Tesla Tabrak Garasi Akibat Mode Autopilot di Washington

Tesla merah tersangkut di pintu garasi yang hancur setelah kecelakaan

JBNews.id — Sebuah Tesla menabrak pintu garasi rumah warga di Redmond, Washington, pada Senin pagi waktu setempat. Pengemudi mengklaim mode Autopilot pada kendaraannya mengalami kegagalan fungsi sebelum kecelakaan terjadi.

Insiden ini dilaporkan oleh King 5 News dan dikonfirmasi oleh Departemen Kepolisian Redmond melalui unggahan di platform X. Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Beruntung, tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut dan tidak ditemukan indikasi pengemudi dalam keadaan mabuk.

Foto dari lokasi kejadian menunjukkan Tesla berwarna merah tersangkut di pintu garasi yang hancur. Seorang petugas polisi terlihat mendokumentasikan pemandangan tersebut untuk keperluan investigasi resmi.

Klaim Pengemudi soal Mode Autopilot

Menurut laporan King 5 News, pengemudi menyatakan bahwa mode mengemudi otonom Tesla mengalami malfungsi sebelum menabrak garasi. Pelaporan tersebut menyebut sistem yang dimaksud adalah “autopilot system,” bukan Autopilot yang merupakan sistem mengemudi yang lebih sederhana atau Full Self-Driving (Supervised) yang merupakan fitur lebih canggih milik Tesla.

Full Self-Driving (Supervised) sebenarnya adalah nama yang keliru karena sistem ini belum mampu mengemudi sepenuhnya secara mandiri dan tetap memerlukan pengawasan konstan dari pengemudi. Jika perangkat lunak Tesla benar-benar menjadi penyebab kecelakaan, mudah untuk melihat bagaimana pengemudi mungkin terlena dengan rasa aman yang palsu.

Perangkat lunak Tesla memang memiliki rekam jejak yang buruk dalam hal penyimpangan mendadak. Mobil yang menjalankan Full Self-Driving diketahui sering bermanuver tidak terduga, termasuk kasus menabrak pagar atau trotoar. Sebelumnya, Fitur Terbaru Tesla juga menjadi sorotan karena janji yang belum terealisasi.

Rekam Jejak Masalah Autopilot Tesla

Insiden di Redmond bukanlah kasus pertama yang melibatkan sistem mengemudi otonom Tesla. Mobil yang menggunakan Full Self-Driving memiliki kecenderungan untuk melaju ke jalur kereta yang melintas. Federal regulators bahkan meluncurkan investigasi menyeluruh terhadap fenomena yang disebut sebagai “death-drive” ini.

Awal tahun ini, seorang insinyur SpaceX membagikan rekaman yang menunjukkan bagaimana FSD tiba-tiba berbelok dan mencoba melaju langsung ke danau, memaksa pengemudi untuk melakukan intervensi pada saat-saat terakhir. Rekaman tersebut menunjukkan betapa berbahayanya kegagalan sistem yang tidak terduga.

Sementara itu, Waymo juga menarik mobil otonomnya dari jalan bebas hambatan setelah salah satu kendaraannya melarikan diri dari polisi dengan membawa pasangan yang ketakutan di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi mengemudi otonom dari berbagai perusahaan masih menghadapi tantangan serius.

Di sisi lain, pengguna Tesla di China juga menunjukkan kreativitas yang tidak biasa. Beberapa pemilik Tesla menggunakan kepala palsu untuk mengakali kamera pengawas di dalam kabin. Tindakan ini menjadi sorotan karena menunjukkan upaya untuk menghindari pemantauan saat menggunakan fitur Kamera Pengawas Tesla.

Dampak bagi Pengguna Teknologi Otonom

Kasus tabrakan di Redmond menjadi pengingat bahwa teknologi mengemudi otonom masih jauh dari sempurna. Meskipun Tesla terus mengembangkan sistem Full Self-Driving, insiden semacam ini menunjukkan bahwa pengemudi tidak boleh sepenuhnya mengandalkan perangkat lunak untuk mengemudi.

Investigasi oleh Kepolisian Redmond masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan. Hasil investigasi ini akan menjadi penting bagi pengguna Tesla dan regulator yang mengawasi keamanan kendaraan otonom.

Bagi pengemudi Tesla, insiden ini menegaskan pentingnya tetap waspada meskipun fitur Autopilot atau Full Self-Driving aktif. Keselamatan tetap menjadi tanggung jawab pengemudi, bukan sepenuhnya pada perangkat lunak kendaraan.

Perusahaan lain seperti Rivian juga menghadapi tekanan untuk membuktikan keandalan teknologinya. Masa Depan Perusahaan Rivian sendiri bergantung pada keberhasilan model R2 yang akan datang.

Sementara itu, Google memesan 3 juta chip AI ke Intel, menunjukkan pergeseran dalam rantai pasokan teknologi global. TSMC Mulai Tergeser dari posisi dominannya sebagai pemasok chip utama.

IPO SpaceX juga diprediksi akan menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama dunia. Elon Musk Triliuner pertama akan menjadi tonggak sejarah dalam dunia bisnis dan teknologi.

Implikasi dari insiden ini jelas: teknologi mengemudi otonom masih memerlukan pengawasan ketat dan pengembangan lebih lanjut. Bagi pembaca, pesan utamanya adalah jangan pernah mengandalkan sepenuhnya pada sistem otonom saat ini. Keselamatan di jalan raya tetap membutuhkan kewaspadaan manusia.