Category: Tekno

  • BuzzFeed PHK Massal 180 Karyawan Akibat Pivot AI Gagal

    BuzzFeed PHK Massal 180 Karyawan Akibat Pivot AI Gagal

    JBNews.id — BuzzFeed mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 180 karyawan, atau sekitar sepertiga dari total tenaga kerjanya, pada Senin (29/6/2026). Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari kemunduran perusahaan media yang pernah menjadi pionir dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan konten.

    Pemangkasan besar-besaran ini, sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times, berdampak pada karyawan di berbagai divisi termasuk situs berita HuffPost, studio film dan TV BuzzFeed, serta penerbit resep Tasty. Keputusan ini diambil di tengah tekanan finansial yang semakin berat setelah strategi pivot AI perusahaan gagal membuahkan hasil.

    “Kami telah secara aktif mengelola biaya untuk beberapa waktu, menjajaki berbagai skenario untuk menyelamatkan sebanyak mungkin pekerjaan,” demikian bunyi memo internal yang diberikan kepada staf, dikutip dari The New York Times. “Sayangnya, penghapusan sejumlah peran masih diperlukan. Perubahan hari ini mencakup penghapusan posisi di seluruh perusahaan.”

    BuzzFeed merupakan salah satu perusahaan media pertama yang mengadopsi AI secara agresif. Pada Januari 2023, beberapa bulan setelah peluncuran publik ChatGPT, CEO saat itu Jonah Peretti mengumumkan bahwa perusahaan akan menggunakan chatbot tersebut untuk membantu membuat kuis khas BuzzFeed. Itu hanyalah awal dari serangkaian langkah kontroversial.

    Tidak lama kemudian, perusahaan menjadi pusat skandal setelah terbukti menggunakan AI untuk menghasilkan artikel-artikel berkualitas rendah secara keseluruhan. Temuan ini diperparah dengan keputusan BuzzFeed untuk menutup divisi berita yang pernah memenangkan penghargaan. Akibatnya, lalu lintas pengunjung ke situs web ambruk dan harga saham perusahaan merosot tajam dari sekitar $4 menjadi kurang dari $0,50.

    Pada tahun 2025, BuzzFeed tercatat mengalami kerugian sebesar $58 juta per tahun. Sepanjang perjalanannya, perusahaan kehilangan beberapa merek paling ikoniknya, termasuk dipaksa menjual First We Feast—perusahaan di balik acara wawancara “Hot Ones”—untuk membantu melunasi utang.

    Grafik logo BuzzFeed yang dibalik sehingga panah yang biasanya mengarah ke atas kini mengarah ke bawah

    Meskipun BuzzFeed sebenarnya sudah mengalami kesulitan sebelum pivot AI, perusahaan jelas berharap bahwa adopsi teknologi ini secara ajaib akan membalikkan nasibnya. Pemilik dan CEO baru, Byron Allen, yang mengakuisisi saham pengendali pada Mei lalu, memberi sinyal akan tetap mempertahankan investasi perusahaan di bidang AI dengan menunjuk Peretti sebagai presiden operasi AI. (Peretti dilaporkan sedang mengerjakan aplikasi AI bernama “BF Island.”)

    Apa pun yang dilakukan Allen, ia harus menjalankan perusahaan dengan sangat efisien. BuzzFeed melaporkan dalam laporan laba kuartal terakhirnya bahwa pendapatan iklan mengalami penurunan hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan mengurangi tenaga kerja, BuzzFeed memperkirakan penghematan tahunan hingga $32 juta, sebagaimana diungkapkan dalam pengajuan ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada Senin, dikutip dari The Hollywood Reporter.

    PHK massal ini mencerminkan pemotongan serupa di seluruh industri media yang merasakan dampak multifaset dari kehadiran AI. Tidak hanya beberapa pengusaha yang bersemangat menggantikan penulis dengan menghasilkan prosa secara cepat, AI juga mengekstraksi informasi dari publikasi online sambil memotong lalu lintas ke situs-situs tersebut, sehingga menghilangkan pendapatan iklan.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa Fitur Terbaru dalam teknologi AI justru menjadi bumerang bagi industri media tradisional. Sementara platform digital lain seperti Sistem Pembayaran QR di Malaysia berhasil beradaptasi dengan inovasi, BuzzFeed justru terpuruk karena pendekatan yang keliru.

    Bagi para pelaku industri media, kasus BuzzFeed menjadi pelajaran berharga bahwa adopsi teknologi tanpa strategi konten yang matang justru dapat mempercepat kehancuran. Harga Terbaru saham BuzzFeed yang anjlok menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan pasar sulit dipulihkan ketika kualitas konten dikorbankan demi efisiensi biaya.

    Kondisi BuzzFeed saat ini menjadi peringatan bagi perusahaan media lain yang tergoda untuk mengorbankan jurnalisme berkualitas demi keuntungan jangka pendek dari AI. Dengan kerugian tahunan yang mencapai puluhan juta dolar dan pendapatan iklan yang terus merosot, masa depan perusahaan yang pernah menjadi ikon media digital ini masih diselimuti ketidakpastian.

  • MediaTek Siapkan Tiga Varian Dimensity 9600, Tantang Snapdragon 8 Elite Gen 6

    MediaTek Siapkan Tiga Varian Dimensity 9600, Tantang Snapdragon 8 Elite Gen 6

    JBNews.id — MediaTek dikabarkan tengah menyiapkan strategi agresif untuk lini prosesor andalannya tahun ini. Sebuah rumor dari China mengungkap bahwa keluarga Dimensity 9600 akan hadir dalam tiga varian berbeda, dirancang khusus untuk menantang dominasi Qualcomm di segmen flagship.

    Berdasarkan informasi yang beredar, varian paling dasar dari lini ini adalah Dimensity 9600s. Chip ini pada dasarnya merupakan versi peningkatan ringan dari Dimensity 9500 yang telah dirilis tahun lalu. Oleh karena itu, Dimensity 9600s masih akan diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 3nm. Sumber bocoran menyebut bahwa performa Dimensity 9600s diprediksi belum mampu mengimbangi chip standar Snapdragon 8 Elite Gen 6 milik Qualcomm.

    Strategi ini menunjukkan pendekatan berlapis dari MediaTek untuk mengisi berbagai segmen pasar. Dengan menghadirkan varian entry-level, MediaTek tetap bisa melayani produsen smartphone yang mengincar perangkat flagship dengan harga lebih terjangkau, tanpa harus bersaing langsung di puncak performa.

    Dua Varian Unggulan dengan Fabrikasi 2nm

    Gebrakan sesungguhnya dari MediaTek ada pada dua varian tertingginya, yakni Dimensity 9600 Pro dan Dimensity 9600 Pro Max. Kehadiran dua model tangguh ini kabarnya sengaja dirancang untuk menandingi strategi Qualcomm, yang juga dirumorkan akan merilis Snapdragon 8 Elite Gen 6 standar dan versi Pro.

    Berbeda dengan varian s, Dimensity 9600 Pro dan Pro Max akan dibangun menggunakan proses fabrikasi 2nm dari TSMC yang jauh lebih mutakhir. Kedua varian teratas ini dilaporkan hanya akan memiliki sedikit perbedaan pada konfigurasi pasti inti CPU yang digunakan. Langkah ini menempatkan MediaTek sejajar dengan pemimpin industri dalam hal adopsi teknologi manufaktur chip paling canggih.

    Jika melihat peta persaingannya, Dimensity 9600 Pro diyakini akan menjadi pesaing langsung yang disiapkan MediaTek untuk melawan Snapdragon 8 Elite Gen 6 standar. Sementara itu, varian paling mumpuni Dimensity 9600 Pro Max akan diposisikan untuk bertarung berhadapan langsung dengan Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro.

    Persaingan ketat di segmen chip flagship ini diprediksi akan mendorong inovasi lebih cepat, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen. Produsen smartphone akan memiliki lebih banyak opsi prosesor berperforma tinggi untuk perangkat unggulan mereka.

    Jadwal Debut dan Perangkat Pertama

    Lini prosesor Dimensity 9600 ini diprediksi akan memulai debut resminya melalui berbagai perangkat yang dijadwalkan meluncur pada bulan September tahun ini. Beberapa smartphone flagship yang dirumorkan akan menjadi pengguna pertama chip mutakhir ini di antaranya meliputi lini vivo X500 dan keluarga Oppo Find X10.

    Menarik untuk menantikan bagaimana ketatnya rivalitas antara MediaTek dan Qualcomm di kancah semikonduktor pada akhir tahun nanti, demikian dikutip dari GSM Arena, Rabu (29/7/2026).

    Kehadiran tiga varian Dimensity 9600 menunjukkan bahwa MediaTek tidak hanya ingin bersaing di segmen entry-level, tetapi juga siap bertarung di papan atas. Ini menjadi sinyal positif bagi ekosistem smartphone Android yang akan semakin kompetitif. Produsen seperti vivo dan Oppo yang disebut-sebut sebagai pengguna awal chip ini diprediksi akan menghadirkan perangkat flagship dengan performa gahar dan harga yang lebih kompetitif.

    Bagi konsumen, persaingan ini berarti pilihan yang lebih luas. Pengguna bisa mendapatkan perangkat flagship dengan chipset MediaTek atau Qualcomm, tergantung pada preferensi performa, fitur, dan tentu saja anggaran. Informasi lebih lanjut mengenai Harga Terbaru perangkat yang akan menggunakan Dimensity 9600 masih dinantikan.

    Sementara itu, pasar juga mulai diramaikan dengan kehadiran ponsel lain seperti Tecno Pova 8 5G yang menawarkan baterai jumbo 8.000 mAh dengan harga mulai Rp3,9 juta, menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya terjadi di segmen flagship, tetapi juga di kelas menengah.

    Dengan strategi tiga varian ini, MediaTek menunjukkan keseriusannya untuk menjadi pemain dominan di pasar prosesor mobile. Keberhasilan lini Dimensity 9600 akan sangat bergantung pada performa riil, efisiensi daya, dan tentu saja harga yang ditawarkan kepada mitra produsen smartphone.

  • 7 Tips Jaga Kesehatan Baterai iPhone agar Awet dan Optimal

    7 Tips Jaga Kesehatan Baterai iPhone agar Awet dan Optimal

    JBNews.id — Kesehatan baterai atau Battery Health merupakan indikator penting yang menentukan performa dan daya tahan iPhone. Data dari laporan ANTARA menunjukkan bahwa kapasitas baterai akan menurun secara alami seiring waktu dan intensitas penggunaan. Namun, pengguna dapat memperlambat proses degradasi ini dengan menerapkan kebiasaan pengisian daya yang benar. Tanpa perawatan yang tepat, penurunan kapasitas baterai bisa terjadi lebih cepat, memaksa pengguna mengganti baterai atau membeli perangkat baru lebih awal.

    Baterai iPhone menggunakan teknologi lithium-ion yang memiliki siklus pengisian terbatas. Battery Health menunjukkan kapasitas maksimum baterai dibandingkan saat perangkat masih baru. Semakin tinggi persentasenya, semakin optimal pula kemampuan baterai dalam menyimpan daya. Meski penurunan tidak bisa dihindari, kebiasaan penggunaan yang tepat dapat membantu memperlambat proses tersebut.

    Berikut tujuh tips menjaga kesehatan baterai iPhone agar tetap awet, berdasarkan panduan resmi yang dirangkum oleh ANTARA.

    1. Isi Daya pada Suhu Normal

    Suhu perangkat menjadi faktor utama yang memengaruhi umur baterai. Pengisian daya sebaiknya dilakukan saat iPhone berada pada suhu normal. Hindari mengisi daya saat perangkat terlalu panas atau terlalu dingin. Pengisian dalam kondisi suhu ekstrem dapat mempercepat penurunan kapasitas baterai serta memengaruhi kinerjanya dalam jangka panjang.

    2. Gunakan Charger Resmi atau Bersertifikasi MFi

    Menggunakan charger dan kabel resmi atau memiliki sertifikasi Made for iPhone (MFi) sangat disarankan. Aksesori bersertifikasi MFi telah memenuhi standar Apple terkait keamanan, arus listrik, dan tegangan yang sesuai dengan perangkat iPhone. Sebaliknya, charger berkualitas rendah berisiko menyebabkan arus listrik tidak stabil, perangkat lebih cepat panas (overheating), hingga berpotensi merusak komponen internal.

    3. Hindari Menggunakan iPhone hingga Baterai Habis Total

    Baterai lithium-ion bekerja lebih optimal apabila tidak dibiarkan kosong sepenuhnya. Membiasakan menggunakan iPhone hingga baterai benar-benar habis dan perangkat mati sendiri dapat mempercepat penurunan kapasitas baterai. Pengguna disarankan mulai mengisi daya ketika kapasitas baterai sudah rendah dan menghindari penggunaan berlebihan saat proses pengisian berlangsung.

    4. Jangan Mengisi Daya Terlalu Lama

    Membiarkan iPhone terhubung ke pengisi daya dalam waktu sangat lama, misalnya semalaman, sebaiknya dihindari. Meski iPhone memiliki sistem pengelolaan daya, kebiasaan ini tetap dapat memengaruhi umur baterai dalam jangka panjang. Idealnya, baterai diisi hingga mendekati penuh, kemudian pengisi daya segera dilepas. Jika harus mengisi daya saat tidur, aktifkan fitur Optimized Battery Charging agar sistem dapat mengatur proses pengisian secara lebih efisien.

    5. Matikan Fitur yang Tidak Digunakan

    Sejumlah fitur pada iPhone dapat terus bekerja di latar belakang dan mengonsumsi daya baterai meskipun tidak digunakan. Fitur seperti Bluetooth, layanan lokasi (Location Services), Background App Refresh, dan Push Notification dapat dimatikan sementara jika memang tidak diperlukan. Langkah ini membantu menghemat daya dan mengurangi frekuensi pengisian baterai sehingga kesehatannya lebih terjaga.

    6. Hindari Terlalu Sering Menggunakan Powerbank

    Powerbank dapat menjadi solusi saat tidak tersedia sumber listrik. Namun, pengguna sebaiknya tidak menjadikannya sebagai sumber pengisian utama setiap hari. Seiring waktu, kualitas baterai pada powerbank juga menurun sehingga arus listrik yang dihasilkan menjadi kurang stabil. Kondisi ini berpotensi memengaruhi komponen pengisian daya pada iPhone. Gunakan adaptor yang terhubung langsung ke sumber listrik sebagai pilihan utama.

    7. Selalu Perbarui iPhone ke iOS Terbaru

    Apple secara rutin merilis pembaruan iOS yang tidak hanya menghadirkan fitur baru, tetapi juga peningkatan efisiensi sistem dan optimalisasi pengelolaan baterai. Pada beberapa versi iOS terbaru, Apple menghadirkan fitur yang mampu membatasi pengisian daya hingga persentase tertentu, seperti 80 persen pada model yang mendukung. Teknologi ini membantu mengurangi tekanan pada baterai sehingga usia pakainya lebih panjang. Selain menjaga Battery Health, pembaruan iOS juga meningkatkan keamanan serta performa perangkat secara keseluruhan.

    Penerapan kebiasaan di atas tidak hanya menjaga kesehatan baterai, tetapi juga membantu pengguna menghindari biaya tambahan untuk penggantian baterai atau pembelian perangkat baru dalam waktu dekat. Dengan perawatan yang tepat, iPhone dapat digunakan lebih lama dengan performa optimal.

    Bagi pengguna yang mengalami masalah pada perangkat, penting untuk memahami langkah-langkah dasar seperti saat Akun WhatsApp Diblokir atau ingin mencoba Fitur Terbaru dari ponsel lain. Selalu perbarui pengetahuan tentang teknologi untuk pengalaman digital yang lebih baik.

  • Cara Share Screen di WhatsApp untuk Presentasi Lebih Mudah

    Cara Share Screen di WhatsApp untuk Presentasi Lebih Mudah

    JBNews.id — Fitur share screen di WhatsApp kini bisa digunakan untuk presentasi langsung melalui panggilan video. Pengguna hanya perlu melakukan video call untuk mengaktifkan fitur berbagi layar ini, baik untuk panggilan satu orang maupun grup. Fitur ini juga tersedia di laptop atau komputer, tidak hanya di ponsel.

    WhatsApp terus menghadirkan inovasi untuk memudahkan komunikasi penggunanya. Salah satu fitur yang paling berguna adalah kemampuan berbagi layar saat melakukan panggilan video. Dengan fitur ini, pengguna dapat menampilkan dokumen, presentasi, atau aplikasi lain secara real-time kepada peserta panggilan.

    Fitur berbagi layar di WhatsApp tidak hanya mendukung produktivitas, tetapi juga mempermudah kolaborasi jarak jauh. Pengguna tidak perlu lagi menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk presentasi singkat. Cukup dengan aplikasi WhatsApp yang sudah terinstal, presentasi bisa langsung dilakukan.

    Bagi yang belum familiar, berikut adalah langkah-langkah lengkap untuk menggunakan fitur share screen di WhatsApp.

    Langkah-Langkah Share Screen di WhatsApp

    Untuk memulai, pengguna harus memilih kontak yang ingin dihubungi, baik personal maupun grup. Setelah itu, lakukan video call seperti biasa. Ketika panggilan sudah tersambung, langsung ketuk ikon ‘Share screen’ atau ‘Berbagi layar’ yang muncul di layar.

    Di laptop atau komputer, akan muncul pilihan layar mana yang ingin dibagikan. Pengguna tinggal mengklik layar yang ingin ditampilkan. Jika sudah selesai, klik opsi ‘Berhenti berbagi’ untuk mengakhiri sesi berbagi layar.

    Hal Penting yang Perlu Diperhatikan

    Fitur berbagi layar hanya tersedia dalam panggilan video, tidak bisa digunakan untuk panggilan audio. Selama menggunakan fitur ini, beranda video dari peserta panggilan akan muncul di bawah konten yang dibagikan. Informasi yang ditampilkan di layar yang dibagikan, termasuk nama pengguna dan kata sandi, dapat dilihat oleh peserta video call.

    Fitur berbagi layar sudah dilindungi dengan enkripsi end-to-end dan tidak pernah direkam oleh WhatsApp. Tidak seorang pun di luar panggilan, bahkan WhatsApp, yang dapat melihat atau mendengar hal-hal yang dibagikan di layar. Selalu perbarui aplikasi WhatsApp untuk mendapatkan pengalaman terbaik.

    Bagi pengguna yang mengalami masalah seperti Akun WhatsApp Diblokir, pastikan untuk selalu mengikuti panduan resmi dari WhatsApp.

    Fitur share screen di WhatsApp menjadi solusi praktis untuk kebutuhan presentasi mendadak. Dengan langkah sederhana, pengguna bisa langsung berbagi tampilan layar tanpa perlu aplikasi tambahan. Pastikan koneksi internet stabil agar pengalaman video call dan berbagi layar berjalan lancar.

    Bagi pengguna yang ingin mengetahui lebih banyak tentang fitur-fitur tersembunyi WhatsApp, tersedia banyak panduan yang bisa diakses. Selain itu, pengguna juga perlu waspada terhadap potensi masalah keamanan seperti Chat Claude Publik Muncul di Google yang bisa memengaruhi privasi data.

    Fitur berbagi layar juga bisa digunakan untuk keperluan edukasi, seperti mengajarkan cara menggunakan aplikasi tertentu atau mendemonstrasikan langkah-langkah teknis. Dengan enkripsi end-to-end, privasi pengguna tetap terjaga selama sesi berlangsung.

    Selain fitur share screen, WhatsApp juga memiliki banyak fitur lain yang jarang diketahui. Pengguna bisa menjelajahi menu pengaturan untuk menemukan berbagai opsi kustomisasi yang tersedia. Pastikan untuk selalu memperbarui aplikasi agar mendapatkan fitur terbaru dan perbaikan keamanan.

    Dengan kemudahan yang ditawarkan, fitur share screen di WhatsApp menjadi andalan baru untuk komunikasi visual jarak jauh. Tidak perlu lagi bingung mencari aplikasi presentasi terpisah. Cukup buka WhatsApp, lakukan video call, dan bagikan layar.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang fitur keamanan seperti AI OpenAI Bobol Keamanan, pengguna disarankan untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi terkini.

  • Sam Altman: AI Tak Akan Pernah Perpendek Jam Kerja

    Sam Altman: AI Tak Akan Pernah Perpendek Jam Kerja

    JBNews.id — CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan pernah memperpendek jam kerja manusia, bertolak belakang dengan janji para eksekutif teknologi selama ini.

    Dalam wawancara di podcast “Relentless,” Altman mengakui bahwa “entah bagaimana kita tidak pernah mendapatkan janji jam kerja empat jam dalam skala massal di masyarakat,” meskipun teknologi “berjanji kepada orang-orang bahwa mereka akan bekerja lebih sedikit dan memiliki lebih banyak waktu luang.” “Dan saya tidak berharap AI mengubah itu,” tegasnya.

    Alih-alih mendorong keseimbangan kehidupan kerja yang lebih sehat, Altman justru berpendapat bahwa manusia akan lebih bahagia jika terus bekerja keras. “Saya pikir kita semua akan jauh lebih sibuk daripada yang kita kira di dunia pasca-superintelligence,” ujarnya. “Kita masih akan mengeluh tentang hal itu, tapi diam-diam kita akan bahagia.”

    Pernyataan ini menandai perubahan narasi signifikan dari para pemimpin teknologi. Sebelumnya, AI dipromosikan sebagai alat yang akan membebaskan pekerja dari pekerjaan kasar. Kini, narasi bergeser menjadi AI akan memberdayakan pekerja untuk melakukan lebih banyak hal — yang dalam praktiknya berarti beban kerja semakin berat.

    Altman sebelumnya telah menyatakan singularitas AI telah tiba, namun pandangannya tentang dampak AI terhadap jam kerja justru pesimistis.

    Data menunjukkan bahwa AI justru memaksa karyawan bekerja lebih keras, bukan kurang. Fenomena “intensifikasi” peran ini sudah menyebabkan kelelahan yang meluas di kalangan pekerja. Mereka yang masih bekerja seringkali harus menanggung tanggung jawab rekan kerja yang telah dipecat, memperparah beban mereka.

    Altman menggambarkan manusia sebagai “tikus dalam labirin” yang diam-diam menikmati tekanan kerja. Pandangan ini kontras dengan politisi seperti Senator Bernie Sanders yang terus mendorong penerapan empat hari kerja yang difasilitasi oleh AI.

    Komentar Altman dianggap sebagai tamparan bagi pekerja yang sudah terdampak oleh gelombang PHK akibat adopsi AI. Sebagai tokoh yang berperan besar dalam mengubah pasar kerja dan membuat hidup lebih mahal, pernyataannya tentang kebahagiaan dalam bekerja keras terasa tidak sensitif.

    Para psikiater memperingatkan bahwa ancaman PHK akibat AI memiliki dampak psikologis yang menghancurkan. Mereka yang selamat dari PHK pun harus menghadapi beban kerja yang semakin berat.

    Pergeseran narasi dari “AI untuk kebebasan” menjadi “AI untuk produktivitas” mencerminkan realitas pahit: teknologi yang seharusnya membebaskan manusia justru mengikat mereka lebih erat pada pekerjaan.

    Para pemimpin teknologi kini secara terbuka mengakui bahwa AI tidak akan memberikan lebih banyak waktu luang. Sebaliknya, AI akan menuntut lebih banyak waktu dan energi dari pekerja.

    Altman menyebut bahwa meskipun manusia akan terus mengeluh, mereka diam-diam akan bahagia dengan kesibukan yang meningkat. Namun, pernyataan ini sulit diterima oleh jutaan pekerja yang sudah mengalami kelelahan kronis akibat tuntutan kerja yang tidak manusiawi.

    Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat stres dan kelelahan pekerja meningkat drastis sejak adopsi AI masif di berbagai industri. Perusahaan menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin, namun beban kerja karyawan justru bertambah karena mereka harus mengelola sistem AI dan menangani tugas yang lebih kompleks.

    Fenomena ini dikenal sebagai “paradoks produktivitas AI”: meskipun teknologi meningkatkan efisiensi, beban kerja manusia justru meningkat karena ekspektasi yang lebih tinggi.

    Para ekonom memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang tepat, AI justru akan memperburuk ketimpangan dan menciptakan tekanan psikologis yang lebih besar pada pekerja. Sanders dan politisi progresif lainnya mendorong kebijakan yang memastikan AI digunakan untuk kesejahteraan pekerja, bukan sebaliknya.

    Namun, dengan pernyataan Altman, jelas bahwa para pemimpin industri AI tidak memiliki visi yang sama. Mereka melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk memberikan lebih banyak waktu luang.

    Pandangan Altman tentang “kebahagiaan dalam kerja keras” mencerminkan filosofi Silicon Valley yang mengagungkan hustle culture. Namun, para kritikus menilai ini adalah pembenaran untuk eksploitasi pekerja.

    Kasus Florida yang menggugat OpenAI dan Sam Altman menunjukkan semakin besarnya resistensi terhadap cara perusahaan AI beroperasi.

    Pertanyaan mendasar yang muncul: untuk siapa sebenarnya AI diciptakan? Jika AI hanya membuat pemilik modal semakin kaya sementara pekerja semakin tertekan, maka janji awal tentang AI sebagai pembebas manusia hanyalah ilusi.

    Altman mungkin benar bahwa manusia akan terus bekerja keras. Namun, yang ia abaikan adalah bahwa kerja keras yang dipaksakan dan tanpa makna adalah sumber utama kelelahan dan depresi di era modern.

    Pekerja tidak menolak bekerja keras; mereka menolak bekerja keras untuk kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan yang layak. AI yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya bukanlah kemajuan, melainkan bentuk baru dari eksploitasi.

    Pernyataan kontroversial Altman ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak sosial AI. Banyak pihak menuntut transparansi dan regulasi yang lebih ketat terhadap pengembangan AI.

    Film tentang Sam Altman yang ditolak banyak studio Hollywood menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di industri hiburan. Studio takut mengkritik big tech karena ketergantungan mereka pada platform digital.

    Altman dan rekan-rekannya di Silicon Valley mungkin percaya bahwa manusia akan bahagia dengan kerja keras tanpa batas. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya memberikan lebih banyak kebebasan, bukan perbudakan baru.

    Jika AI benar-benar tidak akan memperpendek jam kerja, maka pertanyaan yang harus diajukan adalah: apa gunanya AI bagi pekerja biasa? Jawabannya, berdasarkan pernyataan Altman, tampaknya tidak ada.

    Pekerja harus siap menghadapi kenyataan bahwa AI tidak akan menjadi penyelamat mereka. Sebaliknya, mereka harus berjuang untuk memastikan bahwa teknologi ini digunakan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk keuntungan segelintir orang.

    Regulasi, serikat pekerja, dan kesadaran publik adalah kunci untuk mengarahkan AI ke jalur yang benar. Tanpa itu, visi Altman tentang “kebahagiaan dalam kerja keras” akan menjadi kenyataan pahit bagi jutaan orang.

    Pada akhirnya, pernyataan Altman adalah pengingat bahwa teknologi tidak netral. AI akan mencerminkan nilai-nilai penciptanya. Dan jika penciptanya percaya bahwa manusia harus terus bekerja keras tanpa henti, maka itulah yang akan terjadi.

    Pilihan ada di tangan kita: menerima nasib sebagai “tikus dalam labirin” atau berjuang untuk masa depan di mana AI benar-benar membebaskan manusia dari pekerjaan yang tidak berarti.

  • X Money Resmi Diluncurkan, Elon Musk Hadapi Skeptisisme Publik

    X Money Resmi Diluncurkan, Elon Musk Hadapi Skeptisisme Publik

    JBNews.id — Platform media sosial X resmi meluncurkan layanan perbankan bernama X Money untuk pengguna Premium dan Premium Plus, menawarkan fitur penyimpanan dana hingga penarikan tunai melalui kartu debit Visa, namun langkah ini langsung menuai skeptisisme dari berbagai pihak terkait rekam jejak keamanan platform.

    Layanan yang baru saja diaktifkan ini memungkinkan pengguna yang sudah membayar hingga 40 dolar AS per bulan untuk mendapatkan fitur penyimpanan dana dalam rekening deposito. X Money juga menjanjikan cash-back sebesar tiga persen dan bunga tahunan (APY) mencapai enam persen—angka yang kompetitif di industri perbankan digital.

    Namun, di balik insentif finansial tersebut, kekhawatiran serius muncul. Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren (D-MA) telah mengirimkan surat langsung kepada Elon Musk awal tahun ini, menyoroti potensi risiko yang dibawa X Money terhadap konsumen, keamanan nasional, dan stabilitas sistem keuangan. “Kegagalan Anda mengoperasikan X dengan cara yang aman dan bertanggung jawab tidak menumbuhkan kepercayaan pada kemampuan Anda untuk berekspansi secara aman ke layanan keuangan konsumen,” tulis Warren dalam suratnya.

    Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Platform X selama ini dikenal luas sebagai tempat penyebaran misinformasi, materi pelecehan seksual anak, dan ujaran kebencian—sekaligus menjadi ruang gema yang menyedihkan bagi CEO-nya yang kini banyak dibenci publik. Menitipkan tabungan hidup pada perusahaan dengan reputasi semacam ini jelas membuat banyak orang berpikir dua kali.

    Ambisi Musk di sektor finansial sebenarnya sudah ada sejak lama. Pada 1999, ia mendirikan sistem pembayaran e-commerce X.com, yang kemudian bergabung dengan perusahaan lain pada 2000 hingga akhirnya membentuk PayPal. Namun, dewan direksi saat itu memecat Musk dan menggantinya dengan Peter Thiel akibat perbedaan pendapat besar—sebuah sumber frustrasi yang masih terasa hingga kini bagi CEO SpaceX tersebut.

    X Money merupakan bagian dari visi besar Musk untuk mengubah X menjadi “aplikasi segalanya” (the everything app). Mantan CEO X Linda Yaccarino, yang dikenal sebagai juru bicara Musk, pernah menyatakan bahwa platform ini “dapat memberikan, yah… segalanya.” Ambisi ini mengingatkan pada aplikasi asal China, WeChat, yang memang telah berhasil mengintegrasikan berbagai layanan dalam satu platform.

    Namun, tantangan terbesar Musk bukanlah teknologi, melainkan kepercayaan publik. Perilaku kontroversialnya dalam beberapa tahun terakhir telah mengubahnya menjadi salah satu figur paling dibenci di planet ini. Meyakinkan masyarakat untuk menaruh uang mereka di ekosistem X tampaknya akan jauh lebih sulit dari yang dibayangkan, terutama dalam urusan keuangan pribadi.

    Bahkan untuk meluncurkan fitur ini saja, Musk mengalami kesulitan yang jauh lebih besar dari perkiraannya. Ia awalnya berjanji bahwa layanan perbankan akan diluncurkan pada akhir 2024. “Saya akan terkejut jika kami tidak meluncurkannya pada akhir tahun depan,” kata Musk kepada karyawan Twitter saat itu pada Oktober 2023. Kenyataannya, ia melewatkan tenggat waktu tersebut lebih dari dua setengah tahun—sebuah keterlambatan yang signifikan bahkan untuk standar industri teknologi.

    Dari sisi teknis, X Money menawarkan kemudahan akses melalui kartu debit Visa fisik yang memungkinkan penarikan tunai di ATM. Namun, serangan bot transaksi digital yang semakin marak justru menjadi kekhawatiran tambahan bagi calon pengguna. Keamanan siber menjadi isu krusial ketika menyangkut uang sungguhan, dan reputasi X dalam menangani masalah keamanan masih jauh dari kata memuaskan.

    Bagi pengguna Premium dan Premium Plus yang sudah terbiasa membayar puluhan dolar per bulan, tawaran cash-back tiga persen dan APY enam persen mungkin terdengar menggiurkan. Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah risiko menyimpan dana di platform yang dikenal bermasalah sebanding dengan imbal hasil yang ditawarkan?

    Langkah Musk ini juga menarik diamati dalam konteks persaingan bisnisnya yang lain. Baru-baru ini, Elon Musk mengolok-olok Sam Altman setelah OpenAI digugat Apple, menunjukkan bahwa persaingan di dunia teknologi semakin memanas. Ekspansi X ke sektor finansial bisa menjadi batu loncatan atau justru batu sandungan bagi ambisi besar Musk.

    Belum lagi, jika X Money mengalami kebocoran data atau penyalahgunaan, dampaknya bisa sangat luas. Senator Warren telah memperingatkan bahwa risiko ini tidak hanya menyangkut konsumen individu, tetapi juga keamanan nasional dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Peringatan ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.

    Dari sudut pandang bisnis, langkah X masuk ke layanan keuangan sebenarnya masuk akal. Platform ini membutuhkan sumber pendapatan baru di luar iklan dan langganan premium. Dengan basis pengguna yang masih cukup besar, meskipun terus menurun, layanan perbankan bisa menjadi sumber pendapatan yang stabil dan berulang.

    Namun, eksekusi menjadi kunci. Musk dikenal sebagai sosok yang ambisius namun sering kali gagal dalam hal ketepatan waktu dan konsistensi. Keterlambatan lebih dari dua tahun dalam meluncurkan X Money menunjukkan bahwa timnya masih bergulat dengan berbagai tantangan teknis dan regulasi.

    Bagi konsumen Indonesia, kehadiran X Money mungkin masih terasa jauh. Namun, tren global seperti ini sering kali menjadi indikator arah industri keuangan digital ke depannya. Jika X Money sukses, bukan tidak mungkin platform serupa akan muncul di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    Yang jelas, langkah Musk ini akan menjadi ujian besar bagi kemampuannya dalam membangun kepercayaan publik. Dalam industri keuangan, kepercayaan adalah segalanya. Tanpa kepercayaan, tidak peduli seberapa canggih teknologi atau seberapa besar insentif yang ditawarkan, konsumen tidak akan mau menitipkan uang mereka.

    Implikasinya jelas: X Money harus membuktikan bahwa platform ini aman, andal, dan dapat dipercaya—bukan sekadar proyek ambisius seorang miliarder kontroversial. Dan dengan rekam jejak Musk yang penuh kontroversi, jalan menuju kepercayaan publik tampaknya masih panjang dan berliku.

  • Cincin Pintar Stream: Solusi Input Suara AI Masa Depan

    Cincin Pintar Stream: Solusi Input Suara AI Masa Depan

    JBNews.id — Sandbar memperkenalkan smart ring Stream, perangkat wearable yang dirancang untuk menulis catatan dan teks melalui perintah suara ke berbagai perangkat secara nirkabel. Cincin pintar ini menawarkan solusi input alternatif yang lebih praktis dibandingkan mengetik manual di smartphone atau laptop.

    CEO Sandbar, Mina Fahmi, mendemonstrasikan kemampuan terbaru Stream di kantor pusat perusahaan di New York City. Dalam demo tersebut, Fahmi membuka aplikasi Apple Notes, mendekatkan cincin ke mulutnya, menekan touchpad dengan ibu jari, dan berbicara pelan selama beberapa detik. Hasilnya, dua kalimat lengkap dan terbaca dengan benar langsung muncul di catatan.

    Fahmi menjelaskan bahwa ide pembuatan Stream muncul dari kebiasaannya berjalan kaki yang sering terganggu karena harus mengeluarkan ponsel setiap kali memiliki ide atau ingin bertanya pada asisten AI. “Saya suka berjalan kaki dan merasa kesal harus mengeluarkan ponsel setiap kali punya ide,” ujarnya.

    Stream pada dasarnya hanyalah mikrofon, baterai, dan koneksi Bluetooth yang terhubung ke ponsel. Perangkat ini memiliki tiga fungsi utama: memulai percakapan dengan asisten AI, membuat catatan, dan mendikte teks. Saat ini, sebagian besar fungsi tersebut berjalan melalui aplikasi pendamping Stream, namun Sandbar berencana menghubungkan perangkat ini langsung ke berbagai alat lain yang digunakan pengguna.

    Salah satu fitur unggulan Stream adalah mode berbisik. Dalam demo, Fahmi berbicara dengan suara sangat pelan sehingga tidak terdengar sama sekali, namun Stream tetap mentranskripsi kata-katanya dengan sempurna. Fitur ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan perangkat secara lebih pribadi dan tidak mengganggu orang lain di sekitar.

    Kemajuan signifikan lainnya adalah kemampuan Stream untuk terhubung ke berbagai perangkat secara mulus. Dalam demo, Fahmi mem-flash firmware baru ke cincin, menghubungkannya ke Mac dan iPhone, lalu mampu mendikte teks ke satu perangkat dan kemudian beralih ke perangkat lainnya tanpa hambatan. Fahmi enggan mengungkapkan cara kerja teknologi tersebut, namun hasilnya terbukti sangat mulus.

    Mengatasi Keterbatasan Input Smartphone

    Para penguji yang telah mencoba berbagai gadget AI menilai bahwa smartphone memiliki sistem input yang buruk. Untuk sekadar mengeluarkan ide dari kepala, pengguna harus mengambil ponsel, membuka kunci, membuka aplikasi, membuat catatan baru, mengetuk, dan mengetik. Proses ini memakan waktu dan tidak praktis, terutama saat sedang berjalan atau di tempat umum.

    Asisten suara dan chatbot AI memang membuat beberapa interaksi lebih mudah, namun banyak aktivitas modern masih melibatkan pengetikan di kotak teks. Berbicara dengan laptop di rumah mungkin terasa nyaman, tetapi di kedai kopi, kereta, atau saat berjalan di jalan, hal ini menjadi masalah sosial dan teknis.

    Smart ring seperti Stream menawarkan solusi yang lebih elegan. Pengguna cukup mendekatkan cincin ke mulut, menekan tombol, dan berbicara. Gestur ini terasa alami, mikrofon cukup dekat dengan mulut untuk menangkap suara secara akurat, dan seluruh proses jauh lebih tidak mencolok dibandingkan berteriak ke headphone.

    Beberapa perusahaan lain juga mulai mengembangkan cincin AI serupa. Pendiri Pebble, Eric Migicovsky, menciptakan Index 01 dengan alasan yang sama: kebutuhan akan cara tercepat untuk mengeluarkan ide, pengingat, dan catatan dari kepala. Ada juga Vocci, versi yang lebih fokus pada rapat. Seiring waktu, perusahaan seperti Oura dan Ultrahuman kemungkinan akan menambahkan teknologi serupa ke produk cincin mereka yang sudah ada.

    Teknologi di balik perangkat ini sebenarnya tidak rumit. Intinya hanyalah mikrofon. Semua pemrosesan kompleks terjadi di perangkat lain yang hampir pasti sudah dimiliki pengguna, seperti smartphone atau laptop. Alexa Plus dan asisten AI lainnya akan menjadi mitra alami bagi perangkat input seperti Stream.

    Masa Depan Interaksi Manusia dan Mesin

    Stream tidak mencoba menggantikan atau mengeliminasi ponsel. Sebaliknya, perangkat ini memungkinkan pengguna untuk lebih sering menyimpan ponsel di saku. Pendekatan ini berbeda dengan banyak gadget AI lain yang justru menjadi pengganti smartphone yang buruk.

    Perkembangan teknologi dikte telah mengalami lompatan signifikan berkat revolusi LLM (Large Language Model). Bahkan model termurah dan tercepat saat ini sudah sangat baik dalam memahami dan memproses ucapan. Aplikasi seperti WisprFlow, Monologue, Spokenly, dan Handy telah terbukti berguna untuk menulis email, pesan Slack, dan berbagai teks lainnya dengan cepat.

    Meskipun aplikasi tersebut terkadang memberikan format yang terlalu formal dan suka mengakhiri pesan teks dengan titik, kualitasnya terus meningkat. Stream hadir sebagai perangkat keras khusus yang mengoptimalkan pengalaman dikte ini, menghilangkan hambatan antara ide dan teks.

    Penggunaan smart ring sebagai alat input juga mengatasi masalah sosial yang muncul saat orang berbicara dengan perangkat AI di tempat umum. Daripada menormalisasi kebiasaan berbicara dengan asisten AI di depan umum, Stream menawarkan alternatif yang lebih privat dan tidak mengganggu.

    Meskipun sebagian besar produk ini belum selesai atau belum dikirimkan, prospek untuk lebih banyak berbicara dengan perangkat semakin menarik. Banyak pengamat yakin bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk meletakkan mikrofon selain di jari tangan.

    Perangkat wearable seperti Stream menunjukkan arah baru dalam evolusi teknologi personal. Jika kacamata pintar AI menawarkan pengalaman augmented reality, smart ring fokus pada penyederhanaan input suara. Keduanya sama-sama tidak mencoba menggantikan smartphone, melainkan melengkapinya.

    Stream dijadwalkan akan dikirimkan pada akhir tahun ini. Sandbar masih terus mengembangkan firmware dan fitur-fitur baru, termasuk integrasi yang lebih dalam dengan berbagai aplikasi dan platform. Fahmi optimistis bahwa perangkat seperti Stream akan mengubah cara orang berinteraksi dengan teknologi sehari-hari, membuat proses input menjadi lebih cepat, alami, dan tidak merepotkan.

    Ke depannya, tren perangkat input alternatif diperkirakan akan terus berkembang. Produsen seperti Apple dengan smart glasses dan Samsung dengan perangkat wearable AI lainnya menunjukkan bahwa industri sedang bergerak menuju ekosistem perangkat yang saling terhubung. Smart ring seperti Stream bisa menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut, menawarkan cara baru yang lebih efisien untuk berkomunikasi dengan mesin.

    Bagi pengguna yang sering mencatat ide, mengirim pesan cepat, atau berinteraksi dengan asisten AI, Stream menawarkan solusi yang menjanjikan. Dengan harga yang belum diumumkan secara resmi, perangkat ini menargetkan pengguna yang menginginkan produktivitas lebih tinggi tanpa harus selalu memegang ponsel.

    Implikasinya jelas: masa depan interaksi manusia dengan komputer mungkin tidak lagi membutuhkan keyboard atau layar sentuh. Cukup dengan bicara pelan ke cincin di jari, ide bisa langsung tertuang dalam bentuk teks. Dan jika teknologi ini berhasil, kebiasaan mengetik di smartphone perlahan akan mulai ditinggalkan.

  • Bot Kuasai Internet: 57 Persen Lalu Lintas Web Bukan Manusia

    Bot Kuasai Internet: 57 Persen Lalu Lintas Web Bukan Manusia

    JBNews.id — Lebih dari setengah seluruh lalu lintas internet global kini berasal dari bot, bukan manusia. Data terbaru dari Cloudflare mengungkapkan bahwa pada Juni 2026, sebanyak 57 persen permintaan halaman web dibuat oleh program otomatis, menandai pertama kalinya aktivitas bot mendominasi menurut metrik perusahaan keamanan siber tersebut.

    Temuan ini mengonfirmasi apa yang selama ini dikenal sebagai “dead internet theory” — sebuah teori konspirasi yang menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas di internet dijalankan oleh bot dan mesin. Meskipun awalnya dianggap sebagai skenario fiksi, data faktual kini menunjukkan bahwa manusia telah menjadi minoritas di dunia maya.

    “Ada banyak informasi yang hilang, tetapi banyak data yang diamati menunjukkan hal yang sama, yaitu ada lebih banyak aktivitas bot,” ujar Rudy Yang, analis keuangan teknologi di Pitchbook, kepada Fortune. “Aktivitas AI agen mendorong sebagian besar aktivitas peramban yang Anda lihat.”

    Lonjakan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Bot telah lama hadir di media sosial, tetapi yang paling mengubah lanskap web saat ini adalah kehadiran AI agen. Sebuah laporan dari perusahaan keamanan siber HUMAN menemukan bahwa lalu lintas yang dihasilkan oleh AI agen melonjak hingga 7.851 persen secara tahunan, seperti yang dicatat oleh Fortune.

    Fenomena ini membawa implikasi serius bagi pemilik situs web. Tidak seperti manusia, AI agen tidak menghasilkan tayangan iklan — sumber pendapatan utama bagi banyak situs. Sebaliknya, mereka justru membebani server situs web karena mengonsumsi konten dengan cara yang sangat berbeda.

    “Mereka mengonsumsi web dengan cara yang benar-benar berbeda dari manusia,” kata Yang kepada Fortune. “Ini hampir seperti kategori pelanggan baru yang tercipta, dan ini sangat berarti bagi bisnis karena tidak ada pemilik bisnis yang ingin mengisolasi diri dari kemampuan melayani segmen pelanggan baru.”

    Dampak pada Konten dan Mesin Pencari

    Dominasi bot tidak hanya mengubah siapa yang mengakses web, tetapi juga apa yang kita lihat di dalamnya. Sebuah laporan yang diterbitkan pada Oktober 2025 dari firma SEO Graphite menemukan bahwa lebih dari setengah seluruh artikel berbahasa Inggris baru di internet ditulis dengan bantuan kecerdasan buatan.

    Perubahan ini diperparah oleh kebijakan Google sebagai pengelola utama internet. Raksasa mesin pencari tersebut telah beralih fokus dari menyediakan daftar tautan ke situs web, menjadi mengandalkan chatbot untuk merangkum jawaban langsung kepada pengguna. Langkah ini dinilai membuat internet semakin sulit dinavigasi oleh manusia.

    CEO OpenAI Sam Altman secara terbuka menyatakan kekhawatirannya bahwa teori internet mati menjadi kenyataan pada tahun lalu. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI agen untuk berbagai tugas, mulai dari riset hingga belanja online.

    Data dari Pitchbook menunjukkan bahwa AI agen kini menjadi pendorong utama aktivitas peramban. Ini berarti bahwa sebagian besar interaksi di web saat ini terjadi antara mesin dengan mesin, bukan manusia dengan manusia.

    Fenomena serupa juga terlihat di platform media sosial. Seperti yang dilaporkan dalam Facebook dan Instagram Down, gangguan layanan besar-besaran sering kali memicu gelombang keluhan dari pengguna manusia yang masih aktif. Namun, dengan dominasi bot yang semakin meluas, dampak dari gangguan semacam itu bisa berbeda di masa depan.

    Para ahli memperingatkan bahwa tren ini akan terus berlanjut seiring dengan semakin canggihnya teknologi AI. Perusahaan-perusahaan teknologi besar terus mengembangkan agen AI yang dapat melakukan tugas-tugas kompleks secara mandiri, yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan proporsi lalu lintas bot di internet.

    Implikasi bagi Bisnis dan Pengguna

    Bagi pemilik bisnis online, perubahan ini menghadirkan tantangan baru. Mereka harus memikirkan ulang strategi monetisasi dan pengalaman pengguna di tengah meningkatnya lalu lintas non-manusia. Situs web yang dulunya dioptimalkan untuk pengunjung manusia kini harus mempertimbangkan bagaimana melayani AI agen yang mengonsumsi konten dengan cara berbeda.

    Dari sisi pengguna biasa, pengalaman berselancar di internet juga berubah. Konten yang dihasilkan oleh AI semakin memenuhi halaman hasil pencarian, sementara interaksi otentik antarmanusia semakin sulit ditemukan. Fenomena ini memicu pertanyaan tentang masa depan internet sebagai ruang publik yang hidup dan dinamis.

    Meskipun data menunjukkan dominasi bot yang mengkhawatirkan, para analis menekankan bahwa belum semua aspek dari teori internet mati terbukti. Bagian konspiratif dari teori tersebut — yang menyatakan bahwa bot digunakan untuk mengendalikan umat manusia — masih belum didukung bukti yang kuat. Namun, inti dari teori itu, bahwa bot kini lebih banyak daripada manusia di internet, telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

    Kontroversi seputar penggunaan AI juga terus berlanjut di berbagai sektor. Seperti yang terlihat dalam Iklan Meta Pakai Lagu David Bowie, penggunaan teknologi AI dalam konten komersial kerap menuai kritik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI semakin dominan, preferensi dan sentimen manusia tetap menjadi faktor penting.

    Yang jelas, lanskap internet telah berubah secara fundamental. Dengan 57 persen lalu lintas web kini berasal dari bot, pertanyaannya bukan lagi apakah teori internet mati akan menjadi kenyataan, melainkan bagaimana manusia akan beradaptasi dengan realitas baru di mana mereka menjadi minoritas di dunia maya.

    Bagi para pelaku industri teknologi, seperti yang dibahas dalam Team Vitality Hadapi True Rippers, adaptasi terhadap perubahan ini menjadi kunci untuk tetap relevan. Sementara itu, bagi pengguna biasa, kesadaran akan dominasi bot ini penting agar dapat menavigasi internet dengan lebih bijak.

    Data dari berbagai sumber, termasuk Cloudflare, HUMAN, dan Graphite, secara konsisten menunjukkan tren peningkatan aktivitas bot. Dengan tingkat pertumbuhan yang mencapai ribuan persen per tahun untuk AI agen, masa depan internet tampaknya akan semakin didominasi oleh mesin. Pertanyaan terbesarnya adalah: bagaimana manusia akan mempertahankan ruang mereka di dunia digital yang semakin otomatis ini?

  • Veo Luncurkan Rover, Skuter Roda Tiga untuk Aksesibilitas

    Veo Luncurkan Rover, Skuter Roda Tiga untuk Aksesibilitas

    JBNews.id — Veo, perusahaan micromobility asal Amerika Serikat, resmi meluncurkan Rover, kendaraan listrik roda tiga yang dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas bagi pengguna di perkotaan. Kendaraan ini diperkenalkan dalam sebuah acara di Denver, Colorado, pada Selasa waktu setempat, dan saat ini hanya tersedia di kota tersebut. Rover merupakan bagian dari strategi Veo untuk menyediakan opsi transportasi yang lebih inklusif.

    Rover adalah kendaraan listrik beroda tiga dengan posisi duduk, yang dapat digunakan oleh siapa saja di jalan raya. Lebar kendaraan ini hanya 2,5 kaki, sehingga secara hukum dapat melaju di jalur sepeda yang biasanya memiliki lebar tiga kaki. Kecepatan maksimum Rover dibatasi hingga 10 mil per jam, lebih rendah dari batas umum 15 mil per jam yang diterapkan kota untuk skuter dan sepeda sewaan. Veo memilih kecepatan yang lebih rendah demi keselamatan pengguna.

    Kendaraan ini menggunakan baterai yang sama dengan produk listrik Veo lainnya, dengan jangkauan sekitar 45 mil per pengisian daya. Di bagian belakang, Rover dilengkapi keranjang kargo yang dapat menampung beban hingga 100 pon, cocok untuk membawa belanjaan atau barang bawaan lainnya. Sistem penyewaannya mirip dengan sepeda atau skuter listrik bersama: pengguna mendaftar melalui aplikasi Veo, membayar biaya untuk membuka kunci, lalu dapat langsung mengendarainya.

    Fokus pada Aksesibilitas dan Desain Inklusif

    Peluncuran Rover merupakan langkah Veo untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang membutuhkan kendaraan yang lebih stabil dan mudah digunakan. Kendaraan roda tiga cenderung lebih seimbang dan tidak mudah jatuh dibandingkan sepeda atau skuter roda dua. Hal ini menjadikannya pilihan ideal bagi lansia, penyandang disabilitas, atau siapa pun yang merasa kurang percaya diri menggunakan kendaraan roda dua.

    Veo bekerja sama dengan berbagai organisasi advokasi disabilitas, termasuk Disability Mobility Initiative, Parkinson’s Foundation, dan Capitol Hill Village, serta AARP, untuk merancang Rover agar sesuai dengan kebutuhan pengguna yang lebih tua. Alexander Keating, wakil presiden kebijakan dan kemitraan Veo, mengatakan kepada WIRED bahwa ada ekspektasi dari kota-kota yang mengizinkan program mereka untuk menyediakan opsi yang dapat diakses.

    “Ekspektasinya adalah bahwa penyedia bus atau transportasi umum lokal Anda akan menawarkan opsi yang dapat diakses bagi mereka yang menggunakan kursi roda atau tidak dapat menggunakan produk tertentu,” ujar Keating. “Ada juga ekspektasi bagi kami, dari kota-kota yang mengizinkan program kami, untuk melakukan segala yang mereka bisa agar program tersebut dapat diakses.”

    Desain roda tiga Rover membuatnya dapat berdiri sendiri tanpa perlu penyangga, sehingga pengguna tidak perlu repot menegakkan kendaraan atau menggunakan kickstand. “Tujuan kami adalah memastikan tidak ada pengendara yang harus diperlakukan berbeda atau melalui lebih banyak hambatan untuk masuk ke dalam sistem,” tambah Keating.

    Teknologi Cerdas dan Fitur Keamanan

    Seperti kendaraan Veo lainnya, Rover dilengkapi dengan asisten suara bertenaga AI yang dapat berkomunikasi dengan pengendara selama perjalanan. Asisten ini memberikan petunjuk arah, informasi lokasi, dan pembaruan lalu lintas secara real-time. Perangkat lunak ini juga memiliki fitur deteksi trotoar menggunakan teknologi lidar yang bertujuan mencegah pengendara melaju di trotoar yang tidak diperbolehkan.

    Meskipun Veo telah mengambil alih layanan micromobility di Denver, warga setempat mencatat bahwa masalah pengendara di trotoar belum sepenuhnya hilang. Perangkat lunak Rover juga mengumpulkan data geolokasi dan detail perjalanan dari pengguna. Keating mengatakan data ini dianonimkan, tetapi digunakan perusahaan untuk memahami jenis perjalanan yang dilakukan pengguna sebagai persiapan ekspansi ke pasar lain.

    Veo adalah pemain yang lebih kecil di industri micromobility, beroperasi di sekitar 60 kota kecil di AS. Pada bulan Mei, kota Denver menandatangani kontrak eksklusif dengan Veo untuk menggantikan skuter dan sepeda listrik dari pesaing seperti Lime dan Bird. Kini sebagai satu-satunya penyedia sepeda dan skuter bersama di Denver, Veo ingin menggunakan kota tersebut untuk memamerkan produk terbaru mereka.

    Implikasi dan Masa Depan Rover

    Sepeda listrik sedang menjadi tren, dan perusahaan seperti Lectric telah memproduksi sepeda roda tiga listrik. Sepeda roda tiga lebih mudah diakses oleh pengendara lanjut usia, tetapi juga bisa lebih berat dan lebih sulit dikendalikan. Veo ingin menguji coba faktor-faktor ini di Denver untuk melihat apakah lebih banyak orang akan tertarik mencoba Rover.

    Keating mengaku terkejut dengan respons orang-orang yang telah melihat Rover. “Kami ingin orang-orang menganggapnya keren; itulah yang membuat mereka menggunakannya,” kata Keating. “Anda mungkin berpikir, sepeda roda tiga itu untuk anak-anak atau untuk seseorang yang lebih tua. Saya pikir ini mungkin untuk semua orang. Kita akan lihat.”

    Keberhasilan Rover di Denver akan menjadi indikator penting bagi Veo untuk memperluas kendaraan ini ke kota-kota lain di AS. Dengan fokus pada aksesibilitas dan desain inklusif, Veo berupaya mengisi celah pasar yang selama ini kurang terlayani oleh layanan micromobility konvensional. Bagi pengguna di Indonesia, inovasi semacam ini bisa menjadi referensi bagi pengembangan transportasi umum yang lebih ramah bagi semua kalangan. Sementara itu, perkembangan teknologi lain seperti Suara Microwave Bebas Bising juga menunjukkan bagaimana inovasi dapat meningkatkan kenyamanan sehari-hari.

    Dengan hadirnya Rover, Veo tidak hanya menawarkan alternatif transportasi, tetapi juga mendorong inklusivitas dalam mobilitas perkotaan. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana kota-kota besar mulai mewajibkan penyedia layanan berbagi kendaraan untuk menyediakan opsi yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Bagi pembaca yang tertarik dengan inovasi teknologi, Ford Integrasikan Apple Maps juga menunjukkan bagaimana integrasi teknologi semakin memudahkan pengguna.

    Kontroversi juga kerap mewarnai dunia teknologi, seperti Iklan Meta Pakai Lagu David Bowie yang baru-baru ini menuai perhatian. Namun, Veo memilih fokus pada solusi praktis untuk masalah transportasi perkotaan. Dengan data yang terkumpul dari penggunaan Rover di Denver, Veo berharap dapat menyempurnakan produk ini sebelum memperkenalkannya ke lebih banyak kota.

  • Meta di Ambang Krisis: Belanja AI Rp2.000 Triliun Gagal Saingi OpenAI

    Meta di Ambang Krisis: Belanja AI Rp2.000 Triliun Gagal Saingi OpenAI

    JBNews.id — Meta Platforms tengah menghadapi tekanan finansial terberat dalam sejarah perusahaannya. Belanja modal (capex) untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membengkak hingga ratusan miliar dolar AS belum mampu menyaingi dominasi OpenAI dan Anthropic, membuat saham perusahaan terpuruk dan kepercayaan investor goyah.

    Kekhawatiran ini memuncak menjelang rilis laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026. Analis memperkirakan Meta akan kembali menaikkan panduan belanja modalnya, langkah yang berpotensi menjatuhkan harga saham yang sudah “mati” selama lebih dari setahun. Kondisi ini menjadi ujian terbesar bagi CEO Mark Zuckerberg dalam mempertahankan arah strategis perusahaannya.

    Investasi Raksasa Tanpa Hasil Sebanding

    Meta telah menggelontorkan dana lebih dari USD100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun) untuk pengembangan AI. Namun, produk-produk AI Meta masih tertinggal jauh di belakang pesaingnya. Situasi ini diperparah oleh fakta memalukan bahwa karyawan Meta sendiri lebih memilih menggunakan model AI buatan kompetitor dalam pekerjaan sehari-hari mereka.

    Kegagalan Meta di ranah AI bukan hanya soal teknologi. Upaya Zuckerberg membangun dunia virtual reality (metaverse) di era pandemi yang menuai kegagalan juga membebani keuangan perusahaan. Kini,Meta seperti “mal terbengkalai” dibandingkan dengan masa kejayaannya di pertengahan 2000-an ketika Facebook masih menjadi produk yang dicintai publik.

    Kebijakan konten yang tidak jelas dan banjir konten AI berkualitas rendah di platform media sosial Meta semakin memperburuk citra perusahaan. Investor mulai mempertanyakan apakah Zuckerberg hanya memburu tren AI tanpa arah yang jelas.

    Dalam konteks persaingan AI global, perkembangan AI China Kimi-K3 yang mampu mengalahkan model AI AS di benchmark coding menjadi pengingat bahwa persaingan tidak hanya terjadi di dalam negeri AS, tetapi juga melibatkan pemain global yang agresif.

    Beban Capex dan Reaksi Wall Street

    Belanja modal Meta yang terus meningkat membuat investor khawatir. Deutsche Bank mencatat bahwa sebelum Alphabet mengejutkan pasar dengan menaikkan panduan belanja modal di atas USD200 miliar, hanya sedikit yang memperkirakan Meta akan melakukan hal serupa. Namun, kini banyak investor justru khawatir Meta akan mengikuti jejak Alphabet.

    “Sebelum Alphabet baru-baru ini menaikkan panduan capex FY26, kami pikir ekspektasi terbatas bagi Meta untuk meningkatkan panduan 2026 saat ini sebesar USD125-145 miliar,” tulis analis Deutsche Bank Benjamin Black dalam catatannya. “Namun, sekarang, kemungkinan investor khawatir akan adanya kenaikan panduan FY26.”

    Rencana Meta untuk mengumpulkan dana tambahan dalam jumlah “ratusan miliar dolar” untuk mendukung pembangunan pusat data AI kian membebani neraca keuangan perusahaan. Biaya konstruksi yang melonjak akibat permintaan tinggi dan suku bunga yang stabil membuat penggalangan dana menjadi tantangan yang lebih berat.

    Di tengah tekanan ini, Meta juga mengembangkan produk baru untuk mendiversifikasi pendapatan. Salah satu inisiatif terbaru adalah aplikasi prediksi Arena yang meniru platform Polymarket, menunjukkan upaya Meta mencari sumber pendapatan alternatif di luar iklan.

    Pengakuan Pahit di Depan Karyawan

    Zuckerberg secara terbuka mengakui kesalahan strategis perusahaannya di depan para karyawan. Dalam sebuah town hall awal bulan ini, ia mengakui bahwa “trajektori pengembangan agen AI setidaknya selama empat bulan terakhir tidak berakselerasi sesuai harapan kami.”

    Pengakuan ini datang di tengah moral karyawan yang sangat rendah. Meta telah melakukan PHK massal terhadap ribuan pekerja, yang menurut Zuckerberg sendiri tidak berjalan dengan “bersih.” Ia juga mengakui bahwa taruhan pada restrukturisasi “belum membuahkan hasil.”

    Lebih buruk lagi, Meta terpaksa membatalkan rencana kontroversial untuk merekam semua aktivitas pekerja di komputer mereka guna mengumpulkan data AI setelah terjadi kebocoran informasi sensitif karyawan. Langkah ini menunjukkan betapa kacaunya manajemen internal perusahaan.

    Kekhawatiran Gelembung AI Kembali Meneror Investor

    Kondisi Meta mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di industri teknologi. Kekhawatiran akan gelembung AI kembali menggerogoti kepercayaan pemegang saham. Pertanyaan besarnya adalah apakah Zuckerberg mengejar industri AI yang akan segera runtuh, atau justru berada di ambang revolusi industri bertenaga AI.

    Biaya operasional yang terus membengkak tanpa hasil yang jelas membuat banyak pihak meragukan keberlanjutan strategi Meta. Sementara itu, pesaing seperti OpenAI dan Anthropic terus melesat dengan inovasi yang lebih cepat dan efisien.

    Fenomena ini juga terjadi di ranah prediksi pasar. Sebuah studi mengungkap aktivitas warga AS di Polymarket mencapai Rp400 triliun, menunjukkan bahwa platform prediksi alternatif semakin diminati publik, sementara Meta justru kesulitan mengikuti tren ini.

    Bagi investor dan pengamat industri, kuartal kedua 2026 akan menjadi momentum penentu. Jika Meta kembali menaikkan panduan belanja modal tanpa diimbangi hasil yang konkret, sahamnya berpotensi anjlok lebih dalam. Sebaliknya, jika Meta mampu menunjukkan efisiensi dan kemajuan berarti di bidang AI, kepercayaan pasar mungkin bisa pulih.

    Namun, dengan pengakuan Zuckerberg sendiri bahwa arah pengembangan AI tidak sesuai harapan, prospek jangka pendek Meta tampak suram. Perusahaan yang dulu menjadi primadona Silicon Valley kini harus berjuang keras untuk bertahan di era AI yang digerakkan oleh pesaing-pesaingnya sendiri.