Kontroversi Fable 5: Antara Keamanan dan Regulasi AI AS

Ilustrasi logo Anthropic dengan latar belakang bendera Amerika Serikat dan simbol regulasi

JBNews.id — Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan kontrol ekspor mendadak terhadap model AI terbaru milik Anthropic, Fable 5, dan model dasar Mythos, hanya sepekan setelah dirilis ke publik. Langkah kontroversial ini memicu kekacauan besar di industri teknologi dan menghadirkan gambaran baru tentang lanskap regulasi AI di bawah pemerintahan Trump.

Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat pekan lalu, memaksa Anthropic untuk menarik kedua model tersebut dari peredaran. Perusahaan mengaku tidak mampu mematuhi peraturan yang melarang warga negara asing, termasuk karyawan Anthropic sendiri, untuk mengakses model-model tersebut tanpa mengambil tindakan drastis. Hingga Selasa, Fable 5 masih offline dan pengguna Claude melihat pemberitahuan “Fable 5 is currently unavailable” di atas jendela obrolan.

Kronologi kejadian bermula ketika peneliti Amazon menemukan potensi celah keamanan (jailbreak) pada Fable 5. Temuan ini kemudian dilaporkan ke Anthropic yang tengah berdiskusi dengan para peneliti Amazon. Namun, situasi berubah drastis ketika CEO Amazon Andy Jassy menghubungi Menteri Keuangan Scott Bessent untuk menyampaikan kekhawatirannya. Pemerintahan Trump pun bereaksi cepat dengan memberikan ultimatum 90 menit kepada Anthropic untuk menonaktifkan model tersebut.

“Anthropic menelepon kembali dalam 15 menit setelah panggilan pertama, tetapi butuh waktu satu jam 15 menit bagi CEO Dario Amodei untuk menelepon balik,” ungkap Hayden Field, jurnalis AI senior The Verge. Setelah tenggat 90 menit berlalu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi kontrol ekspor yang melarang warga negara asing mengakses kedua model tersebut.

Keputusan ini dinilai sangat kontroversial karena beberapa alasan. Pertama, celah keamanan yang ditemukan Amazon ternyata tidak unik pada Fable 5. “Semua yang ada dalam dugaan jailbreak dan white paper Amazon yang beredar, semuanya bisa dicapai oleh GPT-5.5 milik OpenAI dan beberapa model lain,” ungkap Field. Kedua, tindakan ini dianggap tidak konsisten dengan sikap pemerintahan Trump yang sebelumnya sangat pro-regulasi ringan dan ingin mempercepat pengembangan AI Amerika.

Ironisnya, Anthropic sendiri selama bertahun-tahun menjadi perusahaan yang paling vokal mendorong regulasi AI. Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, bahkan baru-baru ini menyatakan bahwa “akan baik bagi dunia untuk memiliki opsi memperlambat atau menjeda sementara pengembangan AI frontier agar struktur sosial dan penelitian alignment bisa mengimbangi kemajuan teknologi.” Namun, ketika regulasi benar-benar datang, perusahaan justru menjadi korban kebijakan yang dinilai tidak terstruktur.

Dampak pada Industri dan Hubungan dengan China

Kekacauan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan industri. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa kontrak cadangan mulai ditandatangani dengan perusahaan non-AS. Model open-weight mulai diimplementasikan pada perangkat keras alternatif karena perusahaan di seluruh dunia mulai memasukkan risiko politik ke dalam rencana bisnis mereka. “Beijing sedang menertawakan kita saat ini,” kata seorang sumber yang terlibat langsung dalam negosiasi.

Keputusan ini juga dianggap akan berdampak luas tidak hanya pada Anthropic, tetapi juga pada OpenAI, Google, dan setiap pesaing yang memiliki produk setara Mythos. Ketidakpastian regulasi membuat perusahaan AI Amerika kesulitan merencanakan strategi jangka panjang.

Hubungan Buruk Anthropic dengan Pemerintahan Trump

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi antara Anthropic dan pemerintahan Trump. Sebelumnya, Anthropic telah ditetapkan sebagai risiko rantai pasok oleh Departemen Pertahanan karena menolak memberikan akses penuh alat AI untuk tujuan militer. Perusahaan memiliki garis merah tentang bagaimana mereka ingin digunakan dalam konteks militer, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth menginginkan kebebasan penuh untuk “semua tujuan yang sah.”

Banyak pihak menilai perlakuan berbeda ini terkait dengan hubungan personal. CEO OpenAI Sam Altman sering mengadakan konferensi pers dengan Presiden Trump, CEO Google Sundar Pichai menghadiri pelantikan, dan CEO Meta Mark Zuckerberg hadir di pertandingan UFC. Sementara Dario Amodei disebut tidak pandai “bermain game” dengan administrasi. “Beberapa laporan mengatakan Dario tidak tahu cara berbicara dengan administrasi dan dia tidak tunduk,” ungkap Field.

Masa Depan Regulasi AI AS

Insiden ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah regulasi AI di Amerika Serikat. Pemerintahan Biden sebelumnya telah mengeluarkan perintah eksekutif yang mencakup tinjauan transparansi dan persyaratan penelitian untuk model frontier. Trump membatalkan semua itu saat menjabat, dengan mengatakan tidak akan meregulasi perusahaan AI.

Namun, tindakan terbaru ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump mungkin kembali ke pendekatan yang lebih ketat, meskipun dengan cara yang kacau dan tidak terprediksi. “Jika Anda akan mengatur, lakukanlah,” tegas Field. “Kerangka kerja sukarela sudah sangat encer. Kami sudah memilikinya.”

Untuk saat ini, nasib Fable 5 dan Mythos masih belum jelas. Pertemuan terus berlangsung, dan ada kemungkinan model-model tersebut akan kembali dalam beberapa hari. Namun, terlepas dari hasil akhirnya, dampak dari insiden ini terhadap lanskap regulasi AI global akan terasa dalam jangka panjang. Dunia, terutama China, kini menyaksikan apakah pendekatan regulasi AI Amerika akan berbentuk kerangka kerja keselamatan yang serius atau hanya senjata politik untuk melawan perusahaan yang tidak tunduk.