JBNews.id — Elon Musk secara terbuka menyatakan penyesalannya atas keterlibatannya dalam politik era Donald Trump. Bos SpaceX dan Tesla itu mengaku seharusnya lebih fokus mengelola perusahaan miliknya daripada mengurus Department of Government Efficiency (Doge).
Dalam pernyataannya, Musk mengaku tidak berpikir panjang ketika membangun hubungan dekat dengan Trump. Hubungan keduanya memang kerap pasang surut, kadang akur dan sebaliknya. “Sejujurnya, saya terlalu terbawa suasana,” kata Musk tentang relasinya dengan Trump, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (29/7/2026).
Keputusan Musk untuk mendekati Trump berimplikasi besar pada waktu dan sumber dayanya. Ia bahkan mendukung kampanye Trump pada 2024 dengan suntikan dana sebesar USD 200 juta. Setelah Trump menang, Musk menjabat sebagai kepala Doge selama 129 hari dan mengawasi pemotongan anggaran senilai USD 150 miliar—sebuah kebijakan yang dinilai kontroversial.
Baca Juga:
Pada Desember 2025, dalam sebuah podcast bersama Katie Miller—istri dari penasihat Gedung Putih Stephen Miller—Musk mengakui kontribusinya di Doge hanya sebagian yang berhasil. Ketika ditanya apakah akan mengulangi pengalaman itu, ia menjawab tegas: tidak akan. “Saya pikir, alih-alih menjalankan Doge, saya akan lebih fokus pada perusahaan saya,” akunya.
Penyesalan Musk ini muncul setelah hubungannya dengan Trump benar-benar retak. Pada Juni 2025, Trump secara terbuka menyatakan relasinya dengan pendiri PayPal itu telah berakhir. “Saya kira begitu ya,” tutur Trump kepada NBC News saat ditanya apakah hubungan dekat keduanya telah berakhir. Trump juga menjawab tidak ketika ditanya apakah ingin memperbaiki hubungan yang rusak itu.
Lebih lanjut, Trump menuding Musk tidak menghormati jabatan presiden dan menganggapnya sangat tidak sopan. Ketegangan semakin memuncak pada musim panas 2025 ketika Trump mengisyaratkan akan meninjau ulang status imigrasi Musk, serta mengungkit soal subsidi dan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan Musk. Situasi ini tentu menjadi tekanan besar bagi bisnis Musk yang bergantung pada kontrak pemerintah.
Namun, hubungan keduanya sempat menunjukkan tanda mereda pada musim gugur 2025. Musk hadir dalam jamuan makan malam untuk putra mahkota Arab Saudi di Gedung Putih, di mana Trump menepuk bahunya dengan ramah. Momen ini sempat memicu spekulasi bahwa hubungan mereka bisa pulih, tetapi pernyataan terbaru Musk menegaskan bahwa penyesalannya sudah terlalu dalam.
Keputusan Musk untuk terjun ke politik jelas mengorbankan fokusnya terhadap Grok Imagine dan inovasi lain di perusahaannya. Selama menjabat di Doge, ia harus membagi waktu antara mengelola Tesla, SpaceX, dan berbagai proyek ambisius lainnya. Dampaknya, beberapa inisiatif bisnis mungkin tertunda atau tidak mendapat perhatian optimal.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Musk dan para pemimpin bisnis lainnya. Keterlibatan langsung dalam politik, meskipun dengan niat baik, bisa mengalihkan perhatian dari prioritas utama perusahaan. Bagi Musk, yang dikenal dengan visi besarnya di bidang teknologi dan eksplorasi ruang angkasa, waktu yang terbuang di Doge adalah kesempatan yang hilang untuk memajukan inovasi.
Di sisi lain, langkah Trump yang menjauhkan diri dari Musk juga menunjukkan bahwa aliansi bisnis-politik bisa sangat rapuh. Setelah tidak lagi saling membutuhkan, hubungan yang dibangun dengan investasi besar sekalipun bisa runtuh dalam sekejap. Ini menjadi catatan penting bagi para pengusaha yang tergoda untuk bermain di panggung politik.
Bagi publik, penyesalan Musk ini memberikan gambaran tentang harga yang harus dibayar ketika seorang pengusaha memilih jalur politik. Selain kehilangan fokus bisnis, ia juga harus menghadapi risiko reputasi dan potensi konflik kepentingan. Keputusan Musk untuk mengakui kesalahannya secara terbuka setidaknya menunjukkan sikap introspektif yang jarang terlihat dari tokoh sekaliber dirinya.
Ke depan, Musk diharapkan bisa kembali memfokuskan energinya pada pengembangan perusahaan. Dengan pelajaran berharga ini, ia mungkin akan lebih selektif dalam memilih keterlibatan di luar bisnis inti. Bagi para penggemar dan investor Tesla serta SpaceX, kabar ini tentu menjadi angin segar karena sang pemimpin akan kembali berkonsentrasi penuh pada inovasi dan pertumbuhan perusahaan.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis yang kompetitif, fokus adalah kunci. Seperti yang diakui Musk sendiri, alih-alih menjalankan Doge, ia seharusnya lebih fokus pada perusahaannya. Sebuah pelajaran yang mungkin akan diingat oleh para pemimpin bisnis di seluruh dunia.
Implikasinya bagi pembaca: keputusan strategis seorang pemimpin perusahaan besar bisa berdampak langsung pada produk dan layanan yang kita nikmati sehari-hari. Dengan Musk kembali fokus pada bisnisnya, kita mungkin akan melihat akselerasi inovasi dari Tesla, SpaceX, dan perusahaannya yang lain. Ini adalah kabar baik bagi konsumen yang menantikan transaksi digital yang lebih aman dan teknologi masa depan yang lebih canggih.
JBNews.id — Elon Musk secara terbuka menyatakan penyesalannya atas keterlibatannya dalam politik era Donald Trump. Bos SpaceX dan Tesla itu mengaku seharusnya lebih fokus mengelola perusahaan miliknya daripada mengurus Department of Government Efficiency (Doge).
Dalam pernyataannya, Musk mengaku tidak berpikir panjang ketika membangun hubungan dekat dengan Trump. Hubungan keduanya memang kerap pasang surut, kadang akur dan sebaliknya. “Sejujurnya, saya terlalu terbawa suasana,” kata Musk tentang relasinya dengan Trump, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (29/7/2026).
Keputusan Musk untuk mendekati Trump berimplikasi besar pada waktu dan sumber dayanya. Ia bahkan mendukung kampanye Trump pada 2024 dengan suntikan dana sebesar USD 200 juta. Setelah Trump menang, Musk menjabat sebagai kepala Doge selama 129 hari dan mengawasi pemotongan anggaran senilai USD 150 miliar—sebuah kebijakan yang dinilai kontroversial.
Baca Juga:
Pada Desember 2025, dalam sebuah podcast bersama Katie Miller—istri dari penasihat Gedung Putih Stephen Miller—Musk mengakui kontribusinya di Doge hanya sebagian yang berhasil. Ketika ditanya apakah akan mengulangi pengalaman itu, ia menjawab tegas: tidak akan. “Saya pikir, alih-alih menjalankan Doge, saya akan lebih fokus pada perusahaan saya,” akunya.
Penyesalan Musk ini muncul setelah hubungannya dengan Trump benar-benar retak. Pada Juni 2025, Trump secara terbuka menyatakan relasinya dengan pendiri PayPal itu telah berakhir. “Saya kira begitu ya,” tutur Trump kepada NBC News saat ditanya apakah hubungan dekat keduanya telah berakhir. Trump juga menjawab tidak ketika ditanya apakah ingin memperbaiki hubungan yang rusak itu.
Lebih lanjut, Trump menuding Musk tidak menghormati jabatan presiden dan menganggapnya sangat tidak sopan. Ketegangan semakin memuncak pada musim panas 2025 ketika Trump mengisyaratkan akan meninjau ulang status imigrasi Musk, serta mengungkit soal subsidi dan kontrak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan Musk. Situasi ini tentu menjadi tekanan besar bagi bisnis Musk yang bergantung pada kontrak pemerintah.
Namun, hubungan keduanya sempat menunjukkan tanda mereda pada musim gugur 2025. Musk hadir dalam jamuan makan malam untuk putra mahkota Arab Saudi di Gedung Putih, di mana Trump menepuk bahunya dengan ramah. Momen ini sempat memicu spekulasi bahwa hubungan mereka bisa pulih, tetapi pernyataan terbaru Musk menegaskan bahwa penyesalannya sudah terlalu dalam.
Keputusan Musk untuk terjun ke politik jelas mengorbankan fokusnya terhadap Grok Imagine dan inovasi lain di perusahaannya. Selama menjabat di Doge, ia harus membagi waktu antara mengelola Tesla, SpaceX, dan berbagai proyek ambisius lainnya. Dampaknya, beberapa inisiatif bisnis mungkin tertunda atau tidak mendapat perhatian optimal.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Musk dan para pemimpin bisnis lainnya. Keterlibatan langsung dalam politik, meskipun dengan niat baik, bisa mengalihkan perhatian dari prioritas utama perusahaan. Bagi Musk, yang dikenal dengan visi besarnya di bidang teknologi dan eksplorasi ruang angkasa, waktu yang terbuang di Doge adalah kesempatan yang hilang untuk memajukan inovasi.
Di sisi lain, langkah Trump yang menjauhkan diri dari Musk juga menunjukkan bahwa aliansi bisnis-politik bisa sangat rapuh. Setelah tidak lagi saling membutuhkan, hubungan yang dibangun dengan investasi besar sekalipun bisa runtuh dalam sekejap. Ini menjadi catatan penting bagi para pengusaha yang tergoda untuk bermain di panggung politik.
Bagi publik, penyesalan Musk ini memberikan gambaran tentang harga yang harus dibayar ketika seorang pengusaha memilih jalur politik. Selain kehilangan fokus bisnis, ia juga harus menghadapi risiko reputasi dan potensi konflik kepentingan. Keputusan Musk untuk mengakui kesalahannya secara terbuka setidaknya menunjukkan sikap introspektif yang jarang terlihat dari tokoh sekaliber dirinya.
Ke depan, Musk diharapkan bisa kembali memfokuskan energinya pada pengembangan perusahaan. Dengan pelajaran berharga ini, ia mungkin akan lebih selektif dalam memilih keterlibatan di luar bisnis inti. Bagi para penggemar dan investor Tesla serta SpaceX, kabar ini tentu menjadi angin segar karena sang pemimpin akan kembali berkonsentrasi penuh pada inovasi dan pertumbuhan perusahaan.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis yang kompetitif, fokus adalah kunci. Seperti yang diakui Musk sendiri, alih-alih menjalankan Doge, ia seharusnya lebih fokus pada perusahaannya. Sebuah pelajaran yang mungkin akan diingat oleh para pemimpin bisnis di seluruh dunia.
Implikasinya bagi pembaca: keputusan strategis seorang pemimpin perusahaan besar bisa berdampak langsung pada produk dan layanan yang kita nikmati sehari-hari. Dengan Musk kembali fokus pada bisnisnya, kita mungkin akan melihat akselerasi inovasi dari Tesla, SpaceX, dan perusahaannya yang lain. Ini adalah kabar baik bagi konsumen yang menantikan transaksi digital yang lebih aman dan teknologi masa depan yang lebih canggih.
