Author: Hamzah Nurhamzah

  • Tecno Rilis EllaClaw AI, Agen Cerdas Otomatisasi 40+ Tugas HP

    Tecno Rilis EllaClaw AI, Agen Cerdas Otomatisasi 40+ Tugas HP

    JBNews.id — Tecno memperkenalkan EllaClaw AI, agen kecerdasan buatan berbasis cloud yang mampu mengotomatisasi lebih dari 40 tugas di smartphone secara mandiri. Teknologi ini diumumkan pada 24 Juni 2026 sebagai langkah baru dalam menghadirkan pengalaman mobile yang lebih proaktif dan personal.

    Berbeda dengan asisten virtual konvensional yang hanya merespons perintah suara atau pertanyaan, EllaClaw dirancang sebagai AI agent yang mampu memahami permintaan pengguna, merencanakan langkah yang diperlukan, lalu mengeksekusinya secara mandiri. Tecno menyebut teknologi ini sebagai langkah menuju pengalaman smartphone yang lebih proaktif dan personal. Kehadiran EllaClaw juga menjadi bagian dari tren agentic AI yang mulai berkembang di industri teknologi.

    EllaClaw adalah pengembangan dari asisten bawaan TECNO, Ella AI, yang kini ditingkatkan menjadi agen AI mandiri.

    Apa Itu EllaClaw?

    EllaClaw merupakan agen AI mobile berbasis cloud yang dikembangkan Tecno. Teknologi ini dirancang untuk memahami instruksi pengguna, menyusun alur kerja, dan menjalankan berbagai tugas secara otomatis. Jika chatbot biasa hanya menjawab pertanyaan, EllaClaw mampu bertindak sebagai asisten digital yang bekerja di latar belakang. AI ini dapat mengelola beberapa langkah sekaligus untuk menyelesaikan sebuah tugas, sambil tetap memberikan informasi kepada pengguna mengenai proses yang sedang berjalan.

    Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan memahami antarmuka aplikasi atau graphical user interface (GUI). Dengan pendekatan ini, EllaClaw tidak selalu membutuhkan integrasi API khusus untuk berinteraksi dengan aplikasi pihak ketiga. Dengan izin pengguna, AI tersebut dapat beroperasi pada aplikasi transportasi, belanja online, pemesanan makanan, hingga perangkat smart home. Hal ini membuat pengalaman penggunaan smartphone menjadi lebih praktis dan efisien.

    Apa Saja Kemampuan EllaClaw?

    Tecno menyebut EllaClaw kini memiliki lebih dari 40 Smart Skills yang dirancang untuk membantu aktivitas sehari-hari sekaligus mengoptimalkan performa perangkat. Beberapa kemampuan yang dihadirkan antara lain:

    • Smart CleanUp Boost untuk membersihkan RAM dan mengoptimalkan kinerja CPU
    • Smart Power Drain Check yang mendeteksi aplikasi boros baterai
    • Instant Cool-down Relief untuk mengurangi suhu perangkat saat digunakan berat
    • Smart Data Guardian yang memantau penggunaan data seluler

    EllaClaw juga menghadirkan fitur personal assistant yang lebih cerdas berkat teknologi persistent memory. Sistem ini memungkinkan AI mengingat kebiasaan dan preferensi pengguna. Beberapa fitur pendukung yang tersedia meliputi:

    • Morning Briefing yang menyajikan jadwal, cuaca, perjalanan, dan berita
    • Trip Prep Assistant untuk membantu menyusun rencana perjalanan
    • Pengingat konteks dan hubungan personal, seperti mengingatkan pengguna untuk menghubungi keluarga atau pasangan

    Kemampuan lintas aplikasi juga menjadi daya tarik utama. Pengguna dapat melakukan beberapa tugas hanya melalui satu perintah. Contohnya:

    • Memesan kendaraan melalui fitur One-Sentence Ride Hailing
    • Mencari dan membandingkan harga produk menggunakan Shopping Buddy
    • Mengontrol perangkat smart home
    • Membantu menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan

    Seluruh proses dilakukan secara transparan di layar sehingga pengguna dapat memantau setiap tindakan yang dilakukan AI. Tecno juga menekankan aspek keamanan dan privasi. EllaClaw menggunakan pendekatan confirmation-first, yang berarti AI akan meminta persetujuan sebelum melakukan tindakan penting atau mengakses aplikasi tertentu.

    Inovasi ini sejalan dengan langkah Tecno di pasar Indonesia yang terus menghadirkan perangkat dengan Fitur Terbaru untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sebelumnya, Tecno juga meluncurkan HP Tipis dengan desain inovatif yang menarik perhatian pasar.

    Jadwal Ketersediaan

    Saat ini EllaClaw masih berada dalam tahap closed beta internal. Tecno menyebut teknologi ini masih berstatus konsep AI eksploratif dan akan terus dikembangkan melalui pembaruan fitur di masa mendatang. Perusahaan belum mengumumkan jadwal peluncuran global maupun daftar smartphone Tecno yang akan menerima fitur tersebut.

    Namun dengan semakin berkembangnya tren agentic AI, EllaClaw berpotensi menjadi salah satu fitur unggulan pada perangkat Tecno generasi berikutnya. Dengan kemampuan otomatisasi lintas aplikasi, lebih dari 40 Smart Skills, serta pendekatan privasi yang ketat, EllaClaw menawarkan gambaran bagaimana smartphone masa depan dapat bekerja lebih cerdas dan proaktif dalam membantu aktivitas penggunanya.

  • Casevolia Rilis Case Tipis Oppo Find X9 Ultra, Harga Rp 700 Ribuan

    Casevolia Rilis Case Tipis Oppo Find X9 Ultra, Harga Rp 700 Ribuan

    JBNews.id — Casevolia resmi meluncurkan case premium berbahan Kevlar aramid fiber untuk Oppo Find X9 Ultra. Produk ini dibanderol sekitar Rp 700 ribu dan tersedia melalui platform e-commerce Tokopedia serta Shopee.

    Langkah ini merespons kebutuhan pengguna yang menilai case bawaan Oppo Find X9 Ultra kurang mampu menonjolkan kesan premium perangkat. Case silikon berwarna cokelat yang disertakan dalam paket penjualan dinilai menambah ketebalan dan bobot ponsel.

    Menurut Satish, tech reviewer K2G sekaligus anggota komunitas Fotovolia, kehadiran case ini dilatarbelakangi minimnya pilihan aksesori premium untuk Find X9 Ultra di pasar Indonesia. “Case bawaan Oppo Find X9 Ultra hanya berupa silikon berwarna cokelat. Selain menambah ketebalan dan bobot, menurut kami juga mengurangi kesan premium dari smartphone ini,” ujar Satish.

    Casevolia menggunakan material original Kevlar aramid fiber, bukan sekadar motif yang menyerupai serat karbon atau aramid. Material tersebut selama ini banyak digunakan pada aksesori premium karena dikenal ringan namun kuat.

    Salah satu keunggulan utama produk ini adalah desainnya yang sangat tipis dan ringan sehingga tidak membuat smartphone menjadi bulky. Desainnya juga dibuat presisi mengikuti kontur Find X9 Ultra.

    “Kami ingin pengguna tetap merasakan desain asli ponselnya. Case ini mengikuti lekukan bodi sehingga nyaman digenggam dan mengurangi sisi-sisi tajam yang terkadang terasa mengganggu saat digunakan dalam waktu lama,” jelas Satish.

    Selain itu, material aramid fiber yang digunakan diklaim memiliki daya tahan tinggi dan tidak mudah pudar meski digunakan dalam jangka panjang. Casevolia juga menambahkan dukungan MagSafe yang tidak tersedia secara bawaan pada Find X9 Ultra.

    Kehadiran magnet tersebut memungkinkan pengguna mengakses berbagai aksesori MagSafe seperti charger, dompet magnetik, hingga holder mobil. “Yang tidak kalah penting, Find X9 Ultra dan case bawaannya tidak memiliki fitur MagSafe. Akibatnya pengguna tidak bisa masuk ke ekosistem aksesori MagSafe yang saat ini semakin populer,” kata Satish.

    Untuk perlindungan kamera, Casevolia turut menghadirkan camera guard atau camera lips yang membuat modul kamera tidak langsung bersentuhan dengan permukaan meja saat diletakkan.

    Saat ini seri “Shade” dari Casevolia baru tersedia untuk beberapa flagship tertentu, yakni iPhone 17 Pro Max, Samsung Galaxy S26 Ultra, Oppo Find X9 Ultra, dan Vivo X300 Ultra.

    Sedikit informasi, Casevolia lahir dari komunitas fotografi smartphone Fotovolia. Komunitas tersebut awalnya dikenal aktif mengadakan kegiatan berburu foto menggunakan smartphone sebelum akhirnya merambah bisnis aksesori premium.

    Pengalaman anggota komunitas yang banyak menggunakan smartphone flagship membuat mereka memahami kebutuhan pengguna terhadap aksesori yang tetap menjaga desain asli perangkat tanpa menambah bobot berlebihan. Dari situlah ide menghadirkan case premium berbahan aramid fiber muncul.

    Kehadiran Casevolia sekaligus memperluas ekosistem yang sebelumnya banyak berfokus pada perangkat iPhone dan Samsung. Kini pengguna Oppo Find X9 Ultra dan Vivo X300 Ultra juga mendapatkan alternatif case premium dengan dukungan MagSafe yang masih cukup jarang ditemukan di pasaran.

    Bagi pengguna yang mencari Fitur Terbaru dari smartphone flagship, kehadiran aksesori ini menjadi nilai tambah. Sementara itu, inovasi teknologi lain seperti Avatar 3D juga terus berkembang di industri.

  • Pemerintah AS Izinkan Anthropic Aktifkan Kembali Model AI Mythos 5

    Pemerintah AS Izinkan Anthropic Aktifkan Kembali Model AI Mythos 5

    JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat memberikan izin terbatas kepada Anthropic untuk mengaktifkan kembali model kecerdasan buatan (AI) canggihnya, Mythos 5, setelah sebelumnya diblokir karena kekhawatiran keamanan nasional. Izin ini hanya berlaku untuk sekelompok kecil mitra pertahanan siber dan penyedia infrastruktur.

    Keputusan tersebut disampaikan melalui surat dari Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick kepada salah satu pendiri dan kepala petugas komputasi Anthropic, Tom Brown. Surat yang diperoleh WIRED itu menyatakan bahwa Lutnick telah “menentukan bahwa langkah-langkah pengamanan yang tepat telah diterapkan.” Semafor pertama kali melaporkan keberadaan surat tersebut.

    “Anthropic telah bekerja sama dengan pemerintah AS untuk mengatasi risiko yang terkait dengan Model yang Dilindungi. Upaya ini telah menghasilkan kemajuan yang signifikan,” tulis Lutnick dalam suratnya. Namun, pemerintah menghentikan langkah untuk mengizinkan peluncuran model yang lebih luas dan tidak mengatakan apa pun tentang nasib Claude Fable 5, versi Mythos yang berorientasi konsumen dan dirilis Anthropic dengan perlindungan tambahan yang signifikan.

    Lutnick mencatat dalam suratnya bahwa persyaratan lain yang diuraikan dalam arahan awal yang ia kirim pada 12 Juni tetap berlaku. “Kami menerima pemberitahuan dari pemerintah AS bahwa Mythos 5, model keamanan siber terkuat kami, dapat digunakan kembali untuk sekelompok kecil pembela siber dan penyedia infrastruktur,” kata Juru Bicara Anthropic Eduardo Maia Silva dalam sebuah pernyataan kepada WIRED.

    “Kami sedang bekerja untuk menyediakan penyedia yang telah disetujui dan memulihkan akses mereka ke Mythos 5 secepat mungkin. Kami senang melihat kemajuan ini dan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk memperluas akses ke Mythos 5 dan membuat Fable 5 tersedia untuk penggunaan umum kembali,” tambah Silva.

    Anthropic masih dalam diskusi dengan Gedung Putih tentang pemulihan akses ke Fable 5, dan diskusi diperkirakan akan berlanjut selama akhir pekan, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut. Kedua belah pihak berharap resolusi dari insiden ini akan membantu membentuk kerangka kebijakan yang langgeng untuk peluncuran model di masa depan, kata orang tersebut.

    Latar Belakang Pembatasan

    Pemulihan sebagian ini terjadi sekitar dua minggu setelah Gedung Putih mengirimkan arahan kontrol ekspor kepada Anthropic yang mewajibkan perusahaan untuk membatasi warga negara asing mengakses Mythos dan Fable 5, termasuk orang-orang yang bekerja dan tinggal di Amerika Serikat. Sebagai tanggapan, Anthropic menonaktifkan akses ke model-model tersebut sepenuhnya.

    Dalam surat terbarunya, Lutnick menulis bahwa organisasi yang disetujui untuk menggunakan Mythos sekarang dapat mengizinkan karyawan warga negara asing mereka untuk mengakses model tersebut, dan Anthropic dapat melakukan hal yang sama untuk karyawan warga negara asingnya sendiri.

    Pemerintahan Trump semakin khawatir tentang peluncuran Mythos oleh Anthropic setelah mengetahui bahwa perusahaan tersebut memberikan akses ke sebuah perusahaan telekomunikasi Korea Selatan yang diyakini memiliki hubungan dengan China, seperti yang dilaporkan WIRED sebelumnya. Amazon dan Badan Keamanan Nasional (NSA) juga secara terpisah menyampaikan kekhawatiran kepada Gedung Putih bahwa Fable 5 dapat dibobol (jailbroken), dan pertemuan berbagai peristiwa ini meyakinkan para pejabat bahwa mereka perlu mengambil tindakan.

    Langkah Diplomatik dan Dampak Industri

    Dalam beberapa pekan terakhir, Anthropic mengirim anggota senior dari tim keamanan siber dan keselamatan AI ke Washington, DC, untuk bertemu dengan pejabat pemerintahan Trump. Bersama Brown, kepala kebijakan publik Anthropic Sarah Heck telah memimpin diskusi perusahaan dengan Departemen Perdagangan AS.

    Mengaktifkan kembali Mythos 5 menandai langkah maju yang menjanjikan bagi Anthropic dan Gedung Putih, tetapi kisah ini telah memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang arah kebijakan AI AS secara keseluruhan, khususnya sejauh mana pemerintahan Trump akan berusaha mengontrol peluncuran model di masa depan. Pada hari Jumat, OpenAI mengumumkan bahwa mereka menunda perilisan model GPT 5.6 yang akan datang sebagai tanggapan atas permintaan dari pemerintahan Trump.

    Dean Ball, kepala tim masa depan strategis di OpenAI dan mantan penasihat AI Gedung Putih, mengatakan dalam sebuah posting blog pada 16 Juni bahwa pertengkaran terbaru Anthropic dengan pemerintahan Trump telah menunjukkan kepada pengembang model AI batas depan (frontier) bahwa mereka “membutuhkan lampu hijau eksplisit dari pemerintah sekarang.”

    Pertempuran Anthropic dengan Gedung Putih telah merugikan bisnis perusahaan muda tersebut. Perusahaan itu menggugat pemerintahan Trump awal tahun ini atas penetapan risiko rantai pasokan yang diterimanya setelah mencoba menarik garis merah seputar bagaimana kontraktor militer dapat menggunakan model AI-nya. Setelah Gedung Putih mengirimkan arahan ekspornya pada Jumat malam, 12 Juni, WIRED sebelumnya melaporkan bahwa beberapa investor Anthropic bekerja sepanjang akhir pekan untuk menentukan apa artinya bagi masa depan perusahaan Anthropic.

    Insiden ini juga menyoroti kompleksitas regulasi AI global. Sementara AS memperketat kontrol, negara lain seperti China mengembangkan ekosistem AI mereka sendiri. Fenomena Akses Claude di China yang beroperasi melalui ekonomi bawah tanah menunjukkan adanya celah keamanan dan permintaan yang tinggi terhadap model AI canggih di luar regulasi resmi.

    Di sisi lain, langkah tegas pemerintahan Trump ini sejalan dengan upaya mereka untuk mempercepat pengembangan teknologi strategis lainnya. Sebelumnya, Trump Teken Dua Perintah Eksekutif untuk akselerasi komputasi kuantum, menunjukkan fokus ganda pada penguasaan teknologi masa depan, baik AI maupun kuantum.

    Implikasi dari keputusan ini bagi industri AI sangat jelas: perusahaan frontier AI kini harus beroperasi dalam kerangka izin eksplisit dari pemerintah. Model bisnis yang mengandalkan akses global dan kolaborasi internasional harus menyesuaikan diri dengan realitas geopolitik baru. Bagi para pengembang dan pengguna AI, masa depan tidak lagi hanya tentang kecepatan inovasi, tetapi juga tentang kepatuhan dan negosiasi dengan otoritas keamanan nasional.

  • Vivo X Fold6 Resmi: Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh

    Vivo X Fold6 Resmi: Kamera 200 MP dan Baterai 7.000 mAh

    JBNews.id — Vivo resmi meluncurkan Vivo X Fold6, smartphone lipat flagship terbaru yang membawa lompatan spesifikasi signifikan: kamera Zeiss 200 MP dan baterai 7.000 mAh. Perangkat ini mulai dijual di China pada 1 Juli 2026, sementara jadwal peluncuran global belum diumumkan.

    Vivo X Fold6 mengusung layar LTPO AMOLED 120Hz, chipset MediaTek Dimensity 9500 Super Edition, serta dukungan fast charging 80W. Selain peningkatan hardware, Vivo juga menghadirkan OriginOS 6 Fold dengan fitur Atomic Workbench yang memungkinkan beberapa aplikasi berjalan bersamaan di layar lipat untuk produktivitas optimal.

    Layar dan Desain

    Vivo X Fold6 menggunakan layar utama 8,02 inci Samsung M14 LTPO AMOLED beresolusi 2K+ (2504 × 2312 piksel) dengan refresh rate adaptif 1-120Hz, HDR10+, Dolby Vision, dan kecerahan hingga 5.000 nits. Layar cover berukuran 6,51 inci BOE LTPO AMOLED beresolusi Full HD+ (2528 × 1120 piksel) dengan refresh rate 120Hz dan Dolby Vision.

    Kedua layar telah mengantongi sertifikasi TÜV Rheinland Global Eye Protection 3.0 dan mendukung mode pencahayaan rendah hingga 1 nit untuk mengurangi kelelahan mata. Perangkat ini memiliki dimensi 157,16 × 145,66 × 4,4 mm saat terbuka dan 74,26 × 9,4 mm saat tertutup, dengan bobot 228 gram untuk varian Polar Night dan Salt Lake, serta 235 gram untuk varian Blue Hole.

    Vivo X Fold6 tersedia dalam tiga pilihan warna: Blue Hole, Salt Lake, dan Polar Night.

    Performa dan Chipset

    Performa Vivo X Fold6 ditenagai MediaTek Dimensity 9500 Super Edition berarsitektur 3 nm yang dipadukan GPU Arm Mali-G1 Ultra MC12. Smartphone ini tersedia dalam konfigurasi RAM 12 GB dan 16 GB LPDDR5X dengan penyimpanan 256 GB, 512 GB, hingga 1 TB UFS 4.0.

    Vivo juga menyematkan chipset komunikasi buatannya sendiri yang terdiri dari satu global signal amplifier dan empat chip Wi-Fi untuk meningkatkan kestabilan sinyal. Sistem operasi yang digunakan adalah OriginOS 6 berbasis Android 16.

    Dalam konteks persaingan perangkat flagship, inovasi seperti ini sejalan dengan tren pusat data AI yang membutuhkan performa komputasi tinggi.

    Kamera Zeiss 200 MP

    Sektor fotografi menjadi salah satu keunggulan Vivo X Fold6 berkat kolaborasi dengan Zeiss dan dukungan chip pencitraan Vivo V3+. Kamera utamanya memakai sensor Samsung HPB 200 MP berukuran 1/1,4 inci dengan aperture f/1.68, OIS, dan lapisan Zeiss T*.

    Kamera telefoto menggunakan sensor Sony LYT602 50 MP dengan zoom optik 3x dan dukungan teleconverter hingga ekuivalen 200 mm. Sementara kamera ultrawide memiliki resolusi 50 MP, sedangkan kamera depan di layar utama dan layar cover sama-sama menggunakan sensor 20 MP.

    Vivo X Fold6 juga dilengkapi kamera telefoto periskop 50 MP untuk kemampuan zoom jauh yang lebih baik.

    Baterai 7.000 mAh dan Pengisian Cepat

    Vivo membekali smartphone lipat ini dengan baterai 7.000 mAh yang menggabungkan teknologi silikon anoda generasi kelima dan baterai semi-solid-state generasi ketiga. Pengisian dayanya mendukung 80W FlashCharge, 40W wireless charging, serta reverse wireless charging.

    Dengan kapasitas baterai sebesar ini, Vivo X Fold6 menjadi salah satu smartphone lipat dengan daya tahan baterai terbaik di kelasnya. Teknologi baterai semi-solid-state juga menjanjikan keamanan dan siklus pengisian yang lebih panjang.

    Ketahanan dan Sertifikasi

    Vivo X Fold6 telah mengantongi sertifikasi IP5X untuk ketahanan debu serta IPX8 dan IPX9 untuk ketahanan air. Perusahaan juga mengklaim perangkat ini tetap dapat digunakan pada suhu hingga -20 derajat Celsius.

    Sertifikasi IPX9 menunjukkan bahwa perangkat ini tahan terhadap semburan air bertekanan tinggi, menjadikannya salah satu smartphone lipat paling tangguh di pasaran. Perangkat ini juga dilengkapi sensor fingerprint di samping (side-mounted) untuk keamanan.

    Spesifikasi Lengkap Vivo X Fold6

    Berikut spesifikasi lengkap Vivo X Fold6 berdasarkan data resmi:

    • Layar Utama: 8,02 inci 2K+ LTPO AMOLED (2504 x 2312 piksel), refresh rate 1-120Hz, HDR10+, Dolby Vision, kecerahan hingga 5.000 nits, UTG Glass
    • Layar Cover: 6,51 inci FHD+ LTPO AMOLED (2528 x 1120 piksel), refresh rate 1-120Hz, Dolby Vision, kecerahan hingga 5.000 nits, Armor Glass
    • Chipset: MediaTek Dimensity 9500 Super Edition (3nm)
    • GPU: Arm Mali-G1 Ultra MC12
    • RAM: 12GB / 16GB LPDDR5X
    • Penyimpanan: 256GB / 512GB / 1TB UFS 4.0
    • Sistem Operasi: OriginOS 6 berbasis Android 16
    • Kamera Belakang: 200MP (Samsung HPB, OIS, Zeiss) + 50MP ultra-wide + 50MP telefoto periskop 3x (Sony LYT602)
    • Kamera Depan: 20MP (layar utama) + 20MP (layar cover)
    • Audio: Speaker stereo, USB Type-C Audio
    • Sensor: Fingerprint di samping (side-mounted)
    • Konektivitas: 5G SA/NSA, Dual 4G VoLTE, Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4, NFC, GPS Dual-band, USB Type-C
    • Ketahanan: IP5X, IPX8, IPX9
    • Baterai: 7.000 mAh
    • Pengisian Daya: 80W FlashCharge, 40W Wireless FlashCharge, Reverse Wireless Charging
    • Dimensi: 157,16 × 145,66 × 4,4 mm (terbuka); 74,26 × 9,4 mm (tertutup)
    • Bobot: 228 gram (Polar Night, Salt Lake) / 235 gram (Blue Hole)
    • Warna: Blue Hole, Salt Lake, Polar Night

    Harga Vivo X Fold6

    Vivo X Fold6 tersedia dalam enam pilihan konfigurasi, mulai dari RAM 12 GB dengan penyimpanan 256 GB hingga varian 16 GB/1 TB yang dilengkapi Professional Imaging Kit. Berikut daftar harga resmi Vivo X Fold6 di China:

    • 12GB + 256GB: 7.999 yuan (sekitar Rp18 juta)
    • 12GB + 512GB: 8.999 yuan (sekitar Rp20,2 juta)
    • 16GB + 512GB: 9.999 yuan (sekitar Rp22,5 juta)
    • 16GB + 1TB: 10.999 yuan (sekitar Rp24,8 juta)
    • 16GB + 1TB Blue Hole Professional Imaging Kit: 11.999 yuan (sekitar Rp27 juta)
    • 16GB + 1TB Black Gold Professional Imaging Kit: 12.299 yuan (sekitar Rp27,7 juta)

    Pre-order dibuka sekarang, dan perangkat mulai dijual di China pada 1 Juli 2026. Vivo juga menawarkan paket Professional Imaging Kit untuk varian 1 TB dengan harga mulai 11.999 yuan hingga 12.299 yuan. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai peluncuran global maupun Indonesia.

    Bagi pengguna yang mencari HP Android dengan fitur terkini, Vivo X Fold6 menawarkan spesifikasi kelas atas yang patut dipertimbangkan.

    Kesimpulan

    Dengan layar LTPO AMOLED 120Hz, chipset MediaTek Dimensity 9500 Super Edition, kamera Zeiss 200 MP, serta baterai 7.000 mAh, Vivo X Fold6 membawa peningkatan signifikan di sektor performa, fotografi, dan daya tahan baterai. Kombinasi spesifikasi tersebut membuatnya menjadi salah satu smartphone lipat flagship terbaru yang patut diperhitungkan di kelas premium.

    Bagi konsumen di Indonesia, belum ada kepastian kapan perangkat ini akan tersedia secara resmi. Namun, dengan spesifikasi yang ditawarkan, Vivo X Fold6 jelas menjadi pesaing kuat di pasar smartphone lipat global.

  • Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Polisi Sita Rp14,9 Miliar

    Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Polisi Sita Rp14,9 Miliar

    JBNews.id — Polda Metro Jaya mengungkap dugaan perjudian online, pornografi digital, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) melalui aplikasi live streaming Hot51. Polisi menetapkan delapan tersangka perorangan dan lima tersangka korporasi, serta menyita uang sekitar Rp 14,9 miliar.

    Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri mengatakan hasil penyidikan menunjukkan aplikasi tersebut diduga dimanfaatkan untuk aktivitas perjudian dan siaran langsung bermuatan pornografi. “Hasil penyidikan menunjukkan aplikasi tersebut diduga digunakan untuk perjudian dan siaran langsung bermuatan pornografi,” kata Asep dikutip dari detikNews.

    Selain menetapkan tersangka, penyidik juga memblokir 118 rekening dan virtual account. Polisi juga menetapkan seorang warga negara asing asal Tiongkok sebagai daftar pencarian orang (DPO). Perputaran transaksi yang terindikasi dalam perkara ini mencapai sekitar Rp 559,8 miliar.

    Apa Itu Aplikasi Hot51?

    Hot51 merupakan aplikasi live streaming yang cukup populer di Indonesia. Platform ini memungkinkan pengguna menonton siaran langsung, berinteraksi dengan host, mengirim hadiah virtual, hingga melakukan percakapan pribadi. Aplikasi tersebut menghadirkan berbagai kategori siaran seperti musik, hiburan, dance, obrolan, game, hingga konten dewasa yang dikenal sebagian pengguna sebagai siaran “bar-bar”.

    Pengguna juga dapat membeli koin virtual yang kemudian ditukarkan menjadi hadiah untuk host. Pada dasarnya, sistem seperti ini umum ditemukan pada platform live streaming. Namun dalam kasus yang diungkap polisi, sejumlah fitur tersebut diduga dimanfaatkan untuk kegiatan ilegal.

    Aplikasi Hot51 menjadi sorotan setelah terseret kasus judol dan pornografi. Simak apa itu aplikasi Hot51 dan modus yang diungkap Polda Metro Jaya.

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin bahkan menyebut aplikasi tersebut bukan sekadar platform hiburan. “Aplikasi Hot51 adalah sistem elektronik yang menyediakan layanan perjudian dan live streaming pornografi,” ujar Iman.

    Selain host dan pengguna, polisi juga menemukan dugaan keterlibatan jaringan perusahaan, payment gateway, serta perusahaan cangkang yang digunakan untuk mengelola transaksi keuangan.

    Bagaimana Modus Judol dan Pornografi di Hot51?

    Polda Metro Jaya mengungkap kasus ini berawal dari patroli siber yang kemudian dilanjutkan dengan penelusuran aliran dana atau follow the money. Polisi menemukan adanya dugaan integrasi antara perjudian online, konten pornografi, dan pencucian uang dalam satu ekosistem digital.

    Modus yang diungkap polisi antara lain:

    • Host melakukan siaran bermuatan pornografi.
    • Konten dewasa digunakan untuk menarik penonton.
    • Penonton diarahkan menuju situs judi online.
    • Deposit dilakukan melalui virtual account.
    • Dana diputar melalui perusahaan dan payment gateway.

    Polda Metro mengungkap judol, pornografi digital, dan TPPU melalui aplikasi HOT51. Polisi menetapkan tersangka perorangan hingga korporasi. (Devi P/detikcom)

    Iman menjelaskan sindikat tersebut diduga mengelabui sistem perbankan nasional dengan memanfaatkan sejumlah virtual account dan rekening perusahaan. “Sindikat ini melakukan pengelabuan sistem perbankan nasional,” kata Iman.

    Polisi juga menemukan pola penggunaan perusahaan cangkang dan penyamaran aliran dana. Perputaran transaksi yang terindikasi dalam perkara ini mencapai sekitar Rp 559,8 miliar. “Lima korporasi ini kami tetapkan sebagai tersangka yang melakukan operasional pendistribusian keuangan dari hasil perjudian online dan pornografi live stream,” ujar Iman.

    Kasus Hot51 masih terus dikembangkan oleh Polda Metro Jaya. Polisi menegaskan seluruh tersangka tetap dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

    Kasus ini menjadi pengingat bagi pengguna aplikasi live streaming untuk lebih waspada terhadap platform yang menawarkan konten dewasa dan hadiah virtual. Modus operandi seperti yang diungkap Polda Metro Jaya menunjukkan bagaimana aplikasi hiburan dapat disalahgunakan untuk kegiatan ilegal yang merugikan banyak pihak.

  • Akses Claude di China: Ekonomi Bawah Tanah dan Celah Keamanan

    Akses Claude di China: Ekonomi Bawah Tanah dan Celah Keamanan

    JBNews.id — Anthropic merilis Fable 5, versi aman dari model AI terkuatnya, Mythos, pada awal Juni. Media sosial China langsung ramai dengan unggahan pengguna yang membagikan pengalaman mereka. Namun, akses tersebut hanya berlangsung singkat. Anthropic mencabut akses model tersebut di seluruh dunia beberapa hari kemudian sebagai respons terhadap kontrol ekspor yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump.

    Warga China pada umumnya masih bisa mengakses alat AI Barat lain, seperti ChatGPT milik OpenAI, dengan menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN), nomor telepon asing, dan metode pembayaran internasional. Namun, Anthropic mengambil langkah lebih agresif, termasuk memblokir akun yang diduga dimiliki oleh pengguna di China.

    Di media sosial China, pengguna sering melaporkan akun Claude mereka ditangguhkan tanpa peringatan, meskipun telah melakukan berbagai tindakan pencegahan. Permainan kucing-dan-tikus ini telah mendorong ekonomi bawah tanah yang berkembang pesat untuk akses Claude di China.

    Pasar Gelap Akun Claude

    Akun Claude dijual di platform e-commerce China seperti Taobao dan melalui pasar ilegal di Telegram. Baru-baru ini, muncul industri rumahan berupa “stasiun transfer” yang bertindak sebagai perantara. Layanan ini membeli akses ke API Anthropic di luar China, lalu mendistribusikan token API Claude kepada pengguna di dalam negeri. Pengaturan ini dirancang untuk memberikan akses yang lebih stabil dan andal bagi startup dan pengguna profesional.

    Michael Aciman, juru bicara Anthropic, menyatakan bahwa perusahaan menggunakan sistem deteksi yang terus berkembang, termasuk verifikasi identitas, untuk menegakkan kebijakan terhadap akses tidak sah ke Claude. Ia menambahkan bahwa Anthropic juga berupaya mendeteksi dan mengganggu jaringan proxy yang digunakan untuk menyediakan akses chatbot di China.

    Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, masih banyak penggemar setia Anthropic di China. Claude sangat populer di kalangan programmer. Perusahaan China seperti DeepSeek dan Z.ai memiliki model open-source yang canggih, namun uji pihak ketiga menunjukkan bahwa model tersebut masih tertinggal dari model tertutup terkemuka seperti Claude.

    Dalam kunjungan pelaporan baru-baru ini ke China, WIRED berbicara dengan akademisi dan insinyur di beberapa perusahaan teknologi. Mereka menyatakan lebih suka menggunakan Claude untuk menghasilkan kode dibandingkan model China, dan sangat antusias untuk mencoba setiap model baru yang dirilis Anthropic.

    Kesenjangan Enam Sampai Sembilan Bulan

    Zilan Qian, asisten peneliti di Oxford China Policy Lab, meneliti pasar gelap penjualan token AI Barat kepada pengguna China. Ia mencatat bahwa pengembang perangkat lunak China lebih memilih menggunakan alat seperti Claude Code dan Codex milik OpenAI dibandingkan alat dari perusahaan domestik. “Analisis menunjukkan bahwa model China masih tertinggal enam hingga sembilan bulan di belakang model AS, dan untuk hal spesifik seperti coding dan pengembangan, Anda jelas bisa melihat kesenjangannya,” kata Qian.

    “Baik pembuat kebijakan AI China maupun teknisi, mereka tidak terlalu masalah memanfaatkan dan menggunakan ide atau produk Amerika, terlepas dari persaingan geopolitik atau ideologis,” ujar Matt Sheehan, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, yang meneliti kebijakan AI dan China. “Orang Amerikalah yang cenderung menganggap ide atau produk itu tercemar hanya karena berasal dari saingan mereka,” katanya.

    Dario Amodei, salah satu pendiri dan CEO Anthropic, sering secara eksplisit menyebut akses China ke model-model mutakhir sebagai ancaman kritis bagi keamanan nasional AS. Baru-baru ini, Anthropic menuduh Alibaba menggunakan output Claude untuk melatih model saingan perusahaan China tersebut, sebuah teknik yang dikenal sebagai “distilasi.” Anthropic juga mengklaim perusahaan China lain pernah melakukan hal serupa di masa lalu.

    Karena alasan keamanan nasional ini, Anthropic tidak menawarkan akses komersial ke Claude di China, atau ke anak perusahaan China yang berlokasi di luar negeri. Meskipun demikian, pengguna terus mencari cara untuk mengaksesnya.

    Stasiun Transfer dan Distorsi Data

    Bagi pengguna biasa, solusi klasik seperti menyalakan VPN dan menggunakan lokasi proxy yang konsisten masih menjadi andalan. Pengguna yang kurang teknis dapat membeli akun Claude yang sudah jadi di platform seperti Taobao dan Xianyu. Anthropic sering memblokir akun-akun ini setelah beberapa waktu, tetapi bagi pengguna yang hanya ingin menguji Claude atau mengajukan pertanyaan sesekali, kerugiannya masih bisa diterima.

    Pasar serupa juga muncul di Telegram dalam beberapa tahun terakhir, kata Hieu Minh Ngo, mantan peretas kriminal yang kini menjadi penyelidik kejahatan dunia maya di ChongLuaDao. Di situs web dan saluran Telegram yang dibagikan Ngo dengan WIRED, pengguna memasarkan akun Claude Pro dan Claude Max, bersama dengan akun ChatGPT Plus dan Gemini Plus. Pasar bawah tanah berbahasa China ini secara khusus berfokus pada penjualan akun “pro” yang memungkinkan pengiriman prompt dalam jumlah lebih besar.

    Demam OpenClaw di China awal tahun ini juga mendorong permintaan untuk agen AI, kata Qian. Karena alat ini melakukan tugas yang lebih kompleks, mereka mengonsumsi lebih banyak token daripada sesi chatbot biasa. Bagi pengguna berat, terutama pengembang yang membutuhkan aliran prompt dan respons yang konstan, menemukan akses yang terjangkau dan andal ke alat seperti Claude dan Codex menjadi kebutuhan mendesak.

    Stasiun transfer hadir sebagai solusi. Didirikan dengan server di negara yang didukung Anthropic, mereka bertindak sebagai perantara antara pengguna China dan Anthropic. Pengguna mengirim prompt ke situs web yang dapat diakses secara lokal, yang kemudian meneruskan permintaan ke Claude melalui akun individu atau kunci API. Respons dari model kemudian dikirimkan kembali ke pengguna. Bagi pengguna, rasanya sama seperti mengobrol dengan Claude, hanya di platform yang berbeda.

    Stasiun transfer sering kali menawarkan harga lebih murah daripada akses API langsung Claude karena mereka bisa mendapatkan diskon enterprise dari Anthropic dan distributor berlisensi lainnya. Permintaan yang tinggi telah mendorong munculnya situs web dan halaman GitHub berbahasa China yang mendaftar puluhan stasiun transfer dan membandingkan berbagai model serta harga token. Bahkan miliarder kripto China yang kontroversial, Justin Sun, ikut serta dan membuka stasiun transfernya sendiri pada bulan Mei.

    Jumlah besar pengguna China yang mengakses Anthropic melalui koneksi proxy mungkin telah mendistorsi gambaran pengguna Claude di seluruh dunia. Singapura, dengan prominensinya dalam bisnis internasional dan dominasi penggunaan bahasa China, sering menjadi target utama bagi pengguna China untuk memalsukan lokasi geografis mereka atau merutekan lalu lintas stasiun transfer. Data yang dipublikasikan Anthropic menunjukkan bahwa Singapura, negara dengan hanya 6 juta penduduk, sering berada di antara negara teratas di dunia dalam adopsi Claude relatif terhadap ukuran populasi.

    Verifikasi Identitas dan Celah Baru

    Anthropic terus memperketat pembatasan untuk mencegah akses dari China. Pada bulan April, perusahaan menerapkan verifikasi identitas untuk beberapa pengguna Claude. Proses ini ditangani oleh Persona, perusahaan pihak ketiga yang didukung oleh dana modal ventura Founders Fund, yang mewajibkan pengguna untuk mengunggah KTP yang dikeluarkan pemerintah, seperti paspor, SIM, atau KTP nasional sebelum dapat masuk ke Claude. KTP dari negara yang tidak didukung tidak akan diterima. Jika akun gagal lulus tes verifikasi, akun tersebut bisa diblokir.

    Persyaratan ini, yang oleh beberapa pengguna China disamakan dengan verifikasi identitas Know Your Customer (KYC) yang diperlukan oleh lembaga keuangan, menggeser pasar solusi dari akun dan API Claude menuju identitas palsu. Selama beberapa bulan terakhir, Ngo mengatakan dia telah melihat saluran Telegram berbahasa China mulai mengiklankan akun Claude yang telah lolos pemeriksaan identifikasi. “Mereka berbicara tentang cara melewati KYC, di mana membeli KYC Claude sehingga mereka dapat menggunakannya,” kata Ngo.

    Mungkin sudah waktunya untuk mengakui bahwa, tidak peduli seberapa ketat Anthropic menegakkan pembatasan geografisnya, selama model masih dirilis ke publik umum, pengguna yang cerdik di China dan negara lain yang tidak didukung kemungkinan akan terus menemukan cara untuk tetap menggunakan Claude. Pasar gelap selalu siap menyediakan solusi siap pakai bagi pengguna non-teknis.

    Namun, konsekuensinya adalah dengan mengakses Claude melalui alat yang tidak sah, pengguna juga mengekspos diri mereka pada lebih banyak risiko keamanan. Selain bisa ditipu oleh penjual di Telegram, informasi sensitif dan prompt yang mereka kirim melalui stasiun transfer bisa berakhir dikemas dan dijual oleh perusahaan perantara kepada pembeli yang tidak bertanggung jawab.

    Semua ini akan menimbulkan tantangan baru bagi keamanan AI. “Orang-orang yang bekerja pada keamanan AI perlu berpikir, jika infrastruktur stasiun transfer ini tetap ada, bagaimana Anda akan memonitor aktor jahat dan mencegah mereka melakukan hal-hal buruk?” kata Qian.

    Laporan tambahan oleh Will Knight.

  • Ford Gagal dengan AI, Rekrut Ulang 350 Engineer Berpengalaman

    Ford Gagal dengan AI, Rekrut Ulang 350 Engineer Berpengalaman

    JBNews.id — Ford Motor Company mengakui kegagalan strategi kecerdasan buatan (AI) yang diterapkannya. Pabrikan otomotif AS itu terpaksa merekrut kembali 350 mantan karyawan dan teknisi baru setelah sistem AI yang diandalkan tidak mampu memenuhi standar kualitas produksi.

    Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Ford, Charles Poon, mengungkapkan pengakuan mengejutkan ini kepada para wartawan. “Kami keliru mengira bahwa hanya dengan memperkenalkan kecerdasan buatan dan menyesuaikan persyaratan desain yang kami miliki, hal itu akan menghasilkan produk berkualitas tinggi,” ujar Poon, seperti dikutip dari The Verge.

    Pengakuan ini menjadi sorotan tajam di industri otomotif global. Ford baru saja meraih peringkat teratas dalam survei kualitas awal JD Power untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade. Namun, di sisi lain, kegagalan implementasi AI justru memicu krisis reputasi yang mahal bagi perusahaan.

    Kesalahan Fatal: Tenaga Ahli Hengkang Sebelum AI Siap

    Menurut penjelasan Poon, masalah utama bukan terletak pada teknologi AI itu sendiri. Kegagalan terjadi karena para pekerja berpengalaman Ford telah keluar sebelum perusahaan sempat mentransfer pengetahuan berharga mereka ke dalam sistem AI. Tanpa data dan pengalaman praktis dari para ahli, sistem AI tidak dapat berfungsi optimal.

    Akibatnya, Ford terpaksa memanggil kembali mantan karyawan untuk melatih sistem AI dan para pegawai baru yang tidak kompeten. Mereka juga diminta memperbaiki pelatihan AI di balik sistem produksi tersebut.

    Poon enggan menjelaskan secara rinci alasan kepergian para pekerja berpengalaman itu. Namun, data menunjukkan Ford secara bertahap telah mengurangi tenaga kerjanya. Saat ini, perusahaan memiliki lebih dari 5.000 pekerja lebih sedikit dibandingkan tahun 2020. Sementara itu, CEO Jim Farley sebelumnya menyatakan bahwa AI “akan menggantikan secara harfiah setengah dari semua pekerja kerah putih di AS.”

    Kasus Ford ini mengingatkan pada fenomena serupa di industri teknologi. Hipotesis Amplification Spiral yang dipaparkan seorang psikiater menjelaskan bagaimana keyakinan berlebihan pada AI justru dapat memperburuk kualitas pengambilan keputusan di perusahaan.

    Dampak Nyata: Reputasi Tergerus, Produk Bermasalah

    Konsekuensi dari kegagalan implementasi AI ini cukup serius. Ford tercatat melakukan penarikan kembali (recall) mobil lebih sering dibandingkan pabrikan otomotif AS lainnya tahun ini. Peringkat keandalan Ford pun merosot dalam berbagai survei independen.

    Meskipun hanya 350 insinyur yang direkrut ulang, dipromosikan, atau dipekerjakan baru — jumlah yang relatif kecil dalam skala perusahaan raksasa — kerugian reputasi yang diderita jauh lebih besar. Kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk Ford terguncang.

    “Sungguh sebuah blunder naif yang sangat besar, dan banyak bos arogan lain juga telah melakukannya,” tulis Futurism dalam laporannya. Ford tampaknya berharap bisa keluar dari masalah ini dengan mengakui kesalahan dan membingkainya sebagai kisah peringatan bagi industri lain.

    Di tengah kegagalan ini, menarik untuk mencermati bagaimana perusahaan teknologi besar lainnya menghadapi tekanan publik. Boikot mahasiswa Stanford terhadap pidato CEO Google Sundar Pichai menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pemimpin teknologi sedang diuji di berbagai lini.

    Ford Tetap Berkomitmen pada AI

    Meskipun mengalami kegagalan ini, Ford tidak berbalik arah dari penggunaan AI. Sebaliknya, menurut laporan The Verge, Ford justru menambahkan lebih dari 100.000 tes baru bertenaga AI untuk mengidentifikasi kasus-kasus khusus (edge cases) dan menguji sistem perangkat lunak secara lebih ketat.

    Pelajaran dari kasus Ford adalah bahwa AI bukanlah solusi instan yang bisa menggantikan keahlian manusia secara mentah-mentah. Tanpa transfer pengetahuan yang sistematis dari tenaga ahli ke dalam sistem AI, teknologi canggih sekalipun akan gagal menghasilkan output berkualitas.

    Bagi perusahaan lain yang tengah berlomba mengadopsi AI, kasus Ford menjadi peringatan keras: jangan ulangi kesalahan yang sama. Investasi pada AI harus diiringi dengan investasi pada sumber daya manusia yang memahami seluk-beluk bisnis.

    Di sisi lain, situasi Ford juga menunjukkan bahwa kegagalan proyek teknologi besar bukanlah fenomena langka. Kegagalan BEAD yang menguapkan dana Rp700 triliun menjadi bukti bahwa pengelolaan teknologi berskala besar memerlukan perencanaan yang matang dan realistis.

    Implikasinya jelas: AI bukanlah pengganti pekerja, melainkan alat bantu yang memerlukan data dan pengalaman manusia untuk berfungsi optimal. Ford belajar dengan cara yang mahal — dan industri lain disarankan untuk belajar dari kesalahan Ford tanpa harus mengalaminya sendiri.

  • Meta Kembangkan Aplikasi Prediksi Arena, Tiru Polymarket

    Meta Kembangkan Aplikasi Prediksi Arena, Tiru Polymarket

    JBNews.id — Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, tengah mengembangkan aplikasi prediksi bertajuk “Arena” yang menyerupai platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran para ahli akan lonjakan kecanduan judi akibat maraknya platform sejenis.

    Informasi tersebut diungkap oleh dua karyawan Meta yang mengetahui langsung masalah ini kepada The New York Times. Menurut mereka, Arena tidak akan menggunakan uang sungguhan, melainkan sistem poin yang menyerupai permainan video. Namun, Meta tidak menutup kemungkinan untuk mengizinkan pengguna bertaruh dengan uang asli di masa mendatang.

    Keputusan Meta untuk terjun ke bisnis aplikasi prediksi ini dinilai sebagai upaya CEO Mark Zuckerberg untuk mencari ide-ide baru demi tetap relevan di industri teknologi yang berubah cepat. Selama ini, aplikasi media sosial Meta telah berjuang mempertahankan relevansi dan pertumbuhan pengguna, meskipun masih menjangkau miliaran pengguna di seluruh dunia.

    Popularitas platform prediksi pasar seperti Polymarket dan Kalshi telah meledak dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli memperingatkan bahwa platform-platform ini telah secara masif menurunkan hambatan masuk bagi perjudian bermasalah, memungkinkan hampir semua orang untuk mempertaruhkan uang hasil jerih payah mereka pada berbagai peristiwa, mulai dari hasil perang hingga pemenang Piala Dunia.

    Namun, pendekatan Meta dengan Arena justru dianggap membingungkan. Tanpa janji keuntungan finansial yang cepat, daya tarik utama platform prediksi pasar menjadi hilang. Sistem poin bergaya video game dinilai tidak akan mampu menarik minat pengguna seperti halnya taruhan uang sungguhan.

    Ini bukan pertama kalinya Meta bermain di ranah prediksi. Pada awal pandemi COVID-19, perusahaan meluncurkan “Forecast,” sebuah aplikasi prediksi berbasis crowdsourcing yang tidak pernah benar-benar populer. Belum diketahui apakah Arena akan bernasib lebih baik jika benar-benar diluncurkan.

    Selain aplikasi prediksi, Meta juga dikabarkan sedang mengembangkan aplikasi pembuat foto berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, sumber internal memperingatkan bahwa Arena masih dalam tahap pengembangan dan mungkin tidak akan pernah diluncurkan ke publik.

    Keputusan Meta untuk mengembangkan Arena menambah panjang daftar produk-produk yang gagal dari perusahaan tersebut. Mulai dari mata uang kripto yang gagal, membayar selebriti jutaan dolar untuk mengubah mereka menjadi chatbot AI, hingga dunia “metaverse” kartun yang dipenuhi anak-anak berteriak.

    Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan Arena oleh Meta menunjukkan bagaimana raksasa teknologi terus berupaya memasuki sektor yang sedang tren, meskipun kontroversial. Dengan popularitas Polymarket yang mencapai triliunan rupiah, potensi pasar aplikasi prediksi memang sangat besar, namun risiko regulasi dan dampak sosialnya juga tidak bisa diabaikan.

    Para pengamat industri menilai bahwa tanpa adanya elemen taruhan uang sungguhan, Arena kemungkinan besar akan gagal menarik minat pengguna. Namun, jika Meta akhirnya mengizinkan taruhan uang asli, perusahaan akan menghadapi tantangan regulasi yang kompleks di berbagai negara, termasuk Indonesia yang melarang keras praktik perjudian.

    Hingga saat ini, Meta belum memberikan pernyataan resmi mengenai pengembangan Arena. Sumber internal menyebutkan bahwa proyek ini masih dalam tahap awal dan bisa berubah atau dibatalkan kapan saja. Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa Meta terus mencari cara untuk tetap relevan di tengah persaingan industri teknologi yang semakin ketat.

    Implikasi dari pengembangan aplikasi prediksi oleh Meta sangat luas. Jika berhasil, Arena bisa menjadi platform baru yang mengubah cara orang berinteraksi dengan berita dan peristiwa terkini. Namun, jika gagal, ini akan menjadi tambahan lain dalam deretan produk Meta yang bermasalah.

    Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini perlu diwaspadai. Meskipun Arena menggunakan sistem poin, potensi untuk beralih ke taruhan uang asli di masa depan tetap ada. Regulator di Indonesia perlu mengantisipasi kemungkinan masuknya platform semacam ini ke pasar domestik.

    Kesimpulannya, langkah Meta mengembangkan Arena menunjukkan bahwa tren aplikasi prediksi sedang menjadi perhatian utama perusahaan teknologi global. Namun, tanpa model bisnis yang jelas dan dengan risiko regulasi yang tinggi, masa depan Arena masih sangat tidak pasti.

  • Apple Naikkan Harga iPad dan Mac Rekondisi, Komponen Lawas Tak Terkait

    Apple Naikkan Harga iPad dan Mac Rekondisi, Komponen Lawas Tak Terkait

    JBNews.id — Apple resmi menaikkan harga untuk sebagian besar produk rekondisi (refurbished) iPad dan Mac yang dijual melalui toko online resmi Certified Refurbished. Kenaikan ini terjadi meskipun unit-unit tersebut masih menggunakan komponen lawas seperti memori, storage, dan logic board original yang seharusnya tidak terdampak oleh krisis harga chip memori global.

    Berdasarkan laporan MacRumors yang dikutip Sabtu (27/6/2026), rata-rata kenaikan harga untuk produk rekondisi mencapai USD 160-180 atau setara Rp 2,8-3,2 juta. Namun, kenaikan harga untuk lini Mac jauh lebih signifikan dibandingkan iPad. Kebijakan ini sejalan dengan kenaikan harga produk baru Apple yang dipicu oleh melonjaknya harga chip memori dan storage akibat kebutuhan pembangunan pusat data AI.

    Kenaikan Harga MacBook Rekondisi Paling Drastis

    Model MacBook Pro 14 inch dengan chip M4 Pro rekondisi mengalami kenaikan dari USD 1.699 (Rp 30,3 juta) menjadi USD 1.779 (Rp 31,7 juta). Varian yang sama dengan layar Nano-texture harganya melonjak dari USD 1.829 (Rp 32,7 juta) menjadi USD 1.909 (Rp 34,1 juta).

    Semakin premium spesifikasi Mac-nya, semakin tinggi pula kenaikan harganya. MacBook Pro 14 inch rekondisi dengan chip M5 naik dari USD 1.359 (Rp 24,46 juta) menjadi USD 1.439 (Rp 25,90 juta). Sementara itu, konfigurasi tertinggi model yang sama meroket dari USD 2.629 (Rp 47,32 juta) menjadi USD 3.309 (Rp 59,56 juta).

    Kenaikan paling ekstrem terjadi pada MacBook Pro 14 inch dengan chip M2 Max. Harganya melonjak dari USD 4.249 (Rp 76,48 juta) menjadi USD 4.839 (Rp 87,10 juta). Kenaikan hampir Rp 10,7 juta ini menjadi yang tertinggi di antara semua produk rekondisi Apple.

    Kebijakan ini membuat harga MacBook rekondisi semakin mendekati harga unit baru. Padahal, komponen internal yang digunakan masih berasal dari generasi sebelumnya. Situasi ini memperkuat tren bahwa Apple menaikkan harga MacBook dan iPad hingga 20 persen di semua lini produk.

    iPad Rekondisi Juga Terdampak, Kenaikan Lebih Konsisten

    Untuk lini iPad, kenaikan harga rekondisi lebih konsisten dengan rata-rata USD 120-150 atau sekitar Rp 2,16-2,70 juta. Model low-end seperti iPad generasi ke-10 edisi Wi-Fi 256GB naik dari USD 339 (Rp 6,10 juta) menjadi USD 409 (Rp 7,36 juta). Sementara iPad mini 6 rekondisi naik dari USD 379 (Rp 6,82 juta) menjadi USD 459 (Rp 8,26 juta).

    Model iPad Pro yang merupakan varian paling premium mengalami kenaikan lebih tinggi, antara USD 230 hingga USD 250 (sekitar Rp 4,14-4,50 juta). Kenaikan ini cukup signifikan mengingat iPad Pro rekondisi sudah dibanderol dengan harga tinggi sebelum kebijakan ini diterapkan.

    Menariknya, sebagian besar unit rekondisi Apple masih menggunakan komponen asli seperti memori, storage, dan logic board yang seharusnya tidak terpengaruh oleh krisis RAM global. Namun, Apple tampaknya sengaja menaikkan harga agar harga iPad dan Mac rekondisi lebih selaras dengan versi barunya. Dengan kata lain, nilai diskon yang ditawarkan tetap sama seperti sebelumnya meskipun harga naik.

    Dampak bagi Konsumen dan Pasar Rekondisi

    Kenaikan harga ini menjadi pukulan bagi konsumen yang selama ini mengandalkan produk rekondisi Apple sebagai alternatif lebih terjangkau. Dengan harga yang kini mendekati unit baru, daya tarik utama produk rekondisi—yaitu diskon signifikan—mulai tergerus.

    Kebijakan ini juga berpotensi mengubah peta pasar laptop dan tablet bekas premium. Konsumen mungkin akan beralih ke produk pesaing atau menunda pembelian hingga harga kembali normal. Namun, belum ada indikasi kapan Apple akan menyesuaikan kembali harga produk rekondisinya.

    Bagi para pengguna setia Apple yang ingin menghemat anggaran, opsi membeli unit baru dengan spesifikasi lebih rendah kini mungkin lebih masuk akal secara finansial dibandingkan membeli unit rekondisi yang harganya melonjak tajam. Apalagi dengan kenaikan yang tidak proporsional antara komponen lawas dan harga jual, nilai ekonomis produk rekondisi Apple patut dipertanyakan.

  • Prancis Terbelah Soal AC Saat Gelombang Panas Ekstrem

    Prancis Terbelah Soal AC Saat Gelombang Panas Ekstrem

    JBNews.id — Prancis kini terbelah dalam perdebatan sengit mengenai apakah warga harus menggunakan pendingin ruangan (AC) untuk melawan gelombang panas brutal yang melanda negara tersebut. Saat suhu memecahkan rekor dan melonjak di atas 40 derajat Celcius minggu ini, warga melakukan segala cara untuk tetap sejuk.

    Tragisnya, puluhan dilaporkan tewas tenggelam di pantai, danau, dan sungai. Warga lainnya berebut membeli kipas angin dan unit AC portabel. Bahkan, kekacauan akibat desak-desakan terekam di sebuah toko elektronik di Chambery, bagian tenggara negara tersebut.

    Prancis jauh lebih tidak siap menghadapi gelombang panas dibandingkan negara lain. Hanya sekitar 25% rumah tangga di sana punya AC, dibandingkan 50% rumah di Spanyol dan Italia, serta 90% di Amerika Serikat. Di Australia angkanya mencapai 63%. Tidak banyak pula sekolah atau rumah sakit di Prancis memiliki AC. Hal ini memicu kekacauan di mana sekolah-sekolah terpaksa ditutup dan perawat mengeluhkan kondisi panas bak neraka.

    People cool off in the Trocadero fountain in front of the Eiffel Tower as temperatures rise in Paris during a heatwave affecting a large part of France, June 23, 2026. REUTERS/Abdul Saboor

    Mengapa Prancis Enggan Menggunakan AC?

    Orang Prancis sejak dahulu memang selalu enggan atau curiga terhadap AC. Pertama, musim panas mereka dulu cukup sejuk sehingga sebagian besar rumah dan ruang publik tidak membutuhkannya. Secara tradisional, masyarakat cukup membuka jendela di malam hari dan menutup kerai pada siang hari untuk menjaga ruangan sejuk.

    Banyak orang Prancis juga percaya perubahan suhu yang tiba-tiba, seperti transisi dari luar ruangan yang panas ke ruang AC, dapat memicu flu, mual, hingga pingsan. Beberapa tahun terakhir, unit AC bahkan ditarik ke ranah politik. AC secara luas dipandang tidak ramah lingkungan, mengeluarkan udara panas ke jalan, dan memakan terlalu banyak listrik, meski sebagian besar energi di Prancis berasal dari nuklir rendah karbon.

    Kondisi ini kontras dengan negara-negara tetangga. Untuk memahami lebih dalam perbedaan kesiapan ini, Anda bisa membaca artikel tentang AC Jarang di Eropa.

    Perdebatan Politik: Sayap Kanan vs Sayap Kiri

    Kubu sayap kanan-lah yang baru-baru ini mendobraknya dan mengadvokasi penggunaan AC secara nasional. Kandidat presiden sayap kanan, Marine Le Pen, menyatakan tak masuk akal membiarkan orang meninggal karena kepanasan. Ia berjanji menerapkan pengadaan AC besar-besaran, dimulai di tempat dengan populasi paling rentan yaitu rumah sakit, panti jompo, dan sekolah.

    Namun, pemimpin sayap kiri ekstrem sekaligus kandidat saingannya, Jean-Luc Melenchon, menolak keras. “Sama sekali tidak. Memasang AC di mana-mana hanya akan memperburuk kerusakan (lingkungan),” sebutnya.

    Surat kabar progresif L’Humanite juga berkomentar. Mereka menerbitkan opini bahwa AC harus menjadi pilihan terakhir dan menyebutnya solusi sayap kanan. Ironisnya, netizen menemukan fakta bahwa gedung mereka ternyata dilengkapi AC.

    Senator Partai Komunis Prancis, Fabien Gay, yang juga direktur surat kabar tersebut, dicecar di radio RMC. “AC adalah milik sayap kanan. Komunisme percaya pada kemajuan teknologi? Bisakah Anda mengonfirmasi tempat Anda memiliki AC?” tanya pembawa acara.

    “Ya, benar, kami menyewa, kami penyewa,” jawab Gay. Ia beralasan L’Humanite dan penyewa lain di gedung tersebut dapat menikmati AC karena baru saja dipasang sebagai bagian dari renovasi. “Lalu mengapa sebagian besar anak-anak kita berada di sekolah yang kepanasan saat ini? Mengapa para lansia dirawat di rumah sakit yang sangat panas?”

    “Tentu saja lebih baik memberikan AC untuk hal-hal tersebut. Ya, kita memang tertinggal dalam hal pendingin ruangan dan ini harus segera diatasi,” jawab Gay pada akhirnya.

    Perdebatan ini semakin relevan dengan situasi global saat ini. Sementara itu, perkembangan teknologi lain juga terus berlanjut, seperti Lem Cair Pengganti Jahitan yang dikembangkan oleh Tissium.

    Implikasinya jelas: Prancis menghadapi dilema antara kebutuhan mendesak akan pendingin ruangan untuk menyelamatkan jiwa dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Perdebatan ini kemungkinan akan menjadi isu sentral dalam pemilihan presiden mendatang, dengan implikasi langsung bagi jutaan warga yang rentan terhadap panas ekstrem.