Tesla Digugat Rp3,9 Triliun Usai Kecelakaan FSD di Texas

Ilustrasi Tesla Model Y menabrak rumah di Texas dengan latar polisi dan petugas penyelamat

JBNews.id — Keluarga korban tewas dalam kecelakaan Tesla yang menabrak rumah di Texas pada April lalu resmi menggugat Tesla dan pengemudi ke Pengadilan Distrik Harris County, Selasa (23/6/2026). Gugatan ini menuntut ganti rugi miliaran dolar setelah sistem Full Self-Driving (Supervised) diduga berkontribusi dalam insiden yang merenggut nyawa Martha Avila (76).

Kecelakaan terjadi ketika Tesla Model Y yang dikemudikan Michael Butler (44) keluar dari jalan raya dan menabrak rumah di kawasan Huntsville, Texas. Butler melaju dengan kecepatan tinggi dan menerobos pagar rumah sebelum akhirnya menabrak bagian depan bangunan. Avila yang sedang berada di dalam rumah tewas seketika. Menantu Avila, Justin Barbour, yang juga berada di dalam rumah mengalami luka-luka.

Dalam laporan kepolisian, Butler tidak menunjukkan tanda-tanda mabuk. Ia kemudian mengakui kepada petugas bahwa fitur bantuan pengemudi Tesla—yang diklaim pabrikan membuat berkendara lebih aman dan mengurangi stres—sedang aktif saat kecelakaan terjadi. Pengakuan ini menjadi dasar utama gugatan yang diajukan pihak keluarga.

Kuasa hukum keluarga Avila mendalilkan bahwa teknologi Full Self-Driving (Supervised) dari Tesla memiliki cacat desain dan secara tidak wajar berbahaya. “Fitur tersebut dirancang untuk menangani aspek tertentu dari mengemudi—termasuk navigasi di jalan kota dan perumahan, berhenti di lampu merah dan rambu berhenti, serta berpindah jalur—tetapi membutuhkan pengemudi untuk tetap waspada dan siap turun tangan jika sistem melakukan kesalahan,” demikian bunyi gugatan yang dikutip dari dokumen pengadilan.

Gugatan ini menambah daftar panjang tuntutan hukum terhadap sistem bantuan pengemudi Tesla. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di Florida, di mana juri memutuskan Tesla bertanggung jawab sepertiga atas kecelakaan fatal yang melibatkan Autopilot. Dalam putusan bersejarah itu, Tesla dihukum membayar ganti rugi punitive sebesar USD 200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) ditambah USD 43 juta (sekitar Rp670 miliar) kompensasi. Putusan tersebut dikuatkan hakim awal tahun ini.

Bantahan Tesla dan Data yang Kontroversial

Tesla tidak merespons permintaan komentar dari media. Namun, Wakil Presiden AI Software Tesla, Ashok Elluswamy, menulis di platform X bahwa data Tesla menunjukkan Butler “secara manual mengesampingkan self-driving dengan menekan pedal akselerator hingga 100 persen” dan “tetap menekan pedal akselerator bahkan setelah kecelakaan.” CEO Tesla Elon Musk juga mengecam spekulasi bahwa teknologi perusahaan berperan dalam kecelakaan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal.”

Kontroversi data ini mengingatkan pada kasus Florida sebelumnya, di mana Tesla mengaku tidak bisa memulihkan data penting terkait kasus tersebut. Kuasa hukum keluarga Benavides kemudian berhasil memulihkannya dengan bantuan seorang peretas. Situasi serupa berpotensi terulang dalam kasus Texas ini, mengingat data dari kendaraan menjadi bukti kunci.

Matthew Wansley, profesor di Cardozo School of Law Universitas Yeshiva yang mempelajari teknologi otomotif, mengatakan bahwa meskipun pengemudi sebagian besar bertanggung jawab, Tesla masih bisa ditemukan bersalah. “Jika produk dirancang sedemikian rupa sehingga membuat pengemudi rentan terhadap situasi di mana tiba-tiba sistem tidak berfungsi dan mereka kehilangan kesadaran situasional, Tesla bisa ditemukan bertanggung jawab,” ujarnya.

Masalah Kepercayaan Berlebih pada Sistem

Kritikus pendekatan Tesla berpendapat bahwa justru karena FSD (Supervised) bekerja dengan cukup baik, fitur tersebut justru menimbulkan masalah. Jika pengemudi percaya bahwa sistem beroperasi dengan baik setiap saat, mereka mungkin tidak siap untuk mengambil alih jika terjadi kesalahan. Pola ini terlihat dalam kecelakaan fatal di California tahun 2018, di mana pengemudi Model X yang menggunakan Autopilot gagal mengambil alih kemudi sebelum mobil menabrak pembatas jalan, menewaskannya. Tesla kemudian menyelesaikan gugatan terkait kecelakaan itu beberapa jam sebelum sidang dimulai.

Investigasi yang sedang berlangsung oleh National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) yang dibuka musim gugur lalu juga menyoroti potensi masalah ini. Investigasi dipicu oleh lebih dari 40 insiden yang dilaporkan di mana FSD gagal mematuhi peraturan lalu lintas, termasuk satu kecelakaan yang disebabkan oleh Tesla dengan fitur tersebut aktif yang menerobos lampu merah. Dalam dokumen pengajuan, NHTSA akan menilai apakah fitur tersebut memberikan “peringatan awal atau waktu yang memadai bagi pengemudi untuk merespons perilaku tak terduga atau untuk mengawasi dengan aman” teknologi tersebut.

NHTSA sebelumnya memaksa Tesla untuk mengeluarkan recall terkait Autopilot pada tahun 2023 setelah investigasi dua tahun yang menunjukkan bahwa sistem tersebut mendorong kurangnya perhatian pengemudi. Recall dilakukan melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air.

Dua Badan Federal Turun Tangan

Setidaknya dua badan federal kini menyelidiki kecelakaan Texas ini. National Transportation Safety Board (NTSB), badan federal independen yang menyelidiki insiden transportasi signifikan, mengumumkan pada Rabu (24/6) bahwa mereka telah membuka investigasi bersama dengan Kantor Sheriff Harris County. Peter Knudson, juru bicara NTSB, tidak dapat memastikan apakah badan tersebut telah menerima informasi atau data tambahan dari Tesla sebelum membuka investigasi, tetapi mengatakan bahwa NTSB biasanya menerima “informasi yang sangat umum tentang keadaan kecelakaan untuk membuat keputusan apakah akan menyelidiki atau tidak.”

NHTSA, regulator keselamatan jalan raya tertinggi di AS, juga mengkonfirmasi minggu ini bahwa mereka telah membuka investigasi atas kecelakaan tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa regulator federal mengambil kasus ini dengan serius, mengingat implikasinya terhadap keselamatan publik dan regulasi teknologi otonom.

Ryan Zehl, pengacara yang mewakili keluarga Martha Avila dalam gugatan kecelakaan Texas, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa keluarga korban “sangat terpukul.” “Kami berkomitmen untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi untuk mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan,” ujarnya.

Kasus ini menjadi ujian penting bagi industri kendaraan otonom. Jika Tesla dinyatakan bersalah, keputusan tersebut bisa menjadi preseden yang mengubah lanskap regulasi dan tanggung jawab hukum produsen mobil dalam mengembangkan sistem bantuan pengemudi. Di sisi lain, jika pengemudi dinyatakan sepenuhnya bertanggung jawab, hal itu bisa memperkuat argumen bahwa sistem bantuan pengemudi hanyalah alat bantu, bukan pengganti pengemudi manusia.

Bagi konsumen, kasus ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi seperti Full Self-Driving menjanjikan kemudahan, tanggung jawab tertinggi tetap berada di tangan pengemudi. Regulator dan pengadilan kini harus menentukan sejauh mana tanggung jawab produsen ketika sistem yang mereka ciptakan gagal melindungi pengguna jalan.

Perkembangan kasus ini akan terus dipantau, mengingat dampaknya yang luas terhadap masa depan teknologi otonom dan keselamatan publik.