Category: Tekno

  • Malaysia Adopsi Sistem Pembayaran QR Serupa QRIS Indonesia

    Malaysia Adopsi Sistem Pembayaran QR Serupa QRIS Indonesia

    JBNews.id — Malaysia secara resmi mengadopsi sistem pembayaran QR terintegrasi yang menyerupai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) buatan Indonesia. Kebijakan ini tertuang dalam aturan Bank Negara Malaysia (BNM) yang menghapus jaringan pembayaran QR milik setiap penyedia secara bertahap dalam dua tahun ke depan.

    Melansir The Edge Malaysia, Selasa (10/7/2026), melalui dokumen kebijakan interoperable Fund Transfer Framework yang baru diterbitkan, seluruh jaringan QR proprietary wajib dihentikan selambat-lambatnya 30 Juni 2028. Selama masa transisi, lembaga keuangan terdampak dilarang merekrut merchant baru ke jaringan QR tertutup mereka.

    Aturan ini mewajibkan bank untuk menyediakan layanan pembayaran QR. Nasabah juga harus dapat melakukan pembayaran kepada merchant yang dilayani oleh seluruh acquirer yang berpartisipasi. Sistem ini disebut dengan Real-time Retail Payments Platform yang mendukung DuitNow Transfer dan DuitNow QR. Platform ini dioperasikan oleh Payments Network Malaysia Sdn Bhd (PayNet).

    Langkah ini diambil Malaysia seiring meningkatnya penggunaan layanan transfer dana secara elektronik. Menurut BNM, mobile banking telah menjadi kanal pembayaran favorit masyarakat dan mendorong adopsi transaksi digital secara berkelanjutan. Faktanya, setiap warga Malaysia rata-rata melakukan sedikitnya 1,5 transaksi pembayaran elektronik setiap hari.

    “Pencapaian ini ditopang oleh infrastruktur pembayaran bersama yang berfungsi sebagai jaringan interoperabilitas yang menghubungkan rekening bank dan rekening uang elektronik nonbank, baik untuk transfer dana antar rekening maupun pembayaran kepada merchant,” tulis bank sentral Malaysia. Lebih lanjut, QR universal ini diharapkan dapat membantu wisatawan asing yang berkunjung ke Malaysia.

    Di Indonesia, sistem QRIS sudah diperkenalkan pada 2019. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pelopor sistem pembayaran yang terintegrasi menjadi satu. Per pertengahan 2026, QRIS telah digunakan lebih dari 30 juta pedagang dan 45 juta pengguna aktif di seluruh Indonesia. QRIS juga telah digunakan lintas negara seperti Singapura, Malaysia, hingga Thailand. Baru-baru ini, QRIS sudah bisa dipakai di China. Sejak November 2023, QRIS telah terintegrasi dengan SGQR Singapura dan memudahkan pelancong dari Indonesia untuk bertransaksi di sana tanpa harus menukar uang ke dollar Singapura.

    Adopsi sistem serupa QRIS oleh Malaysia menegaskan posisi Indonesia sebagai pionir dalam inovasi pembayaran digital di kawasan Asia Tenggara. Langkah Negeri Jiran ini juga menunjukkan bahwa standar interoperabilitas yang diterapkan Indonesia menjadi acuan bagi negara tetangga.

    Kebijakan BNM ini bertujuan agar masyarakat menggunakan aplikasi bank atau dompet digital (ewallet) mana saja yang berpartisipasi untuk melakukan pembayaran dalam satu sistem. Dengan demikian, mereka tidak lagi bergantung pada sistem tertutup yang dioperasikan masing-masing penyedia layanan.

    Bagi pelaku industri teknologi dan keuangan di Indonesia, langkah Malaysia ini membuka peluang kerja sama lintas batas yang lebih luas. Sistem pembayaran yang kompatibel antarnegara akan memperkuat ekosistem digital regional dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

    Adopsi sistem pembayaran terintegrasi oleh Malaysia juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus mengembangkan kapabilitas QRIS. Dengan lebih dari 30 juta pedagang dan 45 juta pengguna aktif, QRIS telah menjadi tulang punggung transaksi digital di dalam negeri. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus mendorong inovasi dan memperluas jangkauan QRIS ke lebih banyak negara.

    Bagi pengguna di Indonesia, kabar ini menegaskan bahwa teknologi QRIS tidak hanya diakui secara domestik, tetapi juga menjadi standar yang diikuti oleh negara tetangga. Hal ini memudahkan wisatawan Indonesia saat bepergian ke luar negeri, terutama ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan China.

    Dari sisi bisnis, para pelaku UMKM yang telah mengadopsi QRIS akan mendapatkan keuntungan lebih karena sistem ini semakin diakui secara global. Integrasi lintas negara juga membuka peluang bagi merchant Indonesia untuk menjangkau wisatawan asing yang terbiasa dengan sistem pembayaran serupa.

    Secara keseluruhan, langkah Malaysia mengadopsi sistem pembayaran QR terintegrasi merupakan pengakuan terhadap inovasi teknologi Indonesia. Hal ini juga menunjukkan bahwa standar interoperabilitas yang diterapkan QRIS menjadi tolok ukur bagi pengembangan sistem pembayaran digital di kawasan.

    Dengan semakin banyaknya negara yang mengadopsi sistem serupa, ekosistem pembayaran digital di Asia Tenggara akan semakin terintegrasi. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan memudahkan transaksi lintas batas bagi masyarakat dan pelaku bisnis.

    Ke depannya, Indonesia perlu terus mempertahankan posisinya sebagai pionir dengan terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan QRIS. Kolaborasi dengan negara-negara lain dan pengembangan fitur-fitur baru akan menjadi kunci untuk menjaga daya saing sistem pembayaran nasional.

    Bagi masyarakat umum, perkembangan ini membawa dampak positif dalam kemudahan bertransaksi. Dengan sistem yang terintegrasi, pengguna tidak perlu lagi memiliki banyak aplikasi pembayaran yang berbeda. Cukup satu aplikasi yang terdaftar di sistem QRIS, semua transaksi dapat dilakukan dengan mudah.

    Di sisi lain, adopsi sistem serupa oleh Malaysia juga menjadi tantangan bagi industri teknologi Indonesia untuk terus berinovasi. Persaingan di kawasan akan semakin ketat, namun dengan fondasi yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap menjadi pemimpin dalam ekosistem pembayaran digital.

    Pemerintah dan regulator diharapkan terus mendukung pengembangan infrastruktur digital dan mendorong adopsi teknologi yang memudahkan masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, ekosistem pembayaran digital Indonesia akan semakin kuat dan diakui secara global.

    Kesimpulannya, langkah Malaysia mengadopsi sistem pembayaran QR serupa QRIS merupakan bukti nyata bahwa inovasi teknologi Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Hal ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan untuk terus berinovasi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat inovasi digital di Asia Tenggara.

  • Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen di 2025

    Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen di 2025

    JBNews.id — Microsoft kembali menghadapi tantangan serius dalam upayanya mencapai target iklim. Laporan keberlanjutan tahun 2026 yang dirilis perusahaan menunjukkan emisi karbon Microsoft meningkat 25 persen pada 2025, mencapai 34 juta metrik ton “tanpa intervensi tertentu.” Lonjakan ini terutama didorong oleh ekspansi infrastruktur pusat data perusahaan.

    Angka tersebut menjadi pukulan bagi ambisi Microsoft yang beberapa tahun lalu menetapkan target untuk menjadi carbon negative pada 2030. Artinya, perusahaan harus mampu menghilangkan lebih banyak emisi karbon daripada yang dihasilkannya. Sayangnya, laporan terbaru ini menegaskan bahwa jalan menuju target tersebut masih panjang dan penuh hambatan.

    Microsoft menjelaskan bahwa peningkatan emisi ini “didorong terutama oleh perluasan infrastruktur pusat data kami.” Faktor lainnya adalah keputusan perusahaan pada Februari lalu untuk berhenti membeli “sertifikat energi terbarukan yang tidak tambahan dan tidak terikat.”

    Ekspansi AI dan Pusat Data Jadi Penyebab Utama

    Laporan tahun ini secara terbuka mengakui bahwa, “Meskipun infrastruktur AI mendorong permintaan akan energi, air, lahan, dan material, solusi keberlanjutan tidak berkembang cukup cepat untuk memenuhi permintaan.” Pernyataan ini menjadi pengakuan eksplisit bahwa pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) yang pesat justru menjadi beban baru bagi target iklim perusahaan.

    Ini bukan pertama kalinya Microsoft mengalami kemunduran dalam mencapai tujuan iklimnya. Laporan keberlanjutan 2024 juga menunjukkan peningkatan serupa dalam polusi iklim. Pola ini mengindikasikan bahwa perusahaan teknologi raksasa itu belum menemukan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan komitmen lingkungan.

    Masalah pusat data Microsoft juga menjadi sorotan di berbagai wilayah. Di Wisconsin, warga bahkan mengajukan gugatan terkait kebisingan yang ditimbulkan oleh operasional pusat data Microsoft di daerah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dampak ekspansi pusat data tidak hanya soal emisi, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar.

    Perbandingan dengan Kompetitor

    Microsoft tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Google juga melaporkan lonjakan 25 persen dalam emisi rantai pasokannya pada laporan keberlanjutan 2026. Amazon melaporkan peningkatan yang sedikit lebih rendah, yaitu 16 persen. Pada Juni lalu, Amazon juga melaporkan bahwa pusat datanya menggunakan 2,5 miliar galon air pada 2025, yang menurut klaim mereka lebih rendah dari penggunaan air Microsoft.

    Data ini menunjukkan bahwa seluruh industri teknologi besar tengah bergulat dengan dilema yang sama: bagaimana terus mengembangkan infrastruktur digital tanpa mengorbankan komitmen iklim. Pertumbuhan AI yang eksplosif telah memicu kebutuhan komputasi yang sangat besar, yang pada gilirannya meningkatkan konsumsi energi dan emisi karbon secara signifikan.

    Sementara itu, Microsoft juga menghadapi tantangan internal lainnya. Perusahaan baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 4.800 karyawan di awal tahun fiskal baru. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang melakukan efisiensi di berbagai lini, meskipun investasi di bidang AI dan pusat data terus berjalan.

    Implikasi bagi Target Iklim Global

    Lonjakan emisi Microsoft ini memiliki implikasi yang lebih luas. Jika perusahaan teknologi terbesar di dunia kesulitan menekan emisi di tengah pertumbuhan AI, maka target iklim global yang lebih ambisius juga berpotensi terancam. Para pengamat lingkungan khawatir bahwa revolusi AI justru akan menjadi bumerang bagi upaya dekarbonisasi.

    Bagi pembaca, data ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Setiap layanan AI yang digunakan, setiap komputasi awan yang dijalankan, memiliki jejak karbon yang nyata. Pertanyaannya sekarang adalah apakah inovasi teknologi dapat mengejar ketertinggalannya dalam menyediakan solusi energi bersih yang dibutuhkan.

    Microsoft sendiri belum merinci langkah konkret apa yang akan diambil untuk membalikkan tren ini. Dengan target 2030 yang semakin dekat, perusahaan harus bergerak cepat jika ingin memenuhi komitmen yang telah dicanangkan beberapa tahun lalu. Sementara itu, pengguna dan investor akan terus mengawasi apakah raksasa teknologi ini mampu menepati janji iklimnya di tengah tekanan pertumbuhan bisnis.

  • Tecno Pova 8 5G Preorder Dibuka, Bonus hingga Rp21 Juta

    Tecno Pova 8 5G Preorder Dibuka, Bonus hingga Rp21 Juta

    JBNews.id — Tecno resmi membuka masa preorder Pova 8 5G di Indonesia pada 9 Juli 2026. Smartphone gaming ini akan meluncur pada 15 Juli 2026 dengan membawa baterai jumbo 8.000 mAh dan layar 144Hz. Selama periode preorder yang berlangsung hingga 20 Juli 2026, Tecno menawarkan berbagai promo menarik dengan total benefit mencapai Rp21 juta.

    Kepastian ini menandai langkah Tecno untuk memperkuat posisinya di segmen ponsel gaming entry-level. Sebelumnya, ponsel dengan kode model LK6 ini telah mengantongi sertifikasi TKDN dan Postel, menjadi sinyal kuat bahwa peluncurannya di Indonesia tinggal menghitung hari.

    Tecno menyiapkan berbagai keuntungan bagi konsumen yang melakukan pemesanan selama masa preorder. Mengutip akun media sosial Tecno Indonesia, total benefit yang ditawarkan mencapai hingga Rp21 juta melalui program lucky draw dan promo khusus.

    Berikut keuntungan yang bisa didapatkan:

    • Benefit promo dan lucky draw senilai hingga Rp21 juta
    • Voucher potongan harga Rp300.000
    • Tecno Watch 3 Active gratis untuk 3.000 pembeli pertama
    • DP mulai Rp200.000
    • Harga setelah voucher mulai dari Rp3 jutaan, tergantung varian

    Program preorder tersedia secara online maupun offline melalui mitra resmi Tecno di Indonesia hingga 20 Juli 2026 atau selama persediaan masih tersedia.

    Spesifikasi Unggulan

    Meski harga resminya baru akan diumumkan saat peluncuran, spesifikasi Tecno Pova 8 5G sudah lebih dulu terungkap karena perangkat ini telah meluncur di India. Ponsel ini tampil dengan desain futuristis yang terinspirasi pesawat luar angkasa. Bagian belakangnya dilengkapi Alive Matrix Display, panel LED yang dapat menampilkan notifikasi, animasi, hingga efek pencahayaan interaktif.

    Di sektor performa, Tecno Pova 8 5G ditenagai chipset MediaTek Dimensity 7100 berfabrikasi 6 nm. Chipset tersebut dipadukan dengan dua chip tambahan, yakni G1 Signal Enhancement dan SE1 Wi-Fi Enhancement, untuk meningkatkan kestabilan sinyal seluler maupun WiFi saat bermain game. Performa ini selaras dengan teknologi smartphone masa depan yang terus dikembangkan oleh MediaTek.

    Layarnya menggunakan panel IPS LCD 6,76 inci beresolusi Full HD+ (1080 x 2344 piksel) dengan refresh rate 144Hz, touch sampling rate 240Hz, serta sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light sehingga menjanjikan pengalaman gaming dan scrolling yang mulus.

    Daya tahan menjadi salah satu keunggulan utamanya. Tecno membekali Pova 8 5G dengan baterai berkapasitas 8.000 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga dua hari penggunaan normal. Pengisian dayanya didukung fast charging 45W, yang mampu mengisi baterai dari 1% ke 50% dalam waktu sekitar 35 menit, serta reverse charging 10W untuk mengisi daya perangkat lain.

    Tecno Pova 8 5G

    Di sektor kamera, tersedia kamera utama 50 MP Sony LYT-600 dengan PDAF dan dukungan 2x lossless zoom. Sementara kamera depannya beresolusi 13 MP, dengan kemampuan merekam video hingga resolusi 2K.

    Fitur pendukung lainnya juga tergolong lengkap, mulai dari stereo speaker Dolby Atmos, NFC, IR Blaster, sensor sidik jari di samping, sertifikasi IP64 tahan debu dan percikan air, hingga sistem operasi HiOS 16 berbasis Android 16. Tecno Pova 8 5G akan tersedia dalam empat pilihan warna, yakni Arc White, Graphite Black, Echo Green, dan Helios Orange.

    Dengan spesifikasi dan bonus preorder yang menggiurkan, Tecno Pova 8 5G menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mencari ponsel gaming dengan daya tahan baterai ekstra dan fitur lengkap di kelas harga menengah. Bagi yang tertarik dengan inovasi desain Tecno, Tecno Camon Slim juga menawarkan pendekatan desain yang berbeda dengan bodi super tipis 6,39 mm.

    Implikasi dari peluncuran ini cukup jelas: Tecno semakin agresif menggarap pasar ponsel gaming di Indonesia. Dengan baterai 8.000 mAh yang menjadi standar baru di kelasnya, konsumen kini memiliki opsi lebih untuk bermain game dalam waktu lama tanpa khawatir kehabisan daya.

  • Peta Penguasaan Frekuensi Telkomsel, Indosat, XLSmart

    Peta Penguasaan Frekuensi Telkomsel, Indosat, XLSmart

    JBNews.id — Tiga operator seluler terbesar di Indonesia, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart, saat ini tengah bersaing ketat dalam lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Persaingan ini terjadi di tengah kebutuhan akan spektrum yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas layanan 4G dan 5G di tanah air.

    Bagi operator seluler, spektrum frekuensi merupakan aset paling berharga. Semakin besar dan merata kepemilikan frekuensi, semakin besar pula kemampuan operator menghadirkan layanan internet yang cepat dan berkualitas. Saat ini, peta penguasaan spektrum dari ketiga operator tersebut cukup bervariasi.

    Kepemilikan Spektrum Telkomsel

    Telkomsel saat ini mengoperasikan spektrum di beberapa pita frekuensi dengan total bandwidth mencapai 165 MHz. Rinciannya meliputi pita 900 MHz dengan lebar pita 30 MHz, pita 1.800 MHz dengan lebar pita 45 MHz, pita 2,1 GHz dengan lebar pita 40 MHz, dan pita 2,3 GHz dengan lebar pita 50 MHz.

    Kepemilikan Spektrum XLSmart

    Sementara itu, XLSmart saat ini menguasai total bandwidth sebesar 152 MHz. Operator ini memiliki spektrum di pita 800 MHz dengan lebar 22 MHz, pita 900 MHz dengan lebar 15 MHz, pita 1.800 MHz dengan lebar 45 MHz, pita 2,1 GHz dengan lebar 30 MHz, dan pita 2,3 GHz dengan lebar 40 MHz. Perlu dicatat, spektrum di pita 900 MHz milik XLSmart akan dikembalikan ke negara pasca merger paling lambat 14 Desember 2026.

    Kepemilikan Spektrum Indosat Ooredoo Hutchison

    Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menguasai spektrum di pita 900 MHz dengan lebar pita 25 MHz, pita 1.800 MHz dengan lebar pita 60 MHz, dan pita 2,1 GHz dengan lebar pita 50 MHz. Total bandwidth yang dimiliki IOH saat ini adalah 135 MHz.

    Ketiga operator seluler tersebut saat ini sedang berebut blok kosong di lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar Komdigi. Dalam lelang frekuensi 700 MHz, Komdigi membuka pemanfaatannya di rentang 703-738 MHz (uplink) yang berpasangan dengan 758-793 MHz (downlink) dengan total lebar pita 70 MHz. Sebagai pita frekuensi rendah, spektrum ini punya keunggulan sinyal lebih luas dan kemampuan penetrasi lebih baik ke dalam gedung maupun berbagai kondisi geografis.

    Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz merupakan pita frekuensi menengah yang memiliki kapasitas lebih besar untuk menampung trafik data tinggi. Frekuensi ini cocok digunakan di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan memiliki kebutuhan internet besar, seperti kawasan bisnis, pusat perbelanjaan, kampus, hingga area industri. Total lebar pita yang dilelang di spektrum ini mencapai 190 MHz.

    Dengan penambahan spektrum setelah lelang di kedua pita ini, total bandwidth yang digunakan operator seluler diperkirakan mencapai 712 MHz. Namun, jika dilihat dari karakteristik 6G yang membutuhkan minimal lebar pita 200 MHz, maka tidak ada operator seluler RI yang mampu menghadirkan 6G dalam waktu dekat. Hal ini membutuhkan spektrum terbaru lagi yang lebar pitanya lebih besar.

    “Nggak ada satu pita frekuensi yang contiguous, paling besar itu adalah lelang sekarang itu di 2,6 GHz itu nggak sampai 200 MHz. Jadi, kalau buat 6G itu nggak sampai buat satu operator,” tutur Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital, Kementerian Komdigi, Adis Alifiawan di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

    Kendati begitu, baik sokongan spektrum di frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz ini cocok untuk meningkatkan kualitas layanan 4G dan juga 5G di Indonesia. Bagi masyarakat Jawa Barat dan Banten, pengembangan ini menjadi kabar baik karena berpotensi meningkatkan kualitas sinyal dan kecepatan internet di wilayah tersebut, terutama di daerah perkotaan seperti Bandung, Bekasi, dan Tangerang.

    Implikasi dari lelang ini sangat jelas: dalam waktu dekat, pengguna bisa menikmati layanan 4G dan 5G yang lebih stabil. Namun, untuk teknologi 6G, Indonesia masih perlu menunggu alokasi spektrum baru dengan lebar pita yang lebih besar.

    Potensi peningkatan kualitas sinyal dan kecepatan internet di wilayah Jawa Barat dan Banten menjadi angin segar bagi para pengguna. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan teknologi, Anda dapat menyimak berita tentang Game Petak Umpet Viral yang sedang tren.

  • Google Wajibkan Label AI pada Iklan via My Ad Center

    Google Wajibkan Label AI pada Iklan via My Ad Center

    JBNews.id — Google menghadirkan label baru bertuliskan “created or edited with AI” pada bagian “how this ad was made” di My Ad Center. Langkah ini merupakan kebijakan transparansi yang mewajibkan pengiklan untuk mengungkapkan penggunaan kecerdasan buatan dalam pembuatan iklan. Pengguna dapat melihat informasi ini dengan mengetuk ikon titik tiga atau tombol info pada iklan yang muncul di Google Search, Google Discover, dan YouTube.

    Kebijakan yang diumumkan pada Kamis lalu ini menjadi bagian dari upaya Google untuk meningkatkan transparansi iklan digital. Label AI tersebut akan otomatis diterapkan pada iklan yang dibuat menggunakan alat periklanan berbasis AI milik Google sendiri. Sementara itu, untuk iklan yang menggunakan AI dari platform lain, pengiklan diwajibkan untuk menambahkan label secara manual.

    Google menyatakan bahwa label AI ini juga akan muncul langsung pada iklan di beberapa wilayah tertentu. Penerapan label langsung pada iklan ini bisa terjadi secara otomatis atau ketika pengiklan secara sukarela mengungkapkan bahwa iklan mereka dibuat dengan AI. Langkah ini sejalan dengan tren regulasi global yang semakin ketat terhadap konten berbasis AI.

    Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, juga telah menerapkan kebijakan serupa dengan label “AI info” pada panel “About this ad” di platform mereka. Sebelumnya, Google sudah memperkenalkan pengungkapan untuk konten sintetis atau yang diubah secara digital pada iklan politik pada tahun 2024.

    Langkah Google ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap transparansi di tengah maraknya penggunaan AI dalam pembuatan konten. Perusahaan juga telah memperluas akses ke SynthID dan label konten C2PA awal tahun ini, yang dapat digunakan untuk mendeteksi konten deepfake.

    Kebijakan label AI pada iklan ini menjadi penting bagi pengguna yang ingin mengetahui apakah konten yang mereka lihat dibuat atau diedit menggunakan kecerdasan buatan. Dengan adanya label ini, pengguna dapat membuat keputusan yang lebih informasi tentang iklan yang mereka konsumsi. Hal ini juga membantu mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan melalui iklan yang dimanipulasi secara digital.

    Google menjelaskan bahwa fitur ini dapat diakses melalui menu My Ad Center yang sudah tersedia bagi pengguna. Dengan mengetuk ikon titik tiga atau tombol info pada iklan, pengguna akan melihat panel yang sama yang digunakan untuk memblokir atau melaporkan iklan. Di panel inilah informasi label AI akan ditampilkan di bawah tab “how this ad was made”.

    Penerapan label AI ini merupakan bagian dari strategi Google untuk membangun kepercayaan pengguna terhadap ekosistem periklanannya. Perusahaan raksasa teknologi ini menyadari bahwa penggunaan AI dalam pembuatan iklan dapat menimbulkan kekhawatiran tentang keaslian konten. Oleh karena itu, langkah transparansi ini diharapkan dapat mengurangi potensi penyalahgunaan teknologi AI dalam iklan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Google telah aktif mengembangkan alat untuk mendeteksi dan memberi label pada konten yang dibuat oleh AI. Salah satu alat yang digunakan adalah SynthID, yang dikembangkan oleh DeepMind, divisi AI Google. Alat ini dapat menyisipkan tanda air digital pada konten yang dibuat oleh AI sehingga mudah diidentifikasi.

    Selain SynthID, Google juga menggunakan standar C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity) untuk melacak asal-usul konten digital. Standar ini memberikan informasi tentang bagaimana konten dibuat, termasuk apakah konten tersebut dibuat atau dimodifikasi menggunakan AI. Dengan memperluas akses ke alat-alat ini, Google berharap dapat membantu pengguna dan pembuat konten untuk lebih mudah mengidentifikasi konten yang dihasilkan oleh AI.

    Kebijakan label AI pada iklan ini juga relevan dengan upaya Google untuk menangani masalah deepfake. Deepfake adalah konten yang dibuat dengan AI yang dapat memanipulasi video atau audio seseorang sehingga tampak seperti asli. Dengan adanya label AI pada iklan, pengguna dapat lebih waspada terhadap konten yang mungkin merupakan deepfake.

    Google juga telah menerapkan kebijakan serupa untuk iklan politik sejak tahun 2024. Iklan politik yang mengandung konten sintetis atau yang diubah secara digital diwajibkan untuk mencantumkan pengungkapan. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan dalam konteks politik, terutama menjelang pemilu.

    Dengan diperluasnya kebijakan ini ke semua jenis iklan, Google berharap dapat menciptakan lingkungan periklanan yang lebih transparan dan dapat dipercaya. Pengguna kini memiliki alat untuk mengetahui apakah iklan yang mereka lihat dibuat dengan bantuan AI, sehingga mereka dapat mengevaluasi konten tersebut dengan lebih kritis.

    Para pengiklan juga diuntungkan dengan kebijakan ini karena mereka dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap transparansi kepada konsumen. Dengan secara sukarela mengungkapkan penggunaan AI dalam iklan mereka, pengiklan dapat membangun kepercayaan dengan audiens mereka.

    Namun, kebijakan ini juga menimbulkan tantangan bagi pengiklan yang menggunakan alat AI dari pihak ketiga. Mereka harus secara manual menambahkan label AI pada iklan mereka, yang mungkin memerlukan penyesuaian dalam proses produksi iklan. Google sendiri akan memberikan panduan tentang cara menambahkan label AI ini.

    Secara keseluruhan, langkah Google ini merupakan perkembangan positif dalam upaya meningkatkan transparansi di era digital. Dengan semakin canggihnya teknologi AI, penting bagi perusahaan teknologi untuk mengambil langkah-langkah yang melindungi konsumen dari potensi penyalahgunaan. Label AI pada iklan adalah salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut.

    Bagi pengguna, fitur ini memberikan kontrol lebih besar atas pengalaman mereka saat melihat iklan. Mereka dapat memilih untuk memblokir atau melaporkan iklan yang dianggap tidak sesuai, selain juga mengetahui apakah iklan tersebut dibuat dengan AI. Ini adalah langkah maju dalam memberdayakan pengguna di era konten digital yang semakin kompleks.

    Google berencana untuk terus mengembangkan fitur ini dan memperluas penerapannya ke lebih banyak wilayah dan platform. Perusahaan juga akan terus bekerja sama dengan regulator dan organisasi industri untuk memastikan bahwa kebijakan ini selaras dengan standar global yang berlaku.

    Dengan adanya kebijakan label AI ini, Google berharap dapat menjadi pemimpin dalam transparansi iklan digital. Perusahaan menunjukkan bahwa mereka serius dalam menangani masalah yang muncul dari penggunaan AI dalam pembuatan konten, dan berkomitmen untuk melindungi kepentingan pengguna.

  • Kesalahan Kamera Flock Buat Warga Dikepung Polisi Bersenjata

    Kesalahan Kamera Flock Buat Warga Dikepung Polisi Bersenjata

    **JBNews.id —** Seorang jurnalis otomotif bersama istrinya dikepung empat mobil polisi bersenjata saat test drive mobil di Minnesota, Amerika Serikat, akibat kesalahan sistem kamera pengawas Flock yang salah mengidentifikasi kendaraannya sebagai mobil curian. Insiden ini mengungkap celah serius dalam sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kini telah menjangkau hampir seluruh wilayah Amerika Serikat.

    Joel Feder, jurnalis dari The Drive, mengalami pengalaman mencekam saat tengah menjajal mobil Range Rover bersama istrinya di wilayah Plymouth, Minnesota. Tanpa peringatan, empat mobil patroli melakukan manuver terkoordinasi untuk memepet kendaraannya. Ketika Feder meminta penjelasan, petugas mengatakan bahwa mereka telah melacaknya selama berhari-hari menggunakan kamera Flock yang terintegrasi AI.

    “Baik Anda benar-benar mencuri mobil atau sekadar berkendara tanpa melakukan kesalahan apa pun, seperti saya, begitu sistem ini membidik Anda, hampir pasti hanya satu jalan yang bisa ditempuh,” tulis Feder dalam laporannya. “Selamat datang di masa depan. Menakutkan di sini.”

    Kejadian ini menjadi contoh mencolok betapa luasnya jangkauan sistem pengawasan kontroversial tersebut dan betapa rapuhnya kesimpulan yang dihasilkan oleh teknologinya. Saat berada di lokasi kejadian — tepatnya di parkiran Kohl’s — polisi menjelaskan bahwa plat nomor Range Rover Feder dilaporkan dicuri oleh dealer di Los Angeles.

    Bagi Feder, ini “sama sekali tidak masuk akal” karena perusahaan mobil sangat teliti dalam meminjamkan kendaraan kepada awak media. Salah satu petugas menunjukkan foto yang diambil kamera Flock di aplikasi mereka yang memperlihatkan SUV Feder dengan plat nomor 34 10 DTM, mengonfirmasi bahwa mereka telah menangkap mobil yang benar — setidaknya menurut sistem Flock.

    Namun, ketika Feder menghubungi Jaguar Land Rover, pabrikan mobil tersebut mengatakan bahwa plat nomor yang dilaporkan adalah 34 03 DTM, bukan 34 10 DTM. Pada plat nomor New Jersey, angka tengah ditulis lebih kecil dari yang lain, dan entah bagaimana, nomor yang dimasukkan ke sistem Flock tercatat sebagai 34 DTM. Hal ini membuat sistem AI Flock kacau balau.

    “Sistem itu tidak mendaftarkan nomor kecil non-standar ketika mulai mendeteksi Range Rover di sekitar kota,” tulis Feder. “Ia hanya melihat 34 DTM dalam huruf besar dan mulai memberi peringatan kepada polisi setempat.”

    Karena jaringan pengawasan Flock sangat luas, kesalahan ini menjadi masalah nasional. “Di mana pun departemen kepolisian bermitra dengan Flock,” tulis Feder, “mobil JLR lain dengan struktur plat yang sama akan ditandai sebagai curian.” Belakangan, Feder menemukan bahwa mobil yang dicari sebenarnya tidak dicuri; plat nomornya tidak sengaja salah tempat saat sesi pemotretan.

    Jaringan Pengawasan yang Meluas

    Flock telah melonjak menjadi perhatian nasional dalam setahun terakhir, dengan departemen kepolisian di seluruh negeri bermitra dengan perusahaan tersebut untuk menggunakan pembaca plat nomor dan kamera video yang dapat melacak kendaraan dan pejalan kaki. Kamera ini sering berbentuk tiang menjulang tinggi, seolah-olah Flock ingin warga tahu bahwa mereka sedang diawasi. Kehadirannya yang sangat terlihat telah menjadi pemicu kekhawatiran publik tentang privasi, pengawasan, dan pelanggaran wewenang polisi.

    Warga telah memprotes keras pemasangan kamera Flock, bahkan membanjiri pertemuan dewan kota. Yang lain memilih untuk menutupi kamera dengan kantong sampah atau merusaknya. Bulan lalu, seorang insinyur Angkatan Udara AS mendapat simpati publik setelah didakwa memotong lebih dari selusin kamera Flock, dengan halaman GoFundMe untuk pembelaan hukumnya dengan cepat mengumpulkan puluhan ribu dolar.

    Selain luas, kamera Flock terhubung ke jaringan terpusat, yang berarti rekaman yang mereka kumpulkan dapat dengan mudah diakses oleh polisi tanpa pengawasan ketat. Flock dan departemen kepolisian berargumen bahwa kamera hanya akan digunakan untuk menyelidiki kejahatan serius, tetapi sudah ada banyak kasus polisi yang ditangkap karena menggunakan Flock untuk menguntit perempuan. Investigasi tahun lalu mengungkapkan bahwa ICE (Imigrasi dan Bea Cukai) menyusup ke jaringan Flock untuk melakukan pencarian.

    Jangkauan Flock sudah begitu luas sehingga dalam kasus Feder, ia diperingatkan untuk langsung pulang dan tidak melintasi kota tetangga — karena kamera Flock di sana juga akan salah menandai mobilnya dan mengirim polisi untuk mengejarnya. “Kamu beruntung berada di Plymouth,” kata petugas yang memperingatkannya. “Jika kamu di Minneapolis, mereka pasti akan mendatangimu dengan senjata terhunus.”

    Implikasi Sistem yang Gagal

    Kasus ini menyoroti bahaya laten dari sistem pengawasan massal yang tidak memiliki mekanisme verifikasi yang memadai. Kesalahan kecil dalam entri data — seperti nomor plat yang tidak terbaca sempurna — dapat berakibat fatal bagi warga yang tidak bersalah. Dalam kasus Feder, kesalahan itu berarti dikepung polisi bersenjata di siang bolong, di hadapan istrinya.

    Yang lebih mengkhawatirkan, sistem Flock tidak memiliki mekanisme untuk mengoreksi diri sendiri. Bahkan setelah polisi di Plymouth menyadari kesalahan tersebut, Feder diperingatkan untuk tidak melintas ke kota lain karena sistem yang sama akan kembali menandai mobilnya. Ini menunjukkan bahwa teknologi pengawasan yang salah dapat menciptakan efek domino yang sulit dihentikan.

    Bagi warga biasa, implikasi dari kasus ini jelas: sistem pengawasan yang diiklankan sebagai alat penegakan hukum yang canggih ternyata memiliki celah fatal yang dapat menjerat siapa saja. Tidak ada jaminan bahwa sistem AI yang salah membaca data tidak akan menarget Anda berikutnya. Di era di mana kamera pengawas ada di mana-mana dan data dibagikan lintas yurisdiksi, satu kesalahan kecil bisa berarti pertemuan yang mengancam jiwa dengan aparat bersenjata.

    Insiden ini juga memicu pertanyaan mendasar tentang akuntabilitas perusahaan teknologi yang memasok sistem pengawasan ke lembaga penegak hukum. Siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma AI salah mengidentifikasi warga negara yang tidak bersalah? Dan seberapa besar kerusakan yang harus terjadi sebelum ada tindakan korektif yang berarti?

    Feder sendiri, meskipun selamat tanpa cedera fisik, harus hidup dengan trauma psikologis dari pengalaman dikepung polisi bersenjata karena kesalahan sistem. “Selamat datang di masa depan,” tulisnya. “Menakutkan di sini.”

  • Masa Cuti Medis Eksekutif OpenAI yang Kembali Bekerja

    Masa Cuti Medis Eksekutif OpenAI yang Kembali Bekerja

    JBNews.id — Mira Murati, mantan Chief Technology Officer (CTO) OpenAI, kembali aktif bekerja di perusahaan kecerdasan buatan tersebut setelah menjalani cuti medis selama tiga bulan akibat penyakit kronis yang dideritanya. Kepulangan Murati menandai babak baru dalam struktur kepemimpinan OpenAI yang tengah bersiap menuju IPO pada 2027.

    Murati mengumumkan keputusannya untuk kembali melalui sebuah unggahan di platform X pada Kamis pekan lalu. “Tiga bulan lalu, saya harus mengambil cuti medis setelah mengalami eksaserbasi parah dari penyakit kronis yang sudah saya jalani selama tujuh tahun,” tulisnya. Ia menjelaskan bahwa masa pemulihan ternyata lebih panjang dan kompleks dari perkiraan awal, sehingga ia perlu fokus penuh pada kesehatannya.

    Murati bergabung dengan dewan direksi OpenAI pada Maret 2024. Setahun kemudian, CEO Sam Altman merekrutnya untuk memimpin organisasi produk dan bisnis agar Altman dapat fokus pada riset dan pembangunan pusat data perusahaan. Sebelum bergabung dengan OpenAI, Murati menjabat sebagai CEO Instacart dan kepala aplikasi Facebook di Meta.

    Kronologi Cuti Medis dan Dampaknya pada Organisasi

    Sesaat sebelum memulai pekerjaannya di OpenAI, Murati mengalami kekambuhan kesehatan yang signifikan. Ia didiagnosis menderita sindrom takikardia postural (POTS) pada 2019. Dalam memo internal yang dikirimkan kepada staf OpenAI pada April lalu, Murati mengakui bahwa ia telah menunda berbagai tes medis dan terapi baru untuk tetap fokus bekerja tanpa absen sehari pun. “Sekarang jelas bahwa saya sudah memaksakan diri terlalu jauh dan benar-benar perlu mencoba intervensi baru untuk menstabilkan kesehatan saya,” tulisnya dalam memo tersebut.

    Kepergian Murati terjadi di tengah gejolak eksekutif yang lebih besar di OpenAI. Brad Lightcap, mantan COO OpenAI, beralih peran menjadi pengawas proyek-proyek khusus. Presiden dan salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, mengambil alih strategi produk perusahaan. Dalam beberapa bulan sejak Murati mundur, OpenAI kembali merombak tim produknya dengan menempatkan Thibault Sottiaux sebagai kepala produk inti perusahaan, termasuk ChatGPT.

    Strategi Fokus Produk Menjelang IPO

    Openai saat ini berusaha berkonsentrasi pada beberapa produk inti menjelang rencana IPO yang diperkirakan akan datang pada 2027. Perusahaan dilaporkan menargetkan valuasi sebesar US$1 triliun. Sebagai bagian dari strategi fokus ini, OpenAI telah menggabungkan tim yang mengerjakan ChatGPT, browser bertenaga AI, dan agen pengkodean AI untuk membangun sebuah “superapp.” Perusahaan juga telah menutup proyek-proyek yang dianggap terlalu menyebar seperti Sora.

    Pada Kamis pekan lalu, OpenAI meluncurkan pembaruan produk terbesar untuk ChatGPT sejak perilisannya. Perusahaan meluncurkan agen AI di ChatGPT yang dapat mengambil tindakan atas nama pengguna, memindahkan file lokal, dan menulis kode. OpenAI juga mendesain ulang tampilan aplikasi desktopnya. Dengan produk yang diperbarui ini, OpenAI berharap dapat memberikan fitur-fitur kepada pengguna ChatGPT yang sebelumnya terbatas pada Codex, seperti kemampuan untuk membuat proyek perangkat lunak khusus dengan AI.

    Langkah Murati kembali bekerja terjadi di saat krusial bagi OpenAI. Perusahaan tidak hanya bersiap untuk IPO tetapi juga menghadapi persaingan ketat di industri AI. Keputusan Murati untuk kembali menunjukkan komitmennya terhadap perusahaan meskipun harus menghadapi tantangan kesehatan yang serius. Sumber internal menyebutkan bahwa Murati akan kembali memimpin tim produk dan bisnis dengan dukungan penuh dari manajemen puncak.

    Para analis industri menilai bahwa kembalinya Murati memberikan stabilitas bagi OpenAI di tengah transisi kepemimpinan yang kompleks. “Murati adalah figur kunci yang memahami DNA produk OpenAI,” ujar seorang pengamat industri yang enggan disebutkan namanya. “Kepulangannya bisa menjadi katalis positif menjelang IPO.”

    Dalam pernyataan terpisah, CEO Sam Altman menyambut baik kepulangan Murati. “Mira adalah salah satu pemimpin terbaik yang pernah bekerja dengan saya. Saya senang dia kembali dan kami akan terus membangun masa depan AI bersama,” kata Altman melalui pernyataan resmi perusahaan.

    OpenAI juga tengah mempersiapkan infrastruktur teknis yang lebih besar. Perusahaan baru-baru ini merilis chip Jalapeno untuk menyaingi Nvidia Blackwell, sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok chip eksternal. Selain itu, OpenAI juga meluncurkan Patch the Planet untuk meningkatkan keamanan open source, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap ekosistem AI yang lebih aman.

    Meskipun demikian, tantangan tetap ada. Persaingan dengan perusahaan seperti Google dan Anthropic semakin ketat. Google baru-baru ini menginvestasikan Rp1,2 triliun di A24, sementara Amazon menghentikan produksi film dokumenter tentang OpenAI. Situasi ini menunjukkan bahwa lanskap industri AI terus berubah dengan cepat.

    Bagi pengguna dan investor, kembalinya Murati menandakan bahwa OpenAI berusaha menjaga stabilitas internal sambil terus berinovasi. Dengan fokus pada produk inti dan persiapan IPO, perusahaan tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mencapai valuasi triliunan dolar yang telah ditargetkan.

  • China dan Jepang Berlomba Jelajahi Asteroid, Indonesia?

    China dan Jepang Berlomba Jelajahi Asteroid, Indonesia?

    JBNews.id — China dan Jepang sukses mengirim wahana antariksa mereka mendekati dua asteroid berbeda hanya dalam selang waktu tiga hari, menandai babak baru dalam eksplorasi luar angkasa global. China National Space Administration (CNSA) mengonfirmasi wahana Tianwen-2 tiba di asteroid Kamo’oalewa pada 2 Juli 2026, disusul Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) yang mendaratkan Hayabusa2 di asteroid Torifune pada 5 Juli 2026.

    Pencapaian ini menunjukkan dominasi teknologi antariksa kedua negara Asia di tengah meningkatnya minat global terhadap eksplorasi asteroid. Tianwen-2 menempuh perjalanan selama kurang lebih 400 hari untuk mencapai Kamo’oalewa, asteroid sepanjang 91 meter yang sering disebut sebagai “Bulan kedua Bumi.” Wahana tersebut berhasil mendekati asteroid hingga jarak 19 kilometer.

    Xinhua, kantor berita China, membagikan foto pertama asteroid Kamo’oalewa pada Senin (6/7). Ilmuwan China menggunakan data navigasi selama proses pendekatan untuk menyempurnakan informasi orbit asteroid, yang saat itu berjarak sekitar 41 juta kilometer dari Bumi.

    Asteroid Kamo'oalewa yang dikunjungi wahana asteroid China Tianwen-2

    Kamo’oalewa, yang berarti “benda langit yang terombang-ambing” dalam bahasa Hawaii, tidak mengorbit Bumi secara langsung. Namun, asteroid ini menempuh jalur orbit yang sama seperti Bumi, sehingga kerap dijuluki bulan kedua. Beberapa astronom berpendapat Kamo’oalewa mungkin dulunya merupakan pecahan Bumi kuno yang tercipta dari tumbukan jutaan tahun lalu.

    Setelah mempelajari Kamo’oalewa selama beberapa bulan, tim misi Tianwen-2 akan mencoba mengumpulkan sampel dan membawanya kembali ke Bumi. Jika berhasil, China akan menjadi negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Jepang yang berhasil membawa pulang puing-puing asteroid. Dalam konteks ini, perkembangan AI China turut mendukung kemampuan analisis data navigasi yang presisi.

    Sementara itu, JAXA mengirimkan Hayabusa2 ke asteroid Torifune yang memiliki panjang 457 meter. Wahana ini tiba di tujuannya pada 5 Juli, saat asteroid berjarak 99 juta kilometer dari Bumi. Bagi Hayabusa2, perjalanan ke Torifune merupakan perpanjangan misi. Diluncurkan pada 2014, Hayabusa2 sebelumnya pernah mengunjungi asteroid Ryugu dan berhasil membawa sampel ke Bumi pada 2020.

    Asteroid Torifune yang dikunjungi wahana Hayabusa2 milik Jepang

    JAXA mengatakan tim teknisinya menggunakan kombinasi tracking gambar dan radio untuk memandu Hayabusa2 mendekati targetnya. Teknologi ini memungkinkan navigasi yang sangat akurat meskipun jarak tempuh mencapai puluhan juta kilometer. Inovasi serupa juga terlihat pada Model AI China yang mampu memproses data kompleks untuk keperluan eksplorasi.

    Misi Berikutnya: Target Baru di Luar Angkasa

    Setelah mencapai tujuannya masing-masing, kedua misi akan langsung bergerak mengunjungi target lain. JAXA berencana mengirimkan Hayabusa2 dalam perjalanan berdurasi lima tahun ke asteroid 1998 KY26. Sementara itu, China berencana mengirimkan Tianwen-1 ke komet 311P yang jaraknya lebih jauh dari Mars.

    Keberhasilan ini menunjukkan betapa seriusnya kedua negara dalam menguasai teknologi eksplorasi asteroid. Jepang sudah memiliki rekam jejak panjang melalui misi Hayabusa dan Hayabusa2, sementara China terus mengejar ketertinggalan dengan misi Tianwen yang ambisius. Persaingan ini juga mendorong inovasi di sektor terkait, seperti SSD China yang mulai digunakan pada perangkat komersial.

    Bagi Indonesia, capaian ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi di bidang sains dan teknologi antariksa. Meskipun belum memiliki program eksplorasi asteroid mandiri, kolaborasi internasional bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk turut serta dalam riset luar angkasa global. Semoga suatu saat Indonesia juga bisa seperti ini.

    [CONTENT_END]

  • Polusi Dahsyat Pusat Data AI di Texas Setara Jutaan Mobil

    Polusi Dahsyat Pusat Data AI di Texas Setara Jutaan Mobil

    JBNews.id — Gelombang besar pembangunan pusat data bertenaga bahan bakar fosil di Amerika Serikat menghasilkan polusi dalam jumlah yang sangat besar, menandakan arah yang salah di tengah krisis iklim global. Texas telah menjadi episentrum dari fenomena ini, dengan perusahaan-perusahaan teknologi mengeksploitasi celah regulasi untuk membangun fasilitas yang ditenagai oleh pembangkit listrik gas di lokasi yang menghasilkan polusi masif.

    Temuan investigasi terbaru dari kelompok aksi iklim Floodlight, yang disorot oleh Wired, mengungkapkan skala pencemaran yang sulit dipahami. Laju pertumbuhan “jaringan bayangan” pembangkit listrik khusus ini sangat besar. Menurut kelompok lingkungan Global Energy Monitor, satu-satunya entitas global yang memasang lebih banyak gigawatt pembangkit listrik gas daripada Texas saat ini hanyalah China. Fakta ini menunjukkan betapa seriusnya dampak lingkungan dari ekspansi pusat data AI yang tengah berlangsung.

    Para ilmuwan masih berupaya memahami jejak lingkungan dari obsesi baru terhadap kecerdasan buatan ini. Peneliti Cornell menemukan bahwa pada tingkat pertumbuhan AI saat ini, industri yang sedang berkembang ini dapat menghasilkan emisi karbon dioksida sebesar 24 hingga 44 juta metrik ton pada tahun 2030. Jumlah tersebut setara dengan menambahkan lima hingga sepuluh juta mobil ke jalan raya Amerika Serikat. Angka ini memberikan gambaran nyata tentang besarnya tantangan lingkungan yang dihadirkan oleh teknologi AI.

    Salah satu contoh paling mencolok adalah proyek di Abilene, Texas, yang menjadi titik awal proyek Stargate senilai $500 miliar milik Presiden Donald Trump. Fasilitas proyek ini memiliki 62 generator diesel cadangan, menjadikannya jauh lebih besar daripada proyek kecil yang biasanya hanya menggunakan satu atau dua generator. Ironisnya, proyek-proyek semacam ini mendapatkan izin lingkungan yang biasanya diperuntukkan bagi usaha kecil seperti pompa bensin atau binatu.

    Menurut Floodlight, setidaknya 38 pusat data di Texas menggunakan celah regulasi serupa untuk mendapatkan izin bagi sumber daya listrik di lokasi mereka. Praktik ini mewakili lebih dari 2.100 generator diesel cadangan dengan emisi tahunan mencapai 2.500 ton nitrogen oksida, yang merupakan gas beracun dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Jumlah polutan ini menunjukkan betapa besarnya dampak yang diabaikan oleh regulator.

    Salah satu taktik umum yang digunakan operator di Texas, menurut temuan Floodlight, adalah mengumumkan pengembangan pusat data skala kecil yang berada di bawah ambang batas polusi. Namun, setelah izin diperoleh, mereka tiba-tiba memperluas fasilitas tersebut secara drastis. Praktik ini mengeksploitasi celah dalam sistem perizinan yang tidak dirancang untuk mengakomodasi proyek sebesar pusat data modern.

    Bagi warga setempat, kondisi ini sudah terlambat untuk ditentang. “Satu-satunya kesempatan untuk menghentikan sesuatu seperti ini adalah melakukannya di awal, awal, awal proses — sebelum izin diterbitkan — melalui proses partisipasi publik,” ujar James Doty, mantan staf Komisi Kualitas Lingkungan Texas (TCEQ), kepada Wired. Pernyataan ini menekankan betapa sulitnya melawan ekspansi pusat data setelah proyek berjalan.

    Skala polusi dari pusat data AI ini telah mencapai tingkat yang hampir tidak dapat dipahami. Seperti yang dilaporkan oleh Futurism, Amazon dilaporkan menyemburkan polusi dalam jumlah yang memecahkan rekor untuk memberi daya pada pusat data AI-nya. Fenomena ini menjadi indikasi jelas bahwa industri teknologi sedang bergerak ke arah yang salah dalam upaya mengatasi krisis iklim.

    Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut tanpa pengawasan yang ketat, dampaknya akan sangat merusak. Pusat data AI membutuhkan daya listrik yang sangat besar, dan jika sumber dayanya berasal dari bahan bakar fosil, kontribusinya terhadap perubahan iklim akan semakin signifikan. Regulasi yang longgar di Texas memungkinkan perusahaan untuk menghindari pengawasan yang lebih ketat yang biasanya diterapkan pada pembangkit listrik skala besar.

    Implikasi dari temuan ini sangat jelas bagi industri teknologi global. Perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan AI perlu mempertimbangkan ulang strategi energi mereka. Ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk menjalankan pusat data tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga menciptakan risiko reputasi yang serius di mata publik dan investor yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan.

    Bagi Indonesia, pelajaran dari kasus Texas ini sangat relevan. Dengan rencana pengembangan pusat data yang semakin masif di kawasan Jawa Barat dan Banten, regulator perlu memastikan bahwa izin lingkungan diterapkan secara ketat. Celah regulasi seperti yang terjadi di Texas harus diantisipasi sejak awal untuk mencegah dampak polusi yang tidak terkendali.

    Pemerintah daerah dan pusat perlu belajar dari pengalaman ini. Proses partisipasi publik harus diperkuat agar warga memiliki kesempatan untuk menyuarakan kekhawatiran mereka sebelum izin diterbitkan. Transparansi dalam proses perizinan juga menjadi kunci untuk mencegah praktik ekspansi mendadak yang merugikan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

    Data dari Global Energy Monitor menunjukkan bahwa pertumbuhan pembangkit listrik gas di Texas untuk pusat data AI melampaui hampir semua negara lain di dunia. Ini adalah peringatan keras bahwa tanpa pengawasan yang memadai, revolusi AI dapat menjadi bencana lingkungan. Teknologi yang seharusnya membawa kemajuan justru berpotensi mempercepat kerusakan planet.

    Para peneliti di Cornell telah menghitung bahwa emisi dari pusat data AI pada tahun 2030 bisa setara dengan jutaan mobil tambahan di jalan raya. Ini adalah angka yang sangat besar dan menunjukkan bahwa industri AI perlu segera beralih ke sumber energi terbarukan. Jika tidak, kontribusi sektor ini terhadap perubahan iklim akan menjadi beban yang tidak tertahankan.

    Praktik perizinan yang longgar di Texas, di mana proyek raksasa mendapatkan izin yang sama dengan pom bensin, adalah sebuah anomali yang harus segera diperbaiki. Regulator di negara bagian lain dan di seluruh dunia harus waspada terhadap celah serupa. Kebutuhan akan pusat data yang lebih besar tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

    Amazon, sebagai salah satu pemain terbesar dalam industri AI, telah menjadi contoh nyata dari masalah ini. Laporan tentang polusi rekor yang dihasilkan oleh pusat data Amazon menunjukkan bahwa bahkan perusahaan dengan komitmen keberlanjutan yang tinggi pun masih bergantung pada bahan bakar fosil. Ini menjadi pengingat bahwa janji-janji hijau harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

    Bagi konsumen dan pengguna teknologi AI, kesadaran akan dampak lingkungan ini penting. Setiap permintaan AI yang kita buat memerlukan daya komputasi yang besar, yang pada gilirannya menghasilkan emisi karbon. Meskipun tanggung jawab utama ada pada penyedia layanan, kesadaran publik dapat mendorong perubahan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

    Ke depannya, industri AI harus berinvestasi lebih besar dalam energi terbarukan dan teknologi efisiensi energi. Tanpa langkah-langkah konkret, pertumbuhan AI akan terus menjadi kontributor utama polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Regulator di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus segera mengambil tindakan untuk memastikan bahwa pusat data masa depan dibangun dengan standar lingkungan yang ketat.

    Kasus Texas adalah peringatan dini bagi kita semua. Revolusi AI tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan krisis iklim. Keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kelestarian lingkungan harus dijaga dengan ketat melalui regulasi yang cerdas dan penegakan hukum yang konsisten.

  • Anthropic Terapkan Biaya Pemakaian untuk Claude Fable 5

    Anthropic Terapkan Biaya Pemakaian untuk Claude Fable 5

    JBNews.id — Anthropic akan menerapkan sistem biaya pemakaian untuk model AI konsumen terbarunya, Claude Fable 5, mulai 12 Juli 2026. Langkah ini menjadikan Anthropic sebagai perusahaan AI frontier pertama yang menerapkan model biaya pemakaian untuk konsumen.

    Pelanggan paket langganan $20, $100, dan $200 per bulan akan dikenakan biaya tambahan berdasarkan pemakaian untuk mengakses Claude Fable 5. Tarif yang diterapkan sama dengan tarif API untuk pengembang, yaitu $10 per juta token yang dikirim ke Claude dan $50 per juta token yang dihasilkan model untuk menjawab pertanyaan pengguna.

    Jika pelanggan paket $20 per bulan mengirim satu juta token ke Fable 5 dan model menggunakan satu juta token untuk menjawab, mereka akan membayar tambahan $60—total $80 untuk bulan tersebut. Sebagai perbandingan, $80 setara dengan sekitar lima bulan langganan Amazon Prime. Satu juta token setara dengan sekitar 750.000 kata, lebih panjang dari seluruh seri buku Lord of The Rings.

    Namun, pengguna berat AI tidak jarang menumpuk tagihan hingga ribuan dollar setiap bulan melalui API. Model AI baru seperti Fable 5 dapat menghabiskan lebih banyak token dalam proses chain-of-thought tersembunyi untuk menjawab pertanyaan.

    Pergeseran Model Bisnis AI

    Meskipun sistem “bayar sesuai pemakaian” sudah lama menjadi norma bagi pengembang yang mengakses model melalui API, perusahaan AI sebelumnya lebih memilih langganan bulanan tetap untuk menghasilkan pendapatan dari konsumen dan mengendalikan permintaan. Namun, industri AI telah bergerak menuju sistem biaya pemakaian sejak tahun lalu. Perusahaan rintisan coding AI seperti Cursor merombak langganan tak terbatas mereka demi model harga berbasis pemakaian. Anthropic juga mulai mengenakan biaya kepada pelanggan bisnis besar berdasarkan pemakaian AI karyawan mereka, bukan biaya tetap.

    Perubahan ini mungkin dilakukan Anthropic untuk merapikan keuangan perusahaan menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO). Beberapa eksekutif AI berpendapat bahwa paket langganan tidak masuk akal di era agen AI seperti Claude Code dan Codex, yang menggunakan daya komputasi jauh lebih besar dibandingkan chatbot tradisional.

    “Ada kemungkinan bahwa di era sekarang, memiliki paket AI tak terbatas seperti memiliki paket listrik tak terbatas. Itu tidak masuk akal,” kata Nick Turley, mantan kepala ChatGPT yang kini mengawasi produk perusahaan OpenAI, dalam wawancara podcast awal tahun ini.

    Anthropic belum sepenuhnya menutup pintu untuk langganan all-inclusive. Dalam pernyataan kepada WIRED, juru bicara Anthropic Reem Ateyeh mengatakan perusahaan bertujuan mengembalikan Fable 5 ke paket langganan Claude “ketika kapasitas yang memadai tersedia” dan berencana melakukannya “secepat mungkin”—yang tampaknya merujuk pada keterbatasan komputasi perusahaan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Anthropic telah melakukan kesepakatan senilai miliaran dollar untuk kapasitas pusat data dengan SpaceX, Amazon, dan Google—meskipun masih belum sebanyak yang diinginkan perusahaan. Namun, belum jelas kapan, jika pernah, Anthropic tidak akan lagi dibatasi oleh kapasitas pusat data dan dapat menawarkan Fable 5 dalam paket langganannya.

    Uji Coba Daya Tarik Konsumen

    Perubahan harga ini mengikuti periode promosi panjang untuk Fable 5, di mana Anthropic menawarkan model AI tersebut kepada pelanggan tanpa biaya tambahan. Dalam posting blog awal pada 7 Juni, Anthropic mengatakan pihaknya memperkirakan permintaan model AI akan “sangat tinggi dan sulit diprediksi.” Minat terhadap Fable 5 semakin meningkat sejak pemerintah AS melarangnya untuk warga negara asing, kemudian menyetujuinya untuk rilis umum pada 1 Juli.

    Terlepas dari bagaimana Anthropic membingkainya, sistem biaya pemakaian untuk Claude Fable 5 adalah uji coba daya tarik konsumen terhadap model AI perusahaan. Meskipun Anthropic sebagian besar fokus pada pasar perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini semakin merambah ruang konsumen yang didominasi oleh ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google.

    Claude mencapai 245 juta pengunjung unik pada bulan Mei, lebih dari dua kali lipat sejak Februari, menurut laporan dari firma intelijen pasar Sensor Tower. Angka itu masih jauh dari pengunjung unik bulanan ChatGPT yang tercatat 1,11 miliar dan Google Gemini dengan 662 juta. Namun, Claude tumbuh dengan cepat.

    Popularitas Claude yang meningkat bertepatan dengan reaksi balik dari beberapa pemimpin teknologi yang mengklaim bahwa Anthropic mengenakan harga selangit sambil menyerap kekayaan intelektual semua orang. Anthropic pada dasarnya bertaruh bahwa perusahaan dapat menjadi “Apple-nya Era AI” dan akan selalu ada kelas orang yang bersedia membayar mahal dan mengikuti aturan perusahaan untuk model AI premium.

    “Dinamika menarik yang terjadi saat ini adalah tidak ada yang mau bertanya, ‘apakah saya perlu kecerdasan terbaik untuk tugas ini?’” kata seseorang yang dekat dengan Anthropic, yang meminta anonimitas untuk membahas pemikiran perusahaan tentang subjek ini. “Lebih sering, ketika memilih model AI yang akan digunakan, orang bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah saya tipe orang yang membutuhkan kecerdasan menengah, atau yang terbaik?’”

    Sebagian besar orang bergaji tinggi di bidang keuangan, politik, dan teknologi yang saya ajak bicara bersedia membayar mahal untuk model AI terbaik, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi mereka. Semakin banyak, orang-orang ini menganggap “model AI terbaik” adalah Claude.

    Apakah Anthropic dapat mempertahankan reputasi itu membutuhkan perusahaan untuk tetap unggul dari persaingan. (Berdasarkan reaksi awal terhadap GPT-5.6 Sol milik OpenAI, Anthropic memiliki pekerjaan rumah yang berat.)

    Perusahaan seperti OpenAI dan Google belum tentu mengikuti jejak Anthropic: Mereka diperkirakan akan memperkenalkan lebih banyak iklan untuk menghasilkan pendapatan di tingkat gratis dan berbiaya rendah. Namun, mengingat seberapa keras Anthropic memposisikan diri terhadap periklanan, menaikkan harga mungkin menjadi satu-satunya solusi dalam waktu dekat.

    Dengan kata lain, “era keemasan” langganan AI konsumen yang disubsidi akhirnya akan berakhir. Untuk konteks lebih lanjut, baca juga artikel tentang Anthropic Kedapatan Memata-matai pengguna AI dan Pemerintah AS Izinkan aktivasi model AI Mythos 5.

    Bagi pelanggan setia Claude, keputusan ini menghadirkan dilema: membayar biaya tambahan untuk akses model terbaik atau beralih ke alternatif yang lebih murah. Dengan model biaya pemakaian yang baru, masa depan konsumen AI premium akan sangat bergantung pada kesediaan membayar untuk kecerdasan buatan terdepan.