Produksi Kopi Kuningan Melonjak, Target Ekspor Digenjot

Petani kopi di Kuningan Jawa Barat sedang memanen buah kopi merah matang untuk didorong ekspor

Jbnews.id – Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mencatat lonjakan signifikan produksi kopi robusta pada 2025, mencapai 1.173,39 ton, naik 61,5 persen dari 726,03 ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kualitas dan tata kelola komoditas tersebut agar mampu menembus pasar ekspor secara lebih masif.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan, Wahyu Hidayah, menyatakan pengembangan kopi dilakukan secara bertahap dari hulu ke hilir. Fokus utama saat ini adalah peningkatan mutu dan kapasitas petani agar peluang pasar global dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Penguatan kualitas, tata kelola, serta kemampuan petani menjadi kunci agar peluang pasar global dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Wahyu di Kuningan, Senin.

Data Produksi dan Tantangan Hilir

Berdasarkan data Diskatan Kuningan, produksi kopi robusta menunjukkan tren positif dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, produksi kopi arabika relatif stabil dengan produktivitas sekitar 900 kilogram per hektare. Meski produksi hulu meningkat, Wahyu mengakui tantangan utama masih berada di sektor hilir, khususnya standardisasi mutu dan pengolahan pascapanen.

“Fokus kami saat ini, untuk standardisasi mutu dan pengolahan pascapanen agar kopi dari Kuningan semakin dikenal kualitasnya,” ujarnya.

Wahyu mengakui komoditas kopi Kuningan sebenarnya sudah berhasil diekspor ke luar negeri, namun jumlahnya masih terbatas. Untuk mengatasi hal ini, Diskatan bekerja sama dengan berbagai pihak memberikan pelatihan dan bimbingan teknis mengenai metode pertanian berkelanjutan di tingkat petani.

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menambahkan sejumlah lahan perkebunan kopi di daerahnya sudah memasuki waktu panen, misalnya di Desa Karangsari. Ia menekankan kopi saat ini tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas mentah, melainkan produk bernilai tambah yang mengedepankan kualitas, cerita, dan pengalaman.

“Peningkatan kualitas dan nilai tambah harus menjadi fokus kami, agar kopi Kuningan tidak berhenti pada tahap bahan baku,” kata Dian.

Pemerintah daerah optimistis dengan penguatan di sektor hilir, kopi Kuningan dapat bersaing di pasar internasional dan meningkatkan kesejahteraan petani. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah provinsi yang tengah gencar melakukan Renovasi 40.000 Rutilahu di tahun yang sama.

Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, Diskatan juga memberikan pelatihan berkelanjutan agar petani mampu mengelola pascapanen secara mandiri. Hal ini penting mengingat standardisasi mutu menjadi syarat mutlak untuk menembus pasar global.

Wahyu menambahkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas terkait dan pelaku industri untuk memperluas akses pasar. Salah satu strateginya adalah mengikuti pameran dagang dan menjalin kemitraan dengan eksportir.

“Kami tidak ingin kopi Kuningan hanya menjadi bahan baku. Dengan pengolahan yang baik, nilai jualnya bisa meningkat berkali-kali lipat,” tegasnya.

Data Diskatan menunjukkan luas lahan perkebunan kopi di Kuningan terus bertambah seiring meningkatnya minat petani. Kopi robusta menjadi primadona karena adaptasinya yang baik terhadap kondisi lahan di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Bupati Dian mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan perkebunan kopi. Metode pertanian berkelanjutan menjadi salah satu materi utama dalam pelatihan yang diberikan kepada petani.

“Kualitas kopi yang baik lahir dari proses budidaya yang baik pula. Kami dorong petani untuk menerapkan praktik ramah lingkungan,” ujarnya.

Pengembangan kopi Kuningan ini juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Beberapa organisasi non-pemerintah turut memberikan pendampingan teknis kepada petani di daerah tersebut.

Ke depan, pemerintah daerah menargetkan volume ekspor kopi Kuningan dapat meningkat signifikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Target ini dinilai realistis mengingat potensi produksi yang terus bertumbuh.

“Kami yakin dengan kolaborasi semua pihak, kopi Kuningan bisa menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Jawa Barat,” pungkas Wahyu.

Sebagai informasi, pengembangan komoditas pertanian di Jawa Barat juga menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Upaya serupa dilakukan di berbagai daerah untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.

Sementara itu, di sektor pemerintahan, berbagai program pengembangan masyarakat terus berjalan. Misalnya, Pemkot Cilegon Gelar Merdeka Bicara untuk menyerap aspirasi mahasiswa, sebuah langkah partisipatif dalam pembangunan daerah.

Di sisi lain, penegakan hukum juga berjalan tanpa pandang bulu. Seorang guru PNS dijatuhi hukuman 15 bulan penjara karena menjual sapi bantuan pemerintah, sebagaimana dilaporkan dalam berita terkait.

Dalam konteks olahraga, Pendaftaran Calon Ketua KONI Kabupaten Serang telah dibuka pada 28 April, menandai dinamika organisasi keolahragaan di tingkat kabupaten.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, prospek kopi Kuningan untuk menembus pasar ekspor semakin terbuka lebar. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendampingi petani hingga produk kopi lokal mampu bersaing di kancah internasional.