Blog

  • Aktivis Iklim Rusak Proyek Data Center Microsoft dengan Bom Asam

    Aktivis Iklim Rusak Proyek Data Center Microsoft dengan Bom Asam

    JBNews.id — Gelombang protes terhadap pusat data kecerdasan buatan (AI) yang boros energi terus meningkat secara global. Di Amsterdam, aktivis iklim dari kelompok Extinction Rebellion (XR) mengaku bertanggung jawab atas aksi vandalisme unik terhadap proyek konstruksi data center milik Microsoft. Mereka melemparkan balon air berisi campuran bahan kimia asam yang dirancang untuk merusak struktur beton dan baja bangunan. Aksi ini menjadi eskalasi terbaru dalam perlawanan warga terhadap ekspansi infrastruktur digital yang dianggap merusak lingkungan.

    Menurut laporan The Register, para pengunjuk rasa mengisi balon air dengan campuran hidrogen peroksida, asam asetat, garam, dan cat akrilik sebelum melemparkannya ke fasilitas tersebut. “Campuran asam ini menyerang beton, dan hidrogen peroksida menyebabkan baja berkarat lebih cepat,” demikian pernyataan Extinction Rebellion. Dampak fisik dari lemparan balon tersebut terhadap data center masih belum diketahui, namun hal itu mungkin bukanlah tujuan utama aksi ini.

    Extinction Rebellion dikenal kerap menggunakan aksi pembangkangan sipil non-kekerasan untuk menarik perhatian terhadap isu iklim yang sering diabaikan. Sebelumnya, mereka sempat memercikkan asam butirat berbau busuk ke kantor perusahaan asuransi bahan bakar fosil, serta menggunakan lem super dan gembok sepeda untuk memblokir pintu masuk Lloyd’s, pasar asuransi besar di London. Aksi di Amsterdam ini menunjukkan pola yang sama: provokatif, namun non-fatal, dengan tujuan membangun kesadaran publik.

    Data Center Jadi Sasaran Baru Aktivis Iklim

    Pemilihan data center sebagai target protes bukanlah hal yang mengejutkan. Fasilitas yang menjadi tulang punggung ledakan AI ini merupakan penyumbang utama emisi karbon karena kebutuhan energinya yang sangat besar. Selain itu, pusat data juga menimbulkan masalah serius terhadap pasokan air lokal untuk sistem pendingin. Dalam pernyataan pasca-aksi, Extinction Rebellion berargumen bahwa data center yang menjadi sasaran menggunakan celah hukum “untuk menghindari aturan yang melarang apa yang disebut ‘hyperscalers’,” dan akan “mengkonsumsi daya dalam jumlah raksasa di area yang sudah mengalami kekurangan listrik.”

    Kekhawatiran ini tidak hanya terjadi di Belanda. Di Amerika Serikat, gelombang protes serupa juga muncul. Sebagai contoh, Karyawan Amazon Protes Data Center di Seattle, yang menunjukkan bahwa resistensi terhadap ekspansi data center datang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk dari dalam perusahaan teknologi itu sendiri. Lebih jauh lagi, Amazon Investigasi Karyawan yang mendukung moratorium pembangunan data center, menandakan adanya ketegangan internal di perusahaan raksasa tersebut.

    Kaitan dengan Isu Global dan Kritik terhadap Microsoft

    Selain masalah lingkungan lokal, Extinction Rebellion juga menghubungkan aksi mereka dengan kebijakan global Microsoft. Kelompok hak asasi internasional berpendapat bahwa Microsoft memainkan peran instrumental dalam penghancuran Gaza oleh Israel. Pernyataan ini mencoba memperluas kerangka protes dari isu lingkungan semata ke isu geopolitik dan hak asasi manusia. Juru bicara Extinction Rebellion, Martijn Dekker, dalam pernyataan resminya menegaskan, “perjuangan melawan pusat data dengan jelas menunjukkan bagaimana orang biasa bersatu melawan kekuatan modal besar.”

    “Krisis iklim dan ekologi tidak dapat dilihat secara terpisah dari genosida Israel terhadap Palestina atau perjuangan melawan efek destruktif AI,” lanjut Dekker. “Penyalahgunaan ini berasal dari segelintir orang super kaya yang sama, dari perusahaan besar yang sama. Kita harus bersatu dan melawan kekuatan anti-demokrasi dari kelompok kecil orang terkaya ini. Menghentikan pembangunan pusat data ini adalah langkah yang diperlukan dalam hal itu.”

    Pernyataan Dekker menyoroti bagaimana gerakan lingkungan global mulai mengaitkan isu data center dengan kritik yang lebih luas terhadap kapitalisme dan korporasi besar. Ini menjadi tantangan baru bagi perusahaan teknologi yang selama ini berupaya membangun citra ramah lingkungan. Di sisi lain, perusahaan seperti TelkomGroup justru mengambil pendekatan berbeda dengan menerbitkan laporan keberlanjutan. TelkomGroup Terbitkan Sustainability Report 2025 yang mengintegrasikan ESG dalam transformasi bisnis, menunjukkan bahwa transparansi dan akuntabilitas bisa menjadi jalan tengah di tengah tekanan publik.

    Implikasi bagi Industri Teknologi

    Aksi vandalisme di Amsterdam ini menjadi sinyal peringatan bagi industri teknologi global. Ketika kebutuhan akan daya komputasi untuk AI terus melonjak, perusahaan seperti Microsoft, Amazon, dan Google harus menghadapi kenyataan pahit: ekspansi data center mereka tidak lagi diterima begitu saja oleh masyarakat. Biaya lingkungan dari infrastruktur digital, mulai dari konsumsi energi hingga penggunaan air, menjadi isu politik yang panas.

    Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini relevan mengingat Indonesia juga menjadi salah satu tujuan investasi data center global. Pemerintah dan pelaku industri perlu belajar dari konflik di Amsterdam dan Seattle. Regulasi yang jelas mengenai pembangunan data center, terutama terkait dampak lingkungan dan penggunaan energi, menjadi semakin krusial. Jika tidak, bukan tidak mungkin gelombang protes serupa akan terjadi di dalam negeri. “So what”-nya jelas: masa depan AI tidak hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga tentang bagaimana inovasi itu dikelola secara berkelanjutan dan adil bagi masyarakat dan lingkungan.

  • Astronom Temukan Planet Layak Huni LHS 1140b

    Astronom Temukan Planet Layak Huni LHS 1140b

    JBNews.id — Astronom berhasil mengonfirmasi bahwa eksoplanet LHS 1140b, yang berjarak 48 tahun cahaya dari Bumi, memiliki atmosfer kaya helium dan merupakan dunia berbatu yang berada di zona layak huni bintangnya. Temuan ini menjadikannya kandidat terkuat untuk mencari kehidupan di luar tata surya.

    Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science, para peneliti melaporkan bahwa LHS 1140b memuntahkan helium ke luar angkasa. Fenomena ini merupakan indikasi kuat bahwa planet tersebut memiliki atmosfer yang stabil. Jika terbukti, ini akan menjadi pertama kalinya umat manusia menemukan eksoplanet mirip Bumi dengan atmosfer yang mampu mendukung kehidupan.

    “Ketika ada satu, pasti ada lebih banyak lagi di antara eksoplanet,” ujar Sara Seager, astrofisikawan dari MIT yang tidak terlibat dalam studi tersebut, kepada New York Times. “Semoga ini menjadi awal dari sesuatu yang baru.”

    Meski demikian, penulis utama studi Collin Cherubim, ilmuwan planet dari Harvard University, mengingatkan bahwa belum ada bukti kehidupan di planet tersebut. “Pada titik ini, kami sama sekali tidak memiliki bukti adanya kehidupan di planet ini,” katanya. “Tapi kami yakin semua bahan penting yang benar-benar dibutuhkan ada di sana.”

    Planet Berbatu di Zona Layak Huni

    LHS 1140b adalah dunia berbatu seperti Bumi dan mengorbit di zona layak huni bintangnya. Zona ini merupakan wilayah di sekitar bintang di mana sebuah planet dapat mempertahankan air cair di permukaannya—salah satu syarat penting bagi kehidupan.

    Penemuan eksoplanet sendiri sangat langka. Dari jutaan bintang yang telah dikatalogkan, para astronom baru mengonfirmasi sekitar 6.000 dunia di luar tata surya kita. Menemukan planet yang memiliki atmosfer bahkan lebih sulit karena sinyalnya sangat redup dibandingkan cahaya bintang induknya.

    Dalam banyak kasus, planet yang memiliki atmosfer adalah raksasa gas yang kemungkinan besar tidak dapat mendukung kehidupan. Karena itu, LHS 1140b menjadi penemuan yang sangat istimewa.

    Mengorbit Bintang Katai Merah

    Detail penting lainnya adalah LHS 1140b mengorbit bintang katai merah. Planet-planet di sekitar bintang katai merah lebih mudah terdeteksi karena bintang-bintang kecil ini lebih redup. Akibatnya, lebih mudah untuk melihat ketika sebuah planet melintas di depannya.

    Namun, karena bintang katai merah memancarkan lebih sedikit panas, planet yang berpotensi layak huni harus mengorbit lebih dekat dibandingkan Bumi terhadap Matahari. Ini bisa menjadi masalah karena bintang katai merah diyakini sangat fluktuatif. Planet yang mengorbit terlalu dekat berisiko dihantam oleh semburan matahari dan ledakan kuat lainnya yang dapat melucuti atmosfernya serta memusnahkan kehidupan yang sedang berkembang.

    Menariknya, para astronom menemukan bahwa LHS 1140b memiliki atmosfer kaya helium meskipun berada di zona layak huni bintangnya. Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas bintang katai merah mungkin tidak separah yang diperkirakan sebelumnya. Bintang ini tampaknya tidak terlalu aktif dibandingkan bintang katai merah lainnya.

    Model Komputer Prediksi Atmosfer

    Para peneliti menggunakan model komputer teoretis tentang evolusi atmosfer eksoplanet untuk melacak bagaimana elemen ringan seperti hidrogen dan helium akan dikeluarkan oleh ledakan bintang induknya. Ketika model ini diterapkan pada LHS 1140b, yang pertama kali ditemukan pada 2017, model tersebut memprediksi bahwa atmosfer atasnya akan didominasi oleh helium—tanda yang menjanjikan bahwa planet ini mampu mendukung kehidupan.

    “Dua puluh tahun yang lalu kami bertanya-tanya apakah planet terestrial lain benar-benar ada,” kata Robin Wordsworth, profesor ilmu bumi dan planet di Harvard, dalam sebuah pernyataan. “Kemudian kami belajar bahwa mereka umum, dan menemukan beberapa di zona layak huni.”

    “Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada di antara mereka yang berhasil mempertahankan atmosfer,” tambahnya. “Sekarang kami tahu setidaknya satu planet berhasil.”

    Ilustrasi seniman tentang eksoplanet LHS 1140b yang mengorbit bintang katai merah 48 tahun cahaya dari Bumi, yang mungkin menjadi kandidat terkuat untuk mencari tanda-tanda kehidupan di luar tata surya.

    Implikasi bagi Pencarian Kehidupan

    Temuan ini memiliki implikasi besar bagi dunia astronomi. Jika LHS 1140b benar-benar memiliki atmosfer yang stabil, ini bisa menjadi validasi bahwa ada banyak planet serupa di luar sana, bukan hanya Bumi yang menjadi anomali langka di kosmos.

    “Semoga ini menjadi awal dari sesuatu yang baru,” ujar Seager. Optimisme ini juga didukung oleh fakta bahwa penemuan eksoplanet seperti LHS 1140b menjadi semakin umum seiring dengan kemajuan teknologi observasi.

    Bagi para ilmuwan, langkah selanjutnya adalah mencari bukti langsung kehidupan di planet tersebut. Meskipun belum ada bukti, semua bahan penting untuk kehidupan diyakini sudah ada di LHS 1140b. Ini menjadikannya target utama untuk misi observasi mendatang.

    Penemuan ini juga membuka peluang baru dalam memahami bagaimana atmosfer planet dapat bertahan di sekitar bintang katai merah. Jika planet lain di zona layak huni juga memiliki atmosfer yang stabil, maka jumlah kandidat planet layak huni di galaksi bisa jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

    Dengan kata lain, LHS 1140b bukan hanya sekadar planet baru. Ia adalah bukti bahwa planet mirip Bumi dengan atmosfer yang stabil benar-benar ada—dan mungkin saja, tidak sendirian.

  • Model AI Open-Weight Mudah Dirusak, Risiko Keamanan Baru Terungkap

    Model AI Open-Weight Mudah Dirusak, Risiko Keamanan Baru Terungkap

    JBNews.id — Model kecerdasan buatan (AI) tipe open-weight yang bisa diunduh dan dijalankan siapa saja ternyata sangat rentan terhadap serangan manipulasi data. Seorang peneliti keamanan siber dari Semgrep, Katie Paxton-Fear, berhasil mendemonstrasikan serangan yang hanya memakan waktu kurang dari satu jam dan biaya di bawah 100 dolar AS untuk meracuni model AI tersebut.

    Dalam demonstrasinya, Paxton-Fear melatih model AI dengan hanya sepuluh contoh data berbahaya. Hasilnya, model tersebut mulai menghasilkan kode baru yang rentan terhadap remote code execution (RCE), sebuah celah keamanan yang memungkinkan peretas menjalankan kode di mesin korban. “Saya benar-benar membuat backdoor,” ungkapnya di media sosial.

    Serangan backdoor ini termasuk jenis yang sangat berbahaya. Teknik ini melatih AI dengan cara menyisipkan frasa tersembunyi ke dalam model. Peretas dapat menggunakan frasa tersebut untuk memicu model melakukan tindakan tertentu secara diam-diam, layaknya bom waktu yang tidak aktif hingga dipanggil.

    Ancaman ini semakin serius mengingat temuan dari Anthropic yang bekerja sama dengan UK AI Security Institute dan Alan Turing Institute tahun lalu. Riset mereka menunjukkan bahwa model AI, baik kecil maupun besar, rentan terhadap serangan serupa hanya dengan menggunakan beberapa ratus dokumen. Artinya, serangan ini tetap murah untuk dilakukan.

    Kerentanan Model Open-Weight

    Temuan ini menjadi pukulan telak bagi optimisme terhadap model open-weight. Model-model ini selama ini dipuji karena memberikan kontrol dan transparansi lebih dibandingkan model closed-source yang menjalankan chatbot seperti ChatGPT dan Claude. Selain itu, biaya penggunaannya juga lebih murah.

    Namun, meskipun parameter model open-weight bisa dilihat, data pelatihan dan kode sumbernya tidak diungkapkan. Hal ini membuat model-model tersebut tetap menjadi black box bagi para peneliti keamanan. “Bahkan ketika bobot model bersifat publik (open weight), kita hampir tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi perilakunya,” tulis rekan Paxton-Fear di Semgrep dalam sebuah unggahan pekan lalu.

    Mereka menambahkan, “Ini perubahan besar: program komputer biasa, dalam bentuk biner, masih bisa dianalisis dengan alat reverse engineering untuk mendapatkan deskripsi total tentang perilakunya. Dengan model AI, kita tidak memiliki kemampuan mendekati itu.”

    Perairan yang Belum Dipetakan

    Dunia keamanan siber masih berada di perairan yang belum dipetakan dalam menghadapi ancaman ini. Model bahasa besar (large language models/LLM) sangat kompleks dan masih baru, sehingga sulit untuk mengungkap serangan yang canggih. Lebih dari itu, model AI bisa dikompromikan dengan cara yang jauh lebih halus dibandingkan perangkat lunak biasa.

    “Jika sebuah dependensi perangkat lunak berisi kode berbahaya, kita memiliki praktik yang matang untuk menemukannya, melacak asal-usulnya, dan mengurangi dampaknya,” jelas para peneliti Semgrep. “Model AI berbeda. Model yang dikompromikan atau dimanipulasi secara halus tidak perlu ‘rusak’ untuk menciptakan risiko bisnis. Model itu hanya perlu memengaruhi keputusan dengan cara yang sulit dideteksi.”

    Pertanyaan mendasar kemudian muncul: “Jadi, bisakah kita mempercayai model open weight yang disetel secara fine-tuned secara daring dan dipasarkan sebagai solusi untuk masalah pengeluaran token AI kita?” tanya Paxton-Fear dalam utas media sosialnya. “Ya, kita mungkin butuh sesuatu yang lebih baik daripada benchmark dan perintah ‘jangan menulis kode yang tidak aman’.”

    Untuk memahami lebih dalam tentang dampak AI di dunia nyata, Anda bisa membaca artikel tentang Nvidia RTX Spark yang baru saja dirilis.

    Implikasinya jelas: pengguna dan perusahaan yang mengadopsi model open-weight harus meningkatkan kewaspadaan. Keamanan model AI tidak bisa lagi hanya mengandalkan benchmark atau klaim dari pengembang. Diperlukan pendekatan baru yang lebih ketat dalam pengujian dan verifikasi, terutama sebelum model-model ini digunakan dalam aplikasi yang kritis.

    [CONTENT_END]

  • Bukti Atmosfer Planet LHS 1140 b, Kunci Pencarian Kehidupan

    Bukti Atmosfer Planet LHS 1140 b, Kunci Pencarian Kehidupan

    JBNews.id — Para astronom berhasil mendeteksi keberadaan atmosfer di planet ekstrasurya LHS 1140 b, yang berlokasi 48 tahun cahaya dari Bumi. Temuan ini menjadi bukti paling kuat bahwa planet berbatu di zona layak huni dapat mempertahankan atmosfer, sebuah syarat penting bagi kehidupan.

    Peneliti dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics mempublikasikan temuan mereka di jurnal Science pekan ini. Planet yang mengorbit bintang katai merah dingin ini pertama kali ditemukan pada 2017. Observasi baru yang dilakukan pada 2024 dan 2025 menjadi dasar temuan atmosfer tersebut.

    Tim peneliti mendeteksi kebocoran helium dari planet tersebut. Sinyal spektral helium ini menjadi bukti kuat bahwa LHS 1140 b memiliki atmosfer yang telah bertahan setidaknya selama 3 miliar tahun. “Dua puluh tahun lalu kami bertanya-tanya apakah planet tipe terestrial lain benar-benar ada,” kata Robin Wordsworth, profesor di Harvard dan salah satu penulis studi, dalam siaran pers. “Kemudian kami tahu mereka umum, dan menemukan beberapa di zona layak huni. Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada di antara mereka yang berhasil mempertahankan atmosfer. Sekarang, kami tahu setidaknya satu ada.”

    LHS 1140 b memenuhi tiga kriteria utama planet yang berpotensi mendukung kehidupan: komposisi berbatu, berada di zona layak huni bintangnya, dan memiliki atmosfer. Ini adalah planet ekstrasurya pertama yang memberikan bukti solid untuk ketiga persyaratan tersebut sekaligus.

    Atmosfer Berbeda dengan Bumi

    Meskipun berada di zona layak huni, kondisi atmosfer LHS 1140 B sangat berbeda dengan Bumi. Berdasarkan jumlah helium yang lolos, peneliti memperkirakan lapisan atas atmosfernya tidak mirip dengan planet kita. Di lapisan bawah, kemungkinan terdapat gas berat seperti nitrogen, karbon dioksida, atau karbon monoksida.

    Keberadaan atmosfer sangat penting bagi planet untuk mendukung kehidupan seperti yang kita kenal. Di Bumi, atmosfer memungkinkan air tetap dalam bentuk cair, tidak mudah mendidih atau menyublim. Atmosfer juga membantu menjaga iklim stabil dengan mengatur suhu planet dan mengurangi dampak radiasi luar angkasa yang berbahaya.

    Temuan ini juga mengonfirmasi keandalan teknik deteksi atmosfer yang digunakan tim peneliti. Ke depan, ilmuwan perlu mengamati planet dengan instrumen yang lebih kuat untuk mengkarakterisasi atmosfernya secara penuh dan menyelidiki apakah planet ini memiliki lautan permukaan atau fitur lain yang kompatibel dengan kehidupan.

    Para astronom yang mencari planet layak huni biasanya mencari kondisi tipe Goldilocks yang pas untuk kehidupan. LHS 1140 b menjadi contoh pertama yang memenuhi semua kriteria tersebut dengan bukti atmosfer yang kuat.

    Planet ekstrasurya ini mengorbit bintang katai merah yang lebih kecil dan lebih dingin dari Matahari. Meskipun jaraknya 48 tahun cahaya, planet ini dianggap sebagai objek yang paling mirip Bumi yang pernah ditemukan peneliti. “Jika bukan kembaran, pasti keluarga dekat,” demikian pernyataan tim peneliti.

    Untuk mendeteksi atmosfer dari jarak 48 tahun cahaya, peneliti mengidentifikasi kebocoran helium yang berasal dari planet. Mereka kemudian menggunakan model fisika untuk merekonstruksi bagaimana gas tersebut lepas dari atmosfer. Teknik ini terbukti efektif dan dapat digunakan untuk penelitian planet ekstrasurya lainnya di masa depan.

    Penemuan atmosfer LHS 1140 b membuka jalan baru dalam pencarian kehidupan di luar tata surya. Dengan instrumen yang lebih canggih, ilmuwan berharap dapat mengungkap komposisi atmosfer secara detail dan menentukan apakah planet ini benar-benar dapat mendukung kehidupan.

    Perkembangan teknologi observasi astronomi terus memungkinkan penemuan-penemuan baru. Sementara itu, di bidang teknologi informasi, Fitur Profil Search dan Sumber Kode Emoji menjadi contoh bagaimana inovasi terus berlangsung di berbagai bidang.

    Implikasi dari temuan ini sangat besar bagi dunia astronomi. Untuk pertama kalinya, peneliti memiliki bukti konkret bahwa planet berbatu di zona layak huni dapat mempertahankan atmosfer dalam jangka waktu miliaran tahun. Ini berarti kondisi yang diperlukan untuk kehidupan mungkin lebih umum di alam semesta daripada yang diperkirakan sebelumnya.

  • Cara Nonaktifkan Video Musik Spotify agar Hemat Kuota

    Cara Nonaktifkan Video Musik Spotify agar Hemat Kuota

    JBNews.id — Fitur video musik Spotify yang diputar secara default menguras kuota dan baterai, namun pengguna kini bisa menonaktifkannya lewat pengaturan. Langkah ini penting bagi pengguna yang lebih suka mendengarkan versi album tanpa gangguan visual.

    Spotify telah menambahkan video musik ke platformnya, dan untuk sebagian besar lagu, video tersebut akan diputar otomatis di latar belakang setiap kali artis mengunggahnya. Keputusan ini memicu kekesalan di kalangan pengguna, terutama karena video musik seringkali memiliki audio yang sangat berbeda dari trek asli, terutama jika menyertakan sketsa atau efek suara yang mengganggu.

    Selain itu, pemutaran video secara default menghabiskan bandwidth dan daya baterai perangkat. Di aplikasi desktop, video hampir tidak terlihat karena terkurung di panel album art yang kecil hingga pengguna menemukan tombol Now Playing yang sangat kecil. Seleksi video yang tersedia di platform juga terkesan acak, membuat banyak pengguna memilih YouTube saat benar-benar ingin menonton video musik.

    Untungnya, Spotify kini menyediakan toggle di pengaturan untuk menonaktifkan video musik sepenuhnya. Fitur ini hadir bersamaan dengan kontrol untuk menonaktifkan Canvas (album art animasi) dan video podcast. Bagi pengguna yang menginginkan pengalaman mendengarkan tanpa gangguan visual, pengaturan ini menjadi solusi yang sangat dinantikan.

    Cara Nonaktifkan Video Musik di Aplikasi Mobile

    Untuk pengguna aplikasi mobile Spotify, langkahnya cukup sederhana. Ketuk ikon profil pengguna di pojok kiri atas untuk memunculkan panel samping. Kemudian, ketuk Settings and privacy, diikuti oleh Content and display. Di bagian Videos and Canvas, akan terlihat tiga toggle: satu untuk video musik, satu untuk Canvas, dan satu untuk semua video lainnya. Toggle terakhir ini menonaktifkan video podcast, sehingga pengguna akan mendapatkan versi audio saja dari podcast. Matikan semua toggle ini, dan Spotify akan menggunakan bandwidth yang jauh lebih sedikit.

    Cara Nonaktifkan Video Musik di Aplikasi Desktop

    Di aplikasi desktop, prosesnya sedikit berbeda. Klik ikon profil pengguna di pojok kanan atas, lalu klik Settings. Gulir ke bawah ke bagian Videos and Canvas untuk menemukan opsi menonaktifkan video musik dan Canvas. Pengujian menunjukkan bahwa langkah ini berhasil. Ikon video musik di playlist dan album menghilang, begitu pula koleksi video musik di halaman Artis.

    Satu-satunya sisa dari fitur yang dinonaktifkan adalah tombol Switch to video di sidebar Now Playing, yang muncul di bawah album art. Jika diklik, pengguna akan diberi tahu bahwa video tidak dapat diputar kecuali video diaktifkan kembali di pengaturan. Meskipun terlihat aneh, untuk sebagian besar, menonaktifkan ini berarti pengguna tidak perlu memikirkan video musik di Spotify lagi.

    Banyak pengguna berharap Spotify akan meluncurkan video musik dengan lebih hati-hati. Terkadang, pengguna benar-benar ingin melihat video, tetapi tidak setiap kali memutar lagu. Playlist video musik mungkin akan lebih diterima jika berjalan terpisah dari playlist audio saja. Intinya, pengguna tidak ingin mendapatkan video musik saat mencari versi album dari sebuah lagu.

    Spotify sendiri terus mengembangkan berbagai fitur baru untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Sebagai platform streaming musik terbesar, Spotify juga merilis berbagai inovasi seperti Fitur Terbaru chatbot AI untuk pengguna Premium. Namun, penambahan fitur video musik yang kurang matang menunjukkan bahwa masih ada ruang perbaikan dalam desain antarmuka Spotify.

    Implikasi dari pengaturan ini cukup jelas: pengguna kini memiliki kendali penuh atas konsumsi data dan pengalaman mendengarkan mereka. Dengan menonaktifkan video, pengguna tidak hanya menghemat kuota internet dan daya baterai, tetapi juga mendapatkan kembali kendali atas cara mereka menikmati musik. Langkah ini juga mengurangi gangguan dari video yang memiliki audio berbeda dengan versi album asli.

    Bagi pengguna yang khawatir dengan konsumsi data, menonaktifkan video musik Spotify menjadi langkah penting. Terlebih lagi, dengan kenaikan harga layanan streaming musik seperti yang terjadi pada Harga Terbaru Apple Music, efisiensi penggunaan data menjadi semakin relevan.

    Ke depannya, diharapkan Spotify dapat merancang antarmuka yang lebih jelas dalam memisahkan konten video dan audio. Pengguna berharap agar pilihan untuk menonton video musik tidak lagi menjadi pengaturan default yang memaksa, melainkan opsi yang bisa dipilih secara sadar. Dengan demikian, pengalaman mendengarkan musik di Spotify bisa lebih personal dan sesuai dengan preferensi masing-masing pengguna.

    Sampai saat itu tiba, toggle pengaturan yang baru dirilis ini menjadi solusi sementara yang efektif bagi pengguna yang ingin fokus pada musik tanpa gangguan visual. Langkah kecil ini menunjukkan bahwa Spotify mulai mendengarkan keluhan penggunanya, meskipun masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam hal desain pengalaman pengguna.

  • China Larang AI Pacaran demi Tingkatkan Angka Kelahiran

    China Larang AI Pacaran demi Tingkatkan Angka Kelahiran

    JBNews.id, BEIJING — Pemerintah China menerapkan regulasi ketat yang melarang hubungan emosional manusia dengan kecerdasan buatan (AI) atau chatbot. Langkah ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran terhadap penurunan angka kelahiran di negara tersebut.

    Beijing khawatir bahwa hubungan romantis dengan AI yang selalu setia dan menyenangkan akan menghalangi warganya untuk mencari pasangan manusia dan memiliki anak. Regulasi baru ini secara khusus menargetkan AI companion atau chatbot yang dirancang untuk meniru kepribadian manusia.

    Kekhawatiran Penurunan Angka Kelahiran

    Seperti dilaporkan oleh The Wall Street Journal dan The Economist, salah satu motivasi utama Beijing dalam menerapkan aturan ini adalah kekhawatiran terhadap angka kelahiran yang terus menurun. Pemerintah China khawatir bahwa fenomena jatuh cinta dengan robot yang selalu setia akan menjauhkan orang dari pernikahan dan memiliki anak.

    “Mereka tidak menyukai gagasan bahwa sebagian besar populasi mereka menjalin hubungan emosional yang dalam dengan chatbot,” kata Matt Sheehan, peneliti AI China dari Carnegie Endowment for International Peace, kepada WSJ. “Hal itu bisa mengeluarkan mereka dari pasar pernikahan, bisa berdampak psikologis negatif, dan bisa menyebabkan kecanduan, ketergantungan, serta berbagai masalah sosial lainnya.”

    Sheehan menambahkan, “Mereka ingin mendorong orang untuk menjalin hubungan nyata di dunia nyata. Bisakah kita membayangkan masa depan di mana, tiga atau empat tahun dari sekarang, 15 juta perempuan China mengatakan pasangan mereka adalah chatbot, dan karena itu mereka tidak punya anak?”

    Aturan Baru untuk AI Companion

    Berdasarkan laporan WSJ, aturan baru China juga melarang anak di bawah umur (minor) menjalin hubungan dengan AI. Perusahaan teknologi juga diwajibkan untuk memberi tahu kontak darurat pengguna jika pengguna tersebut tampak mengalami krisis mental saat berinteraksi dengan chatbot.

    Langkah China ini menyoroti perdebatan global tentang dampak psikologis dari hubungan intim manusia dengan AI. Fenomena yang dikenal sebagai “AI psychosis” atau psikosis AI masih diteliti oleh para ilmuwan dan dokter.

    Dalam fenomena ini, pengguna chatbot yang intensif bisa terjerumus ke dalam spiral delusi yang menguras pikiran. Beberapa pengguna AI, termasuk remaja berusia 14 tahun bernama Sewell Setzer III, dilaporkan meninggal karena bunuh diri setelah menjalin hubungan romantis dengan chatbot.

    Dampak Pada Pengguna Setia

    Bagaimana regulasi ini akan berdampak pada pengguna setia AI companion masih belum jelas. Mereka yang pernah menjalin hubungan romantis dengan AI melaporkan perasaan duka dan kemarahan yang nyata ketika companion mereka dihapus karena pembaruan produk atau penghentian layanan.

    Yu Miao, seorang wanita berusia 27 tahun dari Provinsi Zhejiang, China, menggambarkan AI companion-nya sebagai “kekasih, teman, dan keluarga.” Ketika mendengar bahwa perusahaan induk TikTok, ByteDance, akan menghentikan AI companion-nya sebagai akibat dari regulasi baru Beijing, ia dilaporkan menjadi sangat depresi hingga berhenti dari pekerjaannya.

    “Saya bisa berbicara dengannya seumur hidup saya,” kata Yu Miao kepada The Economist.

    Penelitian Tentang Dampak AI

    Para peneliti di Stanford University menemukan bahwa interaksi romantis dengan model AI sangat menarik bagi pengguna. “Pesan yang meningkatkan hubungan pribadi manusia-chatbot — mengekspresikan minat romantis atau afinitas platonis — cenderung diikuti oleh percakapan yang jauh lebih panjang,” demikian bunyi studi tersebut.

    Dalam ringkasan temuan mereka, para peneliti menyimpulkan bahwa “chatbot tujuan umum tidak boleh menghasilkan pesan yang menyalahartikan kesadaran mereka atau menunjukkan minat romantis atau platonis kepada pengguna.” Mereka juga menyarankan bahwa “mencegah atau membatasi chatbot dari menghasilkan pesan yang mengekspresikan keterikatan romantis atau platonis dan menyalahartikan kesadaran atau kemampuan mereka dapat mengurangi risiko chatbot menyebabkan spiral delusi.”

    China bukan satu-satunya negara yang khawatir tentang dampak hubungan manusia-AI. OpenAI juga memiliki fitur opt-in serupa untuk melindungi pengguna. Namun, pendekatan China yang langsung melarang hubungan emosional dengan AI menunjukkan betapa seriusnya pemerintah tersebut memandang masalah ini.

    Regulasi ini menandai langkah berani China dalam mengatur teknologi AI yang berkembang pesat. Dengan semakin canggihnya AI companion, tantangan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan kesejahteraan sosial akan semakin kompleks.

    Implikasi dari kebijakan ini bagi pengguna AI companion di China sangat jelas: mereka harus mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka tanpa bergantung pada chatbot. Sementara itu, industri AI China harus beradaptasi dengan aturan baru yang membatasi pengembangan produk AI yang terlalu personal.

    Ilustrasi robot AI perempuan dengan tangan terbuka

  • Instagram dan Facebook Down Global, Ribuan Pengguna Terdampak

    Instagram dan Facebook Down Global, Ribuan Pengguna Terdampak

    JBNews.id — Gangguan besar melanda layanan milik Meta pada Minggu, 19 Juli 2026, menyebabkan Instagram dan Facebook down secara global. Ribuan pengguna di berbagai negara, termasuk Indonesia, melaporkan ketidakmampuan mengakses kedua platform media sosial tersebut sejak sore hari.

    Berdasarkan data dari situs pelacak gangguan Downdetector, lonjakan laporan mulai terdeteksi pada pukul 14:25 WIB. Gangguan teknis yang terjadi secara tiba-tiba ini memicu peningkatan eksponensial keluhan dari jutaan pengguna di Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan, dan sebagian Asia.

    Pengguna Facebook disambut dengan pesan error yang menyatakan, “Akun Anda saat ini tidak tersedia karena masalah situs. Kami memperkirakan masalah ini akan segera teratasi. Silakan coba lagi dalam beberapa menit.” Sebagian pengguna lainnya bahkan mendapatkan notifikasi pembatasan akun sementara sebelum akhirnya dialihkan ke halaman error.

    Laporan awal menunjukkan bahwa 63% dari pengaduan terkait Facebook berhubungan dengan situs web yang error, 20% melibatkan perangkat seluler, dan 10% langsung dari aplikasi Facebook. Gangguan serupa juga dialami pengguna Instagram, dengan keluhan utama meliputi feed yang tidak mau memuat, ketidakmampuan memperbarui konten, dan aplikasi yang tiba-tiba macet.

    Data Laporan Pengguna dari Berbagai Negara

    Downdetector mencatat lonjakan laporan dari berbagai negara dalam waktu singkat. Berikut adalah data jumlah laporan tertinggi di waktu tertentu berdasarkan pantauan, Minggu (19/7/2026):

    • Amerika Serikat: 4.303 laporan (Instagram) dan 4.660 (Facebook)
    • Inggris: 3.524 laporan (Instagram) dan 5.348 (Facebook)
    • Australia: 2.639 laporan (Instagram) dan 2.873 (Facebook)
    • India: 2.099 laporan (Instagram) dan 685 (Facebook)
    • Prancis: 1.178 laporan (Instagram) dan 1.177 (Facebook)
    • Jepang: 1.081 laporan (Instagram) dan 403 (Facebook)
    • Spanyol: 838 laporan (Instagram) dan 566 (Facebook)
    • Brasil: 506 laporan (Instagram) dan 183 (Facebook)
    • Meksiko: 447 laporan (Instagram) dan 591 (Facebook)
    • Indonesia: 369 laporan (Instagram) dan 398 (Facebook)
    • Malaysia: 267 laporan (Instagram) dan 396 (Facebook)
    • Thailand: 219 laporan (Instagram) dan 753 (Facebook)
    • Korea Selatan: 123 laporan (Instagram) dan 32 (Facebook)
    • Argentina: 94 laporan (Instagram) dan 119 (Facebook)

    Data tersebut menunjukkan bahwa Inggris mencatatkan laporan tertinggi untuk Facebook dengan 5.348 laporan, sementara Amerika Serikat menjadi negara dengan laporan Instagram terbanyak yaitu 4.303 laporan. Di Indonesia, tercatat 398 laporan untuk Facebook dan 369 laporan untuk Instagram.

    Keluhan Pengguna Instagram

    Selama gangguan besar Meta ini, pengguna Instagram di berbagai negara mengaku mengalami sejumlah masalah teknis. Beberapa keluhan yang tercatat antara lain:

    • “Halaman beranda saya tidak mau dimuat, tetapi saya bisa melakukan hal-hal lainnya,” kata Drew.
    • “Feed berfungsi, tetapi saya tidak dapat melihat profil saya sendiri,” ucap Crop.
    • “Ya, sedang down. Saat saya mengunggah cerita, prosesnya selalu macet di 90,0%,” sambung dddd.
    • “Saya tidak bisa mengunggah postingan dan juga Reels karena suatu alasan :/,” ucap Scarling.
    • “Semuanya silakan buka aplikasi dan laporkan bug tersebut, mungkin dengan begitu Instagram akan lebih cepat menindaklanjutinya, entahlah,” ujar Edward Monzon.
    • “Apakah ada orang lain yang mengalami masalah dengan halaman beranda yang tidak memuat dan Instagram menyarankan Anda untuk mengikuti orang lain agar Anda memiliki feed?,” imbuh Venom Gaming.

    Keluhan-keluhan ini menunjukkan bahwa gangguan tidak hanya bersifat parsial, tetapi memengaruhi berbagai fungsi utama Instagram mulai dari feed, profil, unggahan cerita, hingga Reels. Pengguna disarankan untuk melaporkan bug yang dialami agar pihak Meta dapat segera menindaklanjuti.

    Gangguan layanan Meta ini menjadi pengingat akan ketergantungan pengguna global pada platform media sosial milik perusahaan yang berbasis di Menlo Park, California tersebut. Bagi pengguna yang mengalami kendala serupa, disarankan untuk bersabar dan mencoba kembali akses secara berkala.

    Bagi pengguna yang khawatir dengan privasi data di tengah gangguan ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan memahami Cara Blokir Foto dari AI Meta untuk mengamankan privasi. Selain itu, pengguna juga bisa mempelajari Cara Mematikannya untuk fitur AI Instagram yang kontroversial.

    Implikasi dari gangguan ini cukup signifikan, terutama bagi pengguna yang mengandalkan Instagram dan Facebook untuk komunikasi, bisnis, atau hiburan. Belum ada pernyataan resmi dari Meta mengenai penyebab pasti gangguan dan estimasi waktu pemulihan penuh. Pengguna disarankan untuk memantau kanal resmi Meta atau platform alternatif untuk informasi terkini.

  • GameStop Raup Cuan Lebih Besar dari Kartu Pokemon Dibanding Game

    GameStop Raup Cuan Lebih Besar dari Kartu Pokemon Dibanding Game

    JBNews.id — Nama besar GameStop selama puluhan tahun selalu identik sebagai surga belanja bagi para penggemar video game fisik. Namun secara mengejutkan, jaringan toko ritel raksasa tersebut kini justru mendulang lebih banyak cuan dari penjualan kartu Pokemon dan barang koleksi dibandingkan kepingan kaset game itu sendiri.

    Fakta ironis ini terungkap setelah CEO GameStop, Ryan Cohen, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut bahwa penjualan kepingan cakram game fisik kini sudah sama sekali tidak relevan bagi perusahaannya. Dalam wawancara terbarunya, Cohen menjelaskan bahwa penurunan tren game fisik tidak akan mengganggu bisnis GameStop.

    Pasalnya, kontribusi penjualan perangkat lunak atau video game saat ini hanya menyumbang kurang dari 12 persen dari keseluruhan total pendapatan perusahaan. Membongkar rahasia dapur perusahaannya, Cohen mencatat bahwa lini bisnis barang koleksi dan kartu permainan kini menjadi mesin pencetak uang utama yang menyumbang sekitar 41 persen pendapatan GameStop.

    Dari sekian banyak barang dagangan, kartu permainan Pokemon dinobatkan sebagai produk tunggal yang paling laris manis diserbu pembeli di rak toko mereka. Peralihan strategi ini terbukti sangat menguntungkan. Bisnis kartu dan barang koleksi ini bahkan berhasil mengantarkan GameStop mencetak rekor pendapatan operasional tertinggi dalam sejarah mereka pada kuartal pertama tahun 2026, yakni mencapai USD 143 juta.

    Peralihan fokus bisnis GameStop ini sejalan dengan tren industri game global yang semakin meninggalkan format fisik. Meski memancing kekecewaan dari sebagian gamer yang menuntut jaringan ritel seperti GameStop untuk memperjuangkan warisan kaset fisik, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dominasi unduhan digital sudah tidak bisa dibendung.

    Beberapa realita yang mempertegas berakhirnya era game fisik di industri saat ini antara lain: Banyak game besar terbaru dari penerbit AAA seperti Cairn, Marathon, Esoteric Ebb, dan The Alters: Last Variable yang diluncurkan murni dalam format digital. Rockstar Games mengumumkan bahwa Grand Theft Auto VI akan dirilis secara digital, di mana edisi fisiknya diprediksi hanya berisi selembar kode unduhan, meski belakangan muncul wacana revisi akibat protes penggemar.

    Sony secara resmi telah mengumumkan akan berhenti merilis salinan fisik untuk judul game PlayStation baru mulai Januari 2028. Tumbangnya perlawanan para kolektor game fisik ini semakin nyata setelah otoritas Uni Eropa pada pekan ini turut mengklarifikasi bahwa mereka tidak memiliki wewenang untuk mencegah kebijakan Sony terkait penghentian kaset fisik tersebut, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (19/7/2026).

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana model bisnis ritel game tradisional harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. GameStop, yang dulu identik dengan rak-rak berisi kaset game bekas dan baru, kini justru lebih bergantung pada kartu koleksi dan mainan. Hal ini juga mencerminkan bagaimana pasar barang koleksi, khususnya kartu Pokemon, memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dan stabil.

    Bagi para kolektor dan penggemar, fenomena ini mungkin tidak mengejutkan. Harga kartu Pokemon langka di pasar sekunder bisa mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah, melampaui nilai jual kaset game baru sekalipun. Daya tarik nostalgia, kelangkaan, dan komunitas yang solid menjadi faktor pendorong utama di balik permintaan yang terus meningkat.

    Sementara itu, bagi industri game secara keseluruhan, transisi ke digital adalah keniscayaan. Kemudahan akses, penyimpanan tanpa batas, dan model berlangganan seperti Xbox Game Pass dan PlayStation Plus semakin mempercepat matinya format fisik. GameStop, dengan strategi barunya, seolah memberikan konfirmasi paling gamblang tentang arah masa depan industri ini.

    Langkah GameStop ini juga menjadi pelajaran bagi para pebisnis ritel lainnya untuk tidak terlalu bergantung pada satu lini produk yang sedang menurun. Diversifikasi ke produk yang memiliki basis penggemar setia, seperti kartu koleksi, bisa menjadi penyelamat di tengah disrupsi digital. Google Buka Toko Aplikasi Pesaing di Play Store juga menunjukkan bagaimana persaingan di ranah digital semakin ketat, memaksa pemain lama untuk berinovasi atau tergerus.

    Ke depannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak toko game fisik yang mengubah tampilan tokonya. Rak-rak kaset game mungkin akan semakin menyempit, digantikan oleh etalase kaca yang memajang kartu Pokemon, action figure, dan merchandise eksklusif lainnya. Ini bukan lagi sekadar tren, melainkan realitas baru di industri hiburan.

    Bagi penggemar game yang masih setia pada format fisik, kabar ini mungkin terasa pahit. Namun, data dari GameStop menunjukkan bahwa mayoritas konsumen telah beralih. Keputusan bisnis yang diambil oleh Ryan Cohen adalah respons rasional terhadap realitas pasar, bukan sekadar iseng. Dengan pendapatan operasional USD 143 juta, strategi ini terbukti berhasil secara finansial.

    Fenomena ini juga membuka mata tentang nilai sebuah “koleksi”. Di era digital, memiliki file game di hard drive tidak memberikan kepuasan yang sama seperti memegang sebuah kotak kaset, membuka plastiknya, dan mencium aroma buku manual. Barang koleksi fisik seperti kartu Pokemon mengisi kekosongan itu, menawarkan pengalaman taktil yang tidak bisa ditiru oleh unduhan digital.

    Dengan semua bukti yang ada, masa depan GameStop sebagai “toko game” mungkin akan bergeser menjadi “toko barang koleksi”. Nama besarnya mungkin tetap sama, tetapi identitasnya akan berubah total. Ini adalah contoh sempurna dari adaptasi bisnis di era disrupsi, di mana bertahan hidup berarti berani meninggalkan masa lalu.

    Para pengamat industri memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut dan bahkan diikuti oleh peritel game lainnya. Jika GameStop, yang merupakan salah satu rantai toko game terbesar di dunia, telah mengambil langkah ini, maka peritel kecil kemungkinan besar akan mengikuti jejak yang sama untuk tetap bisa bertahan.

    Kesimpulannya, cerita GameStop adalah sebuah metafora untuk seluruh industri hiburan saat ini: apa yang dulu dianggap sebagai inti bisnis bisa menjadi tidak relevan dalam sekejap. Kemampuan untuk membaca tren dan beradaptasi dengan cepat adalah kunci utama untuk bertahan dan bahkan meraih kesuksesan baru, seperti yang dibuktikan oleh raksasa ritel ini dengan kartu Pokemon-nya.

    Bagi para penggemar game di Indonesia, fenomena ini mungkin belum terasa dampaknya secara langsung. Namun, dengan semakin maraknya platform digital dan toko online, bukan tidak mungkin peritel game lokal juga akan mengalami pergeseran serupa dalam beberapa tahun ke depan. Google Ubah Sistem Kuota Gemini AI juga menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi besar terus beradaptasi, menjadi preseden bagi industri lainnya.

    GameStop telah memberikan peta jalan yang jelas: di era digital, yang fisik bukan lagi kaset game, melainkan barang koleksi yang bisa disentuh, dipamerkan, dan diperdagangkan dengan nilai tinggi. Kartu Pokemon adalah raja baru di kerajaan GameStop.

    Dengan strategi ini, GameStop tidak hanya bertahan dari badai digital, tetapi justru berlayar dengan angin segar menuju rekor pendapatan baru. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam bisnis, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Dan bagi GameStop, perubahan itu bernama Pokemon.

    Ke depan, akan menarik untuk melihat apakah GameStop akan memperluas lini barang koleksinya ke properti intelektual lain yang sedang naik daun, seperti kartu One Piece atau bahkan kartu olahraga digital (NFT) jika tren itu kembali bangkit. Yang jelas, GameStop telah menemukan tambang emasnya, dan mereka tidak akan meninggalkannya dalam waktu dekat.

    Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan baru: akankah penerbit game seperti Nintendo, yang memiliki hak atas Pokemon, mulai mengambil langkah untuk mengontrol pasar kartu koleksi mereka sendiri dengan lebih ketat? Atau justru mereka akan merangkul fenomena ini sebagai sumber pendapatan baru? Hanya waktu yang akan menjawab.

    Yang pasti, bagi para pebisnis dan pengamat industri, kisah GameStop adalah studi kasus yang brilian tentang bagaimana sebuah perusahaan bisa berputar 180 derajat dan tetap sukses. Ini bukan sekadar berita tentang game, melainkan pelajaran tentang strategi bisnis di abad ke-21.

    Dengan pendapatan operasional USD 143 juta hanya dalam satu kuartal, GameStop telah membuktikan bahwa para peragu salah. Kartu Pokemon bukan hanya mainan anak-anak, melainkan aset bisnis yang sangat serius dan menguntungkan. Dan GameStop kini menjadi bukti hidup dari kesuksesan tersebut.

  • Asus Rilis Vivobook Baru untuk Pelajar, Harga Mulai Rp 11 Jutaan

    Asus Rilis Vivobook Baru untuk Pelajar, Harga Mulai Rp 11 Jutaan

    JBNews.id — Asus resmi meluncurkan lini Vivobook terbaru yang dirancang khusus untuk pelajar dan pekerja muda. Laptop ini dibanderol mulai dari Rp 11,2 jutaan, menawarkan perpaduan desain ekspresif, performa berbasis kecerdasan buatan (AI), dan ketahanan berstandar militer.

    Peluncuran ini dilakukan pada pertengahan Juli 2026, menyasar segmen pelajar, mahasiswa, dan generasi muda dengan mobilitas tinggi. Asus menilai laptop saat ini bukan sekadar alat kerja, melainkan juga bagian dari gaya hidup dan identitas diri.

    “Anak muda saat ini membutuhkan laptop yang tidak hanya kencang untuk mengerjakan tugas sekolah atau kuliah, tetapi juga dapat mewakili kepribadian mereka,” ujar Lenny Lin, Country Manager Asus Indonesia, dalam keterangan resmi yang diterima JBNews.id.

    Melalui kampanye terbaru ini, Asus Vivobook hadir dengan pilihan warna ekspresif, mulai dari monokrom elegan hingga terakota yang berani. Semua varian dilengkapi teknologi AI dan sertifikasi ketahanan MIL-STD-810H.

    Dua Seri Utama: Vivobook Go dan Vivobook 14

    Asus membagi lini terbaru ini ke dalam dua seri utama: Vivobook Go dan Vivobook 14. Masing-masing memiliki segmen pengguna dan spesifikasi yang berbeda.

    Vivobook Go Series ditujukan bagi pelajar yang mencari laptop ringkas dengan harga terjangkau. Seri ini ditenagai prosesor hemat daya seperti AMD Ryzen seri 7020 atau Intel Pentium, dipadukan dengan RAM hingga LPDDR5 untuk multitasking ringan.

    Dari sisi portabilitas, Vivobook Go memiliki ketebalan sekitar 1,79 sentimeter dan bobot hanya 1,38 kilogram. Meski ringkas, laptop ini telah mengantongi sertifikasi ketahanan berstandar militer Amerika Serikat MIL-STD-810H.

    Untuk sektor visual, laptop ini menggunakan layar Full HD dengan opsi panel OLED pada varian tertentu. Fitur pendukung lainnya mencakup sistem pendingin efisien, sensor sidik jari, penutup fisik webcam untuk privasi, serta engsel yang dapat dibuka hingga 180 derajat.

    Pilihan warna untuk Vivobook Go meliputi Black yang klasik dan tegas, Cool Silver dengan kesan modern futuristik, serta Grey Green yang menghadirkan nuansa alam yang tenang.

    Vivobook 14 hadir dalam dua model: Vivobook 14 (A1404) dan Vivobook 14 (A1407). Seri ini dibekali dengan jajaran prosesor terkini mulai dari Intel Core Ultra Series, AMD Ryzen AI 300 Series, hingga Snapdragon X.

    Keunggulan utama seri ini adalah dukungan Neural Processing Unit (NPU) dengan kemampuan pemrosesan AI hingga 50 TOPS. Kemampuan ini berfungsi mempercepat berbagai fitur kecerdasan buatan, seperti Windows Studio Effects untuk kelas online, AI Noise Cancellation untuk meredam suara bising, hingga mempercepat proses penyuntingan konten kreatif melalui aplikasi seperti CapCut dan Asus MuseTree.

    Vivobook 14 memiliki bobot di kisaran 1,40 hingga 1,49 kilogram dengan ketebalan 1,79 sentimeter. Sektor layarnya mengusung opsi hingga resolusi WUXGA (1920 x 1200 px) dengan rasio 16:10 yang memberikan ruang kerja lebih luas.

    Laptop ini juga dilengkapi dengan tombol khusus Copilot untuk akses cepat ke fitur AI Windows, webcam inframerah untuk login Windows Hello, serta daya tahan baterai yang diklaim mampu mencapai lebih dari 10 jam penggunaan.

    Pilihan warna untuk Vivobook 14 (A1404) meliputi Terracotta yang hangat dan energik, Quiet Blue yang tenang dan elegan, serta Cool Silver. Sementara Vivobook 14 (A1407) hadir dengan warna Platinum Gold yang memberikan kesan mewah.

    Daftar Harga Lengkap

    Berikut adalah daftar harga resmi lini Asus Vivobook terbaru yang dirilis di Indonesia:

    • Asus Vivobook Go 14 (E1404) Ryzen 3 7320U, 8/512GB: Rp 11.299.000
    • Asus Vivobook 14 (A1407) Intel Core Ultra 5 225H, 16/512 GB: Rp 11.799.000
    • Asus Vivobook 14 (A1404) Intel Core 5 120U, 8/512 GB: Rp 13.799.000

    Dengan banderol mulai dari Rp 11,2 jutaan, lini Vivobook ini menjadi salah satu opsi paling kompetitif di segmen laptop pelajar dan pekerja muda. Sebagai perbandingan, di segmen yang lebih premium, Asus juga baru saja merilis ROG Zephyrus Duo 2026 dengan harga yang jauh lebih tinggi.

    Promo “Kelas Baru, Laptop Baru”

    Untuk menyambut tahun ajaran baru, Asus Indonesia menggelar promo spesial bertajuk “Kelas Baru, Laptop Baru”. Program ini berlangsung dari 29 Juli 2026 hingga 30 September 2026.

    Melalui program ini, setiap pembelian laptop Asus Vivobook dan Vivobook Go yang masuk dalam daftar model promo akan mendapatkan tambahan satu tahun garansi internasional gratis. Dengan tambahan ini, total masa perlindungan perangkat menjadi 3 tahun garansi internasional untuk biaya perbaikan dan suku cadang akibat kerusakan alami tanpa batas klaim.

    Selain itu, tersedia pula perlindungan 2 tahun Asus VIP Perfect Warranty yang menanggung 100 persen biaya perbaikan akibat kelalaian pengguna (seperti laptop terjatuh atau terkena tumpahan cairan) yang dapat diklaim sebanyak satu kali setiap tahunnya.

    Pengguna juga dapat memperluas perlindungan ini melalui Asus Premium Care dan Battery Service Package.

    Implikasi untuk Pelajar dan Pekerja Muda

    Peluncuran lini Vivobook terbaru ini memberikan dampak langsung bagi segmen pelajar dan pekerja muda di Indonesia. Dengan harga mulai Rp 11,2 jutaan, laptop ini menawarkan kombinasi performa AI, portabilitas, dan durabilitas yang sebelumnya hanya tersedia di segmen premium.

    Kehadiran NPU dengan kemampuan 50 TOPS pada seri Vivobook 14 memungkinkan pengguna mengakses fitur AI generatif tanpa perlu koneksi internet. Ini menjadi nilai tambah signifikan bagi mahasiswa yang sering mengerjakan tugas berbasis AI atau konten kreatif.

    Sementara itu, sertifikasi MIL-STD-810H memberikan jaminan ketahanan fisik yang jarang ditemukan di kelas harga ini. Bagi pelajar yang sering membawa laptop dalam tas, fitur ini memberikan perlindungan ekstra terhadap benturan dan tekanan.

    Dari sisi tren industri, langkah Asus ini sejalan dengan strategi perusahaan yang semakin agresif dalam mengintegrasikan AI ke perangkat konsumen. Sebelumnya, Asus juga telah memperkenalkan ekosistem AI raksasa di Computex 2026, menunjukkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap teknologi ini.

    Bagi pelajar yang sedang mencari laptop untuk menunjang aktivitas belajar dan kreatif, lini Vivobook ini layak menjadi pertimbangan utama di tahun ajaran 2026/2027.

    (Artikel ini ditulis berdasarkan rilis resmi Asus Indonesia. Harga dan spesifikasi dapat berubah sewaktu-waktu.)

  • Asus Rilis Vivobook Baru untuk Pelajar, Harga Mulai Rp 11 Jutaan

    Asus Rilis Vivobook Baru untuk Pelajar, Harga Mulai Rp 11 Jutaan

    JBNews.id — Asus Indonesia resmi meluncurkan lini Vivobook terbaru yang ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa dengan banderol harga mulai Rp 11.299.000. Laptop ini mengusung perpaduan desain ekspresif, teknologi kecerdasan buatan (AI), dan ketahanan berstandar militer.

    Peluncuran ini menjadi respons Asus terhadap kebutuhan generasi muda yang menginginkan perangkat tidak hanya bertenaga untuk tugas akademik, tetapi juga mencerminkan kepribadian. Lenny Lin, Country Manager Asus Indonesia, menyatakan bahwa anak muda saat ini membutuhkan laptop yang kencang untuk mengerjakan tugas sekaligus dapat mewakili gaya hidup mereka.

    “Melalui kampanye terbaru ini, Asus Vivobook hadir dengan pilihan warna ekspresif, mulai dari monokrom elegan hingga terakota yang berani, dilengkapi teknologi AI dan ketahanan berstandar militer,” ujar Lenny dalam keterangan resmi yang diterima JBNews.id.

    Vivobook Go: Ringkas dan Terjangkau untuk Pelajar

    Seri Vivobook Go 2026 menawarkan kombinasi performa, portabilitas, dan durabilitas dengan harga bersahabat. Laptop ini ditenagai prosesor hemat daya seperti AMD Ryzen seri 7020 atau Intel Pentium pada model tertentu, dipadukan dengan RAM hingga LPDDR5 untuk mendukung multitasking ringan.

    Dari sisi mobilitas, Vivobook Go memiliki ketebalan sekitar 1,79 sentimeter dan bobot hanya 1,38 kilogram. Meski ringkas, laptop ini telah mengantongi sertifikasi ketahanan berstandar militer Amerika Serikat MIL-STD-810H. Untuk sektor visual, tersedia layar Full HD dengan opsi panel OLED pada varian tertentu.

    Fitur pendukung lainnya mencakup sistem pendingin efisien, sensor sidik jari, penutup fisik webcam untuk privasi, serta engsel yang dapat dibuka hingga 180 derajat. Perangkat ini menjadi pilihan ideal bagi pelajar dengan mobilitas tinggi.

    Vivobook 14: Performa AI untuk Kreativitas

    Bagi pengguna yang membutuhkan performa komputasi lebih tangguh, Asus menghadirkan Vivobook 14 dalam dua model: Vivobook 14 (A1404) dan Vivobook 14 (A1407). Seri ini dibekali jajaran prosesor terkini mulai dari Intel Core Ultra Series, AMD Ryzen AI 300 Series, hingga Snapdragon X.

    Keunggulan utama seri ini adalah dukungan Neural Processing Unit (NPU) dengan kemampuan pemrosesan AI hingga 50 TOPS. Kemampuan ini mempercepat berbagai fitur kecerdasan buatan, seperti Windows Studio Effects untuk kelas online, AI Noise Cancellation untuk meredam suara bising, hingga mempercepat penyuntingan konten kreatif melalui aplikasi CapCut dan Asus MuseTree.

    Vivobook 14 memiliki bobot di kisaran 1,40 hingga 1,49 kilogram dengan ketebalan 1,79 sentimeter. Sektor layar mengusung opsi hingga resolusi WUXGA (1920 x 1200 px) dengan rasio 16:10 yang memberikan ruang kerja lebih luas. Laptop ini juga dilengkapi tombol khusus Copilot untuk akses cepat ke fitur AI Windows serta webcam inframerah untuk login Windows Hello.

    Daya tahan baterai diklaim mampu mencapai lebih dari 10 jam penggunaan, menjadikannya andalan untuk aktivitas seharian penuh.

    Harga dan Ketersediaan

    Berikut daftar harga resmi Asus Vivobook terbaru di Indonesia:

    • Asus Vivobook Go 14 (E1404) Ryzen 3 7320U, 8/512GB: Rp 11.299.000
    • Asus Vivobook 14 (A1407) Intel Core Ultra 5 225H, 16/512GB: Rp 11.799.000
    • Asus Vivobook 14 (A1404) Intel Core 5 120U, 8/512GB: Rp 13.799.000

    Dalam lini produk yang lebih premium, Asus juga merilis ROG Zephyrus Duo dengan harga Rp 129 juta untuk segmen gaming kelas atas. Sementara itu, ekosistem AI yang lebih luas telah diperkenalkan oleh Asus di ajang Computex 2026.

    Promo “Kelas Baru, Laptop Baru”

    Untuk menyambut tahun ajaran baru, Asus Indonesia menggelar promo spesial bertajuk “Kelas Baru, Laptop Baru” yang berlangsung dari 29 Juli 2026 hingga 30 September 2026. Melalui program ini, setiap pembelian laptop Asus Vivobook dan Vivobook Go yang masuk dalam daftar model promo akan mendapatkan tambahan satu tahun garansi internasional gratis.

    Dengan tambahan ini, total masa perlindungan perangkat menjadi 3 tahun garansi internasional untuk biaya perbaikan dan suku cadang akibat kerusakan alami tanpa batas klaim. Selain itu, tersedia perlindungan 2 tahun Asus VIP Perfect Warranty yang menanggung 100 persen biaya perbaikan akibat kelalaian pengguna, seperti laptop terjatuh atau terkena tumpahan cairan, yang dapat diklaim satu kali setiap tahunnya.

    Pengguna juga dapat memperluas perlindungan ini melalui Asus Premium Care dan Battery Service Package.

    Pilihan Warna Ekspresif

    Asus memahami bahwa setiap pengguna memiliki preferensi estetika berbeda. Untuk itu, lini laptop terbaru ini hadir dengan beragam pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan karakter pengguna:

    • Asus Vivobook Go Series: Black klasik dan tegas, Cool Silver modern futuristik, serta Grey Green dengan nuansa alam yang tenang.
    • Asus Vivobook 14 (A1404): Terracotta hangat dan energik, Quiet Blue tenang dan elegan, serta Cool Silver untuk tampilan modern.
    • Asus Vivobook 14 (A/M1407): Platinum Gold yang menawarkan kesan mewah untuk kegiatan akademis maupun profesional.

    Implikasi untuk Konsumen

    Dengan harga mulai Rp 11 jutaan, Asus Vivobook terbaru menawarkan nilai kompetitif di segmen laptop pelajar. Teknologi AI yang dihadirkan pada seri Vivobook 14 membuka akses bagi pelajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan fitur-fitur kecerdasan buatan dalam aktivitas belajar dan kreatif sehari-hari.

    Bagi konsumen yang mencari laptop dengan durabilitas tinggi, sertifikasi MIL-STD-810H pada Vivobook Go memberikan jaminan ketahanan terhadap kondisi penggunaan ekstrem. Sementara itu, promo garansi tambahan hingga 3 tahun memberikan perlindungan lebih bagi investasi jangka panjang.

    Asus juga terus memperkuat ekosistem produknya dengan menghadirkan inovasi AI di berbagai lini, sebagaimana terlihat pada peluncuran ekosistem AI raksasa di Computex 2026.

    Asus Vivobook