JBNews.id, JAKARTA — Mark Zuckerberg menggelontorkan dana sebesar USD 14 miliar atau setara Rp 248 triliun untuk merekrut pakar AI Alexandr Wang setahun lalu, namun hingga kini hasil finansial dari investasi tersebut belum terlihat. Langkah nekat ini diambil CEO Meta untuk mengejar ketertinggalan di industri kecerdasan buatan yang dikuasai oleh OpenAI, Anthropic, dan Google.
Investasi besar-besaran itu ditujukan kepada Scale AI, startup AI yang didirikan oleh Wang. Pria berusia 29 tahun yang dijuluki “bocah ajaib” itu kini memimpin Meta Superintelligence Labs. Beberapa engineer dari Scale AI juga turut bergabung dengan Meta untuk memperkuat divisi AI perusahaan.
Satu-satunya pencapaian signifikan Wang sejauh ini adalah peluncuran model AI Muse Spark pada April 2026. Produk ini berhasil mengembalikan reputasi Meta di ranah AI, meskipun perusahaan masih tertinggal jauh dari para pesaingnya. Namun dari sisi bisnis, monetisasi model tersebut belum membuahkan hasil.
“Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi. Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI, di luar dampak positif substansial yang diberikan AI dalam menyempurnakan model periklanan,” ujar Ralph Schackart, analis di William Blair, seperti dikutip dari CNBC.
Reaksi Wall Street pun tidak menggembirakan. Saham Meta tercatat anjlok 18 persen dalam 12 bulan terakhir. Penurunan ini terjadi meskipun Meta melaporkan pertumbuhan pendapatan sebesar 33 persen pada kuartal pertama tahun ini. Investor tampaknya belum yakin dengan strategi AI yang dijalankan Zuckerberg.
Kegagalan Llama dan Jalan Terjal Meta
Meta awalnya terjun ke ranah AI dengan model Llama yang mengusung pendekatan open source. Strategi ini memungkinkan pengembang mengakses dan memodifikasi model secara gratis, berbeda dengan kompetitor yang memungut biaya. Namun pendekatan tersebut ternyata menjadi blunder besar.
Pada April 2025, peluncuran Llama 4 gagal total. Model tersebut tidak mampu memikat pengembang, memaksa Zuckerberg mempertimbangkan kembali strategi AI Meta. Dua bulan kemudian, ia mengambil keputusan drastis dengan menginvestasikan dana besar untuk Scale AI dan mendatangkan Wang.
Wang kemudian meluncurkan Muse Spark pada April 2026. Model ini dirancang agar mudah diintegrasikan ke aplikasi Meta seperti Facebook dan Instagram, serta perangkat AI seperti kacamata Ray-Ban Meta. Meskipun demikian, jalan menuju kesuksesan masih panjang.
“Saya rasa komunitas AI sebagian besar mengabaikan Meta pada titik ini,” ujar Rob May, CEO startup Neurometric. Pernyataan ini mencerminkan skeptisisme industri terhadap kemampuan Meta bersaing di tengah dominasi pemain besar lainnya.
Andrew Moore, CEO startup korporat Lovelace dan mantan kepala AI Google Cloud, menilai belum terlambat bagi Meta untuk menemukan jalurnya. Namun perusahaan harus menunjukkan keunggulan di suatu area tertentu, entah itu dari sisi biaya atau nuansa teknis yang penting bagi para pengembang.
Masalah Internal dan Tekanan Baru
Selain tantangan eksternal, Meta juga menghadapi masalah internal yang serius. Perusahaan baru saja memecat sekitar 8.000 pekerja. Kondisi ini memicu kemerosotan moral kerja di kalangan karyawan, termasuk di divisi AI. Bahkan, karyawan Meta menyebut divisi AI seperti kamp kerja paksa atau gulag.
Terdapat pula ketegangan di jajaran petinggi organisasi AI Meta. Wang bersama mantan CEO GitHub Nat Friedman, yang juga bergabung dengan Meta, menghadapi tekanan besar untuk menunjukkan hasil. Meskipun perilisan Muse Spark dinilai tinggi secara internal, ekspektasi investor dan publik masih sangat besar.
Dalam podcast pada Mei 2026, Wang menepis isu konflik internal. Ia menyebut Muse Spark sebagai “makanan pembuka” untuk apa yang akan datang, dan menjanjikan model-model yang lebih kuat di masa depan. Namun pernyataan ini belum cukup meyakinkan pasar yang haus akan hasil nyata.
Baca Juga:
CEO Mark Zuckerberg kini berada dalam posisi sulit. Ia harus membuktikan bahwa investasi fantastis untuk Wang dan Scale AI bukanlah keputusan yang sia-sia. Tugas utamanya adalah menunjukkan kemampuan Meta dalam menarik pengguna berbayar untuk produk AI-nya.
Jika berhasil, Meta bisa kembali menjadi pemain utama di industri AI. Namun jika gagal, kerugian Rp 248 triliun akan menjadi salah satu investasi paling mahal dalam sejarah teknologi global. Industri dan investor kini menanti langkah selanjutnya dari Zuckerberg dan timnya.
Untuk pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang dinamika industri teknologi, simak juga artikel tentang kacamata AR Specs dari Snap yang dirilis untuk publik dengan harga Rp 35 juta, serta wacana Indonesia sebagai penguasa AI yang disuarakan oleh Gibran Rakabuming Raka.
Implikasi dari situasi ini bagi industri teknologi global sangat jelas: bahkan perusahaan sekelas Meta pun tidak kebal terhadap kegagalan strategi. Investasi sebesar apapun tidak menjamin kesuksesan jika tidak diimbangi dengan eksekusi yang tepat dan produk yang mampu memikat pasar.
