Category: Tekno

  • SoftBank CEO: Tuduhan Gelembung AI Adalah Tidak Masuk Akal

    SoftBank CEO: Tuduhan Gelembung AI Adalah Tidak Masuk Akal

    JBNews.id — Masayoshi Son, CEO SoftBank, dengan tegas membantah kekhawatiran tentang gelembung kecerdasan buatan (AI). Dalam pidato di konferensi tahunan perusahaannya di Tokyo, ia menyebut anggapan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” dan menyatakan kesiapannya untuk menginvestasikan triliunan dolar demi kesuksesan AI.

    Pernyataan Son muncul di tengah kekhawatiran yang meluas di kalangan investor dan publik Amerika Serikat. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga AS tidak hanya percaya bahwa ada gelembung AI, tetapi juga semakin khawatir akan dampaknya. Namun, taipan investasi asal Jepang ini sama sekali tidak terpengaruh oleh sentimen tersebut.

    “Bertanya apakah AI adalah gelembung itu tidak masuk akal. Saya pikir orang yang menanyakan pertanyaan itu tidak tahu apa itu AI,” ujar Son kepada para peserta konferensi, seperti dilaporkan Reuters. Ia bahkan mengungkapkan angka investasi yang mencengangkan: “Setiap tahun $5 triliun, atau 800 triliun yen, Anda mungkin berpikir itu bohong, tapi saya yakin itulah biayanya.”

    Son sebelumnya pernah menyatakan bahwa menganggap AI sebagai gelembung adalah “penistaan terhadap AI.” Ia yakin bahwa potensi teknologi ini pada akhirnya akan terwujud. Keyakinan ini mendorong SoftBank untuk terus mengucurkan dana besar-besaran ke sektor AI, dengan OpenAI sebagai penerima manfaat utama.

    Namun, strategi agresif ini bukannya tanpa risiko. SoftBank telah menginvestasikan hampir $65 miliar ke OpenAI, jumlah yang sangat besar sehingga memaksa lembaga pemeringkat kredit utama untuk menurunkan peringkat perusahaan dalam beberapa bulan terakhir. Analis S&P Global, ketika menurunkan prospek SoftBank dari “netral” menjadi “negatif” pada Maret lalu, memperingatkan bahwa likuiditas portofolio investasi SoftBank akan memburuk karena porsi OpenAI yang semakin besar.

    Laporan kredit S&P Global secara spesifik memperingatkan jalur yang justru sedang diperkuat oleh CEO Son. “Investasi tambahan akan semakin mengurangi kapasitas finansial SoftBank Group, menurut pandangan kami,” demikian bunyi laporan tersebut. “Kami memperkirakan bahwa investasi tambahan di OpenAI akan menaikkan rasio loan-to-value perusahaan hampir empat poin persentase, memperburuk metrik keuangan utama ini.”

    Meskipun ada peringatan keras dari lembaga pemeringkat, Son tidak gentar. Ia bahkan memperpanjang prediksinya tentang kecerdasan super AI. Jika sebelumnya ia memperkirakan hal itu akan terjadi pada 2035, kini ia menambahkan lima tahun lagi menjadi 2040. “Model bisnisnya akan layak karena pada tahun 2040,” kata Son, “jika pendapatan AI mencapai 20 persen dari PDB global, menghabiskan 800 triliun yen per tahun adalah kesalahan pembulatan.”

    Ilustrasi foto bergaya menampilkan Chairman dan CEO SoftBank Group Corp., Masayoshi Son.

    Keyakinan Son yang tak tergoyahkan ini menimbulkan pertanyaan besar bagi para investor dan pengamat industri. Di satu sisi, visinya tentang masa depan AI yang dominan sangat ambisius. Di sisi lain, komitmen finansial yang sangat besar ini berpotensi membahayakan stabilitas SoftBank sendiri. Investor Ganda pun mulai mempertanyakan apakah strategi ini akan membuahkan hasil atau justru menjadi bumerang.

    Pertaruhan SoftBank pada AI tidak hanya terbatas pada OpenAI. Perusahaan ini juga telah berinvestasi di berbagai perusahaan rintisan AI lainnya, menunjukkan keyakinan penuh bahwa teknologi ini akan menjadi fondasi ekonomi masa depan. Namun, dengan valuasi yang melonjak dan kekhawatiran akan Ancaman Kecerdasan Super, banyak pihak yang meragukan keberlanjutan model ini.

    Bagi investor dan pelaku pasar, pernyataan Son menjadi sinyal bahwa SoftBank tidak akan mundur dari perlombaan AI. Ini berarti arus modal besar akan terus mengalir ke sektor ini, terlepas dari risiko yang ada. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah keyakinan Son yang begitu besar ini akan terbayar, atau justru menjadi salah satu keputusan investasi paling berisiko dalam sejarah?

    Dengan skala investasi yang mencapai triliunan dolar, masa depan SoftBank kini terkait erat dengan kesuksesan AI. Jika visi Son benar, perusahaan ini akan menuai keuntungan yang tak terbayangkan. Namun, jika gelembung AI benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat menghancurkan tidak hanya bagi SoftBank, tetapi juga bagi seluruh ekosistem teknologi global.

    Pasar dan para pemangku kepentingan kini mencermati langkah selanjutnya dari Masayoshi Son. Apakah ia akan terus berpegang teguh pada visinya yang berani, atau akan ada perubahan strategi di tengah tekanan dari lembaga pemeringkat dan kekhawatiran pasar? Satu hal yang pasti: taruhannya belum pernah setinggi ini.

  • Perilaku Buruk Penumpang Robotaxi Meningkat di AS

    Perilaku Buruk Penumpang Robotaxi Meningkat di AS

    JBNews.id — Fenomena robotaxi yang semakin marak di Amerika Serikat memunculkan pola baru yang meresahkan: penumpang cenderung bersikap semena-mena karena tidak ada pengemudi manusia di dalam kendaraan. Laporan Bloomberg mengungkapkan bahwa pengguna layanan dari Waymo, Tesla, dan Zoox kerap meninggalkan kekacauan di dalam kabin, mulai dari tumpahan minuman, sisa makanan, hingga cairan tubuh seperti muntahan.

    Perilaku ini mencerminkan hilangnya rasa tanggung jawab sosial saat tidak ada figur otoritas di dalam kendaraan. Para penumpang merasa bebas melakukan apa pun tanpa konsekuensi langsung, menjadikan robotaxi sebagai “tempat sampah berjalan” bagi pengguna berikutnya.

    Dampak pada Sumber Daya Publik

    Fenomena ini tidak hanya merugikan perusahaan operator, tetapi juga membebani sumber daya publik. Di Austin, Texas, petugas darurat menerima begitu banyak laporan tentang penumpang yang tertidur di dalam robotaxi Waymo selama sembilan bulan pertama operasi, hingga mereka harus menciptakan kategori khusus untuk “sleepers” atau penumpang yang tertidur.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa robotaxi tidak hanya mengubah cara orang bepergian, tetapi juga memicu perilaku baru yang memerlukan respons dari aparat dan layanan darurat. Biaya pembersihan dan penanganan insiden semacam ini berpotensi menjadi beban tambahan bagi kota-kota yang mengadopsi teknologi tersebut.

    Robotaxi sebagai “Party Bus”

    Beberapa penumpang bahkan memanfaatkan ketiadaan pengemudi untuk mengubah robotaxi menjadi “party bus” atau kendaraan pesta. Pada April lalu, seorang pengemudi Tesla ditangkap setelah polisi menemukannya pingsan di balik kemudi—dalam mode self-driving—setelah menghabiskan wine cooler dan pizza sebelum tertidur.

    Kasus ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna menganggap robotaxi sebagai ruang pribadi yang tidak memiliki aturan, bukan sebagai layanan transportasi publik yang harus dihormati. Perilaku semena-mena ini berpotensi merusak citra industri robotaxi yang masih berjuang untuk mendapatkan kepercayaan publik dan regulasi yang mendukung.

    Masalah Pembersihan dan Desain

    Membersihkan kekacauan di dalam robotaxi bukanlah perkara mudah. Seperti yang dialami seorang penumpang Waymo pada Mei lalu, kendaraan tanpa pengemudi terkadang melaju pergi dalam hitungan detik setelah menurunkan penumpang—bahkan jika barang bawaan masih tertinggal di bagasi. Hal ini menyulitkan proses pembersihan karena kendaraan tidak bisa menunggu di tempat.

    Desain robotaxi yang tidak memiliki pengemudi juga berarti tidak ada staf yang bisa memantau kondisi kabin secara real-time. Perusahaan operator harus mengandalkan sensor dan kamera internal untuk mendeteksi kekacauan, namun sistem ini belum tentu efektif untuk menangani semua jenis insiden. Bloomberg mencatat bahwa pola ini semakin sering terjadi seiring bertambahnya jumlah robotaxi di jalanan AS.

    Implikasinya bagi industri ini jelas: tanpa pengawasan manusia, perilaku penumpang cenderung memburuk. Aturan Robotaxi yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk mengantisipasi masalah ini, termasuk sanksi bagi penumpang yang merusak kendaraan.

    Bagi pembaca di Indonesia yang belum memiliki layanan robotaxi, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Ketika teknologi otonom akhirnya tiba di Tanah Air, kesiapan regulasi dan kesadaran pengguna akan menjadi faktor krusial. Tanpa keduanya, masalah serupa berpotensi terulang di sini.

    Sementara itu, Tesla Robotaxi yang hanya mengoperasikan 59 unit menunjukkan bahwa skala industri ini masih sangat terbatas. Namun, dengan pertumbuhan yang terus berlanjut, pola perilaku penumpang ini perlu menjadi perhatian serius bagi regulator dan operator.

    Pada akhirnya, robotaxi menawarkan potensi besar dalam efisiensi transportasi, namun tanpa adanya norma sosial yang jelas, teknologi ini justru bisa menimbulkan masalah baru. Data dari Bloomberg dan laporan berbagai kota di AS menjadi bukti awal bahwa perilaku penumpang adalah tantangan yang tidak bisa diabaikan.

    Bagi kalangan industri dan regulator, temuan ini menegaskan perlunya pendekatan holistik—tidak hanya dari sisi teknis kendaraan, tetapi juga dari aspek perilaku pengguna dan kerangka hukum yang mengatur. Kota-kota yang ingin mengadopsi robotaxi harus siap dengan biaya tambahan untuk pengawasan dan pembersihan.

    Ilustrasi foto berwarna menampilkan mobil Waymo dengan latar belakang kota

  • NotebookLM Resmi Jadi Gemini Notebook, Integrasi AI Makin Dalam

    NotebookLM Resmi Jadi Gemini Notebook, Integrasi AI Makin Dalam

    JBNews.id — Google mengumumkan pada Kamis bahwa aplikasi pencatat berbasis kecerdasan buatan (AI) mereka, NotebookLM, resmi berganti nama menjadi Gemini Notebook. Meski demikian, aplikasi ini tetap akan menjadi produk mandiri meskipun Google berencana mengintegrasikannya lebih dalam ke seluruh ekosistem Gemini dan Google Search.

    Keputusan ini menandai langkah strategis Google dalam menyatukan lini produk AI mereka di bawah satu merek utama. Perubahan nama ini juga membawa serta pembaruan fitur yang signifikan, termasuk kemampuan untuk terhubung ke komputer cloud yang aman guna menulis dan mengeksekusi kode. Fitur tersebut sebelumnya telah diumumkan pada bulan lalu dan kini mulai digulirkan.

    Langkah rebranding ini menjadi bagian dari strategi lebih luas Google untuk memperkuat posisinya di pasar AI. Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan juga menghadapi tekanan regulasi dari berbagai pihak, termasuk Uni Eropa yang memaksa Google membuka akses Android dan Search untuk pesaing. Keputusan ini menunjukkan bagaimana Google tetap agresif mengembangkan produk AI di tengah dinamika regulasi global.

    Perjalanan dari Project Tailwind ke Gemini Notebook

    Google pertama kali memperkenalkan Gemini Notebook—yang saat itu masih bernama Project Tailwind—pada Mei 2023. Aplikasi ini kemudian dirilis secara luas beberapa bulan setelahnya. Selama dua tahun terakhir, Google terus menambahkan fitur-fitur baru untuk membantu pengguna mengorganisir dan memahami catatan mereka.

    Beberapa fitur unggulan yang telah ditambahkan antara lain kemampuan untuk meringkas catatan menjadi podcast AI, tayangan slide bernarasi, dan klip bergaya TikTok. Fitur-fitur ini dirancang untuk membuat proses review catatan menjadi lebih interaktif dan efisien. Google juga baru-baru ini mulai mengizinkan pengguna menghubungkan notebook mereka ke aplikasi Gemini.

    Dalam perkembangannya, Google juga memberikan solusi token AI agar perusahaan tak kaget biaya, menunjukkan komitmen perusahaan untuk membuat teknologi AI lebih transparan dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk pengguna bisnis.

    Fitur Baru: Koneksi ke Cloud Computer

    Sejalan dengan perubahan nama, Google meluncurkan pembaruan yang memungkinkan Gemini Notebook terhubung ke komputer cloud yang aman untuk menulis dan mengeksekusi kode. Fitur ini merupakan bagian dari update yang diumumkan bulan lalu dan mulai tersedia untuk pelanggan Google AI Ultra dan Workspace business.

    Bagi pengguna Pro di platform web, fitur ini akan hadir “dalam beberapa pekan mendatang,” demikian pernyataan resmi Google. Kemampuan ini secara signifikan memperluas fungsionalitas Gemini Notebook dari sekadar aplikasi pencatat menjadi alat produktivitas yang lebih canggih, terutama bagi pengguna teknis dan developer.

    Integrasi dengan AI Mode di Search

    Google juga mengungkapkan rencana untuk membawa notebook ke AI Mode, pengalaman berbasis chatbot di Google Search. Langkah ini menunjukkan ambisi Google untuk mengintegrasikan kemampuan pencatatan dan riset AI langsung ke dalam mesin pencari utamanya.

    Integrasi ini akan memungkinkan pengguna untuk mengakses dan mengelola notebook mereka langsung dari antarmuka pencarian, menciptakan pengalaman yang lebih seamless antara riset dan pencatatan. Ini sejalan dengan tren di mana raksasa teknologi berlomba-lomba mengintegrasikan AI generatif ke dalam produk inti mereka.

    Dalam konteks edukasi, Google juga telah memberikan peringatan kepada siswa tentang AI yang bukan sekadar jawaban instan. Filosofi ini tercermin dalam desain Gemini Notebook yang lebih menekankan pada pemahaman dan organisasi informasi, bukan sekadar menghasilkan konten secara otomatis.

    Implikasi bagi Pengguna

    Bagi pengguna individu, perubahan nama ini tidak akan mengubah fungsionalitas dasar aplikasi. Gemini Notebook tetap dapat diakses secara gratis dengan berbagai fitur yang sudah ada. Namun, integrasi yang lebih dalam dengan ekosistem Google—khususnya Gemini dan Search—akan membuka kemungkinan baru dalam cara pengguna mengelola informasi.

    Sementara itu, bagi pengguna bisnis dan profesional, fitur koneksi cloud computer menawarkan nilai tambah yang signifikan. Kemampuan untuk menulis dan mengeksekusi kode langsung dari notebook dapat mempercepat alur kerja teknis, terutama bagi tim yang bekerja dengan data dan analisis.

    Dengan rebranding ini, Google semakin menegaskan komitmennya untuk menjadikan Gemini sebagai pusat dari strategi AI perusahaan. Langkah ini juga memberikan sinyal jelas bahwa aplikasi pencatat berbasis AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan komponen integral dari ekosistem produktivitas modern.

  • iPad Mini Layar OLED Segera Rilis, Harga Diprediksi Naik

    iPad Mini Layar OLED Segera Rilis, Harga Diprediksi Naik

    JBNews.id — Apple dikabarkan akan meluncurkan iPad Mini dengan layar OLED pada Oktober 2026, menurut laporan terbaru dari Bloomberg’s Mark Gurman. Pembaruan ini disebut sebagai perubahan paling signifikan untuk lini Mini sejak desain ulang pada 2021. Kabar ini muncul di tengah kenaikan harga yang telah diterapkan Apple pada berbagai produknya, termasuk iPad Mini generasi saat ini yang kini lebih mahal US$100.

    Rumor mengenai iPad Mini OLED sebenarnya sudah beredar selama beberapa bulan terakhir. Gurman sebelumnya melaporkan tahun lalu bahwa perangkat ini akan datang dengan kenaikan harga. Pekan ini, ia juga mengonfirmasi bahwa harga AppleCare Plus untuk Mac dan iPad akan naik. Kenaikan harga iPad Mini kini semakin mungkin terjadi setelah Apple menaikkan harga di seluruh lini produknya bulan lalu.

    Kenaikan Harga Akibat Krisis RAM

    Menurut CEO Apple Tim Cook, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini merupakan respons terhadap kelangkaan RAM yang sedang berlangsung. Kondisi ini diperkirakan bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Akibatnya, iPad Mini OLED hampir pasti akan dibanderol lebih mahal dibanding pendahulunya. Keputusan Apple untuk menaikkan harga ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam menghadapi tekanan biaya komponen global.

    Kenaikan harga ini bukan hanya terjadi pada iPad Mini. Apple juga telah menaikkan harga untuk berbagai produk lain, termasuk Mac dan aksesori. Langkah ini menunjukkan bahwa Apple sedang berupaya mempertahankan margin keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi. Bagi konsumen, ini berarti harga perangkat Apple akan terus meningkat dalam waktu dekat.

    Jadwal Rilis dan Produk Lain

    Selain iPad Mini OLED, Gurman mengatakan Apple sedang merencanakan pembaruan untuk iPad Air dan iPad dasar yang dijadwalkan pada awal tahun depan. iPad dasar diperkirakan akan mendapatkan pembaruan minor dengan prosesor yang diperbarui, namun tanpa perubahan desain besar. Sementara itu, iPad Air juga disebut akan mendapatkan upgrade OLED di kemudian hari, dengan rumor sebelumnya menunjukkan bahwa upgrade tersebut bisa terjadi tahun depan.

    Gurman juga melaporkan bahwa pembaruan untuk iPad Pro dan Apple Pencil bisa hadir pada musim semi mendatang. Ini menunjukkan bahwa Apple sedang melakukan pembaruan besar-besaran pada lini tabletnya. Dengan hadirnya layar OLED, iPad Mini diharapkan dapat menawarkan kualitas tampilan yang lebih baik, dengan warna yang lebih akurat dan kontras yang lebih tinggi.

    Dampak bagi Konsumen

    Bagi konsumen yang menunggu iPad Mini terbaru, kabar ini berarti mereka harus bersiap dengan harga yang lebih tinggi. Kenaikan harga yang sudah terjadi pada iPad Mini saat ini menjadi indikasi bahwa model OLED akan jauh lebih mahal. Namun, peningkatan kualitas layar yang ditawarkan mungkin sebanding dengan biaya tambahan yang harus dibayar.

    Apple juga sedang menghadapi tantangan hukum terkait dugaan pencurian rahasia dagang oleh OpenAI. Gugatan Apple ini menambah kompleksitas bisnis perusahaan. Sementara itu, persaingan di pasar tablet semakin ketat dengan hadirnya berbagai produk dari kompetitor.

    Bagi pengguna yang ingin meng-upgrade perangkat mereka, penting untuk mempertimbangkan apakah fitur baru seperti layar OLED sebanding dengan kenaikan harga yang signifikan. Apple sendiri terus mengembangkan teknologi terbaru, termasuk Apple Neural Engine yang menjadi andalan dalam pemrosesan AI.

    Dengan jadwal rilis yang diperkirakan pada Oktober 2026, konsumen masih memiliki waktu beberapa bulan untuk mempersiapkan diri. Keputusan untuk membeli iPad Mini OLED atau tidak akan sangat bergantung pada preferensi pribadi dan anggaran yang tersedia.

    Implikasi bagi Pasar Tablet

    Peluncuran iPad Mini OLED diprediksi akan mengubah dinamika pasar tablet. Dengan layar yang lebih baik, Apple berharap dapat menarik lebih banyak konsumen yang menginginkan perangkat portabel dengan kualitas tampilan tinggi. Namun, kenaikan harga yang signifikan bisa menjadi hambatan bagi sebagian calon pembeli.

    Bagi para pengamat industri, langkah Apple ini menunjukkan bahwa perusahaan terus berinvestasi dalam teknologi layar untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar. Sementara itu, konsumen harus siap dengan harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan teknologi terbaru dari Apple.

    Kesimpulannya, iPad Mini OLED akan menjadi produk yang menarik namun mahal. Bagi yang menginginkan perangkat dengan layar terbaik, ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, bagi yang memiliki anggaran terbatas, mungkin perlu mempertimbangkan model lain atau menunggu penurunan harga di masa depan.

  • Musim Panas Ekstrem, Jangan Masukkan HP ke Kulkas

    Musim Panas Ekstrem, Jangan Masukkan HP ke Kulkas

    JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara memicu kebiasaan berbahaya: memasukkan ponsel ke dalam kulkas untuk mendinginkannya. Alih-alih menyelamatkan perangkat, tindakan ini justru menyebabkan kerusakan massal pada komponen internal akibat kondensasi dan thermal shock.

    Fenomena ini pertama kali mencuat di Inggris, di mana suhu yang melonjak tajam menyebabkan banyak perangkat elektronik mengalami overheating. Sejumlah warga Inggris nekat mengambil jalan pintas dengan memasukkan ponsel pintar dan tablet mereka ke dalam kulkas atau freezer. Namun, bukannya membuat ponsel jadi adem, kebiasaan ini justru membuat tempat perbaikan elektronik panen pelanggan.

    Jamie Farnell, seorang pemilik toko reparasi di kota Wem, Inggris, mengungkapkan kepada BBC bahwa belakangan ini tokonya kebanjiran pelanggan yang membawa perangkat dengan kerusakan akibat embun atau kelembapan di bagian komponen internal. Farnell meyakini kerusakan massal ini murni disebabkan oleh ulah pengguna yang mendinginkan ponsel atau tabletnya di dalam kulkas saat cuaca sedang terik.

    Mengerikannya lagi, pada puncak gelombang panas bulan lalu, sebuah iPad dilaporkan meledak di tokonya setelah seorang pelanggan membawanya dalam kondisi baterai yang sudah membengkak.

    Bahaya Kondensasi dan ‘Thermal Shock’

    Bagi banyak orang awam, memasukkan ponsel yang sedang menampilkan peringatan suhu tinggi ke dalam tempat dingin terdengar seperti solusi instan yang masuk akal. Tren ini kian marak setelah banyak video lifehack di media sosial yang mempromosikannya sebagai trik pintar yang praktis.

    Faktanya, trik tersebut sangat berisiko. Masalah terbesar yang mengintai adalah kondensasi. Ketika perangkat yang panas masuk ke dalam freezer, udara hangat dan lembap yang terperangkap di dalam dan di sekitar ponsel akan mendingin secara drastis. Saat udara tersebut turun di bawah titik embun, uap air akan mengembun dan menempel pada permukaan ponsel, lubang port pengisi daya, speaker, atau bahkan menyusup jauh ke balik casing.

    Risikonya justru semakin parah ketika ponsel yang sudah dingin dikeluarkan kembali ke suhu ruangan. Udara ruangan yang hangat akan berbenturan dengan perangkat yang dingin, memicu terbentuknya embun baru di seluruh permukaan—mirip dengan bulir-bulir air yang muncul di bagian luar gelas berisi es. Air yang terjebak di dalam perangkat inilah yang menjadi pemicu utama berbagai kerusakan fatal, mulai dari korosi hingga korsleting listrik.

    Selain kondensasi, ada pula ancaman thermal shock. Perubahan suhu yang terlalu ekstrem dan tiba-tiba dapat memberikan tekanan besar yang memicu retaknya layar, kaca, rusaknya segel perekat komponen, hingga merusak sel baterai secara permanen akibat paparan suhu beku.

    Mitos Usang yang Setara dengan ‘Trik Beras’

    Farnell menyamakan fenomena masuk kulkas ini dengan mitos lawas yang juga telanjur populer di masyarakat: merendam ponsel basah ke dalam tumpukan beras. Trik beras ini memang sangat digandrungi di era ponsel berbaterai lepasan (removable) yang belum dilengkapi fitur anti-air. Padahal, metode ini terbukti tidak efektif karena butiran beras tidak mampu menyerap cairan dari ruang internal perangkat yang tertutup rapat.

    Alih-alih kering, serpihan debu dan pati dari beras justru berisiko masuk dan menyumbat port pengisian daya serta speaker. Kesamaan antara kedua mitos ini adalah solusi instan yang justru memperparah masalah, bukan menyelesaikannya.

    Fenomena cuaca ekstrem global ini juga menjadi perhatian para ilmuwan. Sebuah studi bahkan meneliti kemungkinan mereduksi dampak El Niño dengan teknologi tertentu. Sementara itu, inovasi energi seperti matahari buatan China terus dikembangkan untuk menghadapi tantangan energi global.

    Apa Solusinya?

    Para raksasa teknologi seperti Apple dan Samsung secara resmi dan kompak menyarankan pengguna untuk membiarkan ponsel yang overheating mendingin secara alami. Cukup matikan layar, lepaskan casing, dan letakkan perangkat di lingkungan yang lebih sejuk, tidak terkena cahaya matahari secara langsung, serta memiliki sirkulasi udara yang baik—bukan malah menyimpannya di dalam kulkas apalagi freezer, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (16/7/2026).

    Bagi pengguna yang khawatir dengan kondisi perangkat di tengah cuaca panas, langkah-langkah pencegahan sederhana ini jauh lebih efektif dan aman. Jika ponsel sudah menunjukkan tanda-tanda overheating seperti peringatan suhu tinggi, performa melambat, atau layar redup, segera hentikan penggunaan dan biarkan perangkat beristirahat di tempat teduh.

    Implikasinya jelas: di tengah fenomena gelombang panas yang semakin sering terjadi, pemahaman yang benar tentang cara menangani perangkat elektronik menjadi semakin krusial. Kesalahan kecil seperti memasukkan ponsel ke kulkas bisa berakibat fatal, tidak hanya pada perangkat itu sendiri tetapi juga pada keselamatan pengguna. Baterai yang rusak akibat thermal shock berpotensi meledak, seperti yang terjadi pada kasus iPad di toko reparasi milik Farnell.

    Untuk pembaca di Indonesia, di mana suhu panas juga kerap menyengat, penting untuk selalu mengingat bahwa pendinginan alami adalah satu-satunya metode yang direkomendasikan oleh produsen. Jangan tergiur dengan video lifehack di media sosial yang menjanjikan solusi instan, karena risikonya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

  • Game Dear Passengers Viral Gegara Lelucon Epstein di Trailer

    Game Dear Passengers Viral Gegara Lelucon Epstein di Trailer

    JBNews.id — Game PC terbaru berjudul Dear Passengers menjadi viral setelah menyisipkan lelucon soal Jeffrey Epstein di trailer resminya, memicu kecaman luas dari komunitas gamer. Trailer berdurasi hampir dua menit itu menampilkan karakter bernama Epst.J yang dianggap banyak pihak sebagai sindiran terhadap pelaku kejahatan seksual tersebut.

    Dalam trailer pengenalan tersebut, karakter Epst.J terlihat berinteraksi dengan seorang penumpang yang perawakannya menyerupai Presiden Donald Trump. Alih-alih berinteraksi secara normal, Epst.J menampar karakter mirip Trump dan melemparkannya ke luar pesawat. Adegan ini menjadi pusat kontroversi karena dianggap tidak sensitif.

    Sejumlah gamer menyuarakan kekecewaan mereka di media sosial. “Kenapa sih ada nama pengguna seperti itu di TRAILER RESMI game ini?” tulis seorang pengguna X, dikutip Kamis (16/7/2026). Yang lain mempertanyakan, “Siapa yang mau memainkan game yang memasarkan dirinya dengan lelucon Epstein yang menjijikkan?”

    Nama Epst.J bagi sebagian orang dianggap sebagai akronim dari European Pilot Selection & Training, sebuah sekolah penerbangan ternama asal Belanda. Namun, bila digabung dengan huruf J, banyak gamer meyakini ini merujuk pada Jeffrey Epstein. Selain itu, karakter lain bernama PDaddy juga diduga merupakan referensi kepada P. Diddy yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

    Gamer lain menyebut humor dalam trailer tersebut sebagai “sok keren”. Menurut mereka, menyertakan referensi pelaku kejahatan seksual di dunia nyata justru mengalihkan perhatian dari pengantar game yang seharusnya. Video trailer Dear Passengers yang diunggah di X telah ditonton lebih dari 40 juta kali, mendapatkan 128 ribu likes, diretweet 10 ribu akun, dan dibagikan 42 ribu kali.

    Dear Passengers rencananya rilis di Steam pada 2026. Proses pengembangan dan penerbitannya dilakukan oleh Flexus. Game ini meminta pemain untuk mengantarkan seluruh penumpang ke tempat tujuan. Salah satu pemain menjadi pilot, sementara yang lain menjaga kabin tetap rapi, melayani penumpang, dan menangani situasi sebelum menjadi lebih buruk.

    Kontroversi ini mengingatkan pada fenomena di industri game di mana gamer meminta refund massal meski game mendapat ulasan positif. Hal serupa bisa terjadi pada Dear Passengers jika pengembang tidak segera merespons kritik.

    Data menunjukkan bahwa rilis game premium terus meningkat, namun sensitivitas konten menjadi faktor krusial. Pengembang harus memahami bahwa referensi kontroversial dapat merusak reputasi game yang baru dirilis.

    Fenomena ini juga menunjukkan kekuatan komunitas gamer dalam mengawasi konten. Dengan jutaan penonton trailer, tekanan publik bisa memengaruhi keputusan pengembang untuk mengubah konten atau tetap mempertahankannya.

    Bagi gamer yang mengikuti rilis game terbaru, kontroversi seperti ini menjadi pelajaran tentang pentingnya etika dalam pemasaran. Keputusan Flexus ke depan akan menentukan apakah Dear Passengers bisa pulih dari kontroversi ini atau justru semakin terpuruk.

    Game PC terbaru berjudul Dear Passengers tengah ramai diperbincangkan, karena menyisipkan lelucon soal Epstein di dalam trailernya.

    Implikasi dari kontroversi ini jelas: pengembang game harus lebih berhati-hati dalam memilih referensi untuk konten promosi. Apa yang dianggap lucu oleh sebagian orang bisa menjadi bumerang yang merusak reputasi game sebelum dirilis. Bagi gamer, ini adalah pengingat untuk selalu kritis terhadap konten yang dikonsumsi.

  • Samsung Galaxy Z Flip 8 Bocor, Desain Identik dengan Pendahulunya

    Samsung Galaxy Z Flip 8 Bocor, Desain Identik dengan Pendahulunya

    JBNews.id — Samsung dikabarkan tidak akan melakukan perubahan desain signifikan pada Galaxy Z Flip 8 mendatang. Berdasarkan bocoran gambar dan spesifikasi yang dibagikan oleh WinFuture dan dikutip 9to5Google, ponsel lipat terbaru Samsung ini hampir tidak bisa dibedakan dari Galaxy Z Flip 7 yang dirilis tahun lalu.

    Keputusan Samsung untuk mempertahankan desain yang sama menunjukkan strategi yang berbeda di tengah persaingan pasar ponsel lipat yang semakin ketat. Alih-alih fokus pada perubahan eksterior, Samsung tampaknya lebih memilih untuk meningkatkan performa internal perangkat.

    Spesifikasi Chipset Berubah Drastis

    Salah satu perubahan paling signifikan pada Galaxy Z Flip 8 terletak pada sektor prosesor. Menurut bocoran tersebut, Samsung tidak akan menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon seperti yang banyak diharapkan. Sebagai gantinya, Z Flip 8 akan ditenagai oleh chip buatan sendiri, yaitu Samsung Exynos 2600.

    Chip ini merupakan penerus dari Exynos 2500 yang digunakan pada Galaxy Z Flip 7. Langkah ini menandakan kepercayaan Samsung terhadap kemampuan chip bikinan sendiri untuk bersaing di segmen flagship. Keputusan ini juga sejalan dengan tren produsen lain yang mulai mengandalkan chip internal untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok eksternal.

    Peningkatan Pengisian Daya

    Satu-satunya peningkatan fitur yang menonjol selain prosesor adalah dukungan pengisian daya kabel 45W. Ini merupakan lompatan yang cukup besar dari generasi sebelumnya. Sebagai perbandingan, Galaxy Z Flip 7 hanya mendukung pengisian daya 25W. Peningkatan ini memungkinkan pengguna untuk mengisi baterai ponsel mereka jauh lebih cepat, sebuah fitur yang sangat dinantikan oleh penggemar seri Z Flip.

    Dengan kecepatan pengisian 45W, pengguna dapat mengisi daya dari 0 hingga penuh dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Hal ini menjadi nilai jual yang kuat, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang membutuhkan perangkat siap pakai dalam waktu singkat.

    Desain dan Opsi Warna Baru

    Meskipun desain secara keseluruhan tidak berubah, Samsung dikabarkan akan menawarkan opsi warna baru yang menarik. Selain warna “cream” putih dan “graphite” hitam yang sudah umum, Samsung akan memperkenalkan warna pale pink atau merah muda pucat. Warna ini diharapkan dapat menarik segmen pasar yang menginginkan tampilan lebih segar dan feminin.

    Bocoran desain ini juga diperkuat oleh teaser resmi Samsung dalam video promosi film Spider-Man: Brand New Day yang dirilis awal pekan ini. Dalam teaser tersebut, terlihat ponsel lipat yang tampilannya tidak bisa dibedakan dari Galaxy Z Flip 7, dan sesuai dengan gambar bocoran dari WinFuture.

    Layar dan Memori Tidak Berubah

    Menurut laporan WinFuture, spesifikasi layar Galaxy Z Flip 8 juga identik dengan pendahulunya. Ponsel ini akan memiliki layar utama Dynamic AMOLED 6,9 inci di bagian dalam dan layar sekunder Super AMOLED 4,1 inci di bagian luar. Tidak ada peningkatan resolusi, refresh rate, atau teknologi panel yang disebutkan.

    Dari segi memori, Samsung juga mempertahankan konfigurasi yang sama. Galaxy Z Flip 8 akan hadir dengan RAM 12GB dan penyimpanan internal 256GB. Meskipun tidak ada peningkatan kapasitas, konfigurasi ini masih tergolong standar untuk ponsel flagship di tahun 2026.

    Keputusan untuk tidak meningkatkan layar dan memori mungkin mengecewakan sebagian pengguna yang berharap ada lompatan besar. Namun, Samsung tampaknya lebih fokus pada optimalisasi perangkat lunak dan efisiensi chipset baru untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik.

    Jadwal Peluncuran Resmi

    Samsung diperkirakan akan mengumumkan Galaxy Z Flip 8 secara resmi bersama jajaran ponsel lipat terbarunya dalam acara Galaxy Unpacked pada 22 Juli 2026. Acara ini menjadi salah satu momen paling dinantikan di industri teknologi setiap tahunnya.

    Dalam acara tersebut, Samsung juga diperkirakan akan memperkenalkan Galaxy Z Fold 8 dan mungkin beberapa perangkat wearable baru. Strategi Samsung untuk mempertahankan desain Z Flip 8 menunjukkan bahwa perusahaan percaya formula saat ini sudah cukup matang dan hanya perlu penyempurnaan dari segi performa.

    Bagi pengguna yang sudah memiliki Galaxy Z Flip 7, mungkin tidak ada alasan kuat untuk melakukan upgrade ke Z Flip 8 kecuali mereka sangat membutuhkan kecepatan pengisian daya yang lebih cepat atau menginginkan performa chip Exynos terbaru. Namun, bagi pengguna yang masih menggunakan Z Flip 6 atau generasi sebelumnya, Z Flip 8 tetap menawarkan paket yang menarik dengan kombinasi desain ikonik dan performa yang ditingkatkan.

    Bocoran ini juga memberikan gambaran tentang arah pengembangan Samsung ke depannya. Dengan mengandalkan chip Exynos 2600, Samsung menunjukkan komitmennya untuk membangun ekosistem semikonduktor mandiri. Langkah ini bisa menjadi keuntungan kompetitif jangka panjang jika chip tersebut mampu memberikan performa yang sebanding atau bahkan melampaui pesaingnya dari Qualcomm.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai inovasi layar Samsung, Anda dapat membaca artikel tentang Teknologi Layar terbaru mereka. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan ponsel Samsung di segmen harga menengah, informasi mengenai Harga Terbaru Galaxy A27 bisa menjadi referensi.

    Perlu dicatat bahwa semua informasi ini masih berasal dari bocoran dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Samsung. Masyarakat masih harus menunggu hingga acara Galaxy Unpacked pada 22 Juli mendatang untuk mendapatkan kepastian mengenai spesifikasi dan fitur Galaxy Z Flip 8.

    Keputusan Samsung untuk tidak mengubah desain bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, penggemar setia seri Z Flip akan mendapatkan perangkat dengan identitas yang sudah mereka kenali. Di sisi lain, kompetitor seperti Oppo, Xiaomi, dan Motorola terus menghadirkan inovasi desain yang mungkin membuat Z Flip 8 terlihat kurang segar di mata konsumen.

    Yang jelas, persaingan di pasar ponsel lipat akan semakin menarik di paruh kedua tahun 2026. Dengan Galaxy Z Flip 8 yang mengusung chip Exynos 2600 dan pengisian daya 45W, Samsung berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar meskipun dengan perubahan yang relatif kecil dari segi desain.

    Bagi konsumen Indonesia, ketersediaan Galaxy Z Flip 8 biasanya mengikuti jadwal peluncuran global, meskipun mungkin ada sedikit penundaan untuk proses distribusi dan sertifikasi. Harga resmi untuk pasar Indonesia juga baru akan diumumkan setelah peluncuran global.

    Samsung juga dikenal sering memberikan program pre-order menarik untuk seri flagship mereka, termasuk Galaxy Z Flip. Program ini biasanya mencakup diskon, cashback, atau bonus aksesori yang membuat harga pembelian awal menjadi lebih menarik.

    Dengan segala bocoran yang beredar, publik kini tinggal menunggu konfirmasi resmi dari Samsung. Apakah Galaxy Z Flip 8 akan menjadi ponsel lipat terbaik di tahun 2026? Jawabannya akan terjawab pada 22 Juli mendatang.

  • Startup Eks SpaceX Kumpulkan Dana USD 115 Juta untuk Mars

    Startup Eks SpaceX Kumpulkan Dana USD 115 Juta untuk Mars

    JBNews.id — Startup konstruksi TerraFirma, yang didirikan dua mantan insinyur SpaceX, mengumumkan pendanaan sebesar USD 115 juta untuk mengembangkan infrastruktur di Mars dan Bumi. Putaran investasi ini dipimpin oleh Kleiner Perkins dan Bain Capital Ventures, menandai langkah besar dalam ekonomi luar angkasa yang mulai bertumbuh.

    TerraFirma, perusahaan yang berbasis di Austin, Texas, menggunakan kombinasi antarmuka termasuk controller Xbox untuk mengoperasikan alat berat konstruksi dari jarak jauh. Teknologi ini diklaim mampu memangkas biaya dan meningkatkan keselamatan pekerja di lokasi proyek yang ekstrem.

    “Ada defisit orang-orang yang mau mengambil semua teknologi hebat yang telah ada dan dibangun selama beberapa dekade terakhir, untuk membawanya ke industri konstruksi,” ujar CEO dan salah satu pendiri TerraFirma, Noah Schochet, dikutip dari CNBC, Kamis (16/7/2026).

    Pendanaan dan Ekspansi Besar-besaran

    Dana segar sebesar USD 115 juta akan digunakan perusahaan untuk merekrut 300 karyawan dalam setahun ke depan. TerraFirma juga berencana membangun pabrik baru di Texas dan pusat kendali misi untuk mendukung operasional jarak jauh mereka.

    Startup ini merupakan bagian dari jaringan perusahaan yang lahir dari ekosistem SpaceX. Mereka mencari peluang dari sektor ekonomi luar angkasa yang kini mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Startup terkenal lain yang didirikan mantan alumni SpaceX termasuk pembuat senjata hipersonik Castelion dan perusahaan roket Relativity Space.

    IPO bersejarah SpaceX bulan lalu, ditambah dorongan NASA untuk mendirikan pangkalan di Bulan, memicu optimisme di sektor ini. Para analis melihat potensi pemindahan industri ke Mars atau Bulan untuk membangun infrastruktur seperti panel surya dan data center luar angkasa.

    Dari Controller Xbox ke Mars

    Schochet dan Noah McGuinness, para pendiri perusahaan, bertemu sekitar sedekade lalu pada hari pertama kelas teknik di Universitas Princeton. Setelah lulus, keduanya bekerja di SpaceX dengan latar belakang berbeda.

    McGuinness bekerja pada program satelit pemerintah yang dikenal sebagai Starshield, sementara Schochet berkarier di Starlink sebelum beralih ke proyek Starship. Selama di SpaceX, tim berada di bawah tekanan konstan untuk membangun dan melakukan perluasan dengan cepat. Mereka terkadang harus bekerja dalam kondisi sulit dan menghadapi kendala infrastruktur dasar.

    “Kami membangun roket seukuran gedung pencakar langit dengan kecepatan satu roket per bulan, dan dari semua proses otomasi manufaktur massal tersebut, tidak ada satupun yang muncul di konstruksi,” kata Schochet.

    Pengalaman inilah yang memicu ide membawa kecepatan membangun ala SpaceX ke dalam industri konstruksi yang dinilai berjalan sangat lambat. Saat ini, sekitar separuh tim teknik TerraFirma merupakan mantan pekerja di SpaceX, Tesla, atau The Boring Company.

    Untuk saat ini, TerraFirma berfokus pada pembuktian teknologinya di Bumi. Proyek komersial terbaru mereka mencakup pembangunan sebuah arena olahraga dan gerai Starbucks. Perusahaan tersebut berencana ikut serta dalam tender proyek-proyek di Bulan pada masa depan.

    Dalam jangka panjang, ambisi TerraFirma tidak berhenti di Bumi. Mereka menargetkan pembangunan infrastruktur di Mars, sebuah visi yang sejalan dengan misi eksplorasi luar angkasa global. Teknologi pengoperasian alat berat dari jarak jauh yang mereka kembangkan kini menjadi fondasi untuk mewujudkan mimpi tersebut.

    Para pendiri TerraFirma melihat adanya celah besar antara inovasi teknologi di sektor kedirgantaraan dengan industri konstruksi tradisional. Dengan pengalaman mereka membangun roket dan satelit, Schochet dan McGuinness yakin dapat menjembatani kesenjangan tersebut.

    Model bisnis TerraFirma mengandalkan efisiensi operasional dan otomatisasi. Penggunaan controller Xbox sebagai antarmuka pengoperasian alat berat menunjukkan pendekatan disruptif mereka terhadap industri konstruksi konvensional.

    Seiring bertambahnya proyek luar angkasa baik dari sektor publik maupun swasta, permintaan akan infrastruktur di lingkungan ekstrem diprediksi akan meningkat. TerraFirma memposisikan diri sebagai penyedia solusi konstruksi untuk tantangan tersebut.

    Ke depannya, para pengamat industri melihat potensi besar bagi startup semacam TerraFirma untuk menjadi pemain kunci dalam ekonomi luar angkasa. Dengan pendanaan yang solid dan tim berpengalaman, perusahaan ini berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan ambisinya.

    Kisah TerraFirma juga menjadi contoh bagaimana pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti SpaceX dapat melahirkan inovasi di sektor lain. Fenomena serupa juga terjadi di industri lain, seperti 7 Karyawan OpenAI Donasi ke PAC Pro-Regulasi AI yang menunjukkan bagaimana para profesional teknologi berkontribusi pada kebijakan publik.

    Sementara itu, persaingan di industri konstruksi luar angkasa diprediksi akan semakin ketat. Beberapa perusahaan rintisan lain juga mulai melirik peluang serupa, meskipun belum ada yang memiliki pendanaan sebesar TerraFirma.

    Bagi para investor, TerraFirma menawarkan peluang investasi di persimpangan antara teknologi konstruksi dan eksplorasi luar angkasa. Dengan valuasi yang terus meningkat, perusahaan ini menjadi salah satu startup yang paling menarik perhatian di Silicon Valley.

    Meskipun ambisi jangka panjangnya adalah Mars, TerraFirma tetap fokus pada proyek-proyek komersial di Bumi untuk membuktikan kelayakan teknologinya. Strategi ini dianggap bijak oleh para analis karena memberikan pendapatan jangka pendek sambil mengembangkan kapabilitas untuk misi luar angkasa.

    Proyek pembangunan arena olahraga dan gerai Starbucks menjadi bukti bahwa teknologi TerraFirma dapat diaplikasikan pada proyek konstruksi konvensional. Ke depannya, perusahaan berencana memperluas portofolio proyeknya ke sektor industri dan infrastruktur.

    Kisah sukses TerraFirma juga menjadi inspirasi bagi para Mantan Bos PlayStation Kritik Keras Performa Steam Machine dan para profesional teknologi lainnya untuk merintis usaha sendiri di bidang yang mereka kuasai.

    Dengan pendanaan yang melimpah dan visi yang jelas, TerraFirma siap menjadi pemain utama dalam revolusi konstruksi antarplanet. Perusahaan ini membuktikan bahwa mimpi membangun infrastruktur di Mars bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.

    Bagi industri konstruksi global, kehadiran TerraFirma menjadi alarm bahwa era digitalisasi dan otomatisasi telah tiba. Perusahaan konstruksi tradisional harus beradaptasi atau tertinggal dalam persaingan global.

    Dalam jangka panjang, keberhasilan TerraFirma dapat membuka jalan bagi lebih banyak startup untuk memasuki sektor ekonomi luar angkasa. Ini akan menciptakan ekosistem baru yang menggabungkan teknologi canggih dengan kebutuhan infrastruktur di luar Bumi.

  • XPeng L03: EV Murah China Siap Invasi 60 Negara Global

    XPeng L03: EV Murah China Siap Invasi 60 Negara Global

    JBNews.id – XPeng, produsen kendaraan listrik asal China, resmi meluncurkan model global terbarunya, L03, yang akan dipasarkan di 60 negara di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia-Pasifik. Mobil ini menjadi senjata utama XPeng untuk merebut pangsa pasar massal dengan harga mulai €35.600 (sekitar $40.000), menjadikannya model termurah dalam jajaran produk mereka.

    Langkah ini menandai ambisi besar XPeng yang selama 12 tahun terakhir telah berevolusi dari pemain baru menjadi eksportir EV ke Norwegia pada 2020, dan kini memiliki portofolio komersial yang mencakup robot dan mobil terbang. Meski tidak masuk dalam 10 besar produsen EV China berdasarkan volume penjualan, XPeng justru membangun reputasi lebih kuat di luar negeri.

    Spesifikasi dan Fitur Unggulan XPeng L03

    XPeng memposisikan L03 sebagai kendaraan “beyond class” atau di luar kelasnya. Dengan harga yang kompetitif, mobil ini menawarkan spesifikasi yang sulit ditandingi kompetitor di segmen yang sama. Beberapa fitur unggulan yang dibawa sebagai standar di semua varian meliputi:

    • Jarak tempuh WLTP 320 mil (sekitar 515 km)
    • Pengisian cepat dari 10 hingga 80 persen dalam 20 menit
    • Atap kaca panorama
    • Kursi berpemanas, berpendingin, dan pijat
    • Lampu ambient 256 warna
    • Penutup speaker logam brushed
    • Koefisien drag 0,228 untuk efisiensi jarak tempuh
    • Parkir cerdas (smart parking)
    • Layar sentral 15,6 inci 2.5K
    • HUD 27 inci
    • Kontrol suara bertenaga AI
    • Google Maps terintegrasi

    Varian yang tersedia meliputi Standard Range, Long Range, AWD, dan Ultra. Performa akselerasi 0-60 mph bervariasi: 4,5 detik untuk varian tertinggi, dan 7,5 detik untuk varian dasar Standard Range. Dimensi mobil ini memiliki panjang 4.650 mm dengan konfigurasi lima kursi.

    Sistem Otonom dan Teknologi AI

    Dalam hal teknologi otonom, varian L03 selain Ultra dibekali Level 2 untuk kemampuan mengemudi otonom. Sementara varian Ultra ditingkatkan ke L2++ yang memungkinkan navigasi point-to-point hands-off generasi berikutnya. Teknologi ini rencananya akan hadir di Eropa pada 2027, memanfaatkan tiga chip AI Turing 7-nanometer milik XPeng. Aktivasi sistem ini cukup dilakukan melalui pembaruan over-the-air (OTA).

    Menariknya, XPeng memilih jalur “no lidar” untuk teknologi otonom, serupa dengan pendekatan Tesla pada Full Self-Driving (FSD). Xianming Liu, senior director of engineering XPeng, menegaskan bahwa peningkatan daya komputasi dan model yang semakin canggih, dikombinasikan dengan sistem kamera bawaan L03, sudah lebih dari cukup untuk menyaingi kompetitor yang menggunakan lidar. Namun, untuk otonomi Level 4 di masa depan, Liu mengakui bahwa meskipun varian Ultra memiliki kecerdasan untuk beroperasi pada level tersebut, mobil ini kekurangan perangkat keras yang memenuhi enam tingkat redundansi yang disyaratkan. Artinya, L03 tidak akan pernah bisa melampaui kemampuan L2++.

    Keputusan XPeng untuk tidak menggunakan lidar kontras dengan sebagian besar pesaing China seperti BYD, Zeekr, dan Nio yang justru mengadopsi teknologi tersebut. Perdebatan antara sistem berbasis kamera versus lidar masih terus berlangsung di industri otomotif global.

    Desain dan Persaingan di Pasar Global

    Secara visual, XPeng L03 memiliki kemiripan mencolok dengan Ferrari Luce dan Denza Z9 GT, meskipun ketiganya berada di segmen harga yang sangat berbeda: budget, premium, dan luxury. Fenomena konvergensi desain ini menarik perhatian, di mana tampilan eksterior tidak lagi secara jelas menunjukkan kelas harga sebuah mobil.

    Rafik Ferrag, head of creative design XPeng, menjelaskan bahwa saat ini teknologi dan elemen dekoratif yang dulu hanya dimiliki mobil mewah sudah bisa diakses oleh kendaraan entry-level. “Tujuan kami sebagai desainer adalah mencapai level tertinggi. Jika kami bisa terlihat sebagus Ferrari atau Bentley di mobil entry-level, kami akan melakukannya,” ujar Ferrag. XPeng sendiri memiliki keunggulan di bidang desain karena kepala desainnya adalah JuanMa López, mantan kepala desain eksterior Ferrari dari 2010 hingga 2018 yang terlibat dalam penciptaan sekitar 25 model, termasuk LaFerrari, SF90 Stradale, dan Monza SP.

    Meski demikian, Ferrari Luce dirancang oleh LoveFrom, agensi yang didirikan Jony Ive pada 2019 setelah hengkang dari Apple, bukan oleh López. Hal ini menunjukkan bahwa tren desain di industri otomotif global memang sedang mengalami konvergensi.

    XPeng juga tidak terlalu menonjolkan fakta bahwa di China, L03 dijual dengan nama Mona L03 sebagai bagian dari sub-brand budget Mona. Spesifikasi untuk versi global disebut telah disesuaikan, yang menjadi alasan perubahan nama tersebut. Interior L03 dinilai mengejutkan dengan kualitas “beyond class”, dilengkapi titik jangkar untuk kamera aksi dan klip magnetis untuk aksesori seperti lampu camping.

    Implikasi bagi Pasar Otomotif Global

    Kehadiran XPeng L03 dengan harga €35.600 dan segudang fitur premium menjadi tantangan serius bagi pemain mapan seperti Volkswagen ID.4. Strategi “beyond class” ini berpotensi mengubah ekspektasi konsumen terhadap apa yang bisa didapatkan dari mobil listrik di segmen budget. Dengan rencana ekspansi ke 60 negara, XPeng siap menjadi pesaing tangguh di pasar global.

    Bagi konsumen Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia-Pasifik, L03 menawarkan nilai lebih dengan teknologi otonom canggih dan fitur kenyamanan premium dengan harga terjangkau. Namun, keterbatasan pada sistem otonom dan pilihan teknologi “no lidar” menjadi pertimbangan tersendiri bagi calon pembeli yang mengutamakan keselamatan dan kemampuan otonom penuh di masa depan.

  • Gula Luar Angkasa Ditemukan, Bantu Ungkap Asal-Usul Kehidupan

    Gula Luar Angkasa Ditemukan, Bantu Ungkap Asal-Usul Kehidupan

    JBNews.id — Para astronom untuk pertama kalinya mendeteksi molekul gula bernama erythrulose di sebuah awan molekuler raksasa yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pekan ini ini membuka babak baru dalam upaya memahami bagaimana bahan-bahan kimia penyusun kehidupan pertama kali muncul di planet kita.

    Tim peneliti yang dipimpin oleh Izaskun Jiménez Serra menganalisis data dari teleskop radio di Spanyol untuk mengidentifikasi sidik jari molekul erythrulose melalui frekuensi gelombang mikro yang dihasilkannya saat berputar. Molekul berkarbon empat ini, yang di Bumi ditemukan secara alami pada beberapa buah dan juga digunakan dalam losion penyamak kulit, kini terkonfirmasi berada di lingkungan antarbintang yang ekstrem.

    Molekul gula merupakan komponen esensial bagi kehidupan. Mereka memberi energi pada sel dan menjadi bagian integral dari RNA serta DNA. Namun, para ilmuwan masih belum mengetahui bagaimana molekul-molekul ini terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar di Bumi purba. Salah satu hipotesis yang kuat adalah bahwa sebagian molekul tersebut tidak berasal dari Bumi, melainkan mencapai planet kita melalui meteorit.

    Laboratorium Kimia Raksasa di Pusat Galaksi

    Untuk studi terbaru ini, para peneliti memfokuskan pengamatan pada awan molekuler G+0.693−0.027. Lokasi ini bukanlah pilihan acak. G+0.693−0.027 dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya molekul di seluruh Bima Sakti. Terletak di dekat lubang hitam supermasif di pusat galaksi, tabrakan dengan awan lain tampaknya telah mengubah kawasan ini menjadi pabrik kimia yang sesungguhnya.

    Sebelumnya, para peneliti telah mendeteksi keberadaan alkohol, aldehida, urea, etanolamina, hidroksilamina, dan puluhan molekul organik kompleks lainnya di wilayah yang sama. Kini, gula resmi bergabung dalam daftar panjang molekul prebiotik yang ditemukan di ruang angkasa.

    Gagasan bahwa beberapa gula mungkin berasal dari luar angkasa mendapatkan momentum kuat pada Desember 2025. Saat itu, para ilmuwan mengkonfirmasi bahwa asteroid Bennu mengandung ribosa dan monosakarida lainnya. Ribosa adalah gula fundamental yang membentuk tulang punggung RNA. Studi baru ini mengungkap jenis gula antarbintang lainnya, kali ini dari keluarga ketosa. Di Bumi, erythrulose ditemukan dalam losion penyamak kulit dan buah raspberry.

    Data yang digunakan berasal dari dua teleskop radio yang berlokasi di Spanyol. Satu berada di Observatorium Yebes, timur laut Madrid, sementara yang lainnya berada di Institut Radio Astronomi dalam Rentang Milimeter, yang terletak di dekat resor ski di pegunungan Sierra Nevada.

    Monosakarida Antarbintang Pertama yang Terkonfirmasi

    “Keberadaan berbagai molekul organik prebiotik di meteorit dan asteroid sudah diketahui dengan baik, termasuk beberapa monosakarida, tetapi asal-usulnya masih belum jelas,” ujar Jesús R. Flores, profesor di Universitas Vigo yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada Science Media Center Spanyol. “Salah satu kemungkinan yang jelas adalah bahwa molekul-molekul itu terbentuk, pada awalnya, di apa yang disebut medium antarbintang. Namun, hingga saat ini, belum ada sakarida sejati yang terdeteksi di sana. Erythrulose, sebuah ketomonosakarida berkarbon empat, adalah yang pertama.”

    Pernyataan Flores menegaskan signifikansi penemuan ini. Ini adalah lompatan besar dalam pemahaman tentang molekul-molekul di ruang angkasa. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa keberadaan gula di luar angkasa bukanlah bukti adanya kehidupan di luar Bumi, juga tidak secara langsung menjelaskan asal-usul kehidupan di planet kita atau asal-usul RNA.

    Apa yang ditunjukkan oleh semakin banyak studi adalah bahwa blok bangunan kimia yang terkait dengan kimia prebiotik juga dapat ditemukan di ruang angkasa. Studi baru ini mendemonstrasikan, untuk pertama kalinya, bahwa monosakarida antarbintang dapat disintesis secara alami. Meskipun erythrulose sendiri bukanlah gula yang esensial bagi kehidupan, molekul ini dapat diubah menjadi blok bangunan yang mungkin esensial.

    Penemuan ini membuka jalur penelitian baru tentang bagaimana molekul organik kompleks terbentuk di awan molekuler raksasa. Ke depannya, para astronom akan mencari molekul gula yang lebih kompleks dan langsung terkait dengan RNA dan DNA di wilayah yang sama. Temuan ini juga memperkuat teori bahwa bahan-bahan kimia dasar kehidupan mungkin lebih umum tersebar di alam semesta daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    Implikasinya bagi masyarakat umum sangat mendasar: pemahaman kita tentang asal-usul kehidupan terus berkembang, dan bukti terbaru menunjukkan bahwa Bumi mungkin bukan satu-satunya tempat di mana molekul-molekul ini terbentuk. Penelitian seperti ini, yang menggabungkan astronomi dan biologi, perlahan-lahan merangkai teka-teki tentang bagaimana kehidupan bisa dimulai di planet kita.

    Kisah ini pertama kali muncul di WIRED en Español dan telah diterjemahkan dari bahasa Spanyol.