JBNews.id — Waymo secara resmi menarik (recall) 3.871 kendaraan otonomnya di seluruh Amerika Serikat setelah ditemukan kegagalan sistem dalam mendeteksi zona konstruksi di jalan tol. Langkah ini diambil setelah serangkaian insiden yang melibatkan armada taksi robot tersebut pada April dan Mei 2026.
Berdasarkan laporan yang diajukan ke National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) pada 17 Juni 2026, recall ini mencakup hampir seluruh armada Waymo yang beroperasi dengan sistem pengemudian otomatis (ADS) generasi ke-5. NHTSA memperkirakan 100 persen unit yang terdampak mengandung cacat tersebut.
Dalam laporan keselamatan yang diajukan, cacat sistem dijelaskan sebagai kondisi di mana kendaraan otonom (AV) dapat memasuki dan melaju dengan kecepatan tinggi di zona konstruksi jalan tol. Hal ini terjadi akibat prioritas logika yang tidak tepat, di mana sistem lebih mengutamakan menghindari bahaya lain di jalan tol daripada mengenali zona konstruksi.
Kronologi Insiden
Peristiwa yang memicu penarikan massal ini dimulai pada awal tahun 2026. Pada 11 dan 19 April, kendaraan Waymo di Phoenix melewati rambu penutupan jalan dan memasuki zona konstruksi yang telah direncanakan. Menanggapi insiden tersebut, Komite Keselamatan Lapangan Waymo segera membatasi operasi di jalan tol.
Namun, gelombang kedua insiden terjadi pada 18 Mei 2026. Sebanyak tujuh kendaraan Waymo di kawasan Teluk San Francisco melaju di antara kerucut konstruksi dan memasuki jalur yang sedang ditutup untuk perbaikan. Meskipun tidak ada tabrakan atau cedera yang dilaporkan, insiden kedua inilah yang mendorong perusahaan untuk memberlakukan larangan total beroperasi di jalan tol.
Dewan Keselamatan Waymo meninjau masalah ini pada 1 Juni, dan pada 8 Juni memutuskan untuk mengeluarkan recall resmi. Keputusan ini menjadi yang keempat kalinya dalam waktu sekitar 28 bulan terakhir bagi perusahaan otonom milik Alphabet Inc. tersebut.
Belum Ada Solusi Permanen
Yang menjadi perhatian utama, solusi perangkat lunak untuk cacat berbahaya ini belum tersedia. Dokumen NHTSA mencatat bahwa perbaikan permanen masih dalam tahap pengembangan. Sebagai langkah sementara, Waymo memberlakukan pembatasan ketat: seluruh kendaraannya dilarang melaju di jalan tol.
“Misi Waymo adalah menjadi pengemudi paling tepercaya di dunia, dan data menunjukkan kami membuat jalan lebih aman di komunitas tempat kami beroperasi,” demikian pernyataan resmi Waymo yang dikirimkan ke WIRED. “Kami mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan terkait kinerja di sekitar zona konstruksi jalan tol. Kami secara sukarela membatasi operasi jalan tol bulan lalu sambil melakukan perbaikan, secara proaktif memberi tahu regulator negara bagian dan federal, dan memutuskan untuk mengajukan recall perangkat lunak sukarela ke NHTSA.”
Karena Waymo memiliki setiap kendaraan dalam armadanya, tidak ada pemilik yang perlu diberitahu. Perbaikan, ketika sudah diprogram, akan dikirimkan sebagai pembaruan perangkat lunak ADS melalui udara (over-the-air).
Langkah ini merupakan pukulan operasional yang signifikan bagi perusahaan yang sebelumnya menawarkan layanan perjalanan jalan tol di San Francisco, Los Angeles, Phoenix, dan Miami. Recall ini tidak memengaruhi kendaraan generasi ke-6 terbaru Waymo, dan mobil perusahaan akan terus beroperasi di jalan permukaan kota di AS.
Baca Juga:
Riwayat Recall Waymo
Ini bukan pertama kalinya Waymo harus melakukan recall. Pada Mei 2025, perusahaan menarik 1.212 robotaxi setelah tabrakan dengan penghalang jalan stasioner. Tindakan tersebut menyusul evaluasi pendahuluan NHTSA yang menyebutkan setidaknya tujuh insiden antara Desember 2022 dan April 2024.
Pada Mei 2026, Waymo kembali menarik 3.791 kendaraan setelah sebuah robotaxi melaju ke jalan yang tergenang banjir dan tidak dapat dilalui di San Antonio, hingga akhirnya terseret ke sungai kecil. Insiden tersebut menunjukkan kerentanan sistem terhadap kondisi lingkungan yang tidak terduga.
Implikasi bagi Industri Robotaxi
Recall terbaru ini menyoroti tantangan teknis yang masih dihadapi kendaraan otonom dalam menangani skenario jalan raya yang kompleks, khususnya zona konstruksi yang sering berubah. Kegagalan logika prioritas—di mana sistem memilih menghindari bahaya lain daripada mengenali zona konstruksi—menunjukkan bahwa kecerdasan buatan masih perlu peningkatan signifikan dalam pengambilan keputusan di lingkungan dinamis.
Bagi pengguna layanan robotaxi, pembatasan operasi di jalan tol berarti rute perjalanan menjadi lebih terbatas. Perjalanan antar kota yang sebelumnya dapat ditempuh menggunakan Waymo kini harus menggunakan moda transportasi lain. Hal ini menjadi ujian kepercayaan publik terhadap teknologi otonom, terutama menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan menjadi panggung besar bagi industri ini.
Menarik untuk dicermati bahwa insiden serupa juga pernah terjadi pada sistem otonom merek lain. Kasus Tesla tabrak garasi akibat mode Autopilot di Washington menunjukkan bahwa masalah deteksi lingkungan masih menjadi tantangan lintas produsen. Industri kendaraan otonom secara keseluruhan masih dalam fase belajar untuk menangani situasi batas (edge cases) yang jarang terjadi namun berpotensi fatal.
