Author: Hamzah Nurhamzah

  • Elon Musk Sesali Kedekatan dengan Trump, Seharusnya Fokus Bisnis

    Elon Musk Sesali Kedekatan dengan Trump, Seharusnya Fokus Bisnis

    JBNews.id — Elon Musk secara terbuka menyatakan penyesalannya atas keterlibatannya dalam politik era Donald Trump. Bos SpaceX dan Tesla itu mengaku seharusnya lebih fokus mengelola perusahaan miliknya daripada mengurus Department of Government Efficiency (Doge).

    Dalam pernyataannya, Musk mengaku tidak berpikir panjang ketika membangun hubungan dekat dengan Trump. Hubungan keduanya memang kerap pasang surut, kadang akur dan sebaliknya. “Sejujurnya, saya terlalu terbawa suasana,” kata Musk tentang relasinya dengan Trump, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (29/7/2026).

    Keputusan Musk untuk mendekati Trump berimplikasi besar pada waktu dan sumber dayanya. Ia bahkan mendukung kampanye Trump pada 2024 dengan suntikan dana sebesar USD 200 juta. Setelah Trump menang, Musk menjabat sebagai kepala Doge selama 129 hari dan mengawasi pemotongan anggaran senilai USD 150 miliar—sebuah kebijakan yang dinilai kontroversial.

    Pada Desember 2025, dalam sebuah podcast bersama Katie Miller—istri dari penasihat Gedung Putih Stephen Miller—Musk mengakui kontribusinya di Doge hanya sebagian yang berhasil. Ketika ditanya apakah akan mengulangi pengalaman itu, ia menjawab tegas: tidak akan. “Saya pikir, alih-alih menjalankan Doge, saya akan lebih fokus pada perusahaan saya,” akunya.

    Penyesalan Musk ini muncul setelah hubungannya dengan Trump benar-benar retak. Pada Juni 2025, Trump secara terbuka menyatakan relasinya dengan pendiri PayPal itu telah berakhir. “Saya kira begitu ya,” tutur Trump kepada NBC News saat ditanya apakah hubungan dekat keduanya telah berakhir. Trump juga menjawab tidak ketika ditanya apakah ingin memperbaiki hubungan yang rusak itu.

    Lebih lanjut, Trump menuding Musk tidak menghormati jabatan presiden dan menganggapnya sangat tidak sopan. Ketegangan semakin memuncak pada musim panas 2025 ketika Trump mengisyaratkan akan meninjau ulang status imigrasi Musk, serta mengungkit soal subsidi dan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan Musk. Situasi ini tentu menjadi tekanan besar bagi bisnis Musk yang bergantung pada kontrak pemerintah.

    Namun, hubungan keduanya sempat menunjukkan tanda mereda pada musim gugur 2025. Musk hadir dalam jamuan makan malam untuk putra mahkota Arab Saudi di Gedung Putih, di mana Trump menepuk bahunya dengan ramah. Momen ini sempat memicu spekulasi bahwa hubungan mereka bisa pulih, tetapi pernyataan terbaru Musk menegaskan bahwa penyesalannya sudah terlalu dalam.

    Keputusan Musk untuk terjun ke politik jelas mengorbankan fokusnya terhadap Grok Imagine dan inovasi lain di perusahaannya. Selama menjabat di Doge, ia harus membagi waktu antara mengelola Tesla, SpaceX, dan berbagai proyek ambisius lainnya. Dampaknya, beberapa inisiatif bisnis mungkin tertunda atau tidak mendapat perhatian optimal.

    Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Musk dan para pemimpin bisnis lainnya. Keterlibatan langsung dalam politik, meskipun dengan niat baik, bisa mengalihkan perhatian dari prioritas utama perusahaan. Bagi Musk, yang dikenal dengan visi besarnya di bidang teknologi dan eksplorasi ruang angkasa, waktu yang terbuang di Doge adalah kesempatan yang hilang untuk memajukan inovasi.

    Di sisi lain, langkah Trump yang menjauhkan diri dari Musk juga menunjukkan bahwa aliansi bisnis-politik bisa sangat rapuh. Setelah tidak lagi saling membutuhkan, hubungan yang dibangun dengan investasi besar sekalipun bisa runtuh dalam sekejap. Ini menjadi catatan penting bagi para pengusaha yang tergoda untuk bermain di panggung politik.

    Bagi publik, penyesalan Musk ini memberikan gambaran tentang harga yang harus dibayar ketika seorang pengusaha memilih jalur politik. Selain kehilangan fokus bisnis, ia juga harus menghadapi risiko reputasi dan potensi konflik kepentingan. Keputusan Musk untuk mengakui kesalahannya secara terbuka setidaknya menunjukkan sikap introspektif yang jarang terlihat dari tokoh sekaliber dirinya.

    Ke depan, Musk diharapkan bisa kembali memfokuskan energinya pada pengembangan perusahaan. Dengan pelajaran berharga ini, ia mungkin akan lebih selektif dalam memilih keterlibatan di luar bisnis inti. Bagi para penggemar dan investor Tesla serta SpaceX, kabar ini tentu menjadi angin segar karena sang pemimpin akan kembali berkonsentrasi penuh pada inovasi dan pertumbuhan perusahaan.

    Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis yang kompetitif, fokus adalah kunci. Seperti yang diakui Musk sendiri, alih-alih menjalankan Doge, ia seharusnya lebih fokus pada perusahaannya. Sebuah pelajaran yang mungkin akan diingat oleh para pemimpin bisnis di seluruh dunia.

    Implikasinya bagi pembaca: keputusan strategis seorang pemimpin perusahaan besar bisa berdampak langsung pada produk dan layanan yang kita nikmati sehari-hari. Dengan Musk kembali fokus pada bisnisnya, kita mungkin akan melihat akselerasi inovasi dari Tesla, SpaceX, dan perusahaannya yang lain. Ini adalah kabar baik bagi konsumen yang menantikan transaksi digital yang lebih aman dan teknologi masa depan yang lebih canggih.

    JBNews.id — Elon Musk secara terbuka menyatakan penyesalannya atas keterlibatannya dalam politik era Donald Trump. Bos SpaceX dan Tesla itu mengaku seharusnya lebih fokus mengelola perusahaan miliknya daripada mengurus Department of Government Efficiency (Doge).

    Dalam pernyataannya, Musk mengaku tidak berpikir panjang ketika membangun hubungan dekat dengan Trump. Hubungan keduanya memang kerap pasang surut, kadang akur dan sebaliknya. “Sejujurnya, saya terlalu terbawa suasana,” kata Musk tentang relasinya dengan Trump, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (29/7/2026).

    Keputusan Musk untuk mendekati Trump berimplikasi besar pada waktu dan sumber dayanya. Ia bahkan mendukung kampanye Trump pada 2024 dengan suntikan dana sebesar USD 200 juta. Setelah Trump menang, Musk menjabat sebagai kepala Doge selama 129 hari dan mengawasi pemotongan anggaran senilai USD 150 miliar—sebuah kebijakan yang dinilai kontroversial.

    Pada Desember 2025, dalam sebuah podcast bersama Katie Miller—istri dari penasihat Gedung Putih Stephen Miller—Musk mengakui kontribusinya di Doge hanya sebagian yang berhasil. Ketika ditanya apakah akan mengulangi pengalaman itu, ia menjawab tegas: tidak akan. “Saya pikir, alih-alih menjalankan Doge, saya akan lebih fokus pada perusahaan saya,” akunya.

    Penyesalan Musk ini muncul setelah hubungannya dengan Trump benar-benar retak. Pada Juni 2025, Trump secara terbuka menyatakan relasinya dengan pendiri PayPal itu telah berakhir. “Saya kira begitu ya,” tutur Trump kepada NBC News saat ditanya apakah hubungan dekat keduanya telah berakhir. Trump juga menjawab tidak ketika ditanya apakah ingin memperbaiki hubungan yang rusak itu.

    Lebih lanjut, Trump menuding Musk tidak menghormati jabatan presiden dan menganggapnya sangat tidak sopan. Ketegangan semakin memuncak pada musim panas 2025 ketika Trump mengisyaratkan akan meninjau ulang status imigrasi Musk, serta mengungkit soal subsidi dan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan Musk. Situasi ini tentu menjadi tekanan besar bagi bisnis Musk yang bergantung pada kontrak pemerintah.

    Namun, hubungan keduanya sempat menunjukkan tanda mereda pada musim gugur 2025. Musk hadir dalam jamuan makan malam untuk putra mahkota Arab Saudi di Gedung Putih, di mana Trump menepuk bahunya dengan ramah. Momen ini sempat memicu spekulasi bahwa hubungan mereka bisa pulih, tetapi pernyataan terbaru Musk menegaskan bahwa penyesalannya sudah terlalu dalam.

    Keputusan Musk untuk terjun ke politik jelas mengorbankan fokusnya terhadap Grok Imagine dan inovasi lain di perusahaannya. Selama menjabat di Doge, ia harus membagi waktu antara mengelola Tesla, SpaceX, dan berbagai proyek ambisius lainnya. Dampaknya, beberapa inisiatif bisnis mungkin tertunda atau tidak mendapat perhatian optimal.

    Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Musk dan para pemimpin bisnis lainnya. Keterlibatan langsung dalam politik, meskipun dengan niat baik, bisa mengalihkan perhatian dari prioritas utama perusahaan. Bagi Musk, yang dikenal dengan visi besarnya di bidang teknologi dan eksplorasi ruang angkasa, waktu yang terbuang di Doge adalah kesempatan yang hilang untuk memajukan inovasi.

    Di sisi lain, langkah Trump yang menjauhkan diri dari Musk juga menunjukkan bahwa aliansi bisnis-politik bisa sangat rapuh. Setelah tidak lagi saling membutuhkan, hubungan yang dibangun dengan investasi besar sekalipun bisa runtuh dalam sekejap. Ini menjadi catatan penting bagi para pengusaha yang tergoda untuk bermain di panggung politik.

    Bagi publik, penyesalan Musk ini memberikan gambaran tentang harga yang harus dibayar ketika seorang pengusaha memilih jalur politik. Selain kehilangan fokus bisnis, ia juga harus menghadapi risiko reputasi dan potensi konflik kepentingan. Keputusan Musk untuk mengakui kesalahannya secara terbuka setidaknya menunjukkan sikap introspektif yang jarang terlihat dari tokoh sekaliber dirinya.

    Ke depan, Musk diharapkan bisa kembali memfokuskan energinya pada pengembangan perusahaan. Dengan pelajaran berharga ini, ia mungkin akan lebih selektif dalam memilih keterlibatan di luar bisnis inti. Bagi para penggemar dan investor Tesla serta SpaceX, kabar ini tentu menjadi angin segar karena sang pemimpin akan kembali berkonsentrasi penuh pada inovasi dan pertumbuhan perusahaan.

    Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis yang kompetitif, fokus adalah kunci. Seperti yang diakui Musk sendiri, alih-alih menjalankan Doge, ia seharusnya lebih fokus pada perusahaannya. Sebuah pelajaran yang mungkin akan diingat oleh para pemimpin bisnis di seluruh dunia.

    Implikasinya bagi pembaca: keputusan strategis seorang pemimpin perusahaan besar bisa berdampak langsung pada produk dan layanan yang kita nikmati sehari-hari. Dengan Musk kembali fokus pada bisnisnya, kita mungkin akan melihat akselerasi inovasi dari Tesla, SpaceX, dan perusahaannya yang lain. Ini adalah kabar baik bagi konsumen yang menantikan transaksi digital yang lebih aman dan teknologi masa depan yang lebih canggih.

  • Apple Upgrade: Sewa iPhone, Apple Watch, Mac, dan iPad Resmi Diluncurkan

    Apple Upgrade: Sewa iPhone, Apple Watch, Mac, dan iPad Resmi Diluncurkan

    JBNews.id — Apple resmi meluncurkan Apple Upgrade, layanan sewa produk yang memungkinkan pengguna menyewa iPhone, iPad, Mac, atau Apple Watch dengan biaya bulanan mulai dari $18. Layanan ini merupakan kemitraan dengan perusahaan fintech Klarna dan menandai langkah baru Apple dalam memperkuat ekosistem produknya.

    Diumumkan pada Selasa lalu, Apple Upgrade hadir sebagai bagian dari strategi perusahaan yang dipimpin oleh CEO Tim Cook untuk mengubah basis pelanggan menjadi layanan berlangganan. Konsep ini memungkinkan perangkat dan layanan Apple saling terhubung secara mulus, mengunci pengguna dalam ekosistem yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.

    Melalui Apple Upgrade, pengguna dapat membayar biaya bulanan untuk mendapatkan perangkat baru. Setelah 12 atau 24 bulan, pengguna dapat terus membayar biaya bulanan namun menukar perangkat keras dengan yang baru. Jika ingin menukar lebih cepat, ada biaya tambahan untuk swap sebelum batas waktu 12 bulan.

    Rencana bulanan dimulai dari $18 untuk iPhone, $12 untuk Apple Watch, $25 untuk Mac, dan $12 untuk iPad. Semua iPhone yang disewa datang dalam kondisi tidak terkunci (unlocked), artinya perangkat tidak terikat pada operator tertentu dan dapat digunakan secara internasional tanpa masalah.

    Detail Biaya dan Ketentuan Apple Upgrade

    Program ini juga menawarkan opsi tukar tambah perangkat yang dapat mengurangi jumlah bulanan yang dibayarkan untuk sewa. Apple juga memberikan cash back 3 persen harian jika pengguna membayar sewa dengan Apple Card.

    Sebagai contoh, membayar $18 per bulan selama 24 bulan totalnya adalah $432—itu untuk iPhone 17e seharga $599. Namun, ini bukan diskon karena pengguna tidak memiliki perangkat tersebut. iPhone cenderung mempertahankan nilainya dengan baik, sehingga membeli ponsel secara langsung dan menjualnya kembali secara finansial lebih menguntungkan.

    Ketentuan Apple Upgrade juga mewajibkan pengguna untuk mengembalikan perangkat dalam kondisi awal saat diterima. Artinya, perusahaan dapat mengenakan biaya tambahan untuk keausan. Pengguna dapat membayar sedikit lebih banyak per bulan untuk menambahkan asuransi AppleCare ke dalam rencana.

    Dampak pada Kepemilikan Perangkat

    Apple Upgrade juga menandai berakhirnya program iPhone upgrade plan yang memungkinkan orang membayar cicilan untuk membeli model iPhone terbaru. Jika masih terdaftar dalam program lama, Apple mengatakan tidak perlu melakukan tindakan apa pun, dan pembayaran akan berlanjut hingga akhir masa 24 bulan.

    Secara fundamental, Apple Upgrade berfungsi sebagai cara lain untuk menjaga loyalitas pengguna terhadap ekosistem produk Apple. Program ini juga membatasi apa yang dapat dilakukan orang dengan perangkat mereka setelah memilikinya, karena mereka harus mengembalikannya ke perusahaan nanti.

    Kyle Wiens, CEO perusahaan perbaikan iFixit, mengatakan langkah ini secara bertahap mengikis kepemilikan orang atas perangkat mereka. “Apple menggunakan keunggulan kas besar mereka untuk mengubah kita semua menjadi penyewa daripada pemilik,” tulis Wiens dalam pesan teks kepada WIRED. “Itu akan merugikan orang baik dari segi uang maupun kendali. Mereka tahu berapa nilai ponsel ini setelah satu tahun dan memaksimalkan keuntungan mereka.”

    Seorang perwakilan Apple mengindikasikan kepada WIRED bahwa kekurangan memori yang sedang berlangsung tidak menginspirasi Apple Upgrade, meskipun layanan ini hadir tak lama setelah Apple menaikkan harga pada beberapa produknya. Saat semuanya menjadi lebih mahal, menyewa bisa dilihat sebagai cara untuk meringankan biaya tambahan tersebut—sambil tetap bisa menggunakan perangkat terbaru dan tercanggih.

    Kritik dari Pakar Keuangan

    Whitney Barkley-Denney, wakil direktur di lembaga nirlaba Center for Responsible Lending, menyebut ini sebagai bagian dari “financialization of the affordability crisis” atau finansialisasi krisis keterjangkauan. Ini adalah bagian dari pola yang lebih besar di mana orang menggunakan layanan pinjaman atau rencana beli-sekarang-bayar-nanti seperti Klarna, Affirm, dan Afterpay untuk membayar barang-barang kebutuhan dasar.

    “Kami tidak membuat hal-hal lebih terjangkau dengan melakukan ini; kami hanya menundanya,” kata Barkley-Denney. “Ini demi kepentingan semua orang untuk menciptakan masyarakat yang berfungsi di tempat di mana orang dapat melakukan semua hal ini tanpa harus menggunakan pinjaman untuk itu.”

    Jenis pembayaran ini mungkin tampak lebih kecil pada awalnya, tetapi mereka bertambah dan berkembang menjadi masalah keuangan yang lebih besar. Barkley-Denney menekankan bahwa pinjaman jangka pendek seperti ini dapat menjebak konsumen dalam siklus utang yang sulit diputus.

    Alternatif yang Lebih Ekonomis

    Bagi mereka yang mencari nilai lebih baik pada perangkat mereka, Wiens mengatakan jawabannya sudah ada di luar sana. “Kesepakatan terbaik akan tetap seperti yang selalu ada: Beli refurbished, simpan selama mungkin, perbaiki saat rusak,” kata Wiens. “Jual saat selesai digunakan dengan harga setinggi mungkin.”

    Pendekatan ini menekankan pada kepemilikan penuh perangkat dan memaksimalkan nilai investasi. Dengan membeli perangkat bekas berkualitas, pengguna dapat menghemat biaya signifikan dibandingkan menyewa atau membeli baru setiap tahun.

    Apple Upgrade adalah langkah terbaru dalam strategi Apple untuk mengunci pengguna dalam ekosistemnya. Namun, para kritikus memperingatkan bahwa model ini dapat merugikan konsumen dalam jangka panjang, baik dari segi biaya maupun kebebasan menggunakan perangkat mereka sendiri.

    Implikasinya bagi konsumen Indonesia: dengan nilai tukar rupiah saat ini, biaya sewa bulanan untuk iPhone mulai dari sekitar Rp 290.000 per bulan. Meskipun tampak terjangkau, total biaya selama dua tahun bisa mencapai hampir Rp 7 juta—tanpa kepemilikan perangkat di akhir masa sewa.

    Bagi pengguna yang ingin tetap mendapatkan perangkat Apple terbaru tanpa komitmen jangka panjang, program ini bisa menjadi opsi menarik. Namun, pertimbangan finansial dan kebebasan kepemilikan harus menjadi faktor utama sebelum memutuskan untuk bergabung.

    Apple juga telah merilis pembaruan keamanan terbaru untuk iPhone melalui iOS 26.6 yang menambal 75 celah keamanan, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keamanan perangkat meskipun model bisnisnya bergeser ke arah sewa.

  • Seniman Global Lawan AI: Gugatan Hak Cipta dan Dampaknya

    Seniman Global Lawan AI: Gugatan Hak Cipta dan Dampaknya

    JBNews.id — Gelombang protes dari para seniman global terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. Puluhan penulis, musisi, dan ilustrator menggugat perusahaan teknologi raksasa seperti Meta, Google, dan Anthropic atas pelanggaran hak cipta, menandai babak baru dalam pertarungan antara kreativitas manusia dan algoritma mesin.

    Kirk Wallace Johnson, seorang penulis nonfiksi, adalah salah satu dari banyak seniman yang merasa dikhianati. Karyanya, termasuk The Feather Thief dan The Fishermen and the Dragon, yang ia riset selama lima hingga enam tahun, ditemukan telah dibajak dan digunakan untuk melatih chatbot. “Saya merasakan campuran emosi: kemarahan atas pencurian yang begitu berani, kekhawatiran tentang apa artinya ini bagi para penulis, dan rasa haus yang sehat akan balas dendam terhadap perusahaan-perusahaan raksasa ini,” ujarnya.

    Gugatan ini tidak hanya menyasar satu perusahaan. Para seniman telah melayangkan tuntutan hukum terhadap Stability AI, Midjourney, DeviantArt, Runway AI, Meta, Google, dan Anthropic. Kasus-kasus ini mayoritas berfokus pada pelanggaran hak cipta, meskipun beberapa mencari jalur lain seperti pelanggaran persyaratan layanan. Perjalanan hukum ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan beberapa kasus berakhir damai dan lainnya masih berlarut-larut.

    Kronologi Pertarungan Hukum

    Ilustrator Sarah Andersen menjadi salah satu pelopor perlawanan. Ia menggugat Stability AI, Midjourney, DeviantArt, dan Runway AI pada Januari 2023, hanya beberapa bulan setelah generator gambar Stable Diffusion dan Midjourney dirilis. Kasus ini masih berjalan hingga kini. Andersen menggambarkan webcomic-nya, Sarah’s Scribbles, sebagai “kulminasi kompleks dari pendidikan saya, komik yang saya lahap semasa kecil, dan banyak pilihan kecil yang membentuk hidup saya.” Ia merasa “dilanggar” karena karyanya direduksi menjadi sekadar algoritma.

    Penulis Andrea Bartz, novelis terkenal dengan buku We Were Never Here dan The Spare Room, menjadi penggugat utama dalam kasus melawan Anthropic. “Saya merasa dilanggar, terkejut, waspada,” katanya. “Saya memiliki respons emosional yang besar ketika melihat bahwa sesuatu yang telah saya kerjakan selama bertahun-tahun dan curahkan hati dan jiwa saya hanyalah salah satu dari ratusan ribu atau mungkin jutaan buku yang dicuri perusahaan teknologi besar untuk melatih algoritma mereka.”

    Musisi Sam Kogon memimpin gugatan terhadap Google atas mesin AI musik Lyria. Ia menuduh Google melanggar persyaratan layanannya sendiri dengan menggunakan data YouTube untuk melatih AI. “Mereka merendahkan karya kami,” kata Kogon. “Mereka memberikannya secara gratis kepada orang-orang. Itu akan memutus hak dan memberdayakan banyak musisi.”

    Kemenangan dan Tantangan di Pengadilan

    Meskipun banyak gugatan, hasilnya masih beragam. Dalam kasus Bartz v. Anthropic, perusahaan dinyatakan melanggar hak cipta dengan menggunakan ebook bajakan dari internet untuk melatih model Claude. Anthropic harus membayar ganti rugi sebesar $1,5 miliar, yang merupakan penyelesaian terbesar dalam kasus hak cipta, dan setuju untuk menghancurkan ebook bajakan tersebut.

    Namun, dalam kasus yang sama, Hakim William Alsup memutuskan bahwa penggunaan buku yang dibeli secara legal untuk melatih LLM (Large Language Model) memenuhi syarat sebagai fair use karena bersifat “secara fundamental transformatif.” Keputusan ini menuai kritik dari Bartz. “Saya sangat tidak setuju dengan hakim pada bagian putusan itu. Saya sangat berharap pengadilan masa depan akan melihat cahaya,” ujarnya.

    Dalam kasus Kadrey v. Meta, hakim menolak banyak klaim awal para penulis karena gagal menunjukkan bukti kerugian pasar. Namun, sejumlah klaim yang lebih sempit, berfokus pada pelanggaran hak cipta dan penggunaan materi bajakan, masih berjalan. Para penggugat berargumen bahwa “sementara buku yang dihasilkan AI mungkin tidak akan berpengaruh besar pada pasar karya Agatha Christie, mereka dapat mencegah Agatha Christie berikutnya untuk dikenal atau menjual cukup buku untuk terus menulis.”

    Krystle Delgado, pengacara hiburan dan kekayaan intelektual yang memimpin kasus melawan Suno dan Udio, optimistis. “Sekarang dengan perusahaan-perusahaan ini, mereka sangat gugup,” katanya. “Tidak hanya mereka digugat, tetapi pengadilan dan hakim tampaknya mulai berpihak pada kami, dan pengadilan opini publik juga.” Jajak pendapat menunjukkan bahwa masyarakat setidaknya menginginkan transparansi dalam penggunaan AI.

    Kasus-kasus ini menyoroti ketegangan mendasar antara inovasi teknologi dan perlindungan karya kreatif. Sementara perusahaan AI berargumen bahwa penggunaan data publik untuk pelatihan adalah transformatif dan dilindungi oleh fair use, para seniman melihatnya sebagai pencurian sistematis yang mengancam mata pencaharian mereka. Pertarungan ini diperkirakan akan terus berlanjut dan membentuk lanskap industri kreatif di masa depan. Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana AI mengubah cara kita berinteraksi, Anda bisa membaca artikel tentang Pacaran dengan AI.

    Implikasinya jelas: para seniman tidak hanya berjuang untuk kompensasi finansial, tetapi juga untuk pengakuan bahwa karya mereka bukan sekadar data yang bisa dieksploitasi. “Ada begitu banyak uang yang dihabiskan untuk memasarkan kepada kita gagasan bahwa AI tidak bisa dihindari,” kata Bartz. “Itu sangat meyakinkan, sangat keras, dan sangat meresap. Tapi saya hanya ingin mendorong orang untuk berpikir tentang kerusakan yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini pada seni, pemikiran kritis kita, lingkungan kita, ekonomi dunia, saat mereka terus mengumpulkan kekuasaan dan uang.”

    Pertarungan ini bukan sekadar soal hukum, melainkan tentang masa depan kreativitas manusia di era digital. Para seniman berharap bahwa kemenangan di pengadilan akan menetapkan preseden yang melindungi hak-hak mereka dan memastikan bahwa inovasi teknologi tidak mengorbankan nilai-nilai fundamental seperti orisinalitas dan karya intelektual. Sementara itu, perusahaan AI terus berinovasi, menciptakan teknologi baru yang semakin canggih, seperti yang terlihat dalam Fitur Terbaru Spotify.

  • Gempa Dahsyat Jepang: Teknologi Canggih vs Kekuatan Alam

    Gempa Dahsyat Jepang: Teknologi Canggih vs Kekuatan Alam

    JBNews.id — Gempa bumi dahsyat kembali mengguncang Jepang. Sebuah gempa berkekuatan magnitudo 6,8 melanda Prefektur Kumamoto pada Selasa lalu, menewaskan sedikitnya 13 orang dan meninggalkan kekhawatiran masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan. Peristiwa ini sekali lagi menguji batas antara kecanggihan teknologi dan kekuatan alam yang tak terbendung.

    Jepang, yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik, adalah salah satu negara yang paling sering diguncang gempa bumi merusak di dunia. Investasi miliaran dolar telah dikucurkan untuk teknologi pendeteksi gempa mutakhir, sistem tanggap darurat, dan infrastruktur tahan gempa. Namun, seperti yang terlihat di Kumamoto, alam masih selalu punya kejutan.

    Kepolisian dan pemadam kebakaran bekerja sama dengan militer dalam operasi penyelamatan. “Warga masih menunggu pertolongan dan setiap detik sangat berharga,” ujar Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kumamoto sendiri baru saja pulih dari gempa lebih besar pada tahun 2016 yang menewaskan lebih dari 270 orang.

    Bagi penduduk Jepang, gempa adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak berlatih simulasi gempa dan evakuasi sejak taman kanak-kanak. Meski demikian, ancaman tersebut tetap membayangi benak publik. Gempa yang terjadi pekan ini menjadi pengingat pahit bahwa tidak ada teknologi yang bisa sepenuhnya melindungi manusia dari amukan alam.

    Sejarah Panjang Bencana Gempa di Jepang

    Sejarah Jepang dipenuhi dengan gempa bumi yang menghancurkan. Sepanjang era klasik dan feodal, gempa rutin melanda kota besar maupun kecil, menyapu bangunan berbahan kayu dan kertas yang rentan terhadap kebakaran pascagempa. Salah satu gempa sangat merusak pada tahun 1498 diperkirakan menewaskan lebih dari 30.000 orang.

    Gempa Besar Kanto tahun 1923 menjadi momen kelam lainnya, meluluhlantakkan sebagian besar Tokyo dan menewaskan sekitar 140.000 orang. Jepang mulai memberlakukan standardisasi bangunan tahan gempa lebih ketat pada tahun 1980-an, yang terbukti efektif saat gempa Kobe tahun 1995 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang. Hampir seluruh bangunan yang runtuh saat itu dibangun sebelum adanya aturan baru.

    Hal ini memicu dorongan besar untuk meningkatkan ketahanan terhadap gempa dan merekonstruksi bangunan lama agar sesuai standar baru. Sebagai salah satu negara terkaya di dunia, Jepang memiliki kapasitas untuk memanfaatkan teknologi dan anggaran dalam mengantisipasi gempa. Namun, kecanggihan teknologi tetap memiliki keterbatasan.

    Bencana Tohoku tahun 2011 dengan gempa bumi bermagnitudo 9,1 dan tsunami, menewaskan hampir 20.000 orang. Ribuan lainnya tidak pernah ditemukan. Gempa dengan skala lebih kecil pun secara rutin masih dapat memakan korban jiwa. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 menewaskan lebih dari 700 orang di Noto, Jepang barat, pada tahun 2024.

    “Sekitar 10% gempa di dunia dengan magnitudo 6 ke atas terjadi di atau sekitar Jepang, sehingga risikonya jauh lebih tinggi dibanding tempat seperti Eropa atau bagian timur Amerika Serikat, di mana gempa jarang terjadi,” ungkap Shoichi Yoshioka, profesor di Universitas Kobe.

    “Setiap kali menyaksikan hilangnya nyawa secara tragis, gedung hancur, dan tsunami, meninggalkan kesan ketakutan mendalam. Ketakutan ini kemungkinan besar dirasakan banyak warga. Saya rasa inilah faktor signifikan yang mendorong mengapa Jepang begitu siap siaga,” imbuhnya.

    Teknologi Canggih vs Kekuatan Alam

    Investasi Jepang dalam teknologi mitigasi gempa memang luar biasa. Sistem peringatan dini gempa bumi (Earthquake Early Warning/EEW) Jepang adalah salah satu yang terbaik di dunia, mampu memberikan peringatan beberapa detik hingga puluhan detik sebelum guncangan utama tiba. Infrastruktur seperti gedung pencakar langit dilengkapi dengan peredam gempa canggih, sementara jaringan kereta cepat Shinkansen dapat berhenti secara otomatis dalam hitungan detik saat gempa terdeteksi.

    Namun, gempa di Kumamoto menunjukkan bahwa teknologi ini bukanlah jaminan mutlak. Bangunan-bangunan tua yang belum diperkuat sesuai standar terbaru masih rentan runtuh. Jalanan dan jembatan yang rusak dapat memperlambat upaya penyelamatan. Bahkan dengan sistem peringatan dini yang canggih, waktu yang tersedia seringkali tidak cukup untuk evakuasi massal di daerah padat penduduk.

    Perbandingan dengan negara lain juga relevan. Di Indonesia, misalnya, Gempa M 6,7 Palu baru-baru ini menunjukkan bagaimana infrastruktur telekomunikasi bisa lumpuh total, memperlambat koordinasi bantuan. Sementara itu, penelitian terbaru dari BRIN mengungkapkan bahwa ancaman gempa di Jawa ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya, menekankan pentingnya kesiapsiagaan.

    Di sisi lain, fenomena alam yang unik juga terus dipelajari. Tim ilmuwan baru-baru ini mendeteksi gempa ratusan kali terdeteksi di bawah lapisan es Antartika, menunjukkan bahwa aktivitas seismik terjadi di berbagai tempat yang tak terduga. Bahkan dengan teknologi satelit canggih seperti yang digunakan untuk mendeteksi deformasi tanah di Venezuela, prediksi gempa yang akurat masih menjadi tantangan besar bagi ilmu pengetahuan modern.

    Implikasi untuk Pembaca

    Pelajaran dari Jepang sangat jelas: kesiapsiagaan adalah kunci, tetapi tidak ada jaminan keselamatan mutlak. Bagi negara-negara yang berada di kawasan rawan gempa seperti Indonesia, investasi dalam infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas. Selain itu, edukasi publik tentang prosedur evakuasi dan keselamatan saat gempa harus dimulai sejak dini, seperti yang dilakukan Jepang sejak taman kanak-kanak.

    Gempa Kumamoto juga mengingatkan kita bahwa setiap detik sangat berharga dalam operasi penyelamatan. Kerjasama antara berbagai lembaga—kepolisian, pemadam kebakaran, dan militer—sangat penting untuk meminimalkan korban jiwa. Teknologi memang canggih, tetapi pada akhirnya, kesiapan manusia dan respons cepat yang menentukan seberapa besar dampak dari sebuah bencana alam.

    Bagi warga Jawa Barat dan Banten, yang juga berada di zona rawan gempa, peristiwa ini adalah pengingat untuk selalu waspada. Memahami risiko, menyiapkan tas siaga bencana, dan mengetahui jalur evakuasi terdekat adalah langkah-langkah sederhana namun krusial yang bisa menyelamatkan nyawa.

  • Gaya Menulis Anti-AI Mulai Dominasi di Era Kecerdasan Buatan

    Gaya Menulis Anti-AI Mulai Dominasi di Era Kecerdasan Buatan

    JBNews.id — Para penulis di berbagai platform, mulai dari jurnalisme hingga media sosial, mulai mengadopsi gaya menulis yang secara sengaja berlawanan dengan ciri khas teks buatan kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap maraknya penggunaan Large Language Models (LLM) yang menghasilkan prosa seragam dan mudah dikenali.

    Fenomena ini pertama kali diamati oleh jurnalis dan penulis kreatif yang merasa perlu membedakan karyanya dari mesin. Salah satu yang vokal adalah penulis Robson, yang mengaku tulisannya berubah secara fundamental sejak LLM diadopsi secara luas. “Saya menemukan diri saya menulis dengan cara yang kurang mekanis,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dikutip dari sumber terpercaya. “Saya memiliki dorongan untuk membuat kesalahan kecil, seperti isyarat kepada pembaca, untuk menunjukkan bahwa ada manusia di balik kata-kata itu.”

    Gaya baru ini, yang bisa disebut sebagai gaya menulis anti-AI, sebagian besar terbentuk melalui penolakan terhadap apa yang menjadi ciri khas teks buatan AI. Ciri-ciri yang dihindari antara lain daftar tiga hal (tripartite list), kalimat pasif, struktur “bukan x tetapi y”, dan penggunaan em dash yang berlebihan. Sebaliknya, gaya ini mengutamakan keunikan dan idiosyncrasy sebagai prinsip utamanya, dengan memanfaatkan anekdot orang pertama dan simile eksentrik.

    Dampak di Dunia Penerbitan

    Kekhawatiran terhadap penggunaan AI telah merambah dunia penerbitan. Pada bulan Maret lalu, Hachette menarik novel horor Shy Girl karya Mia Ballard setelah spekulasi daring bahwa penulisnya menggunakan AI secara ekstensif, sebuah klaim yang ditolak Ballard. “Memiliki tulisan saya yang terasa lebih nyata dan autentik adalah prioritas nomor satu saya,” kata Ballard. Ia juga mengaku harus menyunting tulisannya sendiri karena editor yang ia sewa diduga menjalankan bukunya melalui perangkat lunak AI.

    Kasus serupa menimpa Steven Rosenbaum, penulis buku The Future of Truth, yang mengakui bahwa bukunya mengandung beberapa kutipan palsu yang dihasilkan oleh AI. Ellena Savage, novelis dan akademisi Australia, juga mengaku “sangat dirugikan oleh pikiran tentang chatbot.” Ia merindukan penggunaan em dash dan aturan tiga yang dulu sangat memuaskan baginya.

    Perubahan di Media dan Editorial

    Di berbagai majalah dan publikasi digital, gaya tandingan anti-AI ini mulai membentuk ulang kebijakan in-house dan praktik editorial. Richard Fisher, editor di majalah budaya daring Aeon, mengatakan AI telah mendorongnya untuk mendorong para penulis agar “lebih manusiawi” dan menulis dengan lebih percakapan. “Kami tidak ingin menghaluskan sisi kasar, karena AI tidak bisa menulis prosa setajam atau seeklektik manusia,” ujarnya.

    Mano Sundaresan, yang menjadi kepala konten editorial Pitchfork pada Juli 2024, mendorong penulisnya untuk menggunakan suara mereka sendiri. Ia dan editor lainnya telah mengirimkan memo kepada penulis yang melarang penggunaan AI dalam menulis review copy dan mendorong perspektif orang pertama. Philip Picardi, pemimpin redaksi Playboy, juga mengalami hal serupa. Dari sekitar 1.000 proposal yang masuk, ia bisa mengetahui bahwa mayoritas dihasilkan dengan AI. “Hal penting dari pengalaman itu adalah bahwa kami membutuhkan pengalaman manusia orang pertama,” katanya.

    Munculnya Alat Anti-AI

    Fenomena ini mencapai puncaknya di LinkedIn, di mana unggahan tentang cara menghindari terdengar seperti AI kini sangat umum. Ray Slater Berry, pendiri agensi pemasaran dslx, mengatakan perusahaannya akan selalu menulis dalam sudut pandang orang pertama mulai sekarang. Bahkan, ia mengadakan pertemuan bulanan untuk memperbarui dokumen panduan menulis agar konten buatan manusia tidak terdengar seperti AI.

    Pada bulan April, pengusaha Ben Horwitz meluncurkan aplikasi Sinceerly, yang dijuluki “anti-Grammarly.” Alat ini sengaja meninggalkan kesalahan ketik dalam email dan menandatangani pesan dengan “dikirim dari iPhone saya.” Saat diuji coba dengan mengirim email ke CEO Fortune 500, hanya email dengan subjek huruf kecil dan salah eja yang dibuka. “Orang-orang sekarang haus akan sesuatu yang berbeda dan kurangnya keseragaman,” jelas Horwitz.

    Dampak Positif AI terhadap Apresiasi Tulisan

    John Warner, seorang veteran pengajar menulis, dalam bukunya More Than Words: How to Think About Writing in the Age of AI berpendapat bahwa AI justru bisa mengembalikan nilai menulis yang baik dan gaya yang ada di dalamnya. Warner telah bertahun-tahun berusaha membunuh esai mahasiswa lima paragraf yang ia sebut “omong kosong pseudo-akademik,” jenis yang kini diproduksi oleh ChatGPT.

    LLM telah memperkenalkan paranoia baru tentang gaya dan ketiadaannya, yang setidaknya dalam jangka pendek, bisa menjadi hal yang baik. Bagi penulis kelas dunia mungkin tidak masalah, tetapi bagi penulis kelas B ke bawah, ini bisa menjadi insentif baru untuk meningkatkan kualitas agar tidak tergantikan oleh LLM. Namun, seiring AI mengikuti perkembangan gaya menulis manusia, mungkin akan segera diperlukan penemuan gaya anti-anti-anti-AI. Seperti yang dikatakan McGarry, “Gaya tandingan kosmetik apa pun yang dibuat sebagai respons terhadap AI, AI bisa menirunya. Satu-satunya gaya tandingan sejati adalah tulisan yang baik.”

  • Nadella: Bisnis Gagal Jika Terlalu Bergantung pada AI Pihak Ketiga

    Nadella: Bisnis Gagal Jika Terlalu Bergantung pada AI Pihak Ketiga

    JBNews.id – CEO Microsoft, Satya Nadella, memperingatkan bahwa perusahaan yang terlalu bergantung pada kecerdasan buatan (AI) dari pihak ketiga berisiko mengalami kegagalan. Peringatan ini disampaikan dalam wawancara dengan acara Fareed Zakaria GPS di CNN, yang kemudian dikutip oleh TechCrunch.

    Nadella menekankan bahaya dari membagikan terlalu banyak data, termasuk data kepemilikan dan perintah (prompt) yang dimasukkan, kepada model AI pihak ketiga. Menurutnya, langkah ini sama saja dengan menyerahkan proses berpikir strategis perusahaan kepada entitas eksternal.

    “Perusahaan mana pun yang tidak memiliki kendali ini, saya akan katakan tidak akan tetap menjadi perusahaan, karena Anda pada dasarnya telah mengalihdayakan pemikiran Anda,” ujar Nadella dalam wawancara tersebut.

    Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Microsoft sendiri adalah vendor utama solusi AI. Namun, Nadella justru mendorong perusahaan untuk beralih ke model AI open-weight yang lebih murah dan dapat disesuaikan.

    Model Open-Weight sebagai Alternatif

    Nadella merekomendasikan agar perusahaan mempertahankan semua data tentang bagaimana karyawan menggunakan alat AI, sehingga mereka dapat melatih atau menyempurnakan model AI open-weight mereka sendiri. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan AI gateway, yang berfungsi sebagai perantara pelindung.

    Dalam konteks AI, “bobot” (weights) adalah nilai numerik yang menentukan bagaimana suatu model memproses informasi. Model open-weight bersifat terbuka karena bobot-bobot ini dapat diakses publik dan gratis untuk diunduh.

    Sebaliknya, alat AI agenik seperti Claude Code milik Anthropic bersifat closed-source. Alat-alat ini juga hadir dalam “harness,” yang pada dasarnya adalah perangkat lunak tempat model dasar berada.

    Nadella berpikir perusahaan harus meninggalkan harness AI dan beralih ke platform AI kustom yang memungkinkan mereka merekrut beberapa model AI sekaligus, termasuk model open-weight yang lebih murah.

    “Dengan memisahkan harness dari model, serta konteks dan memori dari model, Anda benar-benar dapat menggunakan banyak model untuk apa yang mereka kuasai,” kata Nadella dalam wawancara tersebut. “Pada saat yang sama, model apa pun bisa hilang, dan Anda masih bisa terus mengendalikan nasib Anda sendiri.”

    Insentif Bisnis di Balik Peringatan

    Meskipun peringatan Nadella terdengar logis, ada insentif bisnis yang jelas di baliknya. Microsoft menyediakan infrastruktur cloud tempat perusahaan dapat menjalankan model open-weight mereka. Semakin banyak perusahaan yang beralih ke model mereka sendiri, semakin baik bagi keuntungan Microsoft.

    Dalam beberapa waktu terakhir, ada banyak hype seputar model open-weight sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan model yang ditawarkan oleh laboratorium AI top. Fenomena ini juga berdampak pada strategi bisnis Microsoft secara keseluruhan.

    Namun, ada kontradiksi dalam pernyataan Nadella. TechCrunch mencatat bahwa ia menyarankan, dengan cara yang cukup munafik, bahwa sementara bisnis harus pelit dengan data yang mereka bagikan ke model AI, pengguna biasa tidak perlu.

    “Sampai batas tertentu, harus ada pertukaran nilai di ruang konsumen di mana Anda mendapatkan sesuatu secara gratis, mungkin untuk data Anda,” ujarnya. “Kurang lebih seperti cara kerja model bisnis periklanan.”

    Dampak dan Implikasi

    Peringatan Nadella ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran tentang biaya token yang melonjak akibat penggunaan AI yang berlebihan. Bisnis kini mulai menyadari bahwa penggunaan AI yang tidak terkendali dapat menyebabkan tagihan yang sangat besar.

    Bagi perusahaan di Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Banten, pesan ini relevan. Adopsi AI yang masif tanpa strategi data governance yang jelas bisa menjadi bumerang. Perusahaan perlu mempertimbangkan untuk membangun infrastruktur AI mereka sendiri atau menggunakan AI gateway untuk melindungi data sensitif.

    Pesan utama Nadella adalah bahwa Fitur Terbaru dalam ekosistem AI harus dikelola dengan hati-hati. Perusahaan yang mengadopsi AI tanpa kontrol yang memadai berisiko kehilangan kendali atas data dan proses bisnis mereka.

    Dengan kata lain, masa depan bisnis tidak hanya tentang mengadopsi AI, tetapi tentang bagaimana mengadopsinya dengan bijak. Perusahaan yang mampu membangun sistem AI mereka sendiri, atau setidaknya memiliki kontrol penuh atas data yang digunakan, akan memiliki Harga Terbaru yang lebih kompetitif dalam jangka panjang.

    Implikasinya jelas: perusahaan tidak bisa hanya menjadi konsumen pasif teknologi AI. Mereka harus menjadi arsitek dari solusi AI mereka sendiri, atau setidaknya memiliki governance yang ketat atas data yang dibagikan kepada pihak ketiga. Jika tidak, risiko kegagalan bisnis menjadi sangat nyata.

    Peringatan Nadella ini juga menimbulkan pertanyaan tentang Iklan McAfee dan praktik bisnis Microsoft lainnya. Apakah ini sekadar strategi untuk mendorong penggunaan layanan cloud Azure, atau benar-benar kekhawatiran tulus tentang masa depan AI?

    Terlepas dari motifnya, data menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi AI secara sembarangan menghadapi risiko nyata. Biaya token yang melonjak, kebocoran data, dan kehilangan kendali atas proses bisnis adalah ancaman yang harus dihadapi.

    Bagi para pemimpin bisnis, pesan Nadella adalah pengingat bahwa inovasi harus diimbangi dengan kontrol. AI adalah alat yang ampuh, tetapi seperti alat lainnya, AI harus digunakan dengan hati-hati dan strategis.

    Pada akhirnya, keputusan ada di tangan setiap perusahaan. Apakah mereka akan menjadi pengguna pasif teknologi AI, atau arsitek dari solusi AI mereka sendiri? Jawabannya akan menentukan apakah mereka akan tetap menjadi perusahaan, atau menjadi korban dari outsourcing pemikiran mereka sendiri.

    Microsoft Satya Nadella is seen clasping his hands together.

  • DoorDash Air: Layanan Drone Pengiriman Makanan Resmi Diluncurkan

    DoorDash Air: Layanan Drone Pengiriman Makanan Resmi Diluncurkan

    JBNews.id — DoorDash, aplikasi pengiriman makanan terbesar di Amerika Serikat, resmi meluncurkan program pengiriman drone baru bernama DoorDash Air. Perusahaan telah memperoleh sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA) yang membuka jalan untuk pengiriman menggunakan drone dalam waktu dekat.

    DoorDash mengumumkan telah menerima sertifikasi operator air carrier Part 135 dari FAA. Sertifikasi ini memungkinkan perusahaan untuk mengirimkan paket kecil melalui drone. Sejumlah perusahaan lain yang telah menerima sertifikasi serupa termasuk Alphabet’s Wing, Zipline, dan Amazon.

    Sebelumnya, DoorDash telah bekerja sama dengan divisi pengiriman drone milik Alphabet, Wing, dalam beberapa proyek percontohan di Dallas-Fort Worth, Virginia, dan Australia. Kini, DoorDash menyatakan akan menggunakan drone buatan sendiri yang dirancang khusus untuk pengiriman makanan.

    Drone Dirancang oleh DoorDash Labs

    Drone tersebut akan dirancang dan dirakit di dalam divisi DoorDash Labs, yang menaungi tim robotika dan kecerdasan buatan (AI) perusahaan. Divisi yang sama juga bertanggung jawab membangun robot pengiriman sidewalk bernama Dot.

    “Kami merancang pesawat yang dibuat khusus untuk mengisi celah yang kami lihat dalam perdagangan lokal, dan ini melengkapi desain jarak pendek dan jarak jauh yang sedang dikembangkan mitra kami,” demikian pernyataan DoorDash dalam siaran pers.

    Perusahaan menambahkan, “Drone kami juga dirancang dan dibuat dengan bangga di Amerika, dengan sebagian besar komponen dibuat di sini, di AS.” Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa mayoritas drone di dunia saat ini diproduksi di China.

    Infrastruktur Darat Dibangun Sendiri

    Selain drone, DoorDash juga akan membangun seluruh infrastruktur darat yang diperlukan untuk memungkinkan restoran menyerahkan pesanan mereka ke drone. Seperti yang terlihat dalam proyek percontohan pengiriman drone lainnya, terdapat sistem kompleks berupa struktur dan peralatan tambahan yang harus dibangun di darat untuk memungkinkan drone mengambil muatan sebelum memulai pengiriman.

    DoorDash juga harus menyusun rencana penerbangan, manajemen wilayah udara, dan logistik pengantaran untuk melacak drone selama penerbangan. Perusahaan menyatakan komitmennya untuk membangun semua infrastruktur tersebut secara mandiri.

    “Pesawat adalah apa yang dilihat semua orang,” kata perusahaan. “Masalah yang lebih sulit adalah infrastruktur dan integrasi di darat, dan itulah keunggulan kami. Memecahkan masalah fisik yang sulit di dunia nyata untuk bisnis lokal adalah fokus kami, mulai dari rekonsiliasi inventaris real-time hingga sistem serah terima universal untuk drive-through, atap, atau pintu belakang merchant. Kami membangun sistem end-to-end yang lengkap.”

    Solusi untuk Pengiriman Jarak Menengah

    DoorDash menyatakan bahwa pengiriman drone dapat memecahkan masalah pengiriman jarak menengah yang masih memakan waktu lebih lama karena sulitnya menemukan kurir. Perusahaan mengungkapkan bahwa lebih dari 20 persen pesanan mereka melibatkan jarak tiga hingga lima mil, namun pesanan tersebut rata-rata memakan waktu hampir 25 persen lebih lama dibandingkan pengiriman jarak pendek.

    Penyebab utamanya adalah mencari kurir untuk perjalanan jarak menengah ini membutuhkan waktu lebih lama.

    “Mengarahkan pengiriman jarak menengah ke drone memungkinkan Dasher fokus pada pesanan yang sering mereka sukai: pengiriman pendek yang bisa diselesaikan dengan cepat, tetap berada di dekat konsentrasi merchant yang tinggi untuk routing optimal, dan memaksimalkan potensi pendapatan mereka dengan mendapatkan pesanan berikutnya lebih cepat,” demikian pernyataan DoorDash.

    DoorDash belum mengungkapkan pasar mana yang menjadi target peluncuran awal. Perusahaan hanya menyatakan akan mengumumkan detail lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

    Langkah DoorDash ini menempatkan mereka dalam persaingan langsung dengan perusahaan lain seperti Amazon dan Zipline yang juga telah mengantongi sertifikasi serupa. Kehadiran DoorDash Air diharapkan dapat mengubah lanskap pengiriman makanan, terutama untuk pesanan jarak menengah yang selama ini menjadi tantangan logistik.

    Dengan pendekatan membangun infrastruktur sendiri secara end-to-end, DoorDash menunjukkan komitmennya untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem pengiriman drone. Fokus pada solusi fisik untuk bisnis lokal menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dari kompetitor.

    Bagi pelaku industri, langkah ini juga menjadi sinyal bahwa adopsi teknologi drone dalam logistik semakin matang. Sertifikasi FAA menjadi salah satu indikator bahwa regulator mulai membuka ruang bagi inovasi pengiriman udara skala komersial.

    Seiring perkembangan teknologi, pengiriman drone diprediksi akan menjadi bagian integral dari rantai pasok modern. DoorDash Air menjadi salah satu pionir yang membawa visi tersebut ke dalam realitas operasional.

    Perusahaan terus mengembangkan sistem yang memungkinkan integrasi mulus antara drone, infrastruktur darat, dan kebutuhan merchant. Dengan pendekatan holistik ini, DoorDash berharap dapat memberikan solusi pengiriman yang lebih efisien dan cepat bagi pelanggannya.

    Ke depannya, publik menantikan detail lebih lanjut mengenai kota-kota yang akan menjadi lokasi uji coba pertama DoorDash Air. Informasi tersebut dijadwalkan akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang.

  • Rumah Warga Dibongkar Demi Pusat Data AI di Georgia

    Rumah Warga Dibongkar Demi Pusat Data AI di Georgia

    JBNews.id — Georgia Power, perusahaan utilitas milik negara bagian Georgia, Amerika Serikat, berencana meratakan puluhan rumah dan lebih dari 330 bidang tanah untuk membangun jalur transmisi listrik sepanjang 1.000 mil. Proyek ini diprioritaskan untuk menyuplai energi ke pusat data kecerdasan buatan (AI) yang kian boros daya.

    Menurut laporan Fortune, jalur transmisi tersebut akan mendistribusikan hampir 10.000 megawatt energi dari pembangkit listrik baru. Sekitar 80 persen dari kapasitas itu diproyeksikan untuk memasok pusat data, sebagaimana tercantum dalam lembar fakta yang diterbitkan Komisi Pelayanan Publik Georgia. Sisanya akan dialokasikan untuk bisnis lokal, rumah tangga, dan pelanggan lainnya.

    Didukung penuh oleh negara bagian, Georgia Power kini bergerak membayar pemilik lahan untuk pindah secara sukarela. Jika menolak, properti mereka akan diambil alih melalui mekanisme eminent domain, yakni hak pemerintah untuk menyita tanah demi kepentingan publik dengan kompensasi tertentu.

    Warga Terdampak Menolak Relokasi Paksa

    Langkah ini menuai protes keras dari warga di kawasan rural yang menjadi sasaran. Salah satu yang terdampak adalah Ansley Brown, yang rumah masa kecil ibunya masuk dalam jalur proyek. Melalui akun media sosial Instagram, Brown mengunggah video untuk meningkatkan kesadaran publik atas pengambilalihan paksa tersebut.

    “Kami tidak punya pilihan dalam hal ini. Mereka akan memperluas jaringan listrik. Semua ini demi pusat data. Semua ini demi pusat data,” ujar Brown dalam videonya, seperti dikutip Fortune.

    Kantor anggota kongres Brian Jack—mantan Direktur Politik Gedung Putih di era Donald Trump—yang wilayah distriknya mencakup banyak properti terdampak, mengaku telah menerima “banyak permintaan bantuan dan dukungan dari konstituen.” Juru bicara Jack menyampaikan hal ini kepada Fortune sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran warga.

    Negosiasi Berakhir, Nasib Warga Lain Belum Jelas

    Bagi Brown, perlawanan tampaknya telah berakhir. Georgia Power menyatakan telah “menyelesaikan” negosiasi dengan keluarganya, meskipun detail kesepakatan tidak diungkapkan ke publik. Fortune melaporkan, kemungkinan ada perjanjian non-disclosure (NDA) yang melarang pengungkapan nilai kompensasi.

    Belum diketahui sejauh mana intervensi kongresman Jack dalam kasus Brown. Namun, Georgia Power mengapresiasi “advokasi yang dilakukan atas nama konstituennya.” Sementara itu, nasib pemilik rumah lainnya masih menggantung, seiring meningkatnya tekanan dari industri teknologi yang membutuhkan pasokan listrik raksasa untuk komputasi AI.

    Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Puluhan kota di seluruh AS terpaksa membatalkan rencana pembangunan pusat data karena keterbatasan pasokan energi. Kini, pendekatan pemerintah dan perusahaan utilitas berubah: dari sekadar menolak, menjadi mengambil alih lahan warga secara paksa demi memenuhi permintaan yang terus melonjak.

    Kasus di Georgia menyoroti ketegangan antara percepatan infrastruktur AI dan hak kepemilikan properti warga. Alih-alih membangun pusat data di lahan kosong, perusahaan utilitas justru merelokasi komunitas yang sudah lama menetap. Para ahli memperingatkan bahwa tren ini bisa meluas jika regulasi tata ruang dan energi tidak segera diperbarui.

    Seorang juru bicara Georgia Power menyatakan bahwa proyek ini merupakan langkah strategis untuk menjamin pasokan listrik masa depan. Namun, bagi warga seperti Brown, biaya dari kemajuan teknologi terbayar dengan kehilangan rumah dan tanah leluhur mereka.

  • Xbox Gagal Akses Game Disk, Microsoft Buka Suara

    Xbox Gagal Akses Game Disk, Microsoft Buka Suara

    JBNews.id — Gangguan besar pada layanan Xbox yang terjadi akhir pekan lalu tidak hanya memblokir akses ke game digital, tetapi juga menghalangi pemain memainkan game fisik berbasis disk, memicu kekhawatiran publik tentang kepemilikan aset digital di era lisensi modern.

    Insiden yang berlangsung sejak Minggu malam hingga Senin malam tersebut membuat konsol Xbox tidak bisa digunakan untuk login, meluncurkan aplikasi, atau mengakses game—baik yang dibeli secara fisik maupun digital. Kejadian ini langsung menjadi sorotan karena memperlihatkan celah sistem lisensi yang membuat game disk pun bergantung pada izin server.

    Dalam pernyataan resmi kepada The Verge, Kepala Teknologi Xbox Scott Van Vliet mengakui adanya masalah pada sistem lisensi eksternal yang menjadi penyebab utama gangguan. “Kami sedang menyelidiki laporan bahwa beberapa pemain tidak dapat mengakses game menggunakan disk seperti yang diharapkan selama gangguan layanan,” ujar Van Vliet.

    Ia menegaskan bahwa pemeriksaan hak akses berbasis disk seharusnya tidak menghalangi pemain untuk memainkan game mereka. “Ini adalah desain yang sudah ditetapkan,” tambahnya. Pernyataan ini menjadi angin segar bagi para pengguna yang khawatir bahwa game fisik mereka tidak lagi sepenuhnya milik mereka.

    Penyebab Gangguan dan Dampaknya

    Gangguan layanan Xbox ini berlangsung hampir sehari penuh, dimulai pada Minggu malam. Berdasarkan halaman status Xbox, insiden tersebut mencegah sebagian pemilik konsol untuk bermain game—baik fisik maupun digital—serta login, meluncurkan aplikasi, atau mencari game di Xbox Store.

    Van Vliet menjelaskan bahwa gangguan disebabkan oleh layanan lisensi eksternal. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci mengapa game berbasis disk ikut terdampak pada saat itu. Dalam pembaruan di platform X pada Senin, ia baru mengonfirmasi bahwa timnya telah mengidentifikasi masalah yang mencegah beberapa konsol “menggunakan hak akses tersimpan dengan benar selama gangguan.”

    “Mode offline juga dirancang untuk bergantung pada hak akses tersimpan tersebut,” jelas Van Vliet. Perbaikan untuk mencegah kejadian serupa akan dirilis dalam pembaruan mendatang.

    Hak akses atau “entitlements” ini merupakan lisensi hak digital yang menunjukkan konten apa yang boleh diakses pengguna. Menurut dokumentasi Microsoft, game disk untuk Xbox One dan Series S/X seharusnya sudah menyertakan file terenkripsi dengan lisensi terpasang. Game dengan dukungan disk penuh “harus tersedia untuk penggunaan offline” sesuai dokumentasi resmi Microsoft.

    Konteks Lebih Luas: Masa Depan Media Fisik

    Gangguan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan seputar pelestarian media fisik. Sony dilaporkan akan menghentikan semua produksi disk game PlayStation pada 2028, sementara Xbox saat ini sedang menguji fitur disk-to-digital yang memungkinkan pemilik konsol membuat salinan digital dari game yang mereka miliki secara fisik.

    Jika Microsoft ingin meyakinkan publik bahwa disk tersebut masih akan berfungsi setelah didigitalisasi, perusahaan harus memastikan disk tersebut dapat dimainkan sekarang dalam bentuk fisiknya. Insiden ini menjadi ujian kepercayaan yang krusial bagi ekosistem Xbox.

    Kekhawatiran tentang kepemilikan game digital bukanlah hal baru. Analis: Loyalitas Gamer sebelumnya mencatat bahwa model bisnis langganan dan lisensi digital telah mengubah hubungan antara gamer dan koleksi game mereka. Insiden ini memperkuat argumen bahwa konsumen sebenarnya hanya “menyewa” akses ke konten, bukan memilikinya sepenuhnya.

    Dalam upaya meredakan kekhawatiran, Van Vliet menekankan bahwa pemeriksaan hak akses berbasis disk tidak seharusnya menghalangi akses pemain. “Ini adalah desain yang sudah ditetapkan,” tegasnya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa desain tersebut gagal berfungsi saat dibutuhkan.

    Microsoft berjanji akan merilis pembaruan untuk mencegah kejadian serupa. Perusahaan juga terus mengembangkan fitur disk-to-digital yang memungkinkan pemain mengonversi game fisik mereka menjadi salinan digital. Empat Game Xbox Klasik kini juga tersedia di PC, menunjukkan komitmen Microsoft terhadap ekosistem lintas platform.

    Namun, insiden ini meninggalkan pertanyaan besar: jika game disk pun bisa diblokir saat server bermasalah, seberapa amankah investasi konsumen dalam koleksi game fisik mereka? Jawabannya mungkin akan menentukan arah industri game ke depannya.

    Bagi para gamer yang mengandalkan game fisik sebagai jaminan akses jangka panjang, insiden ini menjadi pengingat bahwa batas antara kepemilikan dan lisensi semakin kabur. Mantan Bos Sony Buka Jalan keluar untuk Xbox yang terpuruk, menunjukkan bahwa industri game tengah mencari solusi atas dilema ini.

    Implikasinya jelas: konsumen perlu lebih kritis terhadap model lisensi digital yang mereka adopsi, sementara platform holder seperti Microsoft harus memastikan keandalan sistem mereka agar kepercayaan publik tetap terjaga. Jika tidak, insiden seperti ini bisa menjadi bumerang bagi masa depan game digital dan fisik sekaligus.

  • GOTO Raup Laba Bersih Dua Kuartal Beruntun, Fintech Jadi Motor Utama

    GOTO Raup Laba Bersih Dua Kuartal Beruntun, Fintech Jadi Motor Utama

    JBNews.id — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut pada 2026, didorong oleh pertumbuhan pesat bisnis Fintech dan On-demand Services. Dalam laporan keuangan yang diumumkan Rabu (29/7/2026), perusahaan induk Gojek dan GoPay ini membukukan laba bersih Rp252 miliar di kuartal II-2026, setelah sebelumnya mencatat Rp171 miliar di kuartal I-2026. Pencapaian ini menandai periode profitabilitas berkelanjutan pertama bagi perusahaan teknologi tersebut.

    Kinerja keuangan yang solid ini ditopang oleh pertumbuhan GTV inti grup yang melesat 83% year-on-year (YoY) menjadi Rp164 triliun. Pendapatan bersih juga tumbuh 31% YoY mencapai Rp5,7 triliun. EBITDA grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan.

    Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengungkapkan bahwa pencapaian ini menunjukkan kekuatan ekosistem GoTo yang terdiri dari bisnis Fintech GoPay dan layanan On-demand. “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Hans dalam siaran pers, Rabu (29/7/2026).

    Ia menambahkan bahwa bisnis Fintech kini menunjukkan kinerja unggul dengan profitabilitas yang telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. “Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” tegasnya.

    Pertumbuhan Fintech dan On-demand Services

    Bisnis Fintech GOTO menjadi bintang utama di kuartal II-2026. Volume transaksi Fintech tembus 2,4 miliar atau mengalami kenaikan signifikan 91% YoY. Pesatnya kinerja ini mendorong profitabilitas dengan EBITDA yang disesuaikan Fintech mencapai Rp481 miliar, naik 447% YoY. Angka ini menjadikan Fintech sebagai penyumbang laba terbesar di dalam grup.

    Sementara itu, bisnis On-demand Services yang memayungi layanan Gojek angkutan dan pengantaran (delivery) juga menunjukkan pertumbuhan solid. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp464 miliar, meningkat 41% YoY, didorong oleh pendapatan bersih sebesar Rp3,6 triliun. Manajemen GOTO menjelaskan bahwa segmen delivery yang menaungi GoFood dan GoSend tetap kuat dengan margin naik menjadi 2,1% dari 1,8% tahun lalu. Segmen mobility yang mencakup GoRide dan GoCar juga mencatat kenaikan margin menjadi 5,0% dari 3,0% tahun lalu.

    Meski kedua bisnis mencatatkan pertumbuhan, GoTo harus menghadapi tantangan baru. Struktur komisi baru yang ditetapkan pemerintah untuk layanan angkutan roda dua akan memberikan dampak pada kontribusi bisnis On-demand Services. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 mengatur besaran komisi layanan angkutan roda dua untuk aplikator sebesar 8%, dari sebelumnya maksimal 20%.

    “Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” ujar Hans.

    Penyesuaian Target dan Strategi Ke Depan

    Menghadapi regulasi baru tersebut, GoTo melakukan penyesuaian pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis On-demand Services setahun penuh menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun. Sebaliknya, pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis Fintech dinaikkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.

    Secara Grup, pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh masih tetap di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. “Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” ungkap Hans.

    Strategi diversifikasi bisnis ini menjadi kunci keberhasilan GOTO dalam mempertahankan profitabilitas di tengah perubahan regulasi. Dengan Fintech yang kini menjadi motor utama pertumbuhan, perusahaan memiliki basis pendapatan yang lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada satu sektor saja. Ke depan, fokus GOTO adalah memperkuat ekosistem digital yang terintegrasi antara layanan keuangan dan on-demand.

    Pencapaian laba bersih dua kuartal beruntun ini menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku pasar bahwa model bisnis GOTO mulai menunjukkan hasil yang nyata. Namun, tantangan regulasi tetap perlu diwaspadai, terutama terkait dampaknya terhadap segmen transportasi roda dua yang menjadi salah satu pilar bisnis utama perusahaan.

    Bagi pengguna layanan Gojek dan GoPay, pertumbuhan ini berarti peningkatan kualitas layanan dan inovasi produk yang lebih baik ke depannya. Stabilitas keuangan perusahaan juga menjamin keberlangsungan layanan dan program loyalitas yang sudah dinikmati jutaan pengguna di seluruh Indonesia.

    Dengan kinerja keuangan yang solid dan strategi adaptif terhadap regulasi, GOTO optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan positif hingga akhir tahun 2026. Perusahaan akan terus memantau dampak regulasi komisi sambil mengoptimalkan potensi bisnis Fintech yang semakin dominan dalam struktur pendapatan grup.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai kinerja keuangan dan strategi bisnis GOTO, pantau terus perkembangan terbaru di JBNews.id. Kami akan menyajikan analisis mendalam dan data terkini seputar pergerakan saham teknologi dan industri digital di Indonesia.

    Pencapaian GOTO ini juga menjadi indikator penting bagi ekosistem startup dan teknologi di Indonesia. Dengan berhasil mencetak laba di tengah tantangan ekonomi global, GOTO membuktikan bahwa model bisnis digital di Indonesia memiliki fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan.