JBNews.id — Saham SpaceX mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut setelah debut pasar perdana yang spektakuler, menghapus hampir seluruh keuntungan awal dan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham teknologi global.
Futures S&P 500 tergelincir 1,6 persen pada Selasa, sementara futures Nasdaq 100 turun 2,8 persen, yang berpotensi menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar jika penurunan berlanjut. Tekanan jual juga melanda saham-saham teknologi utama seperti Amazon, Nvidia, Tesla, Alphabet, dan Intel, yang masing-masing anjlok lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan.
Saat bel pembukaan pada Selasa waktu AS, SpaceX dibuka pada level US$150, tepat di bawah harga penawaran perdananya. Nvidia ambles lebih dari tiga persen, sementara Tesla turun hampir empat persen. Indeks S&P 500 dibuka dengan kerugian 1,5 persen, mengonfirmasi tingkat ketidakpastian yang tidak biasa di pasar.
Kerugian ini meluas hingga ke pasar internasional, menimbulkan kekhawatiran bahwa antusiasme terhadap siklus hype AI yang telah berlangsung selama bertahun-tahun mungkin mulai meredup. Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi perusahaan teknologi yang sangat besar dan menopang seluruh pasar sedang menggelembungkan bubble yang bisa membahayakan perekonomian jika pecah.
“Gravitasi menghantam,” demikian peringatan para trader JPMorgan dalam catatan Selasa, merujuk pada indeks Asia yang terpukul keras bersamaan dengan futures AS dan Uni Eropa.
Skala besar debut Wall Street SpaceX dan perhatian yang diraihnya menjadi pemicu utama kegelisahan investor. Pada Senin saja, perusahaan roket tersebut kehilangan US$400 miliar nilai pasar setelah sahamnya jatuh hampir 17 persen. Penurunan empat hari berturut-turut SpaceX kemungkinan memicu sentimen negatif yang lebih luas di kalangan investor.
SpaceX juga mengumumkan “penawaran obligasi perdana” untuk mengumpulkan dana tambahan guna mendanai rencana ambisiusnya meluncurkan satu juta satelit pusat data orbit raksasa ke luar angkasa — sebuah konsep yang masih belum teruji. Langkah ini menambah ketidakpastian di tengah volatilitas pasar yang sedang berlangsung.
Baca Juga:
Dampak pada Sektor Teknologi dan AI
Penurunan tajam saham teknologi ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan AI yang melambung tinggi tidak lagi sejalan dengan fundamental bisnis. Saham Nvidia, yang menjadi barometer industri AI, turun lebih dari tiga persen dalam perdagangan pra-pembukaan, sementara Tesla turun hampir empat persen.
Para analis telah lama memperingatkan bahwa valuasi yang terlalu tinggi pada perusahaan teknologi yang menopang indeks pasar bisa menjadi risiko sistemik. Jika gelembung ini pecah, dampaknya bisa meluas ke seluruh perekonomian. Kondisi ini menjadi “gut check” besar bagi investor yang selama ini berkomitmen pada reli AI.
Di tengah gejolak ini, inovasi teknologi lain terus berjalan. Robot Humanoid dengan saraf tiruan tengah diuji coba, menunjukkan bahwa meskipun pasar saham bergejolak, riset dan pengembangan AI tetap berlanjut.
Implikasi bagi Pasar Global
Jika penurunan hari Selasa bertahan, lebih dari US$1 triliun nilai pasar bisa lenyap dalam sehari. Ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam sejarah pasar saham AS. Kerugian yang meluas ke pasar internasional menunjukkan bahwa gejolak ini bersifat global, bukan hanya masalah domestik AS.
Investor kini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. Apakah penurunan ini koreksi sementara atau awal dari penurunan yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat bergantung pada data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan teknologi dalam beberapa pekan mendatang.
Bagi investor ritel dan institusi, momen ini menjadi pengingat bahwa valuasi pasar yang terlalu tinggi selalu mengandung risiko. Lompatan Peringkat di sektor energi hijau menunjukkan bahwa diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi penting dalam menghadapi volatilitas.
Seperti yang dikatakan para trader JPMorgan, “gravitasi menghantam.” Pertanyaan besarnya adalah seberapa dalam dampaknya dan seberapa cepat pasar bisa pulih.
