Author: Hamzah Nurhamzah

  • Update iOS 26.5.1 Rilis untuk 4 iPhone Ini, Segera Perbarui

    Update iOS 26.5.1 Rilis untuk 4 iPhone Ini, Segera Perbarui

    JBNews.id — Apple merilis pembaruan perangkat lunak penting untuk jajaran iPhone 17 series dan iPhone Air. Pembaruan iOS 26.5.1 ini ditujukan untuk memperbaiki masalah pengisian daya yang mencegah perangkat menyala setelah baterai habis.

    Apple telah mengonfirmasi bahwa pemilik iPhone 17, iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air perlu segera menginstal pembaruan ini. Masalah yang diatasi cukup krusial: perangkat tidak dapat diisi daya melalui kabel ketika baterai hampir habis, hanya bisa menggunakan pengisian daya nirkabel MagSafe.

    “Pembaruan ini mengatasi masalah bagi sejumlah kecil pengguna yang mungkin mencegah pengisian daya kabel pada model iPhone Air dan iPhone 17 ketika baterai hampir habis,” jelas Apple dalam pernyataan resminya.

    Langkah Mudah Memperbarui Perangkat

    Proses pembaruan cukup sederhana. Pengguna cukup membuka Settings, masuk ke General, lalu pilih Software Update. Di sana akan muncul opsi untuk mengunduh iOS 26.5.1. Pilih Update Now untuk instalasi segera, atau jadwalkan pembaruan di malam hari saat perangkat tidak digunakan.

    iPhone 17 Pro Max

    Penting untuk diingat bahwa file pembaruan ini berukuran sangat besar, mencapai 13,6 GB. Pastikan perangkat terhubung ke Wi-Fi atau memiliki kuota data seluler yang mencukupi sebelum memulai unduhan.

    Bug Kritis yang Diperbaiki

    Sejumlah pengguna iPhone 17 series dan iPhone Air melaporkan bug yang membuat ponsel tidak bisa hidup kembali setelah baterainya habis, bahkan setelah dicas. Benjamin Mayo dari 9to5Mac mengalami hal serupa di iPhone Air miliknya. Setelah ponsel mati di malam hari, pengisian daya tidak langsung menghidupkannya seperti biasa.

    Salah satu solusi sementara yang berhasil adalah tidak mengisi ulang daya menggunakan charger kabel. Sebagai gantinya, gunakan charger wireless atau MagSafe dan tunggu 15-20 menit hingga iPhone hidup kembali dengan sendirinya.

    Bagi pengguna di Indonesia yang tertarik dengan ekosistem Apple, fitur interoperabilitas seperti Fitur Terbaru pada perangkat Android juga mulai mendukung transfer data ke iPhone dengan lebih mudah.

    Implikasi bagi Pengguna

    Meskipun Apple menyatakan hanya sejumlah kecil pengguna yang terpengaruh, tidak ada salahnya untuk segera memastikan perangkat sudah diperbarui. Bug ini sangat mengganggu karena pengguna bisa kehilangan akses ke perangkat mereka saat paling membutuhkannya.

    Bagi pengguna iPhone di Jawa Barat dan Banten, pembaruan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga perangkat lunak tetap mutakhir. Isu keamanan data juga menjadi perhatian, mengingat kasus penyalahgunaan Data Pribadi yang marak terjadi akhir-akhir ini.

    Pembaruan iOS 26.5.1 kini tersedia untuk diunduh. Pengguna disarankan untuk mencadangkan data penting sebelum melakukan pembaruan, mengingat ukuran file yang besar dan potensi risiko selama proses instalasi.

  • Fullerton Health Resmi Akuisisi AdMedika dan TelkoMedika dari Telkom

    Fullerton Health Resmi Akuisisi AdMedika dan TelkoMedika dari Telkom

    JBNews.id — Grup layanan kesehatan regional Fullerton Health resmi menyelesaikan akuisisi PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta anak usahanya, TelkoMedika, dari PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra), anak usaha PT Telkom Indonesia. Aksi korporasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Fullerton Health di pasar layanan kesehatan Indonesia sekaligus memperluas kemampuan perusahaan dalam menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.

    AdMedika selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan administrator layanan kesehatan terbesar di Indonesia. Perusahaan ini memiliki platform berbasis teknologi yang mendukung pengelolaan klaim digital, integrasi jaringan fasilitas kesehatan, serta analitik data kesehatan. Meski tidak menyebutkan nilai transaksi dari aksi korporasi ini, Group Chief Executive Officer dan Executive Director Fullerton Health, Ho Kuen Loon, mengatakan akuisisi tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pasar Indonesia.

    “Akuisisi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Fullerton Health terhadap Indonesia dan investasi berkelanjutan kami dalam membangun platform layanan kesehatan yang berskala dan terintegrasi,” ujar Ho Kuen Loon di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

    Melalui akuisisi tersebut, Fullerton Health akan menggabungkan kapabilitas administrasi layanan kesehatan AdMedika dengan jaringan layanan kesehatan regional yang dimilikinya. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan klaim, memperkuat koordinasi antarpenyedia layanan, serta menghadirkan pengalaman layanan kesehatan yang lebih transparan bagi pasien dan klien korporasi.

    Grup layanan kesehatan regional Fullerton Health resmi menyelesaikan akuisisi PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta anak usahanya, TelkoMedika, dari PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra), anak usaha PT Telkom Indonesia.

    Disampaikan Ho Kuen Loon, bergabungnya AdMedika Group akan memperkuat sistem operasional perusahaan di bidang administrasi layanan kesehatan sekaligus memanfaatkan kapabilitas regional Fullerton Health untuk mendukung kebutuhan layanan kesehatan Indonesia yang terus berkembang.

    Sementara itu, President Director TelkomMetra Pramasaleh Haryo Utomo menilai transaksi tersebut menjadi momentum penting bagi pengembangan bisnis AdMedika ke depan. “Di bawah kepemilikan Fullerton Health, kami meyakini AdMedika berada pada posisi yang kuat untuk meningkatkan kapabilitasnya, memperluas skala bisnis, dan memperoleh akses ke ekosistem layanan kesehatan regional yang lebih luas,” kata Pramasaleh.

    Selain memperkuat bisnis di Indonesia, akuisisi ini juga membuka peluang integrasi layanan kesehatan lintas negara. Adapun saat ini Fullerton Health memiliki hampir 600 fasilitas kesehatan milik sendiri, jaringan lebih dari 32.000 penyedia layanan kesehatan, dan melayani lebih dari 8 juta anggota di tujuh negara Asia. Setelah kesepakatan ini, jaringan regional tersebut diharapkan dapat mendukung layanan kesehatan lintas batas, termasuk akses ke fasilitas kesehatan dan rujukan spesialis di berbagai negara.

    Kendati telah bergabung ke dalam grup Fullerton Health, AdMedika dan TelkoMedika akan tetap beroperasi menggunakan merek serta struktur kepemimpinan yang ada saat ini. Perusahaan juga memastikan seluruh karyawan tetap bekerja seperti biasa dan akan memperoleh peluang pengembangan karier dalam jaringan Fullerton Health.

    Chief Executive Officer AdMedika Group, Dian Prambini, menyebut akuisisi ini sebagai babak baru bagi perusahaan. “Bersama Fullerton Health, kami dapat memperkuat platform layanan kesehatan terintegrasi, memperdalam kemitraan dengan penyedia layanan dan klien, serta terus memberikan layanan yang lebih berkualitas dan andal kepada pasien dan klien di seluruh Indonesia,” tutur Dian.

    Di sisi lain, Fullerton Health menegaskan seluruh data kesehatan dan data klaim di Indonesia akan tetap dikelola secara lokal sesuai regulasi yang berlaku, dengan fokus pada perlindungan data, keamanan siber, dan kepatuhan terhadap ketentuan pemerintah.

    Langkah TelkomMetra melepas AdMedika dan TelkoMedika ini sejalan dengan fokus perusahaan induk pada pengembangan infrastruktur digital. Sebelumnya, Telkom juga terus memperkuat fondasi digital melalui berbagai inisiatif, termasuk domain .ai.id yang baru diluncurkan untuk mendukung ekosistem kecerdasan buatan di Indonesia. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti Nvidia RTX Spark juga menunjukkan bagaimana inovasi komputasi terus mendorong transformasi digital di berbagai sektor.

  • AMD Rilis Ulang Prosesor Jadul di Computex 2026

    AMD Rilis Ulang Prosesor Jadul di Computex 2026

    JBNews.id — AMD menghadirkan strategi pemasaran yang tidak biasa di ajang Computex 2026 di Taiwan. Di tengah lonjakan harga komponen akibat kelangkaan memori global, perusahaan justru merilis ulang tiga prosesor lawas dengan satu janji besar: pengguna tidak perlu membeli motherboard baru setidaknya hingga tahun 2030.

    Krisis industri PC yang sedang berlangsung membuat harga komponen terus meroket. Namun, alih-alih memamerkan teknologi kasta tertinggi, AMD memilih pendekatan berbeda untuk segmen gamer PC desktop. Komitmen terbesar yang diumumkan adalah perpanjangan dukungan penuh untuk soket motherboard AM5 dengan deretan prosesor Ryzen terbaru hingga tahun 2029.

    “Para perakit PC bisa dengan tenang terus melakukan upgrade ke CPU generasi terbaru hingga akhir dekade ini, tanpa perlu repot mencabut dan mengganti motherboard mereka,” demikian pernyataan resmi AMD di ajang Computex 2026.

    Kado Spesial 10 Tahun AM4 dan Kehadiran 7700X3D

    Bagi gamer yang masih bertahan di soket AM4, AMD menyiapkan satu amunisi terakhir. Perusahaan meluncurkan edisi spesial Ryzen 7 5800X3D “10th Anniversary” untuk merayakan satu dekade platform AM4. Prosesor ini dibanderol USD 349 (sekitar Rp 5,6 jutaan) dan mulai tersedia pada 25 Juni mendatang.

    Sementara itu, bagi yang ingin beralih ke platform AM5, AMD menawarkan Ryzen 7 7700X3D seharga USD 330 (sekitar Rp 5,3 jutaan). Prosesor ini kemungkinan merupakan versi turunan dari seri 7800X3D yang populer. Sebagai perbandingan, Ryzen 7800X3D biasanya dijual di kisaran USD 380 hingga USD 450.

    Di atas kertas, performa 7700X3D hanya sedikit lebih lambat namun tetap menawarkan efisiensi daya berkat teknologi 3D V-Cache. Meski arsitektur ini sudah masuk kategori lawas—seri 7800X3D pertama kali rilis pada 2023, sementara seri 9000 seperti 9800X3D telah meluncur akhir 2024—nilai ekonomis dan efisiensinya membuatnya tetap relevan.

    Radeon RX 9070 GRE Ekspansi ke Pasar Global

    Di sektor kartu grafis, AMD membawa Radeon RX 9070 GRE ke berbagai negara termasuk Amerika Serikat. Kartu ini sebelumnya merupakan rilis eksklusif untuk pasar China. Dibanderol mulai USD 549 (sekitar Rp 8,8 jutaan), GPU ini tersedia mulai 1 Juni.

    Kabar ini menimbulkan perasaan campur aduk di kalangan gamer. Angka USD 549 seharusnya merupakan harga rilis untuk seri RX 9070 versi standar yang lebih bertenaga, bukan varian GRE (Golden Rabbit Edition) dengan spesifikasi dipangkas. Performanya sedikit tertinggal jika diadu dengan Nvidia RTX 5070.

    Namun, melihat sejarahnya, RX 9070 standar hampir tidak pernah bisa dibeli dengan harga USD 549 akibat krisis GPU. Harganya sempat menyentuh MSRP sesaat sebelum melonjak ke USD 599 hingga USD 620. Oleh karena itu, model GRE menjadi alternatif paling masuk akal saat ini.

    Langkah AMD menawarkan produk daur ulang dengan harga lebih terjangkau menjadi strategi menarik di tengah kondisi pasar perangkat keras yang semakin mahal. Seperti dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (3/6/2026), pendekatan ini mencerminkan realitas industri gaming saat ini.

    Dengan komitmen dukungan soket AM5 hingga 2029, AMD memberikan kepastian bagi para perakit PC. Mereka tidak perlu khawatir motherboard akan cepat usang. Ini menjadi nilai tambah signifikan di tengah ketidakpastian harga komponen.

    Bagi gamer Indonesia, kehadiran prosesor ini bisa menjadi pertimbangan menarik. Dengan harga yang lebih terjangkau dan dukungan platform jangka panjang, upgrade sistem menjadi lebih efisien. Apalagi, teknologi 3D V-Cache tetap memberikan performa gaming yang kompetitif.

    Keputusan AMD merilis ulang produk lawas menunjukkan adaptasi terhadap kondisi pasar. Di saat pesaing fokus pada produk premium, AMD justru menyasar segmen yang sensitif harga. Ini bisa menjadi strategi jitu untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah krisis.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi terkini, baca juga artikel tentang Fitur Terbaru dari perangkat mobile yang mendukung interoperabilitas lintas platform.

  • OlloNi: Robot AI Peliharaan yang Memahami Emosi Manusia

    OlloNi: Robot AI Peliharaan yang Memahami Emosi Manusia

    JBNews.id — Startup robotik asal China, Ollobot, memperkenalkan OlloNi, sebuah robot AI peliharaan yang mampu memahami emosi pengguna dan mengingat kebiasaan keluarga. Robot ini dipamerkan di ajang Global Connect Show @Shenzhen 2026 dan menjadi perhatian karena pendekatannya yang unik dalam dunia robotika konsumen.

    Berbeda dengan robot rumah tangga pada umumnya, OlloNi tidak dirancang untuk menggantikan fungsi manusia atau hewan peliharaan. Sebaliknya, robot ini hadir sebagai teman emosional yang bisa tumbuh bersama keluarga. Founder Ollobot, Lyn Fang, menjelaskan bahwa OlloNi adalah cyber-pet, bukan sekadar perangkat pintar biasa.

    “Kami membangun sesuatu yang berbeda. Ini adalah cyber-pet, companion seumur hidup yang tumbuh bersama keluarga,” ujar Lyn saat memamerkan kemampuan OlloNi di Global Connect Show @Shenzhen 2026.

    Olloni Robot AI Peliharaan

    Konsep yang diusung OlloNi cukup unik. Robot kecil ini dirancang memiliki memori, kepribadian, hingga kemampuan memahami emosi pengguna. Menurut Lyn, inti utama OlloNi hanyalah satu: selalu hadir menemani pengguna.

    “Dia mempelajari kebiasaan Anda, mengingat wajah Anda, merespons emosi Anda, menangkap momen yang mungkin terlewat, lalu menghubungkan Anda dengan keluarga,” katanya.

    Tiga Teknologi Utama OlloNi

    Lyn menjelaskan ada tiga teknologi utama yang menjadi fondasi OlloNi. Pertama adalah Emotional Radar, sistem yang memungkinkan robot memahami perasaan pengguna melalui kombinasi sensor, pola interaksi, dan konteks perilaku. Teknologi ini membuat OlloNi mampu memberikan respons emosional yang terasa lebih natural.

    Teknologi kedua adalah Long-Term Memory System. Sistem ini memungkinkan OlloNi mempelajari pola kebiasaan pengguna, memahami preferensi keluarga, hingga menyimpan berbagai momen penting yang terjadi sehari-hari. “Semakin lama bersama OlloNi, semakin baik ia memahami Anda,” ujar Lyn.

    Sementara teknologi ketiga disebut sebagai Cyber Pet Evolution. Ini menjadi konsep yang membuat setiap OlloNi diklaim akan berkembang secara berbeda tergantung keluarga yang merawatnya. “Setiap percakapan, kebiasaan kecil, dan momen bersama akan membentuk karakter OlloNi. Tidak ada dua OlloNi yang benar-benar sama karena setiap keluarga unik,” lanjutnya.

    Konsep tersebut membuat OlloNi terasa seperti perpaduan antara Tamagotchi modern, AI companion, dan robot interaktif.

    Desain Unik yang Berbeda

    OlloNi memang sengaja tidak dibuat menyerupai manusia atau hewan tertentu. Perusahaan tersebut menilai sebagian besar robot rumah saat ini terlalu fokus menjadi humanoid atau meniru anjing dan kucing. OlloNi justru diperkenalkan sebagai “spesies cyber-life baru” yang dirancang nyaman hidup berdampingan dengan manusia.

    Secara desain, OlloNi tampil dengan mata digital ekspresif, sayap berbulu lembut, serta inti berbentuk hati yang menyala merah. Menariknya, bagian “hati” tersebut bukan sekadar ornamen karena menjadi pusat sistem memori robot. Sementara tanduk di bagian kepala memiliki fungsi kamera, sensor emosi, hingga tombol darurat untuk mute dan emergency stop.

    Olloni Robot AI

    Ollobot menyebut filosofi mereka sebagai “enough-smart is the real smart for a cyber-pet”. Artinya, OlloNi sengaja tidak dibuat terlalu pintar layaknya AI superintelligence karena tujuan utamanya adalah companionship atau hubungan emosional.

    Selain itu, Ollobot menyebut cyber-pet hadir untuk menjawab kebutuhan companionship di era modern. Perusahaan menilai banyak orang kini sulit memelihara hewan asli karena keterbatasan waktu, biaya, maupun tempat tinggal.

    OlloNi pun diposisikan sebagai alternatif “low-burden cyber companion” alias teman digital yang tidak merepotkan. Robot ini diklaim bisa bermain dengan anak-anak, memahami suasana hati pengguna, hingga merekam momen keluarga menggunakan kamera internalnya.

    “Kami bukan di sini untuk menggantikan hewan peliharaan asli. Kami hanya mengisi celah yang selama ini terabaikan,” ujar Lyn.

    Peluncuran Melalui Kickstarter

    Ollobot sudah memamerkan OlloNi di CES 2026 Las Vegas berlanjut di GCS. Kehadiran robot imut ini diklaim mendapat respons pengunjung cukup besar. OlloNi disebut berhasil menarik perhatian karena tampil “canggung tapi menggemaskan” di tengah dominasi robot industri dan AI serius lainnya.

    Lyn memastikan OlloNi akan resmi masuk Kickstarter pada musim panas tahun ini. Menurutnya, tujuan utama Ollobot bukan bersaing dengan gadget lain, melainkan mendefinisikan ulang arti AI di dalam keluarga.

    “Kami tidak hadir untuk menggantikan perangkat lain. Kami hanya ingin mendefinisikan ulang apa arti AI sebagai bagian dari keluarga,” pungkas Lyn.

    Olloni Robot

    Kehadiran OlloNi menjadi angin segar di tengah maraknya pengembangan Robot Humanoid Phantom yang digunakan untuk keperluan militer. Sementara itu, Robot Anjing Boston Dynamics yang dipakai untuk patroli keamanan juga menjadi perbincangan hangat.

    Dengan pendekatan yang berbeda ini, OlloNi menawarkan alternatif yang lebih personal dan emosional dalam interaksi manusia dengan robot. Bagi keluarga yang mencari teman digital yang bisa memahami perasaan dan tumbuh bersama, OlloNi bisa menjadi pilihan menarik.

    Implikasinya, pasar robot konsumen tidak lagi hanya didominasi oleh perangkat fungsional seperti vacuum cleaner atau speaker pintar. Kini, dimensi emosional mulai menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan teknologi AI di rumah tangga.

  • Indonesia Kurang Serap Pajak dari Raksasa Teknologi Global

    Indonesia Kurang Serap Pajak dari Raksasa Teknologi Global

    JBNews.id — Indonesia dinilai belum optimal dalam menyerap kewajiban perpajakan dari perusahaan over-the-top (OTT) global, meskipun memiliki pasar digital yang besar dan terus bertumbuh. Ketimpangan kontribusi antara raksasa teknologi global dan pelaku usaha lokal ini menjadi sorotan berbagai kalangan, yang mendorong pemerintah untuk segera memperkuat regulasi demi menciptakan keadilan fiskal dan kedaulatan digital nasional.

    Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan hukum untuk mengenakan kewajiban perpajakan kepada perusahaan digital yang memperoleh manfaat ekonomi signifikan dari pasar domestik, meskipun tidak memiliki kantor fisik di Indonesia. “Kita punya preseden di Undang-Undang Cipta Kerja dimana ada pasal terkait dengan significant economic presence. Jadi meskipun dia tidak punya kantor fisik di Indonesia, kalau mempunyai aktivitas yang signifikan di Indonesia, kita punya hak untuk menerapkan pajak termasuk PPh badan,” ujar Huda dikutip dari pernyataan tertulis, Rabu (3/6/2026).

    Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan transparansi dan validasi data dalam mekanisme perpajakan digital yang sudah berjalan saat ini. “Hingga saat ini belum ada mekanisme bahwa kita memvalidasi yang disetorkan Netflix itu berdasarkan data subscriber yang benar atau tidak. Sampai sekarang itu belum ada,” kata Huda. Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai OTT tidak semata-mata berkaitan dengan penerimaan negara. “Kita harapkan ada keadilan fiskal ketika perusahaan OTT global pendapatannya signifikan dan sustain, tetapi pelaku industri di dalam negeri termasuk ekonomi kreatif tidak mendapatkan fair share yang optimal. Kondisi ini harus diregulasi oleh pemerintah demi pemerataan pembangunan dan peningkatan kontribusi industri ke negara,” tuturnya.

    Senada, Ketua Kelompok Fraksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menekankan bahwa aturan yang diterapkan Indonesia harus berlaku universal kepada seluruh platform global tanpa membedakan asal negaranya. “Perusahaan global digital, baik dari Arab, China, Amerika, kalau masuk Indonesia harus ikut aturan Indonesia, berarti harus membayar pajak. Jangan hanya mengambil keuntungan saja dari Indonesia,” tegas Harris.

    Disampaikan Harris, selama ini terdapat ketimpangan yang cukup besar antara pelaku usaha lokal dan platform digital global. Pelaku usaha nasional diwajibkan membayar pajak, mematuhi berbagai regulasi, membangun infrastruktur, serta menciptakan lapangan kerja, sementara sebagian platform global hanya berkontribusi terbatas melalui mekanisme PPN yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. “Ini tidak adil. Kalau mereka ambil keuntungan dari rakyat Indonesia, ya mereka juga harus bayar keadilan untuk Indonesia,” ucapnya.

    Ia juga menilai Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menerapkan kebijakan tersebut. Harris berpandangan bahwa Indonesia punya nilai tawar yang cukup untuk mengatasi persoalan tersebut, terutama kepada perusahaan teknologi global yang beroperasi di Tanah Air. Selain aspek perpajakan, Harris menilai isu kedaulatan digital juga perlu mendapat perhatian lebih besar, termasuk melalui penguatan kebijakan lokalisasi data.

    Sementara itu, Ketua Tim Ekonomi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Reza Adityan, menilai tujuan utama kebijakan digital seharusnya adalah menciptakan level playing field antara pelaku lokal dan global. Ia mengatakan pengembangan kebijakan digital harus melihat keseluruhan ekosistem, termasuk kreator, rumah produksi, bioskop, dan pelaku industri kreatif lainnya. “Jadi menurut kami sekalian saja ekosistemnya dibuat luas,” katanya. Reza menambahkan bahwa lokalisasi data menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat pengawasan, transparansi, dan tata kelola industri digital nasional.

    Berbagai usulan tersebut mengemuka dalam Diseminasi Hasil Studi Tata Kelola Industri Over the Top (OTT) di Indonesia yang diselenggarakan Center of Economic and Law Studies (Celios) di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, DPR, akademisi, dan lembaga riset untuk membahas berbagai opsi kebijakan dalam mendorong kontribusi industri OTT terhadap perekonomian nasional, penerimaan negara, serta penguatan kedaulatan digital Indonesia.

    Ketimpangan kontribusi ini menjadi isu krusial di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat. Pemerintah didorong untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk dengan memanfaatkan Harga Terbaru dari regulasi yang ada, guna memastikan bahwa setiap perusahaan yang menikmati keuntungan dari pasar Indonesia memberikan kontribusi yang adil. Implikasinya bagi pembaca adalah bahwa kebijakan ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara yang dapat digunakan untuk pembangunan, serta menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat antara pelaku usaha lokal dan global.

    Dengan pasar digital yang bernilai triliunan rupiah, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menuntut keadilan. Langkah tegas pemerintah dalam meregulasi Sampah Antariksa mungkin tidak relevan, namun regulasi terhadap platform digital adalah keniscayaan. Tanpa regulasi yang kuat, Indonesia dikhawatirkan akan terus kehilangan potensi penerimaan yang signifikan dari sektor digital yang justru menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

    Ke depannya, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek perpajakan, tetapi juga memperkuat aspek kedaulatan digital melalui lokalisasi data dan pengawasan yang ketat. Langkah ini akan memastikan bahwa data warga negara Indonesia tidak dimanfaatkan secara sepihak oleh perusahaan global tanpa adanya transparansi dan manfaat timbal balik yang jelas bagi negara.

    Forum yang digelar Celios ini menjadi momentum penting untuk mendorong percepatan kebijakan yang adil dan berkelanjutan di sektor digital. Dengan sinergi antara pemerintah, DPR, akademisi, dan pelaku industri, Indonesia diharapkan dapat segera mewujudkan tata kelola industri OTT yang lebih baik, yang tidak hanya menguntungkan perusahaan global, tetapi juga memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian dan kedaulatan digital nasional.

  • Wisata Studi Robot Humanoid Jadi Tren Baru Pendidikan di China

    Wisata Studi Robot Humanoid Jadi Tren Baru Pendidikan di China

    JBNews.id, Beijing — Industri robot humanoid yang berkembang pesat di China tidak hanya menjadi hasil penting dari strategi pembangunan berbasis inovasi pemerintah, tetapi juga memicu tren baru di kalangan anak muda: wisata studi robot humanoid. Program-program ini dengan cepat menjadi pilihan baru yang menarik untuk pembelajaran di luar kelas, mengubah pola pendidikan dari ruang kelas pasif menjadi interaksi langsung dengan teknologi industri.

    Wisata Studi Dalam Praktik Beijing berada di garis depan tren tersebut. Pada 16 Mei, Distrik Shijingshan meluncurkan program wisata studi teknologi di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid setempat, yang memadukan unsur budaya, pariwisata, teknologi, industri, dan kreativitas untuk menghadirkan pengalaman edukatif yang imersif. Pusat pelatihan tersebut merupakan fasilitas terbesar dari jenisnya di China dengan luas lebih dari 10.000 meter persegi dan menghasilkan lebih dari 6 juta sampel data setiap tahun, mengundang para pelajar untuk menjadi “pelatih magang” dengan terlibat dalam pengumpulan data serta pengendalian robot secara langsung.

    Selain di ibu kota China, pusat-pusat teknologi lainnya juga menawarkan pengalaman yang khas. Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang di China timur sekaligus rumah bagi Unitree Robotics, perusahaan robotika terkemuka yang dikenal dengan robot humanoid dan robot berkaki empatnya, para pelajar menjelajahi teknologi dalam lingkungan yang kreatif. Pusat pengalaman eksplorasi robot berwujud di sebuah taman laut setempat memadukan pameran bertema kelautan dengan lebih dari 300 robot canggih, yang memungkinkan para pelajar mengoperasikan robot anjing, berkompetisi dalam sepak bola robot, serta berinteraksi dengan pendamping berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Program Mendalam di Shenzhen

    Di Shenzhen, pusat inovasi nasional sekaligus basis EngineAI Robotics, perusahaan terdepan dalam pengembangan robot humanoid full-stack mulai dari desain sendi hingga algoritma inti, program wisata studi berkembang ke tingkat yang lebih mendalam. Inisiatif bertajuk “Perhatian Anak-Anak Tertuju pada Manufaktur Pintar” (Children’s Eyes on Smart Manufacturing) di kota tersebut memilih 80 lokasi wisata industri mutakhir yang mencakup sektor AI, robotika, dan semikonduktor.

    Kemitraan perintis antara STEMHUB, platform inovatif lokal yang berfokus pada penelitian dan praktik pendidikan STEM mutakhir, dan EngineAI Robotics telah memperkenalkan model robot humanoid SA01 milik EngineAI ke ruang-ruang kelas tingkat K-12, disertai pengembangan bersama kursus STEM yang memungkinkan para siswa memprogram serta berinteraksi langsung dengan robot humanoid.

    Booming Robot Humanoid di China

    Berbagai kegiatan edukatif yang dinamis tersebut tidak muncul begitu saja. Semua itu merupakan hasil langsung dari sektor robotika humanoid China yang berkembang semakin matang, sebuah industri yang kini tengah berkembang dengan laju yang sangat pesat. Menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China, badan perencana ekonomi tertinggi negara tersebut, sektor kecerdasan berwujud yang dicontohkan oleh robot humanoid tumbuh dengan laju tahunan lebih dari 50 persen dan diproyeksikan mencapai nilai pasar lebih dari 1 triliun yuan (1 yuan = Rp2.642) atau sekitar 146,66 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.883) pada 2035.

    Data resmi menunjukkan bahwa hingga akhir 2025, China memiliki lebih dari 150 perusahaan robot humanoid. Pemerintah China telah mengangkat kecerdasan berwujud sebagai prioritas strategis nasional, dengan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk mempercepat terobosan dalam teknologi inti dan menetapkan standar industri.

    Siswa menyaksikan pertunjukan robot anjing cerdas di Meishan, Sichuan

    Namun, industri yang didukung oleh inovasi mutakhir tidak dapat berkembang tanpa tenaga kerja yang terlatih untuk masa depan, yang telah mendorong pendidikan iptek ke puncak agenda kebijakan nasional. Pada November 2025, Kementerian Pendidikan China bersama enam departemen pemerintah lainnya mengeluarkan sebuah pemberitahuan tentang penguatan pendidikan iptek di sekolah dasar dan menengah, yang menjadi dokumen kebijakan pertama yang secara resmi memperkenalkan konsep pendidikan iptek dalam sistem pendidikan dasar China.

    Dokumen tersebut dengan jelas menyatakan bahwa penguatan pendidikan iptek di sekolah dasar dan menengah merupakan jalur penting untuk mendukung strategi pembangunan nasional yang didorong oleh inovasi serta membina talenta inovasi iptek masa depan. Dokumen tersebut juga menetapkan target yang jelas: pada 2030, China bertujuan membangun sebuah sistem pendidikan iptek yang komprehensif. Pada 2035, ekosistem pendidikan iptek yang lengkap akan terbentuk, dengan sistem pendukung sumber daya sosial terus ditingkatkan serta pembelajaran berbasis proyek, berbasis inkuiri, dan interdisipliner diadopsi secara luas.

    Dampak Langsung bagi Pelajar

    Dengan pemerintah mendorong sumber daya sosial untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek dan sektor swasta berinvestasi besar-besaran dalam robotika, wisata studi robot humanoid ini berada pada posisi yang tepat untuk menjadi program unggulan dalam lanskap pendidikan generasi muda di China. Di Shanghai, anak-anak muda dari kelompok minat iptek setempat mengunjungi pusat inkubator inovasi robot humanoid kota tersebut pada awal Mei lalu. Di sana, mereka berjabat tangan dengan robot humanoid, bermain “batu-kertas-gunting” melawan tangan robot, menyelesaikan tantangan pelacakan visual, serta menyaksikan robot anjing cerdas berlari dan merespons perintah di luar ruangan.

    Bagi Zhang Zhenkun, siswa kelas lima, wisata studi robot humanoid membuat apa yang selama ini hanya dia lihat di televisi menjadi kenyataan. Setelah berjabat tangan dengan robot humanoid Unitree, model yang sama dengan yang melenggang di atas panggung peragaan busana pada Shanghai Fashion Week beberapa pekan sebelumnya, Zhang hampir tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. “Robot ini benar-benar canggih. Desainnya dekat dengan kehidupan sehari-hari namun sekaligus melampauinya,” ujar Zhang. “Saya pasti akan menceritakan hal ini kepada teman-teman saya besok.”

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana integrasi antara industri robotika dan pendidikan di China menciptakan model pembelajaran baru yang relevan dengan kebutuhan era digital. Bagi para pengamat pendidikan dan pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi referensi berharga. Sebagai perbandingan, Penemuan Arkeologi yang mengubah sejarah juga menunjukkan bagaimana inovasi bisa lahir dari berbagai bidang. Sementara itu, kesiapan infrastruktur menjadi kunci, seperti yang terlihat dalam persiapan Porprov Banten VII 2026 yang membutuhkan koordinasi matang.

    Implikasi faktual dari tren ini sangat jelas: China sedang membangun fondasi sumber daya manusia yang siap menghadapi era kecerdasan buatan dan robotika. Dengan target sistem pendidikan iptek yang komprehensif pada 2030 dan ekosistem lengkap pada 2035, investasi di sektor ini tidak hanya akan menghasilkan tenaga kerja terampil tetapi juga memperkuat posisi China sebagai pemimpin global dalam teknologi robot humanoid.

  • AS Gunakan Madis untuk Lumpuhkan Drone Iran Tanpa Rudal Mahal

    AS Gunakan Madis untuk Lumpuhkan Drone Iran Tanpa Rudal Mahal

    JBNews.id — Amerika Serikat mulai menerapkan taktik baru untuk melumpuhkan drone kamikaze Iran tanpa harus mengandalkan rudal mahal, melalui sistem pertahanan udara bergerak bernama Marine Air Defense Integrated System atau Madis. Langkah ini muncul sebagai respons terhadap gelombang serangan drone Shahed buatan Iran yang membanjiri pertahanan udara AS di Timur Tengah, memaksa penggunaan rudal dengan biaya produksi hingga sepuluh kali lipat lebih mahal.

    Bagi Korps Marinir AS, Madis menjadi bagian penting dari solusi. Sistem ini terdiri dari dua unit Joint Light Tactical Vehicles (JLTV), kendaraan taktis penerus Humvee, yang diproduksi oleh Kongsberg Defence & Aerospace. Satu kendaraan dilengkapi radar untuk penargetan objek terbang seperti drone, sementara sistemnya juga memiliki kemampuan perang elektronik seperti pengacauan sinyal. Platform Madis mengintegrasikan serangkaian sensor dan senjata pada sasis JLTV, memungkinkan pertahanan udara bergerak yang lebih fleksibel di medan operasi.

    Dalam konflik di Timur Tengah, AS dan negara-negara Teluk selama ini menggunakan helikopter serta pesawat yang dilengkapi senapan untuk menembak drone Iran. Namun, mereka masih bergantung pada rudal udara ke udara yang mahal dan sulit diproduksi, seperti AIM-120 yang harganya mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp 16 miliar per unit, menurut laporan Center for Strategic and International Studies. Gagasan utama Madis adalah memberikan opsi bagi komandan di lapangan—baik senapan, rudal, maupun perang elektronik—sehingga mereka dapat memilih cara terbaik melindungi pasukan tanpa menguras anggaran.

    Senapan Rantai XM914 sebagai Andalan

    Madis menggunakan senapan rantai XM914 30mm buatan Northrop Grumman untuk serangan tembakan cepat terhadap drone dan ancaman ketinggian rendah lainnya. Peluru-peluru yang digunakan dirancang khusus untuk meningkatkan efektivitas terhadap target udara berukuran kecil dan bergerak cepat, yang umumnya sulit diserang dengan sistem pertahanan udara tradisional. Selain senapan mesin, Madis juga memiliki opsi rudal Stinger untuk hantaman yang lebih besar jika diperlukan.

    Meskipun jauh lebih murah dibandingkan rudal, para produsen pertahanan AS masih menghadapi tantangan dalam memproduksi peluru senapan tersebut dalam jumlah memadai. “Ada begitu banyak jenis drone di luar sana, Anda tidak tahu persis apa yang akan Anda hadapi. Anda hanya bisa berharap data intelijen akurat, lalu Anda maju ke medan dengan semua persenjataan yang Anda miliki, sambil berharap yang terbaik,” kata Sersan Staf Konie dari militer AS yang dikutip detikINET dari WSJ.

    Implikasi bagi Pertahanan Global

    Penggunaan Madis menandai pergeseran strategi pertahanan udara AS dari pendekatan berbasis rudal mahal menuju solusi yang lebih ekonomis dan adaptif. Dengan biaya per rudal AIM-120 yang mencapai Rp 16 miliar, setiap drone Shahed yang berhasil ditembak jatuh menggunakan senapan XM914 dapat menghemat anggaran pertahanan secara signifikan. Bagi industri pertahanan global, langkah ini mendorong pengembangan sistem serupa yang mengintegrasikan perang elektronik dan persenjataan konvensional untuk menghadapi ancaman drone yang semakin masif.

    Kemampuan Madis untuk beroperasi secara mobile dan mengintegrasikan berbagai jenis sensor serta senjata dalam satu platform menjadikannya solusi yang relevan tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi negara-negara sekutu yang menghadapi ancaman drone murah namun mematikan. Sistem ini menawarkan fleksibilitas yang sebelumnya tidak dimiliki oleh sistem pertahanan udara tradisional yang cenderung statis dan mahal.

    Dalam konteks yang lebih luas, persaingan di kancah teknologi pertahanan juga terjadi di sektor lain. Misalnya, di bidang teknologi sipil, Microsoft Build 2026 baru saja meluncurkan inovasi seperti Surface AI PC dan chip quantum baru yang menandai kemajuan signifikan di industri komputasi. Sementara itu, di sektor pendidikan dan industri, Dedi Mulyadi targetkan 100 siswa beasiswa industri sebagai upaya menciptakan kelas menengah baru di Jawa Barat.

    Bagi pembaca, implikasi dari pengembangan Madis sangat jelas: biaya perang melawan drone semakin terjangkau, namun tetap efektif. Ini berarti perlindungan terhadap aset militer dan personel dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan anggaran pertahanan yang besar. Di masa depan, sistem serupa kemungkinan akan diadopsi oleh lebih banyak negara untuk menghadapi ancaman drone yang terus berkembang.

    Tantangan terbesar tetap pada produksi amunisi yang memadai dan akurasi data intelijen untuk mengidentifikasi jenis drone yang akan dihadapi. Namun, dengan integrasi radar, perang elektronik, dan persenjataan dalam satu platform mobile, Madis menawarkan solusi yang lebih adaptif dibandingkan pendekatan konvensional. Dunia pertahanan kini menyaksikan perubahan paradigma: dari rudal mahal menuju senjata cerdas yang lebih ekonomis namun tetap mematikan.

  • Robot Humanoid Phantom MK-1 Dikerahkan ke Medan Perang Ukraina

    Robot Humanoid Phantom MK-1 Dikerahkan ke Medan Perang Ukraina

    JBNews.id – Foundation Future Industries, startup robotika asal San Francisco, mencatat sejarah dengan mengirimkan dua unit robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina. Langkah ini menandai pengerahan perdana robot berbentuk manusia di zona konflik aktif, membawa era baru dalam peperangan modern.

    CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah menciptakan mesin yang mampu mengambil alih peran berbahaya dari manusia, khususnya untuk misi-misi di zona konflik. Kehadiran robot ini menjadi sorotan global, mengingat potensinya untuk mengubah lanskap pertempuran di masa depan.

    Meski demikian, berdasarkan uji coba di Ukraina, kemampuan Phantom MK-1 saat ini masih terbatas pada tugas logistik dasar. Robot ini difungsikan untuk mengambil dan mengantar pasokan, bukan sebagai “mesin pembunuh” otonom seperti yang digambarkan dalam film fiksi ilmiah. Keterbatasan teknis yang ada membuatnya belum bisa diandalkan untuk misi tempur skala penuh.

    Keterbatasan Teknis Phantom MK-1

    Phantom MK-1 masih memiliki sejumlah kekurangan yang signifikan. Kapasitas angkut maksimal robot ini hanya sekitar 20 kilogram, jauh dari cukup untuk membawa perlengkapan tempur berat. Selain itu, robot ini belum mengantongi sertifikasi tahan air, yang berarti operasinya sangat rentan terhadap kondisi cuaca buruk. Daya tahan baterai yang kurang memadai juga menjadi kendala utama untuk pengerahan dalam skala besar dan waktu yang lama.

    Namun, perusahaan tidak tinggal diam. Foundation berencana untuk mengirimkan generasi penerusnya, Phantom 2, ke Ukraina pada tahun ini juga. Model terbaru ini diklaim memiliki “kemampuan super” dengan kapasitas muatan dua kali lipat lebih besar dari pendahulunya, yang diharapkan dapat mengatasi keterbatasan teknis yang ada.

    Perkembangan teknologi militer seperti ini seringkali memicu perdebatan etis. Sebelumnya, penggunaan Robot Anjing untuk patroli keamanan di ajang olahraga internasional juga telah memicu kontroversi serupa.

    Ambisius Garis Depan Militer AS

    Ambisi militer Foundation telah melampaui sekadar tahap perencanaan. Perusahaan dilaporkan telah mengantongi kontrak penelitian pemerintah Amerika Serikat senilai USD 24 juta (sekitar Rp 390 miliar). Kontrak ini melibatkan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS untuk menguji kelayakan robot dalam berbagai tugas, termasuk inspeksi area berbahaya, logistik dan suplai amunisi, hingga penanganan senjata.

    Pathak menargetkan agar robot-robot produksinya siap diuji di garis depan bersama militer AS dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan. Ia juga berencana meningkatkan skala produksinya hingga ribuan unit pada tahun ini, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memasuki industri pertahanan global.

    Di balik inovasi canggihnya, perusahaan ini juga tengah disorot secara politik. Kehadiran Eric Trump yang baru-baru ini bergabung sebagai Kepala Penasihat Strategi perusahaan telah memicu tuduhan korupsi dan kritik tajam dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren. Isu ini menambah dimensi kompleks pada pengembangan teknologi militer yang kontroversial.

    Bayang-bayang Perang Otonom di Masa Depan

    AS bukan satu-satunya negara yang gencar menguji aplikasi militer dari robot humanoid. China, yang saat ini diyakini lebih unggul dalam skala manufaktur, efisiensi biaya, dan kecepatan komersialisasi, juga telah merilis sejumlah laporan terkait potensi mesin humanoid untuk peperangan. Bahkan, China telah mengambil langkah maju dengan mewajibkan robot humanoid untuk memiliki identitas resmi, seperti yang diatur dalam kebijakan KTP Nasional.

    Tren ini memicu kekhawatiran global yang semakin membesar. Dengan hadirnya agen AI yang mendorong senjata otonom penuh—seperti kapal perang nirawak hingga jet tempur yang dikendalikan AI—potensi penghapusan manusia dari rantai keputusan mematikan (kill-chain) menjadi isu etis yang sangat serius.

    Generasi pertama robot humanoid mungkin saat ini hanya terlihat tertatih-tatih di medan perang sambil membawa ransum dan amunisi. Namun, arah perkembangan teknologi ini di masa depan menjadi peringatan yang patut diwaspadai. Penggunaan robot dalam konflik bersenjata bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan realitas yang tengah berlangsung.

    Implikasinya bagi pembaca sangat jelas: dunia sedang menyaksikan lahirnya era baru dalam peperangan. Kemampuan untuk mengambil keputusan hidup dan mati secara perlahan bergeser dari tangan manusia ke mesin. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang masa depan etika perang dan kemanusiaan itu sendiri.

    Sementara itu, isu lingkungan global seperti ancaman Sampah Antariksa yang mengancam Bumi juga menjadi pengingat bahwa teknologi, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat membawa dampak negatif yang luas.

  • Robot Anjing Tempur Taiwan: Teknologi Perang Masa Depan

    Robot Anjing Tempur Taiwan: Teknologi Perang Masa Depan

    JBNews.id, Jakarta — Taiwan memamerkan robot anjing tempur canggih buatan Ghost Robotics, Amerika Serikat, di fasilitas riset militernya. Teknologi ini dirancang untuk mendukung operasi militer masa depan dengan kemampuan bergerak di medan berisiko tinggi.

    Demonstrasi yang digelar di Taipei ini memperlihatkan robot berkaki empat yang mampu berjalan, berlari, bermanuver, dan menjaga keseimbangan di permukaan tidak rata. Kemampuan tersebut menjadikannya aset potensial untuk misi pengintaian, patroli, dan pemantauan wilayah.

    Produk dari Ghost Robotics ini merupakan salah satu pemasok utama robot anjing untuk kebutuhan militer dan keamanan global. Taiwan sendiri terus memperkuat pertahanannya di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks.

    Para pengamat menilai robot darat berkaki empat ini dapat mengurangi risiko terhadap personel militer dalam situasi berbahaya. Teknologi ini dipandang sebagai elemen penting dalam peperangan modern, melengkapi dominasi kendaraan tanpa awak dan drone sebelumnya.

    Kemunculan robot ini menunjukkan bahwa era teknologi perang masa depan bukan lagi imajinasi, melainkan mulai hadir di hadapan publik. Taiwan berupaya meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai tantangan melalui pengembangan dan pengenalan teknologi baru.

    Dalam demonstrasi tersebut, anjing robot memperlihatkan kemampuannya bergerak di berbagai medan dengan stabil dan lincah. Robot mampu berjalan, berlari, bermanuver, serta menjaga keseimbangan di permukaan yang tidak rata. Kemampuan tersebut menjadikannya salah satu teknologi yang dinilai cocok untuk mendukung operasi di lingkungan berisiko tinggi.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Taiwan sendiri terus berupaya memperkuat kemampuan pertahanannya di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks. Pengembangan dan pengenalan teknologi baru, termasuk robot militer, menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

    Kemunculan anjing robot tempur ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi militer terus berkembang pesat. Jika sebelumnya kendaraan tanpa awak dan drone mendominasi inovasi pertahanan, kini robot darat berkaki empat mulai dipandang sebagai elemen penting dalam peperangan modern.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Para pengamat menilai robot berkaki empat seperti ini dapat digunakan untuk berbagai misi militer, mulai dari pengintaian, patroli, pemantauan wilayah, hingga membantu pasukan di daerah yang sulit dijangkau manusia. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi risiko terhadap personel militer dalam situasi berbahaya.

    Demonstrasi di Taipei menjadi salah satu bukti bahwa era teknologi perang masa depan bukan lagi sekadar imajinasi, melainkan mulai hadir di hadapan publik.

    Perkembangan ini sejalan dengan tren global adopsi robot militer oleh berbagai negara. Fenomena serupa juga terlihat di ajang olahraga internasional, seperti Robot Anjing Boston Dynamics yang memicu kontroversi saat dipakai patroli Piala Dunia 2026. Sementara itu, China mengambil langkah berbeda dengan wajibkan robot humanoid miliki KTP Nasional.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Bagi pembaca, implikasi dari pengembangan ini jelas: teknologi robot militer semakin matang dan siap diimplementasikan. Ini berarti potensi perubahan signifikan dalam strategi pertahanan global, di mana risiko terhadap personel dapat diminimalkan dengan kehadiran robot darat yang andal.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Pameran ini juga menjadi sinyal bagi negara-negara lain untuk mulai mengadopsi teknologi serupa guna menjaga keamanan dan kesiapan militer mereka. Taiwan, dengan langkah ini, menunjukkan komitmennya dalam memanfaatkan inovasi terkini untuk pertahanan.

    Robot Anjing Tempur Taiwan

    Dengan demikian, robot anjing tempur bukan sekadar alat, melainkan representasi dari masa depan pertahanan yang lebih cerdas, aman, dan efisien.

  • Microsoft Build 2026: Surface AI PC, Scout, dan Chip Quantum Baru

    Microsoft Build 2026: Surface AI PC, Scout, dan Chip Quantum Baru

    JBNews.id — Microsoft resmi membuka konferensi Build 2026 dengan serangkaian pengumuman besar, mulai dari perangkat Surface baru berbasis AI, asisten pribadi yang selalu aktif, hingga chip quantum generasi terbaru. CEO Satya Nadella memimpin keynote yang sarat dengan inovasi di bidang kecerdasan buatan dan komputasi.

    Salah satu sorotan utama adalah kehadiran Surface RTX Spark Dev Box, sebuah PC mini yang dirancang khusus untuk pengembang AI. Perangkat ini dibekali chip Spark RTX buatan Nvidia berbasis arsitektur Arm dan 128GB memori terpadu, menjadikannya alternatif bagi pengembang yang ingin menjalankan model AI secara lokal. Perangkat ini juga telah dipasangi aplikasi pra-instal seperti Visual Studio Code dan GitHub Copilot, serta versi Windows 11 Pro yang dikonfigurasi khusus dengan mode gelap sebagai bawaan, taskbar yang disederhanakan, dan tanpa widget.

    Microsoft belum mengumumkan harga atau spesifikasi lengkap Surface RTX Spark Dev Box, namun perangkat ini dijadwalkan tersedia di Amerika Serikat pada tahun ini. Langkah ini merupakan respons langsung atas pembatalan perangkat dev kit milik Qualcomm, sekaligus menegaskan komitmen Microsoft dalam menyediakan perangkat keras khusus untuk ekosistem AI.

    Selain perangkat keras, Microsoft juga memperkenalkan sejumlah pembaruan pada sistem operasi Windows yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pengembang. Fitur baru seperti Coreutils, yang oleh Microsoft disebut sebagai “utilitas baris perintah ala Linux yang berjalan secara native” di Windows 11, menjadi salah satu andalan. Tidak hanya itu, Microsoft juga meluncurkan kemampuan untuk membuat, menjalankan, dan berinteraksi dengan kontainer Linux melalui Windows Subsystem for Linux (WSL). Sebuah Intelligent Terminal baru juga diperkenalkan untuk memberikan konteks kepada agen AI pilihan pengembang.

    Dalam sesi keynote, Microsoft juga memberikan gambaran sekilas tentang Project Solara, sebuah sistem operasi berbasis Android yang dirancang untuk menjalankan agen AI di berbagai perangkat. Microsoft bekerja sama dengan Qualcomm dan MediaTek dalam pengembangan sistem ini. Solara diharapkan dapat berfungsi sebagai pendamping PC atau memfasilitasi perpindahan tugas antar perangkat. Dalam demonstrasi, Microsoft menampilkan beberapa perangkat contoh yang mungkin menjalankan teknologi ini, termasuk hub desktop dan lencana digital.

    Salah satu pengumuman yang paling menarik perhatian adalah peluncuran Scout, asisten yang selalu aktif yang dibangun di atas platform OpenClaw. Scout bekerja dengan aplikasi Microsoft 365 termasuk Outlook, OneDrive, dan Microsoft Teams. Asisten ini dirancang untuk melakukan tugas di latar belakang, membantu bisnis dalam mengatur kalender, mengelola pelaporan biaya, menulis email, dan banyak lagi. Scout merupakan bagian dari rangkaian agen “Autopilot” yang lebih luas yang direncanakan Microsoft, di mana setiap agen akan memiliki “identitas” sendiri. Saat ini, Scout diluncurkan dalam pratinjau desktop untuk pelanggan Frontier di AS, dengan rencana perluasan ketersediaan di masa mendatang.

    Di bidang kecerdasan buatan, Microsoft memperkenalkan tujuh model AI baru, termasuk MAI-Thinking-1 yang disebut sebagai model penalaran pertama buatan Microsoft. Model ini memiliki 35 miliar parameter aktif dan jendela konteks 128K yang dirancang untuk “instruksi multi-langkah yang kompleks, penalaran konteks panjang, dan pembuatan kode.” Selain itu, Microsoft juga mengumumkan pembaruan di berbagai model yang berfokus pada gambar, suara, dan pembuatan kode, serta transkripsi.

    Untuk meningkatkan keamanan agen AI, Microsoft meluncurkan Microsoft Execution Containers (MXC). Fitur ini memungkinkan pengembang menetapkan batasan bagi agen AI tentang apa yang dapat mereka akses di perangkat. Microsoft juga meluncurkan aplikasi pendamping OpenClaw yang memungkinkan pengguna untuk menyiapkan agen sendiri atau terhubung dengan agen yang sudah ada, yang akan berjalan di lingkungan sandbox.

    Terakhir, Microsoft mengungkapkan chip komputasi quantum generasi terbaru yang disebut Majorana 2. Chip ini mengandung qubit — unit informasi dalam komputasi quantum — yang 1.000 kali lebih akurat dibandingkan generasi sebelumnya. Microsoft mengaitkan peningkatan kinerja ini dengan tumpukan material baru yang menggunakan timbal dan senyawa lainnya. Dengan perkembangan ini, Microsoft optimistis dapat mencapai targetnya untuk menciptakan komputer quantum yang praktis pada tahun 2029. Informasi lebih lanjut tentang chip ini dapat dibaca pada artikel Chip Quantum 1.000 Kali Lebih Andal.

    Seluruh rangkaian pengumuman di Build 2026 menunjukkan arah baru Microsoft yang semakin fokus pada integrasi AI di setiap lapisan produknya, dari perangkat keras hingga sistem operasi dan layanan cloud. Bagi pengembang dan profesional TI, ini adalah sinyal bahwa ekosistem Microsoft akan semakin bergantung pada kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan. Sementara itu, bagi pengguna umum, kehadiran Scout dan peningkatan pada Windows 11 menjanjikan pengalaman yang lebih personal dan efisien.

    Implikasi dari pengumuman ini sangat luas. Dengan kehadiran Surface RTX Spark Dev Box, Microsoft secara tidak langsung menantang dominasi perangkat keras AI dari pesaing. Sementara itu, Scout dan agen Autopilot lainnya dapat mengubah cara bisnis mengelola tugas administratif sehari-hari. Di sisi lain, kemajuan di bidang komputasi quantum melalui Majorana 2 membuka pintu bagi pemecahan masalah yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh komputer klasik. Bagi pelaku industri, ini adalah momen untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi era baru komputasi yang didorong oleh AI dan quantum.

    Microsoft Build 2026 telah menetapkan standar baru dalam inovasi teknologi. Dengan fokus pada pengembang, keamanan, dan kecerdasan buatan, perusahaan ini menunjukkan bahwa masa depan komputasi akan sangat berbeda dari apa yang kita kenal saat ini. Para pengembang dan pengguna teknologi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat dan Banten, perlu mencermati perkembangan ini karena akan berdampak pada cara mereka bekerja dan berinteraksi dengan teknologi dalam beberapa tahun ke depan.