Author: Hamzah Nurhamzah

  • Komdigi Perketat Registrasi SIM Biometrik Cegah Nomor Bodong

    Komdigi Perketat Registrasi SIM Biometrik Cegah Nomor Bodong

    JBNews.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperketat pengawasan implementasi registrasi kartu SIM berbasis biometrik. Tiga pekan setelah diberlakukan, seluruh operator seluler diminta memastikan semua gerai, mitra penjualan, hingga kanal digital menjalankan proses registrasi sesuai aturan untuk mencegah penyalahgunaan nomor seluler.

    Penegasan ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dalam penandatanganan Komitmen Bersama Implementasi Registrasi Pelanggan Berbasis Data Biometrik bersama seluruh direktur utama operator seluler yang tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

    Imbauan ini diambil setelah pemerintah masih menemukan praktik registrasi yang tidak sesuai ketentuan di sejumlah titik layanan. Karena itu, operator diminta memperkuat pengawasan hingga ke tingkat mitra distribusi agar tidak ada celah penyalahgunaan nomor seluler.

    “Seluruh kanal registrasi, baik melalui gerai, aplikasi, situs web, maupun saluran mitra distribusi, harus tunduk pada ketentuan yang sama. Jangan sampai kebijakan sudah berlaku di tingkat pusat, tetapi di lapangan masih ada celah,” ujar Meutya.

    Ia menegaskan tidak boleh ada perbedaan standar keamanan antara registrasi di kota besar maupun daerah, kanal digital maupun fisik, hingga antaroperator seluler. Langkah ini menjadi krusial mengingat tingginya angka kejahatan digital yang memanfaatkan anonimitas nomor seluler.

    Menurut Meutya, penguatan implementasi registrasi biometrik menjadi langkah penting untuk menutup celah penyalahgunaan nomor seluler yang selama ini dimanfaatkan pelaku kejahatan digital. “Kebijakan registrasi biometrik ini hadir sebagai solusi di tingkat hulu untuk memutus akar masalah kejahatan berbasis keuangan digital. Dengan menutup celah anonimitas sejak awal, aturan ini menjadi benteng utama dalam memberantas penipuan, judi online, pinjaman online fiktif, hingga peniruan identitas,” ungkapnya.

    Pemerintah menilai urgensi kebijakan ini semakin besar melihat tingginya angka kejahatan digital. Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat nilai transaksi judi online sepanjang 2025 mencapai Rp286,8 triliun. Sementara itu, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat masyarakat mengalami kerugian hingga Rp9,1 triliun akibat berbagai modus penipuan, berdasarkan lebih dari 432 ribu laporan yang diterima sejak November 2024 hingga awal 2026.

    Di sisi lain, hingga 16 Juli 2026, Komdigi juga telah menerima lebih dari 30 ribu pengaduan terkait penyalahgunaan nomor seluler untuk penipuan, pemerasan, hingga berbagai bentuk kejahatan digital lainnya. Angka-angka ini menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap nomor HP siluman yang selama ini menjadi celah utama kejahatan digital.

    Meutya mengatakan verifikasi biometrik akan memastikan setiap nomor seluler benar-benar terhubung dengan identitas pemiliknya sehingga ruang penyalahgunaan identitas semakin sempit. “Tujuannya agar setiap nomor seluler dapat dipertanggungjawabkan dan masyarakat semakin terlindungi,” katanya.

    Target Cakupan Seluruh Pelanggan

    Sejauh ini, berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), registrasi SIM berbasis biometrik telah diterapkan kepada lebih dari 10,03 juta pelanggan. Pemerintah menargetkan mekanisme tersebut nantinya mencakup seluruh 291,16 juta pelanggan seluler aktif di Indonesia.

    Untuk mencapai target itu, seluruh operator seluler berkomitmen memperketat pengawasan terhadap jaringan distribusi, meningkatkan kepatuhan mitra penjualan, serta memastikan setiap proses registrasi biometrik dilakukan sesuai standar di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini sejalan dengan kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 yang mewajibkan perekaman wajah untuk setiap nomor HP baru.

    “Kami mengapresiasi komitmen seluruh operator. Namun komitmen ini harus diwujudkan dalam pengawasan yang nyata di lapangan. Masyarakat harus mendapat jaminan bahwa setiap kartu SIM yang diaktivasi telah melalui proses registrasi yang benar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Meutya.

    Menkomdigi Meutya Hafid

    Kebijakan registrasi biometrik ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memberantas kejahatan digital dari hulu. Dengan memastikan setiap nomor seluler terverifikasi secara biometrik, ruang gerak pelaku kejahatan digital seperti penipuan, judi online, dan pinjaman online fiktif semakin terbatas.

    Bagi masyarakat, kebijakan ini memberikan perlindungan lebih terhadap penyalahgunaan identitas dan nomor seluler. Namun, pemerintah juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk selalu melakukan registrasi melalui kanal resmi dan tidak memberikan data biometrik kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.

  • Rahasia Samsung Unggul di Era Smartphone AI

    Rahasia Samsung Unggul di Era Smartphone AI

    JBNews.id — Samsung menegaskan bahwa kunci kemenangan di era persaingan smartphone kecerdasan buatan (AI) bukan terletak pada jumlah fitur, melainkan pada kedalaman integrasi teknologi AI ke dalam keseluruhan pengalaman pengguna. Pendekatan ini menjadi fondasi utama perusahaan dalam merancang perangkat Galaxy terbaru mereka.

    Head of Marketing Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, Chon Hong, mengungkapkan hal tersebut di sela-sela acara Galaxy Unpacked 2026 di London. Menurutnya, banyak merek lain hanya menambahkan fitur AI ke perangkat keras yang sudah ada, namun Samsung memilih jalur yang berbeda dengan merancang ulang platform dari awal.

    “Saya pikir konsumen yang lebih cerdas, khususnya di Indonesia, akan memahami bahwa AI bukan hanya sekadar fitur, ini bukan sebuah spesifikasi. AI adalah tentang seberapa baik kami mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan pengalaman perangkat, bukan?” ujar Chon Hong kepada detikINET.

    Pernyataan ini mempertegas strategi Samsung yang tidak hanya bersaing dalam hal spesifikasi teknis, tetapi juga dalam menciptakan ekosistem yang saling terhubung. Perusahaan melihat bahwa kekuatan utama AI tidak hanya berada pada smartphone, tetapi pada kemampuan perangkat untuk memahami konteks pengguna melalui berbagai perangkat yang digunakan sehari-hari.

    Chon Hong menjelaskan bahwa pendekatan Samsung memungkinkan perangkat Galaxy memiliki kesiapan untuk berinteraksi dengan berbagai layanan AI. “Di mana perangkat Galaxy kini siap untuk pada dasarnya bekerja dengan agen AI apa pun, software AI apa pun yang Anda sukai dan bisa Anda pilih, sehingga aplikasi dan layanan kami menjadi lebih mulus, bekerja sama untuk Anda,” jelasnya.

    Ekosistem Sebagai Kekuatan Utama

    Samsung menilai bahwa AI akan bekerja maksimal ketika perangkat dapat memahami konteks pengguna secara menyeluruh. Chon Hong mencontohkan bagaimana ekosistem Samsung yang mencakup televisi, perangkat rumah tangga, hingga perangkat wearable dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pengguna.

    “Samsung TV tahu jenis konten apa yang Anda sukai, peralatan rumah tangga Samsung yang tahu apa preferensi diet Anda, dan dari perangkat seperti jam tangan pintar Anda, kami dapat membantu melacak kesehatan Anda, semua ini digabungkan menjadi sebuah kecerdasan, kecerdasan sejati untuk Anda, hanya untuk Anda, dibandingkan dengan apa yang hanya bisa dilakukan oleh sekadar sebuah ponsel,” lanjutnya.

    Dengan pendekatan ini, Samsung ingin menempatkan Galaxy AI sebagai pengalaman yang lebih menyeluruh dan personal. Perusahaan tidak ingin AI hanya menjadi sekadar kumpulan fitur yang tersedia di dalam perangkat, melainkan menjadi bagian integral dari kehidupan pengguna.

    “Saya rasa Samsung adalah tentang menyediakan pengalaman AI yang komprehensif dan holistik ini yang benar-benar disesuaikan untuk Anda, personalisasi,” cetus Chon Hong.

    Persaingan Semakin Ketat

    Persaingan di segmen premium smartphone kini semakin bergeser ke ranah AI. Banyak produsen berlomba-lomba menghadirkan fitur AI terbaru, namun Samsung menilai bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menambahkan fitur baru, melainkan bagaimana membuat AI benar-benar bekerja secara mulus bersama sistem dan layanan yang ada.

    Dalam konteks ini, Samsung mengklaim bahwa pendekatan mereka berbeda karena AI Galaxy dikembangkan sebagai bagian dari fondasi pengalaman perangkat sejak awal, bukan sekadar tambahan di atas sistem operasi yang sudah ada. Hal ini memungkinkan integrasi yang lebih dalam dan pengalaman yang lebih mulus bagi pengguna.

    Seiring dengan peluncuran Galaxy Z Fold8, Samsung juga memperkenalkan berbagai fitur AI baru yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas pengguna. Perusahaan optimistis bahwa pendekatan holistik ini akan menjadi pembeda utama di tengah persaingan yang semakin ketat.

    Untuk mengetahui lebih lanjut tentang inovasi terbaru Samsung, Anda dapat membaca artikel tentang Fitur Terbaru Galaxy Z Fold8. Selain itu, perkembangan di industri teknologi juga menunjukkan bahwa isu AI menjadi perhatian serius, seperti yang terlihat dalam kasus Apple Gugat OpenAI.

    Dengan strategi ini, Samsung berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di segmen premium, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Oseania. Perusahaan yakin bahwa konsumen, khususnya di Indonesia, akan semakin menghargai pendekatan yang lebih terintegrasi dan personal dalam penggunaan teknologi AI.

    Implikasinya bagi konsumen adalah bahwa memilih smartphone di era AI tidak lagi sekadar melihat spesifikasi teknis, tetapi juga bagaimana perangkat tersebut dapat berintegrasi dengan ekosistem yang lebih luas. Samsung menawarkan solusi yang lebih komprehensif dengan menghubungkan berbagai perangkat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

    Bagi para profesional dan pengguna yang menginginkan produktivitas tinggi, pendekatan ini dapat menjadi nilai tambah yang signifikan. Kemampuan AI yang terintegrasi dengan berbagai perangkat memungkinkan pengguna untuk mendapatkan pengalaman yang lebih mulus dan personal tanpa harus berganti-ganti platform.

    Samsung juga menekankan bahwa keamanan dan privasi pengguna tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan Galaxy AI. Dengan pendekatan yang berpusat pada pengguna, perusahaan berkomitmen untuk memberikan pengalaman AI yang aman dan terpercaya.

    Ke depannya, persaingan di industri smartphone diprediksi akan semakin fokus pada kemampuan AI dan ekosistem. Samsung telah memposisikan diri dengan strategi yang jelas, yaitu membangun fondasi AI yang kokoh sejak awal dan mengintegrasikannya ke seluruh lini produk.

    Dengan peluncuran Galaxy Z Fold8 dan perangkat terbaru lainnya, Samsung menunjukkan komitmennya untuk terus berinovasi di era AI. Perusahaan siap menghadapi tantangan dan persaingan dengan pendekatan yang berbeda dan lebih holistik.

    Sebagai penutup, Chon Hong menegaskan bahwa Samsung akan terus mengembangkan Galaxy AI agar semakin personal dan relevan bagi setiap pengguna. Perusahaan percaya bahwa inilah kunci untuk memenangkan persaingan di era smartphone AI yang semakin kompetitif.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI di industri teknologi, Anda dapat membaca artikel tentang Kebijakan AI yang sedang hangat diperbincangkan.

    Dengan strategi yang matang dan visi yang jelas, Samsung optimistis dapat terus menjadi pemimpin dalam industri smartphone, khususnya di era di mana AI menjadi faktor penentu utama dalam pengalaman pengguna.

    Bagi Anda yang tertarik dengan teknologi terbaru dan ingin selalu update dengan perkembangan industri, artikel ini memberikan gambaran jelas tentang arah persaingan smartphone di masa depan. Samsung telah menunjukkan bahwa kunci kemenangan bukan pada jumlah fitur, melainkan pada seberapa dalam AI terintegrasi dengan kehidupan pengguna.

    Galaxy Z Fold8 Ultra

  • Harga Framework Laptop 13 Pro Naik Akibat Krisis RAM

    Harga Framework Laptop 13 Pro Naik Akibat Krisis RAM

    JBNews.id — Framework mengumumkan perubahan harga yang signifikan untuk Laptop 13 Pro menyusul lonjakan biaya modul memori dari pemasok yang disebut “lebih dari dua kali lipat” dari inventaris sebelumnya. Keputusan ini berdampak pada pelanggan yang sudah melakukan preorder, dengan beberapa di antaranya menerima konfigurasi memori yang berbeda dari pesanan awal.

    Perusahaan yang dikenal dengan pendekatan transparan terhadap komponen laptop modular ini mengatakan bahwa pembaruan harga bersifat “besar dan tidak mengenakkan”. Framework menegaskan bahwa mereka masih memiliki stok modul memori LPCAMM2 yang cukup untuk menutupi seluruh preorder yang ada, namun komposisi modul 64GB, 32GB, dan 16GB tidak sesuai dengan semua konfigurasi preorder pelanggan.

    Kondisi ini memaksa Framework untuk memperbarui konfigurasi memori pada sejumlah pesanan Laptop 13 Pro, yang secara langsung berdampak pada harga akhir yang harus dibayar pelanggan. Perusahaan telah menyampaikan permintaan maaf atas perubahan ini dan menawarkan opsi pembatalan dengan pengembalian deposit penuh bagi pelanggan yang tidak puas dengan konfigurasi baru mereka.

    Dampak Krisis RAM Global

    Fenomena yang dijuluki “RAMageddon” ini telah memakan korban baru. Framework menjadi salah satu perusahaan teknologi yang paling transparan mengenai dampak krisis RAM yang sedang berlangsung. Namun, langkah ini tetap menjadi pukulan telak bagi pelanggan yang telah menantikan kedatangan Laptop 13 Pro.

    Bagi pelanggan yang sudah melakukan pemesanan, Framework mengirimkan notifikasi bahwa konfigurasi memori pada pesanan mereka telah diperbarui. Perubahan ini terjadi karena perusahaan tidak memiliki campuran modul yang tepat untuk memenuhi semua permintaan preorder yang masuk.

    Framework menawarkan solusi berupa pembatalan pesanan dengan pengembalian deposit penuh bagi pelanggan yang tidak setuju dengan konfigurasi baru. Langkah ini diambil untuk memberikan fleksibilitas kepada konsumen di tengah situasi yang tidak terduga.

    Konfigurasi dan Harga Terbaru

    Untuk pemesanan baru, Framework telah menyesuaikan konfigurasi dan harga yang tersedia di situs web mereka. Opsi prebuilt kini dimulai dari harga $1.599 untuk varian dengan prosesor Intel Core Ultra 5 325, memori 16GB, dan penyimpanan 512GB. Angka ini meningkat $100 lebih tinggi dari harga yang diumumkan pada peluncuran awal.

    Kenaikan harga ini mencerminkan tekanan biaya yang dihadapi Framework dari pemasok memorinya. Perusahaan mengaku menerima informasi biaya terbaru yang “lebih dari dua kali lipat” dibandingkan inventaris sebelumnya, yang menjadi dasar penyesuaian harga saat ini.

    Framework telah menjadi salah satu perusahaan yang paling vokal mengenai dampak krisis RAM terhadap industri laptop. Pendekatan transparan mereka dalam mengomunikasikan perubahan harga dan konfigurasi kepada pelanggan patut diapresiasi, meskipun keputusan ini tetap mengecewakan bagi banyak pihak.

    Pelanggan yang ingin mengetahui lebih detail mengenai pembaruan memori dan harga dapat membaca informasi lengkap di blog resmi Framework. Perusahaan berjanji akan terus memberikan informasi terkini mengenai perkembangan situasi ini.

    Bagi Anda yang tertarik dengan laptop modular ini, penting untuk memahami bahwa Harga Terbaru yang ditawarkan sudah termasuk penyesuaian akibat krisis RAM. Sementara itu, bagi yang sudah melakukan preorder, opsi pembatalan dengan pengembalian deposit penuh masih tersedia.

    Framework juga masih menghadapi tantangan lain terkait produksi Laptop 13 Pro. Sebelumnya, perusahaan melaporkan Masalah Trackpad yang menyebabkan penundaan pengiriman. Kendala ini menambah daftar tantangan yang harus dihadapi Framework dalam merilis laptop premium terbarunya.

    Meskipun demikian, Framework tetap berkomitmen untuk memberikan produk berkualitas tinggi dengan desain modular yang menjadi ciri khasnya. Perusahaan percaya bahwa pendekatan transparan dalam menghadapi krisis ini akan membangun kepercayaan jangka panjang dengan pelanggan.

    Implikasi dari kenaikan harga ini cukup jelas bagi konsumen. Bagi mereka yang sudah memesan, opsi terbaik adalah mengevaluasi apakah konfigurasi baru masih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Sementara bagi yang belum memesan, harga awal yang lebih tinggi menjadi realitas baru yang harus diterima.

    Krisis RAM global diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, yang berarti tekanan harga pada komponen memori kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat. Framework, seperti halnya produsen laptop lainnya, harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang tidak menentu ini.

    Bagi pelanggan yang tetap ingin melanjutkan pemesanan, Framework menjamin bahwa modul memori yang digunakan adalah produk berkualitas tinggi dengan performa terbaik. Perusahaan juga menegaskan bahwa meskipun terjadi perubahan konfigurasi, kualitas dan keandalan laptop tetap menjadi prioritas utama.

    Framework berharap bahwa dengan komunikasi yang terbuka dan opsi fleksibel yang ditawarkan, pelanggan dapat memahami situasi yang dihadapi perusahaan. Keputusan untuk menaikkan harga bukanlah langkah yang diambil dengan ringan, melainkan respons terhadap kondisi pasar yang tidak terduga.

    Ke depannya, Framework berencana untuk terus memantau perkembangan harga komponen dan akan menyesuaikan strategi penetapan harga jika kondisi memungkinkan. Perusahaan juga akan terus mencari cara untuk meminimalkan dampak fluktuasi harga komponen terhadap konsumen.

  • Jibo Bangkit Kembali: Lingverse Luncurkan iKairos, AI Wearable Penerus Robot Ikonik

    Jibo Bangkit Kembali: Lingverse Luncurkan iKairos, AI Wearable Penerus Robot Ikonik

    JBNews.id — Lingverse, perusahaan teknologi yang sebelumnya dikenal sebagai Ling AI, mengumumkan pendanaan sebesar US$29 juta untuk menghidupkan kembali semangat robot sosial legendaris Jibo dalam bentuk perangkat wearable AI bernama iKairos. Perangkat ini dirancang sebagai penerus spiritual Jibo yang sempat populer pada 2014 namun mati sebelum waktunya karena terlalu maju untuk zamannya.

    Jibo adalah robot sosial imut yang duduk di satu tempat dan tidak bisa bergerak atau berinteraksi dengan objek. Robot ini hadir sebelum industri smart-home benar-benar berkembang, bahkan mendahului speaker populer Amazon Echo. Meskipun menggemaskan dengan kemampuannya bergoyang dan berbicara, Jibo tidak cukup kompeten dan diminati pasar untuk bertahan hidup. Kini, semangat Jibo dihidupkan kembali dalam bentuk yang sangat berbeda.

    iKairos: AI Wearable dengan Dua Mode Penggunaan

    iKairos dapat dikenakan sebagai liontin atau dijepitkan ke pakaian. Perangkat ini juga bisa ditempatkan di dudukan meja, mirip dengan posisi Jibo, untuk mengamati lingkungan sekitarnya. Lingverse mengklaim iKairos mampu menjawab pertanyaan, membantu tugas-tugas tertentu, dan melakukan hampir semua hal yang bisa dilakukan asisten suara AI modern.

    Nama iKairos berasal dari kata Yunani Kairos yang secara longgar berarti “momen yang tepat.” Menariknya, nama ini juga terdengar seperti Icarus, tokoh mitologi Yunani yang terbang terlalu dekat dengan matahari. Lingverse menegaskan bahwa kemiripan itu tidak disengaja. Pemilihan nama ini didasarkan pada keyakinan bahwa ledakan AI generatif saat ini adalah waktu yang lebih tepat untuk menghadirkan asisten pribadi buatan semacam ini.

    “Ini adalah waktu yang tepat untuk menggabungkan semua hal,” kata Jiawei Gu, CEO Lingverse, kepada WIRED. “Dengan iKairos, kami melanjutkan mimpi asli Jibo.”

    Hubungan dengan Warisan Jibo

    Meskipun bukan bagian dari tim pendiri Jibo, Gu adalah anggota dewan sebelum perusahaan tersebut bangkrut. Lingverse mengklaim produk ini dibuat dengan “restu dari tim pendiri Jibo,” namun perusahaan tidak memiliki hak kekayaan intelektual atas Jibo—meskipun mencantumkan Jibo sebagai “produk” di situs webnya. Lingverse mengatakan mereka memegang beberapa paten inti Jibo, namun tidak bersedia mengungkapkan paten mana saja.

    Detail spesifik tentang kemampuan iKairos masih sangat terbatas. Dalam siaran persnya, Lingverse menyatakan iKairos akan “terus mengamati Anda dan lingkungan sekitar” serta “mulai bertindak sebagai penjaga AI pribadi,” namun tidak menjelaskan bagaimana fungsi tersebut akan bekerja.

    Fitur AI Journal dan Kemampuan Visual

    Setelah mengumumkan pendanaan pada Rabu, situs web Lingverse untuk iKairos kini mendeskripsikannya sebagai “jurnal AI” dengan slogan “Setiap momen berbintang menjadi kapsul. iKairos mengawasi apa yang penting, lalu menyegelnya.” Berdasarkan visual di situs, ketika ditempatkan di rumah, iKairos akan menangkap momen di sekitarnya dan mengubahnya menjadi gambar hasil AI sebagai kenangan.

    “Perangkat ini menangkap hari Anda dengan mudah, dan di akhir setiap hari, ia menghasilkan refleksi untuk Anda,” tulis perwakilan media Lingverse dalam tanggapan terhadap pertanyaan WIRED. “Seiring waktu, hidup berdampingan dengan iKairos membantu Anda memahami diri sendiri sedikit lebih baik, dan memudahkan untuk melihat kembali ke mana Anda telah pergi.”

    Lingverse bukanlah pendatang baru di konten AI generatif. Perusahaan ini juga mengembangkan bot bacaan Luka AI yang sangat populer. Di CES 2026, Lingverse menampilkan Luka AI cube, perangkat anak-anak berkamera yang dapat menjawab pertanyaan tentang dunia dan mengubah karya seni menjadi video AI berbicara yang tidak biasa.

    Mekanisme Privasi dan Keamanan Data

    Dalam hal privasi, Lingverse mengatakan iKairos tidak merekam video, melainkan menggunakan kamera untuk mengambil cuplikan lingkungan yang nantinya akan dihapus. Perangkat hanya merekam audio ketika suara manusia terdeteksi. iKairos akan memiliki penutup kamera fisik dan data akan diproses di perangkat atau dienkripsi selama transmisi, serta tidak akan digunakan untuk melatih model AI.

    Ketika ditanya bagaimana iKairos mencegah gambar yang dihasilkan menjadi berkualitas rendah, perwakilan perusahaan menyatakan bahwa mereka akan memeriksa kualitas gambar dan memungkinkan pengguna memilih gambar mana yang mereka sukai untuk menangkap momen.

    “Setiap gambar berasal dari momen nyata yang benar-benar ditangkap perangkat,” tulis perwakilan Lingverse dalam email ke WIRED. “Sebelum apa pun masuk ke jurnal Anda, ia melewati gerbang kualitas yang melakukan referensi silang antara adegan visual dengan konteks audio momen tersebut—di mana Anda berada, siapa yang bersama Anda, apa yang dikatakan.”

    Harga dan Ketersediaan

    Lingverse mengatakan iKairos kemungkinan akan dibanderol antara US$199 hingga US$249, kemungkinan dengan layanan berlangganan yang menawarkan fitur AI lainnya. Pra-pemesanan iKairos direncanakan akan dimulai pada akhir tahun 2026.

    Posisi di Pasar Perangkat AI Rumah

    Di mana iKairos akan ditempatkan di pasar perangkat AI rumah yang semakin meluas masih belum jelas. Raksasa teknologi seperti Apple, Amazon, dan Google bertaruh besar pada generasi berikutnya speaker pintar. Google baru saja memperkenalkan speaker pintar terbaru yang mendukung AI bulan lalu. OpenAI, dalam kemitraannya dengan desainer legendaris Jony Ive, juga diperkirakan akan membuat asisten rumah semacam ini. Apple dikabarkan sedang mengerjakan hub rumah dengan layar mirip iPad.

    Jika Anda mencari jurnal AI, sudah ada banyak produk di pasaran seperti wearable Bee AI atau bodycam Looki L1 AI. Bahkan Google Photos sudah memungkinkan pengguna untuk mengubah foto keluarga dengan AI. Kita masih harus menunggu informasi lebih lanjut, namun Lingverse tidak ragu memanfaatkan warisan Jibo untuk meningkatkan popularitas perangkat keras barunya, terlepas dari apakah iKairos dapat memenuhi ekspektasi penggemar robot yang dicintai tersebut.

  • Elon Musk Bikin Odyssey Versi Grok Imagine, Klaim Lebih Akurat

    Elon Musk Bikin Odyssey Versi Grok Imagine, Klaim Lebih Akurat

    JBNews.id — Elon Musk menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) miliknya, Grok Imagine, akan memproduksi film adaptasi The Odyssey yang diklaim lebih akurat secara historis dan lebih keren dibandingkan versi garapan sutradara Christopher Nolan. Musk menargetkan film tersebut rampung sebelum akhir tahun 2026.

    Pernyataan itu disampaikan Musk melalui platform X yang juga ia miliki pada Kamis (23/7/2026). “Sebelum tahun ini berakhir, Grok Imagine akan membuat film panjang adaptasi The Odyssey yang akurat secara historis dan sesuai dengan karya seni Homer,” tulisnya. Klaim ini muncul setelah film Odyssey garapan Nolan resmi dirilis pada 15 Juli 2026 dan menuai kritik keras dari Musk.

    Musk secara vokal mengecam film Nolan. Ia menilai karya tersebut tidak sesuai dengan kisah Yunani Kuno dan bukan merupakan seni murni. Kritik Musk bahkan merambah ranah ideologis. Seorang pengguna X berkomentar bahwa “Penghancuran Odyssey oleh Nolan dan kaum Kiri bukan hanya tentang sebuah film. Ini tentang Peradaban Barat. Bangsa Yunani adalah fondasinya. Dari Demokrasi hingga Seni hingga Filsafat hingga Budaya. Kaum Kiri ingin menghancurkan Peradaban Barat dan segala sesuatu yang membantu menciptakannya.” Musk pun merespons komentar tersebut dengan singkat: “Benar.”

    Di tengah kontroversi, seorang netizen dengan akun martyanwyrdlord mengusulkan agar Musk memberikan dana sebesar US$ 100 juta kepada sutradara Mel Gibson untuk membuat adaptasi Odyssey yang akurat secara historis. Usulan itu mencakup penggunaan kapal, baju besi, senjata, dan pemeran yang sesuai dengan sejarah, serta dialog yang diambil langsung dari puisi asli Homer dalam bahasa Yunani Homerik.

    Menanggapi usulan tersebut, seorang pengguna lain dengan akun heavypulp berkomentar, “Kita memiliki teknologinya.” Musk kemudian membalas dengan pernyataan tegas: “Grok Imagine Odyssey akan 🔥.” Pernyataan ini menegaskan ambisi Musk untuk mengandalkan AI miliknya ketimbang sutradara manusia dalam proyek film tersebut.

    Ambisi Grok Imagine di Industri Film

    Langkah Musk ini merupakan bagian dari ekspansi besar-besaran xAI, perusahaan AI miliknya, ke industri kreatif. Grok Imagine digadang sebagai model AI generatif yang mampu menghasilkan konten visual berkualitas tinggi, termasuk film panjang. Klaim Musk bahwa AI bisa menghasilkan film yang akurat secara historis menjadi ujian bagi kemampuan teknologi tersebut di tengah skeptisisme publik.

    Film Odyssey garapan Christopher Nolan sendiri baru dirilis pada pertengahan Juli 2026. Meski sempat dihujat saat trailer perdananya dirilis, film tersebut kemudian dipuji sebagai salah satu karya terbaik Nolan. Namun, Musk dan sejumlah pihak menilai ada penyimpangan dari sumber asli epik Homer yang ditulis pada abad ke-8 SM.

    Kontroversi ini mengingatkan pada kritik Musk sebelumnya terhadap industri Hollywood yang dianggap terlalu didominasi agenda politik. Dalam beberapa kesempatan, Musk menyebut bahwa film-film besar sering kali mengorbankan akurasi sejarah demi kepentingan narasi tertentu. Elon Musk Olok-olok Sam Altman usai OpenAI digugat Apple juga menunjukkan pola serupa, di mana Musk kerap mengkritik kompetitor di industri teknologi dan hiburan.

    Dampak dan Implikasi bagi Industri

    Jika realisasi Grok Imagine berhasil memproduksi film panjang, hal ini akan menjadi tonggak baru dalam industri perfilman. Penggunaan AI generatif untuk membuat film fitur secara penuh masih jarang terjadi, apalagi dengan klaim akurasi sejarah yang tinggi. Langkah ini berpotensi mengubah cara produksi film di Hollywood dan memberikan alternatif bagi sineas yang ingin menghindari campur tangan studio besar.

    Di sisi lain, ambisi Musk ini juga menimbulkan pertanyaan serius. Grok Elon Musk sebelumnya pernah menjadi sorotan negatif karena menghasilkan ribuan gambar eksplisit anak di bawah umur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan dan etika penggunaan AI generatif, terutama untuk konten berskala besar seperti film.

    Bagi para penggemar The Odyssey dan epik Homer, perkembangan ini menarik untuk diikuti. Pertanyaannya, mampukah Grok Imagine memenuhi klaim Musk tentang akurasi historis dan kualitas sinematik yang dijanjikan? Atau justru sebaliknya, proyek ini akan menjadi bukti lain bahwa AI belum siap menggantikan kreativitas manusia dalam seni?

    Satu hal yang pasti: persaingan antara Musk dan Nolan kini tidak hanya terjadi di ranah teknologi, tetapi juga di industri film. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang dampak ekspansi AI terhadap lingkungan dan industri kreatif, Emisi Karbon Microsoft yang melonjak akibat ekspansi AI bisa menjadi gambaran tentang besarnya sumber daya yang dibutuhkan teknologi ini.

  • Pakaian Robotik Mirip Iron Man Terpasang Otomatis dalam 10 Detik

    Pakaian Robotik Mirip Iron Man Terpasang Otomatis dalam 10 Detik

    JBNews.id, Jakarta — Para peneliti dari KAIST Korea Selatan dan Universitas Stanford berhasil menciptakan pakaian robotik yang dapat terpasang secara otomatis ke tubuh pemakainya, mirip dengan kostum Iron Man milik Tony Stark. Proses pemakaiannya diklaim hanya memakan waktu 10 detik tanpa bantuan tangan.

    Temuan ini dipublikasikan di IEEE Robotics and Automation Letters dan telah memenangkan Penghargaan IEEE KAIST 2024. Inovasi ini menjawab tantangan lama dalam dunia robotika wearable, terutama pada efisiensi waktu pemakaian.

    Teknologi ini menggunakan sistem bertenaga udara yang ditanamkan langsung ke dalam pakaian. Saat diaktifkan, pakaian akan terdorong dari bawah ke atas dengan membalikkan bagian dalam ke luar, menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya secara otomatis.

    Cara kerja pakaian ini terinspirasi dari tanaman rambat. Para ilmuwan menempatkan dua tabung di bagian ujung dekat kaki untuk mendorong pakaian secara stabil, bahkan saat melewati permukaan melengkung. Prinsip ini memungkinkan pakaian robotik beradaptasi dengan berbagai bentuk tubuh pengguna.

    “Tumbuhan ini dapat melewati celah sempit, tumbuh sambil beradaptasi dengan bentuk lingkungan sekitarnya, dan bergerak tanpa mempedulikan apakah permukaannya licin, lengket, atau miring,” ujar profesor teknik sipil dan lingkungan di KAIST, Ryu Jee-Hwan.

    Para peneliti dari KAIST Korea Selatan dan Universitas Stanford memperkenalkan karyanya yang spektakuler, sebuah pakaian robotik yang dapat terpasang secara otomatis. Mirip kostum Iron Man kepunyaan Tony Stark.

    Peneliti pascadoktoral KAIST, Kim Nam-gyun, mengaku mendapatkan ide tersebut saat bersepeda di tengah hujan. “Saat saya sedang bersepeda, hujan mulai turun… dan saya berpikir akan sangat membantu jika jas hujan bisa dipasang secara otomatis (saat saya bersepeda),” kata Nam-gyun.

    Para peneliti melihat potensi besar penggunaan pakaian robotik ini di ruang bersih semikonduktor. Saat ini, mengenakan pakaian pelindung di lingkungan tersebut dapat memakan waktu 15 hingga 30 menit. Dengan teknologi baru ini, waktu pemakaian dapat dipangkas secara signifikan menjadi hanya 10 detik.

    Namun, perlu diketahui bahwa teknologi ini masih berupa prototipe eksperimental. Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti mengenai perilisan komersial pakaian robotik tersebut.

    Korea Selatan belakangan ini memang berada di garis depan dalam bidang robotika. Awal 2026, negara tersebut meluncurkan robot biksu humanoid pertamanya, yang secara resmi diinisiasi dalam sebuah upacara di Kuil Jogye, Seoul. Inovasi seperti Fitur Terbaru dalam teknologi wearable ini semakin memperkuat posisi Korea Selatan sebagai pemimpin global di sektor robotika.

    Dengan kemampuan terpasang otomatis dalam 10 detik, pakaian robotik ini berpotensi merevolusi berbagai industri, mulai dari manufaktur semikonduktor hingga aplikasi militer dan penyelamatan. Efisiensi waktu yang ditawarkan sangat signifikan dibandingkan metode konvensional yang membutuhkan waktu hingga 30 menit.

    Penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi wearable yang lebih canggih di masa depan. Inspirasi dari alam, seperti tanaman rambat, menunjukkan bahwa solusi inovatif sering kali berasal dari observasi sederhana terhadap lingkungan sekitar.

    Bagi para Penggemar Teknologi, perkembangan ini menjadi bukti bahwa fiksi ilmiah semakin mendekati kenyataan. Kostum Iron Man yang selama ini hanya ada di film, kini memiliki versi nyata yang dikembangkan oleh para ilmuwan terkemuka dunia.

    Para peneliti terus melakukan penyempurnaan pada prototipe ini. Mereka optimistis bahwa pakaian robotik ini dapat segera diadopsi secara luas, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan prosedur pemakaian pakaian pelindung yang cepat dan efisien.

    Dengan segala potensi yang dimilikinya, pakaian robotik ini menjadi salah satu inovasi paling menarik di tahun 2026. Dunia menantikan langkah selanjutnya dari para peneliti KAIST dan Stanford dalam mewujudkan teknologi ini menjadi produk yang siap pakai.

    Implikasinya bagi industri sangat jelas: penghematan waktu yang dramatis dalam proses pemakaian pakaian pelindung dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, perusahaan-perusahaan di sektor semikonduktor dan manufaktur berteknologi tinggi akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

    Selain itu, pakaian robotik ini juga membuka peluang baru dalam bidang kesehatan dan rehabilitasi. Kemampuannya untuk menyesuaikan bentuk tubuh secara otomatis dapat dimanfaatkan untuk pasien dengan keterbatasan gerak atau mereka yang membutuhkan bantuan dalam mengenakan pakaian medis khusus.

    Dari sisi keamanan, teknologi ini juga berpotensi digunakan oleh tim penyelamat dalam situasi darurat. Proses pemakaian yang cepat dan tanpa bantuan tangan sangat ideal untuk kondisi di mana setiap detik sangat berharga.

    Penelitian ini merupakan contoh sempurna bagaimana kolaborasi internasional antara institusi terkemuka seperti KAIST dan Universitas Stanford dapat menghasilkan terobosan ilmiah yang berdampak luas. Dukungan dari IEEE, organisasi profesional teknik terbesar di dunia, juga menambah kredibilitas temuan ini.

    Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, pakaian robotik ini diprediksi akan menjadi salah satu topik hangat di dunia teknologi dalam beberapa bulan ke depan. Para pengamat industri dan calon pengguna tentu menantikan kabar selanjutnya mengenai perkembangan prototipe ini.

  • Jadi Prompt Engineer Tanpa Kuliah, Bisa Saja Tapi…

    Jadi Prompt Engineer Tanpa Kuliah, Bisa Saja Tapi…

    JBNews.id — Profesi prompt engineer menjadi bukti bahwa gelar sarjana bukan satu-satunya jalan menuju karier di era kecerdasan buatan (AI). Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa menjadi prompt engineer tanpa kuliah sangat memungkinkan, namun tetap membutuhkan kejelasan dan kemampuan komunikasi yang kuat.

    Pernyataan itu disampaikan Irene dalam acara ‘Google & YouTube untuk Ekonomi Kreatif’ di Jakarta, Kamis (23/7/2026). Ia memaparkan paradoks yang dihadapi sektor kreatif di tengah perkembangan AI. Di satu sisi, AI mengancam menggantikan mesin pencari dan sejumlah pekerjaan. Namun di sisi lain, teknologi ini justru menciptakan peluang baru dengan gelar-gelar profesi yang sebelumnya tidak pernah ada.

    “Jika berbicara tentang AI, ada dua paradoks. AI menggantikan mesin pencari. Namun bagi banyak dari kita, terutama di sektor kreatif, AI menimbulkan ancaman, yaitu, apakah AI akan menggantikan pekerjaan?” ujar Irene.

    “Tetapi saya senang melihat slide presentasi bahwa AI tidak hanya akan menggantikan pekerjaan, tetapi juga akan menciptakan pekerjaan baru dengan gelar-gelar baru yang belum pernah ada sebelumnya,” sambungnya.

    Dalam lima tahun terakhir, sudah banyak bukti pekerjaan yang dihasilkan dari kemajuan AI, bahkan ada yang tanpa membutuhkan gelar sarjana. Contohnya adalah prompt engineer. Profesi ini merupakan perpaduan antara seni dan ilmu dalam merancang instruksi secara spesifik dan terstruktur agar sistem AI generatif memahami konteks dengan tepat. Dengan begitu, mereka mampu memberikan hasil yang paling akurat, relevan, dan optimal.

    Irene mencontohkan fenomena yang terjadi di India, di mana banyak anak muda melihat peluang ini sebagai jalan pintas menuju karier global. “Ini kabar baik bagi banyak teman saya di India, di mana mereka berkata, ‘saya tidak perlu kuliah, saya bisa langsung menjadi insinyur yang handal, dan saya bisa bekerja di mana saja di dunia. Sempurna!’ Tetapi jika Anda melihatnya, rekayasa handal, pada dasarnya, dalam bentuk manusia, itu membutuhkan apa yang disebut kejelasan,” tutur Irene.

    Kejelasan yang dimaksud adalah kemampuan manusia untuk memahami dan mengartikulasikan apa yang benar-benar diinginkan. Tanpa kejelasan tersebut, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu memberikan hasil yang sesuai. “Kita akan hidup dengan semangat anak-anak, kita semua harus sangat jelas tentang apa yang kita inginkan sebagai manusia. Jika tidak, ini tidak sesuai dengan teori dasar tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, dengan meraih pekerjaan itu,” tutupnya.

    Fenomena ini menjadi angin segar bagi talenta digital di Indonesia. Profesi prompt engineer membuka akses bagi siapa pun yang memiliki kepekaan dan kecerdasan dalam merumuskan instruksi, tanpa harus melalui jalur pendidikan formal panjang. Hal ini sejalan dengan upaya mendorong adopsi AI di Indonesia, di mana Pergeseran Pengawasan dan kebutuhan akan tenaga ahli di bidang ini semakin mendesak.

    Namun, Irene mengingatkan bahwa kemudahan akses ini tidak serta-merta menghilangkan standar kualitas. Seorang prompt engineer tetap harus memiliki kemampuan analitis yang tajam dan pemahaman mendalam tentang konteks. Tanpa kemampuan tersebut, hasil yang diperoleh dari AI tidak akan maksimal. Profesi ini menuntut manusia untuk menjadi ‘manusia yang lebih manusiawi’ — peka, jelas, dan terstruktur dalam berpikir.

    Pernyataan Irene ini memberikan perspektif baru tentang masa depan dunia kerja di Indonesia. Di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan lapangan pekerjaan, justru lahir profesi-profesi baru yang menghargai kompetensi di atas formalitas. Ini adalah momentum bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi, dua keterampilan inti yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

    Dengan kata lain, menjadi prompt engineer tanpa kuliah adalah peluang nyata. Namun, peluang ini hanya akan dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kejelasan tujuan dan kemampuan untuk mengkomunikasikan ide secara efektif. Era AI tidak hanya menuntut kecerdasan buatan, tetapi juga kecerdasan manusia yang autentik.

    Ke depannya, tren ini diprediksi akan semakin meluas seiring dengan integrasi AI dalam berbagai sektor industri. Indonesia, yang saat ini telah resmi menjadi pendiri Organisasi AI Dunia WAICO, memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan gelombang ini. Talenta digital yang terampil dalam prompt engineering akan menjadi aset berharga dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional.

    Bagi para pencari kerja dan pelaku industri kreatif, pesan Irene sangat jelas: jangan takut pada AI, tetapi pahami dan gunakan sebagai alat. Kejelasan manusia adalah kunci utama untuk membuka potensi penuh dari teknologi ini. Siapa pun yang mampu menguasai seni memberikan instruksi yang tepat, akan menemukan pintu karier yang terbuka lebar — tanpa perlu gelar sarjana.

    Profesi prompt engineer juga menjadi contoh nyata bagaimana Pertarungan Robot Humanoid dan inovasi AI lainnya tidak lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan realitas yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas. Inilah saatnya bagi Indonesia untuk melahirkan generasi prompt engineer yang handal dan siap bersaing di kancah global.

  • Samsung Rilis Kacamata Pintar AI: Bukan Pengganti Smartphone

    Samsung Rilis Kacamata Pintar AI: Bukan Pengganti Smartphone

    JBNews.id — Samsung Electronics resmi meluncurkan kacamata pintar pertamanya yang berbasis AI di ajang Samsung Unpacked 2026 di London, Inggris. Perangkat ini tidak dirancang untuk menggantikan smartphone, melainkan sebagai perpanjangan dari perangkat Galaxy yang sudah ada.

    Jaein Choi, Executive Vice President Samsung Electronics sekaligus Head of XR R&D Team Mobile eXperience Business, menjelaskan bahwa kacamata ini menjadi titik masuk baru untuk AI mobile. “Jadi kami percaya kacamata AI sejati harus menjadi titik masuk baru untuk AI mobile. Bukan dengan mengganti telepon seluler, dengan menciptakan kecerdasan secara alami dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Choi di sela acara peluncuran.

    Kacamata pintar ini dibekali kamera, mikrofon, dan speaker berkualitas tinggi. Perangkat ini mampu memahami dunia dari sudut pandang pengguna, mengabadikan momen, serta mendengar dan merasakan situasi di sekitar. Pengguna bahkan bisa mengambil foto tanpa memegang perangkat, sehingga kedua tangan tetap bebas bergerak.

    Konsep Split Computing untuk Performa Maksimal

    Samsung menerapkan konsep split computing pada kacamata pintar ini. Beban pemrosesan data yang berat tidak diselesaikan seluruhnya di bingkai kacamata, melainkan ‘dilempar’ ke smartphone Galaxy yang terhubung. Pendekatan ini memungkinkan kacamata memiliki tenaga komputasi yang lebih besar tanpa mengorbankan daya tahan baterai.

    “Komputasi terbagi benar-benar penting. Kami telah mengembangkan ini dengan Google dan Qualcomm. Kami secara aktif memanfaatkan sumber daya di HP dengan kacamata ini. Kami memiliki lebih banyak tenaga, lebih banyak komputasi, dan lebih banyak memori melalui telepon. Ini juga terkait dengan penghematan daya,” jelas Choi.

    Dengan konsep ini, kacamata pintar Samsung tidak perlu memiliki chipset bertenaga tinggi di dalamnya. Sebaliknya, perangkat ini bergantung pada kekuatan komputasi smartphone Galaxy untuk menjalankan tugas-tugas berat seperti pemrosesan AI dan rendering grafis.

    Integrasi Mendalam dengan Ekosistem Galaxy

    Kacamata AI ini tidak bekerja sendirian. Samsung mengintegrasikannya secara mendalam dengan ekosistem Galaxy lainnya, seperti Galaxy Watch dan earbuds (TWS). Interaksi pengguna dengan kacamata dirancang agar terasa intuitif bagi mereka yang sudah memiliki perangkat-perangkat tersebut.

    “Anda dapat menggunakan panel sentuh (di smartwatch) untuk mengontrol kacamata. Dan Anda dapat menangkap momen dan menekan tombol untuk menangkap gambar. Dan bahkan gerakan-gerakan dengan jam tangan juga dapat digunakan untuk mengontrol kacamata,” papar Choi.

    Perpindahan audio juga dirancang secara otomatis. Ketika pengguna memakai Galaxy Buds, audio akan langsung berpindah dari speaker kacamata ke earbuds. Sementara itu, panel sentuh pada kacamata tetap berfungsi penuh untuk mengontrol navigasi.

    Integrasi ini menciptakan ekosistem yang seamless bagi pengguna Galaxy. Mereka yang sudah memiliki smartphone Galaxy, Galaxy Watch, dan Galaxy Buds akan merasakan manfaat maksimal dari kacamata pintar ini.

    Posisi Strategis di Pasar Wearable

    Peluncuran kacamata pintar ini menandai langkah besar Samsung di pasar wearable berbasis AI. Dengan pendekatan yang tidak menggantikan smartphone, Samsung membedakan diri dari kompetitor yang mencoba menciptakan perangkat mandiri sepenuhnya.

    Choi menekankan bahwa penggunaan AI melalui ponsel kini berkembang pesat. Tujuan kacamata pintar ini adalah memperluas pengalaman AI secara alami ke kategori perangkat baru. Dengan kata lain, Samsung ingin pengguna tetap setia pada ekosistem Galaxy sambil menikmati pengalaman baru yang ditawarkan kacamata AI.

    Pendekatan ini juga mengurangi hambatan adopsi. Pengguna tidak perlu belajar ulang cara berinteraksi dengan perangkat karena semuanya terintegrasi dengan perangkat Galaxy yang sudah mereka kenal.

    Implikasi bagi Pengguna dan Industri

    Peluncuran kacamata pintar pertama Samsung memiliki implikasi luas bagi industri wearable dan AI mobile. Bagi pengguna, perangkat ini menawarkan cara baru berinteraksi dengan AI tanpa harus terus-menerus melihat layar smartphone.

    Bagi industri, langkah Samsung menekankan pentingnya kolaborasi lintas perusahaan. Kemitraan dengan Google dan Qualcomm dalam pengembangan split computing menunjukkan bahwa inovasi wearable masa depan akan bergantung pada ekosistem yang kuat, bukan hanya pada perangkat individual.

    Dengan harga dan ketersediaan yang belum diumumkan, kacamata pintar Samsung diprediksi akan menjadi pesaing serius di pasar wearable AI. Keberhasilan perangkat ini akan sangat bergantung pada seberapa baik integrasinya dengan ekosistem Galaxy yang sudah mapan.

    Bagi pengguna Galaxy yang sudah memiliki smartwatch dan earbuds, kacamata ini bisa menjadi pelengkap yang memperkaya pengalaman sehari-hari. Namun, bagi pengguna non-Galaxy, perangkat ini mungkin kurang menarik karena ketergantungannya pada smartphone Samsung.

    Samsung tampaknya mengambil pendekatan hati-hati dengan tidak mencoba menggantikan smartphone. Sebaliknya, perusahaan fokus pada menciptakan perangkat yang melengkapi dan memperluas kemampuan perangkat yang sudah ada. Strategi ini bisa menjadi kunci sukses di pasar yang masih berkembang ini.

  • Otoritas PDP Independen Segera Dibentuk, Perpres Difinalisasi

    Otoritas PDP Independen Segera Dibentuk, Perpres Difinalisasi

    JBNews.id — Pemerintah memastikan pembentukan Otoritas Pelindungan Data Pribadi (PDP) memasuki tahap akhir. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan lembaga yang diamanatkan dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi tersebut akan bekerja secara independen dan ditargetkan segera memiliki dasar hukum melalui Peraturan Presiden (Perpres).

    Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pembahasan Perpres tentang Pelindungan Data Pribadi saat ini tengah difinalisasi. Salah satu poin penting yang diatur adalah pembentukan Otoritas PDP sebagai lembaga independen yang tidak berada di bawah struktur Kementerian Komdigi.

    “Badan Pelindungan Data Pribadi ini akan bekerja secara independen dengan seluruh strukturnya, tetapi semua laporannya ditujukan kepada Presiden melalui Kementerian Komdigi,” kata Nezar dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2026).

    Nezar menjelaskan penyusunan Perpres tersebut ditargetkan rampung dalam sekitar dua bulan ke depan. Kehadiran Otoritas PDP diharapkan memperkuat implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap tata kelola data di Indonesia.

    Pembentukan lembaga ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem digital nasional, seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi berbasis data, termasuk kecerdasan artifisial (AI). Pada saat yang sama, pemerintah juga menyelesaikan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional. Kedua regulasi tersebut disusun secara paralel karena pelindungan data pribadi dinilai menjadi fondasi penting dalam pengembangan dan tata kelola AI di Indonesia.

    “Fondasi tata kelola AI bertumpu pada dua aspek utama, yaitu etika AI dan pelindungan data pribadi. Karena itu, penyusunan kedua Peraturan Presiden tersebut berjalan bersamaan agar Indonesia memiliki kerangka regulasi yang mampu mendorong inovasi sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat,” tutur Nezar.

    Ia menambahkan pemerintah akan menerapkan pendekatan risk-based regulation dalam mengatur teknologi AI. Melalui pendekatan tersebut, produk AI akan diklasifikasikan berdasarkan tingkat risikonya sehingga regulasi dapat diterapkan secara proporsional tanpa menghambat inovasi.

    Selain menyiapkan regulasi, pemerintah juga terus memperkuat ekosistem AI nasional melalui pembangunan infrastruktur digital, pengembangan pusat data, peningkatan kapasitas komputasi, dan pengembangan talenta digital.

    “Kombinasi antara regulasi yang adaptif, pelindungan data pribadi yang kuat, dan dukungan terhadap inovasi akan menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi digital dan memperkuat daya saing di tingkat global,” pungkas Wamenkomdigi Nezar.

    Lembaga Independen dengan Laporan ke Presiden

    Salah satu poin krusial dalam pembentukan Otoritas PDP adalah status independensinya. Lembaga ini tidak akan berada di bawah struktur Kementerian Komdigi, melainkan sebagai badan independen yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden melalui Kementerian Komdigi.

    Model ini memastikan bahwa Otoritas PDP dapat menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan aturan pelindungan data pribadi secara objektif tanpa intervensi dari pihak manapun. Hal ini penting mengingat lembaga ini akan berperan sebagai ‘wasit’ dalam sengketa data pribadi antara konsumen, perusahaan, dan pemerintah.

    Kehadiran Otoritas PDP juga sejalan dengan perkembangan teknologi global, termasuk teknologi yang digunakan dalam ajang olahraga internasional. Misalnya, Teknologi Piala Dunia yang diuji di Qatar menunjukkan betapa pentingnya tata kelola data yang ketat dalam pengelolaan data penonton dan pemain.

    Dampak bagi Masyarakat dan Bisnis

    Pembentukan Otoritas PDP memberikan kepastian hukum bagi masyarakat yang selama ini khawatir akan penyalahgunaan data pribadi. Dengan adanya lembaga independen ini, masyarakat memiliki tempat pengaduan yang jelas jika terjadi kebocoran atau penyalahgunaan data.

    Bagi pelaku bisnis, kehadiran Otoritas PDP berarti kepatuhan terhadap UU PDP tidak bisa ditawar lagi. Perusahaan yang mengelola data pribadi konsumen wajib mematuhi standar pelindungan data yang ditetapkan, dengan pengawasan ketat dari lembaga independen ini.

    Pemerintah menargetkan Perpres ini rampung dalam dua bulan ke depan. Setelah itu, Otoritas PDP akan segera dibentuk dan mulai menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas pelindungan data pribadi di Indonesia.

    Dengan adanya regulasi yang jelas dan lembaga pengawas yang independen, Indonesia diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang aman dan terpercaya, sekaligus mendorong inovasi teknologi seperti AI yang membutuhkan kepastian hukum dalam pengelolaan data.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan regulasi digital, simak juga artikel tentang Sensor Headphone Sony yang kini bisa kendalikan game PC, serta fenomena Bola Misterius Queensland yang ternyata sampah antariksa.

  • Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra Dukung Fast Wireless Charging 20W

    Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra Dukung Fast Wireless Charging 20W

    JBNews.id — Samsung resmi meluncurkan Galaxy Z Fold8 Ultra sebagai generasi terbaru ponsel lipat premiumnya. Perangkat ini mendukung fast wireless charging 20W dan fitur Wireless PowerShare, menjawab pertanyaan pengguna tentang kemampuan pengisian daya nirkabel pada ponsel ini.

    Galaxy Z Fold8 Ultra hadir dengan sejumlah peningkatan, mulai dari desain, performa, hingga fitur Galaxy AI yang semakin lengkap. Namun, satu aspek yang menjadi perhatian adalah kemampuan wireless charging. Sejak Galaxy Z Fold 4 diperkenalkan, kecepatan pengisian daya nirkabel belum mengalami peningkatan. Sebelumnya, kemampuan daya wireless charging pada Galaxy Z Fold 5, Z Fold 6, dan Z Fold 7 masih 15W. Kini, Galaxy Z Fold8 Ultra menawarkan peningkatan signifikan menjadi 20W.

    Peningkatan ini menjadi sorotan karena baterai dan pengisian daya merupakan aspek yang relatif jarang mengalami perubahan pada lini ponsel lipat Samsung. Dengan kecepatan 20W, pengguna dapat mengisi daya lebih cepat tanpa kabel menggunakan charger nirkabel yang kompatibel.

    Fitur Unggulan Wireless Charging Galaxy Z Fold8 Ultra

    Galaxy Z Fold8 Ultra mendukung wireless charging hingga 20W, lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Peningkatan ini menjadi perhatian karena baterai dan pengisian daya merupakan aspek yang relatif jarang mengalami perubahan pada lini ponsel lipat Samsung. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi fitur Wireless PowerShare yang memungkinkan pengisian daya nirkabel terbalik (reverse wireless charge) ke ponsel lain, smartwatch, atau Galaxy Buds.

    Namun, situs resmi Samsung menyebut Wireless PowerShare berfungsi dengan sebagian besar perangkat yang kompatibel dengan Qi. Fitur ini mungkin tidak berfungsi dengan beberapa jenis casing, aksesori, atau perangkat dari produsen lain.

    Perbandingan Wired Charging vs Wireless Charging

    Meski wireless charging menawarkan berbagai kemudahan, pengisian daya dengan kabel tetap menjadi pilihan tercepat. Adapun wireless charging menawarkan kemudahan karena cukup meletakkan ponsel di atas charging pad tanpa perlu mencolokkan kabel.

    Cara Kerja Wireless PowerShare

    Salah satu keunggulan Galaxy Z Fold8 Ultra adalah Wireless PowerShare. Fitur ini memungkinkan ponsel berfungsi sebagai pengisi daya nirkabel untuk perangkat lain. Cara menggunakannya pun sangat mudah. Cukup, aktifkan Wireless PowerShare melalui panel notifikasi, lalu letakkan perangkat yang ingin diisi daya di bagian belakang ponsel Galaxy hingga proses pengisian dimulai. Setelah daya dirasa cukup atau baterai perangkat telah terisi penuh, kedua perangkat dapat dipisahkan.

    Bagi pengguna yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang inovasi Samsung, simak ulasan mengenai Fitur Terbaru Galaxy AI yang disematkan di perangkat ini.

    Tips Agar Wireless Charging Lebih Optimal

    Melansir situs resmi Samsung, agar proses pengisian daya berjalan maksimal, perhatikan beberapa hal berikut:

    • Gunakan wireless charger bersertifikasi Qi, termasuk ponsel Samsung maupun merek lain yang kompatibel dengan pengisian daya nirkabel.
    • Lokasi kumparan pengisian daya (charging coil) dapat bervariasi tergantung model perangkat. Sesuaikan posisi kedua perangkat hingga terhubung dengan benar satu sama lain.
    • Hindari casing atau aksesori berbahan logam karena dapat mengganggu proses pengisian.
    • Hindari penggunaan ponsel untuk aktivitas berat seperti bermain game saat sedang wireless charging agar suhu tetap stabil.

    Selain itu, Samsung juga menghadirkan inovasi pada sektor baterai. Untuk informasi lebih lanjut, baca artikel tentang Baterai Silicon-Carbon terbaru dari Samsung.

    FAQ Seputar Wireless Charging Galaxy Z Fold8 Ultra

    1. Apakah Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra mendukung wireless charging?
    Ya. Galaxy Z Fold8 Ultra mendukung fast wireless charging menggunakan charger nirkabel yang kompatibel.

    2. Apakah Galaxy Z Fold8 Ultra bisa mengisi daya perangkat lain?
    Bisa. Ponsel ini dilengkapi Wireless PowerShare yang memungkinkan pengguna mengisi daya Galaxy Buds, Galaxy Watch, atau perangkat lain yang mendukung standar Qi.

    3. Apakah memakai casing memengaruhi wireless charging?
    Ya. Casing yang terlalu tebal atau mengandung material logam dapat mengurangi efisiensi bahkan menghambat proses wireless charging.

    Untuk pengguna yang juga tertarik dengan ekosistem Samsung lainnya, simak informasi tentang Kacamata Pintar dengan Gemini AI yang baru dirilis.

    Dengan dukungan fast wireless charging 20W dan Wireless PowerShare, Galaxy Z Fold8 Ultra menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan kemudahan pengisian daya nirkabel pada ponsel lipat premium. Meski demikian, pengguna tetap perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat memengaruhi efisiensi pengisian daya, seperti jenis casing dan posisi perangkat.