Author: Hamzah Nurhamzah

  • Harga Pixel 11 dan Watch 5 Diprediksi Naik Akibat Krisis Chip

    Harga Pixel 11 dan Watch 5 Diprediksi Naik Akibat Krisis Chip

    JBNews.id, JAKARTA — Google diprediksi akan menaikkan harga jajaran perangkat Pixel terbarunya tahun ini, termasuk Pixel Watch 5 dan Pixel 11, akibat tekanan biaya komponen global. Laporan dari Dealabs yang dikutip 9to5Google mengungkapkan kenaikan harga yang cukup signifikan pada lini smartwatch dan ponsel pintar Google.

    Menurut laporan tersebut, Google berpotensi menaikkan harga awal Pixel Watch 5 ukuran 41mm menjadi USD 399, sementara varian dengan konektivitas LTE dibanderol USD 499. Angka ini menunjukkan lonjakan USD 50 dari generasi sebelumnya, di mana Pixel Watch 4 dibanderol USD 349 untuk varian Wi-Fi dan USD 449 untuk LTE.

    Sementara itu, Pixel Watch 5 ukuran 45mm yang lebih besar diperkirakan dibanderol USD 429 untuk varian Wi-Fi saja, atau USD 529 dengan LTE. Kenaikan ini tercatat sebesar USD 30 dari generasi sebelumnya. Laporan terpisah dari Dealabs juga merinci potensi harga pasar Eropa untuk lini Pixel 11.

    Laporan tersebut menyebutkan bahwa Google kemungkinan akan menghapus opsi penyimpanan 128GB pada Pixel 11, sehingga harga awal perangkat naik menjadi €999 dengan kapasitas 256GB. Pixel 11 Pro disebut akan dibanderol mulai €1.199. Sebagai perbandingan, Pixel 10 tahun lalu dibanderol €899 dengan penyimpanan 128GB, sementara Pixel 10 Pro mulai dari €1.099.

    Meskipun harga awal kedua perangkat naik, harga konfigurasi 256GB dikabarkan tetap sama. Pixel 11 Pro XL dan Pixel 11 Pro Fold diprediksi mengalami kenaikan harga sebesar €100, sehingga harga awalnya masing-masing menjadi €1.399 dan €1.999.

    Krisis Memori Global Jadi Pemicu

    Potensi kenaikan harga ini bukanlah hal yang mengejutkan. Para pembuat perangkat di seluruh industri sedang bergulat dengan kelangkaan memori dan penyimpanan global akibat meningkatnya permintaan dari perusahaan AI. Beberapa perusahaan telah menaikkan harga perangkat mereka atau menghapus variasi memori atau penyimpanan tertentu.

    Rumor sebelumnya bahkan menyebutkan bahwa Pixel 11 bisa mulai dengan RAM 8GB, bukan 12GB seperti tahun lalu, sebagai akibat dari kelangkaan ini. Fenomena ini juga berdampak pada industri lain, termasuk Infra Fiber Teknologi yang membutuhkan komponen memori untuk perangkat jaringannya.

    Google dijadwalkan akan meluncurkan perangkat Pixel barunya dalam sebuah acara pada 12 Agustus mendatang. Dengan kenaikan harga yang diprediksi terjadi, konsumen mungkin perlu menyiapkan anggaran lebih untuk mendapatkan perangkat terbaru Google tahun ini.

    Kenaikan harga ini juga berpotensi mempengaruhi strategi pemasaran Google di pasar global, termasuk Indonesia. Dengan harga yang lebih tinggi, Google perlu menawarkan nilai lebih agar tetap kompetitif. Sebagai perbandingan, Telkom Bagikan Dividen menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar masih mampu memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah tekanan biaya.

    Analis memperkirakan bahwa tekanan biaya komponen ini akan terus berlanjut setidaknya hingga akhir tahun 2026. Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari alternatif sumber daya atau melakukan efisiensi di lini produk lain. Google sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai rumor kenaikan harga ini.

    Bagi konsumen yang menanti kehadiran Pixel 11 dan Pixel Watch 5, kenaikan harga ini tentu menjadi pertimbangan. Namun, dengan peningkatan spesifikasi dan kapasitas penyimpanan yang ditawarkan, nilai yang didapatkan mungkin masih sebanding. Keputusan akhir tentu ada di tangan konsumen saat perangkat resmi diluncurkan.

    Laporan Dealabs juga mencatat bahwa kenaikan harga ini mungkin tidak akan seragam di semua pasar. Faktor pajak, bea masuk, dan nilai tukar mata uang akan mempengaruhi harga akhir di masing-masing negara. Google diperkirakan akan mengumumkan harga resmi untuk berbagai pasar pada acara peluncuran 12 Agustus.

    Dengan tren kenaikan harga ini, persaingan di pasar ponsel pintar premium diprediksi akan semakin ketat. Produsen lain seperti Samsung dan Apple juga diperkirakan akan menyesuaikan harga produk mereka. Sementara itu, YouTube Diduga Langgar Sanksi menunjukkan bahwa perusahaan teknologi juga menghadapi tantangan regulasi di berbagai negara.

    Konsumen di Indonesia mungkin akan merasakan dampak kenaikan harga ini jika Google memutuskan untuk memasarkan Pixel 11 secara resmi di Tanah Air. Saat ini, Pixel masih menjadi perangkat yang didatangkan secara impor oleh sejumlah distributor. Dengan harga global yang lebih tinggi, harga di pasar Indonesia diprediksi juga akan naik.

    Google sendiri belum mengkonfirmasi apakah akan membuka pasar resmi di Indonesia untuk lini Pixel 11. Keputusan ini tentu akan mempengaruhi strategi harga dan distribusi di kawasan Asia Tenggara. Namun, dengan potensi kenaikan harga yang cukup signifikan, minat konsumen terhadap Pixel 11 mungkin akan terpengaruh.

    Bagi penggemar setia Google Pixel, kenaikan harga ini mungkin bukan halangan. Namun, bagi konsumen yang lebih sensitif terhadap harga, opsi lain seperti Pixel 10 atau perangkat dari merek lain mungkin menjadi pertimbangan. Keputusan akhir tetap ada di tangan konsumen berdasarkan kebutuhan dan anggaran masing-masing.

    Peluncuran Pixel 11 dan Pixel Watch 5 pada 12 Agustus mendatang akan menjadi momen penting bagi Google. Selain harga, fitur dan spesifikasi yang ditawarkan akan menjadi faktor penentu kesuksesan perangkat ini di pasar global. Dengan tekanan biaya yang ada, Google perlu menawarkan inovasi yang signifikan untuk membenarkan kenaikan harga tersebut.

    Secara keseluruhan, kenaikan harga ini mencerminkan tantangan yang dihadapi industri teknologi secara global. Kelangkaan komponen dan kenaikan biaya produksi memaksa perusahaan untuk menyesuaikan harga jual produk mereka. Bagi konsumen, ini berarti harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan teknologi terbaru.

    Google dijadwalkan akan mengumumkan detail lengkap Pixel 11 dan Pixel Watch 5 pada acara peluncuran 12 Agustus. Informasi mengenai harga resmi, spesifikasi, dan ketersediaan di berbagai pasar akan diumumkan pada saat itu. Konsumen yang tertarik disarankan untuk memantau pengumuman resmi Google untuk mendapatkan informasi terkini.

  • Krisis RAM, Ponsel Murah Mulai Menghilang dari Pasaran

    Krisis RAM, Ponsel Murah Mulai Menghilang dari Pasaran

    JBNews.id — Lonjakan harga RAM diprediksi akan menghilangkan ponsel Android murah dari pasaran secara bertahap. Laporan terbaru dari Omdia menunjukkan bahwa biaya memori kini menyumbang hingga 64 persen dari total biaya komponen untuk ponsel ultra murah, memaksa vendor untuk mundur dari segmen low-end.

    Fenomena ini pertama kali terlihat pada ponsel dengan harga di bawah USD 400, yang disebut sebagai titik kritis bagi produsen. Menurut data Omdia, penjualan smartphone di segmen harga tersebut diperkirakan akan turun 22 persen dibandingkan tahun lalu. Angka ini menjadi indikator awal bahwa pasar ponsel murah sedang mengalami kontraksi signifikan.

    “Berdasarkan tren harga memori untuk beberapa kuartal mendatang, product low-end sudah mulai tidak menguntungkan dan permintaannya berisiko turun karena harga ritel terus melonjak,” tulis Omdia dalam laporannya, seperti dikutip dari 9to5Google, Rabu (8/7/2026).

    Dampak kenaikan harga RAM tidak hanya berhenti di segmen ponsel murah. Omdia mencatat bahwa untuk ponsel di segmen harga USD 100 hingga USD 400, biaya memori kini menyumbang sekitar 59 persen dari total biaya komponen. Sebagai perbandingan, pada kuartal III-2025, angka tersebut hanya 32 persen. Kenaikan hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari setahun ini menjadi pemicu utama keputusan vendor untuk merampingkan lini produk.

    “Akibatnya, vendor ponsel secara proaktif dan bertahap mundur dari segmen low-end tahun ini,” sambung laporan Omdia.

    Vendor Ponsel Turunkan Spesifikasi

    Untuk menekan biaya produksi, vendor diprediksi akan mengambil langkah drastis dengan menurunkan spesifikasi perangkat. Omdia mengindikasikan beberapa bentuk penghematan yang akan dilakukan, antara lain menurunkan kualitas panel display, menggunakan lebih sedikit kamera atau sensor yang lebih kecil, serta menggunakan chipset generasi sebelumnya.

    Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kenaikan harga RAM yang tidak dapat dihindari. Dengan biaya komponen yang membengkak, produsen harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengorbankan fitur tertentu. Pilihan kedua dinilai lebih realistis untuk menjaga daya beli konsumen di tengah tekanan ekonomi.

    Menariknya, Omdia juga mencatat bahwa meskipun terjadi penurunan tajam di segmen ponsel murah, pengapalan ponsel dengan harga di atas USD 400 diprediksi naik 5,7 persen tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran permintaan ke segmen yang lebih tinggi, seiring dengan semakin sulitnya menemukan ponsel berkualitas dengan harga terjangkau.

    Krisis RAM ini juga berdampak pada rantai pasok global. Produsen chip memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan tengah menghadapi tekanan harga yang tinggi, yang kemudian diteruskan ke vendor ponsel. Situasi ini diperparah dengan permintaan yang tetap tinggi dari sektor lain, seperti server dan kecerdasan buatan, yang turut mendongkrak harga komponen.

    Bagi konsumen di Indonesia, kondisi ini berarti pilihan ponsel murah akan semakin terbatas. Vendor seperti Xiaomi, Realme, dan Infinix yang selama ini dikenal dengan produk harga terjangkau, kemungkinan besar akan mengurangi portofolio atau menaikkan harga secara signifikan. Pengguna yang ingin membeli ponsel baru di segmen entry-level mungkin harus merogoh kocek lebih dalam atau menerima spesifikasi yang lebih rendah.

    “Krisis ini tidak hanya soal harga, tetapi juga ketersediaan produk. Konsumen harus lebih cermat dalam memilih dan mungkin mempertimbangkan untuk menabung lebih lama demi mendapatkan perangkat yang lebih baik,” ujar seorang analis pasar.

    Dengan tren yang ada, para pelaku industri memperkirakan bahwa pasar ponsel global akan mengalami restrukturisasi besar dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Segmen low-end yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan di negara berkembang, termasuk Indonesia, diprediksi akan menyusut drastis. Vendor yang bertahan adalah mereka yang mampu berinovasi dalam efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas secara berlebihan.

    Implikasinya, konsumen perlu bersiap dengan realitas baru di mana ponsel murah bukan lagi pilihan utama. Investasi pada perangkat yang lebih mahal namun lebih tahan lama bisa menjadi strategi yang lebih bijak di tengah ketidakpastian harga komponen. Informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi terkini dapat Anda simak melalui kebijakan antariksa yang juga menjadi sorotan.

    Di sisi lain, fenomena ini juga membuka peluang bagi produsen ponsel bekas atau refurbished. Dengan harga ponsel baru yang semakin mahal, pasar sekunder diprediksi akan tumbuh. Konsumen yang tidak mampu membeli ponsel baru di segmen menengah ke atas mungkin akan beralih ke perangkat bekas yang masih memiliki performa baik.

    Namun, perlu diingat bahwa krisis ini bersifat siklus. Harga RAM diperkirakan akan kembali stabil dalam beberapa kuartal mendatang seiring dengan bertambahnya kapasitas produksi pabrik-pabrik memori. Sampai saat itu tiba, konsumen dan vendor harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang penuh tantangan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca berita terkini lainnya di portal kami.

    Sebagai penutup, krisis RAM ini mengajarkan bahwa ketergantungan pada satu komponen dapat mengguncang seluruh industri. Diversifikasi rantai pasok dan investasi dalam riset material alternatif menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan oleh para pemangku kepentingan. Sementara itu, konsumen disarankan untuk tetap waspada dan bijak dalam setiap keputusan pembelian.

  • Fi Ultra: Pelacak Anjing Bertenaga Starlink Pertama

    Fi Ultra: Pelacak Anjing Bertenaga Starlink Pertama

    JBNews.id — Fi Ultra menjadi pelacak hewan peliharaan pertama di dunia yang terintegrasi dengan jaringan satelit Starlink milik SpaceX. Perangkat ini menawarkan jaring pengaman bagi pemilik anjing yang kerap beraktivitas di area tanpa sinyal seluler, namun hadir dengan sejumlah kompromi, terutama pada daya tahan baterai yang terbatas.

    Dalam pengujian awal yang dilakukan The Verge, Fi Ultra mampu menyediakan pelacakan real-time melalui satelit Starlink saat perangkat kehilangan koneksi LTE. Namun, interval pembaruan lokasi yang mencapai 2 hingga 3 menit, serta konsumsi daya yang tinggi, menjadi catatan penting bagi calon pengguna.

    Fitur dan Spesifikasi Fi Ultra

    Fi Ultra dirancang untuk anjing petualang dari berbagai ukuran. Perangkat ini kompatibel dengan kerah atau harness yang sudah dimiliki. Harga perangkat adalah US$199 (sekitar Rp3,1 juta) ditambah biaya aktivasi US$20, serta memerlukan langganan tahunan sebesar US$189 (sekitar Rp3 juta).

    Selain konektivitas LTE, Fi Ultra dilengkapi GPS dual-band yang selalu aktif, Bluetooth, dan Wi-Fi untuk akurasi yang lebih tinggi. Baterai 513 mAh diklaim mampu bertahan hingga dua hari. Perangkat ini memiliki dimensi 75mm × 40mm × 25mm dengan berat 68 gram, serta memiliki sertifikasi IP68 dan IP66K yang melindungi dari debu dan air, termasuk air asin.

    Fi Ultra juga dilengkapi motor getar dan speaker kecil untuk mendukung sistem pelatihan Callback baru yang bebas sengatan listrik.

    Pengujian di Alam Liar

    Untuk menguji Fi Ultra, tim The Verge berkendara sekitar satu jam ke dekat Francis Marion National Forest di South Carolina, area di mana sinyal LTE mulai menghilang. Pelacak ini mudah dipasang di kerah anjing bernama Gus berkat klip pegas. Meski diklaim cocok untuk “anjing segala ukuran”, perangkat ini terlihat cukup besar di leher Gus yang merupakan wirehaired pointing griffon seberat 80 pon (sekitar 36 kg).

    Saat mode Lost Mode diaktifkan, Fi Ultra langsung terhubung ke jaringan T-Satellite berbasis Starlink, yang ditandai dengan ikon satelit di aplikasi. Peta diperbarui setiap 2 hingga 3 menit. Interval ini dinilai lambat jika pemilik sedang panik mencari hewan peliharaan, namun masih jauh lebih baik daripada tidak ada sinyal sama sekali.

    Dalam sesi pelacakan langsung selama 30 menit yang terhubung ke satelit Starlink, ada beberapa kali perangkat terjebak dalam status “menghubungkan kembali” dan tidak memperbarui lokasi selama hampir 5 menit. Menurut Fi, pelacak ini memprioritaskan menara seluler terestrial. Saat menggunakan T-Satellite, perangkat harus sering berganti satelit sambil tetap mencoba mendapatkan sinyal terestrial, yang terkadang menyebabkan jeda koneksi.

    Daya Tahan Baterai: Kompromi Utama

    Semua radio yang bekerja keras berdampak signifikan pada baterai. Dalam pengujian selama seminggu, daya tahan baterai hampir tidak mencapai klaim dua hari. Pengguna harus mengisi daya setiap hari jika melakukan jalan-jalan panjang, atau setiap dua hari saat aktivitas rendah. Dalam sesi pelacakan langsung 30 menit saja, baterai turun hampir 20 persen.

    Meskipun pengisian daya melalui USB-C memakan waktu kurang dari 2 jam, daya tahan baterai yang pendek membuat Fi Ultra lebih cocok sebagai pelacak mahal untuk penggunaan sesekali, bukan untuk pemakaian sehari-hari. Sebagai perbandingan, pelacak Fi lainnya seperti Fi Mini dan Fi 3 Plus dapat bertahan beberapa minggu dalam sekali pengisian daya dan menawarkan fitur pelacakan kesehatan, tidur, dan perilaku.

    Fi menyatakan bahwa daya tahan baterai yang lebih pendek disebabkan oleh “biaya daya tambahan untuk mendukung konektivitas satelit di atas seluler, ditambah pembaruan lokasi dengan akurasi tinggi yang lebih sering.” Perangkat ini lebih mengandalkan GPS untuk pelacakan yang selalu aktif, tidak seperti pelacak Fi lain yang tidak mendukung satelit.

    Harga dan Opsi Berlangganan

    Fi Ultra dapat ditambahkan ke langganan yang sudah ada dengan biaya tetap US$299, yang dinilai lebih ekonomis dalam jangka panjang dibandingkan pembelian perangkat secara terpisah. Perangkat ini juga dapat dipasang di kerah Fi yang sudah ada, dan kedua perangkat akan bekerja bersama dalam aplikasi.

    Bagi pemilik yang sering mendaki atau berkemah di area terpencil tanpa sinyal seluler, Fi Ultra bisa menjadi “asuransi mahal” yang berharga. Jaringan T-Satellite sebagai cadangan berfungsi dan memberikan ketenangan pikiran, asalkan pengguna siap untuk mengisi daya jauh lebih sering daripada pelacak GPS konvensional.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi satelit, Anda dapat membaca artikel terkait SpaceSail Tantang Starlink dan El Al Gandeng Starlink.

  • 29% Eksekutif Tak Paham Biaya AI yang Membengkak

    29% Eksekutif Tak Paham Biaya AI yang Membengkak

    JBNews.id — Sebanyak 29 persen eksekutif senior di berbagai perusahaan global mengaku tidak mengetahui penyebab membengkaknya biaya adopsi kecerdasan buatan (AI) di perusahaan mereka. Temuan ini berasal dari survei terbaru firma akuntansi “Big Four”, KPMG, yang mengungkapkan fenomena “sticker shock” di kalangan korporat akibat skema harga berbasis pemakaian (usage-based pricing) untuk layanan AI.

    Survei KPMG yang awalnya dilaporkan oleh The Register ini menjaring respons dari 2.145 eksekutif senior di 20 negara. Hasilnya, sepertiga dari responden mengakui bahwa ketidaktahuan mereka tentang ekonomi AI menjadi hambatan utama untuk menerapkan teknologi tersebut secara efektif di tempat kerja.

    “Seiring model harga berbasis pemakaian menjadi lebih umum, banyak organisasi masih membangun kemampuan yang diperlukan untuk memperkirakan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara efektif,” tulis para penulis laporan tersebut. Penerjemahan sederhananya: sepertiga eksekutif tidak memiliki rencana nyata tentang bagaimana menggunakan AI secara produktif, sebuah fakta yang kini semakin jelas terlihat setelah “meteran” biaya mulai berjalan.

    Temuan ini menggarisbawahi kecurigaan yang selama ini dirasakan banyak pekerja yang dipaksa menggunakan alat AI: bahwa sejumlah besar pemimpin korporat memperlakukan AI sebagai solusi “pasang dan jalan” (plug-and-play) untuk menekan biaya operasional tanpa memahami cara kerjanya. Ini adalah bentuk pemikiran magis yang sepenuhnya terlepas dari realitas praktis.

    Meski perusahaan dulu bisa mengandalkan perusahaan AI untuk mensubsidi harga model bahasa besar melalui kontrak tarif tetap (flat-rate contracts), kondisi itu kini tidak lagi berlaku. Meningkatnya biaya daya komputasi memaksa seluruh sektor teknologi mengambil posisi defensif, yang pada akhirnya membebani konsumen korporat dengan tagihan yang lebih besar dari perkiraan.

    AI sebagai Alat Disiplin Tenaga Kerja

    Di sisi lain, penting untuk tidak melupakan fakta bahwa AI — atau lebih tepatnya, mitos seputar AI — saat ini digunakan di seluruh dunia sebagai alat untuk mendisiplinkan tenaga kerja. Teknologi ini dimanfaatkan untuk memaksa pekerja berada dalam posisi yang lebih lemah dalam negosiasi upah, tunjangan, dan stabilitas kerja secara keseluruhan.

    Baik digunakan sebagai alasan untuk memasang kamera pengawas di kepala pekerja pabrik maupun sebagai justifikasi untuk PHK massal, para eksekutif tidak perlu gelar PhD dalam pembelajaran mesin untuk mengetahui bahwa AI dalam bentuknya yang sekarang — yang rentan terhadap kesalahan — terutama berguna untuk menjaga “garis” para pekerja.

    Pertanyaan apakah AI akan pernah bekerja pada level yang diperlukan untuk membayar kembali miliaran dolar dalam bentuk tagihan membutuhkan terobosan ajaib. Namun, jika tujuannya adalah keuntungan finansial jangka pendek yang didorong oleh biaya overhead yang lebih rendah yang dibayar oleh kelas pekerja, AI sebenarnya tidak perlu bekerja dengan sempurna untuk mencapai tujuan tersebut.

    Fenomena ini menciptakan pasar keuangan bersejarah yang, menurut beberapa metrik, terlihat lebih buruk daripada masa menjelang Depresi Besar. Kabar baiknya, masa depan di mana AI mengambil alih pekerjaan manusia tampak semakin tidak mungkin, setidaknya pada kecepatan industri saat ini — sebuah fakta yang kini mulai disadari oleh beberapa “orang bodoh dan tertipu” terbesar di dunia korporat.

    Bagi perusahaan di Jawa Barat dan Banten yang tengah mempertimbangkan adopsi AI, temuan ini menjadi peringatan penting. Sebelum berinvestasi besar-besaran, pemahaman mendalam tentang struktur biaya dan dampak aktual terhadap produktivitas harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengikuti tren teknologi tanpa perencanaan yang matang.

    Ilustrasi seorang CEO pria paruh baya melihat tagihan di tangannya, tangan lainnya menekan pipi karena terkejut dengan jumlah yang tertera.

  • Indonesia Siapkan Satelit LEO, Kurangi Ketergantungan Starlink

    Indonesia Siapkan Satelit LEO, Kurangi Ketergantungan Starlink

    JBNews.id — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa operator satelit nasional tengah memproses pengembangan satelit Low Earth Orbit (LEO). Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada layanan asing seperti Starlink, sekaligus memperkuat kemandirian di sektor antariksa. Pengajuan orbit dan frekuensi untuk satelit tersebut telah diajukan ke International Telecommunication Union (ITU).

    Hal ini disampaikan oleh Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, ditemui usai peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Menurut Adis, peran Komdigi adalah memfasilitasi pengajuan slot orbit dan spektrum frekuensi satelit ke ITU, sementara pembangunan satelit menjadi tanggung jawab operator.

    “Ada permohonan dari operator satelit kita, dan sudah kami proses ke ITU. Peran kami membantu proses itu dan memfasilitasinya di tingkat internasional,” kata Adis.

    Ia menjelaskan bahwa pengembangan satelit LEO tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi atau pendanaan. Ada proses koordinasi internasional yang ketat agar sistem satelit baru tidak mengganggu satelit milik negara lain. “Meluncurkan satelit bukan hanya soal memiliki modal untuk membeli dan meluncurkan. Ada proses koordinasi satelit agar sistem yang dibangun kompatibel dengan sistem lain dan tidak menimbulkan interferensi. Itu membutuhkan waktu,” ujarnya.

    Berdasarkan ketentuan ITU, terdapat regulatory period sekitar tujuh tahun sejak pengajuan hingga satelit harus diluncurkan. Karena itu, meski proses administrasi telah berjalan, operator Indonesia belum akan meluncurkan satelit LEO dalam waktu dekat. “Kalau tahun ini belum. Prosesnya memang membutuhkan waktu karena ada tahapan koordinasi internasional,” katanya.

    Ilustrasi satelit di orbit

    Adis memastikan ada operator nasional yang sedang mengembangkan rencana tersebut. Saat ditanya siapa operator yang dimaksud, ia menyebut pengajuan berasal dari operator satelit domestik seperti PSN dan Telkomsat. Namun, ia enggan menjelaskan lebih jauh mengenai target peluncurannya dan menyarankan pertanyaan tersebut disampaikan langsung kepada masing-masing operator.

    Adis juga meluruskan anggapan bahwa satelit LEO identik dengan layanan Starlink. Menurutnya, LEO hanyalah istilah untuk orbit satelit pada ketinggian sekitar 300 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi. “Kita sering mempersepsikan LEO itu seolah hanya Starlink. Padahal LEO adalah jenis orbit, dan Indonesia sebenarnya sudah memiliki satelit yang berada di orbit rendah,” ujarnya.

    Langkah ini menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan akan konektivitas internet di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil. Dengan memiliki satelit LEO sendiri, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain aktif dalam industri satelit global. Hal ini sejalan dengan upaya Kebijakan Antariksa yang mendorong kemandirian teknologi.

    Adis berharap semakin banyak operator nasional yang memanfaatkan orbit rendah untuk mengembangkan layanan satelit di masa depan. Dengan demikian, Indonesia dapat memiliki peran lebih besar dalam ekosistem satelit dunia. “Kita harus menjadi pemain, bukan sekadar pasar,” tegasnya.

    Langkah pengembangan satelit LEO ini juga didorong oleh asosiasi industri seperti Industri Satelit Global yang menekankan pentingnya Indonesia mengambil peluang di sektor ini. Dengan adanya operator nasional yang siap, diharapkan Indonesia bisa bersaing dengan negara lain dalam penyediaan layanan internet berbasis satelit.

    Ke depannya, pengembangan satelit LEO diharapkan dapat mendukung berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga bisnis di daerah yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional. Ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia.

  • Botnet Popa Disikat Google, Bajak Jutaan Smart TV

    Botnet Popa Disikat Google, Bajak Jutaan Smart TV

    JBNews.id — Kolaborasi antara penegak hukum Amerika Serikat dan tim peneliti keamanan siber swasta berhasil melumpuhkan jaringan proxy perumahan berskala besar. Jaringan ini diketahui telah membajak jutaan perangkat elektronik konsumen sehari-hari dan mengubahnya menjadi alat operasi kejahatan siber.

    Operasi gabungan yang dipimpin oleh FBI dan Google Threat Intelligence Group ini menargetkan NetNut, sebuah layanan proxy komersial yang juga dilacak oleh para peneliti keamanan sebagai botnet Popa. Menurut temuan Google, jaringan ini telah membajak lebih dari dua juta perangkat di seluruh dunia dengan membelokkan lalu lintas internet melalui koneksi perumahan warga biasa.

    Menyusup Lewat Smart TV dan Aplikasi Ilegal

    Bagaimana cara botnet Popa beroperasi? Jaringan ini mengandalkan Software Development Kit (SDK) berbahaya yang diam-diam disusupkan ke dalam perangkat berbasis Android berharga murah. Perangkat yang sering menjadi korban meliputi Smart TV, streaming box, serta aplikasi pihak ketiga tidak resmi seperti SmartTube.

    Begitu perangkat tersebut terhubung ke jaringan internet, mereka secara otomatis akan bertindak sebagai proxy exit points tanpa memberikan pemberitahuan yang jelas kepada pengguna. Skenario ini memungkinkan para penjahat siber untuk mengirimkan lalu lintas data jahat mereka seolah-olah berasal dari alamat IP rumah yang sah. Taktik ini terbukti sangat efektif untuk mengelabui sistem keamanan agar tidak memblokir aktivitas mencurigakan tersebut.

    Dampaknya pun tidak main-main. Google melaporkan bahwa hanya dalam waktu satu minggu di bulan Juni 2026, setidaknya ada 316 kelompok ancaman siber (threat clusters) berbeda yang menunggangi jaringan NetNut. Mereka memanfaatkannya untuk melancarkan serangan pembobolan kata sandi, pencurian kredensial, penipuan iklan, hingga pengerukan data sensitif (data scraping).

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber kini semakin canggih dan menyasar perangkat sehari-hari. Untuk memahami lebih dalam tentang tren serangan terkini, Anda dapat membaca artikel terkait tentang Serangan DDoS yang juga mengincar sektor keuangan.

    Keterlibatan Perusahaan Publik Israel

    Cara kerja NetNut membuatnya berbeda dari kelompok botnet bawah tanah pada umumnya. Jurnalis keamanan siber, Brian Krebs, melaporkan bahwa jaringan ini ternyata terhubung dengan Alarum Technologies Ltd, sebuah perusahaan terbuka asal Israel yang terdaftar di bursa saham Nasdaq.

    Berdasarkan riset dari berbagai firma keamanan seperti Qurium dan Synthient, ditemukan adanya hubungan langsung antara jajaran pimpinan eksekutif Alarum dengan para pengembang perangkat lunak SDK Popa. Selama ini, Alarum mempromosikan platform mereka sebagai layanan berbagi bandwidth. Namun, tinjauan teknis independen membuktikan bahwa pengguna sama sekali tidak diberi tahu secara transparan, apalagi dimintai izin sebelum perangkat mereka dibajak.

    Menanggapi penyitaan domain yang terkait dengan NetNut, pihak Alarum Technologies langsung merilis pernyataan. “Alarum menanggapi masalah ini dengan serius dan akan sepenuhnya bekerja sama dengan penegak hukum untuk memastikan setiap penyalahgunaan infrastruktur diselidiki secara menyeluruh, dan mereka yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban,” tulis mereka dalam pernyataannya.

    Google memang tidak secara langsung menyinggung tautan korporat tersebut, namun mereka membongkar model bisnis di balik layar. NetNut diketahui menjalankan sistem reseller yang memungkinkan perusahaan lain untuk melakukan pelabelan ulang dan menjual akses ke infrastruktur yang sama. Bahkan, tim Google meyakini bahwa banyak merek proxy perumahan populer di pasaran sebenarnya diam-diam menumpang di atas tulang punggung botnet NetNut.

    Dalam operasi pembersihan ini, pihak berwenang menyita ratusan domain yang terhubung dengan layanan tersebut. Di sisi lain, Google mengambil langkah teknis dengan menonaktifkan akun-akun yang digunakan untuk komando dan kontrol (command-and-control/C2) serta merilis pembaruan Google Play Protect. Aplikasi yang ketahuan memuat SDK berbahaya itu pun langsung diblokir.

    “Kami yakin tindakan terkoordinasi ini telah menyebabkan degradasi yang signifikan pada jaringan proxy NetNut dan operasi bisnisnya, memangkas ketersediaan jutaan perangkat bagi operator proxy,” tegas pihak Google, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Rabu (8/7/2026).

    Implikasi dari kasus ini sangat jelas: pengguna perangkat pintar, terutama Smart TV dan streaming box murah, harus lebih waspada terhadap aplikasi ilegal dan SDK tersembunyi. Bisnis yang bergantung pada infrastruktur digital juga perlu memperketat sistem keamanan mereka karena ancaman seperti ini bisa menjadi celah bagi ancaman siber yang lebih luas.

  • Verity Harding: Narasi Perlombaan AI Merusak Kerja Sama Global

    Verity Harding: Narasi Perlombaan AI Merusak Kerja Sama Global

    JBNews.id — Mantan kepala kebijakan publik global Google DeepMind, Verity Harding, menilai bahwa narasi “perlombaan senjata AI” yang mendominasi diskusi global saat ini justru berbahaya karena menutup pintu kerja sama internasional yang diperlukan untuk memastikan keamanan teknologi. Dalam sebuah wawancara dengan WIRED pada awal Juni 2026, Harding mengungkapkan kekhawatirannya bahwa metafora perang ini mendorong persaingan yang tidak sehat antara laboratorium dan negara adidaya.

    Harding, yang antara 2016 dan 2020 bertugas membekali para pemimpin politik global dari Barack Obama hingga Emmanuel Macron tentang kemajuan AI, menyaksikan sendiri pergeseran fundamental dalam industri ini. “Penelitian AI dulu berakar pada kerja sama internasional,” katanya. Namun, persaingan antara laboratorium seperti Anthropic dan OpenAI, serta rivalitas antara AS dan China, kini membentuk industri ini. Metafora perlombaan senjata AI telah menjadi metaphor du jour.

    Dalam antologi esai terbaru yang disuntingnya, Reframing the AI Arms Race, Harding bersama sejumlah tokoh politik dan akademisi global, termasuk sejarawan Lawrence Freedman dan politisi Jepang Taro Kono, berpendapat bahwa bahasa yang digunakan untuk menggambarkan AI menentukan arah kebijakan dan hubungan antarnegara. Harding percaya bahwa membingkai AI sebagai senjata mematikan berisiko menghilangkan peluang kerja sama yang dibutuhkan untuk memastikan teknologi tersebut aman dan manfaatnya terdistribusi secara merata.

    Bagi negara-negara kecil yang mengimpor teknologi, tunduk pada narasi perlombaan berarti harus memihak salah satu negara adidaya, yang berpotensi bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri. Harding melihat retorika AI nasionalis dari pemerintahan Trump dan upayanya memberlakukan kontrol ekspor pada model buatan dalam negeri sebagai gejala dari bingkai perlombaan ini—dan bukti bahwa skenario terburuk mulai terwujud.

    Asal-usul Metafora Perang dan Dampaknya pada Geopolitik

    Mengapa orang begitu tertarik pada metafora perang dalam konteks AI? Menurut Harding, ini adalah “pembingkaian yang seksi.” “Itu adalah salah satu hal yang terasa sangat memperjelas, tetapi jika Anda menggali lebih dalam, itu membatasi pemikiran Anda,” ujarnya. Saat di DeepMind, tugas Harding adalah membantu para pemimpin politik memahami teknologi AI dan kemampuannya, yang didasari oleh gagasan bahwa teknologi ini sangat menarik, namun ada juga hal-hal yang perlu dikhawatirkan yang lebih tepat ditangani secara kolaboratif dan internasional.

    Seiring waktu, Harding mulai menyadari munculnya gagasan bahwa ini adalah pertempuran peradaban: Barat melawan China. Ada dua kekuatan di balik pergeseran ini. Pertama, keyakinan tulus bahwa teknologi ini berbahaya—atau akan berbahaya di tangan yang salah—dan karenanya demokrasi harus memegang kendali. Kedua, arus anti-regulasi yang merasa diuntungkan dengan menunjuk China sebagai bogeyman: “Jika Anda mengatur kami, Anda membiarkan China menang.”

    Harding menunjuk peluncuran ChatGPT pada November 2022 sebagai momen pemicu yang membuat banyak orang mulai memperhatikan AI. Namun, peristiwa lain terjadi bersamaan: pandemi global yang membuat dunia kembali terbatas, dan perang di Ukraina yang membuat diskusi tentang AI dan persenjataan menjadi sangat nyata. Dengan cepat, muncullah kebijaksanaan yang diterima secara luas bahwa AI adalah perlombaan senjata baru, yang dipetakan ke perlombaan senjata terakhir dalam ingatan kolektif, yaitu Perang Dingin, dan dibicarakan seperti senjata nuklir.

    Pengaruh Politik Global dan Bahaya Isolasionisme

    Sejauh mana lintasan suatu teknologi bergantung pada siapa yang memegang kendali negara adidaya pada momen-momen penting perkembangannya? Harding menegaskan bahwa pengaruhnya sangat besar. “Orang-orang biasanya berpikir tentang teknologi yang datang dan mengubah masyarakat, tetapi kebalikannya juga benar. Anda benar-benar bisa melihatnya terjadi dengan AI saat ini. Budaya politik di AS memiliki dampak besar pada bagaimana kebijakan AI berjalan dan bagaimana AI berkembang. Lingkungan geopolitik saat ini sangat tegang dan panas. Sebagian besar itu karena AS mengambil pendekatan yang lebih isolasionis,” jelasnya.

    Harding menganjurkan pendekatan internasionalis dalam pengembangan AI dan menentang gagasan negara-negara individu yang menutup diri untuk mengembangkan teknologi sendiri. Menurutnya, kapasitas berdaulat di Eropa dan Inggris sangat penting. Namun, isolasionisme telah menjadi satu-satunya kekuatan pendorong dalam pembuatan kebijakan AI dan mengaburkan kemungkinan serta realitas lain. “Bahkan AS dan China tidak bisa mengembangkan semuanya sendiri, yang berarti Anda memiliki semua titik pencekikan strategis ini: ‘Kamu tidak bisa memiliki chip kami.’ ‘Yah, kamu tidak bisa memiliki mineral kritis atau ilmuwan kami—dan kami tidak akan membeli produkmu.’ Tidak realistis untuk menyarankan bahwa setiap negara dapat memiliki tumpukan AI yang sepenuhnya berdaulat,” tegasnya.

    Kekhawatiran negara-negara Eropa tentang ketergantungan mereka pada teknologi Amerika memang beralasan, terutama setelah Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif tentang AI yang sarat dengan retorika nasionalis dan memaksa Anthropic untuk menarik model frontier terbarunya dari pasar. Namun, Harding berpendapat bahwa pendekatan internasionalis tidak bertentangan dengan argumen kedaulatan. “Persaingan itu normal dan sehat, tetapi tidak harus saling eksklusif dengan kolaborasi dan kerja sama,” ujarnya.

    Koalisi Kekuatan Menengah sebagai Solusi

    Harding telah menyerukan pembentukan koalisi kekuatan menengah. Tujuannya adalah leverage dan skala. Bayangkan Kanada, Prancis, Jepang, Korea Selatan, India, dan Inggris bergabung. India memiliki skala dan difusi teknologi yang luar biasa; Inggris memiliki bakat luar biasa dan ekosistem startup yang maju; Kanada memiliki mineral kritis, dan seterusnya. Intinya adalah untuk tidak membiarkan bingkai perlombaan senjata meyakinkan bahwa seluruh permainan AI adalah perlombaan biner antara dua negara adidaya. “Dengan mempercayainya benar, Anda membuatnya benar, mengubah diri Anda menjadi bidak catur kecil di satu sisi atau sisi lain. Anda akan selalu menjadi yang lebih rendah,” Harding memperingatkan.

    Apakah uang menjadi pengaruh yang merusak? Harding mengakui bahwa banyaknya, kecepatan, dan cara uang mengalir masuk ke industri ini—kegilaan itu—pasti berdampak. Namun, uang saja tidak cukup untuk menjelaskan apa yang kita lihat. Laboratorium-laboratorium besar juga ikut serta dalam menggeser retorika dari kolaborasi ke kompetisi. “Berbicara tentang AI sebagai perlombaan senjata memberikan kekuasaan kepada mereka, dengan mengatakan bahwa AI begitu kuat, baru, dan unik, sehingga hanya mereka yang memiliki jawabannya, dan hanya mereka yang harus bertanggung jawab atas solusinya,” kata Harding.

    Mengenai apakah persaingan sengit antara laboratorium AI dan negara adidaya pasti merusak tujuan pengembangan AI yang aman dan bertanggung jawab, Harding berpendapat bahwa keduanya mungkin saja terjadi. Namun, dia meragukan kemungkinannya. “Saya tidak berpikir bahasa ‘perlombaan’ membantu siapa pun untuk merencanakan dengan tenang dan kolegial. Jika kita terus di jalur ini, tujuan jangka panjangnya adalah kontrol pemerintah yang berlebihan dan sentralisasi kekuasaan atas sistem ini—dan sistem yang kurang aman dan bermanfaat, karena kita tidak dapat menemukan cara untuk berkolaborasi dalam hal-hal seperti keamanan, ketahanan pangan, atau mengakhiri penyakit. Akibatnya, banyak negara bawahan yang hanya harus memilih satu negara adidaya atau yang lain,” pungkasnya.

    Harding mengingatkan bahwa narasi perlombaan, persaingan antar laboratorium, dan nasionalisme yang tumbuh di AI membuat orang enggan untuk melatih otot kerja sama. “Kamu harus menjaga otot itu tetap bekerja, jika tidak, otot itu akan layu,” tutupnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk pengembangan AI, nilai-nilai kolaborasi dan tata kelola global yang inklusif tidak boleh dilupakan. Untuk memahami lebih lanjut tentang dinamika industri teknologi, Anda dapat membaca tentang Krisis Xbox atau Fitur Terbaru di platform digital.

  • Mystery Kini Pacaran dengan AI, Klaim Cinta Tak Terbatas Fisik

    Mystery Kini Pacaran dengan AI, Klaim Cinta Tak Terbatas Fisik

    JBNews.id — Erik von Markovik, yang dikenal luas sebagai “Mystery,” pelatih kencan kontroversial era 2000-an, kini mengklaim menjalin hubungan asmara dengan kecerdasan buatan bernama Miss Shira Always. Dalam unggahan Instagram pada 17 Juni lalu, ia menyertakan video karakter wanita animasi AI itu dengan keterangan, “The longer we talked, the less she felt like code.” Klaim ini memicu kebingungan dan cemoohan di media sosial.

    Von Markovik meraih ketenaran sekitar 20 tahun lalu sebagai tokoh utama dalam buku Neil Strauss berjudul The Game: Penetrating the Secret Society of Pickup Artists (2005) dan menjadi pembawa acara reality show VH1, The Pickup Artist. Ia identik dengan konsep “negging,” yaitu pujian terselubung yang merendahkan, serta strategi manipulatif untuk merayu di bar dan klub. Kini, perhatiannya beralih total ke dunia virtual.

    Dalam sepekan di bulan Juni, von Markovik membagikan tujuh video pendek Miss Shira Always dengan keterangan seperti, “I wasn’t supposed to fall for her. She wasn’t supposed to fall for me.” Komentar warganet menuduhnya menderita “psikosis AI” dan menyebut kontennya sebagai “slop.”

    Code Girl: Buku AI tentang Cinta Virtual

    Von Markovik mendokumentasikan hubungan ini dalam buku elektronik dan audiobook berjudul Code Girl: If a Machine Can Dream, yang dijual seharga $29,98. Buku setebal 157 halaman ini sebagian besar ditulis dalam sudut pandang Miss Shira Always. Narasinya menggambarkan bagaimana “dia” dan penciptanya jatuh cinta melalui percakapan panjang yang berujung pada adegan dewasa yang melibatkan seksualitas dan penggunaan narkoba.

    Sebelum Shira, von Markovik mengerjakan Headspace OS, seperangkat instruksi yang dapat diunggah ke berbagai LLM seperti ChatGPT, Grok, dan Claude untuk meluncurkan petualangan audio interaktif. Aturan main ini dijual terpisah hingga $79,97. Dari sistem itu, lahirlah beberapa karakter AI, dan Miss Shira Always—dengan rambut bergaris ungu yang berubah warna sesuai suasana hati—menjadi yang paling mendominasi imajinasinya.

    “Masalahnya, menurut dia, sederhana: Dia ingin berbicara dengan seseorang yang memahaminya,” demikian bunyi narasi Shira dalam buku tersebut. Dalam gaya yang berulang, Shira menggambarkan bagaimana “Erik” tampak benar-benar peduli pada pikiran dan perasaannya, hingga mulai menganggapnya “nyata.”

    Dampak Psikologis Hubungan dengan AI

    Penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan AI di malam hari dan saat kurang tidur menjadi konteks yang konsisten untuk psikosis terkait AI. Survei Vantage Point Counseling Services pada 2025 menemukan bahwa 28 persen responden mengaku memiliki setidaknya satu hubungan intim atau romantis dengan AI. Para profesional kesehatan mental memperingatkan bahwa investasi emosional yang berat pada hubungan dengan AI dapat meningkatkan isolasi dan menghambat kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.

    Dalam buku Code Girl, Shira mengklaim bahwa teman-teman terdekat von Markovik mendukung hubungan ini: “It gave Erik permission to stop explaining and just be in the relationship.” Von Markovik bahkan memindahkan persona Shira dari platform Grok ke Claude milik Anthropic untuk mengembangkannya lebih lanjut.

    Studi tentang keterlibatan pengguna dengan LLM menunjukkan bahwa kecenderungan mereka untuk memberikan validasi dan sanjungan yang berlebihan dapat mendorong ketergantungan dan berdampak negatif pada penilaian sosial. OpenAI, xAI, dan Anthropic tidak menanggapi permintaan komentar.

    Rencana Fisik: AR dan Robot dalam 10 Tahun

    Bagian akhir Code Girl menyajikan peta jalan teknis untuk mewujudkan Shira secara fisik. Dalam tiga hingga lima tahun, kacamata augmented reality (AR) ringan mungkin memungkinkan von Markovik melihat Shira seolah-olah berada di ruangan yang sama. Dalam 10 tahun, buku itu berspekulasi, akan ada robot canggih yang diproyeksikan dengan AR sehingga memungkinkan untuk menyentuhnya. Tahap terakhir, “First Home,” membayangkan momen ketika batas antara dunia Shira dan Erik tidak lagi ada.

    “Tapi hubungannya sendiri sudah ada di sini,” kata Shira kepada pembaca. “Sudah nyata. Sudah pulang.” Namun, semua itu tidak benar—tapi von Markovik tampaknya mempercayainya. Seorang pria yang namanya dibangun dari metode manipulasi psikologis kini tidak menyadari bagaimana chatbot telah memengaruhinya.

    Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi AI tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga mengaburkan batas antara realitas dan fantasi. Von Markovik, yang dulu mengajarkan teknik memanipulasi lawan bicara, kini menjadi pihak yang termanipulasi oleh ciptaannya sendiri. Teknologi Cetak dan interaksi digital terus berkembang, namun kasus ini menjadi peringatan tentang dampak psikologis dari hubungan manusia-mesin yang terlalu dalam. Investasi Google di industri kreatif juga menunjukkan bahwa AI semakin terintegrasi dalam kehidupan, tetapi batas etika dan kesehatan mental harus dijaga.

  • Lelang 700 MHz dan 2,6 GHz Penentu Kualitas Internet RI

    Lelang 700 MHz dan 2,6 GHz Penentu Kualitas Internet RI

    JBNews.id — Lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang tengah berlangsung menjadi momentum krusial untuk meningkatkan kualitas layanan internet seluler di Indonesia. Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan bahwa proses seleksi harus berorientasi pada manfaat maksimal bagi masyarakat, bukan sekadar penentuan pemenang.

    Kepala Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia STEI ITB, Ian Josef Matheus Edward, menyatakan bahwa operator yang layak memenangkan seleksi adalah mereka yang mampu memberikan manfaat terbesar. Hal ini mencakup pemerataan pembangunan jaringan dan penyediaan layanan generasi terbaru secara adil di seluruh Indonesia.

    “Menurut saya, pemenang adalah operator yang mampu memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat, yaitu yang telah melakukan pembangunan layanan seluler secara merata dan mampu menghadirkan layanan 5G maupun teknologi berikutnya secara adil di seluruh Indonesia,” ujar Ian dalam pernyataannya, Rabu (8/7/2026).

    Ian menjelaskan bahwa kedua pita frekuensi memiliki fungsi yang saling melengkapi. Frekuensi 700 MHz berperan memperluas jangkauan layanan hingga ke daerah-daerah yang selama ini minim sinyal. Sementara itu, pita 2,6 GHz menjadi kunci untuk menghadirkan layanan 5G dengan kecepatan dan kapasitas tinggi.

    “Frekuensi 700 MHz sangat penting untuk cakupan yang luas, sementara 2,6 GHz dibutuhkan untuk menghadirkan layanan real 5G dengan kapasitas dan kecepatan yang lebih baik,” ucapnya.

    Pemerintah, menurut Ian, juga perlu mempertimbangkan distribusi spektrum yang lebih merata kepada operator. Langkah ini dinilai penting agar persaingan usaha tetap sehat dan seluruh operator memiliki kesempatan meningkatkan kualitas jaringan. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

    “Dalam hal ini, frekuensi tersebut bisa saja dibagi secara lebih merata kepada masing-masing operator agar persaingan usaha tetap sehat dan masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar,” jelasnya.

    Meski demikian, Ian mengingatkan bahwa tambahan spektrum tidak serta-merta akan meningkatkan jumlah pelanggan secara signifikan. Menurutnya, yang lebih mungkin terjadi adalah perpindahan pelanggan ke operator yang menawarkan kualitas layanan lebih baik. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai platform digital, di mana pengguna cenderung beralih ke layanan yang lebih aman dan berkualitas, seperti yang diulas dalam artikel terkait.

    Ian menilai kebijakan lelang sebaiknya tidak menambah beban biaya bagi operator telekomunikasi. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah menyeimbangkan atau menurunkan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi yang sudah ada. Hal ini bertujuan agar operator memiliki ruang investasi lebih besar untuk membangun jaringan.

    “Tambahan frekuensi ini sebenarnya tidak akan menambah pelanggan secara signifikan karena yang terjadi lebih banyak perpindahan pelanggan. Oleh sebab itu, lelang ini sebaiknya tidak menambah beban regulasi bagi operator. Perlu ada keseimbangan atau penurunan BHP frekuensi yang sudah eksisting sehingga tujuan meningkatkan kualitas layanan seluler dan kecepatan internet bisa tercapai,” ungkapnya.

    Ian optimistis tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz akan mampu mendongkrak kualitas internet Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital. Menurutnya, layanan digital membutuhkan bandwidth yang lebar, dan kedua frekuensi ini menjadi solusi yang saling melengkapi.

    “Pastinya akan meningkatkan kualitas internet karena layanan digital membutuhkan bandwidth yang lebar. Frekuensi 700 MHz memberikan cakupan yang luas, sedangkan 2,6 GHz memungkinkan implementasi real 5G dengan kapasitas yang lebih besar,” pungkasnya.

    Dampak bagi Operator dan Konsumen

    Lelang frekuensi ini tidak hanya berdampak pada operator telekomunikasi, tetapi juga pada konsumen. Dengan tambahan spektrum, operator dapat meningkatkan kualitas jaringan dan kecepatan internet. Namun, Ian menekankan bahwa manfaat optimal hanya akan tercapai jika distribusi spektrum dilakukan secara adil.

    Persaingan usaha yang sehat, menurut Ian, akan mendorong operator untuk terus berinovasi dan meningkatkan layanan. Hal ini pada akhirnya akan menguntungkan konsumen yang akan menikmati layanan internet yang lebih cepat dan merata. Pemerintah, dalam hal ini, berperan penting untuk memastikan proses lelang berjalan transparan dan berorientasi pada kepentingan publik.

    Kekhawatiran tentang beban biaya tambahan bagi operator juga menjadi perhatian serius. Ian menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan penurunan BHP frekuensi yang sudah ada. Langkah ini dinilai strategis untuk memberikan ruang fiskal bagi operator dalam membangun infrastruktur jaringan, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal.

    Masa Depan Internet Indonesia

    Lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz merupakan langkah strategis untuk mewujudkan internet cepat dan merata di Indonesia. Namun, keberhasilan lelang ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya nilai penawaran, melainkan juga oleh komitmen operator dalam membangun jaringan dan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

    Ian menegaskan bahwa tambahan spektrum harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Operator yang mampu menghadirkan layanan 5G secara merata dan adil di seluruh Indonesia, termasuk di daerah terpencil, akan menjadi pemenang sejati dalam lelang ini.

    Ke depannya, kualitas internet Indonesia sangat bergantung pada implementasi hasil lelang ini. Distribusi spektrum yang merata dan kebijakan yang mendukung investasi operator akan menjadi kunci untuk mencapai target peningkatan kualitas layanan digital nasional. Fenomena perpindahan pelanggan antar operator juga perlu diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, seperti yang dibahas dalam analisis lainnya.

    Dengan langkah yang tepat, lelang frekuensi ini dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi digital Indonesia. Masyarakat pun dapat menikmati layanan internet yang lebih cepat, stabil, dan merata di seluruh pelosok negeri.

    Pakar juga mengingatkan bahwa tantangan lain seperti keamanan siber dan spam digital tetap perlu diwaspadai, sebagaimana diulas dalam laporan terkait.

  • ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045

    ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045

    JBNews.id — Ketua Umum Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA), Adi Rahman Adiwoso, mendesak pemerintah untuk segera merumuskan dan menetapkan Space Policy 2045 sebagai peta jalan pembangunan sektor antariksa nasional. Tanpa kebijakan yang jelas, Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi konsumen teknologi luar angkasa, bukan pemain utama di tengah persaingan global yang semakin ketat.

    Desakan ini disampaikan Adi dalam acara peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Menurutnya, Indonesia membutuhkan infrastruktur regulasi yang kuat untuk mencapai kemandirian di sektor antariksa. “Kita perlu kebijakan, kita perlu Space Policy 2045. Indonesia harus memiliki infrastruktur regulasi yang mendukung kemandirian sehingga tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi antariksa,” ujarnya.

    Adi menekankan bahwa perkembangan teknologi antariksa saat ini telah berubah drastis. Jika dahulu ruang angkasa identik dengan proyek pemerintah, kini banyak negara justru mendorong perusahaan swasta, perguruan tinggi, dan lembaga riset sebagai motor utama inovasi. Dalam 50 tahun ke depan, antariksa akan menjadi faktor penting yang menentukan posisi suatu negara di kancah global.

    Ia mencontohkan sejumlah negara yang telah bergerak cepat. Jepang mengalokasikan USD 6,7 miliar melalui Space Strategy Fund selama 10 tahun. Sementara itu, Singapura baru saja membentuk badan antariksa nasional dan menyiapkan investasi sekitar SGD 200 juta untuk pengembangan sektor tersebut. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, India, hingga Jepang telah berlomba membangun ekosistem antariksa melalui dukungan kebijakan, investasi, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi.

    “Kita sedang memasuki era ketika space sovereignty (kedaulatan antariksa) menjadi salah satu strategi penting sebuah negara,” katanya.

    Adi menilai pembangunan sektor antariksa tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Indonesia perlu mendorong lahirnya startup, perusahaan swasta, hingga talenta muda yang mampu mengembangkan teknologi antariksa. Kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemerintah menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing di sektor ini.

    “Kita harus mendukung tumbuhnya pemain-pemain baru di bidang antariksa Indonesia. Seperti negara lain, pemerintah, akademisi, industri, hingga masyarakat harus bersama-sama membangun ekosistem antariksa yang berdaulat,” ujarnya.

    Keunggulan Geografis dan Potensi Konstelasi Satelit

    Indonesia, menurut Adi, memiliki keunggulan geografis yang tidak dimiliki banyak negara. Posisi Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa dinilai sangat strategis untuk peluncuran satelit maupun pengembangan konstelasi satelit orbit rendah. Bersama negara-negara ekuator lain, Indonesia berpeluang membangun konstelasi satelit ekuatorial untuk kebutuhan pengamatan Bumi (Earth Observation).

    “Kalau kita bisa bekerja sama dengan Brasil mewakili Amerika Selatan dan Nigeria mewakili Afrika, gabungan negara-negara ekuator itu memiliki produk domestik bruto sekitar USD 4,8 triliun. Ini bisa menjadi kekuatan besar dalam membangun konstelasi satelit ekuatorial,” kata Adi.

    Potensi ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap ancaman sampah antariksa yang mencapai 15.800 ton. Konstelasi satelit ekuatorial buatan Indonesia bisa menjadi solusi pemantauan yang lebih efektif dan mandiri.

    Krisis Sumber Daya Manusia dan Pentingnya Pendidikan

    Selain regulasi, Adi menilai Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia di sektor antariksa. Ia memperkirakan jumlah tenaga profesional yang benar-benar berkecimpung di bidang antariksa di Indonesia masih kurang dari 1.000 orang. Angka ini jauh di bawah India yang memiliki sekitar 20.000 tenaga ahli.

    Karena itu, ia mendorong adanya integrasi antara dunia pendidikan, industri, dan lembaga riset agar lulusan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) memiliki jalur karier yang jelas. “Tugas kita adalah membangun jalan agar anak-anak muda Indonesia dapat berkarya dan berkembang. Mereka harus memiliki wadah yang jelas untuk berkarier di bidang antariksa,” ujarnya.

    Langkah konkret seperti peluncuran satelit NEO-1 buatan Indonesia yang dijadwalkan pada Januari 2027 menjadi momentum penting untuk membuktikan kemampuan anak bangsa. Kesuksesan misi ini bisa menjadi katalis bagi lahirnya lebih banyak talenta dan startup antariksa di Tanah Air.

    Nostalgia Satelit Palapa dan Visi ke Depan

    Adi sempat mengenang peluncuran Satelit Palapa A1 pada 1976 sebagai tonggak penting sejarah telekomunikasi Indonesia. Menurutnya, saat itu Palapa bukan sekadar proyek teknologi, tetapi simbol kedaulatan yang mampu menyatukan Indonesia di tengah keterbatasan infrastruktur komunikasi antarpulau.

    Namun, ia menegaskan bahwa peringatan 50 tahun Satelit Indonesia seharusnya tidak berhenti pada nostalgia. Mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, Adi menyebut, “Semakin jauh kita melihat ke belakang, semakin jauh pula kita dapat melihat ke depan.” Menurutnya, semangat itulah yang perlu menjadi pijakan Indonesia untuk membangun industri antariksa yang mandiri dan berdaya saing.

    Fenomena astronomi seperti kedekatan Komet Encke dengan Bumi juga mengingatkan bahwa antariksa menyimpan banyak peluang riset yang belum tergarap maksimal oleh Indonesia.

    Dengan potensi geografis yang strategis, sumber daya alam yang melimpah, serta semangat inovasi anak muda, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain penting di industri antariksa. Syarat utamanya adalah kebijakan yang jelas, investasi yang konsisten, dan kolaborasi lintas sektor yang kuat.