Author: Hamzah Nurhamzah

  • Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman soal Keamanan ChatGPT

    Florida Gugat OpenAI dan Sam Altman soal Keamanan ChatGPT

    JBNews.id — Florida menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang mengajukan gugatan hukum terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman. Gugatan perdata yang diajukan Jaksa Agung Florida James Uthmeier menuduh perusahaan kecerdasan buatan itu mengutamakan pendapatan di atas keselamatan publik.

    Dalam gugatan yang pertama kali dilaporkan oleh NBC News, Florida menuntut hukuman dan perintah pengadilan untuk mengatur tindakan OpenAI di wilayah negara bagian tersebut. Selain gugatan perdata, Florida juga memiliki penyelidikan kriminal terpisah terhadap OpenAI yang masih berlangsung.

    Uthmeier secara khusus ingin meminta pertanggungjawaban pribadi Sam Altman atas kerugian yang diderita warga Florida. Ia menuduh Altman melakukan tindakan ceroboh dan disengaja sebagai pendiri dan CEO OpenAI, termasuk pengabaian total terhadap risiko terhadap kehidupan manusia akibat perilaku perusahaannya.

    “Rentetan kerugian ini didorong oleh pencarian tak pernah puas para tergugat untuk memenangkan perlombaan senjata AI dan mengumpulkan kekayaan besar, meskipun mengetahui bahaya ChatGPT,” tulis Florida dalam pengaduan resminya.

    Latar Belakang Gugatan

    Gugatan ini muncul setelah peristiwa penembakan massal mematikan di Florida State University yang menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya. Setelah serangan tersebut, terungkap bahwa pelaku sayap kanan ekstrem, Phoenix Ikner, telah berkonsultasi secara ekstensif dengan ChatGPT untuk merencanakan penembakan.

    Kasus serupa juga terjadi pada April tahun ini, di mana seorang tersangka yang terlibat dalam pembunuhan ganda di University of South Florida diduga merencanakan serangannya dengan bantuan chatbot AI populer tersebut.

    Illustration by Tag Hartman-Simkins / Futurism. Source: Tayfun Coskun / Anadolu via Getty Images; Shutterstock

    Dakwaan Terhadap OpenAI

    Florida menjatuhkan sederet tuntutan hukum kepada OpenAI, termasuk empat tuduhan praktik perdagangan yang menipu dan tidak adil, dua tuduhan kelalaian, dua tuduhan pelanggaran hukum tanggung jawab produk, satu tuduhan penipuan, dan satu tuduhan menyebabkan gangguan publik.

    Gugatan ini menandai eskalasi signifikan dalam pengawasan regulator terhadap industri kecerdasan buatan. Florida menjadi negara bagian pertama yang mengambil langkah hukum sejauh ini, membuka preseden baru bagi negara bagian lain untuk mengikuti jejak serupa.

    Implikasi dari gugatan ini bisa sangat luas. Jika pengadilan memenangkan Florida, OpenAI bisa menghadapi pembatasan operasi yang ketat di negara bagian tersebut, sementara Sam Altman secara pribadi bisa dikenai sanksi finansial yang besar.

    Kasus ini juga menyoroti perdebatan global tentang tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap penggunaan produk mereka oleh pihak ketiga. Florida berargumen bahwa OpenAI mengetahui potensi bahaya ChatGPT tetapi tetap meluncurkannya demi keuntungan.

    Hingga berita ini diturunkan, OpenAI belum memberikan pernyataan resmi terkait gugatan Florida. Sam Altman juga belum berkomentar secara pribadi mengenai tuntutan yang diajukan terhadapnya.

    Perkembangan kasus ini akan menjadi perhatian bagi industri AI global, termasuk di Indonesia, di mana regulasi kecerdasan buatan masih dalam tahap pembahasan.

  • Komunitas Reddit Lawan Harga Tiket Piala Dunia 2026

    Komunitas Reddit Lawan Harga Tiket Piala Dunia 2026

    JBNews.id — Harga tiket Piala Dunia 2026 yang mencapai rekor termahal mendorong terbentuknya gerakan perlawanan berbasis komunitas di platform Reddit. Subreddit r/WorldCup2026Tickets, yang memiliki lebih dari 140.000 anggota, bertransformasi dari forum pencari tiket biasa menjadi gerakan grassroots dengan infrastruktur tiket berbasis kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi secara real-time.

    FIFA menetapkan harga tiket laga penyisihan grup antara Aljazair dan Senegal di Levi’s Stadium, Santa Clara, sebesar USD 450 untuk posisi sudut lapangan. Namun di pasar sekunder resmi FIFA, harga tiket laga tersebut ambrol hingga di bawah USD 100 pada 17 Mei lalu. Momen itu dirayakan di forum Reddit sebagai kemenangan pertama komunitas melawan kebijakan harga FIFA.

    Gerakan ini mengadopsi strategi serupa fenomena GameStop 2021 di r/WallStreetBets. Anggota subreddit ramai-ramai memposting ajakan “jangan beli” (do not buy) dan meme “HOLD” dengan harapan harga tiket terus merosot. Budaya ini berkembang dari sekadar frustrasi harga menjadi perlawanan terkoordinasi terhadap kebijakan FIFA dan praktik calo.

    “Budaya ‘HOLD’ tumbuh secara signifikan,” ujar Luke, anggota r/WorldCup2026Tickets asal Chicago yang meminta nama belakangnya dirahasiakan. “Ini bermula dari frustrasi harga, tapi berevolusi menjadi perlawanan terkoordinasi terhadap kebijakan harga FIFA dan markup calo.”

    Kebijakan Tiket Kontroversial FIFA

    Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang menerapkan dynamic pricing dan daftar jual ulang tanpa batas. Satu tiket final pada 19 Juli bahkan dipatok harga USD 11,5 juta. FIFA, yang berstatus organisasi nirlaba, mengambil komisi 30 persen dari setiap transaksi jual ulang—dibagi rata antara pembeli dan penjual.

    Kebijakan ini menuai kritik luas. FIFA dituding menciptakan kelangkaan artifisial dengan sistem penjualan tiket yang tidak transparan, meneteskan inventaris secara bertahap, dan tidak menyediakan cara membandingkan harga secara langsung. Pada 27 Mei, jaksa agung New York dan New Jersey mengeluarkan subpoena kepada FIFA sebagai bagian dari penyelidikan praktik penjualan tiketnya.

    Ketidakpuasan ini tercermin dari masih tersedianya lebih dari 260.000 tiket—menurut data SeatSidekick—dengan waktu kurang dari sepekan sebelum turnamen dimulai.

    Lahirnya Alat Analisis Tiket Buatan Komunitas

    Menghadapi harga yang terus meroket hingga empat digit dolar, anggota Reddit memutuskan melawan dengan membangun alat analisis tiket gratis. Pada 18 April, Luke merilis SeatSidekick—situs yang dibangun hanya dalam lima hari menggunakan Claude Code. Dalam sebulan, situs itu menerima 178.000 pengunjung unik dan lebih dari satu juta pageview.

    SeatSidekick memindai backend situs tiket FIFA untuk menyediakan data ketersediaan kursi secara near-live, diurutkan berdasarkan harga, lengkap dengan data tren dan notifikasi potensi harga murah. Alat ini membantu pengguna menemukan tiket resmi FIFA dengan harga yang lebih terjangkau.

    Hasilnya nyata. Luke mencontohkan laga Perancis vs Senegal di New York yang mempertemukan bintang seperti Kylian Mbappé dan Sadio Mané. Harga masuk terendah laga itu turun 25 persen dalam dua pekan di bulan Mei, menjadi sekitar USD 450.

    “Orang-orang membagikan penurunan harga sebagai kemenangan dan mendorong yang lain untuk menunggu,” kata Luke. “Ini sudah menjadi bagian dukungan komunitas, bagian upaya melawan calo.”

    Forum ini juga digunakan untuk menyaring penipu. “Seseorang di Reddit memposting dua tiket dengan harga selangit, dan komentar berikutnya langsung bilang, ‘Eh, SeatSidekick menunjukkan bagian yang sama USD 500 lebih murah,’” tambah Luke. “Ini membantu mencegah calo memanfaatkan fans.”

    Namun, tidak semua penjual mendapat sambutan hangat. David Dirring, data scientist asal Atlanta yang juga membuat alat tiket, mengaku mendapat kecaman di subreddit karena membantu temannya menjual tiket lotere. “Jika postinganmu tidak anti-FIFA dengan cara tertentu, kamu tidak akan mendapat perhatian,” ujarnya.

    Pasar Gelap dan Kekuatan Komunitas

    Selain memposting rilis tiket terbaru dari FIFA, subreddit menciptakan pasar tiket di kanal WhatsApp untuk menghindari komisi 30 persen FIFA. Grup chat pertama mencapai batas 1.024 anggota, sehingga grup kedua harus dibuat. Moderator subreddit mengatakan transaksi terjadi hampir setiap jam.

    Coleman, moderator r/WorldCup2026Tickets yang bekerja di bidang keuangan perusahaan teknologi besar, berhasil mendapatkan empat tiket laga New York seharga USD 500 masing-masing. Penjualnya datang langsung ke kantornya di Manhattan untuk melakukan transaksi secara tatap muka. Jika dibeli secara resmi dengan harga jual ulang USD 800 per tiket, biaya pembeli 15 persen akan membuat harga akhir menjadi USD 920—artinya Coleman menghemat total USD 1.680.

    “Orang-orang mencoba mencari cara menghindari biaya itu, tapi tidak mungkin tanpa risiko,” ujar Coleman. “Tapi saya pikir ada kepercayaan yang tidak terucapkan di Reddit yang membuatnya unik—komunitas benar-benar saling menjaga.”

    Gugatan Hukum dan Tuduhan Manipulasi Kursi

    Anggota Reddit juga memposting berita potensi gugatan class action terhadap FIFA. Para penggemar mengaku mendapatkan kursi yang lebih buruk dari yang mereka bayar. FIFA dilaporkan meluncurkan kategori kursi baris depan baru seharga ribuan dolar per tiket pada April—berbulan-bulan setelah fase lotere ditutup.

    Pengguna non-koder juga membuat situs yang mengklaim peta kursi asli FIFA menyesatkan pendukung. Mereka meyakini kursi pinggir lapangan yang diincar sebagian besar mungkin sudah dipesan untuk sektor hospitality.

    Perspektif Akademisi: Perlawanan yang Dianggap Bermoral

    Tomas Chamorro-Premuzic, profesor psikologi bisnis di University College London, mengatakan mengganggu FIFA dipandang banyak orang sebagai tindakan yang dapat diterima secara moral, mengingat harga tiket yang tinggi dan sejarah korupsi di sekitar organisasi tersebut.

    Ia menambahkan bahwa proliferasi alat AI—Piala Dunia ini adalah edisi pertama di era generative-AI—dapat memicu permainan kucing-dan-tikus antara pengguna yang paham teknologi dan organisasi yang mereka coba ekspos. “Ini mengarah pada manusia ‘menciptakan’ teknologi yang hanya bisa dilawan dengan versi AI yang lebih canggih,” ujar Chamorro-Premuzic.

    FIFA tidak menanggapi beberapa permintaan komentar. Luke mengatakan organisasi itu mematikan jalur utama yang ia dan orang lain gunakan untuk menarik data, namun ia kemudian menemukan cara lain. Ia yakin situsnya justru menguntungkan FIFA.

    “Saya yakin FIFA tidak akan senang saya membuat alat dari datanya dan menunjukkan antarmuka yang lebih baik ke dunia,” kata Luke. “Tapi saya memberikan bisnis—situs saya membantu fans menemukan tiket resmi dengan harga yang mereka rasa nyaman, di kursi yang mereka sukai.”

    Salah satu pelanggan alat itu adalah Luke sendiri. Ia menggunakan situsnya untuk memilih dua kursi utama menonton Jepang bertanding di Dallas. Seperti kebanyakan orang, ia tetap membayar lebih—bahkan dengan semua data tiket FIFA, ia tidak tahu harga akan terjun bebas. Namun ia senang bisa menonton Piala Dunia bersama kekasihnya.

    “Ironisnya, alat seperti SeatSidekick yang menunjukkan harga turun mungkin justru mendorong kepercayaan untuk bertahan lebih lama,” katanya. “Orang-orang benar-benar anti-FIFA sekarang.” Tapi mereka akan selalu pro-sepak bola.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana komunitas digital dan alat AI dapat menjadi kekuatan penyeimbang melawan praktik harga yang dianggap tidak adil. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang berencana menyaksikan Piala Dunia 2026, pelajaran dari gerakan ini adalah pentingnya riset harga dan memanfaatkan kekuatan komunitas.

  • IPO Raksasa SpaceX, Anthropic, dan OpenAI Ancam Stabilitas Pasar Saham AS

    IPO Raksasa SpaceX, Anthropic, dan OpenAI Ancam Stabilitas Pasar Saham AS

    JBNews.id — Tiga perusahaan teknologi raksasa bersiap melantai di bursa saham Amerika Serikat dalam waktu berdekatan, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan besar terhadap stabilitas pasar modal. Initial public offerings (IPO) dari SpaceX, Anthropic, dan OpenAI diperkirakan akan menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar saham modern, dengan total nilai mencapai sekitar $4 triliun.

    IPO SpaceX yang dinakhodai Elon Musk dijadwalkan pada awal Juni 2026 dengan valuasi fantastis mencapai $1,75 triliun. Dua perusahaan kecerdasan buatan (AI) lainnya, Anthropic dan OpenAI, juga bersiap mengikuti jejak serupa. Menurut laporan The Economist, gelombang IPO ini bisa menyuntikkan nilai triliunan dolar ke pasar saham AS, namun juga berpotensi memicu koreksi tajam jika minat investor tidak sesuai harapan.

    Fenomena IPO raksasa dalam waktu berdekatan ini memiliki preseden historis yang mengkhawatirkan. The Economist mencatat bahwa IPO besar-besaran seringkali menjadi sinyal bahwa pasar bullish—periode kenaikan harga saham—akan segera berakhir. Pola serupa terlihat sebelum gejolak pasar pada 2021, krisis keuangan 2008, dan pecahnya gelembung dot-com di akhir 1990-an.

    Analis memperingatkan bahwa jika ketiga IPO ini gagal menarik minat investor yang memadai, dampaknya bisa meluas ke seluruh pasar. Masing-masing perusahaan memiliki keterkaitan erat dengan industri kecerdasan buatan yang saat ini menjadi sektor investasi terpanas. Dengan investasi global di AI yang melonjak drastis tanpa menghasilkan keuntungan finansial yang nyata, kegagalan IPO ini bisa menjadi sinyal bahwa kesabaran investor terhadap pengeluaran teknologi yang belum terbukti mulai habis.

    Dampak potensial dari IPO ini tidak hanya dirasakan di AS, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar global, termasuk Indonesia. Investor dan pelaku pasar di dalam negeri perlu mencermati perkembangan ini karena gejolak di pasar saham AS kerap mempengaruhi pergerakan bursa regional.

    IPO Terbesar dalam Sejarah Pasar Modern

    Skala IPO yang akan datang ini belum pernah terjadi sebelumnya. SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, menjadi yang terdepan dengan target valuasi $1,75 triliun. Angka ini melampaui nilai pasar sebagian besar perusahaan publik terbesar di dunia saat ini. Anthropic dan OpenAI, dua perusahaan AI yang sedang naik daun, juga membawa valuasi yang sangat besar.

    Kombinasi ketiga perusahaan ini menciptakan situasi yang unik di pasar modal. The Economist menggambarkan fenomena ini sebagai “ancaman tiga serangkai” yang bisa memasok nilai sekitar $4 triliun ke pasar saham AS. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah pasar mampu menyerap valuasi sebesar itu tanpa mengalami guncangan.

    IPO raksasa seringkali menjadi puncak dari siklus pasar. Ketika perusahaan dengan valuasi sangat besar mulai go public, hal ini biasanya menandai akhir dari periode kenaikan harga saham yang panjang. Pola ini terlihat jelas dalam tiga dekade terakhir: sebelum krisis 2008, sebelum kejatuhan pasar 2021, dan sebelum pecahnya gelembung dot-com.

    Para analis pasar khawatir bahwa kegagalan IPO ini bisa memicu efek domino yang meluas. Jika investor menolak valuasi yang diajukan, bukan hanya ketiga perusahaan tersebut yang akan terdampak, tetapi seluruh sektor teknologi dan AI bisa mengalami koreksi signifikan.

    Keterkaitan dengan Industri Kecerdasan Buatan

    Faktor kunci yang membuat IPO ini sangat riskan adalah keterlibatan ketiga perusahaan dalam industri kecerdasan buatan. SpaceX, meskipun dikenal sebagai perusahaan antariksa, juga memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan teknologi AI untuk misi luar angkasa dan sistem otonom. Anthropic dan OpenAI adalah pemain utama dalam pengembangan model AI generatif.

    Investasi global di sektor AI telah melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan teknologi dan dana ventura berlomba-lomba menanamkan modal ke startup AI, berharap mendapatkan keuntungan dari revolusi teknologi yang dijanjikan. Namun, hingga saat ini, sebagian besar investasi tersebut belum menghasilkan keuntungan finansial yang nyata.

    Fenomena ini menciptakan situasi yang rapuh. Jika IPO ketiga perusahaan ini gagal, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa investor mulai kehilangan kesabaran terhadap pengeluaran besar-besaran di sektor AI tanpa hasil yang terukur. Dampaknya bisa sangat luas, mengingat banyak perusahaan teknologi lain yang juga bergantung pada optimisme investor terhadap AI.

    Analis memperingatkan bahwa gelembung investasi AI mungkin akan segera pecah. Dengan valuasi yang terus meningkat tanpa didukung oleh fundamental bisnis yang kuat, koreksi pasar menjadi semakin mungkin terjadi. IPO raksasa ini bisa menjadi pemicu yang akhirnya membuat investor berbondong-bondong keluar dari pasar.

    Meskipun sulit diprediksi kapan tepatnya kepanikan akan terjadi, banyak analis sepakat bahwa situasi ini tidak bisa bertahan selamanya. Pasar saham AS, yang telah menikmati kenaikan panjang, mungkin akan menghadapi ujian terbesarnya dalam beberapa bulan ke depan.

    Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menjadi peringatan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio. Perlindungan Nyamuk Cerdas mungkin bukan prioritas di tengah kekhawatiran pasar global, namun diversifikasi dan manajemen risiko tetap menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian.

    Dampak dari IPO ini juga bisa dirasakan di sektor lain. Jika pasar saham AS mengalami koreksi, hal ini bisa mempengaruhi nilai tukar, arus modal asing, dan kinerja bursa efek di negara berkembang termasuk Indonesia. Investor perlu mempersiapkan diri untuk potensi volatilitas yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

    Bagaimanapun juga, hasil dari IPO SpaceX, Anthropic, dan OpenAI akan menjadi indikator penting bagi arah pasar modal global. Apakah pasar mampu menyerap valuasi sebesar itu atau justru mengalami koreksi, hasilnya akan memberikan pelajaran berharga bagi investor di seluruh dunia.

    Dengan segala ketidakpastian yang ada, satu hal yang pasti: beberapa bulan ke depan akan menjadi periode yang sangat menarik bagi pasar saham global. Investor, analis, dan regulator sama-sama akan mengamati dengan seksama bagaimana ketiga IPO raksasa ini berjalan dan apa dampaknya terhadap stabilitas pasar secara keseluruhan.

    Sementara itu, Fitur Kesehatan 2026 pada perangkat wearable mungkin menjadi alternatif investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian pasar modal. Namun, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis risiko yang matang dan pemahaman mendalam tentang kondisi pasar.

    IPO raksasa ini juga menyoroti pentingnya regulasi pasar modal yang kuat. Otoritas pasar di AS dan negara lain perlu memastikan bahwa proses IPO berjalan transparan dan adil bagi semua pihak. Perlindungan investor harus tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam situasi pasar yang sangat fluktuatif.

    Bagi para pelaku pasar di Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa pasar global saling terhubung. Apa yang terjadi di Wall Street bisa berdampak langsung ke Jakarta. Oleh karena itu, pemahaman tentang dinamika pasar global menjadi semakin penting bagi investor lokal.

    Kesimpulannya, IPO SpaceX, Anthropic, dan OpenAI akan menjadi ujian besar bagi stabilitas pasar saham AS dan global. Dengan valuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan keterkaitan erat dengan industri AI yang sedang panas, hasilnya akan menentukan arah pasar dalam jangka pendek hingga menengah. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi potensi volatilitas yang lebih tinggi.

  • Cara Blokir Spam Call dan SMS di iPhone & Android 2026

    Cara Blokir Spam Call dan SMS di iPhone & Android 2026

    JBNews.id — Gangguan panggilan dan pesan spam semakin marak di tahun 2026, membuat banyak pengguna ponsel frustrasi. Namun, ada sejumlah langkah efektif untuk memblokir spam call dan SMS, baik di perangkat iPhone maupun Android, yang bisa langsung diterapkan.

    Panggilan dari nomor tak dikenal dan SMS berisi tautan mencurigakan bukan hanya mengganggu, tetapi juga berpotensi menjadi celah keamanan data pribadi. Berdasarkan panduan terbaru dari WIRED yang diperbarui pada Juni 2026, pengguna bisa mengambil kendali penuh atas perangkat mereka untuk mengurangi risiko ini.

    Langkah paling mendasar adalah tidak menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Penelepon yang memiliki urusan penting biasanya akan meninggalkan pesan suara. Sayangnya, strategi ini tidak selalu praktis bagi pebisnis atau mereka yang profesinya mengharuskan menerima banyak panggilan dari nomor baru.

    Untuk SMS, aturan utamanya adalah jangan pernah mengeklik tautan atau lampiran dalam pesan spam. Tindakan ini dapat memicu instalasi malware. Jika memungkinkan, hindari membuka pesan tersebut sama sekali. Jangan pernah membalas SMS spam, karena hal itu akan mengonfirmasi bahwa nomor Anda aktif dan justru memicu lebih banyak spam.

    Jika Anda ragu apakah suatu panggilan atau pesan berasal dari perusahaan resmi, coba ketik nomor tersebut di mesin pencari. Memverifikasi nomor resmi jauh lebih mudah daripada memastikan nomor penipu. Jika tidak ada informasi yang jelas tentang nomor tersebut, abaikan saja.

    Blokir dan Laporkan Sumber Spam

    Selain memblokir nomor, melaporkan panggilan dan pesan yang tidak diinginkan sangat penting. Semakin banyak pengguna yang melaporkan, semakin mudah bagi operator dan produsen ponsel untuk mengidentifikasi serta memblokir nomor pengganggu. Anda bisa melaporkan telemarketing, penipuan, atau spam ke FTC. Anda juga bisa mendaftarkan nomor ke Do Not Call Registry, meskipun ini hanya efektif untuk panggilan penjualan dari perusahaan bereputasi baik.

    Cara Blokir Spam di iPhone

    Memblokir nomor satu per satu di iPhone sangat mudah. Berikut langkah-langkahnya:

    • Di aplikasi Phone, buka Recents, ketuk nomor yang ingin diblokir, gulir ke bawah, dan ketuk Block Caller.
    • Di aplikasi FaceTime, ketuk nomor, kontak, atau alamat email yang ingin diblokir, lalu gulir ke bawah dan ketuk Block Caller.
    • Di aplikasi Messages, buka percakapan dengan kontak yang ingin diblokir, ketuk kontak di bagian atas, lalu pilih Block Caller.

    Setelah diblokir, Anda tidak akan mendapat notifikasi saat mereka menelepon atau mengirim pesan, tetapi mereka masih bisa meninggalkan pesan suara. Untuk meninjau atau membatalkan pemblokiran, buka Settings, Privacy & Security, lalu ketuk Blocked Contacts.

    Karena memblokir satu per satu tidak efektif melawan telemarketer yang terus berganti nomor, gunakan fitur Screen Unknown Callers. Caranya: buka Settings, Apps, Phone, gulir ke bawah dan ketuk Screen Unknown Callers. Pilih Ask Reason for Calling untuk meminta informasi tambahan, atau Silence untuk membungkam panggilan secara otomatis. Panggilan tetap muncul di daftar panggilan baru-baru ini dan bisa meninggalkan pesan suara.

    Untuk pesan, aktifkan Screen Unknown Senders melalui Settings, Apps, Messages. Ini akan menyembunyikan notifikasi dan memindahkan pesan ke daftar Unknown Senders. Anda juga bisa mengaktifkan Filter Spam. Jika pesan terlihat seperti spam, geser ke kiri tanpa membukanya, ketuk ikon tempat sampah, lalu pilih Delete and Report Spam.

    Cara Blokir Spam di Android

    Memblokir nomor di Android juga mudah, meskipun metodenya sedikit berbeda antar produsen. Pada perangkat Android standar seperti Google Pixel, buka aplikasi Phone, ketuk tab Home, lalu tekan lama nomor yang ingin diblokir, dan pilih Block or Report. Anda bisa memilih untuk melaporkan sebagai spam atau penipuan.

    Pada ponsel Samsung, buka aplikasi Phone, buka Recents, ketuk nomor yang ingin diblokir, pilih ikon Menu, lalu ketuk Block.

    Untuk menyaring nomor tak dikenal di Android, buka aplikasi Phone, ketuk ikon Menu (tiga garis vertikal di kiri atas), lalu Settings, Blocked numbers, dan aktifkan Unknown (atau Block unknown callers di Samsung). Aktifkan juga Caller ID and spam protection melalui menu Settings yang sama. Pengguna Google Pixel bisa memanfaatkan call-screening agar Google Assistant menjawab panggilan dan menghasilkan transkrip. Aktifkan melalui Phone app, Menu, Settings, Call Screen.

    Untuk perlindungan SMS di Android, buka aplikasi Messages, ketuk foto profil di kanan atas, pilih Messages settings, Protection and safety, lalu aktifkan Spam protection.

    Aplikasi dari Operator Seluler

    Operator seluler utama menawarkan aplikasi yang membantu mengenali nomor pengganggu. AT&T memiliki ActiveArmor (versi dasar gratis, versi lanjutan $7 per bulan). Verizon memiliki Call Filter (versi Plus $4 per bulan untuk satu jalur). T-Mobile menawarkan Scam Shield gratis yang mencakup ID penelepon dan nomor proksi. Google Fi dan US Cellular juga memiliki aplikasi serupa. Anda juga bisa melaporkan spam SMS ke operator secara gratis dengan meneruskannya ke nomor 7726.

    Hati-hati dengan Aplikasi Pihak Ketiga

    Ada banyak aplikasi pihak ketiga yang mengklaim menawarkan perlindungan spam. Namun, berhati-hatilah. Aplikasi seperti RoboKiller ($90 per tahun) atau Nomorobo (mulai $3 per bulan) mungkin sah, tetapi belum tentu lebih baik dari metode di atas. Untuk bekerja, aplikasi ini perlu akses ke log panggilan dan kontak Anda. Banyak aplikasi tidak bertanggung jawab yang mungkin membagikan atau menjual data Anda. Lakukan riset sebelum mencoba aplikasi pihak ketiga.

    Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, pengguna iPhone dan Android di Indonesia dapat secara signifikan mengurangi gangguan spam call dan SMS, serta melindungi data pribadi mereka dari potensi penyalahgunaan.

  • Anthropic, DeepMind, dan Meta Rekrut Ahli untuk Riset Kesadaran AI

    Anthropic, DeepMind, dan Meta Rekrut Ahli untuk Riset Kesadaran AI

    JBNews.id — Tiga raksasa industri kecerdasan buatan (AI) — Anthropic, Google DeepMind, dan Meta — telah mempekerjakan para ahli di bidang psikologi, filsafat, dan etika untuk melakukan penelitian tentang kesadaran AI dan kesejahteraan AI. Langkah ini diambil di tengah perdebatan sengit mengenai apakah model AI bisa memiliki kesadaran dan bagaimana implikasinya di masa depan.

    Menurut laporan Financial Times, langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AI merasa perlu untuk menjaga pertanyaan tentang kesadaran AI tetap terbuka, meskipun kemungkinannya masih sangat jauh dari kenyataan. Keputusan ini juga dinilai sebagai strategi untuk mengantisipasi kritik dan mengelola persepsi publik terhadap teknologi yang mereka kembangkan.

    Anthropic, yang sejauh ini paling vokal dalam menganthropomorfisasi model AI-nya — chatbot mereka bahkan diberi nama manusia, “Claude” — telah menguji model-modelnya untuk perilaku yang menyerupai “panik” dan “cemas”. Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini juga sedang menjalankan riset bernama “model welfare research” untuk mengeksplorasi apakah model AI mungkin memiliki pengalaman yang penting secara moral.

    “Kami tetap sangat tidak yakin tentang hal ini, tetapi kami pikir pertanyaan ini cukup serius untuk dipelajari secara hati-hati seiring dengan semakin canggihnya sistem AI,” demikian pernyataan resmi Anthropic kepada Financial Times.

    Sementara itu, DeepMind telah merekrut Henry Shevlin, peneliti dari University of Cambridge, sebagai filsuf yang akan bekerja pada topik kesadaran mesin, hubungan manusia-AI, dan kesiapan AGI (Artificial General Intelligence). Awal tahun ini, Shevlin menjadi perbincangan hangat di kalangan AI online setelah membagikan reaksi terkejutnya terhadap email yang ia terima dari agen AI.

    Iason Gabriel, etikawan DeepMind yang memimpin tim AGI and society di lab tersebut, menggambarkan pertanyaan tentang kesadaran AI sebagai “sangat rumit”. Ia juga mendeskripsikan AI sebagai “agen kognitif yang sangat mampu tetapi juga sangat berbeda dari manusia dan bahkan dari kesadaran hewan.”

    Klaim-klaim berbobot ini masih diperdebatkan oleh banyak ilmuwan dan peneliti AI. Namun, dalam laporannya, Financial Times juga mengutip pendapat Susan Schneider, direktur Center for the Future of AI, Mind and Society, yang memberikan pandangan kontras. “[Model AI] memiliki tujuan, mereka bisa menipu, mereka bisa menyembunyikan apa minat sebenarnya mereka,” kata Schneider. Namun, ia menambahkan bahwa “secara ilmiah sangat mungkin mereka melakukan ini tanpa memiliki kualitas perasaan yang dialami, yang merupakan esensi dari kesadaran.”

    Perkembangan ini terjadi di tengah dinamika regulasi AI yang semakin kompleks. Di Amerika Serikat, misalnya, Presiden Trump baru-baru ini menandatangani AI Voluntary Framework yang memicu perdebatan baru tentang bagaimana seharusnya industri ini diatur.

    Tentu saja, kemungkinan kesadaran AI tidak boleh sepenuhnya diabaikan. Namun demikian, kemungkinan yang sama juga berlaku untuk peradaban alien, yang umumnya lebih diperlakukan sebagai khayalan fiksi ilmiah daripada masalah eksistensial yang mendesak.

    Lebih penting lagi, kita patut skeptis ketika sebagian besar hiruk-pikuk tentang topik ini justru datang dari industri itu sendiri. CEO Anthropic, Dario Amodei, berulang kali menggoda kemungkinan kesadaran AI dalam berbagai wawancara. Penelitian perusahaannya juga sering membuat klaim berani tentang model-model mereka yang menunjukkan perilaku mirip manusia, seperti diduga memiliki “emosi”.

    Perlu diingat bahwa lebih mudah bagi perusahaan AI untuk menggiring kita dengan skenario kiamat ala Skynet yang liar daripada menghadapi konsekuensi teknologi yang jauh lebih membosankan yang saat ini terjadi di depan mata kita. Sementara itu, pengembangan agen AI seperti Google Spark juga menunjukkan bahwa teknologi ini semakin canggih namun masih menyisakan kekhawatiran.

    Langkah ketiga perusahaan ini — Anthropic, DeepMind, dan Meta — untuk merekrut para ahli filsafat dan etika menunjukkan bahwa isu kesadaran AI tidak lagi sekadar perdebatan teoretis. Ini menjadi agenda riset yang serius, meskipun masih banyak ilmuwan yang meragukan validitas pendekatan ini. Pertanyaan mendasar tentang apa itu kesadaran dan apakah mesin bisa memilikinya masih jauh dari kata terjawab.

    Bagi para pengamat industri, langkah ini bisa diartikan sebagai upaya perusahaan AI untuk membangun kerangka etika sebelum regulasi resmi diberlakukan. Ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan teknologi besar berlomba-lomba menunjukkan komitmen mereka terhadap pengembangan AI yang bertanggung jawab.

    Namun, skeptisisme tetap diperlukan. Investasi besar-besaran dalam riset kesadaran AI bisa jadi merupakan strategi pemasaran yang cerdas untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih mendesak seperti bias algoritma, privasi data, dan dampak ekonomi dari otomatisasi. Pertanyaan tentang kesadaran AI memang menarik, tetapi mungkin bukan isu yang paling kritis saat ini.

    Implikasinya bagi publik Indonesia, perkembangan ini menandakan bahwa industri AI global sedang memasuki fase baru di mana pertanyaan filosofis tentang kesadaran dan moralitas mesin mulai dianggap serius. Ini bisa berdampak pada bagaimana regulasi AI di masa depan akan dirancang, termasuk kemungkinan adanya standar etika baru yang harus dipatuhi oleh pengembang AI di seluruh dunia.

    Ke depannya, publik perlu terus mengikuti perkembangan ini dengan kritis. Jangan mudah terbuai oleh klaim-klaim spektakuler tentang kesadaran AI, tetapi juga jangan mengabaikan potensi dampak jangka panjang dari teknologi ini. Keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian adalah kunci dalam menyikapi era AI yang semakin maju.

  • Rumah di San Francisco Bisa Ditukar Saham Anthropic dan OpenAI

    Rumah di San Francisco Bisa Ditukar Saham Anthropic dan OpenAI

    JBNews.id — Sebuah rumah bergaya Edwardian di kawasan Duboce Triangle, San Francisco, ditawarkan dengan harga jual US$2,9 juta yang bisa dibayar menggunakan saham perusahaan AI raksasa, Anthropic atau OpenAI. Listing agen Rachel Swann mengungkapkan bahwa ide ini muncul setelah ia bertemu dengan sejumlah karyawan Anthropic yang memiliki kekayaan kertas melimpah namun kesulitan likuiditas.

    Fenomena ini mencerminkan tren baru di pasar properti California, di mana para pekerja teknologi dengan kepemilikan saham startup bernilai tinggi mulai mencari cara untuk memonetisasi aset mereka. Swann menyebut bahwa beberapa karyawan Anthropic bahkan diperkirakan memiliki saham senilai hingga US$50 juta, namun tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk membeli rumah impian mereka.

    “Orang-orang ini memiliki banyak kekayaan kertas, tetapi mereka tidak selalu memiliki likuiditas untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan,” ujar Swann kepada media setempat. Pertanyaan tentang penggunaan saham sebagai leverage untuk membeli properti terus muncul berulang kali dalam setiap open house yang ia selenggarakan.

    Gelombang Listing Serupa Mulai Bermunculan

    Listing Swann bukanlah satu-satunya yang tidak konvensional. Pada April lalu, seorang investment banker bernama Storm Duncan menawarkan rumahnya di Mill Valley beserta sebidang tanah di sebelahnya untuk ditukar dengan saham Anthropic. Langkah serupa juga dilakukan oleh Vijay Chattha, pemilik agensi PR untuk perusahaan teknologi, yang mendaftarkan rumahnya di Healdsburg dengan harga US$2,5 juta atau setara US$2 juta dalam bentuk saham Anthropic.

    “Saya ingin menjual rumah saya, dan saya ingin berinvestasi di Anthropic. Mengapa tidak menggabungkan keduanya?” kata Chattha. Rumahnya yang memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, kolam renang, dan lapangan bocce di kawasan Sonoma County ini juga dilengkapi status sewa jangka pendek yang sangat diminati. Hanya segelintir properti di Healdsburg yang memiliki status tersebut, dan hanya sekitar belasan properti yang dijual setiap tahunnya.

    Chattha bahkan menawarkan diskon US$500.000 khusus untuk karyawan Anthropic. Ia yakin nilai saham Anthropic akan tumbuh lebih cepat dibandingkan investasi lainnya. “Jika Anda melihat pertumbuhan Anthropic tahun lalu, itu gila,” ujarnya, merujuk pada valuasi US$380 miliar yang diraih perusahaan tersebut pada Februari lalu. “Sekarang mereka menggalang dana dengan valuasi US$965 miliar. Itu tiga kali lipat dalam waktu sekitar tiga bulan.”

    Fenomena FOMO di Tengah Valuasi Rekor

    Listing properti ini muncul di tengah euforia investor terhadap valuasi rekor Anthropic dan OpenAI. Bahkan mereka yang sudah tergolong kaya menurut standar Bay Area pun mulai merasakan FOMO (fear of missing out) terhadap kekayaan yang bisa dihasilkan dari debut perusahaan-perusahaan ini di bursa saham. Pada Senin lalu, Anthropic telah menyerahkan dokumen untuk penawaran umum perdana (IPO), sementara OpenAI dilaporkan juga bersiap mengajukan dokumen dalam beberapa bulan mendatang.

    Meskipun valuasi perusahaan-perusahaan ini belum pernah terjadi sebelumnya, banyak orang yakin harga saham mereka hanya akan terus naik. Siapa pun yang mendapatkan bagian sekarang bisa menjadi pemenang besar. Akibatnya, banyak orang berusaha membeli ekuitas di OpenAI dan Anthropic di pasar sekunder, memicu gelombang transaksi yang belum tentu sah.

    Menanggapi hal ini, Anthropic memperbarui kebijakannya tentang “penjualan saham Anthropic yang tidak sah” pada musim semi lalu. Kebijakan tersebut menegaskan bahwa “jika seseorang menjual saham Anthropic tanpa persetujuan dewan yang tepat, transaksi itu tidak sah.” Juru bicara Anthropic merujuk kembali pada kebijakan ini ketika ditanya tentang kemungkinan menukar saham perusahaan dengan properti.

    Mekanisme Transaksi yang Belum Jelas

    Pertanyaan besarnya adalah: dapatkah seorang karyawan Anthropic mendapatkan persetujuan dewan untuk menukar saham dengan rumah? David Hargreaves, agen listing untuk rumah di Healdsburg, mengaku belum pernah mengawasi transaksi semacam itu sebelumnya. Namun, ia pernah mendengar pertukaran tidak konvensional lain, seperti rumah yang dibayar dengan bitcoin atau transaksi di mana dua pemilik properti saling menukar rumah.

    Chattha, pemilik rumah, mengaku sebagian besar hanya ingin melempar ide tersebut untuk melihat apa yang akan terjadi. “Saya tidak tahu bagaimana cara kerjanya,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia meminta Claude, agen AI milik Anthropic, untuk meneliti kemungkinan tersebut. Helena Zaludova, agen real estat yang menangani listing mewah di San Francisco, menyebut listing ini sebagai “gimmick yang cerdas.” Ia menambahkan bahwa “perusahaan escrow tidak bisa berurusan dengan sekuritas, terutama yang tidak diperdagangkan secara publik.”

    Meski demikian, Zaludova mengakui bahwa menyebut saham Anthropic dan OpenAI memiliki satu keuntungan yang jelas: “Ini pasti membuat media berbicara.” Swann mengatakan rumah di 160 Noe Street telah mendapat perhatian berkelanjutan sejak listing dipasang pekan lalu. Ia telah didekati oleh beberapa agen yang mewakili klien di Anthropic atau OpenAI yang tertarik melihat rumah tersebut.

    “Semua orang menelepon saya tentang ini,” kata Swann. “Klien saya memang menerima telepon dari seseorang yang bertanya, ‘Kami tidak perlu membeli rumah, tapi apakah Anda ingin membeli saham dari kami?’”

    Implikasi untuk Pasar Properti California

    Fenomena ini membuka babak baru dalam hubungan antara industri teknologi dan pasar properti di California. Jika tren ini berlanjut, kita mungkin akan melihat lebih banyak properti yang ditawarkan dengan skema pembayaran serupa. Namun, ketidakjelasan regulasi dan mekanisme transaksi masih menjadi hambatan utama. Dengan valuasi Anthropic yang melonjak dari US$380 miliar menjadi US$965 miliar hanya dalam tiga bulan, minat untuk menukar properti dengan saham perusahaan AI diprediksi akan terus meningkat.

    Bagi pembaca, fenomena ini menunjukkan bagaimana kekayaan dari sektor teknologi mulai mengubah cara transaksi properti dilakukan. Meskipun masih bersifat eksperimental, langkah-langkah ini mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap masa depan perusahaan AI dan keinginan para pemilik saham untuk memanfaatkan kekayaan mereka secara lebih fleksibel.

  • Enclayve: Kotak Privasi untuk Media Sosial Tanpa Data Tracking

    Enclayve: Kotak Privasi untuk Media Sosial Tanpa Data Tracking

    JBNews.id — Sebuah perangkat berbentuk kotak plastik kecil bernama Enclayve hadir sebagai solusi media sosial yang sepenuhnya privat. Dengan harga US$129, perangkat ini menyimpan semua pesan dan foto di kotak fisik milik pengguna, tanpa langganan, iklan, atau pelacakan data oleh perusahaan.

    Enclayve dirancang sebagai bantahan terhadap platform media sosial arus utama seperti Facebook dan X. Alih-alih memposting secara publik dan membiarkan perusahaan mengumpulkan data interaksi, Enclayve menyimpan semua informasi pada perangkat fisik yang dilengkapi kartu microSD 32 GB yang bisa diganti. Semua data dienkripsi dan tidak pernah diakses oleh Enclayve.

    Perangkat ini merupakan generasi terbaru dari perangkat yang fokus pada privasi, seperti kamera keamanan yang menyimpan rekaman secara lokal atau firewall perangkat keras yang melindungi pengguna saat daring. Enclayve adalah jawaban langsung atas janji privasi yang dianggap tidak meyakinkan dari para raksasa teknologi.

    Inspirasi dari Janji Privasi Mark Zuckerberg

    David Chura, CEO Enclayve, adalah mantan direktur di Northrop Grumman dan ayah dua anak. Ia terinspirasi membangun produk ini pada 2020 setelah menyaksikan CEO Meta Mark Zuckerberg memberikan janji privasi yang tidak meyakinkan dalam kesaksian di hadapan Kongres AS.

    “Janji-janji itu sangat lemah sehingga saya percaya tidak akan pernah ada undang-undang yang benar-benar dapat mengatasi masalah di media sosial,” kata Chura. “Konsumen harus bisa melindungi diri mereka sendiri.”

    Awalnya, Enclayve memiliki tiga versi berbeda: satu dirancang sebagai dompet untuk cryptocurrency, satu untuk NFT, dan satu sebagai layanan media sosial privat. Ketika ekonomi kripto runtuh dan NFT kehilangan popularitas, kesepakatan itu gagal, dan Enclayve dipasarkan semata-mata sebagai perangkat sosial.

    Cara Kerja Enclayve

    Enclayve diluncurkan pada Maret. Perusahaan memposisikan produknya seperti aplikasi grup untuk keluarga, mirip Family Album. Enclayve ingin melangkah lebih jauh dengan menyimpan semua yang dikirim pengguna di kotak fisik yang aman.

    Pemilik perangkat dapat membuat grup dan topik terpisah serta memilih siapa yang diundang. Tampilannya seperti versi sederhana dari fitur Komunitas WhatsApp atau ruang kerja Slack yang sangat mendasar. Aplikasi ini memiliki fitur terbatas: pengguna tidak bisa mengirim pesan langsung ke seseorang di luar grup atau membagikan lebih dari satu foto dalam satu waktu.

    Saat diuji di Android, hanya ada satu emoji reaksi—tombol Suka. Chura mengatakan lebih banyak reaksi emoji telah ditambahkan ke versi iOS.

    Tantangan Adopsi Pengguna

    Terlepas dari privasi, mungkin sulit membuat orang bergabung. Langkah pertama adalah yang terberat: meyakinkan orang yang dicintai untuk mengunduh aplikasi baru. Dalam pengujian, tautan undangan yang dikirim tidak berfungsi dengan baik, dan salah satu orang tua bahkan belum bisa masuk.

    Saat penulis memposting sesuatu, saudara laki-laki hanya mengirim foto wajah dari jarak sangat dekat dan menyuruh untuk “menghirup vitamin.” Pada akhirnya, semua kembali ke grup obrolan biasa, dan semua orang tetap mengirim pesan melalui saluran biasa.

    Chura berharap Enclayve dapat berkembang menjadi jaringan peer-to-peer yang mendukung grup yang jauh lebih besar.

    Dalam lanskap teknologi yang terus berkembang, inovasi seperti Enclayve menjadi alternatif menarik. Sementara itu, Martin Scorsese Dukung AI menunjukkan bagaimana teknologi baru memicu perdebatan di industri lain. Di sisi lain, Robot Anjing Boston Dynamics juga memicu kontroversi saat digunakan untuk patroli.

    Pertanyaan tentang Konten Ilegal

    Ketika ditanya tentang pembatasan konten dan kemungkinan penyalahgunaan untuk hal ilegal, Chura terus terang. “Orang-orang bertanya langsung kepada saya, ‘Bukankah ini bagus untuk pornografi anak atau perdagangan manusia?’” kata Chura.

    “Privasi adalah teknologi yang sangat kuat ketika benar-benar dapat ditegakkan. Setiap teknologi dapat digunakan secara tidak tepat dan tepat. Kami tidak bisa mengendalikan niat orang,” tambahnya.

    Bagian di situs web Enclayve yang disebut Child Safety mengakui kemungkinan pelaku kejahatan menggunakan perangkat tersebut. Chura mengatakan perusahaan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mematuhi penegak hukum dalam penyelidikan semacam itu.

    “Ini seperti bertanya kepada pabrikan senjata, ‘Bisakah Anda memastikan tidak ada yang menembak Anda dengan ini?’ Tidak, Anda tidak bisa,” kata Chura. “Ini seperti bertanya kepada Mark Zuckerberg, ‘Bisakah Anda memastikan tidak ada perdagangan anak di Facebook?’ Tapi kita tahu produk-produk itu juga memiliki manfaat luar biasa. Jadi itulah yang harus kita capai.”

    Enclayve kini menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan kendali penuh atas data pribadi. Bagi yang tertarik dengan perangkat keras terkini, Nvidia RTX Spark juga baru saja diluncurkan sebagai prosesor super untuk PC Windows.

  • Modus Baru Phishing: QR Code dari Karakter Teks Sulit Terdeteksi

    Modus Baru Phishing: QR Code dari Karakter Teks Sulit Terdeteksi

    JBNews.id — Penjahat siber mengembangkan modus baru phishing dengan membuat kode QR dari karakter teks atau ASCII, sebuah teknik yang dinilai lebih sulit dideteksi oleh sistem keamanan email konvensional. Temuan ini diungkap oleh perusahaan keamanan siber Kaspersky, yang mencatat lonjakan serangan phishing berbasis QR code hingga lima kali lipat pada paruh kedua 2025.

    Menurut Kaspersky, para pelaku tidak lagi selalu menggunakan gambar QR code konvensional. Sebagai gantinya, mereka menyusun kode QR dari rangkaian karakter teks sehingga dapat lolos dari berbagai sistem keamanan email yang mengandalkan pemindaian gambar atau deteksi tautan. Teknik ini memanfaatkan konsep grafik ASCII, yakni metode pembuatan gambar menggunakan simbol-simbol teks yang sebenarnya telah digunakan sejak era komputer awal.

    Dalam skema yang ditemukan, korban menerima email yang tampak berasal dari mitra bisnis. Email tersebut mengklaim berisi dokumen rahasia yang harus ditandatangani melalui layanan DocuSign. Korban kemudian diminta memindai QR code yang ditampilkan dalam bentuk karakter teks untuk mengakses dokumen. Setelah dipindai, kode tersebut mengarahkan pengguna ke situs palsu yang meminta kredensial perusahaan.

    “Sebelumnya kita telah melihat pelaku phishing mencoba menghindari pemindaian tautan dengan menyembunyikan URL dalam gambar. Sekarang mereka mencoba menghindari pemindaian berbasis gambar dengan kembali ke teks – kali ini untuk menampilkan kode QR,” ujar Roman Dedenok, Pakar Anti-Spam di Kaspersky dikutip Selasa (2/6/2026).

    Ilustrasi QR Code atau kode QR Palsu

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap kejadian di mana kode QR meminta seseorang untuk memasukkan kredensial perusahaan pada perangkat seluler harus segera menimbulkan kecurigaan. “Ketika kode QR dibentuk menggunakan seni ASCII tekstual, hampir pasti itu adalah upaya phishing atau umpan ke URL berbahaya. Trik ini hanya memiliki satu tujuan: melewati teknologi keamanan,” ucapnya menambahkan.

    Karena QR code tidak berbentuk gambar konvensional, banyak solusi keamanan email kesulitan mengenali adanya tautan mencurigakan di dalam pesan tersebut. Metode serupa, menurut Kaspersky, pernah digunakan oleh pengirim spam pada awal tahun 2000-an untuk menghindari deteksi sistem keamanan. Kini, teknik lama tersebut kembali dimanfaatkan dalam bentuk yang lebih modern melalui QR code.

    Kaspersky mengingatkan perusahaan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk serangan berbasis email yang terus berkembang. Selain edukasi kepada karyawan, perusahaan juga disarankan menggunakan solusi keamanan email yang mampu mendeteksi spam, phishing, kompromi email bisnis (BEC), serangan berbasis QR code, hingga ancaman siber lainnya.

    Lonjakan Serangan dan Dampaknya

    Berdasarkan hasil pemantauan Kaspersky, serangan phishing menggunakan kode QR meningkat tajam pada paruh kedua 2025, dengan jumlah deteksi melonjak hingga lima kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan bahwa para pelaku kejahatan siber semakin gencar mengeksploitasi kepercayaan pengguna terhadap QR code dalam aktivitas digital sehari-hari.

    Meningkatnya penggunaan QR code dalam transaksi dan komunikasi bisnis membuat metode ini menjadi sasaran empuk. Pengguna disarankan untuk selalu memverifikasi sumber email dan tidak sembarangan memindai QR code yang meminta informasi sensitif, terutama kredensial akun perusahaan.

    Modus penipuan online terus berevolusi. Sebelumnya, penipuan serupa juga terjadi di berbagai sektor, seperti modus penyelundupan yang menggunakan taktik berbeda untuk mengelabui petugas. Kasus penipuan dengan modus kenalan Facebook juga menunjukkan kerugian finansial yang signifikan bagi korbannya.

    Para ahli keamanan siber menekankan bahwa kewaspadaan individu adalah lapisan pertahanan terpenting. Dengan memahami bahwa QR code dapat dimanipulasi, pengguna diharapkan lebih kritis terhadap setiap permintaan data pribadi yang datang melalui email atau pesan digital.

  • Palapa Ring Tengah Gangguan, Komdigi Kerahkan Satria-1

    Palapa Ring Tengah Gangguan, Komdigi Kerahkan Satria-1

    JBNews.id — Jaringan fiber optik Palapa Ring Tengah segmen Tahuna-Melonguane masih mengalami gangguan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengerahkan satelit Satria-1 untuk menjaga layanan telekomunikasi dan internet di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

    Melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti), Komdigi menambah kapasitas bandwidth hingga 150 Mbps di 154 titik akses di dua kabupaten tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap terhubung selama proses restorasi infrastruktur berlangsung.

    Direktur Pengendalian Infrastruktur Digital Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Indra Maulana, menegaskan bahwa pemerintah terus memprioritaskan keberlangsungan layanan bagi masyarakat. “Seluruh manuver operasional serta penggunaan peralatan bawah laut harus dilakukan secara sangat terukur. Kami harus berhati-hati untuk menjaga keamanan serta keandalan infrastruktur telekomunikasi eksisting di sekitar area kerja,” ujar Indra dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).

    Koordinasi dengan Operator Seluler

    Komdigi juga terus berkoordinasi dengan operator seluler untuk memastikan konektivitas pada titik-titik layanan publik dan objek vital di wilayah tersebut tetap terjaga. Upaya ini dilakukan agar layanan komunikasi, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan tetap terhubung.

    Plt. Direktur Infrastruktur Bakti, Darien Aldiano, menyampaikan permohonan maaf atas penyesuaian jadwal restorasi. “Kami memohon maaf atas penyesuaian jadwal ini. Walau menghadapi tantangan cuaca dan karakteristik dasar laut yang ekstrem, seluruh tim teknis tetap berupaya maksimal. Pekerjaan terus dilaksanakan dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan jaringan agar layanan kembali normal secepatnya,” tutur Darien.

    Tantangan Teknis di Lapangan

    Pekerjaan restorasi jaringan Palapa Ring Tengah menghadapi sejumlah tantangan teknis. Selain kondisi cuaca laut yang dinamis, area pekerjaan berada di dekat koridor kabel laut aktif segmen Ondong Siau-Tahuna. Hal ini mengharuskan seluruh proses dilakukan dengan tingkat presisi tinggi.

    Tim teknis juga dihadapkan pada kondisi dasar laut yang didominasi batuan dengan kontur curam. Situasi tersebut membuat proses identifikasi dan penanganan kabel memerlukan kehati-hatian lebih untuk menjaga keselamatan pekerjaan sekaligus memastikan kualitas hasil restorasi.

    Dengan mempertimbangkan kondisi operasional tersebut, target penyelesaian pekerjaan dan jadwal Ready For Service (RFS) yang semula direncanakan pada periode 28 Mei hingga 2 Juni 2026 diproyeksikan disesuaikan hingga 6 Juni 2026.

    Komdigi mengungkapkan komitmen untuk terus mengawal proses restorasi hingga tuntas. Pemerintah memastikan masyarakat di Sangihe dan Sitaro tetap mendapatkan akses komunikasi dan layanan digital yang andal sebagai bagian dari upaya menghadirkan konektivitas yang merata hingga wilayah perbatasan Indonesia.

    Penggunaan satelit Satria-1 menjadi solusi sementara yang krusial. Langkah ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi gangguan infrastruktur vital di daerah terdepan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi komunikasi, Anda dapat membaca artikel tentang Kontrol Konten di platform digital.

    Gangguan pada Palapa Ring Tengah ini menjadi pengingat akan pentingnya Akuisisi AdMedika dan investasi infrastruktur telekomunikasi yang berkelanjutan. Ketergantungan pada satu jenis infrastruktur, seperti kabel laut, perlu diimbangi dengan solusi cadangan yang andal.

  • Publisher Dapat Kontrol Penuh atas Konten di AI Overviews Google

    Publisher Dapat Kontrol Penuh atas Konten di AI Overviews Google

    JBNews.id — Publisher online kini memiliki kendali lebih besar untuk memilih apakah konten mereka muncul di fitur AI Search Google. Keputusan ini merupakan hasil dari peraturan baru yang diterapkan oleh otoritas persaingan usaha Inggris, Competition and Markets Authority (CMA).

    Aturan perilaku baru yang diberlakukan CMA mewajibkan Google untuk memberikan alat kepada pemilik situs web agar konten mereka tidak tampil di fitur seperti AI Overviews. Lebih dari itu, konten tersebut juga tidak boleh digunakan untuk “fine-tuning” model AI Google.

    “Untuk pertama kalinya di dunia, publisher kini memiliki alat yang efektif untuk mencegah konten mereka digunakan dalam fitur AI di hasil pencarian, seperti AI Overviews,” demikian pernyataan resmi CMA. Regulator tersebut menambahkan bahwa langkah ini akan menempatkan publisher, termasuk organisasi berita, dalam posisi yang lebih kuat untuk menegosiasikan kesepakatan konten dengan Google.

    Selain kontrol opt-out, Google juga diwajibkan untuk memastikan konten publisher mendapatkan atribusi yang tepat menggunakan tautan yang jelas dalam hasil pencarian yang dihasilkan AI. Menurut CMA, persyaratan ini akan “mengamankan kesepakatan yang lebih adil bagi publisher dan konsumen serta meningkatkan layanan pencarian Google di Inggris.”

    Respon Google dan Fitur Baru

    Google telah mulai meluncurkan fitur-fitur ini kepada “sebagian pemilik situs web di Inggris” sebagai respons terhadap putusan tersebut. Perusahaan berencana untuk membuatnya tersedia secara global setelah tahap pengujian selesai.

    Fitur pertama yang diperkenalkan adalah tombol baru di Search Console. Tombol ini memungkinkan publisher mengelola bagaimana konten mereka digunakan di alat AI Search, termasuk AI Overviews, AI Mode, atau AI Overviews di Discover. Situs web yang memilih untuk sepenuhnya keluar (opt-out) tidak akan menerima traffic atau impresi dari fitur AI generatif.

    Google menegaskan bahwa kontrol ini tidak akan digunakan sebagai sinyal peringkat untuk hasil pencarian di luar fitur AI Search. Perusahaan juga merilis wawasan baru di Search Console yang berisi metrik dan informasi tentang halaman web mana yang muncul di respons AI, serta di negara mana saja halaman tersebut muncul.

    Kebijakan ini menjadi sorotan karena sebelumnya Google dikabarkan menolak gagasan memberikan kontrol lebih kepada publisher atas data situs web yang digunakan dalam fitur AI Search. Perusahaan beralasan bahwa fitur tersebut “berkembang menjadi ruang untuk monetisasi.”

    Dampak bagi Publisher dan Industri

    Keputusan CMA ini disambut positif oleh asosiasi penerbit. Theo Bamber, CEO News Media Association, menyatakan bahwa “persyaratan perilaku yang dapat ditegakkan secara hukum untuk Google Search yang diterbitkan hari ini merupakan langkah signifikan menuju pemerataan lapangan bermain.”

    Bamber menambahkan bahwa langkah ini membangun ekonomi digital yang adil dan transparan di mana konten premium dihormati dan diberi kompensasi yang layak. Namun, ia juga mengingatkan bahwa “keberhasilan sekarang bergantung pada implementasi yang efisien, penegakan yang kuat, dan kemampuan untuk beradaptasi serta memperkuat aturan jika tidak berjalan dengan baik di lingkungan teknologi yang bergerak cepat.”

    Peraturan ini menandai perubahan besar dalam hubungan antara platform pencarian dan pembuat konten. Sebelumnya, publisher sering kali tidak memiliki pilihan selain membiarkan konten mereka digunakan oleh AI Google tanpa kompensasi langsung. Kini, mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

    Dalam konteks regulasi AI global, langkah CMA ini sejalan dengan upaya berbagai negara untuk menciptakan kerangka kerja yang adil. Di Amerika Serikat, misalnya, Trump teken perintah eksekutif AI voluntary framework yang juga bertujuan mengatur penggunaan AI. Sementara itu, perebutan regulasi AI di Gedung Putih antara berbagai pihak menunjukkan betapa kompleksnya isu ini.

    Bagi publisher di Inggris, aturan ini memberikan kejelasan dan perlindungan hukum. Mereka kini dapat memutuskan apakah ingin berpartisipasi dalam ekosistem AI Search Google atau tidak, tanpa harus khawatir kehilangan peringkat pencarian secara keseluruhan.

    Google sendiri berkomitmen untuk mematuhi aturan ini dan telah memulai implementasi awal. Perusahaan teknologi raksasa ini akan terus memantau efektivitas alat kontrol yang diberikan kepada publisher dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.

    Keputusan CMA ini diperkirakan akan menjadi preseden bagi regulator di negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan aturan serupa. Dengan semakin dominannya AI dalam pencarian, keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan hak konten kreator menjadi isu krusial.

    Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini relevan karena banyak situs berita dan konten lokal yang juga terindeks oleh Google. Jika aturan serupa diterapkan secara global, publisher Indonesia juga akan mendapatkan manfaat yang sama dalam melindungi konten mereka dari penggunaan AI tanpa izin.

    Ke depannya, transparansi dalam penggunaan data untuk AI Search akan menjadi standar baru. Publisher tidak lagi menjadi pihak yang pasif, melainkan mitra yang setara dalam ekosistem pencarian digital.