Author: Hamzah Nurhamzah

  • Eropa Mulai Tinggalkan Teknologi AS demi Kedaulatan Digital

    Eropa Mulai Tinggalkan Teknologi AS demi Kedaulatan Digital

    JBNews.id — Gelombang peralihan dari teknologi Amerika Serikat (AS) ke solusi open source dan alternatif lokal semakin meluas di Eropa. Sebuah analisis WIRED mendokumentasikan puluhan contoh nyata perusahaan, pemerintah, LSM, dan institusi pendidikan yang meninggalkan produk raksasa teknologi AS, dan angka ini kemungkinan hanya puncak gunung es.

    Langkah ini didorong oleh kebijakan agresif pemerintahan Trump yang dinilai menyerang hukum internasional dan prinsip demokrasi. “Kebijakan agresif oleh pemerintahan Trump, yang menyerang hukum internasional, serta Uni Eropa dan prinsip-prinsip demokrasi, telah menyebabkan beberapa peringatan,” ujar Marietje Schaake, non-resident fellow di Stanford University’s Cyber Policy Center dan mantan anggota Parlemen Eropa. Gerakan ini bersifat luas dan terus berkembang.

    Lembaga Pemerintahan Paling Aktif Beralih

    Pekan lalu, Komisi Eropa meluncurkan rencana jangka panjang resmi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS. Parlemen Eropa telah mengganti mesin pencari default di perangkat mereka dari Google ke alternatif Prancis, Qwant. Ribuan pekerja di pemerintahan Prancis kini menggunakan perangkat lunak kantor open source buatan sendiri yang disebut LaSuite, sebagai upaya untuk “membebaskan diri” dari ketergantungan pada perusahaan teknologi Amerika.

    Sebuah penawaran dokumen open source dari lebih dari selusin perusahaan teknologi Eropa, bernama Euro-Office, akan segera diluncurkan. Kota-kota di Belanda, Prancis, dan Jerman secara aktif meninggalkan Microsoft Office dan Google Docs. Tidak hanya perangkat lunak produktivitas, pemerintah Belanda juga memindahkan kode mereka dari Github milik Microsoft ke repositori sendiri.

    Finlandia memutuskan untuk tidak memindahkan data pemilunya ke layanan cloud Amazon. Organisasi di balik domain .be Belgia juga mengumumkan akan meninggalkan AWS. Sementara itu, Eurosky diciptakan sebagai alternatif interoperabel untuk Bluesky pada Protokol AT yang mendasari kedua jejaring sosial tersebut. WIRED mengumpulkan semua contoh publik ini dalam sebuah linimasa.

    Faktor Pemicu Kedaulatan Digital

    Meskipun banyak rencana “kedaulatan digital” sudah ada sebelum awal masa jabatan kedua Trump, sanksi AS terhadap pejabat yang terkait dengan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sering disebut sebagai pemicu utama percepatan perubahan. Mahkamah Pidana Internasional sendiri akhirnya meninggalkan teknologi Microsoft.

    Kekhawatiran utama Eropa lainnya meliputi: pemerintah dan perusahaan tidak memiliki kendali atas data mereka sendiri; hubungan internasional yang berubah; ketergantungan pada sejumlah kecil perusahaan teknologi; potensi akses data berdasarkan CLOUD Act dan FISA AS; serta hubungan yang semakin erat antara perusahaan Big Tech dan pemerintahan Trump. “Warga negara, perusahaan, dan organisasi memiliki energi untuk mengambil alih masa depan digital mereka sendiri,” kata Schaake. “Terlepas dari kepentingan miliarder serta kebijakan Trump.”

    Tantangan dan Realita di Lapangan

    Meskipun ada antusiasme, melepaskan sepenuhnya koneksi Eropa ke teknologi AS kemungkinan adalah tugas yang mustahil. “Perusahaan yang berbasis di AS terus mendominasi hampir setiap lapisan tumpukan digital Eropa,” demikian bunyi laporan Parlemen Eropa baru-baru ini. Mulai dari komputasi awan dan perusahaan kecerdasan buatan hingga keamanan siber dan sistem operasi seluler, Eropa—dan sebagian besar dunia—terjalin erat dengan perusahaan teknologi AS.

    Langkah-langkah di Eropa juga berisiko memperkeruh hubungan yang sudah rapuh dengan pejabat pemerintahan Trump, yang telah mengkritik undang-undang teknologi digital Eropa yang ketat. Namun, meskipun demikian, pergeseran di Eropa sedang berlangsung. Seperti yang baru-baru ini dikatakan seorang menteri di negara bagian Bavaria, Jerman: “Kami tidak lagi punya waktu untuk berdiskusi murahan tentang pentingnya kedaulatan digital—mengingat situasi geopolitik, kami harus beralih dari bicara ke tindakan.”

    Bagi pengguna dan pelaku bisnis di Indonesia, tren ini menjadi pengingat akan pentingnya mengelola infrastruktur digital secara mandiri. Peristiwa di Eropa menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada satu atau dua negara penyedia teknologi bisa menjadi risiko strategis. Pemerintah dan perusahaan di Indonesia dapat mengambil pelajaran dari langkah-langkah kedaulatan digital yang diambil Eropa untuk mulai mempertimbangkan pengembangan ekosistem teknologi lokal yang lebih tangguh dan independen.

  • Starlink Tembus 12 Juta Pelanggan, Elon Musk Siapkan Satelit Generasi Baru

    Starlink Tembus 12 Juta Pelanggan, Elon Musk Siapkan Satelit Generasi Baru

    JBNews.id — Layanan internet satelit milik SpaceX, Starlink, baru saja mencatatkan pencapaian luar biasa dengan menembus angka 12 juta pelanggan aktif yang tersebar di lebih dari 160 negara dan wilayah. Namun, bagi sang CEO Elon Musk, ini baru permulaan dari ambisi besar perusahaan antariksanya.

    Melalui cuitan terbarunya di platform X, Musk membeberkan rencana kehadiran satelit Starlink V3. Ia mengklaim satelit generasi ketiga ini akan menawarkan kapasitas bandwidth 10 kali lipat lebih besar dibandingkan pendahulunya, dan akan diluncurkan ke luar angkasa dengan intensitas 10 kali lebih sering.

    “Secara efektif, ini akan menghasilkan total bandwidth yang tersedia lebih dari 100 kali lipat dibandingkan apa yang memungkinkan saat ini,” sesumbar Musk.

    Sebagai catatan, hingga pertengahan Mei lalu, tercatat ada lebih dari 10.000 satelit aktif Starlink yang telah mengorbit Bumi.

    Pangkas Latensi untuk Era AI dan Robotika

    Selain menjanjikan internet yang jauh lebih ngebut, Musk menyebut ketinggian orbit satelit Starlink V3 akan diturunkan secara signifikan dari 550 km menjadi 350 km. Penurunan ketinggian ini diyakini mampu memangkas latensi (jeda waktu jaringan) hingga setengahnya.

    Peningkatan bandwidth dan pengurangan latensi ini diyakini menjadi batu loncatan krusial untuk era komunikasi masa depan. Hal ini diungkapkan Musk saat berdiskusi dengan CEO JP Morgan, Jamie Dimon, dalam presentasi penawaran umum perdana (IPO) perusahaannya.

    “Masa depan kecerdasan buatan (AI) dan robotik sebenarnya akan menuntut ketersediaan bandwidth yang jauh lebih besar daripada yang kita gunakan sekarang,” ungkap miliarder eksentrik tersebut.

    Mesin Uang Menuju Rekor IPO Terbesar

    Starlink terbukti menjadi tulang punggung utama bisnis SpaceX ke depannya. Berdasarkan dokumen regulasi terbaru, divisi internet satelit ini menyumbang 60% dari total pendapatan SpaceX yang mencapai USD 18,7 miliar (sekitar Rp 306 triliun) pada tahun 2025 lalu.

    Dengan rencana melipatgandakan bandwidth, SpaceX optimistis dapat menarik lebih banyak pelanggan dan mencetak pemasukan yang lebih masif. Kondisi finansial yang kuat ini menjadi modal penting bagi SpaceX yang bersiap melantai di bursa saham.

    Awal pekan ini, SpaceX menetapkan harga IPO sebesar USD 135 per lembar saham. Perusahaan akan menawarkan 555,6 juta lembar saham, yang membuat valuasi SpaceX melonjak hingga angka fantastis USD 1,76 triliun.

    Jika berjalan mulus, SpaceX akan meraup dana segar sekitar USD 75 miliar dan mencetak rekor IPO paling sukses dalam sejarah pasar modal. Proyeksi ini semakin mengukuhkan posisi SpaceX IPO sebagai salah satu momen paling dinantikan di dunia investasi.

    Dibayangi Protes dan Tantangan Teknis

    Meski target bisnisnya terlihat cerah, SpaceX masih harus menghadapi sejumlah rintangan serius. Perusahaan terus menerima hujan kritik dan keluhan dari masyarakat, kelompok pencinta lingkungan, hingga para astronom.

    Mereka menyoroti masalah polusi cahaya di langit malam akibat ribuan satelit yang memantulkan cahaya matahari, serta kekhawatiran akan overpopulasi orbit Bumi yang bisa memicu tabrakan beruntun sampah antariksa.

    Selain itu, secara teknis, mengirim ribuan satelit ke luar angkasa secara berkala tetap menyimpan risiko kegagalan peluncuran roket yang tidak bisa diprediksi, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (8/6/2026).

    Di sisi lain, ambisi besar Musk di sektor manufaktur juga mendapat sorotan. Sebelumnya, CEO TSMC Sindir rencana pabrik chip Musk dengan nada skeptis, menambah daftar tantangan yang harus dihadapi pengusaha tersebut.

    Meskipun demikian, pencapaian 12 juta pelanggan Starlink menunjukkan bahwa layanan internet satelit ini semakin diterima secara global. Dengan persiapan satelit generasi baru dan momentum IPO yang kuat, SpaceX tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mendominasi pasar konektivitas global.

    Sementara itu, spekulasi tentang langkah bisnis Musk selanjutnya terus berhembus. Beberapa analis bahkan memperkirakan akuisisi Intel bisa menjadi strategi berikutnya untuk memperkuat ekosistem teknologi Musk secara vertikal.

    Bagi pengguna internet di Indonesia, perkembangan Starlink menjadi angin segar. Dengan kapasitas yang terus berlipat ganda, layanan ini berpotensi menjadi solusi konektivitas di daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur konvensional.

  • Krisis Chip AI Masih Panjang, Bos TSMC Sinyalkan Kenaikan Harga

    Krisis Chip AI Masih Panjang, Bos TSMC Sinyalkan Kenaikan Harga

    JBNews.id — CEO TSMC, C.C. Wei, memberikan peringatan keras bahwa krisis dan kelangkaan chip kecerdasan buatan (AI) secara global diperkirakan akan bertahan selama beberapa tahun ke depan. Dalam rapat pemegang saham tahunan, Wei secara gamblang menyatakan bahwa perusahaannya tidak akan mampu memenuhi permintaan pelanggan yang membeludak dan memberi sinyal kuat akan menaikkan harga chip.

    Pernyataan ini menjadi pukulan telak bagi industri teknologi yang tengah bergantung pada pasokan semikonduktor untuk memenuhi ambisi besar di era AI. TSMC, sebagai pabrikan semikonduktor kontrak terbesar di dunia, berada di pusaran booming perangkat keras AI. Raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, AMD, dan Broadcom sangat bergantung pada fasilitas pabrik asal Taiwan ini. Setiap kali perusahaan-perusahaan itu membakar miliaran dolar untuk membangun pusat data AI, beban produksinya selalu jatuh ke pundak TSMC.

    “Butuh waktu yang sangat lama sebelum kami bisa memenuhi permintaan pelanggan,” ungkap Wei dalam ajang tersebut. Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa tekanan pasokan tidak hanya berasal dari keterbatasan kapasitas pabrik (wafer capacity), tetapi juga telah merembet ke rantai pasokan lain yang lebih luas.

    Masalah Rantai Pasokan Semakin Kompleks

    Menurut Wei, kemacetan suplai kini telah meluas ke berbagai sektor pendukung, mulai dari vendor alat produksi, pasokan listrik, hingga fasilitas pengemasan tingkat lanjut (advanced packaging). Jika TSMC ingin memproduksi lebih banyak chip, seluruh ekosistem industri juga harus bisa mengejar. Hal ini menunjukkan bahwa krisis chip AI bukanlah masalah yang bisa diselesaikan secara instan, melainkan membutuhkan koordinasi dan investasi besar-besaran dari seluruh rantai pasokan global.

    Kondisi ini memperkuat analisis bahwa industri teknologi masih akan menghadapi tekanan pasokan yang signifikan dalam waktu dekat. Dampaknya sudah mulai terasa di pasar global, terutama pada komponen memori seperti DRAM, NAND, dan HBM yang ikut langka akibat nafsu besar industri AI terhadap hardware.

    Sinyal Kenaikan Harga Chip

    Selain peringatan soal kelangkaan, pernyataan Wei yang paling disorot pasar adalah rencana kenaikan harga. Menyusul biaya komponen yang terus membengkak, Wei menyebut TSMC “ingin” menaikkan tarif ke pelanggannya. Meski demikian, ia berjanji kenaikannya tidak akan sedrastis dan semendadak yang dilakukan para produsen memori.

    Efek domino dari kenaikan harga ini diprediksi akan berimbas pada konsumen akhir. Ujung-ujungnya, harga berbagai perangkat elektronik yang dibeli konsumen, mulai dari kartu grafis (GPU) hingga laptop, menjadi semakin mahal. Hal ini menjadi kabar buruk bagi para gamer dan pengguna teknologi yang sudah lama menantikan harga komponen yang lebih terjangkau.

    Proyek Raksasa di AS Tersendat

    TSMC sebenarnya tidak tinggal diam melihat krisis ini. Perusahaan telah menggelontorkan investasi super fantastis senilai USD 165 miliar di Amerika Serikat, yang mencakup pembangunan pabrik baru di Arizona, fasilitas pengemasan, hingga pusat riset. Namun, Wei membawa realita pahit bahwa memenuhi kebutuhan pelanggan AS dengan produksi di tanah Amerika membutuhkan waktu yang sangat lama.

    Target awal TSMC untuk memproduksi 30% dari kapasitas cip canggih (2nm ke bawah) di AS tampak semakin sulit dicapai. Kendala utamanya adalah keterlambatan izin lingkungan hidup dan krisis tenaga kerja lokal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun investasi sudah digelontorkan, hambatan regulasi dan sumber daya manusia masih menjadi tantangan besar dalam upaya diversifikasi produksi chip global.

    Ancaman Gelembung AI

    Meski krisis pasokan diprediksi akan berlangsung lama, ada satu pengecualian besar yang harus diperhatikan. Semua kekacauan suplai ini mengasumsikan bahwa tren belanja AI akan terus meroket. Jika hype AI ini ternyata hanyalah bubble (gelembung) yang tinggal menunggu waktu untuk pecah, permintaan chip bisa anjlok dalam sekejap dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Namun, selama skenario terburuk itu belum terjadi, Wei meyakini krisis dan kelangkaan chip AI ini jalan ceritanya masih akan sangat panjang. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi para pelaku industri bahwa pasar semikonduktor saat ini sangat bergantung pada momentum investasi AI yang belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

    Bagi konsumen di Indonesia, situasi ini berarti harga perangkat elektronik seperti GPU dan laptop gaming kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Para penggemar teknologi yang menantikan produk baru seperti konsol game atau komponen PC harus bersiap dengan harga yang lebih mahal dan ketersediaan yang terbatas. Sementara itu, pemanfaatan teknologi AI di berbagai sektor, termasuk olahraga, terus berkembang dan mendorong permintaan chip semakin tinggi.

    Di sisi lain, proyek infrastruktur AI seperti pusat data juga memicu dampak lingkungan yang perlu diantisipasi. Lonjakan konsumsi listrik dan air untuk mendinginkan server menjadi isu tersendiri yang harus dikelola dengan baik. Industri game juga merasakan dampaknya, dengan jadwal rilis game baru yang mungkin tertunda akibat kelangkaan komponen.

    Implikasi dari krisis ini sangat luas. Bagi konsumen, harga perangkat elektronik diprediksi akan terus meningkat. Bagi pelaku bisnis, rantai pasokan yang tidak stabil memaksa mereka untuk melakukan diversifikasi sumber produksi. Sementara bagi para pengamat industri, pertanyaan terbesarnya adalah kapan gelembung AI ini akan pecah dan apa dampaknya terhadap pasar semikonduktor global.

  • Telkom Gelar RUPST Minta Restu Buyback Rp4 Triliun

    Telkom Gelar RUPST Minta Restu Buyback Rp4 Triliun

    JBNews.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin (8/6/2026) dengan agenda utama meminta persetujuan buyback saham senilai maksimal Rp4 triliun dan perubahan susunan pengurus perseroan.

    Berdasarkan materi pemanggilan RUPST, aksi korporasi buyback tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Langkah ini juga dipandang sebagai upaya memberikan dukungan terhadap harga saham TLKM yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan seiring sentimen pasar dan rotasi investasi di sektor teknologi serta telekomunikasi.

    Selain buyback, Telkom memasukkan agenda perubahan susunan pengurus perseroan yang mencakup jajaran direksi maupun komisaris. Perubahan ini menjadi salah satu agenda yang paling dinanti pemegang saham mengingat Telkom saat ini tengah menjalankan berbagai inisiatif strategis, mulai dari optimalisasi bisnis data center, pengembangan infrastruktur digital, hingga restrukturisasi anak usaha.

    Silmy Karim yang menjabat sebagai Komisaris Telkom kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan pemerasan dan pungli di lingkungan Ditjen Imigrasi, Kementerian Keuangan. Terkait hal ini, SVP Corporate Secretary Telkom Indonesia, Jati Widagdo, mengatakan pihaknya mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam kasus tersebut.

    “Perseroan selalu menjunjung asas praduga tak bersalah dan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan dan mendukung penegakan hukum sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku,” ungkap Jati dikutip dari detikfinance.

    Telkom Indonesia juga menyatakan sepenuhnya menghormati proses hukum yang berjalan. Dalam RUPST kali ini, pemegang saham akan memberikan persetujuan atas seluruh agenda yang diajukan, termasuk buyback dan perubahan pengurus.

    Aksi buyback senilai Rp4 triliun ini merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif kepada pasar bahwa manajemen percaya pada fundamental perusahaan jangka panjang. Telkom saat ini tengah mempercepat berbagai inisiatif strategis seperti layanan internet bisnis dan monitoring jaringan industri.

    Di tengah tekanan harga saham TLKM, buyback menjadi instrumen untuk menstabilkan harga dan memberikan imbal hasil langsung kepada pemegang saham yang tidak menjual sahamnya. Perseroan juga terus mengembangkan bisnis data center melalui ekspansi NeutraDC di Batam, serta meluncurkan inisiatif AIcosystem untuk menggarap peluang kecerdasan buatan di industri.

    Perubahan susunan pengurus menjadi krusial karena Telkom saat ini tengah menjalankan transformasi besar-besaran. Perombakan di jajaran direksi dan komisaris diharapkan dapat membawa perspektif baru dalam mengakselerasi pertumbuhan bisnis digital. Kondisi ini juga menjadi perhatian para pemegang saham yang ingin memastikan tata kelola perusahaan berjalan baik.

    Dengan buyback Rp4 triliun dan perubahan pengurus, RUPST Telkom 2026 menjadi momen penting bagi arah strategis perusahaan ke depan. Pemegang saham diharapkan memberikan restu agar langkah-langkah ini dapat segera dieksekusi untuk memperkuat posisi Telkom di tengah persaingan industri telekomunikasi dan digital yang semakin ketat.

    Telkom juga terus berupaya mempertemukan regulator dan industri dalam membangun kedaulatan digital Indonesia. Inisiatif-inisiatif strategis ini membutuhkan dukungan penuh dari pemegang saham melalui RUPST.

    Implikasinya, pemegang saham yang tidak ikut serta dalam buyback akan mendapatkan manfaat dari berkurangnya jumlah saham beredar, yang berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS). Sementara itu, perubahan pengurus diharapkan membawa penyegaran dalam strategi perusahaan, terutama dalam menghadapi tantangan industri telekomunikasi yang terus berubah.

  • AI Mulai Ciptakan AI Lebih Canggih, Ancaman Kecerdasan Super

    AI Mulai Ciptakan AI Lebih Canggih, Ancaman Kecerdasan Super

    JBNews.id — Model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru dari OpenAI kini sedang dirancang oleh AI lain, bukan oleh insinyur manusia. Fenomena ini menandai langkah awal menuju era kecerdasan super buatan (Artificial Superintelligence/ASI) yang diprediksi akan tiba dalam dua tahun ke depan.

    Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh CEO SoftBank, Masayoshi Son, dalam wawancara dengan CNBC. SoftBank merupakan salah satu investor teknologi terbesar sekaligus pemegang saham utama OpenAI. Son mengaku telah berdiskusi langsung dengan CEO OpenAI, Sam Altman, dan para insinyur perusahaan tersebut perihal perkembangan terbaru ini.

    “Hal itu juga akan terjadi pada semua model besar lainnya,” ujar Son. Ia menambahkan bahwa ke depannya, insinyur manusia tidak akan lagi cukup cerdas untuk merancang model generasi berikutnya. “Begitu hal tersebut terjadi, model AI akan menciptakan model AI berikutnya dan model tersebut akan menjadi jauh lebih cerdas secara eksponensial dibandingkan kita semua. Itulah yang disebut kecerdasan super.”

    Fenomena ini pertama kali terkonfirmasi pada Februari lalu ketika OpenAI menyatakan bahwa GPT-5.3-Codex merupakan model pertama mereka yang berperan penting dalam menciptakan dirinya sendiri. Seorang juru bicara OpenAI menolak berkomentar mengenai model yang belum dirilis, namun menegaskan bahwa perusahaan telah memanfaatkan AI dalam berbagai proses pengembangan modelnya.

    Prediksi Waktu Kedatangan Kecerdasan Super

    Konsep ASI sendiri bukanlah hal baru. Pada tahun 2024, Masayoshi Son mendeskripsikan ASI sebagai AI yang 10.000 kali lipat lebih cerdas daripada manusia. Kala itu, ia memprediksi ASI akan hadir dalam 10 tahun. Namun kini, Son mengakui bahwa perkiraan tersebut sengaja dibuat konservatif agar publik tidak terkejut.

    “Di benak saya, saya sebenarnya berpikir itu akan terjadi dalam empat tahun, bukan 10 tahun. Kini, saya berani mengatakan era tersebut akan tiba dalam dua tahun ke depan,” ungkap Son. Pernyataan ini menunjukkan percepatan yang luar biasa dalam pengembangan AI.

    Sang CEO SoftBank juga mengungkapkan kebiasaannya menggunakan ChatGPT dari OpenAI selama dua hingga tiga jam setiap hari. Ia mengakui bahwa AI tersebut sudah lebih pintar darinya dalam hampir semua topik. Dalam beberapa tahun ke depan, AI akan mengungguli manusia di sekitar 70% hingga 80% bidang ilmu. Di bidang-bidang tersebut, AI mungkin akan 10 kali lebih pintar daripada manusia rata-rata.

    Peringatan dari Anthropic

    Di sisi lain, kekhawatiran akan risiko sistem AI yang semakin canggih mengemuka setelah Anthropic, perusahaan pengembang chatbot AI Claude, merilis artikel blog yang membahas sistem AI yang mampu merancang dan mengembangkan penerusnya secara otonom.

    Meskipun Anthropic menyatakan bahwa tren ini akan membawa dampak positif, mereka juga memperingatkan bahwa peningkatan diri yang seutuhnya dapat meningkatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI. Perusahaan tersebut berpendapat bahwa upaya terkoordinasi di antara laboratorium AI untuk memperlambat laju pengembangan teknologi ini kemungkinan besar akan menjadi langkah yang bijak.

    Implikasi dari perkembangan ini sangat luas. Jika AI mampu menciptakan AI yang lebih cerdas tanpa campur tangan manusia, maka laju peningkatan kecerdasan akan bersifat eksponensial. Hal ini membawa konsekuensi besar bagi dunia kerja, keamanan siber, dan bahkan tatanan sosial global. Pertanyaan mendasar yang kini mengemuka adalah: apakah kita siap menghadapi era di mana mesin lebih pintar dari penciptanya?

    Untuk memahami lebih jauh tentang dampak regulasi teknologi di berbagai negara, Anda bisa membaca artikel tentang Polandia Larang Ponsel yang mulai berlaku September 2026. Sementara itu, inovasi di bidang kesehatan juga terus berkembang, seperti Uji Coba Manusia Regenerasi Gigi yang dimulai tahun ini.

  • Google Rilis Gemini Go untuk HP Android Murah

    Google Rilis Gemini Go untuk HP Android Murah

    JBNews.id — Google secara resmi meluncurkan Gemini Go, asisten AI yang dirancang khusus untuk ponsel Android murah dengan RAM minimal 2GB. Langkah ini memastikan pengguna perangkat entry-level tetap bisa menikmati kecerdasan buatan canggih tanpa harus membeli HP flagship.

    Android Go Kini Lebih Cerdas

    Sistem operasi Android (Go Edition) selama ini dikenal sebagai OS super ringan untuk smartphone kelas bawah dengan RAM, memori, dan daya komputasi terbatas. Namun, keterbatasan itu bukan berarti tertinggal teknologi.

    Google baru saja mengumumkan kehadiran Gemini Go, asisten AI yang disesuaikan untuk HP Android Go. Syarat utamanya cukup ringan: perangkat hanya perlu memiliki RAM minimal 2GB. Standar ini sudah diwajibkan Google sejak perilisan Android 13 (Go Edition), sehingga banyak HP murah di pasaran yang memenuhi kriteria ini.

    Android 11 Go

    Resmi Gantikan Google Assistant Go

    Kehadiran Gemini Go secara otomatis menggantikan posisi pendahulunya, Google Assistant Go. Untuk mengakses asisten AI baru ini, pengguna bisa membukanya melalui aplikasi Google Search.

    Cara memanggilnya sangat praktis—cukup dengan menekan dan menahan tombol Home di layar, atau dengan menekan dan menahan tombol daya (power button) pada perangkat yang didukung. Google mendeskripsikan Gemini Go sebagai versi Gemini yang lebih ramping (streamlined), dirancang agar pengguna HP entry-level tetap terhubung dan produktif.

    Fitur Lengkap Meski Versi ‘Ringan’

    Walaupun dirancang untuk ponsel murah, kemampuan Gemini Go tidak banyak disunat. Asisten pribadi ini bisa diperintah untuk berbagai tugas harian, di antaranya:

    • Melakukan panggilan telepon dan mengirim pesan teks
    • Mengecek perkiraan waktu tempuh perjalanan ke suatu tempat
    • Mencari lokasi restoran atau stasiun pengisian daya kendaraan listrik (EV)
    • Menyetel alarm dan membuat acara di kalender
    • Memutar media atau musik

    Lebih canggihnya lagi, pengguna diizinkan mengunggah berbagai jenis file—dari dokumen hingga foto—ke dalam ruang obrolan. Tujuannya memberikan konteks yang lebih jelas kepada AI saat memberikan perintah. Bagi Anda yang tertarik dengan teknologi keamanan, baca juga Fitur Terbaru dari Google untuk perlindungan pengguna.

    Ketersediaan

    Bagi Anda yang sudah tidak sabar mencoba, harap sedikit menahan diri. Google menyebutkan bahwa Gemini Go saat ini mulai digulirkan secara bertahap secara global. Mengingat pembaruan bertahap dari Google biasanya memakan waktu, jangan heran jika HP Android Go Anda baru akan mendapatkan pembaruan AI ini dalam beberapa minggu ke depan.

    Implikasinya jelas: pengguna HP murah kini tidak lagi menjadi warga kelas dua dalam ekosistem AI. Dengan RAM hanya 2GB, mereka tetap bisa mengakses asisten cerdas yang fungsional. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang perangkat entry-level, simak Harga Terbaru tablet murah yang juga mendukung produktivitas.

    Ini adalah langkah strategis Google untuk memperluas adopsi AI ke segmen pasar yang lebih luas, sekaligus menjawab kebutuhan pengguna di negara berkembang seperti Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut tentang tren teknologi, jangan lewatkan Temuan Terbaru di dunia sains.

  • Kolaborasi Axiom-Prada Rilis Lapisan Pendingin Baju Astronot Artemis IV

    Kolaborasi Axiom-Prada Rilis Lapisan Pendingin Baju Astronot Artemis IV

    JBNews.id — Axiom Space dan Prada kembali menunjukkan hasil kolaborasi mereka dengan merilis Liquid Cooling and Ventilation Garment (LCVG), lapisan dasar penting yang akan dikenakan astronot di bawah baju antariksa AxEMU pada misi Artemis IV yang dijadwalkan membawa manusia kembali ke Bulan pada 2028.

    LCVG merupakan lapisan dasar yang berfungsi menjaga suhu tubuh astronot tetap stabil saat berada di dalam AxEMU maupun saat melakukan spacewalk. Sistem ini menggunakan air dingin yang disirkulasikan melalui tabung-tabung kecil yang tertanam di dalam pakaian untuk membuang panas dari tubuh astronot. Keunggulan utama sistem ini adalah keberadaan sistem cadangan jika sistem utama gagal berfungsi, sebuah fitur yang tidak dimiliki oleh sistem pendingin baju antariksa generasi sebelumnya.

    Selain fungsi pendinginan, LCVG juga dilengkapi sistem ventilasi yang memasok oksigen segar ke helm AxEMU dan mengarahkan karbon dioksida hasil embusan napas astronot ke scrubber untuk didaur ulang. Kolaborasi ini bukan pertama kalinya NASA terlibat dalam proyek yang memadukan material dan manufaktur teknologi tinggi dengan desain fesyen kelas atas. Sebelumnya, NASA juga mendanai konsep BioSuit yang diciptakan oleh profesor MIT Dava Newman dengan bantuan arsitek ternama Guillermo Trotti.

    Pengembangan LCVG ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara perusahaan teknologi antariksa dan rumah mode mewah dapat menghasilkan inovasi yang tidak hanya fungsional tetapi juga estetis. Inovasi Teknologi seperti ini menjadi kunci keberhasilan misi Artemis IV yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade.

    Sistem pendingin dan ventilasi yang andal sangat krusial bagi keselamatan dan kenyamanan astronot selama misi. Tanpa LCVG yang berfungsi optimal, astronot berisiko mengalami overheating atau akumulasi karbon dioksida yang dapat mengancam jiwa. Keberadaan sistem cadangan pada LCVG memberikan lapisan keamanan tambahan yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan ekstrem luar angkasa.

    Kolaborasi Axiom Space dan Prada dalam pengembangan LCVG ini menunjukkan tren baru di industri antariksa, di mana estetika dan fungsionalitas berjalan beriringan. Prada, yang dikenal dengan keahliannya dalam material dan desain, berkontribusi pada pengembangan tekstil dan sistem yang tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga nyaman dipakai dalam jangka waktu lama.

    Misi Artemis IV sendiri merupakan bagian dari program Artemis NASA yang bertujuan membangun kehadiran manusia berkelanjutan di Bulan. Kerja Sama Global dalam pengembangan teknologi antariksa seperti ini menunjukkan bahwa eksplorasi luar angkasa membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.

    Pengumuman LCVG ini muncul setelah sebelumnya Axiom Space dan Prada memperkenalkan AxEMU, baju antariksa generasi baru yang akan digunakan astronot Artemis. AxEMU dirancang untuk memberikan mobilitas dan perlindungan yang lebih baik dibandingkan baju antariksa era Apollo. Dengan tambahan LCVG sebagai lapisan dasar, sistem perlengkapan astronot Artemis IV kini semakin lengkap.

    Sistem pendingin cair yang digunakan LCVG bekerja dengan cara mengalirkan air dingin melalui jaringan tabung kecil yang menutupi sebagian besar tubuh astronot. Panas dari tubuh akan diserap oleh air dingin tersebut dan kemudian dibuang ke luar melalui radiator yang terintegrasi dengan sistem pendukung kehidupan di dalam baju antariksa. Proses ini berlangsung secara terus-menerus selama astronot berada di dalam baju antariksa.

    Sementara itu, sistem ventilasi memastikan pasokan oksigen segar selalu tersedia di dalam helm. Udara yang mengandung karbon dioksida hasil pernapasan akan dihisap dan dialirkan ke scrubber yang mengandung lithium hydroxide atau material serupa untuk menyerap CO2. Udara bersih kemudian dikembalikan ke helm, menciptakan sirkulasi udara yang sehat dan nyaman bagi astronot.

    Keberhasilan pengembangan LCVG ini juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi tekstil untuk aplikasi antariksa. Material yang digunakan harus mampu bertahan dalam kondisi vakum, radiasi tinggi, dan suhu ekstrem, sambil tetap nyaman dipakai. Kolaborasi dengan Prada memungkinkan Axiom Space mengakses keahlian dalam pengembangan material premium yang ringan, tahan lama, dan nyaman.

    Bagi para penggemar eksplorasi antariksa, pengembangan LCVG ini menjadi kabar baik karena menunjukkan bahwa misi Artemis IV berjalan sesuai jadwal. Penemuan Ilmiah terbaru di luar angkasa juga semakin memperkuat urgensi eksplorasi manusia ke Bulan dan Mars.

    Dengan target peluncuran Artemis IV pada 2028, tim Axiom Space dan Prada masih memiliki waktu untuk melakukan pengujian dan penyempurnaan lebih lanjut terhadap LCVG dan AxEMU. Setiap komponen akan diuji dalam kondisi simulasi luar angkasa untuk memastikan keandalan dan keamanannya sebelum digunakan dalam misi sesungguhnya.

    Implikasi dari pengembangan LCVG ini tidak hanya terbatas pada misi Artemis. Teknologi pendinginan dan ventilasi yang dikembangkan untuk baju antariksa dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang lain di Bumi, seperti pakaian pelindung untuk pekerja di lingkungan ekstrem, peralatan medis, hingga sistem pendingin untuk atlet dan militer.

    Kolaborasi Axiom-Prada dalam LCVG ini membuktikan bahwa inovasi terbaik sering lahir dari pertemuan antara teknologi tinggi dan desain kelas dunia. Dengan pendekatan ini, eksplorasi manusia ke Bulan dan seterusnya tidak hanya menjadi lebih aman dan nyaman, tetapi juga lebih bergaya.

  • imToken Transformasi Jadi Antarmuka Kendali Pribadi Era AI

    imToken Transformasi Jadi Antarmuka Kendali Pribadi Era AI

    JBNews.id — Dalam momentum hari jadinya yang ke-10, dompet digital terdesentralisasi imToken mengumumkan visi baru untuk dekade mendatang, yakni bertransformasi dari dompet digital self-custody yang tepercaya menjadi antarmuka kendali pribadi untuk era kecerdasan buatan (AI). Pergeseran ini menandai babak baru dalam evolusi dompet digital, yang kini tidak lagi sekadar alat menyimpan aset kripto.

    Selama satu dekade terakhir, dompet digital membantu pengguna menyimpan, mengirim, dan melakukan staking aset digital. Namun, setelah agen AI menjadi semakin otonom, pengguna juga harus mengelola identitas, izin akses, pendelegasian kewenangan, tindakan otomatis, serta berbagai keputusan dengan bantuan AI. Untuk menjawab perubahan tersebut, imToken memperkenalkan Sign sebagai pilar produk inti keempatnya.

    Bagi imToken, Sign tidak hanya berfungsi untuk menandatangani transaksi. Fitur ini dirancang sebagai antarmuka yang membantu pengguna mengekspresikan tujuan, memberikan otorisasi, menetapkan kebijakan, mendelegasikan tindakan, serta mencabut akses yang telah diberikan. Ke depan, tanda tangan digital tidak hanya dapat mengotorisasi transaksi blockchain, namun juga berbagai bentuk izin, pendelegasian, alur kerja otomatis, dan tindakan yang dijalankan agen AI.

    imToken menilai, sistem AI seharusnya hanya beroperasi berdasarkan otorisasi yang jelas, dapat diverifikasi, memiliki batasan yang tegas, dan dapat dicabut sewaktu-waktu oleh pengguna.

    “Selama satu dekade terakhir, imToken telah mendukung pengguna mengendalikan aset digital mereka,” ujar Ben He, Pendiri dan CEO imToken. “Dalam 10 tahun mendatang, kami ingin agar masyarakat tetap memiliki kendali atas dunia digital mereka. Ketika AI semakin mampu bertindak secara mandiri, kendali kelak menjadi aset yang semakin berharga. Kami tidak sekadar menambahkan AI ke dalam dompet digital, melainkan juga memastikan pengguna tetap menjadi pihak yang berkuasa di dunia internet pada era AI,” lanjutnya.

    Visi Baru dan Prioritas Strategis

    Sebagai bagian dari strategi tersebut, imToken memperbarui proposisi mereknya dari: “Digital Assets, Under Your Control.” menjadi “Your Digital World, Under Your Control.” Menurut imToken, visi baru tersebut memperluas konsep kendali pengguna, tidak hanya atas aset digital, namun juga identitas, izin akses, data, agen AI, serta berbagai tindakan cerdas yang berlangsung secara otomatis.

    Ke depan, imToken akan menitikberatkan tiga prioritas utama: mempertahankan prinsip self-custody sebagai fondasi utama; memperluas cakupan keamanan dari sekadar transaksi menjadi perlindungan atas izin akses dan tindakan yang didelegasikan; mengembangkan perangkat untuk mengelola izin, kebijakan, pendelegasian kewenangan, dan pencabutan akses.

    imToken menilai bahwa fungsi dompet digital kini berevolusi dari sekadar gerbang menuju aset digital menjadi antarmuka kendali tepercaya bagi kolaborasi antara manusia dan AI. “Dompet digital berperan lebih dari sekadar aplikasi pengelolaan aset,” kata Ben He. “Kunci kriptografi merupakan akar kendali, tanda tangan mencerminkan otorisasi, izin menentukan batasan, dan pencabutan akses menjaga kebebasan pengguna. Kami akan selalu mengembangkan ekosistem ini dengan fokus jangka panjang pada kepercayaan dan kendali pengguna.”

    Implikasi bagi Pengguna Dompet Digital

    Transformasi imToken mencerminkan perubahan fundamental dalam cara pengguna berinteraksi dengan teknologi blockchain. Dengan hadirnya agen AI yang semakin otonom, kebutuhan akan Fitur Terbaru yang mengelola izin dan pendelegasian kewenangan menjadi krusial. imToken mengantisipasi bahwa dalam waktu dekat, setiap pengguna akan memiliki beberapa agen AI yang bertindak atas nama mereka, sehingga diperlukan sistem otorisasi yang ketat.

    Pendekatan ini juga sejalan dengan tren industri teknologi global yang semakin menekankan pada privasi dan kendali pengguna. Dengan mengadopsi prinsip self-custody yang diperluas, imToken memastikan bahwa pengguna tetap memegang kendali penuh atas data dan aset digital mereka, bahkan ketika berinteraksi dengan sistem AI yang kompleks.

    Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru dalam mengelola aset digital dengan lebih aman dan efisien. Dengan integrasi lebih dari 50 jaringan blockchain utama, termasuk Bitcoin, Ethereum, dan TRON, imToken menyediakan akses ke ekosistem kripto global yang luas, sambil tetap menjaga prinsip keamanan dan kendali pengguna.

    Evolusi dompet digital menjadi antarmuka kendali pribadi untuk era AI juga berpotensi mendorong adopsi teknologi blockchain yang lebih luas di kalangan masyarakat umum. Dengan antarmuka yang lebih intuitif dan fitur keamanan yang lebih canggih, pengguna dapat dengan percaya diri menjelajahi dunia digital tanpa khawatir kehilangan kendali atas aset dan identitas mereka.

    Dalam konteks yang lebih luas, langkah imToken ini juga mencerminkan bagaimana industri blockchain dan AI semakin terintegrasi. Perusahaan-perusahaan teknologi besar kini berlomba-lomba untuk mengembangkan solusi yang menggabungkan kekuatan blockchain dengan kecerdasan buatan, menciptakan ekosistem digital yang lebih cerdas, aman, dan terdesentralisasi.

    Dengan visi baru “Your Digital World, Under Your Control,” imToken menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin dalam transisi menuju era digital yang lebih berpusat pada pengguna. Perusahaan yang telah melayani puluhan juta pengguna di lebih dari 150 negara ini siap menghadapi tantangan dekade berikutnya dengan fokus pada kepercayaan, keamanan, dan kendali pengguna.

    Bagi para penggemar teknologi dan investor kripto, perkembangan ini patut dicermati karena dapat mengubah cara kita berinteraksi dengan Teknologi Terbaru di dunia digital. imToken membuktikan bahwa dompet digital bukan sekadar alat penyimpanan, melainkan gerbang menuju masa depan internet yang lebih aman dan terkendali.

    Transformasi ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana teknologi blockchain dapat beradaptasi dengan perkembangan AI tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar desentralisasi dan kendali pengguna. imToken optimistis bahwa dengan pendekatan yang tepat, kolaborasi antara manusia dan AI dapat berjalan harmonis dan produktif.

    Ke depannya, imToken berencana untuk terus mengembangkan ekosistemnya dengan fokus pada inovasi dan keamanan. Perusahaan ini juga akan terus memperluas jangkauan layanannya ke lebih banyak negara dan wilayah, termasuk Indonesia, yang memiliki potensi besar dalam adopsi teknologi blockchain dan kripto.

    Dengan dukungan dari komunitas global dan reputasi yang telah terbangun selama satu dekade, imToken berada di posisi yang kuat untuk memimpin transformasi ini. Perusahaan ini berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan solusi terbaik bagi penggunanya di era AI yang semakin canggih.

    Bagi yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teknologi blockchain dan AI, berbagai sumber daya dan informasi tersedia di situs resmi imToken di https://token.im. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi ini, pengguna dapat memanfaatkan potensi penuh dari era digital yang baru.

  • Redmi Pad 2 9.7 Resmi Dijual, Harga Rp 2,3 Jutaan

    Redmi Pad 2 9.7 Resmi Dijual, Harga Rp 2,3 Jutaan

    JBNews.id — Xiaomi Indonesia resmi membuka penjualan Redmi Pad 2 9.7 di Tanah Air mulai 6 Juni 2026. Tablet terbaru ini dibanderol dengan harga Rp 2.399.000 untuk konfigurasi memori 4 GB/64 GB, menyasar kalangan pelajar, mahasiswa, dan pengguna muda yang membutuhkan perangkat serbaguna untuk belajar, bekerja, hingga hiburan.

    Tablet ini menawarkan kombinasi layar 2K 120Hz, baterai besar 7.600 mAh, serta chipset Snapdragon 6s 4G Gen 2. Dengan spesifikasi tersebut, Redmi Pad 2 9.7 menjadi salah satu opsi tablet murah yang kompetitif di kelas harganya. Produk ini tersedia dalam dua pilihan warna, yaitu Graphite Gray dan Silver, dan dapat dibeli melalui kanal penjualan online maupun gerai resmi Xiaomi di seluruh Indonesia.

    Marketing Director Xiaomi Indonesia Andi Renreng mengatakan bahwa perangkat ini dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi muda. “Redmi Pad 2 9.7 merupakan salah satu rekomendasi untuk entertainment terbaik, khususnya bagi anak muda yang mencari tablet yang bisa membantu mereka tetap produktif dan keep up dengan hiburan yang sedang trending,” kata Andi dalam pernyataan resminya.

    Desain Ringkas dan Baterai Tahan Lama

    Salah satu daya tarik utama Redmi Pad 2 9.7 adalah desainnya yang compact. Tablet ini memiliki ketebalan hanya 7,4 mm dengan bobot sekitar 406 gram, sehingga nyaman dibawa bepergian. Meski tipis dan ringan, Xiaomi mengklaim tablet ini telah melewati lebih dari 40 pengujian durabilitas untuk memastikan ketahanan dalam penggunaan sehari-hari. Material metal pada bodinya juga memberikan kesan premium yang jarang ditemukan di kelas harga serupa.

    Untuk mendukung mobilitas pengguna, Redmi Pad 2 9.7 dibekali baterai berkapasitas 7.600 mAh. Xiaomi mengklaim daya tahan baterainya mampu menemani aktivitas pengguna lebih dari satu hari dalam sekali pengisian. Mulai dari mengikuti kelas online, mengerjakan tugas, streaming video hingga bermain game dapat dilakukan tanpa khawatir kehabisan daya. Menariknya, Xiaomi juga menyertakan charger 15W langsung di dalam kotak penjualan sehingga pengguna tidak perlu membeli adaptor tambahan.

    Redmi Pad 2 9.7

    Layar 2K 120Hz untuk Pengalaman Visual Maksimal

    Pada sektor layar, Redmi Pad 2 9.7 mengalami peningkatan signifikan dibanding generasi tablet compact Redmi sebelumnya. Tablet ini mengusung layar 9,7 inch beresolusi 2K dengan refresh rate hingga 120Hz dan tingkat kecerahan mencapai 600 nits. Kombinasi tersebut membuat tampilan lebih tajam, warna lebih hidup, dan navigasi terasa lebih mulus.

    Layar tersebut juga telah mengantongi sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light, Flicker Free, dan Circadian Friendly yang membantu mengurangi ketegangan mata saat digunakan dalam waktu lama. Fitur ini menjadi nilai tambah bagi pelajar maupun pekerja yang sering membaca dokumen, mengerjakan tugas, atau menikmati hiburan berjam-jam di layar tablet.

    Performa Snapdragon 6s Gen 2

    Redmi Pad 2 9.7 ditenagai Snapdragon 6s 4G Gen 2 Mobile Platform. Chipset octa-core fabrikasi 6nm ini memiliki kecepatan hingga 2,9 GHz. Xiaomi mengklaim performa CPU meningkat hingga 51% dibanding chipset yang digunakan pada generasi sebelumnya. Dipadukan dengan RAM 4 GB dan skor AnTuTu yang diklaim menembus 400 ribu poin, tablet ini cukup mumpuni untuk multitasking maupun bermain game populer.

    Kapasitas penyimpanannya juga dapat diperluas menggunakan kartu microSD hingga 2 TB, memberikan ruang yang lega untuk menyimpan aplikasi, foto, video, maupun koleksi game. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk terbaru dari Xiaomi, Anda dapat membaca artikel tentang Fitur Terbaru dari lini lainnya.

    Sistem Operasi HyperOS 3 dan Fitur Canggih

    Redmi Pad 2 9.7 langsung menjalankan HyperOS 3 berbasis Android 16. Sistem operasi terbaru Xiaomi ini membawa integrasi yang lebih baik antar perangkat dalam ekosistem Xiaomi. Pengguna dapat memindahkan dokumen, menyalin teks, hingga menerima panggilan dari perangkat Xiaomi lain dengan lebih mudah.

    Tablet ini juga mendukung fitur Circle to Search dari Google untuk pencarian informasi berbasis gambar serta Wireless Display Extension yang memungkinkan Redmi Pad 2 9.7 digunakan sebagai layar kedua untuk laptop atau PC. Fitur tersebut cocok untuk aktivitas belajar, rapat online, hingga kebutuhan kreatif seperti desain dan editing. Bagi pengguna yang tertarik dengan inovasi teknologi lainnya, kami juga memiliki artikel tentang Fitur Eksklusif dari platform media sosial terbaru.

    Harga dan Ketersediaan

    Redmi Pad 2 9.7 dipasarkan dengan harga Rp 2.399.000 untuk satu-satunya konfigurasi memori yang tersedia, yaitu 4 GB/64 GB. Tablet ini sudah dapat dibeli mulai 6 Juni 2026 melalui kanal penjualan online maupun gerai resmi Xiaomi di seluruh Indonesia.

    Dengan banderol harga di kisaran Rp 2 jutaan, Redmi Pad 2 9.7 menjadi pilihan menarik bagi mereka yang mencari tablet untuk kebutuhan produktivitas dan hiburan. Performa yang didukung chipset terbaru dan layar berkualitas tinggi menjadikannya kompetitor kuat di segmen entry-level. Untuk perbandingan dengan produk audio terbaru, Anda bisa membaca tentang Soundbar Murah yang akan segera hadir.

    Bagi pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan perangkat untuk menunjang kegiatan belajar daring, menonton konten edukasi, atau sekadar bersantai menikmati hiburan, tablet ini menawarkan nilai lebih dengan layar yang ramah mata dan baterai yang tahan lama. Kehadiran Redmi Pad 2 9.7 di pasar Indonesia memperkuat posisi Xiaomi di segmen tablet entry-level yang semakin kompetitif.

  • Pakar Matematika Peringatkan Bahaya Klaim Berlebihan AI

    Pakar Matematika Peringatkan Bahaya Klaim Berlebihan AI

    JBNews.id — Sekitar 150 pakar matematika dunia menandatangani deklarasi yang memperingatkan pemerintah agar tidak mudah percaya pada klaim berlebihan mengenai kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam memecahkan masalah matematika kompleks. Langkah ini merupakan respons terhadap serangkaian pengumuman sensasional dari industri teknologi yang dinilai melebih-lebihkan kapabilitas produk AI mereka.

    Awal tahun ini, seorang pemuda berusia 23 tahun tanpa pelatihan matematika mengklaim berhasil menggunakan ChatGPT untuk memecahkan salah satu soal menantang dari matematikawan Hungaria, Paul Erdos. Klaim serupa kembali mencuat bulan lalu ketika OpenAI mengumumkan bahwa AI mereka berhasil mematahkan konjektur “jarak satuan” yang telah berusia 80 tahun, juga dirumuskan oleh Erdos.

    “Ini menandai pertama kalinya AI secara otonom memecahkan masalah terbuka terkemuka yang menjadi pusat di bidang matematika,” sebut OpenAI dalam pernyataan resminya.

    Namun, para ahli matematika justru menyambut klaim tersebut dengan skeptisisme mendalam. Dalam teguran publik yang disebut sebagai salah satu yang terkeras, para pakar menerbitkan “Deklarasi Leiden tentang AI dan Matematika” yang terdiri dari 11 halaman. Deklarasi ini menyerukan regulasi ketat dan pengawasan terhadap pengembangan AI di bidang matematika.

    Kekhawatiran di Balik Klaim AI

    Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, menegaskan bahwa AI menimbulkan berbagai pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan tanpa pengkajian serius. “Masa depan penelitian matematika harus dipandu penilaian manusia, praktik adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama dari komunitas matematika global,” ujar Tillmann.

    Deklarasi tersebut secara eksplisit menyoroti adanya “insentif komersial kuat di pihak industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka.” Para pakar mendesak pembuat kebijakan untuk berkonsultasi dengan para ahli, termasuk matematikawan, sebelum mengambil keputusan terkait regulasi AI.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, model AI saat ini dinilai dapat menghasilkan solusi yang terdengar meyakinkan namun sebenarnya tidak valid. “Teknik otomatisasi saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar masuk akal namun tak dapat diandalkan (atau bahkan salah) yang sulit dibedakan dari pembuktian matematika yang benar,” kata Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg.

    Dampak pada Akademisi dan Regulasi

    Deklarasi Leiden juga menyoroti posisi rentan banyak akademisi di tengah hiruk-pikuk AI. Mendapatkan pendanaan baru menjadi sangat sulit sementara minat terhadap AI terus melonjak, yang sering kali memaksa para peneliti untuk mendukung teknologi tersebut dengan cara apa pun.

    Dokumen tersebut juga mencatat adanya berbagai alasan lain untuk menyerukan regulasi yang melampaui bidang matematika. Ini termasuk keterlibatan industri AI dalam militer dan pengawasan massal, pengembangan teknologi yang mempromosikan misinformasi dan merusak demokrasi, serta dampak negatif terhadap lingkungan.

    Antropolog AI Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame, menyoroti isu etika lain yang tak kalah penting. “Matematikawan yang tak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan untuk tujuan ini tanpa persetujuan. Saya pikir itu adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan,” katanya.

    Fenomena ini mengingatkan pada dominasi AI influencer yang juga menimbulkan kekhawatiran serupa di ranah media sosial. Dalam kedua kasus, teknologi AI digunakan tanpa transparansi yang memadai, berpotensi menyesatkan publik.

    Para pakar matematika menekankan bahwa klaim keberhasilan AI dalam memecahkan masalah matematika harus diverifikasi secara ketat oleh komunitas ilmiah sebelum diterima sebagai fakta. Mereka memperingatkan bahwa publikasi yang terburu-buru dan sensasional hanya akan merusak kredibilitas penelitian matematika dan AI itu sendiri.

    Implikasinya bagi pembaca dan masyarakat luas sangat jelas: klaim tentang kemampuan AI, terutama dalam bidang yang membutuhkan presisi tinggi seperti matematika, harus disikapi dengan kritis. Jangan mudah terpengaruh oleh janji manis industri teknologi tanpa verifikasi dari para ahli independen.

    Di sisi lain, insiden startup robot yang menghancurkan rumah sewa Airbnb untuk uji coba menunjukkan bahwa risiko dari teknologi yang tidak diatur dengan baik bisa sangat nyata dan mahal. Regulasi yang tepat menjadi krusial untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

    Deklarasi Leiden menjadi pengingat bahwa di tengah euforia AI, suara para ahli fundamental seperti matematikawan harus didengar. Mereka bukan menolak kemajuan, tetapi menuntut kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.