Category: Tekno

  • Steam Cetak Rekor Pendapatan Rp 201 Triliun di 2026

    Steam Cetak Rekor Pendapatan Rp 201 Triliun di 2026

    JBNews.id — Di tengah lesunya pasar konsol game global, platform distribusi game milik Valve, Steam, justru mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada paruh pertama 2026. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar USD 11,1 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 201 triliun.

    Angka fantastis tersebut dilaporkan oleh Eurogamer pada Selasa (14/7/2026) dan merupakan hasil yang lebih tinggi dibandingkan perolehan Steam pada paruh pertama maupun paruh kedua tahun 2025. Pertumbuhan ini terjadi saat dua raksasa konsol, Xbox dan PlayStation, tengah menghadapi tekanan penurunan penjualan dan pendapatan.

    Menurut perkiraan dari perusahaan analisis data Alinea Analytics, Rhys Elliott selaku kepala analisis pasar di sana, ada beberapa faktor kunci yang mendorong kinerja gemilang Steam. Salah satu yang paling signifikan adalah dominasi pasar di China, di mana 50% dari total pengguna Steam berasal dari negara tersebut.

    “Jika kita melihat dekade terakhir secara lebih luas, situasinya menjadi sangat luar biasa. Jelas ada penurunan yang terlihat saat pasar kembali normal setelah euforia pandemi, tetapi tren jangka panjangnya terus meningkat, dengan pertumbuhan selama tujuh semester berturut-turut,” jelas Elliott di situs web Alinea.

    Data yang dikumpulkan oleh Elliott menunjukkan bahwa selama dekade terakhir, pendapatan Steam hampir meningkat lima kali lipat. Pada paruh pertama 2026, platform ini menghasilkan pendapatan hampir lima kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2017. Faktor lain yang turut berkontribusi termasuk harga yang lebih tinggi untuk perilisan game baru dan kembalinya penerbit pihak ketiga ke Steam.

    Game Terlaris Jadi Motor Pertumbuhan

    Sejumlah judul game besar menjadi pendorong utama pendapatan Steam di paruh pertama 2026. Forza Horizon 6 menjadi game terlaris tahun ini dengan menghasilkan USD 197,7 juta kurang dari dua bulan setelah perilisan. Selain itu, Resident Evil Requiem berhasil meraih USD 194,5 juta sejak peluncurannya pada Februari lalu.

    Game lain yang juga mencatatkan penjualan fantastis adalah Crimson Desert, yang menghasilkan USD 190 juta sejak peluncurannya pada Maret lalu. Kehadiran game-game AAA ini menunjukkan bahwa ekosistem PC gaming tetap menjadi pilihan utama bagi para pengembang untuk merilis judul-judul blockbuster mereka.

    Yang menarik, tiga game indie juga sukses menjadi mesin uang bagi Steam. Slay the Spire 2 menghasilkan USD 141,7 juta, Subnautica 2 meraup USD 133,6 juta, dan Meccha Chameleon membukukan USD 71,3 juta. Keberhasilan game-game indie ini menegaskan bahwa Steam tetap menjadi platform yang ramah bagi pengembang kecil untuk bersaing di pasar global.

    Xbox dan PlayStation Terpuruk

    Sementara Steam menikmati masa kejayaan, situasi di kubu konsol justru sebaliknya. Pendapatan game Microsoft turun 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah penyesuaian ulang yang dilakukan pekan ini, kondisi Xbox diprediksi tidak akan sepenuhnya membaik dalam waktu dekat.

    PlayStation pun tidak jauh lebih baik. Sony semakin sedikit menjual game eksklusif PlayStation sejak 2020. Keputusan kontroversial mereka untuk memangkas sebagian besar potensi pendapatan dengan mengumumkan bahwa PlayStation tidak akan menghadirkan game eksklusif di PC ke depannya juga menjadi faktor yang memperburuk situasi.

    Perbedaan nasib antara Steam dengan Xbox dan PlayStation ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen global. Para gamer kini cenderung beralih ke platform PC yang menawarkan lebih banyak fleksibilitas, harga yang lebih kompetitif, dan katalog game yang lebih luas. Haaland dan Deepfake menjadi contoh bagaimana teknologi digital mengubah lanskap hiburan modern.

    Dominasi Steam di pasar China juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dengan separuh penggunanya berasal dari negara tersebut, Steam berhasil memanfaatkan pertumbuhan pesat pasar game China yang terus berkembang. Sementara itu, konsol game masih menghadapi berbagai hambatan regulasi dan preferensi lokal di pasar Asia.

    Fenomena ini juga menunjukkan bahwa model bisnis distribusi digital seperti yang dijalankan Valve lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen. Tidak seperti konsol yang membutuhkan investasi perangkat keras yang besar, Steam memungkinkan pemain untuk mengakses ribuan game hanya dengan memiliki PC yang memadai.

    Bagi para pengembang game, kesuksesan Steam membuka peluang lebih besar untuk menjangkau audiens global tanpa harus bergantung pada penerbit tradisional. Peluang Bumi Bertahan menjadi metafora bagaimana adaptasi terhadap perubahan adalah kunci keberlangsungan, sama seperti yang dilakukan Steam di industri game.

    Dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat selama tujuh semester berturut-turut, Steam diprediksi akan terus memperkuat posisinya sebagai platform distribusi game terbesar di dunia. Sementara itu, Xbox dan PlayStation perlu melakukan inovasi signifikan untuk bisa kembali bersaing di pasar yang semakin kompetitif ini.

  • Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25% Akibat Ekspansi AI

    Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25% Akibat Ekspansi AI

    JBNews.id — Emisi karbon Microsoft melonjak 25% pada tahun 2025, mencapai total 34 juta metrik ton, menurut sustainability report tahun 2026. Lonjakan ini dipicu oleh masifnya ekspansi infrastruktur data center yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

    Raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu sebelumnya telah menetapkan target ambisius untuk menjadi perusahaan berstatus karbon negatif pada tahun 2030. Artinya, Microsoft harus mampu menyerap dan menghilangkan lebih banyak emisi karbon daripada yang diproduksi. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa target tersebut semakin sulit dicapai.

    Melansir dari GeekWire, Microsoft mengonfirmasi bahwa peningkatan emisi ini utamanya didorong oleh pembangunan dan operasional data center secara besar-besaran. Infrastruktur AI yang terus berkembang membutuhkan pasokan energi, air, lahan, dan material dalam jumlah yang sangat besar.

    “Meskipun infrastruktur AI terus mendorong tingginya permintaan akan energi, air, lahan, dan material, solusi keberlanjutan belum mampu berkembang cukup cepat untuk mengimbangi permintaan tersebut,” tulis laporan tersebut. Pernyataan ini mengakui realita pahit di balik pesatnya perkembangan teknologi AI.

    Ini bukanlah kali pertama Microsoft menghadapi batu sandungan dalam mencapai tujuan lingkungannya. Laporan keberlanjutan tahun 2024 mereka juga menunjukkan tren peningkatan jejak polusi iklim yang serupa. Kini, dengan lonjakan 25%, tekanan terhadap perusahaan semakin besar.

    Dampak AI terhadap Target Iklim Global

    Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Microsoft. Para pesaing utamanya di industri cloud juga mengalami nasib serupa. Google melaporkan lonjakan emisi rantai pasokannya yang juga menyentuh angka 25% dalam laporan keberlanjutan 2026 mereka. Sementara itu, Amazon mencatatkan peningkatan emisi yang sedikit lebih rendah, yakni di angka 16%.

    Tak hanya soal karbon, konsumsi sumber daya alam lainnya seperti air juga menjadi sorotan tajam. Pada bulan Juni lalu, Amazon mengungkapkan bahwa infrastruktur data center miliknya telah menyedot hingga 2,5 miliar galon air sepanjang tahun 2025. Meski angkanya terdengar masif, Amazon mengklaim bahwa tingkat konsumsi air mereka masih lebih rendah dibandingkan dengan yang digunakan oleh Microsoft.

    Perlombaan infrastruktur AI ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan jangka panjang. Di satu sisi, AI menawarkan potensi transformasi besar di berbagai sektor. Di sisi lain, biaya lingkungan dari pengembangannya sangat tinggi.

    Beberapa perusahaan teknologi besar kini mulai menyadari bahwa mereka harus menemukan keseimbangan antara inovasi AI dan tanggung jawab lingkungan. Penggunaan energi terbarukan dan teknologi pendinginan yang lebih efisien menjadi salah satu solusi yang sedang dijajaki. Namun, implementasinya masih jauh dari cukup untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan.

    Peningkatan emisi ini juga menjadi perhatian bagi para investor dan pemangku kepentingan lainnya. Banyak dana investasi kini menerapkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat. Perusahaan dengan jejak karbon yang membesar berisiko kehilangan minat investor.

    Microsoft sendiri telah berkomitmen untuk mencapai target karbon negatif pada 2030. Namun, dengan tren saat ini, banyak pihak meragukan apakah target tersebut realistis. Perusahaan perlu melakukan langkah-langkah drastis untuk menekan emisi, termasuk mempercepat transisi ke sumber energi terbarukan dan mengembangkan teknologi penangkapan karbon yang lebih efektif.

    Situasi ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara keseluruhan. Pertumbuhan eksponensial AI tidak boleh mengorbankan keberlanjutan planet. Inovasi dan tanggung jawab lingkungan harus berjalan beriringan.

    Beberapa perusahaan teknologi besar kini mulai menyadari bahwa mereka harus menemukan keseimbangan antara Fitur Terbaru AI dan dampak lingkungannya. Penggunaan energi terbarukan dan teknologi pendinginan yang lebih efisien menjadi salah satu solusi yang sedang dijajaki.

    Ke depan, konsumen dan regulator kemungkinan akan semakin menekan perusahaan teknologi untuk lebih transparan mengenai dampak lingkungan dari operasi mereka. Kebijakan pemerintah di berbagai negara juga mulai mengarah pada pembatasan emisi karbon yang lebih ketat.

    Bagi Indonesia, fenomena ini juga relevan. Dengan semakin banyaknya data center yang dibangun di dalam negeri, pemerintah dan pelaku industri perlu mempertimbangkan aspek keberlanjutan sejak awal. Penggunaan energi terbarukan untuk operasional data center harus menjadi prioritas.

    Perusahaan teknologi global juga mulai menginvestasikan dana besar dalam penelitian dan pengembangan solusi energi bersih. Inovasi seperti Proyek Ambisius dalam bidang energi nuklir kecil modular (SMR) dan teknologi baterai skala besar menjadi harapan baru untuk mengurangi jejak karbon data center.

    Namun, semua solusi tersebut membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit. Dalam jangka pendek, emisi karbon dari industri AI diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan permintaan akan layanan berbasis AI.

    Implikasinya bagi pembaca: peningkatan emisi karbon ini berarti biaya lingkungan dari penggunaan layanan AI juga semakin besar. Setiap prompt yang dikirim ke model AI atau setiap file yang diproses di cloud memiliki jejak karbon tersendiri. Kesadaran akan hal ini penting untuk mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab.

  • Gamer Gugat Microsoft, Menang dan Dapat Kembali Akunnya

    Gamer Gugat Microsoft, Menang dan Dapat Kembali Akunnya

    JBNews.id — Seorang gamer asal Brasil berhasil memenangkan gugatan terhadap Microsoft setelah akunnya diretas, memaksa raksasa teknologi itu memulihkan akun dan seluruh pembelian digitalnya. Pengadilan Rio de Janeiro (TJRJ) memenangkan pengguna Reddit bernama OrdoLiberal yang menggugat Microsoft karena gagal memulihkan akunnya yang dicuri, meskipun ia telah mengaktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA).

    Mimpi buruk Ordo dimulai pada April 2026 ketika akun Microsoft miliknya diretas oleh pihak tak dikenal. Ironisnya, peretasan ini terjadi meskipun ia sudah mengaktifkan lapisan keamanan tambahan berupa 2FA. Saat meminta bantuan, layanan pelanggan Microsoft justru memberikan respons yang mengecewakan. Mereka membenarkan bahwa akun tersebut telah dicuri, namun mengklaim tidak bisa memulihkannya karena si peretas sudah mengubah detail keamanannya.

    Satu-satunya solusi yang ditawarkan Microsoft adalah menutup akun tersebut secara permanen. Artinya, Ordo harus merelakan semua game yang telah dibelinya, termasuk Minecraft, dan membelinya kembali dari awal. Situasi ini menjadi semakin pelik di tengah tren industri yang kian meninggalkan media fisik, sebagaimana dibahas dalam Analis: Loyalitas Gamer ke platform digital.

    Menariknya, layanan pelanggan Ubisoft menangani insiden turunan dari peretasan ini dengan jauh lebih sigap. Ketika peretas mencoba mengambil alih akun Ubisoft Ordo yang terhubung ke akun Microsoft tersebut, Ubisoft hanya meminta verifikasi identitas berupa KTP/ID dan langsung memulihkan akunnya dalam waktu kurang dari satu jam.

    Gugatan ke Pengadilan dan Kemenangan Konsumen

    Merasa dirugikan, Ordo menghubungi pengacara. Belakangan diketahui bahwa balasan dari Microsoft sebelumnya hanyalah pesan otomatis. Tidak main-main, Microsoft melawan gugatan ini dengan mengerahkan 12 pengacara dan menyerahkan dokumen pembelaan setebal 300 halaman.

    Namun, Microsoft tetap kalah. Berdasarkan putusan bernomor 0811207-44.2026.8.19.0002 di pengadilan Rio de Janeiro (TJRJ), Microsoft diberi waktu 15 hari untuk memulihkan akun serta seluruh pembelian Ordo. Jika gagal, perusahaan akan menghadapi denda ratusan dolar yang terus bertambah. Tak hanya itu, Microsoft juga diwajibkan membayar denda kerugian moral kepada Ordo sebesar kurang lebih USD 400 atau sekitar Rp 6,4 juta.

    Satu detail kocak dari kasus ini: Ordo mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mengajukan gugatan berkat hukum perlindungan konsumen Brasil yang menyediakan fasilitas pembelaan hukum gratis. Ia menyebut bahwa satu-satunya pengeluarannya adalah USD 10 untuk membeli celana panjang, karena ia tidak diizinkan masuk ke gedung pengadilan dengan mengenakan celana pendek.

    Ancaman di Era Game Serba Digital

    Kemenangan konsumen ini menyoroti rapuhnya kepemilikan digital, apalagi mengingat masa depan industri game yang kian meninggalkan media fisik seperti kaset dan cakram. Sony telah mengonfirmasi bahwa mulai Januari 2028, semua game PlayStation baru hanya akan dijual dalam format digital.

    Microsoft kabarnya juga menuju arah yang sama. Konsol Xbox generasi berikutnya, yang dirumorkan bersandi Project Helix, disebut-sebut akan meluncur tanpa disc drive atau pemutar cakram. Meski begitu, Microsoft dikabarkan tengah menguji fitur disc-to-digital untuk mengonversi kaset fisik lama menjadi lisensi digital.

    Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para gamer bahwa kepemilikan aset digital sangat bergantung pada kebijakan perusahaan. Di tengah tren ini, muncul berbagai inovasi seperti Fitur Cuan VCGamers yang memungkinkan pengguna mendapatkan penghasilan tambahan dari ekosistem game.

    Keputusan pengadilan Brasil ini juga membuka diskusi lebih luas tentang tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap keamanan data pengguna. Dengan Mantan Bos Sony yang sebelumnya membahas peluang bagi Xbox, kasus ini justru menunjukkan tantangan serius yang dihadapi Microsoft dalam melindungi konsumennya.

    Bagi para gamer Indonesia, kasus ini memberikan gambaran bahwa konsumen memiliki hak untuk menuntut ketika layanan perlindungan akun tidak berjalan optimal. Meskipun sistem hukum di setiap negara berbeda, prinsip dasar perlindungan konsumen tetap berlaku. Kasus OrdoLiberal membuktikan bahwa seorang individu bisa melawan korporasi raksasa dan menang.

    Implikasi dari putusan ini sangat jelas: perusahaan teknologi harus meningkatkan sistem keamanan dan layanan pemulihan akun mereka. Jika tidak, mereka tidak hanya menghadapi risiko reputasi, tetapi juga tuntutan hukum yang merugikan secara finansial. Bagi konsumen, ini adalah kemenangan yang menegaskan bahwa kepemilikan digital bukanlah ilusi selama ada payung hukum yang melindunginya.

  • Apple Rilis iOS 27 Public Beta, Ini Cara Instal dan Daftar iPhone

    Apple Rilis iOS 27 Public Beta, Ini Cara Instal dan Daftar iPhone

    JBNews.id — Apple resmi merilis iOS 27 versi public beta untuk puluhan iPhone yang kompatibel. Pembaruan sistem operasi ini membawa sejumlah peningkatan besar, termasuk Siri versi baru dengan kemampuan percakapan yang lebih alami dan fitur Apple Intelligence yang lebih canggih.

    Selain iOS 27, Apple juga merilis versi public beta untuk iPadOS 27, watchOS 27, dan macOS 27 Golden Gate. Pengguna yang ingin mencoba fitur-fitur terbaru ini dapat bergabung dengan Apple Beta Software Program secara gratis tanpa memerlukan akun developer.

    Fitur Unggulan iOS 27

    iOS 27 menghadirkan Siri versi baru yang memiliki kemampuan bercakap-cakap lebih alami dan dapat diakses lewat aplikasi khusus. Siri kini dapat memahami konten yang ada di layar, mengambil tindakan di aplikasi, dan menjawab pertanyaan yang lebih rinci.

    Apple juga meningkatkan fitur Apple Intelligence di iOS 27. Aplikasi Photos kini memiliki tiga fitur edit yang lebih pintar. Fitur Clean Up bisa membersihkan objek yang lebih besar dan lebih kompleks. Fitur Extend dapat memperluas latar belakang foto, dan Spatial Reframing memungkinkan pengguna menyesuaikan posisi kamera setelah mengambil foto.

    Fitur Liquid Glass masih dipertahankan di iOS 27 dan Apple meningkatkannya dengan slider untuk kustomisasi. Pengguna bisa memilih tampilan yang lebih transparan atau lebih opaque sesuai preferensi masing-masing.

    Performa Lebih Kencang

    Apple mengklaim pengguna iPhone akan merasakan performa yang lebih kencang setelah menginstal iOS 27. Aplikasi bisa dibuka 30% lebih cepat, transfer data menggunakan AirDrop bisa selesai 80% lebih cepat, dan foto baru akan muncul di aplikasi Photos 70% lebih cepat.

    Peningkatan performa ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengguna yang ingin mendapatkan pengalaman terbaik dari perangkat mereka. Sementara itu, perkembangan teknologi AI di industri teknologi terus berlanjut, seperti yang terlihat dalam Model AI Coding terbaru dari Meta.

    Cara Instal iOS 27 Versi Public Beta

    Sebelum menginstal iOS 27 public beta, pengguna harus bergabung dengan Apple Beta Software Program terlebih dulu. Program ini bisa diikuti dengan gratis dan tidak membutuhkan akun developer.

    Sebelum memulai proses download dan instalasi, pastikan iPhone sudah di-backup atau dicadangkan ke iCloud atau komputer untuk memudahkan downgrade ke iOS 26. Apple menyarankan untuk menginstal software beta di perangkat kedua karena versi ini dapat mengandung bug, mengurangi masa pakai baterai, dan memiliki masalah kompatibilitas dengan aplikasi pihak ketiga.

    Jika sudah paham risikonya, ikuti cara berikut untuk instal iOS 27 versi public beta:

    1. Masuk ke website Apple Beta Software Program dan pilih Sign Up atau Sign In
    2. Login menggunakan Apple Account yang sama dengan yang dipakai di iPhone lalu ikuti petunjuk di layar
    3. Buka Settings di iPhone
    4. Masuk ke General > Software Update > Beta Updates
    5. Pilih iOS 27 Public Beta
    6. Kembali ke laman Software Update, lalu klik tombol Update Now yang ada di layar

    Perlu diingat bahwa versi beta mungkin memiliki bug yang dapat mempengaruhi kinerja perangkat. Untuk informasi lebih lanjut tentang risiko teknologi, Anda dapat membaca tentang AI Kesehatan yang memiliki tingkat error tinggi.

    Daftar iPhone yang Mendukung iOS 27

    Berikut daftar lengkap iPhone yang kompatibel dengan iOS 27:

    iPhone 17 Series
    iPhone 17, iPhone 17 Air, iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, iPhone 17e

    iPhone 16 Series
    iPhone 16, iPhone 16 Plus, iPhone 16e, iPhone 16 Pro, iPhone 16 Pro Max

    iPhone 15 Series
    iPhone 15, iPhone 15 Plus, iPhone 15 Pro, iPhone 15 Pro Max

    iPhone 14 Series
    iPhone 14, iPhone 14 Plus, iPhone 14 Pro, iPhone 14 Pro Max

    iPhone 13 Series
    iPhone 13, iPhone 13 mini, iPhone 13 Pro, iPhone 13 Pro Max

    iPhone 12 Series
    iPhone 12, iPhone 12 mini, iPhone 12 Pro, iPhone 12 Pro Max

    iPhone 11 Series
    iPhone 11, iPhone 11 Pro, iPhone 11 Pro Max

    iPhone SE
    iPhone SE (Generasi ke-3/2022), iPhone SE (Generasi ke-2/2020)

    Dengan dukungan untuk puluhan model iPhone, iOS 27 dapat diakses oleh sebagian besar pengguna iPhone aktif. Sementara itu, perkembangan regulasi frekuensi juga menjadi perhatian, seperti yang terlihat dalam isu Frekuensi 6G yang sedang dipertimbangkan oleh Komdigi.

    Implikasi bagi Pengguna

    Bagi pengguna iPhone, rilis iOS 27 public beta memberikan kesempatan untuk merasakan fitur-fitur terbaru sebelum peluncuran versi stabil. Namun, risiko penggunaan versi beta seperti bug dan masalah kompatibilitas perlu dipertimbangkan.

    Apple menyarankan pengguna untuk menginstal software beta di perangkat kedua agar tidak mengganggu penggunaan perangkat utama. Dengan performa yang lebih kencang dan fitur AI yang lebih canggih, iOS 27 menjadi salah satu pembaruan paling signifikan dari Apple dalam beberapa tahun terakhir.

    Pengguna yang tertarik untuk mencoba iOS 27 public beta dapat segera mendaftar melalui Apple Beta Software Program dan mengikuti langkah-langkah instalasi yang telah dijelaskan.

  • Pentagon Rilis Foto Bintang Segi Enam Aneh di Langit China

    Pentagon Rilis Foto Bintang Segi Enam Aneh di Langit China

    JBNews.id — Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) kembali merilis kumpulan dokumen terkait fenomena anomali tidak dikenal (UAP), termasuk foto bintang segi enam aneh yang terekam di atas Laut Kuning, China. Rilis terbaru ini merupakan bagian dari upaya transparansi yang diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump.

    Kumpulan berkas yang dirilis akhir pekan lalu itu mencakup 40 file yang terdiri dari 14 dokumen, 19 video, empat file audio, dan tiga gambar. Berkas-berkas tersebut berasal dari berbagai lembaga, termasuk Pentagon, NASA, CIA, FBI, dan Departemen Energi. Sekitar setengah dari file yang dibagikan berasal dari tahun 2010 ke atas, dengan video yang menampilkan rekaman inframerah yang diambil menggunakan kamera militer.

    Gambar dan video yang buram tersebut menunjukkan objek dan insiden yang tidak dapat dijelaskan dari seluruh dunia, termasuk di Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Timur Tengah.

    Penampakan Bintang Segi Enam di Laut Kuning

    Salah satu insiden terbaru yang diungkap dalam kumpulan berkas ini terjadi pada tahun 2025 di dekat China. Sebuah video menunjukkan sensor militer yang mengikuti area kontras yang menyerupai bintang berujung enam di atas Laut Kuning. Bentuk geometris yang tidak biasa ini memicu spekulasi di kalangan pengamat UAP.

    Selain itu, terdapat insiden lain yang terjadi di atas Samudera Atlantik pada tahun 2020. File video yang dirilis Pentagon memperlihatkan objek berwarna gelap, seperti merah marun, dengan tinggi sekitar 3,6-4,5 meter.

    “Secara struktural, benda itu tampak seperti balon besar yang bentuknya agak aneh, tetapi kami tidak dapat memverifikasinya saat kami melewatinya di persimpangan jalur penerbangan,” tulis anggota Angkatan Laut AS dalam laporannya, seperti dikutip dari CBS News, Selasa (14/7/2026). “Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke kapal, mendarat tanpa insiden,” sambungnya.

    Pentagon kembali membagikan dokumen berisi foto dan video penampakan objek diduga UFO

    Dokumen Bersejarah dari Proyek Manhattan

    Berkas yang dibagikan Pentagon juga mencakup transkrip konferensi di Los Alamos, New Mexico pada tahun 1949 yang dihadiri oleh fisikawan dan ilmuwan ternama, termasuk mereka yang terlibat dalam Proyek Manhattan. Peserta konferensi tersebut mencoba dan gagal menjelaskan ‘bola api hijau’ yang terlihat di atas laboratorium nuklir.

    Salah satu teori menyatakan objek itu adalah meteor yang memasuki atmosfer, tapi seorang astronom terkemuka mengatakan ini tidak pernah diamati di kasus meteorit jatuh sebelumnya. Ketidakmampuan para ilmuwan terbaik era itu untuk menjelaskan fenomena tersebut menambah misteri seputar UAP.

    Rilis Keempat di Bawah Perintah Trump

    Ini adalah kumpulan berkas terkait UFO keempat yang dirilis oleh Pentagon sejak Presiden AS Donald Trump memberikan perintah eksekutifnya pada Februari 2026. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan transparansi pemerintah AS terkait fenomena UAP.

    Pentagon mengatakan masih ada banyak dokumen lainnya yang akan dirilis kemudian. “Departemen Perang dan mitra lembaga kami secara aktif mengerjakan rilis berkas UAP berikutnya,” kata juru bicara Pentagon Sean Parnell dalam pernyataan resminya.

    Rilis dokumen secara bertahap ini menunjukkan komitmen pemerintah AS untuk memberikan akses publik terhadap informasi yang sebelumnya dirahasiakan. Para pengamat UAP menantikan dokumen-dokumen selanjutnya yang mungkin akan memberikan lebih banyak petunjuk tentang fenomena aneh di langit.

    Kehadiran bintang segi enam di atas Laut Kuning menjadi salah satu bukti visual paling menarik dalam kumpulan dokumen kali ini. Bentuk geometris yang sempurna dan terekam oleh sensor militer membuatnya sulit dijelaskan sebagai fenomena alam biasa.

    Seiring dengan terus dirilisnya dokumen-dokumen ini, publik dapat mengikuti perkembangan investigasi UAP yang dilakukan oleh pemerintah AS. Teknologi Baru terus dikembangkan untuk menganalisis data-data ini.

    Implikasinya bagi pembaca adalah bahwa fenomena UAP kini menjadi subjek investigasi resmi pemerintah, bukan lagi sekadar teori konspirasi. Data dan dokumentasi yang dirilis secara bertahap memungkinkan publik untuk mengikuti proses verifikasi ilmiah terhadap fenomena-fenomena yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan.

  • Robot Bawah Es Temukan 60 Juta Sarang Ikan di Antartika

    Robot Bawah Es Temukan 60 Juta Sarang Ikan di Antartika

    JBNews.id — Sebuah robot bawah laut berhasil mengonfirmasi keberadaan koloni raksasa berisi sekitar 60 juta sarang ikan di bawah lapisan es Antartika. Temuan ini memperkuat status kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi berkembang biak ikan terbesar yang pernah ditemukan di Bumi.

    Misi tersebut dilakukan oleh tim dari Alfred Wegener Institute (AWI), Jerman, menggunakan kendaraan bawah laut otonom bernama LASSIE (Low-Altitude Survey System for Icefish). Robot itu menjelajahi dasar laut selama 48 jam tanpa henti di bawah Filchner Ice Shelf, Laut Weddell, untuk memantau kondisi koloni ikan es (icefish).

    “LASSIE menghabiskan 48 jam memantau dasar laut di bawah Filchner Ice Shelf dan mengonfirmasi bahwa koloni dengan sekitar 60 juta sarang aktif masih tetap berada di sana,” demikian laporan AWI yang dikutip Daily Galaxy.

    Koloni tersebut pertama kali ditemukan pada 2021 ketika para peneliti menjelajahi dasar Laut Weddell menggunakan sistem kamera bawah laut. Saat itu mereka menemukan hamparan sarang ikan yang membentang sekitar 240 kilometer persegi, hampir seluas Pulau Malta. Berdasarkan kepadatan sarang, jumlahnya diperkirakan mencapai 60 juta.

    Kini, melalui misi LASSIE, para ilmuwan memastikan kawasan tersebut masih menjadi habitat aktif bagi Jonah’s icefish (Neopagetopsis ionah), spesies ikan khas Antartika yang dikenal memiliki darah hampir transparan karena tidak menggunakan hemoglobin seperti kebanyakan ikan.

    Misi LASSIE tidak hanya bertujuan menghitung jumlah sarang, tetapi juga memahami bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi koloni tersebut. Robot bawah laut itu dilengkapi kamera resolusi tinggi dan berbagai sensor untuk mengukur suhu, kadar garam, kandungan oksigen, hingga arus laut di sekitar sarang ikan. Data tersebut membantu peneliti mengetahui apakah perubahan iklim mulai memengaruhi salah satu ekosistem paling unik di Antartika.

    Menurut tim peneliti, kondisi koloni saat ini masih relatif stabil. Namun, pemantauan jangka panjang tetap diperlukan karena perubahan suhu laut maupun mencairnya lapisan es berpotensi mengubah habitat ikan tersebut.

    Keberadaan koloni raksasa ini menunjukkan bahwa ikan es memiliki peran jauh lebih besar dalam rantai makanan Antartika daripada yang diperkirakan sebelumnya. Saat koloni itu pertama kali ditemukan, Autun Purser, ahli biologi laut dari Alfred Wegener Institute sekaligus penulis utama penelitian awal, mengaku timnya tidak menyangka akan melihat pemandangan tersebut.

    “Kami memperkirakan hanya akan melihat dasar laut Antartika seperti biasa. Namun selama empat jam pertama penyelaman, yang kami lihat tidak lain hanyalah sarang-sarang ikan,” kata Purser.

    Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar ilmiah untuk mendorong pembentukan kawasan konservasi laut (Marine Protected Area/MPA) di Laut Weddell agar habitat koloni ikan ini tetap terlindungi dari aktivitas manusia di masa depan.

    Sarang ikan di Antartika

    Penggunaan robot bawah laut seperti LASSIE oleh AWI menunjukkan bagaimana teknologi otonom semakin vital dalam penelitian ekstrem. Dalam konteks berbeda, robot humanoid juga mulai dikembangkan untuk interaksi sosial, seperti yang diperkenalkan di China dengan kemampuan mengenali emosi manusia.

    LASSIE sendiri dirancang khusus untuk misi bawah es, berbeda dengan robot humanoid yang memiliki 25 derajat kebebasan pada tangannya. Perbedaan ini menunjukkan spesialisasi teknologi robotik untuk kebutuhan yang sangat spesifik.

    Implikasi dari temuan ini sangat luas. Bagi para ilmuwan, data dari LASSIE memberikan gambaran nyata tentang ketahanan ekosistem Antartika di tengah ancaman perubahan iklim. Bagi pembuat kebijakan, temuan ini memperkuat urgensi pembentukan MPA di Laut Weddell untuk melindungi salah satu koloni ikan terbesar di Bumi.

    Dengan konfirmasi bahwa 60 juta sarang masih aktif, para peneliti kini memiliki dasar data yang kuat untuk pemantauan jangka panjang. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa habitat unik ini tetap terlindungi dari dampak aktivitas manusia dan perubahan iklim global.

  • Perusahaan Global Beralih ke AI China yang Lebih Murah

    Perusahaan Global Beralih ke AI China yang Lebih Murah

    JBNews.id — Perusahaan global seperti DoorDash, Airbnb, dan Siemens mulai mengadopsi model kecerdasan buatan (AI) buatan China. Langkah ini didorong oleh biaya yang jauh lebih rendah serta pendekatan “open-weight” yang menawarkan fleksibilitas lebih besar dibandingkan model AI buatan Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic.

    Fenomena ini terungkap dalam laporan Financial Times yang menunjukkan pergeseran signifikan di kalangan korporasi. Data dari platform OpenRouter mencatat bahwa model AI China dari DeepSeek dan Z.ai kini telah melampaui popularitas model Amerika dalam hal penggunaan di kalangan perusahaan. Biaya yang lebih murah, tampaknya, menjadi faktor yang mengalahkan persaingan geopolitik.

    “Model China adalah ‘gajah di dalam ruangan’,” ujar Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI, kepada Financial Times. “Perusahaan mulai menyadari, ‘Hei, kami tidak butuh model terbaik, kami bisa menggunakan model yang lebih cepat dan lebih murah’.”

    Pandangan bahwa model AI Amerika adalah yang paling canggih mulai bergeser. Peluncuran GLM-5.2 dari startup China Z.ai bulan lalu menggemparkan kalangan teknologi Silicon Valley. Tokoh-tokoh terkemuka mengakui bahwa model ini setara atau hampir setara dengan sistem AS, namun dengan biaya yang jauh lebih rendah untuk digunakan.

    Munculnya AI China yang murah ini datang di saat yang tepat. Dunia korporasi, yang tergiur oleh janji AI untuk meningkatkan produktivitas, telah menghabiskan setahun terakhir untuk menerapkan AI di seluruh lini kerja mereka. Namun, banyak yang kini mulai keberatan dengan biaya yang membengkak. Salah satu organisasi dilaporkan menghabiskan dana hingga US$500 juta dalam sebulan hanya untuk biaya penggunaan model Claude.

    Meskipun itu adalah kasus ekstrem, penelitian terbaru dari Ramp AI Index menemukan bahwa perusahaan yang paling serius menggunakan AI menghabiskan sekitar US$7.500 per karyawan setiap bulannya. Budaya di sekitar AI juga menjadi pendorong; beberapa perusahaan seperti Meta mewajibkan karyawannya untuk menggunakan sistem AI sebanyak mungkin dan memasukkannya ke dalam evaluasi kinerja.

    Insinyur perangkat lunak, yang kini dituntut menghasilkan lebih banyak pekerjaan, sering menjalankan beberapa agen AI secara bersamaan. Jika perusahaan enggan mengurangi penggunaan AI, pilihan terbaik berikutnya adalah mencari model yang lebih murah.

    Pendiri DoorDash, Andy Fang, mengatakan di platform X pekan lalu bahwa perusahaannya menghemat banyak uang dengan menyerahkan “pekerjaan tingkat rendah” kepada model dari startup China, Moonshot AI. Startup asal San Francisco, Lindy, bahkan telah sepenuhnya meninggalkan alat AI Anthropic dan beralih ke model V4 terbaru dari DeepSeek.

    “Perusahaan memiliki insentif untuk mengalihkan sebagian beban kerja mereka ke model yang lebih murah. Mengapa Anda harus membayar mahal untuk model Anthropic atau OpenAI jika untuk sebagian besar beban kerja yang Anda butuhkan, model China sudah bisa diandalkan?” kata Sam Bresnick, seorang rekan peneliti di Center for Security and Emerging Technology Universitas Georgetown, kepada Financial Times.

    Biaya bukan satu-satunya pertimbangan. Banyak model AI China yang bersifat “open-weight”, yang berarti parameter atau nilainya sepenuhnya terlihat oleh pengguna. Ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan model dengan kebutuhan spesifik mereka. Dari perspektif keamanan siber, hal ini juga memberikan kontrol dan wawasan yang lebih besar tentang bagaimana model memproses data perusahaan yang sensitif.

    Bagi perusahaan asing yang kecewa dengan kepemimpinan AS, pilihan untuk beralih menjadi lebih mudah. Kepercayaan terhadap AS sebagai pengelola AI mulai memudar, terutama setelah pemerintahan Trump menangguhkan akses ke model Mythos milik Anthropic di luar negeri. “Larangan Mythos adalah peristiwa yang paling nyata, dan orang-orang kehilangan akses mereka,” kata Aidan Gomez, CEO grup AI Kanada, Cohere, kepada Financial Times. “Ini menunjukkan risiko ketergantungan pada satu entitas tunggal untuk semua beban kerja Anda.”

    Pergeseran ini menandai titik balik dalam industri AI global. Perusahaan tidak lagi hanya mencari model dengan kemampuan terbaik, tetapi juga mempertimbangkan faktor biaya dan fleksibilitas. Dominasi AS di pasar AI mulai terusik oleh pesaing China yang menawarkan solusi lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas secara signifikan.

    Fenomena ini juga menunjukkan bahwa AI Companies Dominate tidak hanya dalam hal inovasi, tetapi juga dalam strategi penetapan harga. Perusahaan global kini memiliki lebih banyak pilihan, dan persaingan harga ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen dan bisnis yang ingin mengadopsi teknologi AI.

    Implikasinya bagi pasar Indonesia juga signifikan. Dengan semakin banyaknya model AI murah yang tersedia, adopsi AI di perusahaan-perusahaan Tanah Air berpotensi semakin cepat. Biaya yang lebih rendah menurunkan hambatan masuk bagi usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam operasional mereka.

    Namun, keputusan untuk beralih ke model AI China juga tidak lepas dari risiko. Isu keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, seperti yang pernah terjadi pada FCC Denda Delapan Perusahaan, bisa menjadi pertimbangan tersendiri. Perusahaan perlu melakukan uji tuntas yang ketat sebelum mengadopsi teknologi dari luar negeri.

    Persaingan antara AI Amerika dan China diprediksi akan semakin ketat. Model China yang lebih murah dan terbuka memberikan tekanan pada perusahaan AS untuk menurunkan harga atau meningkatkan nilai tambah produk mereka. Bagi perusahaan global, ini adalah kabar baik karena mereka memiliki lebih banyak opsi dengan biaya yang lebih kompetitif.

    Fenomena ini juga mendorong munculnya ekosistem baru di mana model AI open-source atau open-weight menjadi semakin populer. Perusahaan tidak lagi terikat pada satu vendor, tetapi dapat memilih dan menggabungkan model dari berbagai sumber sesuai kebutuhan mereka. Ini adalah perubahan fundamental dalam cara perusahaan mengadopsi dan menggunakan kecerdasan buatan.

    Ke depannya, pasar AI global akan semakin terfragmentasi. Model-model murah dari China akan terus menggerus pangsa pasar model premium dari AS. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat dan memanfaatkan model AI yang paling efisien dari segi biaya akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

    Bagi para pengamat industri, pergeseran ini adalah bukti bahwa inovasi tidak lagi menjadi monopoli satu negara. China telah membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan model AI yang kompetitif dengan biaya yang jauh lebih rendah. Ini adalah pelajaran berharga bagi industri teknologi global: harga dan aksesibilitas sama pentingnya dengan kecanggihan teknologi.

    Perusahaan yang sebelumnya enggan mengadopsi AI karena biaya tinggi kini memiliki kesempatan untuk memulai. Model China yang murah membuka pintu bagi eksperimen dan implementasi AI skala besar tanpa harus mengeluarkan investasi yang membebani anggaran. Ini bisa menjadi katalis bagi gelombang baru adopsi AI di berbagai sektor industri.

    Kesimpulannya, peralihan perusahaan global ke AI China yang lebih murah adalah tren yang tidak bisa diabaikan. Faktor biaya, fleksibilitas, dan ketersediaan model open-weight menjadi pendorong utama. Bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital, mempertimbangkan opsi AI dari China bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis.

    Perusahaan yang paling diuntungkan adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara biaya, kualitas, dan keamanan. Dengan semakin banyaknya pilihan di pasar, keputusan untuk memilih model AI yang tepat akan menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital di masa depan.

  • Microsoft Bersihkan Windows 11 dari Iklan dan Konten Berantakan

    Microsoft Bersihkan Windows 11 dari Iklan dan Konten Berantakan

    JBNews.id — Microsoft mulai menguji versi baru menu pencarian Windows 11 yang lebih bersih, tanpa konten rekomendasi dan iklan yang mengganggu. Langkah ini diambil perusahaan untuk mengembalikan kepercayaan pengguna dan memperbaiki pengalaman sistem operasi Windows.

    Dalam sebuah unggahan blog pada Senin (27/7/2026), Microsoft mengumumkan bahwa versi baru Search Box ini tengah diuji coba untuk para pengguna Windows Insider di kanal Experimental. Perubahan paling signifikan adalah tampilan homescreen pencarian yang kini hanya menampilkan riwayat pencarian terbaru pengguna.

    Saat ini, ketika pengguna membuka menu pencarian, mereka akan melihat riwayat pencarian terbaru bersamaan dengan beberapa panel di sisi kanan yang berisi gambar hari ini, kuis harian, tren pencarian, dan rekomendasi game. Semua elemen ini akan dihilangkan dalam versi baru.

    Perubahan pada Hasil Pencarian Web

    Microsoft juga membersihkan hasil pencarian web. Menu pencarian akan menampilkan “jawaban yang paling relevan” terlebih dahulu, bukan “produk dan promosi terkait.” Ini menjadi perubahan signifikan dari model sebelumnya yang kerap menampilkan tautan komersial di urutan teratas.

    Selain pembersihan visual, Microsoft menguji sejumlah peningkatan lain. Menu pencarian akan menampilkan metadata dengan lebih jelas serta pratinjau file di panel sebelah kanan. Fitur ini memudahkan pengguna mengetahui asal-usul hasil pencarian.

    Sistem pencarian Windows 11 juga akan memprioritaskan hasil dari file lokal, aplikasi, dan pengaturan. Hasil dari sumber ini akan “lebih dapat diandalkan” muncul dibandingkan rekomendasi web dan Microsoft Store. Pengguna penguji kini dapat mematikan rekomendasi web dan Store sepenuhnya dari menu Pengaturan.

    Peningkatan Kualitas Hidup Pengguna

    Sejumlah pembaruan kualitas hidup juga disertakan. Microsoft mengatakan sistem pencarian yang tengah diuji dapat menangani kesalahan ketik, huruf ekstra, dan kata parsial dengan lebih baik. Selain itu, terdapat peningkatan performa yang signifikan.

    Langkah Microsoft ini merupakan respons atas kritik pengguna yang menganggap menu pencarian Windows 11 terlalu berantakan. Dengan menghilangkan iklan dan konten rekomendasi, perusahaan berharap pengalaman pencarian menjadi lebih fokus dan efisien.

    Belum ada informasi kapan versi final dari menu pencarian bersih ini akan dirilis ke publik. Namun, pengguna Windows Insider di kanal Experimental dapat mencobanya saat ini.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft menghadapi berbagai tantangan terkait keandalan Windows 11, termasuk bug storage yang sempat menjadi sorotan. Langkah pembersihan menu pencarian ini menjadi bagian dari upaya perbaikan citra perusahaan.

    Selain itu, Microsoft juga menghadapi gugatan warga terkait kebisingan data center di Wisconsin. Berbagai isu ini menunjukkan bahwa perusahaan tengah berada dalam fase pemulihan kepercayaan publik.

    Dengan menghadirkan menu pencarian yang lebih bersih, Microsoft berharap dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengguna Windows 11. Perubahan ini juga menjadi sinyal bahwa perusahaan mendengarkan masukan dari komunitas penggunanya.

    Pengguna yang ingin mencoba fitur ini dapat mendaftar sebagai Windows Insider dan memilih kanal Experimental. Namun, perlu diingat bahwa fitur yang masih dalam tahap uji coba mungkin mengandung bug atau ketidakstabilan.

    Microsoft berkomitmen untuk terus menyempurnakan Windows 11 berdasarkan umpan balik pengguna. Pembaruan menu pencarian ini menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan merespons kebutuhan pasar.

    Dengan tren minimalis yang semakin diminati pengguna, langkah Microsoft ini dinilai tepat. Pengguna tidak lagi ingin terganggu oleh konten yang tidak relevan saat mencari file atau aplikasi di perangkat mereka.

    Ke depannya, Microsoft diperkirakan akan terus mengembangkan fitur pencarian yang lebih cerdas dan personal. Namun, untuk saat ini, fokus utama adalah membersihkan antarmuka dari elemen yang tidak perlu.

    Pengamat teknologi menilai langkah ini sebagai langkah positif. Dengan menghilangkan iklan dan rekomendasi, Microsoft menunjukkan bahwa pengalaman pengguna menjadi prioritas utama.

    Bagi pengguna bisnis, menu pencarian yang bersih dapat meningkatkan produktivitas. Tidak perlu lagi menyaring informasi yang tidak relevan saat mencari dokumen atau aplikasi penting.

    Sementara itu, pengguna rumahan juga akan merasakan manfaatnya. Pencarian yang lebih cepat dan akurat membuat penggunaan Windows 11 menjadi lebih menyenangkan.

    Microsoft belum memberikan jadwal pasti kapan fitur ini akan dirilis secara luas. Namun, dengan adanya uji coba di kanal Experimental, publik dapat melihat arah pengembangan Windows 11 ke depan.

    Perubahan ini juga menunjukkan bahwa Microsoft serius dalam memperbaiki kualitas produknya. Setelah berbagai kontroversi, perusahaan berusaha keras untuk memenangkan kembali hati pengguna.

    Dengan menu pencarian yang lebih bersih, Windows 11 semakin mendekati visi awal Microsoft: sistem operasi yang sederhana, cepat, dan andal. Pengguna kini dapat menantikan pengalaman pencarian yang lebih baik dalam waktu dekat.

    Langkah Microsoft ini patut diapresiasi. Di tengah persaingan ketat dengan sistem operasi lain, kebersihan antarmuka menjadi salah satu faktor kunci yang membedakan Windows 11 dari para pesaingnya.

    Pengguna di Indonesia pun dapat merasakan manfaatnya. Dengan koneksi internet yang bervariasi, pencarian yang lebih ringan dan tidak bergantung pada konten web akan sangat membantu.

    Microsoft juga memastikan bahwa perubahan ini tidak akan mengorbankan fungsionalitas. Semua fitur pencarian yang penting tetap tersedia, hanya saja disajikan dengan cara yang lebih bersih dan terorganisir.

    Bagi yang penasaran, dapat langsung mencoba versi uji coba ini. Namun, disarankan untuk tidak menginstalnya di perangkat utama karena masih dalam tahap pengembangan.

    Dengan segala pembaruan ini, Windows 11 semakin matang sebagai sistem operasi. Microsoft menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dan terus berinovasi untuk kepuasan pengguna.

  • Janji Palsu Data Center AI: Hanya 61 Pekerjaan untuk Investasi Rp21 Triliun

    Janji Palsu Data Center AI: Hanya 61 Pekerjaan untuk Investasi Rp21 Triliun

    JBNews.id — Di balik gemerlap investasi data center kecerdasan buatan (AI) senilai miliaran dolar, janji lapangan kerja yang digembar-gemborkan kepada masyarakat terbukti sangat timpang. Sebuah analisis terkini mengungkap bahwa untuk proyek data center senilai total USD 1,3 miliar, kota Cedar Rapids, Iowa, hanya dijamin mendapatkan 61 pekerjaan permanen—setara dengan USD 21,3 juta per pekerjaan.

    Angka ini menjadi sorotan tajam di tengah hiruk-pikuk pembangunan pusat data AI di seluruh Amerika Serikat. Para pengembang besar kerap menggunakan narasi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan pajak sebagai iming-iming utama saat bernegosiasi dengan pemerintah daerah. Namun, data di lapangan menunjukkan realitas yang jauh berbeda.

    Peneliti dari Georgia Tech menemukan bahwa di daerah pedesaan, data center biasanya mempekerjakan kurang dari 100 pekerja tetap dan cenderung mengimpor jasa spesialis dari luar komunitas. Dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan ekonomi lokal pun tidak terjamin dan sangat bergantung pada kondisi setempat.

    Seperti dijelaskan para peneliti Georgia Tech, “lonjakan pertumbuhan pekerjaan dan upah yang sering dijanjikan selama upaya rekrutmen lokal kemungkinan besar tidak akan terwujud dengan sendirinya.”

    Investasi Raksasa, Pekerjaan Minim

    Kasus Cedar Rapids menjadi contoh paling gamblang. Otoritas Pengembangan Ekonomi setempat baru-baru ini mengungkapkan bahwa dua proyek data center yang sedang berjalan—satu untuk Google dengan nilai investasi minimal USD 576 juta dan satu lagi untuk firma Blackstone, QTS, mulai dari USD 750 juta—secara kontraktual hanya diwajibkan menciptakan total gabungan 61 pekerjaan permanen.

    Artinya, untuk investasi gabungan sebesar USD 1,3 miliar yang masuk ke kota, Cedar Rapids hanya dijamin 61 posisi tetap. Rasio ini bahkan lebih buruk dibandingkan proyek Ark Data Center senilai USD 136 juta di timur laut Ohio, yang diproyeksikan hanya menciptakan sepuluh pekerjaan penuh waktu setelah selesai dibangun.

    Fenomena ini bukanlah kasus isolasi. Sebuah analisis menemukan bahwa negara bagian Georgia, Virginia, dan Texas masing-masing kehilangan lebih dari USD 1 miliar per tahun akibat insentif data center negara bagian. Sementara itu, setidaknya 14 negara bagian bahkan tidak mengungkapkan keringanan pajak data center sama sekali.

    Dampak Berganda yang Tak Kunjung Datang

    Meskipun Cedar Rapids membanggakan bahwa pembangunan ini akan membawa “ribuan pekerjaan konstruksi dan perdagangan,” kenyataannya tidak seindah itu. Pekerjaan konstruksi data center bersifat sementara dan sangat bergantung pada keinginan pengembang yang dikenal tidak dapat diandalkan.

    Lebih jauh lagi, lonjakan pembangunan data center justru menekan pasar konstruksi. Sebuah analisis terkini oleh firma Turner & Townsend menemukan bahwa hiruk-pikuk pembangunan telah menciptakan “pasar konstruksi dua kecepatan,” di mana proyek AI berbiaya tinggi mendongkrak biaya untuk pembangunan lain seperti perumahan, sambil menyedot tenaga kerja terampil yang dibutuhkan di sektor lain.

    Laporan tersebut menemukan bahwa 87 persen pasar konstruksi global mengalami kekurangan spesialis mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), sementara biaya dan waktu tunggu untuk mendapatkan komponen MEP terus meningkat. Kabar baik bagi kontraktor MEP, tetapi konsekuensinya adalah biaya lebih tinggi untuk segala hal lain yang ingin dibangun.

    Kondisi ini semakin memperparah protes data center AI yang sudah meluas, di mana 75 proyek senilai Rp2.100 triliun terhambat akibat penolakan masyarakat.

    Insentif Pajak yang Tidak Transparan

    Dalam teori, lebih banyak pendapatan pajak berarti dana untuk sekolah, jalan, dan layanan darurat. Namun dalam praktiknya, negara bagian dan county justur membebaskan pajak tersebut untuk membujuk perusahaan teknologi agar mendirikan fasilitas mereka—sementara kampus yang sudah ada memberikan tekanan besar pada komunitas lokal.

    Ketidaktransparanan ini menjadi masalah serius. Dengan setidaknya 14 negara bagian tidak mengungkapkan keringanan pajak data center, masyarakat tidak memiliki gambaran utuh tentang berapa banyak pendapatan yang sebenarnya hilang demi menarik investasi yang janji lapangan kerjanya sangat terbatas.

    Fenomena ini mengingatkan pada gelembung AI Wall Street di mana valuasi perusahaan teknologi melambung tinggi tanpa diimbangi fundamental yang kuat.

    Beban Lingkungan dan Biaya Sosial

    Belum lagi dampak lingkungan yang sangat serius. Data center AI dikenal sebagai konsumen energi dan air yang sangat besar. Polusi yang dihasilkan oleh pusat data AI begitu parah hingga hampir tidak dapat dipahami.

    Hal ini semakin memperburuk situasi ketika wajib pajak dipaksa menanggung tagihan untuk janji-janji industri teknologi yang sangat dibesar-besarkan. Ironisnya, masyarakat yang harus membayar insentif fiskal juga harus menanggung dampak lingkungan dan tekanan pada infrastruktur lokal.

    Kasus pencemaran air oleh pusat data AI Meta yang mencemari air dengan bakteri mematikan menjadi contoh nyata betapa seriusnya dampak ini.

    Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Saat pemerintah daerah di berbagai negara berlomba-lomba menawarkan insentif untuk menarik investasi data center, penting untuk mempertanyakan secara kritis: seberapa besar manfaat nyata yang akan diterima masyarakat lokal? Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa janji lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi seringkali tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.

    Keputusan untuk memberikan insentif fiskal harus didasarkan pada analisis biaya-manfaat yang komprehensif, bukan sekadar tergiur oleh angka investasi yang fantastis. Transparansi dalam pengungkapan insentif dan kewajiban kontraktual penciptaan lapangan kerja menjadi kunci agar masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan.

  • Siri AI Resmi Hadir, Ubah Cara Pengguna iPhone Berinteraksi

    Siri AI Resmi Hadir, Ubah Cara Pengguna iPhone Berinteraksi

    JBNews.id — Apple resmi meluncurkan Siri AI pada ajang WWDC 2026 di bulan Juni lalu, menghadirkan transformasi besar pada asisten virtual iPhone. Sistem baru ini tidak hanya meningkatkan kemampuan voice control, tetapi juga menambahkan aplikasi bergaya chatbot serta integrasi yang lebih dalam ke seluruh pengalaman pengguna iOS 27.

    Dalam uji coba awal menggunakan versi beta developer, Siri AI menunjukkan peningkatan signifikan dibanding pendahulunya. Asisten ini kini mampu membantu pengguna menemukan foto liburan lama, mengirim pesan teks cepat, hingga merekomendasikan tempat makan — semuanya dari perintah dasar. Meski belum sempurna, Siri versi baru layak dicoba, terutama bagi pemilik iPhone yang jarang menggunakan asisten versi sebelumnya.

    “Mereka mengintegrasikannya ke seluruh ekosistem, sehingga Anda dapat mengakses Siri AI di mana pun Anda berada di perangkat,” ujar Nabila Popal, senior research director yang fokus pada perangkat konsumen di International Data Corporation. “Anda bisa berbicara dengannya. Anda juga bisa mengaksesnya melalui aplikasi. Jadi, aksesibilitas Siri AI dan integrasinya di seluruh sistem operasi benar-benar dilakukan dengan baik.”

    Aplikasi Baru dan Antarmuka Chatbot

    Salah satu perubahan paling langsung terlihat adalah aplikasi chatbot baru Siri. Aplikasi ini lebih berfungsi sebagai log interaksi, tempat pengguna melacak percakapan Siri sebelumnya atau memulai ulang thread lama. Meski pengguna juga bisa memulai chat baru di sini, fitur tersebut jarang digunakan karena Siri sudah tertanam dalam fungsi pencarian iPhone.

    Bagi yang khawatir dengan privasi, pengguna dapat mengatur durasi penyimpanan chat melalui menu Settings > Siri AI > Keep Conversations. Opsi yang tersedia meliputi “forever,” satu tahun, atau 30 hari. Jika diubah ke durasi lebih pendek, chat yang lebih lama akan otomatis terhapus.

    Perlu dicatat, aplikasi Siri AI beta saat ini belum memiliki fitur memori untuk menyimpan detail preferensi pengguna, yang merupakan standar pada chatbot seperti ChatGPT atau Claude. Ini berarti pengguna harus terus mengingatkan Siri AI tentang preferensi pribadi, misalnya saat meminta rekomendasi resep. Apple diperkirakan akan menambahkan kemampuan baru seiring waktu.

    Konteks Personal dan Proses Indexing

    Setelah mengunduh beta iOS 27 dan mendapatkan akses ke Siri baru, pengguna mungkin masih harus menunggu proses indexing selesai. “Siri AI memiliki akses ke jenis konteks yang tidak mudah dimiliki ChatGPT dan Claude, karena Siri terintegrasi ke dalam sistem operasi,” jelas Josh Clark, principal di digital-design agency Big Medium dan rekan penulis buku Sentient Design: Crafting Intelligent Interfaces with AI.

    Proses indexing membangun database yang dapat dicari di perangkat, yang dalam beta developer iOS 27 terbaru diberi label “Optimizing Search and Siri” dengan progress bar. Perangkat uji coba membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk indexing penuh, meski durasi bisa berbeda tergantung perangkat, penyimpanan, dan versi software.

    Setelah indexing selesai, Siri dapat dengan mudah menarik data dari seluruh perangkat. Contohnya, saat diminta jadwal mingguan, Siri mengumpulkan detail dari pesan teks terbaru untuk menyoroti pesanan yang akan tiba dari TikTok Shop, serta mengingatkan untuk membeli tiket film yang sedang dibahas teman di grup chat. Siri juga memeriksa kalender untuk menandai pesta ulang tahun dan tiket pertunjukan langsung.

    Bagi yang tidak ingin Siri menggunakan interaksi dengan aplikasi tertentu, pengaturan dapat diubah melalui Settings > Siri AI > App Access. Fitur “Allow Siri to learn how you use this app to make suggestions across apps” diaktifkan secara default jika Siri AI menyala.

    Siri AI yang diperbarui ini terintegrasi ke dalam fungsi pencarian iPhone. Dengan menggeser ke bawah di tengah layar, pengguna akan melihat bilah Search atau Ask. Pengguna bisa mengetik pertanyaan atau mengetuk ikon mikrofon. Saat menekan enter, query akan dikirim ke Siri untuk dijawab. Contohnya, saat mengetik “Apa rute bagus untuk berkendara ke Sacramento?”, Siri langsung menampilkan Maps dengan rute yang sudah dipilih.

    Kesadaran Layar dan Kamera

    Selain konteks personal dari proses indexing, Siri juga dapat menarik detail dari apa yang terlihat di layar. Kemampuan onscreen awareness ini membuat Siri terasa membantu dalam berbagai situasi. Misalnya, saat melihat postingan di Bluesky tentang penyanyi Lorde yang mengkritik smartglasses AI Meta, pengguna cukup bertanya “Di mana dia mengatakan ini?” tanpa perlu menyebutkan detail spesifik. Siri akan menarik informasi dari layar dan memberikan jawaban beserta tautan sumber.

    Apple juga menambahkan tab Siri baru di aplikasi kamera, di samping opsi foto dan video standar. Dengan mengetuk tombol bundar di tengah, Siri otomatis menganalisis gambar dan memberikan paragraf konteks singkat. Mengetuk ikon pesan di kiri akan mengunggah gambar ke Siri dengan opsi menambahkan perintah, sementara ikon pencarian gambar di kanan akan menjelajahi web untuk tautan relevan.

    Integrasi di Seluruh Ekosistem

    Siri AI tidak terbatas pada iPhone. Asisten ini juga tersedia di iPad dengan integrasi screenshot, Mac dengan shortcut khusus, dan bahkan Vision Pro. Namun, ada persyaratan hardware: Siri AI hanya tersedia di iPhone 15 Pro dan perangkat yang lebih baru. Bahkan jika pengguna bisa mengunduh iOS 27, belum tentu mendapatkan Siri AI baru.

    Fitur “Write with Siri” menjadi alat tambahan saat menulis catatan atau menyusun pesan teks. Saat uji coba, pengguna cukup mengetuk tombol Siri, menyampaikan inti pesan, dan Siri akan menulis paragraf yang terdengar seperti gaya menulis pengguna tersebut. Ini merupakan peningkatan signifikan dari fitur auto-suggestions sebelumnya.

    Meski demikian, pengguna Android yang menggunakan Google Gemini mungkin sudah familiar dengan kemampuan asisten cerdas semacam ini. “Rata-rata pengguna Apple masih belum sadar akan fitur AI apa yang sudah tersedia di perangkat Android,” kata Popal. Meski pengguna Android mungkin menunjukkan tugas serupa yang sudah bisa dilakukan Pixel atau Samsung, Siri AI tetaplah momen perubahan besar bagi jutaan pengguna iPhone di Amerika Serikat.

    Dengan membangun Siri ke dalam tulang punggung iPhone dan melakukan indexing perangkat, Apple telah menciptakan asisten yang benar-benar terasa sesuai dengan kebutuhan dan interaksi spesifik setiap pengguna. Smartphone yang sebelumnya menjadi lubang hitam informasi — dengan ribuan foto, pesan teks, email, dan janji kalender — kini dapat dinavigasi dengan lebih mudah melalui Siri AI.

    Bagi yang tertarik mencoba, pengguna bisa mendaftar program Apple Beta Software. Selalu backup perangkat sebelum mengunduh software beta. Setelah mengunduh beta publik, pengguna juga perlu masuk ke pengaturan untuk mendaftar wait list Siri Apple, dan akan menerima notifikasi saat siap digunakan.