LinkedIn Tambah Tombol Lapor Konten “AI Slop” di Setiap Postingan

Tangan menekan tombol merah lapor konten AI slop LinkedIn

JBNews.id — LinkedIn secara diam-diam meluncurkan tombol baru yang memungkinkan pengguna melaporkan unggahan yang “terlihat seperti AI slop” atau konten berkualitas rendah buatan kecerdasan buatan. Langkah ini diambil di tengah banjir konten generatif yang membanjiri platform milik Microsoft tersebut.

Fitur ini pertama kali ditemukan oleh pengguna media sosial Bluesky, yang mengaku awalnya mengira itu adalah lelucon. “Genuinely thought it was a joke until I clicked on a few posts,” tulis pengguna tersebut. Tombol pelaporan tersebut muncul di setiap unggahan dan memungkinkan pengguna untuk menyembunyikan konten yang dianggap sebagai sampah buatan AI.

Langkah ini menjadi ironis mengingat LinkedIn sendiri secara aktif mendorong pengguna untuk memanfaatkan AI melalui fitur asisten penulisan berbasis AI. “LinkedIn’s AI-powered writing assistant will share personalized suggestions for your profile, to help you stand out and get noticed,” demikian bunyi keterangan di situs resmi perusahaan.

Tangan menekan tombol merah dengan latar foto berwarna

Data Mengkhawatirkan Soal Konten AI di LinkedIn

Menurut perusahaan deteksi AI Pangram, dua pertiga dari seluruh unggahan di LinkedIn terdeteksi sebagai konten buatan AI oleh pengguna ekstensi browser mereka. Lebih dari 40 persen unggahan berformat panjang ditandai sebagai “sepenuhnya dibuat oleh AI.” Angka ini menunjukkan betapa masifnya masalah konten generatif di platform yang seharusnya menjadi wadah diskusi profesional.

Substack CEO Chris Best bahkan secara terbuka menargetkan LinkedIn pekan lalu saat mengumumkan fitur detektor AI. “Because we’re sick of slop and we don’t want Substack to turn into LinkedIn,” ujar Best, menggambarkan betapa buruknya reputasi LinkedIn dalam hal kualitas konten.

Kebijakan Kontradiktif LinkedIn

Langkah LinkedIn menambahkan tombol pelaporan AI slop ini terbilang membingungkan. Seperti yang dicatat oleh 404 Media, perusahaan secara bersamaan mendorong pengguna untuk menghasilkan konten AI melalui asisten penulisan bertenaga AI. “LinkedIn’s AI-powered writing assistant akan membagikan saran personalisasi untuk profil Anda, membantu Anda menonjol dan diperhatikan,” tulis perusahaan di situsnya.

Kontradiksi ini semakin terlihat jelas ketika tahun lalu LinkedIn memulai eksperimen kontroversial dengan mengumpulkan data pengguna tanpa izin untuk melatih “rekan kerja” AI. Eksperimen tersebut langsung dihentikan setelah mendapat reaksi negatif yang keras. Situasi ini menunjukkan bahwa topik AI masih menjadi perdebatan internal di jajaran eksekutif LinkedIn.

Dalam pembaruan pada 20 Mei, LinkedIn berjanji akan menjaga “percakapan tetap nyata” dengan menjauhkan “AI slop.” “When AI is overused, especially at scale and in an automated way, it dilutes the valuable insights that real human conversations can spark,” tulis Laura Lorenzetti, executive editor LinkedIn.

Lorenzetti menambahkan bahwa penggunaan AI untuk membantu menulis diperbolehkan, tetapi unggahan harus mewakili suara dan perspektif pengguna. “Nilai akhir berasal dari manusia di balik alat tersebut,” tegasnya.

Sistem Deteksi AI Slop

Untuk memperkuat autentisitas, LinkedIn mengklaim sedang mengembangkan “sistem teknologi” yang dilatih untuk mengenali sinyal-sinyal AI slop. Namun, efektivitas sistem ini masih dipertanyakan mengingat platform justru menyediakan alat untuk menghasilkan konten AI.

Tombol pelaporan baru ini memungkinkan LinkedIn memanfaatkan basis penggunanya yang frustrasi untuk membantu membersihkan platform dari konten bot. Setelah dilaporkan, unggahan akan disembunyikan dari pengguna yang melaporkan, tetapi belum jelas apakah ada pihak di LinkedIn yang akan meninjau laporan tersebut.

Pertanyaan besarnya adalah apakah LinkedIn akan benar-benar menindaklanjuti banjir laporan yang diperkirakan akan masuk. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah langkah ini sudah terlambat untuk menyelamatkan platform dari lautan konten bot.