Ramalan Elon Musk: Massa dan Energi Bakal Gantikan Uang

Elon Musk buka suara prediksi pengganti uang di masa depan

JBNews.id — Bos SpaceX dan Tesla, Elon Musk, memprediksi uang konvensional akan digantikan oleh dua hal fundamental di masa depan: massa dan energi. Pernyataan ini disampaikan Musk dalam sebuah unggahan di platform X, menanggapi diskusi tentang pengembangan komputasi AI di luar angkasa.

Melansir Benzinga, Jumat (19/6/2026), prediksi tersebut muncul saat Musk menegaskan kembali ambisinya untuk membangun kemampuan manufaktur di luar angkasa. Dalam utas diskusi, pengguna James Stephenson bertanya kepada CEO SpaceX apakah orbit Bumi cukup untuk memanfaatkan energi matahari bagi kebutuhan AI.

Musk menjawab dengan memuji rencana pembangunan pabrik di Bulan. “Ini akan membutuhkan pembuatan panel surya dan radiator di Bulan dan meluncurkannya ke luar angkasa dengan penggerak massa,” tulisnya. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa uang konvensional akan menjadi tidak relevan jauh sebelum tonggak tersebut tercapai. “Massa dan energi akan menggantikan uang,” ujar Musk.

Kekayaan Elon Musk Capai Rp 1,3 Triliun

Meskipun Musk memprediksi ketidakrelevanan uang di masa depan, posisinya sebagai orang terkaya di Bumi justru semakin kokoh. Keberhasilan IPO SpaceX dan reli sahamnya baru-baru ini telah memperkuat statusnya. Kekayaan Musk mencapai USD 1,3 triliun, menjadikannya manusia pertama yang menjadi triliuner.

Angka tersebut berarti kekayaan Musk melampaui gabungan kekayaan beberapa orang terkaya dunia, termasuk pendiri Amazon, Jeff Bezos. Setelah IPO, kapitalisasi pasar SpaceX bahkan melampaui raksasa teknologi seperti Microsoft Corp dan Amazon.

Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Musk ini sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Inovasi di sektor energi dan material menjadi kunci, mirip dengan bagaimana Quantinuum IPO menandai era baru komputasi kuantum.

Implikasi bagi Masa Depan Transaksi

Konsep “massa dan energi” sebagai pengganti uang bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Dalam fisika, massa dan energi adalah dua entitas yang setara (E=mc²). Musk melihat keduanya sebagai sumber daya paling fundamental yang akan menjadi basis nilai di masa depan, terutama ketika peradaban manusia mulai berekspansi ke luar angkasa.

Bayangkan, di Bulan atau Mars, logistik untuk mengirim material sangat mahal. Dalam skenario itu, memiliki akses ke massa (material) dan energi (tenaga) menjadi jauh lebih berharga daripada mata uang fiat. Pandangan ini juga relevan dengan perkembangan Robot AI Peliharaan yang membutuhkan energi dan material canggih untuk beroperasi.

Pernyataan Musk ini memicu perdebatan di kalangan ekonom dan futuris. Beberapa pihak menilai ide tersebut terlalu abstrak untuk diterapkan dalam sistem ekonomi saat ini. Namun, yang lain melihatnya sebagai visi jangka panjang yang logis, seiring dengan menurunnya biaya energi terbarukan dan meningkatnya eksplorasi ruang angkasa.

IPO SpaceX yang spektakuler menunjukkan bahwa pasar modal pun mulai memberikan nilai pada perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi ruang angkasa dan manufaktur di orbit. Ini adalah langkah awal menuju ekonomi yang berbasis pada sumber daya di luar Bumi.

Dampak bagi Industri Teknologi

Visi Musk tentang ekonomi berbasis massa dan energi memiliki implikasi langsung bagi industri teknologi. Perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur aditif (3D printing), energi surya, dan material komposit akan menjadi pemain kunci. Konsep ini juga mendorong inovasi dalam efisiensi energi dan daur ulang material.

Selain itu, pernyataan ini menempatkan eksplorasi ruang angkasa bukan lagi sebagai proyek ilmiah, melainkan sebagai fondasi ekonomi masa depan. Negara dan perusahaan yang mampu menguasai teknologi untuk menambang asteroid atau membangun infrastruktur di Bulan akan memiliki keunggulan kompetitif yang besar.

Prediksi Musk juga menyentuh aspek sosial. Jika massa dan energi benar-benar menggantikan uang, maka ketimpangan ekonomi yang kita kenal saat ini mungkin akan terdefinisi ulang. Akses terhadap sumber daya alam dan energi bersih akan menjadi indikator kekayaan yang baru.

Bagi pembaca di Indonesia, visi ini mungkin terdengar futuristik. Namun, perkembangan teknologi seperti Nimble SharePower yang modular menunjukkan bahwa inovasi dalam manajemen energi sudah mulai terjadi di level konsumen.

Pada akhirnya, apa yang disampaikan Musk adalah sebuah visi tentang transisi peradaban. Dari ekonomi berbasis uang kertas menuju ekonomi berbasis sumber daya. Apakah ini akan terwujud dalam 50 atau 100 tahun ke depan? Waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: orang terkaya di dunia saat ini sedang mempertaruhkan seluruh kekayaannya untuk mewujudkannya.