Category: Tekno

  • Hacker Retas 20.225 Akun Instagram via Chatbot AI Meta

    Hacker Retas 20.225 Akun Instagram via Chatbot AI Meta

    JBNews.id — Sebanyak 20.225 akun Instagram berhasil dibajak oleh peretas yang mengeksploitasi celah pada chatbot dukungan berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Meta. Perusahaan mengonfirmasi insiden ini dalam pemberitahuan yang diajukan ke negara bagian Maine, Amerika Serikat, dan pertama kali diungkap oleh Bleeping Computer.

    Dalam pemberitahuan tersebut, Meta menyalahkan adanya bug pada sistem yang memungkinkan penyerang membajak akun tanpa memerlukan autentikasi dua faktor (2FA). Celah ini bekerja dengan cara memanfaatkan fitur password reset yang seharusnya aman.

    “Alat itu sendiri bekerja dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya; namun karena bug pada jalur kode terpisah, sistem tidak memverifikasi dengan benar bahwa alamat email yang diberikan oleh individu yang meminta reset kata sandi cocok dengan alamat email yang terkait dengan akun Instagram pengguna tersebut,” demikian pernyataan resmi Meta dalam dokumen yang dikutip JBNews.id.

    Akibatnya, ketika seseorang memberikan alamat email yang tidak terkait sebelumnya dengan akun, sistem secara keliru mengirimkan tautan reset kata sandi ke email yang tidak terkait tersebut, alih-alih menolak permintaan. Hal ini memungkinkan pihak ketiga yang tidak sah untuk menerima tautan reset kata sandi untuk akun yang bukan milik mereka.

    Kronologi Serangan dan Dampak ke Akun Publik Figur

    Meta mengungkapkan bahwa serangan pertama kali terdeteksi pada 31 Mei 2026. Kepala Komunikasi Meta, Andy Stone, menyatakan bahwa perusahaan telah “menyelesaikan” insiden tersebut pada 1 Juni 2026. Dalam rentang waktu singkat itu, sejumlah akun Instagram profil tinggi terkena dampak, termasuk akun Gedung Putih lama milik mantan Presiden Barack Obama, Kepala Sersan Mayor Angkatan Luar Angkasa AS John F. Bentivegna, dan merek ritel Sephora.

    Pembajakan akun selebritas dan institusi ini menunjukkan betapa seriusnya celah keamanan tersebut. Meskipun akun-akun besar menjadi sorotan, data menunjukkan bahwa mayoritas korban adalah pengguna biasa yang tidak mengaktifkan fitur keamanan tambahan.

    Dalam pemberitahuan yang sama, Meta menambahkan bahwa pihaknya “tidak mengetahui” apakah ada data pribadi yang diakses sebagai akibat dari eksploitasi ini. Namun, perusahaan mencatat bahwa pembajak akun bisa saja memperoleh alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, unggahan media sosial, pesan langsung, informasi profil, aktivitas akun, dan akun yang terhubung.

    30 Korban di Maine dan Batas Atas Angka

    Pemberitahuan tersebut menyebutkan bahwa 30 dari pengguna yang terkena dampak tinggal di Maine. Angka ini merujuk pada “pengguna yang kata sandinya diatur ulang melalui alat dukungan, tidak mengaktifkan 2FA di akun mereka, dan akun Instagram mereka kemungkinan diakses oleh pihak yang tidak sah.”

    Meskipun demikian, Meta menyatakan bahwa angka 20.225 adalah “batas atas” (upper bound), karena beberapa akun ini mungkin telah diakses secara sah. Perusahaan menekankan bahwa tidak semua akun yang tercatat pasti diretas, tetapi merupakan jumlah maksimum potensial yang perlu diwaspadai.

    Angka ini memberikan gambaran tentang skala ancaman yang dihadapi oleh pengguna Instagram di seluruh dunia, terutama mereka yang mengandalkan keamanan dasar tanpa lapisan perlindungan tambahan.

    Respons Meta: Nonaktifkan Alat AI dan Perbaiki Kode

    Meta mengambil langkah cepat setelah menemukan bug tersebut. Perusahaan menonaktifkan alat dukungan AI yang menjadi pintu masuk eksploitasi dan menghapus jalur kode yang bermasalah. Selain itu, Meta membatalkan semua tautan reset kata sandi yang dihasilkan menggunakan celah tersebut.

    Langkah mitigasi paling penting adalah Meta mendaftarkan semua akun yang berpotensi terkena dampak “ke dalam pos pemeriksaan keamanan wajib yang memerlukan autentikasi sebelum akses akun apa pun.” Ini berarti pengguna yang akunnya dicurigai harus melalui proses verifikasi tambahan sebelum bisa masuk kembali.

    Langkah ini menunjukkan bahwa Meta menganggap serius insiden ini, terutama karena melibatkan chatbot AI yang seharusnya mempermudah layanan pelanggan, bukan menjadi celah keamanan.

    Implikasi untuk Pengguna: Pentingnya 2FA

    Data dari pemberitahuan Meta menunjukkan bahwa semua akun yang berhasil dibajak tidak memiliki autentikasi dua faktor (2FA) yang aktif. Ini menjadi pengingat keras bagi pengguna media sosial tentang pentingnya mengaktifkan lapisan keamanan tambahan.

    Meskipun bug pada sistem Meta menjadi penyebab utama, tidak adanya 2FA membuat akun-akun tersebut rentan terhadap eksploitasi. Dengan 2FA aktif, bahkan jika peretas berhasil mendapatkan tautan reset kata sandi, mereka tetap memerlukan kode verifikasi yang dikirim ke perangkat tepercaya pengguna.

    Bagi pengguna biasa di Indonesia, insiden ini menunjukkan bahwa keamanan akun media sosial tidak boleh dianggap remeh. Mengaktifkan fitur keamanan seperti 2FA, menggunakan kata sandi yang kuat dan unik, serta waspada terhadap tautan mencurigakan adalah langkah-langkah dasar yang bisa melindungi akun dari upaya peretasan serupa.

    Kisah ini juga menyoroti risiko yang melekat pada penggunaan kecerdasan buatan dalam layanan pelanggan. Ketika sistem AI tidak dirancang dengan pengamanan yang ketat, celah kecil dalam kode bisa berdampak besar pada jutaan pengguna.

    Meta sendiri belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai apakah akan ada kompensasi atau langkah hukum bagi para korban. Namun, perusahaan menegaskan bahwa insiden ini telah diatasi dan sistem telah diperkuat untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

    Bagi pengguna yang khawatir akunnya terkena dampak, disarankan untuk segera mengganti kata sandi, mengaktifkan 2FA, dan memeriksa aktivitas login terbaru di pengaturan akun Instagram. Keamanan digital adalah tanggung jawab bersama antara penyedia layanan dan pengguna.

  • Ciri Platform Risiko Tinggi untuk Anak, Orang Tua Wajib Tahu

    Ciri Platform Risiko Tinggi untuk Anak, Orang Tua Wajib Tahu

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan sejumlah ciri platform digital berisiko tinggi yang tidak boleh diakses anak di bawah 16 tahun. Risiko tersebut mencakup kontak dengan orang tak dikenal hingga potensi penanaman nilai radikalisme. Pernyataan ini disampaikan dalam acara peluncuran buku saku AKSI DIGITAL, Senin (8/6/2026).

    Meutya menjelaskan bahwa Peraturan Pemerintah TUNAS menjadi dasar regulasi yang mengelompokkan risiko platform digital. Orang tua diminta mewaspadai beberapa indikator utama yang menandakan sebuah platform masuk kategori high risk. “K yang pertama adalah Kontak. Platform yang memiliki fitur seperti ini kita anggap juga salah satu indikator menjadi platform yang high risk karena memberikan atau memberi akses anak berkontak dengan orang tak dikenal,” terang Meutya.

    Fitur kontak langsung dengan pengguna lain menjadi pintu masuk berbagai kejahatan siber. Meutya mencontohkan kasus child grooming yang marak terjadi. Bahkan, laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut adanya perekrutan radikalisasi di sebuah game online. “Berawal dari fitur yang membuat anak bisa berkomunikasi atau berkontak dengan orang tak dikenal,” sambungnya.

    Indikator kedua adalah Konten. Platform masuk kategori high risk jika menampilkan konten tidak pantas untuk anak-anak. Konten tersebut bisa berupa pornografi, kekerasan, atau materi lain yang tidak layak disaksikan oleh anak di bawah umur. Meutya menekankan bahwa orang tua harus aktif memantau jenis konten yang dikonsumsi anak.

    Kecanduan dan Dampak Kesehatan

    Indikator ketiga yang tak kalah penting adalah kecanduan atau adiksi. Meutya menyoroti fenomena scroll time yang sangat cepat pada platform digital. “Kontennya mungkin tidak masalah, mungkin tidak ada kontak, tapi dengan scroll time yang sangat cepat, anak-anak menjadi kecanduan atau adiksi. Ini juga sama bahayanya dengan ‘K’ yang lain,” tegasnya.

    Ditambah lagi, Kementerian Kesehatan menyampaikan kepada Komdigi bahwa ada ‘K’ lain yang menjadi perhatian, yaitu kesehatan. Anak-anak yang terpapar adiksi menghabiskan waktu berjam-jam di depan gawai. Kondisi ini cenderung memicu masalah kesehatan fisik, tidak hanya kesehatan mental. “Mulai nyeri mata, punggungnya, dan lain-lain,” ujar Meutya mencontohkan laporan dari Menteri Kesehatan.

    Meutya mengajak orang tua untuk mempelajari lebih lanjut dampak kesehatan langsung akibat adiksi internet. “Ibu-ibu juga bisa pelajari bahwa banyak sekali dampak-dampak kesehatan langsung akibat anak-anak yang memang terpapar adiksi dari internet,” tegasnya.

    Kategori Usia dan Akses Platform

    Komdigi membagi platform digital menjadi dua tahapan berdasarkan usia pengguna. Anak berusia 13 tahun sudah bisa mengakses platform low risk. Sementara yang menyentuh usia 16 tahun, diizinkan untuk mengakses platform high risk. Pendekatan ini berbeda dengan negara lain yang menerapkan batasan usia seragam.

    Penetapan kategori usia ini didasarkan pada pendapat banyak ahli tumbuh kembang anak. Para ahli membagi fase pertumbuhan anak di usia 13 dan 16 tahun sebagai titik kritis perkembangan. Meutya menegaskan bahwa regulasi ini bertujuan melindungi anak dari dampak negatif platform digital tanpa menghambat akses informasi yang sehat.

    Orang tua diharapkan lebih aktif mendampingi anak dalam menggunakan platform digital. Pemahaman tentang ciri platform berisiko tinggi menjadi kunci utama. Dengan mengetahui indikator kontak, konten, adiksi, dan kesehatan, orang tua dapat mengambil langkah preventif yang tepat. Langkah ini penting untuk memastikan anak tetap aman saat beraktivitas di dunia digital.

    Implikasinya, orang tua perlu melakukan pengawasan lebih ketat terhadap aplikasi yang digunakan anak. Platform dengan fitur obrolan langsung, konten tidak tersaring, dan mekanisme adiktif harus dihindari. Regulasi ini memberikan kerangka hukum yang jelas bagi orang tua untuk melindungi anak dari bahaya siber.

    Komdigi juga mengingatkan bahwa tanggung jawab perlindungan anak tidak hanya pada regulator. Orang tua sebagai garda terdepan harus proaktif dalam mengawasi aktivitas digital anak. Edukasi tentang keamanan digital sejak dini menjadi investasi jangka panjang untuk keselamatan anak di era digital.

    Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa masalah kesehatan fisik akibat adiksi gawai semakin meningkat. Nyeri mata, gangguan punggung, dan masalah postur tubuh menjadi keluhan umum pada anak yang kecanduan gawai. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial langsung.

    Meutya berharap buku saku AKSI DIGITAL dapat menjadi panduan bagi orang tua dalam memahami risiko platform digital. Buku tersebut memuat informasi lengkap tentang ciri-ciri platform berbahaya dan cara melindungi anak. Orang tua dapat mengakses panduan ini untuk memperkuat literasi digital keluarga.

    Regulasi pembatasan usia akses platform digital ini merupakan langkah maju dalam perlindungan anak Indonesia. Dengan pendekatan berbasis risiko dan usia, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan aman di era digital tanpa kehilangan manfaat positif teknologi.

  • Xbox Kembali ke Eksklusif, Strategi Hibrida Makin Membingungkan

    Xbox Kembali ke Eksklusif, Strategi Hibrida Makin Membingungkan

    JBNews.id — Microsoft secara resmi mengumumkan bahwa Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution menjadi game eksklusif Xbox, membatalkan rencana rilis di PS5. Keputusan ini menandai perubahan haluan setelah dua tahun kebijakan multiplatform, namun strategi hibrida yang diambil justru menimbulkan kebingungan baru di kalangan penggemar dan industri.

    Pengumuman tersebut disampaikan dalam ajang Xbox Games Showcase, Minggu (7/6/2026). Kedua game dipastikan tidak akan dirilis di konsol rival, termasuk PS5 dan Nintendo Switch 2. Menurut sumber internal Xbox, keputusan untuk tidak membawa Gears of War: E-Day ke PS5 diambil baru-baru ini, setelah sebagian besar proses porting ke konsol Sony telah selesai dilakukan.

    “Kami ingin orang-orang punya alasan untuk membeli Xbox, menjadi penggemar Xbox,” ujar Matt Booty, chief content officer Xbox, dalam wawancara dengan Gamertag Radio. “Kami tahu eksklusivitas itu penting. Itu sebabnya Gears hadir di 2026 dan Clockwork di 2027.”

    Kebijakan ini merupakan kebalikan dari langkah Microsoft pada 2024, ketika perusahaan pertama kali membawa empat game eksklusif — Hi-Fi Rush, Pentiment, Sea of Thieves, dan Grounded — ke PS5 dan Nintendo Switch. Saat itu, Microsoft enggan menyebutkan judul-judul tersebut secara gamblang, menimbulkan spekulasi di kalangan penggemar. Dua tahun kemudian, Starfield dan Indiana Jones juga akhirnya hadir di PS5, menambah ketidakpastian.

    Kini, dengan CEO Xbox baru, Asha Sharma, yang menjabat sejak Februari 2026, Microsoft mencoba menyeimbangkan tekanan dari penggemar setia yang menginginkan eksklusivitas dengan kebutuhan bisnis untuk memperluas audiens. “Mandat saya bukan margin profitabilitas 30 persen, melainkan menjadi perusahaan gaming dan hiburan nomor satu,” kata Sharma dalam wawancara dengan Bloomberg pekan lalu.

    Strategi Kasus-per-Kasus yang Tidak Jelas

    Microsoft menyatakan bahwa game yang sudah diumumkan untuk rilis multiplatform akan tetap sesuai rencana. Hal ini menjelaskan mengapa Fable, yang sudah diumumkan untuk PS5 awal tahun ini, masih akan hadir di konsol Sony. Namun, keputusan untuk Gears of War: E-Day berbeda karena Microsoft belum pernah mengumumkan platform untuk game tersebut sebelumnya.

    Booty menjelaskan prinsip baru perusahaan: “Saat kami mengumumkan tanggal rilis, kami akan mengumumkan platformnya. Ini akan bersifat kasus-per-kasus.” Namun, prinsip ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. State of Decay 3, misalnya, akan dirilis di PS5 meskipun seri sebelumnya hanya tersedia di Xbox dan PC. Game open-world survival dengan co-op ini mungkin masuk kategori “live-service games” yang menurut Booty akan menjadi multiplatform.

    Situasi semakin rumit karena tiga dari empat franchise besar Xbox — yang disebut “four horsemen” — kini akan hadir di PS5. Halo: Campaign Evolved, Forza Horizon 6, dan Fable akan meluncur di PS5, sementara Gears of War: E-Day menjadi satu-satunya yang eksklusif. Tidak jelas apakah E-Day cukup kuat untuk mendorong penjualan konsol Xbox.

    Tekanan Finansial di Balik Keputusan

    Kebijakan eksklusivitas yang berubah-ubah ini tidak lepas dari tekanan finansial. CEO Microsoft Satya Nadella dan CFO Amy Hood menetapkan target margin profitabilitas 30 persen untuk divisi Xbox pada musim gugur 2023. Target ini mendorong Xbox mencari pendapatan dari platform rival secara agresif.

    Sharma kini memiliki sedikit ruang gerak untuk melakukan perubahan. “Kami adalah penerbit nomor dua di dunia. Untuk menjadi penerbit besar, game harus menjangkau audiens luas,” ujar Sharma. “Di saat bersamaan, kami semakin menjadi platform. Untuk menjadi platform, kami harus memiliki konten dan layanan eksklusif.”

    Ketegangan antara peran sebagai penerbit besar dan pemilik platform ini menjadi inti permasalahan. Sony juga mengalami dilema serupa dengan mulai merilis game PlayStation di PC. Namun, Microsoft telah mendorong strategi multiplatform jauh lebih keras, menciptakan ekspektasi yang sulit dikelola.

    Game-game baru yang diumumkan di Xbox Games Showcase seperti Senua (dari semesta Hellblade) dan Spyro: A Real Beyond akan hadir di PS5 dan Switch 2. Keputusan ini menunjukkan bahwa Microsoft masih belum sepenuhnya berkomitmen pada eksklusivitas penuh.

    Masa Depan yang Samar

    Dengan pendekatan kasus-per-kasus yang diakui sendiri oleh Microsoft, penggemar dan analis industri masih harus berspekulasi tentang game mana yang akan menjadi eksklusif dan mana yang akan dirilis lintas platform. “Saya tidak terkejut Microsoft berada dalam posisi rumit ini, karena sudah berlangsung lebih dari dua tahun,” tulis analis industri dalam laporan terkait.

    Ketidakjelasan ini tampaknya menjadi bagian dari strategi Microsoft. Perusahaan akan terus menguji berbagai pendekatan dalam mengejar tujuan “kembalinya Xbox” yang masih samar. Sementara itu, penggemar harus terus menebak-nebak game Xbox mana yang akan muncul di konsol lain berikutnya.

    Bagi pemilik Xbox, kabar baiknya adalah Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution tetap menjadi alasan kuat untuk memiliki konsol Xbox. Namun, dengan tiga game besar lain yang justru merambah PS5, pertanyaan besarnya adalah: seberapa kuat komitmen Microsoft terhadap eksklusivitas?

  • XLSmart Luncurkan ESTA Prime untuk Digitalisasi Korporasi

    XLSmart Luncurkan ESTA Prime untuk Digitalisasi Korporasi

    JBNews.id — PT XLSmart Telecom Sehat (XLSmart) resmi meluncurkan ESTA Prime, platform solusi digital terbaru yang dirancang untuk mempercepat transformasi digital di sektor korporasi dan pemerintahan. Langkah ini menandai perluasan peran perusahaan dari penyedia layanan telekomunikasi menjadi mitra transformasi digital yang menyediakan ekosistem teknologi terintegrasi.

    Peluncuran ESTA Prime diumumkan langsung oleh Direktur & Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, di Jakarta pada Senin (8/6/2026). Platform ini merupakan pengembangan dari Enterprise Smart Technology & Automation (ESTA) yang telah diperkenalkan pada tahun sebelumnya. Melalui ESTA Prime, XLSmart menawarkan solusi yang mencakup kecerdasan artifisial (AI), data platform, cloud, keamanan siber, Industrial Internet of Things (IoT), data visualization, hingga konektivitas dan layanan pengelolaan teknologi atau managed services.

    “Esta Prime merupakan evolusi dari visi kami untuk menghadirkan platform enterprise yang tidak hanya menghubungkan teknologi, tetapi juga menghubungkan data, operasional, dan pengambilan keputusan dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” ujar Andrijanto dalam keterangan resminya.

    Menurut Andrijanto, kebutuhan pelanggan korporasi saat ini tidak lagi terbatas pada konektivitas semata. Perusahaan membutuhkan solusi yang mampu menghubungkan data, operasional, dan proses pengambilan keputusan secara terpadu. ESTA Prime menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan dua pilar utama, yaitu Technology Platform dan Advanced Managed Services.

    Pilar Technology Platform mencakup layanan cloud, AI dan machine learning, data platform, cybersecurity, Industrial IoT, serta konektivitas. Sementara pilar Advanced Managed Services menyediakan layanan monitoring, automasi, hingga dukungan teknis untuk operasional teknologi pelanggan. Kombinasi ini menjadi salah satu pembeda utama ESTA Prime dibandingkan layanan digital lainnya di pasar.

    Salah satu fitur unggulan yang diperkenalkan dalam pengembangan terbaru ESTA Prime adalah penguatan kapabilitas AI dan pengelolaan data. Beberapa fitur baru yang dihadirkan meliputi AI-ready architecture, data platform yang lebih terintegrasi, GPU Cluster untuk mendukung pengembangan AI dan machine learning, serta IoT SD-WAN dan Experience Operation Center (XoC).

    Platform ini ditujukan untuk berbagai sektor industri, mulai dari pemerintahan, layanan publik, perbankan, transportasi, manufaktur, pendidikan, hingga sektor sumber daya alam. Dengan jangkauan yang luas, XLSmart berharap dapat membantu organisasi dari berbagai latar belakang untuk mempercepat digitalisasi sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis.

    Peluncuran ESTA Prime menjadi bagian dari strategi XLSmart memperbesar bisnis enterprise di tengah meningkatnya kebutuhan transformasi digital di Indonesia. Perusahaan melihat peluang besar di segmen korporasi yang membutuhkan solusi end-to-end untuk mengelola teknologi secara lebih efektif.

    Andrijanto menegaskan bahwa ESTA Prime bukan sekadar platform teknologi, melainkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi bisnis pelanggan. “Pelanggan tidak hanya memperoleh akses ke teknologi digital, tetapi juga dukungan untuk memastikan sistem berjalan optimal dan memberikan hasil yang nyata bagi bisnis,” ungkapnya.

    Dengan menggabungkan konektivitas, AI, data, dan layanan operasional dalam satu platform, XLSmart optimistis ESTA Prime dapat menjadi solusi pilihan bagi perusahaan yang ingin bertransformasi secara digital. Langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana perusahaan-perusahaan besar semakin mengadopsi teknologi AI dan cloud untuk meningkatkan produktivitas.

    XLSmart sebelumnya telah aktif mendorong adopsi AI di kalangan pengusaha melalui berbagai inisiatif. Pada kesempatan terpisah, perusahaan juga telah mengajak ribuan pengusaha untuk memanfaatkan teknologi AI dalam operasional bisnis mereka. Langkah ini menunjukkan komitmen XLSmart dalam mendukung transformasi digital di Indonesia.

    Selain itu, industri telekomunikasi di Indonesia juga tengah menghadapi berbagai tantangan regulasi. Salah satunya adalah kebijakan registrasi SIM Card yang mewajibkan perekaman data wajah mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini berdampak pada operasional operator telekomunikasi termasuk XLSmart.

    Dengan peluncuran ESTA Prime, XLSmart menunjukkan keseriusannya dalam merambah bisnis enterprise yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Perusahaan berharap platform ini dapat menjadi katalis bagi digitalisasi di berbagai sektor industri di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menjadi fokus utama bisnis perusahaan.

    Ke depannya, XLSmart berencana terus mengembangkan kapabilitas ESTA Prime dengan menambahkan fitur-fitur baru yang relevan dengan kebutuhan pasar. Perusahaan juga akan memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan layanan platform ini.

  • WWDC 2026: Keynote Terakhir Tim Cook, iOS 27 & Siri Baru

    WWDC 2026: Keynote Terakhir Tim Cook, iOS 27 & Siri Baru

    JBNews.id — Apple akan menggelar Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 pada Senin (8/6/2026) pukul 10.00 waktu Cupertino, California, AS atau Selasa dini hari pukul 00.00 WIB. Keynote ini menjadi penampilan terakhir Tim Cook sebagai CEO Apple di panggung WWDC, bersamaan dengan peluncuran iOS 27 dan transformasi besar Siri.

    Cook akan mundur dari kursi CEO pada 1 September 2026 dan posisinya digantikan oleh John Ternus. Karena itu, sorotan dunia teknologi tidak hanya tertuju pada fitur-fitur baru, tetapi juga pada momen bersejarah pergantian kepemimpinan yang telah berlangsung selama hampir 15 tahun. Di sisi lain, Apple menghadapi tekanan besar untuk membuktikan keseriusannya di bidang kecerdasan buatan (AI), setelah Apple Intelligence dinilai belum mampu menyaingi laju inovasi OpenAI, Google, maupun Anthropic.

    Transformasi Siri Jadi Taruhan Besar Apple

    Fitur yang paling dinantikan dalam keynote WWDC 2026 adalah transformasi besar Siri. Selama beberapa tahun terakhir, Siri sering dianggap tertinggal dibanding ChatGPT, Gemini, hingga Claude. Kini Apple dikabarkan sedang membangun ulang Siri menjadi asisten AI yang jauh lebih pintar dan mampu melakukan percakapan alami.

    Menurut berbagai laporan yang beredar, Siri generasi baru akan memiliki pemahaman konteks yang lebih baik, kemampuan memahami apa yang sedang tampil di layar, hingga akses ke berbagai data pribadi pengguna seperti email, kalender, catatan, dan foto. Artinya, pengguna tidak lagi sekadar memberi perintah sederhana seperti mengatur alarm atau mengirim pesan. Siri nantinya diproyeksikan mampu menjalankan tugas kompleks dalam beberapa langkah sekaligus.

    Rumor lainnya menyebut Apple akan menghadirkan pengalaman chatbot khusus Siri dengan riwayat percakapan, dukungan lampiran gambar dan dokumen, serta integrasi yang lebih dalam dengan sistem operasi. Bahkan beredar kabar Apple akan memanfaatkan model AI Gemini milik Google untuk membantu menghadirkan kemampuan AI generatif yang lebih kompetitif. Jika bocoran tersebut benar, WWDC 2026 bisa menjadi titik balik penting bagi Apple dalam perlombaan AI.

    iOS 27: Fokus pada Performa dan Stabilitas

    Selain Siri, perhatian juga tertuju pada iOS 27. Berbeda dari pembaruan besar yang biasanya membawa perubahan desain drastis, iOS 27 disebut sebagai “Snow Leopard moment” bagi Apple, yakni update yang berfokus pada peningkatan performa, kestabilan sistem, dan efisiensi baterai.

    Meski demikian, bukan berarti tidak ada fitur baru. Banyak analis percaya iOS 27 akan menjadi fondasi bagi perangkat lipat pertama Apple yang dirumorkan meluncur pada akhir 2026. Karena itu, sejumlah fitur multitasking baru seperti Parallel View dan peningkatan split-screen diperkirakan akan diperkenalkan. Apple juga disebut sedang menyempurnakan berbagai aplikasi inti seperti Photos, Camera, Safari, dan Wallet dengan sentuhan AI yang lebih dalam.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang inovasi teknologi global, Anda dapat membaca artikel tentang Satelit Generasi Baru Starlink.

    Akhir Era Intel di Mac

    Pembaruan besar juga diprediksi hadir untuk macOS 27. Salah satu rumor yang paling ramai dibicarakan adalah penghentian penuh dukungan untuk komputer Mac berbasis prosesor Intel. Jika benar, maka WWDC 2026 akan menandai berakhirnya transisi Apple menuju era Apple Silicon yang dimulai sejak 2020.

    Selain macOS, Apple diperkirakan akan memperkenalkan pembaruan untuk iPadOS 27, watchOS 27, tvOS 27, dan visionOS 27 dengan fokus yang sama, yakni integrasi AI yang lebih luas di seluruh ekosistem.

    Kemungkinan Kejutan Hardware

    WWDC secara tradisional merupakan ajang software sehingga peluang hadirnya perangkat keras baru relatif kecil. Meski begitu, sejumlah analis masih membuka kemungkinan Apple memperkenalkan pembaruan ringan seperti Apple TV generasi baru, HomePod dengan kemampuan AI yang lebih canggih, atau Mac mini berbasis chip M5.

    Sementara itu, perangkat yang lebih besar seperti iPhone lipat diperkirakan baru akan diperkenalkan pada acara peluncuran iPhone bulan September mendatang. Sementara itu, perkembangan di industri lain juga menarik untuk disimak, seperti Peluncuran Satelit Spacesail oleh China.

    Link Streaming WWDC 2026

    Keynote WWDC 2026 akan berlangsung pada malam ini, Selasa, 9 Juni 2026 pukul 00.00 WIB. Kita bisa menontonnya di link berikut: Situs resmi Apple, Apple TV, dan YouTube Apple.

    Tak lama setelah keynote berakhir, Apple biasanya langsung merilis versi beta untuk developer sehingga fitur-fitur baru dapat segera diuji. Apapun yang diumumkan malam ini, WWDC 2026 akan menjadi salah satu keynote Apple paling penting dalam beberapa tahun terakhir.

    Di satu sisi, Apple harus membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing di era AI. Di sisi lain, dunia juga akan menyaksikan penampilan terakhir Tim Cook sebagai CEO Apple di panggung WWDC. Akankah Cook menutup eranya dengan kejutan besar? Jawabannya akan terungkap dalam hitungan jam.

    Bagi penggemar game, jangan lewatkan informasi tentang Server EDDGA Ragnarok yang baru saja diluncurkan.

  • Meta Rahasiakan Fitur Pengenalan Wajah di Kacamata Pintar

    Meta Rahasiakan Fitur Pengenalan Wajah di Kacamata Pintar

    JBNews.id — Meta diam-diam menyematkan teknologi pengenalan wajah ke dalam kacamata pintar Ray-Ban buatannya, dan para petinggi perusahaan justru murka setelah kode tersebut ditemukan oleh jurnalis. Kode yang dijuluki “NameTag” itu ditemukan dalam aplikasi Meta AI oleh tim Wired dan dilaporkan pada pekan lalu. Fitur yang belum dirilis ini mampu mengubah wajah yang ditangkap kamera kacamata menjadi tanda tangan biometrik unik, lalu mencocokkannya dengan data di ponsel pengguna.

    Laporan Wired menegaskan bahwa NameTag belum diaktifkan dan belum bisa diakses oleh konsumen. Namun, keberadaan infrastruktur untuk fitur kontroversial ini memicu kekhawatiran baru di tengah meningkatnya adopsi kacamata pintar Meta. Jika sebuah perusahaan telah membangun sistem untuk meluncurkan fitur yang sangat sensitif, konsumen berhak mengetahuinya—meskipun fitur tersebut saat ini belum bisa digunakan.

    Reaksi para eksekutif Meta justru mengejutkan. Mereka menuduh Wired melakukan pelaporan yang “tidak jujur” dan “menyesatkan.” Wakil Presiden Komunikasi Meta, Andy Stone, menyatakan di media sosial bahwa Wired baru mengungkapkan di paragraf keempat bahwa fitur itu “belum diaktifkan,” dan baru di paragraf ke-16 bahwa fitur itu bersifat eksploratif. “Ini lebih dari sekadar jurnalisme buruk, ini tidak jujur secara intelektual,” kata Stone. “Clickbait murni yang didorong advokasi.”

    Chief Technology Officer Meta, Andrew “Boz” Bosworth, juga angkat bicara. “Sangat menyesatkan dari Wired, sayangnya kami semakin sering mengharapkan hal seperti ini dari mereka,” tulis Bosworth. “Benar-benar tidak jujur.”

    Bukan Pertama Kali NameTag Jadi Sorotan

    Ini bukan pertama kalinya NameTag muncul ke permukaan. Pada Februari lalu, New York Times melaporkan memo internal Meta yang membahas rencana pemasangan NameTag di kacamata pintar. Dalam memo tersebut, Meta mencatat bahwa fitur yang sarat etika ini sebaiknya diluncurkan “selama lingkungan politik yang dinamis di mana banyak kelompok masyarakat sipil yang kami perkirakan akan menyerang kami akan memfokuskan sumber daya mereka pada kekhawatiran lain.”

    Dorongan publik setelah laporan NYT sangat cepat. Pada April, 75 organisasi menandatangani surat ACLU yang ditujukan kepada CEO Meta Mark Zuckerberg, menyebut NameTag sebagai “garis merah yang tidak boleh dilintasi masyarakat.” Gelombang protes ini menunjukkan betapa sensitifnya isu pengenalan wajah di ruang publik.

    Ini bukan pertama kalinya Meta bermasalah dengan data biometrik. Pada 2025, raksasa teknologi itu membayar $1,4 miliar untuk menyelesaikan gugatan dengan Texas terkait penanganan data biometrik. Sebelumnya pada 2021, setelah menyelesaikan gugatan class action lain, Meta mematikan fitur Facebook yang menggunakan pengenalan wajah untuk menandai orang di foto secara otomatis.

    Infrastruktur yang Hampir Siap

    Meskipun NameTag belum dirilis, para ahli khawatir infrastrukturnya sudah hampir siap. Cooper Quintin, teknolog dari Electronic Frontier Foundation Threat Lab, meninjau kode NameTag yang tersembunyi dan menyatakan, “Fitur ini belum terbuka untuk konsumen tetapi tampaknya hampir siap untuk digunakan.” Quintin menambahkan, “Meskipun ada miliaran alasan untuk tidak melakukannya, Meta tampaknya telah menciptakan kapasitas untuk mengubah pelanggan mereka menjadi mesin pengawasan terdistribusi.”

    Kekhawatiran ini diperkuat oleh laporan sebelumnya bahwa pekerja Meta mengaku melihat hal-hal yang mengganggu melalui kacamata pintar pengguna. Kombinasi antara perangkat yang selalu aktif, kamera tersembunyi, dan potensi pengenalan wajah menciptakan risiko privasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Dalam tanggapan resminya kepada Wired, Meta menyebut temuan itu “sensasional” dan mengkarakterisasi NameTag sebagai eksploratif. “Kami telah mengatakan sebelumnya bahwa kami sedang mengeksplorasi fitur semacam ini, dan apa yang Anda lihat hanyalah bukti dari eksplorasi itu,” kata perusahaan itu. “Tidak ada yang dikirimkan ke konsumen dan belum ada keputusan akhir tentang apa yang akan dilakukan. Jika kami memutuskan untuk merilis sesuatu, kami akan mengambil pendekatan yang bijaksana dan melakukannya dengan transparansi penuh. Satu keputusan yang bisa kami tegaskan—kami tidak membangun database wajah terpusat.”

    Namun, pernyataan itu tidak sepenuhnya meyakinkan. Keberadaan kode NameTag di aplikasi Meta AI, yang sudah diinstal di jutaan perangkat, menunjukkan bahwa Meta telah melewati tahap eksplorasi awal. Para pengamat menilai bahwa langkah ini mirip dengan pola Meta sebelumnya: membangun infrastruktur terlebih dahulu, lalu menghadapi kontroversi setelahnya.

    Implikasinya sangat luas. Jika NameTag benar-benar dirilis, kacamata pintar Meta bisa menjadi alat pengawasan massal yang dibawa oleh konsumen sendiri. Setiap wajah yang terekam bisa langsung diidentifikasi, tanpa sepengetahuan atau izin orang yang direkam. Ini bukan sekadar masalah privasi individual, tetapi ancaman terhadap kebebasan sipil secara keseluruhan.

    Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan siber dan privasi pada 2026, langkah Meta ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar masih bergulat dengan batasan etika. Sementara Meta mengklaim tidak akan membangun database wajah terpusat, sistem NameTag justru mengandalkan database di ponsel pengguna—yang bisa diperbarui dari Meta—menciptakan jaringan pengawasan yang terdesentralisasi namun tetap terkendali.

    Bagi konsumen, temuan ini menjadi pengingat bahwa perangkat pintar yang mereka kenakan setiap hari mungkin memiliki kemampuan yang tidak mereka ketahui. Dengan investasi besar Meta dalam infrastruktur AI, termasuk pusat data bertenda, perusahaan ini jelas serius mengembangkan kemampuan pengenalan visual. Pertanyaannya sekarang: sejauh mana konsumen bersedia menerima fitur semacam ini demi kenyamanan teknologi?

    Sepasang kacamata pintar Meta Ray-Ban dengan latar belakang warna-warni

  • Apple Geber Produksi MacBook Neo, Harga Berpotensi Naik

    Apple Geber Produksi MacBook Neo, Harga Berpotensi Naik

    JBNews.id — Apple melipatgandakan target produksi MacBook Neo dari 5 juta menjadi 10 juta unit pada 2026 setelah ledakan permintaan pasar. Langkah agresif ini diambil di tengah ancaman krisis komponen global yang berpotensi mendorong kenaikan harga laptop entry-level seharga USD 600 (sekitar Rp 9,7 jutaan) tersebut.

    Kehadiran MacBook Neo seharga USD 600 ternyata sukses besar memicu ledakan permintaan di pasar. Saking larisnya, Apple dilaporkan sampai melipatgandakan target produksi laptop ‘murah’ tersebut di tengah ancaman krisis komponen global.

    Laporan dari analis kenamaan Ming-Chi Kuo mengungkap bahwa Apple telah merevisi target pengiriman internal MacBook Neo untuk tahun ini, dari 5 juta unit melesat menjadi 10 juta unit. Menurut data terbaru dari IDC, laptop entry-level ini berhasil terjual sekitar 1,1 juta unit hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu pada kuartal lalu. Angka ini secara mengejutkan berhasil menyalip penjualan saudaranya yang lebih premium, yakni MacBook Air dan MacBook Pro.

    Daya tarik laptop Apple di bawah harga Rp 10 jutaan tampaknya terlalu menggoda. Konsumen bahkan rela memaklumi spesifikasi “seadanya” dari MacBook Neo, yang diketahui ‘hanya’ menggunakan chip prosesor daur ulang dari iPhone serta kapasitas RAM bawaan yang cuma 8GB.

    Dihantui Krisis Pasokan dan Ancaman Harga Naik

    Namun, melipatgandakan produksi di situasi industri saat ini bukanlah perkara mudah. Saat pabrikan lain terpaksa menaikkan harga laptop akibat kelangkaan RAM, Apple juga dihadapkan pada masalah serupa. Pasokan memori (DRAM dan NAND) global saat ini tengah tersedot habis-habisan untuk kebutuhan pusat data AI.

    Masalah lain muncul dari dapur pacu itu sendiri. Prosesor iPhone daur ulang yang menjadi rahasia di balik harga murah MacBook Neo mungkin akan segera habis karena penjualannya melampaui prediksi awal. Di sisi lain, kapasitas produksi pabrik chip TSMC untuk fabrikasi 3-nanometer saat ini sudah penuh sesak.

    Imbasnya, Apple mungkin akan kesulitan mempertahankan harga miring USD 599 untuk produk cetakan baru, atau bahkan harus mencari cara lain agar margin keuntungannya tidak merugi. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi strategi Apple dalam menguasai pasar laptop kelas entry-level.

    Kesuksesan MacBook Neo ini juga menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana Apple terus berinovasi, termasuk belajar dari ketertinggalan AI untuk meningkatkan daya saing produknya.

    Serangan Balik Windows

    Kesuksesan gila-gilaan MacBook Neo ini rupanya membuat para produsen laptop Windows panik. Mereka kini bersiap meluncurkan serangan balik untuk merebut kembali pasar laptop kelas budget. Mengandalkan jajaran prosesor Intel Wildcat Lake terbaru, pabrikan raksasa seperti Asus, HP, dan Dell mulai membanjiri pasar dengan laptop seharga di bawah USD 600.

    Dell bahkan langsung menantang Apple secara head-to-head dengan menghidupkan kembali lini XPS 13 versi murah. Lucunya, layaknya MacBook Neo, Dell XPS 13 versi murah ini juga hanya dibekali RAM 8GB. Padahal, mayoritas pakar teknologi sangat merekomendasikan RAM minimal 16GB agar sistem operasi Windows 11 bisa berjalan mulus.

    Dalam laporan yang sama, Kuo juga sempat menyinggung soal tren AI lokal melalui peluncuran chip Nvidia RTX Spark. Namun, Kuo mencatat bahwa meski industri gencar mempromosikan pemrosesan AI langsung di perangkat (on-device), faktanya mayoritas pengguna saat ini masih lebih suka menggunakan AI berbasis cloud, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (8/6/2026).

    Bagi konsumen yang menantikan inovasi terbaru dari Apple, Apple Siapkan Kejutan Besar di WWDC 2026 yang bisa menjadi momentum penting bagi pengumuman produk-produk anyar.

    Implikasi dari strategi produksi masif ini sangat jelas: Apple harus menyeimbangkan antara memenuhi permintaan yang melonjak dan menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya komponen. Jika harga MacBook Neo naik, daya tarik utamanya sebagai laptop Apple termurah akan berkurang. Sebaliknya, jika Apple mempertahankan harga, margin keuntungan bisa tergerus.

    Bagi konsumen Indonesia yang menanti kehadiran MacBook Neo, situasi ini menjadi pertanda bahwa harga bisa berubah sewaktu-waktu. Keputusan Apple dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah laptop ini tetap menjadi pilihan paling terjangkau di ekosistem Apple atau justru kehilangan posisinya akibat tekanan biaya produksi.

  • BSSN: Keamanan Siber Wajib dalam RUU Satu Data Indonesia

    BSSN: Keamanan Siber Wajib dalam RUU Satu Data Indonesia

    JBNews.id — Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan bahwa aspek keamanan siber harus menjadi persyaratan wajib dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Satu Data Indonesia (SDI). Pernyataan ini disampaikan dalam rapat bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR RI di Jakarta, Senin (Juni 2026). Menurutnya, data telah menjadi infrastruktur vital negara sehingga keamanan siber tidak boleh dikesampingkan dalam membangun fondasi pemerintahan digital Indonesia.

    “Aspek keamanan bukan lagi pilihan, tapi merupakan suatu hal yang mandatory melekat pada pengaturan data, aplikasi, dan infrastruktur Satu Data Indonesia,” kata Sulistyo. Pernyataan ini menekankan urgensi integrasi keamanan siber ke dalam regulasi yang saat ini masih bersifat opsional.

    Saat ini, penyelenggaraan integrasi data pemerintahan masih mengacu pada Peraturan Presiden nomor 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Regulasi tersebut hanya berfokus pada tata kelola penyelenggaraan SDI tanpa mengatur secara wajib perimeter keamanannya. Kondisi ini dinilai menjadi celah kritis yang perlu segera diperbaiki melalui RUU SDI.

    Dampak Lemahnya Regulasi Keamanan Siber

    Dalam sesi tanya-jawab, Sulistyo menambahkan bahwa tidak diaturnya secara wajib aspek keamanan dalam penyelenggaraan pemerintahan digital menyebabkan banyak pembuat sistem pemerintah mengesampingkan keamanan siber. Temuan BSSN menunjukkan adanya pengelola sistem milik instansi yang mengutamakan kepraktisan dan justru mematikan perimeter perlindungan berlapis pada sistem digitalnya.

    “Ada temuan instansi yang karena aspek urgensi, aspek kepraktisan akhirnya keamanan (sibernya) tidak difungsikan karena itu dinilai hanya suatu tambahan. Contoh dalam suatu sistem dia mematikan firewall-nya, ini kan dalam perspektif keamanan sudah bunuh diri,” katanya. Temuan ini menunjukkan bahwa tanpa regulasi yang mewajibkan keamanan siber, risiko terhadap data negara sangat tinggi.

    Berkaca dari temuan tersebut, BSSN mendorong agar keamanan siber dijadikan standar wajib dalam RUU Satu Data Indonesia. Langkah ini bertujuan agar ke depannya setiap data yang dikelola mendapatkan pengamanan optimal dan tidak lagi dikesampingkan demi kepraktisan semata.

    Lima Pilar Keamanan Siber untuk Satu Data Indonesia

    Menurut Sulistyo, setiap data yang diamankan dalam mekanisme Satu Data Indonesia setidaknya harus memenuhi lima pilar keamanan siber. Kelima pilar tersebut terdiri dari kerahasiaan, keutuhan, ketersediaan, otentisitas, dan kenirsangkalan. Berikut penjelasan masing-masing pilar:

    • Kerahasiaan: Pengelolaan data harus memastikan data hanya bisa diakses oleh pihak yang berhak. Ini mencegah kebocoran informasi sensitif.
    • Keutuhan: Data yang dikelola harus dijamin tidak dimodifikasi secara ilegal dan tetap akurat. Keutuhan data menjadi kunci kepercayaan publik.
    • Ketersediaan: Pengelola data harus memastikan data dan sistem dapat selalu diakses saat dibutuhkan. Kegagalan akses dapat mengganggu layanan publik.
    • Otentisitas: Data harus dapat dikenali sebagai dikirim oleh pengirim yang sah dan tidak dimanipulasi. Ini memastikan integritas data.
    • Kenirsangkalan: Data yang dikelola harus tidak dapat disangkal oleh pengirimnya. Pilar ini penting untuk akuntabilitas.

    Kelima pilar ini menjadi standar minimum yang harus dipenuhi oleh setiap instansi pengelola data dalam kerangka Satu Data Indonesia. Dengan penerapan standar ini, diharapkan risiko keamanan siber dapat diminimalkan secara signifikan.

    RUU Satu Data Indonesia sendiri tengah dibahas oleh Baleg DPR RI bersama pemerintah. Dalam pembahasan tersebut, BSSN berperan aktif memberikan masukan teknis terkait aspek keamanan siber. Pembahasan ini merupakan bagian dari upaya membangun fondasi pemerintahan digital yang aman dan terpercaya.

    Pentingnya keamanan siber dalam RUU SDI juga sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin kompleks. Tanpa regulasi yang kuat, data pemerintah rentan terhadap serangan siber yang dapat mengganggu stabilitas nasional. BSSN menekankan bahwa keamanan siber bukan sekadar tambahan, melainkan fondasi utama dari tata kelola data digital.

    Dalam konteks yang lebih luas, regulasi keamanan siber yang kuat juga akan mendorong kepercayaan publik terhadap layanan digital pemerintah. Masyarakat dan pelaku bisnis akan lebih percaya untuk bertransaksi dan berinteraksi secara digital jika data mereka dijamin keamanannya.

    Langkah BSSN ini juga menjadi pengingat bagi instansi pemerintah lainnya untuk tidak mengabaikan aspek keamanan siber. Contoh temuan BSSN tentang instansi yang mematikan firewall menunjukkan bahwa kesadaran akan keamanan siber masih perlu ditingkatkan secara masif.

    Dengan diwajibkannya keamanan siber dalam RUU SDI, diharapkan setiap pengelola sistem pemerintah akan memiliki standar keamanan yang jelas dan terukur. Hal ini akan memudahkan pengawasan dan evaluasi terhadap kepatuhan keamanan siber di seluruh instansi pemerintah.

    Ke depan, BSSN akan terus mengawal pembahasan RUU SDI agar aspek keamanan siber tetap menjadi prioritas. Sinergi antara BSSN, Baleg DPR, dan kementerian terkait menjadi kunci keberhasilan implementasi Satu Data Indonesia yang aman dan andal.

    Implikasi dari regulasi ini sangat jelas: setiap data yang dikelola pemerintah harus mendapatkan perlindungan maksimal. Bagi instansi pemerintah, ini berarti investasi pada infrastruktur keamanan siber bukan lagi opsional melainkan kewajiban. Bagi masyarakat, ini berarti data pribadi dan data publik akan lebih terlindungi dari ancaman siber.

    Dalam era digital yang semakin maju, keamanan siber bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan kebutuhan fundamental untuk menjaga kedaulatan data nasional. RUU Satu Data Indonesia menjadi momentum untuk mewujudkan hal tersebut.

  • Telkom Bagikan Dividen Rp 21,9 Triliun Hasil RUPST 2025

    Telkom Bagikan Dividen Rp 21,9 Triliun Hasil RUPST 2025

    JBNews.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar kurang lebih Rp 21,9 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar secara daring pada Senin (8/6/2026). Keputusan ini diambil di tengah tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun lalu, namun fundamental bisnis perusahaan dinilai tetap terjaga.

    Dari total dividen tersebut, sekitar Rp 17,8 triliun berasal dari keseluruhan laba bersih yang diperoleh Perseroan pada tahun 2025. Sementara itu, sisanya sekitar Rp 4,2 triliun merupakan laba ditahan Perseroan dari tahun sebelumnya. Pembayaran dividen akan dilakukan selambat-lambatnya pada 10 Juli 2026.

    Adapun pemegang saham yang berhak menerima dividen adalah mereka yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tanggal 19 Juni 2026.

    Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa dalam memperhitungkan pembayaran dividen, Perseroan mempertimbangkan berbagai aspek, utamanya keseimbangan antara pengembalian kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang.

    “Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, Perseroan telah berhasil membuktikan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas juga kian menguat. Sehingga, keputusan pemegang saham atas persetujuan dividen hari ini mencerminkan kepercayaan terhadap transformasi dan arah pertumbuhan yang kami bangun,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).

    Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Telkom Bagikan Dividen Rp 21,9 Triliun

    Buyback Saham Rp 4 Triliun dan Perubahan Pengurus

    Selain pembagian dividen, RUPST tersebut juga menyetujui rencana program pembelian kembali saham (buyback) Perseroan dengan nilai sebesar-besarnya Rp 4 triliun. Buyback dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap atau sekaligus, dan diselesaikan dalam periode dua belas bulan setelah disetujui pada RUPST, yakni sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.

    Aksi korporasi ini dijalankan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga saham Perseroan di tengah dinamika pasar. Langkah ini sejalan dengan transformasi yang dijalankan perusahaan untuk memperkuat struktur bisnis.

    RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus Dewan Komisaris guna memperkuat fondasi kepemimpinan Telkom dalam mengawal agenda transformasi serta menghadapi dinamika industri digital. Susunan Dewan Komisaris hasil RUPST meliputi Komisaris Utama Angga Raka Prabowo, Komisaris Independen Deswandhy Agusman, Anthony Leong, Ira Noviarti, Rofikoh Rokhim, serta Komisaris Rizal Mallarangeng, Edwin Hidayat Abdullah, dan Ossy Dermawan.

    Di jajaran Direksi, posisi Direktur Utama tetap dipegang Dian Siswarini, didampingi oleh Veranita Yosephine (Direktur Enterprise & Business Service), Willy Saelan (Direktur Human Capital Management), Arthur Angelo Syailendra (Direktur Keuangan & Manajemen Risiko), Nanang Hendarno (Direktur Network), Seno Soemadji (Direktur Strategic Business Development & Portfolio), Budi Satria Dharma Purba (Direktur Wholesale & International Service), Faizal R Djoemadi (Direktur IT Digital), dan Andy Kelana (Direktur Legal & Compliance).

    Kinerja Keuangan dan Transformasi TLKM 30

    Sepanjang tahun 2025 hingga periode kuartal pertama 2026, Telkom menunjukkan progres eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara signifikan dengan fokus pada empat pilar utama. Dari sisi Operational & Service Excellence, perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi melalui program TOTEX, perbaikan arus kas operasional, serta implementasi program Pensiun Dini dan Governance Reset.

    Upaya Perseroan dalam merealisasikan transformasi menghasilkan pencapaian kinerja sepanjang tahun 2025 yang antara lain ditunjukkan dengan pencapaian pendapatan sebesar Rp 146,74 triliun, pencapaian EBITDA sebesar Rp 72,24 triliun, dan pencapaian net income sebesar Rp 17,81 triliun.

    Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset, Perseroan melakukan percepatan depresiasi yang berdampak pada kontraksi net income. Namun demikian, dampak tersebut bersifat non-cash sehingga secara operasional fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas tetap kuat.

    Pada aspek Streamlining, Telkom melakukan penyederhanaan portofolio bisnis, termasuk divestasi non core dan fokus kembali ke bisnis inti telekomunikasi dan digital. Sebanyak enam entitas telah dirampingkan, dengan transaksi divestasi AdMedika Group berhasil diselesaikan pada 2 Juni 2026.

    Di sisi Unlocking Value, Telkom telah memulai monetisasi aset infrastruktur melalui spin-off aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia dengan target penyelesaian pada kuartal ketiga serta membuka kembali inisiatif kemitraan strategis bisnis data center.

    Sementara itu, dalam Modus-operandi shift, Telkom mulai bertransisi ke model HoldCo-OpCo dengan pelaporan berbasis segmen untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja. Transformasi ini menjadi fondasi untuk memperkuat struktur bisnis dan menyiapkan pertumbuhan yang lebih berkualitas ke depan.

    “Keputusan-keputusan yang diambil dalam RUPST ini mencerminkan komitmen Telkom untuk terus meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai tambah. Tahun ini, kami melakukan percepatan dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur, serta memastikan setiap langkah yang diambil mampu berkontribusi dalam membangun ekosistem digital nasional yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing global,” pungkas Dian.

    Keputusan RUPST ini memberikan sinyal positif bagi investor dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan dividen jumbo serta buyback saham yang signifikan, Telkom menunjukkan komitmennya dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Ke depan, keberhasilan transformasi TLKM 30 akan menjadi kunci bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan industri digital yang semakin ketat, sejalan dengan tren penggunaan teknologi yang semakin masif.

  • IPO SpaceX: Valuasi Rp 28.000 T, Untung Mustahil?

    IPO SpaceX: Valuasi Rp 28.000 T, Untung Mustahil?

    JBNews.id — SpaceX milik Elon Musk dijadwalkan melantai di bursa saham pekan ini dengan valuasi mencapai US$1,75 triliun atau sekitar Rp 28.000 triliun. Namun, berdasarkan data dalam dokumen S1 yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan justru membukukan kerugian fantastis sebesar US$4,9 miliar pada tahun lalu, sementara pendapatannya hanya US$18,7 miliar. Angka ini memicu keraguan besar di kalangan analis tentang kemampuan perusahaan untuk membenarkan valuasi setinggi itu.

    Menurut laporan Fortune, untuk menjadi saham yang layak beli dengan imbal hasil nyata bagi investor, SpaceX harus mencapai target pendapatan US$1,1 triliun — hampir 60 kali lipat dari pendapatan tahun 2025. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dari rekor pendapatan tahunan tertinggi yang pernah dicatat oleh perusahaan mana pun, yaitu Amazon yang mengantongi US$742 miliar dalam empat kuartal terakhir.

    David Trainer, pakar keuangan perusahaan dan veteran Wall Street, menyebutkan bahwa SpaceX perlu meningkatkan penjualan sebesar 50 persen setiap tahun selama satu dekade. Tidak ada perusahaan dalam sejarah yang bahkan mendekati tingkat pertumbuhan tersebut. Pada 2035, perusahaan ini harus menjadi sebesar satu industri utuh yang terdiri dari puluhan anggota Fortune 500, lebih besar 50 persen dari sektor utilitas atau industri hiburan.

    Singkatnya, SpaceX harus melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar mempercepat pertumbuhan bisnis utamanya, Starlink. Tantangan semakin berat karena startup AI milik Musk, xAI, dan jejaring sosial X yang sedang terpuruk, baru-baru ini digabungkan ke dalam perusahaan roket tersebut. Langkah ini membebani SpaceX dengan utang tambahan miliaran dolar, belum lagi pengeluaran operasional dan drama yang terus berlanjut.

    Ilustrasi foto yang menampilkan foto Elon Musk dengan latar belakang grafik saham SpaceX yang menanjak.

    Pakar matematika dan analis keuangan telah lama memperingatkan bahaya dari klaim berlebihan di era AI dan teknologi. Dalam konteks IPO SpaceX, kekhawatiran ini semakin relevan. Pakar Matematika Peringatkan Bahaya bahwa valuasi yang tidak realistis dapat menjebak investor ritel. Sebelumnya, 150 Ahli Matematika Peringatkan Pemerintah tentang risiko klaim AI yang berlebihan di pasar modal.

    Tidak ada yang tahu bagaimana debut NASDAQ akan berlangsung akhir pekan ini. Masih mungkin investor akan menolak proposisi ambisius Musk, yang mengakibatkan perusahaan runtuh karena bebannya sendiri. Banyak yang justru memilih bertaruh pada kehancuran SpaceX dengan melakukan short selling sahamnya.

    Namun, jika melihat hubungan Musk dengan investor ritel selama ini, masih ada cukup itikad baik untuk menopang taruhan besarnya pada pusat data AI orbital — setidaknya untuk saat ini. Di tengah siklus hype AI yang sedang berlangsung dan krisis minyak yang semakin parah, pasar saham telah lama meninggalkan kepura-puraan terikat pada fundamental bisnis. Pasar berubah menjadi surga bagi mereka yang bersedia berspekulasi pada masa depan yang jauh.

    Dengan kata lain, investor ritel mungkin tidak percaya pada kemampuan SpaceX untuk meningkatkan pendapatan secara astronomis setiap tahun. Tapi mereka bersedia memanfaatkan hype itu sendiri, dengan keyakinan bisa keluar sebelum tagihan jatuh tempo. Fenomena ini mirip dengan bagaimana Meta AI Hasilkan Artikel Clickbait yang menarik perhatian pengguna tanpa substansi yang jelas.

    Implikasinya bagi investor ritel jelas: IPO SpaceX menawarkan potensi keuntungan besar, tetapi risikonya juga luar biasa. Tanpa fundamental bisnis yang kuat, valuasi Rp 28.000 triliun ini bisa menjadi gelembung spekulatif yang siap meledak. Pertanyaan besarnya: siapa yang akan terjebak ketika hype mereda?