JBNews.id — Nike menghadapi skandal desain setelah jersey Piala Dunia 2026 yang dirancang dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) menghasilkan bentuk bahu lancip dan tidak wajar pada seragam para pemain sepak bola top dunia. Kontroversi ini menambah daftar panjang masalah yang membayangi gelaran Piala Dunia tahun ini.
Sejak awal tahun, para penggemar mulai menyadari keanehan pada jersey edisi terbaru Nike. Bahu jersey yang dikenakan oleh bintang-bintang sepak bola dunia terlihat menonjol keluar dengan sudut yang sangat tajam dan tidak natural. Bentuk ini langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial dan berbagai forum penggemar sepak bola.
“Performansi tidak terpengaruh, tetapi estetika keseluruhan tidak sesuai standar,” ujar seorang juru bicara Nike kepada The Guardian saat itu, menyebutnya sebagai “masalah kecil.” Namun, berbulan-bulan setelah pernyataan tersebut, para atlet masih harus mengenakan jersey yang tidak pas di bahu mereka.
Skandal ini bermula dari keputusan Nike untuk mengadopsi teknologi AI dalam proses desain jersey. Pada Maret lalu, perusahaan tersebut mempromosikan desain “Aero-FIT” terbaru yang diklaim mampu membantu atlet tetap dingin selama pertandingan. Teknologi ini dikatakan “memanfaatkan desain komputasional dan proses rajutan khusus yang sangat terspesialisasi.”
Seorang sumber yang mengetahui proses produksi mengatakan kepada The Guardian bahwa desain tersebut “menggabungkan elemen AI untuk bekerja bersama para desainer perusahaan saat mereka membuat produk.” Sayangnya, implementasi teknologi ini justru menghasilkan cacat desain yang mencolok.
Menurut laporan yang beredar, saat Nike menyadari kesalahan desain tersebut, sudah terlambat untuk kembali ke papan gambar. Sebagai gantinya, perusahaan itu meminta federasi anggota untuk mencuci dan mengukus bagian bahu jersey agar terlihat lebih normal. Metode perbaikan darurat ini menuai kritik karena dianggap tidak profesional untuk produk sekelas jersey Piala Dunia.
Yang lebih mengkhawatirkan, para penggemar yang telah membeli jersey Nike mungkin tidak menyadari bahwa mereka harus mencuci dan mengukus jersey tersebut dengan hati-hati agar tidak terlihat konyol di bagian bahu. Ini menjadi masalah serius mengingat harga satu jersey tim Amerika Serikat bisa mencapai lebih dari 100 dolar AS atau setara lebih dari Rp 1,5 juta.
Dampak Lebih Luas dari Skandal Desain
Kontroversi jersey AI Nike ini terjadi di tengah berbagai masalah lain yang membayangi Piala Dunia 2026. Sejak awal, turnamen ini telah diwarnai oleh kontroversi mulai dari praktik penetapan harga tiket yang dianggap merugikan penggemar hingga kepemimpinan FIFA yang terkenal korup.
Dalam konteks yang lebih luas, kegagalan desain ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan industri fashion dan perlengkapan olahraga dalam mengadopsi teknologi AI. Sementara beberapa perusahaan di sektor lain berhasil memanfaatkan AI untuk inovasi produk, kasus Nike menunjukkan bahwa teknologi ini masih memiliki keterbatasan signifikan, terutama dalam hal estetika dan ergonomi.
Menariknya, di industri kreatif lainnya, AI juga menjadi topik perdebatan sengit. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Martin Scorsese Dukung AI dalam dunia perfilman, namun reaksi industri justru keras menentang penggunaan teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi AI di berbagai sektor kreatif masih jauh dari mulus.
Baca Juga:
Implikasi bagi Industri dan Konsumen
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi industri apparel olahraga global. Ketergantungan berlebihan pada AI dalam proses desain tanpa pengawasan manusia yang memadai dapat menghasilkan produk yang tidak hanya gagal secara estetika tetapi juga berpotensi merusak reputasi merek.
Bagi konsumen, skandal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas produk yang menggunakan AI dalam proses pembuatannya. Dengan harga jersey resmi yang mencapai lebih dari 100 dolar AS, penggemar berhak mendapatkan produk yang tidak memerlukan perawatan khusus hanya untuk terlihat normal.
Nike sendiri belum memberikan pernyataan resmi tentang langkah selanjutnya untuk mengatasi masalah ini. Namun, perusahaan tersebut diperkirakan akan menghadapi tekanan besar dari federasi sepak bola dan penggemar untuk memberikan solusi yang lebih permanen daripada sekadar mencuci dan mengukus jersey.
Di sisi lain, kontroversi ini juga membuka diskusi tentang peran AI dalam industri kreatif. Sementara beberapa pihak melihat AI sebagai alat yang dapat meningkatkan efisiensi dan inovasi, kasus Nike menunjukkan bahwa teknologi ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut sebelum dapat diandalkan sepenuhnya.
Seperti yang terjadi di sektor teknologi lainnya, Insentif Penuh Mobil Listrik yang mendorong hilirisasi industri menunjukkan bahwa adopsi teknologi baru membutuhkan pendekatan yang hati-hati dan terukur. Kasus Nike bisa menjadi contoh bagaimana implementasi teknologi yang terburu-buru justru berakibat fatal.
Sementara itu, para pemain sepak bola top dunia yang menjadi duta merek Nike harus menghadapi situasi yang memalukan ini di panggung internasional. Mereka terpaksa mengenakan jersey dengan desain yang menjadi bahan ejekan di media sosial dan berbagai platform digital.
Dalam jangka panjang, skandal ini bisa berdampak pada loyalitas merek di kalangan penggemar sepak bola. Banyak penggemar yang setia membeli jersey resmi setiap edisi mungkin akan berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang lebih dari 100 dolar AS untuk produk yang kualitas desainnya dipertanyakan.
Kontroversi ini juga menjadi pengingat bahwa dalam industri fashion dan apparel olahraga, estetika dan kenyamanan tetap menjadi faktor utama yang tidak bisa dikorbankan demi efisiensi produksi atau inovasi teknologi. Kegagalan Nike dalam menyeimbangkan aspek-aspek ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri.
Dengan Piala Dunia 2026 yang masih berlangsung, para penggemar dan pemain harus menerima kenyataan bahwa jersey dengan bahu lancip ini akan terus terlihat di layar kaca selama turnamen berlangsung. Nike sendiri masih harus bekerja keras untuk memulihkan reputasinya setelah skandal desain yang memalukan ini.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa meskipun AI menawarkan potensi besar dalam berbagai bidang, teknologi ini masih memerlukan pengawasan manusia yang ketat, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan estetika dan ergonomi. Xiaomi 17T dan 17T Pro yang baru meluncur di Indonesia menggunakan AI untuk meningkatkan performa kamera, namun tetap mempertahankan desain yang dirancang oleh manusia.
Pada akhirnya, skandal jersey AI Nike ini akan menjadi studi kasus tentang bagaimana tidak mengimplementasikan teknologi baru dalam proses desain produk. Keputusan untuk mengandalkan AI tanpa verifikasi manusia yang memadai telah menghasilkan salah satu kegagalan desain paling mencolok dalam sejarah apparel olahraga.
Bagi industri teknologi dan fashion, pelajaran dari kasus ini sangat jelas: AI adalah alat yang powerful, tetapi bukan pengganti penilaian manusia dalam hal-hal yang berkaitan dengan estetika dan kenyamanan. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan sentuhan manusia tetap menjadi kunci dalam menciptakan produk yang berkualitas.
Sementara kontroversi ini terus bergulir, para penggemar sepak bola di seluruh dunia hanya bisa berharap bahwa Nike akan belajar dari kesalahan ini dan menghasilkan desain yang lebih baik di masa depan. Untuk saat ini, mereka harus menerima kenyataan bahwa jersey favorit mereka memiliki bahu yang tidak wajar — dan perlu dicuci serta dikukus sebelum dipakai.
