Survei Pew: Warga AS Makin Benci AI, Penggunaan Malah Meningkat

Ilustrasi pria menyilangkan tangan menunjukkan ketidaksetujuan terhadap AI

JBNews.id — Sebuah survei baru dari Pew Research Center mengungkapkan temuan paradoksal: warga Amerika Serikat semakin membenci kecerdasan buatan (AI), meskipun penggunaan chatbot justru meroket. Hanya 16 persen responden yang percaya AI akan berdampak positif bagi masyarakat—angka yang sama suramnya dengan persepsi terhadap teknologi itu sendiri.

Survei yang dirilis pada Juni 2026 ini menunjukkan bahwa 49 persen orang dewasa AS kini menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT. Angka ini melonjak signifikan dari 33 persen pada tahun 2024. Seperempat dari pengguna bahkan mengaku menggunakannya setiap hari. Namun, adopsi yang meluas ini tidak memperbaiki citra AI di mata publik.

Sebaliknya, 40 persen responden memperkirakan AI akan berdampak negatif bagi masyarakat, sementara 31 persen meyakini teknologi ini akan merugikan mereka secara pribadi. Kesenjangan antara penggunaan dan persepsi ini menjadi tantangan serius bagi industri AI yang saat ini masih bergantung pada gelombang hype dan suntikan dana besar-besaran.

Generasi Z Paling Kritis, Paling Sering Pakai

Data Pew menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan kelompok usia. Generasi Z—usia 18 hingga 29 tahun—menjadi kelompok yang paling waspada terhadap AI, dengan 48 persen meyakini dampak negatifnya bagi masyarakat. Ironisnya, mereka juga merupakan kelompok pengguna AI terbanyak, mencapai 66 persen.

Sementara itu, kelompok usia 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas memiliki pandangan yang lebih moderat. Masing-masing 39 persen dan 37 persen melihat AI sebagai sesuatu yang negatif. Namun, tingkat penggunaan AI di antara mereka jauh lebih rendah. Sebanyak 61 persen kelompok usia 30-49 tahun menggunakan chatbot AI, sementara hanya 42 persen kelompok usia 50-64 tahun yang melakukannya. Angka penggunaan pada usia 65 tahun ke atas bahkan kurang dari seperempat.

Penyebab kesenjangan antara persepsi dan penggunaan ini belum jelas. Salah satu kemungkinan adalah banyak orang merasa terpaksa menggunakan AI, meskipun menyadari kekurangan teknologi ini dan keraguan etis dari industri yang mengembangkannya. Faktanya, banyak pekerja yang dipaksa menggunakan AI di tempat kerja, sementara atasan seringkali lebih antusias terhadap teknologi ini dibandingkan karyawan.

Fenomena ini menjadi masalah serius bagi daya tahan jangka panjang industri AI. Saat ini, industri ini masih didorong oleh hype dan investasi besar-besaran, sementara profitabilitas masih sulit dicapai. Jika tidak ada yang menyukai AI dalam beberapa tahun atau dekade mendatang, akankah ada cukup pelanggan untuk menjaga industri ini tetap berjalan?

Dampak pada Industri dan Regulasi

Temuan Pew ini muncul di tengah meningkatnya tekanan pada pemerintah untuk mempercepat regulasi AI. Di Amerika Serikat, kebijakan sukarela menjadi pendekatan utama, namun efektivitasnya dipertanyakan mengingat sentimen publik yang memburuk. Sementara itu, penggunaan AI di sektor militer juga menuai kontroversi, seperti pengakuan Pentagon bahwa Grok digunakan untuk menyerang 2.000 target di Iran—sebuah langkah yang memicu perdebatan etis.

Di sisi lain, Departemen Kehakiman (DOJ) AS baru-baru ini mendukung xAI dalam menghadapi gugatan lingkungan dari NAACP. Kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara pengembangan AI, regulasi, dan dampak sosialnya. Para pakar AI pun terus memperingatkan risiko yang mungkin timbul jika regulasi tidak segera dipercepat.

Meskipun demikian, industri AI terus bergerak maju. Penggunaan chatbot di berbagai sektor—dari layanan pelanggan hingga pendidikan—terus meningkat. Namun, survei Pew menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan publik. Ini menjadi pelajaran penting bagi para pengembang dan pembuat kebijakan: membangun teknologi canggih saja tidak cukup; membangun kepercayaan publik adalah tantangan yang jauh lebih besar.

A photo illustration featuring a photograph of a man crossing his arms in front of him in a gesture of overt disapproval.

Implikasi untuk Masa Depan

Bagi pembaca di Indonesia, tren ini memberikan gambaran tentang bagaimana persepsi publik terhadap AI bisa berubah seiring waktu. Meskipun adopsi AI di Indonesia masih dalam tahap awal, pengalaman AS menunjukkan bahwa popularitas teknologi tidak menjamin penerimaan jangka panjang. Regulasi yang bijaksana dan transparansi dalam pengembangan AI menjadi kunci untuk menghindari kesenjangan serupa.

Survei Pew ini juga mengingatkan bahwa teknologi harus dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak sosialnya. Jika tidak, risiko penolakan publik bisa menjadi hambatan serius bagi inovasi di masa depan. Para pemangku kepentingan—dari pengembang hingga pembuat kebijakan—perlu bekerja sama untuk membangun AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga dipercaya oleh masyarakat.