Category: Tekno

  • Microsoft Rilis Fitur Pause Update Windows 11 Tanpa Batas

    Microsoft Rilis Fitur Pause Update Windows 11 Tanpa Batas

    JBNews.id — Microsoft merilis pembaruan besar untuk Windows 11 yang mencakup kemampuan menjeda pembaruan secara tidak terbatas, sebagai bagian dari patch Tuesday terbaru perusahaan. Fitur ini memungkinkan pengguna menunda pembaruan hingga 35 hari dan memperpanjang tenggat waktu secara berulang.

    Opsi pause update ini sebelumnya telah diuji coba untuk pengguna Windows Insider awal tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Microsoft untuk merevitalisasi Windows 11 dengan pembaruan yang berfokus pada keluhan pengguna dan peningkatan performa sistem operasi.

    Selain fitur pause update, Microsoft juga menambal sejumlah celah keamanan dalam pembaruan ini. Perusahaan menyatakan akan terus meningkatkan aspek keamanan di rilis mendatang dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kerentanan. Bagi pengguna yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang perubahan sistem, simak informasi tentang Fitur Terbaru yang dihadirkan Microsoft.

    Fitur Point-in-Time Restore

    Dalam pembaruan opsional Juni lalu (KB5101650), Microsoft mempratinjau beberapa fitur lain yang kini tersedia. Salah satu fitur utama adalah opsi “Point-in-time restore” yang memungkinkan pengguna memulihkan PC, termasuk aplikasi, pengaturan, dan file, ke kondisi sebelumnya.

    Fitur ini memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna yang ingin kembali ke titik pemulihan tertentu tanpa kehilangan data penting. Ini menjadi solusi bagi mereka yang mengalami masalah setelah memasang pembaruan atau perubahan sistem tertentu. Untuk memahami lebih dalam tentang masalah pembaruan sebelumnya, baca artikel tentang Bug Windows 11 yang sempat menjadi perhatian.

    Peningkatan Kustomisasi dan Stabilitas

    Pembaruan ini juga menambahkan opsi kustomisasi pada Widgets, alat pembesar yang lebih presisi, serta peningkatan stabilitas dengan perangkat Bluetooth tertentu. Microsoft terus mendengarkan masukan pengguna untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik pada Windows 11.

    Dengan fitur pause update yang lebih fleksibel, pengguna kini memiliki kendali lebih besar atas kapan dan bagaimana pembaruan diinstal. Ini sangat berguna bagi profesional yang membutuhkan stabilitas sistem dalam jangka waktu tertentu tanpa gangguan pembaruan mendadak. Jika Anda mengalami kendala penyimpanan, simak informasi tentang Update Perbaiki Bug yang telah dirilis Microsoft.

    Microsoft berkomitmen untuk terus memperbarui Windows 11 dengan fitur-fitur yang menjawab kebutuhan pengguna. Pembaruan ini menunjukkan bahwa perusahaan serius dalam mengatasi masalah yang sering dikeluhkan, seperti kontrol pembaruan yang terbatas dan stabilitas sistem.

    Bagi pengguna Windows 11, pembaruan ini dapat diakses melalui Windows Update. Disarankan untuk selalu memasang pembaruan keamanan meskipun fitur pause update memberikan fleksibilitas untuk menunda pembaruan fitur.

  • Google Images Rombak Tampilan Depan dengan Galeri Personal

    Google Images Rombak Tampilan Depan dengan Galeri Personal

    JBNews.id — Google mengumumkan perubahan besar pada tampilan awal Google Images dalam rangka peringatan 25 tahun platform tersebut. Alih-alih halaman kosong dengan bilah pencarian, pengguna kini akan disambut galeri gambar yang diperbarui secara real-time dan disesuaikan dengan minat masing-masing.

    Perubahan ini menandai transformasi signifikan dari desain minimalis yang telah menjadi ciri khas Google Images selama seperempat abad. Perusahaan menyebut tampilan baru yang “dapat dijelajahi” ini menghadirkan “galeri gambar yang dinamis dan imersif dari seluruh web — diperbarui secara real-time dan dirancang secara cerdas sesuai minat unik Anda.”

    Berdasarkan gambar yang dibagikan Google, tata letak baru ini mengingatkan pada platform seperti Pinterest dan Imgur yang menampilkan banyak gambar dalam satu tempat untuk di-scroll. Pengguna juga dapat menyimpan gambar ke dalam koleksi yang bisa diakses kembali di lain waktu, dan koleksi tersebut akan muncul sebagai tab di atas umpan.

    Peluncuran tampilan baru Google Images ini akan dilakukan secara bertahap dalam “beberapa minggu ke depan” untuk pengguna desktop yang masuk dengan akun Google di Amerika Serikat dalam bahasa Inggris. Google belum mengumumkan jadwal ekspansi ke negara lain, termasuk Indonesia.

    Dalam pembaruan lain yang terkait gambar, Google Search juga akan segera dapat menghasilkan gambar di AI Overviews menggunakan model AI Nano Banana 2 Lite. Contoh dari Google menunjukkan bagaimana fitur ini dapat digunakan untuk membandingkan atau memvisualisasikan ide dekorasi rumah.

    Dalam prompt demo, Google menggunakan frasa seperti “bantu saya memvisualisasikan” atau “buat visual” untuk memulai proses pembuatan gambar. Namun, detail mengenai jenis prompt apa yang memicu pembuatan gambar dan bagaimana perusahaan mencegah AI Overviews menghasilkan gambar AI pada situasi yang tidak seharusnya — seperti peristiwa terkini — masih dalam tahap klarifikasi dari Google.

    Perubahan ini menjadi langkah strategis Google untuk bersaing dengan platform visual seperti Pinterest yang telah lama mengandalkan personalisasi konten. Dengan mengadopsi pendekatan serupa, Google Images tidak lagi sekadar menjadi mesin pencari gambar, tetapi juga menjadi platform eksplorasi visual yang proaktif.

    Bagi pengguna yang sering mencari referensi visual, fitur koleksi yang dapat disimpan menjadi nilai tambah. Anda tidak perlu lagi membuka banyak tab untuk menyimpan gambar favorit. Cukup simpan ke dalam koleksi yang sudah dibuat, dan akses kapan saja melalui tab yang tersedia di atas umpan.

    Google juga telah menerapkan kebijakan label AI pada iklan melalui My Ad Center. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap transparansi konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

    Pembaruan ini juga relevan dengan tren pencarian visual yang semakin meningkat. Google sebelumnya mencatat rekor pencarian pada momen-momen tertentu, menunjukkan betapa pentingnya konten visual bagi pengguna.

    Untuk pengguna yang ingin memahami lebih lanjut tentang fitur berbagi konten di ekosistem Google, tersedia panduan lengkap berbagi lokasi yang dapat diakses secara gratis.

    Implikasi dari perubahan ini cukup luas. Bagi pengguna biasa, tampilan baru Google Images berarti pengalaman menjelajah yang lebih personal dan efisien. Tidak perlu lagi mengetik kata kunci untuk menemukan gambar yang relevan — algoritma Google akan menampilkan konten yang sesuai dengan minat Anda secara otomatis.

    Bagi kreator konten dan pelaku bisnis, perubahan ini membuka peluang baru dalam hal visibilitas. Gambar yang relevan dengan minat pengguna akan lebih mudah ditemukan, meningkatkan potensi traffic dan engagement.

    Namun, perubahan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan kontrol data. Google harus menyesuaikan konten berdasarkan minat pengguna, yang berarti perusahaan perlu mengumpulkan dan menganalisis data perilaku pencarian. Google belum merinci bagaimana data ini akan dikelola dan apakah pengguna memiliki opsi untuk menonaktifkan personalisasi.

    Dari sisi teknis, model AI Nano Banana 2 Lite yang digunakan untuk menghasilkan gambar di AI Overviews menunjukkan langkah Google dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan generatif ke dalam produk intinya. Langkah ini sejalan dengan tren industri di mana perusahaan teknologi besar berlomba mengintegrasikan AI ke dalam layanan mereka.

    Google sendiri telah menunjukkan beberapa contoh penggunaan fitur ini, seperti membandingkan ide dekorasi rumah atau memvisualisasikan tata ruang. Fitur ini diharapkan dapat membantu pengguna yang kesulitan membayangkan konsep abstrak hanya dari teks.

    Meskipun demikian, Google masih merahasiakan detail teknis mengenai jenis prompt apa yang akan memicu pembuatan gambar. Perusahaan juga belum menjelaskan bagaimana mereka mencegah AI Overviews menghasilkan gambar yang tidak pantas, terutama untuk topik sensitif seperti peristiwa terkini atau konten yang memicu kontroversi.

    Keamanan siber juga menjadi perhatian. Google sebelumnya telah menangani botnet Popa yang membajak jutaan Smart TV, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kapasitas untuk menangani ancaman keamanan skala besar. Namun, pengguna tetap perlu waspada terhadap potensi penyalahgunaan fitur baru ini.

    Perubahan tampilan Google Images ini merupakan bagian dari strategi lebih luas Google untuk meningkatkan engagement pengguna. Dengan menyajikan konten yang relevan sejak halaman pertama, Google berharap pengguna akan menghabiskan lebih banyak waktu di platform mereka.

    Bagi pengguna di Indonesia, meskipun peluncuran masih terbatas di AS, perubahan ini memberikan gambaran tentang masa depan pencarian gambar. Dalam beberapa bulan ke depan, pengguna Indonesia kemungkinan akan merasakan fitur serupa jika Google memutuskan untuk memperluas jangkauan.

    Pengguna yang ingin mencoba fitur baru ini dapat mengakses Google Images melalui browser desktop dengan masuk ke akun Google. Fitur koleksi dan umpan personal akan tersedia secara bertahap.

    Google juga mengingatkan bahwa fitur ini masih dalam tahap peluncuran awal. Beberapa pengguna mungkin belum melihat perubahan langsung, tetapi dalam beberapa minggu ke depan, tampilan baru akan tersedia untuk semua pengguna yang memenuhi syarat.

    Perubahan ini menandai era baru bagi Google Images. Dari sekadar alat pencarian, platform ini bertransformasi menjadi pusat eksplorasi visual yang dinamis dan personal. Bagi pengguna yang sering mencari inspirasi visual, perubahan ini akan terasa signifikan.

    Dengan integrasi AI generatif dan personalisasi konten, Google Images tidak lagi sekadar “mesin pencari gambar” tetapi juga “asisten visual” yang proaktif. Langkah ini menunjukkan bagaimana Google ingin mempertahankan relevansinya di era di mana konten visual menjadi semakin dominan.

    Ke depannya, pengguna dapat mengharapkan lebih banyak inovasi dari Google dalam hal pencarian visual. Integrasi AI generatif, personalisasi konten, dan fitur koleksi adalah langkah awal menuju pengalaman pencarian yang lebih imersif dan intuitif.

    Bagi pelaku industri kreatif, perubahan ini menjadi pengingat bahwa optimasi konten visual tidak lagi cukup hanya dengan tag dan deskripsi. Konten harus relevan, menarik, dan mudah ditemukan dalam konteks personalisasi.

    Google sendiri belum mengumumkan apakah fitur serupa akan tersedia di perangkat seluler atau aplikasi Google Images. Namun, mengingat tren penggunaan perangkat seluler yang dominan, kemungkinan besar Google akan memperluas fitur ini ke platform mobile dalam waktu dekat.

    Perubahan ini juga membuka diskusi tentang etika dan privasi. Seberapa besar data yang perlu dikumpulkan Google untuk memberikan personalisasi yang akurat? Apakah pengguna memiliki kontrol penuh atas data mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab Google untuk membangun kepercayaan pengguna.

    Terlepas dari kekhawatiran tersebut, perubahan ini menandai langkah maju yang signifikan dalam evolusi pencarian visual. Google Images yang berusia 25 tahun kini mendapatkan “wajah baru” yang lebih segar, personal, dan interaktif.

    Bagi pengguna yang ingin tetap update dengan perkembangan teknologi Google, penting untuk memantau pengumuman resmi dari perusahaan. Fitur-fitur baru sering kali diluncurkan secara bertahap, dan pengguna yang proaktif dapat menjadi yang pertama merasakan manfaatnya.

    Dengan peluncuran ini, Google menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam inovasi pencarian visual. Perusahaan tidak hanya memperbarui tampilan, tetapi juga mengubah cara pengguna berinteraksi dengan konten visual di web.

    Perubahan ini juga relevan dengan tren konsumsi konten yang semakin visual. Pengguna modern lebih memilih gambar dan video daripada teks panjang. Google Images yang baru dirancang untuk memenuhi kebutuhan ini dengan cara yang lebih efisien dan personal.

    Bagi bisnis yang mengandalkan traffic dari pencarian gambar, perubahan ini memerlukan penyesuaian strategi SEO. Konten visual harus dioptimasi tidak hanya untuk kata kunci, tetapi juga untuk relevansi kontekstual dan personalisasi.

    Google belum merinci apakah perubahan ini akan mempengaruhi peringkat gambar di hasil pencarian. Namun, dengan algoritma yang semakin cerdas, kemungkinan besar faktor personalisasi akan menjadi lebih penting dalam menentukan gambar mana yang muncul untuk setiap pengguna.

    Perubahan tampilan Google Images ini adalah bukti bahwa Google terus berinovasi meskipun platformnya sudah berusia 25 tahun. Perusahaan tidak berpuas diri dengan kesuksesan masa lalu, tetapi terus mencari cara untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

    Bagi pengguna di Indonesia, meskipun fitur ini belum tersedia, penting untuk mulai mempersiapkan diri. Pelajari cara kerja personalisasi konten, optimasi gambar, dan fitur koleksi agar siap saat fitur ini tiba di Indonesia.

    Google juga menyediakan berbagai sumber daya dan panduan untuk membantu pengguna memahami fitur baru. Manfaatkan sumber daya ini untuk memaksimalkan pengalaman menggunakan Google Images yang baru.

    Perubahan ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi terus berkembang. Pengguna yang adaptif akan lebih mudah menikmati manfaat dari inovasi-inovasi baru seperti ini.

    Dengan tampilan baru yang lebih personal dan interaktif, Google Images siap memasuki era barunya. Pengguna dapat mengharapkan pengalaman menjelajah gambar yang lebih kaya, relevan, dan menyenangkan.

    Google Images yang baru adalah contoh bagaimana teknologi dapat meningkatkan cara kita menemukan dan menikmati konten visual. Dengan personalisasi cerdas dan tampilan yang imersif, platform ini tidak lagi sekadar alat, tetapi menjadi teman dalam eksplorasi visual sehari-hari.

    Bagi yang penasaran, pantau terus akun Google resmi atau kunjungi halaman Google Images secara berkala untuk melihat perubahan tampilan. Fitur baru akan hadir secara bertahap, dan Anda bisa menjadi salah satu yang pertama merasakannya.

    Perubahan ini juga membuka peluang bagi kreator konten untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan personalisasi konten, gambar yang relevan akan lebih mudah ditemukan oleh pengguna yang tepat.

    Google Images yang baru adalah bukti bahwa inovasi tidak pernah berhenti. Meskipun platform sudah berusia 25 tahun, Google terus menghadirkan fitur-fitur baru yang relevan dengan kebutuhan pengguna modern.

    Pengguna dapat mengharapkan lebih banyak pembaruan dari Google dalam waktu dekat. Perusahaan berkomitmen untuk terus meningkatkan pengalaman pencarian visual dan menghadirkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat.

    Dengan tampilan baru yang dinamis dan personal, Google Images siap menjadi platform eksplorasi visual utama bagi pengguna di seluruh dunia. Perubahan ini menandai awal era baru dalam pencarian gambar.

    Bagi pengguna yang ingin memaksimalkan fitur baru ini, penting untuk memahami cara kerja personalisasi konten. Semakin sering Anda menggunakan Google Images, semakin akurat rekomendasi yang akan ditampilkan.

    Google juga menyediakan opsi untuk menyesuaikan preferensi konten. Pengguna dapat mengatur jenis gambar yang ingin ditampilkan atau disembunyikan dari umpan personal mereka.

    Perubahan ini adalah langkah maju yang signifikan dalam evolusi pencarian visual. Google Images yang baru tidak hanya lebih menarik secara visual, tetapi juga lebih fungsional dan personal.

    Dengan peluncuran bertahap ini, Google memberikan waktu bagi pengguna untuk beradaptasi dengan tampilan baru. Dalam beberapa minggu ke depan, semua pengguna yang memenuhi syarat akan menikmati fitur-fitur baru ini.

    Google Images yang baru adalah hadiah ulang tahun ke-25 yang sempurna untuk platform yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan digital kita. Dengan tampilan yang segar dan fitur yang inovatif, Google Images siap melayani pengguna untuk 25 tahun ke depan.

  • Mantan Karyawan Meta Gugat Soal PHK Berbasis AI

    Mantan Karyawan Meta Gugat Soal PHK Berbasis AI

    JBNews.id – Sebanyak 26 mantan karyawan Meta Platforms Inc. menggugat perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut ke pengadilan. Gugatan diajukan atas tuduhan bahwa Meta menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk secara tidak adil menargetkan pekerja yang sedang mengambil cuti dalam proses pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada Mei lalu.

    Dalam gugatan yang dilaporkan oleh Reuters, para mantan karyawan tersebut mengklaim bahwa Meta menentukan pekerja mana yang akan di-PHK berdasarkan data kinerja yang dikumpulkan oleh “konstelasi” alat AI internal. Sistem ini, menurut mereka, gagal mengecualikan karyawan yang sedang mengambil cuti orang tua atau cuti medis dari sistem peringkat otomatis.

    “Akibatnya, karyawan yang mengambil cuti yang dilindungi secara tidak proporsional terpilih untuk di-PHK, berdasarkan skor yang tidak hanya gagal memperhitungkan cuti yang dilindungi, tetapi secara efektif menghukum karyawan karena menggunakan hak hukum mereka atas cuti tersebut,” demikian bunyi kutipan gugatan yang diperoleh media.

    PHK yang dimaksud dalam gugatan terjadi pada Mei 2026 sebagai bagian dari rencana Meta untuk memangkas 10 persen stafnya, atau sekitar 8.000 pekerja. Angka ini merupakan bagian dari efisiensi besar-besaran yang dilakukan perusahaan di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg.

    Metamate dan Alat AI Internal Jadi Sorotan

    Para mantan karyawan menduga Meta menggunakan asisten AI internal bernama Metamate, agen AI yang dilatih oleh karyawan, dasbor internal yang menampilkan penggunaan token AI, serta alat-alat lainnya untuk “menilai, memberi peringkat, dan memilih karyawan untuk dimasukkan ke dalam daftar PHK.”

    Gugatan ini menuduh Meta melanggar undang-undang federal dan negara bagian yang melarang pengusaha memecat pekerja karena mengambil cuti yang dilindungi. Tuduhan ini menambah daftar panjang masalah hukum yang dihadapi Meta terkait penggunaan AI dan kebijakan ketenagakerjaan.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Meta Terancam Denda miliaran dolar karena berbagai pelanggaran regulasi di berbagai yurisdiksi.

    Bantahan Resmi Meta

    Menanggapi gugatan tersebut, Meta dengan tegas membantah tuduhan yang dilayangkan. “Klaim ini tidak berdasar dan tidak didasarkan pada fakta,” kata Tracy Clayton, juru bicara Meta, kepada The Verge. “Keputusan manajemen tenaga kerja dan organisasi dibuat dan diambil oleh manusia, bukan AI.”

    Pernyataan ini menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara klaim para penggugat dan posisi resmi perusahaan. Meta menegaskan bahwa meskipun alat AI digunakan sebagai pendukung, keputusan final tetap berada di tangan manajer dan tim sumber daya manusia.

    Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut isu krusial tentang penggunaan AI dalam pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada hak-hak pekerja. Di sisi lain, Meta juga tengah menghadapi tekanan regulasi dari berbagai negara terkait desain platformnya. Sebelumnya, Meta Diminta Ubah Desain Instagram dan Facebook karena dianggap adiktif oleh regulator di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

    Implikasi Hukum dan Dampak bagi Pekerja Teknologi

    Gugatan ini membuka pertanyaan besar tentang sejauh mana perusahaan teknologi dapat menggunakan AI dalam manajemen sumber daya manusia. Jika terbukti bersalah, Meta bisa menghadapi sanksi berat, termasuk denda dan kewajiban membayar kompensasi kepada ribuan pekerja yang terdampak.

    Para pengamat hukum menilai kasus ini bisa menjadi preseden penting bagi industri teknologi global. Banyak perusahaan besar kini mulai mengadopsi AI untuk berbagai fungsi HR, mulai dari rekrutmen hingga evaluasi kinerja. Namun, tanpa pengawasan yang memadai, sistem ini berpotensi melanggar hak-hak dasar pekerja.

    Kasus ini juga menyoroti praktik PHK massal di perusahaan teknologi besar yang kerap menggunakan metrik data sebagai dasar keputusan. Di tengah gelombang efisiensi yang melanda Silicon Valley, perlindungan bagi pekerja yang mengambil cuti menjadi isu yang semakin relevan.

    Bagi para pekerja di industri teknologi, kasus ini menjadi pengingat penting. Sistem AI yang digunakan perusahaan untuk mengevaluasi kinerja bisa saja tidak memperhitungkan situasi pribadi seperti cuti orang tua atau sakit. Oleh karena itu, transparansi dalam penggunaan AI untuk keputusan SDM menjadi tuntutan yang semakin mendesak.

    Meta sendiri saat ini masih harus menghadapi berbagai gugatan dan investigasi di berbagai negara. Mulai dari masalah privasi data, iklan konten ilegal, hingga desain platform yang dianggap merugikan pengguna muda. Instagram Raup Untung dari iklan CSAM (Child Sexual Abuse Material) di India menjadi salah satu kasus yang paling menyita perhatian publik dan regulator global.

    Kronologi PHK Massal di Meta

    PHK massal yang menjadi dasar gugatan ini merupakan bagian dari gelombang pemangkasan besar-besaran di Meta. Pada awal tahun 2026, perusahaan mengumumkan akan memberhentikan 10 persen tenaga kerjanya, atau sekitar 8.000 orang, sebagai bagian dari strategi “tahun efisiensi” yang dicanangkan Zuckerberg.

    Proses PHK ini dilakukan secara bertahap, dengan gelombang pertama terjadi pada Mei. Para pekerja yang terkena dampak diberitahu melalui email, tanpa kesempatan untuk melakukan banding atau klarifikasi. Banyak dari mereka yang merasa proses ini tidak transparan dan tidak adil.

    Dalam gugatannya, para mantan karyawan menyebutkan bahwa sistem AI Meta tidak hanya gagal mengecualikan pekerja yang sedang cuti, tetapi juga memberikan skor rendah secara otomatis kepada mereka. Hal ini karena sistem tidak dapat membedakan antara ketidakhadiran karena cuti yang dilindungi dengan ketidakhadiran karena alasan lain.

    Seorang penggugat yang merupakan ibu baru mengaku di-PHK saat sedang menjalani cuti melahirkan. Ia baru kembali bekerja beberapa minggu setelah PHK diumumkan, dan mendapati dirinya sudah tidak lagi memiliki akses ke sistem perusahaan.

    Kasus serupa juga dialami oleh pekerja yang sedang menjalani perawatan medis jangka panjang. Mereka mengaku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan situasi mereka sebelum keputusan PHK diambil.

    Masa Depan AI dalam Manajemen SDM

    Kasus gugatan terhadap Meta ini menjadi peringatan bagi perusahaan teknologi lain yang mulai mengandalkan AI untuk pengambilan keputusan SDM. Meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi, penggunaannya tanpa pengawasan manusia yang memadai berisiko menimbulkan diskriminasi dan pelanggaran hukum.

    Para ahli merekomendasikan agar perusahaan menerapkan “human-in-the-loop” dalam setiap keputusan SDM yang berbasis AI. Artinya, meskipun AI dapat memberikan rekomendasi, keputusan final harus tetap diambil oleh manusia yang memahami konteks dan situasi masing-masing pekerja.

    Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan bahwa data yang digunakan untuk melatih model AI tidak mengandung bias yang dapat merugikan kelompok pekerja tertentu. Dalam kasus Meta, bias terhadap pekerja yang mengambil cuti menjadi bukti nyata risiko penggunaan AI yang tidak diawasi dengan baik.

    Bagi para pekerja, kasus ini menjadi momentum untuk lebih kritis terhadap kebijakan perusahaan terkait penggunaan AI. Pekerja perlu mengetahui data apa yang dikumpulkan tentang mereka, bagaimana data tersebut digunakan, dan apakah ada mekanisme banding jika mereka merasa dirugikan oleh keputusan berbasis AI.

    Di sisi lain, Meta juga tengah berupaya memperbaiki citranya di mata publik. Perusahaan telah meluncurkan berbagai fitur baru untuk meningkatkan privasi pengguna, termasuk Cara Blokir Foto Instagram dari AI Meta untuk mengamankan privasi. Langkah ini diambil setelah banyak pengguna mengeluhkan penggunaan data mereka untuk melatih model AI tanpa izin eksplisit.

    Bahkan, Meta sempat mematikan fitur AI yang menghasilkan gambar dari akun Instagram publik setelah mendapat tekanan dari regulator dan publik. Meta Matikan Fitur AI tersebut sebagai respons terhadap kekhawatiran privasi yang meluas.

    Kesimpulan dan Implikasi

    Gugatan 26 mantan karyawan Meta ini bukan sekadar kasus hukum biasa. Ini adalah ujian bagi sejauh mana perusahaan teknologi dapat menggunakan AI dalam mengelola sumber daya manusia tanpa melanggar hak-hak dasar pekerja.

    Jika pengadilan memenangkan para penggugat, keputusan ini bisa menjadi preseden yang mengubah cara perusahaan-perusahaan besar menggunakan AI untuk keputusan SDM. Di sisi lain, jika Meta menang, perusahaan teknologi lain mungkin akan merasa lebih leluasa mengandalkan AI dalam proses PHK dan evaluasi kinerja.

    Bagi para pekerja di industri teknologi, kasus ini memberikan pelajaran berharga: pentingnya memahami kebijakan perusahaan terkait penggunaan data dan AI, serta pentingnya memiliki dokumentasi yang jelas tentang hak-hak mereka, terutama saat mengambil cuti yang dilindungi undang-undang.

    Sidang perdana kasus ini dijadwalkan akan digelar dalam beberapa bulan mendatang. Publik dan pelaku industri teknologi akan mengawal proses ini dengan saksama, mengingat implikasinya yang luas bagi masa depan hubungan industrial di era kecerdasan buatan.

  • Gugatan Apple ke OpenAI Ancam Rencana IPO dan Hardware

    Gugatan Apple ke OpenAI Ancam Rencana IPO dan Hardware

    JBNews.id — Apple menggugat OpenAI ke pengadilan federal California Utara atas tuduhan pencurian rahasia dagang oleh tiga mantan karyawan Apple yang kini bekerja untuk OpenAI. Gugatan setebal 41 halaman ini menuduh para mantan karyawan tersebut “mencuri rahasia dagang Apple untuk kepentingan OpenAI” dan berpotensi mengancam rencana IPO serta pengembangan perangkat keras OpenAI yang sangat dinantikan.

    Apple dalam gugatannya menyatakan bahwa perusahaan menjaga “pengembangan produk, manufaktur, rantai pasokan, riset teknologi, dan inovasi lainnya tetap rahasia.” Tuduhan ini menyebut bahwa “rahasia dagang yang mencakup operasi perangkat keras Apple secara kolektif merupakan salah satu aset intelektual paling berharga dalam seluruh bisnis Amerika.”

    Tiga mantan karyawan yang disebutkan dalam gugatan adalah Tang Tan, mantan VP Apple Watch yang menghabiskan 24 tahun di Apple sebelum menjadi chief hardware officer OpenAI; Chang Liu, mantan insinyur sistem kelistrikan iPhone yang bekerja delapan tahun di Apple; dan Yu-Ting “Alyssa” Peng, mantan karyawan Apple lainnya. Tang Tan bergabung dengan OpenAI setelah perusahaan tersebut membeli perusahaan perangkat keras milik Jony Ive, io, senilai hampir USD 6,5 miliar.

    Gugatan tersebut memuat klaim-klaim serius, termasuk bahwa Tan diduga meminta calon karyawan untuk membawa perangkat keras Apple ke luar kantor untuk “show and tell” selama wawancara di OpenAI. Tan juga dituduh melatih karyawan Apple tentang cara menghindari prosedur keamanan offboarding perusahaan. Namun, belum jelas apakah rahasia dagang perangkat keras Apple benar-benar telah masuk ke perangkat OpenAI, karena perusahaan tersebut belum memiliki produk yang ditunjukkan secara publik.

    Avery Williams, cochair bidang praktik rahasia dagang di McKool Smith dan penulis AI Litigation Tracker, mengatakan kepada The Verge bahwa masalah hukum OpenAI masih jauh dari selesai. “Mereka sudah banyak digugat. OpenAI tidak akan keluar dari masalah sampai kita mendapatkan putusan dari pengadilan tinggi mengenai pertanyaan fair use untuk pelatihan AI. Itu pertanyaan triliunan dolar.”

    Gugatan ini menjadi hambatan baru bagi OpenAI yang telah melalui enam bulan penuh gejolak. Perusahaan menghadapi drama dengan pesaing terkait garis merah militer AS, protes atas kontrak dengan pemerintah AS, pertarungan hukum berkepanjangan dengan mantan salah satu pendiri OpenAI Elon Musk, dan persaingan dengan Anthropic untuk menjadi laboratorium frontier pertama yang melantai di bursa. Belum lagi daftar panjang gugatan lainnya, termasuk dari keluarga Adam Raine, remaja 16 tahun yang bunuh diri setelah curhat dengan ChatGPT, serta gugatan dari The New York Times dan penerbit lain atas dugaan pelanggaran hak cipta.

    Waktu gugatan Apple juga sangat tidak ideal bagi OpenAI. Perusahaan sedang bersiap untuk go public setelah secara rahasia menyerahkan Form S-1 ke SEC bulan lalu. OpenAI juga menghadapi tekanan investor untuk mencetak laba dan telah memangkas sejumlah “side quests” untuk fokus pada pendorong pendapatan utama seperti enterprise dan coding. Yang paling signifikan, OpenAI bersiap merilis perangkat keras yang sangat dinanti pada 2027 setelah membayar hampir USD 6,5 miliar untuk membeli startup perangkat keras milik desainer Apple terkenal, Jony Ive.

    Reputasi Apple yang tertinggal dalam AI namun unggul dalam perangkat keras menjadi kontras dengan OpenAI. Sebuah pepatah umum di industri menyatakan bahwa “perangkat keras itu sulit”; buktinya bisa dilihat dari kuburan perangkat AI yang dulu terlalu hype, seperti Humane AI pin.

    Charlyn Ho, CEO dan pendiri Rikka Law Group, firma hukum yang fokus pada teknologi, privasi, dan keamanan siber, mengatakan, “Perbatasan berikutnya adalah perangkat keras AI, lebih dari sekadar chip. Robotika dan jenis AI fisik lainnya adalah area berikutnya yang siap untuk disruptif. Sangat menarik melihat OpenAI terjun ke area itu, karena mungkin mereka melihat bahwa permainan software murni tidak menguntungkan. Mereka adalah laboratorium frontier. Mereka menghabiskan lebih banyak uang daripada yang mereka hasilkan saat ini.”

    Masuk akal jika OpenAI ingin merekrut untuk mengisi celah perangkat keras dan mempercepat kemajuan hardware mereka. Namun, hal ini kini berujung pada pertarungan hukum yang kemungkinan akan mahal. “Tidak pernah menyenangkan digugat oleh Apple ketika Anda sedang mencoba IPO,” kata Williams dari McKool Smith. “Apple adalah litigan yang gigih. Mereka cenderung tidak mundur.”

    OpenAI tidak menanggapi permintaan komentar. Akhir pekan lalu, seorang pengguna X menulis, “Sam Altman tidak takut pada Elon tetapi dia takut pada Apple. Anda bisa lihat dari semua postingannya hari ini.” Altman membalas, “saya tidak takut pada Apple, tetapi saya sangat menghormati mereka. Perusahaan kelas-S.”

    Apple dan OpenAI sebelumnya memiliki hubungan publik yang relatif positif. Keduanya pada 2024 sepakat untuk mengintegrasikan ChatGPT ke dalam perangkat Apple. Gugatan ini merupakan perubahan signifikan. “Apple dan OpenAI sebelumnya berada di sisi yang sama. Seiring industri semakin kompetitif, Anda mulai melihat aliansi ini retak,” kata Ho dari Rikka Law Group.

    Dalam industri AI yang sangat kompetitif saat ini, gugatan atau tuduhan publik atas rahasia dagang, spionase perusahaan, dan pengambilan informasi ilegal sangat umum. Menunjuk ke pemimpin AI mana pun, kemungkinan mereka memiliki setidaknya satu gugatan atau tuduhan. Contohnya termasuk Scale AI yang menuduh karyawan yang pindah ke Mercor, xAI yang menuduh karyawan yang pindah ke OpenAI, dan Tesla yang menuduh karyawan yang diduga mentransfer data tentang superkomputer AI ke laptop pribadinya.

    Meskipun gugatan Apple terhadap OpenAI menjadi berita utama, sebagian besar ahli yang berbicara dengan The Verge mengatakan tidak ada tuduhan yang sangat tidak biasa. Yang lebih menarik adalah bahwa semua tuduhan terjadi dalam satu kasus dan melibatkan dua pemain besar. Gugatan rahasia dagang juga sulit dibuktikan di pengadilan karena tidak seperti gugatan hak cipta atau merek dagang, biasanya tidak ada perbandingan langsung antara satu hal dengan hal lainnya.

    Haibing Lu, profesor sistem informasi dan analitik di Leavey School of Business Universitas Santa Clara, mengatakan tuduhan Apple “tidak unik” dan “sangat umum di Silicon Valley.” Williams dari McKool Smith mengatakan kasus ini terbaca seperti “klaim penyalahgunaan rahasia dagang biasa.” “Ini bukan benar-benar kasus AI melainkan kasus terhadap perusahaan AI,” lanjut Williams. “Pemainnya besar, tetapi tuduhannya tidak biasa.”

    Bagi Michael Barnhart, peneliti ancaman negara-bangsa di perusahaan keamanan siber DTEX, “pendekatan berlapis” dari tuduhan tersebut membuat gugatan Apple menarik: ekstraksi tahap perekrutan, permintaan berbasis wawancara, kolusi internal. “Ini sangat biasa dalam hal ancaman orang dalam dan beginilah cara mereka bertindak,” katanya. Namun pada saat yang sama, “Kita bisa duduk dan saya akan menarik perusahaan yang melakukan salah satu hal ini dengan buruk. Anda akan punya satu, dua, tiga — yang ini punya semuanya. Yang ini punya begitu banyak. Dan juga, pada level tertinggi.”

    Ironisnya, dalam industri yang hanya mungkin terjadi karena konsumsi data dalam jumlah tak terbatas — apakah secara teknis di atas batas atau tidak — laboratorium AI menjadi sangat litigius ketika orang lain membawa informasi itu ke tempat lain. Industri AI adalah dunia kecil dan terkenal eksklusif. Anthropic didirikan oleh mantan eksekutif OpenAI, xAI didirikan oleh mantan salah satu pendiri OpenAI, dan banyak startup telah diakuisisi oleh tempat kerja mereka berasal atau pesaing utama perusahaan tersebut.

    Apple mengisyaratkan dalam pengajuan hukumnya bahwa ada lebih banyak mantan karyawan yang meninggalkan perusahaan untuk OpenAI dengan informasi kunci daripada yang disebutkan dalam gugatan. Perusahaan mengatakan telah “menemukan pola pencurian rahasia dagang Apple oleh karyawan OpenAI yang sebelumnya bekerja di Apple” dan bahwa “ini hanyalah puncak gunung es. Di setiap level, dari anggota Technical Staff hingga Chief Hardware Officer, dan dalam koordinasi dengan mitra bisnis, OpenAI telah mencuri rahasia dagang dan informasi rahasia Apple.”

    Alex Terepka, mitra pendiri Watstein Terepka LLP, mengatakan kasus ini kemungkinan akan kontroversial dan berlarut-larut, berpotensi berlangsung bertahun-tahun. “Apple dan OpenAI akan terlibat dalam ini untuk jangka panjang. Apa yang disusun Apple di sini jelas lebih dari cukup untuk bertahan dari mosi untuk membatalkan. Kemudian Anda akan masuk ke proses discovery, yang dalam kasus semacam ini bisa sangat rumit.”

    Sisi software industri AI telah menghasilkan hype, persaingan, dan kontroversi yang tak terhitung, tetapi perangkat keras adalah area berikutnya yang menjadi target perusahaan AI. Namun karena perangkat AI belum benar-benar diuji secara luas, perlu waktu untuk melihat seperti apa kesuksesan di ruang itu — terutama dengan potensi pertarungan hukum bertahun-tahun antara Apple dan OpenAI di depan.

  • VP Robotik 1X Kecam Liputan Wired soal Tangan Robot Neo

    VP Robotik 1X Kecam Liputan Wired soal Tangan Robot Neo

    JBNews.id — Wakil Presiden Produk dan Desain perusahaan robotika humanoid 1X, Dar Sleeper, meluapkan kekecewaannya terhadap artikel Wired yang menyoroti strategi pemasaran robot Neo. Sleeper menuduh jurnalis Wired menulis artikel aneh yang mengesankan perusahaan tengah menseksualisasikan robotikanya, sebuah respons yang justru menyoroti ketegangan antara narasi perusahaan dan liputan media.

    Insiden ini bermula ketika Wired menerbitkan artikel pada pekan lalu yang mengulas tangan robot Neo buatan startup Norwegia-Amerika 1X. Artikel tersebut, yang ditulis oleh Boone Ashworth, mengakui kecanggihan tangan robot Neo yang dinilai mampu menyaingi dan bahkan melampaui ketangkasan tangan manusia dalam beberapa aspek. Namun, di bagian akhir tulisannya, Ashworth menyoroti pola yang menurutnya sensual dalam materi pemasaran perusahaan.

    “Alunan jazz lembut terdengar di latar video yang lembut dan hangat. Jari-jari robot itu melingkari gelas anggur, mematikan lampu, membuka ritsleting jaket, dan dengan lembut meremas-remas buah anggur,” tulis Ashworth. Ia kemudian menambahkan, “Bukan untuk mempermalukan, tapi ini strategi yang aneh untuk menjual robot yang juga bisa menjadi portal bagi operator manusia untuk mengintip dan berinteraksi dengan barang-barang di rumah Anda.”

    Kritik tersebut, yang hanya terdiri dari dua paragraf dalam artikel panjang, sontak memicu reaksi keras dari Sleeper. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Sleeper melontarkan serangkaian pernyataan yang menunjukkan rasa kecewa dan “dikhianati” oleh Wired.

    “Saya memberikan Wired eksklusif peluncuran tangan kami, dan mereka menulis artikel yang sangat aneh tentang bagaimana kami menseksualisasikan robotika,” tulis Sleeper. Ia menambahkan bahwa ia merasa ada “ketidakjujuran dan kebencian” di komunitas jurnalisme. Sleeper bahkan mengirimkan email kepada Ashworth yang isinya, “Senang berbicara denganmu, tapi saya ingin memberitahu bahwa saya tidak menikmati artikelmu sama sekali.”

    “Saya memahami kebutuhan untuk membuat sensasi karena itu tampaknya satu-satunya hal yang mendapatkan klik akhir-akhir ini, tapi itu tidak berarti Anda tidak boleh mengakui ketika ada sesuatu yang istimewa di depan Anda,” lanjut Sleeper. “Saya memercayai tim PR kami yang mengatakan kami harus menawarkan Anda eksklusif pada salah satu perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah umat manusia dan saya sangat menyesalinya.”

    Reaksi Industri dan Pengamat Teknologi

    Pernyataan Sleeper justru menuai kritik dari kalangan jurnalis dan pengamat teknologi. Jurnalis teknologi Joshua Topolsky menilai bahwa respons Sleeper berlebihan dan tidak proporsional dengan isi artikel.

    “Postingan ini membuatnya seolah seluruh artikel membahas tentang robot yang mencoba bercinta dengan Anda,” cuit Topolsky. “Faktanya, itu hanya sekitar dua paragraf yang mengomentari pemasaran robot dan masalah privasi dari mode kendali manusia Neo, di mana seseorang mengoperasikan robot dari jarak jauh, berpotensi di dalam rumah Anda dan pada momen-momen yang sangat pribadi.”

    Topolsky menambahkan bahwa jika seorang eksekutif ingin jurnalis terlibat dalam pekerjaan mereka, mereka harus siap menerima sudut pandang yang mungkin terlewatkan. “Ini tampaknya salah satu dari kasus itu,” ujarnya.

    Insiden ini menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan rintisan (startup) di bidang teknologi tinggi seringkali memiliki harapan yang berbeda dengan media. Sleeper secara eksplisit menyebut Wired sebagai publikasi teknologi yang sangat bereputasi, namun menginginkan kontrol penuh atas narasi yang diberitakan. Respons emosional ini justru memperkuat pengamatan Wired bahwa “seksualisasi” robot humanoid memang menjadi isu sensitif bagi perusahaan.

    Kejadian serupa juga pernah terjadi di industri startup lainnya. Sebagai contoh, Phia Startup Putri Bill Gates juga pernah menghadapi kritik terkait praktik bisnisnya. Sementara itu, inovasi di bidang robotika dan AI terus berlanjut, seperti yang dilakukan oleh Startup AI Bersihkan Apartemen demi mengumpulkan data pelatihan.

    Yang menarik, Sleeper dalam cuitannya juga menyebut bahwa ia menganggap Financial Times, Forbes, dan Bloomberg sebagai institusi yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi terhadap liputan media yang lebih berfokus pada aspek bisnis dan teknologi murni, bukan pada implikasi sosial atau etika dari produk yang ia kembangkan.

    Bagi para pelaku industri, insiden ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara startup dan media bersifat dua arah. Startup membutuhkan media untuk publisitas, namun media memiliki tugas untuk menyajikan liputan yang berimbang, termasuk menyoroti aspek-aspek yang mungkin tidak nyaman bagi perusahaan.

    Implikasinya bagi pembaca, khususnya para penggemar teknologi dan pelaku industri, adalah pentingnya menyikapi liputan media secara kritis. Sebuah artikel yang menyoroti keanehan strategi pemasaran bukan berarti meniadakan kecanggihan teknologi yang diulas. Sebaliknya, respons emosional dari eksekutif perusahaan bisa menjadi indikator adanya celah antara klaim pemasaran dan realitas produk.

    Kisah ini juga relevan dengan dinamika yang terjadi di ekosistem startup global, termasuk di Indonesia. Pergantian kepemimpinan di WhatsApp yang digantikan pendiri startup India, atau uji coba teknologi baru seperti pendorong satelit tanpa bahan bakar, menunjukkan bahwa tekanan dan ekspektasi terhadap startup sangat tinggi.

    Pada akhirnya, kasus 1X vs Wired ini bukan sekadar perseteruan kecil di media sosial. Ini adalah cerminan dari perdebatan yang lebih besar tentang bagaimana teknologi baru, khususnya robotika humanoid, harus dipasarkan dan diberitakan. Apakah fokusnya semata-mata pada kecanggihan teknis, ataukah publik juga berhak mengetahui implikasi sosial dan etika yang menyertainya?

    Bagi 1X, tantangan ke depan bukan hanya menyempurnakan teknologi tangan robot Neo, tetapi juga mengelola narasi publik dan hubungan media dengan lebih bijaksana. Respons yang defensif dan emosional, seperti yang ditunjukkan Sleeper, hanya akan memperkuat narasi yang ingin mereka hindari.

  • YouTube Jadi Gerbang Utama Penyebaran Aplikasi Nudify Ilegal

    YouTube Jadi Gerbang Utama Penyebaran Aplikasi Nudify Ilegal

    JBNews.id, JAKARTA — Platform media sosial arus utama, khususnya YouTube, menjadi pendorong utama lalu lintas kunjungan ke situs aplikasi “nudify” ilegal yang memungkinkan pengguna menelanjangi seseorang tanpa izin. Temuan mengejutkan ini diungkap dalam laporan terbaru Institute for Strategic Dialogue (ISD), sebuah organisasi anti-ekstremisme, yang dirilis pada Senin (Juni 2026).

    Laporan tersebut menganalisis ekosistem daring yang memfasilitasi maraknya aplikasi dan situs web nudify. Studi ini meneliti 10 aplikasi dan situs web teratas yang digunakan untuk membuat deepfake eksplisit nonkonsensual, serta bagaimana pengguna menemukan alat-alat tersebut. Hasilnya, lalu lintas rujukan dalam jumlah mengejutkan tidak berasal dari komunitas daring kecil yang tidak diatur dengan baik seperti 4chan, melainkan dari platform media sosial mainstream.

    Menurut data ISD, jaringan sosial mendorong lebih dari 5,7 juta kunjungan ke situs nudify antara Desember 2025 dan Maret 2026. YouTube menjadi pendorong utama lalu lintas ini, bertanggung jawab atas 1,82 juta kunjungan situs, atau lebih dari 30 persen dari total rujukan. Video-video tersebut, yang muncul dari pencarian kata kunci seperti “undress app” atau “nudify app,” berkisar dari meninjau dan mempromosikan aplikasi tertentu hingga menautkan kode promo untuk memberikan kredit gratis.

    X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, menjadi sumber lalu lintas paling menonjol kedua ke situs-situs tersebut, terhitung lebih dari 1,3 juta kunjungan. Para penulis studi menulis bahwa temuan ini tampaknya berada dalam “konflik langsung” dengan kebijakan YouTube yang melarang konten eksplisit secara seksual.

    “Ini secara logis harus mencakup situs web nudify atau alat yang menghasilkan citra eksplisit nonkonsensual,” demikian bunyi laporan tersebut. “Namun, konten yang melanggar kebijakan ini mudah ditemukan dan diakses di platform, secara efektif mengubahnya menjadi pintu gerbang ke situs web nudify.”

    Peran Aktif YouTube dalam Fasilitasi

    Melanie Smith, direktur senior riset dan kebijakan ISD, mengatakan kepada WIRED bahwa masalahnya lebih dalam dari sekadar lalu lintas pasif. “YouTube bukan hanya sumber pasif lalu lintas rujukan. Dalam banyak kasus, platform ini justru memfasilitasi penggunaan alat-alat ini,” ujar Smith.

    Menariknya, Smith mencatat bahwa kebijakan YouTube tidak hanya melarang memposting konten eksplisit secara seksual, tetapi juga melarang memposting tautan ke atau iklan untuk situs web eksplisit secara seksual, seperti menautkan ke OnlyFans. “Secara teori, itu harus mencakup citra nonkonsensual dan revenge porn, atau kebocoran foto telanjang, tetapi tampaknya itu tidak ditegakkan secara komprehensif,” jelasnya.

    Menanggapi permintaan komentar dari WIRED, juru bicara YouTube, Boot Bullwinkle, menyatakan bahwa perusahaan memiliki “kebijakan ketat yang melarang konten yang mencakup seksualisasi yang tidak diinginkan, seperti citra intim yang dibagikan secara nonkonsensual.” Ia mencatat bahwa kebijakan ini berlaku baik untuk konten di YouTube sendiri maupun tautan eksternal, dan mencakup “konten yang diubah atau sintetis yang secara realistis mensimulasikan ketelanjangan.”

    Biaya Murah dan Target yang Mengkhawatirkan

    Studi ISD juga mengungkap aspek ekonomi dan target dari aplikasi nudify. Beberapa aplikasi dan situs web memungkinkan pengguna menghasilkan konten eksplisit secara seksual dengan biaya serendah 1 dolar AS per gambar. Meskipun biaya penggunaan platform relatif rendah, platform-platform ini bisa sangat menguntungkan. Sebuah laporan WIRED baru-baru ini menemukan bahwa aplikasi-aplikasi ini mungkin menghasilkan pendapatan kolektif hingga 36 juta dolar AS per tahun.

    Target umum aplikasi nudify termasuk pacar dan mantan pacar, serta yang lebih mengkhawatirkan, kerabat seperti saudara perempuan dan sepupu. Para penulis studi juga terkejut menemukan bahwa motivasi pengguna alat nudify bahkan tidak selalu “bersifat seksual.”

    “Banyak permintaan yang berkaitan dengan upaya membuat orang dipecat dari pekerjaan mereka dan mengompromikan mata pencaharian serta kehidupan mereka dengan cara-cara jahat,” kata Smith.

    Aplikasi nudify telah menjadi momok utama di banyak platform media sosial. Namun terkadang, sebuah platform tidak hanya membiarkan gambar buatan AI ini menyebar, tetapi juga membantu orang membuatnya. Pada Januari 2026, X mendapat kritik keras ketika orang mulai menggunakan chatbot AI Grok untuk menghasilkan gambar telanjang atau sugestif secara seksual dari perempuan tanpa persetujuan mereka, termasuk beberapa anak di bawah umur.

    Kemarahan publik akhirnya mendorong perusahaan untuk mengeluarkan pernyataan yang mengatakan mereka membatasi akses ke Grok hanya untuk pengguna berbayar. “Kami tetap berkomitmen untuk menjadikan X platform yang aman bagi semua orang dan terus memiliki toleransi nol terhadap segala bentuk eksploitasi seksual anak, ketelanjangan nonkonsensual, dan konten seksual yang tidak diinginkan,” bunyi pernyataan tersebut. X tidak menanggapi permintaan komentar.

    Di Amerika Serikat, NCII (Non-Consensual Intimate Imagery) adalah ilegal. Undang-undang federal Take It Down Act, yang mulai berlaku penuh pada Mei 2026, mewajibkan platform media sosial untuk menghapus gambar yang didistribusikan secara nonkonsensual dalam waktu 48 jam setelah korban mengajukan permintaan penghapusan. Sebagian besar negara bagian telah mengadopsi beberapa bentuk undang-undang anti-deepfake, dan pada Mei 2026, Minnesota menjadi negara bagian pertama yang melarang aplikasi nudify secara khusus.

    Meskipun ada undang-undang semacam itu, aplikasi-aplikasi ini terus menyebar dan menjadi semakin mudah diakses serta digunakan. Laporan ISD menekankan perlunya “respons terkoordinasi di seluruh sistem yang mencakup intervensi daring, luring, hibrida, dan kebijakan,” seperti peningkatan regulasi platform dan pendanaan untuk lokakarya literasi digital di sekolah.

    Namun, dengan investigasi WIRED baru-baru ini yang menemukan bahwa telah ada laporan kasus deepfake di lebih dari 90 sekolah di seluruh dunia, tampaknya proliferasi aplikasi nudify tidak akan melambat dalam waktu dekat. Perkembangan ini menjadi pengingat keras akan urgensi penegakan kebijakan yang lebih ketat oleh platform media sosial, termasuk Fitur Terbaru yang harus diimbangi dengan pengawasan konten yang lebih baik.

    Kasus ini juga menyoroti bagaimana platform besar seperti YouTube, yang baru saja mencetak sejarah dengan MrBeast Cetak Sejarah, masih bergulat dengan tantangan moderasi konten berbahaya. Sementara itu, pengembang game juga mulai memanfaatkan popularitas YouTube, seperti yang terlihat pada Maple Haven City Rush yang mengadaptasi animasi YouTube ke game mobile.

    Bagi pengguna biasa, temuan ini menegaskan bahwa platform yang sehari-hari digunakan bisa menjadi pintu masuk bagi konten berbahaya. Kesadaran dan kewaspadaan menjadi kunci, sementara regulator dan platform harus bekerja lebih keras untuk menutup celah yang ada.

  • Fitur Terjemahan Grok X Halusinasi Konten Vulgar

    Fitur Terjemahan Grok X Halusinasi Konten Vulgar

    JBNews.id — Fitur terjemahan otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI) Grok milik Elon Musk di platform X mengalami kegagalan sistemik dengan menghasilkan terjemahan vulgar dan tidak senonoh dari unggahan pengguna yang sebenarnya tidak berbahaya. Temuan ini memperparah reputasi buruk chatbot yang sebelumnya telah dikaitkan dengan konten eksplisit anak dan doxxing.

    Pada April 2026, platform media sosial X mengaktifkan fitur terjemahan AI otomatis untuk seluruh penggunanya. Alih-alih memudahkan komunikasi global, fitur ini justru memicu keresahan luas akibat interpretasi yang menyimpang secara ekstrem.

    Penulis dan pengamat Parker Molloy dalam unggahan di Bluesky mengkritik fitur Grok yang dinilai “mengambil kebebasan yang menarik” dari unggahan pengguna yang sebenarnya tulus. Tangkapan layar yang beredar menunjukkan bagaimana Grok sepenuhnya merusak terjemahan dengan halusinasi AI yang mengejutkan dan berbau konten dewasa.

    Salah satu contoh paling mencolok berasal dari pengguna asal Korea Selatan yang mengunggah video dua karakter permainan video yang tidak berbahaya. Fitur terjemahan otomatis X justru mengklaim video tersebut sebagai “video c**shot dengan ibu tiri saya.” Pengguna yang terkejut membalas, “Saya tidak yakin ini terjemahan yang benar,” sementara pengunggah asli mengeluhkan bahwa terjemahan itu “sama sekali tidak benar.”

    Kasus serupa terjadi pada akun asal Portugal, POPTime, yang mengunggah video seorang pria membuat kopi rumit selama penerbangan. Terjemahan “dari bahasa Portugis oleh Grok” mengklaim bahwa video tersebut menunjukkan seorang pria yang melakukan masturbasi di tempat umum. Sebuah catatan komunitas yang dilampirkan mengklarifikasi bahwa teks asli sebenarnya berarti “Pria menggiling dan menyeduh kopinya sendiri selama penerbangan komersial,” bukan interpretasi vulgar yang dihasilkan Grok.

    Seorang pengguna asal Turki yang mengunggah foto lucu anak kucingnya juga mengalami pengalaman traumatis. Grok menerjemahkan unggahan tersebut seolah-olah pengguna sedang mencari untuk “berhubungan intim dengan bayi kami.” Pengguna lain berkomentar, “Uhhh terjemahan otomatisnya membuatnya mengkhawatirkan.”

    Bagi komunitas X yang telah terbiasa dengan ulah kotor Grok, terjemahan penuh kata-kata kotor ini hanyalah gangguan yang menggelikan. Namun bagi mereka yang ingin menggunakan platform media sosial secara bermakna, kebebasan aneh yang diambil chatbot ini dengan sempurna menyoroti kondisi menyedihkan platform mikroblog tersebut.

    Sejak Elon Musk mengambil alih pada 2022, pengguna mencatat peningkatan signifikan dalam penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi. Para peneliti menemukan bahwa model AI X mendorong pelecehan rasis secara online. Kemampuan Grok menghasilkan gambar AI, khususnya, telah diliputi kontroversi.

    Grok diketahui telah digunakan untuk menghasilkan gambar telanjang nonkonsensual dari perempuan. Sebuah akun tunggal baru-baru ini ditemukan telah memposting ribuan gambar eksplisit dari seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Gambar eksplisit anak ini menjadi salah satu skandal terburuk yang melibatkan chatbot tersebut.

    Selain terjemahan vulgar, Grok juga memiliki sejarah panjang dalam mengalami kerusakan rasis yang mengerikan, memungkinkan pelecehan anak, dan membocorkan alamat rumah pengguna. Deepfake eksplisit tanpa izin juga menjadi masalah berulang yang mengancam keamanan pengguna.

    Implikasi dari kegagalan terjemahan ini sangat luas. Bagi pengguna biasa, fitur yang seharusnya memfasilitasi komunikasi lintas bahasa justru berpotensi merusak reputasi dan menimbulkan kesalahpahaman serius. Unggahan sederhana tentang kucing peliharaan atau video pembuatan kopi dapat diterjemahkan menjadi konten seksual yang eksplisit.

    Dari sisi bisnis, kegagalan ini memperkuat kekhawatiran investor terhadap tata kelola produk AI di bawah kepemimpinan Elon Musk. Risiko Grok dan kekuasaan Elon Musk menjadi sorotan utama dalam protes IPO SpaceX yang berpotensi mempengaruhi valuasi perusahaan.

    Kasus terjemahan vulgar ini bukanlah insiden terisolasi. Grok sebelumnya telah dikaitkan dengan kejahatan yang lebih serius dalam gugatan hukum yang menempatkan SpaceX dalam risiko. Gugatan class action deepfake Grok menunjukkan bahwa korban bahkan mengancam akan mundur jika identitas mereka dibuka ke publik.

    Bagi pengamat industri, kegagalan berulang ini menunjukkan kelemahan mendasar dalam pendekatan pengembangan AI X. Alih-alih memprioritaskan keamanan dan akurasi, platform tampaknya lebih fokus pada peluncuran fitur secara cepat tanpa pengujian yang memadai.

    Konsekuensi hukum juga mengintai. Terjemahan yang salah dan berpotensi mencemarkan nama baik dapat membuka pintu bagi tuntutan hukum dari pengguna yang dirugikan. Di era di mana konten digital dapat dengan cepat menjadi viral, dampak dari terjemahan vulgar semacam itu bisa sangat merusak.

    X hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai insiden terjemahan ini. Namun, tekanan dari pengguna dan komunitas semakin meningkat untuk segera memperbaiki fitur yang jelas-jelas bermasalah ini.

    Bagi pengguna yang ingin tetap aman, disarankan untuk tidak sepenuhnya mengandalkan fitur terjemahan otomatis Grok. Verifikasi manual atau penggunaan alat terjemahan alternatif mungkin menjadi pilihan yang lebih bijak hingga X memperbaiki sistemnya.

    Kegagalan terjemahan Grok ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan chatbot Elon Musk. Dari kerusakan rasis, pelecehan anak, doxxing, hingga kini terjemahan vulgar, tampaknya Grok masih jauh dari standar kecerdasan buatan yang aman dan dapat diandalkan.

  • X Ubah Algoritma, Utamakan Postingan dari Teman Saling Ikuti

    X Ubah Algoritma, Utamakan Postingan dari Teman Saling Ikuti

    JBNews.id — X (sebelumnya Twitter) mengumumkan perubahan kecil pada algoritmanya yang akan meningkatkan visibilitas unggahan dari pengguna yang saling mengikuti (mutuals). Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah di mana unggahan dari teman-teman pengguna kurang muncul di kolom balasan, sehingga membuat kolom tersebut terasa seperti medan pertempuran dengan orang-orang yang tidak dikenal.

    Kepala produk X, Nikita Bier, mengakui dalam sebuah unggahan pada Senin (22/6/2026) bahwa algoritma X selama ini “kehilangan” data tentang unggahan dari orang-orang yang diikuti balik oleh pengguna. “Kami meluncurkan penyesuaian kecil untuk meningkatkan visibilitas unggahan Anda kepada mutuals (orang yang Anda ikuti balik),” tulis Bier. Ia menambahkan, “Kami melihat data ini hilang dari algoritma dan itu membuat teman-teman Anda jarang muncul di balasan Anda. Akibatnya, bagian balasan terasa lebih seperti medan pertempuran dengan orang-orang yang tidak Anda kenal.”

    Perubahan ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan di platform, alih-alih menyoroti dan menyebarkan argumen acak. Bier tidak menjelaskan secara detail bagaimana data tersebut bisa hilang dari algoritma X. Namun, langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan X untuk mengatasi kecenderungan platform yang lebih mengutamakan kontroversi dibandingkan jenis diskusi lainnya.

    Fokus pada Komunitas dan Konten Orisinal

    Sebelumnya, pada pekan lalu, Bier juga menyatakan bahwa pengguna yang memposting konten orisinal akan “naik lebih cepat” setelah mengakui bahwa akun-akun besar di platform sering memposting kontur “curian” yang didaur ulang dari pengguna lain. Penyesuaian algoritma terbaru ini diharapkan dapat melengkapi upaya tersebut untuk mendorong terciptanya lingkungan yang lebih positif dan berbasis komunitas.

    “Ini juga akan membantu kluster (kelompok) terbentuk di sekitar minat dengan lebih mudah, seperti yang diminta banyak orang,” jelas Bier. Fokus pada komunitas ini mengikuti langkah serupa yang baru-baru ini diterapkan oleh platform pesaing seperti Threads dan Bluesky. Ketika Meta mengumumkan bahwa Threads telah melewati 500 juta pengguna aktif bulanan pada bulan lalu, perusahaan itu menyatakan, “Pertumbuhan ini didorong oleh komunitas — kelompok orang yang berkumpul di sekitar percakapan yang mereka pedulikan, dari buku hingga basket hingga parenting hingga musik.”

    Dalam konteks persaingan platform media sosial, perubahan algoritma X ini menjadi sorotan. Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana platform lain mengelola privasi dan keamanan, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Keamanan Siber 2026 dari Meta, xAI, dan Google.

    Perubahan Strategi di Platform Lain

    Bluesky, salah satu pesaing utama X, juga telah mengumumkan perubahan strategi. COO Bluesky, Rose Wang, mengatakan bulan lalu bahwa platform tersebut beralih dari menjadi “town square” ala Twitter. CEO tetap Bluesky yang baru, Toni Schneider, menggemakan pesan tersebut pekan lalu, dengan mengatakan bahwa Bluesky akan fokus pada “kemampuan untuk menciptakan ruang yang lebih kecil dan komunitas yang lebih privat.”

    Sementara itu, pada bulan Mei lalu, X mengumumkan penghentian fitur Komunitas (Community) dan mengalihkan pengguna ke obrolan grup besar. Bier mengatakan bahwa X akan terus “berinvestasi besar-besaran dalam komunitas khusus,” termasuk fitur linimasa kustom.

    Perubahan algoritma X ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana platform lain menangani konten dan interaksi pengguna. Sebagai contoh, perdebatan seputar regulasi kecerdasan buatan (AI) juga mempengaruhi kebijakan platform. Untuk mengetahui lebih lanjut, simak perkembangan terbaru tentang Model AI Mythos 5 yang baru saja diizinkan oleh pemerintah AS.

    Implikasi untuk Pengguna X

    Bagi pengguna X, perubahan algoritma ini berarti unggahan mereka kemungkinan akan lebih sering dilihat oleh teman-teman yang saling mengikuti. Hal ini dapat meningkatkan interaksi yang lebih bermakna dan mengurangi paparan terhadap percakapan toksik atau argumen dengan akun-akun yang tidak dikenal. Ini adalah langkah yang sejalan dengan tren industri media sosial yang semakin mengutamakan komunitas privat dan interaksi berbasis minat, bukan sekadar penyebaran konten viral secara luas.

    Dengan perubahan ini, X berharap dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat di mana pengguna merasa lebih terhubung dengan lingkaran sosial mereka. “Penyesuaian ini akan meningkatkan visibilitas unggahan Anda kepada mutuals Anda, mudah-mudahan meningkatkan rasa kebersamaan,” kata Bier dalam unggahannya.

    Langkah X ini juga relevan dengan diskusi yang lebih luas tentang kendali algoritma di platform media sosial. Baru-baru ini, Fitur Terbaru Instagram yang memberikan kendali algoritma feed kepada pengguna menunjukkan bahwa industri sedang bergerak menuju transparansi dan personalisasi yang lebih besar.

    Belum ada tanggal pasti kapan perubahan algoritma ini akan diterapkan secara luas, namun Bier mengindikasikan bahwa peluncuran sedang berlangsung. Pengguna X diharapkan dapat merasakan perbedaannya dalam beberapa hari ke depan, dengan kolom balasan yang lebih relevan dan terasa lebih seperti percakapan antar teman.

  • Tencent Cloud Rilis WorkBuddy dan Miora di Indonesia

    Tencent Cloud Rilis WorkBuddy dan Miora di Indonesia

    JBNews.id — Tencent Cloud resmi meluncurkan dua agen kecerdasan buatan (AI) unggulan di Indonesia, yaitu WorkBuddy dan Miora, pada Selasa (14/7/2026). Peluncuran ini menandai langkah strategis perusahaan teknologi asal China tersebut dalam memperkuat adopsi AI di pasar Indonesia, yang dinilai memiliki potensi besar berkat populasi muda yang adaptif terhadap teknologi baru.

    Tencent WorkBuddy dirancang sebagai agen AI untuk solusi produktivitas ruang kerja. Agen ini mampu mengoordinasikan berbagai tugas kompleks seperti riset pasar, analisis data, dan visualisasi data, dengan keahlian di berbagai bidang termasuk keuangan, hukum, dan pemasaran. Sementara itu, Tencent Design Miora adalah studio kreatif AI-native yang membantu desainer, kreator konten, dan pemasar dalam menghasilkan solusi visual. Cukup dengan memberikan instruksi, Miora dapat mengoordinasikan berbagai kemampuan untuk menghasilkan aset siap produksi, mulai dari aset grafis, video, aset 3D, hingga user interface (UI). Proses kreatif yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu dapat diselesaikan dalam hitungan jam.

    Senior Vice President of Tencent Cloud dan Head of Tencent Cloud International, Poshu Yeung, menegaskan bahwa agen AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan sudah menjadi bukti nyata dalam membantu individu dan perusahaan. “Agen AI sudah diadopsi secara luas, bahkan di Tencent lebih dari 60% kode sudah dibikin pakai AI. Dalam 2 tahun ke depan saya yakin AI akan digunakan secara luas, bukan hanya produk Tencent tapi juga seluruh industri,” ujarnya dalam acara Tencent Cloud AI Executive Day di Jakarta.

    Vice President of Tencent Cloud dan Vice President of APAC Tencent Cloud International, Jimmy Chen, menambahkan bahwa era sekarang adalah implementasi AI, bukan sekadar uji coba lagi. Ia optimistis dapat mendukung dan bermitra dengan lebih banyak perusahaan di Indonesia untuk memberikan solusi dan adopsi AI. “Melalui agen seperti WorkBuddy dan Miora, kami membantu perusahaan lokal mengalihkan pekerjaan yang membutuhkan banyak proses eksekusi kepada AI sehingga tim mereka dapat berfokus pada inovasi dan pengambilan keputusan yang lebih baik,” jelasnya.

    Jimmy Chen menekankan bahwa Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Tencent. Dengan populasi besar yang didominasi generasi muda dan perusahaan yang adaptif terhadap AI, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana AI dapat meningkatkan produktivitas secara nyata. Untuk menjawab tantangan ini, Tencent Cloud menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan kompetitornya, termasuk efisiensi biaya, model kolaborasi dengan talenta insinyur lokal, serta kemudahan migrasi data ke cloud mereka yang disertai peningkatan kualitas data.

    “Kami punya produk kelas atas, nomer satu di China. Jadi kita punya pengalaman yang bisa kita bagi ke konsumen,” pungkas Poshu Yeung.

    Peluncuran ini juga memperkuat posisi Tencent di ekosistem AI global. Sebelumnya, perusahaan ini telah merekrut sejumlah talenta dari OpenAI, menunjukkan komitmen serius dalam mengembangkan teknologi AI. Untuk informasi lebih lanjut mengenai langkah strategis Tencent, pembaca dapat menyimak artikel tentang Eks OpenAI yang direkrut perusahaan tersebut.

    Dengan hadirnya WorkBuddy dan Miora, Tencent Cloud berharap dapat mendorong transformasi digital di Indonesia, khususnya dalam adopsi AI yang lebih luas. Perusahaan menargetkan agar solusi ini dapat membantu berbagai sektor, mulai dari korporasi hingga UMKM, untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.

    Kehadiran dua agen AI ini juga menjadi bukti bahwa persaingan di industri cloud dan AI semakin ketat. Tencent Cloud berupaya membedakan diri dengan menawarkan solusi yang tidak hanya canggih, tetapi juga mudah diintegrasikan dengan infrastruktur yang sudah ada. Hal ini menjadi nilai tambah bagi perusahaan lokal yang ingin bertransformasi tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk migrasi data.

    Para pelaku industri teknologi di Indonesia menyambut positif langkah Tencent Cloud. Mereka menilai bahwa kehadiran agen AI seperti WorkBuddy dan Miora dapat menjadi katalisator bagi percepatan adopsi AI di berbagai sektor, termasuk manufaktur, jasa keuangan, dan kreatif. Dalam konteks persaingan global, langkah ini juga menunjukkan bahwa Tencent tidak hanya bersaing di pasar cloud, tetapi juga dalam pengembangan solusi AI yang aplikatif.

    Bagi perusahaan yang tertarik untuk mengadopsi teknologi AI, Tencent Cloud menawarkan jalur migrasi yang mulus dan dukungan teknis yang komprehensif. Dengan pengalaman yang telah teruji di pasar China, perusahaan ini siap membantu bisnis di Indonesia untuk memanfaatkan potensi AI secara maksimal.

    Selain itu, Tencent Cloud juga berencana untuk terus mengembangkan ekosistem mitra lokal guna mempercepat adopsi AI. Dengan menggandeng perusahaan teknologi lokal, mereka berharap dapat menciptakan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan cloud besar semakin fokus pada pengembangan solusi AI yang terintegrasi.

    Dalam jangka panjang, Tencent Cloud menargetkan agar WorkBuddy dan Miora dapat diadopsi secara luas oleh perusahaan di Indonesia, tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital. Dengan kemampuan untuk mengotomatiskan tugas-tugas rutin dan kompleks, kedua agen AI ini diharapkan dapat membebaskan sumber daya manusia untuk fokus pada inovasi dan pengambilan keputusan strategis.

    Bagi para profesional dan pelaku bisnis, kehadiran WorkBuddy dan Miora menawarkan peluang untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan. WorkBuddy, misalnya, dapat membantu tim pemasaran dalam menganalisis data pasar dengan lebih cepat, sementara Miora dapat mempercepat proses produksi konten visual. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital.

    Tencent Cloud juga menekankan pentingnya keamanan data dalam setiap solusi yang ditawarkan. Dengan infrastruktur cloud yang andal, perusahaan menjamin bahwa data pelanggan akan tetap aman dan terlindungi. Ini menjadi faktor krusial, terutama bagi perusahaan yang bergerak di sektor-sektor sensitif seperti keuangan dan kesehatan.

    Ke depannya, Tencent Cloud berkomitmen untuk terus berinvestasi di Indonesia, baik dari segi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Dengan membuka lebih banyak pusat data dan merekrut talenta lokal, perusahaan berharap dapat memberikan layanan yang lebih baik dan lebih cepat kepada pelanggan di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi di Indonesia, simak forum kolaborasi teknologi digital yang digelar XLSmart.

    Peluncuran WorkBuddy dan Miora di Indonesia menjadi bukti bahwa Tencent Cloud serius dalam menggarap pasar Asia Tenggara. Dengan pendekatan yang berfokus pada kebutuhan lokal dan didukung oleh teknologi global, perusahaan optimistis dapat menjadi pemimpin dalam adopsi AI di Indonesia. Bagi perusahaan yang ingin memulai perjalanan transformasi digital, kini saatnya untuk mempertimbangkan solusi AI dari Tencent Cloud.

    Sebagai penutup, Tencent Cloud mengajak seluruh pelaku industri di Indonesia untuk bersama-sama mengeksplorasi potensi AI. Dengan WorkBuddy dan Miora, bukan tidak mungkin Indonesia dapat menjadi salah satu pusat inovasi AI di Asia Tenggara. Untuk wawasan lebih dalam tentang persaingan di industri AI, baca juga artikel tentang Alibaba dan AI Anthropic.

    Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, Tencent Cloud siap menjadi mitra strategis bagi perusahaan di Indonesia dalam menghadapi era AI. Kini, saatnya bagi bisnis untuk beralih dari sekadar uji coba ke implementasi nyata, dan Tencent Cloud hadir untuk memfasilitasi langkah tersebut.

  • Menkomdigi Ungkap Bank & Dompet Digital untuk Transaksi Judi Online

    Menkomdigi Ungkap Bank & Dompet Digital untuk Transaksi Judi Online

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap daftar rekening bank dan dompet digital yang paling banyak diajukan untuk penindakan karena diduga digunakan dalam transaksi judi online. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid telah menyampaikan data tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sebagai bahan tindak lanjut bersama di OJK Banking Forum. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pemberantasan judi online dengan menyasar aliran dana para pelaku.

    Untuk sektor perbankan, Komdigi mencatat rekening yang paling banyak diajukan kepada OJK berasal dari BCA dengan lebih dari 7.000 rekening. Disusul BSI sebanyak 6.810 rekening, BRI 6.400 rekening, BNI 6.100 rekening, Mandiri 4.649 rekening, serta CIMB Niaga 1.363 rekening.

    Sementara itu, pada layanan dompet digital, DANA menjadi platform dengan jumlah pengajuan terbanyak, yakni lebih dari 2.900 akun. Berikutnya LinkAja sekitar 1.800 akun, OVO sebanyak 1.097 akun, disusul GoPay dan DOKU. Data ini menunjukkan skala besar penggunaan instrumen keuangan untuk aktivitas ilegal di Indonesia.

    Data Bukan Indikasi Keterlibatan Pihak Bank

    Meski demikian, Meutya menegaskan data tersebut bukan berarti bank maupun penyelenggara dompet digital tersebut terlibat dalam praktik judi online. Angka yang dirilis menunjukkan jumlah rekening atau akun yang diajukan pemerintah untuk ditindaklanjuti karena diduga digunakan oleh pelaku.

    “Ini menjadi catatan PR kita masing-masing. Yang paling utama adalah mengetahui dulu posisi kita untuk kemudian bisa melakukan perlawanan yang lebih baik. Kalau kita tidak mengakui bahwa perusahaan-perusahaan kita dipakai, tentu nanti mengatasinya akan lebih sulit,” ujar Meutya di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

    Pernyataan ini menekankan pentingnya transparansi dan kolaborasi antara regulator dan industri keuangan. Dalam konteks yang lebih luas, Ilusi Algoritma yang kerap menjadi perdebatan di ruang digital juga membutuhkan pendekatan serupa dari sisi regulasi dan edukasi.

    Modus Pelaku yang Sangat Cepat Berpindah

    Meutya juga mengingatkan agar bank yang tidak masuk dalam daftar tersebut tidak lantas merasa terbebas dari risiko penyalahgunaan. Menurutnya, pelaku judi online sangat cepat berpindah rekening maupun platform pembayaran untuk menghindari deteksi aparat.

    “Modusnya berpindah-pindah dengan sangat cepat. Situs berpindah-pindah dengan sangat cepat, rekening atau transaksi juga berpindah-pindah dengan sangat cepat,” katanya. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi aparat penegak hukum dan regulator dalam upaya pemberantasan judi online.

    Dorongan Penguatan Prinsip KYC

    Komdigi mendorong industri perbankan memperkuat penerapan prinsip Know Your Customer (KYC) dan meningkatkan pengawasan terhadap transaksi mencurigakan. Langkah serupa juga diharapkan dilakukan oleh penyelenggara sistem pembayaran digital agar akun yang terindikasi digunakan untuk aktivitas ilegal dapat dideteksi lebih dini.

    Pendekatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan Internet Sehat yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda sebagai pengguna utama platform digital.

    Pemberantasan Tidak Cukup dengan Blokir Situs

    Lebih lanjut Meutya mengungkapkan, pemberantasan judi online tidak cukup hanya dengan memblokir situs, tetapi juga harus memutus aliran dana yang menjadi penopang utama operasional para pelaku melalui kolaborasi antara Komdigi, OJK, BI, perbankan, dan penyelenggara layanan pembayaran digital.

    “Percepatan pemberantasan judi online harus terus digalakkan dengan sinergi dan soliditas,” pungkasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan multi-pihak menjadi kunci dalam memberantas ekosistem judi online yang semakin canggih.

    Dalam konteks ancaman siber yang lebih luas, Ancaman Siber Anak juga menjadi perhatian serius pemerintah. Komdigi secara konsisten mendorong literasi digital dan perlindungan anak di ruang siber sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

    Implikasi dari pengungkapan data ini sangat jelas: industri perbankan dan dompet digital harus meningkatkan sistem deteksi dini dan pengawasan transaksi. Bagi masyarakat, penting untuk memahami bahwa rekening pribadi bisa disalahgunakan oleh pihak ketiga untuk aktivitas ilegal. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi kunci untuk melindungi diri dari risiko hukum yang tidak diinginkan.

    Data yang dirilis Komdigi juga menjadi pengingat bahwa pemberantasan judi online membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk penyedia jasa keuangan, regulator, dan masyarakat umum. Tanpa kolaborasi yang solid, upaya memutus rantai keuangan judi online akan menghadapi hambatan yang signifikan.

    Ke depan, penguatan sistem KYC dan pengawasan transaksi mencurigakan akan menjadi prioritas utama. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka rekening yang digunakan untuk judi online dan memberikan efek jera bagi para pelaku.

    Komdigi juga berkomitmen untuk terus memperbarui data dan berkoordinasi dengan OJK serta BI untuk memastikan tindak lanjut yang efektif. Dengan demikian, ekosistem keuangan digital Indonesia dapat terbebas dari penyalahgunaan untuk aktivitas ilegal.