Category: Tekno

  • LGI Luncurkan Fitur AI Face Scan dan Sleep Tracker untuk Pantau Kesehatan

    LGI Luncurkan Fitur AI Face Scan dan Sleep Tracker untuk Pantau Kesehatan

    JBNews.id — PT Lippo General Insurance Tbk (LGI) resmi meluncurkan Care+, fitur wellness berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam aplikasi eBenefit Health. Inovasi ini memungkinkan pengguna memantau kondisi kesehatan harian melalui pemindaian wajah hingga pelacak tidur, sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan digital yang praktis dan preventif.

    Peluncuran Care+ dilakukan pada Minggu, 28 Juni 2026, di Jakarta. Fitur ini mengintegrasikan teknologi AI untuk membantu masyarakat membangun kebiasaan sehat secara konsisten tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Langkah ini memperkuat posisi LGI dalam transformasi digital di sektor asuransi kesehatan.

    Fitur Unggulan Care+

    Salah satu fitur unggulan Care+ adalah AI-Powered Face Scan. Teknologi ini memberikan gambaran kondisi kesehatan hanya melalui pemindaian wajah, termasuk indikasi detak jantung, laju pernapasan, skor respirasi, hingga tingkat stres. Fitur ini dirancang untuk memudahkan pengguna memantau kesehatan secara real-time.

    Selain itu, aplikasi juga dilengkapi Sleep Tracker untuk memantau kualitas tidur, Activity Tracker guna merekam aktivitas fisik harian, serta Nutrition Tracker yang membantu mengelola asupan nutrisi dan menyusun pola makan sesuai kebutuhan. LGI juga menyediakan artikel dan konten edukasi kesehatan yang diperbarui secara berkala sebagai panduan gaya hidup sehat.

    Strategi Perusahaan dan Dampak

    Vice President Director LGI, Ricky Choi, menyatakan bahwa Care+ merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas layanan digital. “Care+ merupakan bagian dari komitmen LGI untuk menghadirkan solusi kesehatan digital yang tidak hanya mendukung perlindungan, tetapi juga membantu masyarakat menjaga kesehatannya secara proaktif,” ujar Ricky. Menurutnya, penerapan gaya hidup sehat masih menjadi tantangan, dan pemanfaatan teknologi digital diharapkan memudahkan pengguna membangun kebiasaan sehat secara konsisten.

    Peluncuran Care+ memperkuat ekosistem digital LGI yang sebelumnya telah menghadirkan aplikasi eBenefit General, MyGo+, dan MyPro+. Sebagai perusahaan asuransi umum terkemuka, LGI mencatat rasio Risk-Based Capital (RBC) sebesar 303,99 persen per Desember 2025, jauh di atas batas minimum regulator. Perusahaan juga mempertahankan peringkat kekuatan finansial “AA+ (idn)” dari Fitch Ratings Indonesia dan “A- (Excellent)” dari AM Best.

    Implikasi bagi Pengguna

    Inovasi ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan Transformasi Digital untuk menjaga kesehatan secara preventif. Pengguna dapat memantau berbagai aspek kesehatan sehari-hari dengan lebih mudah dan terintegrasi. LGI berharap langkah ini meningkatkan kesadaran bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya dilakukan saat sakit, tetapi dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

    Dengan fitur Fitur Terbaru seperti AI Face Scan dan Sleep Tracker, LGI menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat yang ingin memantau kesehatan secara proaktif. Langkah ini sejalan dengan tren global dalam adopsi teknologi AI untuk kesehatan digital.

  • Data Wajah Lebih Berbahaya dari Password Jika Bocor

    Data Wajah Lebih Berbahaya dari Password Jika Bocor

    JBNews.id — Kewajiban registrasi SIM card prabayar menggunakan biometrik wajah yang mulai berlaku 1 Juli 2026 membawa risiko keamanan yang jauh lebih serius dibandingkan kebocoran password biasa. Chairman CISSReC, Pratama Persadha, menegaskan bahwa data biometrik bersifat permanen dan tidak dapat diganti sepanjang hidup seseorang.

    “Password bisa diganti. Nomor telepon bisa diganti. Alamat email juga bisa dibuat baru. Tetapi wajah, sidik jari, dan iris mata tidak bisa diganti sepanjang hidup seseorang,” kata Pratama kepada detikINET.

    Registrasi SIM card menggunakan data biometrik merupakan pengembangan dari pendaftaran nomor HP baru yang sebelumnya divalidasi menggunakan data nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK). Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital yang marak terjadi.

    Pratama menyoroti jika terjadi kebocoran data biometrik, konsekuensi jangka panjangnya jauh lebih besar dibandingkan kebocoran password atau identitas digital lainnya. Pelaku kejahatan siber dapat menggunakan data wajah untuk berbagai modus penipuan yang sulit dideteksi.

    Untuk meminimalkan risiko, operator seluler seharusnya tidak menyimpan foto wajah pelanggan dalam bentuk asli. Pendekatan yang lebih aman adalah mengubah hasil pemindaian menjadi template biometrik berupa representasi matematis yang hanya digunakan untuk proses pencocokan identitas.

    “Apabila basis data mengalami kebocoran, pelaku tidak langsung memperoleh foto wajah asli pengguna,” ucap Pratama.

    Penerapan prinsip data minimization juga menjadi krusial, yakni hanya mengumpulkan data yang benar-benar diperlukan dan segera menghapus data yang tidak lagi dibutuhkan setelah proses autentikasi selesai. Seluruh proses pengiriman data wajah harus menggunakan enkripsi modern agar tidak mudah disadap selama proses transmisi.

    Pratama menambahkan bahwa pemerintah dan operator seluler perlu memisahkan penyimpanan data kependudukan, data pelanggan, dan data biometrik. Dengan demikian, satu insiden kebocoran tidak berdampak terhadap seluruh informasi pengguna.

    Menurutnya, registrasi SIM berbasis biometrik memang dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi penyalahgunaan identitas dan penipuan digital. Namun perlindungan terhadap data wajah harus menjadi prioritas utama karena biometrik merupakan aset digital permanen yang akan melekat pada setiap individu sepanjang hidupnya.

    “Keamanan sistem tidak hanya diukur dari kemampuan mengenali wajah, tetapi juga dari kemampuan melindungi data wajah tersebut dari penyalahgunaan di masa depan,” pungkas Pratama.

    Praktik keamanan siber modern seperti yang diterapkan oleh XLSmart Ajak Pengusaha dalam memanfaatkan AI juga relevan untuk diadaptasi dalam perlindungan data biometrik. Sementara itu, pengguna perangkat mobile perlu waspada karena Tablet Mini Dilirik untuk work from anywhere semakin meningkatkan paparan data pribadi.

    Bagi masyarakat yang tengah mengurus bantuan sosial, penting juga memahami Kriteria Bansos Ditolak agar tidak terkendala saat verifikasi data. Semua ini menunjukkan bahwa perlindungan data pribadi, terutama biometrik, menjadi isu lintas sektor yang membutuhkan perhatian serius.

  • Proyeksi Robot Humanoid China Melonjak, Kuasai Pasar Global

    Proyeksi Robot Humanoid China Melonjak, Kuasai Pasar Global

    JBNews.id — Morgan Stanley meningkatkan proyeksi pengiriman robot humanoid China menjadi 50.000 unit pada 2026, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 28.000 unit. Bank investasi Wall Street itu memperkirakan pasar robot humanoid China akan mencapai USD 2 miliar tahun ini dan melonjak menjadi USD 15 miliar pada 2030.

    Revisi proyeksi ini merupakan yang kedua kalinya tahun ini. Pada Januari lalu, Morgan Stanley awalnya memproyeksikan pengiriman sebanyak 14.000 unit, kemudian melipatgandakannya menjadi 28.000 unit, dan kini kembali dinaikkan secara signifikan. Pengiriman tahunan diperkirakan mencapai 446.000 unit pada 2030.

    “Verifikasi komersial, dukungan kebijakan, dan umpan balik rantai pasok menunjukkan adopsi humanoid yang lebih cepat di China,” kata Sheng Zhong, analis ekuitas di Morgan Stanley yang dikutip dari CNBC.

    China telah mempercepat dorongan untuk mendominasi industri ini. Semakin banyak produsen domestik yang berlomba meningkatkan skala produksi dan mengerahkan robot di lingkungan dunia nyata seperti pabrik, minimarket, dan restoran. Beijing menjadikan pengembangan “embodied AI” — AI yang ditanamkan dalam sistem fisik seperti robot — sebagai prioritas lima tahun ke depan.

    Pemerintah pusat mengarahkan pemerintah daerah untuk memberikan subsidi lahan dan kantor bagi startup robotika, sekaligus memerintahkan bank untuk memberikan persyaratan pinjaman yang menguntungkan. Langkah ini mempercepat komersialisasi teknologi humanoid di berbagai sektor.

    An ensemble of humanoid robots produced by Linkerbot is set up with musical instruments at the company’s office in Beijing, China, April 27, 2026. REUTERS/Maxim Shemetov

    Dominasi China di pasar robot humanoid sudah terlihat jelas. Tahun lalu, sekitar 13.000 robot humanoid dikirim di seluruh dunia menurut Omdia. Perusahaan China menduduki lima posisi teratas berdasarkan jumlah pengiriman. Pesaing dari Amerika Serikat, Figure AI, berada di peringkat ketujuh, sementara Tesla di peringkat kesembilan.

    CEO Tesla Elon Musk mengatakan awal tahun ini bahwa robot Optimus perusahaannya tidak akan dijual hingga akhir 2027. Hal ini memberi keunggulan waktu bagi produsen China untuk memperkuat posisi pasar mereka.

    Robotika humanoid menjadi target besar berikutnya bagi investor yang mengincar perkembangan teknologi China. “Jika Anda pergi ke pabrik mana pun di China saat ini, ada lebih banyak otomatisasi dan robotika yang dikerahkan daripada di tempat lain mana pun di dunia,” kata Joe Ngai, pimpinan McKinsey Greater China.

    Penelitian rantai pasok Morgan Stanley menunjukkan komersialisasi yang lebih cepat. Bank tersebut menyebut Leaderdrive, perusahaan yang terdaftar di bursa Shanghai, sebagai penerima manfaat utama dari kebangkitan humanoid. Perusahaan yang berkantor di Suzhou ini memasok komponen robotika untuk pembuat humanoid domestik seperti Ubtech dan Galbot.

    Leaderdrive diproyeksikan bisa memegang 40% pangsa pasar global tahun ini dan 25% dalam jangka panjang. Ini menunjukkan bagaimana rantai pasok domestik China sudah terintegrasi dengan industri humanoid global.

    Perusahaan robotika China juga gencar mengincar ekspansi ke luar negeri. Seer Intelligent, perusahaan robotika di Shanghai yang mulai melantai di bursa Hong Kong, telah berekspansi ke luar China sejak 2021. Pendapatan luar negeri dari lebih dari 65 negara menyumbang 18% total penjualannya tahun lalu.

    Namun, ketidakpastian geopolitik dan ketegangan perdagangan tetap menjadi hambatan terbesar. Perusahaan pun berfokus pada diversifikasi geografis untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal. Para pembuat kebijakan di Washington semakin khawatir dengan kemajuan AI China dan risiko meningkatnya ketergantungan pada teknologi China dalam beberapa tahun terakhir.

    “Jika Washington memperlakukan persaingan ini semata perlombaan untuk mencapai tolok ukur kemampuan baru, mereka mungkin memimpin dalam hal penemuan namun tertinggal dalam mempengaruhi di mana dan bagaimana AI digunakan di seluruh dunia,” kata Suzanne Nossel dari Chicago Council on Global Affairs.

    Implikasi dari proyeksi ini bagi pasar global sangat jelas. China tidak hanya memproduksi robot humanoid dalam jumlah besar, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung adopsi massal. Dukungan kebijakan pemerintah, rantai pasok yang terintegrasi, dan ekspansi internasional menjadi tiga pilar utama yang mendorong percepatan ini.

    Bagi pelaku industri dan investor, data Morgan Stanley ini menegaskan bahwa China telah menjadi pusat gravitasi baru dalam industri robot humanoid. Perusahaan yang ingin bersaing di pasar ini harus mempertimbangkan strategi yang matang, termasuk kemitraan dengan pemasok komponen China atau investasi langsung di pasar tersebut.

    Sementara itu, kekhawatiran akan ketergantungan pada teknologi China mendorong negara-negara lain, terutama AS, untuk mempercepat pengembangan robot humanoid domestik. Namun, dengan keunggulan skala produksi dan dukungan kebijakan yang masif, China diprediksi akan mempertahankan dominasinya setidaknya hingga akhir dekade ini.

    Perusahaan seperti Knightscope di AS dan pemain global lainnya harus menghadapi kenyataan bahwa persaingan di industri robotika tidak lagi hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga soal kecepatan komersialisasi dan skala produksi — dua area di mana China unggul jauh.

  • Microsoft Perpanjang Dukungan Windows 10 hingga Oktober 2027

    Microsoft Perpanjang Dukungan Windows 10 hingga Oktober 2027

    JBNews.id — Microsoft secara resmi memperpanjang dukungan keamanan untuk Windows 10 melalui program Extended Security Updates (ESU) hingga 12 Oktober 2027, keputusan yang diambil di tengah lambatnya adopsi Windows 11 dan masih besarnya basis pengguna sistem operasi lawas tersebut.

    Dukungan resmi untuk Windows 10 telah berakhir pada 2025. Namun, data terbaru dari Stat Counter per Mei 2026 menunjukkan bahwa Windows 10 masih menguasai 26,36% pangsa pasar, sementara Windows 11 mencapai 71,69%. Angka ini naik signifikan dari 55,18% untuk Windows 11 dan 41,71% untuk Windows 10 pada Oktober 2025, saat dukungan resmi Microsoft dihentikan.

    Perpanjangan ini berarti pengguna yang telah mendaftar program ESU tidak perlu mengambil tindakan apa pun. “Jika Anda sudah terdaftar, dukungan Anda akan otomatis berlanjut hingga tanggal tersebut — tidak perlu mengambil tindakan apa pun,” tulis Microsoft dalam halaman dukungannya, seperti dikutip dari PCMag, Minggu (28/6/2026).

    Program ESU sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 14 Oktober 2026. Dengan perpanjangan ini, batas akhir menjadi 12 Oktober 2027, memberikan waktu satu tahun tambahan bagi pengguna setia Windows 10.

    Syarat dan Biaya Program ESU

    Untuk bergabung dalam program ESU, pengguna dapat mencari opsi pendaftaran di menu Windows Update. Pengguna Windows 10 dapat bergabung secara gratis dengan login akun Microsoft dan menyinkronkan pengaturan sistem. Namun, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi:

    • Perangkat harus menjalankan Windows 10 versi 22H2 Home, Professional, Pro Education, atau Workstations.
    • Perangkat harus menjalankan pembaruan Windows terbaru.
    • Akun Microsoft yang dipakai login harus berupa akun administrator.
    • Akun Microsoft bukan berupa akun anak.

    Jika tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan update gratis, pengguna yang ingin mendaftar program ESU harus membayar USD 30 atau 1.000 poin Microsoft Rewards. Biaya ini berlaku bagi mereka yang tidak dapat memanfaatkan opsi gratis melalui sinkronisasi akun Microsoft.

    Microsoft juga menegaskan bahwa pendaftaran program ESU dapat dilakukan kapan saja hingga program berakhir pada 12 Oktober 2027. “Dukungan untuk Windows 10 sudah berakhir. Anda dapat mendaftar ESU kapan saja hingga program berakhir pada 12 Oktober 2027,” tulis Microsoft.

    Penyebab Lambatnya Adopsi Windows 11

    Lambatnya adopsi Windows 11 disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ketentuan hardware yang lebih ketat membuat banyak PC jadul tidak dapat upgrade ke sistem operasi terbaru. Kedua, beberapa pengguna menghindari Windows 11 karena tidak ingin dijejali fitur AI yang kini menjadi fokus Microsoft.

    Selain itu, krisis RAM yang memaksa produsen PC untuk menaikkan harga turut memengaruhi keputusan konsumen. Banyak konsumen memutuskan untuk mempertahankan perangkat mereka lebih lama daripada membeli PC baru yang kompatibel dengan Windows 11. Hal ini semakin memperkuat basis pengguna Windows 10 yang masih bertahan.

    Meskipun demikian, Microsoft optimistis bahwa seiring berjalannya waktu, konsumen akhirnya harus upgrade PC mereka yang sudah ketinggalan zaman. Namun, dengan kondisi pasar saat ini, perpanjangan dukungan menjadi solusi sementara yang realistis.

    Dampak bagi Pengguna Windows 10

    Bagi pengguna Windows 10, perpanjangan ini memberikan kelegaan. Mereka tidak perlu terburu-buru melakukan upgrade ke Windows 11 atau membeli perangkat baru. Program ESU memastikan bahwa sistem operasi mereka tetap mendapat pembaruan keamanan penting hingga Oktober 2027.

    Namun, perlu dicatat bahwa program ESU hanya mencakup pembaruan keamanan, bukan fitur baru atau peningkatan performa. Pengguna yang ingin mendapatkan pengalaman terbaru dari Microsoft tetap disarankan untuk beralih ke Windows 11 jika perangkat mereka mendukung.

    Bagi bisnis dan organisasi yang masih bergantung pada Windows 10, perpanjangan ini memberikan waktu tambahan untuk merencanakan migrasi. Mereka tidak perlu terburu-buru mengalokasikan anggaran untuk upgrade perangkat keras dalam waktu dekat.

    Microsoft juga telah merilis Surface Pro dan laptop 8GB dengan harga lebih murah, yang bisa menjadi opsi bagi mereka yang ingin beralih ke perangkat baru dengan biaya lebih terjangkau.

    Keputusan Microsoft untuk memperpanjang dukungan Windows 10 menunjukkan bahwa perusahaan masih mendengarkan kebutuhan pengguna setianya. Dengan pangsa pasar di atas 25%, Windows 10 masih menjadi sistem operasi yang signifikan di ekosistem Microsoft.

    Bagi pengguna yang belum mendaftar program ESU, disarankan untuk segera melakukannya melalui menu Windows Update. Prosesnya gratis bagi pengguna yang memenuhi syarat, dan hanya membutuhkan login akun Microsoft serta sinkronisasi pengaturan sistem.

    Dengan perpanjangan ini, pengguna Windows 10 memiliki waktu hingga 12 Oktober 2027 untuk merencanakan langkah selanjutnya — apakah akan tetap menggunakan Windows 10 dengan dukungan keamanan, atau beralih ke Windows 11.

  • ChatGPT Fitur Tugas Terjadwal, Bisa Jadi Asisten Pribadi

    ChatGPT Fitur Tugas Terjadwal, Bisa Jadi Asisten Pribadi

    JBNews.id — OpenAI merilis pembaruan besar pada fitur Tugas Terjadwal (Scheduled Tasks) di ChatGPT, mengubah cara kerja AI dari sekadar merespons perintah menjadi asisten proaktif yang dapat mengingatkan, memantau perubahan, dan memberikan pembaruan otomatis. Fitur ini memungkinkan pengguna menjadwalkan tugas sekali jalan maupun berulang, seperti mengingatkan jadwal rapat, mengirim ringkasan berita setiap pagi, memantau harga saham, atau memberi tahu saat paket pesanan telah dikirim.

    Pembaruan ini menandai pergeseran signifikan dalam fungsi ChatGPT. Sebelumnya, AI hanya bekerja jika menerima pertanyaan langsung dari pengguna. Kini, dengan fitur Tugas Terjadwal, ChatGPT dapat beroperasi secara mandiri berdasarkan jadwal yang ditentukan. OpenAI menyebutkan bahwa fitur ini sudah tersedia di aplikasi ChatGPT versi web dan seluler, namun belum tersedia di aplikasi desktop maupun aplikasi Codex.

    Dalam laman dukungannya, OpenAI menjelaskan bahwa “tugas terjadwal kini lebih mudah dibuat dan dikelola, dengan halaman khusus, alur pembuatan yang lebih baik, opsi penjadwalan yang lebih fleksibel, serta notifikasi yang ditingkatkan.” Pengguna dapat mengakses halaman bernama Terjadwal untuk membuat, melihat, mengedit, menjeda, maupun menghapus tugas yang telah dibuat.

    Cara Kerja dan Contoh Penggunaan

    Pengguna dapat membuat tugas langsung dari halaman Terjadwal atau cukup mengetik perintah di kolom percakapan. Contoh perintah yang didukung antara lain “ingatkan saya rapat setiap Senin pukul 09.00”, “kirim ringkasan AI setiap pagi”, atau “beri tahu saat paket saya sudah dikirim”. Fitur ini juga mendukung tugas pemantauan, di mana AI memeriksa perubahan secara berkala dan hanya mengirim notifikasi ketika terdapat informasi penting.

    Selain itu, ChatGPT terintegrasi dengan Pulse, fitur yang melakukan riset secara asinkron berdasarkan percakapan, memori, dan masukan pengguna sebelumnya. Hasil riset dikirim dalam bentuk ringkasan visual yang dapat dibaca sekilas, disimpan, atau ditindaklanjuti dengan pertanyaan baru. Seluruh tugas dapat dikelola melalui menu Pengaturan, termasuk mengubah jadwal, menjeda, melanjutkan, atau menghapus tugas kapan saja.

    Batas Penggunaan Berdasarkan Paket Langganan

    OpenAI menetapkan jumlah tugas aktif yang berbeda untuk setiap paket langganan. Pengguna Go dapat memiliki hingga tiga tugas aktif, pengguna Plus lima tugas, Business dan Edu hingga 10 tugas, sedangkan Pro dan Enterprise mencapai 15 tugas aktif. Tugas juga tidak dapat dijalankan lebih dari satu kali dalam satu jam. Jika batas tercapai, pengguna harus menghapus atau menjeda tugas yang sudah ada sebelum membuat tugas baru.

    Beberapa fitur belum didukung dalam pembaruan ini, seperti chat suara, GPT kustom, dan webhook. Meski demikian, kehadiran Tugas Terjadwal menunjukkan bahwa ChatGPT kini berkembang dari sekadar chatbot menjadi asisten AI yang dapat bekerja secara proaktif membantu aktivitas sehari-hari. Ini juga menegaskan posisi OpenAI dalam persaingan Integrasi ChatGPT dengan berbagai layanan digital.

    Dengan kemampuan baru ini, ChatGPT tidak hanya berguna untuk percakapan interaktif tetapi juga untuk tugas-tugas rutin yang membutuhkan pengingat dan pemantauan. Pengguna dapat mengandalkan AI untuk mengelola jadwal, memantau informasi penting, dan memberikan pembaruan secara otomatis tanpa harus selalu membuka aplikasi.

    Implikasi dari fitur ini cukup luas. Bagi pekerja profesional, ChatGPT kini bisa menjadi asisten virtual yang membantu mengelola agenda harian. Bagi pengguna umum, fitur ini memudahkan pemantauan paket, berita, atau informasi lain yang membutuhkan pembaruan berkala. Dengan integrasi Robot Humanoid Chery yang menggunakan ChatGPT, potensi penggunaannya semakin meluas ke dunia robotika dan interaksi fisik.

    OpenAI terus mendorong batas kemampuan AI dari sekadar alat tanya-jawab menjadi asisten yang benar-benar membantu produktivitas sehari-hari. Dengan fitur Tugas Terjadwal, pengguna dapat menghemat waktu dan tenaga dalam mengelola tugas-tugas rutin, sementara AI bekerja di latar belakang untuk memberikan informasi tepat waktu.

  • Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    Dilema Warga Eropa: Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup Pakai AC

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 40 jiwa di Prancis, memaksa warga Eropa menghadapi dilema antara rasa bersalah terhadap lingkungan dan kebutuhan bertahan hidup dengan menggunakan pendingin ruangan (AC). Suhu di Spanyol mencapai 44 derajat Celsius, sementara Inggris mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah.

    Setiap tahun, cuaca panas ekstrem merenggut rata-rata 175.000 nyawa di Eropa, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, penggunaan AC terbukti mampu memangkas tingkat kematian akibat panas hingga 75%, berdasarkan studi tahun 2007. Riset yang diterbitkan The Lancet pada 2019 bahkan mencatat bahwa 195.000 kematian terkait cuaca panas pada kelompok lansia di atas 65 tahun berhasil dicegah berkat adopsi AC di berbagai negara.

    Meski manfaatnya jelas, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC. Angka ini sangat kontras dengan Amerika Serikat, di mana 90% rumah tangga telah menggunakan pendingin ruangan. Perbedaan ini mencerminkan hambatan budaya, biaya, dan iklim yang telah lama membentuk sikap warga Eropa terhadap AC.

    Budaya, Biaya, dan Iklim Menjadi Penghalang

    Sebagian dari keengganan warga Eropa untuk memasang AC berakar pada sikap stoikisme historis. Karena AC tidak pernah digunakan pada masa lalu, banyak yang merasa tidak seharusnya dibutuhkan sekarang. Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar wilayah Eropa memang tidak benar-benar membutuhkan AC karena iklimnya yang lebih sejuk.

    Faktor biaya juga menjadi penghalang signifikan. Minimnya pasokan gas alam domestik di banyak negara Eropa mengharuskan mereka mengimpor energi, membuat biaya listrik di Eropa lebih tinggi sementara gaji rata-rata lebih rendah dibandingkan AS. Kombinasi ini membuat investasi pembelian dan pengoperasian AC terasa memberatkan bagi banyak keluarga.

    Selain itu, banyak warga Eropa dihantui rasa bersalah terhadap dampak iklim dari penggunaan AC. Data menunjukkan bahwa penggunaan AC menyumbang 4% dari total emisi gas rumah kaca global — angka yang dua kali lipat lebih besar dari emisi seluruh industri penerbangan dunia. Beban moral ini membuat keputusan memasang AC menjadi semakin rumit.

    Gelombang Panas Ekstrem Mengubah Segalanya

    Sekarang, musim panas di wilayah selatan Eropa telah menjadi sangat ekstrem sehingga trik arsitektur tradisional yang digunakan selama berabad-abad tidak lagi mempan. Sementara di wilayah utara, rumah-rumah yang dirancang untuk menahan udara panas agar penghuninya tidak kedinginan di musim dingin, kini berubah menjadi “tungku pembakaran” saat musim panas tiba.

    Italia menjadi contoh paling dramatis dari perubahan ini. Ribuan kematian selama gelombang panas tahun 2003 menjadi titik puncak kesabaran. Pada musim panas tahun itu, diperkirakan hanya 10-15% rumah tangga Italia yang memiliki AC. Namun pada 2024, angka tersebut meroket menjadi 56%. Italia kini menyumbang sepertiga dari seluruh penggunaan listrik untuk AC di Eropa.

    Di Prancis, yang minggu ini mengalami hari-hari terpanas, toko-toko mulai kehabisan stok AC karena permintaan melonjak drastis. Di Inggris, sekitar empat juta rumah kini memiliki AC — jumlah yang dua kali lipat dibandingkan tiga tahun lalu. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memaksa warga Eropa untuk mengutamakan keselamatan di atas pertimbangan lingkungan.

    Kisah Nyata: Dari Rasa Bersalah ke Prioritas Bertahan Hidup

    Katie, seorang warga London, menggambarkan dilema ini dengan gamblang. Baginya, memasang AC tidak pernah terlintas dalam pikiran, baik karena biaya mahal maupun dampak lingkungan. “Biasanya Anda hanya akan terkapar lemas di sofa dan sekadar mencoba bertahan hidup,” katanya.

    Namun, pandangan itu berubah total setelah ia memiliki anak. Katie dan pasangannya memutuskan membeli AC demi keselamatan bayi mereka. “Rasa bersalah terhadap iklim yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding prioritas untuk memastikan bayi saya memiliki tempat tidur aman,” ujarnya.

    “Siapa pun yang pernah terjebak selama sejam bagai di neraka, bercucuran keringat sambil mencoba menidurkan bayinya, pasti akan langsung membeli AC, percayalah,” tambah Katie. Kisahnya mencerminkan pergeseran prioritas yang terjadi di banyak rumah tangga Eropa saat gelombang panas semakin mematikan.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa regulasi teknologi dan kebijakan lingkungan harus mempertimbangkan realitas adaptasi iklim yang mendesak.

    Solusi: AC Modern dan Energi Terbarukan

    Guna mencegah tren perluasan penggunaan AC semakin memperburuk perubahan iklim, para pakar menekankan pentingnya pemasangan AC modern yang efisien listrik dan ditenagai energi terbarukan seperti tenaga surya. Pendekatan ini diharapkan dapat memutus lingkaran setan di mana pendinginan ruangan justru mempercepat pemanasan global.

    Uni Eropa sendiri memiliki ambisi besar untuk menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Untuk mewujudkannya, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Yunani mulai membatasi sejauh mana batas pendinginan ruangan diizinkan di gedung publik selama musim panas. Langkah ini bertujuan mengendalikan konsumsi energi tanpa mengorbankan keselamatan warga.

    Masyarakat juga disarankan untuk menggabungkan dua solusi sekaligus: mengombinasikan AC bertenaga surya dengan langkah-langkah tradisional ala masyarakat kawasan Eropa selatan. Pendekatan hibrida ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling realistis antara kebutuhan bertahan hidup dan tanggung jawab lingkungan.

    Implikasinya jelas: warga Eropa tidak lagi bisa memilih antara kenyamanan dan keberlanjutan. Gelombang panas ekstrem telah mengubah AC dari sekadar kemewahan menjadi kebutuhan dasar. Namun, cara penggunaannya — apakah dengan energi fosil atau terbarukan — akan menentukan apakah kekhawatiran terhadap masa depan ini dapat diatasi. Keputusan yang diambil sekarang akan berdampak langsung pada kemampuan Eropa mencapai target netral iklim pada 2050.

  • Apple Minta Izin Trump Beli Chip dari Perusahaan China Daftar Hitam

    Apple Minta Izin Trump Beli Chip dari Perusahaan China Daftar Hitam

    JBNews.id — Apple secara resmi meminta izin kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membeli chip memori dan storage dari ChangXin Memory Technologies (CXMT), sebuah perusahaan China yang masuk dalam daftar hitam perdagangan Amerika Serikat. Langkah ini merupakan strategi Apple untuk mengatasi lonjakan harga chip memori yang terus meningkat dan mengancam pasokan produk mereka.

    Menurut laporan Financial Times, Apple pertama kali mendekati Kementerian Perdagangan AS sekitar satu bulan lalu untuk membahas rencana ini. Produsen iPhone itu juga telah memulai diskusi dengan koneksinya di Washington untuk mendapatkan restu dari Gedung Putih. CXMT baru-baru ini dimasukkan dalam daftar 1260H oleh Kementerian Pertahanan AS, yang menandai perusahaan tersebut diyakini memiliki hubungan dengan militer China.

    Meskipun Apple secara teknis tidak dilarang melakukan bisnis dengan CXMT, perusahaan menghadapi risiko konsekuensi serius dari pemerintah AS jika tidak mendapatkan izin resmi. Keputusan ini datang di tengah tekanan harga chip memori yang memaksa Apple menaikkan harga hampir semua produknya, hanya iPhone yang masih aman dari kenaikan tersebut.

    Latar Belakang CXMT dalam Daftar Hitam AS

    CXMT ditetapkan sebagai perusahaan militer China oleh Kementerian Pertahanan AS di bawah pemerintahan Joe Biden. Tahun lalu, CXMT bersama perusahaan lainnya disetujui untuk dimasukkan ke Daftar Entitas milik Kementerian Perdagangan AS. Status ini membuat perusahaan tersebut sulit mendapatkan komponen dan teknologi dari pemasok Amerika tanpa izin khusus.

    Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk membatasi akses China terhadap teknologi canggih, terutama di sektor semikonduktor. CXMT sendiri merupakan pemain utama dalam produksi chip memori DRAM dan NAND flash yang digunakan dalam berbagai perangkat elektronik, termasuk smartphone dan komputer.

    Apple saat ini mendapatkan pasokan chip memori dari perusahaan AS Micron serta perusahaan Korea Selatan Samsung dan SK Hynix. Namun, krisis pasokan global dan lonjakan permintaan telah mendorong harga chip memori ke level tertinggi, mendorong Apple mencari alternatif yang lebih murah.

    Dampak pada Strategi Bisnis Apple

    Langkah Apple membeli chip dari CXMT dapat membantu perusahaan mengatasi kekurangan chip memori yang saat ini melanda industri. CEO Tim Cook sebelumnya telah memperingatkan bahwa Apple tidak bisa lagi menghindari dampak krisis memori, yang terbukti dengan kenaikan harga sebagian besar perangkat Apple baru-baru ini.

    Namun, keputusan ini tidak tanpa risiko. Jika pemerintahan Trump menyetujui permintaan Apple, Kongres AS kemungkinan akan mengajukan keberatan keras. “Pilihan Apple untuk bermitra dengan perusahaan militer China akan menjadi kesalahan besar,” kata John Moolenaar, anggota Kongres AS dari Partai Republik yang menjabat sebagai ketua komite Kongres terkait China.

    Moolenaar menambahkan, “Membantu (Partai Komunis China) berhasil dalam rencananya untuk mendominasi rantai pasokan penting akan membuat industri teknologi dan ekonomi negara kita lebih bergantung pada China di saat kita harus membangun rantai pasokan teknologi yang aman dengan sekutu kita.”

    Implikasi bagi Pasar dan Konsumen

    Keputusan Apple ini memiliki implikasi luas bagi pasar teknologi global. Jika disetujui, ini bisa membuka pintu bagi perusahaan teknologi AS lainnya untuk mengikuti jejak Apple dalam bermitra dengan perusahaan China yang masuk daftar hitam. Sebaliknya, jika ditolak, Apple harus terus bergantung pada pemasok yang ada dengan harga yang lebih tinggi.

    Bagi konsumen, keputusan ini secara langsung mempengaruhi harga produk Apple. Dengan akses ke chip memori yang lebih murah dari CXMT, Apple berpotensi menekan biaya produksi dan mencegah kenaikan harga lebih lanjut. Tanpa akses tersebut, konsumen mungkin harus bersiap menghadapi kenaikan harga produk Apple di masa depan.

    Perlu dicatat bahwa Apple baru saja mengubah strategi chip M6-nya dengan meniadakan varian Pro dan Max. Keputusan ini menunjukkan bahwa Apple sedang melakukan penyesuaian besar dalam strategi pasokan komponennya untuk menghadapi tantangan pasar.

    Reaksi Pasar dan Prospek ke Depan

    Belum diketahui apakah pemerintahan Donald Trump akan memberikan izin kepada Apple. Keputusan ini akan menjadi ujian bagi kebijakan perdagangan AS terhadap China di bawah kepemimpinan Trump. Analis memperkirakan bahwa keputusan ini akan diambil dalam beberapa minggu ke depan, mengingat urgensi yang dihadapi Apple dalam mengamankan pasokan chip memori.

    Jika izin diberikan, Apple akan menjadi perusahaan AS pertama yang secara resmi diizinkan bekerja sama dengan CXMT sejak perusahaan tersebut masuk daftar hitam. Ini bisa menjadi preseden penting yang mempengaruhi hubungan perdagangan AS-China di masa depan.

    Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana ketegangan geopolitik antara AS dan China berdampak langsung pada strategi bisnis perusahaan teknologi global. Apple, yang selama ini dikenal dengan rantai pasokan yang sangat efisien, kini harus menavigasi lanskap regulasi yang kompleks untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya.

    Keputusan akhir dari pemerintahan Trump akan menentukan apakah Apple dapat mengamankan pasokan chip memori yang lebih murah atau harus terus bergantung pada pemasok yang ada dengan harga yang lebih tinggi. Apapun keputusannya, kasus ini akan menjadi studi kasus penting tentang bagaimana perusahaan teknologi global harus beradaptasi dengan realitas geopolitik baru.

    Apple juga sebelumnya telah memperingatkan tentang bahaya keamanan terkait perangkat yang dicuri, menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi berbagai tantangan operasional di samping masalah rantai pasokan.

    Dengan latar belakang ini, permintaan Apple kepada pemerintahan Trump menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam hubungan bisnis-teknologi AS-China tahun ini. Keputusan yang diambil akan memiliki dampak jangka panjang tidak hanya bagi Apple, tetapi juga bagi seluruh ekosistem teknologi global.

    Para pemangku kepentingan, mulai dari investor hingga konsumen, akan mengawasi dengan saksama perkembangan kasus ini. Bagi Apple, mendapatkan akses ke chip CXMT bisa menjadi solusi jangka pendek untuk masalah pasokan, namun konsekuensi politik dan regulasi jangka panjang masih harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

  • Sistem Audio Canggih di Balik Azan Masjidil Haram

    Sistem Audio Canggih di Balik Azan Masjidil Haram

    JBNews.id, MAKKAH — Di tengah jutaan jemaah yang memadati Masjidil Haram setiap harinya, suara imam terdengar jernih dari seluruh sudut masjid tanpa jeda atau gema. Kualitas audio yang konsisten ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem audio modern yang bekerja secara senyap di balik kemegahan Masjidil Haram.

    Selama meliput musim haji di Masjidil Haram, jurnalis detikINET hampir setiap hari salat di lokasi yang berbeda. Kadang mendapat tempat di dekat Ka’bah, di lain waktu harus bergeser ke rooftop, pelataran, koridor, bahkan hingga ke luar area pelataran karena padatnya jemaah. Namun sejauh apa pun berpindah, kualitas suara yang terdengar nyaris tidak berubah.

    Takbir terdengar hampir bersamaan, lantunan ayat Al-Qur’an tetap jelas tanpa gema yang saling bertabrakan. Bahkan ketika ribuan jemaah mulai bergerak seusai salat, suara dari pengeras tetap terdengar nyaman. Sulit menebak dari mana asal speakernya karena distribusinya terasa merata di seluruh area.

    Tentu, para imam Masjidil Haram dikenal memiliki bacaan Al-Qur’an yang indah dan artikulasi yang jelas. Namun agar lantunan tersebut tetap terdengar jernih hingga ke berbagai sudut masjid, ada sistem audio yang bekerja di baliknya.

    260 Speaker dan Jaringan Fiber Optik

    Mengutip Saudi Press Agency (SPA), Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengoperasikan sistem audio modern untuk memastikan suara azan, salat berjemaah, dan khutbah Jumat terdengar jelas di seluruh kompleks masjid. Menurut SPA, pengembangan sistem audio ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan kualitas layanan bagi para tamu Allah.

    Sistem tersebut didukung lebih dari 260 speaker yang dipasang di koridor-koridor sekitar Masjidil Haram. Seluruhnya bekerja secara sinkron agar suara tersebar merata ke segala arah. Di baliknya terdapat infrastruktur berupa lebih dari delapan kilometer kabel dan jaringan fiber optik yang memungkinkan transmisi audio berlangsung dengan akurasi tinggi dan latensi sangat rendah.

    Teknologi audio berskala besar seperti ini memiliki tantangan tersendiri. Sinkronisasi menjadi kunci utama. Dalam sistem audio berskala besar, selisih waktu beberapa milidetik saja dapat memunculkan efek gema (echo) yang membuat suara terdengar bertumpuk. Tantangan itu semakin besar karena sebagian area Masjidil Haram berada di ruang terbuka, sementara sebagian lainnya berada di dalam bangunan bertingkat dengan karakter akustik yang berbeda.

    Masjidil Haram merupakan kompleks masjid yang sangat luas dengan beberapa lantai, koridor panjang, area sa’i, pelataran terbuka, hingga kawasan mataf yang dipenuhi jemaah hampir sepanjang waktu. Saat musim haji, jutaan orang beribadah secara bersamaan sehingga distribusi suara harus dilakukan dengan presisi agar tidak menimbulkan jeda maupun gema.

    Karena bekerja begitu mulus, keberadaan teknologi ini nyaris tidak disadari para jemaah. Namun memang itulah tujuan sebuah sistem audio yang baik, tidak menjadi pusat perhatian, melainkan memastikan pengalaman beribadah berlangsung tanpa hambatan.

    Dampak bagi Jutaan Jemaah

    Bagi jutaan jemaah, yang paling membekas mungkin adalah merdunya lantunan ayat Al-Qur’an dari para imam Masjidil Haram. Namun di balik pengalaman yang terdengar begitu alami itu, ada ratusan speaker, jaringan fiber optik, dan sistem sinkronisasi yang bekerja senyap agar setiap ayat dapat didengar dengan jelas, di mana pun jemaah berada.

    Keberadaan sistem audio canggih ini menjadi bukti bahwa teknologi modern dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam lingkungan ibadah tanpa mengganggu kekhidmatan. Infrastruktur yang andal memungkinkan jutaan orang mendengar suara imam secara bersamaan, menciptakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.

    Bagi jemaah haji Indonesia yang tahun ini kembali beribadah ke Tanah Suci, pengalaman mendengar azan dan bacaan Al-Qur’an yang jernih di Masjidil Haram menjadi salah satu kenangan yang paling membekas. Teknologi yang bekerja di balik layar ini memastikan bahwa setiap jemaah, di mana pun posisinya, mendapatkan kualitas suara yang sama.

    Pengembangan sistem audio ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam memanfaatkan teknologi terkini untuk meningkatkan kualitas layanan bagi para tamu Allah. Dengan lebih dari 260 speaker dan jaringan kabel sepanjang delapan kilometer, sistem ini menjadi salah satu infrastruktur audio terbesar di dunia yang dirancang khusus untuk area ibadah.

    Meskipun teknologi ini bekerja secara senyap, dampaknya sangat terasa bagi puluhan juta jemaah yang datang ke Masjidil Haram setiap tahunnya. Inovasi teknologi seperti ini membuktikan bahwa kemajuan digital dapat meningkatkan kualitas pengalaman ibadah secara signifikan.

  • Apple Minta Pengecualian Beli Chip CXMT Terkait Militer China

    Apple Minta Pengecualian Beli Chip CXMT Terkait Militer China

    JBNews.id — Apple tengah berupaya mengurangi tekanan pada rantai pasoknya dengan meminta pengecualian kepada pemerintahan Trump untuk membeli chip RAM dari CXMT, perusahaan yang masuk daftar hitam Pentagon karena terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat China. Langkah ini diambil di tengah lonjakan harga RAM dan penyimpanan yang memaksa Apple menaikkan harga hampir seluruh produknya pekan ini.

    Menurut laporan Financial Times, Apple secara hukum tidak dilarang membeli chip dari CXMT. Namun, menjalin bisnis dengan perusahaan yang terafiliasi dengan militer China akan membawa risiko reputasi yang serius. CXMT sendiri sebelumnya masuk dalam daftar usulan tambahan ke dalam “Entity List” oleh Departemen Perdagangan AS, tetapi sempat ditunda karena negosiasi dagang antara Gedung Putih dan China masih berlangsung.

    Kenaikan harga komponen ini telah berdampak langsung pada konsumen. Apple baru saja menaikkan harga produk secara signifikan, yang memicu kekhawatiran di kalangan pengguna. Situasi ini juga berimbas pada segmen produk rekondisi, di mana Apple menaikkan harga iPad dan Mac rekondisi meskipun komponen yang digunakan sudah lawas.

    Risiko Reputasi dan Politik

    Meskipun langkah ini masuk akal secara bisnis untuk menekan biaya produksi, keputusan tersebut sarat dengan risiko politik. John Moolenaar, ketua Komite China DPR dari Partai Republik, menegaskan bahwa “Apple memilih bermitra dengan perusahaan militer China akan menjadi kesalahan besar.” Ia menambahkan bahwa membantu Partai Komunis China menguasai rantai pasok kritis akan membuat industri teknologi AS semakin bergantung pada China.

    Tim Cook sendiri telah menghabiskan banyak waktu untuk membangun hubungan dengan pemerintahan Trump, termasuk memberikan patung-patung mewah dan menghadiri pemutaran film Melania yang disutradarai oleh Brett Ratner. Namun, belum jelas apakah administrasi akan memberikan restu kepada Apple. Jika Gedung Putih memberikan izin, keputusan tersebut kemungkinan akan menghadapi reaksi keras dari berbagai pihak.

    Dampak pada Rantai Pasok Global

    Permintaan pengecualian ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi Apple dalam mengamankan pasokan komponen. Harga RAM dan penyimpanan yang melonjak drastis telah memaksa perusahaan untuk menaikkan harga hampir seluruh lini produknya. Situasi ini diperparah dengan ketidakpastian regulasi, di mana CXMT bisa saja tetap menjadi sasaran kontrol ekspor karena dianggap merusak keamanan AS.

    Apple memiliki opsi lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok, termasuk menjajaki kerja sama dengan produsen chip lain di luar China. Namun, permintaan ke CXMT menunjukkan bahwa opsi tersebut mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam waktu dekat. Langkah ini juga berpotensi mempengaruhi strategi chip Apple ke depan, mengingat perusahaan baru-baru ini mengubah strategi chip M6 dengan meniadakan varian Pro dan Max.

    Reaksi pasar terhadap langkah ini belum terlihat, tetapi analis memperkirakan bahwa keputusan Apple akan menjadi ujian bagi hubungan antara perusahaan teknologi besar AS dan pemerintah. Sementara itu, saham Apple telah mengalami penurunan akibat kenaikan harga MacBook dan iPad, yang menunjukkan sensitivitas investor terhadap kebijakan harga perusahaan.

    Implikasi bagi Konsumen

    Bagi konsumen, langkah Apple ini berarti harga produk kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Jika Apple berhasil mendapatkan pengecualian dan mengamankan pasokan chip dari CXMT, tekanan biaya produksi bisa berkurang. Namun, risiko reputasi dan potensi sanksi politik bisa membuat perusahaan tetap harus mencari alternatif lain.

    Dalam jangka panjang, situasi ini menunjukkan betapa rentannya rantai pasok teknologi global terhadap ketegangan geopolitik. Apple, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, kini berada di persimpangan antara efisiensi biaya dan keamanan nasional. Keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi preseden penting bagi industri teknologi secara keseluruhan.

    Belum ada kepastian apakah pemerintahan Trump akan menyetujui permintaan Apple. Namun, satu hal yang jelas: tekanan pada rantai pasok dan harga komponen akan terus mempengaruhi strategi bisnis Apple dan harga produk yang harus dibayar konsumen.

  • Tom Hanks Khawatir AI Gantikan Perannya di Toy Story 5

    Tom Hanks Khawatir AI Gantikan Perannya di Toy Story 5

    JBNews.id — Tom Hanks, pengisi suara karakter Woody dalam waralaba “Toy Story”, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan perannya setelah ia meninggal. Pernyataan ini muncul di tengah perilisan “Toy Story 5” pada tahun 2026, 31 tahun setelah film pertama dirilis pada 1995.

    Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly bersama rekannya Tim Allen (pengisi suara Buzz Lightyear), Hanks secara gamblang membahas kemungkinan Disney menggunakan AI untuk menciptakan kembali penampilannya demi sekuel lebih lanjut. “Waktu tak terkalahkan. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa merangkai beberapa versi diriku,” ujar Hanks. “Setiap kata yang pernah kami rekam dalam ‘Toy Story’ tersimpan di media digital di suatu tempat, jadi mereka bisa merangkai apa pun yang mereka inginkan.”

    Hanks dan Allen sepakat bahwa gagasan tersebut merupakan “pemikiran yang menakutkan.” Ini bukan pertama kalinya aktor pemenang Oscar itu menyuarakan kekhawatiran tentang potensi AI. Sebelumnya, ia mengatakan kepada The San Francisco Chronicle bahwa ia khawatir penonton film mungkin menjadi tidak peduli apakah sebuah karya dibuat oleh manusia atau AI.

    “Inilah yang saya khawatirkan: akan ada sesuatu yang terang-terangan dibuat oleh AI — diciptakan, dibayangkan, diproduksi, semuanya — dan penonton tidak akan peduli bahwa itu AI,” kata Hanks. “Mereka hanya akan berkata, ‘Yah, itu AI, tapi Anda tahu, saya tetap menontonnya.’”

    Ia menambahkan, “Ada tipe elemen manusia tertentu yang diperlukan dalam kontrak antara penonton dan pembuat film, dan jika satu sisi tidak peduli dengan kontrak itu…”

    Hanks memiliki pengalaman pribadi dengan AI. Ia telah berulang kali memperingatkan para penggemarnya tentang berbagai penipuan yang menggunakan deepfake AI dari kemiripannya tanpa izin. Di sisi lain, ia pernah menggunakan teknologi peremajaan AI (de-aging) untuk film “Here” garapan Robert Zemeckis pada 2024 — sebuah penggunaan yang ia bela.

    Tentu saja, praktik cash-grab yang tidak memiliki jiwa sudah ada sebelum AI, dan Hanks bersikap ambivalen terhadap lebih banyak sekuel “Toy Story”, bahkan jika ia masih terlibat. “Jika Anda akan membuat ‘Toy Story’ lagi, itu harus bermanfaat,” katanya kepada EW. “Itu harus hebat. Anda harus mengkaji tema yang tidak sekadar menarik-narik karena orang menyukai judulnya. Maksud saya, ini adalah bisnis perusahaan besar tanpa diragukan lagi, saya tidak akan mengabaikannya. Tapi kecuali itu bagus, baru, segar, tidak ada alasan untuk melakukannya sama sekali.”

    Kekhawatiran Hanks mencerminkan perdebatan yang lebih luas di industri hiburan tentang peran AI. Sementara beberapa pihak melihat AI sebagai alat untuk efisiensi dan inovasi, yang lain memperingatkan tentang hilangnya elemen manusia dalam seni. Pertanyaan tentang kepemilikan hak cipta atas suara dan rupa aktor yang dihasilkan AI juga menjadi isu hukum yang kompleks.

    Bagi penggemar “Toy Story”, pernyataan Hanks menimbulkan pertanyaan tentang masa depan waralaba yang telah menjadi bagian dari budaya populer selama lebih dari tiga dekade. Apakah penonton akan menerima sekuel yang dibuat dengan AI jika kualitasnya tetap terjaga? Atau apakah keaslian dan sentuhan manusia tetap menjadi faktor penentu?

    [Image: Ilustrasi grafis menampilkan aktor Tom Hanks di pemutaran perdana Toy Story 5.]