Category: Tekno

  • Wi-Fi 8 Hadir 2026, Fokus pada Keandalan Bukan Kecepatan

    Wi-Fi 8 Hadir 2026, Fokus pada Keandalan Bukan Kecepatan

    JBNews.id — Wi-Fi 8, generasi terbaru teknologi koneksi nirkabel, dipastikan hadir secara bertahap mulai tahun 2026 dengan fokus utama pada peningkatan keandalan, stabilitas, dan latensi rendah, bukan sekadar kecepatan data mentah seperti pendahulunya.

    Meskipun standar resmi Wi-Fi 8 belum difinalisasi oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), sejumlah produsen perangkat keras seperti TP-Link telah mengumumkan rencana peluncuran router dan mesh system Wi-Fi 8 pertama mereka sebelum akhir tahun 2026. Langkah ini mengikuti pola yang sama seperti peluncuran Wi-Fi 7 sebelumnya, di mana produsen mulai memproduksi perangkat berdasarkan draf kerja IEEE yang sudah tersedia.

    Wi-Fi 8, yang secara teknis dikenal sebagai IEEE 802.11bn, membawa perubahan signifikan dalam filosofi pengembangan. Jika Wi-Fi 7 (IEEE 802.11be) berfokus pada Extremely High Throughput (EHT) atau kecepatan sangat tinggi, maka Wi-Fi 8 mengusung konsep Ultra High Reliability (UHR). Artinya, prioritas utama generasi ini adalah memastikan koneksi tetap stabil dan andal di berbagai kondisi, terutama di lingkungan dengan interferensi tinggi.

    Fitur Unggulan Wi-Fi 8

    Beberapa fitur kunci yang akan mendukung peningkatan keandalan Wi-Fi 8 meliputi:

    • Multi-Access Point Coordination (MAPC): Serangkaian fitur yang memungkinkan titik akses (access point) saling bekerja sama, bukan saling mengganggu. Ini diharapkan meningkatkan performa, memperluas jangkauan, dan mengurangi kebutuhan daya.
    • Seamless Roaming Domain (SRD): Mengurangi latensi dan kehilangan paket data saat perangkat pengguna berpindah dari satu titik akses ke titik akses lainnya. Masalah ini sering menyebabkan buffering video atau panggilan terputus.
    • Low Latency Indication (LLI): Memungkinkan perangkat untuk memberi tahu jaringan tentang kebutuhan latensinya. Contohnya, streaming game yang membutuhkan latensi rendah bisa mendapatkan prioritas lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain.
    • In-Device Coexistence (IDC): Mengurangi interferensi antara Wi-Fi dengan konektivitas lain seperti Bluetooth, Thread, atau Zigbee dalam satu perangkat, yang seringkali mengganggu performa Wi-Fi pada smartphone.
    • Extended Long Range (ELR): Memungkinkan perangkat terhubung lebih andal pada jarak yang lebih jauh tanpa perlu menambah titik akses tambahan.

    Fitur-fitur ini secara kolektif dirancang untuk memberikan pengalaman koneksi yang lebih mulus, terutama di lingkungan padat seperti gedung apartemen di perkotaan. Dengan LLI dan mekanisme prioritas seperti TXOP Preemption dan High Priority EDCA, pengguna dapat memastikan panggilan video kerja tidak terganggu oleh aktivitas streaming anak-anak.

    Perbandingan dengan Wi-Fi 7: Peningkatan Bertahap

    Dari segi spesifikasi teknis dasar, Wi-Fi 8 memiliki kecepatan teoritis maksimal yang sama dengan Wi-Fi 7, yaitu 46 Gbps. Keduanya juga beroperasi pada tiga pita frekuensi yang sama (2,4 GHz, 5 GHz, dan 6 GHz) dengan lebar saluran maksimal 320 MHz. Hal ini menimbulkan pertanyaan: seberapa besar peningkatan yang ditawarkan?

    Bagi sebagian besar pengguna rumahan yang sudah puas dengan performa Wi-Fi 7, Wi-Fi 8 mungkin tidak terasa seperti lompatan besar. Namun, fitur-fitur seperti MAPC dan SRD dapat memberikan perbaikan nyata, terutama bagi mereka yang tinggal di area dengan interferensi tinggi. Meskipun demikian, seberapa besar peningkatan keandalan ini akan terasa masih perlu dibuktikan lebih lanjut setelah perangkat komersial tersedia.

    Kapan Wi-Fi 8 Tersedia?

    Proses adopsi standar Wi-Fi baru biasanya memakan waktu empat hingga lima tahun sejak sertifikasi resmi. Sertifikasi Wi-Fi Alliance untuk Wi-Fi 7 dirilis pada Januari 2024, sehingga sertifikasi Wi-Fi 8 diperkirakan baru akan keluar pada tahun 2028. Namun, produsen chip sudah mulai memproduksi chipset Wi-Fi 8, dan Fitur Terbaru dari router serta mesh system dijadwalkan hadir sebelum akhir 2026.

    Para pengadopsi awal (early adopter) harus bersiap membayar harga premium untuk perangkat Wi-Fi 8 generasi pertama. Mengingat manfaatnya yang mungkin tidak sekompleks lompatan dari Wi-Fi 6 ke Wi-Fi 7, rekomendasi paling bijak adalah menunggu hingga sertifikasi resmi keluar dan harga perangkat mulai turun. Bagi pengguna di Amerika Serikat, larangan FCC terhadap router buatan asing juga menjadi faktor pembatas pilihan yang perlu dipertimbangkan.

    Wi-Fi 8 kompatibel dengan perangkat generasi sebelumnya. Artinya, membeli router Wi-Fi 8 tetap bisa digunakan dengan perangkat lama. Namun, untuk menikmati fitur dan peningkatan performa terbaru, pengguna perlu memperbarui perangkat seperti smartphone, laptop, TV, dan gadget lainnya. Hal ini serupa dengan tren yang terlihat pada Strategi Chip M6 dari Apple yang juga mendorong ekosistem perangkat baru.

    Dengan fokus pada keandalan dan latensi rendah, Wi-Fi 8 menjanjikan pengalaman koneksi yang lebih stabil, terutama di lingkungan padat. Meskipun bukan lompatan kecepatan yang revolusioner, peningkatan pada kualitas koneksi dasar bisa menjadi nilai jual utama bagi pengguna yang sering mengalami masalah koneksi putus-putus atau buffering.

  • OnePlus Hengkang dari Pasar Global, Fokus ke China

    OnePlus Hengkang dari Pasar Global, Fokus ke China

    JBNews.id — OnePlus dan perusahaan induknya, Oppo, dikabarkan akan mengumumkan dalam waktu dekat bahwa merek OnePlus akan meninggalkan pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Keputusan ini, jika terealisasi, akan mengakhiri bulan-bulan spekulasi tentang masa depan perusahaan yang sempat menjadi favorit para penggemar teknologi.

    Kabar ini pertama kali muncul melalui terjemahan mesin dari laporan WinFuture. Sebelumnya, pada Januari lalu, Android Headlines melaporkan bahwa OnePlus sedang dalam proses “dibongkar” atau diintegrasikan kembali ke dalam struktur Oppo. Saat itu, OnePlus membantah dengan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa “OnePlus North America continues to operate, with full guarantee of users’ after-sales support, software updates, and rights commitments.”

    Namun, perkembangan selanjutnya justru menunjukkan arah yang berlawanan. Pada Maret, 9to5Google melaporkan bahwa OnePlus mungkin akan menghentikan operasinya di pasar global. Laporan tersebut kemudian diperkuat oleh Android Authority pada April yang mengungkapkan bahwa sejumlah staf senior OnePlus telah meninggalkan perusahaan di Eropa dan Inggris.

    Seorang juru bicara OnePlus saat itu memberikan pernyataan bahwa “OnePlus Europe is evaluating its regional roadmap and product strategy.” Hingga berita ini diturunkan, OnePlus belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari The Verge.

    Keputusan ini menandai perubahan strategi besar bagi OnePlus. Merek yang lahir pada 2013 dengan semboyan “Never Settle” ini pernah sukses membangun basis penggemar setia di pasar global berkat strategi penjualan daring dan spesifikasi flagship dengan harga kompetitif. Namun, persaingan yang semakin ketat dan konsolidasi internal dengan Oppo tampaknya mengubah arah bisnis perusahaan.

    Kepergian OnePlus dari AS dan Eropa akan berdampak signifikan bagi konsumen di kedua wilayah tersebut. Pengguna yang telah membeli perangkat OnePlus kemungkinan besar masih akan mendapatkan dukungan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, sebagaimana dijanjikan dalam pernyataan sebelumnya. Namun, ketidakpastian mengenai jangka waktu dan kualitas dukungan tersebut tentu menjadi kekhawatiran tersendiri.

    Dari sisi industri, langkah ini memperkuat tren konsolidasi di dalam grup BBK Electronics, perusahaan induk yang juga menaungi Oppo, Vivo, dan Realme. Sebelumnya, Realme telah mengumumkan integrasi antarmuka penggunanya ke dalam ColorOS milik Oppo. Langkah OnePlus untuk hengkang dari pasar global bisa jadi merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk menyatukan sumber daya dan fokus pada pasar domestik China yang lebih menguntungkan.

    Keputusan ini juga membuka peluang bagi merek lain. Di segmen flagship dengan harga terjangkau, absennya OnePlus akan memberikan ruang bagi produsen seperti Xiaomi, Samsung, dan bahkan Google dengan lini Pixel-nya untuk merebut pangsa pasar.

    Bagi konsumen di Indonesia, kabar ini mungkin tidak langsung berdampak besar karena OnePlus tidak pernah memiliki kehadiran resmi yang kuat di pasar Tanah Air. Namun, para penggemar OnePlus di Indonesia yang biasa membeli perangkat secara impir atau melalui pedagang daring perlu mewaspadai potensi berkurangnya dukungan perangkat lunak di masa depan.

    OnePlus sendiri belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jadwal pasti pengumuman ini. Namun, sumber dari WinFuture menyebutkan bahwa pernyataan bersama OnePlus dan Oppo akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

    Implikasi dari langkah ini cukup jelas: era OnePlus sebagai pemain global telah berakhir. Perusahaan yang pernah menjadi simbol perlawanan terhadap harga flagship yang melambung kini memilih untuk mundur dan fokus pada pasar yang lebih pasti. Bagi para penggemar setianya, ini adalah akhir dari sebuah perjalanan yang penuh gejolak.

  • Phia Startup Putri Bill Gates Dituduh Cookie Stuffing

    Phia Startup Putri Bill Gates Dituduh Cookie Stuffing

    JBNews.id — Phia, startup afiliasi belanja online yang didirikan Phoebe Gates, putra bungsu Bill Gates, dituduh melakukan praktik curang untuk mendapatkan komisi dari penjualan yang tidak mereka lakukan. Investigasi Bloomberg mengungkapkan ekstensi browser Phia diduga menjalankan teknik ‘cookie stuffing’ yang menggantikan kode referral afiliasi lain dengan kode miliknya sendiri.

    Praktik ini memungkinkan Phia mengambil kredit dan berpotensi menerima komisi atas transaksi yang sebenarnya tidak difasilitasi oleh platform mereka. Temuan ini memicu kontroversi di tengah pertumbuhan pesat startup yang baru berdiri pada 2025 tersebut.

    Modus Cookie Stuffing yang Terungkap

    Bisnis utama Phia adalah affiliate marketing melalui ekstensi browsernya. Dalam sistem afiliasi normal, kreator atau platform mendapatkan komisi ketika konsumen mengikuti link unik mereka dan melakukan pembelian. Namun, investigasi Bloomberg menemukan ekstensi Phia kadang menyisipkan kodenya sendiri di akhir proses tersebut.

    Phoebe Gates

    Seorang pembeli bisa saja mengunjungi website peritel sendiri atau melalui afiliasi lain, tapi Phia tiba-tiba menggantikan kode referral asli dengan miliknya sendiri. Dalam pengujian Bloomberg, mereka mengikuti link ke website peritel fesyen Nordstrom dari artikel Wirecutter tentang promo diskon. Phia diduga membuka tab lain secara diam-diam selama proses pembayaran dan mengganti informasi referral Wirecutter dengan informasi referral-nya sendiri.

    Praktik ini dikenal sebagai cookie stuffing, sebuah teknik yang dianggap melanggar etika bisnis afiliasi dan berpotensi merugikan para kreator serta platform afiliasi lain yang telah bekerja keras menghasilkan penjualan.

    Respons Resmi Phia

    Setelah menerima laporan soal masalah ini, juru bicara Phia mengatakan bahwa mereka sudah memperbaiki isu tersebut. Namun, mereka menganggap hal tersebut sebagai masalah pada software, dan bukan praktik bisnis yang disengaja.

    Bloomberg menguji ulang ekstensi tersebut setelah menghubungi Phia dan menemukan ekstensi itu sudah berhenti mengklaim klik rujukan. Belum diketahui apakah perbaikan ini sudah cukup untuk memuaskan peritel dan mitra afiliasi lainnya.

    Latar Belakang dan Pertumbuhan Phia

    Phoebe Gates mendirikan Phia pada tahun 2025 bersama Sophia Kianni. Startup ini sudah mengumpulkan dana sebesar USD 40 juta, dan didukung investor ternama seperti Khloé Kardashian, Hailey Bieber, dan Sydney Sweeney.

    Phia mengembangkan aplikasi sebagai ekstensi browser yang cara kerjanya mirip Google Flights, tapi untuk belanja online. Ekstensi ini membantu konsumen menemukan item dengan harga paling murah dari seluruh peritel serta kode diskon untuk digunakan saat belanja.

    Startup ini tumbuh pesat setelah diluncurkan. Dalam minggu pertama, aplikasi ini mencapai peringkat ke-21 di Apple App Store, dan pada September 2025 aplikasi ini sudah mengumpulkan lebih dari 500.000 download.

    Kontroversi ini muncul di tengah momentum positif yang seharusnya dinikmati Phia. Dengan pendanaan besar dan dukungan figur publik, Phia diproyeksikan menjadi pemain utama di sektor affiliate marketing berbasis ekstensi browser. Namun, tuduhan cookie stuffing ini berpotensi menggerus kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.

    Kasus ini juga menjadi pengingat bagi startup rintisan lainnya bahwa praktik agresif dalam monetisasi dapat berujung pada risiko reputasi yang serius. Di era transparansi digital, setiap celah teknis yang dieksploitasi berpotensi terungkap dan menjadi sorotan publik.

    Bagi para pengguna ekstensi browser, kasus ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana software yang mereka instal bekerja di latar belakang. Ekstensi yang tampaknya membantu berbelanja lebih hemat ternyata bisa menjalankan skrip yang menguntungkan diri sendiri tanpa sepengetahuan pengguna.

    Dengan dukungan investor besar dan pendiri yang merupakan bagian dari keluarga teknologi paling terkenal di dunia, tekanan pada Phia untuk menyelesaikan masalah ini secara transparan dan tuntas akan sangat besar. Langkah korektif yang diambil dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah startup ini dapat mempertahankan kepercayaan pasar atau justru kehilangan momentum pertumbuhannya.

    Seiring perkembangan investigasi lebih lanjut, publik dan pelaku industri akan mengawasi bagaimana Phia menangani krisis ini. Apakah perbaikan teknis yang sudah dilakukan cukup untuk memulihkan reputasi, atau justru akan muncul tuntutan hukum dari mitra afiliasi yang dirugikan.

  • Oppo Enco Air5 dan Air5s Resmi, Harga Mulai Rp899 Ribu

    Oppo Enco Air5 dan Air5s Resmi, Harga Mulai Rp899 Ribu

    JBNews.id — Oppo Indonesia resmi meluncurkan dua True Wireless Stereo (TWS) terbaru, Oppo Enco Air5s dan Oppo Enco Air5, dengan harga mulai Rp899 ribu setelah cashback. Kedua perangkat ini menawarkan pengalaman audio premium dengan pilihan desain berbeda untuk menjawab preferensi pengguna yang beragam.

    Jiang Linlin, Chief Marketing Officer Oppo Indonesia, mengatakan bahwa setiap pengguna memiliki cara berbeda dalam menikmati audio. “Melalui Oppo Enco Air5s dan Enco Air5, kami menghadirkan dua pilihan TWS yang dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi.

    Oppo Enco Air5s menjadi TWS semi-in-ear pertama dari Oppo yang dibekali teknologi Active Noise Cancellation (ANC). Perangkat ultra-ringan dengan bobot hanya 3,9 gram ini memiliki fitur Real-time Adaptive Noise Cancellation yang menyesuaikan peredaman bising berdasarkan bentuk saluran telinga.

    Oppo Enco Air5

    Sementara itu, Oppo Enco Air5 hadir dengan desain in-ear untuk isolasi suara maksimal. Dengan bobot 4,3 gram, TWS ini mengusung ANC bertenaga hingga 52 dB yang secara otomatis menyesuaikan tingkat peredaman sesuai kondisi kebisingan sekitar.

    Kedua perangkat sama-sama menggunakan Dynamic Bass Driver berukuran 12 mm. Komponen ini menghasilkan dentuman bass bertenaga dengan vokal jernih, dipadukan fitur Alive Audio untuk efek suara tata ruang imersif.

    Oppo juga melengkapi berbagai teknologi cerdas untuk produktivitas. Fitur AI Call Noise Reduction meminimalkan suara bising saat panggilan telepon. Konektivitas didukung Bluetooth 6.x dan fitur Dual Connection Across Systems untuk perpindahan cepat antar dua perangkat tanpa pairing ulang.

    Kontrol AI dan gestur memungkinkan pengguna mengakses Google Gemini, Spotify, hingga AI Translate dengan interpretasi simultan. Khusus Enco Air5s, terdapat fitur Slide Volume Control untuk mengatur volume dengan gesekan jari.

    Kedua TWS telah mengantongi sertifikasi IP55 untuk ketahanan terhadap debu dan cipratan air. Dari segi baterai, Enco Air5 menawarkan waktu penggunaan hingga 54 jam dengan charging case, sedangkan Enco Air5s mampu bertahan hingga 48 jam. Keduanya lulus TÜV Rheinland Battery Durability Certification.

    Harga Oppo Enco Air5s adalah Rp1.299.000 setelah cashback Rp200.000, sementara Oppo Enco Air5 dibanderol Rp899.000 setelah cashback serupa. Promo berlaku hingga 31 Juli 2026. Perangkat tersedia di Oppo Store, Oppo Experience Store, dan toko mitra resmi.

    Peluncuran ini memperkuat posisi Oppo di segmen audio premium. Bagi pengguna yang menginginkan teknologi terkini, spesifikasi terbaru dari perangkat wearable juga patut diperhatikan. Sementara itu, persaingan di segmen harga terbaru smartphone turut mempengaruhi ekosistem perangkat pendukung.

  • Gugatan Mayo Clinic: AI Kesehatan dengan Tingkat Error 67 Persen

    Gugatan Mayo Clinic: AI Kesehatan dengan Tingkat Error 67 Persen

    JBNews.id — Mayo Clinic, salah satu jaringan kesehatan terbesar yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam layanan medis, menghadapi gugatan perdata yang mengungkap dugaan malpraktik serius. Mantan direktur riset dan kepala kepatuhan AI Mayo Clinic, Traci Tamiko Eto, menuduh rumah sakit tersebut melakukan pembalasan setelah ia membocorkan implementasi alat AI yang disebutnya berbahaya bagi pasien.

    Dalam gugatan yang dilansir Minnesota Public Radio, Eto bergabung dengan Mayo Clinic pada 2023. Ia mengaku langsung menemukan potensi masalah privasi yang terkait dengan Mayo Clinic Platform, sebuah sistem data terintegrasi AI. Ketika ia melaporkan temuan itu, atasannya justru mengabaikan kekhawatiran tersebut dan bersikeras bahwa perbaikan akan “membahayakan laju proyek riset yang sedang berjalan, yang pada gilirannya akan mengompromikan keunggulan kompetitif Mayo.”

    Eto melanjutkan dengan melaporkan banyak kegagalan pihak manajemen Mayo Clinic dalam mengikuti regulasi federal terkait proses peninjauan teknologi baru. Salah satu yang paling menonjol adalah MAYA, asisten digital terintegrasi AI milik klinik tersebut. Menurut gugatan, tim yang mengerjakan MAYA dengan sengaja menghapus hasil pengujian yang tidak memuaskan, salah menggambarkan kemampuan alat tersebut, dan membuat keputusan yang membahayakan keamanan data.

    Di dalam sepuluh pengaduan whistleblower yang diajukan Eto, terdapat satu tuduhan yang paling mencengangkan: tim MAYA mengetahui bahwa alat tersebut memiliki tingkat kesalahan (error rate) setinggi 67 persen. Alih-alih melaporkan angka yang mengerikan itu, Eto menuduh staf MAYA justru berusaha menyembunyikannya.

    Ilustrasi foto grafis berwarna dengan papan reklame Mayo Clinic yang menampilkan peringkat nomor satu di AS menurut U.S. News & World Report

    Akibat pengungkapan ini, Eto mulai dikeluarkan dari pertemuan eksekutif pada awal 2025, sebelum akhirnya diberi label sebagai “poor cultural fit” (ketidakcocokan budaya). Ia kemudian diberikan pilihan, demikian tuduhan dalam gugatan: mengundurkan diri, atau menghadapi perubahan pada file personalianya “yang akan membuatnya tidak dapat dipekerjakan di Mayo dan akan menghambat kariernya di luar institusi.”

    Kasus hukum besar ini menyoroti ancaman nyata yang dihadapi para pelapor di era AI. “Ketika seseorang memutuskan untuk menggugat raksasa publik dalam isu-isu yang menjadi perhatian utama negara kita, ia benar-benar mempertaruhkan kariernya,” ujar Artur Davis, pengacara Eto, kepada MPR. “Ia mempertaruhkan serangan profesional, reputasinya. Bahwa ia melakukan ini menunjukkan seberapa yakin dirinya bahwa ia benar.”

    Menanggapi gugatan tersebut, Mayo Clinic memberikan pernyataan singkat. “Riset dan inovasi klinis kami dilakukan sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku, dan kami tetap teguh dalam menjaga kepercayaan yang diberikan pasien kepada kami serta menghormati privasi mereka,” kata direktur komunikasi organisasi itu kepada MPR. “Mayo Clinic tidak memberikan komentar mengenai litigasi yang sedang berlangsung.”

    Meskipun gugatan ini berpusat pada pemecatan Eto yang disebut tidak sah, kasus ini merupakan referendum signifikan terhadap kondisi alat AI di dunia medis. Jika raksasa kesehatan seperti Mayo Clinic berbohong tentang efektivitas alat AI mereka, apa artinya bagi industri lainnya? “Jika orang peduli bahwa AI harus ditangani secara bertanggung jawab, dengan integritas, dan harus ada aturan serta pedoman, ini adalah kasus yang harus diperhatikan,” tegas Davis.

    Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa di industri teknologi, seperti AI Temukan Bug Linux yang Tak Terdeteksi Selama 15 Tahun, yang menunjukkan bagaimana AI bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, AI mampu mendeteksi masalah yang tak terlihat manusia. Di sisi lain, jika tidak diawasi dengan ketat, AI bisa menimbulkan kerusakan sistematis.

    Lebih jauh lagi, fenomena ini berkaitan dengan Klaim Elon Musk Danai MBG, Komdigi Tegaskan Itu Hoaks, yang menunjukkan betapa rentannya publik terhadap informasi yang salah, termasuk soal keamanan teknologi. Di era di mana deepfake dan disinformasi marak, Raffi Ahmad Imbau Warga Waspada Deepfake, Kenalkan Metode SIFT menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi.

    Implikasi dari gugatan ini sangat luas. Jika terbukti, kasus ini akan menjadi preseden hukum yang mengatur bagaimana perusahaan teknologi dan rumah sakit mengelola pengembangan AI. Regulasi federal tentang proses peninjauan teknologi baru harus dipatuhi secara ketat, dan pelanggaran seperti yang dituduhkan Eto bisa berakibat pada sanksi berat.

    Bagi pasien, kasus ini adalah peringatan keras. Alat AI yang tidak diuji dengan benar bisa memberikan diagnosis yang salah, rekomendasi pengobatan yang keliru, atau bahkan membahayakan data pribadi mereka. Dengan tingkat kesalahan 67 persen, MAYA bukanlah asisten digital yang bisa diandalkan, melainkan ancaman serius bagi keselamatan pasien.

    Dari sisi industri, kasus ini bisa memicu gelombang audit internal di rumah sakit lain yang menggunakan AI. Jika Mayo Clinic, yang merupakan salah satu institusi medis paling bergengsi di dunia, bisa terlibat dalam skandal seperti ini, maka institusi lain harus segera memeriksa ulang sistem AI mereka.

    Traci Tamiko Eto, dengan risiko karier yang dihadapinya, telah menjadi simbol perlawanan terhadap praktik AI yang tidak bertanggung jawab. Pengacaranya, Artur Davis, menekankan bahwa keberanian Eto untuk berbicara harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Ini adalah kasus yang harus diperhatikan oleh siapa pun yang peduli dengan masa depan AI,” pungkas Davis.

    Kasus ini masih berlanjut di pengadilan. Namun, dampaknya sudah terasa: kepercayaan publik terhadap AI di bidang medis sedang diuji. Apakah AI akan menjadi alat penyelamat atau justru sumber malapetaka? Jawabannya mungkin akan ditentukan oleh hasil gugatan ini.

  • Julia: Bahasa Pemrograman Niche yang Gagal Gantikan Python

    Julia: Bahasa Pemrograman Niche yang Gagal Gantikan Python

    JBNews.id — Bahasa pemrograman Julia, yang dirancang untuk menyatukan kemudahan Python dengan kecepatan C, gagal menggantikan Python sebagai bahasa dominan di dunia komputasi ilmiah dan tetap bertahan sebagai bahasa niche yang sukses di lingkup spesifik.

    Julia lahir dari ambisi besar: memecahkan apa yang disebut sebagai two-language problem dalam komputasi ilmiah. Selama bertahun-tahun, para peneliti dan ilmuwan data harus bekerja dalam dua bahasa berbeda. Mereka melakukan prototyping dengan Python yang lambat namun ramah pengguna, lalu menulis ulang bagian kritis yang membutuhkan performa tinggi dalam bahasa yang lebih cepat seperti C++ atau Rust. Julia dirancang untuk menjadi satu bahasa yang bisa melakukan keduanya sekaligus.

    Konsep ini bukan tanpa preseden. Kenneth Iverson, dalam kuliah Turing Award-nya tahun 1979 berjudul “Notation as a Tool of Thought,” menunjukkan bahwa notasi matematika bukan sekadar singkatan yang memudahkan penulisan. Seperti yang dikatakan matematikawan Alfred North Whitehead: “Dengan membebaskan otak dari semua pekerjaan yang tidak perlu, notasi yang baik membebaskannya untuk berkonsentrasi pada masalah yang lebih maju.” Iverson memenangkan Turing Award untuk APL, bahasa pemrograman yang dirancang agar operasi rumit bisa ditulis serumus persamaan matematika.

    Julia mengambil semangat yang sama. Bahasa ini lahir dari observasi mendalam terhadap kegagalan dan keberhasilan bahasa-bahasa sebelumnya. Para penciptanya mengumpulkan ide-ide cemerlang dari berbagai bahasa yang sudah ada, menunjukkan bahwa observasi yang cermat harus dilakukan sebelum memulai usaha sebesar menciptakan bahasa pemrograman baru. Mereka menginginkan bahasa yang open source dengan lisensi liberal, mudah dipelajari, namun tetap memuaskan para hacker paling serius.

    Mengapa Julia Tidak Menggantikan Python?

    Meskipun ambisius, Julia tidak pernah muncul di puncak survei tahunan Stack Overflow tentang bahasa pemrograman paling populer. Python tetap dominan, dan Julia tidak mendekati posisinya. Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa hal ini terjadi.

    Pertama, bahasa pemrograman hanya sebaik ekosistem dan perangkat pendukungnya. Python memiliki ekosistem yang terlalu kuat untuk digeser. Ribuan library, kerangka kerja, dan sumber daya pembelajaran telah dibangun selama bertahun-tahun. Komunitasnya sangat besar dan aktif. Julia, meskipun unggul dalam performa, tidak bisa menyaingi kekayaan ekosistem Python.

    Kedua, Julia tidak diadopsi oleh perusahaan teknologi besar. Dalam sejarah, bahasa minoritas bisa naik daun berkat dukungan korporat semacam ini. Objective-C diangkat oleh Apple untuk pengembangan iOS. Kotlin diadopsi Google untuk pengembangan Android. Tanpa dukungan serupa, Julia kesulitan mendapatkan daya tarik massal.

    Ketiga, dan ini yang paling penting: tidak ada yang salah dengan Julia. Bahasa ini tidak gagal. Ia hanya menjadi bahasa niche, dan untuk apa yang dilakukannya, ia cukup sukses.

    Kesuksesan Julia di Lingkup Spesifik

    Julia digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan berat di institusi-institusi bergengsi seperti ASML, CERN, dan NASA. Bahasa ini juga digunakan dalam penemuan obat-obatan (drug discovery) dan machine learning tingkat lanjut. Di tangan para ilmuwan dan insinyur yang membutuhkan performa tinggi tanpa harus meninggalkan kemudahan penulisan, Julia adalah alat yang sangat berharga.

    Saya pertama kali menemukan Julia secara tidak sengaja pada tahun 2017, setahun sebelum sintaksnya distabilkan, saat menghadiri kuliah Sebastian Seung, seorang ilmuwan saraf yang menggunakannya untuk memetakan connectome, peta lengkap jalur saraf di otak. Kesan pertama saya adalah pada namanya yang indah dan menyenangkan, kontras dengan nama-nama kaku yang umum di dunia pemrograman: PL/I yang tidak elegan, Erlang yang jelek, C++ yang canggung secara tipografis, atau MUMPS yang secara harfiah patologis—yang, luar biasanya, menjadi tulang punggung sistem perawatan kesehatan Amerika.

    Saya juga bisa melihat bahwa pemikiran serius telah dicurahkan dalam merancang Julia. Setelah mempelajari banyak jebakan yang telah dialami bahasa lain, para penciptanya mengumpulkan ide-ide rapi dari berbagai bahasa yang berbeda.

    Bahkan jika Julia benar-benar menggantikan Python suatu hari nanti, masih belum jelas apakah bahasa ini bisa memecahkan two-language problem—atau apakah bahasa apa pun bisa melakukannya. Masalah ini tidak terbatas pada komputasi ilmiah. Ia ada di setiap domain perangkat lunak. Dalam gaming, mesin ditulis dalam C++ tetapi skrip dalam Lua. Dalam server backend, ada banyak bahasa yang lebih mudah—Python, Ruby, JavaScript—tetapi ketika performa nyata dibutuhkan, pekerjaan dilakukan dalam Go atau Rust. Sebaliknya, upaya berani untuk menggunakan Go atau Rust untuk pengembangan frontend telah gagal total.

    Namun, tidak ada yang bisa mengatakan bahwa kita akan terjebak di sini selamanya. Mungkin suatu hari nanti seseorang yang sedalam pemikiran Iverson akan menemukan cara untuk menjembatani kesenjangan ini untuk selamanya.

    Bagi para pengembang dan peneliti di Indonesia, memahami dinamika bahasa pemrograman ini penting untuk memilih alat yang tepat. Pelatihan machine learning yang dibuka oleh Yandex dan Komdigi pada 2026 bisa menjadi kesempatan untuk mempelajari bahasa-bahasa baru yang relevan dengan industri.

    Julia mungkin tidak akan pernah menjadi bahasa paling populer di dunia. Namun, ia telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari jumlah pengguna. Bagi pelatihan machine learning dan komputasi ilmiah tingkat lanjut, Julia adalah alat yang tepat di tangan yang tepat. Dan mungkin, suatu hari nanti, bahasa ini akan menjadi bagian dari solusi untuk masalah yang lebih besar: bagaimana membuat komputasi berperforma tinggi dapat diakses oleh semua orang.

    Seperti yang ditunjukkan oleh pengujian CAPTCHA webcam oleh Google, inovasi di dunia teknologi sering kali datang dari tempat yang tidak terduga. Julia adalah salah satu inovasi tersebut: bahasa yang lahir dari ambisi besar, namun menemukan tempatnya di ceruk yang paling membutuhkannya.

  • Telkomsat Jajaki Direct-to-Device, Ponsel Bisa Langsung ke Satelit

    Telkomsat Jajaki Direct-to-Device, Ponsel Bisa Langsung ke Satelit

    JBNews.id — PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) resmi menjalin kerja sama strategis dengan UNIVITY untuk menjajaki teknologi Very Low Earth Orbit (VLEO) dan layanan Direct-to-Device (D2D) di Indonesia, sebuah langkah yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa menara BTS konvensional.

    Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi landasan kedua perusahaan mengeksplorasi solusi konektivitas berbasis satelit guna memperkuat ekosistem telekomunikasi nasional. Langkah ini diambil di tengah kebutuhan konektivitas yang terus berkembang, terutama untuk wilayah terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan terestrial.

    Direktur Pengembangan Telkomsat Anggoro K Widiawan mengatakan kebutuhan konektivitas di Indonesia terus berkembang, terutama untuk wilayah terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan terestrial.

    “Konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis. Melalui MoU bersama UNIVITY ini, kami berharap dapat mengeksplorasi bagaimana arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial pada masa mendatang dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang di seluruh Indonesia,” ujar Anggoro dikutip dari siaran pers, Senin (13/7/2026).

    Melalui kerja sama ini, Telkomsat dan UNIVITY akan mengkaji pemanfaatan arsitektur satelit VLEO yang beroperasi pada orbit sangat rendah, sekaligus mengevaluasi peluang menghadirkan layanan Direct-to-Device, yaitu teknologi yang memungkinkan perangkat seluler terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada menara BTS konvensional.

    Selain itu, kedua perusahaan juga akan mengeksplorasi pengembangan jaringan hybrid multi-orbit dengan mengombinasikan satelit geostasioner (GEO) milik Telkomsat dan konstelasi VLEO yang tengah dikembangkan UNIVITY. Model jaringan tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih tangguh, adaptif, serta memiliki latensi lebih rendah dibandingkan arsitektur satelit konvensional.

    Solusi ini juga diproyeksikan dapat mendukung berbagai kebutuhan strategis nasional, mulai dari layanan publik hingga aplikasi yang berkaitan dengan keamanan negara. Tak hanya itu, Telkomsat dan UNIVITY juga akan mengkaji pemanfaatan infrastruktur stasiun bumi yang berada di Indonesia sebagai bagian dari integrasi dengan konstelasi VLEO pada masa depan.

    Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan konektivitas nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi satelit global. Sebagai operator satelit nasional, Telkomsat saat ini memiliki aset satelit, infrastruktur stasiun bumi, serta kapabilitas integrasi jaringan satelit dan terestrial.

    Sementara itu, UNIVITY tengah mengembangkan konstelasi satelit VLEO yang memanfaatkan spektrum 5G milik operator telekomunikasi untuk menghadirkan konektivitas berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah. Founder dan CEO UNIVITY Charles Delfieux menilai Indonesia menjadi salah satu pasar konektivitas paling potensial di dunia karena memiliki tantangan geografis yang unik sekaligus peluang besar bagi integrasi jaringan terestrial dan berbasis antariksa.

    “Indonesia merupakan salah satu pasar konektivitas paling dinamis di dunia, dengan peluang bagi konvergensi jaringan terestrial dan jaringan berbasis antariksa. Melalui MoU bersama Telkomsat ini, kami berharap dapat menjajaki bagaimana solusi konektivitas satelit masa depan dapat melengkapi infrastruktur yang telah tersedia serta mendukung berbagai penerapan baru seiring waktu,” kata Charles.

    Teknologi Direct-to-Device yang dijajaki dalam kerja sama ini memiliki implikasi luas bagi masyarakat Indonesia. Dengan kemampuan ponsel terhubung langsung ke satelit, akses internet dapat menjangkau daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transformasi digital nasional dan mengurangi kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

    Pengembangan jaringan hybrid multi-orbit juga menjadi sorotan utama dalam kolaborasi ini. Dengan mengombinasikan satelit geostasioner (GEO) milik Telkomsat dan konstelasi VLEO dari UNIVITY, diharapkan tercipta layanan yang lebih tangguh dan adaptif. Latensi yang lebih rendah dibandingkan arsitektur satelit konvensional menjadi nilai tambah yang signifikan, terutama untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan respons real-time seperti telemedicine, pendidikan jarak jauh, dan layanan darurat.

    Langkah Telkomsat ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta persaingan teknologi satelit global. Dengan memanfaatkan infrastruktur stasiun bumi yang berada di Indonesia, kedaulatan konektivitas nasional dapat lebih terjaga di tengah gempuran penyedia layanan satelit asing. Hal ini penting mengingat Telkomsat terus berinovasi dalam menghadirkan solusi konektivitas yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

    Bagi masyarakat umum, implikasi dari kerja sama ini sangat jelas: dalam waktu dekat, ponsel yang Anda gunakan sehari-hari mungkin bisa terhubung langsung ke satelit tanpa perlu mencari sinyal menara BTS. Ini berarti akses internet akan tersedia di mana saja, bahkan di tengah laut, di pegunungan, atau di pedalaman hutan. Bagi pelaku bisnis dan profesional, teknologi ini membuka peluang baru dalam operasional jarak jauh, monitoring aset, dan komunikasi tanpa batas geografis.

    Dari sisi regulasi, kerja sama ini juga menunjukkan keseriusan Telkomsat dalam menjajaki teknologi masa depan. Sebagai anak usaha Telkom Group, langkah ini sejalan dengan upaya Telkom dalam memperkuat kepatuhan hukum dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat, eksplorasi teknologi Direct-to-Device diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

    Ke depannya, keberhasilan implementasi teknologi ini akan sangat bergantung pada uji coba dan evaluasi yang akan dilakukan oleh Telkomsat dan UNIVITY. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang mengadopsi layanan Direct-to-Device secara komersial. Ini akan menjadi lompatan besar dalam upaya menghubungkan seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dengan konektivitas internet yang andal dan terjangkau.

    Dengan berbagai potensi yang dimiliki, kerja sama antara Telkomsat dan UNIVITY menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju era konektivitas satelit generasi baru di Indonesia. Teknologi Direct-to-Device bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang mulai diwujudkan. Bagi Anda yang tinggal di daerah terpencil atau sering bepergian ke lokasi tanpa sinyal, masa depan konektivitas tanpa batas semakin dekat.

  • Negosiator Ransomware Berkhianat Bantu Hacker Peras Klien

    Negosiator Ransomware Berkhianat Bantu Hacker Peras Klien

    JBNews.id — Seorang negosiator ransomware yang disewa untuk membantu perusahaan menghadapi serangan siber justru berkhianat dan membantu peretas menguras uang korban. Angelo Martino (41) dijatuhi hukuman 70 bulan penjara oleh jaksa federal Amerika Serikat setelah mengaku bersalah berkonspirasi dengan afiliator ransomware BlackCat.

    Martino sebelumnya bekerja untuk DigitalMint, sebuah perusahaan penanganan insiden ransomware yang bertugas menegosiasikan pembayaran tebusan dengan pelaku. Dalam perannya, ia memiliki akses ke informasi sangat rahasia milik korban, seperti batas polis asuransi siber dan strategi negosiasi internal. Namun, bukannya membela klien, ia justru menggunakan akses tersebut untuk diam-diam membantu para peretas.

    Dokumen pengadilan mengungkapkan bagaimana Martino berkomunikasi dengan operator BlackCat melalui jalur rahasia di luar pantauan kliennya. Selain menggunakan obrolan negosiasi standar, ia memanfaatkan fungsi perantara khusus di dalam panel BlackCat dan aplikasi pesan terenkripsi Tox. “Tujuan dari komunikasi obrolan perantara ini adalah untuk memaksimalkan pembayaran tebusan yang dibayarkan oleh para korban kepada aktor BlackCat,” tulis pihak kejaksaan.

    Informasi rahasia—seperti batas maksimal asuransi yang bisa diklaim korban—dibocorkan oleh Martino. Berbekal informasi ini, peretas tahu persis berapa jumlah maksimal yang bisa mereka peras. Sebagai imbalannya, Martino menerima potongan pembayaran tebusan dalam bentuk mata uang kripto.

    Akibat ulahnya, antara April hingga September 2023, lima klien yang menjadi korban terpaksa membayar total lebih dari USD 75 juta (sekitar Rp 1,1 triliun) kepada afiliator BlackCat. Jaksa meyakini jumlah ini jauh lebih tinggi dari yang seharusnya jika Martino tidak membocorkan rahasia kliennya. Para korban berasal dari berbagai sektor, mulai dari layanan keuangan, perawatan kesehatan, ritel, hingga organisasi nirlaba.

    Kasus ini mengingatkan pada kebocoran data akibat serangan ransomware yang juga menimpa perusahaan teknologi besar.

    Naik Pangkat Jadi Hacker

    Tidak puas hanya menjadi informan, pada Mei 2023, Martino berhasil mendapatkan akses afiliasi ke platform ransomware BlackCat. Akses yang biasanya hanya diberikan kepada mitra tepercaya untuk menyebarkan malware ini, ia bagikan kepada dua rekan sesama pelaku: Kevin Martin dan Ryan Goldberg.

    Menggunakan kredensial tersebut, komplotan ini meluncurkan serangan ransomware mereka sendiri di luar insiden klien Martino. Salah satu korbannya adalah perusahaan perangkat medis yang akhirnya terpaksa membayar tebusan sebesar USD 1,2 juta.

    Fenomena serupa juga terjadi di sektor keamanan publik, seperti kebocoran drone polisi yang menyiarkan langsung penerbangan selama enam bulan.

    Ganjaran Hukum dan Respons Perusahaan

    Dari hasil kejahatannya, Martino meraup jutaan dolar dalam bentuk kripto. Sebagian asetnya telah disita oleh FBI, namun sebagian lainnya telanjur diubah menjadi aset fisik, termasuk dua rumah, sebuah kapal, dan beberapa kendaraan. Pengadilan telah memerintahkan penyitaan properti miliknya dan mewajibkannya membayar 10% dari pendapatannya setelah ia bebas dari penjara.

    Martino sempat meminta keringanan hukuman menjadi 24 bulan karena telah bekerja sama dengan pihak berwenang dalam menuntut rekan-rekannya. Martin dan Goldberg sendiri telah dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada awal tahun ini.

    Di sisi lain, perusahaan tempat Martino bernaung, DigitalMint, menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui tindakan Martino. DigitalMint telah memecat karyawan yang terlibat dan bekerja sama penuh dengan penyelidik. Menurut mereka, Martino sengaja menembus sistem keamanan internal dengan menggunakan saluran komunikasi tidak sah yang tidak terpantau oleh sistem perusahaan.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber tidak selalu datang dari luar. Video uji ketahanan yang ditarik Apple dari X juga menunjukkan betapa rentannya data perusahaan jika tidak dikelola dengan baik.

    Implikasi dari kasus ini sangat jelas: perusahaan harus lebih waspada terhadap potensi pengkhianatan dari dalam. Negosiator ransomware yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru bisa menjadi celah keamanan yang paling berbahaya. Audit internal, pemantauan komunikasi, dan verifikasi latar belakang karyawan menjadi langkah krusial yang tidak boleh diabaikan.

    Bagi perusahaan yang menjadi korban ransomware, kasus ini juga menunjukkan pentingnya memiliki tim keamanan siber yang independen dan terpercaya. Kepercayaan buta kepada pihak ketiga tanpa pengawasan ketat bisa berakibat fatal, seperti yang dialami oleh lima klien DigitalMint yang harus membayar tebusan jauh lebih tinggi dari yang seharusnya.

    Kejadian ini juga menegaskan bahwa ekosistem ransomware semakin kompleks. Tidak hanya aktor luar yang menjadi ancaman, tetapi juga orang dalam yang memiliki akses ke informasi sensitif. Perusahaan perlu menerapkan prinsip zero trust dan segmentasi akses untuk meminimalkan risiko pengkhianatan semacam ini.

    FBI telah menyita sebagian aset Martino, namun masih ada aset lain yang telanjur dikonversi. Proses pemulihan aset dan penegakan hukum terus berlanjut, menunjukkan bahwa meskipun hukuman telah dijatuhkan, dampak dari kejahatan siber seringkali bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan sepenuhnya.

    Kasus Angelo Martino menjadi studi kasus penting bagi industri keamanan siber global. Pengkhianatan oleh seorang profesional yang dipercaya untuk melindungi justru menjadi alat bagi peretas untuk memperkuat serangan mereka. Ke depannya, industri harus belajar dari insiden ini untuk memperketat pengawasan dan membangun sistem yang lebih tahan terhadap ancaman orang dalam.

  • Jadwal Lengkap EWC 2026, Mobile Legends Mulai Pekan Ini

    Jadwal Lengkap EWC 2026, Mobile Legends Mulai Pekan Ini

    JBNews.id — Esports World Cup (EWC) 2026 telah resmi bergulir sejak 2 Juli 2026 di Paris, Prancis. Turnamen esports global ini mempertandingkan 24 game dalam 25 acara yang berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Pekan ini, kompetisi Mobile Legends (MLBB) akan menjadi salah satu sorotan utama.

    Berdasarkan data dari situs resmi EWC, tiga game telah menyelesaikan kompetisinya pada 2-12 Juli 2026: Valorant, Apex Legends, dan Fatal Fury. Kini, perhatian beralih ke jadwal padat yang menanti, termasuk ajang MLBB Women’s International 2026 dan MLBB Mid Season Cup 2026.

    Hasil Kompetisi yang Telah Berlangsung

    Tiga turnamen awal EWC 2026 telah menghasilkan juara. Di Valorant, tim 100 Thieves keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan NRG di babak Grand Final dengan skor 3-1. Mereka membawa pulang hadiah uang tunai sebesar USD 600 ribu atau sekitar Rp 10,8 miliar.

    Sementara itu, Unlimit berhasil menjadi jawara di Apex Legends (ALGS: 2026 Split 1 Playoffs) setelah memuncaki klasemen akhir. Unlimit juga mengantongi hadiah USD 600 ribu. Di nomor Fatal Fury: City of the Wolves, Darkangel dari Natus Vincere (NAVI) dinobatkan sebagai pemain terbaik usai mengalahkan MI2HA4 dari Virtus.pro di babak Grand Final dengan skor 5-1. Darkangel memenangkan hadiah sebesar USD 250 ribu.

    Jadwal Lengkap EWC 2026

    Berikut adalah jadwal lengkap pertandingan EWC 2026 yang masih akan berlangsung, dirangkum dari situs resmi EWC:

    • Dota 2: 7-19 Juli 2026
    • Mobile Legends (MLBB Women’s International 2026): 14-18 Juli 2026
    • Free Fire: 15-18 Juli 2026
    • League of Legends: 15-19 Juli 2026
    • Teamfight Tactics: 21-25 Juli 2026
    • PUBG: 21-26 Juli 2026
    • EA Sports FC 26 (FC Pro 26 World Championship): 22-26 Juli 2026
    • Mobile Legends (MLBB Mid Season Cup 2026): 22 Juli – 1 Agustus 2026
    • Street Fighter 6: 29 Juli – 1 Agustus 2026
    • Overwatch 2 (OWCS Midseason Championship 2026): 29 Juli – 2 Agustus 2026
    • Call of Duty: Warzone (Resurgence Series Championship): 30 Juli – 2 Agustus 2026
    • Honor of Kings (HoK World Cup 2026): 30 Juli – 8 Agustus 2026
    • Rainbow Six Siege: 4-15 Agustus 2026
    • Tekken 8: 5-8 Agustus 2026
    • Call of Duty: Black Ops 7: 5-9 Agustus 2026
    • PUBG Mobile (PUBG Mobile World Cup 2026): 6-16 Agustus 2026
    • Chess: 11-15 Agustus 2026
    • Rocket League: 12-16 Agustus 2026
    • Counter-Strike 2: 12-23 Agustus 2026
    • Crossfire: 18-22 Agustus 2026
    • Trackmania: 19-22 Agustus 2026
    • Fortnite (Reload Elite Series Championship): 19-22 Agustus 2026

    Bagi penggemar Mobile Legends, pekan ini menjadi momentum penting. MLBB Women’s International 2026 akan berlangsung pada 14-18 Juli 2026, disusul MLBB Mid Season Cup 2026 pada 22 Juli hingga 1 Agustus 2026. Kedua ajang ini menjadi kesempatan bagi tim-tim terbaik dunia, termasuk perwakilan Indonesia, untuk unjuk gigi.

    Selain Mobile Legends, sejumlah game populer lainnya juga akan dipertandingkan dalam waktu dekat. Free Fire dan League of Legends akan bergulir pada 15 Juli 2026. Sementara itu, penggemar PUBG dan EA Sports FC 26 bisa menyaksikan aksi para pemain profesional mulai 21 Juli 2026.

    Turnamen EWC 2026 di Paris ini menjadi salah satu ajang esports terbesar tahun ini. Dengan total 25 acara dari 24 game, turnamen ini menawarkan hadiah uang tunai yang sangat besar bagi para pemenang. Sebagai contoh, juara Valorant dan Apex Legends masing-masing membawa pulang USD 600 ribu.

    Bagi penggemar esports di Indonesia, ajang ini juga menjadi tontonan yang menarik. Beberapa tim Indonesia diketahui akan berpartisipasi di berbagai nomor pertandingan. Untuk informasi lebih lanjut, simak Jadwal Timnas MLBB di Asian Games 2026 yang juga akan digelar tahun ini.

    Dengan jadwal yang padat hingga akhir Agustus, EWC 2026 dipastikan akan menjadi pesta esports global yang tidak boleh dilewatkan. Para penggemar dapat menyaksikan pertandingan secara langsung di Paris atau melalui siaran streaming resmi.

  • Bulan Saturnus Bertambah Jadi 285, Bukan karena Satelit Baru

    Bulan Saturnus Bertambah Jadi 285, Bukan karena Satelit Baru

    JBNews.id — Saturnus resmi mempertahankan statusnya sebagai planet dengan jumlah bulan terbanyak di Tata Surya. Hingga tahun 2026, planet bercincin ini tercatat memiliki 285 bulan yang telah terkonfirmasi. Jumlah ini hampir tiga kali lipat dibandingkan Jupiter yang memiliki sekitar 101 bulan.

    Meskipun angkanya fantastis, para astronom menegaskan bahwa lonjakan ini bukan karena Saturnus menumbuhkan satelit-satelit baru. Fenomena ini murni disebabkan oleh kemajuan teknologi pengamatan yang memungkinkan deteksi bulan-bulan kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

    “Ini adalah kisah tentang kemampuan mendeteksi, bukan tentang Saturnus yang berubah. Kita hanya menjadi jauh lebih baik dalam melihat bulan-bulan yang memang sudah ada,” demikian laporan yang dikutip dari SpaceDaily.

    Lonjakan Jumlah Bulan Saturnus dalam Beberapa Tahun

    Beberapa tahun lalu, Saturnus hanya diketahui memiliki 83 bulan dan masih kalah dari Jupiter. Namun, jumlah tersebut meningkat drastis dalam beberapa tahap. Pada Mei 2023, astronom menemukan lebih dari 60 bulan baru sehingga totalnya melampaui 145. Kemudian pada Maret 2025 ditemukan lagi 128 bulan sekaligus yang membuat jumlahnya melonjak menjadi 274. Penambahan 11 bulan lagi pada Maret 2026 membuat total bulan Saturnus mencapai 285, mengukuhkannya sebagai planet dengan satelit alami terbanyak di Tata Surya.

    Sebagian besar bulan yang baru ditemukan berukuran sangat kecil, hanya beberapa kilometer. Selain itu, mereka mengorbit sangat jauh dari Saturnus sehingga cahayanya sangat redup.

    Akibatnya, bulan-bulan tersebut nyaris tidak terlihat menggunakan metode pengamatan biasa. Untuk menemukannya, astronom menggunakan teknik yang disebut image stacking. Mereka mengambil banyak foto wilayah di sekitar Saturnus, lalu menggeser setiap gambar mengikuti perkiraan pergerakan bulan dan menggabungkannya menjadi satu citra. Dengan cara ini, objek yang semula terlalu redup untuk terlihat perlahan menjadi tampak.

    “Bulan-bulan kecil ini sangat redup dan sulit dideteksi. Dengan menggabungkan banyak citra yang mengikuti gerak orbitnya, objek yang tadinya tenggelam dalam gangguan cahaya akhirnya bisa terlihat,” tulis SpaceDaily.

    Teknik tersebut diterapkan menggunakan teleskop besar seperti Canada-France-Hawaii Telescope (CFHT) di Hawaii, yang berperan penting dalam penemuan ratusan bulan Saturnus.

    Meski jumlahnya mencapai ratusan, sebagian besar bulan Saturnus bukanlah objek besar seperti Titan atau Enceladus. Mayoritas merupakan satelit tidak beraturan (irregular moons) dengan diameter hanya sekitar 1-3 kilometer. Bulan-bulan ini mengorbit sangat jauh dari Saturnus dan diperkirakan merupakan asteroid yang tertangkap gravitasi planet tersebut miliaran tahun lalu.

    Kemampuan deteksi yang semakin canggih ini juga membuka wawasan baru tentang objek-objek langit lainnya. Drone Polisi di San Francisco, misalnya, juga memanfaatkan teknologi pengamatan canggih untuk memonitor wilayah perkotaan. Di sisi lain, konsep futuristik seperti Luna Ring dari Shimizu Corp bahkan berencana mengirim listrik dari Bulan ke Bumi, menunjukkan betapa pesatnya perkembangan teknologi antariksa.

    Implikasi dan Prospek ke Depan

    Para astronom memperkirakan jumlah bulan Saturnus masih akan terus bertambah seiring peningkatan kemampuan teleskop dan teknik pengamatan. Artinya, rekor Saturnus sebagai ‘raja bulan’ di Tata Surya kemungkinan belum akan berhenti di angka 285.

    Bagi para pengamat antariksa, temuan ini menegaskan bahwa batas pengetahuan kita tentang Tata Surya masih sangat luas. Setiap peningkatan teknologi membuka jendela baru untuk melihat objek-objek yang selama ini tersembunyi. Hal ini juga mengingatkan bahwa fenomena astronomi sering kali lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.

    Dengan terus berkembangnya instrumen pengamatan seperti teleskop generasi baru, bukan tidak mungkin jumlah bulan Saturnus akan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang. Ini menjadi kabar baik bagi para astronom dan pecinta antariksa yang selalu haus akan penemuan baru.