Author: Hamzah Nurhamzah

  • Harga RAM Meroket, Nothing Batalkan Penerus CMF Phone 2 Pro

    Harga RAM Meroket, Nothing Batalkan Penerus CMF Phone 2 Pro

    JBNews.id — Kenaikan harga komponen memori (RAM) yang terus melonjak memaksa Nothing membatalkan rencana peluncuran penerus CMF Phone 2 Pro tahun ini. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Co-founder Nothing, Akis Evangelidis, melalui platform X.

    Evangelidis mengonfirmasi bahwa biaya komponen yang melonjak drastis membuat perusahaan kesulitan mempertahankan komitmen harga murah yang menjadi ciri khas lini CMF. “Kami sebenarnya sedang mengerjakan penerusnya, tetapi dengan harga memori (RAM) yang ada saat ini, kami tidak bisa meracik ponsel yang benar-benar terasa seperti sebuah peningkatan nyata dengan harga yang masuk akal untuk CMF,” tulisnya seperti dikutip dari laporan 9to5Google.

    Krisis komponen ini sebelumnya juga disinggung oleh CEO sekaligus Co-founder Nothing, Carl Pei. Pekan lalu, Pei blak-blakan mengungkapkan betapa parahnya dampak krisis pasokan memori terhadap ongkos produksi lini ponsel kelas menengah mereka. Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada perangkat Nothing Phone (4a).

    “Untuk Phone 4A, biaya memori berlipat ganda antara saat kami memutuskan untuk membangun perangkat dan saat perangkat tersebut diluncurkan. Bahkan, biayanya telah berlipat ganda lagi sejak saat itu,” keluh Pei. Menurutnya, situasi ini menjadikan RAM sebagai komponen perangkat keras paling mahal dalam sebuah smartphone saat ini.

    Masalah harga RAM ini nyatanya tidak hanya memukul produsen ponsel budget, tetapi juga raksasa teknologi. Apple turut menghadapi tantangan serupa di rantai pasok globalnya. Awal pekan ini, CEO Apple Tim Cook mengumumkan bahwa perusahaannya akan menaikkan harga jual produk akibat tekanan biaya komponen. “Situasi ini sudah menjadi tidak berkelanjutan,” tegas Cook.

    Meski absen merilis ponsel murah tahun ini, penggemar CMF tampaknya tidak perlu terlalu kecewa. Evangelidis memastikan bahwa perusahaan masih memiliki rencana peluncuran produk lain dalam waktu dekat. Keputusan ini menunjukkan betapa besar tekanan biaya komponen di industri ponsel global, terutama untuk segmen entry-level hingga menengah.

    Implikasinya jelas: konsumen harus bersiap menghadapi harga ponsel yang lebih tinggi di semua segmen. Produsen seperti Nothing terpaksa mengorbankan lini produk murah mereka karena margin yang semakin tipis. Sementara itu, kenaikan harga juga sudah mulai terlihat di segmen premium.

    Bagi konsumen yang mencari ponsel dengan harga terjangkau, opsi semakin terbatas. Nothing sendiri belum memberikan jadwal pasti kapan lini CMF akan kembali hadir dengan produk baru. Yang jelas, krisis harga RAM ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok semikonduktor masih sangat rentan terhadap fluktuasi permintaan dan pasokan global.

    Sementara itu, iPhone Fold yang digadang-gadang akan menjadi ponsel termahal Apple juga diperkirakan akan menghadapi tantangan biaya produksi yang serupa. Industri ponsel global kini berada dalam tekanan besar untuk menyesuaikan strategi harga di tengah kenaikan biaya komponen yang tak terkendali.

  • Timnas MLBB & PUBG Mobile Indonesia Lolos ke Asian Games 2026

    Timnas MLBB & PUBG Mobile Indonesia Lolos ke Asian Games 2026

    JBNews.id — Timnas Mobile Legends (MLBB) dan PUBG Mobile Indonesia berhasil lolos ke babak utama (Main Stage) Asian Games 2026 yang akan digelar di Aichi-Nagoya, Jepang. Kedua tim akan bertanding pada September dan Oktober 2026 untuk memperebutkan medali emas.

    Kualifikasi Asian Games 2026 untuk nomor pertandingan Mobile Legends dan PUBG Mobile telah rampung. Timnas Indonesia kini bersiap menghadapi lawan-lawan dari berbagai negara di panggung utama.

    Perjalanan Timnas Mobile Legends Indonesia

    Timnas Mobile Legends Indonesia lolos ke Main Stage setelah finis di peringkat ketiga Grup A. Tim besutan PB ESI ini sukses mengantongi lima kemenangan dan hanya kalah dua kali selama babak kualifikasi.

    Lima kemenangan tersebut diraih saat menghadapi Kamboja (2-1), Myanmar (2-0), Vietnam (2-0), Laos (2-0), dan Singapura (2-0). Sementara dua kekalahan dialami saat bertemu Filipina (0-2) dan Malaysia (1-2).

    Hanya lima tim teratas dari Grup A yang berhak melaju ke Main Stage. Selain Indonesia, negara lain yang lolos adalah Filipina, Kamboja, Myanmar, dan Malaysia. Vietnam, Laos, dan Singapura dipastikan tereliminasi.

    Di Aichi-Nagoya, timnas akan bergabung dengan negara dari Grup B, C, dan D. Negara dari luar Asia Tenggara yang lolos antara lain Arab Saudi, Yordania, Iran, Kazakhstan, Uzbekistan, Mongolia, dan Hong Kong, China. Pertandingan dijadwalkan mulai awal Oktober 2026.

    Perjalanan Timnas PUBG Mobile Indonesia

    Timnas PUBG Mobile Indonesia lolos ke Main Stage setelah menduduki peringkat kedua di akhir babak kualifikasi dengan total 67 poin. Kesuksesan ini diraih berkat dua kali winner winner chicken dinner (WWCD) dan 40 elims.

    Total ada delapan negara yang lolos dari babak kualifikasi. Pakistan menjadi pemuncak klasemen dengan 77 poin, disusul Indonesia (67 poin), Vietnam (66 poin), Thailand (34 poin), Yordania (33 poin), Uzbekistan (31 poin), Nepal (31 poin), dan Myanmar (28 poin).

    Arab Saudi, Malaysia, Hong Kong China, dan Brunei Darussalam terpaksa tidak bisa melanjutkan perjuangan meraih medali emas. Kedelapan negara yang lolos akan bergabung dengan Jepang sebagai tuan rumah, serta tiga peraih medali Asian Games 2022: China, Korea Selatan, dan Taiwan. Pertandingan selanjutnya dijadwalkan pada akhir September 2026.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perjuangan timnas di babak kualifikasi, simak berita tentang Timnas PUBG Mobile yang berhasil lolos grand final.

    Keberhasilan ini menjadi bukti perkembangan esports Indonesia di kancah internasional. Kedua tim kini memiliki peluang untuk mengharumkan nama bangsa di Asian Games 2026.

  • watchOS 27 Tinggalkan Banyak Apple Watch Lama, Ini Alasannya

    watchOS 27 Tinggalkan Banyak Apple Watch Lama, Ini Alasannya

    JBNews.id — Apple secara resmi mengumumkan bahwa watchOS 27 tidak akan mendukung sejumlah model Apple Watch lawas, termasuk Apple Watch Ultra generasi pertama. Keputusan ini diumumkan di ajang WWDC 2026 dan berdampak langsung pada jutaan pengguna di seluruh dunia.

    Apple Watch Ultra generasi pertama yang meluncur pada 2022 dengan harga mulai USD 799 (sekitar Rp 14 jutaan) kini tidak lagi mendapat dukungan penuh untuk watchOS 27. Meski perangkat masih dapat digunakan dan menerima pembaruan keamanan, pemiliknya tidak akan menikmati fitur-fitur baru yang menjadi andalan watchOS 27, termasuk peningkatan kemampuan Siri berbasis AI dan fitur gestur terbaru.

    Apple menjelaskan keputusan tersebut bukan semata-mata karena usia perangkat, melainkan untuk memastikan pengalaman pengguna tetap optimal. Dalam wawancara dengan TechRadar, Apple Watch and Health Product Marketing Manager Cait Dooley mengatakan setiap pembaruan perangkat lunak dirancang agar dapat berjalan dengan performa terbaik.

    Menurut Apple, fitur-fitur baru di watchOS 27 membutuhkan kemampuan pemrosesan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, dukungan penuh hanya diberikan kepada perangkat yang menggunakan chipset terbaru.

    “Fitur-fitur baru watchOS, termasuk kemampuan Siri AI dan gestur tap baru, bekerja paling optimal pada Apple Watch Series 9 dan yang lebih baru, Ultra 2 dan yang lebih baru, serta SE generasi ketiga,” jelas Dooley.

    Apple juga menegaskan perangkat yang tidak lagi mendapat fitur baru masih dapat dipasangkan dengan iPhone terbaru dan tetap menerima pembaruan keamanan.

    Daftar Apple Watch Tak Mendukung watchOS 27

    Berdasarkan informasi yang disampaikan Apple, berikut model yang tidak mendapatkan dukungan penuh watchOS 27:

    • Apple Watch Series 8 dan generasi lebih lama
    • Apple Watch Ultra generasi pertama (2022)
    • Apple Watch SE generasi pertama
    • Apple Watch SE generasi kedua

    Artinya, pengguna perangkat tersebut tidak akan bisa menikmati seluruh fitur baru yang diperkenalkan Apple pada watchOS 27.

    Apple Watch yang Masih Didukung

    Sementara itu, perangkat yang masih mendapat dukungan penuh watchOS 27 adalah:

    • Apple Watch Series 9
    • Apple Watch Series 10
    • Apple Watch Ultra 2
    • Apple Watch generasi yang lebih baru setelah Ultra 2
    • Apple Watch SE generasi ketiga

    Perangkat-perangkat tersebut akan memperoleh seluruh fitur terbaru, termasuk kemampuan AI yang menjadi fokus utama Apple tahun ini. watchOS 27 sendiri dijadwalkan meluncur secara resmi pada September 2026 bersamaan dengan iOS 27 dan pembaruan sistem operasi terbaru Apple lainnya.

    Keputusan Apple ini menandai pergeseran strategi perusahaan dalam mendukung perangkat lama. Dengan fokus pada AI dan fitur komputasi berat, Apple tampaknya siap meninggalkan chipset lama demi pengalaman yang lebih baik. Bagi pengguna yang masih memegang Apple Watch Ultra generasi pertama atau model lama lainnya, langkah ini menjadi pertimbangan serius untuk upgrade.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perubahan besar di ekosistem Apple tahun ini, simak juga artikel tentang Fitur Terbaru iOS 27 yang merombak Maps, Music, Podcasts, dan iCloud.

  • Bill Gates Bangun Matahari Buatan untuk Pasok Energi Dunia

    Bill Gates Bangun Matahari Buatan untuk Pasok Energi Dunia

    JBNews.id — Pada 29 Januari 2026, perusahaan Type One Energy yang didukung Bill Gates mengajukan permohonan lisensi awal untuk pembangunan pembangkit listrik futuristik. Pembangkit ini merupakan inovasi dari fusi kurungan magnetik yang dijuluki ‘matahari buatan’ dan ditargetkan mampu menyediakan energi bersih dalam skala jaringan.

    Reaktor yang dinamakan Infinity One ini menggunakan desain stellarator, yang menampung plasma seperti tokamak berbentuk donat. Berbeda dengan tokamak, stellarator menggunakan susunan kumparan magnetik yang rumit dan berbelit-belit untuk meningkatkan suhu plasma hingga mendekati 100 juta derajat Celcius. Para ahli percaya bahwa stellarator akan menghindari banyak masalah stabilitas yang mengganggu desain tokamak, meskipun konstruksinya bisa sangat rumit.

    Type One Energy awalnya mengumumkan pemilihan Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Bull Run sebagai lokasi reaktor uji coba mereka pada Februari 2024. Sekarang, pekerjaan sedang ditingkatkan untuk mewujudkan stellarator generasi berikutnya. Langkah ini merupakan bagian dari tren yang dikenal sebagai ‘energi yang dimanfaatkan kembali’, di mana lokasi bekas industri pembangkit fosil diubah menjadi pusat energi bersih masa depan.

    Kolaborasi dan Target Operasional

    CEO Type One Energy, Christofer Mowry, dalam sebuah pernyataan pers mengatakan bahwa perusahaannya telah bekerja sama erat sejak Februari 2024 dengan berbagai pihak, berbagi informasi desain dan pengetahuan yang relevan. Kolaborasi ini sangat penting untuk menetapkan kondisi perizinan yang tepat untuk pembangkit listrik fusi.

    “Kolaborasi ini menjadikan Tennessee sebagai model internasional ‘keselamatan sejak tahap desain’ dan transparansi untuk perizinan mesin fusi,” imbuh Mowry. Menurut perusahaan, lokasi tersebut akan mencakup reaktor prototipe Infinity One, pusat pelatihan tenaga kerja, dan pembangkit listrik fusi Infinity Two 350 MWe di masa depan.

    Tersebar dalam beberapa fase, fase pertama bertujuan untuk mengoperasikan dan menjalankan Infinity One pada tahun 2029. Gagasan tentang stellarator yang berfungsi dan menyediakan energi tingkat jaringan hanya dalam tiga tahun menimbulkan skeptisisme. Meski begitu, beberapa pendiri Type One memiliki kompetensi yang tak diragukan. Mereka pernah bekerja di Helically Symmetric Experiment (HSX) di Universitas Madison-Wisconsin atau Wendelstein 7-X Stellarator (stellarator terbesar di dunia) di Greifswald, Jerman.

    Implikasi dan Masa Depan Energi Fusi

    Pembangkit listrik tenaga fusi, jika berhasil diwujudkan, akan menjadi terobosan besar dalam penyediaan energi dunia. Tidak seperti fisi nuklir yang menghasilkan limbah radioaktif berbahaya, fusi nuklir menjanjikan energi bersih yang hampir tidak terbatas dengan bahan bakar yang melimpah. Proyek ini juga menunjukkan bahwa investor besar seperti Bill Gates terus mendorong inovasi di sektor energi terbarukan.

    Pilihan lokasi bekas industri seperti Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Bull Run juga merupakan contoh lain dari tren yang berkembang. Proyek lain yang didukung Gates, TerraPower berbasis fisi, saat ini juga sedang dibangun di dekat fasilitas batubara yang akan dinonaktifkan di Kemmerer, Wyoming, dengan konstruksi non-nuklir dimulai pada Juni 2024. Hal ini menunjukkan strategi Gates dalam memanfaatkan infrastruktur lama untuk transisi energi baru.

    Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa transisi energi global semakin nyata. Negara-negara maju mulai mengalihkan investasi dari bahan bakar fosil ke teknologi fusi. Ini bisa menjadi peluang atau tantangan bagi Indonesia yang masih bergantung pada batubara. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti ini juga berpotensi mempengaruhi pasar energi global, termasuk harga dan pasokan energi di masa depan.

    Sementara itu, industri teknologi global juga menghadapi tantangan biaya yang meningkat, terutama terkait pengembangan kecerdasan buatan. Biaya AI Membengkak telah memaksa banyak perusahaan untuk mulai menekan penggunaan teknologi tersebut. Namun, investasi di energi fusi justru menunjukkan optimisme jangka panjang terhadap keberlanjutan energi.

    Di sisi lain, kesuksesan proyek ini juga bisa membuka peluang baru bagi perusahaan teknologi besar. Seperti IPO SpaceX Jadikan Elon Musk Triliuner, inovasi di sektor energi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang sangat besar. Jika Type One Energy berhasil mengoperasikan Infinity One pada tahun 2029, perusahaan ini bisa menjadi pemain kunci dalam revolusi energi global.

    Kesimpulannya, proyek ‘matahari buatan’ Bill Gates ini bukan sekadar eksperimen ilmiah, melainkan langkah konkret menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan target operasional yang ambisius, dunia akan menyaksikan apakah teknologi fusi kurungan magnetik bisa menjadi solusi nyata bagi krisis energi dan perubahan iklim.

  • Wapres Gibran Tinjau Asmat Pakai Motor Listrik, Cek Program Prioritas

    Wapres Gibran Tinjau Asmat Pakai Motor Listrik, Cek Program Prioritas

    JBNews.id — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengendarai motor listrik saat meninjau sejumlah lokasi di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, pada Minggu (21/6). Kunjungan ini bertujuan memastikan program prioritas pemerintah berjalan optimal di wilayah kategori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

    Kunjungan kerja Wapres ke Asmat menjadi sorotan karena menggunakan kendaraan ramah lingkungan di tengah medan yang menantang. Motor listrik tersebut digunakan untuk menyusuri area mulai dari Museum Asmat hingga RSUD Perpetua H. Safanpo. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengadopsi teknologi hijau sekaligus mengakses daerah-daerah terpencil.

    Kabupaten Asmat merupakan salah satu wilayah 3T yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Infrastruktur dan aksesibilitas yang terbatas sering menjadi kendala dalam distribusi bantuan dan layanan publik. Dengan kunjungan langsung menggunakan motor listrik, Wapres ingin memastikan bahwa program-program seperti kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi benar-benar menyentuh masyarakat.

    Kunjungan ini juga menjadi sinyal positif bagi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Motor listrik dinilai lebih praktis untuk medan sempit dan jalan setapak yang umum di wilayah pedalaman Papua. Selain itu, penggunaannya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang sulit didistribusikan ke daerah terpencil.

    Wapres menekankan pentingnya akses layanan kesehatan yang merata. Di RSUD Perpetua H. Safanpo, ia mengecek langsung ketersediaan obat, tenaga medis, dan fasilitas penunjang. Rumah sakit ini menjadi rujukan utama bagi warga Asmat dan sekitarnya. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas layanan di fasilitas kesehatan daerah 3T.

    Selain kesehatan, Wapres juga meninjau Museum Asmat yang menyimpan berbagai koleksi seni dan budaya khas suku Asmat. Museum ini menjadi ikon wisata edukasi yang perlu terus dikembangkan. Kunjungan ini diharapkan mendorong promosi pariwisata budaya Papua Selatan ke tingkat nasional dan internasional.

    Penggunaan motor listrik oleh Wapres sejalan dengan program percepatan kendaraan listrik nasional. Pemerintah terus mendorong transisi energi bersih melalui berbagai insentif. Langkah simbolis ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik bisa diandalkan bahkan di medan ekstrem sekalipun. Namun, tantangan seperti infrastruktur pengisian daya dan harga masih menjadi pekerjaan rumah.

    Di sisi lain, tren kenaikan harga komponen global juga mempengaruhi industri teknologi. Produsen seperti Apple dan Nothing terpaksa menyesuaikan harga produk mereka akibat krisis memori dan komponen lainnya. Hal ini menjadi perhatian bagi konsumen yang menantikan perangkat terbaru.

    Krisis memori global yang melanda industri teknologi ikut berdampak pada rantai pasok. Banyak perusahaan terpaksa menaikkan harga jual produk mereka. Situasi ini berbeda dengan sektor kendaraan listrik yang justru mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan.

    Wapres juga menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat dan tokoh adat setempat. Ia mendengarkan langsung aspirasi warga mengenai berbagai kebutuhan mendasar seperti air bersih, listrik, dan akses pendidikan. Dialog ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menyempurnakan program pembangunan di Papua Selatan.

    Kunjungan ke Asmat merupakan bagian dari rangkaian kerja Wapres di Papua Selatan. Sebelumnya, ia juga mengunjungi beberapa titik lain untuk memantau pelaksanaan program prioritas. Pemerintah menargetkan percepatan pembangunan di wilayah 3T agar tidak tertinggal dari daerah lain.

    Motor listrik yang digunakan Wapres merupakan produk dalam negeri. Hal ini menunjukkan dukungan pemerintah terhadap industri kendaraan listrik lokal. Produk tersebut dinilai tangguh dan cocok untuk medan pedalaman. Penggunaannya diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki karakteristik geografis serupa.

    Pemerintah terus mendorong sinergi antara pusat dan daerah dalam pembangunan wilayah 3T. Kunjungan langsung pejabat negara seperti Wapres menjadi momentum untuk mempercepat realisasi program. Masyarakat Asmat berharap pembangunan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan dan berdampak nyata.

    Ke depan, pemerintah berencana memperbanyak penggunaan kendaraan listrik untuk operasional di daerah terpencil. Selain ramah lingkungan, biaya operasionalnya lebih murah dibanding kendaraan konvensional. Langkah ini juga mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060.

    Kunjungan Wapres Gibran ke Asmat menjadi bukti komitmen pemerintah dalam membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan mengendarai motor listrik, ia memberikan pesan bahwa teknologi hijau dan pembangunan daerah tertinggal bisa berjalan beriringan. Masyarakat Asmat pun optimistis masa depan yang lebih baik akan segera terwujud.

    Sementara itu, di sektor teknologi konsumen, bocoran harga terbaru menunjukkan potensi kenaikan signifikan pada perangkat flagship. Konsumen perlu mencermati tren pasar sebelum memutuskan pembelian. Informasi akurat menjadi kunci agar tidak terjebak spekulasi harga.

    Secara keseluruhan, kunjungan Wapres ke Asmat memberikan dampak positif baik dari sisi pemerintahan maupun ekonomi. Pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengatasi kesenjangan pembangunan. Masyarakat pun mendapatkan perhatian langsung dari pejabat tertinggi negara.

    Dengan semangat gotong royong, pembangunan di wilayah 3T diharapkan semakin cepat dan merata. Kunjungan Wapres Gibran menjadi salah satu langkah nyata menuju Indonesia yang lebih maju dan berkeadilan.

  • Toko Robot Humanoid Pertama Hong Kong Dibuka 24 Jam

    Toko Robot Humanoid Pertama Hong Kong Dibuka 24 Jam

    JBNews.id — Hong Kong resmi memiliki toko ritel 24 jam pertama yang dikelola sepenuhnya oleh satu robot humanoid. Pop-up store yang terletak di kawasan Hung Hom waterfront ini dioperasikan oleh robot bernama “Xiao Gai,” buatan perusahaan AI dan robotika asal Beijing, Galbot.

    Toko dalam bentuk “kapsul” portabel ini menjual berbagai produk mulai dari makanan ringan hingga obat-obatan bebas resep. Xiao Gai, yang memiliki tinggi lima kaki enam inci dengan rentang lengan enam kaki, bertanggung jawab untuk merapikan rak, mengambil barang, hingga menangani pembayaran pelanggan. Proyek ini didukung oleh Hong Kong Investment Corporation yang menyebutnya sebagai bukti bahwa AI “mulai memasuki kehidupan sehari-hari masyarakat dengan cara yang lebih nyata.”

    Menurut laporan dari South China Morning Post dan Inside Retail, toko ini menjadi yang pertama dari jenisnya di kota sibuk tersebut. Galbot memproyeksikan bahwa kebaruan toko ini dapat meningkatkan lalu lintas pejalan kaki di kawasan tersebut hingga 40 persen. Perusahaan juga berencana untuk menggulirkan 100 toko kapsul serupa yang dikelola robot di sepuluh kota lainnya.

    Robot Xiao Gai dilengkapi kemampuan untuk memulai percakapan ramah dan berbicara dalam beberapa bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa robot tidak hanya berfungsi sebagai alat mekanis, tetapi juga sebagai antarmuka interaktif yang dapat melayani pelanggan dengan lebih personal.

    Dampak Robot di Tempat Kerja

    Langkah Galbot ini menjadi tanda lain dari meningkatnya penggunaan robot untuk menggantikan peran manusia di tempat kerja. Pada Mei lalu, Japan Airlines mengumumkan akan mulai bereksperimen dengan robot penanganan bagasi di Bandara Haneda Tokyo, salah satu bandara tersibuk di dunia. Eksperimen serupa juga terjadi di berbagai sektor, termasuk ritel dan logistik.

    Namun, potensi kegagalan tetap ada. Video viral awal tahun ini menunjukkan sebuah robot restoran tiba-tiba berulah, melemparkan peralatan makan ke mana-mana saat karyawan berusaha mengendalikannya. Insiden ini menjadi pengingat bahwa teknologi robot masih memiliki celah yang perlu diperbaiki.

    Selain masalah teknis, aspek bisnis juga menjadi perhatian. Sebuah agen AI yang ditugaskan menjalankan kedai kopi di Stockholm menghabiskan sebagian besar anggarannya hanya dalam waktu satu bulan setelah melakukan kesalahan seperti memesan 3.000 pasang sarung tangan lateks. Kasus ini menunjukkan bahwa pengelolaan operasional oleh AI masih memerlukan pengawasan manusia yang ketat.

    Meskipun ada risiko, Galbot optimistis bahwa toko robot ini akan menjadi daya tarik wisata baru di Hong Kong. Keunikan toko yang tidak memiliki staf manusia ini diprediksi akan menarik pengunjung yang penasaran dengan pengalaman berbelanja masa depan.

    Di sisi lain, penggunaan robot dalam ritel juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pekerjaan. Jika robot dapat menggantikan kasir dan pekerja gudang, apa yang akan terjadi pada jutaan pekerja di sektor ini? Namun, pendukung teknologi berargumen bahwa robot justru akan menciptakan lapangan kerja baru di bidang pemeliharaan, pemrograman, dan pengawasan sistem.

    Galbot sendiri belum mengungkapkan biaya operasional toko kapsul ini. Namun, dengan proyeksi peningkatan lalu lintas pejalan kaki hingga 40 persen, investasi ini diharapkan dapat kembali melalui peningkatan penjualan dan popularitas kawasan tersebut.

    Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi terkini, Anda dapat membaca artikel tentang Pre-order GTA 6 yang baru saja dibuka, atau simak Harga Terbaru WhatsApp Plus yang mulai Rp 13.900.

    Toko robot Xiao Gai di Hong Kong ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi AI dan robotika mulai merambah ke sektor ritel. Meskipun masih dalam tahap uji coba, keberhasilan proyek ini bisa menjadi model bagi pengembangan toko serupa di kota-kota besar lainnya di Asia dan dunia.

    Bagi konsumen, kehadiran toko robot ini menawarkan pengalaman berbelanja yang unik dan efisien. Namun, bagi pekerja ritel, ini bisa menjadi sinyal bahwa perubahan besar dalam industri sedang berlangsung. Yang jelas, masa depan ritel akan semakin otomatis, dan Hong Kong menjadi salah satu pionirnya.

  • Polymarket Bayar Pengguna untuk Video Palsu, Ungkap Investigasi WSJ

    Polymarket Bayar Pengguna untuk Video Palsu, Ungkap Investigasi WSJ

    JBNews.id — Investigasi Wall Street Journal mengungkap bahwa Polymarket, platform prediksi berbasis kripto, membayar sejumlah orang untuk membuat video yang memperlihatkan mereka memasang taruhan palsu dan merayakan kemenangan palsu di media sosial. Temuan ini mempertanyakan integritas konten yang beredar di platform tersebut.

    Dalam laporannya, WSJ mengidentifikasi lebih dari 1.100 klip video yang bersifat menipu. Para kreator video tersebut, meskipun tidak menyatakan dalam unggahan mereka, mengonfirmasi bahwa Polymarket membayar mereka untuk membuat konten tersebut. Video-video yang diunggah di berbagai platform media sosial ini tampak autentik pada pandangan pertama, namun mengandung petunjuk halus yang membuktikan kepalsuannya.

    Petunjuk Kecil di Balik Video Palsu

    Salah satu contoh yang diungkap dalam investigasi adalah sebuah klip yang memperlihatkan seseorang mengunjungi situs “poiymarket.com”, bukan polymarket.com. Perbedaan ejaan yang sengaja dibuat ini menjadi salah satu indikasi bahwa konten tersebut tidaklah asli. Menurut temuan WSJ, tidak satu pun dari lebih dari 1.100 taruhan yang ditinjau dalam video tersebut adalah taruhan sungguhan.

    Dalam 118 video yang dianalisis, para kreator terlihat bereaksi terhadap kemenangan taruhan dengan total hampir 900.000 dolar AS. Namun, pada kenyataannya, taruhan-taruhan tersebut seharusnya mengalami kerugian sebesar 166.000 dolar AS. Angka ini menunjukkan bahwa konten yang beredar sengaja direkayasa untuk memberikan gambaran yang salah tentang kemungkinan menang di platform tersebut.

    Penghapusan Konten Setelah Investigasi

    Sejak WSJ mulai mengajukan pertanyaan terkait praktik ini, banyak kreator yang telah menghapus video-video tersebut dari akun mereka. Polymarket juga telah menurunkan situs-situs seperti “poiymarket” yang digunakan sebagai bagian dari skema ini. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap tekanan publik dan pertanyaan dari media.

    Praktik pembayaran untuk konten palsu ini menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dan etika dalam industri prediksi berbasis kripto. Aktivitas warga AS di Polymarket telah mencapai volume yang sangat besar, dengan studi mengungkap aktivitas warga AS di Polymarket capai Rp400 triliun. Temuan ini menunjukkan betapa besarnya skala operasi platform tersebut.

    Investigasi WSJ ini memberikan gambaran tentang bagaimana platform dapat memanipulasi persepsi publik melalui konten yang dibayar. Dengan lebih dari seribu video palsu yang teridentifikasi, dampaknya terhadap kepercayaan pengguna terhadap platform prediksi online menjadi sorotan utama. Para pengamat industri menilai bahwa praktik semacam ini dapat merusak kredibilitas seluruh ekosistem.

    Polymarket sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi yang menanggapi temuan investigasi ini secara detail. Namun, langkah mereka menurunkan situs terkait dan penghapusan video oleh para kreator menunjukkan adanya upaya untuk membersihkan jejak digital dari praktik yang dipertanyakan ini.

    Bagi pengguna platform prediksi, temuan ini menjadi pengingat penting untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar. Konten yang tampak meyakinkan di media sosial belum tentu mencerminkan realitas yang sebenarnya. Pengguna disarankan untuk lebih kritis dalam menilai klaim-klaim yang muncul, terutama yang berkaitan dengan hasil finansial dari aktivitas taruhan online.

    Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang regulasi konten bersponsor di media sosial. Saat ini, banyak platform yang mewajibkan pengungkapan hubungan komersial dalam konten bersponsor, namun praktik pembayaran terselubung seperti yang diungkap dalam investigasi ini menunjukkan adanya celah yang perlu ditutup. Otoritas terkait mungkin perlu meninjau kembali kebijakan yang ada untuk melindungi konsumen dari praktik penipuan yang semakin canggih.

    Implikasi dari temuan ini sangat luas, tidak hanya bagi Polymarket tetapi juga bagi seluruh industri prediksi dan taruhan online. Kepercayaan adalah mata uang utama dalam bisnis semacam ini, dan praktik manipulatif dapat menggerus kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah. Para pemangku kepentingan di industri ini perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan transparansi dan kejujuran dalam setiap aspek operasional mereka.

    Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan lebih lanjut, penting untuk terus memantau berita terkait regulasi dan pengawasan terhadap platform prediksi online. Dengan semakin besarnya volume transaksi yang melibatkan warga negara AS, seperti yang diungkap dalam studi sebelumnya, pengawasan yang lebih ketat kemungkinan akan menjadi agenda utama bagi regulator di masa mendatang.

  • Morale Meta Anjlok, CTO Akui Terburuk dalam Sejarah

    Morale Meta Anjlok, CTO Akui Terburuk dalam Sejarah

    JBNews.id — Semangat kerja atau morale di internal Meta Platforms Inc. berada dalam kondisi yang sangat buruk. Bahkan, Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew “Boz” Bosworth, secara blak-blakan mengakui bahwa situasi ini mungkin merupakan salah satu yang terburuk dalam dua dekade sejarah perusahaan.

    Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Bosworth dalam sebuah rapat internal tim pada awal Juni 2026. Ia tidak menampik fakta pahit yang dirasakan oleh para karyawan di berbagai lini. “Mungkin ini bukan yang terburuk dalam 20 tahun di sini, tapi ini hampir mendekati. Pasti itu,” ujar Bosworth seperti dikutip dari laporan Business Insider.

    Bosworth kemudian membandingkan situasi saat ini dengan skandal Cambridge Analytica pada 2016. Saat itu, sebuah firma konsultan politik diam-diam mengambil data dari sekitar 87 juta pengguna Facebook. “Saya rasa Cambridge Analytica mungkin yang terburuk,” lanjut sang CTO. Namun, ia menambahkan bahwa rasa kebersamaan atau camaraderie di antara karyawan saat ini adalah “mungkin salah satu yang terburuk yang pernah ada.”

    Pernyataan dari Bosworth ini menjadi sinyal kuat betapa parahnya krisis kepercayaan dan motivasi di tubuh Meta. Sebagai CTO, ia memiliki pandangan yang lebih komprehensif terhadap suasana hati karyawan di lapangan dibandingkan eksekutif lainnya. Kondisi ini terjadi setelah langkah agresif Mark Zuckerberg dan jajaran direksi yang memangkas ribuan pekerjaan untuk mengalokasikan lebih banyak dana bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI).

    PHK dan Alih Tugas ke Divisi AI Picu Kecemasan

    Gelombang PHK besar-besaran yang terjadi di Meta tentu menjadi pukulan telak bagi moral karyawan. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Banyak dari mereka yang selamat dari PHK justru dipindahkan ke peran-peran yang tidak sesuai dengan keahlian mereka, yaitu melatih model AI perusahaan. Sebuah laporan dari Wired mengungkapkan bahwa para karyawan ini merasa pekerjaan mereka direduksi menjadi tugas-tugas yang monoton dan tidak berarti.

    Suasana hati yang buruk ini semakin diperparah ketika Zuckerberg mencoba mencairkan suasana dengan mengadakan hackathon internal perusahaan. Alih-alih disambut antusias, ide tersebut justru mendapat respons negatif dari karyawan. Salah satu pekerja bahkan melontarkan kritik pedas: “Saya benar-benar sibuk menjaga tim saya tetap bertahan. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi, apalagi punya waktu untuk melakukannya.”

    Penolakan terhadap inisiatif ringan dari CEO ini menunjukkan betapa dalamnya jurang pemisah antara manajemen puncak dan karyawan. Para pekerja merasa bahwa prioritas perusahaan saat ini tidak selaras dengan kebutuhan dan kesejahteraan mereka. Situasi ini mengingatkan pada kondisi yang sebelumnya dilaporkan, di mana Divisi AI Meta disebut seperti Gulag oleh para karyawan.

    Keputusan Meta untuk memangkas ribuan posisi dan mengalihkan fokus ke AI merupakan bagian dari strategi jangka panjang Zuckerberg. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan di bidang AI yang membutuhkan investasi sangat besar. Sebelumnya, Zuckerberg menggelontorkan dana investasi yang sangat besar untuk pengembangan AI, namun hasilnya masih belum terlihat jelas. Hal ini semakin menambah tekanan pada karyawan yang harus bekerja lebih keras di tengah ketidakpastian.

    Bosworth sendiri tidak menampik bahwa tekanan untuk mencapai target di bidang AI sangat besar. Pernyataannya di depan karyawan menjadi pengakuan pertama dari jajaran C-suite bahwa dampak dari strategi ini terhadap moral karyawan sangatlah serius. Biasanya, ketika moral karyawan merosot, para bos perusahaan enggan mengakuinya secara langsung dan lebih memilih untuk menyediakan program-program sumber daya manusia seperti pelatihan ketahanan, survei denyut nadi, atau kegiatan team-building yang membosankan.

    Namun, Meta memilih pendekatan yang berbeda. Pengakuan jujur dari Bosworth ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan, atau justru sebaliknya, menjadi bukti bahwa perusahaan sadar akan masalahnya namun belum memiliki solusi yang tepat. Dengan kondisi internal yang genting seperti ini, Meta harus segera mencari cara untuk memulihkan semangat kerja karyawannya agar produktivitas dan inovasi tidak terus terhambat.

    Di sisi lain, Meta juga terus berusaha memperluas basis penggunanya melalui platform lain. Salah satu platform yang menunjukkan pertumbuhan signifikan adalah Threads, yang baru-baru ini tembus 500 juta pengguna. Namun, kesuksesan di satu lini bisnis tidak serta merta menghilangkan masalah fundamental yang menggerogoti perusahaan dari dalam.

    Implikasinya bagi para pengamat industri dan investor adalah bahwa Meta saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, perusahaan harus berinvestasi besar-besaran di AI untuk masa depan. Di sisi lain, mereka harus menjaga agar mesin pertumbuhan yang ada, yaitu para karyawannya, tidak kehilangan motivasi. Jika tidak segera diatasi, krisis moral ini bisa menjadi bom waktu yang mengancam produktivitas dan inovasi jangka panjang perusahaan.

    Untuk saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Meta mengenai langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ini. Pernyataan Bosworth setidaknya memberikan gambaran bahwa manajemen puncak sadar akan adanya masalah serius. Kini, para karyawan dan pasar menunggu langkah nyata yang akan diambil oleh Mark Zuckerberg dan timnya untuk mengembalikan kepercayaan dan semangat kerja di perusahaan teknologi raksasa tersebut.

    Ke depannya, Meta harus mampu menyeimbangkan antara ambisi teknologi dengan kesejahteraan karyawan. Jika tidak, perusahaan berisiko kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang justru menjadi kunci keberhasilan dalam persaingan AI yang semakin ketat.

    Kisah di Meta ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi lainnya. Pertumbuhan agresif dan efisiensi biaya tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan aset paling berharga: sumber daya manusia. Tanpa karyawan yang termotivasi, strategi bisnis sehebat apapun akan sulit untuk dijalankan.

  • RUU CREATOR Act: Seniman Bisa Gugat AI yang Tiru Gaya Mereka

    RUU CREATOR Act: Seniman Bisa Gugat AI yang Tiru Gaya Mereka

    JBNews.id – Sekelompok anggota parlemen bipartisan di Amerika Serikat baru saja memperkenalkan undang-undang baru yang bertujuan melindungi seniman visual dari penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI). Rancangan undang-undang yang dinamai CREATOR Act ini memberikan kekuatan hukum bagi seniman untuk menindak tegas penggunaan AI yang sengaja meniru gaya artistik mereka tanpa izin.

    Langkah ini muncul di tengah keresahan panjang komunitas seni global. Selama ini, banyak seniman merasa dirugikan karena perusahaan AI mengambil karya mereka tanpa izin atau kompensasi. Lebih dari itu, praktik yang disebut sebagai “seniman AI” dengan seenaknya menjiplak gaya spesifik seorang seniman hanya dengan mengetikkan perintah (prompt) dianggap sebagai bentuk pencurian yang merendahkan profesi seniman itu sendiri.

    Menurut laporan Politico, CREATOR Act akan berlaku untuk “karakteristik visual yang khas” dan “elemen visual yang dapat diidentifikasi, secara keseluruhan, yang secara konsisten ada dalam karya yang didistribusikan secara publik oleh seorang seniman visual dan secara publik diasosiasikan dengan seniman tersebut.” Definisi ini menjadi dasar bagi seniman untuk menuntut pihak-pihak yang menggunakan AI untuk secara sengaja meniru gaya mereka dan mengambil keuntungan darinya.

    Pertarungan Hukum Melawan AI dan Platform

    Ketentuan dalam CREATOR Act tidak hanya menyasar individu yang menggunakan AI untuk meniru gaya seniman. Lebih jauh lagi, undang-undang ini juga memungkinkan seniman untuk menuntut platform AI yang memfasilitasi praktik tersebut. Ini menjadi terobosan hukum yang signifikan karena selama ini platform AI seringkali berlindung di balik klaim bahwa mereka hanya menyediakan alat, bukan pelaku langsung pelanggaran.

    Namun, meskipun kerangka hukum ini terdengar menggembirakan bagi para seniman, para ahli hukum justru menemukan sejumlah kelemahan mendasar. Konsep “gaya” dianggap terlalu kabur dan sulit didefinisikan secara hukum. Kekhawatiran utama adalah bagaimana undang-undang ini akan berinteraksi dengan doktrin fair use dalam hukum hak cipta yang sudah ada.

    James Grimmelmann, seorang profesor hukum teknologi dari Cornell University, menyoroti ambiguitas ini. “Ada banyak ambiguitas tentang apa yang kita maksud ketika kita mengatakan ‘gaya’,” ujarnya kepada newsletter Politico’s Digital Future Daily. Ia menjelaskan bahwa beberapa elemen gaya artistik adalah hal yang umum dalam suatu genre. Di sisi lain, gaya artistik juga bisa merujuk pada karakteristik ciptaan seseorang yang dapat dikenali sebagai miliknya.

    Kritik yang lebih tajam datang dari Mark Lee, seorang pengacara kekayaan intelektual (IP) di firma hukum Rimon. “Sangat sulit untuk melihat bagaimana Anda akan mendefinisikan gaya artistik yang khas,” katanya kepada Politico. Lee menegaskan bahwa definisi yang terlalu ambigu akan membuat undang-undang ini sulit ditegakkan dan tidak bisa diterapkan secara efektif.

    Potensi Penyalahgunaan oleh Korporasi Besar

    Salah satu kekhawatiran terbesar dari para kritikus adalah potensi penyalahgunaan undang-undang ini oleh pemegang hak cipta besar seperti Disney. Jika definisi “gaya” terlalu longgar, perusahaan raksasa bisa mengklaim hampir semua elemen visual sebagai bagian dari “gaya” mereka. Hal ini justru bisa menjadi bumerang bagi seniman individu yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang tersebut.

    Grimmelmann memperingatkan bahwa tanpa adanya pengecualian fair use, undang-undang ini berpotensi menghukum seseorang yang menggunakan gaya seorang seniman sebagai titik awal untuk menciptakan sesuatu yang lebih transformatif dan orisinal. Ini menjadi dilema antara melindungi hak seniman dan tidak menghambat kreativitas baru yang justru terinspirasi dari karya yang sudah ada.

    Fakta menarik lainnya adalah bahwa RUU ini didukung oleh raksasa perangkat lunak bernilai miliaran dolar, Adobe. Perusahaan yang dikenal sangat agresif dalam pengembangan AI ini memiliki reputasi yang kurang baik di kalangan seniman. Selama bertahun-tahun, Adobe dituduh memonetisasi produknya secara kejam dan terkesan tidak peka terhadap kebutuhan para kreator sesungguhnya.

    Fokus pada Niat Jahat

    Para pendukung undang-undang ini berargumen bahwa CREATOR Act dirancang secara spesifik untuk mengejar aktor jahat yang dengan sengaja menggunakan AI untuk meniru gaya seorang seniman. Undang-undang ini mensyaratkan penggugat untuk membuktikan adanya niat tersebut. “Ini sangat berfokus pada niat,” kata Grimmelmann kepada Politico.

    Meskipun demikian, tantangan terbesar tetap pada pembuktian. Seniman harus bisa menunjukkan bahwa pelanggaran yang terjadi bukanlah kebetulan atau hasil dari penggunaan alat AI secara umum, melainkan sebuah upaya sadar untuk meniru gaya spesifik mereka. Proses hukum seperti ini diperkirakan akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

    CREATOR Act menjadi angin segar bagi komunitas seni yang selama ini merasa tidak berdaya menghadapi ekspansi AI. Namun, jalan menuju perlindungan hukum yang efektif masih panjang. Para pembuat undang-undang harus bekerja keras untuk merumuskan definisi yang jelas dan ketat agar undang-undang ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan masalah baru.

    Baca juga: Anthropic Digugat karena Diduga Merugikan Pelanggan Terbesarnya

    [CONTENT_END]

  • Survei Pew: Warga AS Makin Benci AI, Penggunaan Malah Meningkat

    Survei Pew: Warga AS Makin Benci AI, Penggunaan Malah Meningkat

    JBNews.id — Sebuah survei baru dari Pew Research Center mengungkapkan temuan paradoksal: warga Amerika Serikat semakin membenci kecerdasan buatan (AI), meskipun penggunaan chatbot justru meroket. Hanya 16 persen responden yang percaya AI akan berdampak positif bagi masyarakat—angka yang sama suramnya dengan persepsi terhadap teknologi itu sendiri.

    Survei yang dirilis pada Juni 2026 ini menunjukkan bahwa 49 persen orang dewasa AS kini menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT. Angka ini melonjak signifikan dari 33 persen pada tahun 2024. Seperempat dari pengguna bahkan mengaku menggunakannya setiap hari. Namun, adopsi yang meluas ini tidak memperbaiki citra AI di mata publik.

    Sebaliknya, 40 persen responden memperkirakan AI akan berdampak negatif bagi masyarakat, sementara 31 persen meyakini teknologi ini akan merugikan mereka secara pribadi. Kesenjangan antara penggunaan dan persepsi ini menjadi tantangan serius bagi industri AI yang saat ini masih bergantung pada gelombang hype dan suntikan dana besar-besaran.

    Generasi Z Paling Kritis, Paling Sering Pakai

    Data Pew menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan kelompok usia. Generasi Z—usia 18 hingga 29 tahun—menjadi kelompok yang paling waspada terhadap AI, dengan 48 persen meyakini dampak negatifnya bagi masyarakat. Ironisnya, mereka juga merupakan kelompok pengguna AI terbanyak, mencapai 66 persen.

    Sementara itu, kelompok usia 30-49 tahun dan 50 tahun ke atas memiliki pandangan yang lebih moderat. Masing-masing 39 persen dan 37 persen melihat AI sebagai sesuatu yang negatif. Namun, tingkat penggunaan AI di antara mereka jauh lebih rendah. Sebanyak 61 persen kelompok usia 30-49 tahun menggunakan chatbot AI, sementara hanya 42 persen kelompok usia 50-64 tahun yang melakukannya. Angka penggunaan pada usia 65 tahun ke atas bahkan kurang dari seperempat.

    Penyebab kesenjangan antara persepsi dan penggunaan ini belum jelas. Salah satu kemungkinan adalah banyak orang merasa terpaksa menggunakan AI, meskipun menyadari kekurangan teknologi ini dan keraguan etis dari industri yang mengembangkannya. Faktanya, banyak pekerja yang dipaksa menggunakan AI di tempat kerja, sementara atasan seringkali lebih antusias terhadap teknologi ini dibandingkan karyawan.

    Fenomena ini menjadi masalah serius bagi daya tahan jangka panjang industri AI. Saat ini, industri ini masih didorong oleh hype dan investasi besar-besaran, sementara profitabilitas masih sulit dicapai. Jika tidak ada yang menyukai AI dalam beberapa tahun atau dekade mendatang, akankah ada cukup pelanggan untuk menjaga industri ini tetap berjalan?

    Dampak pada Industri dan Regulasi

    Temuan Pew ini muncul di tengah meningkatnya tekanan pada pemerintah untuk mempercepat regulasi AI. Di Amerika Serikat, kebijakan sukarela menjadi pendekatan utama, namun efektivitasnya dipertanyakan mengingat sentimen publik yang memburuk. Sementara itu, penggunaan AI di sektor militer juga menuai kontroversi, seperti pengakuan Pentagon bahwa Grok digunakan untuk menyerang 2.000 target di Iran—sebuah langkah yang memicu perdebatan etis.

    Di sisi lain, Departemen Kehakiman (DOJ) AS baru-baru ini mendukung xAI dalam menghadapi gugatan lingkungan dari NAACP. Kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara pengembangan AI, regulasi, dan dampak sosialnya. Para pakar AI pun terus memperingatkan risiko yang mungkin timbul jika regulasi tidak segera dipercepat.

    Meskipun demikian, industri AI terus bergerak maju. Penggunaan chatbot di berbagai sektor—dari layanan pelanggan hingga pendidikan—terus meningkat. Namun, survei Pew menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan publik. Ini menjadi pelajaran penting bagi para pengembang dan pembuat kebijakan: membangun teknologi canggih saja tidak cukup; membangun kepercayaan publik adalah tantangan yang jauh lebih besar.

    A photo illustration featuring a photograph of a man crossing his arms in front of him in a gesture of overt disapproval.

    Implikasi untuk Masa Depan

    Bagi pembaca di Indonesia, tren ini memberikan gambaran tentang bagaimana persepsi publik terhadap AI bisa berubah seiring waktu. Meskipun adopsi AI di Indonesia masih dalam tahap awal, pengalaman AS menunjukkan bahwa popularitas teknologi tidak menjamin penerimaan jangka panjang. Regulasi yang bijaksana dan transparansi dalam pengembangan AI menjadi kunci untuk menghindari kesenjangan serupa.

    Survei Pew ini juga mengingatkan bahwa teknologi harus dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak sosialnya. Jika tidak, risiko penolakan publik bisa menjadi hambatan serius bagi inovasi di masa depan. Para pemangku kepentingan—dari pengembang hingga pembuat kebijakan—perlu bekerja sama untuk membangun AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga dipercaya oleh masyarakat.