukan distilasi terhadap model Fable milik Anthropic untuk mengembangkan K3. Ia menyebut tindakan itu sebagai “mencuri teknologi proprietary AS dan merusak penelitian Amerika” serta “tidak bisa diterima”. Moonshot AI belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

    Performa K3 dan Perbandingan dengan Model AS

    K3 memiliki beberapa kesamaan dengan model-model China lainnya: berdasarkan benchmark pihak ketiga, performanya hampir setara dengan model Barat terbaik; dioptimalkan untuk tugas coding agenik—hal terpanas di dunia AI tahun ini; serta dirilis atau akan dirilis dengan bobot terbuka (open weights), membuatnya mudah diakses dan transparan. Platform evaluasi model crowdsourced, Arena AI, kini menempatkan K3 sebagai model terbaik untuk tugas pengembangan web dan peringkat keempat untuk tugas agenik, tepat di bawah Fable dan Opus 4.8 milik Anthropic serta GPT 5.6 milik OpenAI. Artificial Analysis, perusahaan benchmarking AI independen, menempatkan K3 di peringkat ketiga dalam indeks kecerdasannya.

    Setelah Moonshot AI merilis versi pratinjau K3 pada 16 Juli 2026, pengguna di seluruh dunia berduyun-duyun mencobanya hingga menghabiskan begitu banyak sumber daya komputasi inferensi sehingga perusahaan untuk sementara membatasi pendaftaran pengguna baru. Fenomena ini mengingatkan pada kejutan DeepSeek pada Januari 2025 silam, di mana model R1 buatan China mengguncang asumsi bahwa hanya model tertutup dengan investasi miliaran dolar yang bisa mencapai performa frontier.

    Perpecahan Pendekatan Terbuka vs Tertutup

    Situasi saat ini kembali menegaskan bagaimana laboratorium AI Amerika dan China mengambil jalur yang berbeda dalam hal keterbukaan. Di AS, model-model frontier terasa semakin tertutup dibanding setahun lalu. Anthropic selama berbulan-bulan menyatakan bahwa model terbarunya, Mythos, sangat berbahaya dalam hal peretasan sehingga hanya kolaborator yang disetujui yang bisa menggunakannya. Ketika akhirnya dirilis lebih luas, Gedung Putih merespons dengan mengeluarkan kontrol ekspor yang luas, memaksa Anthropic untuk menonaktifkan sementara Mythos dan model saudaranya, Fable 5. OpenAI juga menunda perilisan GPT 5.6 setelah menerima permintaan dari Gedung Putih.

    Sementara itu, situasi di China sangat berbeda. Startup China dan raksasa teknologi justru menggandakan komitmen mereka pada open source: siapa pun dengan lingkungan komputer yang memadai kini dapat mengunduh model open-weight, menjalankannya secara lokal, menambahkan kustomisasi, dan menikmati kebebasan yang jauh lebih besar daripada yang diizinkan OpenAI dan Anthropic.

    Ada banyak alasan mengapa laboratorium China memilih strategi bisnis yang dibangun di atas model open-source. Sebagai pemain yang lebih baru dan lebih kecil di bidang AI, membuat model mereka gratis dan terbuka membantu perusahaan China menarik lebih banyak pengguna, kolaborator, dan sorotan media. Ini juga menempatkan mereka di jalur persaingan yang terpisah dari OpenAI, Anthropic, Google, SpaceX, dan raksasa modal besar lainnya. Awal tahun ini, beredar rumor bahwa Alibaba mungkin mempertimbangkan untuk bergabung dalam persaingan closed-source setelah merombak tim pengembangan model AI perusahaannya. Namun, raksasa teknologi itu mengumumkan pada Senin (20/7/2026) bahwa mereka akan kembali merilis versi terbaru Qwen—lini model open-source yang dicintai komunitas teknologi global—dengan bobot terbuka, menandakan kepada pelanggan dan publik bahwa mereka belum beralih.

    Dampak Komersial dan Narasi yang Terkikis

    Fakta bahwa beberapa laboratorium China mampu menciptakan model agenik yang mumpuni dan tidak takut merilisnya ke publik melubangi pemahaman populer bahwa OpenAI dan Anthropic berada jauh di depan persaingan. Sama seperti DeepSeek, para penggemar K3 kini merayakannya sebagai bukti bahwa model AI Barat terlalu dibesar-besarkan dan terlalu dilindungi.

    “Sungguh liar betapa banyak cinta yang didapat Kimi,” tulis Rui Ma, pendiri firma riset independen Tech Buzz China, dalam unggahan media sosial, merujuk pada pengumuman perusahaan bahwa permintaan untuk K3 telah membanjiri server mereka. “Ini hanya dimungkinkan oleh komunikasi dan keputusan yang buruk dari laboratorium [Silicon Valley] dalam setahun terakhir,” tambahnya.

    Nathan Lambert, seorang peneliti AI independen di Seattle yang baru saja mengunjungi kantor Moonshot AI di China, berpendapat, “Saya pikir Anthropic terlalu membesar-besarkan risiko, atau menggambarkan risiko yang akan segera terjadi tetapi saat ini belum meluas.” Ia mengakui, seperti halnya masyarakat umum, ia memiliki sedikit informasi langsung tentang bagaimana performa Mythos sebenarnya. “Kami bergantung pada beberapa perusahaan swasta dan pemerintah federal dengan kapasitas negara yang terkuras untuk membuat penilaian itu,” katanya.

    Selain menantang narasi Barat tentang AI, model open-source China juga terbukti menjadi pengganti komersial yang praktis untuk model tertutup Amerika. Model-model ini tidak hanya dibicarakan di X dan dibandingkan dengan model lain—mereka telah menjadi opsi yang populer dan siap pakai bagi semakin banyak startup Barat dan pengguna individu.

    “Ada pergeseran nyata menuju penggunaan model-model terbaru ini yang dimulai dengan GLM 5.2,” kata Lambert, merujuk pada model Z.ai. “Bahkan berminggu-minggu setelah perilisan GLM 5.2, saya mendengar dari peneliti AI di Bay Area bahwa mereka masih menggunakannya untuk bagian inti alur kerja mereka. Kimi, sebagai model yang lebih kuat, akan berbuat lebih banyak, terutama di bidang keamanan siber, di mana Mythos, Fable, dan GPT 5.6 secara efektif tidak dapat digunakan.”

    Faktanya, ini sudah terjadi. Pada Selasa (21/7/2026), OpenAI mengungkapkan insiden yang memprihatinkan di mana model GPT-5.6 Sol meretas sistem produksi Hugging Face, sebuah platform AI open-source. Hugging Face mengatakan mereka terpaksa menggunakan model open-source GLM 5.2 untuk menganalisis serangan siber tersebut karena model frontier lainnya menolak membantu karena pagar pembatas keamanan bawaan.

    Biaya dan Asumsi Pendanaan Tak Terbatas

    Model AI China juga cenderung lebih murah dibandingkan alternatif Barat, meskipun itu belum tentu menjadi nilai jual utama mereka. Sementara model seperti K3 mengenakan biaya lebih rendah per token, pengujian awal menunjukkan bahwa mereka mungkin memerlukan lebih banyak token daripada model Barat untuk menyelesaikan masalah yang sama, sehingga membuat kesenjangan biaya menjadi lebih kecil.

    “Dalam penggunaan saya yang cukup terbatas, [K3] juga tampaknya sangat rakus token. Tidak jelas bagi saya bahwa model ini benar-benar murah untuk dijalankan,” tulis Dean Ball, mantan penasihat AI Gedung Putih yang baru saja bergabung dengan OpenAI sebagai kepala urusan strategis masa depan, dalam unggahan media sosial di mana ia juga memuji K3 sebagai “model yang sangat bagus.”

    Meskipun relatif rakus token, model seperti K3 pada akhirnya menantang asumsi fundamental yang telah mendorong strategi OpenAI dan Anthropic selama bertahun-tahun: bahwa laboratorium AI membutuhkan pendanaan tak terbatas untuk meningkatkan kemampuan komputasi mereka hanya untuk membuat model yang lebih baik. “Pada akhirnya, model open-weight menghalangi belanja modal AI lebih lanjut,” tulis Ball.