Blog

  • Skandal Kecurangan AI Terbesar di Ivy League Terungkap

    Skandal Kecurangan AI Terbesar di Ivy League Terungkap

    JBNews.id — Seorang profesor ekonomi terkemuka dari Brown University mendeteksi apa yang disebut sebagai skandal kecurangan AI terbesar dalam sejarah Ivy League, setelah nilai ujian tengah semester menunjukkan anomali mencolok. Profesor Roberto Serrano menemukan bahwa 40 dari 86 mahasiswa dalam mata kuliah ekonomi matematika tingkat lanjut meraih nilai sempurna 100 dalam ujian take-home bersistem Honor Code, dengan rata-rata kelas mencapai 96 dari 100.

    Menurut laporan dari El País, Serrano langsung mencurigai keterlibatan kecerdasan buatan setelah melihat distribusi nilai yang tidak wajar. Ujian yang bersifat take-home dan closed-book tersebut seharusnya menguji pemahaman mendalam mahasiswa, namun hasilnya justru menunjukkan pola yang identik dengan jawaban dari chatbot AI. “Beberapa jawaban mengandung bagian yang tidak biasa yang bertepatan dengan hasil setelah menjalankan pertanyaan melalui ChatGPT,” ungkap Serrano kepada El País.

    Kecurigaan Serrano semakin kuat setelah membandingkan hasil ujian tengah semester dengan ujian akhir yang dilakukan secara langsung di ruang kelas. Nilai rata-rata ujian akhir yang bersifat tatap muka dan mencakup 50 persen dari nilai akhir hanya mencapai 48 dari 100 — sebuah kontras yang mencolok. Dari 27 mahasiswa yang tidak hadir dalam ujian akhir, 22 di antaranya sebelumnya meraih nilai 100 pada ujian tengah semester, memberikan bukti kuat bahwa kecurangan terjadi secara sistematis.

    “Bukti empiris kecurangan sangatlah kuat,” tegas Serrano kepada El País. Insiden ini menyoroti betapa maraknya penggunaan AI di ruang kelas, bahkan di kalangan mahasiswa universitas paling bergengsi sekalipun. Mereka menggunakan alat AI untuk meraih nilai tinggi dengan mudah, meskipun tindakan tersebut secara langsung melanggar kode kehormatan yang telah mereka sumpah untuk patuhi.

    Fenomena ini memperparah kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya. Para pengajar di perguruan tinggi melaporkan bahwa tingkat literasi dan numerasi mahasiswa baru mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir. Banyak mahasiswa yang masuk perguruan tinggi hanya memiliki pemahaman matematika setara tingkat sekolah menengah pertama. Situasi ini membuat para profesor mengeluh bahwa mereka kini lebih berperan sebagai “polisi plagiarisme” yang tugas utamanya memberantas kecurangan berbasis AI, bukan benar-benar mengajar.

    Permainan kucing-dan-tikus antara pengajar dan mahasiswa ini semakin rumit karena teknologi AI yang terus berkembang pesat, membuat kecurangan semakin sulit dideteksi. Para ahli memperingatkan bahwa penggunaan alat AI secara berlebihan justru merusak kemampuan berpikir kritis mahasiswa, karena mereka menjadi sangat bergantung pada teknologi. Dampaknya, nilai integritas akademik terancam punah dan kepercayaan antara mahasiswa dan pengajar semakin terkikis.

    Akibat dari skandal ini, Serrano memutuskan untuk tidak lagi memberikan ujian take-home. Keputusan serupa juga diambil oleh Princeton University, yang baru-baru ini menghentikan tradisi “Honor Code” yang telah berlangsung selama 133 tahun. Tradisi tersebut melibatkan profesor yang meninggalkan ruangan saat mahasiswa, yang telah menandatangani janji untuk tidak menyontek, mengikuti ujian akhir. Lonjakan penggunaan AI dan kecurangan akademik memaksa Princeton untuk mengakhiri tradisi tersebut.

    “Ada nuansa orang-orang yang menyontek pada ujian take-home dan menggunakan ChatGPT,” ujar Nadia Makuc, mahasiswa senior Princeton dan mantan ketua Komite Kehormatan, kepada The Atlantic. “Selama orang-orang berpikir ada lebih banyak kecurangan, hal itu justru mendorong lebih banyak kecurangan.” Pernyataan ini menggambarkan efek domino dari maraknya kecurangan AI di kalangan mahasiswa Ivy League.

    Di luar hilangnya integritas, kecurangan AI juga menggerus kepercayaan antara mahasiswa dan pendidik, sementara yang terakhir khawatir tentang menurunnya nilai gelar sarjana. “Jika kita tidak lagi membela kebenaran, kesopanan, dan kejujuran, lalu kredibilitas seperti apa yang akan kita miliki sebagai akademisi?” tanya Serrano retoris kepada El País. Pertanyaan ini menjadi pengingat keras bahwa fondasi pendidikan tinggi sedang diuji oleh teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses belajar.

    Skandal ini menjadi peringatan bagi institusi pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk segera mengadaptasi sistem evaluasi yang tahan terhadap kecurangan AI. Beberapa universitas mulai beralih ke ujian lisan, proyek berbasis presentasi, atau pengawasan ketat selama ujian daring. Namun, tantangan terbesar tetap pada bagaimana menanamkan nilai integritas akademik di era di mana jawaban instan tersedia dalam genggaman.

    Kasus di Brown University dan Princeton menunjukkan bahwa bahkan sistem Honor Code yang telah puluhan tahun berjalan pun tidak kebal terhadap godaan AI. Para pengajar kini dihadapkan pada dilema: memperketat pengawasan dan berisiko merusak kepercayaan, atau mempertahankan sistem kehormatan dan berisiko terhadap maraknya kecurangan. Sementara itu, kasus penipuan menggunakan AI di luar dunia pendidikan juga semakin marak, menunjukkan bahwa dampak negatif AI tidak terbatas pada akademik saja.

    Implikasi dari skandal ini sangat luas. Jika mahasiswa di universitas paling elit sekalipun tergoda untuk menggunakan AI secara tidak etis, bagaimana dengan institusi pendidikan lainnya? Pertanyaan ini mendorong para pemangku kepentingan di dunia pendidikan untuk segera merumuskan kebijakan yang jelas tentang penggunaan AI. Beberapa universitas telah mulai mengintegrasikan literasi AI ke dalam kurikulum, bukan sebagai alat kecurangan, melainkan sebagai keterampilan yang harus dikuasai secara bertanggung jawab.

    Data dari skandal ini juga menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar pada individu yang curang, tetapi pada sistem yang memungkinkan kecurangan terjadi. Ujian take-home yang mengandalkan kejujuran mahasiswa terbukti rentan disalahgunakan ketika teknologi AI tersedia secara luas. Para ahli menyarankan agar universitas merancang ulang metode evaluasi yang lebih menekankan pada proses berpikir daripada sekadar jawaban akhir.

    Sementara itu, Serrano menegaskan bahwa keputusannya untuk menghentikan ujian take-home bukanlah solusi jangka panjang. “Kita perlu berpikir lebih kreatif tentang bagaimana menilai pemahaman mahasiswa di era AI,” ujarnya. Beberapa ide yang muncul termasuk penggunaan software pendeteksi AI yang lebih canggih, ujian berbasis proyek kolaboratif, dan penekanan pada presentasi lisan sebagai bagian dari penilaian.

    Skandal kecurangan AI di Ivy League ini juga menjadi cermin bagi sistem pendidikan di Indonesia. Dengan semakin mudahnya akses ke alat AI seperti ChatGPT, risiko kecurangan serupa juga mengintai di kampus-kampus Tanah Air. Penting bagi institusi pendidikan di Indonesia untuk segera mengambil langkah preventif, seperti memperbarui kode etik akademik, menyediakan pelatihan penggunaan AI yang etis bagi mahasiswa dan dosen, serta mengembangkan metode evaluasi yang lebih tahan terhadap kecurangan.

    Pada akhirnya, skandal ini bukan hanya tentang angka-angka nilai yang mencurigakan, tetapi tentang krisis kepercayaan yang lebih dalam dalam sistem pendidikan tinggi. Ketika teknologi memungkinkan segala sesuatu menjadi instan, nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan integritas justru semakin terancam. Pertanyaan yang tersisa adalah: apakah institusi pendidikan mampu beradaptasi cukup cepat untuk menyelamatkan esensi dari pendidikan itu sendiri?

  • Karyawan Rockstar Minta Serikat Pekerja Diakui Sebelum Peluncuran GTA 6

    Karyawan Rockstar Minta Serikat Pekerja Diakui Sebelum Peluncuran GTA 6

    JBNews.id — Karyawan Rockstar Games, pengembang Grand Theft Auto VI, secara resmi mengajukan permintaan agar serikat pekerja mereka, IWGB Game Workers Union, diakui secara sukarela oleh perusahaan. Langkah ini diumumkan melalui siaran pers dan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan hubungan industrial menjelang peluncuran game paling dinanti tahun ini.

    Permintaan pengakuan serikat pekerja ini muncul setelah Rockstar memecat lebih dari 30 karyawan tahun lalu dalam sebuah langkah yang dituding sebagai “pemecahan serikat pekerja” atau union busting. Menurut siaran pers, anggota IWGB telah aktif melakukan pengorganisasian sejak 2019 dan kini mengklaim mewakili proporsi signifikan dari tenaga kerja di setiap lokasi studio Rockstar di Edinburgh, Dundee, Lincoln, Leeds, dan London.

    Seiring pertumbuhan serikat pekerja, Rockstar telah melakukan sejumlah perbaikan kondisi kerja, termasuk kenaikan gaji rata-rata yang belum pernah terjadi sebelumnya dan insentif finansial untuk lembur atau crunch untuk pertama kalinya. Namun, serikat pekerja menginginkan lebih banyak transparansi gaji, pengaturan kerja fleksibel yang lebih kuat, dan penanganan masalah crunch yang telah lama menjadi sorotan di industri game.

    Tanggapan Resmi Take-Two

    Alan Lewis, kepala komunikasi Take-Two Interactive, perusahaan induk Rockstar, memberikan pernyataan kepada The Verge. “Kami telah menerima permintaan dari serikat pekerja yang ingin mendiskusikan pengakuan sukarela,” kata Lewis. “Kami menghargai dialog yang terbuka dan konstruktif dengan semua pemangku kepentingan dan akan mengatur pertemuan.”

    Pernyataan ini menunjukkan bahwa Rockstar dan Take-Two terbuka untuk bernegosiasi, meskipun proses hukum terkait pemecatan tahun lalu masih berlangsung. Sidang final dalam pengadilan ketenagakerjaan atas pemecatan tersebut dijadwalkan mulai September — beberapa minggu sebelum peluncuran Grand Theft Auto VI yang direncanakan pada 19 November.

    Sementara itu, Rockstar baru saja mengumumkan harga awal GTA 6 sebesar USD 79,99 dan telah membuka preorder pekan lalu. Angka ini menjadi sorotan karena menandai kenaikan harga signifikan untuk game AAA, yang berpotensi memicu perdebatan di kalangan gamer.

    Gelombang Unionisasi di Industri Game

    Dorongan dari pekerja Rockstar ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar oleh pengembang game untuk berserikat. Karyawan Double Fine mengajukan petisi untuk berserikat pada Mei, sementara pekerja di studio Activision, Raven Software, berhasil mengamankan kontrak serikat pekerja pertama mereka tahun lalu.

    Fenomena ini mencerminkan perubahan lanskap hubungan industrial di industri game global. Para pengembang semakin sadar akan hak-hak mereka dan berani menuntut kondisi kerja yang lebih baik, terutama terkait isu crunch yang telah lama menjadi praktik umum di studio-studio besar.

    Crunch, periode kerja lembur intensif menjelang tenggat waktu rilis game, telah menjadi isu sentral dalam gerakan unionisasi. Rockstar sendiri pernah menjadi pusat kontroversi terkait praktik ini, terutama selama pengembangan Red Dead Redemption 2. Kini, dengan dimasukkannya insentif finansial untuk crunch untuk pertama kalinya, perusahaan menunjukkan adanya perubahan, meskipun serikat pekerja menginginkan pendekatan yang lebih sistematis.

    Implikasi untuk Peluncuran GTA 6

    Waktu pengajuan pengakuan serikat pekerja ini sangat signifikan karena bertepatan dengan fase kritis pengembangan GTA 6. Dengan sidang pengadilan ketenagakerjaan dijadwalkan pada September dan peluncuran game pada November, tekanan pada Rockstar semakin besar.

    Para analis industri memperkirakan bahwa GTA 6 akan menjadi salah satu peluncuran game terbesar dalam sejarah, dengan potensi pendapatan fantastis. Namun, ketidakpastian hubungan industrial dapat mempengaruhi jadwal produksi dan kualitas akhir game.

    Bagi para gamer, situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah GTA 6 akan dirilis tepat waktu dan dalam kondisi optimal. Konsol terbaik untuk memainkan game ini juga menjadi topik perdebatan tersendiri.

    Di sisi lain, pengakuan serikat pekerja dapat menjadi preseden penting bagi industri game di Inggris dan global. Jika Rockstar mengakui IWGB secara sukarela, hal ini dapat mendorong studio-studio lain untuk mengikuti langkah serupa, mengubah cara industri memperlakukan tenaga kerja pengembang game.

    Keputusan Rockstar dalam merespons permintaan ini akan diawasi ketat tidak hanya oleh karyawannya, tetapi juga oleh seluruh industri game yang tengah bergulat dengan isu kesejahteraan pekerja. Pertemuan yang dijadwalkan antara manajemen dan perwakilan serikat pekerja akan menjadi momen krusial yang menentukan arah hubungan industrial di studio pengembang game terbesar di dunia ini.

    Dengan peluncuran GTA 6 yang tinggal beberapa bulan lagi, semua mata tertuju pada bagaimana Rockstar menyeimbangkan tuntutan bisnis dengan aspirasi pekerja mereka. Hasil dari negosiasi ini tidak hanya akan mempengaruhi masa depan waralaba Grand Theft Auto, tetapi juga standar ketenagakerjaan di seluruh industri game.

  • NotebookLM Hadirkan Fitur Video AI Gaya TikTok

    NotebookLM Hadirkan Fitur Video AI Gaya TikTok

    JBNews.id — Google menghadirkan fitur baru di NotebookLM yang memungkinkan pengguna menghasilkan video AI vertikal berdurasi 60 detik bergaya TikTok dari catatan dan sumber penelitian mereka. Fitur ini mulai digulirkan untuk pelanggan Google AI Ultra dan Pro, memperluas cara pengguna berinteraksi dengan riset melalui konten video pendek yang dihasilkan secara otomatis.

    Fitur baru ini memungkinkan NotebookLM untuk membuat klip video AI vertikal berdasarkan sumber yang diunggah pengguna ke aplikasi. Contoh yang dibagikan Google menampilkan konten tentang perang Australia melawan burung emu yang tidak berhasil, dengan menggabungkan seni AI bergaya guntingan kertas dan narasi suara. Langkah ini menambah daftar panjang fitur interaktif NotebookLM, termasuk kemampuan menghasilkan podcast AI, video sinematik, dan penjelasan visual.

    Inovasi ini merupakan bagian dari strategi Google untuk memperkuat ekosistem AI-nya. Sebelumnya, Google aktifkan penyimpanan media untuk melatih model AI mereka, menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang lebih canggih dan terintegrasi.

    Cara Menggunakan Fitur Video Pendek NotebookLM

    Untuk menghasilkan klip video berdurasi 60 detik, pengguna dapat mengakses NotebookLM melalui web atau aplikasi. Langkah-langkahnya meliputi memilih notebook yang diinginkan, kemudian memilih opsi “Video” dari kolom Studio di sisi kanan layar. Dari sana, pengguna dapat memilih “Short,” menentukan topik yang ingin difokuskan oleh NotebookLM, atau memasukkan topik sendiri, lalu menekan tombol “Generate.”

    Fitur ini menawarkan kemudahan bagi pengguna yang ingin mengubah catatan penelitian menjadi konten visual yang lebih menarik dan mudah dicerna. Dengan format video vertikal yang populer di platform media sosial, Google tampaknya ingin menjembatani antara kebutuhan riset akademis dan tren konsumsi konten modern.

    Dampak bagi Pengguna dan Industri Teknologi

    Peluncuran fitur video AI ini menandai langkah signifikan dalam evolusi alat bantu riset berbasis AI. Dengan kemampuan menghasilkan konten multimedia dari sumber teks, NotebookLM berpotensi mengubah cara peneliti, jurnalis, dan pelajar menyajikan temuan mereka. Format video pendek yang mudah diproduksi dapat mempercepat penyebaran informasi dan membuat riset lebih mudah diakses oleh khalayak yang lebih luas.

    Namun, langkah Google ini juga memicu diskusi tentang persaingan di industri AI. Sebelumnya, Amazon hentikan film OpenAI sementara Google menginvestasikan dana besar di industri kreatif. Ini menunjukkan persaingan ketat antara raksasa teknologi dalam menguasai pasar konten AI.

    Keputusan Google untuk meluncurkan fitur ini untuk pelanggan berbayar terlebih dahulu menunjukkan strategi monetisasi yang hati-hati. Fitur ini saat ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris, dengan dukungan untuk pengguna gratis akan segera menyusul. Pendekatan bertahap ini memungkinkan Google mengumpulkan umpan balik dan menyempurnakan fitur sebelum dirilis secara lebih luas.

    Implikasi untuk Masa Depan Riset dan Konten Digital

    Kemampuan NotebookLM untuk menghasilkan video AI dari catatan penelitian membuka peluang baru dalam penyajian data dan informasi. Peneliti kini dapat dengan cepat membuat ringkasan visual dari temuan mereka, sementara pendidik dapat mengubah materi pelajaran menjadi konten video yang lebih menarik bagi siswa. Format video pendek juga memungkinkan penyebaran informasi yang lebih cepat di platform media sosial.

    Namun, fitur ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan dan potensi penyalahgunaan. Video yang dihasilkan AI mungkin tidak selalu mencerminkan nuansa atau konteks penuh dari sumber aslinya. Pengguna tetap perlu memverifikasi informasi yang disajikan dalam video, terutama untuk topik-topik yang kompleks atau kontroversial.

    Google sendiri telah menghadapi berbagai tantangan terkait kebijakan AI-nya. Google peringatkan risiko keamanan data di Eropa akibat regulasi DMA, menunjukkan bahwa perusahaan harus menyeimbangkan inovasi dengan kepatuhan regulasi. Langkah ini menjadi penting mengingat fitur video AI NotebookLM mengolah data pengguna untuk menghasilkan konten.

    Fitur video pendek ini merupakan tambahan terbaru dalam portofolio alat AI Google yang terus berkembang. Dengan menggabungkan kemudahan penggunaan, aksesibilitas, dan format konten yang populer, Google berupaya membuat teknologi AI lebih terjangkau dan bermanfaat bagi pengguna sehari-hari. Bagi pengguna yang menginginkan cara baru untuk menyajikan riset mereka, fitur ini menawarkan solusi yang cepat dan efisien.

    Ke depannya, integrasi fitur video AI dalam alat riset seperti NotebookLM dapat mengubah lanskap pendidikan, jurnalisme, dan penelitian. Kemampuan untuk menghasilkan konten multimedia dari teks tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam cara kita berbagi dan mengonsumsi informasi. Dengan dukungan untuk pengguna gratis yang akan segera hadir, fitur ini berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas dan demokratis.

    Bagi pelaku industri, langkah Google ini menegaskan bahwa masa depan alat produktivitas terletak pada integrasi AI yang mulus dan kemampuan multimedia. Perusahaan yang mampu menggabungkan kekuatan AI dengan antarmuka yang intuitif dan format konten yang relevan akan memenangkan persaingan di pasar yang semakin kompetitif ini.

  • Surplus Energi Surya Spanyol Rugikan Investor

    Surplus Energi Surya Spanyol Rugikan Investor

    JBNews.id — Lonjakan produksi listrik tenaga surya di Spanyol telah menciptakan surplus energi yang sangat besar, menyebabkan harga listrik anjlok hingga negatif dan merugikan para investor yang telah menanamkan modal miliaran dolar. Fenomena ini menjadi ironi di tengah upaya global transisi menuju energi hijau, di mana keberhasilan justru berubah menjadi masalah ekonomi.

    Menurut laporan Bloomberg, total investasi dari investor, perusahaan utilitas, dan bank di sektor energi terbarukan Spanyol telah melampaui angka USD 80 miliar. Investasi masif ini menghasilkan kelebihan pasokan listrik yang dramatis, sehingga nilai pasar pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) anjlok dan banyak investor berusaha keluar dari bisnis tersebut.

    “Kondisi ekonomi telah memburuk begitu tajam sehingga investor berusaha keluar dengan diskon besar,” ujar Daniel Pérez, kepala perusahaan utilitas Spanyol L’Energètica, kepada Bloomberg. Setidaknya empat taman surya telah dijual di negara itu, dengan pemiliknya menerima tawaran rendah dari calon pembeli. Para short seller pun mulai bertaruh pada kejatuhan industri ini.

    Spanyol bahkan mencatatkan rekor baru pada paruh pertama tahun ini untuk durasi terlama di mana produsen listrik justru membayar konsumen untuk menggunakan kelebihan energi. Fenomena harga energi negatif ini sebelumnya juga terjadi pada musim panas tahun lalu, dan kini frekuensinya semakin meningkat. Hal ini membalikkan logika ekonomi energi hijau, di mana kelebihan pasokan yang seharusnya menjadi kabar baik justru menjadi beban.

    Salah satu akar masalahnya adalah kurangnya kapasitas penyimpanan energi. Listrik dari panel surya yang melimpah di siang hari tidak dapat disimpan secara efisien untuk digunakan pada malam hari atau saat cuaca mendung. Perusahaan utilitas surya telah melakukan investasi besar-besaran di fasilitas baterai, namun kapasitasnya belum mencukupi untuk menyerap seluruh kelebihan produksi.

    Selain itu, jaringan listrik nasional Spanyol belum siap menghadapi fluktuasi pasokan listrik tenaga surya yang sangat cepat. Pemerintah Spanyol kini berupaya keras untuk menjaga kepercayaan investor dengan menjanjikan peningkatan infrastruktur jaringan dan dukungan finansial untuk pengembangan penyimpanan baterai.

    Meskipun harga listrik yang sangat murah menguntungkan warga Spanyol—yang menikmati tarif listrik termurah di Eropa—sistem kapitalis ventura yang mengejar keuntungan maksimal dari listrik bersih tidak lagi terlihat sebagai solusi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Ketidakselarasan antara tekanan finansial dan tujuan bersama mengatasi krisis iklim menjadi semakin nyata.

    Di sisi lain, Indonesia juga mulai bergerak di sektor energi terbarukan. PT NQI dan Hosen-X baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan pabrik baterai dan panel surya di Indonesia, sebuah langkah yang bisa menjadi solusi untuk menghindari masalah serupa di masa depan.

    Situasi di Spanyol menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang tengah gencar mengembangkan energi terbarukan. Keberhasilan dalam menghasilkan energi bersih harus diimbangi dengan investasi pada infrastruktur penyimpanan dan jaringan listrik yang adaptif.

    Para analis menilai bahwa tanpa sistem penyimpanan energi yang memadai dan regulasi pasar yang tepat, surplus energi terbarukan bisa menjadi bumerang bagi perekonomian. Hal ini juga menjadi perhatian bagi para pengembang teknologi, termasuk mereka yang mengembangkan motor listrik seperti Tyranno X dengan jarak tempuh 160 km, yang membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan terjangkau.

    Ketidakseimbangan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengembang kecerdasan buatan (AI), yang membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil. Krisis engineer AI yang disebabkan oleh beban code buruk dan kesenjangan kelas semakin memperumit upaya optimalisasi konsumsi energi di pusat data.

    Jika kondisi ini terus berlanjut, investasi di sektor energi terbarukan berisiko melambat, mengancam target pengurangan emisi karbon global. Para investor kini menunggu langkah konkret pemerintah Spanyol untuk menyelamatkan industri yang semula dianggap sebagai masa depan energi dunia.

    Dalam jangka pendek, warga Spanyol memang diuntungkan dengan tarif listrik murah. Namun, jika investor terus hengkang, pembangunan infrastruktur energi terbarukan bisa terhenti, yang pada akhirnya akan merugikan konsumen juga. Pemerintah Spanyol berada dalam posisi sulit: harus menyeimbangkan antara menjaga profitabilitas investor dan menyediakan energi murah bagi rakyatnya.

    Kasus Spanyol membuktikan bahwa transisi energi bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga ekonomi dan regulasi. Negara lain yang ingin mengikuti jejak Spanyol harus belajar dari pengalaman ini agar tidak terjebak dalam situasi serupa.

    Sementara itu, di Indonesia, MDI Ventures baru saja menggelar Explorise Q2 2026 di Bandung, sebuah ajang yang mempertemukan startup dan investor, termasuk mereka yang bergerak di bidang energi terbarukan dan teknologi penyimpanan energi.

    Ke depannya, keseimbangan antara produksi, penyimpanan, dan konsumsi energi akan menjadi kunci keberhasilan transisi energi global. Tanpa itu, energi terbarukan yang melimpah bisa menjadi masalah baru yang sama rumitnya dengan kelangkaan energi fosil.

  • Peneliti AI AS-China Khawatirkan Bencana Gaya Chernobyl

    Peneliti AI AS-China Khawatirkan Bencana Gaya Chernobyl

    JBNews.id — Para peneliti kecerdasan buatan (AI) dari Amerika Serikat dan China menyerukan kerja sama global untuk mengawasi teknologi ini, karena khawatir perkembangannya yang tidak terkendali dapat memicu bencana yang tak terbayangkan. Kekhawatiran ini disuarakan dalam konferensi AI besar di Beijing, menandai meningkatnya urgensi di kalangan ilmuwan untuk mencegah dampak buruk yang bersifat sistemik.

    Stephen Casper, seorang ilmuwan komputer dari MIT yang berbicara di konferensi tersebut, menyampaikan kekhawatiran mendalam. “AI adalah teknologi global dengan manfaat global, bahaya global, dan kecenderungan konsisten untuk kemampuan baru yang akhirnya menyebar luas,” ujarnya kepada Wired. Ia menambahkan, “Satu hal yang hampir semua orang di bidang AI bisa setujui saat ini adalah bahwa AI tidak membutuhkan momen Chernobyl.”

    Pernyataan Casper tidak dijelaskan lebih lanjut, namun dengan merujuk pada bencana nuklir Chernobyl, ketakutan nyata bukan hanya pada bencana itu sendiri. Lebih dari itu, kekhawatiran terletak pada dampak ireversibel terhadap persepsi publik, yang dapat menghentikan pengembangan AI secara permanen, mirip dengan bagaimana Chernobyl membayangi industri tenaga nuklir hingga saat ini.

    Spektrum Ancaman AI dan Dampak Siber

    Berbagai skenario bencana AI sangat bervariasi, mulai dari skenario ala Skynet hingga pengangguran massal. Namun, yang paling mendesak akhir-akhir ini adalah potensi AI untuk mengganggu keamanan siber. Para ahli memperingatkan bahwa peretas dapat dengan mudah menyalahgunakan agen AI dan alat pembuatan kode untuk melancarkan serangan siber yang dahsyat, meningkatkan skala serangan dan menurunkan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukannya.

    Narasi ini sebagian didorong oleh perusahaan AI itu sendiri. Contohnya, Anthropic mengumumkan model Claude Mythos, yang kemudian menolak untuk merilisnya secara publik. Model tersebut diklaim sangat kuat sehingga dapat dengan mudah membobol “setiap sistem operasi utama dan setiap browser web utama.”

    Risiko ini semakin diperdalam oleh maraknya model AI sumber terbuka (open-source) dan model dengan bobot terbuka (open-weight). Model-model ini gratis digunakan dan disukai peneliti karena transparansinya, namun kekurangan pengawasan yang dimiliki model AI komersial terkemuka.

    Respons China dan Seruan Kerja Sama Global

    Seorang sumber di salah satu perusahaan AI terkemuka China mengatakan kepada Wired bahwa masalah keamanan adalah salah satu alasan model canggih di China tidak lagi dirilis sebagai sumber terbuka. Langkah ini menunjukkan adanya kesadaran akan risiko proliferasi teknologi yang tidak terkendali.

    Lin Yun, seorang profesor di Shanghai Jiao Tong University, memperingatkan bahwa dalam jangka pendek, peretas akan lebih diuntungkan dengan menggunakan AI. Namun, dalam jangka panjang, AI juga dapat digunakan untuk memperkuat keamanan siber, menekankan perlunya kerja sama global.

    “Jika berbagai negara memahami risiko dengan cara yang sama, akan lebih mudah untuk mengembangkan prinsip keselamatan bersama dan standar teknis,” kata Yun kepada Wired. “Kuncinya adalah menemukan area di mana berbagi informasi dapat mengurangi risiko sistemik tanpa mengekspos detail operasional yang sensitif.”

    Perbandingan dengan Era Perang Dingin

    Kerja sama antara dua rival geopolitik ini mungkin tampak mustahil, terutama karena AS dan China juga merupakan pemimpin mutlak dalam AI. Namun, Casper membandingkan situasi saat ini dengan bagaimana AS dan Uni Soviet bekerja sama untuk mengekang ancaman nuklir, meskipun kedua negara terus memperbesar persenjataan nuklir mereka.

    Perbandingan ini memberikan secercah harapan bahwa meskipun ada persaingan sengit, kepentingan bersama untuk mencegah bencana global dapat mendorong dialog dan regulasi. Tanpa kerja sama semacam itu, risiko “momen Chernobyl” di bidang AI akan terus membayangi masa depan teknologi ini.

    Implikasinya bagi pembaca: perkembangan AI bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal tata kelola risiko. Tanpa pengawasan global yang ketat, potensi penyalahgunaan AI, terutama di bidang siber, dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat luas dan sulit dipulihkan.

  • Google Hentikan API Tenor, Platform Media Sosial Terdampak

    Google Hentikan API Tenor, Platform Media Sosial Terdampak

    JBNews.id — Google resmi menonaktifkan API Tenor per hari ini, mengakhiri integrasi layanan pencarian GIF di berbagai platform media sosial seperti X, Discord, Bluesky, dan WhatsApp. Langkah ini diambil perusahaan sebagai bagian dari fokus pada pengembangan produk inti.

    Google mengakuisisi platform GIF Tenor pada 2018. Sejak saat itu, API Tenor digunakan oleh banyak aplikasi pihak ketiga untuk menyediakan fitur pencarian GIF. Namun, setelah tenggat transisi pada 30 Juni, seluruh perjanjian API Tenor dan integrasi yang ada dinyatakan “sepenuhnya dinonaktifkan”. Setiap permintaan API yang dilakukan setelah batas waktu tersebut akan gagal dan menghasilkan pesan kesalahan.

    Meskipun API dihentikan, situs web Tenor beserta pustaka GIF yang dapat dicari tetap beroperasi. Google juga akan terus menggunakan Tenor di layanan internalnya, termasuk Google Messages dan Gboard. Perusahaan berhenti menerima permintaan pendaftaran API baru dan integrasi pada 13 Januari, seperti tercantum di halaman FAQ Tenor.

    Dampak pada Platform Media Sosial

    Beberapa aplikasi yang terkena dampak sudah mulai beralih ke layanan alternatif. Kepala produk X, Nikita Bier, menyatakan pada 21 Juni bahwa platformnya “terpaksa bermigrasi” akibat penghentian ini, meskipun belum merinci penyedia GIF picker yang akan digunakan ke depan.

    Discord mulai menguji coba Giphy dan Klipy sebagai alternatif Tenor pada Januari. Sementara itu, WhatsApp sedang dalam proses mengganti Tenor dengan Klipy sejak Mei. Perubahan paling terlihat bagi pengguna adalah kemungkinan kehilangan akses ke GIF favorit mereka, karena pustaka setiap layanan picker GIF berbeda-beda.

    Implikasi Persaingan Pasar

    Keputusan Google ini mengingatkan pada dinamika pasar penyedia GIF sebelumnya. Setelah Meta mengumumkan rencana akuisisi pesaing Tenor, Giphy, pada 2020, Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (CMA) menyebut Tenor sebagai satu-satunya “penyedia GIF besar” yang setara. CMA menyatakan akuisisi Giphy akan “berdampak negatif pada persaingan antar platform media sosial”. Meta kemudian dipaksa melepas pustaka GIF tersebut pada 2023.

    Google menutup API Tenor “sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memfokuskan sumber daya pada peningkatan produk inti kami,” menurut pernyataan resmi perusahaan. Langkah ini sejalan dengan strategi Google yang juga terlihat dalam kebijakan lain, seperti peringatan risiko keamanan data di Eropa akibat aturan DMA.

    Apa Artinya bagi Pengguna?

    Bagi pengguna biasa, perubahan ini berarti antarmuka pemilih GIF di berbagai platform favorit mungkin akan tampak berbeda. Pustaka GIF yang tersedia juga bisa berubah, tergantung pada layanan alternatif yang diadopsi masing-masing platform. Tidak ada jaminan bahwa GIF lama yang disimpan atau sering digunakan akan tetap tersedia setelah migrasi selesai.

    Dari sisi bisnis, langkah Google ini menunjukkan konsolidasi layanan yang terus berlanjut di industri teknologi. Perusahaan raksasa seperti Google terus memprioritaskan produk inti dan mengurangi dependensi eksternal. Hal ini juga terlihat dari investasi besar Google di A24 senilai Rp1,2 triliun, yang menunjukkan pergeseran fokus ke konten dan hiburan.

    Platform media sosial kini harus beradaptasi dengan cepat. X, Discord, dan WhatsApp sudah mengambil langkah awal dengan menguji atau beralih ke penyedia alternatif seperti Giphy dan Klipy. Namun, proses migrasi ini tidak selalu mulus dan bisa memengaruhi pengalaman pengguna dalam jangka pendek.

    Dengan menutup API Tenor, Google menegaskan kembali komitmennya untuk menyederhanakan operasi dan memperkuat layanan inti. Bagi industri, ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada API pihak ketiga selalu memiliki risiko. Perusahaan yang mengandalkan layanan eksternal harus selalu memiliki rencana cadangan untuk menghadapi perubahan kebijakan mendadak seperti ini.

  • Perang Kuantum AS-China: Janji 2028 vs Realita Sains

    Perang Kuantum AS-China: Janji 2028 vs Realita Sains

    JBNews.id — Hingga saat ini, belum ada satu pun komputer kuantum yang terbukti mampu menyelesaikan tugas praktis yang berguna. Mesin yang ada masih terlalu kecil dan rawan kesalahan untuk memecahkan masalah komersial. Namun, hal itu tidak menghentikan penasihat sains Presiden AS Donald Trump untuk menjanjikan “komputer kuantum yang cukup kuat untuk penemuan ilmiah pada tahun 2028” dan Trump sendiri menerbitkan perintah eksekutif baru pada 22 Juni untuk mempercepat industri komputer kuantum AS dalam persaingannya dengan China.

    Perusahaan-perusahaan teknologi juga turut mendorong hiruk-pikuk ini. Pada Juni lalu, Microsoft mengumumkan chip komputer kuantum baru bernama Majorana 2. Perusahaan tersebut mengklaim chip ini merupakan kemajuan perangkat keras yang mempercepat jadwal mereka menuju “komputer kuantum yang skalabel dan praktis” pada tahun 2029. Namun, para ahli independen dengan cepat mengkritik pengumuman tersebut. “Ini benar-benar omong kosong,” kata Henry Legg, fisikawan dari University of St. Andrews dan kritikus lama Microsoft, kepada The Verge.

    Legg baru saja menerbitkan makalah di jurnal Nature pada 24 Juni yang mengkritik klaim kuantum Microsoft dari setahun lalu — proses peer review memang memakan waktu lama — dan menunjukkan apa yang ia lihat sebagai perbedaan besar antara makalah ilmiah Microsoft dan siaran pers mereka. Nature juga menyertakan bantahan dari Microsoft. Sementara perdebatan terus berlangsung, lintasan kemajuan komputasi kuantum tampak kacau, bergantian antara pengumuman penuh sensasi dari perusahaan, bantahan dari akademisi, pertarungan lebih lanjut, dan target ambisius yang ditetapkan oleh kepala negara.

    Para peneliti sebenarnya telah membuat kemajuan nyata dalam komputasi kuantum — hanya saja kemajuan itu bersifat inkremental dan terlalu esoteris untuk langsung menarik imajinasi publik. Oh, dan semuanya sangat mahal. Selama dekade terakhir, Google, IBM, Amazon, Microsoft, serta sejumlah pemerintah nasional dan perusahaan rintisan kecil telah mengucurkan miliaran dolar untuk pengembangan komputasi kuantum. Para pendukungnya memprediksi teknologi ini akan menghasilkan penemuan di bidang kedokteran, serta kemajuan dalam ilmu material dan pembelajaran mesin. Sementara itu, banyak pakar keamanan nasional membingkai perkembangannya sebagai persaingan Perang Dingin baru antara AS dan China.

    Dasar Teknologi Kuantum

    Janji komputasi kuantum adalah kemampuannya unggul dalam jenis matematika yang berbeda secara fundamental dari komputer klasik. Alih-alih menggunakan bit seperti komputer klasik, unit informasi fundamental komputer kuantum adalah qubit. Qubit mewakili informasi sebagai probabilitas, bukan angka satu dan nol. Anda dapat membayangkan qubit sebagai koin yang dilempar ke udara. Sebelum koin mendarat secara definitif sebagai kepala atau ekor, koin tersebut adalah probabilitas dari kedua keadaan.

    Objek seperti molekul atau proses seperti fotosintesis secara inheren melibatkan probabilitas, sehingga lebih “alami” bagi komputer kuantum untuk disimulasikan dibandingkan komputer klasik. Namun, komputer kuantum kemungkinan besar tidak akan baik dalam tugas komputasi klasik seperti email atau pengolah kata. Perusahaan membuat qubit dari bahan yang berbeda. Beberapa fisikawan yang diwawancarai The Verge mengatakan bahwa jenis qubit terkemuka adalah atom netral, ion, dan qubit sirkuit superkonduktor. Google dan IBM sama-sama membuat qubit berdasarkan sirkuit superkonduktor. Quantinuum, afiliasi Honeywell, membuat qubit dari ion barium individu, sementara QuEra, perusahaan rintisan di Boston, membuat qubit dari atom rubidium individu. Qubit partikel Majorana milik Microsoft, yang keberadaannya masih diperdebatkan para ahli, dibuat menggunakan kawat tipis yang menempel pada superkonduktor.

    Aplikasi dan Target yang Kontroversial

    Dalam mengejar pendekatan yang berbeda ini, perusahaan-perusahaan tersebut mencoba segala cara untuk mengembangkan perangkat keras komputasi kuantum yang presisi dan mudah diskalakan. Para pendukung teknologi ini mengatakan bahwa komputer kuantum dapat memecahkan masalah yang sulit diatasi oleh superkomputer saat ini. Penelitian teoretis menunjukkan bahwa komputer kuantum seharusnya dapat mensimulasikan molekul jauh lebih mudah daripada superkomputer. Simulasi ini dapat membantu mengembangkan bahan baterai baru atau obat-obatan.

    Beberapa pihak membayangkan komputer kuantum sebagai alat serangan siber. Pada tahun 1994, ilmuwan komputer Peter Shor mengembangkan algoritma komputasi kuantum untuk memfaktorkan bilangan prima yang seharusnya dapat memecahkan enkripsi RSA, sebuah keluarga algoritma yang digunakan untuk mengamankan komunikasi perbankan dan email. Kemampuan kriptografi yang dijanjikan ini telah memotivasi para ahli untuk mengembangkan protokol yang lebih aman yang dikenal sebagai kriptografi pasca-kuantum, yang masih belum digunakan secara luas, yang seharusnya tidak dapat dipecahkan oleh komputer kuantum. (Pada 22 Juni, Trump mengeluarkan perintah eksekutif lain yang bertujuan untuk “memigrasi” komputer pemerintah ke “kriptografi pasca-kuantum” pada tahun 2030 atau 2031.)

    Komputer kuantum saat ini seperti Willow milik Google masih berupa chip individual yang terlalu primitif untuk memecahkan enkripsi RSA atau melakukan simulasi molekul obat. Namun, visinya adalah membangun mesin berskala besar. Komputer kuantum ini akan menjadi pusat data khusus dari banyak chip yang dijaringkan bersama, atau mungkin chip khusus di dalam superkomputer, yang dapat diakses pengguna melalui cloud. “Ini adalah komputer dengan tujuan yang sangat spesifik,” kata Dries Sels, fisikawan di Boston University.

    Investasi Besar dan Siklus Hype

    Perkembangan menuju aplikasi target ini tidak berjalan mulus, dan para peneliti masih terus memikirkan apa tujuan sebenarnya. Pada Juni lalu, IBM mengumumkan akan berinvestasi lebih dari $10 miliar ke dalam komputasi kuantum selama lima tahun ke depan. IBM, seperti Microsoft, bertujuan membangun komputer kuantum berskala lebih besar pada tahun 2029. Investasi perusahaan ini sejalan dengan suntikan dana publik ke dalam industri. Pada Mei lalu, pemerintahan Trump mengatakan akan memberikan pendanaan sebesar $2 miliar kepada sembilan perusahaan komputasi kuantum, di mana IBM akan menerima $1 miliar.

    Siklus serupa telah terjadi beberapa kali sejak awal teknologi ini. Perusahaan mengumumkan terobosan; peneliti independen berteriak hype, sementara investor terus menyuntikkan uang ke dalam industri. Pada 2019, Google mengumumkan bahwa komputer kuantumnya telah melakukan tugas lebih cepat daripada superkomputer terbaik, suatu prestasi yang kini dikenal sebagai keunggulan kuantum. Saat itu, juru bicara perusahaan menyanjung pencapaian tersebut sebagai “supremasi kuantum,” tetapi saat ini para ahli sepakat bahwa demonstrasi tersebut, yang melibatkan pembuatan angka acak, tidak memiliki aplikasi praktis.

    Pada Oktober lalu, Google mengklaim telah melakukan demonstrasi keunggulan kuantum lainnya. Dalam demonstrasi tersebut, peneliti Google mensimulasikan molekul 15 dan 28 atom untuk mempelajari perilaku magnetik mereka dalam skenario tertentu. Siaran pers menyatakan bahwa demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa “komputer kuantum dapat menjalankan algoritma yang dapat diverifikasi pada perangkat keras, melampaui superkomputer klasik tercepat sekalipun.” Namun, Sels mengatakan demonstrasi itu hanyalah eksperimen yang dirancang khusus untuk menunjukkan keunggulan kuantum, bukan sesuatu yang berguna. “Itu tidak mensimulasikan sesuatu yang menarik,” katanya.

    Sels juga membantah klaim Google telah mengalahkan semua komputer klasik. Meskipun tidak ada yang ia kenal yang menggunakan superkomputer untuk menyanggah klaim Google, ia menganggap hal itu mungkin dilakukan, karena ia pernah membongkar klaim keunggulan kuantum sebelumnya. Namun, ia juga menganggapnya sebagai pemborosan waktu. “Beberapa masalah ini sangat dibuat-buat sehingga kami benar-benar tidak ingin mencobanya,” kata Sels. Google tetap menganggap studinya signifikan. “Hasil Google tahun 2025 di Nature adalah demonstrasi pertama keunggulan kuantum yang dapat diverifikasi pada perangkat keras,” tulis juru bicara Google, Jason Freidenfelds.

    Kemajuan Nyata di Tengah Kontroversi

    Drama ini dapat menutupi kemajuan nyata dalam komputasi kuantum. Sejauh ini, tantangan teknologi utama adalah qubit yang cacat. Mereka tidak dapat menjalankan operasi komputasi dengan sempurna, dan kesalahan bertambah seiring algoritma yang semakin panjang. Ini telah menjadi kendala utama komputasi kuantum: Aplikasi apa pun yang menarik akan memerlukan algoritma yang panjang, tetapi semakin panjang algoritmanya, semakin banyak kesalahan yang terjadi pada komputer kuantum.

    Para peneliti telah meningkatkan qubit itu sendiri, sehingga mereka dapat menyimpan informasi lebih lama. Ketika mereka menyimpan informasi lebih lama, Anda dapat memasukkan lebih banyak operasi dan melakukan algoritma yang lebih rumit. November lalu, Andrew Houck dari Universitas Princeton dan rekan-rekannya melaporkan bahwa mereka telah membuat qubit superkonduktor yang dapat menyimpan informasi tiga kali lebih lama dari pemegang rekor sebelumnya. Kunci perbaikan mereka adalah membuat substrat berlapis tempat qubit berada dari bahan yang lebih murni daripada chip sebelumnya, dengan perhatian cermat pada suhu dan deposisi lapisan yang membuat chip. “Ini semua adalah penyesuaian yang sangat halus,” kata Houck.

    Dan dalam dua tahun terakhir, para peneliti telah membuat langkah besar dalam apa yang dikenal sebagai koreksi kesalahan kuantum. “Kemajuan dalam koreksi kesalahan yang kita lihat selama beberapa tahun terakhir adalah hal paling menarik yang terjadi di bidang ini,” kata Sels. Para peneliti telah mengembangkan algoritma untuk memperbaiki kesalahan saat komputer kuantum beroperasi. Teknik ini melibatkan pengkodean satu unit informasi dalam beberapa qubit, bukan satu qubit seperti yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka menyebut kumpulan yang telah dikoreksi kesalahan sebagai “qubit logis” dan konstituen individualnya sebagai “qubit fisik.”

    Perusahaan berlomba membuat qubit logis dari qubit fisik sesedikit mungkin. Pada tahun 2024, Google membuat qubit logis dari 105 qubit fisik. Pada tahun 2025, IBM dan Amazon menunjukkan mereka membutuhkan 12 dan sembilan qubit fisik untuk membuat qubit logis. Pada akhir tahun itu, Quantinuum menunjukkan hanya membutuhkan dua qubit fisik per qubit logis. Lebih sedikit qubit fisik per qubit logis memudahkan penskalaan komputer kuantum. Dan koreksi kesalahan adalah pusat dari pengumuman kontroversial Microsoft.

    Microsoft mengklaim, yang masih diperdebatkan para ahli, bahwa mereka telah membuat objek yang terbuat dari elektron yang dikenal sebagai partikel Majorana, yang diprediksi ada dalam kawat tipis yang terbuat dari semikonduktor indium arsenida yang menempel pada superkonduktor. Teori memprediksi bahwa dalam kondisi eksperimental tertentu, elektron dalam kawat ini, yang lebih tipis dari rambut manusia, akan melakukan “tarian” kolektif di mana mereka mulai berperilaku dalam unit aneh yang dikenal sebagai partikel Majorana. Secara khusus, peneliti berhipotesis bahwa partikel Majorana akan membuat lebih sedikit kesalahan daripada qubit fisik lainnya, dan dengan demikian, akan lebih mudah untuk diskalakan. Legg mengatakan Microsoft belum berhasil menciptakan partikel Majorana. “Anda tahu ungkapan, ‘tahun, bukan dekade’?” kata Legg. “Saya pikir ini lebih seperti berabad-abad, bukan dekade.”

    “Kami 100 persen mendukung hasil kami. Kami berpegang pada peta jalan kami,” kata pimpinan kuantum Microsoft, Chetan Nayak, dalam sebuah wawancara dengan The Verge. Bukti pendukung Microsoft tidak meyakinkan menurut Legg. Apa yang diklaim sebagai bukti partikel Majorana, katanya, sebenarnya bisa disebabkan oleh titik-titik kuantum yang terbentuk di perangkat mereka. Titik kuantum adalah objek yang mengandung elektron yang tidak berguna untuk komputer kuantum Microsoft. Klaim tersebut juga didasarkan pada data dari satu perangkat saja, kata Legg. Ia ingin melihat Microsoft mereplikasi hasilnya di beberapa chip. “Jika Anda berulang kali mencoba dan menemukan Yesus di roti panggang Anda, pada akhirnya Anda akan menemukan Yesus di roti panggang Anda,” katanya. Karya masa lalu yang meragukan dari peneliti afiliasi Microsoft menambah keraguan. Pada tahun 2021, jurnal Nature menarik kembali sebuah artikel dari peneliti afiliasi Microsoft di mana mereka mengklaim bukti eksperimental yang kuat bahwa mereka telah menciptakan partikel Majorana.

    Masa Depan Komputasi Kuantum

    Untuk jenis qubit yang para ahli setujui keberadaannya, perusahaan sekarang menjanjikan mesin yang lebih besar. Pada tahun 2029, IBM berencana membangun komputer kuantum seukuran pusat data dengan 200 qubit logis, atau yang telah dikoreksi kesalahannya. Quantinuum telah menetapkan tujuan serupa, mesin dengan ratusan qubit logis, untuk tahun 2030. Meskipun pasti lebih besar, masih belum jelas apakah mesin-mesin ini akan dapat melakukan sesuatu yang berguna. “Saya telah berkata, setengah bercanda, bahwa jika seseorang memberi saya komputer [yang telah dikoreksi kesalahan] sekarang dengan beberapa ratus qubit, tidak jelas bagi saya apa yang akan kami lakukan dengannya,” kata Sels.

    Bahkan para ahli yang optimis memiliki pendapat yang berbeda tentang kapan komputer kuantum akan menunjukkan sesuatu yang berguna. Eleanor Crane dari King’s College London baru-baru ini diberi waktu di komputer kuantum Google untuk mensimulasikan model sederhana interaksi foton dengan elektron, yang terjadi di sel surya dan fotosintesis. “Jika kami memahami proses ini, kami tidak hanya akan memahami apa yang terjadi di alam, tetapi kami juga akan memahami cara membuat sel surya yang lebih baik,” kata Crane. Ia berpikir bahwa para peneliti akan telah mendemonstrasikan simulasi ilmiah yang berguna pada komputer kuantum pada tahun 2028. Houck berpikir kemungkinan besar akan terjadi sebelum tahun 2035. Crane berpikir komputer kuantum dapat memecahkan enkripsi RSA pada tahun 2030, sementara Islam berpikir setidaknya satu dekade lagi. Legg lebih skeptis dan berpikir beberapa orang telah meremehkan tantangan fundamental penskalaan. “Tidak ada bukti skalabilitas platform mana pun ke tingkat yang Anda perlukan untuk melakukan komputasi kuantum yang berguna dalam satu dekade, atau mungkin beberapa dekade,” katanya.

    Sementara para peneliti telah membuat kemajuan menuju pembangunan komputer kuantum yang berguna, masih belum jelas apa kegunaan itu seharusnya. “Ini adalah teknologi yang sangat baru,” kata Islam. “Jika Anda bertanya, untuk apa komputer kuantum berguna, saya tidak tahu aplikasi mana yang pasti berhasil.”

  • Video Uji Ketahanan iPhone 18 Pro Ditarik Apple dari X

    Video Uji Ketahanan iPhone 18 Pro Ditarik Apple dari X

    JBNews.id — Apple secara agresif menekan penyebaran video uji ketahanan iPhone 18 Pro yang bocor di platform media sosial X, dengan menghapus unggahan tersebut dan menonaktifkan akun yang membagikannya. Langkah ini mengindikasikan kekhawatiran serius perusahaan terhadap kebocoran data yang terjadi di lini produksi perangkat flagship terbarunya.

    Video yang memperlihatkan iPhone 18 Pro menjalani uji jatuh atau drop test pertama kali muncul di X sebelum akhirnya ditarik. Sebuah akun yang meniru leaker terkenal EvLeaks langsung ditangguhkan oleh X setelah membagikan klip tersebut. Platform tersebut menyatakan bahwa unggahan itu “melanggar” aturan yang berlaku. Leaker lain, IceUniverse, juga turut membagikan klip serupa sebelum akhirnya dihapus.

    Dalam sebuah unggahan di Weibo, IceUniverse menunjukkan tangkapan layar dari X yang mengindikasikan bahwa posnya telah dihapus, disertai keterangan terjemahan mesin: “Apple telah mulai memblokir data bocor di Twitter.” Meskipun demikian, upaya pemblokiran ini belum sepenuhnya menghentikan penyebaran klip, karena akun-akun lain terus melakukan repost.

    Langkah Apple ini muncul setelah laporan Reuters pada Senin lalu mengungkap bahwa foto-foto iPhone 18 Pro mulai beredar di dark web menyusul kebocoran data yang dialami oleh Tata Electronics, salah satu pemasok utama Apple. Video uji jatuh yang beredar di X selaras dengan laporan Reuters, yang menyebutkan data bocor mencakup foto uji ketahanan iPhone 18 Pro dan daftar komponen.

    Dalam klip yang sempat beredar, terlihat perangkat berwarna abu-abu dengan konfigurasi tiga kamera dan logo Apple jatuh dari jarak pendek dengan latar belakang kotak-kotak. Sebuah sumber yang dikutip Reuters mengatakan bahwa Apple merasa “khawatir” atas insiden kebocoran ini. Hingga berita ini diturunkan, Apple belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari The Verge.

    Kebocoran Data dari Pemasok Utama

    Insiden ini bermula dari serangan siber yang menargetkan Tata Electronics, pemasok komponen kunci untuk lini produksi iPhone. Peristiwa ini menjadi sorotan karena mengekspos informasi sensitif yang seharusnya dirahasiakan hingga peluncuran resmi. Foto-foto yang bocor mencakup dokumentasi uji kualitas, termasuk uji ketahanan yang biasanya dilakukan secara internal oleh Apple.

    Kebocoran semacam ini menimbulkan risiko serius bagi Apple, tidak hanya dari segi kerahasiaan produk tetapi juga potensi kerugian finansial akibat bocornya informasi ke tangan kompetitor. Langkah cepat Apple untuk menekan penyebaran konten menunjukkan betapa pentingnya menjaga kerahasiaan desain dan spesifikasi iPhone 18 Pro.

    Implikasi bagi Konsumen

    Bagi konsumen yang menantikan peluncuran iPhone 18 Pro, kebocoran ini memberikan gambaran awal mengenai desain perangkat, termasuk konfigurasi tiga kamera yang kemungkinan besar akan menjadi fitur unggulan. Namun, perlu diingat bahwa video uji ketahanan yang beredar belum tentu mencerminkan kualitas akhir produk yang akan dirilis ke pasaran.

    Apple dikenal melakukan ribuan uji ketahanan sebelum memproduksi massal perangkatnya. Oleh karena itu, hasil uji jatuh yang bocor mungkin berasal dari tahap pengembangan awal dan belum mewakili ketahanan sebenarnya dari iPhone 18 Pro. Konsumen disarankan untuk menunggu informasi resmi dari Apple sebelum mengambil kesimpulan.

    Selain itu, kebocoran ini juga menyoroti pentingnya keamanan rantai pasok di industri teknologi. Insiden yang menimpa Tata Electronics bukanlah yang pertama kali terjadi, dan menunjukkan bahwa spesifikasi teknis perangkat flagship bisa bocor melalui celah keamanan pemasok.

    Bagi para pengamat industri, langkah Apple yang cepat dan tegas dalam menekan penyebaran konten ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sangat serius dalam melindungi kekayaan intelektualnya. Tindakan ini juga menjadi sinyal bahwa Apple akan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti membocorkan informasi rahasia.

    Dengan masih adanya kemungkinan kebocoran lebih lanjut, publik dan media akan terus memantau perkembangan terkait iPhone 18 Pro. Apple diperkirakan akan mengumumkan perangkat ini secara resmi pada September mendatang, dan kebocoran saat ini mungkin hanya sebagian kecil dari informasi yang akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.

    Implikasi faktual dari insiden ini adalah bahwa rantai pasok global Apple, meskipun sangat terkontrol, tetap memiliki celah keamanan yang bisa dieksploitasi. Bagi konsumen, hal ini berarti informasi mengenai produk masa depan mungkin akan terus bocor, namun keakuratannya perlu diverifikasi dengan hati-hati. Bagi Apple, insiden ini menjadi pengingat untuk memperketat pengawasan terhadap pemasoknya, terutama yang menangani data sensitif terkait produk yang belum dirilis.

  • Kritik Pedas terhadap Proyek Pusat Data Orbit Starcloud

    Kritik Pedas terhadap Proyek Pusat Data Orbit Starcloud

    JBNews.id — Proyek ambisius Starcloud yang mengusung konsep pusat data raksasa di orbit Bumi menuai kritik tajam dari para ahli teknik. Sebuah video analisis yang dirilis oleh kolaborasi kanal YouTube Real Engineering dan publikasi teknologi IEEE Spectrum menyebut rencana perusahaan rintisan Y Combinator itu sebagai “gagasan bodoh” yang penuh dengan tantangan rekayasa yang hampir mustahil diatasi.

    Starcloud, perusahaan yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 170 juta dolar AS pada awal tahun ini untuk mengembangkan wahana antariksa pusat data dengan bantuan SpaceX, menerbitkan sebuah white paper yang digambarkan oleh para kritikus lebih mirip hasil imajinasi kecerdasan buatan (AI) daripada tim insinyur manusia. “Sungguh terlihat seperti siapa pun dengan beberapa render dan white paper yang ditulis oleh seseorang yang dibuai oleh AI yang terlalu mudah setuju bisa mendapatkan pendanaan modal ventura akhir-akhir ini,” ujar Brian McManus, insinyur aeronautika asal Irlandia yang mengelola kanal Real Engineering.

    Tantangan Teknik yang Nyata

    Video tersebut menguraikan berbagai masalah fundamental dari proyek ini. Salah satu tantangan terbesar adalah sistem pendingin untuk perangkat keras AI yang sangat panas. Di ruang hampa udara, panas tidak bisa hilang secara alami sehingga diperlukan jaringan pipa pendingin yang sangat luas. McManus menjelaskan bahwa untuk cairan pendingin seperti glikol, setiap pusat data harus memompa lebih dari 150.000 pon cairan per detik — setara dengan “mengosongkan kolam renang Olimpiade dalam 40 detik” — suatu laju yang hanya umum ditemukan pada bendungan pembangkit listrik tenaga air gravitasi.

    Untuk mencapai kapasitas komputasi lima gigawatt yang diiklankan, Starcloud harus membangun pusat data dengan ukuran sangat besar. Setiap stasiun, termasuk panel surya raksasanya, akan menutupi area seluas 1,6 mil persegi — hampir 5.000 kali lipat luas permukaan panel Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Massa totalnya diperkirakan melampaui 113 juta kilogram, “lebih berat dari kapal induk yang mengorbit,” kata McManus, “lebih dari enam kali total massa yang pernah diluncurkan ke luar angkasa sepanjang sejarah.”

    Luas permukaan yang sangat besar ini juga membuka kerentanan terhadap jutaan keping sampah antariksa yang sudah memenuhi orbit Bumi. Bahkan pecahan terkecil sekalipun dapat melubangi panel, membutuhkan perbaikan mahal yang sangat rumit karena harus dilakukan di luar angkasa. SpaceX sendiri sudah merasakan masalah ini secara nyata: perusahaan mengungkapkan bahwa jaringan satelit Starlink-nya harus melakukan 300.000 manuver penghindaran tabrakan sepanjang tahun 2025 lalu.

    Selain masalah fisik, lingkungan radiasi di luar angkasa juga menjadi ancaman serius. Partikel terionisasi yang melewati satelit dapat membakar transistor atau membalikkan bit informasi yang tersimpan. “Ini akan mengakibatkan halusinasi AI terbesar tanpa perangkat lunak yang terus-menerus memeriksa hasil,” jelas McManus. Komputer yang ada di ISS saat ini harus menjalankan kalkulasi berulang dan membandingkan hasil untuk menyaring data yang rusak. Tantangan ini menjadi kian krusial mengingat proyek ini juga terkait erat dengan visi konstelasi pusat data AI raksasa yang diusung oleh Elon Musk.

    Biaya dan Realitas Ekonomi

    Perkiraan biaya untuk proyek Starcloud juga dinilai tidak realistis. McManus berargumen bahwa angka-angka yang diajukan “terlalu optimistis dalam hal berat peluncuran dan biaya peluncuran.” Pemeliharaan jaringan raksasa ini juga akan menjadi pekerjaan besar dan mahal. Umur pakai chip AI saat ini hanya dua hingga empat tahun — dan itu di Bumi, di mana degradasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan lingkungan ekstrem di luar angkasa. Situasi ini diperparah dengan kondisi keuangan SpaceX yang sempat goyang, di mana saham IPO SpaceX anjlok dan menghapus keuntungan awal.

    McManus menyimpulkan bahwa Starcloud tampaknya hanyalah “impian miliarder yang dibuai AI” yang dirancang untuk menenangkan investor yang gelisah. “Ini hanyalah satu konsep awal yang terburu-buru untuk menggalang dana dan melanjutkan langkah,” katanya. “Di dunia teknologi yang terus berkembang, penggerak pertama mendapat imbalan besar.”

    Kritik ini muncul tidak lama setelah IPO SpaceX yang menjadikan perusahaan roket tersebut sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dalam semalam. Sebagian besar valuasi triliunan dolar itu terkait dengan visi pusat data orbital Musk, yang sekali lagi menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Wall Street pada keyakinan orang terkaya di dunia itu, meskipun rekam jejaknya dalam memenuhi janji-janjinya terbilang buruk. Sementara itu, persaingan di sektor ini semakin ketat dengan kehadiran pemain global seperti China yang melalui proyek SpaceSail siap menantang Starlink dan menguasai pasar internet satelit.

    Bagi pengamat industri, proyek Starcloud menjadi contoh nyata bagaimana tekanan untuk menjadi yang pertama di era AI dapat melahirkan rencana-rencana yang secara teknik belum matang. Dengan tantangan mulai dari pendinginan, perlindungan radiasi, hingga sampah antariksa, konsep pusat data di orbit masih memerlukan terobosan teknologi besar sebelum bisa direalisasikan secara komersial.

  • Microsoft Bantah Pre-order GTA VI Xbox Kalah dari PS5

    Microsoft Bantah Pre-order GTA VI Xbox Kalah dari PS5

    JBNews.id — Microsoft secara tegas membantah klaim bahwa angka pre-order Grand Theft Auto (GTA) VI untuk konsol Xbox kalah telak dari PlayStation 5. Bantahan ini muncul setelah publikasi gaming IGN melaporkan rasio pemesanan 8 banding 1 untuk PS5.

    Data yang digunakan IGN berasal dari program tautan afiliasi (affiliate link) penerbit. Menurut Microsoft, metode tersebut sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menggambarkan data pre-order yang sesungguhnya.

    Dalam klarifikasinya kepada Windows Central, juru bicara Xbox menyatakan, “Data ini tidak merepresentasikan data pre-order yang sesungguhnya.” Pihak Microsoft justru mencatatkan rekor pesanan yang fantastis untuk GTA VI di platform mereka.

    Microsoft mengimbau publik untuk menunggu data resmi, bukan melihat dari jumlah klik di tautan afiliasi. Bantahan ini sekaligus meredam spekulasi yang beredar di kalangan gamer mengenai dominasi PS5 dalam penjualan awal game paling dinanti tahun ini.

    Pre-order GTA VI Resmi Dibuka

    Rockstar Games resmi membuka keran pre-order untuk GTA VI pada 25 Juni 2026. Pengumuman ini menepis rumor liar soal harga, meski tetap memicu perdebatan baru. Berikut adalah harga resmi yang ditetapkan:

    • Standard Edition: USD 79,99 (sekitar Rp 1,3 juta)
    • Ultimate Edition: USD 99,99 (sekitar Rp 1,6 juta)

    Meski tidak menyentuh harga dasar USD 100 seperti yang ditakutkan banyak pihak, label harga USD 80 ini tetap dirasa masuk kategori premium dibandingkan standar harga gim AAA yang biasa dibeli pemain pada generasi sebelumnya.

    Kenaikan Harga Konsol

    Di sisi lain, para produsen konsol secara berkala terus mendorong harga mesin mereka ke titik tertinggi baru. Berikut adalah gambaran kenaikan harga konsol dari waktu ke waktu:

    • Xbox Series S (512GB): Harga rilis USD 299 menjadi USD 499 per 1 Agustus 2026 (kenaikan harga ke-3 dalam 15 bulan terakhir)
    • PlayStation 5 (Digital Edition): Harga rilis USD 399 menjadi USD 599, naik signifikan akibat imbas krisis komponen global

    Jika ditarik mundur ke era 90-an, harga game AAA sebenarnya sudah masuk kategori mahal sejak puluhan tahun lalu. Berbagai iklan penjualan lawas menunjukkan bahwa game pada masa itu biasa dijual di kisaran harga USD 59,99 hingga USD 74,99. Faktanya, meski sudah berlalu 30 tahun dan biaya produksi membengkak, harga jual game saat ini masih berada di kisaran yang hampir sama. Justru, harga perangkat keras konsol-lah yang kini meroket tak terkendali.

    Kenaikan harga Xbox Series S ini sejalan dengan kebijakan harga terbaru yang diterapkan Microsoft menjelang perilisan GTA VI.

    Rockstar Game akan membuka pre-order GTA 6 dalam waktu dekat. Gamer bisa mulai memesannya pada 25 Juni 2026 di PlayStation dan Xbox Store.

    Implikasi bagi Gamer

    Bantahan Microsoft ini memberikan perspektif baru bagi para gamer yang tengah mempertimbangkan pilihan konsol. Data dari tautan afiliasi memang tidak bisa dijadikan patokan utama. Rekor pesanan yang dicatatkan Xbox menunjukkan bahwa minat terhadap GTA VI tetap tinggi di semua platform.

    Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan konsumen. Faktor harga konsol dan edisi game menjadi pertimbangan utama. Bagi pemilik Xbox Series S, kenaikan harga yang terjadi tiga kali dalam 15 bulan terakhir tentu menjadi beban tambahan. Sementara itu, pemilik PS5 Digital Edition juga harus merogoh kocek lebih dalam akibat krisis komponen global.

    Dengan harga Standard Edition USD 79,99, gamer perlu menghitung ulang anggaran mereka. Apakah layak mengeluarkan hampir Rp 1,3 juta untuk satu game? Atau menunggu diskon di kemudian hari? Keputusan ini sepenuhnya bergantung pada prioritas masing-masing.

    Bagi yang ingin mengikuti perkembangan terkait ekosistem Microsoft, rilis perangkat terbaru dari perusahaan ini juga patut dicermati.

    Secara keseluruhan, persaingan antara Xbox dan PS5 dalam pre-order GTA VI masih belum bisa disimpulkan. Data resmi dari masing-masing produsen menjadi satu-satunya acuan yang valid. Publik tinggal menunggu angka pasti yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan Microsoft, simak juga pemberitahuan penting terkait sertifikat yang baru-baru ini dirilis.