Author: Hamzah Nurhamzah

  • Komdigi: Pembatasan Medsos Anak Butuh Peran Aktif Orang Tua

    Komdigi: Pembatasan Medsos Anak Butuh Peran Aktif Orang Tua

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengakui masih ada anak di bawah 16 tahun yang berhasil mengakses platform digital yang sudah diblokir, sehingga peran orang tua menjadi kunci utama keberhasilan kebijakan pembatasan media sosial anak.

    Dalam acara peluncuran buku saku AKSI DIGITAL, Senin (8/6/2026), Meutya mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 70 juta anak berusia di bawah 16 tahun. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi anak terbanyak di dunia.

    “Jadi tidak mungkin sebuah PP lahir maka dengan sendirinya masalah selesai. Pasti perlu tangan dari orang tua khususnya dan platform,” ujar Meutya di Jakarta.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah mengapresiasi kehadiran YouTube dalam acara tersebut sebagai bentuk komitmen platform untuk bersama-sama membangun ekosistem digital yang aman bagi anak-anak Indonesia.

    Orang Tua Diminta Tidak Pasif

    Meutya menceritakan pengalamannya menerima laporan dari sesama orang tua yang mengeluhkan anak mereka masih bisa membuat akun di platform yang sudah dibatasi usia. Menurutnya, temuan ini menunjukkan celah yang masih perlu ditutup, namun orang tua juga tidak boleh lepas tangan.

    “Di satu sisi betul karena kami juga pasti langsung mengatensi ya, tapi di sisi lain, loh ibunya kok tahu dibiarin?” tuturnya dengan nada bercanda namun serius.

    Menteri Meutya menegaskan bahwa jika orang tua mendapati anak mereka bisa masuk lagi ke platform setelah dikeluarkan, mereka harus segera turun tangan. Tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata.

    Ia juga menerima keluhan lain tentang anak yang tantrum saat tidak diperbolehkan bermain game. “Kemudian karena anaknya tantrum disuruh ngomong langsung ke ibu menteri aja, biar ibu menteri yang jelasin. Jangan juga ya orang tuanya, tolong dibantu juga ya pemerintahnya,” canda Meutya.

    Pendekatan Edukasi, Bukan Sekadar Larangan

    Meutya menekankan bahwa bicara soal adiksi pada anak memang tidak mudah. Ia berharap orang tua dapat mengambil andil dalam memberi pengertian ke anak mereka dengan bahasa yang bisa dipahami.

    “Jelaskan bahwa ini bukan membatasi akses mereka terhadap hiburan, bukan membatasi akses mereka terhadap informasi, tapi menunggu mereka siap untuk hal-hal yang baik yang ada di ranah digital,” pungkasnya.

    Pemerintah melalui Komdigi terus mendorong platform digital untuk mematuhi aturan pembatasan akses anak. Sebelumnya, Komdigi telah menagih komitmen platform digital untuk melindungi anak dengan tenggat waktu 6 Juni 2026.

    Kebijakan ini sejalan dengan pendekatan berbasis risiko yang diterapkan Indonesia, berbeda dengan Australia yang menerapkan larangan total. Dalam kesempatan terpisah, Menkomdigi menjelaskan bahwa pembatasan medsos anak di RI berbeda dengan Australia karena menggunakan pendekatan risiko, bukan larangan mutlak.

    Dengan jumlah 70 juta anak yang rentan terhadap dampak negatif digital, pemerintah mengakui bahwa regulasi saja tidak cukup. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan terutama orang tua untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi generasi muda Indonesia.

    Implikasinya bagi orang tua: jangan hanya mengandalkan aturan pemerintah. Pantau dan dampingi anak saat beraktivitas di dunia digital adalah tanggung jawab yang tidak bisa didelegasikan sepenuhnya kepada teknologi atau negara.

  • Biaya Internet Murah Kunci Percepatan Ekonomi Digital Nasional

    Biaya Internet Murah Kunci Percepatan Ekonomi Digital Nasional

    JBNews.id — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa biaya internet yang murah menjadi faktor krusial untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital nasional. Menurutnya, harga akses internet yang terjangkau akan mendorong penetrasi teknologi digital ke seluruh lapisan masyarakat secara lebih merata.

    “Kalau internet bisa murah, penetrasinya bisa bagus ke semua sektor masyarakat, maka ekonomi digital akan lebih dahsyat hasilnya,” kata Nezar dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.

    Saat ini, biaya internet di Indonesia dinilai masih tergolong mahal. Nezar menyebutkan bahwa biaya tersebut bahkan berada di atas standar yang ditetapkan International Telecommunication Union (ITU). Standar ITU menetapkan bahwa pengeluaran untuk internet basket seharusnya hanya 2 persen dari total PDB per kapita.

    Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerataan akses digital. Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong peningkatan kualitas jaringan sekaligus menurunkan biaya akses internet. Langkah ini diambil agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia.

    Infrastruktur dan Talenta Digital

    Pemerintah tidak hanya fokus pada penurunan biaya. Upaya mengatasi kesenjangan digital juga dilakukan melalui pembangunan infrastruktur telekomunikasi secara masif. Pembangunan ini mencakup jaringan serat optik, Base Transceiver Station (BTS), serta pemanfaatan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO). Teknologi LEO digunakan untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dilayani oleh jaringan terestrial.

    Meski pemerataan infrastruktur terus diupayakan, Nezar mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan digital tidak hanya diukur dari ketersediaan jaringan. Aspek terpenting adalah memastikan konektivitas mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

    “Konektivitas yang bermakna memberikan dampak kepada kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya. Itu sebabnya saat ini Kementerian Komdigi mencoba berfokus pada pembangunan talenta,” ungkapnya.

    Pembangunan talenta digital menjadi prioritas agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Kementerian Komdigi tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia untuk menciptakan nilai ekonomi baru.

    Kombinasi antara internet yang terjangkau, konektivitas yang merata, dan talenta digital yang kompeten diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di era digital. Semua aspek ini dinilai penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

    Dengan biaya internet yang lebih murah, sektor ekonomi digital berpotensi tumbuh lebih cepat. Hal ini akan membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengadopsi teknologi digital. Selain itu, masyarakat di daerah terpencil juga akan mendapatkan akses yang sama terhadap layanan digital.

    Pemerintah optimistis bahwa langkah-langkah yang diambil saat ini akan membawa dampak signifikan. Namun, Nezar menekankan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak, termasuk operator telekomunikasi dan masyarakat.

    Dampak Ekonomi dan Sosial

    Biaya internet yang murah tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi. Sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya juga akan merasakan manfaatnya. Masyarakat dapat mengakses informasi dan layanan secara lebih mudah dan cepat.

    Dalam sektor pendidikan, akses internet murah memungkinkan pembelajaran jarak jauh berjalan lebih efektif. Di bidang kesehatan, telemedicine dapat menjangkau pasien di daerah terpencil. Sementara itu, layanan publik berbasis digital akan lebih mudah diakses oleh seluruh warga negara.

    Nezar juga menyoroti pentingnya konektivitas yang bermakna. Artinya, jaringan internet harus benar-benar memberikan dampak positif pada kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Hal ini sejalan dengan fokus Kementerian Komdigi pada pembangunan talenta digital.

    Dengan pendekatan yang komprehensif, pemerintah berharap kesenjangan digital dapat segera teratasi. Infrastruktur yang memadai, biaya yang terjangkau, dan sumber daya manusia yang kompeten menjadi tiga pilar utama dalam mewujudkan ekosistem digital yang inklusif.

    Perkembangan ini juga relevan dengan tren global di mana teknologi digital menjadi penggerak utama perekonomian. Negara-negara yang berhasil menekan biaya akses internet cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi digital yang lebih pesat. Indonesia tidak ingin tertinggal dalam persaingan global tersebut.

    Ke depan, masyarakat dapat menantikan layanan internet yang lebih murah dan berkualitas. Pemerintah terus berupaya agar target pemerataan akses digital dapat tercapai sesuai dengan rencana. Semua ini demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera di era digital.

    Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan eksekusi yang konsisten, biaya internet murah bukan lagi sekadar wacana. Langkah ini menjadi kunci nyata untuk membuka potensi besar ekonomi digital Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

  • Ibu-GPT: Tren AI Momfluencer dan Beban Mental Ibu Modern

    Ibu-GPT: Tren AI Momfluencer dan Beban Mental Ibu Modern

    JBNews.id — Seorang ibu di Zurich, Swiss, menggunakan ChatGPT untuk menidurkan anaknya yang berusia tiga tahun setelah semua saran dari dokter anak dan ahli tidur gagal. Metode yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan itu justru berhasil dalam waktu lima menit, sebuah pengalaman yang kemudian mendorongnya menjadi penginjil AI di kalangan ibu-ibu modern.

    Fenomena ini menandai lahirnya gelombang baru momfluencer—kreator konten yang tidak lagi menjual estetika pengasuhan anak yang sempurna, melainkan menawarkan solusi berbasis AI untuk meringankan beban kerja rumah tangga yang tidak terlihat. Schmidt, sang ibu dari Zurich, menciptakan custom GPT bernama Coparent yang ia jual seharga $37 di situsnya setelah video TikTok-nya pada Juni 2025 menjadi viral dan meningkatkan jumlah pengikutnya menjadi 27.000 dalam tiga minggu.

    Kesenjangan Gender dalam Adopsi AI

    Data menunjukkan bahwa perempuan 20 persen lebih kecil kemungkinannya menggunakan AI generatif dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan laki-laki, sebuah fenomena yang dikenal sebagai kesenjangan gender AI. Stephanie Leblanc-Godfrey, pendiri perusahaan Mother AI yang menyebut dirinya sebagai “teknolog maternal,” mengkritik bahwa alat AI cenderung memiliki masalah “PMS”—pucat, laki-laki, dan basi.

    “Anda memiliki semua orang yang menjalankan perusahaan AI ini yang sebenarnya tidak mencerminkan masyarakat yang menggunakannya, atau kebutuhan para ibu yang cenderung menjadi kepala rumah tangga,” ujarnya. Erin Grau, salah satu pendiri perusahaan riset dan pelatihan korporat Charter, berspekulasi bahwa ibu bekerja mungkin menggunakan AI lebih sedikit karena “rasa bersalah sebagai ibu”—memandang ketergantungan pada AI sebagai bentuk kecurangan.

    Dari Alat Produktivitas menjadi Alat Pemberdayaan

    Banyak tokoh perempuan terkemuka di bidang teknologi dan media berupaya menutup kesenjangan tersebut dengan membingkai AI generatif sebagai alat pemberdayaan perempuan. Mel Robbins, yang baru saja mengumumkan kemitraan dengan Microsoft Copilot, dalam podcastnya pada November menyatakan, “Saya tidak ingin tertinggal. Saya tidak ingin perempuan khususnya tertinggal.” Reese Witherspoon juga viral pada April dengan unggahan Instagram yang menyebut teknologi ini akan “membuat kehidupan sehari-hari kita lebih mudah dan lebih baik.”

    Sarah Dooley, mantan konsultan teknologi untuk merek seperti Visa, mulai menggunakan AI generatif pada 2023 untuk membuat lagu sikat gigi bagi ketiga putrinya dan menulis catatan untuk pengasuh anak. Ia kemudian berhenti dari pekerjaannya dan memulai merek AI-Empowered Mom, yang kini bekerja penuh waktu sebagai konsultan untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mengajarkan perempuan menggunakan AI. Buku berjudul The AI-Empowered Family akan terbit tahun depan.

    Dalam konteks yang lebih luas, kekhawatiran tentang dampak AI terhadap lapangan kerja juga mengemuka. Sebuah proyeksi menyebutkan bahwa hampir 15 persen tenaga kerja berisiko kehilangan pekerjaan akibat AI. Namun, para AI momfluencer cenderung menempatkan literasi AI sebagai alat pembebasan dari pekerjaan rumah tangga yang membosankan, mirip dengan penemuan penyedot debu atau mesin cuci pada pertengahan abad ke-20.

    Beban Mental yang Tak Kunjung Selesai

    Meskipun para ibu berbondong-bondong menggunakan AI untuk “lebih hadir bersama anak-anak saya dan lebih terkendali secara emosional,” pertanyaan mendasar tetap mengemuka: mengapa beban untuk mempelajari AI demi efisiensi rumah tangga masih berada di pundak perempuan, dan di mana peran para ayah dalam semua ini?

    Schmidt mengakui bahwa 95 persen audiensnya adalah perempuan, meskipun ia sesekali menerima surel dari para ayah yang berharap menggunakan AI untuk meringankan beban pasangan mereka. Namun, pesan-pesan ini lebih jarang dan cenderung dikirim melalui pesan pribadi, bukan komentar publik. Ketika ditanya mengapa hal ini terjadi, Schmidt hanya setengah bercanda menjawab, “patriarki.”

    “Sayangnya, beban mental masih dianggap sebagai masalah perempuan. Banyak laki-laki bahkan tidak tahu apa itu beban mental,” ujarnya. Data dari Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2022 menunjukkan bahwa ibu bekerja menghabiskan tambahan 13,5 jam per minggu untuk pekerjaan rumah tangga dan rata-rata 12,5 jam per minggu untuk pengasuhan anak—peningkatan 40 persen dari tahun 1975. Meskipun data Pew menunjukkan bahwa ayah kini menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dibandingkan 50 tahun lalu, perempuan tetap diharapkan memikul sebagian besar beban rumah tangga.

    “Bukan berarti pasangan saya tidak membantu, karena dia membantu,” kata Schmidt. “Tetapi bagi perempuan dan ibu, ada begitu banyak pekerjaan tak terlihat yang Anda pikul dan semuanya ada di tangan Anda, dan itu sebenarnya mengambil waktu bersama anak-anak Anda.”

    AI: Solusi atau Beban Tambahan?

    Pengalaman langsung menggunakan chatbot untuk pengasuhan anak justru menimbulkan pertanyaan baru. Memasukkan baris demi baris teks ke dalam kolom perintah untuk menjelaskan rutinitas sehari-hari sebagai ibu justru memicu stres karena melihat volume tanggung jawab rumah tangga secara agregat. AI, seperti halnya penyedot debu dan mesin cuci, tidak membuat hidup sebagai ibu lebih efisien, melainkan hanya menjadi cara yang sedikit lebih canggih untuk terus mengikat perempuan pada urusan rumah tangga.

    Kekesalan muncul karena kenyataan bahwa perempuan masih harus memikul sebagian besar tanggung jawab ini sejak awal. Seorang suami, misalnya, secara teratur menggunakan Claude untuk meneliti pasar saham atau meningkatkan efisiensi dalam pekerjaannya sebagai arsitek, tetapi tidak pernah terpikir olehnya untuk menggunakan alat yang sama untuk melacak pesta ulang tahun dan jadwal dokter. Sebanyak apa pun teknologi dapat membantu meringankan beban mental, teknologi tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan fakta bahwa perempuan masih memikul tanggung jawab itu sejak awal.

    Seperti yang dikatakan Leblanc-Godfrey, “Alat-alat ini dibuat untuk orang-orang yang punya waktu luang. Dan coba tebak? Ibu tidak punya waktu luang sama sekali.”

    Bagi para ibu yang ingin mulai mengeksplorasi penggunaan AI, penting untuk tetap waspada terhadap potensi risiko seperti konten palsu atau deepfake. Raffi Ahmad Imbau Warga untuk waspada terhadap ancaman ini dan mengenalkan metode SIFT sebagai langkah verifikasi informasi.

    Fenomena AI momfluencer ini mencerminkan dilema yang lebih dalam: teknologi yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi beban tambahan jika ketidaksetaraan struktural dalam pembagian kerja rumah tangga tidak diatasi. Pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah AI dapat membantu ibu, melainkan mengapa ibu masih harus menjadi satu-satunya yang memikirkan cara untuk membuat semuanya berjalan.

  • XLSmart Ajak Ribuan Pengusaha Manfaatkan AI di Bravo 500 Summit 2026

    XLSmart Ajak Ribuan Pengusaha Manfaatkan AI di Bravo 500 Summit 2026

    JBNews.id — XLSmart melalui unit XLSmart for Business mengumpulkan lebih dari 2.000 pemimpin korporasi, regulator, dan akademisi dalam Bravo 500 Summit 2026 untuk mendorong adopsi kecerdasan buatan (AI) guna memperkuat daya saing Indonesia. Forum tahunan kedua sejak merger ini dijadwalkan pada Kamis, 11 Juni 2026, di Jakarta, mengusung tema “Solusi Untuk Korporasi, Solusi Untuk Negeri”.

    XLSmart melalui unit XLSMART for Business kembali menggelar BRAVO 500 Summit 2026, forum tahunan yang mempertemukan pemimpin industri, pemerintah, regulator, akademisi, dan mitra teknologi untuk membahas peluang dan tantangan transformasi digital di Indonesia.

    Direktur dan Chief Enterprise Business Officer XLSmart, Andrijanto Muljono, menegaskan bahwa Bravo 500 Summit 2026 bukan sekadar ajang networking biasa. “Event ini akan menjadi ajang untuk berkolaborasi dengan ekosistem B2B Indonesia yang tentunya boleh dibilang ini sangat high network event yang bisa dimanfaatkan dan menjadi peluang untuk stakeholders yang hadir,” ujarnya di Jakarta, Senin (8/6/2026).

    Andrijanto menjelaskan bahwa korporasi memiliki peran krusial dalam mendorong transformasi digital nasional. “Kenapa? karena di korporasi itu kita sudah terbiasa dengan satu yang namanya harus ada governance. Kedua, kita sudah terbiasa dengan namanya KPI yang harus dikejar. Ketiga, paling penting adalah korporasi kita itu dibiasakan untuk melakukan inovasi untuk bisa tetap kompetitif dan relevan dan terus melakukan inovasi,” tuturnya.

    Bravo 500 Summit 2026 menghadirkan berbagai solusi untuk menunjang kebutuhan korporasi. Andrijanto menegaskan bahwa XLSmart tidak hanya memposisikan diri sebagai penyedia layanan konektivitas atau penjual bandwidth, melainkan sebagai mitra strategis transformasi digital. “XLSmart memposisikan diri bukan hanya sebagai penjual bandwidth, layanan konektivitas atau sebagai dianggap reselling daripada ICT atau produk teknologi. Kami tidak ingin berhenti di itu, tapi kami ingin menempatkan diri kami sebagai strategy digital transformation partner. Kami selalu ingin menyambut peluang untuk bersama-sama membangun negeri ini dengan transformasi digital,” tuturnya.

    Forum ini turut melibatkan tiga perguruan tinggi ternama, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Keterlibatan akademisi ini bertujuan untuk memperkecil kesenjangan antara dunia pendidikan dan praktik bisnis, sejalan dengan upaya mempercepat adopsi AI di sektor korporasi. Inisiatif ini relevan dengan perkembangan teknologi lain, seperti Sensor AI yang mulai diterapkan di berbagai kota global.

    Sebagai bagian dari rangkaian acara, Bravo 500 Summit 2026 akan menghadirkan Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, sebagai keynote speaker. Kehadiran beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan industri dalam mempercepat transformasi digital nasional. Selain itu, forum ini juga akan menghadirkan diskusi panel utama yang membahas dampak pemanfaatan teknologi AI terhadap bisnis dan arah negara.

    Diskusi panel utama akan membahas bagaimana kecerdasan artifisial akan memengaruhi strategi bisnis, kebijakan publik, dan daya saing nasional di masa depan. Sesi ini akan dimoderatori oleh Gita Wirjawan dan menghadirkan sejumlah pemimpin nasional lintas industri dan pemerintahan, termasuk Franky O. Widjaja, Budi Gunadi Sadikin, Rudiantara, serta mitra strategis XLSmart for Business. Para panelis akan mengupas dampak AI terhadap berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga layanan keuangan.

    Dalam forum tersebut, XLSmart for Business juga memperkenalkan ESTA Prime, pengembangan terbaru dari platform Enterprise Smart Technology & Automation (ESTA), serta berbagai solusi digital lain yang dirancang untuk membantu sektor industri mempercepat transformasi digital. Platform ini diharapkan menjadi tulang punggung digitalisasi korporasi di Indonesia, memungkinkan integrasi data dan otomatisasi proses bisnis secara lebih efisien.

    Andrijanto menambahkan bahwa Bravo 500 Summit 2026 menjadi ajang untuk memamerkan solusi-solusi inovatif yang dapat langsung diadopsi oleh korporasi. “Kami tidak hanya bicara teori, tapi juga menghadirkan solusi nyata yang bisa langsung diterapkan. Mulai dari konektivitas, platform AI, hingga solusi keamanan siber,” ujarnya. Pendekatan ini sejalan dengan tren global di mana Alat Ubah Air Laut dan inovasi teknologi lainnya menjadi fokus utama.

    Bravo 500 Summit 2026 dihadiri oleh lebih dari 2.000 pemimpin korporasi, regulator, akademisi, dan mitra teknologi. Mereka akan membahas pemanfaatan AI, data, konektivitas, dan teknologi digital dalam mendorong daya saing Indonesia. Forum ini juga menjadi wadah bagi para pelaku industri untuk saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengimplementasikan transformasi digital.

    Implikasi dari forum ini sangat jelas: adopsi AI di sektor korporasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk tetap kompetitif. Dengan melibatkan akademisi dan pemerintah, XLSmart berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung percepatan transformasi digital. Bagi pembaca, ini berarti peluang karir dan bisnis baru akan terbuka lebar bagi mereka yang menguasai teknologi AI. Penggunaan Sensor AI di berbagai sektor juga menunjukkan bahwa teknologi ini sudah menjadi bagian dari infrastruktur modern.

    Ke depannya, kolaborasi antara korporasi, akademisi, dan pemerintah seperti yang diinisiasi XLSmart di Bravo 500 Summit 2026 akan menjadi model bagi transformasi digital nasional. Dengan adopsi AI yang masif, Indonesia diharapkan dapat melompat ke era ekonomi digital yang lebih produktif dan inovatif. Forum ini membuktikan bahwa XLSmart berkomitmen menjadi mitra strategis, bukan sekadar penyedia jasa telekomunikasi.

  • UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall: Kompetisi Komunitas Menuju Profesional

    UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall: Kompetisi Komunitas Menuju Profesional

    JBNews.id — UniPin Series Road to Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Fall resmi memasuki babak Grand Final setelah melewati rangkaian babak kualifikasi. Ajang ini menjadi jalur kompetitif bagi talenta komunitas untuk naik ke level profesional dalam ekosistem esports Indonesia.

    Kompetisi yang digelar oleh UniPin ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari PB ESI, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Garena, hingga sektor swasta seperti Nobu Bank, HERO by Tri, Alfamart, Blue Bird, dan La Vida. Melalui ajang ini, para pemain komunitas berkesempatan merasakan atmosfer kompetisi profesional sekaligus membuka peluang menuju jenjang yang lebih tinggi.

    Tim terbaik dari kompetisi ini akan memperoleh satu Golden Ticket untuk melaju ke babak Play-Ins Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Fall. Ini menjadi jembatan nyata bagi pemain komunitas untuk menembus level profesional.

    Kolaborasi Lintas Sektor untuk Esports Nasional

    CEO UniPin, Ashadi Ang, dalam keterangan tertulis pada Senin (8/6/2026), menyatakan bahwa pihaknya meyakini talenta esports Indonesia bisa lahir dari tim komunitas apabila memiliki akses, wadah, dan ekosistem yang mendukung.

    “Kami ingin menghadirkan ruang kompetitif yang dapat mempertemukan berbagai industri untuk bersama-sama memperkuat ekosistem Gaming dan Esports agar dapat tumbuh bersama sekaligus membuka peluang bagi pemain komunitas untuk berkembang menuju level profesional,” ujar Ashadi Ang.

    Wakil Ketua Harian II PB ESI, Inspektur Jenderal Polisi Dr. Benone Jesaja Louhenapessy, memberikan apresiasi terhadap hadirnya ajang ini. Ia menilai kompetisi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat jalur pembinaan dan regenerasi talenta esports Indonesia melalui kompetisi komunitas yang terstruktur.

    “Sejalan dengan misi PB ESI untuk memajukan ekosistem Esports nasional, kami menyambut baik hadirnya UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall. Jalur kompetisi resmi ini secara langsung membuka peluang yang sama bagi seluruh Atlet bertalenta di Indonesia, khususnya dari tingkat komunitas, untuk berkembang ke arah profesional,” tuturnya.

    Dukungan juga datang dari Garena selaku publisher Free Fire. Country Head Manager Garena Indonesia Hans Saleh menegaskan komitmen mereka dalam mendukung pengembangan ekosistem Free Fire di Indonesia melalui kehadiran ajang ini.

    Antusiasme Tinggi dan Partisipasi Luas

    Antusiasme tinggi dari komunitas Free Fire terlihat sejak dibukanya pendaftaran Open Qualifier UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall pada 5-21 Mei 2026. Tercatat sebanyak 254 tim mengikuti babak Online Qualifier, sementara 50 tim lainnya turut berpartisipasi dalam babak Offline Qualifier.

    Sebanyak 12 tim komunitas berhasil mengamankan tiket Grand Final setelah melewati rangkaian kualifikasi online dan offline. Enam tim lolos melalui babak Online Qualifier yang berlangsung pada 23-24 Mei 2026, sementara enam tim lainnya mengamankan tempat melalui babak Offline Qualifier yang digelar pada 30 Mei 2026 di Alfamart Drive Thru Cihampelas, Bandung.

    Daftar Tim Grand Final

    Adapun tim-tim yang berhasil melaju ke Grand Final UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall yaitu CARSTENSZ ESPORTS, DEPOK PRIDE, NEWLIFE SYNERGY, AVANGARD LIKU, GELKASA ESPORTS, ARCANE DOMINION, MBR OMEGA, KAGENDRA, FLYHIGH, RRQ ACADEMY, SRIWIJAYA ESPORTS, dan FEDORA.

    Selain menghadirkan kompetisi Free Fire, rangkaian acara ini juga diramaikan dengan berbagai aktivitas komunitas lainnya. Trading Card Game (TCG) diikuti oleh 142 peserta, Beyblade sebanyak 80 peserta, Tekken 8 dengan total 146 peserta, serta Coswalk Competition yang diikuti oleh 87 peserta.

    Kehadiran berbagai aktivitas ini menunjukkan bahwa ekosistem gaming di Indonesia tidak hanya terbatas pada kompetisi utama, tetapi juga mencakup berbagai minat dan hobi yang saling mendukung.

    Implikasi bagi Ekosistem Esports Indonesia

    Melalui UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall, UniPin berharap kompetisi komunitas dapat menjadi lebih dari sekadar ruang pertandingan. Ajang ini diharapkan menjadi jalur pengembangan talenta yang mampu melahirkan generasi baru atlet esports Indonesia di masa depan.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, jalur kompetitif ini membuka peluang nyata bagi pemain komunitas untuk menembus level profesional. Ini sejalan dengan tren global di mana ekosistem gaming handheld dan esports terus berkembang pesat.

    Bagi para pemain komunitas yang bercita-cita menjadi atlet profesional, ajang seperti UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall menjadi bukti bahwa pintu menuju level profesional semakin terbuka lebar. Golden Ticket menuju FFNS 2026 Fall bukan sekadar tiket kompetisi, melainkan jembatan menuju karir esports yang lebih serius.

    Dengan total partisipasi lebih dari 300 tim dari berbagai daerah, kompetisi ini menunjukkan potensi besar talenta esports Indonesia yang tersebar di tingkat komunitas. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan akan menjadi kunci untuk terus mengembangkan ekosistem ini ke depannya.

    Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati oleh para pengamat industri, mengingat tren perangkat gaming seperti Xbox Series X dan perangkat mobile yang semakin terjangkau turut mendorong pertumbuhan partisipasi di level komunitas.

  • Workshop AI Kembangkan Sekolah Rakyat dan Bansos

    Workshop AI Kembangkan Sekolah Rakyat dan Bansos

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyelenggarakan Workshop 3 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Batch 2 sebagai wadah melahirkan inovasi kecerdasan buatan yang berdampak langsung pada implementasi program sekolah rakyat dan bantuan sosial (bansos). Kegiatan ini berlangsung di Gedung Algoritma Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, pada 8-9 Juni 2026.

    Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kemkomdigi Said Mirza Pahlevi dalam sambutannya menyatakan, peserta AITF merancang pengembangan sistem kecerdasan buatan yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan pembelajaran sekolah rakyat dan ketepatan penerima bansos pemerintah. “Khusus di Universitas Brawijaya, peserta sedang menyelesaikan use case yang sangat penting terkait (pembelajaran) Sekolah Rakyat dan (sistem) bantuan sosial,” kata Said.

    Menurut dia, inovasi pemanfaatan AI untuk dua program tersebut dihadirkan sebagai persoalan utama dalam penyelenggaraan AITF. Hal ini merupakan bagian dari partisipasi kementerian dan kampus untuk menguatkan pelayanan kepada masyarakat. “Use case (sekolah rakyat dan bansos) ini sangat ditunggu,” ujar dia.

    Workshop 3 AITF Batch 2 yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya berjalan selama dua hari. Setelah tahapan ini selesai, penyelenggaraan demo day dijadwalkan berlangsung pada 29-30 Juni 2026. Ajang tersebut akan menjadi momentum pembuktian dari kesempurnaan inovasi yang dikembangkan oleh para peserta.

    Ketua Pelaksana AITF sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D mengatakan, tahapan demo day akan menjadi ajang pembuktian dari kesempurnaan inovasi yang dikembangkan oleh para peserta AITF. “Mahasiswa kami mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan berbagai studi kasus yang memiliki tantangan besar melalui AITF,” kata dia.

    Agar proses penyempurnaan inovasi berjalan terarah dan tepat waktu, panitia memberikan pendampingan tambahan kepada para peserta yang dimungkinkan menggunakan skema karantina. “AITF di Universitas Brawijaya dikonversikan menjadi 12 SKS,” tutur Sabriansyah.

    Dampak Inovasi AI untuk Sektor Publik

    Fokus utama workshop ini adalah pengembangan kecerdasan buatan yang dapat menyelesaikan dua persoalan strategis nasional: sistem pembelajaran sekolah rakyat dan akurasi penyaluran bantuan sosial. Sekolah rakyat merupakan program pendidikan yang menyasar kelompok masyarakat kurang mampu, sementara bansos membutuhkan sistem verifikasi data yang presisi agar tepat sasaran.

    Dengan memanfaatkan AI, proses identifikasi penerima bansos dapat dilakukan secara lebih akurat dan transparan. Sistem ini dirancang untuk meminimalkan kesalahan data dan potensi penyimpangan dalam penyaluran bantuan. Sementara untuk sekolah rakyat, AI dapat membantu personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing siswa.

    Inisiatif ini sejalan dengan tren pemanfaatan teknologi di berbagai sektor. Sebagai contoh, ACERUN 2026 juga mengintegrasikan AI dalam dunia gaya hidup sehat, menunjukkan bahwa teknologi ini semakin merambah berbagai aspek kehidupan.

    Kolaborasi Kampus dan Pemerintah

    Workshop AITF Batch 2 menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan talenta digital. Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung pada solusi permasalahan bangsa melalui inovasi teknologi.

    Peserta workshop terdiri dari mahasiswa yang mendapatkan kesempatan mengerjakan studi kasus dengan tantangan besar. Pendampingan intensif dan skema karantina memastikan setiap inovasi yang dihasilkan benar-benar matang dan siap diimplementasikan.

    Kolaborasi serupa juga terjadi di berbagai bidang, termasuk dalam dunia jurnalistik. Munas PERSAJA 2026 menjadi ajang konsolidasi jurnalis yang juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pemberitaan.

    Demo day pada 29-30 Juni 2026 akan menjadi puncak dari rangkaian workshop ini. Pada tahap tersebut, setiap tim peserta akan mempresentasikan hasil inovasi mereka di hadapan dewan juri dan pemangku kepentingan terkait. Inovasi terbaik berpotensi untuk diadopsi oleh Kemkomdigi dalam program nasional.

    Implikasi bagi Masyarakat

    Keberhasilan workshop ini memiliki implikasi langsung bagi masyarakat. Sistem AI yang dikembangkan peserta AITF berpotensi mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan dan kesejahteraan sosial. Sekolah rakyat dapat mengadopsi platform pembelajaran adaptif berbasis AI yang menyesuaikan materi dengan kemampuan masing-masing siswa.

    Di sisi bansos, sistem verifikasi berbasis AI dapat mengurangi kesalahan data penerima, mempercepat proses pencairan, serta meningkatkan transparansi penyaluran bantuan. Hal ini sangat relevan mengingat bansos merupakan program strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kurang mampu.

    Dengan adanya workshop ini, Indonesia menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang kecerdasan buatan. Talenta-talenta muda yang lahir dari program AITF diharapkan mampu menjadi motor penggerak inovasi digital nasional.

    Pemerintah juga terus mendorong agar AI berorientasi pada kepentingan publik, sebagaimana disuarakan dalam berbagai forum internasional. Inovasi yang lahir dari workshop ini menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi solusi konkret bagi permasalahan sosial yang kompleks.

  • Brand Teknologi China Tancap Gas ke Pasar Global Lewat GCS 2026

    Brand Teknologi China Tancap Gas ke Pasar Global Lewat GCS 2026

    JBNews.id — Ambisi brand teknologi China untuk menembus pasar global semakin nyata dan terukur. Hal ini dibuktikan melalui gelaran Global Connect Show Shenzhen 2026 (GCS SZ 2026) yang berlangsung di Shenzhen, China, pada 1 Juni 2026. Acara bertema “Where Global Innovation Meets Market Opportunity” ini menjadi ajang pertemuan strategis antara perusahaan teknologi China dengan media, distributor, kreator konten, dan pelaku industri dari berbagai negara.

    GCS SZ 2026 bukan sekadar pameran produk biasa. Acara ini dirancang untuk membangun koneksi bisnis yang konkret dan terarah. Chris Pereira, Founder & CEO Global Connect Show, menyatakan tujuan utama acara ini dalam keynote-nya. “Tujuan kami sederhana: menghubungkan orang-orang yang tepat dengan peluang yang tepat, sehingga setiap pertemuan menghasilkan nilai nyata,” ujar Pereira.

    Berbeda dengan pameran teknologi pada umumnya yang berfokus pada peluncuran perangkat baru, GCS SZ 2026 berdiri di atas tiga pilar utama. Ketiga pilar tersebut adalah Chinese Brands Going Global, Global Channel Connection, dan program khusus Into the Enterprise. Berbagai agenda strategis disiapkan, mulai dari forum diskusi industri, sesi business matchmaking eksklusif, hingga pertemuan tertutup antara brand dengan media internasional.

    Menurut Du Yang, Global Event Director GCS, keberhasilan ekspansi global kini tidak lagi hanya bergantung pada kualitas produk. Kemampuan membangun jaringan distribusi, memperoleh eksposur media yang tepat, dan memahami kebutuhan pasar lokal menjadi faktor yang sama pentingnya. “Tidak seperti pameran besar pada umumnya, GCS secara konsisten menekankan koneksi yang tepat sasaran, pertukaran tertutup, dan pendekatan yang mengutamakan hasil nyata,” ujar Yang.

    Salah satu program unggulan yang membedakan GCS dari acara serupa adalah China Innovation Tour. Melalui program ini, para jurnalis, distributor, dan mitra bisnis internasional diajak langsung mengunjungi berbagai perusahaan teknologi terdepan di China. Peserta tidak hanya melihat produk jadi, tetapi juga berkesempatan menyaksikan proses riset, pengembangan, hingga manufaktur dari dekat.

    Perusahaan yang dikunjungi berasal dari berbagai sektor teknologi masa depan seperti Rokid, RoboSense, NAVEE, GCL ET, INMO, Longcheer, dan KEENON. Teknologi yang dipamerkan pun beragam, mulai dari smart glasses, LiDAR, kecerdasan buatan (AI), energi baru, hingga embodied intelligence yang saat ini menjadi fokus industri robotika modern.

    Fenomena ekspansi brand China bukanlah hal baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, skalanya semakin besar. Jika sebelumnya banyak perusahaan China dikenal sebagai pemasok manufaktur bagi merek global, kini mereka mulai tampil sebagai pemilik brand yang memiliki identitas sendiri.

    Chris Pereira mengatakan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar membuat produk yang bagus. Tantangan utamanya adalah membangun kepercayaan di pasar internasional. “Dalam tahap baru globalisasi brand China ini, didengar dan dipercaya jauh lebih penting daripada sekadar terlihat. Nilai GCS bukan pada satu sesi showcase, melainkan membangun koneksi nyata dan berkelanjutan antara inovasi China dengan pasar global,” kata Pereira.

    Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan strategi banyak perusahaan China. Mereka kini tidak hanya mengejar volume penjualan, tetapi juga membangun citra merek dan hubungan jangka panjang dengan konsumen global. Strategi ini sejalan dengan perkembangan di industri lain, seperti yang terlihat pada Dreame Rilis produk smart home di Indonesia.

    Salah satu pembicara utama dalam acara ini adalah Andrew Miles, Executive Chairman Metro China dan mantan Presiden Sam’s Club China. Ia menilai saat ini merupakan momentum yang sangat baik bagi perusahaan inovatif asal China untuk masuk ke jaringan ritel global. Menurut Miles, perkembangan pesat pasar konsumen China telah melahirkan berbagai model bisnis dan inovasi yang kini mulai menarik perhatian dunia.

    Namun Miles mengingatkan bahwa sukses di pasar internasional tidak bisa hanya mengandalkan produk yang unggul. Brand juga harus mampu membangun cerita yang kuat serta menyesuaikan strategi operasional dengan karakter masing-masing negara tujuan. Dengan kata lain, memahami budaya lokal dan kebutuhan konsumen setempat menjadi kunci penting dalam ekspansi global.

    GCS SZ 2026 merupakan gelaran ketiga dalam rangkaian Global Connect Show. Sebelumnya, GCS @IFA 2025 di Berlin berhasil menghadirkan lebih dari 60 media dari Eropa dan Amerika Serikat. Sementara GCS @CES 2026 di Las Vegas yang digelar bersama USA Today menarik lebih dari 80 media teknologi internasional.

    Ke depan, Global Connect Show akan terus hadir di sejumlah pusat teknologi dunia seperti London, New York, Berlin, Los Angeles, Hong Kong, Dubai, hingga kembali ke Las Vegas untuk CES 2027. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Global Connect Show tidak lagi sekadar menjadi acara tahunan, melainkan berkembang menjadi platform global yang mempertemukan inovasi teknologi China dengan pasar internasional sepanjang tahun.

    Melihat antusiasme peserta dan besarnya jumlah perusahaan yang terlibat, satu hal menjadi semakin jelas. Brand teknologi China kini tidak lagi puas menjadi pemain lokal. Mereka tengah tancap gas untuk menjadi pemain global, dan Shenzhen menjadi salah satu titik awal dari ambisi besar tersebut.

    Implikasinya bagi pasar global, termasuk Indonesia, sangat signifikan. Dengan semakin agresifnya brand China membangun jaringan distribusi dan kepercayaan, konsumen di berbagai negara akan semakin banyak menjumpai produk-produk inovatif buatan China. Persaingan di sektor teknologi pun diprediksi akan semakin ketat, mendorong inovasi dan harga yang lebih kompetitif. Tren ini juga sejalan dengan perkembangan Fitur Profil Search untuk kreator di platform digital.

  • BRIN: Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Sekadar Publikasi

    BRIN: Riset Harus Jawab Kebutuhan Masyarakat, Bukan Sekadar Publikasi

    JBNews.id, Makassar — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menilai kesenjangan antara hasil penelitian dan kebutuhan pengguna masih menjadi tantangan terbesar riset di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan BRIN Goes to Campus di Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin.

    Arif Satria mengungkapkan bahwa ribuan hasil penelitian telah lahir setiap tahun dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Namun, tantangan utama saat ini bukan lagi menghasilkan riset, melainkan memastikan temuan-temuan tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta berkontribusi nyata terhadap pembangunan nasional dan daerah.

    “Riset yang baik bukan hanya yang selesai dipublikasikan, tetapi yang mampu menyelesaikan persoalan nyata, menciptakan nilai tambah ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Arif Satria di hadapan sivitas akademika Unhas.

    Menurut data yang disampaikan, banyak hasil riset belum mampu menghasilkan dampak sosial secara optimal karena belum memasuki tahap implementasi dan hilirisasi. Kondisi ini menjadi perhatian serius BRIN sebagai penghela utama ekosistem riset dan inovasi nasional.

    BRIN terus mendorong peningkatan kualitas penelitian, percepatan hilirisasi hasil riset, serta penguatan kolaborasi multipihak. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan bahwa investasi pada riset dan pengembangan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan nasional maupun daerah.

    Arif Satria menekankan bahwa pembangunan daerah tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam semata. Sebaliknya, harus didukung oleh penguatan kapasitas riset dan inovasi. Penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi agenda strategis yang menentukan daya saing Indonesia di masa depan.

    Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan lembaga riset menjadi kunci untuk mempercepat transformasi tersebut. Sinergi yang kuat diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu hadir sebagai solusi yang menjawab berbagai tantangan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.

    Hilirisasi Riset Jadi Prioritas

    Salah satu fokus utama BRIN adalah mendorong hilirisasi hasil riset. Proses ini menjadi krusial untuk menjembatani kesenjangan antara penelitian akademis dan aplikasi di lapangan. Tanpa hilirisasi, riset hanya akan menjadi dokumen yang tersimpan di perpustakaan tanpa memberikan manfaat nyata.

    BRIN juga terus memantau berbagai fenomena ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, Fenomena Upwelling yang mulai terbentuk pada 2026 menjadi perhatian BRIN untuk memantau musim tangkap ikan. Riset semacam ini menunjukkan bagaimana penelitian dapat langsung berdampak pada sektor perikanan dan kesejahteraan nelayan.

    Selain itu, BRIN juga mengembangkan inovasi teknologi tepat guna seperti Alat Ubah Air Laut menjadi air tawar dan ekstrak litium. Inovasi ini menjawab kebutuhan mendesak akan air bersih dan sumber energi alternatif di berbagai daerah.

    Arif Satria menegaskan bahwa riset harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi. Riset yang dihilirisasi dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas industri, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Tantangan Implementasi Riset di Daerah

    Implementasi riset di daerah menghadapi tantangan tersendiri. Keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, dan pendanaan sering menjadi hambatan. BRIN berupaya mengatasi hal ini melalui program-program kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah dan industri.

    Kegiatan BRIN Goes to Campus di Unhas menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan lembaga riset dengan akademisi. Melalui forum ini, BRIN mendorong para peneliti untuk tidak hanya fokus pada publikasi ilmiah, tetapi juga memikirkan dampak praktis dari penelitian mereka.

    Arif Satria menambahkan bahwa investasi pada riset dan pengembangan harus dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembangunan. Oleh karena itu, BRIN terus mendorong percepatan hilirisasi hasil riset agar inovasi yang dihasilkan dapat segera dirasakan masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, BRIN juga menyoroti pentingnya etika dalam publikasi riset. Kejadian BRIN Minta Maaf atas unggahan Garuda hasil AI saat Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa kualitas dan integritas riset harus dijaga.

    Ke depan, BRIN berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Kolaborasi multipihak menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

    Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, BRIN optimistis kesenjangan antara hasil penelitian dan kebutuhan pengguna dapat dijembatani. Hal ini akan membawa Indonesia menuju era baru pembangunan berbasis riset dan inovasi yang berkelanjutan.

  • Menkomdigi: Pembatasan Medsos Anak RI Berbasis Risiko, Beda dengan Australia

    Menkomdigi: Pembatasan Medsos Anak RI Berbasis Risiko, Beda dengan Australia

    JBNews.id — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa pendekatan Indonesia dalam membatasi akses media sosial untuk anak-anak berbeda secara fundamental dengan Australia. Indonesia menerapkan sistem klasifikasi risiko (risk-based), bukan pembatasan usia seragam seperti yang diterapkan di negara lain.

    Pernyataan tersebut disampaikan Meutya dalam acara peluncuran buku saku AKSI DIGITAL di Jakarta, Senin (8/6/2026). Menurutnya, perbedaan ini merupakan hasil pemikiran matang yang melibatkan para ahli, termasuk ahli tumbuh kembang anak.

    “Di Indonesia, aturan perlindungan anak-anak digital-nya memang berbeda dengan yang ada di Australia. Kita yang pertama yang memang risk-based, jadi kita mengukur setiap risiko,” ujar Meutya.

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membagi platform digital menjadi dua tahapan. Anak-anak berusia 13 tahun sudah diizinkan mengakses platform dengan kategori low risk. Sementara itu, akses ke platform high risk baru diberikan setelah anak mencapai usia 16 tahun.

    “Kita berbeda dengan negara lain yang ukur rata di satu usia. Ini masukan dari banyak ahli tumbuh kembang anak yang memang membagi fase pertumbuhan anak di dua usia itu, 13 dan juga 16 tahun,” jelas Meutya.

    Pendekatan ini dinilai lebih adaptif karena tidak semua platform digital memiliki tingkat risiko yang sama. Risiko yang diukur mencakup konten, kontak dengan orang tak dikenal, potensi kecanduan, hingga risiko kesehatan.

    Aturan ini merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP TUNAS) yang kemudian dijabarkan melalui Peraturan Menteri Kominfo/Komdigi Nomor 9 Tahun 2026. Peraturan Menteri tersebut resmi diterbitkan pada 28 Maret 2026.

    19 PSE dan 68 PLF Telah Lapor Diri

    Hingga saat ini, sudah sekitar 19 Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) dan total 68 Produk, Layanan, dan Fitur (PLF) yang telah melakukan self-assessment dan menyerahkannya ke Komdigi. Meutya menegaskan bahwa proses ini masih berlangsung dan pihaknya akan memberikan peringatan bagi platform yang belum melapor.

    “Kita akan berikan notifikasi atau peringatan awal terhadap belum melapornya para PSE ini. Jadi, tentu kita harapkan segera melaporkan, segera menyampaikan self-assessment-nya,” tegasnya.

    Bagi platform yang sudah menyerahkan laporan, Komdigi akan melakukan penilaian secara hati-hati terhadap profil risiko masing-masing. Proses ini membutuhkan waktu karena setiap risiko harus ditelaah satu per satu sebelum keputusan dijatuhkan.

    “Jadi, memang akan perlu waktu juga untuk menelah satu per satu risiko, sebelum kemudian menjatuhkan punishment. Apakah itu dianggap high-risk, apakah bisa dianggap low-risk, sehingga bisa digunakan oleh kelompok usia tertentu,” ujar Meutya.

    Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak-anak. Pendekatan berbasis risiko dinilai lebih sesuai dengan realitas perkembangan teknologi yang dinamis.

    Dengan sistem ini, platform digital tidak diperlakukan sama. Sebuah platform bisa dikategorikan low risk untuk anak usia 13 tahun ke atas, namun platform lain dengan potensi bahaya lebih tinggi hanya bisa diakses oleh pengguna berusia 16 tahun ke atas.

    Kebijakan ini juga sejalan dengan tren global yang mulai memperketat perlindungan anak di ruang digital. Beberapa negara telah mengambil langkah serupa, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.

    Komdigi berharap dengan adanya aturan ini, anak-anak Indonesia bisa tetap mengakses manfaat dari platform digital tanpa harus terpapar risiko yang membahayakan tumbuh kembang mereka.

    Pemerintah juga akan terus memantau implementasi aturan ini dan melakukan evaluasi secara berkala. Jika diperlukan, penyesuaian akan dilakukan untuk memastikan efektivitas perlindungan anak di ruang digital.

    Meutya menambahkan bahwa kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk platform digital dan orang tua, sangat penting untuk keberhasilan kebijakan ini. Tanpa dukungan semua pihak, perlindungan anak di dunia digital tidak akan berjalan optimal.

    Dengan pendekatan berbasis risiko, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang menerapkan sistem diferensiasi usia berdasarkan tingkat risiko platform. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi generasi muda dari bahaya digital.

  • Desain Samsung Galaxy S26 FE Terungkap, Modul Kamera Baru

    Desain Samsung Galaxy S26 FE Terungkap, Modul Kamera Baru

    JBNews.id — Desain Samsung Galaxy S26 FE terungkap melalui database Wireless Power Consortium (WPC), memperlihatkan modul kamera baru yang lebih menonjol. Ponsel dengan nomor model SM-S741 ini dijadwalkan rilis pada September atau Oktober 2026.

    Penemuan oleh 9to5Google ini menjadi bocoran desain pertama untuk lini Fan Edition terbaru Samsung. Listing di WPC menampilkan tampak depan dan belakang Galaxy S26 FE, mengonfirmasi perubahan signifikan pada tata letak kameranya.

    Berdasarkan gambar yang diunggah, Galaxy S26 FE mengadopsi modul kamera yang lebih menonjol, mirip dengan Galaxy S26 series lainnya. Namun, posisi modul ini terlihat lebih mepet ke pinggiran sudut ponsel, berbeda dengan Galaxy S26 atau Galaxy Z Fold 7. Ini menjadi pembeda visual utama antara Galaxy S26 FE dengan saudara-saudaranya yang lebih premium.

    Spesifikasi Awal Galaxy S26 FE

    Meskipun listing di WPC tidak memberikan banyak informasi teknis, bocoran yang sudah beredar sebelumnya mengungkapkan sejumlah spesifikasi kunci. Galaxy S26 FE diperkirakan akan ditenagai chipset Exynos 2500, dipadukan dengan RAM 8GB. Ponsel ini juga akan menjalankan One UI 9.0 berbasis Android 17, dengan dukungan update sistem operasi hingga tujuh tahun – komitmen pembaruan yang sama seperti lini flagship Samsung.

    Dalam hal pengisian daya, listing WPC menunjukkan dukungan pengisian cepat 5W. Namun, angka ini kemungkinan hanya placeholder dan belum mencerminkan spesifikasi final. Tidak ada tanda-tanda dukungan Magnetic Power Profile atau magnet internal. Ponsel ini mendukung standar Qi 2.2.1, sama seperti Galaxy S26 series lainnya yang tidak memiliki magnet.

    Bagi pengguna yang mengikuti perkembangan teknologi, bocoran ini memberikan gambaran awal. Namun, spesifikasi lengkap baru akan terkonfirmasi saat peluncuran resmi. Sebagai perbandingan, tren desain dan fitur serupa juga terlihat pada Xbox Series X Edisi 25 Tahun yang baru dirilis.

    Jadwal Peluncuran

    Tanggal peluncuran Galaxy S26 FE masih menjadi misteri. Tahun lalu, Samsung meluncurkan Galaxy S25 FE pada bulan September. Dengan pola yang sama, kemungkinan besar penerusnya akan diumumkan pada bulan September atau Oktober 2026. Ini memberi Samsung waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk menyempurnakan perangkat sebelum dirilis ke pasar global.

    Peluncuran pada kuartal ketiga tahun ini akan menempatkan Galaxy S26 FE bersaing langsung dengan ponsel mid-range premium lainnya. Strategi Samsung dengan lini FE selalu menawarkan fitur flagship dengan harga lebih terjangkau, dan tahun ini tampaknya tidak berbeda.

    Inovasi lain di industri teknologi juga menarik untuk disimak, seperti Kolaborasi Axiom-Prada yang merilis lapisan pendingin untuk baju astronot.

    Implikasi bagi Konsumen

    Bagi konsumen yang menunggu ponsel flagship dengan harga lebih ramah, Galaxy S26 FE menjadi opsi menarik. Dengan desain yang mengadopsi modul kamera baru dan spesifikasi Exynos 2500, perangkat ini berpotensi menawarkan performa setara Galaxy S26 dengan harga lebih rendah. Komitmen update tujuh tahun juga menjadi nilai tambah signifikan, memastikan perangkat tetap relevan dalam jangka panjang.

    Namun, tidak adanya dukungan magnet internal mungkin menjadi kekurangan bagi pengguna yang mengandalkan aksesori MagSafe-style. Ini perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan pembelian.

    Sementara itu, bagi penggemar game, berita Gears of War: E-Day Eksklusif Xbox juga menjadi sorotan di industri hiburan.

    Dengan semua bocoran yang ada, publik tinggal menunggu konfirmasi resmi dari Samsung. Apakah Galaxy S26 FE akan menjadi penerus yang layak bagi Galaxy S25 FE? Waktu yang akan menjawab.