Category: Tekno

  • Uni Eropa Paksa Google Buka Akses Android dan Search untuk Pesaing

    Uni Eropa Paksa Google Buka Akses Android dan Search untuk Pesaing

    JBNews.id — Uni Eropa memerintahkan Google untuk memberikan akses yang lebih luas kepada pesaing terhadap sistem operasi Android dan data mesin pencari Google Search. Keputusan ini diambil berdasarkan aturan antimonopoli digital blok tersebut, yang bertujuan menciptakan persaingan yang lebih adil di pasar teknologi.

    Dua Keputusan Besar yang Mengubah Lanskap Teknologi

    Dua keputusan yang diumumkan pada Kamis ini berpotensi melemahkan kendali Google atas dua platform paling penting di industri teknologi. Konsekuensinya akan sangat luas bagi perusahaan, membentuk masa depan alat AI Gemini milik Google, dan membuka peluang baru bagi para pesaing untuk merebut pangsa pasar.

    Google memiliki tenggat waktu hingga Januari 2027 untuk mulai berbagi data pencarian dan Juli 2027 untuk menerapkan perubahan pada Android. Keputusan ini berasal dari proses regulasi teknis berdasarkan Undang-Undang Pasar Digital (DMA) Uni Eropa. DMA mewajibkan platform dominan yang ditetapkan sebagai “gatekeeper” untuk memberikan akses yang sebanding kepada pesaing terhadap sistem dan data seperti yang mereka nikmati sendiri.

    Berbeda dengan sanksi finansial, prosedur ini mengharuskan Google mengubah cara beroperasi agar sesuai dengan DMA. Proses ini dikembangkan melalui keterlibatan ekstensif antara perusahaan dan regulator. Jika Google tidak mematuhi, Komisi Eropa dapat menjatuhkan denda hingga 10 persen dari total omset tahunan global perusahaan, yang berpotensi mencapai puluhan miliar dolar.

    Dampak pada Android: Pesaing AI Bisa Masuk Lebih Dalam

    Keputusan pertama berfokus pada Android. Google kini harus memberikan fitur sistem dan akses data yang sama kepada asisten AI pesaing seperti yang diberikan kepada Gemini. Secara praktis, ini membutuhkan interoperabilitas yang lebih besar, memungkinkan pengguna — bukan Google — untuk memutuskan apakah alat pesaing dapat mengakses data dan perangkat keras ponsel mereka.

    Ini termasuk kemampuan untuk berinteraksi dengan aplikasi, merespons perintah suara seperti “Hey Google,” dan memanfaatkan perangkat keras ponsel secara lebih penuh. Artinya, pengguna Android pada akhirnya dapat memilih ChatGPT, Claude, Perplexity, atau asisten lain sebagai asisten sistem yang terintegrasi penuh, bukan Gemini, dengan akses yang sebanding ke kemampuan perangkat.

    Perubahan ini membuka peluang besar bagi pengembang aplikasi dan layanan AI. Mereka kini dapat bersaing secara lebih setara dengan Google dalam menyediakan asisten virtual yang terintegrasi dengan sistem operasi Android.

    Data Google Search Harus Dibuka untuk Pesaing

    Proses kedua berfokus pada Google Search dan data yang dihasilkannya. Keputusan ini mengatur bagaimana mesin pencari pesaing dan layanan AI dapat mengakses informasi yang secara historis disimpan oleh Google. Yang perlu dicatat, UE mengatakan ini termasuk chatbot AI, yang dalam beberapa kasus secara efektif berfungsi sebagai mesin pencari.

    Langkah berbagi data ini secara luas mencerminkan tindakan yang diperintahkan dalam kasus antimonopoli pencarian AS, di mana Google diperintahkan untuk berbagi informasi pencarian yang berharga dengan pesaing. Ini dapat membantu meningkatkan kemampuan mereka untuk bersaing secara efektif.

    Meskipun demikian, Google telah mendorong kembali kedua langkah ini. Perusahaan berpendapat bahwa persyaratan tersebut menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima terhadap privasi dan keamanan pengguna, serta dapat mengompromikan produk-produk mereka. UE mengatakan akan ada batasan tentang bagaimana data pencarian dapat digunakan dan Google akan dapat memeriksa layanan mana yang mendapatkan akses lebih dalam ke Android untuk memastikan keamanan tidak terganggu.

    Implikasi untuk Masa Depan AI dan Pasar Digital

    Keputusan hari ini juga dapat memberikan indikasi tentang bagaimana Brussel akan menangani pertanyaan serupa yang melibatkan raksasa teknologi lainnya. Ini termasuk Apple, yang menolak merilis Siri AI di Eropa, secara eksplisit menyalahkan DMA dan berargumen bahwa persyaratan interoperabilitasnya mengompromikan keselamatan pengguna.

    “Dengan langkah-langkah hari ini, kami ingin mendukung inovasi dan keragaman di Uni Eropa, memungkinkan persaingan yang adil di pasar asisten AI untuk perangkat Android dan mesin pencari,” kata Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi Henna Virkkunen.

    “Berkat langkah-langkah ini, kami berharap dapat melihat munculnya alternatif untuk Google Search dan layanan AI Google, seperti Gemini, dan bahwa pengguna di UE dapat menikmati pilihan layanan yang lebih besar. Semua pengembang, besar dan kecil, dipersilakan untuk mengeksplorasi peluang baru ini, yang tentunya akan menguntungkan pengguna juga.”

    Sementara itu, dalam sebuah posting blog yang diterbitkan setelah keputusan tersebut, presiden urusan global Google Kent Walker mengatakan: “Keputusan hari ini berisiko merusak perlindungan privasi dan keamanan yang vital bagi jutaan warga Eropa. Kami telah berulang kali menawarkan solusi untuk melindungi pengguna sambil memenuhi tujuan DMA, tetapi keputusan ini mengabaikan bukti luas tentang kerugian pengguna.”

    Bagi pengguna Android di Indonesia, keputusan ini bisa menjadi preseden penting. Meskipun aturan DMA hanya berlaku di Uni Eropa, perubahan yang dilakukan Google secara global sering kali mengikuti regulasi di kawasan tersebut. Pengguna di Indonesia mungkin akan melihat lebih banyak pilihan asisten AI di perangkat Android mereka dalam beberapa tahun ke depan.

    Selain itu, keputusan ini juga relevan dengan perkembangan AI di Indonesia. Google sebelumnya telah mengingatkan siswa tentang AI, menekankan bahwa teknologi ini bukan sekadar jawaban instan. Dengan terbukanya akses data, pengembang lokal di Indonesia juga berpotensi menciptakan inovasi baru yang memanfaatkan data pencarian Google.

    Langkah UE ini menandai babak baru dalam regulasi platform digital global. Fokusnya bukan lagi pada denda, tetapi pada perubahan struktural yang memaksa perusahaan untuk membuka ekosistem mereka. Ini adalah pendekatan yang lebih langsung dan berpotensi lebih efektif dalam menciptakan pasar yang kompetitif.

    Bagi para pelaku industri, ini adalah saat yang tepat untuk mempersiapkan strategi. Perusahaan rintisan dan pengembang aplikasi kini memiliki peluang untuk bersaing dengan raksasa teknologi seperti Google. Mereka dapat memanfaatkan data dan akses sistem yang sebelumnya tidak tersedia untuk mengembangkan layanan yang lebih inovatif dan kompetitif.

    Keputusan ini juga menunjukkan bahwa regulator di seluruh dunia semakin serius dalam menangani kekuasaan perusahaan teknologi besar. Setelah kasus antimonopoli di AS, langkah UE ini memperkuat tren global menuju regulasi yang lebih ketat terhadap platform digital dominan. Ini adalah pengingat bahwa bahkan perusahaan sebesar Google pun harus tunduk pada aturan yang dirancang untuk melindungi persaingan dan kepentingan konsumen.

  • Tagihan AI AS Membengkak, Perusahaan Beralih ke Alternatif China

    Tagihan AI AS Membengkak, Perusahaan Beralih ke Alternatif China

    JBNews.id — Lonjakan biaya langganan kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat mendorong sejumlah korporasi besar dunia untuk beralih ke model AI buatan China yang dinilai lebih murah dan fleksibel. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam peta persaingan industri AI global.

    Perusahaan besar seperti DoorDash, Airbnb, dan Siemens mulai mengadopsi AI asal China, lapor Financial Times. Mereka tertarik tak hanya karena biaya lebih rendah, tapi juga karena pendekatan yang memungkinkan model-model tersebut disesuaikan dengan kebutuhan khusus masing-masing perusahaan.

    Menurut OpenRouter, platform yang menyediakan akses ke berbagai model AI sekaligus melacak penggunaannya, model AI terkemuka China besutan DeepSeek dan Z.ai telah melampaui pesaing dari AS seperti Claude (Anthropic) dan ChatGPT (OpenAI).

    “Model AI China adalah the elephant in the room. Perusahaan-perusahaan mulai menyadari hei, kita tidak butuh model yang paling hebat, kita bisa menggunakan model yang lebih cepat dan lebih murah,” kata Eugene Cheah, CEO platform AI Featherless AI, dikutip dari Futurism.

    Pergeseran Persepsi dan Ledakan Biaya

    Model AI AS sering dianggap tercanggih, namun persepsi itu mulai bergeser. Peluncuran GLM-5.2 dari startup China Z.ai bulan lalu menimbulkan kehebohan. Para tokoh Silicon Valley memujinya sebagai model yang sama atau hampir sama mumpuni dengan sistem AS, meski biayanya jauh lebih murah.

    Kehadiran AI China murah datang di saat tepat. Dunia korporat, tergiur janji perusahaan AI untuk meroketkan produktivitas, menghabiskan setahun terakhir untuk memakai AI. Kini, banyak yang mulai keberatan dengan biayanya.

    Sebuah organisasi dilaporkan menghabiskan hingga USD 500 juta dalam sebulan untuk penggunaan Claude. Meskipun itu pengecualian ekstrem, riset terbaru Ramp AI Index menemukan bahwa bisnis yang paling mengandalkan AI menghabiskan sekitar USD 7.500 per karyawan setiap bulan. Jika perusahaan tak bersedia mengurangi intensitas penggunaan AI, pilihan terbaik adalah mencari model lebih murah.

    Fenomena ini mirip dengan kekhawatiran yang diangkat dalam artikel Google Solusi Token AI yang membahas cara agar perusahaan tidak kaget dengan tagihan AI yang membengkak.

    Strategi Efisiensi dan Fleksibilitas

    Salah satu pendiri DoorDash, Andy Fang, menyatakan perusahaannya menghemat banyak dengan mendelegasikan pekerjaan tingkat rendah ke model buatan startup China, Moonshot AI.

    “Perusahaan terdorong mengalihkan sebagian beban kerja ke model lebih murah. Mengapa harus bayar premium untuk model Anthropic atau OpenAI, sementara untuk banyak beban kerja yang Anda butuhkan, model China umumnya sudah sangat memadai?” ujar Sam Bresnick, peneliti Center for Security and Emerging Technology.

    Biaya bukanlah satu-satunya pertimbangan. Banyak model China bersifat dapat diakses pengguna. Fleksibilitas ini memungkinkan organisasi menyesuaikan model dengan kebutuhan spesifik. Dari sudut pandang keamanan, ini juga memberikan kontrol lebih besar terkait bagaimana model tersebut memproses data sensitif perusahaan.

    Krisis Kepercayaan terhadap Kepemimpinan AS

    Di sisi lain, ada indikasi perusahaan-perusahaan kecewa dengan kepemimpinan AS di sektor AI. Terdapat penurunan kepercayaan terhadap AS sebagai pemegang kendali AI global, terutama setelah pemerintahan Donald Trump menangguhkan akses luar negeri terhadap model Mythos milik Anthropic.

    “Banyak pihak mendapati akses mereka dicabut. Ini mengekspos risiko nyata dari bergantung pada satu entitas tunggal,” kata Aidan Gomez, CEO perusahaan AI Kanada, Cohere.

    Ketidakpastian kebijakan ini juga berdampak pada investasi infrastruktur AI. Seperti yang diulas dalam artikel Protes Data Center AI, gelombang protes terhadap pembangunan pusat data AI telah menghambat proyek senilai Rp2.100 triliun secara global.

    Smartphone menampilkan aplikasi DeepSeek China dan ChatGPT. Pergeseran preferensi perusahaan ke AI China semakin nyata.

    Implikasi bagi Industri dan Pasar Kerja

    Pergeseran ini membawa implikasi luas bagi industri teknologi global. Perusahaan-perusahaan kini memiliki lebih banyak opsi untuk mengelola biaya operasional AI mereka tanpa harus mengorbankan produktivitas.

    Namun, di sisi lain, adopsi AI yang masif juga menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap lapangan kerja. Seperti dilaporkan dalam artikel Janji Palsu Data Center AI, investasi besar di pusat data AI hanya menghasilkan 61 pekerjaan untuk investasi Rp21 triliun, menunjukkan kesenjangan antara janji dan realitas penciptaan lapangan kerja.

    Fenomena ini juga mendorong diskusi tentang kedaulatan teknologi. Di AS, 69% Warga AS Dukung AI Sovereign Fund, yang mengusulkan agar 50% saham perusahaan AI dimiliki publik untuk memastikan manfaatnya dirasakan luas.

    Kesimpulan: Era Baru Persaingan AI

    Fenomena perpindahan perusahaan dari AI AS ke AI China menandai era baru dalam industri kecerdasan buatan. Biaya, fleksibilitas, dan kepercayaan menjadi faktor penentu dalam pemilihan model AI oleh perusahaan global.

    Bagi perusahaan di Indonesia dan Asia Tenggara, tren ini membuka peluang untuk mengadopsi teknologi AI dengan biaya lebih terjangkau. Namun, keputusan untuk beralih harus mempertimbangkan aspek keamanan data, kepatuhan regulasi, dan kebutuhan spesifik bisnis.

  • Malware Frankenstein GigaWiper Hancurkan Data dan Rekam Layar PC

    Malware Frankenstein GigaWiper Hancurkan Data dan Rekam Layar PC

    JBNews.id — Microsoft Threat Intelligence membongkar malware berbahaya bernama GigaWiper yang tak hanya menghancurkan data di hard disk, tetapi juga mampu merekam layar dan mengendalikan PC korban dari jarak jauh. Ancaman siber ini pertama kali terdeteksi pada Oktober 2025 dan disebut sebagai malware ‘Frankenstein’ karena dirakit dari tiga keluarga malware berbeda.

    Malware yang dirancang khusus untuk menghapus data di hard disk hingga tak bersisa sudah sangat berbahaya. Namun, ancaman ini menjadi jauh lebih mematikan ketika kemampuan perusak tersebut dikawinkan dengan fitur backdoor yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Analis keamanan dari Microsoft Threat Intelligence baru-baru ini membongkar keberadaan ancaman baru tersebut yang diberi nama GigaWiper.

    GigaWiper adalah sebuah backdoor destruktif yang dirakit dengan cara menggabungkan beberapa keluarga malware berbeda ke dalam satu paket mematikan. Ditulis menggunakan bahasa pemrograman Go, malware ini secara teknis berfungsi ganda: sebagai mata-mata yang bisa menerima perintah jarak jauh, sekaligus sebagai wiper mematikan yang mampu menghapus file hingga partisi logika dari drive penyimpanan lokal korban.

    Tiga Kemampuan Utama GigaWiper

    GigaWiper dibekali dengan tiga kemampuan utama untuk memusnahkan data. Pertama, modul Wiper Standalone yang akan menimpa data di hard disk pada mode raw, beroperasi langsung di tingkat fisik disk dan bukan sekadar membaca metadata file atau partisi. Kedua, modul Ransomware Palsu yang diturunkan dari keluarga malware Crucio. Modul ini akan mengelabui korban dengan mengenkripsi file layaknya ransomware biasa, namun ia tidak pernah menyimpan kunci dekripsinya di mana pun. Artinya, data yang sudah terkunci mustahil untuk dipulihkan kembali.

    Ketiga, modul FlockWiper Reinkarnasi yang mengadopsi logika dari malware FlockWiper, dirancang khusus untuk menghapus drive sistem operasi Windows secara total menggunakan proses pembersihan berlapis. Kombinasi ketiga modul ini menjadikan GigaWiper ancaman serius bagi pengguna PC, terutama di Indonesia yang tingkat kesadaran keamanan sibernya masih perlu ditingkatkan. Untuk memahami lebih dalam tentang celah keamanan perangkat, penting bagi pengguna untuk selalu waspada.

    Kemampuan Mengintai dan Mengendalikan PC Jarak Jauh

    Penghancuran data barulah sebagian dari kemampuan GigaWiper. Ketika menerima instruksi dari server komando dan kontrol (C2) milik peretas, backdoor ini bisa mengeksekusi 20 perintah jarak jauh yang berbeda. Fungsi pengintaiannya pun sangat mengerikan. GigaWiper bisa mengambil screenshot hingga merekam video. Jika diperintahkan, malware ini bahkan dapat melakukan live streaming dari layar korban langsung ke peretas, lengkap dengan dukungan untuk mengendalikan keyboard dan mouse dari jarak jauh.

    Agar aksinya tidak ketahuan, malware ini mengandalkan streaming berbasis TCP yang disembunyikan dengan cara membuat pengecualian khusus di sistem pertahanan Windows Firewall. Di luar itu, GigaWiper juga mampu mengumpulkan informasi mendalam tentang mesin korban, memanipulasi proses perangkat lunak, menghapus log aktivitas, hingga mengacak-acak sistem registry.

    Malware ‘Frankenstein’ yang Mengkhawatirkan

    Microsoft menyebut GigaWiper ibarat monster Frankenstein yang dirakit dari setidaknya tiga keluarga malware terpisah. Analisis kode menunjukkan kaitan langsung antara backdoor ini dengan Crucio dan FlockWiper melalui alur eksekusi, penamaan fungsi, hingga kecocokan string data. Microsoft juga menemukan komponen ketiga yang mereka sebut sebagai CutBrooch, yang kemungkinan besar menjadi otak dari modul penghapus mandirinya.

    Siapa pun yang mengendalikan server GigaWiper memiliki kontrol penuh atas sistem yang terinfeksi dan bisa memicu perintah penghancuran kapan saja mereka mau. Kemampuan ini membuat GigaWiper menjadi ancaman yang sangat serius, terutama bagi organisasi dan perusahaan yang menyimpan data sensitif. Sebagai langkah mitigasi, Microsoft mendesak pengguna dan organisasi untuk mengaktifkan fitur Tamper Protection di Windows Defender. Selain itu, pengguna sangat disarankan untuk menyalakan proteksi berbasis cloud guna menangkal ancaman siber yang berevolusi sangat cepat sebelum basis data virus di PC lokal sempat diperbarui, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Rabu (15/7/2026).

    Keberadaan GigaWiper menjadi pengingat penting bagi pengguna PC di Indonesia untuk selalu memperbarui sistem keamanan mereka. Ancaman siber seperti ini menunjukkan bahwa peretas terus mengembangkan metode baru yang semakin canggih. Untuk informasi lebih lanjut tentang teknologi keamanan terkini, penting bagi pengguna untuk mengikuti perkembangan berita teknologi secara rutin.

    Dengan kemampuan yang dimiliki GigaWiper, tidak ada data yang aman jika malware ini berhasil menginfeksi sistem. Pengguna harus waspada terhadap file mencurigakan, terutama yang berasal dari sumber tidak dikenal. Langkah pencegahan seperti tidak mengklik tautan sembarangan dan selalu memperbarui perangkat lunak keamanan menjadi kunci utama dalam melindungi data pribadi dan profesional dari ancaman seperti GigaWiper.

    Ancaman siber terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. GigaWiper hanyalah salah satu contoh bagaimana peretas menggabungkan berbagai teknik untuk menciptakan senjata digital yang sangat berbahaya. Pengguna dan organisasi harus terus meningkatkan kesadaran dan kesiapan mereka dalam menghadapi ancaman semacam ini. Untuk memahami lebih lanjut tentang kebijakan keamanan perangkat, penting untuk selalu mengikuti panduan resmi dari vendor.

  • Integrasi 1Password dan Claude untuk Keamanan AI Agent

    Integrasi 1Password dan Claude untuk Keamanan AI Agent

    JBNews.id — 1Password meluncurkan integrasi browser baru untuk Claude yang memungkinkan chatbot buatan Anthropic mengakses kredensial keamanan tersimpan seperti nama pengguna dan kata sandi, tanpa mengekspos informasi sensitif ke model AI tersebut.

    Fitur bernama 1Password for Claude ini memungkinkan pengguna mengotorisasi Claude untuk menyelesaikan tugas multi-langkah seperti memesan tiket perjalanan dan mengelola akun online tanpa harus memasukkan kredensial login secara manual. Yang membedakan, sistem ini dirancang agar data keamanan tetap tidak terlihat oleh model AI Anthropic.

    Menurut pernyataan resmi 1Password, hal tersebut dimungkinkan oleh kerangka kerja keamanan baru yang disebut “zero-exposure security framework”. Kerangka ini bekerja dengan menyuntikkan kredensial yang diperlukan untuk setiap tugas melalui saluran aman yang tidak dapat dilihat oleh agen Claude. Artinya, meskipun AI diberi izin untuk menggunakan data tersimpan, Claude tidak dapat benar-benar melihat kata sandi atau kode MFA satu kali pakai pengguna.

    Cara Kerja dan Mekanisme Keamanan

    Akses Claude diberikan per tugas. 1Password menyatakan pengguna dapat menyetujui atau menolak setiap permintaan dengan sekali prompt biometrik. Meskipun masih ada interupsi alur kerja, langkah ini dinilai jauh lebih praktis dibandingkan harus mengambil alih browser secara manual untuk masuk ke akun-akun yang diperlukan.

    Sebagai langkah pencegahan tambahan, 1Password mengatakan sistemnya memindai halaman setelah setiap pengisian otomatis untuk memastikan tidak ada data dalam formulir yang tetap terekspos sebelum mengembalikan kendali ke Claude.

    “Saat agen AI mengambil kendali browser, 1Password mengunci secara otomatis, membatasi akses hanya ke kredensial yang secara eksplisit diberikan untuk tugas saat ini,” demikian pernyataan 1Password dalam siaran persnya. “Tidak ada hal lain di brankas 1Password yang dapat dijangkau.”

    Pendekatan ini menjawab kekhawatiran utama pengguna AI agent: bagaimana memberikan akses ke data sensitif tanpa membuatnya rentan terhadap penyalahgunaan atau kebocoran. Dengan arsitektur zero-exposure, 1Password menawarkan model keamanan yang lebih ketat dibandingkan metode tradisional di mana AI harus melihat kredensial untuk menggunakannya.

    Ketersediaan dan Dukungan Platform

    1Password for Claude tersedia sekarang untuk pengguna 1Password di Mac, mencakup paket bisnis, keluarga, dan individu. Untuk menggunakan fitur ini, diperlukan aplikasi desktop 1Password dan ekstensi browser, demikian juga aplikasi desktop Claude dan ekstensi browser.

    Pengguna dapat menyimpan berbagai jenis informasi keamanan di brankas 1Password, termasuk kata sandi, passkey, kode 2FA, token API, dan informasi pribadi seperti alamat serta detail keuangan. Namun, 1Password tidak menyebutkan secara spesifik kredensial mana yang dapat diakses Claude. Untuk saat ini, tampaknya akses terbatas pada detail terkait login. Perusahaan menyatakan dukungan untuk kartu pembayaran dan detail identitas akan tersedia beberapa waktu setelah peluncuran.

    Langkah 1Password ini menempatkan perusahaan dalam posisi strategis di tengah meningkatnya adopsi AI agent. Dengan kerangka keamanan baru, mereka menawarkan solusi yang memungkinkan pengguna memanfaatkan kemampuan AI tanpa mengorbankan keamanan data pribadi. Bagi pengguna yang mengandalkan AI untuk tugas-tugas kompleks, integrasi ini bisa menjadi jawaban atas dilema antara kemudahan dan keamanan.

    Implikasi praktisnya jelas: pengguna kini dapat membiarkan Claude menangani tugas-tugas yang memerlukan login ke berbagai akun tanpa harus khawatir data mereka terekspos. Ini membuka jalan bagi adopsi AI agent yang lebih luas di lingkungan yang membutuhkan keamanan tinggi, seperti perusahaan atau individu yang sangat memperhatikan privasi.

    Bagi yang tertarik dengan perkembangan AI agent lainnya, simak juga Riset Keamanan AI Claude yang menemukan celah pada tiket festival musik AS, atau Akses Claude di China yang mengungkap ekonomi bawah tanah dan celah keamanan.

  • Samsung 990 SSD Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp4,9 Juta

    Samsung 990 SSD Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp4,9 Juta

    JBNews.id — Samsung Electronics resmi meluncurkan perangkat penyimpanan terbaru, Samsung 990 SSD, di Indonesia pada Kamis, 16 Juli 2026. Solid-state drive ini tersedia dalam kapasitas 1TB dan 2TB, dengan harga ritel mulai dari Rp4,9 jutaan. Peluncuran ini menyasar kebutuhan gamer, kreator konten, dan perakit PC yang membutuhkan performa tinggi dengan efisiensi daya yang lebih baik.

    Langkah Samsung ini hadir di tengah tren positif adopsi PC di Indonesia. Berdasarkan data IDC, pengiriman PC di Tanah Air tumbuh 9,4% secara tahunan pada kuartal pertama (Q1) 2026. PC kini semakin digandrungi sebagai perangkat andalan untuk gaming dan pembuatan konten beresolusi tinggi.

    “Samsung 990 SSD terbaru merupakan solusi ideal bagi beragam kebutuhan pengguna yang ingin meningkatkan kapasitas penyimpanan untuk menangani beban kerja yang berat, menikmati pengalaman gaming yang lebih imersif, membuat konten beresolusi tinggi, hingga merakit PC secara mandiri,” ujar Tommy (Hyoungsuk) Kwon, Vice President dari Memory Brand Product Biz Team, Samsung Electronics, dalam keterangan resminya.

    Performa dan Spesifikasi Samsung 990 SSD

    Samsung 990 SSD didukung oleh antarmuka PCIe 4.0 dan teknologi NAND terbaru. Drive ini menjanjikan proses transfer file yang lebih cepat serta waktu loading aplikasi yang lebih instan. Untuk varian 2TB, kecepatan baca sekuensial (sequential read speed) mencapai 7.250 MB/s dengan kecepatan tulis (sequential write speed) hingga 6.450 MB/s. Kinerja random untuk baca dan tulis masing-masing mencapai 850.000 IOPS dan 1.200.000 IOPS.

    Sementara itu, varian 1TB menawarkan kecepatan baca sekuensial hingga 7.150 MB/s dan kecepatan tulis 6.450 MB/s. Kinerja random berada di angka 700.000 IOPS (baca) dan 1.100.000 IOPS (tulis). Dengan kapasitas masif, varian 2TB diklaim mampu menampung hingga 30 judul game AAA (dengan asumsi rata-rata ukuran 64GB per game), menjadikannya ruang simpan ideal tanpa perlu khawatir kehabisan tempat.

    Samsung 990 SSD

    Selain performa garang, Samsung juga menyoroti keunggulan efisiensi daya pada lini terbaru ini. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya (Samsung 990 PRO), efisiensi daya pada SSD 990 telah ditingkatkan hingga 38%. Artinya, pengguna bisa menikmati performa maksimal dengan konsumsi listrik yang jauh lebih rendah.

    Dukungan Perangkat Lunak Samsung Magician

    Perangkat ini juga didukung penuh oleh perangkat lunak Samsung Magician. Software andalan ini memudahkan pengguna untuk melakukan migrasi data dengan aman, memantau kondisi kesehatan SSD, serta mengoptimalkan kinerja drive sesuai dengan kebutuhan spesifik PC mereka. Fitur ini menjadi nilai tambah bagi pengguna yang ingin memaksimalkan potensi Fitur Terbaru dari Samsung 990 SSD.

    Harga dan Ketersediaan di Indonesia

    Samsung 990 SSD dijadwalkan akan mulai tersedia di pasar Indonesia pada akhir Juli 2026. Pembelian dapat dilakukan melalui Samsung Memory Official Store di platform e-commerce (seperti Tokopedia dan Shopee) serta toko elektronik ritel pilihan. Berikut adalah rincian harga ritel resminya:

    • Samsung 990 SSD 1TB: Mulai dari Rp4.937.754
    • Samsung 990 SSD 2TB: Mulai dari Rp9.753.287

    Dengan banderol harga tersebut, Samsung 990 SSD menawarkan performa tinggi yang cocok untuk berbagai kebutuhan, mulai dari gaming berat hingga produksi konten profesional. Bagi pengguna yang mencari Harga Terbaru produk Samsung, SSD ini menjadi pilihan menarik di segmen penyimpanan berkecepatan tinggi.

    Peluncuran Samsung 990 SSD di Indonesia juga menandai komitmen Samsung dalam menghadirkan solusi penyimpanan terdepan. Seiring dengan pertumbuhan pasar PC di Indonesia, kehadiran SSD ini diharapkan dapat memenuhi permintaan akan perangkat penyimpanan yang cepat, efisien, dan andal.

    Bagi para gamer, kemampuan menyimpan hingga 30 game AAA pada varian 2TB menjadi nilai jual utama. Sementara itu, kreator konten yang bekerja dengan file beresolusi tinggi akan diuntungkan oleh kecepatan transfer yang superior. Perakit PC juga mendapatkan opsi komponen berkualitas tinggi untuk membangun sistem yang optimal.

    Implikasi dari peluncuran ini cukup jelas: Samsung memperkuat posisinya di pasar SSD Indonesia dengan produk yang tidak hanya cepat, tetapi juga lebih efisien secara energi. Bagi konsumen, ini berarti akses ke teknologi penyimpanan terbaru dengan harga yang kompetitif di segmennya.

  • China Kembangkan Sistem Pertahanan Asteroid Berbahaya

    China Kembangkan Sistem Pertahanan Asteroid Berbahaya

    JBNews.id — China National Space Administration (CNSA) mempercepat pengembangan sistem peringatan dini untuk mendeteksi asteroid yang berpotensi mengancam Bumi. Sistem ini menggabungkan teleskop di darat dan satelit di luar angkasa agar mampu menemukan asteroid berbahaya lebih cepat dibanding metode saat ini.

    Pengumuman tersebut disampaikan CNSA bertepatan dengan International Asteroid Day pada 30 Juni lalu. Menurut Kepala Ilmuwan Asteroid Monitoring and Early Warning Research Center CNSA, Li Mingtao, masih banyak asteroid dekat Bumi (near-Earth asteroids/NEA) yang belum terdeteksi.

    “Sejauh ini belum ada asteroid yang dipastikan akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat. Namun, kekhawatiran terhadap risiko tumbukan bukanlah sesuatu yang tidak berdasar. Masih banyak asteroid dekat Bumi yang belum terdeteksi,” ujar Li Mingtao seperti dikutip dari The Daily Galaxy.

    Pendekatan Space-Ground Monitoring

    Sistem yang tengah disiapkan China mengandalkan pendekatan space-ground monitoring, yakni menggabungkan pengamatan dari permukaan Bumi dan luar angkasa. Di darat, China akan membangun sejumlah teleskop optik berdiameter besar di lokasi-lokasi strategis. Sementara di luar angkasa, negara itu berencana menempatkan konstelasi satelit pemantau yang dapat mengamati asteroid tanpa terganggu atmosfer maupun pergantian siang dan malam.

    Salah satu fokus utama sistem ini adalah mendeteksi asteroid yang datang dari arah Matahari. Objek seperti ini sangat sulit diamati dari Bumi karena tertutup silau cahaya Matahari. Fenomena serupa pernah terjadi pada meteor Chelyabinsk di Rusia pada 2013. Benda langit tersebut baru terdeteksi setelah memasuki atmosfer dan kemudian meledak di udara, melukai lebih dari seribu orang akibat gelombang kejutnya.

    Menurut Li, hingga pertengahan 2026 para astronom telah menemukan lebih dari 40.000 asteroid dekat Bumi. Sekitar 95% asteroid berdiameter lebih dari satu kilometer, yang mampu memicu bencana global, telah berhasil dipetakan. Namun, kondisi berbeda terjadi pada asteroid berukuran sekitar 140 meter, yang masih cukup besar untuk menghancurkan wilayah seluas sebuah negara.

    “Baru sekitar 45% asteroid berukuran sekitar 140 meter yang berhasil dideteksi,” kata Li.

    Karena itu, China menilai masih diperlukan sistem pemantauan yang lebih sensitif agar objek-objek tersebut dapat ditemukan jauh sebelum mendekati Bumi.

    Misi Pembelokan Asteroid

    Selain membangun jaringan pemantauan, China juga tengah menyiapkan misi pembelokan asteroid menggunakan metode kinetic impactor, yakni menabrakkan wahana antariksa ke asteroid untuk mengubah lintasannya. Konsep ini serupa dengan misi DART (Double Asteroid Redirection Test) milik NASA yang pada 2022 berhasil mengubah orbit asteroid Dimorphos. China menargetkan demonstrasi teknologi tersebut sebagai bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15 negara itu.

    Peneliti asteroid dari University of Helsinki, Anne Virkki, menilai langkah China dapat memperkuat upaya pertahanan planet jika data yang dihasilkan dibagikan secara terbuka kepada komunitas internasional.

    “Jika China meluncurkan misi serupa, semoga misi itu memiliki kemampuan yang melengkapi sistem yang sudah ada dan datanya dibagikan secara terbuka, bukan hanya untuk ilmuwan China,” ujar Virkki.

    Ia menambahkan masih ada sekitar 100.000 asteroid dekat Bumi yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar jika menghantam Bumi. Namun hingga kini, lintasan kurang dari separuh objek tersebut telah diketahui secara pasti.

    Menurut para ilmuwan, semakin cepat asteroid berbahaya ditemukan, semakin besar peluang manusia mengambil tindakan untuk mengurangi risikonya. Karena itu, pengembangan sistem pemantauan oleh berbagai negara dinilai menjadi salah satu elemen penting dalam upaya pertahanan Bumi dari ancaman benda langit di masa depan.

    Langkah China ini sejalan dengan pengembangan teknologi luar angkasa lainnya yang sedang digarap negara tersebut. Sebelumnya, Matahari Buatan China baru saja mencatat rekor baru. Selain itu, China juga tengah mengembangkan Robot Humanoid yang bisa diajak curhat dan mengenali emosi manusia.

  • Spotify Rilis Chatbot AI Talk to Spotify untuk Pengguna Premium

    Spotify Rilis Chatbot AI Talk to Spotify untuk Pengguna Premium

    JBNews.id — Spotify meluncurkan fitur chatbot AI bernama ‘Talk to Spotify’ yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara percakapan dua arah untuk mencari musik, audiobook, dan podcast. Fitur ini tersedia secara bertahap dalam versi beta khusus untuk pelanggan Spotify Premium di Amerika Serikat, Irlandia, dan Swedia.

    Fitur ini dapat diakses melalui laman Home dan Now Playing di aplikasi mobile Spotify. Pengguna dapat mengetik prompt di kolom teks yang tersedia atau menggunakan perintah suara dengan mengetuk tombol mikrofon untuk memulai percakapan langsung. Spotify menegaskan bahwa fitur ini dirancang untuk membuat pengalaman mendengarkan musik menjadi lebih personal.

    “Dengan mengetik atau berbicara langsung di aplikasi, kalian dapat melakukan percakapan dua arah untuk memilih lagu yang ingin diputar, mencari informasi tentang musik yang kalian sukai, meninjau kembali riwayat mendengarkan lagu, dan mendalami podcast dan audiobook, tanpa harus meninggalkan Spotify,” tulis Spotify dalam pengumumannya, seperti dikutip dari Engadget, Kamis (16/7/2026).

    Spotify memberikan beberapa contoh perintah yang dapat digunakan pengguna. Pengguna bisa meminta chatbot untuk “memutar beberapa musisi yang belum pernah saya dengar sebelumnya” lalu menambahkan detail seperti “tambahkan lagu Bad Bunny” atau “buat lebih bersemangat”. Saat mendengar lagu yang disukai, pengguna juga bisa memerintahkan Spotify untuk “simpan lagu ini”, “tambahkan ini ke daftar antrean lagu saya”, atau “ikuti artis ini”.

    Fitur chatbot Talk to Spotify

    Selain fitur pemutaran dan rekomendasi, chatbot AI ini juga dapat memberikan informasi seputar lagu, audiobook, atau podcast yang sedang didengarkan. Misalnya, pengguna bisa bertanya kapan sebuah lagu dirilis, judul buku lain yang ditulis oleh seorang penulis saat mendengarkan salah satu audiobook mereka, atau mencari tahu apakah seorang tamu di podcast pernah tampil di acara lainnya.

    Fitur Talk to Spotify digulirkan secara bertahap dalam versi beta. Saat ini, fitur ini tersedia untuk pelanggan Premium di Amerika Serikat, Irlandia, dan Swedia. Fitur ini dapat digunakan di aplikasi Spotify Android dan iPhone untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas. Spotify juga mengingatkan bahwa fitur ini masih dalam proses pengembangan dan responsnya mungkin tidak selalu sempurna. Saat ini, Talk to Spotify baru mendukung bahasa Inggris.

    Peluncuran chatbot AI ini merupakan langkah terbaru Spotify dalam bereksperimen dengan kecerdasan buatan. Sebelumnya, platform streaming musik ini telah merilis berbagai fitur berbasis AI untuk meningkatkan personalisasi pengguna. Inovasi ini juga hadir di tengah meningkatnya pengawasan terhadap penggunaan AI di industri teknologi. Beberapa perusahaan sebelumnya dilaporkan menyesal menggunakan AI dan kembali merekrut manusia.

    Bagi pengguna di Indonesia, fitur ini belum tersedia. Namun, kehadiran Talk to Spotify menandakan arah pengembangan platform yang semakin mengandalkan interaksi percakapan alami. Pengguna Premium di Indonesia masih dapat menikmati berbagai Fitur Terbaru Spotify lainnya yang sudah diluncurkan secara global.

    Fitur ini juga membuka peluang baru bagi pengguna untuk mengeksplorasi konten secara lebih mendalam tanpa harus meninggalkan aplikasi. Dengan kemampuan chatbot yang dapat menjawab pertanyaan spesifik tentang artis, album, atau podcast, Spotify berupaya menjadi pusat hiburan audio yang lebih komprehensif.

    Bagi para penggemar musik dan podcast, kehadiran chatbot AI ini bisa menjadi alat yang berguna untuk menemukan konten baru. Namun, perlu diingat bahwa fitur ini masih dalam tahap beta dan belum sempurna. Spotify memperingatkan bahwa respons chatbot mungkin tidak selalu akurat, terutama untuk pertanyaan yang kompleks.

    Ke depannya, Spotify kemungkinan akan memperluas ketersediaan fitur ini ke lebih banyak negara dan menambahkan dukungan bahasa tambahan. Bagi pengguna di Indonesia yang tertarik dengan Podcast Ilegal dan moderasi konten, Spotify sebelumnya telah mengambil tindakan tegas dengan menghapus ribuan episode podcast yang melanggar aturan.

    Implikasi dari peluncuran chatbot AI ini cukup signifikan. Bagi pengguna biasa, fitur ini menawarkan cara baru yang lebih intuitif untuk berinteraksi dengan platform streaming. Tidak perlu lagi mengetik kata kunci secara manual; cukup berbicara atau mengetik perintah dalam bahasa alami. Ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin mengadopsi antarmuka percakapan.

    Dari sisi bisnis, fitur ini bisa menjadi pembeda kompetitif bagi Spotify di tengah persaingan ketat dengan Apple Music, YouTube Music, dan platform streaming lainnya. Dengan menghadirkan chatbot AI yang terintegrasi langsung ke dalam aplikasi, Spotify berharap dapat meningkatkan retensi pengguna dan memperdalam engagement.

    Bagi para kreator konten, fitur ini juga membuka peluang baru. Ketika pengguna bertanya tentang podcast atau audiobook tertentu, chatbot dapat memberikan informasi yang lebih detail, yang pada akhirnya bisa mendorong lebih banyak pendengar untuk mengeksplorasi konten mereka.

    Namun, tantangan tetap ada. Fitur ini baru mendukung bahasa Inggris dan tersedia di beberapa negara saja. Selain itu, kualitas respons chatbot yang masih dalam tahap pengembangan berarti pengalaman pengguna mungkin bervariasi. Spotify perlu terus menyempurnakan model AI-nya agar dapat memberikan informasi yang akurat dan relevan.

    Dengan peluncuran bertahap ini, Spotify tampaknya ingin memastikan bahwa fitur Talk to Spotify berfungsi dengan baik sebelum diperluas ke pasar yang lebih luas. Bagi pengguna Premium di luar negara beta, mereka harus bersabar menunggu hingga fitur ini tersedia secara global.

    Kehadiran chatbot AI di Spotify juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan besar berlomba-lomba mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam produk mereka. Dari asisten virtual hingga rekomendasi yang dipersonalisasi, AI menjadi komponen kunci dalam strategi pengembangan produk.

    Bagi pengguna yang penasaran dengan perkembangan terbaru di dunia teknologi, termasuk Wi-Fi 8 yang hadir pada 2026, inovasi seperti Talk to Spotify menunjukkan bagaimana AI dapat mengubah cara kita berinteraksi dengan perangkat lunak sehari-hari.

    Secara keseluruhan, peluncuran chatbot AI Talk to Spotify menandai langkah maju yang signifikan dalam personalisasi platform streaming musik. Meskipun masih dalam tahap awal dan memiliki keterbatasan, fitur ini berpotensi mengubah cara pengguna menemukan dan menikmati konten audio.

  • Google Solusi Token AI Agar Perusahaan Tak Kaget Biaya

    Google Solusi Token AI Agar Perusahaan Tak Kaget Biaya

    JBNews.id — Google menghadirkan solusi komprehensif agar perusahaan tidak terkejut dengan lonjakan biaya token AI saat mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Langkah ini menjadi krusial di tengah meningkatnya transformasi bisnis menggunakan AI dan agentic AI di Indonesia.

    Karim Siregar, Country Director Google Cloud Indonesia, menekankan pentingnya perusahaan memahami struktur biaya token dan nilai tambah yang dihasilkan sebelum implementasi skala besar. “Jadi kita harus tahu berapa cost-nya, kemudian apakah konsumsi token tersebut nilai tambahnya bagi bisnis itu apa,” kata Karim dalam media briefing di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

    Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran banyak perusahaan yang mulai mengadopsi AI namun belum memiliki strategi pengelolaan biaya token yang matang. Google menawarkan pendekatan bertahap untuk mengatasi masalah tersebut.

    Strategi Pengendalian Biaya Token AI

    Menurut Karim, perusahaan perlu melakukan pilot project berskala kecil terlebih dahulu sebelum memperluas implementasi AI ke seluruh organisasi. “Ini dua pertama yang penting karena kita perlu menguasai ini dulu pada saat kita mulai pilot-pilot yang lebih kecil sebelum kita pindah untuk meningkatkan skala implementasi AI untuk sebuah perusahaan, sehingga pada saat kita implementasikan di level perusahaan itu kita tidak kaget bahwa ada lonjakan biaya yang sangat tinggi,” imbuhnya.

    Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk mengukur secara akurat berapa biaya token yang dibutuhkan untuk setiap use case AI tertentu. Dengan data tersebut, perusahaan dapat membuat proyeksi anggaran yang lebih realistis.

    Google juga menyediakan layanan FinOps dalam Gemini Enterprise yang memberikan visibilitas lebih tinggi terhadap kinerja dan biaya penggunaan AI. Fitur ini memungkinkan perusahaan memantau konsumsi token secara real-time dan mengidentifikasi potensi pemborosan.

    Ilustrasi Google Cloud

    Vertex AI: Rekomendasi Model Optimal

    Moe Abdula, Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, menjelaskan bahwa Google akan menawarkan model AI terbaik yang sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap perusahaan. Saat ini terdapat lebih dari ratusan model AI yang ditawarkan oleh Google.

    “Selain itu kami memiliki lapisan intelligence, yang kami sebut lapisan Vertex, yang dapat memahami berdasarkan tugas yang diminta, untuk menyarankan lebih baik menggunakan model ini karena lebih murah dibandingkan model lainnya,” kata Moe dalam kesempatan yang sama.

    Vertex AI berfungsi sebagai intelligent layer yang secara otomatis merekomendasikan model paling efisien berdasarkan jenis tugas. Misalnya, untuk tugas klasifikasi sederhana, sistem akan menyarankan model yang lebih ringan dan murah dibandingkan model besar yang membutuhkan komputasi tinggi.

    Forward-Deployed Engineer: Dukungan Langsung di Lapangan

    Untuk membantu perusahaan memanfaatkan inovasi AI secara optimal dan mendukung transformasi bisnis lewat agentic AI, Google juga memperluas tim Forward-Deployed Engineer (FDE) di Indonesia. Tim ini adalah engineer spesialis AI yang ditempatkan langsung di lingkungan kerja perusahaan.

    Kehadiran FDE memberikan beberapa keuntungan signifikan bagi pelanggan Google Cloud. Pertama, mereka mendapat dukungan untuk mengurangi risiko dalam implementasi AI. Kedua, proses implementasi menjadi lebih cepat karena engineer memahami langsung konteks bisnis perusahaan. Ketiga, perusahaan dapat memaksimalkan nilai investasi AI mereka.

    Langkah ini menunjukkan komitmen Google dalam mendukung adopsi AI di Indonesia secara bertanggung jawab dan terukur. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya mendapatkan teknologi canggih tetapi juga pendampingan teknis yang memadai.

    Bagi perusahaan yang tertarik, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi use case AI yang paling relevan dengan bisnis. Setelah itu, lakukan pilot project dengan skala kecil menggunakan layanan Google Cloud. Selama proses ini, manfaatkan Fitur Terbaru dari FinOps untuk memantau biaya token secara real-time.

    Google juga menyediakan berbagai alat untuk membantu perusahaan memulai perjalanan AI mereka. Mulai dari konsultasi awal hingga implementasi penuh, perusahaan dapat mengandalkan keahlian tim Google Cloud.

    Implikasi bagi Dunia Bisnis Indonesia

    Solusi yang ditawarkan Google ini memiliki implikasi langsung bagi perusahaan di Indonesia yang ingin bertransformasi menggunakan AI. Dengan pendekatan bertahap dan alat manajemen biaya yang transparan, perusahaan dapat menghindari kejutan tagihan yang sering menjadi momok dalam adopsi AI.

    Bagi pelaku bisnis, terutama yang bergerak di sektor teknologi dan digital, pemahaman tentang biaya token AI menjadi semakin penting. Google mengingatkan bahwa transformasi AI yang sukses bukan hanya tentang implementasi teknologi, tetapi juga tentang pengelolaan biaya yang efektif.

    Dengan kehadiran Forward-Deployed Engineer di Indonesia, perusahaan lokal mendapatkan akses ke keahlian teknis kelas dunia tanpa harus membangun tim AI internal dari awal. Ini menjadi nilai tambah signifikan bagi perusahaan yang ingin mempercepat adopsi AI namun terkendala sumber daya teknis.

    Perusahaan yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang Panduan Lengkap implementasi AI dapat mengakses sumber daya yang disediakan Google Cloud. Dengan persiapan yang matang, transformasi AI bukan lagi sekadar wacana tetapi langkah nyata menuju efisiensi dan inovasi bisnis.

    Langkah Google ini juga sejalan dengan tren global di mana perusahaan mulai lebih sadar akan pentingnya Animasi Viking dalam pengelolaan biaya teknologi. Dengan pendekatan yang terstruktur, adopsi AI dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa membebani anggaran perusahaan.

    Kesimpulannya, Google menawarkan ekosistem lengkap untuk membantu perusahaan mengelola biaya token AI secara efektif. Mulai dari perencanaan, implementasi bertahap, hingga dukungan teknis langsung di lapangan. Bagi perusahaan di Indonesia yang serius ingin bertransformasi menggunakan AI, ini adalah momentum yang tepat untuk memulai perjalanan tersebut dengan persiapan yang matang.

  • Iran Eksploitasi Celah Jaringan 2G dan 3G untuk Lacak Pasukan AS

    Iran Eksploitasi Celah Jaringan 2G dan 3G untuk Lacak Pasukan AS

    JBNews.id — Pemerintah Iran memanfaatkan celah keamanan pada infrastruktur jaringan seluler 2G dan 3G untuk melacak posisi personel militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Operasi ini dilaporkan berlangsung menjelang perang dan pada hari-hari awal konflik, mengeksploitasi kelemahan protokol telekomunikasi yang sudah berusia puluhan tahun.

    Menurut laporan Financial Times, Iran mengeksploitasi kerentanan pada Signaling System 7 atau SS7, protokol telekomunikasi yang digunakan operator seluler untuk menghubungkan panggilan suara, SMS, dan layanan roaming lintas negara. Informasi tersebut berasal dari riset Mobile Surveillance Monitor serta keterangan sejumlah pejabat pemerintah anonim yang mengetahui detail operasi intelijen Iran.

    SS7 sejak lama diketahui memiliki celah yang memungkinkan pihak tertentu melacak lokasi ponsel, menyadap komunikasi, hingga mengalihkan pesan singkat apabila mendapatkan akses ke jaringan signaling operator. Financial Times menyebut badan intelijen dari berbagai negara telah lama menyalahgunakan SS7 untuk melacak ponsel di luar wilayah mereka. Teknik serupa kini disebut digunakan Iran terhadap personel militer AS.

    Metode Pelacakan Personel Militer

    Iran dilaporkan mampu mengidentifikasi lokasi ponsel yang digunakan personel militer AS di sejumlah pangkalan dan hotel di Irak, Bahrain, serta negara-negara Timur Tengah lainnya. Data lokasi tersebut kemudian disebut dimanfaatkan untuk mendukung penentuan target serangan. Sejumlah personel AS dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan yang dilakukan setelah lokasi mereka teridentifikasi.

    Pelacakan tidak selalu membutuhkan pemasangan malware di perangkat sasaran. Dengan mengeksploitasi SS7, penyerang dapat meminta informasi lokasi ponsel dari jaringan operator seolah-olah berasal dari pihak yang berwenang. Sistem ini pada dasarnya dibangun dengan asumsi bahwa operator telekomunikasi saling mempercayai. Asumsi tersebut menjadi masalah ketika akses ke jaringan signaling jatuh ke tangan pihak yang berniat melakukan pengawasan.

    Selain menggunakan SS7, Iran juga disebut memanfaatkan teknologi periklanan digital atau ad tech untuk memperoleh informasi lokasi pengguna ponsel. Data iklan biasanya dikumpulkan untuk menampilkan promosi yang disesuaikan dengan lokasi, kebiasaan, dan minat pengguna. Namun, data tersebut juga dapat disalahgunakan untuk memantau pergerakan individu tertentu. Kasus ini mengingatkan pada ancaman AI hacking yang juga mengeksploitasi data pribadi untuk kepentingan pengawasan.

    Apa Itu SS7 dan Mengapa Masih Berbahaya?

    Signaling System 7 merupakan seperangkat protokol telekomunikasi yang mulai dikembangkan pada era 1970-an. Teknologi ini digunakan untuk pertukaran informasi antara operator, termasuk ketika pengguna melakukan panggilan, mengirim SMS, atau menggunakan jaringan di luar negeri. SS7 banyak digunakan pada jaringan 2G dan 3G.

    Meskipun jaringan 4G dan 5G menggunakan sistem signaling yang lebih baru, sebagian layanan masih dapat kembali atau fallback ke jaringan lama. Kondisi tersebut membuat kelemahan SS7 tetap relevan, bahkan ketika pengguna memakai ponsel yang sudah mendukung 4G atau 5G.

    Kerentanan SS7 sebenarnya telah diketahui selama bertahun-tahun. Namun, protokol tersebut sulit dihentikan sepenuhnya karena masih digunakan untuk menjaga kompatibilitas antarsistem dan antaroperator di berbagai negara. Operator dapat memasang firewall SS7 untuk memblokir permintaan mencurigakan. Kendati demikian, tingkat perlindungan di setiap operator dan negara tidak selalu sama.

    Risiko Jaringan 2G dan 3G yang Masih Aktif

    Jaringan 2G dan 3G masih digunakan di sejumlah negara untuk layanan suara, SMS, perangkat lama, dan wilayah yang belum terjangkau jaringan generasi terbaru. Ponsel juga dapat otomatis berpindah ke 2G atau 3G ketika sinyal 4G dan 5G tidak tersedia atau ketika layanan tertentu membutuhkan jaringan lama.

    Perpindahan tersebut membuka risiko apabila operator tidak memiliki sistem penyaringan signaling yang memadai. Penyerang bisa memanfaatkan celah untuk memperoleh perkiraan lokasi perangkat berdasarkan menara seluler yang terhubung. Situasi ini semakin kompleks dengan kekhawatiran infrastruktur yang juga menghantui sektor teknologi lainnya.

    Kasus ini kembali menyoroti bagaimana infrastruktur telekomunikasi sipil dapat digunakan dalam operasi militer dan intelijen. Data lokasi yang awalnya dipakai untuk kebutuhan teknis maupun periklanan dapat berubah menjadi informasi sensitif ketika dikaitkan dengan identitas personel, pangkalan militer, atau pola pergerakan pasukan.

    Penggunaan teknologi komersial untuk kepentingan perang juga berpotensi meningkatkan risiko terhadap warga sipil. Data lokasi tidak selalu dapat membedakan antara personel militer, pekerja lokal, jurnalis, maupun masyarakat yang berada di area yang sama.

    Hingga artikel ini ditulis, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi mengenai tudingan tersebut. Pemerintah AS juga belum menyampaikan komentar publik terkait laporan eksploitasi SS7 untuk melacak personel militernya, demikian dilansir dari Financial Times.

    Implikasi dari kasus ini sangat luas. Bagi personel militer dan intelijen, kerentanan jaringan 2G dan 3G menjadi pengingat bahwa perangkat komunikasi sipil tidak sepenuhnya aman di medan perang modern. Sementara itu, bagi operator telekomunikasi global, insiden ini menekankan urgensi untuk mempercepat migrasi dari infrastruktur lama ke sistem signaling yang lebih aman.

    Penggunaan data iklan untuk pelacakan militer juga membuka diskusi baru tentang regulasi privasi data. Teknologi yang dirancang untuk menayangkan iklan yang relevan kini dapat digunakan untuk menentukan target serangan, mengaburkan batas antara intelijen komersial dan operasi militer. Kasus serupa juga terjadi di sektor lain, seperti fitur username WhatsApp yang memicu kekhawatiran penyalahgunaan.

  • Logitech Rilis Rally AI Camera, Kamera Rapat Berotak Cerdas

    Logitech Rilis Rally AI Camera, Kamera Rapat Berotak Cerdas

    JBNews.id — Logitech resmi meluncurkan Rally AI Camera dan Rally AI Camera Pro, dua kamera pintar yang dirancang khusus untuk mengakomodasi ruang pertemuan berukuran besar dengan desain yang nyaris tak kasat mata. Peluncuran ini menandai langkah terbaru Logitech dalam menghadirkan solusi meeting hybrid yang cerdas dan efisien.

    Rally AI Camera Pro diklaim sebagai kamera paling cerdas yang pernah diciptakan oleh Logitech. Sementara itu, model standarnya dirancang khusus agar menyatu secara elegan dengan interior ruangan, mulai dari ruang rapat, area town hall, hingga ruang kelas. “Rally AI Cameras dirancang untuk mendukung kantor yang menerapkan sistem kerja hybrid, di mana teknologi menyatu ke latar belakang agar dunia digital dan fisik bisa berbaur secara alami,” ujar Henry Levak, VP of Product, Logitech for Business, dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (16/7/2026).

    Desain ‘Tak Terlihat’ dan Keamanan Privasi

    Salah satu nilai jual utama dari perangkat ini adalah opsi pemasangannya yang sangat fleksibel dan tersembunyi. Logitech untuk pertama kalinya menghadirkan opsi pemasangan in-wall sehingga kamera tampak rata dan tidak mencolok. Selain itu, perangkat ini juga bisa dipasang di plafon, di atas layar TV, atau menempel di dinding.

    Untuk memastikan rasa aman penggunanya, kamera ini dilengkapi dengan penutup privasi otomatis yang akan tertutup rapat saat kamera sedang tidak digunakan. Dapur pacu visual kamera ini ditenagai oleh teknologi RightSight 2 berbasis AI. Teknologi ini bertindak layaknya sutradara film yang mampu melakukan framing adaptif secara real-time. Kamera bisa mendeteksi dan secara otomatis membingkai grup, menyorot pembicara individu, atau menampilkan para peserta dalam format grid (kotak-kotak).

    Kamera ini juga mendukung integrasi multi-kamera seperti Zoom Intelligent Director dan tampilan khusus di Microsoft Teams, membuat interaksi jarak jauh terasa lebih intim dan sinematik. Dari segi spesifikasi, kedua kamera dibekali lensa khusus dengan sensor gambar berukuran 1 inci dan sudut pandang 115 derajat yang dijanjikan andal di kondisi minim cahaya. Khusus untuk varian Rally AI Camera Pro, Logitech menyematkan kamera optik tambahan dengan kemampuan 15x hybrid zoom untuk menangkap detail presenter secara lebih presisi di ruangan yang sangat luas.

    Solusi Pintar untuk Tim IT dan Ramah Lingkungan

    Bukan sekadar alat perekam, kamera ini adalah asisten andal bagi pengelola gedung dan manajer IT. Rally AI Cameras mampu mendeteksi tingkat kehadiran, menghitung jumlah orang, dan memantau intensitas penggunaan ruangan. Data ini disinkronkan langsung ke aplikasi Logitech Sync, memungkinkan sistem untuk merilis otomatis jadwal ruangan yang di-booking namun ternyata kosong (ghost meeting).

    Pemasangannya pun sangat ringkas, hanya mengandalkan USB atau satu kabel kategori (dengan modul tambahan), serta terhubung ke jaringan Wi-Fi atau Ethernet untuk pembaruan jarak jauh. Sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan, Logitech menggunakan material aluminium rendah karbon dan kemasan kertas bersertifikasi FSC.

    Bagi perusahaan yang tertarik meningkatkan fasilitas smart meeting mereka, Logitech Rally AI Camera dan Rally AI Camera Pro akan mulai tersedia di pasaran pada bulan September 2026. Kedua perangkat ini hadir dengan pilihan warna graphite dan off-white dan dapat dipesan melalui peritel resmi Logitech.

    Peluncuran ini menunjukkan komitmen Logitech untuk terus berinovasi di segmen perangkat meeting hybrid, sejalan dengan tren kerja jarak jauh yang semakin mengakar. Dengan kemampuan AI yang canggih dan desain yang terintegrasi, Rally AI Camera menjadi solusi tepat untuk meningkatkan produktivitas rapat di era hybrid. Bagi pengguna yang juga tertarik dengan perangkat gaming terbaru, Fitur Terbaru dari Logitech juga patut disimak. Sementara itu, perkembangan teknologi AI yang pesat, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Kesenjangan AI, terus membentuk lanskap industri.